Kumpulan Cerita Silat

21/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 41

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:14 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Di luar dugaan hal ini memang sudah dalam perhitungan Ti-sing-cu, sebab itulah ia mengerahkan tenaga lebih kuat hingga bunga api itu mendesak lebih dekat lagi. Ia taksir bila api itu dapat menjilat tubuh si gadis, tentu tenaga dalamnya akan terganggu, dalam keadaan begitu bila ia hamburkan bunga api yang lain, pasti dara cilik itu akan tamat riwayatnya.

“Celaka!” segera hal itu dapat diketahui oleh Siau Hong. Ia tahu A Ci tidak mampu melawan lagi, segera ia ayun tangan perlahan dan serangkum angin keras terus menyambar ke depan.

Maka tertampaklah waktu A Ci menggeser tubuh tadi, kedua ujung kain ikat pinggangnya mendadak berkibar ke atas sambil mengebas dan kontan kedua titik bunga api tadi terus menyambar kembali ke arah Ti-sing-cu sendiri.

Keruan Ti-sing-cu melongo kaget, dan sedikit ayal saja kedua bunga api itu sudah menyambar sampai di depannya. Ia menjerit sekali sambil meloncat sekuatnya ke atas hingga setitik bunga api melayang lewat di bawah kakinya.

Selagi kedua orang sutenya bersorak memuji kepandaiannya yang hebat, sekonyong-konyong bunga api yang lain menyambar ke perut Ti-sing-cu. Dalam keadaan terapung di udara, dengan sendirinya ia tak bisa menghindar pula. “Crit”, perut tepat keselomot dan hangus. Kembali Ti-sing-cu menjerit sekali, lalu turun ke bawah.

Kiranya Siau Hong gemas karena kata-katanya tadi yang kurang ajar tentang A Cu, maka sengaja hendak memberi sedikit hukuman.

Dan sesudah Ti-sing-cu menginjak tanah, bola api tadi yang tanpa pengemudi lantas jatuh kembali ke gundukan api unggun.

Menyaksikan itu, sorot mata semua orang sama mengunjuk rasa jeri dan hormat kepada A Ci, pikir mereka, “Wah, tampaknya lwekang Siausumoay juga tidak lemah, Toasuheng belum tentu mampu melawan dia, sebaiknya sorak pujian kami jangan terlalu keras-keras lagi.”

Dalam pada itu Ti-sing-cu telah membuka gelung rambutnya hingga rambutnya yang panjang terurai dan separuh mukanya tertutup, mendadak ia gigit ujung lidah sendiri hingga berdarah, sekali ia sembur, sekumur darah menghambur ke arah api unggun.

Mendadak api unggun itu menyirap, tapi segera terang benderang pula hingga menyilaukan mata. Tanpa tertahan para sutenya bersorak memuji, “Sungguh hebat kepandaian Toasuko!”

Sekonyong-konyong Ti-sing-cu putar tubuh dengan kencang hingga mirip gasingan cepatnya, sambil mengibarkan lengan bajunya yang lebar itu, seketika api unggun seakan-akan terbetot naik ke atas dan bagaikan dinding api terus mengarah ke atas kepala A Ci.

Dengan segenap tenaga dalam Ti-sing-cu telah mengadakan taruhan terakhir melawan A Ci.

Siau Hong tahu orang telah mengeluarkan semacam ilmu hitam yang sangat lihai, jika dirinya mematahkannya dengan tenaga murni, pasti lawan akan keok, tapi diri sendiri juga akan berkorban tenaga tidak sedikit. Biarpun jahat toh orang ini tiada permusuhan apa-apa dengan aku, buat apa menempurnya mati-matian?

Karena pikiran ini, segera Siau Hong tarik punggung A Ci dan bermaksud membawanya lari, ia menduga Ti-sing-cu takkan menyusulnya.

Di luar dugaan, datangnya api itu cepat luar biasa, dalam sekejap saja badan A Ci sudah akan terjilat api, dalam keadaan begitu Siau Hong tak diberi kesempatan untuk berpikir lagi, untuk membawanya lari juga tidak sempat, demi keselamatan A Ci yang nasibnya oleh A Cu telah dipasrahkan padanya, terpaksa Siau Hong hantamkan kedua tangannya sekaligus, dua rangkum angin keras lantas menjangkitkan lengan baju A Ci hingga berkibar ke atas, dan angin pukulan itu pun menyambar ke depan.

Di bawah sinar api yang terang itu, tampaknya di mana lengan baju A Ci mengebut ke depan, dua rangkum angin keras lantas menyambar juga memapak dinding api unggun itu. Api hijau itu terhenti sejenak di udara, kemudian perlahan-lahan menyurut ke arah Ti-sing-cu.

Keruan saja Ti-sing-cu sangat kaget, kembali ia gigit ujung lidah dan sekumur darah disemburkan lagi. Dan mendadak api itu berkobar pula seperti habis ditambah minyak lalu mendesak maju, tapi satu meter lebih, lagi-lagi dipaksa menyurut kembali.

Begitulah bagi para anak murid Sing-siok-hay yang lain, mereka hanya melihat lengan baju A Ci berkibar-kibar mirip layar tertiup angin. Mereka menyangka lwekang anak dara itu sudah mahatinggi, dengan sendirinya tidak menyangka bahwa di belakang A Ci sebenarnya ada tulang punggung lagi.

Tatkala itu air mula Ti-sing-cu sudah berubah pucat, darah masih terus disemburkan ke arah api, tapi setiap kali ia menyemburkan darah sekumur, setiap kali pula tenaganya berkurang.

Ibarat orang sudah naik di punggung harimau, kalau melompat turun juga akan diterkam sang harimau, terpaksa ia mengadu jiwa dengan harapan A Ci akan terbakar oleh apinya, tentang kerusakan lwekangnya akan dapat dipulihkannya kembali kelak.

Namun meski ia menyemburkan darah terus-menerus, di bawah bendungan tenaga dalam Siau Hong yang hebat, betapa pun api unggun yang hijau itu tak bisa menerjang maju lagi.

Dari tenaga lawan yang makin lemah itu Siau Hong tahu orang sudah mulai payah, ibarat lentera yang kehabisan minyak, sebentar saja Ti-sing-cu pasti akan menggeletak tak berkutik. Segera ia membisiki A Ci, “Boleh kau suruh dia mengaku kalah saja dan pertarungan ini dapat dihentikan.”

A Ci menurut, segera ia berseru, “Nah, Toasuko, sudah terang kau tak bisa menandingi aku, lekas berlutut saja dan minta ampun, aku berjanji takkan membunuhmu. Nah, lekas mengaku kalah, lekas!”

Ti-sing-cu cemas dan takut, ia insaf jiwanya tinggal di ujung rambut saja. Maka demi mendengar ucapan A Ci itu, segera ia manggut-manggut dan tidak bicara lagi. Kiranya saat itu ia sedang melawan Siau Hong dengan sepenuh sisa tenaganya, asal membuka mulut, segera api unggun itu akan membakar hidup-hidup diri sendiri.

Melihat keadaan begitu, seketika para sutenya berganti haluan, kini mereka tidak memuji dan penjilat lagi, sebaliknya beramai-ramai mencaci maki Ti-sing-cu.

“Ayo, Ti-sing-cu, kau sudah kalah, mengapa tidak lekas berlutut dan menjura?”

“Huh, manusia goblok macam begitu juga berani pamer di sini, benar-benak pamor Sing-siok-pay kita telah kau bikin ludes.”

“Ayolah Ti-sing-cu, kenapa tidak buka mulut lagi? Dengan segala kemurahan hati Siaumoay telah mengampuni jiwamu, masak kau masih kepala batu?”

“Huh, biasanya kau cuma pandai main garang pada kami, kini sekali dilabrak oleh Siausumoay, maka celakalah kau!”

Begitulah manusia-manusia rendah dan pengecut itu memang pandai mengikuti arah angin, di mana lebih menguntungkan mereka, ke sanalah mereka mendoyong. Melihat Ti-sing-cu sudah kalah, tanpa sungkan-sungkan lagi mereka lantas mengolok-olok dan mencaci maki dengan segala kata-kata kotor. Tadi mereka memuji, kini sang toasuko sepeser pun tidak laku lagi dalam penilaian mereka.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Anak murid iblis tua Sing-siok-hay ternyata begini rendah jiwanya, sejak kecil A Ci sudah bergaul dengan mereka, pantas ketularan sifat-sifat mereka yang jelek itu.”

Dan karena melihat keadaan Ti-sing-cu yang serbarunyam itu, diam-diam Siau Hong merasa tidak enak sendiri, mendadak ia pun menarik kembali tenaga dalamnya hingga lengan baju A Ci yang berkibar itu melambai ke bawah.

Dengan semangat lesu dan mata guram, tubuh Ti-sing-cu terhuyung-huyung, mendadak lutut terasa lemas, ia terduduk di tanah.

“Bagaimana Toasuko?” kata A Ci kemudian. “Kau menyerah tidak padaku?”

“Ya, aku… aku mengaku kalah,” sahut Ti-sing-cu dengan suara rendah. “Jangan kau panggil… panggil toasuko lagi pada… padaku, engkau sekarang adalah… adalah toasuci kita.”

Mendengar ucapan terakhir itu, serentak anak murid Sing-siok-pay yang lain bersorak-sorai, “Bagus, bagus! Ilmu silat Toasuci memang mahasakti, di dunia ini tiada tandingannya lagi, Sing-siok-pay kita mempunyai ahli waris sebagai Toasuci, pastilah akan merajai dunia persilatan ini.”

“Ya, Toasuci, lekas kau pergi membinasakan ‘Pak Kiau Hong dan Lam Buyung’ apa segala, segera Sing-siok-pay kita akan menjagoi dunia untuk selamanya,” demikian seorang lagi.

Tapi seorang lain lantas menyanggahnya, “He, jangan sembarang omong, Pak Kiau Hong adalah cihu toasuci kita, mana boleh dibunuh?”

“Kenapa tidak boleh?” sahut orang tadi. “Kecuali kalau dia juga masuk menjadi anggota Sing-siok-pay kita dan mengaku kalah pada Toasuci.”

Diam-diam Siau Hong mendongkol dan geli pula di tempat sembunyinya. Dalam pada itu ia dengar A Ci sedang mendamprat orang-orang tadi, “Hai, kalian mengaco-belo apa? Tutup mulut kalian!”

Lalu ia berkata kepada Ti-sing-cu, “Nah, Toasuko, tadi kuminta engkau mengampuni diriku, tapi engkau sangat kejam dan tidak mau, sekarang apa yang akan kau katakan?”

“Ya, aku… aku memang pantas mampus!” sahut Ti-sing-cu dengan terputus-putus. “Tadi kau bilang suka padaku. Biarlah segera kau pulang dan membunuh biniku itu, kemudian akan kuambil dirimu sebagai istri, selamanya aku akan tunduk pada perintahmu.”

Mendengar itu, seketika apak murid Sing-siok-hay yang lain sama bungkam, suasana menjadi sunyi senyap, diam-diam mereka membatin, “Wah, celaka! Siausumoay tadi memang menyatakan suka pada Toasuko, bila benar bila Toasuko memperistrikan dia, dengan sendirinya Siausumoay sangat senang. Dan sebagai suami-istri sudah tentu tiada perbedaan siapa yang akan menjadi ahli waris Sing-siok-hay. Wah, celaka, hati Toasuko tak boleh disakiti.”

Jitsutenya yang mukanya terbakar tadi, kini rasa sakitnya sudah mereda, ia ingin berjasa dulu untuk menebus dosa, maka cepat ia mendahului buka suara, “Benar, Toasuci, jika kau jadi istri Toasuko, itulah suatu pasangan yang setimpal, yang lelaki ganteng, yang perempuan ayu, tokoh persilatan mana yang takkan iri melihat pasangan kalian? Memangnya kalau bukan lelaki tampan sebagai Toasuko, rasanya sukar juga mencari jejaka yang setimpal bagimu.”

“Ya, Toasuci, meski ilmu silat Toasuko sedikit kurang daripadamu, tapi di dunia ini selain Toasuci sendiri, jelas Toasuko terhitung jago nomor dua,” demikian seru seorang lagi. “Dan selanjutnya Toasuko tentu akan menurut perintahmu, betapa pun dia takkan berani membangkang, aku berani menjaminnya.”

Begitulah yang satu bilang begini dan yang lain berkata begitu, semuanya memuji dan mendukung perjodohan mereka yang dikatakan setimpal dan akan bahagia.

Di tempat sembunyinya diam-diam Siau Hong juga berpikir, “A Ci menyatakan suka kepada orang ini, tampaknya mereka memang suatu pasangan yang sesuai.”

Ia coba melirik anak dara itu, ia lihat wajahnya tersenyum simpul, tampaknya sangat senang. Maka diam-diam ia membatin lagi, “Ya, apa boleh buat, dia sendiri juga sudah setuju, maka selesailah kewajibanku kepada pesan tinggalan A Cu itu. Sejak kini dia sudah berumah tangga, aku tidak perlu pikirkan dia lagi.”

Selagi Siau Hong bermaksud tinggal pergi, tiba-tiba didengarnya A Ci berkata, “Toasuko, engkau sungguh suka padaku atau cuma terpaksa saja memperistrikan daku?”

“Sungguh-sungguh suka, sungguh mati!” sahut Ti-sing-cu. “Kalau aku berpura-pura, biarlah aku terkutuk dan mati tak terkubur.”

Segera para sutenya beramai-ramai memberi suara pula, “Ya, sudah tentu Toasuko bersungguh hati, Toasuci yang berilmu silat setinggi itu, siapakah yang tidak ingin mempersuntingnya?”

“Betul, untuk menikah dengan Toasuci, Toasuko sudah berjanji akan membunuh Suso (istri suko), kalau Toasuko tidak tega, kami siap melaksanakannya.”

A Ci merasa muak juga oleh sifat penjilat pantat kawan-kawannya itu. Dengan tertawa ia berkata kepada Ti-sing-cu, “Tadi kuminta kau ampuni aku, mengapa kau tidak mau?”

“O, aku… aku hanya… hanya bergurau saja…” sahut Ti-sing-cu dengan tergegap-gegap. Sesudah pertandingan tadi, tenaga dalamnya telah dikuras habis oleh Siau Hong, maka kini ia pun lemas dan lapuk, asal salah seorang sutenya menantangnya saja dia tak mampu melawan. Maka yang ia harap sekarang hanya semoga A Ci mau mengampuni jiwanya, jalan lain tidak ada. Dan bila kelak lwekangnya sudah pulih barulah akan membikin perhitungan dengan mereka yang pernah mengolok-oloknya itu.

Kemudian A Ci berkata lagi, “Menurut peraturan kita, bila ada pergantian ahli waris, lalu cara bagaimana ahli waris lama itu harus ditindak?”

Keringat dingin membasahi jidat Ti-sing-cu, dengan suara gemetar ia memohon, “Harap Toa… Toasuci sudi memberi ampun!”

“Aku pun ingin mengampuni kau,” sahut A Ci dengan mengikik tawa. “Cuma sayang, peraturan tetap peraturan, tidak boleh aku melanggarnya. Toasuko, sesungguhnya pada waktu kecil aku pernah suka padamu, tapi kemudian makin lama aku makin jemu padamu, apakah kau tahu hal ini?”

“Ya… ya?” sahut Ti-sing-cu dengan lesu.

“Nah, Toasuko, boleh seranglah!” kata A Ci pula. “Kau memiliki kepandaian apa, silakan keluarkan semua.”

Insaf nasib sendiri sudah tak bisa diubah lagi, Ti-sing-cu menjadi nekat, ia tidak minta ampun lagi, tapi kedua tangan lantas siap, ia kerahkan sisa tenaganya yang masih ada terus memukul ke arah api unggun yang hijau itu. Tapi sayang, ibarat pelita sudah kehabisan minyak, setitik tenaganya itu terang tak berguna, pukulannya hanya membuat api unggun bergetar beberapa kali, lalu terang kembali.

“Aha, sungguh menarik,” seru A Ci dengan tertawa. “Eh, Toasuko, mengapa permainan sulapmu tak manjur lagi?”

Habis berkata, sekali tangannya menjulur ke depan sambil melangkah maju, seketika sejalur api hijau memancar ke arah Ti-sing-cu.

Sebenarnya tenaga dalam A Ci hanya biasa saja, maka lidah api itu pun tidak seberapa besar, tapi karena Ti-sing-cu sudah tak berdaya lagi, bahkan tenaga untuk melarikan diri juga sudah tak ada. Maka begitu api hijau itu menjilat badannya, seketika rambut dan pakaiannya terbakar, di tengah jerit ngerinya antero tubuhnya lantas terbungkus oleh api yang berkobar-kobar.

Serentak para anak murid Sing-siok-hay yang lain ramai bersorak puji akan kesaktian toasuci mereka.

Meski Siau Hong sudah sering menyaksikan kejadian mengerikan di dunia Kangouw, tapi seorang gadis jelita dan muda belia seperti A Ci, kelakuannya ternyata begini keji dan ganas, sungguh ia takkan percaya jika tidak menyaksikan sendiri. Sungguh rasa hatinya jemu tak terkatakan, ia menghela napas dan segera melangkah pergi.

“Cihu, Cihu! Tunggu, Cihu!” segera A Ci berteriak-teriak.

Tapi Siau Hong tak gubris padanya, ia tetap bertindak pergi dengan langkah lebar.

Keruan anak murid Sing-siok-pay sama kaget ketika tahu-tahu melihat munculnya orang di balik batu karang itu, terutama si lelaki hidung singa dan si gendut yang mengenali kelihaian Siau Hong.

“Cihu, Cihu, tunggulah aku!” seru A Ci pula sambil menyusulnya.

Sementara itu jeritan Ti-sing-cu yang mengerikan itu semakin keras hingga berkumandang jauh di seluruh lembah pegunungan, seram dan memekak telinga.

Melihat si A Ci masih terus menguntitnya, dengan kening bekernyit Siau Hong berkata, “Buat apa kau ikut padaku? Kau sudah menjadi ahli waris Sing-siok-pay, sudah menjadi toasuci orang-orang itu, bukankah sudah memuaskan hatimu sekarang?”

“Tidak bisa,” sahut A Ci dengan tertawa. Lalu ia tekan suaranya dan berkata pula, “Kedudukan toasuciku ini adalah hasil menipu, buat apa mesti kuberatkan? Biarlah aku ikut keluar Gan-bun-koan untuk mengangon domba saja, Cihu.”

Dalam pada itu suara Ti-sing-cu yang mengerikan itu masih terdengar, Siau Hong tidak ingin tinggal lebih lama di sini, segera ia percepat langkahnya ke utara.

Cepat A Ci jalan berjajar dengan Siau Hong bahkan ia menoleh dan menggembor kepada anak murid Sing-siok-hay, “Jitsute, aku ada keperluan harus berangkat ke utara, kalian boleh tunggu aku di sekitar sini, sebelum aku kembali kalian dilarang sembarang tinggal pergi, tahu tidak?”

Anak murid Sing-siok-hay itu beramai-ramai memburu maju beberapa tindak dan membungkuk dengan penuh hormat, kata mereka, “Atas titah Toasuci, sedikit pun kami tak berani membangkang!”

Habis itu, mereka lantas menyerukan puja-puji lagi kepada sang “toasuci” yang mahasakti itu.

A Ci melambaikan tangan beberapa kali dengan wajah berseri-seri, lalu tinggal pergi bersama Siau Hong.

Melihat sifat A Ci yang masih kekanak-kanakan, habis membunuh orang malah kelihatan senang, seperti habis makan penganan enak atau mendapat mainan baru, kalau tidak menyaksikan sendiri pasti tiada seorang pun yang percaya bahwa anak dara ini baru saja berhasil merebut kedudukan ahli waris sia-pay yang terbesar di dunia ini.

Siau Hong menghela napas, ia merasa di dunia ini segala apa seperti impian belaka, hampa rasanya.

“Engkau menghela napas, ada apa, Cihu? Apa engkau anggap aku terlalu nakal?” tanya A Ci.

“Itu bukan nakal lagi tapi kejam dan ganas,” sahut Siau Hong. “Kalau yang berbuat adalah kaum laki-laki kami, hal mana masih dapat dimengerti, tapi dirimu adalah seorang nona cilik, kenapa sedikit pun kau tidak kenal ampun? Malah engkau sendiri pernah suka pada toasuhengmu itu, mengapa sekarang kau bakar mati dia?”

“Engkau sudah tahu dan pura-pura tanya atau sungguh-sungguh tidak tahu?” tanya A Ci dengan heran.

“Sudah tentu aku tidak tahu, makanya tanya.”

“Sungguh aneh, masakah engkau tidak tahu? Bukankah kedudukanku sebagai toasuci ini adalah berkat bantuanmu, cuma saja mereka tidak tahu. Bila aku tidak membunuh dia, kelak pasti akan diketahui olehnya dan bila engkau kebetulan tidak berada di dampingku, bukankah jiwaku akan amblas di tangannya? Dan untuk keselamatanku sendiri, sudah tentu aku harus membunuhnya.”

“Katanya kau suka padanya, selang beberapa tahun lagi setelah dewasa kau boleh menikah dengan dia, tatkala mana masakah dia tega membunuhmu?”

“Dia memang berjanji akan membunuh istrinya untuk menikah denganku, tapi kalau aku menjadi istrinya, tentu nasibku akan serupa bila kelak ada perempuan lain minta dia membunuhku. Pula, aku merasa menikahi dia juga tidak begitu menarik.”

Diam-diam Siau Hong membatin, “Benar-benar omongan kanak-kanak. Menjadi suami-istri adalah urusan selama hidup, masakah ada soal menarik apa segala? Bocah ini dibilang bodoh toh dia sangat cerdik, dibilang dia pintar toh ucapannya tak keruan dan suka bikin gara-gara.”

Maka katanya segera, “Baiklah! Dan untuk apa kau ke Gan-bun-koan?”

“Cihu, akan kukatakan terus terang, kau mau mendengarkan tidak?”

“Bagus, jadi selama ini kau tidak pernah jujur padaku dan baru sekarang mau berterus terang!” demikian Siau Hong membatin. Tapi di mulut ia berkata, “Tentu saja aku ingin mendengarkan, cuma kukhawatir kau tidak mau bicara terus terang.”

A Ci mengikik tawa sambil merangkul lengan Siau Hong, katanya, “Masakah engkau juga khawatir padaku?”

“Banyak hal-hal yang kukhawatirkan padamu, kukhawatir kau akan menimbulkan gara-gara, khawatir kau sembarangan membunuh orang, khawatir kau mempermainkan orang, khawatir…”

“Eh, kau khawatir aku dihina orang tidak? Kalau aku dibunuh orang, bagaimana?” tanya A Ci tiba-tiba.

“Aku telah dipesan oleh cicimu, dengan sendirinya aku harus menjaga keselamatanmu,” sahut Siau Hong.

“Bila ciciku tidak pernah meninggalkan pesan padamu? Dan umpamanya aku bukan adik A Cu, lalu bagaimana?”

“Hm, sudah tentu takkan kupeduli,” jengek Siau Hong.

“Memangnya ciciku sedemikian baik sehingga sedikit pun tidak kau hargai diriku?”

“Sudah tentu, cicimu beribu kali lebih baik daripadamu A Ci, selama hidupmu ini tidak mungkin dapat menyamai dia,” berkata sampai di sini mata Siau Hong menjadi agak basah dan suaranya sedih.

Dengan mulut menjengkit A Ci menggerundel, “Jika benar A Ci lebih baik daripadaku, suruhlah dia mengawanimu saja, aku tidak mau menemanimu lagi.”

Habis berkata, segera ia putar tubuh dan melangkah balik.

Tapi Siau Hong tidak ambil pusing, ia tetap meneruskan perjalanannya, pikirnya, “Jika A Cu yang bersamaku sekarang, betapa pun ia tidak mungkin marah padaku, selamanya ia ramah tamah padaku, begitu pula segala apa kuturuti dia, andaikan dia mengomel sesuatu juga aku akan mengaku salah padanya. Tapi, tidak, tidak mungkin dia marah padaku.”

Begitulah ia pikir yang tidak-tidak. Tiba-tiba didengarnya suara tindakan orang dari belakang, ternyata A Ci telah menyusulnya pula. Kata anak dara itu, “Cihu, engkau ini benar-benar orang kejam, sekali tidak mau menunggu, tetap tidak menunggu, sedikit pun engkau tidak punya rasa kasihan.”

Siau Hong tertawa geli, katanya, “A Ci, mengapa kau bicara tentang kasihan segala? Dari siapakah pernah kau dengar kata-kata kasihan?”

“Dari ibuku,” sahut A Ci. “Beliau mengatakan padaku bahwa menjadi orang itu jangan kejam, jangan galak, tapi harus ‘welas asih’.”

“Apa yang dikatakan ibumu memang benar, cuma sayang sejak kecil kau sudah berpisah dengan beliau hingga mendapat didikan jahat dari gurumu,” kata Siau Hong.

“Baiklah, Cihu, selanjutnya aku akan berada bersamamu dan akan banyak belajar hal-hal yang baik darimu,” kata A Ci dengan tertawa.

Siau Hong berjingkrak kaget, cepat ia goyang-goyang tangannya sambil berseru, “Wah, tak bisa jadi! Apa gunanya kau ikut orang kasar seperti aku ini? Sudahlah, A Ci, lekas kau pergi saja, kalau berada bersamamu malah pikiranku menjadi kesal dan kusut, untuk pikir secara tenang sedikit saja tak dapat.”

“Apa yang hendak kau pikirkan, coba katakanlah, biar aku membantumu memikirkannya,” kata A Ci. “Cihu, engkau ini memang seorang baik, mudah ditipu orang.”

Mendongkol dan geli Siau Hong oleh ucapan dara itu, katanya, “Kau hanya seorang anak perempuan, tahu apa? Memangnya sesuatu yang tak dapat kupikirkan sebaliknya mesti minta nasihatmu?”

“Sudah tentu, banyak hal-hal aneh yang justru tak mungkin dapat kau pikirkan,” kata A Ci. Ia merandek dan meraup secomot salju, ia kepal hingga keras, lalu disambitkan. Kemudian ia tanya, “Cihu, untuk apakah kau pergi ke luar Gan-bun-koan?”

“Tidak untuk apa-apa,” sahut Siau Hong sambil geleng kepala. “Di sana aku akan mengangon domba dan menggembala sapi untuk melewatkan hidupku ini, habis perkara.”

“Lalu siapakah yang akan memasak makanan bagimu? Siapakah yang akan membuatkan pakaian bagimu?” tanya A Ci.

Siau Hong melengak, memang tak pernah terpikir olehnya tentang soal-soal itu. Segera ia menjawab sekenanya, “Tentang sandang-pangan kan gampang? Orang Cidan kami hanya makan daging kambing dan sapi, bajunya buatan dari kulit domba dan sapi, di mana-mana dapat dijadikan tempat tinggal, bukankah sangat sederhana?”

“Dan tatkala engkau kesepian, siapakah yang akan mengajak bicara padamu?” tanya A Ci.

“Gampang, sesudah aku berada di antara suku bangsa sendiri, tentu saja akan mendapat banyak kawan sebangsa,” sahut Siau Hong.

“Tapi yang mereka bicarakan dan lakukan melulu urusan berburu, menunggang kuda, menyembelih sapi dan menyembelih kambing, hal-hal begitu kan membosankan?” ujar A Ci.

Siau Hong merasa ucapan anak dara itu beralasan juga, ia hanya menghela napas dan tidak menjawab.

“Apakah engkau harus kembali ke tempat suku bangsamu sana?” A Ci bertanya pula. “Jika engkau tidak pulang ke sana, tapi tinggal di sini untuk berkelahi, minum arak, baik mati atau akan hidup, bukankah cara demikian lebih menyenangkan, lebih memuaskan?”

Mendengar itu, seketika dada Siau Hong terasa panas, semangat kesatrianya tergugah lagi. Ia mendongak dan bersuit panjang.

“Ya, ucapanmu betul juga!” katanya kemudian.

“Eh, Cihu,” tiba-tiba A Ci menarik-narik lengan Siau Hong. “Sudahlah, jangan engkau pulang ke sana dan aku pun takkan pulang ke Sing-siok-hay, aku akan membantumu berkelahi dan minum arak.”

Siau Hong tertawa oleh sifat anak dara yang masih kekanak-kanakan itu, katanya, “Kau kan toasuci dari Sing-siok-pay, jika mereka kehilangan toasuci dan ahli waris kan bisa berabe?”

“Kedudukanku sebagai toasuci ini diperoleh dengan menipu, setiap waktu bila rahasiaku ketahuan mereka, tentu jiwaku bisa melayang, maka lebih baik kuikut denganmu untuk berkelahi dan minum arak saja.”

“Bicara tentang minum arak, kekuatanmu minum terlalu sedikit, mungkin setengah mangkuk saja kau akan mabuk,” ujar Siau Hong dengan tersenyum. “Tentang kepandaianmu berkelahi juga tidak cukup, bukan mustahil akhirnya nanti bukan lagi kau bantu aku, tapi akulah yang membantumu.”

A Ci menjadi masygul oleh jawaban itu, ia berkerut kening dan sesudah beberapa tindak lagi, sekonyong-konyong ia duduk di tanah dan menangis keras-keras.

Siau Hong terkejut oleh kelakuan anak dara itu, cepat ia tanya, “He, ada… ada apakah?”

Tapi A Ci tidak menggubrisnya, ia tetap menangis tergerung-gerung dengan sangat berduka.

Sejak Siau Hong kenal A Ci, selalu ia lihat anak dara itu mau menang sendiri, sekalipun waktu diringkus oleh anak murid Sing-siok-pay juga dia tetap kepala batu, sedikit pun tidak gentar, sungguh tidak nyana sekarang arak dara itu bisa menangis sedemikian rupa hingga Siau Hong dibuatnya bingung malah.

“He A Ci cilik, mengapakah kau ini?” tanya Siau Hong pula.

“Kau… kau pergilah, jangan… jangan urus diriku lagi, huk-huk, biar aku mati menangis saja di sini, supaya engkau merasa senang, huk-huk-huk!” demikian sahut A Ci dengan terguguk.

“Seorang sehat masakah bisa mati menangis,” ujar Siau Hong dengan tersenyum.

“Aku justru ingin mati menangis,” sahut A Ci sambil tersedu sedan.

“Jika begitu, boleh kau menangis terus di sini, jangan terburu nafsu, menangislah perlahan-lahan dan aku takkan mengawanimu lagi,” kata Siau Hong dengan tertawa, lalu ia melangkah pergi.

Tapi baru dua tindak ia melangkah, tiba-tiba suara tangis A Ci berhenti, sedikit pun tiada suara lagi. Ia menjadi heran, ketika menoleh, ia lihat anak dara itu tiarap di atas tanah salju tanpa bergerak.

Diam-diam Siau Hong geli, “Hah, anak dara ini memang suka manja, biarlah takkan kugubris dia lagi.”

Segera ia tinggal pergi tanpa menoleh.

Sesudah beberapa li jauhnya, ketika ia berpaling ke belakang, ia lihat di tanah salju itu keadaan sunyi senyap, tanah salju sekitar situ sangat datar dan luas, sepanjang mata memandang dapat terlihat dengan jelas tanpa teraling-aling oleh pepohonan apa pun. Ia lihat A Ci masih tetap menggeletak di tanah salju itu tanpa bergerak sedikit pun.

Diam-diam ia menjadi ragu, “Anak dara ini memang aneh tingkah lakunya, bukan mustahil sekali ia menggeletak, lalu tidak berbangkit untuk selamanya.”

Segera teringat pula olehnya pesan tinggalan A Cu, tanpa kuasa lagi segera ia putar balik dengan langkah lebar.

Setiba di dekat A Ci, benar juga ia lihat anak dara itu masih bertiarap di tanah salju, keadaannya masih tetap seperti waktu ditinggalkan tadi, sedikit pun tidak bergeser.

Sesudah lebih dekat lagi, Siau Hong terkesiap, ia lihat tubuh A Ci seakan-akan terbingkai dalam salju yang tebalnya beberapa senti, tapi salju yang mengelilingi tubuhnya itu sedikit pun tidak mencair. Padahal tubuh manusia itu bersuhu panas, kalau tengkurap sekian lama di atas salju tentu salju di sekitarnya akan cair menjadi air.

Kini salju di situ tetap beku, jangan-jangan anak dara itu benar-benar sudah mati?

Dalam khawatirnya Siau Hong coba meraba pipi si gadis, tapi di mana tangannya menyentuh ia merasa tubuh A Ci itu sudah dingin, waktu memeriksa napasnya pula, juga sudah berhenti.

Namun Siau Hong pernah menyaksikan anak dara itu pura-pura mati tenggelam dalam danau untuk menipu ayahnya, ia tahu di dalam Sing-siok-pay ada semacam ilmu “Ku-sit-kang” (Kura-kura Mengeram), maka ia pun tidak begitu khawatir lagi. Segera ia gunakan dua jari dan menutuk dua kali di iga A Ci, ia salurkan tenaga dalamnya ke bagian hiat-to itu.

Maka terdengar A Ci bersuara sekali lalu membuka mata perlahan, waktu melihat Siau Hong mendadak ia berpaling sedikit dan sekali mulut mengap, sekonyong-konyong sebatang jarum kecil berwarna hijau gilap menyambar ke tengah-tengah alis Siau Hong.

Waktu itu jarak Siau Hong dengan anak dara itu tiada satu meter jauhnya, betapa pun ia tidak menyangka mendadak A Ci bisa menyerangnya secara keji.

Sambaran jarum itu pun sangat cepat, biarpun ilmu silat Siau Hong mahatinggi juga sukar untuk menghindar pada saat mendadak dan dari jarak sedekat itu.

Sekilas teringat olehnya betapa jahat senjata rahasia berbisa dari Sing-siok-pay, bila sampai kena, pasti harapan untuk hidup sangat tipis. Tanpa pikir lagi ia mengebas sebisanya dengan tangan kanan, kontan serangkum angin keras berjangkit.

Dalam saat kepepet, mata tenaga yang digunakan itu merupakan himpunan tenaga yang ada, kalau tidak, jangan harap dapat mengguncang pergi jarum lembut yang menyambar dari jarak dekat itu. Maka begitu tangan kanan bekerja, seketika tubuhnya menggeser juga ke kanan, maka terenduslah bau busuk amis yang terbawa angin, dan jarum berbisa itu pun menyambar lewat di samping pipinya, hanya selisih beberapa mili saja jauhnya, sungguh ia boleh dikatakan lolos dari lubang jarum.

Dan pada saat yang sama itulah tubuh A Ci juga terpental oleh tenaga pukulan mahadahsyat itu, tanpa bersuara lagi badan A Ci melayang hingga jauh dan terbanting di atas tanah.

Diam-diam Siau Hong bersyukur nyaris dimakan jarum berbisa itu. Tapi demi melihat A Ci terpental oleh tenaga pukulannya, ia jadi kaget pula.

“Wah, celaka! Mana dia tahan oleh tenaga pukulanku? Mungkin dia sudah binasa oleh pukulanku?” demikian pikirnya dengan khawatir. Cepat ia memburu ke tempat A Ci, ia lihat mata anak dara itu tertutup rapat, ujung mulut mengeluarkan darah, mukanya pucat, sekali ini benar-benar sudah berhenti napasnya.

Seketika Siau Hong terpatung katanya dalam hati, “Kembali aku memukul mati dia, kembali aku membunuh adik perempuan A Ci lagi, padahal sebelum meninggal dia minta… minta kujaga adiknya, tetapi… tetapi aku memukul mati dia.”

Begitulah dengan rasa cemas ia coba tempelkan tangannya di punggung A Ci dan menyalurkan tenaga murni sendiri sekuatnya ke tubuh anak dara itu. Selang sebentar, tampak A Ci bergerak sedikit. Sungguh girang Siau Hong tidak kepalang, ia berseru, “A Ci, A Ci! Kau tidak boleh mati, betapa pun aku harus menghidupkanmu.”

Tapi setelah bergerak sedikit, lalu A Ci tidak berkutik lagi. Siau Hong sangat gelisah, cuma sebagai orang yang sudah berpengalaman, sedapat mungkin ia bisa menguasai perasaannya dan tenangkan diri. Segera ia duduk bersila di tanah salju itu, perlahan ia taruh badan A Ci di pangkuannya, kedua telapak tangan ditempelkan punggung dan perlahan menyalurkan tenaga murni ke dalam tubuh A Ci. Ia tahu luka A Ci sangat parah, maka sedapat mungkin ia harus menolong.

Selang tak lama dari ubun-ubun Siau Hong sendiri tampak menguapkan asap tipis, suatu tanda ia telah mengerahkan tenaga sekuatnya.

Kira-kira setengah jam ia berusaha, akhirnya tubuh A Ci tampak bergerak sedikit dan perlahan dapat memanggil, “Cihu!”

Sungguh girang Siau Hong bukan buatan, ia meneruskan tenaganya dan tidak mengajak bicara padanya. Ia merasa badan A Ci lambat laun mulai hangat, hidungnya juga mulai bernapas lagi.

Khawatir hanya gagal setengah jalan, maka Siau Hong tidak berani berhenti, ia kerahkan tenaga sedapat mungkin.

Kira-kira menjelang tengah hari, ia merasa pernapasan A Ci sudah pulih kembali dan barulah ia berani berbangkit, ia pondong anak dara itu dan melanjutkan perjalanan dengan cepat. Tapi ia lihat air muka A Ci itu tetap pucat bagai mayat, maka ia tidak berani ayal, sambil berjalan cepat, tangan tetap menempel di punggung anak dara itu dan tiada hentinya menyalurkan tenaga murni.

Kira-kira satu jam kemudian, sampailah di suatu kota kecil. Celakanya kota ini tiada rumah penginapan, terpaksa Siau Hong melanjutkan perjalanan ke utara. Lebih 20 li lagi, akhirnya ia mendapatkan sebuah penginapan yang sederhana, penginapan itu tiada pelayan hingga pemilik hotel sendiri melayani tamunya.

Segera Siau Hong minta disediakan semangkuk kuah hangat, dengan sendok perlahan ia menyuapi A Ci. Tapi hanya beberapa cegukan saja kuah yang diminum A Ci lantas ditumpahkan kembali, bahkan di antara air kuah itu penuh bercampur darah mati.

Siau Hong sangat cemas, ia pikir luka A Ci yang parah ini besar kemungkinan tak bisa disembuhkan lagi. Sedangkan Giam-ong-tek, si Tabib Sakti Sih-sin-ih itu entah berada di mana, sekalipun berada di situ juga belum tentu mampu menyembuhkan A Ci. Tapi diam-diam ia berjanji pada diri sendiri harus menyelamatkan jiwa anak dara itu biarpun tenaga sendiri akan terkuras habis, dengan demikian barulah ia merasa tidak mengecewakan pesan A Cu yang telah pasrahkan nasib A Ci padanya itu.

Padahal sebabnya dia hantam A Ci adalah karena anak dara itu hendak menyerangnya lebih dulu, dalam keadaan begitu, bila dia tidak memukulnya tentu jiwa sendiri yang akan terancam, maka terpaksa ia mesti melukai A Ci. Andaikan A Cu menyaksikan kejadian itu, tentu ia pun takkan menyalahkan Siau Hong, sebab kejadian itu adalah gara-gara perbuatan A Ci sendiri.

Semalam suntuk Siau Hong tak bisa tidur, sampai esok paginya ia masih tetap menyalurkan tenaga murni sendiri untuk mempertahankan jiwa A Ci.

Dahulu waktu A Cu terluka olehnya, hanya terkadang saja Siau Hong menyalurkan tenaga murninya bila keadaan gadis itu tampak lemah. Tapi kini keadaan A Ci jauh lebih parah, kedua tangannya tidak boleh berpisah dengan punggung A Ci, sekali berpisah, tentu napas anak dara itu lantas putus.

Keadaan begitu berlangsung hingga esok hari kedua. Meski tenaga Siau Hong sangat kuat, tapi selama dua hari dua malam mengerahkan tenaga cara begitu, mau-tak-mau terasa sangat lelah juga. Arak yang tersedia di hotel kecil itu pun habis diminum olehnya. Ia minta pemilik hotel membelikan di tempat lain tapi sialan, uangnya habis.

Bagi Siau Hong tidak menjadi soal tidak makan nasi, tapi sehari tidak minum arak baginya akan terasa ketagihan. Kini dalam keadaan lelah dan banyak pikiran, ia lebih perlu dibantu dengan arak untuk menguatkan semangatnya.

Ia pikir mungkin di badan A Ci masih terdapat uang bekal. Segera ia membuka buntelan kecil yang dibawa anak dara itu, benar juga ia lihat di dalamnya ada tiga potong uang emas, ia ambil sepotong dan ditaruhkan di meja, ia merasa buntelan kain terikat oleh seutas tali halus, ujung tali itu terikat di kantongan kain dan ujung yang lain terikat di pinggang A Ci.

Segera ia coba melepaskan ujung tali yang terikat pada tali pinggang itu Sesudah berkutatan sebentar barulah tali itu dapat dilepaskannya, tapi waktu ia tarik, terasa ujung tali yang lain agak berat, terang masih terikat sesuatu benda lain. Cuma benda itu tertutup dalam baju hingga tidak kelihatan bagaimana bentuknya.

Dan ketika Siau Hong melepaskan tali itu, “trang-tring”, mendadak terjatuh sebuah benda berwarna hijau mengilat. Itulah sebuah giok-ting yang kecil mungil.

Siau Hong menghela napas melihat benda itu, terang itulah giok-ting yang dipertengkarkan antara murid Sing-siok-hay tempo hari. Ia jemput dan menaruhnya di atas meja. Ia lihat giok-ting itu berukir sangat indah, di antara warna hijau kemala itu lamat-lamat kelihatan jalur merah jambon hingga makin menambah kebagusan warnanya.

Selamanya Siau Hong tidak suka benda-benda permainan begitu, dalam pandangannya biarpun benda mestika apa pun juga tidak lebih cuma batu belaka yang tiada artinya, maka sesudah memandangnya sekejap, ia pun tidak memerhatikan lagi.

Pikirnya kemudian, “A Ci ini benar-benar sangat licin, berulang ia mengatakan giok-ting ini telah diserahkan padaku, padahal masih tersimpan di dalam bajunya. Saudara seperguruannya itu percaya saja apa yang dia katakan bahwa barang telah diserahkan padaku, pula mereka tidak enak untuk menggeledah badannya, sebab itulah barang ini tidak ditemukan. Sedangkan sekarang jiwanya masih sukar diramalkan, buat apa pikirkan benda demikian ini?”

Segera ia panggil pengurus hotel dan menyerahkan uang emas itu padanya agar dibelikan arak dan daging.

Begitulah ia terus menyalurkan tenaga murni sendiri untuk mempertahankan jiwa A Ci. Sampai hari keempat, keadaan Siau Hong benar-benar sudah payah, ia tidak tahan lagi, terpaksa ia genggam kedua tangan A Ci dan merangkulnya, ia biarkan gadis itu bersandar di depan dadanya, ia menyalurkan tenaga murni melalui tangannya, sebentar kemudian, ia merasa mata sepat dan sukar dipentang lagi, akhirnya ia pun terpulas. Tapi karena selalu khawatirkan mati-hidup A Ci, hanya sebentar saja ia sudah terjaga bangun.

Keadaan begitu kembali lewat lagi dua hari, ia lihat keadaan A Ci tiada tanda gawat, tapi juga tiada kemajuan untuk sembuh. Terkadang anak dara itu membuka mata juga, tapi matanya buram, bahkan bicara pun tak bisa lagi.

Siau Hong tambah masygul, untuk menghibur diri ia minum arak sepuas-puasnya. Ia pikir terus tinggal di hotel kecil itu pun bukan jalan yang baik, terpaksa ia harus berangkat lagi, ia berharap akan menemukan jalan untuk menyelamatkan A Ci daripada mati konyol di hotel kecil itu.

Dipondongnya A Ci dengan tangan kirinya, dengan tangan kanan ia ambil kantongan kain milik A Ci itu dan disimpannya di dalam baju sendiri. Ia lihat Pek-giok-giok-ting itu masih terletak di atas meja, pikirnya, “Benda yang membikin celaka orang ini lebih baik dihancurkan saja!”

Tapi ia urung menggepuknya ketika tiba-tiba terpikir pula olehnya, “Dengan susah payah A Ci mencuri barang ini, jelas benda ini berguna baginya. Tampaknya ia sudah tak bisa disembuhkan lagi. Pada sebelum ajalnya bila mendadak ia tanya benda kesukaannya ini dan dapat kuperlihatkan padanya, dengan begitu ia akan mangkat dengan rasa puas daripada nanti mati menyesal kalau aku tak bisa mengunjukkan benda ini.”

Begitulah segera ia jemput lagi giok-ting itu, begitu tripod itu terpegang tangannya, segera terasa di dalamnya ada sesuatu yang sedang merayap-rayap. Keruan Siau Hong heran dan tertarik, ia coba mengamat-amati, ia lihat di samping tripod itu ada lima lubang amat kecil. Waktu diperhatikan pula bagian leher tripod itu, ternyata di situ terdapat suatu garis yang sangat halus, agaknya tripod itu terbagi menjadi dua bagian.

Ia coba menggunakan jari kecil dan jari manis untuk menjepit tripod itu, lalu menggunakan jari jempol dan jari telunjuk untuk memutar bagian atas tripod, benar juga bagian itu dapat diputar. Sesudah dipuntir beberapa kali, akhirnya terbukalah tutupnya.

Tapi ia menjadi kaget ketika mengetahui isi tripod itu. Kiranya di dalamnya terdapat dua ekor serangga berbisa yang sedang saling antup, yang seekor adalah kalajengking dan yang lain adalah seekor kelabang, keduanya sedang tarung dengan ramai.

Sebagai orang yang berpengalaman, segera Siau Hong tahu binatang beracun itu memang sengaja dipiara oleh golongan Sing-siok-pay. Tanpa pikir lagi ia tuang keluar kalajengking dan kelabang itu, sekali injak ia bikin mati gepeng. Lalu ia tutup lagi giok-ting itu dan dimasukkan ke dalam kantongan kain semula. Ia bereskan rekening hotel, lalu berangkat menuju ke utara menempuh hujan salju.

Ia tahu permusuhannya dengan tokoh-tokoh persilatan Tionggoan sudah terlalu mendalam, ia sendiri tidak sudi menyamar pula, kalau ia menuju lagi ke utara, makin lama makin dekat dengan ibukota Song, yaitu di situ Pianliang, di situ pasti akan kepergok oleh kesatria Tionggoan yang terkenal. Untuk membunuh orang lagi ia sudah tidak mau, pula ia memondong A Ci, sudah tentu tidak leluasa untuk bertempur.

Sebab itulah ia tidak mau melalui jalan raya, tapi yang dipilih adalah jalan kecil pegunungan yang sepi. Dengan cara begitu, sudah beberapa ratus li ia tempuh perjalanan dan ternyata selamat tanpa ketemukan sesuatu alangan apa pun.

Suatu hari, sampailah ia di suatu kota. Di tepi jalan ia lihat suatu toko obat, di atas papan merek toko tertulis, “Ong Thong-ti, tabib turun menurun.”

Ia pikir di tempat kecil begitu masakan ada tabib pandai? Tapi tiada alangan dicoba dulu.

Segera ia bawa A Ci ke dalam toko obat itu untuk minta pertolongan. Sesudah tabib she Ong itu memegang nadi A Ci, tiba-tiba ia pandang Siau Hong, lalu pegang nadi A Ci lagi, kemudian pandang pula pada Siau Hong dan memegang nadi lagi, begitulah berulang-ulang ia lakukan seperti itu dengan air muka terheran-heran. Sekonyong-konyong ia lepaskan nadi A Ci lalu nadi Siau Hong yang diperiksanya.

Keruan Siau Hong gusar, katanya, “Sinshe, aku minta kau periksa penyakit adikku dan bukan diriku.”

Tapi Ong-sinshe itu menggeleng-geleng kepala, sahutnya, “Kulihat engkau inilah yang sakit, pikiranmu agak kacau dan semangatmu lesu, kukira engkau yang perlu diobati.”

“Mengapa pikiranku kacau? Bukankah aku sehat-sehat saja?” ujar Siau Hong.

“Habis nadi nona ini sudah berhenti, orangnya sudah mati sejak tadi-tadi, hanya saja badannya belum lagi dingin dan kaku, untuk apa kau bawa kemari untuk mencari tabib?” kata Ong-sinshe itu. “Bukankah engkau sendiri yang lagi pepet pikiran dan perlu diberi obat untuk menenangkan diri? Ai, saudara, orang mati tak bisa hidup kembali, sebaiknya engkau jangan terlalu berduka, lebih baik bawalah pulang jenazah adikmu ini dan lekas dikubur saja.”

Siau Hong jadi serbarunyam, tapi apa yang dikatakan Sinshe Ong itu toh beralasan juga. Hakikatnya A Ci memang sudah lama mati, soalnya karena seluruh tenaga murninya hingga setitik kesempatan hidup A Ci itu masih dipertahankan, hal ini sudah tentu tidak diketahui tabib kampungan seperti Sinshe Ong itu.

Dan selagi Siau Hong berbangkit hendak pergi, tiba-tiba dilihatnya seorang berdandan sebagai koankeh (pengurus rumah tangga) berlari-lari masuk ke dalam toko obat sambil berseru, “Lekas, lekas! Mana lo-san-jin-som yang paling baik? Lothaiya kami mendadak terserang penyakit angin duduk dan segera akan putus napasnya, maka perlu jinsom yang baik itu untuk menahan sebentar nyawanya.”

“Ya, ya, ada, ada! Ini lo-san-jin-som yang paling baik!” demikian kuasa toko obat itu cepat memberikan apa yang diminta.

Siau Hong tertarik oleh kata-kata mereka itu. “lo-san-jin-som, untuk menahan sebentar nyawa orang yang akan mati,” bila seorang sudah sakit payah dan akan putus napasnya, kalau diurap beberapa cegukan sari jinsom (kolesom), maka napasnya yang sudah lemah itu dapat ditunda sebentar hingga tidak sampai putus dengan cepat, dengan demikian orang yang hampir mati itu dapat meninggalkan pesan apa-apa kepada ahli warisnya. Hal itu sebenarnya juga diketahui oleh Siau Hong, cuma ia tidak pikirkan bahwa hal itu juga dapat digunakan terhadap diri A Ci.

Dalam pada itu dilihatnya pengurus toko obat telah mengeluarkan suatu kotak kayu merah, dengan hati-hati ia membuka kotak itu, maka tertampaklah tiga tangkai jinsom sebesar ibu jari.

Menurut cerita yang pernah didengar Siau Hong, katanya jinsom itu makin besar dan makin kasar akan makin baik, kulit jinsom harus yang kasap, yang banyak berkerut-kerut dan dalam itulah yang berharga. Jika bentuk jinsom sudah menyerupai badan manusia, ada kepala, kaki dan tangan, itu menandakan jinsom tua yang paling sukar dicari, maka terhitung barang pilihan yang sangat mahal.

Begitulah koankeh tadi lantas memilih satu tangkai jinsom dan buru-buru pergi lagi. Segera Siau Hong mengeluarkan uang, ia beli sisa kedua tangkai jinsom itu. Di dalam toko obat itu memang tersedia alat-alat penyeduh obat bagi pembeli, segera ia minta dibuatkan kuah jinsom dan perlahan disuapkan untuk A Ci.

Sekali ini tidak tumpah lagi, sesudah minum pula beberapa suapan, Siau Hong coba periksa nadi A Ci dan ternyata perlahan mulai dapat berdenyut, napasnya mulai terasa lancar sedikit. Keruan ia sangat girang.

Sebaliknya Ong-sinshe yang menyaksikan di samping itu hanya geleng-geleng kepala saja, katanya malah, “Saudara, jinsom itu tidak mudah memperolehnya, kalau dibuang secara begitu sangatlah sayang, jinsom toh bukan obat dewa mujarab yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, kalau dapat, orang kaya umumnya tentu takkan mati untuk selamanya.”

Sudah beberapa hari ini Siau Hong sangat kesal, kini mendengar ocehan si tabib yang bersifat menyindir itu, sungguh ia ingin menggampar bacotnya supaya diam. Untung ia dapat menguasai diri, ia merasa bukan pada tempatnya memukul seorang yang tidak paham ilmu silat.

Segera ia pondong A Ci dan tinggal pergi. Sayup-sayup ia dengar si tabib masih berolok-olok, “Huh, benar-benar seorang sinting, orang mati dibawa lari kian-kemari, tampaknya jiwa sendiri juga tidak tahan lama lagi.”

Ia tidak tahu bahwa sebenarnya jiwanyalah yang barusan hampir mendaftarkan diri kepada raja akhirat. Jika gamparan Siau Hong tadi dilontarkan, biarpun sepuluh orang tabib seperti dia juga akan binasa.

Sekeluarnya dari toko obat itu, Siau Hong pikir, “Jinsom itu kabarnya banyak tumbuh di Pegunungan Tiang-pek-san yang bersuhu dingin, biarlah kuputar ke arah timur laut sana untuk mencari jinsom, boleh jadi dengan bahan obat itu kesehatan A Ci akan dapat dipulihkan.”

Segera ia mengarah ke timur laut, sepanjang jalan kalau ketemu toko obat ia lantas membeli jinsom untuk A Ci, sampai akhirnya ia kehabisan sangu, terpaksa ia mesti berlaku tidak sungkan-sungkan lagi, ia masuk toko obat dan mengambil jinsom yang diperlukan, dengan sendirinya pegawai teko obat tidak dapat merintanginya.

Setelah banyak minum jinsom, ternyata keadaan A Ci banyak lebih baik, terkadang ia dapat membuka mata dan memanggil perlahan, “Cihu!”

Malamnya waktu tidur, meski untuk beberapa jam tidak diberi saluran hawa murni Siau Hong juga anak dara itu dapat bernapas sendiri dengan lancar.

Begitulah makin menuju ke utara makin dingin hawanya, akhirnya Siau Hong menggendong A Ci dan sampailah di lereng Gunung Tiang-pek-san. Meski pegunungan itu tersohor banyak menghasilkan jinsom, tapi kalau tidak paham cara mencarinya, biarpun dicari ubek-ubekan setahun dua tahun juga belum tentu dapat menemukannya.

Dari makin menuju ke utara makin sedikit orang yang dijumpai di tengah jalan. Sampai akhirnya sepanjang jalan melulu hutan belukar belaka dengan lereng gunung yang memutih perak tertutup salju. Terkadang sampai beberapa hari tidak pernah dijumpai seorang pun.

Diam-diam Siau Hong mengeluh, “Wah, celaka! Tanah pegunungan ini penuh salju belaka, di mana dapat kucari jinsom? Lebih baik kuputar balik saja ke tempat yang ramai ditinggali orang, kalau punya uang aku dapat membeli, kalau kehabisan uang lantas merampas.”

Begitulah ia lantas putar kembali ke arah semula sambil menggendong A Ci. Tatkala itu hawa sangat dingin, salju berpuluh senti tebalnya di tanah, jalannya sangat sulit, coba kalau ilmu silat Siau Hong kurang tinggi, dengan menggendong seorang begitu umpama tidak mati kedinginan juga pasti akan kejeblos ke dalam tanah salju dan sukar meloloskan diri.

Sampai hari ketiga, cuaca tampak mendung, agaknya hujan salju besar akan turun pula. Sekitarnya tertampak tanah salju belaka, jangankan tapak manusia, sekalipun bekas tapak binatang juga tidak kelihatan. Siau Hong merasa dirinya seperti terombang-ambing di tengah samudra raya, angin meniup dengan kencang dengan suara menderu-deru di tepi telinga.

Ia insaf telah sesat jalan, telah kehilangan arah.

Beberapa kali ia coba panjat ke atas pohon untuk memeriksa, tapi seputar hanya rimba belaka yang tertutup salju, cara bagaimana dapat mengenal arah lagi.

Yang dia khawatirkan adalah A Ci, terpaksa ia buka jubah luar sendiri dan membungkus anak dara itu dalam pelukannya. Sudah tiga hari lamanya Siau Hong tidak makan apa-apa, di lautan salju seluas itu juga tidak tampak seekor binatang paling kecil sekalipun sebangsa ayam alas, kelinci dan sebagainya.

Ia pikir sia-sia saja kalau sembarangan berjalan, lebih baik mengaso dulu di tengah rimba itu, nanti bila salju sudah reda, dari bintang atau bulan di langit tentu dapat dibedakan arah yang tepat.

Maka ia lantas mencari suatu tempat berteduh, suatu tempat yang teraling-aling dari tiupan angin. Ia mencari kayu kering dan menyalakan api. Makin lama makin besar api unggun itu hingga badan mulai terasa agak hangat. Saking kelaparan Siau Hong merasa perut keruyukan, ia lihat di akar pohon sebelahnya tumbuh beberapa buah jamur yang berwarna putih kelabu, tampaknya tidak beracun, segera ia petik dan dipanggang sekadarnya di atas api, lalu dimakan sekadar tangsel perut.

Sesudah makan beberapa buah jamur kayu, semangatnya sedikit terbangkit juga. Ia angkat A Ci agar bersandar di dadanya untuk menghangatkan badan di tepi api unggun, ia sendiri merasa mengantuk sekali.

Selagi riap-riap akan pulas, mendadak terdengar suara auman harimau yang keras. Siau Hong sangat girang, “Ini dia ada harimau, sebentar dapatlah makan daging macan.”

Ia coba mendengarkan lagi, ia dengar seluruhnya ada dua ekor harimau sedang lari datang dengan cepat. Tapi lantas terdengar pula suara bentakan manusia, agaknya ada orang sedang mengejar raja hutan itu.

Siau Hong tambah girang mendengar suara manusia itu. Ia dengar kedua ekor harimau itu berlari cepat ke arah sana, segera ia rebahkan A Ci, dengan ginkang yang tinggi ia memotong jalan untuk mencegat datangnya harimau.

Waktu itu salju masih turun dengan lebat dan angin meniup semakin kencang. Kira-kira beberapa ratus meter Siau Hong berlari, tertampaklah di depan adalah tanah datar yang luas, dua ekor harimau kumbang sedang lari datang sambil mengaum-aum. Di belakang binatang buas itu ada seorang laki-laki tegap berjubah kulit, tangan membawa sebatang garpu baja yang besar sedang menguber kedua harimau sambil membentak-bentak.

Kedua ekor harimau kumbang itu besarnya luar biasa, tapi seorang diri pemburu itu ternyata berani mengejarnya, nyalinya itu sungguh harus dipuji.

Sesudah berlari-lari sebentar, salah seekor harimau itu mengaum ke belakang, mendadak binatang itu memutar balik terus menerkam ke arah laki-laki itu. Tapi sekali hou-yeh (garpu harimau) pemburu itu menegak, ia incar leher harimau terus menusuk.

Namun gerak-gerik harimau itu juga sangat gesit, sedikit mengegos dapatlah garpu itu dihindarkannya. Dalam pada itu harimau yang kedua telah menerkam juga ke arah si pemburu.

Gerakan pemburu itu ternyata cepat luar biasa, tahu-tahu ia putar poroknya dan “bluk”, tepat pinggang harimau itu kena digebuknya sekali dengan keras. Karena kesakitan, harimau itu mengaum pula, lalu lari sambil mencawat ekor. Harimau yang lain juga tidak berani garang lagi dan ikut lari.

Siau Hong melihat gerak-gerik pemburu itu memang cekatan, tenaga juga kuat, agaknya tidak mahir ilmu silat, hanya paham kebiasaan dan sifat-sifat binatang buas, kenal watak harimau umumnya, maka sebelum harimau mulai menerkam, lebih dulu ia papak dengan poroknya untuk menantikan leher harimau. Namun untuk membunuh dua ekor harimau kumbang seperti itu juga tidak gampang baginya.

Segera Siau Hong berseru, “Jangan khawatir, Lauhia (saudara), marilah kubantu memburu harimau!”

Berbareng itu ia terus memburu maju dan mencegat jalan lari harimau-harimau tadi.

Melihat muncul mendadak seorang Siau Hong, pemburu itu terkejut dan berkaok-kaok. Tapi apa yang dikatakan tak dipahami Siau Hong, mungkin pemburu itu bukan bangsa Han.

Ia tidak menghiraukannya, segera ia hantam kepala harimau, “prak”, tepat harimau itu kena digenjot, tapi raja hutan itu cuma terguling di tanah, lalu dengan menggerung kembali menubruk ke arah Siau Hong.

Pukulan Siau Hong itu sudah memakan lebih dari separuh tenaganya, biarpun jago silat paling tangguh juga pasti akan kepala remuk dan otak hancur, tapi rupanya tulang kepala harimau itu sangat keras, raja hutan itu hanya jatuh terguling saja dan tidak binasa.

“Bagus, binatang!” bentak Siau Hong sambil mengegos untuk menghindarkan tubrukan, berbareng tangan kiri terus memotong dari atas ke bawah, “crat”, tepat punggung harimau kena dipotong oleh telapak tangannya.

Sabetan itu lebih keras daripada pukulannya tadi, seketika harimau itu terhuyung-huyung ke depan, rupanya binatang itu pun dapat melihat gelagat jelek dan cepat lari ketakutan.

Sudah tentu Siau Hong tidak membiarkan mangsanya lari, cepat ia memburu dan sekali tangkap, dengan tepat ekor harimau itu kena ditarik oleh tangan kanannya, ia barengi membentak sambil tangan kiri memegang pula ekor harimau itu, sekali tarik dan angkat, memangnya harimau itu sedang lari ke depan, karena tenaga tarik dan betot itu, seketika harimau itu mencelat ke udara.

Dengan porok bajanya pemburu tadi tengah bertarung dengan harimau yang lain. Ketika mendadak melihat Siau Hong dapat melempar harimau ke udara, sungguh kagetnya bukan buatan.

Sementara itu tertampak harimau yang mencelat ke udara itu sedang menubruk ke bawah dengan pentang mulut dan ulur cakar ke arah Siau Hong. Mendadak Siau Hong membentak pula, kedua tangannya memukul sekaligus, “bruk”, telak sekali perut harimau itu kena dihanjut.

Perut harimau adalah bagian yang lunak, pukulan “Pat-in-siang-ciang” (Sepasang Tangan Membuyarkan Mega) itu adalah kungfu kebanggaan Siau Hong, keruan isi perut harimau itu kontan hancur lebur di dalam, sesudah berkelojotan sebentar harimau itu pun mati di atas tanah salju.

Sungguh kagum si pemburu tadi tidak terhingga menyaksikan Siau Hong dapat membinasakan harimau dengan bertangan kosong. Pikirnya, “Aku membawa senjata, kalau aku tak mampu membinasakan harimau ini, bukankah aku akan ditertawai olehnya.”

Segera ia keluarkan tenaga raksasa pembawaannya, ia putar poroknya ke kanan dan ke kiri hingga badan harimau itu berulang-ulang tertusuk, mungkin saking kesakitan, binatang itu menjadi kalap, dengan menyeringai hingga kelihatan siungnya yang putih menyeramkan, segera harimau itu hendak menggigit si pemburu.

Dengan gesit pemburu itu dapat menghindarkan tubrukan harimau, menyusul poroknya terus menusuk dari samping. “Crat”, tepat leher raja hutan itu kena ditusuk. Sekali pemburu itu mengangkat poroknya ke atas, tanpa ampun lagi harimau itu menggerung dan terjungkal. Segera pemburu itu tahan sekuat-kuatnya hingga harimau itu terpantek di tanah oleh poroknya itu.

Melihat betapa tangkasnya pemburu itu, mau-tak-mau Siau Hong memuji dalam hati.

Harimau yang lehernya dipantek dengan porok baja si pemburu itu, semula keempat kakinya masih meronta-ronta dan mencakar serabutan, tapi sesudah lama, akhirnya tidak bergerak lagi. Pemburu itu lantas terbahak-bahak sambil mengangkat kembali porok bajanya. Ia berpaling kepada Siau Hong sambil mengacungkan jari jempolnya dan berkata beberapa patah kata yang tak dipahami Siau Hong. Tapi dari sikapnya itu Siau Hong tahu orang lagi memuji keperkasaan dirinya. Maka ia pun balas mengunjuk jari jempol sambil berkata, “Ehm, kau juga perkasa dan gagah!”

Orang itu sangat girang, ia tuding hidung sendiri dan berkata, “Wanyen Akut!”

Siau Hong menduga mungkin itulah namanya, maka ia pun tuding hidung sendiri dan menjawab, “Siau Hong!”

“Siau Hong? Cidan?” tanya orang itu.

Siau Hong mengangguk.

“Ya, Cidan!” sahutnya, lalu ia balas tanya sambil tuding orang itu, “Dan kau?”

“Wanyen Akut! Nuchen!” sahut pemburu itu.

Siau Hong pernah mendengar bahwa di timur negeri Liau, di utara Korea terdapat suatu suku bangsa Nuchen (kerajaannya terkenal dengan sebutan Chin atau Kim). Suku bangsa itu gagah perkasa dan pandai berperang. Dan pemburu yang bernama Wanyen Akut kiranya suku bangsa Nuchen yang terkenal itu.

Meski tidak paham bahasa masing-masing, tapi di tempat yang sunyi terpencil itu dapat bertemu seorang kawan, betapa pun mereka merasa sangat senang. Segera Siau Hong memberi tanda untuk memberi tahu bahwa dirinya masih mempunyai seorang kawan lagi.

Rupanya Akut dapat menangkap maksudnya, ia mengangguk dan mengangkat harimau hasil buruannya tadi. Begitu pula Siau Hong lantas angkat juga harimau yang dibinasakannya dan menuju ke tempat A Ci. Akut mengikut di belakangnya.

Karena kelaparan dan kedinginan, keadaan A Ci sangat lemah, cepat Siau Hong mengangkat harimau buruan Akut tadi, dari luka binatang yang masih mengalirkan darah agar itu, ia cekoki anak dara itu dengan darah harimau. Setelah kemasukan darah harimau yang hangat itu, semangat A Ci tampak agak segar.

Siau Hong sangat girang, segera ia menyobek kedua paha harimau terus dipanggang di atas api unggun.

Melihat cara Siau Hong mencabik paha harimau bagaikan menyobek paha ayam gampangnya, keruan Akut terkesima memandang kedua tangan Siau Hong. Sejenak kemudian, tiba-tiba ia memegang-megang telapak tangan Siau Hong dengan penuh rasa kagum.

Selesai memanggang daging harimau, segera Siau Hong dan Akut makan sekenyang-kenyangnya. Lalu Akut memberi tanda gerakan tangan untuk tanya maksud tujuan Siau Hong. Maka Siau Hong menerangkan dengan gerakan tangan bahwa tujuannya ingin mencari jinsom untuk menyembuhkan penyakit A Ci dan setiba di situ mereka sesat jalan.

Akut terbahak-bahak, ia geraki tangannya ke sana ke sini untuk menyatakan bahwa adalah soal gampang jika ingin mencari jinsom, bahwa di tempat mereka tersedia jinsom secukupnya.

Siau Hong sangat girang, segera ia berbangkit, dengan tangan kiri ia pondong A Ci, tangan kanan mengangkat bangkai harimau buruannya itu.

Kembali Akut mengunjukkan jari jempolnya dan memuji, “Benar-benar tenaga raksasa!”

Rupanya Akut sangat hafal dengan tempat sekitar situ, meski di bawah hujan salju dan tiupan angin kencang toh dia tidak sesat jalan. Ketika hari sudah gelap, mereka lantas bermalam di tengah hutan, esok paginya melanjutkan perjalanan lagi.

Begitulah mereka terus menuju ke arah barat, pada siang hari ketiga, Siau Hong melihat di tanah salju situ sudah banyak bekas tapak kaki manusia. Akut berulang-ulang memberi tanda pula untuk menerangkan sudah dekat dengan tempat tinggal suku mereka.

Benar juga, sesudah melintasi dua lereng bukit lagi, tertampaklah di arah tenggara sana banyak terdapat tenda dari kulit binatang, jumlahnya ada beberapa ratus buah. Ketika Akut bersuit, segera dari perkemahan itu ada orang memapak kedatangan mereka.

Sesudah dekat, Siau Hong lihat di depan setiap tenda tentu dinyalakan api unggun dan dikerumuni kaum wanita yang asyik menjahit kulit binatang dan mengolah daging binatang hasil buruan mereka. Akut membawa Siau Hong menuju ke suatu tenda terbesar di tengah-tengah perkemahan itu.

Sesudah masuk ke dalam tenda besar itu Siau Hong lihat di situ terdapat belasan orang yang sedang duduk minum arak. Melihat kedatangan Akut, seketika orang-orang itu bersorak menyambutnya.

Segera Akut menunjuk Siau Hong sambil menuding sambil omong. Siau Hong tahu Akut sedang menceritakan cara bagaimana dia membinasakan harimau. Maka orang-orang itu lantas mengerumuni Siau Hong dan mengunjuk ibu jari mereka sebagai tanda memuji.

Tengah ramai, tiba-tiba masuk pula seorang Han yang berdandan sebagai saudagar. Orang itu lantas menyapa pada Siau Hong, “Apakah tuan ini dapat bicara bahasa Han?”

Sungguh Siau Hong girang sekali, cepat ia menjawab, “Sudah tentu dapat!”

Sesudah tanya keterangan kepada saudagar bangsa Han itu, barulah diketahui bahwa perkemahan itu adalah tempat tinggal kepala suku Nuchen, orang tua yang berjenggot di antara belasan orang tadi adalah kepala suku sendiri, namanya Hurip. Kepala suku itu mempunyai sebelas orang putra, semuanya gagah perkasa. Akut adalah putranya yang kedua.

Saudagar Han itu bernama Kho Tok-sing, setiap musim dingin tentu datang ke situ untuk membeli kulit harimau dan jinsom, pada musim semi baru meninggalkan tempat ini. Kho Tok-sing fasih berbahasa Nuchen, maka ia lantas menjadi juru bahasa Siau Hong.

Orang Nuchen paling menghormat pada kaum kesatria perkasa, Wanyen Akut itu tergolong pemuda yang gagah perwira, maka sangat disayang ayahnya, suku bangsanya juga sangat cinta padanya. Jika Akut memuji setinggi langit pada Siau Hong, dengan sendirinya suku bangsanya ikut menghormat juga dan menyambutnya sebagai tamu agung.

Malamnya orang Nuchen mengadakan jamuan besar-besaran untuk menghormati Siau Hong, dengan sendirinya daging harimau buruan mereka pun menjadi santapan yang berarti.

Memangnya sudah setengahan bulan Siau Hong tidak pernah minum arak, kini satu kantong demi satu kantong orang Nuchen menyuguhkan arak padanya, keruan ia dapat minum dengan sepuas-puasnya.

Meski arak buatan orang Nuchen tidak begitu sedap, tapi kadarnya sangat keras, orang biasa kalau minum setengah kantong saja pasti akan mabuk, tapi beruntun-tuntun Siau Hong dapat menghabiskan belasan kantong tanpa sinting sedikit pun, keruan kekuatan minumnya ini membuat orang-orang Nuchen tercengang.

Semula mereka agak sangsi ketika mendengar cerita Akut tentang Siau Hong membunuh harimau dengan bertangan kosong, kini melihat kekuatan minum arak yang luar biasa itu, mau-tak-mau mereka merasa kagum sekali.

Sesudah perjamuan menggembirakan itu, Siau Hong lantas tinggal di tempat orang Nuchen itu dengan senang. Sifat orang Nuchen itu kebanyakan polos jujur, mereka sangat cocok dengan watak kesatria Siau Hong.

Melihat bangsa Nuchen sangat menghormati Siau Hong dengan sendirinya Kho Tok-sing juga segan padanya. Waktu iseng Siau Hong lantas ikut berburu dengan Akut, malam harinya ia belajar bahasa Nuchen dengan Kho Tok-sing. Sesudah cukup lancar berbahasa Nuchen, Siau Hong pikir dirinya adalah bangsa Cidan, masakah bahasa bangsa sendiri tidak bisa, bukankah hal ini sangat janggal. Maka ia pun belajar bahasa Cidan pula dengan Kho Tok-sing.

Sebagai saudagar, Kho Tok-sing biasa mondar-mandir di antara tempat tinggal suku bangsa Nuchen, Cidan, Se He, dan lain-lain, maka ia fasih bicara dalam beberapa bahasa. Meski bakat Siau Hong dalam hal bahasa tidak terlalu tinggi, tapi lama-kelamaan ia pun dapat bicara dengan lancar, kalau untuk keperluan sehari-hari saja ia sudah tidak perlu juru bahasa lagi.

Dengan cepat beberapa bulan sudah lalu, musim dingin berganti dengan musim semi. Karena setiap hari A Ci minum sari jinsom, maka kesehatannya sudah banyak maju.

Pada umumnya jinsom yang digali orang Nuchen itu adalah jinsom tua dan pilihan, maka nilainya tidaklah sama dengan sembarangan jinsom.

Setiap kali Siau Hong pergi berburu, dari hasil buruannya itu ditukarkannya dengan jinsom untuk A Ci. Penghidupan A Ci yang luar biasa itu mungkin putri raja pun tidak dapat menyamai dia. Setiap hari Siau Hong masih menyalurkan hawa murni ke tubuh anak dara itu, cuma sekarang cukup sebentar saja, pula sehari sekali sudah cukup.

Terkadang A Ci juga dapat bicara beberapa kata, cuma kaki dan tangannya masih belum dapat bergerak, hingga segala keperluan masih perlu bantuan Siau Hong. Dan setiap kali teringat pada pesan tinggalan A Cu, maka Siau Hong rela berbuat apa saja yang dikehendaki anak dara itu.

Suatu hari, Akut bersama belasan bangsanya hendak pergi berburu beruang di lereng bukit barat laut. Ia mengajak Siau Hong ikut pergi. Kulit beruang sangat berharga, daging dan gemuknya juga banyak, lebih-lebih telapak kaki beruang konon adalah bahan makanan yang paling lezat di dunia ini.

Karena melihat keadaan A Ci baik-baik saja, Siau Hong lantas terima dengan senang hati ajakan Akut itu. Maka pagi-pagi sekali rombongan mereka lantas berangkat ke utara.

Sementara itu sudah permulaan musim panas, salju mulai cair, tanah pegunungan penuh lumpur hingga perjalanan sukar ditempuh. Tapi orang-orang Nuchen itu ternyata sangat tangkas, menjelang siang hari mereka sudah menempuh sejauh seratus li lebih.

Selagi Siau Hong khawatirkan A Ci bila terlalu jauh ditinggal pergi, tiba-tiba seorang pemburu tua bangsa Nuchen berseru, “Itu dia, beruang! Beruang besar!”

Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, ternyata di tanah lumpur itu setapak demi setapak terdapat bekas kaki beruang besar. Semangat semua orang terbangkit seketika, dengan gembira mereka terus mengikuti jejak beruang itu hingga mencapai padang rumput.

Tengah mereka menguber dengan cepat, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai, dari depan sana muncul suatu pasukan berkuda sedang mendatang dengan cepat.

Padang rumput di situ mendatar luas, muka dapat tertampak dengan jelas ada seekor beruang hitam besar sedang berlari, di belakangnya menguber beberapa puluh penunggang kuda sambil membentak-bentak. Anggota pasukan itu semuanya bertombak dan ada yang membawa busur dan panah, semuanya kelihatan sangat tangkas.

“Itulah orang Cidan, mereka berjumlah banyak, marilah lekas kita pergi, lekas!” segera Akut memperingatkan kawan-kawannya.

Mendengar rombongan orang-orang itu adalah suku bangsanya sendiri, seketika timbul semacam perasaan baik di dalam hati Siau Hong. Ia lihat Akut ajak kawan-kawannya putar balik untuk melarikan diri, tapi ia sendiri tidak lantas ikut lari, sebaliknya ia tetap berdiri di tempatnya untuk melihat keadaan selanjutnya.

“Hai, orang Nuchen! Panah dia, panah dia!” mendadak orang-orang Cidan berteriak-teriak dan beruntun-runtun panah mereka berseliweran menyambar ke arah Siau Hong.

Diam-diam Siau Hong merasa gusar, masa tanpa tanya apa pun terus main panah begitu saja. Tapi beberapa batang panah yang menyambar ke arahnya itu dapat disampuknya jatuh semua. Mendadak terdengar suara jeritan ngeri, si pemburu tua bangsa Nuchen punggungnya kena panah dan binasa.

Akut telah pimpin beberapa orang kawannya itu bersembunyi ke balik suatu gundukan tanah, dari situ mereka pun balas memanah musuh hingga dua orang Cidan juga jatuh terjungkal.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: