Kumpulan Cerita Silat

23/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 43

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:36 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh pertempuran dahsyat yang tidak pernah dilihatnya itu. Di medan pertempuran begitu, biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga tidak berguna. Pertempuran pasukan besar begini berbeda sama sekali dengan pertandingan silat di kalangan Bu-lim, segala kepandaian boleh dikatakan tidak berguna lagi.

Sebentar kemudian, tiba-tiba di pihak pasukan pemberontak ada suara trompet tanda mundur, segera pasukan berkuda pemberontak itu mengundurkan diri bagai air surut cepatnya, berbareng panah menghambur bagai hujan untuk menahan kejaran lawan. Beberapa kali Ku-bit-su memimpin pasukannya menerjang, tapi selalu tertahan, sebaliknya malah terpanah mati beberapa ribu prajuritnya oleh musuh.

“Korban jatuh terlalu banyak, sementara berhenti menyerang,” segera Yalu Hungki memberi perintah.

Pertempuran tadi berlangsung cuma satu jam lebih, tapi sangat dahsyat hingga mayat bergelimpangan, kedua pihak sama-sama jatuh korban tidak sedikit. Sesudah kedua pihak mundur sampai suatu jarak tak tercapai oleh panah, di tanah luang bagian tengah itu penuh berserakan mayat dengan suara rintih tangis yang mengerikan. Maka tertampaklah dari kedua pihak muncul pula suatu pasukan berbaju hitam, masing-masing ada 300 orang banyaknya, agaknya pasukan baju hitam kedua belah pihak ini merupakan pasukan pembersih mayat.

Semula Siau Hong mengira pasukan itu pasti akan menolong prajurit yang terluka untuk dibawa kembali ke tempat sendiri, di luar dugaan prajurit baju hitam itu lantas lolos senjata, semua prajurit musuh yang terluka parah dibinasakan pula, habis membersihkan prajurit yang terluka parah, kemudian ke-600 orang itu berteriak-teriak dan saling tempur pula.

Siau Hong melihat ke-600 orang itu semuanya berilmu silat lumayan, pertarungan cukup sengit walaupun tidak sedahsyat tadi. Maka hanya sebentar saja sudah lebih 200 orang terbacok roboh di tanah. Prajurit baju hitam dari pasukan raja lebih tangkas, korban mereka hanya beberapa puluh orang saja, maka kekuatan selanjutnya menjadi dua-tiga orang melawan seorang dan dengan demikian kalah-menang menjadi lebih nyata lagi, tidak lama keadaan berubah lagi menjadi empat-lima orang melawan seorang.

Dan aneh juga, pasukan besar kedua pihak ternyata hanya bersorak memberi semangat saja tanpa memberi bantuan apa-apa. Meski melihat pasukan pihaknya dikalahkan, toh pasukan pemberontak yang jauh lebih besar itu tidak mau membantu. Akhirnya ke-300 prajurit baju hitam pihak pemberontak dibasmi semua, sebaliknya pasukan baju hitam pihak raja masih sisa hampir 150 orang yang kembali dengan hidup.

Diam-diam Siau Hong merasa heran oleh peraturan pertempuran orang Cidan itu. Sementara itu terdengar Yalu Hungki sedang berseru sambil mengangkat tinggi-tinggi goloknya, “Meski pasukan pemberontak berjumlah banyak, tapi semangat tempur mereka sudah patah, jika kita labrak lagi sekali pasti mereka akan kalah dan lari!”

Serentak prajurit dan perwira pasukan kerajaan bersorak-sorai, “Banswe! Banswe!”

Baru lenyap suara sorakan mereka, tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk di pihak pasukan musuh, tiga penunggang kuda tampak maju dengan perlahan. Seorang di bagian tengah membentangkan sehelai kulit, lalu terdengar ia membaca dengan suara lantang. Kiranya apa yang dibacanya itu adalah “maklumat” pemberontak yang diumumkan oleh Hong-thay-siok, katanya Yalu Hungki telah mengangkangi takhtanya, kini Hong-thay-siok telah naik takhta dan setiap prajurit dan perwira kerajaan diharap setia kepada raja baru dan semuanya akan mendapat kenaikan pangkat dan macam-macam bujukan lagi.

Segera belasan juru panah membidikkan panah mereka ke arah pembaca “maklumat” itu. Tapi dua orang yang mengiringinya itu lantas mengangkat tameng untuk melindunginya hingga orang itu dapat membaca terus. Sekonyong-konyong ketiga ekor kuda tunggangan mereka roboh kena panah, tapi sambil sembunyi di balik perisai, tetap “maklumat” pemberontak itu dapat terbaca habis, lalu mereka mengundurkan diri.

Melihat bawahannya banyak yang terpengaruh oleh provokasi kaum pemberontak itu, segera Ku-bit-su memberi perintah, “Maju ke sana dan balas memaki!”

Segera ada 30 perwira dan prajurit tampil ke muka pasukan, 20 prajurit mengangkat perisai ke depan untuk melindungi, selebihnya belasan orang adalah “tukang maki”, tenggorokan mereka besar dan suara mereka keras, mulut mereka tajam pula.

Maka mulailah “juru maki” pertama itu, ia mencaci maki pihak pemberontak sebagai pengkhianat yang terkutuk, pasti akan mati tak terkubur. Menyusul disambung oleh “juru maki” kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai akhirnya kakek moyang musuh dan segala kata-kata caci maki yang kotor juga dihamburkan.

Pengetahuan Siau Hong terhadap bahasa Cidan terbatas, maka apa yang diucapkan “juru maki” itu sebagian besar tak dipahami olehnya. Tapi ia lihat Yalu Hungki berulang-ulang manggut-manggut sebagai tanda pujian, agaknya cara memaki “juru maki” itu sangat pandai dan tepat.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai pasukan pemberontak, dari jauh Siau Hong lihat di antara pasukan musuh itu ada dua penunggang kuda di bawah naungan payung kuning dan panji besar sedang tunjuk sini dan tuding sana dengan cambuk kudanya. Seorang di antaranya berjubah kuning emas mulus bertopi mestika, jenggotnya putih panjang. Seorang lagi berpakaian perang warna kuning, di bawah sinar matahari pakaian perangnya gemerdep berkilauan. Muka orang kedua itu agak kurus, tapi sikapnya sangat tangkas. Diam-diam Siau Hong menduga kedua orang itu mungkin adalah Hong-thay-siok dan Co-ong yang merupakan biang keladi pemberontakan ini.

Mendadak ke-10 “juru maki” tadi berhenti sebentar, mereka mengadakan “diskusi” dulu di antara mereka, habis berunding, serentak mereka menggembor lebih keras, mereka membongkar segala perbuatan jahat pribadi Hong-thay-siok itu, seorang yang prihatin hidupnya hingga tiada suatu borok yang dapat dimaki, maka sasaran makian kesepuluh “juru maki” itu dititikberatkan ke alamat Co-ong, katanya ia bergendakan dengan selir ayahnya sendiri, suka memerkosa wanita baik-baik, dan banyak berbuat kejahatan terhadap rakyat jelata dan macam-macam perbuatan kotor lainnya.

Kesepuluh orang itu memaki berbareng dengan kata-kata yang sama, memangnya suara mereka sangat lantang, paduan suara dari mereka menjadi luar biasa kerasnya hingga sebagian besar dari beratus ribu prajurit itu ikut mendengar caci maki mereka itu. Mendadak Co-ong itu memberi tanda dengan cambuknya, serentak pasukan pemberontak itu berteriak-teriak tak keruan hingga suara makian kesepuluh tukang maki itu tenggelam di tengah suara berisik yang lebih keras itu.

Sesudah suasana agak kacau sebentar, kemudian pasukan pemberontak mengeluarkan beberapa puluh buah kereta dorong dan dihentikan di depan pasukan, segera prajurit musuh menyeret keluar beberapa puluh orang wanita dari dalam kereta, ada yang sudah nenek-nenek, ada yang masih gadis remaja, dandanan mereka semuanya sangat perlente. Dan begitu kaum wanita itu diseret keluar, seketika suara caci maki kedua belah pihak lantas berhenti.

Tiba-tiba Yalu Hungki berteriak, “O, ibu! Bila anak dapat menangkap pengkhianat, pasti akan kucencang hingga hancur luluh pengkhianat-pengkhianat itu untuk melampiaskan sakit hatimu!”

Kiranya si nenek di antara tawanan kaum wanita itu adalah Hong-thay-hou (ibu suri), yaitu ibunya Hungki, Siau-thay-hou. Dan yang lain-lain adalah permaisurinya, Siau-hou dan para selir serta putra-putrinya. Mereka itu telah ditawan seluruhnya oleh Hong-thay-siok dan Co-ong dalam pemberontakan itu.

“Ya, baginda jangan menghiraukan jiwa kami, bunuhlah pengkhianat sekuat tenagamu!” demikian seru Hong-thay-hou dari jauh.

Mendadak beberapa puluh prajurit musuh mengancam para tawanan wanita itu dengan golok di leher, seketika banyak di antara selir raja yang muda itu menjadi ketakutan.

Yalu Hungki menjadi gusar, bentaknya, “Bunuh semua perempuan yang menangis itu!”

Maka terdengarlah suara mendesing anak panah, belasan anak panah menyambar ke depan, langsung beberapa selir raja yang menjerit dan menangis ketakutan tadi terpanah mati.

“Bagus baginda, tepat sekali tindakanmu ini!” seru Honghou (permaisuri) dari jauh. “Tanah air warisan nenek moyang sekali-kali tidak boleh tercengkeram di bawah kekuasaan kaum pengkhianat!”

Melihat ibu suri dan permaisuri sedemikian berani dan teguh jiwanya, bukan saja tak dapat diperalat untuk menekan Yalu Hungki, sebaliknya malah membuat semangat prajurit sendiri tergoyah, segera Co-ong memberi perintah, “Giring mundur tawanan itu! Keluarkan tawanan anggota keluarga prajurit musuh!”

Maka terdengar pula suara tiupan seruling yang tajam melengking sedih, sesudah rombongan ibu suri dan permaisuri digiring mundur, lalu dari barisan belakang digusur keluar berbaris-baris tawanan lelaki perempuan, tua dan muda, seketika terdengar pula suara tangisan memilukan hati dan mengguncang sukma.

Kiranya rombongan tawanan ini adalah anggota keluarga prajurit kerajaan, yaitu pasukan pribadi raja Liau. Biasanya Yalu Hungki sangat baik terhadap pasukan pribadinya itu, anggota keluarga mereka diizinkan tinggal bersama di dalam tangsi, dengan demikian, pertama para prajurit itu akan merasa berterima kasih atas kebaikan budi sang raja, kedua, dapat dipakai pula sebagai sandera agar prajurit-prajurit kepercayaan raja itu tidak berani timbul maksud memberontak.

Siapa duga biang keladi pemberontak sekarang adalah Hong-thay-siok yang paling dipercaya oleh raja itu. Maka anggota keluarga pasukan pribadi raja telah ditawan oleh pihak pemberontak, paling sedikit ada belasan ribu orang yang digiring ke garis depan sekarang dengan maksud untuk melemahkan semangat tempur pasukan raja.

Begitulah Co-ong lantas memerintahkan perwiranya tampil ke muka, dengan suara keras perwira itu berteriak, “Wahai, dengarlah para prajurit pasukan raja! Anggota keluarga kalian telah ditahan di sini, barang siapa menyerahkan diri akan mendapat kenaikan pangkat dan diberi hadiah, tapi kalau membangkang, raja baru telah memberi perintah agar membunuh segenap anggota keluarganya!”

Biasanya bangsa Cidan itu memang kejam dan suka membunuh, sekali mereka mengatakan “akan dibunuh semua”, maka hal itu bukan cuma main gertak saja.

Keruan pihak pasukan raja menjadi panik, sementara itu banyak di antara prajurit itu mengenal anak-istri atau ayah-ibu dalam tawanan musuh, segera terdengar suara ramai orang memanggil anggota keluarga masing-masing.

Dalam pada itu genderang pasukan pemberontak tiba-tiba berbunyi, lalu muncul 2.000 orang algojo dengan kapak dan golok terhunus. Ketika suara genderang berhenti serentak, seketika 2.000 batang kapak dan golok terangkat dan mengincar kepala tawanan anggota keluarga prajurit raja.

“Barang siapa menyerah kepada raja baru akan mendapat hadiah, kalau tidak takluk, segenap anggota keluarga mereka akan dibunuh!” terdengar perwira tadi berseru pula. Ketika tangannya memberi tanda, kembali genderang berbunyi menderang.

Para perwira dan prajurit pasukan raja tahu bila tangan perwira musuh itu memberi tanda lagi, seketika suara genderang akan berhenti dan menyusul ke-2.000 batang kapak dan golok mengilap itu akan membacok ke bawah, dan itu berarti jiwa akan segera melayang.

Biasanya pasukan pribadi raja itu sangat setia kepada junjungannya, kalau Hong-thay-siok dan Co-ong memancing mereka dengan pangkat dan hadiah terang takkan mempan. Tapi kini mereka menyaksikan sanak keluarga sendiri berada di bawah ancaman senjata, mau tak mau hati mereka terguncang dan sangat khawatir.

Dalam pada itu suara genderang masih terus berderang-derang, hati prajurit pribadi raja juga ikut berdebar-debar. Sekonyong-konyong dari pihak pasukan raja ada yang berteriak, “Ibu! O, ibu, jangan membunuh ibuku!”

Segera tertampak seorang prajurit raja membuang tombaknya terus berlari ke arah seorang nenek di barisan musuh. Tapi baru belasan langkah ia berlari, tiba-tiba dari pasukan raja menyambar keluar sebatang anak panah sehingga tepat menembus punggung prajurit itu. Seketika prajurit itu belum mati, dengan nekat ia masih terus lagi ke depan.

Maka ramailah seketika suara teriakan “Ibu! Ayah! Anak!” yang kacau-balau, serentak ada beberapa ratus orang dari pihak pasukan raja berlari ke depan. Perwira kepercayaan Hungki telah berusaha merintangi dengan membunuh beberapa prajurit yang goyah pendiriannya itu, namun sudah kasip, keadaan tak bisa dikuasai lagi.

Dan sesudah beberapa orang melarikan diri ke pihak musuh, menyusul lantas beberapa ribu orang, suasana medan perang menjadi kacau-balau tak keruan, dari 150 ribu prajurit raja, dalam waktu singkat ada 30-90 ribu orang yang lari ke pihak musuh.

Yalu Hungki menghela napas, ia tahu tak bisa mengatasi lagi suasana itu. Pada kesempatan prajurit-prajurit yang melarikan diri tadi sibuk bertemu dengan anggota keluarga mereka dan keadaan masih kacau hingga pasukan pemberontak sementara terisolasi jauh di sana, segera Hungki memberi perintah agar sisa pasukannya mengundurkan diri ke Pegunungan Cong-hong-san di sebelah barat laut.

Segera komandan pasukan memberikan perintah secara diam-diam dan teratur, sisa pasukan yang masih 50-60 ribu orang lantas putar balik ke arah barat. Ketika Co-ong mengetahui dan memerintahkan pasukannya mengejar, tapi karena medan perang terhalang oleh tawanan dan prajurit yang menyerah, untuk mengejar menjadi agak sulit.

Setelah Yalu Hungki membawa sisa pasukannya sampai di kaki Gunung Cong-hong-san, sementara itu hari sudah magrib. Para prajurit sangat lelah dan lapar pula, namun dengan tertib mereka mendaki lereng gunung, di situlah mereka berhenti dan mendirikan kemah, dari atas menghadap ke bawah menjadi lebih kuat menghadapi musuh.

Baru saja kemah selesai dibangun dan belum lagi sempat menanak nasi, pasukan di bawah pimpinan Co-ong sudah mengejar tiba sampai di kaki gunung dan mulai menyerang ke atas.

Namun pasukan raja segera menghamburkan panah dan menggelindingkan batu dari atas hingga pasukan pemberontak dapat digempur mundur. Tapi lantaran itu juga kekuatan pasukan raja kehilangan tiga ribu orang lagi. Sedangkan Co-ong juga lantas menarik mundur pasukannya ketika melihat keadaan tidak menguntungkan untuk menyerang, ia perintahkan pasukannya berkemah di bawah gunung.

Malamnya, Yalu Hungki berdiri di puncak gunung untuk mengintai suasana di perkemahan musuh, ia lihat pelita tak terhitung banyaknya bagaikan bintang di langit berkelip-kelip di kemah pasukan pemberontak itu, jauh di sana tiga barisan obor tampak lagi mendatang pula, terang itu adalah bala bantuan pasukan pemberontak yang sedang mendekat.

Selagi Yalu Hungki merasa sedih, tiba-tiba Pak-ih Ku-bit-su (sebutan pangkat, setingkat kepala staf) datang melapor, “Kira-kira lima belas ribu bawahan hamba telah melarikan diri dan menyerah pada musuh. Untuk ketidakbecusan pimpinan hamba, mohon Baginda sudi memberi hukuman.”

“Itu tak dapat menyalahkanmu, boleh kau pergi mengaso saja,” ujar Hungki.

Ketika kemudian ia berpaling, tiba-tiba dilihatnya Siau Hong sedang termenung-menung sambil memandang jauh ke sana. Segera katanya,” Adikku yang baik, besok pagi-pagi pasukan pemberontak tentu akan menyerang secara besar-besaran, pasti kita akan tertawan seluruhnya. Sebagai kepala negara, aku tidak boleh dinista oleh kaum pemberontak, aku akan membunuh diri untuk mempertanggungjawabkan kewajibanku kepada negara. Adikku, boleh kau bawa adik perempuanmu menerjang pergi saja pada malam ini. Ilmu silatmu sangat tinggi, tidak mungkin musuh mampu merintangimu.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan rasa pilu, “Sebenarnya aku bermaksud menganugerahkan segala kejayaan padamu, siapa duga kakakmu ini sukar menyelamatkan diri sendiri, sebaliknya malah membikin susah padamu.”

“Toako,” sahut Siau Hong, “seorang laki-laki sejati harus berani menghadapi segala kesukaran. Meski hari ini peperangan tak menguntungkan kita, tapi aku dapat melindungimu untuk terjang keluar dari kepungan musuh, kita dapat menghimpun kekuatan lagi untuk membalas dendam ini.”

Tapi Yalu Hungki menggeleng kepala, katanya, “Sedangkan ibu dan istriku sendiri tak mampu kubela, masakah aku masih ada harganya berbicara sebagai lelaki sejati segala? Dalam pandangan bangsa Cidan, yang menang adalah pahlawan, yang kalah adalah pemberontak. Aku sudah kalah habis-habisan, masakan mampu berbangkit kembali? Sudahlah, kalian boleh pergi saja malam ini.”

Siau Hong tahu apa yang dinyatakan kakak angkatnya itu adalah setulus hati, maka ia pun berkata dengan ikhlas, “Jika begitu, aku akan mendampingi Toako untuk menempur musuh dengan mati-matian. Kita adalah saudara angkat, apakah engkau raja atau rakyat jelata, pendek kata engkau adalah saudara angkatku. Kakak angkatnya ada kesukaran, adik angkatnya sudah seharusnya sehidup semati di sampingnya, mana boleh kuselamatkan diri sendiri?”

Air mata Yalu Hungki bercucuran saking terharu, ia pegang tangan Siau Hong erat-erat, katanya, “O, adikku yang baik, terima kasih!”

Sepulangnya di kemah sendiri, Siau Hong melihat A Ci lagi rebah di sudut tenda sana. Gadis itu belum lagi tidur, maka segera ia menyapa, “Cihu, engkau akan marah padaku atau tidak?”

Siau Hong menjadi heran. “Sebab apa marah padamu?” tanyanya.

“Ya, gara-garaku ingin pesiar ke padang rumput hingga sekarang membikin susah padamu,” ujar A Ci. “Cihu, kita akan mati di sini, betul tidak?”

Di bawah sinar obor yang terpasang di luar kemah itu, wajah A Ci yang pucat tampak bersemu merah hingga makin menunjukkan lemah mungil dara itu. Alangkah kasih sayang Siau Hong terhadap gadis cilik itu, sahutnya segera, “Mana bisa aku marah padamu? Coba kalau aku tidak memukulmu hingga terluka parah, tidak nanti kita sampai di tempat ini.”

“Tapi kalau lebih dulu aku tidak menyerangmu dengan jarum berbisa, tentu engkau takkan memukul aku,” ujar A Ci dengan tersenyum.

Perlahan Siau Hong belai rambut si nona. Karena habis sakit keras, rambut A Ci telah rontok sebagian besar hingga kini rambutnya sangat jarang dan kurang subur. Siau Hong menghela napas, katanya, “Kau masih sangat muda, tapi sudah mesti ikut aku menderita dan merana seperti ini.”

“Cihu, sebenarnya aku tidak paham mengapa Cici sedemikian suka padamu,” tiba-tiba A Ci berkata, “dan sekarang aku pun tahulah.”

Siau Hong tidak menjawab, tapi dalam hati membatin, “Tak terhingga cinta cicimu padaku, apa yang kau pahami tentang ini? Padahal aku sendiri pun tidak tahu mengapa A Cu bisa mencintai laki-laki kasar seperti aku, dari mana kau bisa tahu malah?”

Tiba-tiba A Ci menoleh, ia pandang Siau Hong dengan air muka yang aneh, katanya, “Cihu, apakah engkau sudah dapat menebak, sebab apakah tempo hari aku menyerangmu dengan jarum berbisa? Sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu, aku hanya ingin membikin engkau tak bisa berkutik, dengan begitu aku akan dapat merawat dirimu.”

“Apa sih faedahnya perbuatanmu itu?” tanya Siau Hong.

“Jika engkau tak bisa berkutik sama sekali, itu berarti takkan dapat meninggalkan aku untuk selamanya,” sahut A Ci dengan tersenyum. “Kalau tidak, dalam hatimu tentu kau pandang remeh diriku, setiap saat dapat kau tinggalkan aku dan tidak gubris lagi padaku.”

Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh ucapan gadis cilik itu, ia tahu ucapan demikian bukanlah asal omong saja. Ia pikir toh besok akan mati semua, biarlah aku sekarang menghiburnya saja dengan kata-kata manis. Maka ia lantas berkata, “Ah, kau benar-benar masih berpikir secara kanak-kanak. Jika kau memang senang ikut padaku, boleh ikut saja, masakah aku tega menolak permintaanmu?”

Tiba-tiba mata A Ci bercahaya terang, serunya dengan girang, “Betulkah ucapanmu ini, Cihu? Sesudah aku sehat kembali, aku akan tetap ikut di dampingmu dan takkan pulang ke tempat Suhu untuk selamanya dan jangan kau tinggalkan aku lho!”

Siau Hong tahu anak dara ini tidak sedikit berbuat kesalahan pada orang-orang Sing-siok-pay, tentu juga dia tidak berani pulang ke sana. Sedangkan besok pagi kalau pasukan pemberontak menyerang secara besar-besaran, pasti mereka akan gugur bersama, harapan untuk menyelamatkan diri adalah sangat tipis. Maka dengan tertawa ia menjawab, “Eh, bukankah kau ini toasuci ahli waris Sing-siok-pay, kalau tidak pulang ke sana, naga tanpa kepala, lantas bagaimana jadinya nanti dengan orang Sing-siok-pay?”

“Biarkan saja mereka kacau-balau, peduli apa dengan aku?” sahut A Ci dengan mengikik tawa.

Siau Hong tidak bicara lagi, ia tarik selimut untuk menutupi badan A Ci, lalu ia sendiri pun menggelar selimut dan tidur di sudut kemah yang lain.

Besoknya pagi-pagi sekali Siau Hong sudah mendusin, ia pesan Kapten Sili menyediakan kuda dan menjaga A Ci, ia sendiri lantas berkemas dan makan dua kati daging kambing serta minum tiga kati arak. Lalu ia menuju ke tepi gunung.

Tatkala itu langit masih gelap. Selang tidak lama, ufuk timur mulai remang-remang, sang surya mulai memancarkan sinarnya. Segera terdengarlah suara trompet pasukan musuh berbunyi, menyusul ramailah suara gemerencing benturan senjata dan pakaian perang.

Segera pasukan raja memencarkan diri dalam beberapa barisan untuk menjaga tempat-tempat penting yang mungkin diserbu musuh. Siau Hong memandang ke bawah, ia lihat sebelah timur, utara, dan selatan penuh pasukan musuh, begitu banyak jumlah pasukan musuh hingga bagian belakang pasukan musuh itu tak kelihatan karena tertutup kabut.

Tidak lama sinar sang surya yang gilang-gemilang membuyarkan kabut yang menutupi angkasa padang rumput hingga tertampaklah di atas bumi penuh prajurit dan kuda belaka.

Sekonyong-konyong genderang menderu-deru hebat, dua barisan berpanji kuning dari pasukan musuh tampak tampil ke muka, menyusul Hong-thay-siok dan Co-ong melarikan kuda mereka ke kaki gunung, mereka tunjuk sini dan tuding ke atas gunung, tampaknya sangat gembira.

Waktu itu Yalu Hungki berdiri di puncak gunung dikelilingi pengawalnya, ia gemas melihat sikap musuh yang congkak itu, segera ia ambil panah dan busur dari seorang pengawalnya, ia pentang busur dan memanah ke arah Co-ong. Tapi jarak antara mereka sangat jauh, maka hanya mencapai setengah jalan panah itu lantas jatuh ke tanah.

“Hahahaha, Hungki!” dengan bergelak tertawa Co-ong berseru, “Kau telah mengangkangi takhta ayahku selama ini, sudah sepantasnya sekarang kau menyerahkan kembali takhtamu. Maka lekas menyerah saja dan ayah akan mengampuni kematianmu serta akan mengangkatmu menjadi Hong-thay-tit (keponakan mahkota), mau tidak?”

Dengan ucapan yang terakhir itu, ia hendak menyindir bahwa Yalu Hungki telah pura-pura mengangkat ayahnya sebagai Hong-thay-siok, padahal ia mengangkangi takhta kerajaan yang sebenarnya menjadi haknya Yalu Conggoan sendiri.

Hungki menjadi gusar, dampratnya, “Pengkhianat yang tak kenal malu, masih berani kau putar lidah!”

Dalam pada itu Pek-ih Ku-bit-su telah memimpin tiga ribu anak buahnya yang setia dan segera menerjang ke bawah gunung dengan gagah perwira dan dengan tekad lebih baik gugur sebagai ratna daripada hidup sebagai budak.

Untuk sesaat pasukan musuh menjadi kacau juga karena diterjang secara mendadak. Tapi sekali Co-ong memberi tanda, segera belasan ribu prajuritnya mengepung dari samping, maka terdengarlah jerit teriak yang gegap gempita, pertarungan sengit terjadi, tiga ribu prajurit raja itu makin lama makin berkurang, hingga akhirnya gugur seluruhnya.

Pek-ih Ku-bit-su tidak mau menyerah mentah-mentah, sekuat tenaga ia membunuh beberapa orang pula, habis itu ia pun membunuh diri dengan menggorok leher sendiri.

Dengan jelas Hungki dan Siau Hong dapat menyaksikan kejadian itu, tapi mereka tak mampu menolong, mereka hanya mencucurkan air mata terharu atas jiwa kesatria dan gagah berani Ku-bit-su itu.

Kemudian Co-ong maju ke tepi gunung lagi, teriaknya dengan tertawa, “Nah, Hungki, kau mau takluk apa tidak? Hanya sedikit kekuatanmu ini apa yang kau bisa perbuat? Mereka adalah kesatria gagah dari negeri Liau kita, buat apa mesti suruh mereka ikut berkorban jiwa bagimu? Seorang laki-laki sejati harus berani berterus terang dan ambil keputusan tegas, mau menyerah lekas menyerah, mau bertempur ayolah bertempur! Dan kalau insaf ajalmu sudah sampai, lebih baik kau bunuh diri saja daripada jatuh korban lebih banyak lagi.”

Yalu Hungki menghela napas panjang, air matanya berlinang-linang, ia angkat goloknya dan berseru, “Ya, tanah air yang indah permai ini biarlah kuserahkan kepada kalian ayah dan anak. Kita masih terhitung saudara sendiri, kalau kita saling membunuh, buat apa mesti banyak mengorbankan jiwa para prajurit Cidan yang gagah berani.”

Habis berkata, segera goloknya menggorok lehernya sendiri.

Tapi dengan cepat Siau Hong bertindak, dengan kim-na-jiu-hoat ia rebut senjata Yalu Hungki itu, katanya, “Toako, seorang kesatria sejati harus berani gugur di medan bakti, mana boleh mati dengan membunuh diri?”

“Ah, adikku yang baik,” sahut Hungki dengan menghela napas, “para perwira dan prajurit sudah lama mengabdi pada diriku dengan setia. Jika aku pasti akan mati, aku tidak tega minta mereka ikut korbankan jiwa bagiku.”

Dalam pada itu Co-ong sedang berteriak lagi, “Hungki, kau tidak mau membunuh diri, ingin tunggu kapan lagi?”

Sambil berkata ia pun tuding-tuding dengan cambuknya, garangnya bukan main.

Melihat Co-ong makin maju ke bawah puncak gunung, tiba-tiba Siau Hong mendapat akal, bisiknya kepada Yalu Hungki, “Toako, harap pura-pura ajak bicara padanya, diam-diam aku akan menyusur untuk mendekati dia serta memanahnya.

Hungki cukup kenal betapa lihainya Siau Hong, ia jadi girang, sahutnya, “Bagus! Jika lebih dulu dapat mampuskan dia, mati pun aku rela.”

Maka ia lantas berseru keras-keras, “Co-ong, tidaklah jelek aku melayani kalian ayah dan anak, jika ayahmu ingin menjadi raja, soalnya dapat melalui musyawarah, buat apa membunuh rakyat jelata dan prajurit bangsa sendiri hingga kekuatan negara Liau kita patah sehebat ini?”

Sedang Hungki bicara, di sebelah sana diam-diam Siau Hong telah membawa busur dan panah, ia lalu menuntun seekor kuda bagus ke bawah gunung, ia bersembunyi dengan mengempitkan kaki di bawah perut kuda, dan binatang itu terus dilarikan ke depan.

Melihat seekor kuda tanpa penumpang berlari turun dari atas gunung, prajurit musuh mengira kuda itu adalah kuda pelarian yang putus tali kendalinya, hal ini memang sangat umum di medan perang, maka tiada seorang pun yang menaruh curiga. Tapi sesudah dekat, segera ada yang mengetahui bahwa di bawah perut kuda itu menggemblok seorang, segera gemparlah mereka dan berteriak-teriak.

Cepat Siau Hong mendepak kudanya dengan ujung kaki hingga kuda itu membedal secepat terbang ke arah Co-ong, ketika jaraknya tinggal ratusan meter jauhnya, segera ia tarik busur di bawah perut kuda dan terus memanah.

Tapi pengawal Co-ong juga cukup cerdik, segera ada seorang di antaranya mengangkat perisai untuk mengaling-alingi tuannya hingga panah itu tidak mengenai sasarannya. Tapi beruntun-runtun Siau Hong memanah lagi, panah berikutnya telah merobohkan pengawal dan panah yang lain menyambar ke dada Co-ong.

Untung Co-ong cukup sigap dan awas, cepat ia ayun cambuknya untuk menyampuk panah itu. Kepandaian menyampuk panah dengan cambuk adalah kepandaian andalan Co-ong, tapi ia tidak tahu bahwa pemanah itu bertenaga raksasa, meski cambuknya kena sampuk anak panah itu, tapi hanya arahnya saja sedikit terbentur menceng, namun bahu kirinya tetap kena panah.

“Aduh!” Co-ong menjerit, saking kesakitan sampai ia mendekam di atas kuda.

Tanpa ayal lagi panah Siau Hong yang lain menyambar pula, sekali ini jaraknya sudah makin dekat sehingga panah itu menembus punggung Co-ong. Sekali kena panah, tubuh Co-ong lantas terperosot jatuh di bawah kuda.

Dengan hasil itu, Siau Hong pikir mengapa tidak sekalian bereskan jiwa Hong-thay-siok pula? Tapi selagi ia hendak melarikan kuda ke arah sana, sementara itu prajurit musuh telah menghujani panah hingga dalam sekejap saja kudanya berubah menjadi seekor “landak”.

Cepat Siau Hong menjatuhkan diri ke tanah dan menggelinding, dengan gesit dan cepat ia menyelinap dari bawah perut kuda yang satu ke bawah kuda yang lain. Karena khawatir mengenai teman sendiri, prajurit musuh tidak berani sembarangan memanah pula.

Sebagai gantinya segera mereka menusuk dengan tombak, tapi Siau Hong selalu menyelinap ke sini dan menyusup ke sana, ia main terobos di bawah perut kuda hingga pasukan musuh menjadi kacau-balau dan desak-mendesak sendiri serta saling injak, tapi Siau Hong tetap sukar dicari.

Namun sekali Siau Hong sudah terkurung di tengah berpuluh ribu prajurit musuh, untuk meloloskan diri juga tidak gampang lagi. Dari jauh ia dapat melihat Hong-thay-siok sedang memberi perintah di atas kudanya, segera Siau Hong menyusup kian-kemari untuk mendekati raja pemberontak itu. Ia pikir kalau dapat menawan raja pemberontak itu, barulah ia sendiri bisa selamat.

Waktu itu Siau Hong benar-benar seperti seekor binatang buas yang terkurung di dalam perangkap pemburu, ia seruduk sini dan terjang sana, sesudah agak dekat, mendadak ia menggerung sekali, mendadak ia melompat, bagaikan burung ia melayang lewat melalui kepala berpuluh prajurit di depan Hong-thay-siok untuk kemudian turun di depan kuda raja pemberontak itu.

Keruan Hong-thay-siok terkejut, ia angkat cambuknya terus menyabet ke muka Siau Hong. Tapi mendadak Siau Hong mengegos dan melompat maju, ia cemplak ke atas pelana kuda Hong-thay-siok, sekali cengkeram, ia pegang punggung raja pemberontak itu dan diangkat ke atas setinggi-tingginya sambil berteriak, “Kau ingin hidup atau mati? Lekas perintahkan pasukanmu meletakkan senjata!”

Saking ketakutan sampai apa yang dikatakan Siau Hong tak didengar oleh Hong-thay-siok. Saat itu suara teriakan pasukan pemberontak juga riuh rendah memekakkan telinga, beribu anak panah sudah siap mengincar Siau Hong, cuma melihat pucuk pimpinan mereka tertawan di tangan musuh, maka tiada yang berani sembarangan memanah.

Segera Siau Hong mengerahkan tenaga dalam dan berteriak lantang, “Hong-thay-siok memberi perintah agar segenap prajurit meletakkan senjata untuk menunggu titah raja. Baginda raja akan mengampuni kalian, siapa pun takkan diusut kesalahannya dalam pemberontakan ini!”

Lwekang Siau Hong tidak kepalang kuatnya, maka suaranya dapat tersiar hingga jauh dan terdengar cukup jelas oleh prajurit pemberontak itu. Sebenarnya perbawa pasukan pemberontak itu lagi berkobar-kobar, semuanya ingin menangkap Yalu Hungki untuk menerima hadiah dan kenaikan pangkat, siapa duga mendadak Co-ong terpanah mati, kini Hong-thay-siok ditawan musuh pula. Keruan pasukan pemberontak itu seketika mirip balon gembos, semangat mereka patah segera, suasana menjadi panik pula.

Siau Hong sendiri sudah pernah mengalami pemberontakan anggota Kay-pang, ia cukup paham akan perasaan orang waktu itu. Maka ia lantas mengumumkan pengampunan serta takkan mengusut apa yang sudah terjadi untuk menarik simpati pasukan pemberontak itu. Sebab kekuatan musuh saat itu masih sangat besar, sedangkan pihak Yalu Hungki hanya tinggal belasan ribu orang saja, kalau musuh menggempur lagi pasti Yalu Hungki akan tertawan juga, maka tanpa permisi dulu segera Siau Hong mendahului mengeluarkan janji itu untuk menenteramkan perasaan pasukan pemberontak.

Dan benar juga, demi mendengar pengumuman itu, seketika suasana hiruk-pikuk tadi lantas tenang kembali, hanya saja di antara pasukan pemberontak itu masih banyak yang ragu, mereka saling pandang dengan bingung.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Siau Hong, ia khawatir jangan-jangan keadaan akan berubah buruk, segera ia berteriak pula, “Baginda ada perintah bahwa tiada seorang pun akan dituntut, semuanya diampuni, setiap orang tetap pada pangkatnya semula. Nah, lekas kalian meletakkan senjata!”

Maka terdengarlah suara gemerantang dan gemerencing, di sana-sini ramai para prajurit pemberontak itu melemparkan senjata mereka ke tanah. Hanya tinggal sebagian saja yang masih ragu.

Siau Hong lantas angkat tubuh Hong-thay-siok dan dibawanya ke atas gunung. Pasukan pemberontak itu tiada seorang pun berani merintangi, di mana kudanya sampai, di depan lantas tersiah sebuah jalan lalu baginya.

Setiba di lamping gunung, dari pasukan raja lantas memapak datang dua barisan untuk menyambut kedatangan Siau Hong dengan hasil yang gilang-gemilang itu. Di atas gunung segera musik berbunyi, suasana gembira ria di antara pasukan raja.

“Hong-thay-siok, lekas memberi perintah agar bawahanmu meletakkan senjata dan jiwamu akan diampuni,” kata Siau Hong kemudian.

“Kau jamin jiwaku?” tanya Hong-thay-siok.

Siau Hong pikir keadaan masih genting, terutama sebagian pasukan pemberontak masih bersangsi, tindakan paling penting sekarang ialah menenteramkan hati prajurit musuh, maka jawabnya lantas, “Sekarang adalah kesempatanmu untuk menebus dosa, asal baginda tahu biang keladinya adalah putramu, beliau tentu akan mengampuni jiwamu!”

Hal itu memang benar, apa yang terjadi itu adalah gara-gara Co-ong yang berambisi besar untuk menjadi raja, yang diharapkan Hong-thay-siok sekarang adalah bebas dari kematian, maka ia lantas menjawab, “Baiklah, aku akan menurut pada permintaanmu!”

Segera Siau Hong menegakkan tubuh Hong-thay-siok di atas kuda dan berteriak keras-keras, “Wahai para prajurit, dengarkanlah perintah Hong-thay-siok!”

Dan Hong-thay-siok lantas berseru, “Pemberontakan yang dijangkitkan Co-ong ini sudah gagal, Co-ong telah menerima ganjarannya yang setimpal, kini Hongsiang (baginda raja) telah mengampuni dosa kalian, maka lekas kalian meletakkan senjata dan mohon ampun kepada Hongsiang!”

Karena Hong-thay-siok sudah tertawan, seperti ular tanpa kepala, betapa pun bandelnya kaum pemberontak juga tak berani membangkang lagi, segera terdengar suara gemerantang senjata, segenap pasukan pemberontak itu sekarang benar-benar takluk semua.

Habis itu baru Siau Hong menggusur Hong-thay-siok ke atas gunung.

Yalu Hungki merasa seperti di alam mimpi saja. Ia girang tidak kepalang, terus saja ia menubruk Siau Hong dan memeluknya erat-erat, katanya dengan mencucurkan air mata terharu, “O, saudaraku, semuanya berkat bantuanmu!”

Dalam pada itu Hong-thay-siok telah berlutut dan memohon, “Hamba merasa berdosa, mohon Baginda suka memberi ampun!”

“Bagaimana pendapatmu, adikku?” tanya Hungki kepada Siau Hong dengan rasa senang.

“Jumlah pasukan pemberontak terlalu banyak, kita harus tenangkan dulu perasaan mereka, maka mohon Baginda suka mengampuni jiwa Hong-thay-siok,” ujar Siau Hong.

“Bagus, apa pun akan kuturut permintaanmu,” kata Hungki dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Pak-ih-tay-ong, “Segera mengumumkan titahku bahwa Siau Hong telah kuangkat menjadi Co-ong dengan kedudukan sebagai Lam-ih-tay-ong untuk memimpin segenap pasukan pemberontak yang menyerah itu dan segera berangkat pulang ke kota raja.”

Keruan Siau Hong kaget mendengar perintah itu. Sebabnya ia membunuh Co-ong dan menawan Hong-thay-siok, tujuannya melulu ingin menyelamatkan jiwa sang giheng saja, sekali-kali tiada maksud ingin mendapat pangkat segala. Maka seketika ia menjadi bingung malah oleh pengangkatan Yalu Hungki itu.

“Kionghi! Kionghi!” demikian Pak-ih-tay-ong lantas mengaturkan selamat kepada Siau Hong. “Menurut tradisi kerajaan, gelar Co-ong itu tidak boleh diberikan kepada orang di luar keluarga raja. Maka lekaslah Siau-heng mengaturkan terima kasih kepada Hongsiang!”

“Toako,” segera Siau Hong berkata kepada Hungki, “apa yang terjadi hari ini adalah berkat rahmat Tuhan, pasukan pemberontak memang harus menyerah padamu, aku cuma sedikit mengeluarkan tenaga yang tak berarti, mana dapat dianggap sebagai jasa besar segala. Apalagi aku pun tidak biasa dan juga tidak ingin menjadi pembesar, maka mohon Koko suka menarik kembali titahmu tadi.”

Hungki terbahak-bahak, ia rangkul bahu Siau Hong dan berkata, “Gelar Co-ong dan kedudukan sebagai Lam-ih-tay-ong adalah gelar kebangsawanan tertinggi dalam negeri Liau kita, bila adik masih merasa tidak cukup, kakakmu selain menyerahkan takhta padamu, lebih dari itu tiada jalan lagi!”

Keruan Siau Hong terperanjat, ia pikir kakak angkatnya itu saking kegirangan hingga cara omongnya menjadi lupa daratan, jangan-jangan apa yang dikatakan itu dilakukan sungguh-sungguh, tentu keadaan akan tambah runyam. Maka terpaksa Siau Hong berlutut dan berkata, “Ya, hamba Siau Hong menerima titah Baginda itu, banyak terima kasih atas budi baik Baginda!”

Dengan tertawa Yalu Hungki lantas membangunkan Siau Hong.

Lalu Siau Hong berkata pula, “Namun hamba adalah seorang kasar yang tidak paham peraturan dan undang-undang kerajaan, kalau ada kesalahan, mohon Baginda suka memberi ampun.”

“Tidak apa-apa,” kata Yalu Hungki sambil tepuk-tepuk bahu saudara angkat itu. Lalu ia berpaling kepada seorang perwira setengah umur di sebelahnya dan berkata, “Yalu Muko, aku mengangkatmu sebagai Lam-ih Ku-bit-su untuk membantu Siau Hong!”

Girang Yalu Muko bagaikan orang putus lotre, cepat ia berlutut untuk mengaturkan terima kasih. Lalu ia memberi sembah pula kepada Siau Hong.

“Muko,” kata Hungki pula, “dengan perintah Tay-ong, boleh kau pimpin bekas pasukan pemberontak itu pulang dulu ke Siangkhia! Sekarang kami akan pergi menyambangi ibu suri!”

Segera musik di atas gunung bergema, rombongan Yalu Hungki lantas menuju ke bawah gunung. Dalam pada itu panglima pasukan pemberontak sudah mengembalikan ibu suri dan permaisuri kepada kedudukan yang agung serta ditempatkan di tengah perkemahan besar. Waktu Hungki masuk kemah itu, pertemuan kembali antara ibu dan anak serta istri sehabis lolos dari lubang jarum sungguh mengharukan, kemudian mereka pun memberi pujian tinggi atas jasa Siau Hong.

Lalu Yalu Muko membawa Siau Hong untuk diperkenalkan kepada anak buah dan pembesar di bawah Lam-ih.

Tadi Siau Hong telah mempertunjukkan ketangkasannya di tengah pertempuran, betapa gagahnya telah disaksikan sendiri oleh semua orang. Apalagi Co-ong yang dulu itu wataknya kasar dan jahat, maka sekarang mereka terima dengan baik Siau Hong sebagai pimpinan mereka.

“Hongsiang sudah mengampuni dosa pemberontakan kalian, maka selanjutnya kalian harus memperbaiki kesalahan itu, jangan lagi sekali-kali timbul pikiran menyeleweng,” demikian Siau Hong memberi pengarahan di hadapan anak buahnya yang baru itu.

Segera seorang perwira berjenggot putih tampil ke muka dan melapor, “Hong-thay-siok dan Co-ong sudah menahan anggota keluarga kami sebagai sandera, hingga hamba terpaksa ikut memberontak, untuk itu mohon kebijaksanaan Tay-ong untuk menyampaikan kepada Baginda tentang duduk perkara yang sebenarnya.”

“Jika begitu, maka apa yang sudah lalu tidak perlu diungkit lagi,” ujar Siau Hong. Lalu ia berpaling kepada Yalu Muko, “Pasukan boleh mengaso dulu di sini, sesudah makan segera berangkat kembali ke kota raja.”

Kemudian perwira dan bintara di bawah perintah Lam-ih satu per satu maju memberi sembah kepada Siau Hong. Meski Siau Hong tidak pernah menjadi pembesar, tapi ia sudah lama menjabat Pangcu Kay-pang, dalam hal memimpin dan wibawa sudah tentu cukup cakap. Soalnya mungkin ada peraturan pasukan Cidan yang masih belum dipahami, tapi berkat bantuan Yalu Muko, semuanya dapat teratur dengan beres.

Tidak lama Siau Hong membawa pasukannya berangkat, susul-menyusul ibu suri dan permaisuri telah mengirim utusan membawakan harta benda dan jubah sulam untuk Siau Hong. Dan baru saja Siau Hong menerima hadiah itu, datanglah Kapten Sili mengawal A Ci.

Gadis cilik itu sudah berpakaian sutra sulam yang mentereng dan menunggang kuda bagus, katanya semua itu adalah hadiah ibu suri.

Siau Hong menjadi geli melihat tubuh A Ci yang kecil mungil itu seakan-akan terbungkus di dalam jubah sutra sulam yang besar dan gondrong itu hingga mukanya hampir tertutup oleh leher bajunya.

A Ci sendiri tidak ikut menyaksikan caranya Siau Hong membunuh Co-ong dan menawan Hong-thay-siok, ia hanya mendengar cerita ulangan dari Kapten Sili dan bawahannya.

Pada umumnya cerita orang itu suka ditambah-tambahi, suka dibumbu-bumbui, maka ketangkasan Siau Hong dalam cerita itu menjadi jauh lebih lihai seolah-olah malaikat dewata turun ke bumi. Maka begitu bertemu dengan Siau Hong segera A Ci menggerundel, “Cihu, begitu besar jasamu, mengapa sebelumnya sama sekali tidak kau beri tahukan padaku?”

“Apa yang telah kulakukan itu hanya secara kebetulan, dari mana aku bisa tahu sebelumnya dan memberi tahu padamu lebih dulu? Haha, datang-datang kau lantas bicara seperti anak kecil!” demikian Siau Hong menyahut dengan tertawa.

“Cihu, kemari sini,” seru A Ci.

Segera Siau Hong mendekati anak dara itu, ia lihat muka A Ci yang pucat itu bersemu kemerah-merahan, badannya terbungkus oleh jubah sulaman hingga mirip boneka saja, lucu dan menyenangkan, maka Siau Hong terbahak-bahak geli.

“Aku bicara benar-benar padamu, mengapa engkau tertawa, apa sih yang menggelikan?” omel A Ci.

“Karena dandananmu ini mirip boneka, maka aku merasa geli,” sahut Siau Hong.

“Engkau selalu anggap aku sebagai anak kecil, sekarang kau tertawakan aku lagi,” kata A Ci dengan mulut menjengkit.

“Ah, masa aku sengaja mengolok-olokmu,” sahut Siau Hong dengan tertawa. “A Ci, sebenarnya aku menyangka hari ini kita pasti akan mati semua, siapa tahu malah tertimpa rezeki nyasar. Padahal peduli apa Lam-ih-tay-ong atau Co-ong segala, asal kita tidak sampai mati, apa lagi yang kita harapkan?”

“Cihu, apa engkau sangat takut mati?” tiba-tiba A Ci bertanya.

Siau Hong melengak, sahutnya kemudian dengan mengangguk, “Ya, dalam keadaan bahaya, terkadang aku pun takut mati.”

“Hah, kukira engkau adalah seorang gagah perkasa, seorang yang tak gentar mati,” kata A Ci dengan tertawa. “Jika engkau takut mati, tatkala beratus ribu tentara memberontak, mengapa engkau berani menyerbu ke tengah-tengah mereka?”

“Itu namanya sebelum ajal pantang menyerah, kalau aku tidak menerjang musuh, pastilah aku akan mati. Hal mana juga tak bisa dikatakan gagah berani, tidak lebih cuma pergulatan terakhir saja,” kata Siau Hong. “Misalnya kita mengepung seekor beruang atau harimau, sebelum dia tertangkap, pasti juga dia akan menyerang kian-kemari dan mengganas dengan mati-matian.”

“He, engkau misalkan dirimu sebagai binatang,” ujar A Ci dengan tertawa.

Tatkala itu mereka dikelilingi oleh barisan tentara yang panjang dengan panji yang berkibar memenuhi padang rumput. A Ci merasa senang sekali, katanya, “Tempo hari aku telah mengakali Toasuheng sehingga dapat merebut hak ahli waris Sing-siok-pay, kupikir di antara anggota keluarga Sing-siok-pay yang berjumlah beberapa ratus orang itu, kecuali Suhu seorang, akulah pemimpin tertinggi, maka aku merasa sangat senang waktu itu. Tapi kini kalau dibandingkan dengan engkau yang memimpin beratus ribu prajurit ini, terang jauh sekali bedanya. Cihu, kabarnya Kay-pang telah memecat dirimu sebagai pangcu mereka. Hm, cuma suatu organisasi pengemis begitu saja berlagak, boleh kau pimpin tentaramu ini ke sana dan bunuh saja mereka semua.”

“Ai, omongan anak kecil lagi!” ujar Siau Hong sambil menggeleng kepala. “Aku adalah orang Cidan, kalau mereka tidak sudi padaku sebagai pangcu, hal ini adalah tepat. Orang Kay-pang adalah bekas bawahanku dan kawan-kawanku yang baik, mana boleh kubunuh mereka?”

“Tapi mereka telah menuduhmu secara semena-mena dan memecatmu dari pang mereka, dengan sendirinya mereka harus dibunuh, masakah engkau masih anggap mereka sebagai kawanmu?”

Siau Hong sukar menjawab pertanyaan itu, ia hanya geleng-geleng kepala. Ia menjadi muram bila teringat pertarungan di Cip-hian-ceng, di mana ia telah putuskan segala hubungan baik dan persahabatan dengan para kesatria.

“Eh, Cihu, jika mereka mendengar bahwa engkau telah menjadi Lam-ih-tay-ong di negeri Liau, tiba-tiba mereka merasa menyesal dan ingin mengundangmu untuk menjadi pangcu mereka lagi, apakah engkau akan terima undangan mereka?” tiba-tiba A Ci bertanya lagi.

“Mana bisa jadi?” sahut Siau Hong dengan tersenyum. “Para kesatria Kerajaan Song anggap orang Cidan adalah manusia jahanam yang kejam, semakin besar pangkatku di negeri Liau sini, semakin benci pula mereka padaku.”

“Huh, masakah engkau ingin disukai mereka? Mereka benci padamu, kita juga benci pada mereka,” kata A Ci.

Ketika Siau Hong memandang ke arah selatan, ia melihat padang rumput yang luas itu di mana langit bertemu dengan bumi adalah lereng gunung yang berderet-deret, ia pikir di balik pegunungan itulah wilayah Tionggoan. Meski ia adalah orang Cidan, tapi sejak kecil dibesarkan di daerah Tionggoan, dalam hati kecilnya boleh dikatakan lebih cinta kepada tanah Song itu daripada menyukai negeri Liau yang baru dikenalnya ini. Bila dia diperbolehkan menjadi anggota Kay-pang yang paling rendah sekalipun, mungkin akan lebih senang dan tenteram daripada menjadi Lam-ih-tay-ong segala di negeri Liau.

“Cihu,” kata A Ci pula, “kubilang Hongsiang memang pintar, beliau mengangkatmu sebagai Lam-ih-tay-ong, dengan demikian bila kelak negeri Liau berperang dengan negeri lain, tentu engkau harus memimpin tentara untuk melawan musuh dan dengan sendirinya akan selalu menang. Asal engkau menyerbu ke tengah pasukan musuh dan membunuh panglimanya, maka tanpa perang lagi musuh akan menyerah, bukankah dengan mudah saja peperangan lantas berakhir?”

“Kembali omongan anak kecil lagi,” sahut Siau Hong dengan tertawa. “Masakah kau anggap segala peperangan serupa dengan pemberontakan Hong-thay-siok dan Co-ong? Mereka adalah bangsa Liau dan biasanya tunduk pada perintah baginda raja, jika biang keladi mereka tertawan, dengan sendirinya mereka lantas takluk. Tapi peperangan di antara dua negara akan lain soalnya. Biarpun panglimanya kau bunuh, mereka masih mempunyai wakil panglima yang lain, wakil panglima mereka mati, masih ada perwira lain lagi, belum terhitung prajurit dan bintara musuh yang entah berapa jumlahnya, hanya seorang diri aku menyerbu ke tengah-tengah mereka, apa yang dapat kuperbuat?”

“O, kiranya begitu,” kata A Ci. “Eh, Cihu, kau bilang waktu menyerbu musuh dan membunuh Co-ong itu tak dapat dibilang gagah berani, habis selama hidupmu dalam hal apa kau anggap paling gagah berani? Coba, dapatkah kau ceritakan padaku?”

Selamanya Siau Hong tidak suka bicara tentang keperkasaan sendiri, biarpun habis membasmi kaum penjahat atau baru menang bertanding juga tidak pernah dipamerkan kepada orang lain, padahal entah sudah berapa banyak kejadian luar biasa yang telah dialaminya.

Ia merasa tidak akan habis-habis kalau mesti bercerita tentang kegagahannya dahulu. Maka jawabnya, “Setiap kali aku bertempur dengan orang, selalu aku adalah pihak yang terpaksa, maka tak dapat dikatakan tentang gagah berani segala.”

“Tapi kutahu bahwa selama hidupmu pertarungan sengit di Cip-hian-ceng itulah pertempuranmu yang paling gagah berani,” ucap A Ci.

Kembali Siau Hong melengak. “Dari mana kau tahu?” tanyanya.

“Waktu di Siau-keng-oh tempo hari, sesudah kau pergi, ayah dan ibu beserta beberapa bawahannya telah bicara tentang ilmu silatmu dan mereka sama kagum tak terhingga, mereka mengatakan engkau telah menempur para kesatria Tionggoan di Cip-hian-ceng, soalnya cuma membela keselamatan seorang gadis jelita. Gadis jelita itu tentulah ciciku, bukan?” tanya A Ci. “Tatkala mana ayah dan ibu belum tahu bahwa A Cu adalah putri kandung mereka, maka mereka menganggapmu sangat kejam kepada ayah bunda, sangat keji terhadap guru dan ayah-ibu angkatmu, tapi terhadap wanita engkau justru mabuk, mereka bilang engkau adalah manusia yang tidak tahu budi dan lupa kebaikan, sebaliknya kejam dan suka akan kundai licin, engkau dianggap orang jahat yang tidak kenal perikemanusiaan,” bicara sampai di sini, tertawalah gadis itu dengan terkikik-kikik.

“Lupa budi dan tidak tahu kebaikan, kejam dan suka kundai licin? Ai, tentu saja para kesatria benci padaku sampai ke tulang sumsum,” demikian Siau Hong bergumam sendiri.

Selang beberapa hari kemudian, sampailah pasukan besar itu di kota raja. Sebelumnya para pembesar dan pasukan penjaga kota serta rakyat jelata sudah mendapat kabar tentang datangnya Siau Hong, maka berbondong-bondong mereka memapak jauh di luar kota.

Di mana panji pengenal Siau Hong tiba, di situ rakyat jelata lantas berlutut memberi sembah dengan pujian yang tak habis-habis. Maklum, sekaligus ia telah dapat mengamankan pemberontakan, ini berarti telah menyelamatkan jiwa para prajurit beserta anggota keluarganya yang ditawan musuh, sudah tentu rasa terima kasih mereka tak terhingga.

Ketika Siau Hong menjalankan kudanya perlahan mengelilingi kota, sepanjang jalan rakyat bersorak-sorai memberikan pujian secara luar biasa.

Diam-diam Siau Hong terharu oleh suara pujian itu, apalagi air mata rakyat jelata itu tampak berlinang-linang, suatu tanda rasa terima kasih mereka itu memang timbul benar-benar dari lubuk hati yang murni. Pikirnya, “Seorang yang berkedudukan tinggi dan memegang kendali kenegaraan, setiap gerak-gerik dan tindak tanduknya akan menyangkut nasib beratus-ratus ribu, bahkan berjuta-juta rakyatnya. Padahal sebelum aku menyerbu musuh untuk membunuh Co-ong, aku hanya terdorong oleh keinginan membunuh musuh gihengku saja, sama sekali tak tersangka olehku bahwa dengan tindakanku itu tanpa sengaja telah menyelamatkan beratus ribu jiwa manusia.”

Begitulah dengan mendapat sambutan hangat dari penduduk kota, akhirnya rombongan Siau Hong sampai di depan istana Lam-ih-tay-ong.

Meski Siau Hong adalah bekas pangcu, tapi pangcu dari kaum pengemis, hidupnya selalu melarat, tempat tinggalnya sembarang tempat, di mana pun dapat dibuat tidur, baik di emperan, maupun di kolong jembatan, semuanya pernah dilakukan Siau Hong. Tapi kini ia terkesima menyaksikan sebuah gedung yang megah.

Waktu ia dipersilakan masuk oleh Yalu Muko, ia lebih terpesona lagi oleh segala perabotan di dalam istana itu. Sesudah ia periksa seperlunya keadaan dan isi istana itu, lalu ia ambil tempat duduk di atas singgasananya dan menerima sembah perkenalan dari penggawa istana.

Kemudian para kepala kelompok suku juga datang memberi hormat, banyak sekali nama suku bangsa di bawah kekuasaan Kerajaan Liau, seketika Siau Hong juga tidak ingat nama-nama kelompok suku sebanyak itu.

Habis itu para perwira dari pasukan pribadi ibu suri dan permaisuri, para pengawal berbagai istana juga beruntun-runtun datang menghadap.

Akhirnya para utusan berbagai negeri yang berkedudukan di kota raja ketika mengetahui Siau Hong telah diangkat menjadi Lam-ih-tay-ong yang baru, maka beramai-ramai perwakilan dari 59 negara yang berada di bawah pengaruh negeri Liau, seperti negeri Korea, Nuchen, Se He, Tartar, dan lain-lain, semuanya datang untuk berkenalan dengan raja muda yang baru dan berpengaruh ini. Banyak sekali di antaranya membawa oleh-oleh dan mempersembahkan kado dengan maksud mengikat persahabatan.

Begitulah setiap hari Siau Hong sibuk menerima tamu dan menemui pembesar bawahannya. Apa yang dilihatnya adalah emas intan yang gemerlapan dan apa yang didengarnya adalah puji sanjung yang menjilat pantat. Sebagai seorang yang berjiwa jujur lurus, sudah tentu Siau Hong tidak biasa dengan penghidupan seperti itu, lama-kelamaan ia merasa jemu juga.

Kira-kira sebulan kemudian, Yalu Hungki mengundangnya untuk bertemu di istana dan berkata kepada Siau Hong, “Saudaraku yang baik, kedudukanmu adalah Lam-ih-tay-ong, tempat tugasmu adalah Lamkhia, di sana harus kau cari kesempatan untuk melakukan invasi ke Tionggoan. Meski aku merasa berat untuk berpisah denganmu, tapi demi tugas dan kejayaan bangsa, terpaksa silakan lekas berangkat ke selatan dengan pasukanmu.”

Siau Hong terperanjat mendengar baginda raja menitahkan dia memimpin pasukan untuk menjajah ke selatan. Cepat sahutnya, “Soal invasi ke selatan bukanlah urusan kecil, harap Yang Mulia suka meninjau kembali keputusan ini. Hamba cuma seorang persilatan yang kasar, dalam hal siasat militer sama sekali tidak paham.”

“Negeri kita baru mengalami pemberontakan, kita memang harus memelihara kekuatan dahulu,” ujar Hungki dengan tertawa. “Apalagi pemerintah Song sekarang telah mengangkat Suma Kong sebagai perdana menteri, politiknya stabil, rakyatnya patuh, kesempatan untuk menyerbu ke selatan belum ada. Maka sesudah berada di Lamkhia, hendaklah senantiasa kau ingat tujuan kita akan mencaplok kerajaan di selatan itu, kita harus mencari saat yang baik dan tepat, jika ada sesuatu kerusuhan di dalam tubuh pemerintahan Song, segera kita mengerahkan pasukan ke selatan. Bila bagian dalam mereka bersatu, maka hasil kita akan sangat kecil sekali bila menggempur mereka.”

“Betul, memang harus begitu,” sahut Siau Hong.

“Akan tetapi dari manakah kita dapat mengetahui pemerintahan Song dalam keadaan kuat dan rakyatnya patuh dan bersatu?” kata Hungki pula.

“Untuk itu mohon Baginda suka memberi petunjuk,” sahut Siau Hong.

“Hahaha, caranya sejak dulu kala hingga sekarang adalah sama saja,” seru Hungki dengan terbahak-bahak. “Resepnya adalah gunakanlah sebanyak mungkin harta kekayaan untuk membeli mata-mata musuh. Orang selatan paling tamak pada harta, manusia rendah tak terhitung banyaknya di sana. Asal mendapat harta, mereka tidak segan-segan menjual negara. Maka boleh kau suruh Ku-bit-su jangan sayang membuang harta mestika sebanyak mungkin, tentu usahamu akan berhasil.”

Siau Hong mengiakan pesan itu, lalu mohon diri dengan perasaan kesal. Sebagai seorang laki-laki sejati, biasanya sahabat karibnya adalah golongan kesatria yang gagah dan jujur, biarpun sudah banyak pengalamannya menghadapi tipu muslihat keji di kalangan Kangouw, tapi paling-paling juga cuma perbuatan membunuh orang atau membakar rumah secara blakblakan tanpa banyak lika-liku, selamanya belum pernah ia gunakan harta benda untuk memperalat orang lain. Apalagi, walaupun ia adalah orang Cidan, tapi sejak kecil dibesarkan di daerah selatan, sekarang dia ditugaskan oleh Yalu Hungki untuk mencaplok Kerajaan Song, hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan jiwanya.

Ia pikir, “Giheng mengangkatku sebagai Lam-ih-tay-ong, hal ini adalah maksud baiknya, kalau sekarang juga kuletakkan jabatan, betapa pun akan mengecewakan maksud baiknya dan akan mengganggu persaudaraan kami. Biarlah nanti sesudah aku di Lamkhia setelah kujalankan tugasku selama setahun dua tahun, lalu aku akan mohon mengundurkan diri. Dan kalau beliau tidak mengizinkan, diam-diam aku akan tinggal pergi, masakah beliau dapat menahan aku?”

Begitulah ia lantas membawa bawahannya bersama A Ci berangkat ke Lamkhia.

*****

Yang dimaksud Lamkhia pada Kerajaan Liau waktu itu adalah Kota Pakhia (Peking) sekarang. Zaman itu Kerajaan Song menyebutnya sebagai Yankhia, Yutoh, atau Yuciu.

Kota itu sebenarnya termasuk wilayah kekuasaan Tiongkok. Ketika Ciok Keng-tong dari Dinasti Cin mengangkat dirinya sendiri menjadi raja, ia telah minta bala bantuan Kerajaan Liau. Untuk balas jasanya, Ciok Keng-tong menyerahkan wilayah kekuasaan Yan-hun-cap-lak-ciu (16 kota Yan-hun) kepada Kerajaan Liau. Dan di antara ke-16 kota itu termasuk pula Yuciu atau Yankhia.

Ke-16 kota yang dijual oleh Ciok Keng-tong itu adalah tempat-tempat penting dan strategis, selama Dinasti Cin, Ciu, dan Song, pemerintah Tiongkok tidak mampu merebut kembali kota-kota wilayah kekuasaannya itu, bahkan setiap kali terjadi perang, selalu pasukan Liau mendapat keuntungan dari kota-kota penting yang menjadi pangkalan mereka itu dan selalu pasukan Song dikalahkan habis-habisan.

Setiba di dalam kota, Siau Hong lihat jalan di dalam kota sangat lebar dan resik, orang yang berlalu-lalang adalah rakyat kerajaan selatan (Song), yang terdengar juga bahasa Tionghoa. Ia merasa seakan-akan telah pulang ke tempat tinggalnya dahulu. Malahan keramaian dan kemakmuran kota juga lebih baik daripada Siangkhia.

Siau Hong dan A Ci merasa kerasan di kota yang ramai ini. Dengan gembira, esok paginya mereka lantas keluar pesiar dengan dandanan yang sederhana dan tanpa pengawal.

Luas Kota Yankhia itu antara 36 li (kira-kira sama dengan 18 km) persegi. Seluruhnya ada delapan pintu gerbang kota. Letak istana Lam-ih-tay-ong itu di barat laut di dalam benteng kota.

Sesudah Siau Hong dan A Ci pesiar hampir setengah hari, mereka melihat di mana-mana toko dan pasar ramai dikunjungi orang, di sana-sini juga banyak terdapat kelenteng.

Sebagai Lam-ih-tay-ong, maka wilayah kekuasaan Siau Hong bukan cuma Yan-hun-cap-lak-ciu saja, bahkan Tay-tong-hu dan sekitarnya di sebelah barat, Tay-ting-hu di sebelah selatan juga termasuk wilayah kekuasaannya. Dan sebagai raja muda, terpaksa ia mesti tinggal di dalam istana.

Sesudah melakukan tugasnya beberapa hari, ia lantas merasa pusing kepala, untung Lam-ih Ku-bit-su, kepala stafnya Siau Hong, yaitu Yalu Muko, cukup cekatan dan pandai mengatur, maka ia percayakan semua pekerjaan dinas kepadanya.

Menjadi pembesar setinggi Siau Hong itu juga ada enaknya. Di dalam istana tersedia barang berharga yang tak terhitung banyaknya, empedu beruang dan tulang harimau boleh dimakan bagai makan nasi saja oleh A Ci. Dengan perawatan demikian, akhirnya kesehatan A Ci menjadi pulih seperti sediakala, pada permulaan musim dingin ia sudah dapat bergerak dengan bebas.

Dasar gadis itu memang lincah dan suka bergerak, maka begitu sudah sehat kembali, segera A Ci pesiar beberapa kali ke seluruh pelosok kota, kemudian dengan dikawal oleh Kapten Sili, mereka mulai pesiar keluar kota yang berdekatan.

Suatu hati, hujan salju baru saja reda, dengan memakai baju kulit berbulu halus, A Ci datang ke Istana Soan-kau-tian, tempat tinggal Siau Hong, ia berkata, “Cihu, aku merasa bosan tinggal di kota, ayolah kita pergi berburu saja!”

Sekian lamanya tinggal dalam istana, memang Siau Hong juga merasa kesal, maka ajakan A Ci itu diterima dengan senang hati. Tapi ia tidak suka berburu secara besar-besaran, maka hanya beberapa pengawal dibawanya untuk melayani A Ci. Pula khawatir akan mengejutkan penduduk setempat, maka mereka berdandan sebagai prajurit biasa, membawa busur dan panah, dengan berkuda mereka ke luar kota dan menuju ke utara.

Kira-kira belasan li jauhnya di luar kota, mereka hanya memperoleh beberapa ekor kelinci saja, binatang lain yang lebih besar tidak kelihatan.

“Marilah kita coba-coba ke bagian selatan,” kata Siau Hong. Segera ia membawa rombongannya berputar ke barat terus ke selatan.

Kira-kira belasan li lagi, tiba-tiba seekor kijang berlari keluar dari semak-semak. Cepat A Ci mengambil busur dan panah, tapi ketika ia hendak menarik busurnya, ternyata tenaganya tak cukup. Nyata meski kesehatannya sudah pulih, tapi tenaga belum kuat.

Segera Siau Hong mendekatinya, ia gunakan tangan kiri memegang tali gendewa dari belakang A Ci, lalu tangan kanan mementang gendewa, sekali bidik, anak panah itu meluncur dengan cepat, kontan kijang itu menggeletak terkena panah. Maka bersoraklah para pengiringnya.

Ketika Siau Hong lepas tangan, ia pandang A Ci dengan tersenyum. Tapi ia menjadi terkejut demi tampak air mata anak dara itu berlinang-linang. Tanyanya dengan heran, “He, kenapa menangis? Kau tidak senang aku membantumu memanah kijang tadi?”

“Aku… aku sudah menjadi orang cacat, sampai gendewa saja tidak… tidak mampu menariknya lagi,” sahut A Ci dengan air mata bercucuran.

“Ai, kenapa kau tidak sabaran begitu, asal kau merawat diri dengan baik, tentu tenagamu akan pulih kembali,” hibur Siau Hong. “Dan kelak bila betul tak bisa pulih, pasti akan kuajarkan cara melatih lwekang padamu, pasti tenagamu akan bertambah kuat.”

Maka tertawalah A Ci, katanya, “Engkau harus pegang janji dengan baik, engkau harus mengajarkan lwekang padaku.”

“Baik, pasti akan kuajarkan,” sahut Siau Hong.

Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara ramai derapan kuda lari dari arah selatan, ada suatu pasukan sedang mendatang dari tanah salju sana. Meski pasukan itu tidak memasang panji pengenal, tapi segera Siau Hong dapat melihat pasukan itu adalah tentara Liau. Terdengar prajurit dan perwira pasukan itu bersorak-sorai dan menyanyi-nyanyi dengan riang gembira, di belakang mereka tampak banyak tawanan pula, agaknya mereka habis pulang dari menang perang.

“Kita tidak perang dengan siapa pun, dari mana pasukan ini bisa menang perang?” pikir Siau Hong.

Ia lihat pasukan itu menuju ke timur, yaitu arah Kota Lamkhia. Segera ia katakan pada pengiringnya, “Coba pergi tanya mereka, pasukan dari manakah dan untuk apa datang ke sini?”

Pengiring itu mengiakan dan menambahkan pula, “Mungkin kawan kita sendiri yang habis pulang dari ‘panen’.”

Lalu ia larikan kudanya menghampiri pasukan itu.

Ketika komandan pasukan itu mengetahui Lam-ih-tay-ong berada di situ, serentak mereka bersorak gembira, mereka turun dari kuda dan dengan langkah cepat menghampiri Siau Hong untuk memberi hormat, berbareng mereka lantas bersorak, “Hidup Tay-ong!”

Siau Hong hanya angkat tangannya sebagai hormat. Ia lihat pasukan itu berjumlah antara 800 orang, di atas kuda mereka penuh termuat macam-macam barang, ada bahan pangan, ada bahan sandang, dan benda-benda berharga lainnya. Tawanan yang mereka ringkus juga ada 800 jiwa banyaknya, sebagian besar adalah wanita muda, tapi ada juga sedikit anak dan orang tua. Dari dandanan mereka dapat diketahui adalah orang Song, banyak di antaranya sedang menangis sedih, keadaan sangat mengenaskan.

“Hari ini adalah giliran pasukan hamba yang dinas ‘tah-cau-kok’ (panen), berkat Tay-ong yang mulia, hasil kami lumayan juga,” demikian komandan pasukan itu memberi lapor. Lalu ia berpaling ke belakang dan berteriak, “Ayo, kawan-kawan! Lekas persembahkan wanita muda yang paling cantik dan harta benda yang paling berharga, kita persilakan Tay-ong memilih sendiri!”

Segera anak buahnya mengiakan, dalam sekejap saja lebih 20 orang wanita muda yang cantik digusur ke depan Siau Hong, banyak pula emas intan dan batu permata yang berharga terserak di atas sehelai selimut, semuanya itu menantikan pilihan Siau Hong.

Umumnya orang Cidan paling menghormat pada kesatria gagah, bila Siau Hong sudi menerima wanita tawanan dan harta rampasan mereka dari hasil “panen” itu, maka hal mana akan merupakan suatu kehormatan besar bagi mereka.

Dahulu di luar Gan-bun-koan, Siau Hong juga pernah menyaksikan pasukan tentara Song merampok dan menawan orang-orang Cidan. Sekarang ia melihat pasukan Cidan yang menawan orang Song. Keadaan tawanan yang mengenaskan itu sama saja tiada bedanya.

Sesudah sekian lamanya tinggal di negeri Liau, pada garis besarnya Siau Hong sudah paham peraturan militer negeri itu. Pasukan tentara Liau itu tidak mendapat gaji dan catu ransum, segala keperluan perwira dan prajuritnya, seluruhnya diperoleh dengan merampas dari pihak musuh. Maka setiap hari ada pasukan yang dikirim untuk merampas sandang pangan dari rakyat negeri tetangga seperti Korea, Song, Se He, Nuchen, dan lain-lain, perbuatan mereka ini diberi nama “tah-cau-kok” atau panen. Padahal tiada bedanya dengan garong.

Sebab itulah tentara Song juga membalas dengan melakukan “panen” pada orang Cidan dengan cara yang sama. Maka penghidupan penduduk di sekitar perbatasan itu menjadi sangat melarat dan tidak aman, setiap saat selalu hidup dalam ketakutan.

Sebenarnya Siau Hong merasa cara demikian itu terlalu kejam dan zalim, cuma ia sendiri tidak berniat menjadi pembesar untuk selamanya, setelah sekadar memenuhi keinginan Yalu Hungki, lalu ia akan meletakkan jabatan dan tinggal pergi. Sebab itulah ia tidak memberi suatu saran apa-apa tentang politik dan ketatanegaraan.

Kini dengan mata kepala sendiri menyaksikan keadaan mengenaskan dari para tawanan itu, mau tak mau ia merasa tak tega. Segera ia tanya komandan pasukan itu, “Dari mana kalian memperoleh hasil panen ini?”

Dengan penuh hormat komandan itu melapor, “Harap Tay-ong maklum, hasil ‘panen’ hamba ini diperoleh dari perbatasan di luar Takciu. Sejak Tay-ong kemari, hamba tidak berani mencari ransum lagi di sekitar sini.”

Dari jawaban itu Siau Hong menarik kesimpulan dahulu mereka tentu banyak melakukan penggarongan milik orang Song di sekitar Lamkhia. Segera ia tanya kepada seorang gadis yang dihadapkan kepadanya itu dalam bahasa Han, “Kau berasal dari mana?”

Gadis itu berlutut, sahutnya dengan menangis, “Hamba adalah orang Thio-koh-jun, mohon belas kasihan Tay-ong, sudilah mengampuni hamba dan bebaskan hamba untuk berkumpul kembali dengan orang tua.”

Waktu Siau Hong memandang ke arah tawanan-tawanan itu, ia melihat beberapa ratus orang itu berlutut semua, hanya ada seorang pemuda yang tetap berdiri dengan bersitegang.

Berdiri di tengah beratus tawanan yang berlutut itu, dengan sendirinya pemuda itu kelihatan sangat menonjol. Siau Hong lihat usia pemuda itu antara 16-17 tahun, raut mukanya lonjong, matanya bersinar, sedikit pun tidak gentar padanya. Segera ia tanya, “Hai, pemuda, kau berasal dari mana?”

“Ada suatu urusan rahasia penting ingin kubicarakan padamu secara berhadapan,” sahut pemuda itu.

“Baiklah, majulah ke sini,” kata Siau Hong.

Pemuda itu angkat kedua tangannya ke atas, ternyata tangannya terikat dengan kencang. Terdengar ia berseru, “Silakan meninggalkan pengiringmu ke sana, urusan penting ini tidak boleh didengar orang lain.”

Siau Hong merasa heran, ia pikir seorang pemuda keroco begitu masakah mempunyai urusan rahasia penting segala? Tapi dia berasal dari selatan, boleh jadi membawa rahasia militer Kerajaan Song. Sebagai seorang kesatria, Siau Hong benci kepada manusia rendah yang suka menjual negara dan bangsa, maka sebenarnya ia tidak mau gubris pada pemuda itu. Tapi mengingat hal yang akan diberitahukan mungkin di luar dugaannya, ia pikir tiada halangannya untuk mendengarkannya.

Segera ia larikan kuda meninggalkan pengiringnya kira-kira puluhan meter jauhnya, lalu ia panggil pemuda itu, “Nah, majulah ke sini!”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: