Kumpulan Cerita Silat

17/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 37

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 3:59 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Nanti kalau aku sudah… sudah baik, Toako, kita akan pergi keluar Gan-bun-koan untuk menggembala domba, tapi apakah… apakah adik perempuanku itu pun mau ikut?” tanya A Cu dengan suara lemah.

“Sudah tentu dia akan ikut, kalau cici dan cihu mengajaknya, masakah dia tidak mau?” sahut Siau Hong.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendeburnya air, tahu-tahu dari dalam sungai di kolong jembatan batu itu menongol keluar seorang terus berseru, “Huh, tidak malu? Cici dan cihu apa segala? Aku justru tidak mau ikut!”

Orang itu bertubuh kecil mungil, berpakaian ringkas peranti renang, siapa lagi kalau bukan A Ci?

Setelah salah menghantam A Cu, maka seluruh perhatian Siau Hong terpusat atas keselamatan kekasih itu hingga apa yang terjadi di sekitarnya sama sekali tak diperhatikannya.

Padahal dengan kepandaiannya yang tinggi itu sebenarnya dengan mudah akan dapat diketahuinya jika ada orang bersembunyi di bawah jembatan. Maka ia rada kaget demi tampak munculnya A Ci, segera ia berseru, “He, A Ci, lekas kemari untuk melihat tacimu!”

Mulut A Ci yang mungil itu mencibir, katanya, “Aku sembunyi di bawah jembatan, sebenarnya ingin kulihat perkelahianmu dengan ayahku, siapa tahu yang kena hantam sekarang adalah ciciku. Sejak tadi kalian terus kasak-kusuk tidak habis-habis dengan berbagai kata cinta, sungguh aku tidak suka mendengarkan. Dalam cumbu rayu kalian mengapa diriku ikut disinggung-singgung?”

Sambil berkata ia pun mendekati mereka.

Segera A Cu berkata, “Adikku yang baik, selanjutnya Siau-toako akan menjaga dirimu dan kau… kau juga mesti menjaga dia…”

Tiba-tiba A Ci mengikik tawa, katanya, “Hihihi, lelaki kasar lagi jelek seperti dia, mana aku harus urus dia?”

Ketika Siau Hong bermaksud membawa A Cu ke suatu tempat untuk berteduh, sekonyong-konyong ia merasa badan gadis itu menggigil, lalu kepala terjulai lemas ke bawah, kemudian tak bergerak lagi.

Keruan Siau Hong terkejut, ia berteriak-teriak, “A Cu! A Cu!”

Tapi biarpun ia berteriak seratus kali atau seribu kali juga A Cu tak dapat menjawab dan hidup kembali.

Melihat A Cu telah meninggal, A Ci juga terkejut, ia tidak nakal lagi seperti tadi, tapi berkata dengan gusar, “Engkau menghantam mati taciku… engkau membunuh taciku?”

“Ya, memang betul aku yang membunuh encimu. Maka kau harus membalas dendam, lekas, lekas bunuh aku!” seru Siau Hong.

Ia turunkan tangannya yang memondong A Cu dan membusungkan dada, lalu sambungnya pula, “Nah, lekas kau bunuh aku!”

Ia benar-benar berharap A Ci mencabut belati dan menikam dadanya, dengan demikian segala apa akan selesailah untuk membebaskan dirinya dari siksaan batin yang tiada habis-habis itu.

Tapi demi tampak muka Siau Hong yang berkerut-kerut menyeramkan itu, A Ci menjadi ketakutan malah, ia mundur beberapa tindak sambil berseru, “Jangan… jangan kau bunuh diriku!”

Siau Hong melangkah maju, ia jambret baju dada sendiri, “bret”, tertampaklah dadanya yang lebar, katanya, “Nah, lekaslah bunuh aku! Kau punya jarum berbisa, punya pisau beracun, lekas tikam mati aku!”

Di bawah sinar kilat sekilas A Ci melihat gambar kepala serigala yang tercacah di dada Siau Hong sedang pentang mulut dengan kedua siungnya yang buas, ia tambah takut, mendadak ia menjerit terus putar tubuh dan lari pergi.

Siau Hong termangu-mangu di atas jembatan batu itu, dukanya tak terkatakan, sesalnya tak terhingga. Mendadak ia menghantam dengan tangannya, “prak”, segumpal batu langkan jembatan pecah dan tercebur ke sungai.

Siau Hong merasa hatinya juga seakan-akan melompat keluar dari rongga dadanya dan ikut kecemplung ke sungai. Ia ingin menangis, menangis sekeras-kerasnya, tapi tak dapat menangis.

Ketika sinar kilat berkelebat lagi, sekilas dilihatnya air muka A Cu yang penuh kasih sayang, penuh perhatian atas dirinya itu masih terbayang di ujung mulut dan alis gadis itu.

“A Cu!” teriak Siau Hong, mendadak ia pondong badan kekasih itu dan dibawa lari menuju hutan belukar yang sunyi.

Guntur masih menggelegar di angkasa, hujan mencurah bagai dituang, Siau Hong terus berlari-lari, sebentar mendaki bukit, sebentar turun ke lembah, ia tidak tahu lagi dirinya berada di mana, pikirannya kacau, seakan-akan orang linglung.

Perlahan gemuruh guntur mulai berhenti, tapi hujan masih belum reda. Ufuk timur mulai remang-remang, fajar telah menyingsing. Sudah beberapa jam Siau Hong berlari kian-kemari seperti orang gila, sedikit pun ia tidak merasa letih, ia hanya ingin menyiksa diri sendiri, ia ingin lekas mati saja untuk mengiringi A Cu selama-lamanya.

Di sawah sudah ada petani yang bermantel ijuk, memanggul cangkul dan baru keluar dari rumah. Ketika melihat kelakuan Siau Hong itu, semuanya terheran-heran.

Begitulah tanpa tujuan Siau Hong terus berlari kian-kemari dan akhirnya tanpa terasa kembali lagi di atas jembatan batu tadi. Ia bergumam sendiri, “Aku akan mencari Toan Cing-sun, akan kuminta dia membunuh diriku saja untuk membalas sakit hati putrinya.”

Segera ia melangkah lebar menuju ke Siau-keng-oh. Tidak lama kemudian, sampailah dia di tepi danau itu. Segera ia berteriak-teriak, “Toan Cing-sun, aku telah membunuh putrimu, ini aku berada di sini, lekas kau bunuh aku, sekali-kali aku takkan balas menyerang. Lekas kemari, lekaslah!”

Sambil memondong A Cu yang sudah tak bernyawa itu, Siau Hong berdiri tegak di depan hutan bambu itu. Ia menunggu hingga lama, tapi di tengah hutan bambu itu tetap sunyi senyap dan tiada seorang pun yang muncul.

Segera Siau Hong menyusur hutan dan mendekati rumah bambu, sekali depak ia bikin daun pintu terpentang, lalu melangkah masuk sambil berseru, “Toan Cing-sun, marilah bunuh diriku saja!”

Tapi ia lihat rumah itu sudah kosong, tiada seorang pun penghuninya. Ia coba periksa kamar samping dan ruang belakang, bukan saja Toan Cing-sun dan kawan kawannya itu sudah menghilang, bahkan pemilik rumah bambu itu, Sing-tiok, juga tidak kelihatan lagi.

Namun segala alat perabot di dalam rumah masih tetap di tempatnya, agaknya penghuninya baru saja pergi dengan tergesa-gesa hingga tidak tempat membawa apa pun.

Pikir Siau Hong, “Ya, tentu A Ci telah memberi kabar kepada mereka karena menyangka aku akan membunuh ayahnya untuk membalas dendam. Andaikan Toan Cing-sun tidak mau melarikan diri, namun wanita she Wi dan bawahannya yang setia itu tentu juga akan memaksanya agar menyelamatkan diri. Hehehe, aku toh tidak akan membunuhmu, tapi kudatang ke sini untuk minta kau bunuh diriku.”

Segera ia berteriak-teriak pula memanggil Toan Cing-sun, suaranya keras berkumandang jauh, namun tetap tiada suara sahutan seorang pun.

Di tepi Siau-keng-oh, di tengah hutan bambu itu sunyi senyap tiada seorang pun. Tapi bagi Siau Hong rasanya dunia ini seperti tinggal dia seorang yang hidup. Sejak A Cu mengembuskan napas penghabisan, selama itu juga ia terus pondong tubuh kekasih itu, entah sudah berapa kali ia kerahkan tenaga murni ke dalam tubuh A Cu dengan harapan seperti tempo hari waktu gadis itu dihantam oleh ketua Siau-lim-si dan akhirnya dapat disembuhkan kembali.

Tapi tempo hari Siau Hong yang langsung kena pukulan jago Siau-lim-si itu, A Cu hanya keserempet saja oleh serangan itu. Sedangkan pukulan “Hang-liong-yu-hwe” yang dilontarkan Siau Hong sekarang dengan tepat menghantam dada si gadis, tentu saja jiwanya melayang.

Dengan termangu-mangu Siau Hong duduk di ruangan depan rumah bambu itu sambil memondong A Cu. Dari pagi sampai siang dan dari siang sampai petang, tetap ia duduk di situ.

Sementara itu hujan sudah berhenti, hari sudah terang, sinar sang surya waktu senja menyorot di atas tubuhnya dan jenazah A Cu yang masih berada dalam pangkuannya itu.

Biar bagaimana dan dalam keadaan apa pun juga Siau Hong tidak pernah lesu dan putus asa, tapi kini karena ia sendiri telah berbuat suatu kesalahan besar yang tidak mungkin ditarik, kembali lagi, ia merasakan kekosongan orang hidup, ia merasa tiada artinya lagi hidup lebih lama di dunia ini. Ia pikir, “A Cu telah berkorban bagi ayahnya, aku pun tak dapat menuntut balas lagi kepada Toan Cing-sun. Sedangkan perkembangan Kay-pang dan cita-citaku yang muluk-muluk pada waktu muda, semuanya itu tiada harganya lagi untuk kupikirkan.”

Segera ia menuju ke pekarangan belakang, ia lihat di pojok sana ada sebuah cangkul bunga. Pikirnya, “Biarlah aku mendampingi A Cu di sini untuk selama-lamanya.”

Sambil sebelah tangan merangkul A Cu, dengan tangan kanan ia jinjing cangkul itu dan menuju ke tengah hutan bambu sana, ia menggali sebuah liang, lalu menggali sebuah liang yang lain lagi. Kedua liang itu berjajar. Pikirnya pula, “Jika sebentar ayah-bundanya pulang, karena tidak tahu apa yang terjadi, bukan mustahil mereka akan menggali kuburan-kuburan ini untuk diperiksa. Maka aku harus mendirikan batu nisan di atas kuburan-kuburan ini.”

Ia lantas memotong sebatang bambu persegi itu, ia belah menjadi dua, lalu ke dapur dan meratakan bambu itu dengan pisau sayur. Kemudian ia mendatangi kamar sebelah lain, di atas meja di dalam kamar itu lengkap tersedia kertas dan alat tulis. Di dekat dinding ada sebuah rak buku, mungkin inilah kamar baca Wi Sing-tiok.

Setelah menggosok tinta, lalu ia angkat pensil dan menulis di atas salah satu belahan bambu tadi: “Kuburan Siau Hong, suami yang kasar dari Cidan.”

Ketika ia siapkan belahan bambu yang lain dan ingin menulis lagi, diam-diam ia menjadi ragu, pikirnya, “Cara bagaimana harus kutulis nisan ini? Apakah kutulis ‘Kuburan nyonya Toan dan keluarga Siau’? Tapi meski dia sudah mengikat janji denganku, kami kan belum menikah, sampai meninggal ia tetap seorang nona yang suci murni, kalau kusebut dia sebagai nyonya, apakah hal ini takkan menodai kesuciannya?”

Seketika ia menjadi bingung apa yang harus ditulisnya, ketika ia mendongak untuk berpikir, di mana mata memandang, tiba-tiba dilihatnya di dinding bambu sana tergantung sehelai tirai sutra yang bertuliskan beberapa baris sanjak. Waktu ia membacanya, kiranya itu adalah sanjak percintaan.

Meski Siau Hong terbatas sekolahnya, bahkan beberapa huruf dalam sanjak itu tak dikenalnya, tapi dapat juga ia menangkap artinya, ia tahu itu adalah sanjak percintaan yang memuji sanjung sang kekasih. Bagian depan sanjak itu mengenangkan masa cumbu rayu mereka yang mesra, dan bagian lain mengisahkan rasa berat ketika harus berpisah. Akhirnya sanjak itu tertulis: “Dipersembahkan kepada kekasih nan tercinta, dari Tayli Toan-ji sesudah mabuk”.

“Hm, Tayli Toan-ji (si Toan kedua dari Tayli)? Siapa lagi dia kalau bukan Toan Cing-sun yang sengaja menuliskan sanjak ini untuk kekasihnya, Wi Sing-tiok, ini mengenai kisah roman ayah-bunda A Cu, mengapa secara blakblakan sanjak ini digantung di ruangan ini tanpa malu? Ah, tahulah aku, tentu disebabkan hutan bambu ini jarang didatangi orang, biasanya cuma ibu A Cu yang tinggal sendirian di sini. Tapi bisa jadi karena Toan Cing-sun berkunjung pula ke tempat lama ini lalu hiasan sanjak ini dikeluarkan lagi. Kalau melihat bekas tulisannya terang ditulis pada belasan tahun yang lampau.”

Dasar sifat Siau Hong memang cermat, biarpun bertekad akan mati bersama A Cu, tapi demi melihat sesuatu keganjilan, betapa pun ia menaruh perhatian.

Segera ia pikir pula cara bagaimana harus menulis nisan kuburan A Cu? Karena tiada menemukan sesuatu sebutan yang cocok, akhirnya ia tulis saja secara singkat: “Kuburan si A Cu”.

Selesai menulis, ia berbangkit hendak menanam nisan bambu itu di depan liang kubur A Cu. Setelah mengubur A Cu, lalu ia akan bunuh diri.

Ketika ia pondong tubuh A Cu, tanpa sengaja ia berpaling dan memandang sekejap pula tabir bersanjak yang tergantung di dinding itu. Tapi mendadak ia melonjak dan berseru, “Hai, salah, salah! Dalam urusan ini ada sesuatu yang tidak betul!

Ia mendekati tabir itu lagi, ia lihat gaya tulisan sanjak itu sangat indah penuh wibawa. Tiba-tiba benaknya seakan-akan mendengar suara bisikan, “Surat itu! Surat yang ditulis Toako Pemimpin dan ditujukan kepada Ong-pangcu itu, tulisan dalam surat itu tidak sama gayanya dengan tulisan sanjak ini. Ya, sama sekali berbeda.”

Meski Siau Hong tidak banyak bersekolah, sebenarnya tidak pandai membedakan gaya tulisan yang baik dan jelek, tapi tulisan sanjak ini sangat lancar dan indah, sebaliknya tulisan surat “Toako Pemimpin” itu kaku dan jelek, sekali baca segera diketahui berasal dari tulisan tangan jago silat Kangouw, perbedaan kedua gaya tulisan ini sungguh terlalu jauh, biarpun siapa juga dapat membedakannya dengan mudah.

Begitulah mata Siau Hong terbelalak lebar menatap tulisan di atas tabir itu, seakan-akan ingin mencari sesuatu rahasia dan muslihat yang tersembunyi di balik tulisan itu.

Benak Siau Hong terus berputar, yang terbayang saat itu adalah surat yang dilihatnya malam itu di tengah hutan di luar kota Bu-sik, yaitu surat berasal dari Toako Pemimpin yang ditujukan kepada Ong-pangcu. Waktu itu Ti-kong Taysu mendadak menyobek bagian yang ada tanda tangan si pengirim surat dan ditelan ke dalam perut hingga Siau Hong tidak tahu lagi siapa gerangan penulis surat itu.

Tapi gaya tulisan surat itu sudah tercetak benar di dalam benaknya dan teringat jelas olehnya, biarpun dunia kiamat juga takkan terlupakan. Ia yakin penulis surat itu dan “Tayli Toan-ji” yang menulis sanjak ini pasti bukan terdiri dari seorang yang sama, tapi apakah mungkin surat itu ditulis oleh orang lain atas suruhan “Toako Pemimpin”?

Setelah berpikir sejenak segera Siau Hong menarik kesimpulan hal itu pun tidak bisa jadi. Kalau Toan Cing-sun mampu menulis sanjak sebagus hal ini menandakan dia adalah seorang yang sudah biasa menulis, biasa mengarang, dan kalau mesti menulis surat kepada Ong-pangcu untuk merundingkan urusan penting, masakan mungkin malah menyuruh orang lain menuliskannya?

Begitulah makin dipikir makin sangsi, berulang-ulang Siau Hong bertanya-jawab sendiri di dalam batin, “Jangan-jangan Toako Pemimpin itu bukan Toan Cing-sun? Jangan-jangan tabir bersanjak ini bukan ditulis oleh Toan Cing-sun? Tapi, tidak bisa, selain Toan Cing-sun, dari mana ada Tayli Toan-ji lagi? Masakan apa yang dikatakan Be-hujin itu bohong? Itu pun tidak bisa. Dia tidak pernah kenal Toan Cing-sun, yang satu tinggal di utara, yang lain jauh di selatan, ada permusuhan apa hingga dia perlu mengarang hal-hal yang tidak benar untuk menipu aku?”

Sejak dia mengetahui “Toako Pemimpin” yang dicarinya itu adalah Toan Cing-sun, sebenarnya segala rasa sangsi dan curiga yang lain sudah tersapu bersih dalam benaknya, yang terpikir olehnya cuma cara bagaimana harus membalas dendam.

Tapi kini demi mendadak melihat tabir bersanjak itu, kembali segala rasa sangsi dan hal-hal yang mencurigakan dulu itu timbul lagi, pikirnya, “Jika surat itu bukan tulisan Toan Cing-sun, maka terang ia pun bukan Toako Pemimpin yang dimaksudkan itu? Dan kalau bukan dia, habis siapa lagi? Mengapa Be-hujin mengarang hal-hal yang tidak benar untuk menipu aku, di balik ini pasti ada sesuatu tipu muslihat keji? Aku membinasakan A Cu karena kesalahan yang tidak disengaja, sebaliknya pengorbanan A Cu adalah demi kebaikanku dan demi keselamatan ayahnya, tapi sekarang ternyata bukan begitu halnya, matinya yang tak berdosa itu kini bertambah penasaran lagi. Ya, mengapa sebelumnya aku tidak melihat tabir bersanjak ini lebih dulu?”

Begitulah ia termangu-mangu di situ dengan penuh rasa duka dan sesal. Sementara itu matahari senja sudah menghilang di ufuk barat.

Tiba-tiba terdengar di tepi Siau-keng-oh sana ada suara tindakan dua orang sedang menuju ke hutan bambu ini.

Jarak kedua orang itu masih jauh, tapi pendengaran Siau Hong sangat tajam, sedikit suara saja sudah diketahuinya.

Ketika ia dengarkan lebih cermat, segera dapat diketahui pula kedua pendatang itu adalah wanita semua. Pikirnya, “Tentu A Ci dan ibunya telah pulang. Ya, biar kutanya nyonya Toan apakah tabir bersanjak ini tulisan Toan Cing-sun atau bukan? Dan bila dia dendam lantaran aku telah membunuh A Cu, pasti dia juga akan membunuh… membunuh aku…”

Sebenarnya ia bertekad tak mau membalas serangan, ia ingin mati bersama A Cu. Tapi kini berubah pikirannya, “Jika benar A Cu mati penasaran dan pembunuh ayah-bundaku itu sebenarnya adalah orang lain dan bukan Toan Cing-sun, maka utang darah Tay-ok-jin itu menjadi bertambah pula atas kematian A Cu, istriku yang tercinta. Kalau aku tidak membalas dendam, bagaimana aku akan bertemu dengan ayah-ibu, dengan Suhu, dengan kedua orang tua angkat dan A Cu di alam baka?”

Dalam pada itu kedua wanita itu sudah makin dekat dan sudah masuk ke dalam hutan bambu itu. Selang sebentar pula, suara percakapan kedua wanita itu pun dapat terdengar.

Seorang di antaranya, lagi berkata, “Awas, ilmu silat perempuan hina ini tidak rendah, bahkan banyak tipu akalnya.”

Lalu suara wanita lain yang lebih muda menjawab, “Dia hanya sendirian, kita ibu dan anak pasti dapat membereskan dia.”

“Sudahlah, jangan bicara lagi. Begitu kita terjang maju, segera kita turun tangan tanpa kenal ampun, tidak perlu ragu-ragu,” demikian kata wanita pertama yang lebih tua.

Yang muda berkata pula, “Dan bila ayah tahu…”

“Hm, masih kau pikirkan ayahmu?” jengek ibunya.

Habis itu lantas tiada suara percakapan lagi, hanya terdengar mereka mendekati rumah bambu itu dengan berjinjit-jinjit, yang satu menuju ke pintu depan dan yang lain berputar ke belakang rumah, nyata mereka bermaksud menyergap dari muka dan belakang.

Siau Hong agak heran, pikirnya, “Dari suara mereka ini terang bukan A Ci dan Wi Sing-tiok, tapi mereka pun terdiri dari ibu dan sanak serta bermaksud membunuh seorang wanita yang bersendirian. Ah, besar kemungkinan Wi Sing-tiok yang mereka incar dan agaknya ayah si gadis tidak menyetujui perbuatan mereka ini.”

Tapi ia tidak ambil pusing kepada urusan lain, ia tetap duduk dan termangu di tempatnya.

Selang sejenak, terdengar suara pintu berkeriut didorong orang, lalu masuklah seorang. Sama sekali Siau Hong tidak berpaling atau menoleh, tapi dapat dilihatnya sepasang kaki yang kecil dan bersepatu hitam berjalan sampai di depannya, jaraknya kira-kira dua meter, lalu berhenti di situ. Menyusul daun jendela pun didorong orang hingga terpentang, lalu melompat masuk seorang lagi terus berdiri di samping Siau Hong.

Dari suara dan gerak lompatan orang dapat diketahui oleh Siau Hong bahwa ilmu silat pendatang itu tidak seberapa tinggi. Karena hatinya sedang risau dan putus asa, maka Siau Hong diam saja, tetap menunduk sambil memeras otak, “Sebenarnya ‘Toako Pemimpin’ yang dimaksudkan itu Toan Cing-sun atau bukan? Ada sesuatu yang aneh pada ucapan Ti-kong Taysu tempo hari itu? Adakah sesuatu tipu muslihat Ci-tianglo? Apa yang dikatakan Be-hujin itu adakah sesuatu yang mencurigakan?”

Begitulah perasaannya bergolak, pikirannya kacau.

Tiba-tiba terdengar wanita muda tadi sedang menegur padanya, “Hei, siapakah kau? Di mana perempuan hina dina she Wi itu?”

Suaranya dingin mengejek, nadanya juga kasar.

Tapi Siau Hong tidak menggubrisnya, ia asyik memikirkan urusannya sendiri.

“Apakah tuan ada hubungan apa-apa dengan perempuan hina Wi Sing-tiok itu? Siapakah perempuan yang meninggal ini? Lekas katakan!” demikian wanita yang tua juga bertanya.

Namun Siau Hong tetap tak gubris mereka.

Rupanya wanita yang muda menjadi gusar, segera ia mendamprat, “Hai, apakah kau tuli atau bisu? Mengapa tidak menyahut sepatah pun pertanyaan kami?”

Tetap Siau Hong tidak peduli mereka, mirip patung saja ia duduk di tempatnya.

Rupanya si wanita muda menjadi tak sabar, sekali pedang bergerak hingga mengeluarkan suara mendengung, segera ujung pedang menusuk ke depan, jaraknya tinggal beberapa senti di pelipis Siau Hong, asal dia mendorong maju sedikit lagi tentu jiwa Siau Hong terancam.

“Coba, kalau kau masih berlagak dungu, biar segera kau tahu rasa!” demikian wanita muda itu membatin.

Tak terduga Siau Hong sama sekali tak menghiraukan ancaman bahaya lagi, dia tetap asyik merenungkan berbagai tanda tanya dalam benaknya yang belum terjawab itu.

Mendadak pedang wanita muda itu menusuk miring ke depan hingga menyambar lewat samping leher Siau Hong. Tujuannya hanya ingin tanya ke mana perginya Wi Sing-tiok, maka tiada niat hendak melukai orang, sebab itulah ia cuma menggertak saja dengan miringkan pedang dan menusuk ke samping leher.

Namun Siau Hong dapat mendengar jelas arah mana yang hendak dituju senjata orang, maka sama sekali ia tidak menghindar, tetap diam seperti tidak tahu apa-apa.

Keruan kedua wanita itu saling pandang dengan heran. Kata yang muda, “Mak, jangan-jangan orang ini linglung?”

“Besar kemungkinan ia cuma pura-pura dungu saja,” ujar yang tua. “Di rumah perempuan hina ini mana ada manusia baik-baik? Biar kubacok dia sekali, nanti kita paksa dia mengaku.”

Dan baru habis omong, segera golok di tangan kiri membacok pundak Siau Hong.

Sudah tentu Siau Hong tidak gampang diserang. Ketika senjata orang tinggal belasan senti dari pundaknya, mendadak tangan kanan membalik ke atas, sekali bergerak, tepat punggung golok orang kena dijepit oleh dua jarinya, seketika golok wanita itu seperti terkatung-katung di udara dan tak bisa bergerak lagi.

Ketika Siau Hong kerahkan tenaga jari dan mendorong ke depan, tangkai golok itu tepat menumbuk hiat-to penting di pinggang wanita itu, kontan dia tak bisa berkutik lagi.

Waktu Siau Hong menyendal sekuatnya, “pletak”, golok itu patah menjadi dua, lalu dilemparkannya ke lantai, dari mula sampai akhir sama sekali ia tidak mengangkat kepala untuk memandang wanita itu.

Keruan wanita yang muda sangat kaget ketika melihat sekali gebrak saja ibunya sudah dibikin tak berkutik, cepat ia melompat mundur, berbareng terdengar suara mendesis, tujuh panah kecil sekaligus berhamburan ke arah Siau Hong.

Tapi dengan menjemput kembali golok patah tadi, semua panah kecil itu disampuk jatuh, menyusul tangan Siau Hong bergerak sedikit, golok patah itu menyambar ke depan dengan tangkai di muka, “bluk”, tepat pinggang wanita muda itu kena tertimpuk. Wanita muda itu menjerit sekali lalu ia pun tak bisa berkutik lagi.

“Apa kau terluka?” tanya wanita yang tua dengan khawatir.

“Tidak, hanya pinggangku kesakitan, aku tertutuk bagian ‘keng-bun-hiat’,” sahut yang muda.

“Dan aku tertutuk bagian ‘tiong-hu-hiat’,” kata yang tua. “Wah, ilmu silat orang ini sangat… sangat lihai.”

“Mak, sebenarnya siapakah orang ini? Mengapa tanpa berdiri dan kita lantas dibuat tak berkutik olehnya, kukira dia pakai ilmu sihir,” ujar yang muda.

Rupanya merasa tak bisa berkutik, maka wanita yang tua tak berani garang pula, dengan nada memohon ia berkata kepada Siau Hong, “Selamanya kami tiada permusuhan apa-apa dengan tuan, tadi secara sembrono kami mengganggu tuan, itu kesalahan kami, untuk itu kami minta maaf dan sudilah membebaskan kami.”

“Tidak, tidak!” mendadak yang muda menyela. “Kalau memang kalah biarlah kita mengaku kalah, buat apa mesti minta ampun segala? Biarlah kalau dia berani, boleh bunuh saja nonamu ini, siapa sudi minta maaf padanya.”

Sayup-sayup Siau Hong mendengar suara ibu dan anak itu, yang diketahuinya cuma sang ibu telah minta ampun dan si anak kepala batu, tapi apa yang mereka katakan sebenarnya tidak masuk telinga Siau Hong.

Sementara itu hari sudah malam, di dalam rumah itu gelap gulita. Tapi Siau Hong masih tetap duduk di tempat semula, sedikit pun tidak menggeser tempat.

Biasanya otak bekas pangcu itu sangat cerdas, segala urusan yang sulit dapat diputusnya dengan cepat, andaikan seketika masih ragu paling-paling cuma dikesampingkannya. Tapi hari ini ia telah salah membinasakan A Cu, rasa dukanya tiada taranya, maka ia termangu-mangu dan melongo seperti orang linglung.

Maka terdengar si wanita yang tua lagi berkata dengan suara perlahan, “Coba kau kerahkan tenaga untuk menggempur ‘koan-tiau-hiat’ dan ‘hong-ji-hiat’, mungkin jalan darahmu akan lancar kembali.”

“Sudah kucoba sejak tadi, tapi tidak berguna sama sekali…”

“Ssstt, ada orang datang!” tiba-tiba wanita yang tua memotong ucapan anaknya.

Benar juga di luar sana ada suara orang berjalan, lalu pintu didorong dan masuklah seorang wanita juga. Terdengar wanita itu mengetik batu api untuk menyalakan sumbu, lalu dipakai menyulut lentera minyak.

Ketika wanita itu berpaling dan mendadak melihat Siau Hong, A Cu, dan kedua perempuan tadi, tanpa terasa ia menjerit kaget. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa di dalam rumah terdapat empat orang, ada yang duduk dan ada yang berdiri, semuanya diam saja, tiada yang bergerak sedikit pun.

Sebaliknya demi melihat wanita yang baru masuk rumah ini, mendadak wanita yang lebih tua tadi membentak dengan suara bengis, “Kau, Wi Sing-tiok?”

Wanita yang baru tiba itu memang benar Wi Sing-tiok adanya. Mendengar orang menegurnya, cepat ia berpaling, ia lihat pembicara itu adalah seorang perempuan setengah umur, di sampingnya berdiri seorang gadis berbaju hitam mulus, keduanya berwajah sangat cantik, tapi selamanya belum pernah dikenalnya.

Segera ia menjawab, “Benar, memang aku inilah she Wi, dan siapakah kalian?”

Karena tubuhnya tak bisa berkutik, wanita setengah umur itu tak mau memberitahukan namanya, ia hanya mengamat-amati Wi Sing-tiok yang cantik menggiurkan itu, api kemarahannya semakin membakar.

Tiba-tiba Wi Sing-tiok berpaling kepada Siau Hong dan bertanya, “Kiau-pangcu, engkau sudah membinasakan putriku, untuk apa engkau masih tinggal di sini? O, kasihan anak… anakku!”

Dan menangislah dia tergerung-gerung sambil menubruk ke atas jenazah A Cu.

Siau Hong tetap duduk merenung di tempatnya, selang agak lama barulah ia berkata, “Toan-hujin, dosaku teramat dalam, silakan kau keluarkan senjata dan sekali bacok bunuhlah diriku.”

“Biarpun sekali bacok kubunuhmu juga anakku yang malang ini tak tertolong lagi,” sahut Wi Sing-tiok. “O, A Cu, anakku yang bernasib malang, di luar Gan-bun-koan telah kuserahkan dirimu kepada orang lain dengan harapan semoga kita diberkahi agar kelak…”

Saat itu benak Siau Hong masih kacau, selang sejenak baru ia terkesiap, cepat tanyanya, “Apa katamu? Di luar Gan-bun-koan?”

“Sudah tahu mengapa malah tanya?” sahut Wi Sing-tiok. “A Cu… A Cu adalah anakku hasil hubungan gelap diriku dengan Toan Cing-sun, aku tidak berani membawanya pulang, maka telah kuserahkan dia kepada orang di luar Gan-bun-koan.”

“Jadi kemarin ketika aku tanya Toan Cing-sun, apakah merasa berbuat dosa di luar Gan-bun-koan dan dia mengaku terus terang, sebaliknya air mukamu merah jengah dan tanya padaku dari mana kudapat tahu, jadi… jadi perbuatan dosa di luar Gan-bun-koan yang kau maksudkan itu adalah mengenai diri A Cu ini?” tanya Siau Hong dengan suara gemetar.

“Habis apa tidak cukup perbuatan dosa itu? Apa kau kira aku ini wanita jahat yang selalu berbuat kejahatan?” sahut Sing-tiok dengan gusar. Sebenarnya ia sangat benci kepada Siau Hong, tapi jeri pula pada ilmu silatnya yang hebat, maka ia cuma mencaci maki dengan kata-kata pedas.

Untuk sejenak Siau Hong termangu-mangu, sekonyong-konyong ia gunakan kedua tangan untuk menampar muka sendiri.

Perbuatan Siau Hong itu membikin Wi Sing-tiok terkejut malah, cepat ia melompat mundur, ia lihat Siau Hong masih terus menempeleng diri sendiri dengan keras hingga dalam sekejap saja kedua pipinya merah bengep.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar pintu berkeriut, ada orang masuk lagi sambil berseru, “Mak, apakah tabir itu sudah diambil…”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dilihatnya di dalam rumah ada beberapa orang lain, malahan Siau Hong lagi hajar dirinya sendiri, seketika orang yang baru masuk itu melongo heran. Ia bukan lain adalah A Ci.

Sementara itu pipi Siau Hong yang masih terus digampar sendiri itu sudah mulai babak belur, lalu muka dan kedua tangannya lantas berlumuran darah, darah berceceran dan menciprat ke dinding, ke meja-kursi… di mana-mana penuh titik darah, bahkan tabir bersanjak yang tergantung di dinding pun terciprat beberapa tetes darah segar.

Karena tidak tega menyaksikan keadaan yang mengerikan itu, Wi Sing-tiok menutup muka dengan tangan, tapi telinganya masih mendengar suara “plak-plok” yang tiada hentinya itu, akhirnya ia berseru, “Sudahlah, jangan pukul lagi, jangan pukul lagi!”

A Ci lantas berteriak juga, “Hai, engkau telah bikin kotor tulisan ayahku itu, aku akan minta ganti rugi padamu.”

Sambil bicara ia terus melompat ke atas meja untuk menanggalkan tabir sanjak yang tergantung di dinding itu.

Kiranya kembalinya ibu dan anak itu adalah ingin mengambil tabir ini.

Siau Hong melengak juga dan berhenti memukul diri sendiri, ia tanya, “Apa ‘Tayli Toan-ji’ yang dimaksudkan itu memang benar adalah Toan Cing-sun?”

“Selain dia, masakah ada orang lain?” sahut Wi Sing-tiok. Bicara tentang Toan Cing-sun, tanpa terasa wajahnya menampilkan perasaan bangga dan mesra.

Jawaban tegas itu telah menjawab pula tanda tanya di dalam benak Siau Hong. Jika sanjak ini betul ditulis oleh Toan Cing-sun, maka surat yang ditujukan kepada Ong-pangcu itu berarti bukan tulisan Toan Cing-sun dan Toako Pemimpin yang dimaksudkan itu pun bukan pangeran mahkota Tayli itu.

Segera timbul pikiran dalam benak Siau Hong, “Sebabnya Be-hujin sengaja memfitnah Toan Cing-sun, tentu di dalam hal ini terdapat sesuatu rahasia. Aku harus membikin terang dulu teka-teki ini, akhirnya pasti akan tiba saatnya segala tanda tanya ini kubikin terang.”

Karena pikiran itu, segera maksudnya hendak membunuh diri itu diurungkan. Meski baru saja ia menghajar diri sendiri hingga mukanya babak belur, tapi rasa duka dan sesalnya itu menjadi terlampias pula.

Segera ia pondong jenazah A Cu dan berbangkit, tapi belum lagi ia membuka suara, tiba-tiba A Ci melihat kedua belah bambu yang terdapat tulisan itu, dengan tertawa gadis cilik itu berolok-olok, “Hehe, pantas kulihat di luar sana ada dua liang, kiranya engkau bermaksud mati dan terkubur bersama ciciku. Ck-ck-ck, engkau benar-benar seorang kekasih yang sehidup-semati!”

“Aku telah tertipu oleh muslihat keji musuh hingga salah membunuh A Cu, maka sekarang aku hendak pergi mencari jahanam itu, aku akan membalas sakit hati A Cu, lalu menyusulnya di alam baka,” kata Siau Hong.

“Siapakah jahanam yang kau maksudkan itu?” tanya A Ci.

“Saat ini belum kuketahui, maka akan kupergi menyelidikinya,” sahut Siau Hong. Lalu ia melangkah pergi sambil memondong jenazah A Cu.

“Engkau akan pergi mencari musuh dengan membawa ciciku cara begitu?” tiba-tiba A Ci berseru.

Siau Hong tertegun, seketika ia menjadi bingung. Memang tidak mungkin ia menempuh perjalanan jauh sambil memondong jenazah A Cu. Tapi kalau mesti ditinggalkan, ia merasa berat pula.

Ia termangu-mangu memandangi A Cu yang sudah tak bernyawa itu, air matanya bercucuran melalui mukanya yang babak belur itu, air mata bercampur dengan darah, titik air yang bening kemerah-merahan itu menetes di muka A Cu yang pucat.

Melihat sedemikian duka Siau Hong, rasa benci Sing-tiok lantas lenyap, katanya kemudian, “Kiau-pangcu, kesalahan yang sudah telanjur diperbuat toh tak dapat ditarik kembali lagi. Hendaklah kau… kau…”

Sebenarnya ia ingin menghibur Siau Hong agar jangan terlalu berduka, tapi ia sendiri yang lantas menangis tergerung-gerung malah. Katanya dengan terputus-putus sambil menangis, “Semuanya gara-gara… gara-garaku, akulah yang salah… mengapa kuserahkan putri sendiri kepada orang lain.”

“Sudah tentu engkau yang salah!” tiba-tiba si gadis yang dibikin tak berkutik oleh Siau Hong tadi menyela. “Habis, suami-istri orang yang bahagia mengapa kau cerai-beraikan?”

Sing-tiok menoleh kepada gadis itu dan bertanya, “Mengapa nona berkata demikian? Siapakah kau?”

“Kau siluman rase ini telah membikin ibuku menderita selama hidup, membikin susah diriku…”

Mendengar gadis itu menghina sang ibu, tanpa menunggu selesai ucapan orang, terus saja A Ci menampar muka gadis itu.

Dalam keadaan tak bisa berkutik, tampaknya hajaran itu sudah pasti akan mengenai mukanya, syukurlah tiba-tiba Wi Sing-tiok menarik tangan A Ci dan berkata, “A Ci, jangan main kasar.”

Lalu ia mengamat-amati si wanita setengah umur, sejenak kemudian ia pun sadar persoalannya, serunya, “Ya, engkau memakai sepasang golok, engkau tentu Siu-lo-to Cin… Cin Ang-bian, Cin-cici.”

Kiranya wanita setengah umur ini memang betul Siu-lo-to Cin Ang-bian yang telah ditinggalkan Toan Cing-sun itu, dan si gadis baju hitam itu adalah putrinya, Bok Wan-jing.

Cara berpikir Cin Ang-bian itu agak istimewa. Ia tidak menyalahkan Toan Cing-sun yang suka main perempuan, di mana-mana punya gendak, sebaliknya ia benci kepada wanita lain yang dianggapnya suka main mata dan pintar memikat lelaki serta merebut kekasihnya. Sebab itulah maka waktu Bok Wan-jing tamat belajar silat, ia lantas suruh putrinya itu untuk membunuh istri kawin Toan Cing-sun, yaitu Si Pek-hong.

Ketika kemudian diketahui pula Toan Cing-sun mempunyai seorang kekasih lain bernama Wi Sing-tiok dan tinggal di tengah hutan bambu di tepi Siau-keng-oh, jauh-jauh ia lantas datang kemari hendak membunuhnya.

Bok Wan-jing sendiri sejak mengetahui Toan Ki yang dicintainya itu ternyata adalah kakak sendiri, dengan menahan derita batin ia terus mengembara di Kangouw dan banyak membunuh orang serta macam-macam perbuatan lain.

Mendengar berita itu, Cin Ang-bian lantas mencari dan menggabungkan diri dengan putrinya itu serta bersama-sama datang ke Siau-keng-oh, tak terduga mereka kebentur dulu pada Siau Hong hingga dibikin tak berkutik sedikit pun.

Begitulah ketika mendengar nama sendiri dikenali orang, Cin Ang-bian menjadi gusar, dampratnya, “Betul, menang aku inilah Cin Ang-bian, siapa sudi dipanggil cici oleh perempuan hina macammu ini?”

Watak Wi Sing-tiok ternyata tidak sama seperti Cin Ang-bian, Sing-tiok lebih licin, seketika ia belum tahu apa maksud tujuan kedatangan Cin Ang-bian, pula khawatir lawan asmara ini akan rujuk kembali bila bertemu dengan Toan Cing-sun, maka ia sengaja menjawab dengan tertawa, “Ya, akulah yang salah omong. Usiamu jauh lebih muda daripadaku, wajahmu juga begini cantik, pantas saja Toan-long kesengsem padamu. Engkau adalah adikku dan bukan cici. Eh, Cin-moaymoay, setiap hari Toan-long selalu terkenang padamu, senantiasa memikirkan dirimu, sungguh aku sangat kagum sekali kepada kebahagiaanmu.”

Manusia mana yang tidak suka disanjung puji dan diumpak. Cin Ang-bian merasa senang juga mendengar dirinya dipuji sangat cantik dan masih muda, apalagi didengarnya pula Toan Cing-sun senantiasa terkenang padanya, keruan rasa gusarnya tadi seketika lenyap lebih separuh. Sahutnya kemudian, “Huh, siapa dapat meniru dirimu yang pintar dan bermulut manis, pandai memuji orang.”

“Dan nona ini tentunya putri kesayanganmu, bukan?” tanya Sing-tiok pula. “Wah, ck-ck-ck, alangkah cantiknya, sungguh beruntung sekali Cin-moaymoay mempunyai anak secantik ini.”

Mendengar kedua wanita itu asyik bicara tentang kekasih dan cinta melulu, sejak tadi Siau Hong sudah tidak betah untuk mendengarkan. Sebagai seorang kesatria bijaksana, sesudah mengalami pukulan batin dan remuk redam hatinya, tapi segera ia dapat berpikir panjang pula tentang tugas apa yang harus dilakukannya di kemudian hari.

Segera ia pondong jenazah A Cu menuju ke tepi liang yang telah digalinya itu, ia masukkan A Cu ke dalam liang kubur, lalu ia meraup gumpalan tanah dan perlahan ditaburkan ke atas tubuh A Cu, hanya mukanya tetap tidak ditabur dengan tanah. Pandangannya tidak pernah meninggalkan muka A Cu barang sekejap pun. Ia tahu bila beberapa kali tanah ditaburkan lagi, untuk selama-lamanya ia takkan dapat melihat sang kekasih pula.

Ia termangu-mangu sejenak, sayup-sayup telinganya seakan-akan mendengar suara A Cu yang mengajak pergi mengangon sapi dan menggembala domba di luar Gan-bun-koan, di sanalah mereka akan hidup berdampingan untuk selamanya. Kemarin ia masih mendengar suara A Cu yang nyaring merdu, terkadang lucu, terkadang nakal, terkadang mesra dan terkadang sungguh-sungguh, tapi untuk selanjutnya suara itu takkan terdengar lagi.

Sudah lebih setengah jam Siau Hong berjongkok di tepi liang kubur itu dan tetap tidak tega menaburkan tanah ke muka A Cu.

Mendadak ia berbangkit, sekali bersuit panjang, ia tidak mau memandang A Cu lagi, tapi kedua tangannya terus bekerja, dengan gerak cepat ia uruk tanah galian di tepi liang itu ke muka A Cu. Lalu ia putar tubuh dan masuk ke dalam rumah.

Sampai di dalam rumah, ia lihat Wi Sing-tiok masih asyik masyuk bicara dengan Cin Ang-bian. Rupanya Wi Sing-tiok memang pintar putar lidah, Ang-bian dibikin senang sekali, rasa permusuhan kedua orang itu sejak tadi sudah lenyap.

Melihat masuknya Siau Hong, segera Wi Sing-tiok berkata, “Kiau-pangcu, adik ini tadi berlaku kasar padamu, hal itu pun tidak disengaja, harap engkau suka membebaskan mereka.”

Wi Sing-tiok adalah ibu A Cu, dengan sendirinya Siau Hong mesti menurut, apalagi memang ada maksudnya buat membebaskan kedua orang itu.

Segera ia mendekati mereka dan menepuk pundak Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing hingga mereka merasa suatu hawa hangat menerjang hiat-to yang tertutuk itu, lalu anggota badan mereka dapat bergerak bebas lagi.

Ibu dan anak itu saling pandang sekejap, terhadap ilmu silat Siau Hong yang mahatinggi itu, sungguh mereka kagum tak terhingga.

“Adik A Ci, tulisan ayahmu itu bolehkah dipinjamkan padaku sebentar,” kata Siau Hong kepada A Ci.

“Aku tidak ingin dipanggil adik apa segala olehmu,” sahut A Ci. Walaupun demikian katanya, tapi tabir bersanjak yang sudah digulungnya tadi diserahkan juga kepada Siau Hong.

Segera Siau Hong membentang tabir itu dan membaca kembali tulisan Toan Cing-sun itu dengan jelas dan teliti.

Air muka Wi Sing-tiok menjadi merah jengah, katanya, “Barang seperti itu, apanya yang menarik?”

“Di manakah sekarang Toan-ongya berada?” tanya Siau Hong tiba-tiba.

Wajah Sing-tiok berubah hebat, sahutnya dengan khawatir, “Ti… tidak, jang… jangan kau cari dia lagi.”

“Aku takkan bikin susah padanya, tapi aku cuma ingin tanya beberapa soal padanya,” kata Siau Hong.

Sudah tentu Sing-tiok tidak percaya, katanya, “Engkau sudah salah membunuh A Cu, tak boleh kau cari ayahnya lagi.”

Siau Hong tahu tiada gunanya tanya lagi, ia lantas gulung tabir hiasan itu dan kembalikan kepada A Ci. Katanya, “A Cu meninggalkan pesan padaku agar menjaga baik-baik adik perempuannya. Toan-hujin, bila kelak A Ci mengalami kesulitan apa-apa, asal Siau Hong dapat membantu, silakan saja memberi tahu, pasti takkan kutolak.”

Sungguh girang Sing-tiok tak terkatakan, pikirnya, “A Ci mempunyai sandaran tokoh selihai ini, selama hidupnya takkan khawatir menemukan bahaya lagi.”

Maka sahutnya, “Banyak terima kasih atas kebaikanmu. Nah, A Ci, lekas mengaturkan terima kasih kepada Kiau-toako.”

Ia ganti sebutan “Kiau-pangcu” menjadi “Kiau-toako”, maksudnya agar hubungan A Ci dengan tokoh sakti itu menjadi lebih akrab.

Siapa duga A Ci justru mencibir, katanya, “Aku ada kesulitan apa hingga mesti minta bantuannya? Aku mempunyai suhu yang tiada tandingannya di kolong langit ini, punya suko sebanyak itu, masakah aku takut dihina siapa pun? Huh, dia sendiri serupa boneka lempung menyeberang sungai, diri sendiri saja sukar diselamatkan, masakah masih mau membantu aku segala?”

Dasar A Ci itu memang pintar bicara, sekali ia sudah mencerocos, maka mirip mitraliur saja cepatnya. Berulang Wi Sing-tiok mengedipi putrinya itu agar jangan sembarangan omong, tapi A Ci pura-pura tidak tahu.

“Ai, anak kecil tidak tahu aturan, harap Kiau-pangcu jangan marah,” demikian kata Sing-tiok kemudian.

“Cayhe Siau Hong adanya, tidak she Kiau lagi,” ucap Siau Hong.

“Dengarlah, mak, orang ini namanya sendiri saja tak tahu jelas, bukankah, mahadogol…”

“A Ci…” bentak Sing-tiok sebelum si nona mencerocos lagi.

Segera Siau Hong memberi hormat, dan berkata, “Selamat berpisah, sampai bertemu lagi kelak.”

Lalu ia berpaling kepada Bok Wan-jing, “Nona Toan, senjata rahasiamu yang berbisa itu tiada gunanya banyak dipakai, kalau ketemu lawan yang lebih kuat tentu kau sendiri yang akan celaka.”

Belum lagi Bok Wan-jing menjawab, tahu-tahu A Ci sudah menanggapi, “Cici, jangan kau percaya pada ocehannya. Am-gi demikian paling-paling luput mengenai sasarannya, masakah ada ruginya apa?”

Siau Hong tak gubris lagi padanya, ia putar tubuh dan keluar, ketika sebelah kaki melangkahi ambang pintu, mendadak lengan baju kanannya mengebas ke belakang, seketika berjangkitlah angin keras hingga tujuh batang panah kecil yang dihamburkan Bok Wan-jing tadi dan tergulung olehnya itu terus menyambar ke arah A Ci.

Sambaran panah kecil itu secepat kilat, A Ci hanya sempat menjerit sekali dan tak keburu berkelit. Tujuh batang panah kecil itu menyambar lewat di atas kepala, tepi leher dan samping tubuhnya, lalu menancap di dinding belakangnya hingga menghilang sampai pangkal panah itu.

Dengan khawatir Sing-tiok memburu maju, ia rangkul A Ci sambil berseru, “Ai, Cin-moaycu, lekas berikan, obat penawar!”

“Terluka di mana? Terluka di mana?” Cin Ang-bian juga berteriak-teriak.

Dan Bok Wan-jing lantas mengeluarkan obat penawar yang dibawanya dan lekas memeriksa keadaan luka A Ci.

Selang sejenak, sesudah hilang rasa kagetnya barulah A Ci berkata, “Aku tidak… tidak terluka apa-apa.”

Kiranya Siau Hong teringat pada pesan A Cu yang minta dia menjaga keselamatan A Ci, kini didengarnya gadis cilik itu membanggakan suhunya tiada tandingan di jagat, banyak pula sukonya yang lihai, maka ia tidak takut kepada siapa pun juga.

Siau Hong tahu am-gi berbisa aliran Sing-siok-hay itu beraneka macam, ia khawatir nona itu terlalu nakal dan tidak tahu luasnya jagat maka ia sengaja mengebas panah-panah kecil tadi untuk membuatnya takut, dengan begitu supaya gadis cilik itu tahu di dunia ini tidak sedikit tokoh-tokoh lihai selain gurunya.

Begitulah sesudah Siau Hong keluar dari hutan bambu, sampai di tepi Siau-keng-oh, ia mencari suatu pohon besar yang rindang, ia lompat ke atas pohon dan sembunyi di situ.

Kiranya ia masih penasaran karena Wi Sing-tiok tak mau mengaku di mana beradanya Toan Cing-sun, terpaksa ia akan menguntitnya secara diam-diam.

Benar juga, tidak lama kemudian tertampak Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing muncul dulu dari hutan bambu itu, menyusul Sing-tiok dan A Ci mengantar di belakang. Sampai di tepi danau, Ang-bian berkata, “Wi-cici, sekali kenal kita lantas cocok satu sama lain, maka segala selisih paham kita yang lampau kita hapuskan sama sekali. Kini lawan yang masih akan kucari tinggal budak hina she Kheng itu. Apakah engkau tahu di mana tempat tinggalnya?”

Sing-tiok tampak melengak, sahutnya, “Untuk apakah kau cari dia, Cin-moaymoay?”

Ang-bian tersenyum, katanya, “Habis hidupku dengan Toan-long mestinya tenteram bahagia, tapi budak hina siluman rase itulah yang pelet dia…”

“Ya, perempuan hina Kheng… Kheng Bin itu entah… entah tinggal di mana,” kata Wi Sing-tiok sesudah berpikir sejenak. “Jika nanti Moaycu dapat menemukan dia, harap wakilkan aku menusuk beberapa kali pada tubuhnya.”

“Masakah perlu disuruh lagi?” sahut Ang-bian. “Cuma tidak mudah untuk mencari jejaknya. Baiklah, sampai berjumpa pula. Dan bila engkau bertemu dengan Toan-long…”

“Ada apa?” tanya Sing-tiok terkesiap.

“Harap wakilkan aku menempeleng dia dua kali dengan keras,” kata Ang-bian. “Tempelengan kesatu adalah titipanku dan tempelengan kedua masuk hitungan nona kami ini.”

Sing-tiok tertawa, katanya, “Masakah aku masih sudi menemui manusia yang tak punya liang-sim (perasaan) itu? Sebaliknya bila Moaycu bertemu dengan dia, harap juga wakilkan aku menggampar dia dua kali, sekali mewakilkan aku dan satu kali lagi untuk nonaku A Ci ini. Coba pikir, sampai anaknya sendiri tak diurus, bukankah pantas dihajar?”

Sudah tentu semua percakapan itu dapat didengar oleh Siau Hong yang sembunyi di atas pohon itu. Ia pikir ilmu silat Toan Cing-sun tidaklah lemah, terhadap kawan juga setia, tapi justru suka main perempuan, maka betapa pun tidak terhitung seorang kesatria.

Begitulah ia dengar Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing mohon diri kepada Wi Sing-tiok dan A Ci, lalu berangkat pergi. Kemudian Wi Sing-tiok menggandeng tangan A Ci dan masuk kembali ke dalam hutan bambu.

Pikir Siau Hong, “Pasti dia akan pergi mencari Toan Cing-sun, soalnya ia tidak sudi pergi bersama Cin Ang-bian yang merupakan saingan itu. Tadi ia kembali untuk mengambil tabir bersanjak, tentulah Toan Cing-sun sedang menunggu tidak jauh di depan sana. Biarlah aku menantinya di sini.”

Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar suara keresekan di semak-semak pohon sana, dua bayangan orang lagi merunduk kemari. Ternyata mereka adalah Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing, sudah pergi kini datang kembali.

Terdengar Cin Ang-bian sedang bicara dengan suara perlahan, “Wan-ji, mengapa kau mudah ditipu orang? Tadi kulihat di kolong ranjang Wi-cici ada sepasang sepatu laki-laki, terang itulah sepatu ayahmu. Sepatu itu masih baru dan bersih pula, maka dapat diduga ayahmu pasti mengumpet di situ.”

“Hah, jadi kita telah dibohongi perempuan she Wi itu?” kata Wan-jing.

“Ya, tentu ia keberatan membiarkan kita bertemu dengan laki-laki berhati palsu itu,” ujar Ang-bian.

“Mak, ayah kan tidak punya liang-sim, buat apa engkau menemuinya lagi?” tanya Bok Wan-jing.

Ang-bian terdiam sejenak, sahutnya kemudian, “Aku cuma ingin melihatnya, tapi tidak ingin dia melihat aku. Selang sekian lama, tentu dia sudah tua, dan ibumu juga sudah tua.”

Ucapan itu kedengaran dingin-dingin saja, tapi penuh rasa rindu dendam.

“Baiklah!” kata Wan-jing dengan suara terharu. Sejak dia berpisah dengan Toan Ki, rasa rindunya tidak pernah berkurang. Meski dia tahu cintanya itu toh tak mungkin terkabul, tapi derita batinnya boleh dikatakan jauh melebihi sang ibu.

“Asal kita menunggu saja di sini, tidak lama lagi mungkin ayahmu akan muncul,” demikian Cin Ang-bian lagi berkata.

Lalu ia mengajak putrinya sembunyi di tengah semak-semak rumput di balik pohon sana. Di bawah sinar bintang yang remang-remang Siau Hong dapat melihat wajah Cin Ang-bian yang putih pucat itu bersemu merah, tampaknya perasaan wanita itu sangat terguncang. Maklum, demikianlah kalau orang sedang digoda asmara. Dan bila Siau Hong sendiri teringat kepada A Cu, mau-tak-mau ia merasa pedih juga.

Tidak lama kemudian, dari jalan sana terdengar suara orang datang dengan berlari. Pikir Siau Hong, “Ini bukan Toan Cing-sun, besar kemungkinan adalah anak buahnya.”

Benar juga sesudah dekat orang itu memang si sastrawan Cu Tan-sin adanya.

Rupanya Sing-tiok juga sudah mendengar suara tindakan Cu Tan-sin itu, tapi ia tak bisa membedakan apakah pendatang itu Toan Cing-sun atau bukan, maka dari dalam hutan bambu ia terus memapak keluar sambil berseru girang, “Toan-long! Toan-long!”

Tapi ia menjadi kecewa ketika yang terlihat bukan sang kekasih melainkan Cu Tan-sin.

Segera Cu Tan-sin memberi hormat dan berkata, “Hamba disuruh Cukong agar memberitahukan bahwa beliau ada urusan penting, maka hari ini tidak sempat kembali ke sini lagi.”

Sing-tiok terkejut, tanyanya, “Urusan penting apa? Bilakah akan kembali?”

“Urusan ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Buyung di Koh-soh, agaknya Cukong telah menemukan jejak Buyung-kongcu,” tutur Tan-sin. “Jauh-jauh Cukong datang ke utara sini, tujuannya adalah ingin mencari orang itu. Cukong menyatakan bila urusan sudah beres, segera beliau akan kembali ke sini, diharap Hujin jangan banyak berpikir.”

Air mata Wi Sing-tiok berlinang-linang, katanya dengan terguguk-guguk, “Setiap kali ia pun mengatakan akan… akan kembali ke sini, tapi setiap kali lantas… lantas beberapa tahun lamanya. Kini baru berjumpa dan dia sudah… sudah…”

Karena masih dendam atas kematian Leng Jian-li gara-gara perbuatan si A Ci, maka Cu Tan-sin tidak mau lama-lama tinggal di situ, ia merasa sudah selesai menunaikan tugasnya, maka segera ia mohon diri dan tinggal pergi.

Sesudah Cu Tan-sin pergi agak jauh, segera Wi Sing-tiok berkata kepada A Ci, “Ginkangmu lebih hebat daripadaku, lekas kuntit dia, sepanjang jalan kau tinggalkan tanda, segera aku menyusul.”

“Kau suruh aku menyusul ayah, apa hadiahnya nanti?” sahut A Ci dengan nakal.

“Segala milik ibumu adalah punyamu, mengapa kau minta hadiah apa segala?” sahut Sing-tiok.

“Baiklah,” kata A Cu. “Aku akan meninggalkan tanda huruf ‘Toan’ di dinding, kutambahi lukisan panah, dan ibu tentu akan tahu arahnya.”

“Ya, anak baik!” ucap Sing-tiok sambil memeluk dara cilik itu.

Dan sekali berlari, segera A Ci menyusul ke jurusan Cu Tan-sin tadi.

Sing-tiok berdiri termenung sejenak di tepi danau, kemudian ia pun menyusul ke arah sana. Dan sesudah Wi Sing-tiok pergi agak jauh barulah Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing keluar dari tempat sembunyi mereka, keduanya saling memberi tanda dan segera menguntit dari belakang dengan hati-hati.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Sepanjang jalan A Ci akan meninggalkan tanda arah, maka tidak sulit untuk mencari jejak Toan Cing-sun.”

Segera ia pun melompat turun dari atas pohon dan berangkat menyusur tepi danau. Di bawah sinar bintang yang remang-remang itu ia lihat bayangan sendiri di tengah danau yang sendirian dan kesepian, ia menjadi pilu dan bermaksud kembali ke hutan bambu sana untuk termenung di depan kuburan si A Cu. Tapi sesudah berpikir sejenak, mendadak jiwa kesatrianya berkobar-kobar, ia hantam sekali ke depan, di mana angin pukulannya tiba, kontan air danau muncrat bertebaran dan bayangannya pun buyar. Ia bersuit panjang sekali, lalu melangkah pergi dengan cepat.

Dalam perjalanan itu Siau Hong lebih banyak minum arak daripada makan nasi, setiap kota yang didatangi selalu ditemukan tanda yang ditinggalkan A Ci di pengkolan setiap jalan. Terkadang tanda itu dihapus Wi Sing-tiok, tapi bekasnya masih kelihatan.

Begitulah ia terus menuju ke utara, hawa juga semakin dingin. Hari itu tibalah di wilayah Holam, bunga salju sudah mulai bertebaran dari langit.

Waktu tengah hari Siau Hong mampir di suatu kedai kecil untuk minum arak. Beruntun-runtun belasan mangkuk arak sudah ditenggaknya, tapi belum mencukupi seleranya akan pecandu arak. Ia minta tambah lagi, tapi persediaan arak kedai itu sudah habis. Dengan rasa kurang puas Siau Hong melanjutkan perjalanannya, akhirnya sampailah di suatu kota besar. Setelah ia perhatikan, ia menjadi terkesiap sendiri. Kiranya kota itu adalah Sinyang, yaitu tempat tinggal Be-hujin.

Oleh karena sepanjang jalan ia cuma membuntuti tanda-tanda yang ditinggalkan A Ci, pikirannya melayang-layang mengenangkan urusannya sendiri, maka terhadap keadaan di sekitarnya tidak diperhatikan olehnya. Dan tahu-tahu kini ia telah berada kembali di kota Sinyang.

Setelah masuk kota, ia tidak sempat minum arak lagi, tapi terus mencari tanda yang ditinggalkan A Ci. Ia lihat pada pojok tembok ujung jalan sana tertulis suatu huruf “Toan” dengan kapur, di samping huruf itu terlukis pula sebuah panah yang mengarah ke barat.

Kembali Siau Hong merasa pedih bila teringat belum lama berselang ia bersama A Cu telah datang ke rumah Be-hujin untuk mencari tahu siapakah “Toako Pemimpin” itu. Tapi kini sang kekasih sudah mendahului mangkat untuk selama-lamanya.

Setelah beberapa li kemudian, angin meniup sangat kencang, salju turun lebih deras lagi. Siau Hong menuju ke barat menurut arah yang ditunjuk panah. Tanda-tanda yang ditinggalkan A Ci itu tampak masih baru, ada yang diukir di batang pohon yang lebih dulu kulit pohon dikupas hingga getah pohon masih kelihatan belum beku.

Makin lama Siau Hong makin heran, sebab arah yang ditunjuk itu justru adalah rumah tinggal Be Tay-goan. Pikirnya, “Jangan-jangan Toan Cing-sun mengetahui Be-hujin yang memfitnah dia, maka mencarinya buat bikin perhitungan. Ya, tentu apa yang dikatakan A Cu kepadaku sebelum meninggal itu telah didengar juga oleh A Ci, dan dara cilik itu memberitahukan ayahnya tentang Be-hujin. Tapi kami cuma sebut Be-hujin, dari mana ia tahu yang kumaksudkan adalah nyonya Be Tay-goan ini?”

Sepanjang jalan sebenarnya Siau Hong selalu lesu dan agak linglung, tapi kini demi ketemu sesuatu yang ganjil, seketika semangatnya terbangkit lagi dan pulih pula daya indranya yang tajam. Ia lihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng rusak, ia masuk ke situ, pintu kelenteng itu ditutupnya, lalu tidur di situ untuk beberapa jam lamanya, kira-kira dekat tengah malam barulah ia mendusin.

Segera ia tinggalkan kelenteng itu dan menuju ke rumah Be-hujin. Sesudah dekat, ia sembunyi di belakang pohon untuk memeriksa keadaan sekitarnya. Setelah memandang sejenak, tersenyumlah dia. Kiranya dilihatnya di pojok timur rumah sana mendekam dua sosok tubuh manusia, dari perawakan mereka tampaknya adalah Wi Sing-tiok dan A Ci. Waktu diperhatikan pula arah lain, kembali tertampak Cin Ang-bian dan Bok Wan-jing juga sembunyi di utara rumah.

Saat itu salju belum lagi reda, tubuh Wi Sing-tiok dan Cin Ang-bian berempat itu penuh tertebar salju. Dari jendela sebelah timur itu kelihatan sinar pelita yang redup, tapi keadaan di dalam rumah sunyi senyap. Ia ambil sepotong ranting pohon dan ditimpukkan ke barat sana, ketika Wi Sing-tiok berempat berpaling karena tertarik oleh suara itu, segera Siau Hong melompat ke bawah jendela sebelah timur dengan gesit.

Oleh karena hawa sudah dingin, maka jendela rumah nyonya Be itu dilapis dengan papan kayu untuk menolak hawa dingin. Siau Hong menunggu di luar jendela, sebentar kemudian terdengar tiupan angin dari arah utara yang keras.

Pada saat angin menyambar ke arah jendela, segera Siau Hong barengi dengan mendorong tangannya ke depan, tenaga dorongan itu menghantam papan jendela hingga pecah, seketika kertas yang melapisi jendela bagian dalam pun pecah satu lubang.

Meski Cin Ang-bian dari Wi Sing-tiok berada di dekat situ, tapi karena tenaga pukulan Siau Hong itu dibarengi dengan tiupan angin kencang, maka sama sekali mereka tidak tahu semua itu adalah perbuatan orang. Andaikan ada orang di dalam rumah juga takkan tahu. Dan waktu Siau Hong mengintip ke dalam rumah melalui lubang kertas itu, seketika ia tercengang, hampir-hampir ia tidak percaya pada matanya sendiri.

Apakah yang dilihatnya? Kiranya ia lihat Toan Cing-sun dengan baju dalam lagi enak-enak duduk bersila di atas balai-balai, tangannya memegang cawan arak kecil, dengan tersenyum-senyum sedang memandangi seorang wanita yang duduk di tepi balai-balai. Wanita itu memakai baju putih berkabung, mukanya berbedak tipis dan sedikit bergincu, kedua matanya sayu-rayu, dengan sikap tertawa-tak-tertawa, dan marah-tak-marah sedang melirik Toan Cing-sun. Itulah dia nyonya janda Be Tay-goan adanya.

Coba kalau Siau Hong tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimanapun juga ia takkan percaya jika ada orang menceritakan padanya tentang adegan seperti sekarang ini. Apalagi sejak di luar kota Bu-sik, di tengah hutan sana untuk pertama kalinya ia lihat Be-hujin, untuk selanjutnya setiap kali bila bertemu lagi selalu dilihatnya sikap nyonya janda itu kereng dan suci bersih, bahkan bagaimana air mukanya bila tersenyum juga belum pernah dilihat Siau Hong. Siapa tahu kini dapat dilihatnya adegan yang luar biasa ini.

Yang paling tidak bisa dimengerti oleh Siau Hong adalah nyonya janda itu telah sengaja memfitnah Toan Cing-sun, sepantasnya dia mempunyai permusuhan dan sakit hati sedalam lautan dengan pangeran Tayli itu. Tapi kini bila melihat suasana di dalam kamar yang mesra merayu memabukkan itu, terang di antara mereka itu tiada permusuhan apa pun juga.

Begitulah maka terdengar Toan Cing-sun sedang berkata, “Mari, mari, iringi aku minum secawan pula, marilah kita minum dua sejoli!”

“Huh, sejoli apa?” tiba-tiba Be-hujin mendengus. “Seorang diri aku ditinggal hidup kesepian di sini, siang-malam selalu terkenang dan setiap saat merindukanmu yang tak punya perasaan ini, sebaliknya engkau tidak ingat lagi padaku, bahkan menjenguk kemari pun tidak pernah.”

Habis berkata, matanya tampak merah basah.

Diam-diam Siau Hong membatin, “Ditilik dari ucapannya ini, agaknya dia serupa dengan Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok, jangan-jangan ia pun bekas kekasih Toan Cing-sun?”

Maka terdengar Toan Cing-sun menjawab dengan tertawa, “Sesudah kau menikah dengan Be-hupangcu, bila aku datang lagi ke sini, tentu akan menimbulkan omong iseng orang luar. Apa lagi Be-hupangcu adalah seorang kesatria Kay-pang yang terhormat, kalau aku tetap main patgulipat lagi denganmu, bukankah aku akan dipandang sebagai manusia rendah? Hahahaha!”

“Cis, siapa ingin dipuji olehmu? Aku kan khawatirkan dirimu, aku ingin tahu apa hidupmu bahagia dan senang atau tidak? Asal engkau baik-baik saja, maka legalah hatiku. Tapi engkau justru jauh berada di Tayli, untuk mencari kabar dirimu juga sangat sulit,” demikian kata Be-hujin dengan suara lemah lembut, halus menggiurkan, merdu menyenangkan hingga membuat siapa pun yang mendengar pasti akan kesengsem.

Siau Hong sudah kenal kedua gendak Toan Cing-sun, yaitu Cin Ang-bian yang tegas dan suka terus terang, Wi Sing-tiok yang cantik licin, sebaliknya Be-hujin ini mempunyai gayanya sendiri, lemah lembut tapi berbisa.

Begitulah maka waktu Toan Cing-sun mendengar rayuan Be-hujin tadi, hatinya terguncang, terus saja ia tarik sang kekasih dan dipeluknya. Be-hujin bersuara perlahan sekali, pura-pura menolak, tapi sebenarnya bergirang.

Siau Hong berkerut kening, ia tidak sudi menyaksikan kelakuan mereka yang menjijikkan itu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di sebelahnya ada orang menginjak salju dengan keras hingga menerbitkan suara. Segera Siau Hong tahu apa yang terjadi, ia membatin, “Celaka, jangan-jangan kedua wanita ini sok ‘minum cuka’ (cemburu) dan bikin runyam urusanku.”

Begitu berpikir segera pula ia bertindak. Cepat ia melompat balik ke belakang Cin Ang-bian berempat dan menutuk hiat-to pada punggung mereka, yaitu hiat-to bisu hingga keempat wanita itu tak bisa bersuara dan tak tahu siapa yang menyerang mereka.

Meski badan mereka tertutuk hingga tak berkutik dan mulut tak bisa bersuara, tapi telinga Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok masih dapat mendengar cumbu rayu kekasihnya dengan wanita lain, keruan api kemarahan mereka semakin berkobar-kobar, rasa cemburu mereka bagai dibakar, tapi apa daya, mereka tak bisa berkutik, batin mereka benar-benar tersiksa sambil menggeletak di tanah salju situ.

Ketika Siau Hong mengintip ke dalam kamar, ia lihat Be-hujin sudah duduk di samping Toan Cing-sun, kepalanya bersandar di bahu sang kekasih, tubuh lemas bagai tak bertulang lagi, terdengar wanita itu sedang berkata, “Tentang suamiku dibunuh orang, tentunya engkau sudah mendengar dan mengapa engkau tidak datang menjenguk aku? Sesudah suamiku meninggal, mestinya kau pun tidak perlu khawatir dicurigai orang lagi?”

“Sekarang bukankah aku sudah datang kemari?” sahut Cing-sun dengan tertawa. “Sepanjang jalan dari Tayli aku memburu kemari siang dan malam, justru kukhawatir datang terlambat.”

“Khawatir terlambat apa?” tanya Be-hujin tak paham.

“Khawatir si dia tak tahan hidup kesepian dan menikah pula dengan orang,” sahut Cing-sun. “Kalau begitu, bukankah aku Toan-ji dari Tayli ini akan sia-sia memburu kemari dari jauh? Bukankah rindu dendam selama belasan tahun ini kembali dibikin kecewa?”

“Huh, mengoceh seenaknya, tuduh orang tidak tahan kesepian dan menikah pula dengan orang?” semprot Be-hujin. “Memangnya kapan kau pernah pikirkan diriku, tapi mengaku rindu dendam belasan tahun segala?”

Tiba-tiba Cing-sun merangkulnya dengan erat, katanya dengan tertawa, “Jika aku tidak merindukan dikau, guna apa jauh-jauh aku datang kemari?”

“Baiklah, aku percaya engkau benar-benar rindu padaku. Nah, Toan-long, untuk selanjutnya bagaimana akan kau tempatkan diriku?” kata Be-hujin dengan tersenyum.

Segera ia pun merangkul leher Cing-sun dengan sorot mata yang genit, pipinya ditempelkan ke muka kekasih itu.

“Ada arak biarlah kita minum sekarang, urusan yang belum datang buat apa dibicarakan?” ujar Cing-sun. “Ayolah, mari coba kupondong, setelah berpisah selama sepuluh tahun, entah kau tambah berat atau menjadi lebih ringan?”

Sambil berkata, terus saja ia pondong badan Be-hujin.

“Jadi engkau tidak sudi membawaku ke Tayli?” tanya Be-hujin.

“Apanya sih yang menarik negeri Tayli itu?” sahut Cing-sun sambil berkerut kening. “Tanahnya lembap, hawa panas, tentu kau takkan cocok dengan iklim di sana, jangan-jangan akan jatuh sakit malah di sana.”

“Ehm, kembali engkau cuma akan membuatku gembira percuma saja,” kata Be-hujin sambil menghela napas perlahan.

“Mengapa gembira percuma? Segera juga akan kubikin kau gembira sungguhan,” ujar Cing-sun dengan cengar-cengir sambil memeluk lebih erat.

Tapi Be-hujin meronta perlahan dan turun dari pelukan Toan Cing-sun, ia menuang satu cawan arak dan berkata, “Toan-long, silakan minum lagi secawan.”

“Aku tidak minum lagi, sudah cukup!” sahut Cing-sun.

“Ehmm, aku emoh, kau harus minum sampai mabuk,” kata Be-hujin dengan manja dan genit.

“Ai, kalau mabuk, bagaimana nanti?” ujar Cing-sun. Tapi toh diterimanya juga dua cawan arak dan diminum hingga habis.

Sungguh Siau Hong tidak sabar mendengarkan cumbu rayu mereka itu. Melihat Toan Cing-sun minum arak secawan demi secawan, tanpa merasa ia pun ketagihan, biji lehernya naik-turun, tanpa terasa ia menelan ludah. Kemudian dilihatnya Toan Cing-sun menguap dan ada tanda letih dan mengantuk.

“Toan-long, maukah kuceritakan suatu kisah padamu?” tiba-tiba Be-hujin bertanya.

Semangat Siau Hong terbangkit seketika, pikirnya, “Dia mau bercerita, boleh jadi akan kudapat sedikit keterangan dari ceritanya nanti.”

Sebaliknya Toan Cing-sun menjawab, “Boleh kau bercerita dengan lirih di atas bantal nanti.”

“Huh, engkau sih senang saja!” jengek Be-hujin. “Nah, Toan-long, dengarkanlah. Pada waktu kecil, keluarga kami sangat miskin, bahkan membuatkan baju baru bagiku juga orang tuaku tidak mampu. Dan setiap hari aku selalu berpikir bilakah aku akan dapat meniru enci keluarga Thio tetangga kami yang saban tahun baru tentu mendapat baju baru dan sepatu baru itu? Alangkah senangnya hatiku bila cita-citaku itu terkabul.”

“Pada waktu kecil tentu kau pun sangat cantik, nona cilik yang demikian menyenangkan, biarpun memakai baju rombeng juga tetap cantik,” ujar Cing-sun.

Be-hujin tersenyum genit, katanya pula merayu, “Waktu kecil aku selalu rindu, yaitu merindukan baju cita kembang.”

“Dan sesudah dewasa?” tanya Cing-sun.

“Sesudah dewasa, aku rindu padamu.”

Kembali hati Cing-sun terguncang oleh rayuan itu, ia bermaksud merangkul pula.

Tapi rupanya terlalu banyak minum arak, kaki tangannya terasa lemas, hanya setengah jalan tangannya sudah turun kembali. Katanya dengan tertawa, “Ai, sekian banyak arak telah kau lolohi aku, kalau sebentar aku mabuk, haha… Eh, Siau Kheng, lalu sampai umur berapa baru terkabul kau pakai baju cita kembang?”

“Kau sendiri dilahirkan dalam keluarga bangsawan, sudah tentu tidak kenal penderitaan anak keluarga miskin,” sahut Be-hujin. “Tatkala itu biarpun rambutku cuma berhias seutas pita merah sudah kegirangan setengah mati. Waktu aku berumur tujuh, ketika dekat tahun baru, ayah menggiring babi yang kami piara dengan susah payah itu ke pasar untuk dijual, ayah berjanji akan membelikan cita kembang untuk membuatkan baju baru bagiku. Coba bayangkan, betapa rasa girangku.

“Maka baru satu jam ayah pergi, dengan tak sabar aku menantinya di depan rumah, tapi ayah belum juga pulang meski aku sudah masuk-keluar rumah beberapa kali. Akhirnya setelah dekat magrib, dari jauh kelihatan ayah mendatang dengan perlahan. Secepat terbang aku memapaknya.

“Tapi aku menjadi kaget sesudah dekat. Kulihat sebelah lengan baju ayah robek, mukanya merah bengkak, pundaknya berdarah pula, terang ayah habis dihajar orang. Cepat aku tanya, ‘Di manakah cita kembang yang kau janjikan ayah?’…”

Mendengar sampai di sini, perasaan Siau Hong ikut tertekan, pikirnya, “Dasar wanita ini memang tipis peribudinya. Ayahnya dihajar orang hingga babak belur dan dia tidak menghiburnya sebaliknya yang dipikir cuma cita kembang melulu. Walaupun waktu itu ia masih kecil, tapi juga tidak pantas.”

Maka terdengar Be-hujin melanjutkan, “Tapi ayahku tidak menjawab, beliau cuma geleng kepala sambil meneteskan air mata. Segera kutanya pula, ‘Ayah, cita kembang yang kupesan sudah dibelikan belum?’

“Dengan menyesal ayah pegang tanganku, katanya, ‘Uang hasil penjualan babi itu telah dirampas oleh juragan Ciok. Aku utang padanya, katanya masih harus ditambah rente sekian dan aku dipaksa membayar…’

“Sungguh tak terkatakan rasa kecewaku waktu itu, aku duduk lemas di tanah dan menangis sedih. Setiap hari aku piara babi, dari kecil babi itu kubesarkan dan cita-citaku cuma ingin memakai baju kembang, siapa duga hasilnya kosong belaka…”

Pada waktu kecilnya Siau Hong juga pernah hidup menderita bersama ayah-ibu angkatnya, yaitu Kiau Sam-hoay, setiap hari hidup mereka selalu menderita di bawah isapan tuan tanah dan kaum rentenir, segala siksaan dan aniaya kaum pengisap itu sudah kenyang dilihat olehnya. Maka kini ia pun ikut pedih dan terkenang pada ayah-ibu angkat yang malang itu.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: