Kumpulan Cerita Silat

22/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 42

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:16 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Yang serbasalah adalah Siau Hong, ia berada di tengah-tengah dan entah pihak mana yang harus dibantunya. Dalam pada itu ia masih terus dihujani panah oleh orang-orang Cidan, tapi dengan mudah saja ia dapat menyampuk jatuh semua panah sambil berteriak-teriak, “Hai, apa-apaan kalian ini? Mengapa tanpa tanya sesuatu lantas sembarangan membunuh orang!”

Dari tempat sembunyinya sana Akut teriaki dia, “Siau Hong, lekas kemari, mereka tidak tahu bahwa engkau sebangsa mereka!”

Dan pada saat itu juga dua orang Cidan dengan tombak terhunus sedang menerjang ke arah Siau Hong dari kanan dan kiri. Begitu mendekat, terus saja tombak mereka menusuk sasarannya.

Siau Hong tidak ingin membunuh bangsanya sendiri, maka ia hanya tangkap ujung tombak lawan, sedikit ia sendal, kontan kedua orang itu terjungkal ke bawah kuda. Segera Siau Hong gunakan kedua tombak rampasan untuk menyungkit tubuh kedua orang Cidan itu, seketika kedua orang itu melayang kembali ke arah kawan-kawan mereka sambil berkaok-kaok ketakutan di udara, lalu terbanting di tanah hingga tak sanggup bangun untuk sekian lamanya.

Beramai-ramai Akut dan kawan-kawannya bersorak.

Maka tertampaklah di antara orang-orang Cidan itu muncul seorang laki-laki setengah umur berjubah merah sedang membentak-bentak memberi perintah. Lalu beberapa puluh orang Cidan membagi diri dalam dua jurusan, dari kanan kiri mereka lantas mengepung dari kejauhan untuk mencegat jalan lari Akut dan kawan-kawannya.

Melihat gelagat jelek, segera Akut bersuit sekali, cepat ia melarikan diri bersama rombongannya. Kembali orang Cidan menghujani mereka dengan panah hingga beberapa orang Nuchen terbinasa lagi.

Melihat kekejaman orang-orang Cidan, walaupun mereka adalah suku bangsanya sendiri, tapi Siau Hong tak memikirkan hal itu lagi, segera ia rampas sebuah busur dan panahnya, beruntun ia memanah empat kali hingga empat orang Cidan kontan terjungkal dari kuda, tapi tidak mati lantaran yang dipanah Siau Hong adalah bagian pundak, kaki dan tempat-tempat yang tidak berbahaya.

Di luar dugaan ketika orang berjubah merah tadi membentak pula, orang-orang Cidan itu sedikit pun pantang mundur, mereka terus mengejar dengan gagah berani.

Siau Hong lihat di antara rombongan Akut itu kini hanya tinggal tiga orang pemuda saja yang masih ikut melarikan diri sambil balas memanah musuh, selebihnya sudah terbunuh oleh orang-orang Cidan.

Padahal di padang rumput yang datar itu, untuk melarikan diri jelas tidak mudah, tampaknya dalam waktu singkat Akut dan kawan-kawannya pasti juga akan menjadi korban keganasan orang-orang Cidan.

Selama ini Siau Hong telah dipandang sebagai saudara sendiri oleh orang-orang Nuchen, kalau kawan-kawan karib yang lagi menghadapi bahaya itu tak ditolong olehnya, sungguh rasa hatinya tidak tenteram. Sebaliknya bila orang-orang Cidan itu dibunuhnya semua, betapa pun mereka adalah suku bangsanya sendiri, ia merasa tidak tega. Jalan satu-satunya sekarang terpaksa orang berjubah merah yang merupakan pemimpin mereka itu harus ditawan lebih dulu, lalu akan memaksa dia memerintahkan orang-orangnya menghentikan pertumpahan darah itu.

Setelah mengambil keputusan, segera Siau Hong berseru, “Hai, lekas kalian mundur saja! Kalau tidak, terpaksa aku tidak sungkan lagi!”

Tapi sebagai jawabnya, mendadak tiga batang tombak menyambar ke arahnya. Keruan Siau Hong sangat mendongkol. Segera ia menerjang ke arah si jubah merah dengan cepat.

“Jangan, jangan, Siau-toako, lekas kembali!” Akut berteriak-teriak khawatir demi melihat sahabat baik itu hendak menyerempet bahaya.

Tapi Siau Hong tidak gubris padanya, ia tetap menerjang ke depan. Dengan sendirinya orang-orang Cidan hendak merintanginya, panah dan tombak mereka bagaikan hujan menghambur ke arah Siau Hong.

Mendadak Siau Hong membentak sekali, ia tangkap sebatang tombak, sekali pukul ia patahkan tombak panjang itu, dengan ia putar kencang potongan tombak itu hingga segala macam senjata musuh yang menyambar ke tubuhnya itu disampuknya jatuh semua. Sedangkan larinya tidak menjadi kendur, hanya sekejap saja ia sudah menerjang sampai di depan si jubah merah.

Si jubah merah yang berewok itu sangat gagah dan angker, ia tidak sanggup melihat Siau Hong menerjang tiba, cepat ia terima tiga batang lembing dari pengawalnya, segera lembing pertama ditimpukkan ke arah Siau Hong. Tapi sekali tangkap, lembing itu kena dipegang oleh Siau Hong, begitu pula lembing kedua. Habis itu, tanpa ampun lagi dua pengawal di kanan-kiri si jubah merah terjungkal dari kuda mereka.

“Bagus!” bentak si jubah merah sambil menimpukkan lembing ketiga.

Tapi dengan menggunakan gaya “pinjam tenaga untuk balas menyerang”, sekali Siau Hong menyampuk dengan tangan kiri ke atas, tahu-tahu lembing itu berputar arah dan menyambar balik, “crat”, dada kuda tunggangan si jubah merah tepat tertancap oleh lembing itu.

Sambil berteriak kaget, sebelum kudanya roboh si jubah merah mendahului melompat turun. Namun Siau Hong lebih cepat dari dia, tahu-tahu tangan kanan Siau Hong sudah meraih sampai di atas pundak kanannya terus dicengkeram kencang-kencang.

Pada saat itulah Siau Hong dengar suara sambaran senjata dari belakang, sekali kaki memancal, secepat terbang Siau Hong meloncat ke depan hingga beberapa meter jauhnya sambil menggondol si jubah merah. Maka terdengarlah suara “crat-cret” dua kali, dua batang tombak telah menancap di atas tanah di tempat Siau Hong berpijak tadi.

Sambil mengempit si jubah merah, segera Siau Hong meloncat pula ke kiri hingga jatuh di atas kuda seorang penunggang Cidan, sekali sikut ia bikin orang Cidan itu terperosot ke bawah, lalu keprak kuda rampasan itu menyingkir ke tempat yang luang.

Masih si jubah merah itu meronta-ronta sambil meninju muka Siau Hong, tapi sekali Siau Hong mengempit dengan kencang, si jubah merah tak bisa berkutik lagi. Segera Siau Hong membentak, “Perintahkan mereka mundur, kalau tidak sekarang juga kukempit mampus dirimu!”

Karena terancam, terpaksa si jubah merah berseru, “Lekas kalian mundur, tidak perlu bertempur lagi!”

Beramai-ramai orang Cidan itu lantas mengerumuni Siau Hong, mereka ingin mencari kesempatan untuk menolong pemimpin mereka. Tapi dengan tombak patah tadi Siau Hong mengancam leher si jubah merah sambil membentak, “Apa minta kubinasakan dia!”

“Lekas kau bebaskan pemimpin kami, kalau tidak, segera kami cencang dirimu menjadi perkedel!” bentak seorang Cidan tua.

Siau Hong terbahak-bahak. Mendadak ia memukul ke arah orang tua itu dari jauh. “Blang”, kontan orang itu mencelat dari kudanya hingga sejauh beberapa meter, mulutnya menyemburkan darah, tampaknya tidak mungkin hidup lagi.

Memang Siau Hong sengaja hendak menggertak musuh dengan “Pik-khong-ciang” (pukulan dari jauh) yang hebat itu, maka tenaga yang dipakainya tadi cukup keras. Keruan orang Cidan yang tidak pernah menyaksikan ilmu sakti seperti itu menjadi kesima, sejenak kemudian mereka sama menjerit kaget dan beramai-ramai mengundurkan kuda mereka dengan rasa khawatir jangan-jangan pukulan Siau Hong itu akan berkenalan pula dengan mereka, sudah tentu mereka tidak mampu melawan pukulan yang mirip ilmu sihir itu.

“Nah, jika kalian tidak lantas mundur dan pergi, segera akan kubinasakan dia!” kata Siau Hong sambil mengangkat telapak tangannya di atas kepala si jubah merah.

“Enyahlah kalian! Mundur semua!” teriak si jubah merah.

Terpaksa orang-orang Cidan itu menurut, mereka undurkan kuda beberapa tindak ke belakang tapi tetap tidak mau pergi.

Diam-diam Siau Hong pikir, “Di sekitar sini adalah padang rumput yang datar, kalau pemimpin mereka ini dilepaskan dan kemudian orang-orang Cidan ini mengejar lagi, akhirnya Akut dan kawan-kawannya tetap tak dapat meloloskan diri.”

Maka ia berkata kepada si jubah merah, “Lekas perintahkan mereka menyediakan empat ekor kuda!”

Si jubah merah menurut, empat ekor kuda lantas diserahkan kepada Akut oleh orang-orangnya. Karena dendam orang Cidan membunuh kawan-kawannya, “blang”, kontan Akut menjotos seorang yang menyerahkan kuda itu hingga “knock”. Meski jumlah mereka lebih banyak, tapi orang Cidan itu tidak berani membalas, ia hanya mendelik sambil memegang dagunya yang ditoyor itu dengan meringis kesakitan.

Lalu Siau Hong berkata pula, “Lekas memberi perintah agar masing-masing membunuh kuda tunggangan sendiri, seekor tidak boleh tertinggal hidup.”

Si jubah merah ternyata seorang yang tegas, tanpa berdebat apa pun segera ia memberi perintah, “Semuanya turun dari kuda dan bunuh binatang tunggangan kalian!”

Orang-orang Cidan itu pun tanpa pikir terus melompat turun, masing-masing membunuh kuda sendiri dengan golok dan tombak yang mereka bawa.

Melihat orang-orang Cidan itu begitu taat kepada pimpinan, diam-diam Siau Hong merasa kagum juga, pikirnya, “Tampaknya si jubah merah ini bukan sembarangan orang, masalah setiap perintahnya diturut oleh bawahannya tanpa membangkang sedikit pun. Melihat disiplin mereka yang hebat ini, pantas pasukan Song kalah perang melawan mereka.”

Kemudian Siau Hong berkata pula kepada si jubah merah, “Sekarang suruh, orang-orangmu pulang semua, siapa pun dilarang mengejar lagi. Kalau ada seorang berani mengejar, segera kupuntir patah sebelah tanganmu, ada dua orang berani mengejar, akan kupatahkan dua lenganmu. Empat anggota badanmu lantas kukutungi semua.”

Ancaman Siau Hong membuat si jubah merah gusar tidak kepalang, tapi di bawah tawanan orang ia pun tak dapat berbuat apa-apa, terpaksa ia beri perintah, “Sudahlah, kalian pulang semua mengerahkan pasukan besar untuk hancurkan sarang orang Nuchen!”

Serentak orang-orang Cidan mengiakan sambil membungkuk tubuh. Lalu Siau Hong putar kudanya, bersama Akut dan kawan-kawannya yang telah menunggang kuda masing-masing segera balik ke arah timur dengan membawa tawanannya, yaitu si jubah merah.

Sesudah beberapa li jauhnya, benar juga tiada seorang Cidan yang berani mengejar lagi, maka Siau Hong melompat ke atas kuda lain dari membiarkan si jubah merah menunggang kuda sendiri.

Dengan cepat mereka pulang ke tempat tinggal orang Nuchen, segera Akut melaporkan peristiwa itu kepada ayahnya, Hurip. Ia tuturkan kejadian bertemu dengan musuh, berkat pertolongan Siau Hong mereka dapat diselamatkan dan malah berhasil menawan seorang pemimpin musuh.

Keruan Hurip sangat girang, ia tidak habis-habis memuji dan mengaturkan terima kasih kepada Siau Hong. Lalu memberi perintah, “Bawalah anjing Cidan itu ke sini!”

Meski sudah jatuh dalam cengkeraman musuh tapi si jubah merah masih sangat angkuh dan kereng. Ia berdiri tegak dan tak sudi bertekuk lutut.

Hurip tahu tawanannya itu pasti bangsawan Cidan, segera ia tanya, “Siapa namamu? Apa pangkatmu di negeri Liau sana?”

Dengan angkuh si jubah merah menjawab, “Aku toh bukan tawananmu, dengan hak apa kau tanya padaku?”

Menurut peraturan umum di antara suku-suku bangsa Cidan dan Nuchen, seorang tawanan termasuk budak milik pribadi orang yang menawannya itu. Baik harta benda atau wanita juga termasuk dalam peraturan itu, hak milik itu tak boleh diganggu gugat oleh orang lain, kecuali jika pemiliknya sengaja menghadiahkan kepadanya. Begitulah peraturan umum dalam suku-suku bangsa yang peradabannya masih belum maju, setiap tahanan adalah budak.

Maka Hurip tertawa, katanya, “Benar juga ucapanmu, hahaha!”

Segera si jubah merah mendekati Siau Hong, ia tekuk lutut sebelah kaki, ia beri hormat dengan sebelah tangan terangkat ke depan jidat, katanya, “Cukong, engkau memang kesatria gagah, sedikit pun aku tidak menyesal menjadi tawananmu. Jika engkau sudi membebaskan diriku, sebagai balas jasa aku bersedih mengganti dengan tiga kereta emas, tiga puluh kereta perak dan tiga ratus ekor kuda.”

Paman Akut yang bernama Polas menyela, “Kau ini bangsawan Cidan, harta tebusan itu masih jauh daripada cukup. Saudara Siau, boleh kau lepaskan dia jika dia bersedia menebus dengan 30 kereta emas, 300 kereta perak dan 3.000 ekor kuda.”

Polas itu seorang cerdik, ia sengaja menambah harta tebusan itu 10 kali lipat daripada tawaran si jubah merah tadi, maksudnya memang sengaja hendak tawar-menawar.

Sebenarnya harta tiga kereta emas, 30 kereta perak dan 300 ekor kuda yang ditawarkan si jubah merah tadi sudah merupakan harta kekayaan yang sukar didapat, sepanjang sejarah pertempuran antara bangga Nuchen dan Cidan belum pernah terjadi harta tebusan tawanan sebesar itu.

Maka sebenarnya kalau si jubah merah tak berani menambah lagi tawarannya, ada maksud Polas akan minta Siau Hong menutup “transaksi” itu alias terima baik tawaran itu.

Di luar dugaan si jubah merah ternyata bukan seorang yang pelit, tanpa pikir ia terima baik harga yang dipasang Polas tadi, dengan tegas ia menjawab, “Baik, kuterima syaratmu itu.”

Mendengar jawaban itu, semua orang Nuchen terkejut, hampir-hampir mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri.

Hendaklah maklum, meski peradaban bangsa Nuchen dan Cidan itu masih terbelakang, tapi mereka pun kenal kepercayaan, yang pernah diucapkannya pasti ditepati, apalagi sekarang yang dipersoalkan adalah emas tebusan, jika orang Cidan itu tidak cukup menyerahkan jumlah yang dijanjikan itu atau sengaja ingkar janji, itu berarti si jubah merah takkan dapat pulang ke negerinya, segala omong besar dan janji kosong itu pun takkan berguna.

Begitulah maka Polas khawatir kalau-kalau tawanannya itu dalam keadaan linglung, maka sengaja ia tegaskan lagi, “Hai, kau dengar jelas tidak tadi? Aku bilang 30 kereta emas, 300 kereta perak dan 3.000 ekor kuda!”

“Ya, emas 30 kereta, perak 300 kereta dan kuda 3.000 ekor, apa artinya semua itu bagiku?” demikian si jubah merah menjawab dengan sikap yang tetap angkuh. “Kelak kalau kerajaan Liau kami memerintah di dunia ini, harta benda sekian itu artinya bagi kami?”

Habis itu ia lantas berpaling ke arah Siau Hong, sikapnya berubah sangat hormat, katanya, “Cukong, aku hanya tunduk pada perintahmu, omongan orang lain takkan kugubris lagi.”

“Siau-hengte,” sela Polas, “coba kau tanya dia, sebenarnya dia orang macam apa di negeri Liau mereka?”

Segera sorot mata Siau Hong beralih kepada si jubah merah. Tapi belum lagi ia buka suara atau orang sudah mendahului berkata, “Cukong, jika engkau berkeras ingin tanya asal-usulku, terpaksa aku akan mengaku sembarangan untuk mendustaimu dan engkau toh takkan tahu dengan pasti. Engkau adalah seorang kesatria, aku pun seorang kesatria, maka aku tidak ingin dusta, sebab itulah janganlah engkau tanya berbelit-belit padaku.”

Mendadak Siau Hong melolos goloknya, sekali jarinya menyelentik, “creng”, kontan golok itu patah menjadi dua. Lalu bentaknya dengan suara bengis, “Kau berani tidak mengaku? Kalau jariku menjentik sekali di atas batok kepalamu, lantas bagaimana jadinya?”

Tapi orang itu ternyata tidak gentar juga tidak gugup, sebaliknya ia acungkan jari jempolnya dan memuji, “Bagus, kepandaian hebat, kungfu yang lihai! Sungguh tidak mengecewakan hidupku ini dapat menyaksikan seorang gagah nomor satu di dunia ini, Siau-enghiong, jika engkau hendak menggertakku dengan kekerasan, hah, itulah jangan harap. Kalau mau bunuh silakan bunuh, biarpun orang Cidan tak mampu melawanmu, namun jiwanya adalah sama kerasnya seperti engkau.”

Siau Hong terbahak-bahak, katanya, “Bagus, bagus! Aku takkan membunuhmu di sini, kalau kubunuh begini saja tentu juga kau takkan takluk. Marilah kita pergi yang jauh sana, nanti kita bertempur lagi lebih sengit.”

“Siau-hengte,” cepat Polas dan Hurip mencegahnya, “sayanglah kalau orang ini dibunuh, lebih baik kita tahan dia untuk mendapatkan emas tebusan. Jika engkau marah padanya, boleh kau pentung atau hajar dia dengan cambuk saja.”

“Tidak,” sahut Siau Hong. “Dia berlagak gagah-gagahan, atau justru ingin dia tahu rasa.”

Segera ia pinjam dua pasang busur dengan panahnya pada orang Nuchen di sampingnya, dipinjamnya pula dua batang tombak. Lalu ia tarik si jubah merah keluar tenda, lebih dulu ia cemplak ke atas kudanya, kemudian katanya kepada si jubah merah, “Nah, naiklah!”

Ternyata orang Cidan itu sedikit pun tidak ragu atau gentar, meski ia tahu pasti akan mati konyol melawan Siau Hong, boleh jadi dirinya akan digoda dulu seperti kucing mempermainkan tikus, lalu dibunuhnya. Tapi ia tidak jeri, segera ia pun lompat ke atas kuda yang lain dan ikut menuju ke utara.

Sesudah beberapa li jauhnya, tiba-tiba Siau Hong berkata, “Belok ke barat sana!”

“Pemandangan di sini sangat indah, biarlah aku mati di sini saja,” sahut si jubah merah.

“Ini sambutlah!” seru Siau Hong pula sambil melemparkan sepasang busur berikut panah dan sebatang tombak padanya.

Senjata itu diterima oleh orang itu, segera ia pun berseru, “Siau-enghiong, biarpun aku sadar bukan tandinganmu, tapi biarpun mati orang Cidan pantang menyerah. Awas, aku akan mulai menyerang!”

“Nanti dulu! Ini sambut pula!” sahut Siau Hong. Dan kembali ia lemparkan busur dan tombak miliknya itu kepada si jubah merah. Dengan bertangan kosong lalu ia tersenyum-senyum.

Si jubah merah menjadi gusar, katanya, “Hah, jadi hendak aku tempur aku dengan bertangan kosong? Kau benar-benar terlalu menghina padaku!”

Tapi Siau Hong menggeleng kepala, sahutnya, “Bukan begitu maksudku. Selamanya aku paling menghormati kaum kesatria dan menghormati orang gagah. Meski ilmu silatmu kalah daripadaku, tapi engkau adalah kesatria besar, seorang gagah perkasa, aku bersedia bersahabat denganmu. Nah, silakan pulang ke tengah-tengah suku bangsamu!”

Keruan si jubah merah terperanjat, katanya dengan tergegap, “Ap… apa katamu?”

“Aku bilang engkau adalah seorang kesatria, seorang gagah dan ingin bersahabat denganmu, maka sekarang kuantarmu pulang ke rumah!” sahut Siau Hong tertawa.

Bagaikan orang yang sudah mendaftarkan diri kepada raja akhirat tapi ditolak kembali, keruan girang si jubah merah melebihi orang tarik lotre 10 juta. Ia coba tanya pula, “Sungguh-sungguh kau bebaskan diriku? Apakah maksud tujuanmu? Kalau… kalau aku dapat pulang ke rumah, tentu akan kutambahi emas tebusanku sepuluh kali lipat untukmu.”

Siau Hong menjadi kurang senang, sahutnya, “Aku anggap kau sebagai sobat baik, mengapa kau malah tidak pandang aku sebagai sahabat? Siau Hong adalah seorang laki-laki sejati, masakah tamak terhadap harta benda?”

Si jubah merah merasa malu, cepat ia buang senjatanya, ia lompat turun dari kuda dan berlutut di tanah, katanya, “Banyak terima kasih atas budi pengampunan atas jiwaku ini!”

Segera Siau Hong ikut berlutut dan balas menghormat, sahutnya, “Aku tidak mau membunuh sahabat, tapi juga tidak berani terima penyembahan seperti ini. Jika kaum budak tawanan aku akan terima penghormatannya dan jiwanya juga takkan kuampuni.”

Sungguh girang dan kagum si jubah merah tak terhingga, sesudah berbangkit ia berkata pula, “Siau-enghiong, jika benar engkau pandang aku sebagai sahabat, bagaimana pendapatmu jika sekiranya aku mohon mengangkat saudara denganmu?”

Sejak Siau Hong masuk Kay-pang, selama itu ia hanya kenal naik pangkat hingga akhirnya diangkat menjadi pangcu, tapi tidak pernah mengangkat saudara dengan orang. Hanya sekali terjadi waktu dia mengadu minum arak dengan Toan Ki di Kota Bu-sik, karena saling mengagumi maka keduanya mengikat persaudaraan angkat.

Kini dalam keadaan terlunta di rantau orang ternyata ada seorang seperti si jubah merah sudi mengangkat saudara dengan dia, keruan ia sangat terharu dan segera menjawab, “Bagus, tentu saja kuterima dengan baik, aku Siau Hong, 33 tahun, entah saudara berusia berapa?”

“Aku Yalu Ki, lebih tua 11 tahun daripada Inkong,” sahut si jubah merah dengan tertawa.

“Mengapa Giheng (kakak angkat) masih menyebutku sebagai Inkong?” ujar Siau Hong. “Sebagai saudara tua, terimalah penghormatanku ini.”

Habis berkata ia terus memberi hormat kepada si jubah merah alias Yalu Ki.

Cepat Yalu Ki membalas hormat, kedua orang lantas sembahyang kepada langit dengan menggunakan tiga batang panah sebagai dupa. Sejak itu mereka terikat sebagai saudara angkat.

Dengan girang kemudian Yalu Ki berkata, “Saudaraku, engkau she Siau, mirip sekali dengan bangsa Cidan kami.”

“Bicara terus terang, sebenarnya Siaute memang orang Cidan,” sahut Siau Hong sambil membuka bajunya hingga kelihatan gambar cacah kepala serigala di dadanya itu.

Keruan Yalu Ki tambah girang, serunya, “Hai, memang betul engkau adalah kelompok suku Ho dari bangsa Cidan kita. Saudaraku, di negeri orang Nuchen sini terlalu dingin, lebih baik ikut ke Siangkhia saja untuk menikmati kebahagiaan bersama.”

“Banyak terima kasih atas maksud baik Giheng,” sahut Siau Hong. “Tapi Siaute sudah biasa hidup melarat, penghidupan mewah malah tidak suka. Di tempat orang Nuchen ini Siaute hidup cukup senang dan bebas. Kelak bila Siaute rindu pada Giheng, tentu akan berkunjung ke sana.”

Dan karena memikirkan keadaan A Ci yang telah ditinggal sekian lamanya, segera ia pun mohon diri, “Giheng, lekas engkau pulang saja agar keluarga dan bawahanmu tidak merasa khawatir.”

Yalu Ki mengangguk, “Ya, dalam keadaan terburu-buru hari ini kita tak sempat banyak bicara. Sebagai saudara angkat, kelak kita harus lebih sering berhubungan.”

Habis itu, segera ia mencemplak ke atas kuda dan dilarikan cepat ke barat.

Waktu Siau Hong putar kembali kudanya, ia lihat Akut memimpin belasan bawahannya datang menyongsongnya. Agaknya Akut khawatir Siau Hong terjebak oleh akal licik si jubah merah, maka sengaja menyusulnya.

Ketika Siau Hong memberi tahu bahwa si jubah merah telah dibebaskan olehnya, sebagai seorang kesatria yang berpandangan luas, Akut sendiri memuji atas kebijaksanaan dan keluhuran budi Siau Hong.

Suatu hari, tatkala mengobrol iseng Siau Hong memberitahukan Akut tentang penyakit A Ci itu disebabkan terkena pukulannya. Meski jiwanya telah dapat direnggut kembali dari cengkeraman maut berkat jinsom yang telah banyak diminumnya itu, tapi sudah sekian lamanya keadaan anak dara itu belum tampak sembuh, hal inilah yang sangat mengesalkan hati Siau Hong.

Sesudah berpikir, kemudian Akut mengusulkan untuk mencoba obat luka pukulan yang biasa digunakan oleh suku bangsa Nuchen mereka, yaitu koyok buatan dari urat dan tulang harimau dicampur dengan empedu beruang, biasanya koyok itu sangat manjur.

Siau Hong sangat girang mendapat keterangan itu, urat dan tulang harimau cukup banyak tersedia, yang masih perlu hanya empedu beruang saja. Segera ia tanya bagaimana cara pemakaian racikan obat itu, ia gilas urat dan tulang harimau menjadi salep, lalu diminumkan kepada A Ci. Dan besok paginya seorang diri ia menuju jauh ke rimba pegunungan untuk berburu beruang.

Karena berburu sendirian, maka Siau Hong dapat mengeluarkan ginkang sebebas-bebasnya. Hari pertama hasilnya nihil, hari kedua ia dapat membunuh seekor beruang besar. Segera ia mengambil empedu binatang buas itu dan lari pulang.

Urat tulang harimau dan empedu beruang beserta jinsom adalah barang sangat berharga untuk menyembuhkan luka, terutama empedu beruang yang masih segar adalah barang yang sukar diperoleh. Mungkin jiwa A Ci belum ditakdirkan akan berakhir, maka ia telah dibawa oleh Siau Hong ke daerah Pegunungan Tiang-pek-san yang banyak menghasilkan jinsom, urat tulang harimau dan empedu beruang, ditambah lagi Siau Hong memiliki ketangkasan yang tiada taranya hingga obat-obatan itu berturut-turut dapat dicarikan untuknya.

Setelah lebih dua bulan, sudah ada 20 buah empedu beruang yang dimakan A Ci, lukanya telah banyak sembuh, tulang iga bagian dada yang patah terpukul juga sudah tersambung kembali, bicaranya juga mulai lancar, walaupun napasnya masih sesak.

Siau Hong sangat lega melihat kemajuan kesehatan A Ci itu. Ia yakin kalau tinggal lebih lama di situ, tentu ada harapan A Ci akan pulih kembali seperti sediakala.

Suatu petang hari, tengah Siau Hong asyik meracik obat untuk A Ci, tiba-tiba seorang Nuchen datang tergesa-gesa melaporkan padanya, “Siau-toako, ada belasan orang Cidan membawakan hadiah untukmu.”

“Hah, hadiah?” seru Siau Hong dengan heran. Tapi segera ia tahu pasti hadiah kiriman saudara angkatnya, Yalu Ki.

Waktu Siau Hong keluar, tertampak dari jauh iring-iringan kuda sedang mendatang dengan perlahan, di atas kuda penuh termuat barang.

Rupanya pemimpin regu dari Cidan itu telah dipesan oleh Yalu Ki tentang wajah Siau Hong, maka begitu melihat segera ia mengenalnya, serentak ia melompat turun dari kudanya serta menghampiri dan memberi sembah, katanya, “Sejak Cukong berpisah dengan Siau-toaya, beliau selalu terkenang padamu. Kini hamba diperintahkan membawa sedikit oleh-oleh dan minta Siau-toaya sudilah berkunjung ke Siangkhia (nama kota raja negeri Liau),” sambil berkata kapten itu pun mengaturkan daftar hadiah yang dibawanya kepada Siau Hong dengan sikap sangat menghormat.

Siau Hong terima dengan baik daftar barang antaran itu, katanya dengan tertawa, “Banyak terima kasih, silakan berdirilah!”

Dan waktu ia baca daftar antaran itu, ia lihat daftar itu tertulis jumlah barang sebagai berikut: emas murni 5.000 tahil, perak 5.000 tahil, sutra 1.000 blok, gandum nomor satu 1.000 gantang, sapi gemuk 1.000 ekor, kambing gemuk 5.000 ekor, kuda pilihan 3.000 ekor. Kecuali itu masih banyak barang berharga lain yang susah disebut satu per satu.

Nyata kalau dibandingkan dengan harga tebusan yang disepakati tempo hari, hadiah yang diantarkan sekarang ini bernilai beberapa kali lipat lebih tinggi.

Keruan Siau Hong terperanjat, sama sekali ia tidak menduga akan barang antaran sebanyak ini, dan entah cara bagaimana kapten orang Cidan itu membawanya kemari.

Maka terdengar kapten itu sedang melapor pula, “Cukong khawatir hewan yang kami bawa itu akan hilang di tengah jalan, maka setiap jenis hadiah menurut daftar itu masing-masing ditambah lagi cadangan satu cadangan. Tapi berkat rezeki Siau-toaya yang besar, sepanjang jalan hamba tidak menjumpai aral rintang apa-apa sehingga hampir semuanya dapat tiba di sini dengan selamat.”

“Ai, Yalu-toako benar-benar terlalu baik, jika aku tidak menerimanya tentu akan mengecewakan maksud baiknya, tapi kalau kuterima seluruhnya menurut daftar ini, rasanya juga tidak enak,” ujar Siau Hong.

“Hamba telah dipesan oleh Cukong agar Siau-toaya harus menerima hadiah ini, kalau tidak, tentu hamba akan dimarahi kelak bila pulang,” tutur kapten orang Cidan itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk yang riuh rendah, orang-orang Nuchen sama membawa senjata dan berkumpul sambil berteriak-teriak, “Awas, ada pasukan musuh, lekas siap melawan!”

Waktu Siau Hong memandang ke arah datangnya suara tiupan tanda bahaya itu, ia lihat di jurusan sana debu mengepul tinggi memenuhi langit, agaknya ada pasukan besar yang sedang menuju kemari. Segera kapten orang Cidan itu berseru, “Harap saudara-saudara jangan kaget, itu adalah rombongan ternak milik Siau-toaya.”

Segera ia pun melarikan kudanya memapak ke sana untuk menghindarkan salah paham.

Semula Akut dan kawan-kawannya merasa sangsi, tapi sesudah dekat memang betul juga, di tanah pegunungan sudah penuh ternak, seratusan orang Cidan sambil mengacungkan cambuk mereka sedang membentak-bentak dan menghalau. Dalam waktu singkat saja suara berisik gerombolan ternak itu telah membikin suasana menjadi gaduh hingga suara percakapan orang pun sukar terdengar.

Siau Hong minta orang-orang Nuchen menyembelih kambing dan sapi untuk menjamu tamu dari Cidan itu. Besok paginya ia keluarkan pula sebagian emas perak yang diterimanya itu untuk dibagikan kepada orang-orang Cidan sebagai persen. Dan sesudah orang-orang Cidan itu pergi, lalu ia serahkan semua hadiah Yalu Ki itu kepada Akut untuk dibagi-bagikan kepada orang¬-orang¬ Nuchen.

Pada umumnya orang Nuchen itu hidup secara kolektif, secara bergabung dalam keluarga besar, milik seorang adalah milik semua orang. Mereka pun girang mendapatkan harta benda sebanyak itu. Selama beberapa hari orang-orang Nuchen mengadakan pesta sebagai tanda terima kasih kepada Siau Hong.

Musim panas pergi, musim rontok mendatang pula. Sementara itu kesehatan A Ci sudah lebih baik lagi. Dan sekali tenaga anak dara itu sudah kuat, ia lantas merasa bosan setiap hari hanya rebah di kemah, maka sering ia minta Siau Hong membawanya pesiar keluar dengan menunggang kuda.

Segala permintaan A Ci selalu dituruti oleh Siau Hong. Maka beberapa bulan selanjutnya kedua orang itu selalu pesiar bersama keluar, kecuali kalau hujan salju. Bila sudah merasa bosan, mereka lantas membawa tenda untuk bermalam di tengah perjalanan hingga terkadang untuk beberapa hari mereka tidak pulang.

Pada kesempatan itu Siau Hong lantas memburu harimau dari beruang serta mencari jinsom untuk lebih menyembuhkan kesehatan A Ci. Begitulah gara-gara anak dara itu menyambitkan sebatang jarum berbisa, maka celakalah harimau dan beruang di Tiang-pek-san itu, entah berapa banyak jiwa mereka telah melayang di bawah hantaman Siau Hong.

Untuk lebih memudahkan pencarian jinsom, setiap kali Siau Hong tentu menuju ke arah timur dan utara.

Suatu hari A Ci menyatakan pemandangan di daerah utara itu sudah membosankan, maka minta menuju ke barat saja. Kata Siau Hong, “Di daerah barat sana adalah padang rumput belaka yang amat luas, pemandangannya kurang menarik.”

“Padang rumput luas juga sangat menarik,” ujar A Ci. “Seperti samudra raya, aku justru tidak pernah melihatnya. Meski Sing-siok-hay kami juga disebut hay (laut), tapi di sana lautnya bertepi dan berpantai.”

Mendengar anak dara itu menyebut “Sing-siok-hay” (Ngoring Nor, laut di dataran tinggi Pegunungan Kun-lun di wilayah Jinghay), hati Siau Hong terkesiap.

Selama setahun ini ia tinggal bersama orang Nuchen hingga macam-macam urusan dunia persilatan itu telah dilupakan olehnya. Dalam keadaan tak bisa bergerak, anak dara yang nakal itu menjadi mati kutu dan tak bisa bikin gara-gara lagi, sama sekali tak terpikir olehnya bila kesehatan A Ci itu kini sudah pulih kembali dan kumat pula sifatnya yang nakal dan jahat itu, lantas bagaimana?

Ketika ia pandang A Ci, ia lihat air muka anak dara itu masih tetap pucat, pipinya agak melekuk, biji matanya yang bundar besar itu pun seakan-akan ambles ke dalam, itulah ciri-ciri muka yang kurus.

Diam-diam Siau Hong sangat menyesal, seorang nona yang lincah menyenangkan kini telah berubah kurus kering bagai jerangkong akibat dipukul olehnya. Sebaliknya aku malah memikirkan keburukannya. Segera ia berkata dengan tertawa, “Jika kau ingin pergi ke barat, marilah kita ke sana A Ci, nanti kalau kau sudah sehat, tentu akan kubawamu ke negeri Korea, di sana kita dapat memandang lautan yang luas seakan-akan tak berujung, sungguh indah sekali pemandangan demikian itu.”

“Bagus, bagus! Kalau perlu sekarang juga kita boleh berangkat!” seru A Ci dengan tertawa sambil bertepuk tangan.

“He, A Ci, kedua tanganmu sudah bisa bergerak?” tanya Siau Hong dengan girang dan kejut.

“Ya, beberapa hari yang lalu sudah dapat bergerak dan hari ini menjadi lebih bebas lagi,” sahut A Ci tertawa.

“Ai, kau ini sungguh nakal, mengapa tidak beri tahu padaku,” omel Siau Hong dengan girang.

“Aku lebih suka tidak dapat berkutik untuk selamanya asalkan engkau setiap hari berdampingan denganku. Kalau aku sudah sehat, tentu engkau akan mengusir aku lagi,” ujar A Ci dengan tertawa. Matanya mengerlingkan sifat-sifat yang licin dan nakal.

Mendengar ucapan yang bernada tulus itu, rasa kasih sayang Siau Hong timbul dengan sendirinya, katanya, “Aku adalah orang yang kasar, sekali kurang hati-hati lantas melukaimu begini rupa, kalau setiap hari aku mendampingimu, apa sih untungnya?”

A Ci tidak menjawab. Selang sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan suara rendah, “Cihu, tempo hari kenapa kau pukul aku sekeras itu?”

Tapi Siau Hong tidak ingin mengungkat kejadian lama itu, sahutnya, “Urusan itu sudah lalu, buat apa dibicarakan pula? A Ci, sesudah aku melukaimu sedemikian rupa, sungguh aku merasa sangat menyesal. Kau dendam padaku atau tidak?”

“Sudah tentu tidak,” sahut A Ci. “Cihu, coba pikir, untuk apa aku dendam padamu? Memang kuminta kau dampingi aku, kini bukankah engkau sudah berada di dampingku? Aku sangat senang.”

Sebenarnya Siau Hong merasa pikiran anak dara itu sangat aneh dan ada-ada saja, tapi paling akhir ini sifatnya sudah berubah sangat baik, mungkin disebabkan dirinya telah merawat dia dengan sepenuh tenaga, memburu harimau dan mencari empedu beruang untuknya, maka telah banyak menghilangkan sifat liarnya itu. Segera ia siapkan kuda, tanda dan alat-alat yang perlu, lalu berangkat ke arah barat bersama A Ci.

Kira-kira beberapa li jauhnya, tiba-tiba A Ci bertanya, “Cihu, apakah engkau sudah dapat menerkanya?”

“Menerka soal apa?” sahut Siau Hong bingung.

“Tempo hari mendadak aku menyerang dirimu dengan jarum berbisa, apakah kau tahu sebabnya?” tanya A Ci.

“Pikiranmu selalu aneh-aneh, dari mana kutahu?” sahut Siau Hong sambil menggeleng.

A Ci menghela napas, katanya, “Jika engkau tak dapat menerkanya, biarlah jangan diterka lagi. Eh, Cihu, lihatlah barisan burung-burung belibis itu, mengapa mereka berbaris dan terbang ke selatan?”

Waktu Siau Hong menengadah, ia lihat di angkasa tinggi terdapat dua baris burung belibis dalam formasi “V” dan sedang terbang ke arah selatan dengan cepat.

“Hawa sudah hampir dingin, burung belibis tidak tahan dingin, maka mereka mengungsi ke selatan,” tutur Siau Hong.

“Dan pada waktu musim semi, mengapa mereka terbang kembali lagi?” tanya A Ci. “Setiap tahun mereka pulang-pergi begitu apakah tidak merasa lelah? Bila mereka takut dingin, mengapa tidak tinggal di selatan saja dan tidak perlu pulang ke utara sini?”

Selamanya yang diperhatikan Siau Hong adalah ilmu silat, terhadap kebiasaan sebangsa burung dan binatang segala tak pernah dipikirkannya. Maka pertanyaan A Ci itu membuatnya gelagapan. Katanya kemudian dengan tertawa, “Aku pun tidak tahu mengapa mereka tidak kenal lelah, mungkin mereka dilahirkan di utara dan rindu pada kampung halaman, maka pada saatnya mereka pun ingin pulang.”

“Ya, mungkin begitulah,” kata A Ci. “Eh, lihatlah burung belibis kecil itu juga ikut terbang ke selatan. Kelak bila ayah-ibu, cici, dan cihunya pulang ke utara, dengan sendirinya ia pun ikut.”

Mendengar anak dara itu menyebut “cici dan cihu”, perasaan Siau Hong tergerak, ia coba melirik, ia lihat A Ci masih mendongak, memandang kawanan burung belibis, suatu tanda ucapannya tadi tidaklah disengaja.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Sekali omong saja ia lantas menghubungkan aku dengan ayah bundanya, suatu tanda dalam lubuk hatinya ia sudah pandang aku sebagai famili yang dekat. Aku tidak boleh lagi meninggalkan dia, sesudah kesehatannya pulih nanti, paling baik kuantar ia pulang ke Tayli dan akan kuserahkan kepada orang tuanya, dengan demikian barulah kewajibanku berakhir.”

Begitulah sepanjang jalan kedua orang asyik bercakap dan bergurau, bila A Ci merasa letih, Siau Hong lantas memondongnya turun dari kuda dan merebahkan dia dalam kereta yang mengikut di belakang. Bila malam tiba mereka lantas berkemah.

Sesudah beberapa hari pula, akhirnya mereka mencapai tepian padang rumput yang luas. A Ci sangat senang memandangi padang rumput yang seakan-akan tak berujung itu. Katanya, “Cihu, marilah kita menjelajahi padang rumput yang luas ini, di sana tentu jauh lebih indah daripada di sini.”

Siau Hong tidak mau menolak keinginan anak dara itu, segera ia halau kuda dan keretanya ke tengah padang rumput.

Sesudah beberapa hari Siau Hong dan A Ci melanjutkan perjalanan di tengah padang rumput luas itu. Tatkala itu adalah permulaan musim rontok, rumput masih tumbuh dengan suburnya, hawa sejuk menyegarkan semangat.

Di tengah semak rumput juga terdapat binatang buas sebangsa harimau, serigala dan sebagainya, bila perlu Siau Hong lantas berburu untuk menambah ransum mereka, penghidupan dalam pengembaraan seperti itu sungguh menggembirakan dan benar-benar hidup di alam bebas.

Selang beberapa hari pula, siang hari itu tiba-tiba mereka lihat di kejauhan sana banyak terdapat perkemahan, seperti perkemahan pasukan tentara dan mirip pula kelompok suku bangsa yang hidup di padang rumput.

“Di sana banyak tempat tinggal orang, entah apa yang mereka kerjakan, lebih baik kita pulang saja, jangan mencari gara-gara,” kata Siau Hong.

“Emoh, aku justru ingin tahu perkemahan apakah itu,” kata A Ci manja. “Cihu, kakiku belum dapat bergerak, masakah bisa mendatangkan perkara bagimu?”

Siau Hong merasa kewalahan terhadap sifat kanak-kanak A Ci yang serbaingin-tahu itu. Segera ia halau kudanya ke arah perkemahan itu dengan perlahan.

Di padang rumput yang lapang itu, meski perkemahan dapat terlihat dengan jelas, tapi jarak yang sesungguhnya adalah sangat jauh.

Sesudah belasan li, mendadak terdengar suara “tut-tut-tut”, suara tiupan tanduk yang ramai, menyusul debu mengepul, dua baris pasukan berkuda tampak terpencar, yang satu baris menuju ke utara dan barisan lain cepat menuju ke selatan.

“Celaka, itulah pasukan berkuda bangsa Cidan,” kata Siau Hong dengan terkejut.

“He, bukankah suku bangsamu sendiri? Itulah bagus, mengapa kau katakan celaka malah?” ujar A Ci.

“Aku kan tidak kenal mereka, lebih baik kita pulang saja,” kata Siau Hong. Lalu ia putar kuda hendak kembali ke arah datangnya tadi.

Tapi baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba terdengar suara genderang yang bergemuruh, kembali beberapa barisan berkuda Cidan menerjang datang. Siau Hong merasa heran, di sekitar situ tidak terdapat musuh, apakah mereka sedang latihan atau lagi berburu?

Mendadak terdengar suara teriakan ramai, “Bidik rusa! Bidiklah rusa!”

Serentak terdengar riuh ramai suara sorakan menahan rusa.

Baru sekarang Siau Hong tahu bahwa pasukan Cidan itu sedang berburu rusa secara besar-besaran. Segera ia pondong A Ci ke atas kudanya, ia berhentikan kuda dan berdiri di atasnya untuk memandang suasana perburuan yang hebat itu.

Pasukan berkuda Cidan itu semuanya memakai jubah sulam, di dalamnya berlapis baja, jadi dandanan mereka seperti berada di medan perang saja. Jubah sulam mereka itu pun aneka warna, pasukan ini berwarna merah, pasukan itu berwarna kuning, pasukan lain berwarna biru dan pasukan lain lagi berwarna hijau. Panji tiap-tiap pasukan seragam dengan warna jubah masing-masing, mereka berlari kian-kemari antara pasukan ini dengan pasukan itu, prajuritnya gagah, kudanya kuat, sungguh sangat bersemangat tampaknya. Diam-diam Siau Hong dan A Ci memuji juga.

Rupanya pasukan-pasukan Cidan itu sedang sibuk berburu rusa, terkadang ada juga yang melihat Siau Hong dan A Ci, tapi mereka hanya melirik sekejap saja dan tidak ambil peduli. Pasukan itu telah mengurung beberapa puluh ekor rusa dari tiga jurusan. Terkadang kalau ada seekor rusa yang tiba-tiba menerobos keluar dari barisan, segera seregu pasukan berkuda mengubernya, rusa itu lalu dihalau masuk pula ke dalam garis kepungan.

Tengah Siau Hong menonton, tiba-tiba didengarnya ada suara seruan orang, “Hai, apakah di situ Siau-toaya adanya?”

Siau Hong heran ada orang mengenalnya. Waktu ia berpaling, terlihatlah seorang penunggang kuda berjubah hijau mendatangi dengan cepat. Itulah dia si kapten utusan Yalu Ki yang mengantarkan hadiah padanya beberapa bulan yang lalu.

Sesudah dekat dengan Siau Hong, segera kapten itu melompat turun dari kudanya dan berlutut dengan sebelah kaki, katanya, “Cukong kami berada tidak jauh dari sini. Sering kali Cukong membicarakan Siau-toaya, beliau sangat rindu padamu. Hari ini entah angin apakah yang telah meniup Siau-toaya kemari, ayolah silakan lekas menjumpai Cukong kami di sana.”

Siau Hong juga sangat girang mendengar Yalu Ki berada tidak jauh dari situ. Sahutnya segera, “Aku sedang pesiar tanpa tempat tujuan, tidak terduga Giheng kebetulan berada di sekitar sini. Baiklah, harap tunjukkan jalan agar aku dapat bertemu dengan beliau.”

Segera kapten itu bersuit, dua prajurit berkuda lantas menghampiri.

“Lekas laporkan bahwa Siau-toaya dari Tiang-pek-san telah datang!” perintah sang kapten.

Kedua prajurit berkuda itu mengiakan dan segera meneruskan laporan itu. Sedang pasukan lain masih terus berburu, hanya kapten tadi lantas pimpin suatu pasukan berkuda berjubah hijau mengiring Siau Hong dan A Ci menuju ke arah barat.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Gihengku itu besar kemungkinan adalah panglima atau pembesar tinggi negeri Liau, kalau tidak, rasanya tidak mungkin berpengaruh seperti ini.”

Sepanjang jalan tampak banyak prajurit yang berlalu-lalang, semuanya berpakaian perang. Terdengar si kapten berkata pula, “Kedatangan Siau-toaya ini sangat kebetulan, besok pagi di sini akan ada tontonan yang ramai.”

Sekilas Siau Hong melihat A Ci mengunjuk rasa girang oleh kabar itu, segera ia tanya si kapten, “Ada tontonan apakah?”

“Besok adalah hari pertandingan,” sahut si kapten. “Kedua pasukan dari Eng-jiang dan Thay-ko belum ada komandannya, maka perwira Cidan kami akan saling bertanding untuk berebut kedudukan komandan pasukan-pasukan pengawal itu.”

Mendengar ada pertandingan silat, dengan sendirinya Siau Hong juga sangat tertarik. Katanya segera dengan tertawa, “Wah, memang kedatangan kami ini sangat kebetulan, aku justru ingin melihat ilmu silat orang Cidan.”

“Eh, Kapten, besok engkau juga keluarkan kepandaianmu, terimalah selamatku semoga engkau dapat merebut pangkat itu,” kata A Ci dengan tertawa.

“Hah, mana hamba mempunyai keberanian seperti itu?” sahut si kapten sambil menjulur lidah.

“Eh, Kapten, siapa sih namamu?” tanya A Ci.

“Hamba bernama Sili,” sahut kapten Sili.

“Untuk merebut kedudukan thong-leng, asal cihuku sudi mengajarkan sejurus dua jurus padamu, tanggung dengan mudah pangkat itu akan kau peroleh,” ujar A Ci dengan tertawa.

Kapten Sili kegirangan, katanya cepat, “Jika Siau-toaya sudi memberi petunjuk padaku, sungguh hamba akan merasa berterima kasih sekali. Tentang kedudukan thong-leng apa segala hamba sih tidak mempunyai rezeki sebesar itu.”

Sembari bicara, kira-kira satu-dua li jauhnya, terlihatlah dari depan mendatang suatu pasukan berkuda. “Itulah Hui-him-tui (Pasukan Beruang Terbang) kami!” kata kapten Sili.

Pasukan berkuda yang datang itu seluruhnya berpakaian kulit beruang, jubah luar terdiri dari kulit beruang hitam dengan topi kulit beruang putih, kelihatannya menjadi gagah sekali. Sesudah dekat, sekali terdengar aba-aba serentak pasukan itu turun dari kuda dan berbaris di kedua sisi jalan sambil berseru, “Selamat datang Siau-toaya!”

Siau Hong mengangkat tangannya sebagai tanda hormat, lalu keprak kudanya ke depan. Sedang pasukan kulit beruang itu lantas mengiring dari belakang.

Beberapa li pula, kembali pasukan berkuda memapak lagi, sekali ini pasukan berkulit harimau. Diam-diam Siau Hong sangat heran, saudara angkatnya itu mempunyai pangkat apa sehingga begitu hebat penyambutannya.

Menjelang magrib, sampailah mereka di suatu perkemahan besar, suatu pasukan berkulit macan tutul menyambut Siau Hong dan A Ci ke dalam kemah itu. Semula Siau Hong mengira di dalam kemah itu akan dapat berjumpa dengan Yalu Ki, di luar dugaan kemah itu kosong melompong tiada penghuninya, walaupun segala perabotan lengkap dan mewah, di atas meja juga penuh tersedia makan dan buah-buahan.

“Cukong menyilakan Siau-toaya bermalam di sini, besok akan dapat bertemu dengan beliau,” demikian lapor kapten pasukan berkulit macan tutul itu.

Karena sudah telanjur datang, Siau Hong juga tidak mau banyak bertanya, segera ia ambil tempat duduk dan minum arak sepuasnya, empat dayang siap melayaninya dengan penuh hormat, servisnya harus dipuji.

Besok paginya mereka melanjutkan perjalanan sampai ratusan li ke barat, waktu tengah hari sampailah mereka di suatu tempat. Kapten Sili berkata pada Siau Hong, “Sesudah melintasi lereng bukit sana, kita akan sampai di tempat tujuan.”

Siau Hong melihat lereng gunung di depan sana sangat megah, sebuah sungai besar mengalir dengan gelombang airnya yang mendebur-debur.

Sesudah melintasi bukit, maka tertampaklah panji-panji berkibaran, di mana-mana penuh perkemahan, beratus ribu prajurit berkuda dan infanteri memenuhi suatu tanah lapang di bagian tengah perkemahan. Segera pasukan kulit macan tutul, kulit beruang, dan kulit harimau mengeluarkan alat tiup, seketika ramailah suara “tut-tut-tut” menggema angkasa.

Sekonyong-konyong suara tambur serentak berbunyi, terdengar suara menggelegar meriam penghormatan, seketika pasukan di tanah lapang tadi menyiah minggir, seekor kuda kuning yang gagah membedal keluar, di atas kuda terdapat seorang laki-laki berewok, siapa lagi dia kalau bukan Yalu Ki.

Sambil mengeprak kudanya ke arah Siau Hong, terus saja Yalu Ki berteriak-teriak, “Wahai, Siau-hiante, sungguh aku sudah rindu padamu.”

Siau Hong lantas memapak maju, berbareng kedua orang melompat turun dari kuda dan saling rangkul dengan akrab. Seketika dari segenap penjuru terdengar riuh rendah suara sorakan, “Banswe! Banswe! Banswe!”

Keruan Siau Hong terkejut, mengapa para prajurit itu berseru “banswe” (berlaksa tahun atau “hidup”). Padahal pujian itu hanya lazim diberikan kepada seorang raja.

Ia coba memandang sekelilingnya, ia lihat semua prajurit dan perwira sama membungkuk tubuh dan melolos golok komando sebagai tanda hormat. Yalu Ki sendiri menggandeng tangan Siau Hong dan berdiri di situ sambil memandang ke sana-sini dengan sikap yang amat bangga.

Siau Hong merasa bingung, tanyanya dengan tergagap, “Giheng, apakah engkau…”

“Ya, jika sejak dulu-dulu kau tahu bahwa aku ini raja negeri Liau, tentu engkau tidak mau mengangkat saudara denganku,” sahut Yalu Ki dengan terbahak-bahak. “Siau-hiante, namaku yang sebenarnya adalah Yalu Hungki, budi pertolonganmu dahulu itu selama hidup ini takkan kulupakan.”

Meski Siau Hong berjiwa besar dan luas pengalamannya, tetapi selamanya tidak pernah berhadapan dengan seorang raja. Kini menyaksikan upacara yang luar biasa itu, mau tak mau ia rada kikuk.

“Sungguh hamba tidak tahu akan baginda sehingga banyak berlaku kurang hormat, harap dimaafkan,” katanya segera, lalu hendak berlutut.

Sebagai orang Cidan yang bertemu dengan rajanya, sudah sepantasnya ia berlutut dan memberi sembah. Tapi Yalu Hungki cepat membangunkannya, katanya dengan tertawa, “Orang yang tidak tahu, tidak salah. Saudaraku, engkau adalah adik angkatku, hari ini kita melulu bicara tentang persaudaraan kita, tentang penghormatan kebesaran boleh dilakukan lain hari saja.”

Dan ketika ia memberi tanda, segera dalam pasukannya bergema suara musik sebagai tanda penyambutan tamu agung. Sambil menggandeng tangan Siau Hong, segera Yalu Hungki mengajaknya masuk ke dalam kemah besar.

Kemah tempat tinggal raja Liau itu terbuat dari kulit sapi rangkap beberapa lapis, di atas kulit itu terlukis macam-macam gambar yang indah. Nama kemah itu disebut “bi-sit-tay-tiang” (kemah besar ruangan kulit). Sesudah Yalu Hungki mengambil tempat duduknya di tengah, ia menyuruh Siau Hong duduk di sebelahnya.

Tidak lama segenap pembesar sipil dan militer yang ikut serta dalam pasukan kerajaan itu sama datang memberi hormat. Saking banyaknya hingga Siau Hong merasa bingung oleh nama-nama pembesar itu.

Malamnya di dalam kemah besar itu diadakan perjamuan. Orang Cidan menghargai kaum wanita sama seperti kaum pria, maka A Ci juga menjadi tamu undangan dalam perjamuan yang sangat meriah itu.

Sesudah setengah perjamuan, belasan jago gulat Cidan tampil ke muka untuk bertanding. Jago gulat itu tidak memakai baju, mereka membetot dan membanting lawan sekuatnya, pertarungan cukup seru.

Kemudian pembesar Cidan lantas mengajak adu gelas dengan Siau Hong sebagai penghormatan mereka, Siau Hong menerima baik permintaan mereka, satu per satu ia mengadu gelas dengan mereka hingga jumlah seluruhnya ada ratusan gelas, tapi semangatnya semakin gagah, hingga semua orang tercengang.

Yalu Hungki sendiri terkenal seorang gagah dan kuat, kali ini ia kena ditawan Siau Hong, kejadian itu telah diketahui segenap rakyatnya, maka ia sengaja suruh Siau Hong pamerkan kepandaiannya untuk menutupi rasa malu sendiri yang ditawan olehnya. Tak terduga bahwa takaran minum arak Siau Hong juga sedemikian lihainya, melulu kekuatan minum arak itu saja sudah cukup membuat para jago Cidan ternganga kagum.

Sungguh girang Yalu Hungki tak terhingga, katanya segera, “Hiante, kau benar-benar orang gagah nomor satu di negeri Liau kita.”

“Bukan, dia nomor dua!” tiba-tiba suara seorang menyela.

Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya yang bicara adalah A Ci.

“Nona cilik, mengapa kau katakan dia nomor dua? Habis siapakah jago nomor satu itu?” tanya Sang Baginda dengan tertawa.

“Jago nomor satu dengan sendirinya adalah Sri Baginda raja sendiri,” sahut A Ci. “Betapa pun tinggi kepandaian cihuku toh dia mesti tunduk pada perintahmu, sedikit pun tidak boleh membangkang, dengan demikian bukankah engkau lebih gagah dari dia?”

Yalu Hungki terbahak-bahak, “Hahahaha! Benar juga! Siau-hiante, aku harus menganugerahi suatu pangkat bangsawan padamu. Biarlah kupikirkan dulu pangkat apakah yang sesuai untukmu.”

Rupanya ia sudah cukup banyak minum arak, maka ia ketuk-ketuk jidat sendiri untuk berpikir.

“Jangan, jangan!” cepat Siau Hong berseru. “Hamba adalah orang kasar, tidak biasa menikmati kebahagiaan sebagai bangsawan, selamanya hamba suka mengembara kian-kemari, hamba sungguh tidak ingin menjadi pembesar.”

“Boleh juga, nanti kuberi suatu pangkat yang kerjanya melulu minum arak saja dan tidak perlu bekerja…” kata Yalu Hungki dengan tertawa. Dan belum selesai ucapannya, mendadak dari jauh terdengar suara “tut-tut-tut”, suara tiupan tanduk yang panjang.

Orang-orang Cidan itu sebenarnya lagi makan minum dengan duduk bersila di atas tanah. Ketika mendadak mendengar suara tiupan itu, serentak mereka sama berdiri dengan wajah gugup terkejut.

Suara “tut-tut-tut” itu datangnya teramat cepat, semula kedengarannya masih sangat jauh, hanya sebentar saja suara itu sudah mendekat, waktu ketiga kalinya berbunyi pula, suara itu sudah dalam jarak dua-tiga li saja.

Diam-diam Siau Hong heran, sekalipun kuda yang paling cepat atau tokoh persilatan yang memiliki ginkang paling tinggi juga tidak mungkin secepat itu. Tapi akhirnya ia tahu tentu itulah pos-pos penjagaan orang Cidan, suara tiupan dari satu pos diteruskan kepada pos yang lainnya sehingga dalam waktu singkat dapat tersiar jauh.

Dan sesudah sampai di luar perkemahan besar itu, suara “tut-tut-tut” itu lantas berhenti seketika. Beratus kemah yang tadinya dalam suasana riang gembira itu serentak berubah sunyi senyap.

Yalu Hungki ternyata tenang-tenang saja, perlahan ia angkat gelas emas dan habiskan isinya, lalu katanya, “Siangkhia (kota raja Liau) terjadi kerusuhan, marilah kita pulang ke sana. Berangkat!”

Sekali ucapan “berangkat” dikeluarkan, segera panglima pasukan meneruskan titah itu, maka terdengarlah di mana-mana riuh ramai teriakan “berangkat” secara teratur, sedikit pun tidak kacau.

Pikir Siau Hong, “Negeri Liau kami sudah bersejarah dua ratus tahun, kekuatannya mengguncangkan negeri tetangga, meski ada kerusuhan bagian dalam toh pasukannya tidak gugup, suatu tanda pemimpin-pemimpinnya pandai menjalankan tugasnya.”

Sementara itu suara derapan kuda sangat ramai, pasukan perintis sudah berangkat, menyusul pasukan bagian samping dan lain-lain berturut-turut berangkat. Sambil menggandeng tangan Siau Hong berkatalah Yalu Hungki, “Marilah kita keluar melihatnya!”

Setiba di luar kemah, terlihatlah di tengah kegelapan malam itu pada tiap panji pasukan tergantung sebuah lentera dengan warna menurut tanda pengenal pasukan masing-masing. Ratusan ribu prajurit itu berangkat serentak ke arah tenggara, yang terdengar hanya suara ringkik kuda dan tiada suara manusia.

Sungguh Siau Hong sangat kagum, “Begini disiplin pasukan Cidan ini, sudah tentu seratus kali perang seratus kali menang. Tempo hari Sri Baginda terpencil sendirian makanya dapat kutangkap, kalau beliau mengerahkan pasukannya, sekalipun orang Nuchen sangat perkasa juga tak dapat melawan mereka.”

Dan sesudah sang baginda keluar kemah, segera pasukan pengawal membongkar tenda, hanya sebentar saja sudah diringkas dengan bersih serta dimuat ke atas kereta. Waktu panglima pasukan tengah memberi aba-aba, segera berangkatlah iring-iringan mereka. Para menteri dan pembesar lainnya mengiringi di sekitar Yalu Hungki, tiada seorang pun yang berani bersuara.

Kiranya berita tentang pemberontakan di kota raja itu, meski sudah dilaporkan, tapi sebenarnya siapa pemimpin pemberontak dan bagaimana situasinya belum lagi diketahui, sebab itulah semua orang merasa masygul.

Sesudah tiga hari pasukan besar itu menempuh perjalanan, malamnya sesudah berkemah baru datanglah laporan dari kurir pertama bahwa pemberontak dipimpin oleh Lam-ih-tay-ong yang mengangkat diri sendiri sebagai raja dan menduduki keraton. Permaisuri, putra mahkota, putri raja, dan keluarga pembesar, semuanya dalam tawanan pemberontak.

Mendengar laporan itu, mau tak mau air muka Yalu Hungki berubah seketika.

Kiranya menurut susunan tata negara Liau, pemerintah sipil dan militer dibagi menjadi dua ih (yuan), yaitu Lam-ih dan Pak-ih (Yuan Selatan dan Utara). Pak-ih-tay-ong yaitu perdana menteri yang menguasai Ih Utara, sekarang ikut serta bersama raja, hanya Lam-ih-tay-ong ditinggal menjaga kota raja.

Lam-ih-tay-ong itu bernama Yalu Nikolu dengan gelar Co-ong. Ayahnya lebih hebat lagi, namanya Yalu Conggoan, terhitung paman baginda raja yang sekarang, dengan pangkat Thian-he-peng-ma-tay-goan-swe (Panglima Besar Angkatan Perang).

Menurut silsilah kerajaan Liau, kakek Yalu Hungki yang bernama Yalu Lungcu, dalam sejarah kerajaan Liau disebut raja Seng-cong. Raja Seng-cong mempunyai dua orang putra, yang sulung bernama Cong-cin dan yang bungsu bernama Conggoan.

Watak Cong-cin ramah tamah dan welas asih, sebaliknya Conggoan sangat keras dan perkasa, seorang ahli militer. Setelah Seng-cong wafat, takhta diturunkan kepada Cong-cin. Tapi permaisurinya lebih suka kepada putra kedua, maka diam-diam ada intrik akan mengangkat Conggoan sebagai raja.

Menurut kebiasaan kerajaan Liau, kekuasaan dan pengaruh ibu suri sangat besar, sebab itulah takhta Cong-cin sebenarnya tidak teguh, keselamatannya juga selalu terancam. Akan tetapi Conggoan telah memberitahukan rencana ibundanya itu kepada kakak bagindanya, sehingga intrik ibu suri tidak dapat terlaksana.

Karena itu dengan sendirinya Cong-cin sangat berterima kasih kepada adindanya itu dan mengangkatnya menjadi Hong-thay-te (adik mahkota), artinya jika ia sendiri wafat, maka Conggoan yang akan naik takhta sebagai gantinya.

Yalu Cong-cin dalam sejarah kerajaan Liau disebut Raja Hin-cong, sesudah dia wafat, takhtanya tidak diserahkan kepada Conggoan, tapi tetap diturunkan kepada putranya sendiri yang bernama Hungki.

Setelah Yalu Hungki naik takhta, ia merasa tidak enak hati, maka Conggoan diangkat sebagai Hong-thay-siok (paman mahkota) sebagai tanda bahwa sang paman itu tetap merupakan ahli waris utama dalam takhta kerajaan Liau, bahkan diangkat pula sebagai panglima besar angkatan perang, kalau menghadap raja dibebaskan dari upacara menyembah, diberi hadiah pula surat penghargaan dan harta benda yang tak ternilai, betapa agung kedudukan Conggoan waktu itu boleh dikatakan tiada bandingnya. Bahkan putranya yang bernama Nikolu juga dianugerahi gelar kebangsawanan sebagai Co-ong dan menjabat sebagai Lam-ih-tay-ong, suatu jabatan penting dalam bidang militer.

Dahulu Yalu Conggoan jelas ada kesempatan menjadi raja dan dia rela menyerahkannya kepada kakaknya, hal ini menandakan dia cukup berbudi dan bijaksana. Kali ini Yalu Hungki pesiar keluar untuk berburu, segala urusan pemerintahan telah diserahkan kepada Hong-thay-siok itu tanpa sedikit pun rasa curiga.

Kini mendapat laporan bahwa pemberontak itu adalah Lam-ih-tay-ong Nikolu, sudah tentu Yalu Hungki terkejut dan sedih. Ia kenal watak Nikolu yang licik dan keji, kalau ia memberontak, pasti ayahnya takkan tinggal diam.

Sesudah makan malam, kurir kedua datang pula memberi laporan bahwa Lam-ih-tay-ong telah mengangkat Hong-thay-siok sebagai raja dan menyebarkan maklumat di seluruh negeri dengan menuduh Yalu Hungki telah mengangkangi takhta ayahnya, maka sekarang Hong-thay-siok secara resmi naik takhta, serta akan memimpin angkatan perang untuk membasmi kaum pengkhianat dan macam-macam alasan lagi.

Dari maklumat pihak pemberontak yang tersusun rapi itu, bukan mustahil rakyat akan termakan oleh agitasi pihak pemberontak.

Dengan gusar Yalu Hungki melemparkan surat maklumat yang diterimanya dari kurir itu ke dalam api, perasaannya sedih dan khawatir, pikirnya, “Hong-thay-siok menjabat panglima besar angkatan perang, ia mempunyai pasukan 800 ribu lebih tentara, ditambah lagi anak buah putranya, Co-ong, yang menjadi biang keladi pemberontakan ini. Sebaliknya prajurit yang kubawa sekarang cuma lebih seratus ribu orang saja, cara bagaimana aku dapat melawan mereka?” begitulah semalam suntuk ia tidak dapat tidur.

Semula ketika Siau Hong mendengar bahwa dirinya hendak diberi suatu pangkat, mestinya ia ingin tinggal pergi tanpa pamit pada malamnya bersama A Ci, tapi kini melihat sang giheng sedang berhalangan, ia menjadi tidak enak untuk tinggal pergi, betapa pun ia pikir harus membantu kesulitan sang giheng sebagai tanda persaudaraan mereka.

Besok paginya kembali penyelidik datang melapor bahwa Hong-thay-siok dan Co-ong dengan memimpin pasukan tentara sejumlah 300 ribu jiwa sedang datang hendak melabrak Hongsiang.

Karena tiada jalan lain, Yalu Hungki pikir sekalipun akhirnya kalah, terpaksa harus bertempur dengan mati-matian. Segera ia kumpulkan para pembesar sipil dan militer untuk berunding, para pembesar itu sangat setia kepada Yalu Hungki, mereka bersedia mati bertempur, yang mereka khawatirkan adalah semangat prajurit yang banyak merosot berhubung pada umumnya sanak keluarga mereka masih tertinggal di Siangkhia dan ditahan oleh pihak pemberontak.

Segera Hungki mengeluarkan pengumuman, “Hendaknya para prajurit dan tentara bertempur sepenuh tenaga, sesudah pemberontakan dipadamkan, selain kenaikan pangkat, setiap orang akan diberi hadiah pula yang setimpal.”

Habis itu, segera ia memakai baju perang kuning emas, ia pimpin sendiri segenap angkatan perangnya dan memapak pasukan musuh.

Melihat raja mereka maju sendiri, seketika semangat para prajurit terbangkit, mereka bersorak-sorai dan bersumpah setia.

Dengan membawa busur dan tombak Siau Hong juga mengiring di belakang Yalu Hungki sebagai pengawal pribadinya. Pasukan besar mereka lantas maju ke arah tenggara.

Kapten Sili dengan memimpin suatu barisan prajurit berkulit beruang melindungi A Ci dan tinggal di belakang pasukan. Pada saat itu di padang rumput hanya kedengaran suara derap dan ringkik kuda yang ramai, suara lain boleh dikata tidak terdengar. Siau Hong lihat tangan Hungki yang memegang tali les kuda itu agak gemetar, ia tahu sang giheng sendiri tidak yakin akan menang dalam pertempuran ini.

Waktu tengah hari, tiba-tiba di depan terdengar suara tiupan tanduk pula, terang pasukan musuh sudah dekat. Segera komandan pasukan memberi perintah agar prajurit turun dari kuda. Jadi sekarang para prajurit berjalan kaki sambil menuntun kuda, hanya Yalu Hungki dan para pembesar yang masih tetap di atas kuda mereka.

Siau Hong agak heran dan bingung melihat kejadian itu, ia tidak tahu mengapa para prajurit itu malah turun dari kuda, sedangkan pasukan musuh sudah dekat.

Maka dengan tertawa Yalu Hungki berkata padanya, “Saudaraku, mungkin sudah lama kau tinggal di Tionggoan, maka tidak paham siasat militer dan cara bertempur bangsa kita.”

“Ya, mohon Sri Baginda memberi petunjuk,” sahut Siau Hong.

“Hehehe, umur bagindamu ini entah dapat bertahan sampai petang nanti atau tidak, buat apa di antara saudara mesti sungkan lagi,” ujar Hungki dengan tertawa.

“Baik, Toako memberi penjelasan,” sahut Siau Hong.

“Pertempuran di padang rumput yang paling penting adalah tenaga kuda, tenaga manusia adalah soal sekunder,” tutur Hungki.

Seketika Siau Hong sadar, katanya, “Ah, benar! Sebabnya prajurit itu turun dari kuda mereka adalah supaya binatang tunggangan mereka tidak terlalu lelah.”

“Ya, kalau tenaga kuda terpelihara dengan kuat, pada saat menyerbu musuh akan bisa berjalan dengan lancar,” kata Hungki. “Sebabnya pasukan Cidan kita selalu menang perang di mana pun, kunci rahasianya terletak pada kekuatan kuda inilah.”

Sampai di sini tiba-tiba di depan sana tertampak debu mengepul tinggi, nyata musuh sudah sangat dekat kini. Segera Hungki berkata pula sambil mengangkat cambuknya, “Hong-thay-siok dan Co-ong sudah berpengalaman dalam pertempuran besar, mengapa mereka mengerahkan pasukan secara tergesa-gesa tanpa menghiraukan tenaga kuda, terang disebabkan dia penuh keyakinan bahwa mereka pasti akan menang.”

Belum habis bicaranya, tertampaklah pasukan sayap kanan dan kiri berbareng membunyikan trompet. Waktu Siau Hong memandang jauh ke sana, ia lihat dari kanan dan kiri sana masing-masing terdapat dua pasukan musuh, jadi kekuatan kedua pihak sekarang adalah lima lawan satu.

Air muka Yalu Hungki berubah tegang seketika melihat kekuatan musuh itu, cepat ia perintahkan siap untuk bertempur dan pasang barak. Segera pasukan depan dan sayap kanan kiri berputar balik, beramai-ramai prajurit memasang tenda komando tertinggi, sekelilingnya dipagari dengan tanduk rusa, dalam sekejap saja di padang rumput itu sudah terpasang suatu benteng kayu yang besar, sekelilingnya dijaga oleh pasukan berkuda, berpuluh ribu pemanah bersembunyi di balik balok besar benteng kayu itu dengan panah terpasang pada busurnya dan siap memanah.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Tak peduli pertempuran besar ini siapa yang menang dan kalah, yang terang bangsa Cidan pasti akan banjir darah. Paling baik kalau Giheng yang menang, kalau kalah, aku harus berdaya menyelamatkan Giheng dan A Ci ke suatu tempat yang aman. Kedudukannya sebagai raja lebih baik ditinggalkan saja.”

Dan baru saja barak pertahanan raja Liau itu selesai dipasang, pasukan perintis pemberontak sudah datang. Pasukan itu tidak lantas menyerang, mereka berhenti dalam jarak satu sepemanah, lalu membunyikan genderang dan trompet, menyusul pasukan pemberontak di belakangnya lantas membanjir ke depan dengan teratur dan rapi.

Melihat kekuatan musuh yang jauh lebih besar itu, Siau Hong pikir sang giheng pasti akan kalah, ia pikir untuk menyelamatkan gihengnya terpaksa harus bertahan sampai malam gelap nanti, pada siang hari terang sukar meloloskan diri dari kepungan musuh. Sementara itu hari baru lewat tengah hari, sang surya sedang memancarkan sinarnya yang panas.

Mendadak terdengar suara genderang pasukan musuh menggelegar memecah angkasa, entah berapa ratus tambur dipukul serentak.

“Pukul tambur!” segera komandan pasukan memberi perintah. Dan beratus-ratus tambur di benteng raja itu pun dibunyikan, hingga terjadilah perang tambur.

Sebentar kemudian mendadak suara tambur pasukan musuh berhenti, berpuluh ribu prajurit berkuda musuh sambil berteriak-teriak gemuruh mulai menyerbu dengan tombak terhunus. Tapi baru pasukan musuh itu mencapai jarak panah, segera komandan pasukan raja mengibaskan panji komandonya, suara tambur pasukan raja juga berhenti serentak dan berpuluh ribu anak panah lantas dihamburkan. Kontan prajurit musuh barisan paling depan roboh terjungkal.

Tapi pasukan musuh itu seperti tidak habis-habisnya, yang di depan roboh, yang di belakang segera membanjir maju pula hingga kuda yang kehilangan penunggang di depan itu berubah menjadi tameng panah bagi prajurit di belakangnya. Selain itu ada pula pasukan musuh yang membawa perisai antipanah, di belakang mereka mengikut pasukan pemanah, sesudah maju mendekat, segera mereka pun memanah ke arah pertahanan pasukan raja.

Semula Yalu Hungki memang agak jeri, tapi begitu menghadapi musuh, seketika semangatnya berkobar-kobar, dengan tangan kanan ia hunus sebatang golok panjang sambil memberi perintah dan petunjuk. Melihat baginda raja mereka memimpin sendiri di garis depan, serentak bersoraklah prajurit dan perwiranya, “Banswe! Banswe! Banswe!”

Ketika pasukan pemberontak mendengar suara sorakan itu, mereka sama memandang ke arah sini dan melihat Yalu Hungki berjubah kuning emas dengan pakaian perangnya sedang memimpin sendiri pasukannya, di bawah wibawa sang raja yang angker itu seketika pasukan musuh merandek dan ragu untuk menyerbu maju.

Melihat kesempatan baik itu, segera Yalu Hungki berseru, “Pasukan berkuda sayap kiri mengepung maju, serbu!”

Mendengar perintah itu, Ku-bit-su yang memimpin pasukan sayap kiri lantas mengepung maju dengan 30 ribu prajurit.

Memangnya pasukan pemberontak sudah patah semangat ketika melihat munculnya Yalu Hungki di garis depan, sama sekali tidak terduga pula akan diterjang secara mendadak oleh pasukan raja itu. Apalagi Ku-bit-su itu adalah panglima perkasa yang terkenal di negeri Liau, keruan pasukan-pasukan pemberontak menjadi kacau-balau, sekali kena diterjang, hanya dalam waktu singkat saja pasukan pemberontak itu lantas kalah dan mundur. Pasukan raja segera mengejar dengan gagah berani.

“Toako, sekali ini kita telah menang!” seru Siau Hong dengan girang.

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar pula suara genderang pasukan musuh berbunyi, pasukan induk pemberontak telah datang, seketika terjadilah hujan panah dan tombak di udara, pertempuran bertambah sengit.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: