Kumpulan Cerita Silat

19/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 39

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:09 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Cis,” Be-hujin meludah. “Perempuan hina seperti itu juga kau penujui…”

Belum habis ucapannya mendadak Siau Hong jambak rambutnya terus dibanting keras-keras ke lantai sambil mendamprat, “Berani kau olok-olok sepatah kata yang kurang hormat lagi padanya, hm, segera boleh kau rasakan siksaanku yang lebih keji.”

Karena bantingan itu, hampir-hampir Be-hujin kelengar, seluruh ruas tulangnya sampai terasa akan rontok. Mendadak ia terbahak-bahak, katanya, “Hahahaha, kiranya… kiranya Kiau-tayenghiong, Kiau-pangcu kita telah terpikat oleh anak dara itu. Hahahaha, sungguh menggelikan! Jadi Pangcu Kay-pang ingin menjadi huma-ya (menantu raja) dari putri kerajaan Tayli. Ai, Kiau-pangcu, kusangka segala wanita takkan kau pandang sama sekali, tak tahunya, hahaha…”

Dengan lemas Siau Hong duduk di atas kursi di sampingnya, tanya kemudian dengan suara rendah, “Aku memang berharap dapat memandangnya sekejap lagi, akan tetapi… akan tetapi kini tidak dapat lagi.”

“Hm, sebab apa?” jengek Be-hujin. “Jika memang betul engkau mengincar dia, dengan kepandaianmu ini masakah tak mampu merebutnya?”

Tapi Siau Hong menggeleng kepala dan tidak menjawabnya. Selang agak lama barulah ia berkata, “Biarpun mempunyai kepandaian setinggi langit juga takkan mampu merenggutnya kembali lagi.”

“Sebab apa? Hahaha!”

“Sebab dia sudah mati!”

Suara tawa Be-hujin seketika berhenti, ia agak menyesal mendengar itu. Ia merasa Kiau-pangcu yang congkak dan tinggi hati itu rada-rada kasihan juga.

Untuk sejenak kedua orang tiada yang membuka suara, keadaan hening sebentar, kemudian Siau Hong berbangkit dan berkata lagi, “Lukamu sudah terang tak bisa disembuhkan lagi, kau telah membunuh suami sendiri, dosamu kelewat takaran, biarpun aku dapat mencarikan Sih-sin-ih juga aku tidak mau mengundangnya untukmu. Nah, apa yang hendak kau katakan lagi?”

Mendengar orang bermaksud membunuhnya, Be-hujin yang tadinya garang itu menjadi ketakutan, katanya, “Amp… ampunilah diriku, jang… jangan membunuhku.”

“Baik, memang tidak perlu kuturun tangan sendiri,” ujar Siau Hong, lalu hendak tinggal pergi.

Melihat orang tanpa berpaling terus hendak melangkah pergi, kembali rasa gusar nyonya janda durhaka itu memuncak pula, ia berteriak lagi, “Kiau Hong, kau anjing keparat! Dahulu aku dendam karena kau tidak sudi memandang barang sekejap padaku, maka aku minta Tay-goan untuk membunuh kau, tapi Tay-goan tidak mau, kemudian aku menghasut Pek Si-kia membunuh Tay-goan. Dan kini… kini kau masih tetap tidak tertarik sedikit pun kepadaku!”

“Hm, kau bunuh suamimu sendiri, katanya aku yang salah lantaran tidak sudi memandang sekejap saja padamu,” jengek Siau Hong sambil membalik tubuh kembali. “Huh, dusta sebesar itu, siapakah yang mau percaya?”

“Sebentar lagi aku akan mati, buat apa kudustaimu?” sahut Be-hujin. “Hm, kau pandang rendah padaku, maka aku ingin membikin kau bangkrut habis-habisan, biar namamu rusak dan badanmu hancur. Aku telah ketemukan surat wasiat Ong-pangcu dalam peti besi Tay-goan hingga mengetahui seluk-beluk mengenai dirimu, aku minta Tay-goan supaya membongkar rahasiamu itu di depan umum agar setiap kesatria di dunia ini mengetahui dirimu ini keturunan Cidan yang biadab itu, dengan begitu jangan lagi kau akan tetap menjadi Pangcu Kay-pang, bahkan untuk menancap kaki di Tionggoan juga susah, malahan jiwamu juga akan sulit diselamatkan.”

Walaupun Siau Hong tahu wanita itu sudah tak bisa berkutik lagi, tapi demi mendengar ucapannya yang begitu keji, tanpa merasa ia mengirik juga. Tapi ia lantas menjengek, “Hm, hanya disebabkan Tay-goan Hengte tidak mau menuruti permintaanmu untuk membeberkan rahasiaku, lantas kau membunuhnya?”

“Ya, bukan saja ia tidak mau menurut permintaanku, sebaliknya ia mendamprat aku habis-habisan,” sahut Be-hujin. “Padahal biasanya ia sangat menurut kepada apa yang kukatakan, selamanya tidak pernah mendamprat aku seperti itu. Dan sekali dia bikin dendam hatiku, celakalah dia.

“Kebetulan esok paginya Pek Si-kia bertamu ke rumahku sini dan memandang padaku dengan kesengsem. Hm, laki-laki mata keranjang demikian, apa yang kukatakan tentu dilakukannya, masakah dia berani menolak?”

“Ai, seorang laki-laki perkasa sebagai Pek Si-kia akhirnya menjadi korbanmu,” kata Siau Hong dengan gegetun. “Jadi kau… kau minumkan Sip-hiang-bi-hun-san kepada Tay-goan, lalu suruh Pek Si-kia meremas tulang kerongkongannya agar orang menyangka dia dibunuh dengan ‘Soh-au-kim-na-jiu’ oleh orang she Buyung dari Koh-soh, demikian bukan?”

“Ya, memang! Hahaha, mengapa bukan begitu? Dan kejadian selanjutnya kau pun sudah tahu semua, tidak perlu kujelaskan lagi,” sahut Be-hujin dengan terbahak-bahak.

“Dan kipasku itu Pek Si-kia yang mencurinya, bukan?” tanya Siau Hong lagi.

“Hahaha, memang benar,” sahut Be-hujin.

“Dan tentang penyamaran A Cu yang begitu persis itu, mengapa dapat kau ketahui pula?” tanya Siau Hong.

“Ya, mula-mula aku juga terkesiap oleh penyamaran anak dara itu, kemudian sesudah aku berbisik beberapa kata rayuan yang dijawab oleh dia secara ngawur, maka aku lantas curiga dan mengetahui rahasianya, memangnya aku lagi ingin membunuh Toan Cing-sun, kebetulan aku dapat meminjam tanganmu,” demikian tutur Be-hujin. “Haha, Kiau Hong keparat, ilmu penyamaranmu sesungguhnya terlalu rendah, sekali kutahu pemalsuan anak dara celaka itu, segera aku pun dapat mengenalimu. Hehehe, memangnya kau kira dapat mengelabui mataku?”

“Kematian Nona Toan itu adalah gara-gara perbuatanmu, maka akan kuperhitungkan atas utangmu,” ujar Siau Hong dengan mengertak gigi.

“Dia yang datang menipu padaku, dan bukan aku yang menipu dia,” sahut Be-hujin. “Aku hanya mengikuti siasatnya hingga dia termakan senjatanya sendiri. Coba kalau dia tidak mencari padaku, bila kemudian Pek Si-kia menjadi pangcu, dengan sendirinya orang-orang Kay-pang akan bermusuhan dengan Toan Cing-sun, dan keparat she Toan itu, hehe, lambat atau cepat juga dia takkan lolos dari tanganku.”

“Hm, kau sungguh kejam, lelaki yang disukai olehmu akan kau bunuh, sedang lelaki yang tidak mau memandang dirimu juga akan kau bunuh,” kata Siau Hong.

“Habis, masakah di dunia ini ada lelaki yang tidak suka kepada wanita cantik? Huh, omong kosong belaka! Masakah di dunia ini ada laki-laki munafik seperti dirimu,” jengek Be-hujin.

Tatkala mengucapkan kejadian yang membanggakan itu, air muka Be-hujin tampak kemerah-merahan dan bersemangat, tapi akhirnya tenaganya tak tahan, suaranya mulai lemah dan napasnya mulai tersengal-sengal.

“Untuk yang terakhir cuma ingin kutanya suatu soal padamu,” kata Siau Hong kemudian. “Coba jawablah, siapakah gerangan Toako Pemimpin yang menulis surat kepada Ong-pangcu itu? Pernah kau baca surat wasiat itu, tentu kau tahu namanya.”

“Hehehe, Kiau Hong, Kiau Hong! Akhirnya kau memohon padaku atau aku yang memohon padamu?” sahut Be-hujin dengan tertawa dingin. “Kini Tay-goan sudah mati, Ci-tianglo juga sudah mampus, Tio-ci-sun telah mati pula, Tiat-bin-poan-koan Tan Cing juga sudah mati, Tam-kong dan Tam-poh pun mati semua, Ti-kong Taysu dari Thian-tay-san juga binasa, ya, semuanya sudah mati, di dunia ini kini hanya tinggi aku seorang yang tahu siapa ‘Toako Pemimpin’ penanda tangan surat wasiat itu.”

Hati Siau Hong berdebar-debar hebat, sahutnya, “Ya, memang betul, akhirnya akulah yang mesti memohon padamu, harap engkau suka memberitahukan nama orang itu padaku.”

“Jiwaku sudah hampir tamat, kebaikan apa yang akan kau berikan padaku?” sahut Be-hujin.

“Asal dapat dicapai oleh tenagaku, segala permintaanmu pasti akan kuturuti,” sahut Siau Hong.

“Apa sih yang kau inginkan lagi?” ujar Be-hujin dengan tersenyum. “Kiau Hong, aku dendam padamu karena kau tidak sudi memandang barang sekejap saja padaku hingga berakibat malapetaka seperti sekarang ini. Maka bila engkau ingin aku memberitahukan nama ‘Toako Pemimpin’ itu, hal ini tidak sulit, asal saja kau pondong aku dan pandanglah padaku untuk beberapa jam lamanya.”

Keruan Siau Hong berkerut kening, sudah tentu hatinya seribu kali tidak sudi, tetapi di dunia ini hanya dia seorang yang tahu rahasia besar itu, dendam kesumat sendiri dapat dibalas atau tidak hanya bergantung pada keterangan nyonya janda ini nanti, padahal syarat yang dia minta itu bukan sesuatu yang sulit, sekalipun syarat yang diminta itu adalah urusan mahasukar juga terpaksa akan diturutinya. Sedangkan jiwa nyonya janda itu hanya tinggal sebentar lagi dan setiap saat bisa putus napasnya, untuk memaksa atau memancingnya dengan cara lain terang tiada gunanya. Jika nanti jiwanya telanjur melayang dulu, maka itu berarti lenyaplah satu-satunya harapan untuk mencari tahu nama musuhnya itu.

Karena itu, terpaksa ia berkata, “Baiklah, akan kupenuhi keinginanmu.”

Lalu ia pondong Be-hujin dan memandang mukanya dengan sorot mata yang tajam. Tapi karena waktu itu muka Be-hujin penuh darah dan kotor pula, ditambah penderitaan selama semalam suntuk, air mukanya menjadi pucat dan jelek sekali, untuk memondong saja Siau Hong pun terpaksa, kini melihat wajah orang yang begitu rupa, mau tak mau ia berkerut kening.

Be-hujin menjadi gusar, dampratnya, “Kenapa? Kau merasa muak memandang padaku, ya?”

Terpaksa Siau Hong menjawab, “Tidak!”

Selama hidup Siau Hong tidak pernah berdusta, kini terpaksa ia mesti mengucapkan apa yang bertentangan dengan perasaannya.

“Bila benar kau tidak merasa muak padaku, cobalah mencium pipiku,” pinta Be-hujin tiba-tiba.

“Mana boleh jadi,” sahut Siau Hong tegas. “Engkau adalah istri saudaraku, Tay-goan, sebagai seorang kesatria mana boleh kugoda janda saudara angkat sendiri?”

“Hehe, kau kesatria? Kau orang sopan? Seorang alim?” demikian Be-hujin menjengek. “Tapi mengapa kau pondong diriku seperti ini…”

Pada saat itulah, mendadak di luar jendela terdengar orang mengikik tawa dan berkata, “Hihi, Kiau Hong, kau benar-benar manusia yang tidak tahu malu. Sudah membinasakan enciku, sekarang kau pondong dan hendak main gila dengan gundik ayahku, kau punya muka atau tidak?”

Jelas itulah suara A Ci.

Tapi Siau Hong merasa perbuatannya cukup dapat dipertanggungjawabkan, maka olok-olok anak kecil itu tak dihiraukannya, bahkan ia mendesak pula kepada Be-hujin, “Lekas katakan, siapakah gerangan ‘Toako Pemimpin’ itu?”

“Kuminta kau pandang mukaku, mengapa kau berpaling ke arah lain?” kata nyonya janda itu dengan suara merdu merayu.

Sementara itu A Ci sudah masuk ke dalam kamar, katanya dengan tertawa, “Hah, kiranya kau belum mampus? Mukamu jelek seperti siluman begitu, lelaki mana yang sudi memandang lagi padamu?”

“Apa katamu?” seru Be-hujin dengan suara terputus-putus. “Kau… kau bilang mukaku sejelek siluman? Cermin, mana cermin?”

“Lekas katakan, siapakah ‘Toako Pemimpin’ itu? Habis kau katakan segera kuberi cermin,” sahut Siau Hong.

Tapi A Ci sudah lantas mengambilkan sebuah cermin di atas meja dan dihadapkan ke muka Be-hujin dan berkata, “Nah, lihatlah sendiri, lihatlah apa kau cantik?”

Ketika melihat bayangan sendiri di tengah cermin itu berwujud wajah yang kotor dan berlepotan darah, cemas, takut, beringas dan penuh dendam, semua perasaan jahat dan buruk tertampak pada air muka sendiri yang tadinya cantik molek menggiurkan, seketika mata Be-hujin mendelik lebar-lebar untuk tidak pernah terpejam lagi.

“A Ci, lekas singkirkan cermin, jangan membuat dia murka,” ujar Siau Hong.

“Aku ingin dia lihat betapa cantik mukanya sendiri?” sahut A Ci.

“Jangan, kalau dia sampai mati murka, tentu urusan bisa runyam,” seru Siau Hong.

Namun segera ia merasa badan Be-hujin sudah tak berkutik lagi, napasnya juga sudah berhenti, waktu ia periksa nadinya, nyata orangnya memang sudah mati.

Keruan Siau Hong terkejut, serunya, “Wah, celaka, ia benar-benar sudah mati!”

Mendengar seruan yang mirip orang tertimpa malang itu, A Ci menjadi kurang senang, ia mencibir dan berkata, “Huh, engkau tentu sangat suka padanya, ya? Kematian perempuan bejat seperti ini masakah ada harganya untuk diributkan?”

“Ai, anak kecil tahu apa?” ujar Siau Hong sambil mengentak kaki. “Aku justru lagi tanya sesuatu padanya, di dunia ini hanya tinggal dia seorang yang tahu. Bila tidak kau ganggu urusan ini, tentu sekarang dia sudah mengaku.”

“Ai, ai, jadi aku lagi yang bersalah?” seru A Ci dengan penasaran.

Siau Hong menghela napas, ia pikir orang mati sudah tak bisa dihidupkan kembali. Bocah nakal seperti A Ci memang terlalu dimanjakan sejak kecil, sedangkan ayah-bundanya juga kewalahan, apalagi orang lain. Mengingat A Cu, biarlah aku tidak perlu mempersoalkan kejadian ini padanya.

Segera ia taruh Be-hujin di atas balai-balai dan berkata, “Marilah kita pergi!”

Ia lihat rumah itu tiada penghuni lain lagi, kaum pelayan entah sudah lari ke mana, segera ia mengeluarkan ketikan api, ia bakar rumah tinggal Be-hujin itu hingga habis.

Kemudian kata Siau Hong kepada A Ci, “Kenapa kau belum pulang ke tempat orang tuamu?”

“Tidak, aku tidak mau pulang ke sana,” sahut A Ci. “Setiap orang bawahan ayah asal melihat aku lantas mendelik, bila aku mengadukan mereka, ayah justru membela mereka malah.”

“Sungguh ngaco-belo anak kecil ini, kau yang mengakibatkan matinya Leng Jian-li, saudara angkat ayahmu yang setia itu, sudah tentu ayahmu sangat menyesal, tapi kau malah menyalahkan ayahmu tidak mau menghukum orang-orang bawahannya,” demikian pikir Siau Hong.

Segera ia berkata, “Baiklah, jika begitu aku akan pergi sekarang!”

Habis berkata, terus saja ia tinggal pergi ke arah utara.

“Hai, nanti dulu, tunggu padaku!” seru A Ci.

Siau Hong berhenti dan berpaling, sahutnya, “Kau hendak ke mana? Apa pulang ke tempat gurumu?”

“Tidak, sekarang aku belum mau pulang ke tempat Suhu sana, aku tidak berani,” sahut A Ci.

“Kenapa tidak berani?” tanya Siau Hong dengan heran. “Tentu kau telah bikin gara-gara lagi, ya?”

“Bukan gara-gara, tapi aku telah mengambil sejilid kitab milik Suhu, jika aku pulang ke sana, tentu kitab ini akan dirampasnya kembali. Maka harus tunggu sesudah aku berhasil meyakinkan ilmu dari kitab pusaka Suhu ini baru akan pulang ke sana.”

“Jika kitab ilmu silat milik suhumu, asal kau mohon beliau mengajarkan padamu, tentu juga beliau akan meluluskan permintaanmu, dengan demikian bukankah akan lebih cepat jadi daripada kau melatih sendiri tanpa petunjuk?”

Tidak, sekali Suhu bilang tidak mau, tetap dia tidak mau, biarpun kumohon juga tiada gunanya,” sahut A Ci.

Sesungguhnya Siau Hong tidak suka kepada nona cilik yang terlalu dimanjakan ini, maka akhirnya ia berkata, “Ya, sudahlah, terserah padamu, aku tak mau urus lagi.”

“Engkau hendak ke mana?” tiba-tiba A Ci bertanya.

Siau Hong menghela napas sambil memandang api yang berkobar menghabiskan rumah Be-hujin itu, sahutnya kemudian, “Seharusnya aku menuntut balas sakit hatiku, tapi aku tidak tahu siapakah gerangan musuhku. Selama hidupku ini terang sakit hatiku tak bisa terbalas lagi.”

“Ah, tahulah aku,” seru A Ci. “Sebenarnya Be-hujin itu tahu siapa musuhmu itu, tapi telanjur mati dan sejak kini engkau tidak tahu lagi siapakah musuhmu. Hihihi, sungguh lucu, sungguh menarik, Kiau-pangcu yang namanya tersohor di seluruh jagat kini benar-benar telah kubikin kewalahan hingga mati kutu.”

Sungguh Siau Hong ingin persen sekali tamparan pada muka anak dara itu, tapi segera ia teringat kepada pesan tinggalan A Cu yang minta dia menjaga baik-baik saudara sekandung satu-satunya itu, maka hati Siau Hong seketika lemas lagi. Pikirnya, “Betapa pun aku harus melaksanakan pesan A Cu. Sekalipun nona cilik ini sangat nakal dan kejam pula, aku harus berusaha memperbaiki dia, apalagi dia masih terlalu muda, masih kekanak-kanakan.”

Dalam pada itu demi melihat sikap Siau Hong yang semula beringas itu, A Ci lantas bersitegang leher malah, tantangnya, “Mau apa kau? Apa hendak membunuhku sekalian? Kenapa tidak turun tangan? Enciku sudah kau hantam mati, apa alangannya jika kau bunuh aku pula?”

Ucapan itu mirip sebilah belati menikam hulu hati Siau Hong, dengan rasa duka ia tak dapat bicara lagi, segera ia membalik tubuh dan tinggal pergi dengan langkah lebar.

“He, nanti dulu, engkau hendak ke mana?” seru A Ci pula dengan tertawa sambil menyusul.

“Daerah Tionggoan sudah bukan tempat tinggalku lagi, aku akan pergi jauh ke utara sana, selamanya takkan kembali lagi,” sahut Siau Hong.

“Dan melalui mana?” tanya A Ci sambil miringkan kepalanya dari samping.

“Lebih dulu aku akan pergi ke Gan-bun-koan,” sahut Siau Hong.

“Wah, kebetulan, aku akan pergi ke Cinyang, kebetulan kita satu jurusan.”

“Untuk apa kau pergi ke Cinyang? Tempat sejauh itu, seorang nona cilik seperti dirimu buat apa ke sana sendirian?”

“Hah, jauh apa segala? Aku datang dari Sing-siok-hay, bukankah lebih jauh lagi? Aku kan punya teman perjalanan seperti dirimu, mengapa bilang aku sendirian?”

“Tidak, aku tak mau mengawani kau.”

“Sebab apa?”

“Aku seorang laki-laki, sebaliknya kau seorang nona muda, kurang bebas untuk menempuh perjalanan bersama, terutama pada waktu bermalam.”

“Sungguh lucu ucapanmu ini, aku sendiri tidak menyatakan keberatan, mengapa malah engkau yang bilang kurang bebas? Dulu bukankah kau pun menempuh perjalanan jauh dengan enciku, siang dan malam selalu bersama?”

“Aku dan encimu sudah mempunyai ikatan perjodohan, tak dapat disamakan dengan orang lain.”

“Ai, siapa tahu jika kau pun meniru seperti ayahku dan enci seperti ibuku, belum menikah sudah menjadi suami-istri lebih dulu.”

“Tutup mulutmu!” bentak Siau Hong dengan gusar. “Sampai matinya encimu tetap masih seorang nona yang suci bersih, aku pun selamanya sopan santun dan menghormati dia.”

“Apa gunanya engkau membentak-bentak padaku? Pendek kata enciku toh sudah kau pukul mati, apa mau dikatakan lagi? Marilah kita berangkat!”

Mendengar ucapan “pendek kata enciku toh sudah kau pukul mati”, seketika hati Siau Hong lemas lagi. Katanya kemudian, “Lebih baik kau pulang ke Siau-keng-oh untuk ikut ibumu saja, kalau tidak, carilah suatu tempat untuk meyakinkan ilmu yang tertera dalam kitab pusaka gurumu itu, sesudah berhasil, lalu pulang ke tempat gurumu. Apa gunanya kau pergi ke Cinyang?”

“Kepergianku ke sana bukan untuk pesiar, tapi ada urusan penting,” sahut A Ci dengan sungguh-sungguh.

Tapi Siau Hong goyang kepala, katanya, “Tidak, aku tak mau membawamu ke sana.”

Habis berkata, terus saja ia melangkah dan berlari cepat ke depan. Tapi dengan ginkangnya segera A Ci menyusul sambil berteriak-teriak, “Tunggu, tunggulah aku!”

Namun Siau Hong tak gubris lagi padanya, ia tetap melanjutkan jalannya dengan cepat.

Tidak lama kemudian, angin utara meniup makin kencang, malahan hujan salju pula. Tapi Siau Hong masih terus lari di bawah angin dan salju hingga akhirnya A Ci ketinggalan jauh.

Kira-kira lebih 30 li jauhnya, sampailah ia di suatu kota, itulah Tiang-pek-koan, suatu tempat penting di utara Sinyang. Dan tujuan pertama yang dicari Siau Hong adalah kedai arak. Begitu ia masuk ke suatu restoran, segera ia minta disediakan 10 kati arak putih, lima kati daging, dan seekor ayam, ia makan-minum sendiri. Habis 10 kati arak segera ia minta tambah lima kati lagi.

Tengah Siau Hong asyik minum sendiri, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang dan tahu-tahu masuklah A Ci.

Melihat anak dara itu, kembali Siau Hong berkerut kening, pikirnya, “Nona cilik ini akan mengacaukan nafsu makanku lagi.”

Maka ia sengaja menoleh ke arah lain dan pura-pura tidak melihatnya.

A Ci hanya tersenyum saja, ia duduk menyanding meja lain di depan Siau Hong dan berseru, “Hai, pelayan, ambilkan arak!”

Cepat pelayan mendekatinya dan menyapa dengan tertawa, “Nona cilik, apa engkau juga ingin minum arak?”

“Kalau panggil nona ya nona saja, mengapa pakai ‘cilik’ apa segala?” semprot A Ci mendadak. “Sudah tentu aku pun minum arak. Lekas sediakan 10 kati arak, potongkan lima kati daging rebus dan seekor ayam gemuk. Lekas, lekas!”

“Haya!” seru si pelayan sambil melelet lidah sampai lama. “Nona ini sungguh-sungguh atau bergurau, masakah makan-minum sebanyak itu?”

Sembari berkata ia pun melirik ke arah Siau Hong dan membatin, “Itu dia, orang sengaja hendak menandingimu, apa yang kau makan dan apa yang kau minum, orang juga minta disediakan serupa.”

Dalam pada itu A Ci telah menjawab, “Kenapa kau rewel? Kau khawatir aku habis makan tidak bayar ya?”

Segera ia mengeluarkan sepotong uang perak dan dibanting ke atas meja sambil berseru, “Ini cukup tidak? Kalau aku tak bisa menghabiskan makananku nanti, apa tidak dapat kuberikan pada anjing? Perlu apa kau ikut khawatir?”

Dengan tersipu-sipu si pelayan mengiakan dan kembali ia melirik lagi ke arah Siau Hong sambil berkata dalam hati, “Nah, kau dengar, orang sengaja memusuhimu, omongnya secara tak langsung sengaja memaki kau.”

Sebentar kemudian daharan yang dipesan A Ci telah dihidangkan, si pelayan membawakan sebuah mangkuk besar dan ditaruh di depan si gadis, katanya dengan tertawa, “Nona, biarlah kutuangkan arak untukmu.”

“Baik,” sahut A Ci sambil mengangguk.

Segera si pelayan menuang semangkuk penuh arak putih, katanya di dalam hati, “Jika kau mampu habiskan semangkuk ini, mustahil kau tidak menggeletak.”

Maka tertampak A Ci mengangkat mangkuk arak itu dan ditempelkan ke bibir, tapi baru dia menjilatnya setitik, segera ia berkerut kening dan berseru, “Ai, pedas sekali arak ini? Kenapa arak ini begini rasanya, hanya manusia goblok di dunia yang sudi minum arak semacam ini!”

Si pelayan coba melirik Siau Hong sekejap, ia lihat tamunya itu tetap tidak gubris ocehan si gadis, diam-diam ia heran dan geli pula.

Lalu A Ci comot sepotong paha ayam terus digerogoti. Tapi baru masuk mulut segera ia semburkan dan berseru, “Fruuh, busuk, busuk!”

“Ai, ai! Ayam gemuk ini baru saja disembelih, masakah Nona bilang busuk, tidak mungkin!” sahut si pelayan dengan penasaran.

“Habis kalau bukan bau busuk dari daging ayam ini, tentu badanmu yang bau busuk, jika bukan lagi, tentu badan tetamu lain yang berbau busuk,” seru A Ci.

Tatkala itu hujan salju masih turun dengan derasnya, di dalam restoran itu hanya Siau Hong dan A Ci saja. Maka cepat si pelayan menjawab dengan tertawa, “Ya, ya, badanku barangkali yang berbau busuk. Ai, Nona, hati-hatilah bicara, janganlah engkau menyinggung kehormatan tuan yang lain.”

“Mau apa? Kalau orang lain tersinggung apakah aku akan dipukul mampus?” jengek A Ci. Sambil berkata ia terus menyumpit sepotong daging sapi dan dimasukkan ke mulut.

Tapi belum lagi daging itu dikunyah mendadak ia semburkan pula dan berteriak-teriak, “Hai, pelayan, mengapa daging ini rasanya kecut? Ini bukan daging sapi, tapi daging manusia! Tentu restoranmu ini adalah rumah jagal manusia!”

Keruan si pelayan menjadi gugup oleh teriakan A Ci itu, cepat ia menjawab, “Ai, Nona, hendaklah engkau bermurah hati, janganlah membikin susah kami. Daging itu adalah daging sapi yang segar, mengapa dikatakan daging manusia? Daging manusia masakah punya serat sekasar itu, warnanya juga tidak kemerah-merahan segar begini?”

“Bagus, bagus! Kau bilang ini adalah serat dan warna daging manusia. Nah katakan, restoranmu ini sudah menjagal berapa banyak manusia?” seru A Ci.

“Ai, Nona memang suka berkelakar,” sahut si pelayan dengan tertawa. “Restoran kami ini sudah bersejarah lebih 40 tahun lamanya di kota ini, masakah mungkin menjagal dan menjual daging manusia?”

“Baiklah, anggaplah ini bukan daging manusia, tapi baunya juga busuk, hanya orang tolol yang mau makan daging begini,” kata A Ci. “Wah, sepatuku kotor kena debu.”

Habis berkata, ia comot sepotong Ang-sio-bak (daging sapi saus tomat) yang berbau lezat dan dipakai menggosok sepatu kulitnya. Memangnya sepatunya agak kotor terkena tanah salju, karena digosok oleh masakan daging yang berminyak itu, seketika kulit sepatu itu bersih mengilap.

Melihat cara si nona yang begitu royal, masakah Ang-sio-gu-bak yang dimasak oleh kokinya yang terkenal itu hanya digunakan untuk lap sepatu, keruan si pelayan merasa sangat sayang, berulang-ulang ia menghela napas gegetun di samping.

“Kau gegetun apa?” tanya A Ci tiba-tiba.

“Habis, Ang-sio-gu-bak buatan restoran kami ini adalah salah satu hidangan yang tiada bandingannya di kota ini, tapi kini Nona menggunakannya untuk lap sepatu, bukankah ini agak… agak…”

“Agak apa?” desak A Ci dengan mendelik.

“Agak tidak menghargai masakan itu,” sahut si pelayan.

“O, kau maksudkan kurang menghargai sepatuku?” kata A Ci. “Padahal daging sapi berasal sapi, kulit sepatu juga berasal dari sapi, rasanya juga tak bisa dikatakan kurang menghargai. Eh, pelayan, masakan lezat apa lagi yang tersedia di restoranmu ini? Coba terangkan.”

“Masakan enak sudah tentu masih banyak, cuma harganya agak mahal,” sahut si pelayan.

Kembali A Ci mengeluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan ke atas meja, “Ini cukup tidak untuk membayar?”

“Cukup, cukup, lebih dari cukup!” cepat si pelayan menjawab dengan menyengir. “Tentang masakan enak spesial dari restoran kami ini masih ada ‘Theng-jo-le-hi’ (ikan gurami masak asam), ‘Pek-jiat-yo-ko’ (daging kambing masak), ‘Ca-keh’ (ayam goreng), ‘Cio-ti-bak’ (babi kecap) dan…”

“Bagus, nah setiap macam sediakanlah tiga porsi,” kata A Ci.

“Hah, setiap macam tiga porsi?” si pelayan menegas. “Jika Nona ingin mencicipi saja kurasa masing-masing satu porsi kan sudah lebih dari cukup.”

“Sekali kukatakan tiga porsi, peduli apa denganmu?” damprat A Ci.

“Ya, ya!” cepat si pelayan menyahut. Dan segera ia menggembor ke arah dapur, “Tiga porsi ‘Theng-jo-le-hi’! Tiga porsi…”

Sejak tadi diam-diam Siau Hong mengikuti tingkah laku A Ci itu. Ia tahu dara cilik itu sengaja main gila dengan si pelayan, tapi tujuan yang sebenarnya adalah ingin memancing dirinya ikut bicara. Tapi ia justru sengaja tidak gubris padanya, ia masih tetap minum araknya sendiri.

Selang tak lama, daging kambing masak yang dipesan A Ci itu telah dihidangkan lebih dulu, jumlahnya tiga porsi.

“Satu porsi taruh di mejaku, satu porsi taruh di meja tuan itu dan satu porsi taruh di meja sebelah sana,” demikian A Ci memberi perintah. “Dan sediakan pula sendok dan sumpit di meja sana dengan arak pula.”

“Apakah masih ada tamu lain yang akan datang?” si pelayan bertanya.

A Ci mendelik lagi, dampratnya, “Sejak tadi kau suka cerewet saja, awas bila kupotong lidahmu!”

“Ai, galaknya!” omel si pelayan sambil menjulur lidah. “Untuk memotong lidahku ini mungkin Nona tidak punya kemampuan itu.”

Hati Siau Hong tergerak, ia melototi pelayan itu sekejap dan membatin, “Ini namanya cari mampus sendiri, masakah kau berani omong cara begitu terhadap iblis cilik ini?”

Sementara itu si pelayan telah membagi-bagikan porsi daging kambing di tiga meja yang ditunjuk. Siau Hong juga tidak ambil pusing, porsi yang diaturkan kepadanya itu segera disikatnya tanpa sungkan lagi.

Sejenak kemudian, daharan yang lain berturut-turut dihidangkan pula, tiap-tiap macam tiga porsi satu porsi buat Siau Hong, satu porsi ditaruh meja A Ci sendiri dan porsi lain ditaruh di meja yang masih kosong.

Siau Hong juga tidak menolak, setiap hidangan yang diaturkan padanya, semuanya dilalap habis.

Sebaliknya A Ci masih seperti tadi, setiap hidangan hanya dicicipi satu sumpit dua sumpit, lalu mencela, “Huh, busuk, bau! Hanya cocok untuk makanan anjing dan babi!”

Habis itu, terus saja ia comot daging kambing, ikan gurami dan lain-lain untuk menggosok sepatunya. Meski si pelayan menyesal setengah mati tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.

Siau Hong sendiri sedang memandang keluar jendela sambil berpikir, “Dara cilik ini benar-benar sangat menjemukan, kalau sampai tergoda, wah tentu akan runyam. Tapi A Cu minta padaku agar menjaganya, padahal anak dara ini adalah setan cerdik, untuk menjaga diri sendiri jauh lebih dari cukup, hakikatnya tidak perlu kupikirkan dia, maka lebih baik aku menghindari dia saja.”

Tengah termenung, tiba-tiba dilihatnya dari kejauhan di tanah salju sana ada seorang sedang mendatang. Cara berjalan orang sangat aneh, kakinya kaku bagaikan kayu, dengkulnya tidak menekuk, jadi tampaknya seperti meluncur saja di atas salju.

Pakaian orang itu pun sangat aneh, meski musim dingin, yang dipakai hanya sehelai baju tipis dari kain belacu yang kasar.

Hanya sebentar saja orang itu sudah mendekat, maka dapatlah Siau Hong melihat jelas, usia orang kurang-lebih 40 tahun, kedua daun telinga memakai anting-anting emas dalam bentuk ring bundar dan besar, berhidung lebar dan besar mirip hidung singa serta bermulut tebal, mukanya sangat bengis dan aneh, terang bukan bangsa Tionghoa umumnya.

Sesampai di depan restoran, orang itu lantas melangkah masuk. Ketika melihat A Ci juga berada di situ, orang itu agak melengak, tapi lantas bergirang, tampaknya ingin bicara, tapi urung. Lalu mengambil tempat duduk di meja dekat pintu.

“Di situ sudah tersedia daging dan arak, mengapa tidak dimakan?” tiba-tiba A Ci berkata.

Melihat meja yang tersedia daharan dan belum ada tetamunya, segera orang aneh itu menjawab, “O, untuk aku? Terima kasih, Sumoay.”

Habis berkata, tanpa sungkan-sungkan lagi ia ambil tempat duduk menghadapi meja yang siap dengan hidangan itu, ia mengeluarkan sebilah pisau emas kecil, segera ia potong daging kambing dan dimakan.

Yang paling aneh adalah pada waktu makan ikan gurami itu, sekali potong terus dimasukkan ke dalam mulut, ia kunyah-kunyah dan ditelan seluruhnya, jadi tulang ikan juga ikut amblas ke dalam perutnya. Kemudian ia tenggak pula arak yang tersedia, tampaknya kekuatan minumnya boleh juga.

“Kiranya orang adalah suheng A Ci, jika begitu ia juga murid si iblis tua Sing-siok-hay,” demikian pikir Siau Hong. Sebenarnya ia tidak suka kepada muka dan potongan orang aneh itu, tapi demi melihat takaran minumnya masih boleh juga, ia merasa orang toh tidak begitu menjemukan.

Sementara itu poci arak yang disediakan sudah habis ditenggak oleh laki-laki aneh itu. Segera A Ci berkata kepada pelayan, “Bawalah arak ini kepada tuan yang baru datang itu.”

Sembari berkata ia terus masukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk araknya, ia cuci bersih minyak dan kuah yang mengotori tangannya itu, lalu menyodorkan mangkuk arak itu kepada si pelayan.

Keruan si pelayan menjadi ragu, masakah arak yang telah dipakai cuci tangan disuruh minum orang?

Melihat sikap pelayan itu, A Ci mendesak lagi, “Ayo, lekas bawa ke sana, orang sedang menunggu.”

“Ai, kembali Nona bergurau lagi,” ujar si pelayan dengan tertawa. “Masakah arak ini dapat diminum?”

“Kenapa?” tiba-tiba A Ci menarik muka. “Apa kau kira tanganku kotor? Baiklah, begini saja, asal kau minum seceguk arak ini, segera kupersen satu tahil perak padamu.”

Bersama itu ia taruh sepotong uang perak di atas meja.

Dasar mata duitan, si pelayan menjadi girang, katanya, “Minum seceguk arak dengan persen satu tahil perak. Wah, bagus sekali! Jangankan cuma air cuci tangan, biarpun air cucian kaki Nona juga akan kuminum.”

Habis berkata, terus saja ia angkat mangkuk arak itu dan diminum seceguk.

Di luar dugaan, baru arak itu masuk mulut, seketika ia merasa lidahnya bagai dibakar panasnya, sakitnya tidak kepalang. Kontan saja pelayan itu terbatuk-batuk dan semburkan kembali arak itu. Saking kesakitan sampai ia berjingkrak-jingkrak sambil berteriak-teriak, “Aduh! Tolong! Aduh mak! Tolong!”

Siau Hong kaget juga melihat kejadian itu. Ia dengar suara teriakan si pelayan makin lama makin parau dan tambah samar-samar, terang lidahnya menjadi bengkak.

Mendengar ribut-ribut itu, seketika pengurus restoran, koki, tukang api dan lain-lain sama lari keluar dan bertanya, “Ada apa? Ada apa?”

Tapi pelayan itu sudah tidak sanggup bicara lagi, kedua tangannya mencakar-cakar muka sendiri, akhirnya ia menjulurkan lidah dan ternyata lidah itu sudah bengkak dan tiga kali lebih besar daripada biasanya, warnanya matang biru.

Kembali Siau Hong terkejut, itulah tanda keracunan yang hebat, sungguh tidak nyana arak yang hanya dibuat cuci tangan A Ci bisa begitu lihai racun yang ditaruhnya.

Kamerad si pelayan restoran menjadi khawatir melihat lidah kawannya itu, mereka sibuk bertanya, “Wah, kena racun apakah lidahmu itu?”

“He, apakah lidahmu tersengat oleh ketungging?”

“Ai, celaka! Lekas, lekas mengundang sinshe!”

Dalam pada itu si pelayan sudah berubah menjadi bisu. Mendadak ia mendekati A Ci, ia berlutut terus menjura berulang-ulang.

A Ci tertawa, tanyanya, “Ai, mengapa kau begini menghormati diriku? Ada apakah?”

Pelayan itu menengadah dan menuding lidah sendiri, lalu menjura pula tiada berhentinya.

“O, apa kau minta disembuhkan?” tanya A Ci dengan tertawa.

Namun saking kesakitan pelayan itu sudah mandi keringat, kedua tangannya menjambak-jambak rambut sendiri, sebentar menjura, sebentar soja, sebentar bangun, sebentar berlutut lagi. Ia kerupukan bagai orang sekarat.

Akhirnya A Ci mengeluarkan sebilah pisau kuning emas yang kecil, bentuk pisau itu mirip benar dengan pisau yang dipegang si orang aneh tadi. Mendadak A Ci pegang kuduk si pelayan dan ditarik ke belakang hingga pelayan itu menengadah, sekali pisaunya bekerja, “sret”, kontan lidah pelayan itu dipotongnya sebagian.

Keruan para penonton sama menjerit kaget. Seketika darah pun mancur dari lidah yang putus itu.

Semula si pelayan juga kaget, siapa duga sesudah darah mengucur keluar, segera racun pun hilang, rasa sakitnya juga lenyap seketika. Hanya sebentar saja lidah yang bengkak itu pun pulih kembali seperti semula.

Kemudian A Ci mengeluarkan sebuah botol kecil, ia buka sumbat botol dan cukit sedikit obat bubuk warna kuning dengan kuku jari dan dibubuhkan di atas luka lidah si pelayan. Aneh juga, begitu dibubuhi obat, kontan darahnya lantas mampat.

Keruan si pelayan menjadi serbarunyam dan bingung, apakah ia mesti gusar atau mesti berterima kasih kepada anak dara itu? Ia hanya dapat berkata, “Kau… kau…”

Tapi karena lidahnya terpotong sebagian, ucapannya menjadi pelat, tidak jelas.

A Ci pegang-pegang uang perak yang ditaruh di atas meja tadi dan berkata pula, “Tadi kukatakan soal minum seceguk arak lantas kupersen satu tahil perak, tapi belum lagi arak tadi masuk perutmu sudah kau tumpahkan kembali, maka tadi itu tak bisa dianggap, jika mau coba boleh kau minum lagi.”

“Ti… tidak, aku… aku tak mau minum lagi…” demikian jawab si pelayan dengan samar-samar sambil goyang-goyang kedua tangannya.

A tertawa. Ia simpan kembali sang perak itu dan katanya, “Apakah kau masih ingat ucapanmu tadi? Kalau tidak salah kau bilang ‘Untuk memotong lidahku mungkin Nona belum mampu’, betul tidak? Dan sekarang kau sendiri yang menjura dan minta kupotong lidahmu, apakah nonamu mempunyai kemampuan itu atau tidak?”

Baru sekarang si pelayan sadar gara-gara ucapannya tadi itulah telah mendatangkan bencana bagi diri sendiri.

Keruan ia sangat murka dan sakit hati, kalau bisa ia ingin melabrak sepuas-puasnya anak dara itu, tapi ia menjadi takut ketika ingat di meja lain masih ada dua orang lelaki yang sudah terang adalah begundal anak dara ini.

“Eh, kau minum lagi atau tidak?” demikian A Ci tanya pula padanya.

Dengan gusar si pelayan menjawab, “Lo… Locu tidak…”

Tapi baru sekian ucapannya ia jadi ketakutan kalau-kalau diselomoti orang lagi karena makiannya itu, dengan gusar dan jeri cepat ia lari ke ruangan belakang untuk seterusnya tidak berani keluar lagi.

Suasana kembali tenang, pengurus restoran telah memberi ganti seorang pelayan lain. Tapi karena menyaksikan kejadian tadi, pelayan baru ini pun kapok dan tidak berani sembarangan omong.

Siau Hong merasa gusar sekali oleh kekejaman A Ci itu, masakah si pelayan itu hanya berkelakar begitu saja mesti dibikin cacat untuk selamanya, sungguh keterlaluan.

Dalam pada itu terdengar A Ci telah berkata pula sambil menunjuk lelaki aneh tadi, “Pelayan, bawalah arak ini untuk tuan itu.”

Si pelayan baru memang lagi kebat-kebit waktu A Ci menunjuk mangkuk araknya, kini mendengar bahwa arak itu supaya diberikan kepada lelaki berhidung singa itu, ia bertambah takut.

“He, kenapa kau diam saja?” tegur A Ci dengan tertawa ketika melihat si pelayan ragu-ragu. “Eh, barangkali kau sendiri ingin minum, ya? Ah, boleh juga, ayolah minum.”

Keruan pelayan itu ketakutan setengah mati, cepat ia menjawab, “Ti… tidak… tidak, hamba ti… tidak mau.”

“Jika begitu lekas bawa untuk tuan itu,” kata A Ci.

“Ya, ya!” cepat si pelayan menurut. Dengan tersipu-sipu ia angkat mangkuk arak itu dengan tangan dan dipindah ke meja si lelaki berhidung singa. Saking gugupnya hingga kedua tangan si pelayan bergemetaran, untung araknya tidak muncrat keluar.

Lelaki hidung singa itu pun tidak menolak, ia angkat mangkuk arak itu, tapi tidak lantas diminum, ia pandang lekat-lekat arak di dalam mangkuk.

“Kenapa, Jisuko?” tanya A Ci dengan tertawa. “Aku menyuguh arak padamu, apakah engkau tidak mau minum?”

Diam-diam Siau Hong membatin, “Arakmu itu beracun jahat luar biasa, sudah tentu orang itu tidak mau menjadi korbanmu. Biarpun lwekangnya sangat tinggi juga belum tentu mampu menolak racun di dalam arak itu.”

Di luar dugaan, sesudah sekian lamanya orang berhidung singa itu tertegun, mendadak ia tempelkan mangkuk arak itu ke bibirnya dan segera ditenggaknya hingga habis isinya.

Keruan Siau Hong terkejut, pikirnya, “Apa betul lwekang orang ini sedemikian hebatnya hingga mampu menghapuskan racun dalam arak itu?”

Tengah ia sangsi, ia lihat orang berhidung singa itu telah menaruh kembali mangkuk arak di atas meja, dua jari jempolnya kelihatan basah dan diusap-usapkan pada bajunya.

Melihat itu, sedikit pikir saja Siau Hong lantas tahu duduknya perkara, “Ya, besar kemungkinan ia telah berhasil meyakinkan ‘Hoa-tok-hay-hoat’ (Ilmu Menghapus Racun) ajaran iblis tua Sing-siok-hay, maka sebelum dia minum arak itu, lebih dulu ia rendam kedua jari jempol di dalam arak sambil memandang sekian lamanya, tentu waktu itulah ia telah hapuskan racun jahat di dalam arak, dengan demikian ia tidak takut lagi untuk menenggaknya hingga habis.”

Rupanya hal itu juga di luar dugaan A Ci, gadis itu agak gugup juga dan lekas-lekas berkata dengan tersenyum ewa, “Wah, rupanya kepandaian Jisuko telah maju pesat sekali. Terimalah pemberian selamat dariku ini.”

Orang itu tidak gubris padanya lagi, segera ia melanjutkan makan minum, ia sapu bersih daharan yang disediakan itu, habis itu ia berbangkit sambil tepuk-tepuk perutnya yang sudah penuh terisi itu, lalu katanya, “Nah, marilah berangkat!”

“O, ya, silakan! Sampai berjumpa pula!” kata A Ci.

Keruan orang itu melengak, kedua matanya yang besar sebelah itu mendelik, katanya, “Sampai berjumpa apa? Maksudku kau pun ikut berangkat bersamaku!”

“Aku tidak mau,” sahut A Ci sambil goyang-goyang kepala. Lalu ia mendekati Siau Hong dan berkata pula, “Aku sudah berjanji dulu dengan Toako ini untuk pesiar ke Kanglam.”

“Bedebah siapa dia?” tanya orang berhidung singa itu sambil melotot sekejap kepada Siau Hong.

“Bedebah apa? Dia adalah cihuku (suami kakakku), tahu? Kami adalah sanak famili terdekat,” kata A Ci.

“Kau sudah memberi persoalannya dan aku sudah memberi jawabannya, maka sekarang kau harus menurut perintahku, kau berani melanggar peraturan perguruan kita?” teriak orang itu.

“Kiranya A Ci menyuruh dia minum arak beracun tadi merupakan suatu soal ujian sulit baginya, di luar dugaan soal itu telah dijawabnya hingga lulus,” demikian Siau Hong membatin.

Maka terdengar A Ci menjawab, “Siapa bilang aku memberikan soal ujian bagimu? Apa kau maksudkan minum arak tadi? Hahahaha, sungguh menggelikan! Bukankah kau lihat sendiri, arak itu kusuruh minum si pelayan tadi. Siapa duga sebagai ahli waris Sing-siok-hay kau pun sudi minum arak restan busuk pelayan itu. Hahaha, sedangkan seorang pelayan saja tidak mampus minum arak itu, kemudian engkau menghabiskannya, apanya sih yang hebat? Coba jawab, sedangkan pelayan itu saja tidak mati minum arak itu, apakah mungkin aku menguji dirimu dengan arak beracun?”

Sebenarnya ucapan A Ci itu terlalu ingin menang sendiri, untuk mendebatnya juga tidak sudah. Tapi orang berhidung singa itu rupanya tidak mau membantah, dengan menahan gusar ia berkata, “Suhu memberi perintah agar aku membawamu pulang, kau berani membangkang pada perintah guru?”

“Suhu paling sayang padaku, asal nanti Jisuko menyampaikan pada beliau bahwa aku telah bertemu dengan cihuku di tengah jalan serta pergi pesiar bersamanya ke Kanglam, nanti kalau kupulang akan kubawakan oleh-oleh yang bagus bagi beliau,” demikian sahut A Ci dengan tertawa.

“Tidak, kau harus ikut pulang, kau telah mengambil…” bicara sampai di sini orang itu tidak melanjutkan lagi, ia melirik ke arah Siau Hong seperti khawatir rahasianya didengar orang luar. Dan sesudah merandek sejenak, lalu ia melanjutkan, “Suhu sangat marah dan kau diharuskan segera pulang.”

“Jisuko,” demikian A Ci memohon, “sudah tahu Suhu lagi marah, mengapa engkau tega memaksa aku pulang, bukankah aku akan dihajar oleh beliau? Awas, jika Jisuko memaksa, kelak kalau Jisuko dihukum Suhu, tentu aku pun tidak mau memintakan ampun lagi bagimu.”

Rupanya ucapan A Ci yang terakhir ini agak memengaruhi pikiran si lelaki hidung singa itu, mungkin anak dara itu memang sangat disukai dan dimanjakan oleh gurunya, si iblis tua, Sing-siok-hay, segala apa yang dia minta selalu diluluskannya.

Maka sesudah pikir sejenak, segera orang aneh itu berkata, “Jika engkau berkeras tidak mau pulang, boleh juga kau serahkan kedua macam barang itu padaku, dengan begitu dapatlah aku mempertanggungjawabkan tugasku kepada Suhu dan mungkin kemarahan beliau dapat diredakan.”

“Apa katamu? Dua macam barang apa? Sungguh aku tidak paham,” ujar A Ci.

Mendadak orang berhidung singa itu menarik muka, sahutnya, “Sumoay, jika aku tidak mau main kasar padamu adalah karena mengingat sesama saudara seperguruan, tapi kau sendiri harus bisa membedakan antara yang baik dan jelek.”

“Sudah tentu aku bisa membedakan,” sahut A Ci. “Engkau menemani aku makan-minum adalah baik, tapi engkau memaksa aku pulang ke tempat Suhu itulah yang jelek.”

“Pendek kata kau mau serahkan kedua macam barang itu atau tidak? Atau mau ikut pulang saja?” desak pula orang itu.

“Aku tidak mau pulang juga tidak tahu barang apa yang kau inginkan,” sahut A Ci. “O, barangkali kau ingin membawa sesuatu barangku ini? Baiklah! Nah, boleh kau bawa tanda pengenalku, ini tusuk kundaiku.”

Sembari berkata ia terus ambil sebentuk tusuk kundai dari sanggulnya.

“Jangan berlagak pilon, Sumoay! Apa kau paksa aku harus turun tangan?” desak pula orang itu sambil melangkah maju.

A Ci kenal betapa lihai kepandaian sang suheng, ia tahu bukan tandingannya, apalagi ilmu silat golongan Sing-siok-hay mereka itu sangat ganas, sekali turun tangan tanpa kenal ampun lagi, kalau tidak mati tentu terluka parah, kalau terluka parah tentu akan tersiksa oleh racun jahat dan akhirnya juga akan mati lebih mengerikan.

Sebab itulah di antara sesama saudara seperguruan mereka tidak pernah saling latih, begitu pula di antara guru dan murid juga tidak pernah menjajaki kepandaian masing-masing.

Pada waktu iblis tua Sing-siok-hay mengajar muridnya juga dipisah-pisahkan di tempat yang berlainan, setiap murid juga berlatih tersendiri dan saling tidak tahu sampai di mana kepandaian masing-masing. Hanya kalau bertemu musuh dan di situlah baru diketahui tinggi atau rendah kepandaiannya.

A Ci sendiri pernah menyaksikan jisuheng itu membinasakan tujuh bandit besar di perbatasan Sujwan dan Tibet, betapa ganas cara turun tangannya benar-benar sangat keji, maka betapa pun ia merasa jeri juga bila sang suheng benar-benar turun tangan dan main paksa padanya.

Menurut peraturan perguruan mereka, sekali A Ci sudah menjajal sang suheng dengan arak berbisa, itu berarti suatu tantangan yang luar biasa, sebab kalau suheng yang berhidung singa itu mengaku kalah, maka selama hidupnya akan selalu berada di bawah perintah A Ci.

Tapi kini ia telah lulus dari ujian, ia telah minum habis arak berbisa si A Ci tadi, menurut aturan itu berarti A Ci sudah kalah dan tidak boleh melawan perintahnya lagi.

Tahu gelagat jelek, segera A Ci menarik-narik lengan baju Siau Hong sambil berseru, “Cihu, tolong, Cihu! Dia akan menyerang aku. Cihu, tolong Cihu!”

Berulang-ulang dipanggil “cihu”, hati Siau Hong menjadi lemas, teringat pula pesan tinggalan A Cu tempo hari, segera ia bermaksud menghalaukan lelaki berhidung singa itu.

Tapi sekilas dilihatnya darah yang berceceran di lantai, yaitu darah lidah si pelayan yang terpotong tadi, kembali Siau Hong merasa anak dara itu terlalu gapah tangan, kalau sekarang dibiarkan ketakutan dulu, agar dia agak kapok dan kelak takkan berani terlalu nakal. Maka ia sengaja tinggal diam saja dengan memandang jauh keluar jendela.

Melihat si A Ci minta bantuan kepada Siau Hong, lelaki hidung singa itu pikir dara cilik itu harus dibikin takut, untuk mana jago yang diandalkan harus dibikin keok dulu, dengan demikian tentu dara cilik itu akan ikut pulang dengan menurut. Maka tanpa bicara lagi segera ia pegang pergelangan tangan kiri Siau Hong terus dipencet.

Dalam pada itu sebenarnya Siau Hong sudah siap, begitu melihat pundak kanan orang sedikit bergerak, segera ia tahu orang hendak menyerang. Tapi ia sengaja tinggal diam dan membiarkan tangannya dipegang orang itu. Dan begitu tangan orang menyentuh kulitnya, segera ia merasakan panas bagai dibakar, ia tahu orang itu pun berbisa jahat.

Selama hidup Siau Hong justru paling benci kepada kepandaian yang berbisa jahat seperti itu. Tapi ia tetap diam saja, hanya tenaga murni ia kerahkan ke pergelangan tangan, lalu katanya dengan tertawa, “Ada apa? O, barangkali saudara ingin ajak minum arak padaku? Baiklah, mari, mari silakan!”

Sambil berkata ia terus menggunakan tangan kanan untuk menuang dua mangkuk arak.

Dalam pada itu si lelaki hidung singa telah kerahkan tenaga sekuatnya, tapi ia lihat Siau Hong masih tetap seenaknya saja bagai tidak merasakan sesuatu apa, diam-diam ia membatin, “Huh, jangan senang-senang dulu, sebentar baru kau tahu rasa.”

Segera ia pun menjawab, “Mau minum arak ayolah minum, kenapa aku tidak berani?”

Habis berkata terus saja ia angkat mangkuk arak itu dan ditenggak. Di luar dugaan baru arak itu mengalir masuk kerongkongan, mendadak dari dalam rongga dada terasa ada arus tenaga yang entah timbul dari mana, terus tenaga dalam itu menyerang ke atas.

Ia tidak tahan lagi, ia terbatuk-batuk hingga arak yang sudah ditenggak itu tersembur keluar kembali, habis itu ia masih terus batuk hingga sekian lamanya.

Kejadian itu membuatnya terkejut tak terperikan. Arus tenaga yang membalik keluar itu terang berasal dari tenaga dalam orang yang disalurkan melalui tangannya yang terpegang itu.

Coba kalau orang mau incar jiwanya, sungguh gampangnya seperti merogoh saku sendiri. Dalam kagetnya cepat ia hendak melepaskan pergelangan tangan Siau Hong.

Tak tersangka sekarang hendak lepas tangan pun tidak bisa lagi. Tangan Siau Hong itu seperti mengeluarkan tenaga melengket hingga tangan lelaki hidung singa itu sukar ditarik kembali.

Dalam kagetnya orang itu masih menarik-narik sekuatnya. Tapi Siau Hong tetap diam saja, biar bagaimanapun orang itu menarik dan meronta, sedikit pun Siau Hong tak tergerak.

Dalam pada itu Siau Hong menuang arak pula dan berkata, “Tadi kau belum sempat minum arak ini, sekarang silakan minum semangkuk saja dan barulah kita berpisah, ya?”

Orang itu masih meronta-ronta sekuatnya dan tetap susah melepaskan diri. Tanpa pikir lagi ia terus menempeleng muka Siau Hong dengan tangan lain. Belum kena hantaman Siau Hong lantas mengendus bau amis busuk, bau mirip ikan mati.

Selera ia angkat tangan kanan dan mengebas perlahan ke atas hingga pukulan orang itu menceng ke arah lain, “plak”, tanpa kuasa lagi orang itu menghantam bahu sendiri, saking kerasnya hingga ruas tulang pundak sampai keseleo.

“Ai, ai, Jisuko, mengapa engkau begini sungkan hingga menghajar dirinya sendiri, kan aku yang merasa tidak enak?” demikian si A Ci malah menggodanya.

Sungguh dongkol dan gemas lelaki hidung singa itu tidak kepalang, tapi apa daya, tangan yang lengket di pergelangan tangan Siau Hong itu tak bisa ditarik kembali, untuk menyerang lagi ia pun tidak berani, segera ia mengerahkan tenaga dalam, ia hendak salurkan racun yang terdapat pada tangannya itu ke dalam badan musuh.

Tak terduga, begitu tenaganya kebentur dengan tangan Siau Hong, kontan tenaga itu terdesak balik, bahkan terdesak terus ke lengan.

Keruan lelaki hidung singa itu terkejut, cepat ia bertahan mati-matian, namun celaka, selisih lwekangnya dengan Siau Hong terlalu jauh, ia tidak kuat melawan, arus tenaga dalam yang mengandung racun itu bagaikan gelombang samudra yang membanjir ke dalam sungai, sesudah membanjir ke lengan, terus ke bahu dan lambat laun sampai di dada.

Lelaki hidung singa kenal racun di tangan sendiri itu luar biasa lihainya, asal menyerang jantung, seketika orangnya akan binasa. Kini racun itu benar-benar ‘senjata makan tuan’, di bawah desakan lwekang musuh arus racun itu tak bisa ditahan lagi. Saking kelabakan sampai keringatnya berbutir-butir memenuhi jidatnya.

“Wah, Jisuko, lwekangmu sungguh tinggi sekali,” demikian A Ci berolok-olok lagi. “Hawa sedingin ini, tapi engkau malah berkeringat. Sungguh aku kagum sekali padamu!”

Sudah tentu lelaki hidung singa tidak pikirkan lagi sindiran A Ci itu, yang paling penting baginya sekarang ialah menyelamatkan jiwa lebih dulu. Maka ia coba bertahan sekuat mungkin, sebelum ajal ia pantang mati.

Diam-diam Siau Hong berpikir, “Selamanya aku tiada permusuhan dengan orang ini, meski dia hendak menyerang aku secara keji, buat apa aku membunuh dia?”

Maka mendadak ia tarik kembali tenaga dalamnya. Seketika lelaki hidung singa itu merasa tangannya terlepas, arus racun yang hampir mendekat jantung itu mendadak menyurut kembali. Dalam girang dan kejutnya cepat ia melangkah mundur beberapa tindak dan tidak berani mendekati Siau Hong lagi.

Meski barusan ia hampir mendaftarkan diri kepada raja akhirat, tapi si pelayan tidak tahu apa-apa, khawatir orang marah, pelayan itu mendekatinya untuk menuangkan arak. Di luar dugaan, mendadak lelaki hidung singa itu terus menggaplok ke muka si pelayan. Sekali pelayan itu menjerit, kontan orangnya roboh telentang.

Habis hantam si pelayan, lelaki hidung singa itu lantas lari cepat keluar restoran dan menuju ke arah barat daya, dari jauh terdengar suara suitannya yang tajam melengking, makin lama makin jauh.

Waktu Siau Hong periksa si pelayan, ia lihat selebar mukanya matang biru, terang sudah binasa. Ia menjadi gusar dan berseru, “Orang itu benar-benar kejam, telah kuampuni jiwanya, tapi dia malah membunuh orang.”

Segera ia pun berbangkit dan bermaksud akan mengejar.

Tapi A Ci lantas mencegahnya, “Cihu, duduklah, biar kujelaskan padamu.”

Jika A Ci memanggil Kiau-pangcu utara Siau-toako, tentu Siau Hong takkan gubris padanya. Tapi panggilan “cihu” itu telah membuatnya teringat kepada A Cu. Dengan rasa terharu ia tanya, “Ada apa?”

“Bukan Jisuko kejam, soalnya tadi dia tak berhasil mencelakai engkau, racunnya tidak terlampias, maka ia perlu membunuh seorang sebagai gantimu,” tutur A Ci.

Siau Hong tahu di antara ilmu silat kaum sia-pay memang ada cara begitu, bila racun yang mestinya dikeluarkan itu tidak dikeluarkan, paling tidak harus dihantamkan pada seekor kuda atau kerbau, kalau tidak, racun itu akan membalik dan mencelakai diri sendiri. Maka katanya, “Jika dia ingin melampiaskan racun, kenapa dia tidak hantam seekor hewan saja, tapi membunuh manusia?”

“Orang goblok seperti itu apa bedanya dengan hewan?” sahut A Ci. “Membunuh orang seperti dia itu tidakkah sama seperti membunuh seekor babi?”

Sungguh ngeri Siau Hong mendengar cara omong A Ci yang sewajarnya, sedikit pun tidak merasa menyesal, seakan-akan jiwa manusia itu seperti jiwa semut saja.

Ia pikir watak nona cilik ini sudah sejahat ini, buat apa diurus lagi? Apalagi saat itu orang-orang restoran telah merubung keluar lagi, ia tidak ingin tersangkut perkara pula, segera ia berbangkit dan tinggal pergi menuju ke utara.

Ia dengar A Ci sedang menyusulnya, segera ia percepat langkahnya hingga dalam sekejap saja dara cilik itu telah tertinggal jauh.

Tapi segera ia dengar seruan A Ci, “Cihu, Cihu! Tunggu, Cihu! Aku… aku akan ketinggalan, lho!”

Kalau bicara berhadapan dan melihat kelakuan anak dara itu, seketika Siau Hong akan merasa jemu padanya. Tapi mendengar suara seruannya dari belakang, suara itu nyaring merdu dan mirip benar dengan suara A Cu. Seketika perasaan Siau Hong terguncang hebat, tanpa terasa ia membalik tubuh, dengan mengembeng air mata ia lihat seorang anak dara berlari-lari mendatangi dan sungguh mirip sekali seakan-akan A Cu telah hidup kembali.

Sambil pentang kedua tangan menyambut ke depan, tanpa terasa Siau Hong berseru perlahan, “A Cu, A Cu! O, A Cu!”

Saat itu samar-samar ia merasa seperti berhadapan dengan A Cu. Ia menjadi terkejut dan sadar kembali ketika mendadak sesosok tubuh yang lunak menubruk ke pelukannya dan mendengar suara si gadis, “Cihu, kenapa engkau tidak menunggu padaku?”

Perlahan Siau Hong melepaskan A Ci dari pelukannya, katanya, “Buat apa kau ikut padaku?”

“Engkau telah menghalaukan jisukoku, dengan sendirinya aku mesti mengaturkan terima kasih padamu,” sahut A Ci.

“Itu tidak perlu, toh aku tidak sengaja hendak membantumu, soalnya dia hendak menyerang aku, kalau aku tidak membela diri tentu akan mati di tangannya,” sahut Siau Hong dengan sikap dingin. Lalu putar tubuh hendak tinggal pergi lagi.

Segera A Ci memburu maju dan hendak menarik tangan Siau Hong. Tapi sedikit Siau Hong mengegos, tangan A Ci memegang tempat kosong, dengan sempoyongan ia terjerukup ke depan.

Dengan ilmu silatnya sebenarnya A Ci dapat menegakkan tubuhnya, tapi ia justru gunakan kesempatan itu untuk menggoda, ia sengaja jatuh ke tanah salju sambil berseru, “Aduh! Sakit!”

Sudah terang Siau Hong tahu bocah itu cuma pura-pura saja, tapi demi mendengar suaranya yang merdu itu, seketika benaknya terbayang akan diri A Cu. Tanpa terasa ia putar balik, sekali tarik ia angkat bangun A Ci.

Ia lihat anak dara itu lagi tertawa genit, katanya, “Cihu, ciciku minta engkau menjaga diriku, mengapa engkau tidak menurut pesannya? Aku seorang nona cilik, hidupku sebatang kara, banyak orang jahat akan bikin susah padaku, mengapa engkau tidak urus dan tidak gubris padaku?”

Ucapan itu kedengarannya sangat mengesankan dan penuh kasihan, biarpun Siau Hong tahu anak dara itu cuma omong kosong belaka, tapi hatinya menjadi lemas juga. Tanyanya, “Untuk apa kau ikut padaku? Perasaanku sendiri lagi masygul, tidak nanti aku mau bicara denganmu, apalagi kalau kau berbuat sembarangan, tentu aku akan menghajarmu.”

“Engkau masygul, aku akan menghibur padamu, dengan begitu bukankah hatimu lambat laun akan gembira lagi?” ujar A Ci. “Jika aku boleh ikut, pada waktu engkau minum arak, aku akan menuangkan arak bagimu. Jika engkau ganti pakaian, akan kucuci dan tambal bajumu bila perlu. Bila aku berbuat salah, dan engkau suka mengajar, itulah paling baik malah. Sejak kecil aku sudah ditinggalkan orang tua, tiada orang yang mengajar padaku, segala apa aku memang tidak paham…”

Berkata sampai di sini, matanya menjadi merah basah.

Tapi Siau Hong pikir, “Mereka, kakak dan adik memang berbakat main sandiwara, bicara tentang menipu orang boleh dikata kepandaian mereka tiada bandingannya. Untung aku sudah kenal nona ini sangat keji, tidak nanti aku tertipu. Sebab apakah dia tetap ingin ikut padaku? Tipu muslihat apakah yang terkandung dalam hatinya. Jangan-jangan gurunya sengaja mengirim dia untuk memancing aku dan akan bikin celaka padaku? Ya, jangan-jangan musuh yang kucari itu ada sangkut pautnya dengan iblis tua Sing-siok-hay itu? Bahkan bisa jadi dia sendiri yang menjadi biang keladinya?”

Berpikir demikian, seketika timbul suatu keputusannya, “Masakah seorang laki-laki sebagai Siau Hong mesti takut kepada kemungkinan ditipu oleh anak dara seperti dia ini? Kenapa aku tidak turuti saja permintaannya, akan kulihat tipu muslihat apa yang akan dikeluarkannya. Boleh jadi pada diri anak dara inilah akan dapat kubalas sakit hatiku. Ya, siapa tahu?”

Karena pikiran itu, segera ia berkata, “Jika begitu, baiklah, boleh kau ikut padaku. Tetapi aku janji lebih dulu, jika kau sembarangan membikin susah orang atau membunuh orang lagi, tentu aku takkan mengampunimu.”

A Ci menjulurkan lidah, kemudian menyahut, “Habis bila orang lain yang ingin membikin susah padaku, lantai bagaimana? Dan jika orang jahat yang kubunuh lantas bagaimana lagi?”

Siau Hong pikir anak dara ini sungguh terlalu licin dan nakal, bukan mustahil dia akan mencari macam-macam alasan untuk membela diri jika dia menimbulkan gara-gara lagi. Maka katanya, “Apakah orang lain itu orang jahat atau bukan, tidak perlu peduli. Pendek kata, sekali kau berada bersamaku, selama itu kau tidak boleh bertengkar dengan orang. Kau berada denganku, tidak nanti orang lain berani mengganggumu.”

“Ai, engkau hanya cihuku, tapi engkau lebih keras mengajarku daripada orang tuaku,” kata A Ci. “Coba kalau ciciku tidak meninggal dan sempat menikah denganmu, bukankah dia juga akan mati dikekang oleh perintahmu?”

Siau Hong menjadi gusar, sungguh ia ingin damprat anak dara itu, tapi segera hatinya lemas lagi. Ketika dilihatnya sorot mata A Ci menyinarkan sifat-sifat yang nakal dan lucu, kembali ia pikir, “Aneh, mengapa ia merasa senang oleh apa yang kukatakan itu?”

Karena tak bisa menerka sikap anak dara itu, ia lantas melanjutkan perjalanan lagi.

Kira-kira dua-tiga li jauhnya, mendadak teringat olehnya, “Ai, celaka! Mungkin dara cilik ini sedang menghadapi suatu musuh besar atau lawan tangguh, makanya aku ditipu untuk membela dia. Tadi aku telah menyatakan, ‘Kau berada denganku, tidak nanti orang berani mengganggumu.’ Dan itu berarti aku telah berjanji untuk melindungi dia. Padahal dia di pihak yang benar atau salah, meski aku tidak menyatakan sesuatu, asal dia berada di sampingku, dengan sendirinya aku tidak membiarkan dia diganggu siapa pun juga.”

Dan setelah beberapa li lagi, tiba-tiba A Ci membuka suara pula, “Cihu, ketimbang kesepian, akan kunyanyikan suatu lagu, mau tidak?”

“Tidak!” sahut Siau Hong ketus.

Ia sudah ambil keputusan, pendek kata apa saja yang dikehendaki anak dara itu, seluruhnya akan dijawabnya tidak. Terhadap anak dara nakal itu harus pakai sikap keras dan ketus supaya dia kapok.

Sudah tentu A Ci kurang senang oleh jawaban Siau Hong itu, dengan memoncongkan mulut yang mungil ia berkata, “Engkau ini memang terlalu. Eh, jika begitu aku akan mendongeng saja, mau tidak?”

“Tidak!” jawab Siau Hong tetap.

“Kalau begitu, marilah kita main teka-teki saja, mau?”

“Tidak!” kembali Siau Hong menolak.

“Ya, sudahlah. Eh, engkau saja yang mendongeng, setuju?”

“Tidak!”

“Atau engkau saja yang menyanyi, mau?”

“Tidak!”

“Engkau saja yang melucu, juga tidak?”

“Tidak!”

Begitulah segala permintaan A Ci selalu dijawab dengan “tidak” oleh Siau Hong tanpa pikir.

Mendadak A Ci berkata pula, “Jika begitu, aku takkan meniup seruling untukmu, mau tidak?”

“Tidak!” tetap Siau Hong menjawab begitu. Dan begitu jawaban itu diucapkan, segera ia sadar telah terjebak oleh akal anak dara itu.

Yang ditanya A Ci adalah “aku takkan meniup seruling untukmu” dan dia menjawab “tidak”, maka itu berarti dia minta anak dara meniup seruling. Tapi karena sudah kadung diucapkan, ia pikir masa bodohlah, kau mau meniup seruling boleh silakan sesukamu.

Begitulah lalu A Ci berkata dengan gegetun, “Ai, Cihu ini memang susah diladeni. Ini tidak, itu juga tidak, ini tak mau, itu pun emoh. Tak tahunya minta ditiupkan seruling. Baiklah, akan kupenuhi keinginanmu.”

Habis berkata, lalu ia mengeluarkan sebatang seruling kemala.

Seruling kemala itu bentuknya luar biasa, seluruhnya putih mulus, panjangnya cuma belasan senti saja, kecil mungil.

Segera A Ci taruh seruling itu di bibirnya dan mulai meniupnya, seketika tersiarlah bunyi seruling yang tajam melengking berkumandang jauh.

Tergerak hati Siau Hong. Tadi waktu lelaki hidung singa itu berlari pergi juga pernah mengeluarkan suara suitan tajam seperti itu. Sebenarnya suara seruling itu nyaring dan merdu, tapi suara seruling kemala putih ini tajam mengerikan, terang bukan suara irama musik.

Segera tahulah Siau Hong, katanya di dalam hati, “Hm, kiranya telah kau sembunyikan begundalmu di sini untuk menyergap diriku. Hah, masakah aku jeri pada kaum keroco seperti kalian ini?”

Tapi ia pun tahu ilmu silat anak murid iblis tua Sing-siok-hay itu tentu sangat lihai, jika bertempur secara terang-terangan tentu saja ia tidak takut, tapi kalau mereka menggunakan muslihat keji, sedikit lengah saja pasti akan masuk perangkap mereka.

Sementara itu ia dengar suara seruling A Ci masih terus mendenging-denging, sebentar tinggi sebentar rendah nada suaranya, terkadang seperti babi disembelih, tempo-tempo bagaikan setan menjerit. Sungguh aneh dan ganjil sekali bahwa seorang gadis cantik sebagai A Ci dengan seruling kemala yang bagus itu, ternyata suara yang keluar dari alat musik itu justru melengking jelek.

Namun Siau Hong tak mau ambil pusing lagi, ia meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian sampailah di suatu jalan pegunungan yang sempit dan panjang. Lereng gunung itu curam dan sukar ditempuh. Diam-diam Siau Hong membatin, “Jika musuh bermaksud menyergap aku, tentu di sinilah tempatnya.”

Benar juga, sesudah membelok suatu lintasan dan naik ke atas bukit lagi, segera tertampak di depan mengadang empat orang. Pakaian keempat orang itu terdiri dari kain belacu kuning kasar, dandanan mereka tiada ubahnya seperti lelaki hidung singa yang ngacir di restoran itu.

Keempat orang itu tidak berdiri sejajar, tapi berbaris muka dan belakang, setiap orang membawa tongkat baja panjang.

Melihat keempat orang itu, seketika A Ci berhenti meniup serulingnya. Segera ia menyapa, “He, Samsuko, Sisuko, Jitsuko, Patsuko, baik-baikkah kalian? Mengapa begini kebetulan kalian berkumpul di sini?”

Siau Hong lantas berhenti juga, ia sengaja bersandar di dinding tebing di tepi jalan sambil mengolet kemalas-malasan, ia pura-pura tidak ambil pusing dan ingin tahu permainan apa yang hendak dilakukan mereka.

Orang yang berdiri paling depan di antara barisan empat orang itu adalah laki-laki setengah umur dan berbadan gemuk, lebih dulu ia mengamat-amati Siau Hong, habis itu barulah berkata, “Siausumoay, baik-baikkah kau? Mengapa kau melukai Jisuko?”

“Hah, Jisuko terluka?” demikian A Ci pura-pura kaget. “Siapakah yang melukai dia? Parah tidak lukanya?”

“Hah, masih berlagak pilon? Jisuko bilang kau yang menyuruh orang melukainya,” demikian seru orang yang berdiri paling belakang pada barisan itu. Orang itu bertubuh cebol, tempatnya paling belakang pula, maka badannya menjadi teraling-aling oleh tubuh ketiga orang yang berada di depannya.

Dengan sendirinya Siau Hong juga tak dapat melihat potongan tubuhnya, tapi dari suaranya yang cepat itu, terang seorang yang berwatak keras berangasan. Malahan tongkat yang dipegang si cebol itu sangat panjang dan besar, suatu tanda tenaganya pasti sangat kuat. Mungkin karena tubuhnya pendek, maka dalam hal senjata ia sengaja hendak lebih menonjol daripada orang lain.

Begitulah, maka A Ci telah menjawab, “Patsuko, apa yang kau katakan barusan?”

“Jisuko bilang kau telah menyuruh orang lain untuk melukainya!” demikian teriak si cebol dengan gusar.

“Hah, Jisuko bilang kau menyuruh orang untuk melukai dia?” demikian A Ci menirukan. “Ai, ai, mengapa kau begitu kejam, kalau Suhu tahu, pasti kau akan dihajar setengah mati, apa kau tidak takut?”

Keruan si cebol berjingkrak gusar karena ucapannya diputar balik oleh A Ci, ia ketuk-ketuk tongkat bajanya ke tanah hingga mengeluarkan suara gemerantang keras, lalu teriaknya pula, “Kau yang melukainya, bukan aku!”

“O, kau yang melukainya, dan bukan aku? Bagus jika begitu, kau sendiri telah mengaku. Nah, Samsuko, Sisuko, dan Jitsuko, kalian sendiri mendengar bukan, Patsuko bilang dia yang membinasakan Jisuko,” demikian A Ci. “Ya, tahulah aku, tentu kau binasakan Jisuko dengan ‘Sam-im-gin-kang-jiau’ (Cakar Kelabang Beracun Dingin), betul tidak?”

Sungguh gemas si cebol bukan buatan, kembali ia berteriak, “Siapa bilang Jisuko mati? Dia tidak mati, lukanya juga bukan terkena ‘Sam-im-gin-kang-jiau’…”

“Hah, bukan ‘Sam-im-gin-kang-jiau’?” demikian A Ci memotong. “Nah, kalau begitu tentu ‘Tiu-jwe-ciang’ (Pukulan Pengisap Sumsum), itulah kepandaianmu yang tiada bandingannya, sedikit Jisuko kurang hati-hati, maka celakalah dia. Ai, engkau… engkau benar-benar sangat lihai!”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: