Kumpulan Cerita Silat

20/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 40

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:12 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Si cebol menjadi tidak sabar lagi, ia berteriak, “Samsuko, ayolah lekas turun tangan, tangkaplah budak cilik itu biar Suhu menghukumnya nanti, dia… dia entah mengoceh apa, sungguh kurang ajar!”

Tapi karena ia sendiri sedang gusar, suaranya gemeresek pula dan terlalu bernafsu, maka apa yang ia katakan menjadi kurang terang.

“Rasanya kita juga tidak perlu pakai kekerasan,” demikian kata si gendut. “Biasanya Siausumoay sangat penurut, maka marilah ikut pulang saja, Siausumoay!”

“Baiklah, Samsuko, apa yang kau katakan memang selalu kuturut,” sahut A Ci dengan tertawa.

Si gendut terbahak-bahak, katanya, “Itulah bagus, memang kau ini sangat penurut. Marilah kita berangkat!”

“O, ya, silakan!” sahut A Ci.

Kembali si cebol yang berada paling belakang itu berkaok-kaok, “He, silakan apa kau bilang? Kau harus ikut pulang bersama kami, tahu?”

“Silakan kalian berangkat dulu, sebentar tentu akan kususul,” kata A Ci.

“Tidak, tidak bisa!” seru si cebol. “Kau harus ikut bersama kami!”

“Aku sih menurut saja, tapi sayang cihuku itu tidak boleh,” kata A Ci sambil menuding Siau Hong.

“Ini dia, sandiwaranya sudah mulai main,” demikian Siau Hong membatin. Tapi ia masih tetap bersandar di dinding batu sambil bersedekap seakan-akan tidak peduli apa yang terjadi di depannya itu.

Maka si cebol bertanya, “Siapakah cihumu? Mengapa aku tidak melihatnya?”

“Tubuhmu terlalu jangkung, maka cihuku tidak dapat melihatmu,” sahut A Ci dengan tertawa.

Dasar watak si cebol itu memang sangat berangasan, apalagi kalau ada orang mengolok-olok tentang tubuhnya yang cebol, tentu akan dilabraknya mati-matian. Maka mendadak terdengar suara “trang” sekali, tongkatnya mengetuk sekali ke tanah dan badan lantas melayang ke depan melampaui ketiga orang suhengnya, lalu turun di depan A Ci.

“Ayo, lekas ikut pulang bersama kami!” demikian ia membentak terus hendak mencengkeram pundak si A Ci.

Kini dapatlah Siau Hong melihat potongan si cebol itu, meski badannya pendek, tepi pinggangnya besar dan pundaknya lebar hingga sekilas dipandang jelas cukup tangkas orangnya, bahkan gerak-geriknya juga gesit.

A Ci ternyata tidak menghindar akan cengkeraman si cebol tadi, ia diam saja. Di luar dugaan tangan si cebol lantas berhenti ketika hampir menyentuh pundak A Ci, mendadak ia ragu dan tertegun, akhirnya ia tanya, “Apakah sudah kau gunakan, ya?”

“Gunakan apa?” sahut A Ci.

“Sudah tentu Pek-giok-giok-ting…” baru si cebol mengucap istilah itu, mendadak ketiga kawannya membentak bersama, “Patsuko, apa yang kau katakan?”

Bentakan yang bengis dan berwibawa itu membuat si cebol bungkam, sikapnya menjadi jeri dan gugup.

Meski Siau Hong acuh-tak-acuh sejak tadi, tapi setiap gerak-gerik A Ci dan keempat suhengnya itu selalu tak terhindar dari pengawasannya. Diam-diam ia membatin, “Benda apakah Pek-giok-giok-ting itu? Dari sikap keempat orang ini agaknya adalah semacam benda yang sangat penting, mereka bersembunyi di sini untuk menyergap aku, kenapa mereka tidak lantas turun tangan, tapi malah bertengkar sendiri, jangan-jangan mereka khawatir tak mampu melawan aku, maka ingin menunggu bala bantuan lain lagi?”

Dalam pada itu dilihatnya si cebol sedang menjulurkan tangan dan berkata pula, “Mana, serahkan!”

“Apa yang kau inginkan?” tanya A Ci.

“Sudah tentu Pek… Pek… ya, kau tahu sendiri,” sahut si cebol dengan tergegap.

“Sudah kuberikan kepada cihuku,” jawab A Ci tiba-tiba sambil menuding Siau Hong.

Karena ucapan itu, seketika sorot mata keempat orang itu terpusat kepada Siau Hong, wajah mereka tampak sangat gusar.

Diam-diam Siau Hong merasa jemu kepada mereka, ia pikir buat apa meladeni? Perlahan ia menegak, mendadak kaki mengentak, tahu-tahu badan mengapung ke atas dan secepat terbang ia melayang lewat di atas kepala orang-orang itu.

Gerakan Siau Hong itu sangat aneh dan cepat, sama sekali keempat orang itu tidak melihat Siau Hong bergerak atau tahu-tahu mereka merasa angin menyambar lewat di atas kepala, lalu tertampak Siau Hong sudah jauh berada di belakang mereka.

Segera keempat orang itu berteriak-teriak sambil memburu. Tapi ginkang Siau Hong sangat tinggi, biarpun mereka memeras sepenuh tenaga tetap tak sanggup menyusul.

Maka hanya sekejap saja Siau Hong sudah berada belasan meter jauhnya. Sekonyong-konyong didengarnya dari belakang ada angin menyambar, semacam senjata yang antep ditimpukkan ke punggungnya.

Tanpa menoleh juga Siau Hong tahu itulah pasti tongkat baja. Maka sekali tangan kirinya membalik ke belakang, tepat tongkat itu kena ditangkapnya.

Dengan gusar keempat orang itu membentak-bentak pula dan kembali dua batang tongkat ditimpukkan lagi. Tapi dapat ditangkap pula oleh Siau Hong.

Setiap batang tongkat baja itu bobotnya masing-masing ada 50 kati, dengan memegang tiga batang tongkat itu berarti membawa barang seberat 150 kati. Tapi langkah Siau Hong sedikit pun tidak menjadi kendur, ia tetap lari dengan cepat.

Sekonyong-konyong Siau Hong mendengar angin keras menyambar lagi dari belakang, sekali ini lebih hebat daripada ketiga tongkat yang duluan, ia menduga pasti si cebol yang menimpuknya.

Watak Siau Hong memang penggemar silat, tapi bukan seorang yang suka berkelahi. Selama beberapa bulan ini ia telah mengalami banyak kejadian yang kurang menyenangkan, tapi juga jarang bertempur dengan orang, memangnya hatinya sedang masygul maka ia menjadi sebal juga dikejar oleh empat orang, pikirnya, “Orang-orang ini tidak kenal gelagat, biar kuberi rasa sedikit kepada mereka.”

Dalam pada itu didengarnya tongkat si cebol sudah dekat di belakang kepalanya, cepat ia meraih ke belakang dan tongkat itu kena ditangkapnya sekalian.

Melihat senjata mereka dirampas oleh musuh, keempat orang itu menjadi gusar dan jeri pula, mereka tahu biarpun nanti dapat menyusul orang toh belum tentu mampu menang menempurnya. Tapi mereka masih penasaran, sambil berteriak-teriak dan membentak-bentak mereka masih terus mengejar sekencangnya.

Siau Hong membiarkan mereka mengejar terus, suatu saat mendadak “srek”, ia berhenti.

Sebaliknya keempat orang tadi sedang mengejar dengan mati-matian, saking nafsunya ingin menyusul Siau Hong hingga mereka hampir-hampir menyeruduk orang yang diubernya itu. Untung mereka sempat mengerem, dan rupanya “rem angin”, dengan cepat dapatlah mereka berhenti juga. Coba kalau remnya blong, tentu mereka telah menabrak Siau Hong.

Begitulah mereka menjadi kaget dan gusar pula, dengan napas terengah-engah mereka melototi Siau Hong.

Sementara itu dari tenaga timpukan tongkat dan cara berlari mereka itu Siau Hong sudah dapat mengukur kepandaian keempat orang itu, selain tenaga si cebol memang kuat luar biasa, tapi bicara tentang ilmu silat terang mereka kalah jauh daripada si lelaki hidung singa yang dijumpai di restoran itu.

Maka dengan tersenyum kemudian Siau Hong bertanya, “Kalian menguber-uber diriku, sebenarnya ada keperluan apakah?”

“Sia… siapakah kau? Ilmu… ilmu silatmu sangat lihai, ya?” demikian si cebol berkata dengan megap-megap.

“Ah, tidak, hanya lumayan saja!” sahut Siau Hong dengan tertawa. Sembari berkata ia terus kerahkan tenaga dalam pada tangannya, ia tahan sebatang tongkat baja yang dirampasnya itu ke dalam tanah.

Tanah pegunungan itu sebenarnya sangat keras, lebih banyak campuran batu daripada pasirnya, tapi tongkat baja itu toh perlahan-lahan ambles ke dalam hingga tinggal setengah meter yang tertampak di muka tanah, waktu Siau Hong tambahi lagi sekali injak dengan kaki, seketika tongkat itu menghilang ke dalam tanah.

Melihat betapa hebat tenaga sakti Siau Hong, saking kesima hingga keempat orang itu ternganga mulutnya dan terbelalak matanya.

Begitulah satu per satu Siau Hong tancapkan tongkat baja rampasannya itu ke tanah. Ketika tongkat keempat akan dimasukkan juga ke tanah, mendadak si cebol melompat maju sambil membentak, “Jangan merusak senjataku!”

“Baiklah, ini, kukembalikan!” sahut Siau Hong dengan tertawa.

Habis berkata, mendadak ia angkat tongkat milik si cebol dan mengincar ke dinding batu, sekali timpuk sekuatnya, tahu-tahu tongkat itu menancap di dinding, karang hingga tongkat yang panjangnya lebih dua meter itu hanya setengah meter saja yang kelihatan dari luar.

Keruan keempat orang itu sama menjerit kaget oleh tenaga sakti Siau Hong yang luar biasa itu, mereka menjadi jeri dan kagum pula.

Sementara itu A Ci juga telah menyusul tiba, serunya, “Cihu, wah, sungguh hebat sekali kepandaianmu itu, ayolah ajarkan padaku!”

“Apa katamu?” bentak si cebol dengan gusar. “Kau adalah anak murid Sing-siok-pay, kenapa ingin belajar kepandaian orang luar?”

“Dia adalah cihuku, mengapa kau katakan orang luar?” sahut A Ci dengan mencibir.

Karena buru-buru ingin mengambil kembali senjatanya, si cebol tak urus padanya lagi, sekali lompat, segera ia hendak menarik tongkatnya yang menancap di dinding karang itu.

Tak terduga bahwa sebelumnya Siau Hong sudah mengukur tinggi-rendah ginkangnya, maka tongkat yang ditimpukkan ke dinding karang itu tingginya kira-kira tiga meter dari permukaan tanah, lompatan si cebol menjadi kurang tinggi dan tak dapat mencapai tongkatnya.

Maka A Ci sengaja menertawakan sambil bertepuk tangan, “Bagus, Patsuko, bila engkau dapat mencabut keluar senjatamu itu, segera aku akan ikut pulang untuk menemui Suhu, kalau tidak, lebih baik kau pulang sendiri saja.”

Padahal loncatan si cebol tadi sudah memakai seluruh tenaganya, dalam hal ginkang dia memang terbatas, untuk melompat lebih tinggi lagi sesungguhnya tidak gampang baginya. Tapi demi mendengar olok-olok A Ci itu, ia menjadi penasaran, kembali ia meloncat sekuat-kuatnya, dan sekali ini hanya jari tangannya yang menyentuh tongkat baja itu.

“Hanya menyentuh saja tidak dapat dianggap tapi harus mampu mencabutnya keluar,” seru A Ci dengan tertawa.

Dalam murkanya mendadak kepandaian si cebol menjadi bertambah hebat daripada biasanya. Mendadak ia meloncat pula untuk ketiga kalinya, dan sekali ini dapatlah mencapai tongkat, segera ia pegang erat-erat tongkat itu sambil digoyang-goyangkan.

Namun panjang tongkat itu lebih dua meter, yang ambles di dalam dinding ada satu setengah meter lebih, jika cuma digoyang-goyangkan begitu biarpun tiga hari tiga malam juga takkan dapat mencabutnya keluar, sebaliknya kelakuan si cebol itu menjadi sangat lucu kelihatannya, ia kontal-kantil tergantung di udara dan tak bisa terbuat apa-apa.

“Maaf, aku tak bisa tinggal lebih lama lagi,” kata Siau Hong kemudian, segera ia hendak pergi.

Sungguh si cebol menjadi serbasusah. Ia cukup tahu kepandaian sendiri, sekali loncat ia beruntung dapat mencapai tongkat itu, kalau disuruh mengulangi lagi loncatannya pasti tak mampu mencapai setinggi itu. Sedangkan tongkat itu sedemikian kukuhnya menancap dalam dinding, untuk mencabut keluar terang tidak mampu, padahal tongkat itu merupakan senjata andalannya, kalau mesti membuat tongkat yang baru juga susah mendapatkan barang yang serupa.

Maka ia menjadi sibuk ketika melihat Siau Hong hendak melangkah pergi, segera ia berteriak-teriak, “Hai, nanti dulu, jika mau pergi, tinggalkan dulu Pek-giok-giok-ting itu, kalau tidak, tentu celakalah kau!”

“Pek-giok-giok-ting apa? Macam apakah benda itu?” sahut Siau Hong.

Segera ketiga orang Sing-siok-hay yang lain memburu maju, kata mereka, “Ilmu silat Anda sangat lihai, kami merasa kagum tak terhingga. Adapun ‘ting’ yang kecil itu sangat berarti bagi golongan kami, sebaliknya tiada berguna bagi orang luar, maka mohon sudilah tuan mengembalikan kepada kami, untuk mana tentu kami akan memberi balas jasa sepantasnya.”

Melihat berulang-ulang mereka menanyakan Pek-giok-giok-ting (tripod kecil buatan kemala hijau) secara sungguh-sungguh, dan agaknya mereka bukan sengaja bersembunyi situ untuk menyergapnya seperti dugaannya semula, maka Siau Hong lantas menjawab, “Coba unjukkan giok-ting itu, A Ci, ingin kulihat benda macam apakah itu?”

“Ai, bukankah sudah kuberikan padamu, kenapa engkau malah tanya padaku?” tiba-tiba A Ci menyangkal. “Ya, sudahlah, apakah engkau mau menyerahkan kepada mereka atau tidak, masa bodoh, aku tidak mau ikut campur. Tetapi Cihu, kukira lebih baik engkau simpan saja barang itu.”

Mendengar itu, segera Siau Hong dapat menduga Pek-giok-giok-ting yang dimaksudkan itu pasti semacam benda pusaka perguruannya yang telah dicurinya, tapi anak dara itu sengaja mengatakan telah diserahkan padanya, dengan demikian ia ingin membebaskan dirinya dari risiko.

Maka Siau Hong juga tidak mau menyangkal, dengan tertawa ia pun berkata, “Hahaha, barang yang pernah kau serahkan padaku sangat banyak, dari mana kutahu yang manakah yang disebut ‘Pek-giok-giok-ting’ itu?”

Mendengar demikian, cepat si cebol yang masih terkatung-katung di udara itu menyela, “Yaitu sebuah giok-ting yang panjangnya kurang lebih lima dim, warnanya hijau mulus.”

“Ehm, barang demikian agaknya aku pun pernah melihatnya. Ya, memang sebuah mainan yang kecil mungil, tapi apa sih gunanya?” sahut Siau Hong.

“Jangan sembarangan omong kalau memang tidak tahu, masakah benda itu kau anggap mainan saja?” demikian kata si cebol. “Giok-ting itu…”

“Tutup mulutmu, Sute!” bentak si gendut tadi sebelum si cebol melanjutkan ucapannya. Lalu ia berpaling kepada Siau Hong dan berkata, “Ya, memang giok-ting itu hanya semacam mainan yang tiada berarti, tapi barang itu adalah warisan leluhur, Suhu kami memperolehnya dari… dari ayahnya, maka tidak boleh dihilangkan. Tolonglah suka dikembalikan pada kami.”

“Wah, cialat, tempo hari entah kutaruh di mana benda itu, apakah masih dapat ditemukan atau tidak, entahlah, aku tak berani menjamin,” sahut Siau Hong. “Tapi kalau betul-betul semacam benda penting, biarkan segera kukembali ke Sinyang untuk mencarinya. Cuma sayang jaraknya agak jauh, kalau mesti kembali lagi ke sana agak berabe juga.”

“Sudah tentu barang penting, marilah lekas kita… kita kembali ke sana untuk mencarinya,” segera si cebol menyela lagi.

Habis berkata, terus saja ia melompat turun, agaknya ia tidak menginginkan senjatanya lagi, suatu tanda betapa pentingnya Pek-giok-giok-ting yang dicarinya itu.

Namun Siau Hong sengaja ketuk-ketuk jidatnya sendiri sambil berkata, “Ai, selama beberapa hari ini aku kurang minum arak hingga daya ingatanku agak terganggu, adapun giok-ting yang mungil itu entah… entah tertinggal di Sinyang atau… di Tayli. Ah, bisa jadi ketinggalan di Cinyang…”

Dasar watak si cebol memang tidak sabaran, segera ia berkaok-kaok lagi, “He, he! Sebenarnya ketinggalan di Sinyang atau di Tayli, atau di Cinyang, jarak tempat-tempat itu sangat jauh, jangan kau main gila, ya?”

Tapi si gendut bukan orang dungu, ia dapat melihat bahwa Siau Hong sengaja hendak mempermainkan mereka, segera ia berkata, “Hendaklah jangan menggoda kami lagi, asal giok-ting itu dapat kembali dalam keadaan baik-baik pasti kami akan memberi balas jasa yang setimpal, tidak nanti kami ingkar janji.”

“Aduh celaka, sekarang ingatlah aku!” demikian mendadak Siau Hong berseru.

“Kenapa?” berbareng keempat orang itu bertanya dengan khawatir.

“Ya, ingatlah aku sekarang, giok-ting itu ketinggalan di rumah Be-hujin, dan baru saja kubakar rumah nyonya itu hingga ludes, tentu giok-ting itu pun ikut terbakar, entah benda itu bisa rusak atau tidak?”

“Sudah tentu akan rusak!” seru si cebol. “Wah, celaka… Samsuko, Sisuko, Jitsuko, bagaimana baiknya ini? Ah, sudahlah, aku tak mau ikut campur lagi, kalau nanti didamprat Suhu ya masa bodoh. Nah, Siausumoay, boleh kau bicara sendiri saja kepada Suhu, aku tidak mau tahu.”

“Tapi aku… aku ingat seperti tidak tertaruh di rumah Be-hujin,” ujar A Ci dengan tertawa, “Sudahlah, para Suko, aku tak bisa tinggal lebih lama di sini, boleh kalian urusan dengan cihuku saja.”

Habis berkata, sekali menyelinap, segera ia menyerobot ke depan Siau Hong sana.

Cepat Siau Hong membalik tubuh dan pentang kedua tangan untuk merintangi keempat orang yang akan mengejar, katanya, “Jika kalian mau menerangkan asal-usul dan kegunaan Pek-giok-giok-ting itu, boleh jadi aku akan membantu kalian untuk menemukannya kembali. Kalau tidak, ya, maaf, aku pun tak bisa tinggal lebih lama di sini.”

“Samsuko,” kata si cebol, “tiada jalan lain, terpaksa terangkan padanya.”

“Baiklah,” sahut si gendut, “biarlah kuterangkan pada tuan…”

Tapi belum lagi orang melanjutkan ceritanya, mendadak Siau Hong melompat maju ke depan si cebol, ia sangga bahu orang dan berkata, “Marilah kita naik ke atas sana, aku hanya ingin mendengar penuturanmu dan tak mau mendengar ceritanya.”

Siau Hong tahu si gendut lahirnya kelihatan jujur, tapi sebenarnya sangat licin, tidak nanti ia mau bicara sesungguhnya. Sebaliknya si cebol meski berangasan, tapi apa yang dikatakan suka terus terang, maka sekali ia angkat tubuh si cebol mendadak ia lari ke atas dinding karang.

Meski dinding karang itu sangat tinggi dan curam, boleh dikata menegak, betapa pun orang sukar akan mendakinya, namun Siau Hong terus naik begitu saja dan sekaligus dapat mencapai belasan meter tingginya, ketika dilihatnya ada sepotong batu karang yang menonjol, segera ia taruh si cebol di atas batu karang itu, ia sendiri sebelah kaki menginjak batu itu dan kaki lain menggelantung di udara, lalu katanya, “Nah, boleh kau katakan padaku di sini dan takkan didengar oleh siapa pun juga!”

Waktu si cebol melongok ke bawah, seketika ia merasa pusing, cepat serunya, “Ba… bawa aku turun!”

“Silakan melompat turun sendiri,” sahut Siau Hong tertawa.

“Buset, apa minta hancur lebur badanku?” kata si cebol dengan ngeri.

Melihat sifat si cebol masih tetap tulus dan jujur meski menghadapi bahaya, mau-tak-mau timbul juga rasa suka Siau Hong, segera tanyanya, “Siapa namamu?”

“Cut-tim-cu!” sahut si cebol.

“Indah juga namamu, cuma sayang tidak sesuai dengan potonganmu yang istimewa ini,” demikian Siau Hong membatin dengan tersenyum. Lalu ia berkata pula, “Ya, sudahlah, selamat tinggal, sampai berjumpa pula!”

Keruan si cebol alias Cut-tim-cu menjadi kelabakan, cepat ia menggembor, “He, he! Jangan, jangan! Wah, mati aku!”

Sambil menjerit-jerit, ia pegang erat-erat batu karang itu, tapi batu itu gundul dan licin, dalam keadaan terapung di udara, bukan mustahil setiap saat ia bisa tergelincir ke bawah. Dengan sendirinya ia sangat ketakutan, ketiga kawannya yang berada di bawah juga menjerit khawatir.

“Nah, lekas katakan, apa gunanya Pek-giok-giok-ting itu?” tanya Siau Hong pula. “Jika tidak kau katakan, segera aku turun ke bawah.”

“Apa harus… harus kukatakan?” sahut Cut-tim-cu dengan khawatir.

“Tidak katakan juga boleh, nah, selamat tinggal!” Siau Hong.

Lekasan saja si cebol memegang lengan baju Siau Hong sambil berseru, “Baik, akan kukatakan, akan kukatakan, Pek-giok-giok-ting itu adalah satu di antara sam-po (tiga pusaka) perguruan kami, gunanya untuk melatih ‘Hoa-kang-tay-hoat’. Menurut Suhu kami, katanya orang-orang persilatan Tionggoan asal mendengar ‘Hoa-kang-tay-hoat’ kami tentu ketakutan setengah mati, maka kalau giok-ting itu diketemukan mereka tentu akan dihancurkannya. Giok-ting itu adalah semacam benda mestika yang sukar dicari, tak boleh hilang…”

Sudah lama Siau Hong juga kenal “Hoa-kang-tay-hoat” dari Sing-siok-pay yang keji dan lihai itu, demi mengetahui bahwa kegunaan Pek-giok-giok-ting itu, maka ia pun malas untuk tanya lebih jauh. Segera ia sangga pula ketiak si cebol dan dibawanya merosot ke bawah.

Cara merosot ke bawah melalui dinding karang itu sudah tentu jauh lebih cepat daripada mendaki ke atas, keruan Cut-tim-cu menjerit-jerit ketakutan, dan belum lagi terhenti teriakannya, tahu-tahu kakinya sudah menginjak tanah, saking ketakutan hingga mukanya tampak pucat dan dengkul pun gemetar, untung tidak sampai terkulai lemas.

“Patsute, apa yang telah kau katakan?” segera si gendut menegur.

Belum lagi si cebol menjawab, mendadak Siau Hong berkata kepada A Ci, “Mana, serahkan!”

“Serahkan apa?” sahut A Ci.

“Pek-giok-giok-ting!” kata Siau Hong.

“Eh, aneh, bukankah tadi kau bilang tertinggal di rumah Be-hujin, mengapa sekarang malah minta padaku?” sahut A Ci.

Siau Hong coba mengamat-amati anak dara itu, ia lihat perawakannya langsing, pakaiannya juga tipis, terang akan kelihatan jika pada badannya terdapat giok-ting yang besarnya lima dim itu. Pikirnya, “Bocah ini sangat licin, urusan perguruannya sebenarnya aku tidak perlu urus, tapi orang dari golongan sia-pay seperti mereka ini pun susah dilayani, sekali kena perkara dengan mereka tentu akan terganggu tiada habis-habis, walaupun aku tidak takut, tapi rasanya menjemukan dan lebih baik tidak.”

Maka katanya segera, “Terus terang kukatakan bahwa barang itu tiada gunanya bagiku, tidak nanti aku mengambil milik kalian. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Maaf, aku tak dapat tinggal lagi di sini.”

Habis berkata, terus saja ia melangkah pergi dengan cepat hingga dalam sekejap saja kelima orang itu sudah jauh ditinggalkan.

Sekaligus Siau Hong telah mencapai sejauh lebih 50 li jauhnya, kemudian barulah ia mencari rumah makan untuk tangsel perut dan minum arak. Malam itu ia menginap di Kota Ciu-ong-tiam. Sampai tengah malam, tiba-tiba ia terjaga bangun oleh beberapa kali suara suitan tajam melengking.

Sebagai seorang tokoh kelas wahid, meski suara suitan itu berjarak sangat jauh, tapi dengan lwekangnya yang tinggi dapat didengarnya dengan jelas, ia merasa suara itu agak aneh. Ia coba mendengarkan lagi dengan lebih cermat, selang tak lama, terdengarnya di arah barat-laut sana ada acara suitan lagi, menyusul dari arah tenggara juga ada sahutan suitan beberapa kali, suitan yang tajam mengerikan itu terang suara seruling yang ditiup oleh anak murid Sing-siok-pay.

Diam-diam Siau Hong tersenyum sendiri, ia pikir buat apa ikut campur urusan mereka. Segera ia rebah dan tidur lagi.

Tapi mendadak terdengar suara seruling mendenging dua kali, jaraknya sangat dekat, terang dibunyikan di dalam rumah penginapan itu. Menyusul terdengar pula ada suara orang berkata, “Lekas bangun, Toasuko sudah datang, besar kemungkinan Siausumoay sudah ditangkapnya.”

“Kalau tertangkap, sekali ini kau kira dia akan diberi ampun atau tidak?” tanya seorang lain.

“Siapa tahu?” sahut orang pertama. “Ayolah lekas berangkat!”

Meski percakapan kedua orang itu sangat lirih, tapi dapat didengar Siau Hong dengan jelas, lalu ia dengar suara daun jendela dibuka dan suara lompatan orang. Pikirnya, “Kembali dan orang murid Sing-siok-pay lagi, sungguh tidak nyana di dalam hotel kecil ini juga tersembunyi orang mereka. Ya, mungkin mereka datang lebih dulu daripadaku, sebab itulah aku tidak melihat mereka.”

Sebenarnya ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain, tapi teringat pada percakapan kedua orang itu tentang kemungkinan A Ci akan diampuni atau tidak, mau tak mau ia harus berpikir dua kali, “A Cu telah meninggalkan pesan agar aku menjaga adik perempuannya itu. Meski nona cilik itu sangat nakal dan keji pula, tapi tidak boleh kubiarkan dia dibunuh orang, jika terjadi apa-apa atas diri nona cilik itu, cara bagaimana aku dapat bertanggung jawab kepada A Cu?”

Segera ia pun melompat keluar dari kamarnya. Ia dengar suara melengking seruling tadi masih sahut-menyahut dari sana-sini, semuanya menuju ke arah barat laut. Segera ia pun berlari ke sana mengikut arah suara itu.

Tidak lama kemudian, dapatlah ia menyusul kedua orang yang keluar dari hotel tadi. Ia lihat dandanan kedua orang itu serupa dengan orang-orang yang dilihatnya siang tadi. Hanya langkah mereka agak loyo, mungkin usia mereka agak lanjut daripada anak murid Sing-siok-hay yang lain.

Dari jarak tertentu Siau Hong terus menguntit di belakang kedua orang itu. Setelah melintasi dua lereng, tiba-tiba tertampak di tengah lembah di depan sana ada segunduk api unggun yang menganga tinggi, warna api unggun itu kehijau-hijauan, sangat berbeda dengan api umumnya. Tampaknya menjadi seram sekali.

Sesudah dekat, segera kedua orang tadi menyembah ke arah api unggun itu.

Siau Hong sembunyi di belakang sebuah batu karang. Waktu ia mengintip, ia lihat di sekitar api unggun itu sudah berkumpul belasan orang, pakaian mereka seragam, yaitu kain belacu kuning, perawakan mereka tidak sama, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang gemuk dan ada yang kurus. Di bawah sinar api unggun yang hijau itu wajah mereka kelihatan kepucat-pucatan dan sedih bagai orang kematian istri.

Di sebelah kiri api unggun itu berdiri seorang, pakaiannya warna ungu mulus, siapa lagi dia kalau bukan A Ci alias si Ungu.

Kedua tangan anak dara itu diborgol, air muka A Ci yang putih bersih itu pun sangat aneh kelihatannya demi tersorot oleh sinar api yang hijau itu. Tapi gadis itu tampak mengulum senyum, tetap sangat bandel sikapnya.

Orang-orang yang mengelilingi api unggun itu semuanya bungkam, pandangan mereka terpusat ke arah api unggun sambil telapak tangan kiri menahan dada dan mulut mereka berkomat-kamit.

Siau Hong tahu itu adalah upacara keagamaan dari golongan sia-pay, maka ia pun tidak ambil pusing. Tadi ia dengar kedua anak murid Sing-siok-pay membicarakan toasuko mereka, maka dapat diduga toasuko yang dimaksudkan itu tentu pimpinan mereka yang berkumpul di situ.

Ia coba memerhatikan orang-orang itu, ia lihat ada yang tua dan ada yang muda, dandanan mereka seragam, sikap mereka pun tiada satu pun yang menandakan seorang pemimpin.

Tengah Siau Hong heran, tiba-tiba terdengar suara seruling pula, segera semua orang berpaling ke arah timur laut sana, mereka sama membungkuk dengan hormat. A Ci hanya mencibir dan sama sekali tidak berpaling.

Ketika Siau Hong memandang ke arah suara tadi, ia lihat seorang berpakaian putih sedang melayang tiba, cepatnya luar biasa, menyusul orang itu menggunakan sebatang seruling putih terus meniup ke arah api unggun, kontan api unggun itu terpadam hingga keadaan gelap gulita. Tapi hanya sebentar saja api unggun itu menyala lagi, bahkan mendadak menganga dan menjulang tinggi ke udara, lalu menurun lagi perlahan.

Maka bersoraklah semua orang itu, “Sungguh kungfu Toasuheng mahasakti, kami benar-benar kagum sekali!”

Waktu Siau Hong memerhatikan “toasuheng” mereka itu, mau-tak-mau ia rada terkesiap. Menurut dugaannya, sebagai “toasuheng” (kakak seperguruan pertama), tentunya orang itu sudah lanjut usianya. Siapa tahu orang yang berdiri di sebelah api unggun ini justru seorang muda berusia antara 22-23 tahun. Pemuda itu berperawakan jangkung, berpakaian putih mulus, air mukanya kuning kepucat-pucatan, tapi wajahnya cukup tampan. Alisnya tebal menjengkat hingga menambah angker wibawanya. Tangan kirinya membawa seruling sepanjang satu meter lebih.

Tadi Hong sudah menyaksikan kepandaiannya meniup seruling untuk memadamkan api serta ginkangnya yang hebat, ia tahu tenaga dalam orang ini memang lihai, tapi caranya memadamkan api lalu menyala lagi, itu bukan disebabkan lwekangnya, tapi di dalam seruling mungkin terdapat sesuatu obat bakar yang aneh.

Pikirnya, “Meski muda usia orang ini, tapi jelas seorang lawan tangguh, pantas Sing-siok-pay sangat ditakuti orang, nyatanya memang ada jago yang disegani, anak muridnya saja selihai ini, maka iblis tua itu sendiri tentu jauh lebih hebat. Dengan datangnya orang ini, untuk menolong A Ci menjadi tidak gampang lagi.”

Begitulah ia agak menyesal tadi tidak turun tangan menolong A Ci, kini jumlah musuh bertambah banyak, bahkan ada jago yang tangguh, biarpun tidak takut, tapi susah diramalkan apakah sebentar A Ci dapat diselamatkan atau tidak?

Maka terdengar si pemuda baju putih itu berkata kepada A Ci, “Siausumoay, sungguh besar sekali kehormatanmu hingga memerlukan pengerahan tenaga sebanyak ini untuk mencari dirimu.”

Suaranya nyaring dan ramah hingga sangat enak didengar.

Dan dengan tertawa A Ci menjawab, “Ya, sampai Toasuko sendiri juga keluar, sudah tentu kehormatan sumoaymu ini harus dibanggakan. Tapi bila hal ini ditujukan kepada jago andalanku, terang masih jauh daripada cukup.”

“He, jadi Sumoay masih mempunyai jago andalan? Siapakah dia?” tanya pemuda itu.

“Jago kepercayaanku sudah tentu adalah ayah-bundaku, pamanku, ciciku, dan lain-lain lagi,” A Ci.

“Hm, Sumoay sejak kecil dipiara ayahku, selama ini kau sebatang kara, dari mana mendadak bisa muncul sanak famili sebanyak itu?” jengek pemuda itu.

“Ai, masakah manusia tidak berayah-ibu, lalu dari mana munculnya, apakah lahir dari dalam batu?” demikian sahut A Ci. “Soalnya nama ayah-ibuku adalah suatu rahasia besar dan tidak boleh sembarang diketahui orang.”

“Jika begitu, dapatkah kau beri tahu siapakah ayah-ibumu?” tanya si pemuda.

“Kalau kukatakan tentu engkau akan berjingkat kaget,” ujar A Ci. “Untuk memberi tahu padamu, hendaklah kau lepaskan dulu belenggu di tanganku ini.”

Tapi pemuda baju putih itu titik mau tertipu, katanya, “Tidak sukar untuk membuka belenggumu, tapi kau harus menyerahkan dulu Pek-giok-giok-ting itu.”

“Giok-ting itu berada di tangan cihuku,” sahut A Ci. “Salah Samsuko, Sisuko, Jitsuko, dan Patsuko, mereka tidak mau minta pada cihuku, apa yang aku bisa berbuat?”

Segera pemuda baju putih itu memandang keempat orang yang mengadang Siau Hong siang tadi, walaupun sorot matanya sangat ramah, tapi keempat orang itu kelihatan sangat takut.

“Toa… Toasuko,” kata Cut-tim-cu dengan tergegap-gegap, “Itu tak bisa menyalahkan aku, sebab kepandaian… kepandaian cihunya sangat tinggi, kami tak dapat menyusulnya.”

“Samsute, coba kau yang bicara,” kata pemuda baju putih.

“Ya, ya!” sahut gendut. Lalu ia pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Siau Hong, cara bagaimana tongkat mereka dirampas serta kejadian Cut-tim-cu digondol ke atas dinding karang untuk ditanyai keterangan, semuanya ia ceritakan dengan jelas, sedikit pun tidak bohong.

Biasanya si gendut pandai bicara, tapi di hadapan pemuda baju putih itu ia kelihatan sangat ketakutan, bicaranya menjadi agak gemetar.

Selesai mendengarkan penuturan itu, si pemuda baju putih manggut-manggut, katanya kepada Cut-tim-cu, “Dan apa yang telah kau katakan padanya?”

“Aku… aku…” sahut Cut-tim-cu dengan terputus-putus.

“Aku apa? Katakan terus terang padaku, apa yang telah kau katakan padanya?” bentak pemuda itu.

Aku… aku bilang Pek… Pek-giok-giok-ting itu adalah… adalah satu di antara ketiga pusaka perguruan kita yang berguna untuk melatih… melatih Tay-hoat… kukatakan pula bahwa menurut Suhu, setiap orang persilatan Tionggoan tentu ketakutan bila mendengar Hoa… Hoa-kang-tay-hoat kita, maka kalau giok-ting itu diketemukan mereka pasti akan dihancurkannya. Kukatakan itu adalah… adalah semacam bunda mestika yang tidak boleh dihilangkan, maka… maka kuminta dia harus mengembalikannya pada kita,” demikian tutur si cebol alias Cut-tim-cu.

“Bagus, dan apa dia katakan?” tanya pula si pemuda.

“Dia… dia tak mengatakan apa-apa, lalu aku di… diturunkannya,” sahut si cebol.

“Ehm, kau sangat pintar, kau katakan kegunaan giok-ting kita itu untuk melatih Hoa-kang-tay-hoat, dan kau khawatir dia tidak tahu apakah ‘Hoa-kang-tay-hoat’ itu, maka sengaja kau tegaskan ilmu itu sangat ditakuti oleh jago silat Tionggoan. Ehm, bagus, sungguh bagus! Apakah dia itu orang persilatan dari Tionggoan?”

“En… entahlah, aku… aku tidak tahu,” sahut Cut-tim-cu.

“Tidak tahu? Benar-benar tidak tahu?” bentak si pemuda baju putih.

Biarpun suaranya tetap ramah, tetapi orang kasar seperti Cut-tim-cu itu ternyata ketakutan setengah mati hingga giginya berkertukan, sahutnya dengan tak jelas, “Aku… aku… kruk-kruk… tak tahu kruk-kruk-kruk… tak tahu…”

Kiranya suara “kruk-kruk-kruk” itu adalah suara gigi yang gemertuk saking takutnya.

“Jika begitu, kemudian ia ketakutan setengah mati atau tidak takut?” tanya pula si pemuda baju putih.

“Agaknya dia… dia… kruk-kruk… tidak begitu takut,” sahut Cut-tim-cu sambil menggigil pula.

“Menurut pendapatmu, mengapa dia tidak takut?” tanya si pemuda.

“En… entah, aku… aku tidak tahu… mohon Toasuko men… menjelaskan,” kata Cut-tim-cu.

“Orang persilatan Tionggoan paling jeri kepada Hoa-kang-tay-hoat kita, dan untuk meyakinkan ilmu itu tidak boleh tidak harus mempunyai Pek-giok-giok-ting itu,” kata si pemuda. “Dan sekali giok-ting itu jatuh di tangannya, terang Hoa-kang-tay-hoat tak bisa kita latih pula dan sebab itulah dia tidak takut lagi terhadap kita.”

“Ya, ya, pendapat Toasuko memang tepat dan pandai menaksir pihak musuh,” demikian Cut-tim-cu memuji.

Waktu Siau Hong bertemu dengan anak murid Sing-siok-pay siang tadi, ia merasa di antara orang-orang itu hanya si cebol inilah yang agak jujur dan polos, maka mempunyai kesan agak baik padanya, ia bermaksud akan menolongnya ketika melihat si cebol itu sangat takut pada suhengnya. Tak terduga akhirnya Cut-tim-cu itu juga tidak tahan uji, makin omong makin merendah dan mengumpak serta memuji sebisa-bisanya kepada suhengnya itu.

Maka seketika berubah pikiran Siau Hong, “Huh, manusia pengecut seperti ini buat apa dibela, biar mati atau hidup masa bodohlah.”

Kemudian si pemuda baju putih menoleh kepada A Ci dan berkata, “Siausumoay, siapakah sebenarnya cihumu itu?”

“Tentang dia? Wah, kalau kukatakan tentu engkau akan berjingkat kaget,” sahut A Ci.

“Tak apa, katakanlah, asal dia memang seorang tokoh kesatria ternama, tentu aku Ti-sing-cu akan menaruh perhatian penuh padanya,” ujar pemuda itu.

Mendengar orang menyebut namanya sendiri, diam-diam Siau Hong membatin, “O, namanya Ti-sing-cu (Si Pemetik Bintang)! Hebat benar namanya! Kalau melihat ginkangnya tadi memang sangat hebat, tapi juga belum tentu mampu menandingi Pah Thian-sik dari Tayli dan In Tiong-ho dari Su-ok, hanya saja tampaknya dia memiliki kepandaian istimewa yang lain.”

Maka A Ci telah menjawab, “Tentang cihuku itu? Toasuko, setahumu, siapakah tokoh utama dalam dunia persilatan Tionggoan?”

“Setiap orang suka berkata ‘Pak Kiau Hong, Lam Buyung’, apakah barangkali kedua orang itu adalah cihumu?”

Sungguh gusar Siau Hong tak kepalang oleh ucapan itu, A Ci hanya mempunyai seorang kakak perempuan, dari mana bisa mempunyai dua orang cihu? Diam-diam ia menggerutu, “Kau bocah kurang ajar ini berani sembarang omong, tunggulah rasakan kelihaianku nanti.”

Dalam pada itu A Ci telah tertawa, katanya, “Toasuko, caramu bicara sungguh lucu, aku hanya mempunyai seorang cici, dari mana bisa punya dua orang cihu?”

“Aku tidak tahu bahwa kau hanya mempunyai seorang cici,” sahut Ti-sing-cu. “Tapi, ah, andaikan cuma seorang cici, tidak mengherankan juga kalau mempunyai dua orang cihu.”

“Awas Toasuko, kelak kalau ketemu cihuku tentu akan kuadukan ucapanmu ini padanya,” kata A Ci. “Nah, Toasuko, jika kau ingin tahu siapa cihuku, biarlah kukatakan padamu, tapi berdirilah yang kuat, jangan-jangan kau akan roboh kelengar sesudah mendengar namanya. Cihuku tak-lain-tak-bukan adalah pangcu dari Kay-pang, yaitu Pak Kiau Hong yang namanya mengguncangkan dunia persilatan.”

Mendengar keterangan A Ci ini, seketika menjerit kaget anak murid Sing-siok-hay yang pernah melihat Siau Hong itu. Bahkan si lelaki hidung singa lantas berseru, “Pantas, pantas! Jika betul dia, maka aku pun rela terjungkal di tangannya.”

“Jika betul Pek-giok-giok-ting kita itu jatuh ke tangan orang Kay-pang, wah, urusan menjadi repot juga,” ujar Ti-sing-cu dengan berkerut kening.

Meski si cebol alias Cut-tim-cu sangat takut kepada sang suheng, tapi sifatnya yang suka ngoceh sukar berubah, segera ia menimbrung, “Toasuko, tentang Kiau Hong itu sekarang dia bukan lagi Pangcu Kay-pang. Engkau baru datang dari barat, mungkin belum mendengar peristiwa yang menggemparkan dunia persilatan Tionggoan baru-baru ini, yaitu Kiau Hong telah dipecat oleh kawanan pengemis Kay-pang!”

“O, ya? Kiau Hong telah dipecat dari Kay-pang? Apa betul kejadian ini?” kata Ti-sing-cu dengan menghela napas lega perlahan, wajahnya merengut tadi agak tenang kembali.

Segera samsutenya yang gendut itu menjawabnya, “Ya, orang-orang Kangouw sama mengatakan begitu, katanya dia bukan bangsa Han, tapi orang Cidan, kini ia telah dimusuhi tokoh-tokoh persilatan Tionggoan, semua orang bertekad akan membunuhnya. Konon orang Cidan itu telah membunuh ayah-bunda sendiri, membunuh Suhu dan membinasakan kawan pula, kejam dan rendah perbuatannya, segala kejahatan tidak segan-segan dilakukannya.”

“Siausumoay,” kata Ti-sing-cu kepada A Ci, “mengapa cihumu bisa menikah dengan manusia seperti itu? Apakah barangkali kaum lelaki di dunia ini sudah mati semua dan karena khawatir tidak laku, maka cepat-cepat menikah padanya? Atau disebabkan cicimu diperkosa lebih dulu dan terpaksa menjadi istrinya?”

“Cara bagaimana ciciku menjadi istrinya, aku tidak tahu,” sahut A Ci dengan tertawa. “Yang terang ciciku telah dipukul mati oleh cihuku sendiri.”

Semua orang bersuara kaget oleh pernyataan A Ci itu. Sekalipun orang-orang itu adalah golongan sia-pay yang biasa berbuat jahat, tapi demi mendengar bahwa Siau Hong membunuh orang tua sendiri, membinasakan guru dan menewaskan kawan, akhirnya membunuh istri sendiri pula, mau-tak-mau mereka nama tersentak kaget oleh kekejaman itu.

“Jumlah orang Kay-pang terlalu banyak, untuk melawan mereka sebenarnya agak sulit, jika sekarang Kiau Hong sudah dipecat oleh Kay-pang, dengan sendirinya kita tidak jeri lagi padanya! Hehe!” kata Ti-sing-cu dengan tertawa dingin. “Hah, katanya ‘Pak Kiau Hong dan Lam Buyung’ apa segala, itu kan cuma pujian yang diberikan di antara orang persilatan Tionggoan sendiri, aku justru tidak percaya kedua orang itu mampu menandingi ilmu mukjizat Sing-siok-pay kita.”

“Benar, benar!” sambut si gendut. “Memangnya para sute juga berpikir begitu. Ilmu silat Toasuko sendiri sudah luar biasa, sekali ini mengunjungi Tionggoan kebetulan dapat membunuh Pak Kiau Hong dan Lam Buyung, biar mereka kenal betapa lihainya Sing-siok-pay kita.”

“Dari di manakah Kiau Hong itu? Ke mana kita harus mencarinya?” tanya Ti-sing-cu.

“Dia menyatakan akan pergi ke Gan-bun-koan,” tutur A Ci. “Marilah kita menyusulnya ke sana, betapa pun kita harus mendapatkan dia.”

“Baiklah, kata Ti-sing-cu. “Jisute dan Samsute, kalian berlima telah melewatkan kesempatan baik tatkala bertemu musuh, hukuman apa yang harus kalian terima?”

“Kami bersedia menerima hukuman Toasuko,” demikian sahut kelima orang itu dengan hormat.

“Kedatangan kita ke Tionggoan ini perlu banyak menyelesaikan urusan kita, kalau dihukum terlalu berat, tentu akan melemahkan kekuatan kita sendiri, baik begini sajalah…” baru berkata sampai di sini, mendadak tangan kirinya mengebas dan berbareng lima titik api kebiru-biruan bagaikan lima ekor kunang-kunang menyembur ke arah kelima sutenya itu.

Bunga api itu masing-masing hinggap di atas pundak kelima orang itu, lalu mengeluarkan suara mencicit dan bau sangit.

Pikir Siau Hong, “Wah, bukankah ini membakar manusia mentah-mentah?”

Ia lihat bunga api itu tidak lama kemudian lantas padam, tapi air muka kelima orang itu makin lama makin menderita kelihatannya. Pikir Siau Hong, “Apa yang dilemparkan pemuda baju putih itu tentu obat bakar sebangsa belerang yang berbisa pula, sebab itulah sehabis apinya sirap, racun lantas meresap ke dalam daging hingga orang tambah kesakitan.”

Dalam pada itu Ti-sing-cu sedang berkata, “Ini hanya ‘Lam-sim-tan’ (Peluru Melatih Hati) yang kecil saja, cuma tahan untuk menggembleng kalian selama 7×7=49 hari. Lewat temponya, rasa sakit akan hilang dengan sendirinya. Dan sesudah mengalami gemblengan itu, daya tahan kalian akan bertambah, lain kali kalau ketemu musuh lagi takkan mudah menyerah dan memalukan Sing-siok-pay kita.”

“Ya, ya, terima kasih atas pengajaran Toasuko,” kata si lelaki hidung singa.

Selang agak lama, rasa sakit kelima orang itu rupanya mulai lenyap, tapi selama itu mereka tampak menggigit bibir dengan menahan rasa sakit, hal mana membuat perasaan A Ci menjadi takut, tapi urusan sudah kepepet, terpaksa terserah kepada nasib.

Sorot mata Ti-sing-cu kemudian diarahkan pada Cut-tim-cu, tiba-tiba ia membuka suara pula, “Patsute, kau telah membocorkan rahasia penting perguruan kita hingga pusaka kita mungkin akan hilang untuk selamanya. Apa hukumannya bagi kesalahanmu itu?”

Untuk sejenak si cebol alias Cut-tim-cu termangu-mangu mendadak ia berlutut dan meratap, “Toa… Toasuko, secara tak sadar aku telah sembarangan omong, harap engkau suka… suka mengampuni jiwaku, kelak… kelak biar aku menjadi budakmu juga rela, sedikit pun tidak berani membangkang…”

Sembari berkata, berulang-ulang ia pun menjura.

Ti-sing-cu menghela napas, katanya, “Patsute, sebagai saudara seperguruan, asalkan mampu dengan sendirinya ingin kutolong dirimu. Tetapi, ai, jika sekali ini kau diampuni, lalu kelak siapa lagi yang mau taat kepada peraturan yang ditetapkan Suhu? Sudahlah, boleh mulai saja. Peraturan perguruan kita kau sendiri sudah tahu, asal mampu menangkan Cit-hoat-cuncia (Petugas Pelaksana Hukum) yang kujabat sekarang maka segala dosamu dapat diampuni. Ayolah berdiri saja dan mulailah.”

Tapi Cut-tim-cu tidak berani, tetap berlutut dan menjura terus.

“Kau tidak mau mulai lebih dulu, jika begitu terimalah seranganku,” kata Ti-sing-cu.

Air muka Cut-tim-cu berubah seketika. Mendadak ia melompat bangun.

Jangan dikira dia pendek buntek, gerak tubuhnya ternyata amat gesit. Insaf tak bisa terhindar dari hukuman sang suheng, terus saja ia melompat bangun dari segera menjemput dua potong batu. Senjata andalannya, yaitu tongkat baja, kini sudah hilang, terpaksa menggunakan senjata seadanya, maka begitu pungut dua potong batu sebesar kepalan tanpa bicara lagi terus ditimpukkan ke arah Ti-sing-cu sambil berseru, “Maaf, Toasuko!”

Dan begitu kedua potong batu itu terlepas dari tangan, cepat ia memungut dua potong batu yang lain dan secara berantai ditimpukkan lagi.

Ia menimpuk ke depan, sebaliknya tubuhnya melompat mundur malah, lalu dua potong batu lagi-lagi dihamburkan sambil melompat mundur pula hingga jauh.

Rupanya ia tahu ilmu silatnya selisih terlalu jauh dibandingkan Ti-sing-cu, maka ia harap batu yang ditimpukkan itu dapat mengalangi kejaran sang suheng dan ia sendiri sempat melarikan diri.

Tak terduga bahwa batu seperti itu saja sama sekali tiada artinya bagi Ti-sing-cu, sekali lengan bajunya mengebas, seketika suatu arus tenaga mahahebat berjangkit dan kontan batu-batu itu mencelat balik ke arah si cebol malah.

Diam-diam Siau Hong kagum menyaksikan tenaga dalam Ti-sing-cu itu, kepandaian demikian adalah ilmu sejati dan bukan ilmu sihir atau kepandaian dengan bantuan obat-obatan segala.

Batu yang menyambar balik itu dapat didengar juga oleh Cut-tim-cu, ia tahu bila berlari ke depan tentu punggung akan termakan batu itu, bila membalik tangan untuk menyampuk, ia merasa tidak memiliki tenaga sekuat itu. Terpaksa ia mengegos ke kiri.

Tapi aneh bin heran, baru dia mengegos ke kiri, tahu-tahu batu yang lain menyusul pula ke arahnya hingga tidak memberi kesempatan bernapas padanya. Dan baru Cut-tim-cu berkelit lagi ke sebelah lain, lagi-lagi batu ketiga telah memburunya pula.

Siau Hong tahu agaknya Ti-sing-cu sengaja hendak mempermainkan sang sute dan tidak ingin lekas-lekas membunuhnya, maka setiap timpukan batu itu selalu merandek sejenak, bila sasarannya sudah berpindah tempat, lalu batu yang lain menyambar lagi. Coba kalau dia benar-benar ingin mencabut nyawa Cut-tim-cu tentu sudah sejak tadi batu-batu itu dihamburkan.

Begitulah dengan enam potong batu itu selalu Cut-tim-cu dipaksa melompat ke kiri untuk menghindar, dan sampai pada batu keenam, tahu-tahu si cebol sudah mengisar kembali ke samping api unggun tadi.

Di bawah sinar api wajah Cut-tim-cu tampak pucat bagai mayat, mendadak ia mengeluarkan sebilah belati terus menikam dada sendiri.

Tapi Ti-sing-cu tidak membiarkan sang sute mati begitu mudah, sekali lengan bajunya mengebas, kembali setitik bunga api menyambar ke pergelangan tangan si cebol, terdengar suara mencicitnya api membakar, tahu-tahu urat nadi Cut-tim-cu sudah hangus dan terpaksa belati dilemparkan ke tanah sambil menjerit-jerit, “Ampun, Toasuko! Kasihanilah, Toasuko!”

Mendadak Ti-sing-cu mengebutkan lengan baju pula, serangkum angin keras menyambar ke arah api unggun warna hijau itu. Sekonyong-konyong api yang menganga itu bercabang, lalu sejalur api panjang kecil memancar ke arah Cut-tim-cu, dan begitu kena sasarannya, tanpa ampun lagi api itu berkobar dan menjilat rambut dan pakaian yang mudah terbakar itu.

Seketika Cut-tim-cu terguling-guling di tanah sambil menjerit ngeri, tapi tidak lantas mati, hanya bau busuk hangus lantas terendus, keadaannya sangat mengenaskan.

Meski Siau Hong sendiri sudah sering juga menyaksikan perbuatan-perbuatan kejam, tapi melihat nasib Cut-tim-cu yang terbakar hidup-hidup itu, mau-tak-mau ia terkesiap juga. Apalagi anak murid Sing-siok-pay yang lain, tiada seorang pun di antara mereka yang berani bicara, bahkan bernapas pun tidak berani keras-keras.

“He, mengapa kalian diam-diam saja? Apakah kalian anggap caraku ini terlalu ganas, Cut-tim-cu mati penasaran, begitu bukan?” tanya Ti-sing-cu.

Kalau tadi anak murid Sing-siok-hay diam saja tak berani membuka suara, demi mendengar pertanyaan itu, seketika mereka berebut bicara lebih dulu, maka beramai-ramai terdengar seruan mereka, “Wah, Toasuko terlalu murah hati hingga kematian Cut-tim-cu jauh lebih enak daripada ganjaran yang sebenarnya atas dosanya!”

“Ya, Toasuko cukup bijaksana, kami benar-benar sangat kagum! Cut-tim-cu telah membocorkan rahasia perguruan kita, sudah sepantasnya Toasuko memberi hukuman setimpal, menjadi setan pun seharusnya dia berterima kasih kepada Toasuko!”

Siau Hong merasa muak oleh ocehan manusia-manusia pengecut itu, sungguh ia tidak ingin mendengarkan terus, maka segera ia bermaksud tinggal pergi saja. Tapi baru mulai bergerak, tiba-tiba terdengar Ti-sing-cu sedang tanya dengan lemah lembut, “Nah, Siausumoay, kau telah mencuri pusaka Suhu dan diberikan kepada orang luar, hukuman apa yang seharusnya kau terima?”

Kata-kata itu diucapkan dengan ramah, tapi cukup membuat hati Siau Hong terkesiap, pikirnya, “Wah, aku dipesan oleh A Cu agar menjaga saudara perempuan satu-satunya ini, biarpun anak dara ini sangat nakal dan jahat, sekali dia dihukum tentu akan jauh lebih ngeri daripada Cut-tim-cu tadi, kalau aku tinggal diam tak menolongnya, bagaimana bisa tenteram mengingat pesan A Cu itu?”

Karena itu, diam-diam ia mengisar kembali dan mendekam di tempat semula.

Maka terdengar A Ci sedang menjawab, “Aku telah melanggar peraturan Suhu, itu memang benar, dan tentang giok-ting itu, apakah Toasuko ingin menemukannya kembali atau tidak?”

“Giok-ting itu adalah satu di antara ketiga pusaka perguruan kita, sudah tentu harus dicari, mana boleh barang pusaka kita jatuh di tangan orang luar?” sahut Ti-sing-cu.

“Tapi cihuku sangat keras wataknya,” ujar A Ci. “Giok-ting itu aku yang memberinya, jika kuminta kembali padanya, dengan sendirinya dia akan memulangkan benda itu padaku. Tapi kalau orang lain yang minta padanya, kau pikir apakah dia mau menyerahkan begitu saja?”

“Ehm,” Ti-sing-cu mendengus. Tapi dalam hati ia pun tahu bahwa Kiau Hong adalah bekas Pangcu Kay-pang, namanya sangat disegani orang Kangouw, mungkin tidak gampang untuk minta kembali barang yang sudah berada di tangannya itu. Maka katanya kemudian, “Ya, urusan ini memang sulit untuk diselesaikan. Dan kalau terjadi apa-apa atas giok-ting itu, maka dosamu tentu juga akan bertumpuk-tumpuk.”

“Jika kau minta kembali giok-ting itu padanya, terang apa pun juga dia takkan menyerahkan padamu,” kata A Ci. “Sekalipun kepandaian Toasuko sangat tinggi, paling-paling juga cuma dapat membunuhnya, apakah giok-ting itu dapat diketemukan kembali, itulah seribu kali sulit untuk diramalkan.”

Ti-sing-cu berpikir sejenak, lalu bertanya, “Habis bagaimana kalau menurut pikiranmu?”

“Hendaklah kalian bebaskan aku, biar aku pergi sendiri ke luar Gan-bun-koan untuk minta kembali giok-ting itu kepada Cihu,” sahut A Ci. “Itu namanya menebus dosa dengan jasa, dan kau harus berjanji takkan melaksanakan hukuman apa pun atas diriku.”

“Cukup beralasan juga uraianmu itu,” kata Ti-sing-cu. “Tetapi, wah, Siausumoay, dengan demikian mukaku ini lalu hendak ditaruh ke mana lagi? Sejak kini aku pun tiada harganya menjadi ahli waris Sing-siok-pay lagi. Apalagi kalau sekali aku sudah membebaskanmu, lalu kau kabur sejauhnya dan menghilang, ke mana harus kucari dirimu? Tentang giok-ting pusaka itu harus kita temukan kembali, asal kabar ini tidak tersiar, belum tentu orang she Kiau itu berani sembarangan merusaknya. Nah, Siausumoay, boleh mulai kau serang, asal kau dapat mengalahkan aku, segera kau akan menjadi ahli waris Sing-siok-pay, dan aku pun akan tunduk pada perintahmu. Engkau akan menjadi toasuci dan aku menjadi sutemu.”

Mendengar itu, baru sekarang Siau Hong paham duduknya perkara. Kiranya menurut peraturan Sing-siok-pay mereka, tinggi-rendahnya kedudukan ditentukan oleh kuat dan lemahnya ilmu silat masing-masing dan tidak ditentukan oleh tua-mudanya usia atau lebih dulu dan lebih belakang masuk perguruan. Sebab itulah meski usia Ti-sing-cu masih muda belia, tapi ia adalah toasuheng dari para sute yang usianya banyak yang jauh lebih tua. Jika begitu maka di antara sesama saudara seperguruan mereka tentu akan saling bunuh-membunuh, terang tiada perasaan baik antara sesama suheng dan sute.

Siau Hong tidak tahu bahwa justru dengan cara itulah kunci untuk meningkatkan ilmu silat Sing-siok-pay dari satu angkatan kepada angkatan yang lain. Sang toasuheng memegang kekuasaan penuh, jika di antara sute ada yang tidak terima, setiap saat dia boleh melawan dengan kekuatan.

Kedudukan mereka itu pun ditentukan oleh kepandaian masing-masing, bila toasuheng menang, dengan sendirinya yang menjadi sute akan menyerah untuk dibunuh atau dihajar, sedikit pun tidak boleh melawan. Sebaliknya kalau sang sute yang menang, seketika dia akan menanjak ke atas untuk menggantikan kedudukan sebagai toasuheng dan berbalik boleh menghukum mati bekas toasuheng itu. Dalam hal demikian sang suhu hanya menonton dengan berpeluk tangan saja, sekali-kali tidak ikut campur.

Di bawah peraturan yang aneh itu, terpaksa setiap anak murid harus berlatih diri dengan giat jika mereka ingin selamat, tapi lahirnya mereka terpaksa berlagak bodoh pula supaya tidak menimbulkan rasa sirik sang toasuheng.

Si cebol alias Cut-tim-cu itu biasanya suka pamer tenaga yang besar, senjata tongkat yang dipakainya juga jauh lebih berat daripada tongkat orang lain, hal ini sudah lama menimbulkan rasa sirik Ti-sing-cu, kali ini kebetulan ada kesempatan, maka sengaja hendak membunuhnya.

Begitulah A Ci semula mengira Ti-sing-cu takkan bikin susah padanya mengingat giok-ting yang belum ditemukan itu, siapa tahu sang suheng ternyata tak bisa tertipu dan segera ingin turun tangan.

Keruan A Ci ketakutan, apalagi suara jerit ngeri Cut-tim-cu yang mendekati ajalnya itu masih terdengar dan malapetaka begitu agaknya sebentar pun akan menimpa dirinya.

Terpaksa ia menjawab dengan suara gemetar, “Tapi aku diringkus begini, cara bagaimana aku bisa bergebrak denganmu?”

“Baiklah, akan kulepaskan dirimu,” kata Ti-sing-cu. Dan sekali lengan bajunya mengebut, serangkum hawa lantas menyambar ke arah gundukan api. Kembali api unggun itu memancarkan sejalur api mirip air mancur terus menyambar ke arah borgol tangan A Ci.

Siau Hong mengikuti kejadian itu dengan baik, ia lihat lidah api hijau itu memang betul mengincar borgol tangan A Ci dan bukan hendak membakar badannya.

Agaknya Ti-sing-cu itu sangat tinggi hati, ia tidak mau kehilangan wibawa di depan saudara seperguruannya, dengan ilmu silatnya yang jauh lebih tinggi daripada A Ci, dengan sendirinya ia tidak perlu menyerang secara menggelap. Cuma entah sampai di mana kepandaiannya, apakah dia sanggup membakar putus borgol tangan itu tanpa melukai A Ci? Demikian Siau Hong agak sangsi.

Maka terdengarlah suara mencicit perlahan, selang sebentar saja kedua tangan A Ci telah dapat dipisahkan, borgol besi itu telah putus bagian tengah, hanya tinggal dua gelang besi masih melingkar di pergelangan tangan anak dara itu.

Mendadak jalur api itu mengkeret kembali, menyusul lantas memancar pula ke depan, kali ini mengarah borgol di kaki A Ci. Dan hanya sebentar saja kembali borgol itu sudah terbakar putus.

Semula Siau Hong agak heran oleh lwekang orang yang luar biasa itu, waktu ia perhatikan ketika api hijau itu membakar borgol tadi, kini dapat dilihatnya dengan jelas di mana api itu membakar segera besi borgol berubah warna, tampaknya di dalam api ada sesuatu yang aneh, jadi tidak melulu mengandalkan lwekangnya yang murni.

Begitulah demi kaki tangan sudah bebas bergerak, A Ci tiada alasan lagi buat menghindar. Dalam keadaan demikian, biarpun dia secerdik kancil juga tak bisa berbuat apa-apa.

Maka terdengarlah para saudara seperguruan yang lain sama memuji dan mengumpak Ti-sing-cu, “Wah, lwekang Toasuko benar-benar sudah mencapai puncaknya, sungguh baru sekali ini kami melihatnya, agaknya kecuali Suhu seorang, Toasuko pasti tiada tandingannya lagi di jagat ini. Ya, katanya ‘Pak Kiau Hong dan Lam Buyung’ apa segala, kukira mereka disuruh menjadi kacung Toasuko juga tidak sesuai. Nah, Siausumoay, sekarang kau tahu lihai belum? Cuma sayang sudah terlambat!”

Begitulah mereka ramai mengumpak dan memuji setinggi langit, dan rupanya Ti-sing-cu itu juga senang dijilat, dengan wajah tersenyum ia lirik A Ci.

Sebaliknya A Ci malah berharap ocehan orang-orang itu diteruskan, dengan demikian akan memperlambat tindakan Ti-sing-cu padanya. Tapi sesudah bolak-balik orang-orang itu menjilat, paling-paling juga itu-itu saja yang diucapkan dan akhirnya suara mereka pun reda sendiri.

Maka berkatalah Ti-sing-cu dengan perlahan, “Siausumoay, silakan mulai!”

Teringat kematian Cut-tim-cu yang mengerikan itu, A Ci jadi mengirik, sahutnya dengan gemetar, “Ti… tidak aku tak mau mulai.”

“Kenapa kau tidak mau? Kukira lebih baik menyeranglah!” kata Ti-sing-cu.

“Aku tidak mau, sudah tahu takkan mampu melawan, buat apa aku banyak membuang tenaga?” kata A Ci. “Nah, jika ingin membunuh aku, silakan saja.”

“Ai, sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu,” ujar Ti-sing-cu dengan menyesal. “Nona cilik cantik molek seperti dirimu sungguh sayang untuk dibinasakan, cuma terpaksa. Nah, Siausumoay, seranglah, asal dapat kau bunuh aku, tentu kau akan menjadi toasuci, dalam Sing-siok-pay kita, kecuali Suhu, semua orang harus tunduk pada perintahmu.”

“Andaikan aku mampu membunuhmu juga aku tak mau melakukannya,” kata A Ci tiba-tiba.

“Sebab apa?” tanya Ti-sing-cu.

“Sebab… sebab aku suka padamu,” sahut A Ci.

Jawaban ini membuat hati Ti-sing-cu terkesiap, begitu pula hati Siau Hong tergetar. Siapa pun tak menduga akan ucapan A Ci itu. Keruan seketika semua orang saling pandang dengan bingung.

Selang sejenak, berkatalah Ti-sing-cu, “Nona kecil seperti kau ini masakah sudah paham tentang suka apa segala? Apalagi aku sudah punya istri, masakah kau tidak tahu?”

“Engkau… engkau sangat tampan, ilmu silatmu tinggi pula, biarpun punya… punya istri, apa sih jeleknya? Aku… aku justru suka padamu,” demikian A Ci berkata pula.

“Ai, bila kau tidak melanggar kesalahan sebesar ini, jika perlu aku pun tidak keberatan mengambilmu sebagai selir,” kata Ti-sing-cu dengan menghela napas. “Tetapi kini, ya, terpaksa aku tak bisa membantu apa-apa. Nah Siausumoay, terimalah seranganku ini!

Habis berkata, terus saja lengan bajunya mengebas, serangkum angin keras lantas menyambar ke arah api unggun, sejalur api hijau lantas memancar perlahan ke jurusan A Ci. Tapi agaknya tidak ingin membunuh gadis itu dengan segera, maka jalannya jalur api itu sangat lambat.

Sambil menjerit A Ci terus melompat minggir ke kanan, tapi jalur api itu lantas menyusul ke arahnya, waktu A Ci mundur ke belakang, tahu-tahu punggung kepepet oleh batu karang yang dibuat sembunyi Siau Hong itu.

Sementara itu, Ti-sing-cu sedang mengerahkan tenaga dalam untuk mendesak lebih kuat lidah api itu. Sedangkan punggung A Ci sudah kepepet batu karang, untuk mundur lagi sudah tak bisa.

Selagi ia hendak melompat ke samping, namun lengan baju Ti-sing-cu telah mengebut pula, dua rangkum angin menyambar dari kanan dan kiri hingga A Ci tak mampu melompat ke samping, sedangkan lidah api hijau itu sudah makin mendekat.

Siau Hong tahu sekali api hijau itu mengenai badan, seketika kulit akan hangus dan daging melocot. Tampaknya api hijau itu tinggal puluhan senti saja di depan muka A Ci, dan satu senti demi satu senti makin mendekat pula. Segera ia membisiki A Ci, “Jangan takut, akan kubantu!”

Sembari berkata, Siau Hong lantas mengulurkan sebelah tangannya dan menahan di punggung A Ci. Lalu katanya pula, “Lekas mengerahkan tenaga dan menghantam ke arah api hijau itu.”

Saat itu A Ci sebenarnya sudah ketakutan setengah mati, semangatnya hampir terbang ke awang-awang, ketika mendadak terdengar suara Siau Hong, keruan ia seperti mendapat rezeki nomplok, tanpa pikir lagi ia menghantam ke depan dengan telapak tangan.

Tatkala mana tenaga dalam Siau Hong sudah menyalur ke dalam tubuhnya, maka pukulan A Ci itu membawa tenaga yang mahakuat. Kontan lidah api hijau itu mengkeret kembali satu meter panjangnya.

Tentu saja Ti-sing-cu kaget. Sudah terang dilihatnya A Ci tak berdaya lagi, ibarat daging tinggal dicaplok saja, ia hendak mengerahkan tenaga lebih keras agar api hijau itu menyambar kian-kemari di depan muka anak dara itu agar ketakutan dan menjerit-jerit serta minta ampun, habis itu baru akan mencabut nyawanya.

Siapa tahu dara cilik itu memiliki lwekang sehebat itu, sekali hantam dapat mendesak lidah api tersurut hingga satu meter lebih.

Oleh karena ilmu sifat golongan Sing-siok-pay itu oleh guru mereka diajarkan secara tersendiri-sendiri kepada setiap muridnya, maka sampai di mana kepandaian sesama saudara seperguruan sukar dijajaki.

Semula mereka mengira A Ci pasti akan dimakan mentah-mentah oleh kepandaian toasuko mereka, tak tersangka sekali pukul A Ci dapat mendesak mundur lidah api hijau yang sudah dekat mukanya, keruan anak murid Sing-siok-pay yang lain sama bersuara heran.

Tapi juga tiada seorang pun yang menaruh curiga bahwa diam-diam ada orang membantu anak dara itu, mereka menyangka mungkin bakat A Ci memang lain daripada yang lain, diam-diam ilmu silatnya sudah terlatih sedemikian tingginya.

Begitulah Ti-sing-cu jadi penasaran, kembali ia kerahkan tenaga hingga api hijau itu memancar lagi ke muka A Ci, sekali ia kerahkan tenaga sepenuhnya, maka api juga menyambar cepat luar biasa.

A Ci menjerit tertahan, ia bingung entah cara bagaimana harus menahan serangan itu, lekas ia menghindar ke kiri. Untung tenaga cegatan Ti-sing-cu dari kanan-kiri tadi sudah dihapuskan hingga dia dapat berkelit tanpa rintangan, dan api hijau itu lantas membakar di atas batu dan mengeluarkan suara gemercik.

“Pukulkan tangan kirimu untuk memotong jalur apinya!” seru Siau Hong kepada A Ci dengan suara tertahan.

“Ehm, bagus akal ini!” ujar A Ci. Segera ia ayun tangan kiri ke depan, kontan suatu arus tenaga menyambar ke tengah jalur api hijau itu, di mana angin pukulan itu tiba, seketika jalur api terputus menjadi dua bagian, bagian depan karena kehilangan saluran dari belakang, sesudah terbakar sebentar di atas batu karang, perlahan lantas guram dan akhirnya padam.

Diam-diam Ti-sing-cu pikir, “Jika apiku padam, itu berarti aku akan kehilangan muka di depan para sute, mana boleh perbawaku dipatahkan begini saja?”

Segera ia mengerahkan tenaga lebih kuat, kembali ia pencarkan jalur api di atas batu yang kehilangan saluran itu.

A Ci sendiri merasa tangan yang menahan di punggung itu masih terus menyalurkan tenaga dalam yang tak terputus-putus bagaikan sumber air terjun yang membanjir, bila tenaga itu tidak lekas dikeluarkan pula, rasanya tubuh sendiri yang kecil itu seakan-akan meledak. Sebab itulah tanpa pikir lagi tangan kanan lantas menghantam pula ke depan dengan sekuatnya.

Dengan tenaga dalam Siau Hong yang hebat itu, sebenarnya kalau A Ci dapat menggunakannya dengan baik, bukan mustahil Ti-sing-cu akan dapat dikalahkannya dengan gampang. Tapi karena rasa takutnya maka pukulan itu agak gugup hingga arahnya menceng. “Pung”, lidah hijau itu seketika dapat dipadamkan olehnya, tapi Ti-sing-cu tidak terganggu seujung rambut pun.

Namun demikian sudah cukup membuat anak murid Sing-siok-pay saling pandang dengan jeri. Hanya jitsute itu yang tidak tahu gelagat, ia masih coba mengumpak sang toasuko, katanya, “Toasuko, sungguh hebat benar tenagamu, pukulan Siausumoay itu paling-paling cuma dapat memadamkan sebagian apimu yang sakti itu, masakah bisa berbuat sesuatu padamu?”

Maksudnya sebenarnya ingin menjilat pantat sang toasuko, di luar dugaan ia keliru menjilat, bagi pendengaran Ti-sing-cu pujian itu lebih mirip sindiran tajam padanya.

Mendadak lengan bajunya mengebut, api hijau tadi menyambar ke samping, “crit-crit”, secepat kilat api menyambar ke muka jitsute itu. Dan sekali api itu menjilat sasarannya, seketika mengkeret balik lagi. Namun begitu jitsute itu sudah kesakitan sekali, ia mendekap muka sendiri sambil menungging dan menjerit-jerit bagai babi hendak disembelih.

Diam-diam Siau Hong memperingatkan A Ci, “Awas, lawanmu sudah murka, kau harus hati-hati.”

Ia menggunakan ilmu mengirim gelombang suara hingga yang mendengar hanya A Ci saja, meski lwekang Ti-sing-cu itu sangat tinggi juga tak mampu mendengarnya, apalagi yang lain.

Dan benar juga, sesudah Ti-sing-cu menghajar jitsutenya, segera ia pun ayun tangannya, kembali sejalur api hijau menyambar ke arah A Ci. Sekali ini lidah api itu sangat besar hingga menimbulkan suara dahsyat, api yang menganga itu membuat A Ci merasa silau.

Khawatir kalau bayangan Siau Hong akan kelihatan di bawah cahaya api itu, cepat A Ci mengaling-aling ke depan batu lagi sambil balas memukul sekali ke depan untuk menahan desakan api hijau itu.

Karena teralang oleh tenaga pukulan A Ci, api itu tidak dapat maju lagi dan berhenti di udara, ujung api itu menyembur maju sedikit, lalu terdesak surut lagi sambil berkedip-kedip tiada hentinya.

Berulang tiga kali Ti-sing-cu mendesak sekuat tenaga, tapi selalu kena ditolak kembali oleh A Ci, keruan ia menjadi gopoh dan gusar, ia coba mengerahkan tenaga dalamnya dua kali pula dan masih tetap tidak berhasil mendesak maju, sekonyong-konyong ia merasa seram sendiri, pikirnya, “Dia… dia masih mempunyai tenaga simpanan yang cukup, kiranya sejak tadi dia sengaja mempermainkan aku. Jangan-jangan Suhu pilih kasih dan diam-diam menurunkan lwekang paling tinggi dari perguruan sendiri kepadanya? Wah, aku telah… telah tertipu olehnya!”

Begitulah sekali ia sudah ketakutan, seketika tenaganya lantas berkurang dan jalur api hijau itu pun menyurut mundur.

“Masakah aku takut padamu?” mendadak Ti-sing-cu membentak, saking nafsunya hingga suaranya sampai serak, ia kerahkan tenaga sekuatnya hingga jalur api hijau tadi berubah menjadi segulung bola api terus menerjang ke arah A Ci.

Melihat gelagat jelek, cepat A Ci hantamkan sebelah tangannya, dan ketika melihat tak dapat menahan desakan bola api itu, segera ia susulkan pukulan tangan lain, dengan tenaga pukulan kedua tangan barulah bola api itu dapat ditahan.

Maka tertampaklah sebuah bola api hijau berputar-putar di udara, segera para sutenya bersorak pula, ada yang berseru, “Ilmu sakti Toasuko sungguh hebat, sekali ini budak itu pasti akan celaka!”

“Nah, Siausumoay, kau masih berani main garang lagi? Ayolah lekas menyerah saja, boleh jadi Toasuko akan memberi jalan hidup bagimu.”

A Ci menjadi gelisah, berulang-ulang ia coba kerahkan tenaga. Tapi tenaga dalam yang disalurkan Siau Hong itu meski sangat kuat, namun adalah tenaga orang lain, untuk mengerahkannya menjadi tidak bisa sesuka hatinya.

Setelah saling bertahan sejenak, segera Ti-sing-cu tahu di mana letak kelemahan anak dara itu. Pikirnya, “Karena Suhu pilih kasih, maka dara cilik ini sangat hebat lwekangnya. Tapi caranya mengerahkan tenaga masih kurang sempurna, di kanan-kiri masih terdapat lubang kelemahan. Untung dia menjajal aku sekarang juga, coba kalau tunggu tiga-empat tahun lagi, jika ilmu pukulannya sudah sempurna, tentu aku bisa celaka.”

Berpikir sampai di sini, kembali semangatnya tergugah, tiba-tiba jari telunjuk kanan menuding dua kali dan terdengar suara letikan api dua kali, di antara api unggun itu meletik beberapa titik bunga api terus menyambar ke arah A Ci dari kanan-kiri dengan cepat luar biasa.

A Ci menjerit kaget dengan bingung. Tenaga pukulannya waktu itu sedang dipakai menahan bola api, ia tidak sempat menahan serangan bunga api itu. Dalam keadaan kepepet ia coba mengegos untuk menghindar.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: