Kumpulan Cerita Silat

18/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 38

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:06 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Dalam pada itu Be-hujin sedang melanjutkan ceritanya, “Ayah berkata kepadaku, ‘Nak, biarlah besok ayah piara babi lagi, pasti akan kubelikan cita kembang untukmu.’

“Tapi aku masih terus menangis, namun apa gunanya? Tiada sebulan keindahan tibalah tahun baru. Enci keluarga Thio tetangga sebelah itu memakai baju baru berkembang merah jambon dasar kuning, pakai celana hijau pupus bersulam, sungguh indah sekali. Dan sungguh pula aku sangat iri, sampai kue ranjang yang dibuatkan ibu juga tak kumakan lagi.”

“Ai, coba kalau waktu itu kutahu, tentu akan kuhadiahkan sepuluh, bahkan seratus potong cita kembang padamu,” ujar Cing-sun dengan tertawa.

“Huh, siapa kepingin?” sahut Be-hujin. “Dan pada malaman tahun baru itu aku menjadi tak bisa tidur memikirkan baju kembang itu. Sampai tengah malam, diam-diam aku bangun dan menggeremet ke rumah Thio-pepek. Pada umumnya orang tua suka menunggu saat pergantian tahun, maka belum tidur, cahaya lilin masih terang benderang, kulihat cici keluarga Thio itu sudah tidur di balai-balai, baju barunya itu menyelimut di atas tubuhnya. Aku terkesima memandangi baju kembang yang memesona itu, sampai akhirnya diam-diam aku masuk ke kamar Cici Thio dan kuambil baju kembang itu.”

“Hah, jadi kau mencuri baju baru?” kata Cing-sun dengan tertawa. “Ai, kukira Kheng cilik kita ini cuma pintar mencuri lelaki, kiranya juga pandai mencuri baju.”

Be-hujin melirik genit dan tersenyum, katanya, “Aku justru tidak mencuri baju baru orang, tapi aku lantas mengambil gunting, kupotong baju baru itu hingga hancur, lalu kuambil celana barunya dan kugunting pula menjadi lajur-lajur kecil. Selesai kuhancurkan baju dan celana baru itu, rasa hatiku senang tak terkatakan. Ya, jauh lebih menyenangkan daripada aku memakai baju baru.”

Air muka Toan Cing-sun yang tersenyum simpul sejak tadi itu kini mendadak lenyap demi mendengar sampai di sini, dengan kurang senang ia berkata, “Sudahlah, Siau Kheng, jangan cerita kejadian lama lagi, marilah kita tidur saja.”

“Tidak, aku belum mau tidur,” sahut Be-hujin. “Toan-long, apakah kau tahu untuk apa aku menceritakan kisah itu padamu? Ketahuilah bahwa aku ingin kau tahu watakku sejak kecil itu, bila ada sesuatu yang kurindukan siang dan malam dan tak terkabul, dan orang lain justru beruntung bisa memperolehnya, maka apa pun juga aku akan berusaha untuk menghancurkan barang itu.”

“Sudahlah, jangan omong lagi, aku tidak suka mendengar cerita yang mengesalkan itu,” ujar Cing-sun.

Be-hujin tersenyum, ia berbangkit, perlahan ia lepaskan sanggulnya hingga rambutnya yang panjang itu menjulai sampai di pinggang. Ia ambil sebuah sisir kayu dan perlahan menyisir rambutnya yang panjang itu. Tiba-tiba ia melirik dengan tersenyum genit, katanya, “Toan-long, marilah pondong aku!”

Suaranya yang merdu merayu itu membikin hati lelaki mana pun pasti akan luluh. Keruan Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok yang menggeletak di luar jendela itu meski tak bisa berkutik, tapi demi mendengar rayuan Be-hujin itu, seketika api cemburu mereka membakar dan dada mereka serasa akan meledak saking gusarnya.

Dalam pada itu terdengar Toan Cing-sun mengakak tawa sekali, ia beringsut bangun dengan maksud akan merangkul sang kekasih.

Tapi rupanya terlalu banyak minum arak, ternyata untuk berdiri saja ia tidak kuat lagi. Katanya dengan tertawa, “Hahaha, aku hanya minum empat-lima cawan kecil saja lantas mabuk sedemikian rupa, Siau Kheng, wajahmu yang cantik molek ini sekali lihat lantas memabukkan orang, sungguh dapat menandingi tiga kati arak yang paling keras, hehe!”

Diam-diam Siau Hong terkesiap, pikirnya dengan heran, “Aneh, cuma minum empat-lima cawan saja mengapa bisa mabuk? Padahal lwekang Toan Cing-sun sangat tinggi, biarpun tidak biasa minum arak juga tidak mungkin mabuk seperti ini. Ah, tentu ada sesuatu yang tidak beres di dalam hal ini.”

Dalam pada itu terdengar Be-hujin sedang tertawa mengikik, lalu katanya, “Toan-long, turunlah kemari, sedikit pun aku tak bertenaga, le… lekas pondong aku.”

Toan Cing-sun coba bergerak lagi, tapi masih tidak kuat berdiri, maka sahutnya dengan tertawa, “Aneh, aku pun tidak bertenaga sedikit pun. Benar-benar aneh, asal melihatmu, aku lantas lemas lunglai seperti tikus ketemu kucing.”

“Ehm, aku emoh, engkau hanya minum sedikit saja lantas pura-pura mabuk,” sahut Be-hujin dengan senyum manja. “Cobalah kerahkan tenaga dalam, tentu dapat.”

Cing-sun lantas mengatur pernapasan dan bermaksud mengerahkan tenaga. Tak tahunya perutnya terasa kosong melompong, sedikit pun tak bisa bekerja. Berulang kali ia menarik napas, siapa duga lwekang yang terlatih berpuluh tahun itu kini ternyata hilang tanpa bekas, entah sejak kapan meninggalkan tubuhnya.

Keruan Cing-sun menjadi gugup, ia sadar urusan agak gawat. Tapi apa pun juga ia adalah seorang kawakan Kangouw yang luas pengalamannya, menghadapi sesuatu bahaya lahirnya selalu tenang-tenang saja, ia berkata dengan tersenyum, “Ai, cuma tinggal tenaga It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam saja, aku benar-benar dibuat mabuk hingga cuma sanggup membunuh orang dan tak sanggup memondong orang.”

Mendengar ucapan diam-diam Siau Hong membatin, “Meski Toan Cing-sun suka paras licin tapi ternyata juga bukan seorang goblok. Ia sadar sedang terancam bahaya, maka sengaja omong ‘cuma sanggup membunuh orang dan tidak kuat memondong orang’. Padahal ia hanya mahir It-yang-ci, tapi tidak becus Lak-meh-sin-kiam, terang ia sengaja main gertak.”

Sementara itu dengan lemah gemulai Be-hujin berseru, “Ai, kepalaku pening sekali. Toan-long, jangan… jangan di dalam arak ditaruh sesuatu oleh orang?”

Sebenarnya Cing-sun sudah mencurigai Be-hujin yang menaruh obat di dalam arak, tapi demi mendengar si dia mengemukakan lebih dulu hal itu, rasa curiga Cing-sun lantas lenyap, bahkan ia memanggilnya, “Siau Kheng, marilah sini, aku ingin bicara padamu.”

Be-hujin tampak seperti ingin melangkah ke samping Cing-sun, tapi seperti tidak kuat bergerak lagi, ia menggabruk di atas meja, mukanya kemerah-merahan dan napasnya memburu, katanya, “Toan-long, selangkah pun aku tidak sanggup bergerak, mengapa engkau… meracuni aku?”

Cing-sun menggeleng kepala dan memberi isyarat tangan dengan perlahan, ia celup jarinya ke cawan arak dan menulis di atas meja, “Kita terjebak akal keji musuh, hendaklah berlaku tenang.”

Sedang di mulut ia berkata, “Kini tenaga dalamku sudah mulai bekerja, kalau cuma beberapa cawan arak racun masakah dapat menjatuhkan aku?”

Segera Be-hujin menulis juga di atas meja, “Sungguh-sungguh atau palsu?”

Dan Cing-sun menulis pula, “Jangan unjuk kelemahan.”

Di mulut ia berseru, “Siau Kheng, siapakah musuhmu hingga menggunakan tipu keji ini untuk menjebak diriku.”

Melihat tulisan Toan Cing-sun tentang “jangan unjuk kelemahan” itu, diam-diam Siau Hong mengeluh baginya, pikirnya, “Biarpun kau Toan Cing-sun biasanya pintar dan cerdik, akhirnya terjungkal juga di tangan kaum wanita. Sudah terang gamblang racun itu adalah perbuatan Be-hujin, karena dia masih jeri mendengar ucapanmu ‘cuma sanggup membunuh orang dan tidak kuat memondong orang’, maka ia pun pura-pura keracunan untuk memancing reaksimu, mengapa sedemikian mudah engkau tertipu olehnya?”

Sementara itu Be-hujin mengunjuk rasa sedih dan sedang menulis pula di atas meja, “Apa tenaga dalammu benar-benar hilang semua, dan tidak kuat melawan musuh?”

Dan di mulut sebaliknya berseru, “Toan-long, jika benar ada bangsa keroco berani main gila ke sini, rupanya dia sudah bosan hidup, boleh kau duduk saja di sini dan jangan gubris padanya, lihat saja apakah dia berani turun tangan?”

“Diharap bekerjanya obat lekas lenyap dan musuh jangan terburu datang,” demikian Cing-sun menulis di atas meja. Tapi di mulut berkata, “Ya, benar, aku justru sedang kesepian, kalau ada orang suka main-main dengan kita, itulah yang kita harapkan. Eh, Kheng cilik, apakah kau mau melihat kelihaian ilmu tiam-hiat jarak jauh?”

Maksud Cing-sun hanya untuk menggertak saja, di luar dugaan Be-hujin menjawab sungguh-sungguh dengan tertawa, “Ya, selamanya aku tidak pernah melihat kepandaianmu itu, boleh coba kau tutuk sekali ke arah jendela dengan It-yang-ci, tentu sangat hebat!”

Cing-sun berkerut kening dan diam-diam menggerutu, berulang-ulang ia main mata dengan maksud agar yang kekasih memahami alasannya yang cuma main gertak saja itu.

Sebaliknya Be-hujin malah mendesak terus, katanya, “Hayolah, lekas coba, asal kau tusuk satu lubang kecil pada kertas jendela, tentu musuh akan lari ketakutan. Kalau tidak, wah, pasti celaka, musuh akan tahu kelemahanmu sekarang.”

Kembali Cing-sun terkesiap, pikirnya, “Biasanya dia sangat cerdik, mengapa sekarang pura-pura dungu?”

Tengah berpikir, terdengar Be-hujin berkata pula dengan suara lembut, “Toan-long, engkau telah minum racun ‘Sip-hiang-bi-hun-san’ (obat bius dari sepuluh jenis wewangian), biarpun ilmu silatmu setinggi langit juga tenaga dalammu akan lenyap seluruhnya. Toan-long, jika engkau masih dapat menutuk dari jauh, cukup menjuju suatu lubang kecil saja di kertas jendela dan hal itu akan merupakan suatu keajaiban alam.”

“Hah, jadi aku terkena… terkena ‘Sip-hiang-bi-hun-san’ yang keji itu?” seru Cing-sun terkejut. “Dari… dari mana kau tahu?”

“Tadi waktu aku menuangkan arak bagimu, agaknya aku kurang hati-hati hingga sebungkus racun itu jatuh ke dalam poci arak,” sahut Be-hujin dengan tertawa.

“O, kiranya begitu, tak apa-apalah,” ujar Cing-sun dengan senyum ewa. Jelas sekarang duduknya perkara dan tahu telah masuk perangkap nyonya janda itu. Kalau dia marah-marah dan mendamprat pasti akan membikin urusan runyam malah. Maka lahirnya ia pura-pura seperti tiada terjadi apa-apa, sedapat mungkin ia berlaku tenang untuk menghadapi perkembangan selanjutnya.

“Ia sangat cinta padaku, rasanya tidak nanti membunuhku,” pikirnya. “Bisa jadi ia cuma minta aku berjanji untuk hidup berdampingan dengan dia selamanya atau minta aku membawanya pulang ke Tayli untuk dijadikan istri sah. Jika demikian halnya, ini pun timbul dari cintanya padaku yang sangat mendalam, meski perbuatannya ini agak keterlaluan, tapi juga tiada maksud jahat.”

Dalam pada itu didengarnya Be-hujin lagi berkata, “Toan-long, maukah kau jadi suami-istri dengan aku sampai hari tua?”

“Ai, engkau benar-benar kelewat lihai,” sahut Cing-sun dengan tertawa. “Baiklah, aku takluk. Besok juga boleh kau ikut aku pulang ke Tayli, akan kuambil dirimu sebagai selir Tin-lam-ong.”

Mendengar itu, kembali api cemburu Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok membakar, pikir mereka, “Apanya yang kau pilih dari perempuan hina dina itu? Engkau tidak terima permintaanku, tapi meluluskan permintaannya?”

Lalu terdengar Be-hujin menghela napas, katanya, “Toan-long, sebelum ini aku pernah tanya padamu cara bagaimana akan kau atur diriku, kau bilang negeri Tayli tanahnya lembap, hawanya panas, kalau tinggal di sana aku bisa jatuh sakit. Dan sekarang engkau terpaksa menerima permintaanku, jadi bukan timbul dari hatimu yang murni.”

Cing-sun menghela napas, katanya, “Siau Kheng, biarlah kukatakan terus terang. Aku adalah Tin-lam-ong, Po-kok-tayciangkun, pangeran negeri Tayli, kakak baginda tidak punya keturunan, kalau beliau wafat, tentu takhta akan diturunkan kepadaku. Kini aku cuma seorang persilatan biasa di Tionggoan sini, kalau pulang Tayli, aku tidak boleh berbuat sembrono lagi, betul tidak?”

“Betul, lantas bagaimana,” sahut Be-hujin.

“Dan kalau aku membawamu pulang ke Tayli, itu berarti aku harus menepati janji, tidak mungkin seorang pangeran mahkota mengingkari janjinya. Betul tidak?”

“O, beralasan juga ucapanmu,” sahut Be-hujin perlahan. “Dan kelak kalau engkau naik takhta, dapatkah kau angkat aku sebagai Honghou-nionio (permaisuri)?”

Cing-sun menjadi ragu, sahutnya kemudian, “Aku sudah punya istri kawin, untuk mengangkatmu sebagai permaisuri terang tidak bisa…”

“Memangnya aku adalah seorang janda sial, mana dapat menjadi permaisuri apa segala, bukankah akan dibuat buah tertawaan orang?” kata Be-hujin. Lalu ia menyisir rambut dengan perlahan, sambungnya kemudian dengan tertawa, “Toan-long, kisah yang kuceritakan tadi apakah kau paham maksudnya?”

Seketika keringat dingin berketes-ketes di jidat Toan Cing-sun, tapi sedapat mungkin ia coba bersikap tenang, namun lwekang yang dilatihnya selama berpuluh tahun kini telah lenyap entah ke mana, keruan ia kerupukan mirip seorang yang kelelap dalam air.

“Toan-long, engkau kegerahan bukan? Biarkan aku mengusap keringatmu,” kata Be-hujin. Lalu ia mengeluarkan sepotong saputangan dan mendekati Toan Cing-sun untuk membersihkan keringat dingin di jidatnya sambil berkata pula dengan lembut, “Toan-long, engkau harus menjaga kesehatanmu, habis minum arak bisa masuk angin, bila engkau jatuh sakit, betapa rasa cemasku nanti?”

Mendengar rayuan berbisa itu, seketika Toan Cing-sun yang berada di dalam kamar dan Siau Hong yang mengintip di luar itu sama-sama timbul semacam rasa takut yang sukar dilukiskan.

Tapi Cing-sun masih tersenyum sedapatnya, sahutnya, “Ya, malam itu kau pun basah kuyup keringat dan aku pun pernah mengusap keringatmu, malahan saputangan yang kupakai itu kubawa sekarang.”

Sekilas air muka Be-hujin tampak malu-malu kucing, katanya dengan lirikan genit, “Kejadian belasan tahun yang lalu masakah masih suka kau bicarakan? Coba kulihat saputanganmu itu.”

Dalam baju Toan Cing-sun ternyata memang benar-benar terdapat saputangan yang dikatakan itu.

Inilah merupakan salah satu modalnya mengapa dia mahir memikat hati kaum wanita. Ia cukup kenal sifat dan jiwa orang perempuan, dengan demikian ia membikin setiap perempuan yang main asmara dengan dia akan percaya penuh bahwa sesungguhnya sang kekasih itu cinta padanya.

Begitulah ia bermaksud mengeluarkan saputangan itu, tapi sedikit jarinya bergerak, rasa lengannya lantas kaku linu, racun ‘Sip-hiang-bi-hun-san’ itu ternyata sangat lihat, bahkan untuk mengambil saputangan saja tidak sanggup lagi.

“Mana, tunjukkanlah padaku!” demikian seru Be-hujin. “Hm, kembali kau dusta belaka.”

“Haha, sekali mabuk hingga tangan juga tak bisa bergerak lagi,” kata Cing-sun dengan tersenyum getir. “Boleh kau ambil sendiri dalam bajuku ini.”

“Huh, apakah kau kira aku dapat ditipu?” sahut Be-hujin. “Kau ingin memancing aku mendekat, lalu dengan It-yang-ci akan kau matikan aku.”

“Wanita cantik ayu tiada bandingannya seperti dirimu, sekalipun aku adalah manusia yang paling kejam juga tidak tega menggores dengan kuku di mukamu,” ujar Cing-sun dengan tersenyum.

“Betulkah begitu, Toan-long?” Be-hujin menegas dengan tertawa. “Tapi aku tetap khawatir, aku harus mengikat dulu kedua tanganmu, kemudian… kemudian mengikat sukmamu pula dengan sebundel benang halus.”

“Sudah sedari dulu kau ikat sukmaku, kalau tidak masakah aku bisa datang kemari?” ujar Cing-sun.

Be-hujin tertawa, katanya, “Engkau memang seorang baik, pantas aku jatuh hati padamu.”

Sembari berkata ia buka laci meja dan mengeluarkan seutas tali kulit.

Diam-diam Cing-sun terkesiap, pikirnya, “Kiranya lebih dulu ia sudah siapkan segala sesuatu, tapi aku sama sekali tidak sadar. Ai, Toan Cing-sun, kalau hari ini jiwamu melayang di sini juga tak bisa menyalahkan orang lain.”

Dalam pada itu terdengar Be-hujin lagi berkata, “Toan-long, sesungguhnya cintaku padamu tiada taranya, tapi lebih dulu aku harus mengikat tanganmu, apa engkau akan marah padaku?”

Dalam keadaan begitu, kalau orang lain mungkin akan terus mencaci maki, bila tidak, tentu akan mohon ampun dan menyinggung cinta masa lalu.

Namun Cing-sun cukup kenal watak Be-hujin yang culas dan keji, biarpun wanita, pendiriannya lebih teguh daripada kaum pria, mencaci maki padanya takkan membuatnya marah, minta ampun juga takkan membikin dia menaruh belas kasihan. Jalan satu-satunya sekarang ialah mengulur waktu untuk mencari kesempatan kalau-kalau ada kemungkinan menyelamatkan diri.

Maka ia coba tenangkan diri dan berkata dengan tertawa, “Siau Kheng, asal kulihat matamu yang basah-basah sayu itu, betapa pun rasa marahku juga seketika akan hilang sirna. Marilah biar kucium bunga melati yang tersunting di rambutmu itu harum atau tidak?”

Kiranya pada waktu belasan tahun yang lampau, dengan kata-kata demikian itulah Toan Cing-sun memperoleh cinta Be-hujin. Kini ucapan itu diulangi kembali, seketika Be-hujin menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Toan Cing-sun dengan penuh kasih mesra. Ia mengelus-elus pipi Toan Cing-sun dan berkata dengan suara lembut, “Toan-long, malam itu telah kuserahkan badanku ini padamu, tatkala itu kutanya padamu bila kemudian hari hatimu berubah, lantas bagaimana tindakanmu?”

Cing-sun tak bisa menjawab, sebaliknya keringat di jidatnya berbutir-butir bagai kedelai besarnya.

“Kekasih yang tidak punya liangsim, apakah sumpah yang pernah kau ucapkan sekarang sudah kau lupakan sendiri?” kata Be-hujin.

“Aku tidak lupa,” sahut Cing-sun dengan senyum getir. “Aku menyatakan akan membiarkan kau gigit daging di tubuhku ini secomot demi secomot.”

Sebenarnya sumpah begitu adalah jamak tatkala kedua kekasih sedang bercumbu-cumbuan. Tapi kini tanpa merasa membuat orang yang mendengarnya akan mengirik.

Dan dengan senyum genit Be-hujin berkata, “Masakah aku tega untuk menggigitmu. Aku hanya ingin mengikat kedua tanganmu, kau luluskan tidak, coba katakan, selamanya aku menurut kepada apa yang kau katakan.”

Cing-sun tahu dirinya takkan terhindar dari siksaan kekasih itu, maka sahutnya dengan tertawa, “Jika kau mau ikat, boleh ikatlah. Biarpun mati, asal mati di tanganmu juga aku puas.”

Diam-diam Siau Hong kagum juga kepada ketenangan Toan Cing-sun, menghadapi detik bahaya itu ternyata pangeran Tayli itu masih sanggup mengucapkan kata-kata merayu.

Segera Be-hujin menelikung kedua tangan Cing-sun ke belakang, lalu diringkusnya dengan tali kulit hingga kencang, bahkan ia ikat dengan talipati beberapa kali. Dengan demikian, sekalipun Toan Cing-sun dalam keadaan biasa juga sukar melepaskan diri, apalagi sekarang dalam keadaan lemas tak berkutik.

Kemudian Be-hujin berkata pula dengan tertawa menggiurkan, “Aku pun benci kepada kedua kakimu ini, asal sudah melangkah pergi, maka tak mau kembali lagi.”

“Tapi waktu aku berkenalan denganmu, justru kedua kaki inilah yang membawaku kemari, maka jasanya boleh dikatakan lebih besar daripada dosanya,” sahut Cing-sun.

“Baiklah, biar aku mengikatnya juga,” kata Be-hujin. Lalu ia menggunakan tali kulit yang lain untuk mengikat kedua kakinya. Habis itu, ia ambil gunting dan perlahan memotong baju di bahu kanan Cing-sun, hingga tertampak kulit dagingnya yang putih bersih.

Meski usia Toan Cing-sun sudah lebih 40 tahun, tapi ia dilahirkan sebagai pangeran, hidupnya senang bahagia, maka badannya terawat dengan baik, kulit dagingnya juga halus.

Perlahan Be-hujin meraba bahu Toan Cing-sun itu, kemudian ia tempelkan mulutnya yang mungil itu untuk mencium pipi sang kekasih, lalu menurun ke leher dan mencium bahu kanan itu. Dan “Auuuhh!” mendadak Toan Cing-sun menjerit kesakitan, suaranya keras memecah angkasa malam yang sunyi.

Ketika Be-hujin mengangkat kepalanya, tertampaklah mulutnya penuh berlepotan darah, ternyata sepotong daging di bahu Toan Cing-sun itu benar-benar telah digigitnya. Keruan darah mengucur dari tempat luka itu.

Be-hujin meludahkan sepotong daging kecil yang digigitnya itu, lalu berkata dengan suara genit, “Toan-long, engkau sendirilah yang bahwa bila hatimu berubah, maka akan membiarkan aku menggigit dagingmu secomot demi secomot.”

“Haha, memang begitulah kataku dahulu, masakah aku mungkir sekarang?” sahut Cing-sun dengan tertawa. “Ya, terkadang aku pun terpikir entah cara bagaimana baiknya aku akan mati? Kalau mati sakit di atas ranjang, itulah terlalu jamak. Mati di medan bakti, sudah tentu cara ini sangat baik, tapi melulu gagah perwira saja tanpa romantis, kurasa masih kurang sempurna dan tidak sesuai dengan perbuatanku selama hidup. Tapi kini, Siau Kheng, apa yang pakai benar-benar suatu cara yang paling tepat, rupanya sudah ditakdirkan aku Toan Cing-sun harus mati di mulut mungil wanita paling cantik di zaman ini, biar mati pun aku akan merasa puas.”

Mendengar sampai di sini, Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok menjadi khawatir sekali, jiwa kekasih mereka itu benar-benar terancam bahaya, sebaliknya Siau Hong terlihat masih enak-enak menonton di luar jendela dan tiada tanda-tanda akan turun tangan untuk menolong.

Keruan mereka sangat gelisah dan diam-diam mencaci maki bekas pangcu itu, coba kalau tak tertutuk olehnya tentu sejak tadi mereka menerjang dalam rumah untuk menolong sang kekasih.

Sebaliknya waktu itu Siau Hong masih belum dapat meraba apa sebenarnya maksud tujuan Be-hujin itu, ia tidak tahu apakah nyonya janda itu benar-benar akan membunuh Toan Cing-sun atau cuma untuk menggertak saja. Dan karena khawatir salah tindak maka Siau Hong tetap sabarkan diri untuk mengikuti perkembangan selanjutnya.

Begitulah maka didengarnya Be-hujin sedang berkata, dengan tertawa, “Toan-long, sebenarnya aku ingin menggigitmu dengan perlahan-lahan, akan kugigitmu seratus kali atau seribu kali, tapi kukhawatir pula bawahanmu keburu datang menolongmu. Maka boleh begini saja, aku akan menancapkan sebilah belati pada hulu hatimu, aku cuma menusuk setengah senti saja ke dadamu hingga jiwamu takkan melayang, tapi bila ada orang ingin menolongmu, segera kutikam belati itu dan kontan kau pun aku terbebas dari segala penderitaan.”

Sembari berkata ia terus mengeluarkan sebilah belati yang kecil mengilap, ia potong baju dada Toan Cing-sun, ia acungkan ujung belati ke hulu hati sang kekasih, sedikit ia tekan, ujung belati lantas menusuk ke dalam dada, dan memang benar hanya ambles masuk setengah senti saja.

Pada saat Be-hujin menusuk dada Toan Cing-sun dengan belati, dengan mata tak berkedip Siau Hong mengawasi tangan wanita itu, asal dilihatnya nyonya itu menikam dengan kuat dan membahayakan jiwa Toan Cing-sun, maka seketika ia akan turun tangan untuk menolong.

Syukurlah ia lihat Be-hujin cuma menusuk dengan perlahan saja, maka Siau Hong tidak perlu khawatir pula.

Kemudian terdengar Toan Cing-sun berkata, “Siau Kheng, sesudah aku mati digigit olehmu, maka selamanya aku pun takkan meninggalkanmu.”

“Sebab apa?” tanya Be-hujin.

“Sebab umumnya kalau sang istri membunuh suami sendiri, maka arwah sang suami yang sudah mati itu pasti takkan melayang pergi, tapi akan menjaga di samping sang istri untuk mengalang-alangi kalau ada lelaki lain akan main gila dengan dia.”

Apa yang dikatakan Toan Cing-sun ini sebenarnya cuma untuk menakut-nakuti saja agar Be-hujin tidak terlalu keji perbuatannya. Tak terduga wajah nyonya janda itu lantas berubah hebat demi mendengar ucapan itu dan tanpa terasa melirik sekejap ke belakang.

Dasar Toan Cing-sun memang cerdik, segera ia tambahi pula, “Lihatlah, siapakah orang yang berada di belakangmu itu?”

Be-hujin terkejut, cepat sahutnya, “Siapa sih yang berada di belakangku? Huh ngaco-belo belaka!”

“Itu dia, seorang lelaki sedang tertawa padamu sambil meraba-raba tenggorokan sendiri seakan-akan kerongkongannya sedang kesakitan,” demikian kata Cing-sun pula. “He, siapakah dia? Perawakannya tinggi, dan menangis malah…”

Tanpa terasa Be-hujin membalik tubuh dengan cepat, dan sudah tentu tiada seorang pun yang dilihatnya. Dengan suara gemetar ia mengomel, “Kau… kau bohong!”

Semula Toan Cing-sun sebenarnya cuma omong asal omong saja, tapi kini demi melihat perempuan itu ketakutan sekali, seketika timbul rasa curiganya.

Sebagai seorang cerdik, sedikit pikir saja segera ia tahu di balik kematian Be Tay-goan itu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Ia tahu Be Tay-goan terbinasa oleh serangan ‘Soh-au-kim-na-jiu’ (ilmu mencengkeram leher), sebab itulah ia sengaja bilang orang itu seperti sakit kerongkongan dan meneteskan air mata. Dan benar juga ucapannya itu membuat Be-hujin sangat gelisah dan ketakutan.

Sedikit kelakuan Be-hujin yang tidak wajar itu segera dapat diduga oleh Toan Cing-sun. Ia pikir kalau dirinya ingin selamat, agaknya harus mencari jalan melalui kelemahan wanita itu dalam urusan kematian suaminya itu.

Muka ia lantas berkata pula, “Eh, aneh, mengapa hanya sekejap saja lelaki itu sudah menghilang, dia pernah apakah denganmu?”

Keruan Be-hujin semakin gugup, tapi sejenak kemudian ia dapat tenangkan diri, sahutnya, “Toan-long, urusan sudah begini, tentunya harus kau tepati sumpahmu itu, mengingat hubungan kita yang baik, biarlah kubereskan dirimu secara cepat dan enak saja.”

Sambil berkata ia terus melangkah maju hendak menolak belati yang menancap di dada Toan Cing-sun itu.

Cing-sun sadar keadaan sangat gawat, mati-hidupnya tinggal sekejap saja, tiba-tiba ia mendelik ke belakang Be-hujin sambil berteriak, “Be Tay-goan, lekas cekik mati dia!”

Memangnya Be-hujin terkejut ketika melihat sikap Toan Cing-sun yang menyeramkan itu, ketika mendengar teriakannya menyebut “Be Tay-goan,” keruan ia tambah kaget dan tanpa terasa ia menoleh.

Kesempatan yang sudah dicari itu tidak disia-siakan Cing-sun lagi, sekuatnya ia menunduk terus menyeruduk ke arah Be-hujin, “bluk”, kontan bawah dagu nyonya janda itu tertumbuk dan jatuh kelengar.

Tapi serudukan Toan Cing-sun ini tiada mempunyai tenaga dalam sedikit pun, Be-hujin cuma pingsan sebentar saja lantas siuman kembali, lalu berbangkit sambil meraba-raba dagu sendiri, katanya dengan tertawa, “Toan-long, engkau suka kasar begini, daguku sampai kesakitan kau tumbuk. Engkau sengaja omong yang tidak-tidak untuk menakuti aku, sekarang aku tak mau tertipu lagi.”

Diam-diam Cing-sun mengeluh dan menghela napas, jika nasibnya sudah ditakdirkan demikian, apa mau dikata lagi? Tiba-tiba datang sesuatu pikiran padanya, katanya segera, “Siau Kheng, apakah aku akan kau bunuh secara begini saja? Kalau nanti orang Kay-pang datang kemari untuk menghukummu atas dosamu membunuh suami sendiri, lantas siapa yang akan membela dirimu?”

Be-hujin tertawa, sahutnya, “Siapa yang bilang aku membunuh suami sendiri? Hah, setelah engkau kubunuh, akan kupergi dan menghilang jauh-jauh, masakah aku masih mau tinggal di sini.”

Ia menghela napas penuh menyesal, lalu berkata pula, “Toan-long, sesungguhnya aku sangat rindu padamu, sangat cinta padamu, tapi karena aku tak bisa mendapatkanmu, terpaksa aku menghancurkan dirimu, ini adalah tabiatku, apa mau dikatakan lagi?”

“Ah, tahulah aku sekarang,” kata Cing-sun tiba-tiba. “Tempo hari kau sengaja menipu nona cilik itu supaya Kiau Hong membunuhku, tujuanmu adalah sama seperti sekarang ini, bukan?”

“Ya, benar,” sahut Be-hujin. “Keparat Kiau Hong itu benar-benar tak berguna, masakah membunuhmu pun tidak mampu hingga kau berhasil melarikan diri kemari.”

Sungguh heran Siau Hong tak terkatakan, kepandaian menyamar si A Cu boleh dikata tiada bandingannya, apalagi Be-hujin ini jarang bertemu dengan Pek Si-kia, mengapa ia dapat mengetahui rahasia penyamaran A Cu itu?

Sementara itu terdengar Be-hujin berkata pula, “Toan-long, aku akan menggigit sekali lagi.”

“Silakan, aku sangat senang malah,” sahut Cing-sun dengan tersenyum.

Siau Hong tahu sudah tiba waktunya, segera ia jujukan telapak tangannya ke dinding yang berada di belakang Toan Cing-sun itu, ia keraskan tenaga dalam dan perlahan tangannya dapat menembus dinding itu, akhirnya tanpa diketahui siapa pun telapak tangannya dapat menempel punggung Toan Cing-sun.

Pada saat itulah Be-hujin menggigit pula daging di bahunya hingga Cing-sun berteriak kesakitan sambil kelojotan, dan pada saat yang sama tiba-tiba ia merasa kedua tangan sendiri dapat bergerak, tali kulit yang mengikat tangannya dijepit putus oleh Siau Hong. Berbareng suatu arus tenaga dalam membanjir ke tubuh Toan Cing-sun.

Sesudah tertegun sekejap, Cing-sun sadar di luar telah datang bala bantuan yang kuat, segera ia bertindak, tenaga dalam yang mengalir ke tubuhnya itu dikerahkan ke tangan dan jari, “crit”, kontan ia mengeluarkan It-yang-ci yang sakti.

Keruan Be-hujin menjerit, iganya tertutuk sekali, orangnya pun roboh di balai-balai.

Melihat Toan Cing-sun sudah berhasil mengatasi Be-hujin, cepat Siau Hong menarik kembali tangannya. Dan selagi Cing-sun hendak bersuara menyatakan terlena kasih kepada penolong yang tak kelihatan itu, tiba-tiba kerai pintu tersingkap dan masuklah seorang.

“Siau Kheng, apa kau masih sayang padanya? Mengapa sudah sekian lama belum kau bereskan dia?” demikian orang itu menegur.

Melihat orang itu, seketika Siau Hong terkesima. Tapi hanya sekejap saja, maka segala tanda tanya yang selama ini bersarang dalam benaknya itu seketika terjawab semuanya.

Terbayang oleh Siau Hong kejadian-kejadian yang lalu, yaitu waktu Be-hujin datang di tengah hutan di luar kota Bu-sik, di sana nyonya janda itu mengeluarkan kipas lempit miliknya sebagai bukti untuk memfitnah dia malam-malam menggerayangi rumah Be Tay-goan untuk mencuri surat penting itu. Ia heran dari manakah nyonya janda itu mendapatkan kipas itu? Jika kipas pribadinya itu dicuri orang, tentu si pencuri adalah orang kepercayaannya. Dan siapakah orang itu? Rahasia tentang dirinya keturunan Cidan sudah terpendam selama lebih 30 tahun, mengapa mendadak orang membongkarnya?

Penyamaran A Cu sebagai Pek Si-kia sebenarnya mirip sekali, dari mana Be-hujin dapat mengetahui rahasia penyamarannya?

Jawabannya ternyata mudah saja dengan munculnya orang ini. Siapakah dia?

Kiranya ia tak-lain-tak-bukan adalah Pek Si-kia sendiri, itu Cit-hoat Tianglo Kay-pang yang disegani.

Begitulah maka terdengar Be-hujin sedang berseru dengan khawatir, “Dia… dia masih tangkas, aku… aku tertutuk olehnya.”

Mendengar itu, segera Pek Si-kia melompat maju, ia pegang kedua tangan Toan Cing-sun “krek-krak”, kontan ia puntir patah tulang pergelangan lawan itu.

Hendaklah diketahui bahwa tenaga murni yang disalurkan Siau Hong ke dalam tubuh Toan Cing-sun itu hanya dapat bertahan sebentar saja, ketika Siau Hong menarik kembali tangannya, kembali Toan Cing-sun menjadi lumpuh pula.

Siau Hong sendiri sedang bergolak perasaannya oleh munculnya Pek Si-kia, seketika ia tidak berpikir untuk membantu Toan Cing-sun lagi, ia tidak menduga bahwa mendadak Pek Si-kia akan turun tangan keji, maka selagi ia terkejut oleh kejadian itu tahu-tahu tulang pergelangan tangan Toan Cing-sun sudah patah. Pikirnya, “Ya, orang ini suka menggoda kaum wanita, hari ini biar dia tahu rasa sedikit. Mengingat A Cu, pada detik terakhir tentu akan kutolong jiwanya.”

Dalam pada itu terdengar Pek Si-kia sedang berkata, “Orang she Toan, tidak nyana kepandaianmu sangat hebat juga, sudah minum Sip-hiang-bi-hun-san toh tenagamu tidak lenyap sama sekali.”

Meski Toan Cing-sun tidak tahu siapakah gerangan orang yang membantunya dengan hawa murni dari luar rumah itu, tapi ia menduga pasti seorang tokoh yang berkepandaian tinggi, di hadapannya kini bertambah seorang musuh yang tangguh, namun di belakang sendiri juga ada penolong yang kuat, maka ia tidak menjadi gugup, apalagi dari ucapan Pek Si-kia itu terang orang tidak tahu bahwa dirinya barusan telah ditolong orang, maka ia lantas bertanya, “Apakah Tuan ini tianglo dari Kay-pang? Selamanya aku tidak kenal padamu, mengapa datang-datang lantas turun tangan keji?”

Pek Si-kia tidak menjawab, ia mendekati Be-hujin dan memijat-mijat beberapa kali pada pinggangnya. Namun It-yang-ci keluarga Toan dari Tayli adalah ilmu tiam-hiat yang sakti, biarpun ilmu silat Pek Si-kia tidak lemah, tapi tidak mampu membuka hiat-to yang tertutuk itu. Maka dengan berkerut kening tokoh Kay-pang itu bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Nadanya ternyata penuh perhatian mirip seorang suami lagi tanya istrinya.

“Aku merasa lemas, sedikit pun tak bisa berkutik,” sahut Be-hujin. “Si-kia, lekas turun tangan membereskan dia saja, dan segera kita pun angkat kaki dari sini. Rumah… rumah ini lebih baik kita tinggalkan saja.”

“Hahahaha!” mendadak Toan Cing-sun terbahak-bahak. “Siau Kheng, mengapa kau ketakutan? Hahahaha!”

“Toan-long, ajalmu sudah di depan mata, tapi engkau masih senang-senang dan tertawa segembira ini?” ujar Be-hujin dengan tersenyum.

“Plok”, mendadak Pek Si-kia tempeleng nyonya janda itu dengan keras sambil memaki, “Masih kau panggil dia Toan-long? Kau perempuan hina dina!”

“Long” atau “kok” adalah panggilan kaum istri kepada sang suami.

Dan selagi Be-hujin meringis kesakitan, di sana Toan Cing-sun telah membentak dengan gusar, “Tahan, mengapa kau pukul dia?”

“Hm, berdasar apa kau ikut campur?” jengek Pek Si-kia. “Dia adalah orangku, aku suka hajar atau maki dia, peduli apa dengan kau?”

“Wanita cantik molek begini, masakah kau tega memukulnya?” demikian kata Cing-sun. “Seumpama betul dia adalah orangmu, sepantasnya engkau membujuk rayu untuk menyenangkan dia.”

“Dengarlah itu!” kata Be-hujin sambil mendeliki Pek Si-kia sekali. “Coba, orang lain begitu baik padaku, dan bagaimana pula sikapmu kepadaku? Apa engkau tidak malu?”

“Kau perempuan jalang ini, sebentar lagi tentu akan kuhajarmu?” demikian Si-kia mendamprat. “Orang she Toan, aku justru tidak sudi mendengarkan ocehanmu itu. Kau pandai mengambil hatinya, tapi mengapa sekarang kau akan dibunuh olehnya? Nah, silakan saja, pada hari yang sama tahun depan adalah ulang tahun ajalmu ini.”

Habis berkata, ia terus melangkah maju dan hendak menusukkan belati yang menancap di dada Toan Cing-sun itu.

Melihat keadaan sudah berbahaya, segera, tangan Siau Hong dimasukkan pula melalui lubang dinding tadi, asal Pek Si-kia melangkah maju lagi sedikit, segera tenaga pukulannya akan dilontarkan.

Tapi pada saat itu juga mendadak kerai tersingkap oleh tiupan angin yang kencang, di mana angin keras menyambar, seketika api lentera terpadam dan kamar itu menjadi gelap gulita.

Be-hujin menjerit ketakutan, Pek Si-kia tahu kedatangan musuh, ia tidak sempat membunuh Toan Cing-sun lagi, terpaksa ia harus menghadapi musuh lebih dulu. Segera ia membentak, “Siapa?”

Berbareng kedua tangan siap di depan dada sambil membalik tubuh.

Angin kencang yang memadamkan api lentera tadi terang dilakukan oleh seorang yang ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi sesudah kamar itu menjadi gelap gulita, keadaan tetap sunyi senyap saja. Tapi ketika Pek Si-kia, Toan Cing-sun, Be-hujin dan Siau Hong memerhatikan, maka tertampaklah lamat-lamat di dalam kamar itu sudah bertambah dengan satu orang.

Be-hujin yang pertama-tama tidak tahan perasaannya, ia menjerit tajam, “Ada orang! Ada orang!”

Orang itu tampak berdiri tegak di tengah pintu, kedua tangan lurus ke bawah, mukanya tidak kelihatan.

“Siapa kau?” bentak Pek Si-kia pula sambil melangkah maju setindak.

Tapi orang itu tetap diam saja seakan-akan tidak mendengar. Kembali Pek Si-kia membentak lagi, “Siapa kau? Jika tidak menjawab, terpaksa Cayhe tidak sungkan-sungkan lagi.”

Oleh karena tidak tahu pendatang itu kawan atau lawan, cuma dari angin pukulannya yang dapat memadamkan api lentera tadi jelas ilmu silat pendatang ini sangat tinggi, maka Pek Si-kia tidak ingin bergebrak dengan dia. Tapi orang itu tetap berdiri tegak tanpa bersuara, dalam keadaan gelap, suasana menjadi seram rasanya.

Dalam pada itu Toan Cing-sun dan Siau Hong yang berada di dalam dan di luar rumah itu juga merasa sangsi melihat bentuk pendatang itu, pikir mereka, “Ilmu silat orang ini tidak lemah, tapi di kalangan Bu-lim mengapa tidak pernah terdengar ada tokoh seperti dia ini?”

Sementara itu Be-hujin berteriak pula, “Lekas menyalakan lentera, aku takut, aku takut!”

Diam-diam Si-kia mendongkol, pikirnya, “Perempuan jalang ini sembarangan omong saja, kalau aku menyalakan api, bukankah akan memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang?”

Begitulah maka ia tatap siapkan kedua tangan di depan dada, ia ingin tahu bagaimana musuh akan bertindak lebih dulu, dengan demikian ia akan dapat mengetahui musuh benar-benar lihai atau tidak. Tak tersangka orang itu tetap diam-diam saja hingga mereka berdiri berhadapan sampai cukup lama. Keruan saja makin lama Pek Si-kia makin khawatir, pikirnya, “Tentu orang ini adalah lawan dan bukan kawan, tapi dia tidak mau menyerang, apakah sebabnya? Ah, tentu dia lagi menunggu kawannya, mungkin khawatir seorang diri tak mampu melawan aku, maka perlu menunggu bala bantuan dulu untuk menolong Toan Cing-sun.”

Berpikir demikian, maka ia tidak mau buang waktu lagi, segera ia berseru, “Jika saudara tidak mau bersuara, terpaksa aku yang akan bertindak.”

Dan ketika melihat lawan masih tetap diam saja, segera ia mengeluarkan sebatang pusut baja, sekali melompat maju, di mana pusut baja bekerja, terus saja ia menusuk orang itu.

Tipu serangan yang disebut “Kong-sia-tau-gu” atau Sinar Kilat Menembus Langit ini adalah salah satu tipu serangan yang paling diandalkannya.

Namun hanya sedikit mengegos saja orang itu sudah dapat menghindarkan serangan, bahkan Pek Si-kia lantas merasa serangkum angin keras menyambar ke arahnya, jari tengah lawan telah mencengkeram lehernya.

Serangan belasan ini datangnya cepat luar biasa, belum lagi Si-kia sempat menarik kembali pusutnya, tahu-tahu kelima jari musuh sudah menempel tenggorokannya.

Keruan kejutnya tidak kepalang, sukma serasa terbang ke awang-awang. Lekas ia melompat mundur untuk menghindarkan cengkeraman orang sambil berseru dengan suara keder, “Kau… kau…”

Kiranya apa yang membuatnya takut setengah mati itu bukanlah disebabkan ilmu lawan yang sangat tinggi itu, tapi lantaran tipu serangan yang digunakan orang itu ternyata adalah “Soh-au-kim-na-jiu”.

“Soh-au-kim-na-jiu” atau ilmu mencekik leher adalah kepandaian tunggal warisan keluarga Be Tay-goan, selain anak murid keluarga Be, di dunia persilatan tiada orang lain lagi yang bisa memainkannya. Dan sejak Be Tay-goan meninggal, ilmu silat itu sesungguhnya lantas ikut putus dan tak terwariskan lagi.

Pek Si-kia adalah kawan karib Be Tay-goan, dengan sendirinya ia cukup kenal kepandaian tunggal sang kawan. Dan sekali gebrak saja, seketika keringat dingin membasahi tubuh Pek Si-kia. Waktu ia perhatikan lawan itu, ia lihat perawakannya sangat memper Be Tay-goan, cuma keadaan gelap gulita, maka mukanya tidak jelas kelihatan.

Sesudah gebrak, orang itu tetap diam saja, sikapnya itu benar-benar sangat menyeramkan. Si-kia merasa lehernya rada kesakitan, mungkin terluka oleh kuku orang. Sesudah tenangkan diri, segera ia bertanya pula, “Siapakah saudara? Apa kau she Be?”

Tapi orang itu seperti orang tuli atau gagu, sama sekali ia tidak ambil pusing atas pertanyaan Pek Si-kia.

“Siau Kheng, coba menyalakan lampu,” kata Si-kia.

“Aku tak bisa bergerak, engkau saja yang menyulutnya,” sahut Be-hujin.

Sudah tentu Peta Si-kia tidak berani sembarangan bergerak sebab khawatir memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang, pikirnya, “Ilmu silat orang ini terang jauh lebih tinggi daripadaku, bila Toan Cing-sun akan ditolongnya, tidak perlu menunggu bala bantuan juga dia dapat bertindak sendirian, mengapa sesudah bergebrak tadi lalu ia tidak menyerang pula?”

Keadaan kembali hening hingga sekian lamanya, mendadak Pek Si-kia merasakan sesuatu yang aneh. Meski tiada seorang pun yang bicara dan bergerak di dalam kamar, tapi pernapasan setiap orang tentu ada, ia dengar suara napas sendiri, suara napas Be-hujin dan Toan Cing-sun, tapi aneh, orang yang berdiri berhadapan dengan dia itu justru tidak terdengar bernapas meski ia coba mendengarkan dengan cermat.

Masakah ada manusia hidup tak bernapas? Sungguh tidak masuk akal.

Sampai akhirnya Pek Si-kia jadi tak sabar lagi, mendadak ia membentak terus menubruk maju, pusutnya menikam muka orang itu. Tapi sekali tangkis dengan tangan kiri, orang itu dapat menyampuk tikaman pusut lawan, berbareng tangan kanan meraih leher Pek Si-kia.

Si-kia sudah menduga kemungkinan itu, maka sedikit ia mendak, cepat ia menyelinap ke samping di bawah ketiak orang. Tapi orang itu tidak memburu, kembali ia berdiri mematung di tengah pintu. Waktu Si-kia menikam kaki orang itu dengan pusutnya, dengan tegak kaku orang itu melompat ke atas untuk menghindar.

Melihat tubuh orang yang kaku tegak itu, pada waktu melompat sedikit pun tidak menekuk lutut, tanpa terasa Be-hujin berteriak-teriak, “Mayat hidup! Mayat hidup!”

Maka terdengarlah suara “bluk”, dengan antap orang itu turun ke lantai. Keruan Pek Si-kia mengirik, pikirnya, “Jika orang ini seorang tokoh persilatan, mengapa gerak-geriknya begini kaku? Apakah betul di dunia ini ada mayat hidup?”

Tapi jelek-jelek dia adalah tokoh terkemuka Kay-pang, betapa pun ia tidak boleh unjuk kelemahan di depan musuh yang aneh itu.

Sesudah ragu sejenak, kembali ia menubruk maju pula dan beruntun pusutnya menikam tiga kali ke bagian bawah lawan dan memang benar dengkul orang itu seperti tidak bisa menekuk, selalu ia menghindar dengan lompatan kaku, tampaknya bukan mustahil melangkah pun orang itu tidak bisa.

Kalau Pek Si-kia menikam ke kiri, ia lantas melompat ke kanan, bila Si-kia menusuk ke kanan, orang itu lantas menghindar ke kiri.

Melihat kelemahan lawan itu, rasa jeri Pek Si-kia agak berkurang, makin lama makin dirasakan lawan itu bukanlah manusia hidup.

Kembali Pek Si-kia menyerang beberapa kali lagi, meski lawan itu kelihatannya kaku cara menghindarnya, namun ilmu permainan pusutnya yang lihai itu sebegitu jauh ternyata tak bisa menyenggol tubuh orang.

Sekonyong-konyong terasa “nyes” dingin, tahu-tahu Si-kia merasa sebelah tangan orang yang lebar dan dingin itu meraba kuduknya. Dalam kagetnya Si-kia terus menikam ke belakang, namun luput, sebaliknya tangan orang itu makin berat menindih ke bawah.

Cepat Si-kia bertahan dengan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi semakin ia tahan, semakin berat pula daya tekanan musuh.

Sejenak kemudian ia mulai kewalahan, kepalanya mulai menunduk tertindih, menyusul terpaksa ia membungkuk, di atas tengkuk seakan-akan ditaruhi sepotong batu raksasa beribu kati beratnya hingga tulang punggung pun terasa akan patah.

Karena itu napas Pek Si-kia semakin memburu semakin tersengal-sengal. Keruan Siau Hong dan Toan Cing-sun juga heran oleh kejadian itu.

“Si-kia, Si-kia! Kenapa kau?” tanya Be-hujin dengan khawatir.

Sudah tentu Pek Si-kia tiada kelebihan tenaga untuk menjawabnya, ia merasa tenaga dalamnya sedang terkuras oleh daya tekan di atas punggung sedikit demi sedikit.

Sekonyong-konyong sebelah tangan lawan yang lebar dan dingin itu kembali meraba mukanya. Tangan itu benar-benar bukan tangan manusia, sebab sedikit pun tidak terasa hangatnya tangan manusia umumnya. Saking ketakutan tanpa terasa Pek Si-kia berteriak-teriak dengan suara ngeri, “Mayat hidup! Mayat hidup!”

Gerak tangan terakhir itu ternyata sangat perlahan, mula-mula muka Pek Si-kia yang diraba, kemudian meraba matanya, jari tangan menggosok-gosok perlahan biji matanya.

Keruan Si-kia ketakutan setengah mati. Bayangkan saja, asal jari musuh sedikit menekuk, seketika biji matanya akan terkorek keluar. Untung tangan yang dingin bagai es itu menggeser ke bawah pula dan meraba-raba hidungnya, lalu meraba mulutnya dan menurun terus ke bawah, akhirnya sampai di lehernya.

Orang itu menggunakan dua jari telunjuk dan tengah untuk menjepit tenggorokan Pek Si-kia, makin lama makin keras jepitannya.

Sungguh tidak kepalang rasa takut Pek Si-kia, mendadak ia berteriak, “Ampun, Tay-goan! Ampun!”

“Ap… apa katamu?” seru Be-hujin dengan suara melengking tajam.

Tapi Pek Si-kia masih berteriak-teriak, “Tay-goan Hengte, segalanya dia yang mengatur, tiada sangkut pautnya dengan aku.”

“Kalau aku yang mengatur, lantas mau apa?” kata Be-hujin dengan gusar. “Be Tay-goan, hidupmu adalah orang yang tak berguna, sesudah mati kau mampu berbuat apa? Hm, aku justru tidak gentar padamu!”

Pek Si-kia merasakan waktu menyangkal dosa tadi cekikan orang itu ia atas dikendurkan sedikit. Dan kini sesudah tutup mulut, cekikan orang itu kembali diperkeras. Dalam gugupnya didengarnya Be-hujin menyebut “Be Tay-goan”, keruan ia makin yakin makhluk aneh itu pasti mayat hidup Be Tay-goan, maka kembali ia berteriak-teriak, “Ampun, Tay-goan! Istrimu yang berulang-ulang minta engkau membongkar rahasia asal-usul Kiau Hong, tapi engkau berkeras tidak mau, maka timbul maksud jahatnya untuk membunuhmu…”

Siau Hong terkesiap, ia tidak percaya bahwa di dunia ini ada setan segala, tapi ia yakin pendatang itu pasti seorang tokoh persilatan yang sengaja bersikap sebagai makhluk halus untuk membikin takut Be-hujin dan Pek Si-kia, dengan demikian dapat memaksa mereka mengaku dosa yang telah diperbuatnya.

Dan benar juga, dalam keadaan bingung dan takut Pek Si-kia mulai mengaku, dari ucapannya itu terang Be Tay-goan telah dibunuh oleh mereka berdua dan Nyonya Be sendiri adalah biang keladinya pembunuhan itu.

Sebabnya Be-hujin membunuh suami sendiri adalah karena sang suami tidak mau membongkar rahasia asal-usul Siau Hong.

“Sebab apakah dia begitu dendam padaku? Mengapa ia bertekad menggulingkan kedudukanku sebagai pangcu?” demikian Siau Hong tidak habis mengerti.

Dalam pada itu terdengar Be-hujin masih menjerit-jerit pula, “Ayolah, boleh kau cekik mati diriku! Huh, aku justru memandang hina kepada manusia tak berguna macammu itu! Huh, pengecut!”

Maka terdengarlah “krak” sekali, tulang tenggorokan Pek Si-kia telah dijepit remuk oleh jari orang itu. Mati-matian Pek Si-kia masih meronta-ronta, tapi betapa pun juga dia tak bisa melepaskan diri dari tangan orang itu.

Menyusul terdengar pula “krok” sekali, tenggorokan Pek Si-kia pecah, ia menarik napas beberapa kali, tapi hawa tak bisa tersedot lagi ke dalam dada, badannya tampak berkelojotan sejenak, lalu putuslah napasnya.

Sehabis mencekik mati Pek Si-kia, sekali putar tubuh, segera orang itu menghilang di luar rumah.

Cepat pikiran Siau Hong tergerak, “Siapakah orang itu? Aku harus menyusulnya!”

Segera ia melesat keluar rumah sana, di tanah salju yang putih terang itu terlihat sesosok bayangan orang sedang menghilang ke arah timur laut sana. Begitu gesit gerakan orang itu hingga kalau bukan Siau Hong, tentu sukar melihatnya.

“Cepat amat gerakan orang itu!” demikian Siau Hong membatin. Segera ia pun menyusul ke sana. Sesudah mempercepat langkahnya, maka jaraknya tinggal belasan meter saja jauhnya.

Siau Hong dapat melihat jelas bahwa orang itu terang adalah tokoh kosen dunia persilatan, kini orang itu tidak melompat-lompat dengan kaku, tapi langkahnya enteng dan gesit mirip orang meluncur salju cepatnya.

Ginkang yang dimiliki Siau Hong berasal dari Siau-lim-pay, ditambah lagi didikan Ong-pangcu almarhum, maka ia pun dapat berlari dengan sama cepatnya, sekali langkah lantas lebih satu meter jauhnya, dan selagi tubuh terapung di udara, kembali kakinya melangkah pula dengan lebar.

Kalau bicara tentang gaya memang Siau Hong kalah indah daripada orang di depan itu, namun untuk berlari jarak jauh terang ia lebih kuat. Maka sesudah berlari-lari sekian lama, jaraknya dengan orang di depan itu dapat diperpendek lagi satu-dua meter.

Tidak lama kemudian, rupanya orang itu pun merasa sedang dikuntit dan tahu pula penguntit itu sangat tinggi ilmu silatnya, maka mendadak ia meluncur lebih cepat, tidak kelihatan dia menggunakan tenaga, tapi gerak-geriknya gesit luar biasa dan pesat melesat ke depan, jaraknya dengan Siau Hong kembali ditarik panjang lagi beberapa meter.

Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh kepandaian orang yang hebat itu, pantas jago seperti Pek Si-kia hanya dalam satu-dua gebrak saja lantas terbunuh olehnya.

Bakat pembawaan Siau Hong memang lain daripada yang lain, yaitu bakat jago silat jempolan. Meski guru-gurunya seperti Hian-koh Taysu dan Ong-pangcu juga tinggi ilmu silatnya, tapi belum terhitung tokoh-tokoh yang luar biasa.

Sebaliknya Siau Hong ternyata jauh melebihi guru-guru yang mengajarnya itu, setiap jurus ilmu silat yang biasa dan umum bagi orang lain, kalau dia yang memainkan, otomatis lantas mengeluarkan daya serang yang hebat luar biasa. Orang yang kenal dia mengatakan bakat pembawaannya dalam ilmu silat itu memang pemberian Ilahi dan tidak mungkin dicapai dengan hanya latihan belaka.

Dan oleh karena dia memiliki bakat yang sukar disamai orang lain, maka selama hidupnya jarang ketemu tandingan.

Tapi kini ia menemukan seorang lawan yang ginkangnya tidak di bawahnya, seketika timbul jiwa jagoannya, segera ia percepat pula langkahnya dan menyusul lebih dekat lagi.

Begitulah, susul-menyusul kedua orang itu masih terus berlari cepat ke utara, selama itu tetap Siau Hong tak mampu menyusul hingga sejajar dengan orang itu, sebaliknya orang itu pun tidak dapat meninggalkan kejaran Siau Hong.

Sejam-dua jam telah lalu, mereka sudah berlari ratusan li jauhnya, tapi jarak mereka masih tetap sama. Selang tak lama lagi, cuaca mulai terang, fajar telah menyingsing, salju juga sudah berhenti.

Dari jauh Siau Hong lihat di bawah lereng gunung sana ada sebuah kota, perumahan berderet-deret, agaknya tidak sedikit penduduknya. Terdengar suara ayam berkokok di sana-sini sahut-menyahut.

Tiba-tiba Siau Hong ketagihan arak, segera ia berseru, “Wahai kawan yang berada di depan itu, marilah aku mengundang engkau minum 20 mangkuk arak, habis itu nanti kita berlomba lari lagi?”

Tapi orang itu tidak menjawabnya, larinya masih tetap cepat luar biasa.

Dengan tertawa Siau Hong berkata pula, “Engkau telah membunuh jahanam Pek Si-kia itu, dengan sendirinya engkau adalah seorang kesatria sejati, Siau Hong mengaku kalah. Ginkangku tak bisa memadaimu, marilah kita pergi minum arak saja, tak perlu berlomba lagi!” sembari berkata ia terus lari sama cepatnya, sedikit pun tidak menjadi kendur.

Mendadak orang di depan itu berhenti lari dan berseru, “Pak Kiau Hong, Lam Buyung, nyata memang bukan omong kosong. Engkau lari sambil bicara, tapi tenaga murni dalam tubuhmu masih dapat kau kerahkan sesukanya, sungguh seorang enghiong, sungguh seorang hokiat (enghiong=pahlawan, kesatria, hokiat=gagah, perwira)!”

Siau Hong dengar suara orang itu serak-serak tua, agaknya berusia jauh lebih tua dari dirinya, maka sahutnya, “Ah, Cianpwe terlalu memuji. Maafkan Wanpwe beranikan diri ingin berkenalan dengan Cianpwe, entah Cianpwe sudi atau tidak?”

“Ai, aku sudah tua, tiada gunanya lagi!” demikian sahut orang itu dengan menyesal. “Sudahlah, engkau jangan menyusul pula, kalau lari sejam lagi pasti aku akan kalah.”

Habis itu, perlahan ia meneruskan perjalanannya ke depan. Sebenarnya Siau Hong ingin menyusulnya untuk mengajak bicara, tapi cuma selangkah ia lantas ingat ucapan orang itu yang minta dia jangan menyusulnya lagi. Siau Hong ingat pula dirinya dimusuhi tokoh-tokoh persilatan Tionggoan, mungkin orang ini pun seorang yang membenci bangsa Cidan, maka ia batalkan niatnya buat menyusul lebih jauh, ia menyaksikan bayangan orang itu akhirnya menghilang di kejauhan, hatinya menyesal tak terhingga karena tak dapat melihat muka orang itu.

Ia tertegun sejenak, lalu masuk ke kota di kaki gunung itu, ia datangi suatu kedai arak untuk minum, setiap habis menenggak selalu ia menggebrak meja sambil berseru sendiri, “Laki-laki hebat, kesatria sejati! Ai, sayang, sayang!”

Dengan ucapan “laki-laki hebat dan kesatria sejati” itu ia hendak memuji kelihatan ilmu silat orang itu serta caranya membunuh Pek Si-kia. Sedang “sayang” yang dikatakan itu adalah karena ia gegetun tidak dapat bersahabat dengan tokoh aneh itu.

Sebagai seorang yang suka bersahabat, sejak Siau Hong dipecat dari Kay-pang, lebih-lebih sesudah bermusuhan dengan jago-jago persilatan Tionggoan, maka kawan-kawan baik masa lalu oleh dikata sudah putus hubungan semua, dengan sendirinya hatinya sangat kesal.

Kebetulan hari ini ia dapat bertemu dengan seorang tokoh yang ilmu silatnya setingkat dengan dirinya, tapi justru tiada jodoh untuk berkenalan, maka terpaksa ia menghibur hati nan masygul dengan arak.

Begitulah setelah menenggak lebih 20 mangkuk, ia bayar harganya lalu keluar dari kedai itu. Pikirnya, “Toan Cing-sun masih belum bebas dari ancaman bahaya, Wi Sing-tiok, Cin Ang-bian, dan kedua putri mereka telah kututuk semua, aku harus tukas kembali ke sana untuk menolong mereka.”

Dengan langkah Lebar segera ia menuju kembali ke rumah Be-hujin. Karena sekarang ia tidak lagi berlomba lari dengan orang, maka jalannya menjadi lebih lambat daripada perginya tadi. Setiba di rumah Be-hujin, waktu itu sudah lewat tengah hari. Ia lihat di tanah salju di luar rumah itu sunyi senyap, Wi Sing-tiok dan Cin Ang-bian berempat yang mestinya tak bisa berkutik karena tertutuk itu, kini sudah tidak kelihatan seorang pun.

“Siapakah yang dapat membuka hiat-to yang kututuk dan menolong mereka?” demikian Siau Hong agak terkejut.

Ketika ia mendorong pintu dan masuk ke rumah itu, ia lihat Pek Si-kia menggeletak tak bernyawa di samping pintu, Toan Cing-sun juga tak kelihatan lagi, di atas balai-balai terdapat seorang wanita yang berlumuran darah, itulah Be-hujin adanya.

Mendengar ada orang masuk ke dalam rumah, nyonya janda itu berpaling dan berseru perlahan, “To… tolonglah, lekas… lekas bunuh aku saja!”

Siau Hong melihat wanita yang tadinya cantik molek itu hanya dalam semalam saja sudah berubah menjadi pucat dan layu seperti sudah lebih tua 20 tahun, jelek dan tua tampaknya.

“Di manakah Toan Cing-sun?” tanya Siau Hong kemudian.

“Sudah ditolong orang! O, ja… jahat amat mereka itu!” demikian sahut Be-hujin. Dan mendadak ia menjerit kaget, “Haaahh!”

Suaranya tajam melengking hingga Siau Hong pun dibuatnya terkejut, cepat ia bertanya, “Ada apa?”

“Kau… kau Kiau-pangcu?” tanya Be-hujin dengan tersengal-sengal.

“Sudah lama aku bukan lagi Pangcu Kay-pang, masakah kau pura-pura tidak tahu?” jengek Siau Hong.

“O engkau benar-benar Kiau-pangcu. Ai, Kiau-pangcu, tolong, tolonglah, lekas… lekas kau bunuh aku saja,” ratap Be-hujin.

“Aku tidak ingin membunuhmu,” sahut Siau Hong dengan berkerut kening. “Kau bunuh suami sendiri, tentu orang Kay-pang akan membereskan dosamu itu.”

“Aku… aku tidak tahan,” ratap Be-hujin pula. “Perempuan hina dina cilik itu benar-benar sangat keji, biar… biar menjadi setan juga aku akan menuntut balas padanya. Co… coba kau lihat tu… tubuhku.”

Tapi karena nyonya janda itu meringkuk di tempat agak gelap, Siau Hong tak dapat melihat dengan jelas. Segera ia membuka jendela hingga kamar itu pun menjadi terang. Sekali pandang, mau tak mau Siau Hong merasa ngeri. Ia lihat di pundak, lengan, dada, kaki, di mana-mana penuh luka goresan pisau, bahkan di tempat luka-luka itu penuh dirubung semut.

Dari luka-luka itu Siau Hong tahu otot tulang anggota badan nyonya janda itu telah terpotong putus, makanya tak bisa bergerak lagi dan selanjutnya pasti akan menjadi orang cacat untuk selamanya. Yang aneh, mengapa di tempat luka itu penuh semut? Masakah semut juga doyan darah?

Ia dengar Be-hujin berkata pula, “Perempuan hina cilik itu sangat kejam, sesudah putuskan otot tulang kaki-tanganku dan menyayat badanku hingga penuh luka, lalu… lalu ia menuang lukaku ini dengan… dengan air madu, katanya supaya aku gatal-pegal untuk beberapa hari lamanya dengan segala penderitaan, katanya biar aku minta hidup tak bisa, ingin mati juga tidak dapat.”

Sekali-kali Siau Hong bukan orang yang berhati lemah, tapi kalau dia membunuh orang, selalu ia lakukan dengan tegas dan terang, untuk menyiksa musuh dengan cara-cara keji bukanlah menjadi kegemarannya. Maka ia pun tidak tega menyaksikan keadaan Be-hujin itu, ia pergi ke dapur dan mengambil satu baskom air, ia siram tubuh nyonya janda itu supaya bebas dari penderitaan gigitan semut.

“Terima kasih atas kebaikanmu,” kata Be-hujin kemudian. “Aku sudah terang tak bisa hidup lagi, maka sudilah engkau bermurah hati, lekaslah bunuh aku saja.”

“Sia… siapakah yang menyayatmu sedemikian rupa?” tanya Siau Hong.

“Siapa lagi kalau bukan perempuan hina dina cilik itu,” sahut Be-hujin dengan mengertak gigi penuh dendam. “Melihat usianya cuma 15-16 tahun saja, tapi perbuatannya ternyata begini keji dan kejam.”

“Hah, A Ci maksudmu?” seru Siau Hong terkejut.

“Ya, kudengar wanita hina itu memanggilnya begitu dan menyuruh bocah keparat itu lekas membunuh aku tapi… tapi A Ci itu justru tidak mau, ia siksa aku dengan perlahan-lahan, katanya untuk membalas sakit hati ayahnya, sengaja membikin aku tersiksa seperti ini…”

“Mengingat hubungan dulu denganmu, masakah Toan Cing-sun sama sekali tidak merintangi perbuatan putrinya yang hendak menyiksamu sekeji ini?” tanya Siau Hong.

“Dia dalam keadaan tak sadarkan diri, yaitu karena pengaruh Sip-hiang-bi-hun-san,” sahut Be-hujin.

“Pantas,” ujar Siau Hong. “Kalau tidak, sebagai seorang laki-laki yang bijaksana masakah dia biarkan putrinya berbuat sekeji ini. Eh, bukankah mereka itu dalam keadaan tertutuk, siapakah yang menolong mereka?”

“Jang… jangan tanya macam-macam lagi, lek… lekas kau bunuh aku saja,” pinta Be-hujin dengan merintih.

“Hm, bila kau tidak menjawab dengan baik, biar kusiram lukamu dengan air madu pula, lalu kutinggal pergi dan masa bodoh kau akan mati atau sekarat,” kata Siau Hong dengan menjengek.

“Ka… kalian orang laki-laki memang manusia kejam semua…”

“Dan caramu membunuh Saudara Tay-goan apakah tidak kejam?”

“Da… dari mana kau tahu? Sia… siapakah yang bilang padamu?”

“Akulah yang sedang tanya padamu dan bukan kau yang tanya padaku, tahu?” sahut Siau Hong dengan mendongkol. “Kaulah yang mesti memohon padaku dan bukan aku yang mohon padamu. Nah, katakan lekas!”

“Baiklah, akan kukatakan segalanya,” kata Be-hujin. “Yang datang tadi adalah seorang laki-laki berkepala besar dan berbaju kasar. Lebih dulu ia membuka hiat-to si A Ci, kudengar dara itu memanggilnya sebagai samsuko (kakak guru ketiga), kemudian A Ci minta dia membuka hiat-to ibunya dan perempuan hina Wi Sing-tiok itu lalu minta kedua wanita bejat yang lain ditolong pula.”

Hati Siau Hong terkesiap, ia tahu A Ci adalah anak murid iblis tua Sing-siok-hay, ilmu silat yang dipelajarinya dari golongan sangat keji dan jahat. Setiap orang persilatan Tionggoan kalau mendengar “Sing-siok-hay Lomo” (Iblis Tua dari Sing-siok-hay), kalau tidak lekas-lekas menyingkir tentu juga akan berkerut kening. Untung iblis tua itu pun tahu bahwa ilmu silat golongan mereka dibenci oleh umum, maka jarang meninggalkan sarang mereka di Sing-siok-hay itu.

Seperti Siau Hong sendiri, selamanya ia tidak tahu apakah iblis tua itu pernah datang ke Tionggoan atau tidak. Tapi kini demi mendengar bahwa orang yang menolong A Ci itu adalah samsukonya, jika begitu, maka terang anak murid Iblis Tua dari Sing-siok-hay itu beramai-ramai telah datang ke Tionggoan, bukan mustahil dunia persilatan bakal terjadi huru-hara dan banjir darah.

Lalu Siau Hong bertanya pula, “Dan berapa kira-kira usia orang itu? Membawa senjata apa?”

“Usianya antara 30-an, lebih muda dari dirimu dan tidak tampak membawa senjata apa-apa,” tutur Be-hujin.

“O, dan ke manakah mereka telah pergi?” tanya Siau Hong.

“Entah, aku tidak tahu. Ayolah, lekas… lekas membunuh aku saja,” pinta Be-hujin pula.

“Sesudah tanya dengan jelas baru kubunuhmu. Ingin mati, kan sangat gampang? Kalau ingin hidup, itulah yang susah,” demikian jengek Siau Hong. “Nah, coba katakan, sebab apa kau bunuh Be-hiati, membunuh suamimu sendiri?”

“Jadi engkau harus tahu?” sahut Be-hujin dengan sorot mata yang beringas.

“Ya, aku harus tahu,” sahut Siau Hong, “Aku adalah lelaki yang berhati keras, tidak nanti menaruh belas kasihan padamu.”

“Huh, biarpun engkau tidak bilang, apa kau sangka aku tidak tahu?” tiba-tiba Be-hujin memaki. “Sebabnya aku menjadi rusak seperti sekarang ini, semuanya gara-gara perbuatanmu. Kau binatang yang sombong dan congkak, pandang sebelah mata kepada orang lain! Kau orang Cidan yang lebih kotor daripada babi dan anjing, kalau kau mati tentu masuk neraka dan disiksa setan iblis. Ayolah, boleh kau siram lukaku dengan air madu, mengapa tidak kau lakukan? Huh, kau anak jadah, anak anjing, jahanam keparat…”

Begitulah makin memaki makin keji, seakan-akan segala rasa dendam dalam hati nyonya janda itu harus dilampiaskan seketika itu, sampai akhirnya segala kata-kata kotor dan rendah yang mestinya tidak pantas diucapkan oleh seorang perempuan juga dihamburkan oleh Be-hujin.

Tapi Siau Hong diam saja, ia biarkan Be-hujin mencaci maki sepuas-puasnya, wajah wanita celaka itu tadinya pucat lesi, setelah puas memaki, mukanya merah padam malah dan sorot matanya mengunjuk rasa senang.

Dan sesudah memaki kalang kabut sejenak pula, akhirnya suaranya mulai reda, sebagai penutup ia mendamprat, “Kiau Hong, kau anjing keparat ini, kau bikin aku celaka seperti sekarang ini, aku ingin lihat apakah kelak kau sendiri takkan ketulah.”

Namun Siau Hong mendengarkan dengan tenang saja, kemudian ia tanya, “Selesai belum memaki?”

“Sementara boleh puas dulu, nanti kulanjutkan memaki lagi,” sahut Be-hujin dengan gemas. “Hm, kau anak anjing yang tak punya biang, asal nyonya besarmu ini masih bernapas, pasti aku akan memakimu sampai napas terakhir.”

“Bagus, boleh kau maki terus,” ujar Siau Hong. “Kalau tidak salah, waktu pertama kalinya aku bertemu denganmu adalah di tengah hutan di luar kota Bu-sik itu, tatkala itu Tay-goan Hengte sudah dibunuh olehmu, sedangkan sebelumnya aku tidak pernah kenal dirimu, mengapa kau menuduh aku yang mengakibatkan dirimu terjerumus seperti sekarang ini?”

“Hah, kau kira pertemuan kita yang pertama adalah di tengah hutan di luar kota Bu-sik itu? Huh, justru ucapanmu yang demikian inilah penyakitnya!” demikian jengek Be-hujin dengan benci. “Kau manusia keparat yang tinggi hati, binatang yang sombong, kau anggap ilmu silatmu tiada tandingan di kolong langit ini, lantas kau pandang rendah orang lain.”

Begitulah kembali ia menghamburkan serentetan makian pula. Tapi Siau Hong tidak meladeninya, ia biarkan orang memaki sepuas-puasnya, sesudah suaranya serak dan tenaganya lelah, kemudian baru ia tanya, “Sudah cukup kau maki?”

“Belum, tak pernah cukup untuk selamanya,” sahut Be-hujin dengan gemas. “Kau… jahanam yang sombong dan congkak, biarpun kau adalah raja juga cuma begini saja.”

“Memang betul, biarpun raja, apanya sih yang hebat?” sahut Siau Hong. “Selamanya aku juga tidak pernah anggap ilmu silatku tiada tandingan di kolong langit ini, umpamanya orang… orang tadi, ilmu silatnya jelas di atasku.”

Be-hujin tidak ambil pusing siapakah orang yang dimaksudkan itu, ia masih terus mengomel dengan makian-makian keji lagi. Selang sebentar, tiba-tiba ia berkata, “Hm, kau kira pertama kali kau bertemu dengan aku adalah di luar kota Bu-sik? Em, apakah ketika hadir di pek-hoa-hwe (pameran bunga) di kota Lokyang dulu tidak pernah kau lihat aku?”

Siau Hong melengak. Pek-hoa-hwe di kota Lokyang itu terjadi dua tahun yang lampau, tatkala mana ia bersama para tianglo dari Kay-pang memang hadir juga, tapi ia tidak ingat pernah bertemu dengan Be-hujin di pameran bunga itu. Maka katanya, “Ya, waktu itu Tay-goan Hengte juga ikut pergi ke sana, tapi ia tidak memperkenalkan dirimu padaku.”

“Hm, kau ini kutu busuk macam apa?” damprat pula Be-hujin. “Paling-paling kau cuma kepala kaum pengemis, apa yang kau tonjolkan? Huh, dasar lagakmu memang sok! Waktu itu, begitu aku berdiri di samping pot bunga anggrek kuning, seketika para kesatria terkesima memandang padaku, semuanya kesengsem dan terpesona pada diriku. Tapi justru keparat macammu ini anggap dirimu sebagai seorang jantan tulen, seorang kesatria yang tidak doyan paras elok, bahkan memandang sekejap padaku juga enggan. Huh, laki-laki palsu, munafik, manusia rendah yang tak kenal malu.”

Kini Siau Hong mulai paham duduknya perkara, sahutnya, “Ya, aku pun ingat sekarang. Pada hari itu memang betul di samping pot bunga anggrek itu berdiri beberapa orang perempuan, tatkala itu aku asyik minum arak, maka tidak sempat memandang bunga dan wanita apa segala. Bila kaum wanita dari angkatan tua tentu atau akan maju dan memberi hormat padanya, tetapi kau adalah iparku, istri saudara angkatku, sekalipun aku tidak memerhatikanmu juga bukan sesuatu yang melanggar kesopanan. Mengapa kau dendam begitu mendalam padaku?”

“Memangnya, apakah matamu tidak punya biji mata?” semprot Be-hujin. “Biarpun laki-laki mana atau kesatria siapa pun, bila ketemu aku, kalau tidak memandangku dari kepala sampai ke kaki, tentu akan memandang dari kaki sampai ke kepalaku. Andaikan ada yang merasa dirinya terhormat dan tidak berani jelalatan, pasti juga ingin cari kesempatan untuk melirik padaku. Hanya kau… ya, hanya kau, hm, dari beratus lelaki yang hadir dalam pameran itu, hanya kau seorang dari mula sampai akhir melirik sekejap padaku pun tak pernah.”

“Ai, memang itulah sifatku,” ujar Siau Hong dengan menghela napas. “Memang sejak kecil aku tidak suka bergaul dengan kaum wanita, sesudah dewasa lebih-lebih tiada tempo untuk memerhatikan wanita. Toh tidak melulu engkau seorang, bahkan wanita yang lebih cantik daripadamu juga mula-mula tidak menarik perhatianku, dan baru kemudian… kemudian… Ai, itu pun sudah terlambat kini…”

“Apa katamu?” teriak Be-hujin dengan suara tajam melengking. “Kau maksudkan ada wanita yang lebih cantik dariku? Siapa dia? Lekas katakan, siapa dia?”

“Dia adalah putri Toan Cing-sun, encinya A Ci,” sahut Siau Hong.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: