Kumpulan Cerita Silat

16/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 36

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:05 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Namun Toan Cing-sun tahu urusan hari ini sangatlah berbahaya, di antara jago-jago Tayli yang ada di situ sekarang ia sendirilah yang paling kuat, jika ia meninggalkan kawan-kawan lain untuk menyelamatkan diri sendiri, lalu ke manakah mukanya akan ditaruh kelak? Apalagi di hadapan kekasih dan putrinya, mana boleh dia merendahkan pamor sendiri? Maka dengan tersenyum ia menjawab kedatangan Su-ok itu, “Hahahaha, urusan keluarga Toan kami ternyata mesti diselesaikan di wilayah Song, sungguh aneh urusan ini.”

“He, Toan Cing-sun, setiap kali aku bertemu denganmu, selalu kau lagi berkumpul dengan beberapa perempuan cantik. Wah, rezekimu dalam hal perempuan sungguh luar biasa baiknya,” demikian Yap Ji-nio menyapa dengan tertawa.

Sebaliknya Lam-hay-gok-sin terus memaki, “Anak kura-kura ini tentu sudah kelewat puas main perempuan, biarlah sekarang Locu mengacipnya menjadi dua potong!”

Habis berkata, segera ia keluarkan “Gok-cui-cian” atau kacip congor buaya, dan menerjang maju ke arah Toan Cing-sun.

Dengan jelas Siau Hong dengar Yap Ji-nio menyebut orang setengah umur itu sebagai Toan Cing-sun, sedang yang ditegur pun tidak menyangkal, hal ini ternyata cocok seperti dugaan Siau Hong, maka dengan perasaan terguncang ia berpaling dan berkata kepada A Cu, “Ternyata benar dia adanya.”

“Apakah… apakah engkau akan mengerubutnya dan menyerangnya tatkala dia terancam bahaya lain?” tanya A Cu dengan suara gemetar.

Namun perasaan Siau Hong saat itu sangat kusut, ia murka dan girang pula, sahutnya dengan dingin, “Sakit hati ayah-bunda, dendam Suhu, dan ayah-ibu angkatku, serta rasa penasaranku yang difitnah, hm, semua itu masakah boleh kutinggal diam, masakah aku masih perlu bicara tentang kejujuran dan keadilan serta peraturan Kangouw apa segala dengan dia?”

Ucapan itu sangat perlahan, tapi penuh rasa dendam kesumat dan kebulatan tekad yang tak terpisahkan.

Dalam pada itu demi tampak Lam-hay-gok-sin sudah mulai menerjang maju, segera Hoan Hua mengatur siasat, bisiknya perlahan kepada kawan-kawannya, “Hoa-toako, Cu-hiante, silakan kalian keroyok orang dogol itu! Harus menyerang serentak dan menggempur sekuatnya, lekas membereskan dia lebih baik, kaki tangan musuh dipreteli dulu, habis itu musuh utamanya akan mudah dilawan.”

Hoa Hek-kin dan Cu Tan-sin mengiakan bersama, cepat mereka memapak maju. Meski kepandaian mereka masing-masing cukup kuat untuk menandingi Lam-hay-gok-sin, pula agak kurang terhormat main keroyok, tapi demi mendengar penjelasan Hoan Hua tadi, mereka merasa siasat itu cukup beralasan. Toan Yan-king terlalu tangguh untuk dilawan, jika mesti satu lawan satu, tiada seorang pun di antara mereka yang mampu melawannya, jika nanti serentak mereka mengerubutnya, boleh jadi keadaan masih bisa dikuasai.

Maka dengan senjata cangkul baja segera Hoa Hek-kin mendahului menyerang disusul oleh Cu Tan-sin dengan pit bajanya terus mengerubuti Lam-hay-gok-sin.

Lalu Hoan Hua berkata pula, “Sekarang Pah-hiante boleh membereskan kenalanmu yang lama itu, aku dan Leng-hiante akan melawan perempuan itu.”

Sekali Pah Thian-sik mengiakan, terus saja ia menubruk ke arah In Tiong-ho. Sedangkan Hoan Hua dan Leng Jian-li juga serentak melompat maju.

Senjata andalan Leng Jian-li sebenarnya adalah gagang pancing yang telah dilempar ke danau oleh A Ci. Kini ia sambar pacul Tang Su-kui sebagai gantinya.

Melihat majunya musuh-musuh itu Yap Ji-nio tersenyum, sekali lihat gerakan lawan, segera ia tahu Hoan Hua adalah lawan tangguh. Ia tidak berani ayal, ia lemparkan bayi yang digendongnya itu ke tanah, ketika tangannya menjulur ke depan lagi, tahu-tahu ia sudah memegang sebatang golok yang lebar dan tipis, tadinya golok itu entah disimpan di mana, tahu-tahu sudah dilolosnya keluar.

Di luar dugaan, mendadak Leng Jian-li menggertak keras, tapi bukannya menerjang ke arah Yap Ji-nio, sebaliknya menyerbu Toan Yan-king.

Keruan Hoan Hua kaget, cepat serunya, “Leng-hiante, bukan ke sana, tapi ke sini, kemarilah!”

Namun Leng Jian-li seperti tidak mendengar lagi, bahkan paculnya diangkat terus menyerampang pinggang Toan Yan-king.

Toan Yan-king cuma tersenyum dingin saja, sama sekali ia tidak berkelit, sebaliknya tongkat bambu sebelah kiri terus menutuk ke muka lawan malah.

Tampaknya tutukan tongkat itu seperti dilakukan seenaknya saja, tapi waktunya dan jitunya ternyata diperhitungkan dengan tepat, yaitu sedetik lebih dulu sebelum pacul Leng Jian-li mengenai sasarannya. Jadi menyerang belakangan tapi tiba lebih dulu, lihainya sungguh tak terkatakan.

Serangan yang berbahaya itu sebenarnya mau tak mau Leng Jian-li harus menghindarkannya. Siapa duga serangan Toan Yan-king itu sedikit pun tidak digubris oleh Leng Jian-li, sebaliknya ia ayun paculnya semakin kuat dan tetap menghantam ke pinggang lawan.

Keruan Toan Yan-king terkejut, pikirnya, “Aneh, jangan-jangan ini orang gila?”

Sudah tentu ia tidak mau terluka bersama Leng Jian-li, bila tongkatnya dapat mampuskan lawan, pinggang sendiri juga pasti akan terluka parah. Maka cepat ia tutuk tongkat kanan ke tanah, tubuh terus mengapung ke atas.

Melihat lawan meloncat ke atas, segera pacul Leng Jian-li itu menyodok ke perut Toan Yan-king. Sebenarnya kepandaian Leng Jian-li adalah kegesitan dan kelincahan, sudah tentu pacul itu bukan senjata yang cocok baginya, malahan sekarang ia bertempur dengan nekat dan ngawur, setiap serangan selalu mengincar tempat mematikan di tubuh Toan Yan-king, sedangkan keselamatan diri sendiri sama sekali tak terpikir olehnya.

Menghadapi orang nekat dan kalap demikian biarpun ilmu silat Toan Yan-king sangat tinggi terpaksa terdesak mundur juga berulang-ulang. Namun demikian tetap Leng Jian-li tak bisa mengenai sasarannya, sebaliknya dalam sekejap saja di tanah rumput di tepi danau ini sudah penuh tetesan darah.

Kiranya waktu Toan Yan-king menghindar atau melompat mundur, setiap kali tongkatnya pasti kena menjuju tubuh Leng Jian-li, di mana tongkatnya sampai, di bagian tubuh Leng Jian-li lantas berlubang. Tapi Leng Jian-li sudah tak merasakan sakit lagi, ia mainkan paculnya semakin kencang dan menyerang semakin kalap.

Akhirnya Toan Cing-sun menjadi khawatir, cepat ia berseru, “Leng-hiante, lekas mundur, biar kutempur pengganas ini!”

Segera ia sambar sebatang pedang dari tangan kekasihnya dan menerjang mau untuk mengeroyok Toan Yan-king.

“Mundurlah Cukong!” seru Leng Jian-li.

Sudah tentu Cing-sun tak mau menurut, kontan pedangnya menusuk ke dada Toan Yan-king.

Mendadak Yan-king Taycu menahan tubuh dengan tongkat kanan, tongkat kiri lebih dulu dipakai menangkis pacul Leng Jian-li, menyusul pada suatu kesempatan ia terus menutuk muka Toan Cing-sun.

Tapi Cing-sun cukup tenang, ia tidak kalap seperti Leng Jian-li, sedikit menggeser ke samping, terhindarlah serangan Yan-king Taycu itu.

Mendadak Leng Jian-li menggerung bagai harimau ketaton, sekonyong-konyong pacul membalik dan menyerang Toan Cing-sun malah. Keruan Cing-sun kaget, hampir jidatnya kena genjot pacul, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa kawan yang sangat setia itu mendadak bisa menyerangnya.

Melihat kekalapan Leng Jian-li, Hoan Hua, Cu Tan-sin, dan lain-lain menjadi khawatir, mereka berteriak-teriak, “Leng-hiante, lekas mundur untuk mengaso dulu!”

Tapi Leng Jian-li masih terus menggerung-gerung seperti orang gila dan merangsang ke arah Toan Yan-king. Sementara itu Hoan Hua dan kawan-kawannya di satu pihak dan Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin di lain pihak sudah sama berhenti bertempur untuk menyaksikan pertarungan Toan Yan-king dan Leng Jian-li demi tampak yang tersebut belakangan ini seperti orang kurang waras pikirannya.

“Leng-toako, silakan mundur dulu!” demikian Cu Tan-sin memburu maju untuk menarik Leng Jian-li, tapi malah kena dijotos sekali oleh saudara angkat itu hingga hidung dan mata matang biru.

Menghadapi lawan kalap begitu sesungguhnya juga bukan keinginan Toan Yan-king. Sementara itu mereka sudah bergebrak hampir 30 jurus, sudah belasan luka tongkat Toan Yan-king menikam badan Leng Jian-li. Tapi Leng Jian-li masih terus berteriak-teriak dan menempurnya dengan nekat.

Cu Tan-sin tahu bila diteruskan akhirnya Leng Jian-li pasti tak terluput dari binasa, dengan air mata berlinang-linang segera ia bermaksud menerjang maju untuk membantu.

Tapi belum lagi ia bertindak, sekonyong-konyong tertampak Leng Jian-li menimpukkan paculnya ke arah musuh dengan sekuatnya. Tapi sekali Toan Yan-king mencungkil dengan tongkatnya batang pacul itu, dengan enteng sekali pacul itu melayang jauh ke sana. Itulah ilmu “Si-nio-poat-jian-kin” atau Empat Tahil Menyampuk Seribu Kati, ilmu sakti yang mengagumkan.

Dan belum lagi pacul itu jatuh ke tanah, mendadak Leng Jian-li ikut menubruk ke arah Toan Yan-king. Tapi Yan-king Taycu menyambutnya dengan tersenyum, tongkat terus menikam ke dada lawan itu.

“Celaka!” seru Toan Cing-sun, Hoan Hua, dan lain-lain, berbareng mereka memburu maju buat membantu.

Tapi tusukan tongkat Yan-king Taycu itu cepat luar biasa, “bles”, dada Leng Jian-li tertikam dengan tepat, bahkan terus tembus ke punggung. Dan begitu tongkat berhasil menusuk sasarannya, tongkat Yan-king yang lain lantas menutul tanah hingga tubuhnya melayang mundur beberapa meter jauhnya.

Seketika dada dan punggung Leng Jian-li menyemburkan darah segar, ia masih hendak memburu musuh, tapi baru selangkah ia tahu maksud ada tenaga sudah habis. Segera ia berpaling dan berkata kepada Toan Cing-sun, “Cukong, Leng Jian-li lebih suka mati daripada dihina, selama hidupku ini dapatlah kupertanggung jawabkan kepada keluarga Toan dari Tayli.”

“Leng-hiante,” sahut Cing-sun dengan air mata meleleh, “akulah yang tak bisa mengajar anak sehingga membikin susah padamu, sungguh aku merasa malu tak terhingga.”

Lalu Leng Jian-li berkata kepada Cu Tan-sin dengan tersenyum, “Cu-hiante, biarlah kakakmu ini mangkat dulu…. Engkau… kau….”

Sampai di sini mendadak ia tidak dapat meneruskan lagi, napasnya lantas putus dan meninggal, tapi tubuhnya tetap tegak tak mau roboh.

Mendengar ucapan “lebih suka mati daripada dihina” itu, tahulah semua orang sebabnya dia menempur Toan Yan-king dengan kalap adalah karena merasa terhina oleh perbuatan A Ci yang telah meringkusnya dengan jaring ikan, maka ia menjadi nekat, lebih suka gugur di medan pertempuran daripada menanggung malu yang tidak mungkin dibalasnya mengingat anak dara itu adalah putri junjungannya walaupun tidak resmi.

Cu Tan-sin, Tang Su-kui, dan Siau Tiok-sing menangis sedih, meski luka mereka belum sembuh, dengan nekat mereka pun ingin mengadu jiwa dengan Toan Yan-king.

“Huh, ilmu silatnya tidak tinggi, tapi main hantam begitu hingga jiwanya melayang, sungguh seorang mahatolol,” demikian tiba-tiba suara seorang wanita berolok-olok.

Ternyata yang bicara ini adalah A Ci. Memangnya Toan Cing-sun dan lain-lain bagi berduka, keruan mereka menjadi gusar oleh ucapan anak dara itu. Hoan Hua dan lain-lain melototi A Ci dengan gusar, cuma mengingat anak dara itu adalah putri majikan, maka mereka tidak berani umbar kemurkaan padanya. Sebaliknya Toan Cing-sun menjadi gemas juga, terus saja ia ayun tangan menggampar muka anak dara yang binal itu.

Syukur Wi Sing-tiok keburu menangkiskan tamparan itu sambil mengomel, “Sudah belasan tahun tidak urus orang, baru bertemu sekarang lantas tega menghajarnya?”

Selama ini Toan Cing-sun memang merasa berdosa terhadap Wi Sing-tiok, makanya segala apa ia suka menurut pada apa yang dikatakan kekasih itu, dengan sendirinya lebih-lebih tidak mau cekcok di hadapan orang luar, maka tangan yang sudah hampir beradu dengan tangan Wi Sing-tiok itu cepat ditarik kembali, lalu dampratnya kepada A Ci, “Kau telah bikin mati orang, kau tahu tidak?”

Tapi A Ci menjawab dengan mendengus, “Huh, semua orang menyebutmu sebagai ’cukong’, itu berarti pula aku adalah majikan kecil mereka, kalau cuma membunuh seorang-dua orang budak apa artinya?”

Pada zaman itu memang ikatan peraturan feodal sangat mencolok. Kaum budak atau bawahan tidak mungkin membangkang kepada majikan atau atasan, biarpun disuruh mati juga harus mati.

Leng Jian-li dan kawan-kawannya adalah petugas kerajaan Tayli, dengan sendirinya mereka sangat menghormat kepada keluarga Toan. Tapi keluarga Toan berasal dari kalangan Bu-lim di Tionggoan, selamanya mereka taat pada peraturan Kangouw yang berlaku. Biarpun Leng Jian-li dan kawan-kawannya menghamba kepada keluarga Toan, tapi selamanya Toan Cing-beng dan Cing-sun memandangnya sebagai saudara sendiri, apalagi A Ci cuma putri yang tidak resmi alias anak haram.

Sungguh duka dan pedih sekali Toan Cing-sun oleh kematian Leng Jian-li dan kenakalan putrinya itu, ia merasa malu terhadap saudara-saudara angkatnya itu. Tanpa pikir lagi ia jinjing pedangnya terus melompat maju, katanya sambil menuding Toan Yan-king, “Jika kau ingin membunuh aku, marilah silakan. Keluarga Toan kita mengutamakan kebajikan dan keadilan, kalau membunuh secara sewenang-wenang, biarpun dapat merebut negara juga takkan tahan lama.”

Diam-diam Siau Hong tertawa dingin, “Hm, manis betul ucapanmu, dalam saat demikian masih pura-pura menjadi jantan?”

Dalam pada itu Toan Yan-king sudah melompat maju ke depan Cing-sun dan menyahut, “Kau ingin menempur aku dengan satu lawan satu dan tidak perlu mengikutcampurkan orang lain, bukan?”

“Betul,” sahut Cing-sun, “boleh kau bunuh aku, lalu kembali ke Tayli untuk membunuh kakak baginda. Tapi apakah cita-citamu ini bisa terlaksana atau tidak bergantung pada peruntunganmu. Adapun anggota keluargaku dan para bawahanku tiada sangkut paut apa-apa dengan percekcokan kita ini.”

“Tidak, anggota keluargamu harus kubasmi habis dan bawahanmu boleh kuampuni,” sahut Yan-king Taycu dengan menjengek. “Dahulu kalian berdua tidak dibunuh oleh ayah baginda, makanya terjadi perebutan takhta seperti sekarang.”

Habis bicara, tongkatnya terus menutuk ke muka Toan Cing-sun.

Cing-sun pernah mendengar cerita tentang ilmu silat Yan-king Taycu sangat lihai, ilmu silatnya dari aliran baik berasal dari keluarga Toan sendiri, sedangkan kepandaian dari sia-pay yang aneh dan hebat itu tak diketahui dari mana asalnya.

Maka Cing-sun tidak berani gegabah, ia melompat ke kiri, ia memberi hormat kepada Leng Jian-li yang sudah tak bernyawa tapi masih berdiri tegap itu dan berkata, “Leng-hiante, hari ini kita bahu-membahu untuk menghalau musuh.”

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Hoan Hua, “Hoan-suma, jika aku mati, harap kuburkan aku sejajar dengan Leng-hiante tanpa membedakan antara majikan dan hamba.”

“Hehehe, masih berlagak sebagai kesatria, apakah ingin orang lain kagum padamu lalu jual nyawa padamu?” demikian Yan-king Taycu menjengek.

Tanpa bicara lagi pedang Cing-sun menusuk ke depan dengan gerakan “Ki-li-toan-kim” atau Tajamnya Sanggup Memotong Emas, yaitu satu jurus pembukaan dari “Toan-keh-kiam” (ilmu pedang keluarga Toan).

Sudah tentu Yan-king Taycu kenal tipu serangan itu, segera ia pun balas menyerang dengan tongkatnya dalam gaya permainan pedang. Sekali gebrak, yang dikeluarkan kedua orang itu sama-sama ilmu silat ajaran leluhur mereka.

Memang Toan Yan-king bertekad akan membunuh Toan Cing-sun dengan “Toan-keh-kiam” saja, sebab cita-citanya adalah ingin merebut takhta kerajaan Tayli, jika di hadapan Sam-kong dan Su-un yang ikut hadir sekarang ia gunakan ilmu silat dari sia-pay untuk membunuh Toan Cing-sun, pasti para pembesar dan kesatria Tayli takkan takluk padanya, tapi kalau dapat mengalahkan dia dengan “Toan-keh-kiam” dari leluhur sendiri, maka sesuailah kepandaiannya dengan kedudukannya nanti dan tiada seorang pun yang punya alasan untuk menolaknya sebagai ahli waris kerajaan Tayli yang tepat.

Cing-sun merasa lega demi tampak lawan cuma memainkan ilmu silat keluarga sendiri, dengan tenang dan penuh perhatian ia mainkan pedangnya dengan rapat. Para penonton yang hadir di situ adalah tokoh-tokoh pilihan semua, mereka sama kagum melihat kepandaian Toan Cing-sun yang hebat itu.

Sebaliknya kedua tongkat bambu hitam yang dipakai Yan-king Taycu itu juga sangat aneh, keras bagai baja, sedikit pun tidak rusak jika kebentur dengan pedang Toan Cing-sun. Kedua orang sama-sama menggunakan “Toan-keh-kiam-hoat” dari leluhur mereka, dengan sendirinya sukar untuk menentukan kalah-menang dalam waktu singkat.

Diam-diam Siau Hong pikir, “Inilah suatu kesempatan yang paling bagus, selama ini aku khawatirkan kelihaian It-yang-ci dan Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan, kini kebetulan keparat Toan Cing-sun ini menghadapi musuh tangguh, bukan mustahil sebentar lagi Lak-meh-sin-kiam itu akan dikeluarkannya, ingin kulihat sampai di mana kehebatan ilmu pedang itu.”

Sesudah belasan jurus, Siau Hong melihat pertarungan kedua orang itu bertambah sengit. Tongkat bambu Yan-king Taycu kelihatannya enteng sekali, tapi lambat laun berubah menjadi antap sekali gerakannya hingga pedang Toan Cing-sun setiap kali kebentur, jarak pentalnya menjadi tambah jauh pula.

Sebagai seorang ahli permainan Pak-kau-pang, diam-diam Siau Hong kagum, “Ini dia, kepandaian asli telah dikeluarkannya, tongkat bambu yang enteng begini dapat dimainkan sebagai toya baja yang antap, nyata memang bukan sembarangan jago silat.”

Sebaliknya Toan Cing-sun sudah mulai kewalahan, setiap kali ia menangkis serangan lawan, selalu terasa ditindih tenaga seberat bukit hingga napas menjadi tak lancar. Padahal ilmu silat keluarga Toan paling mengutamakan lwekang, sekali pernapasan kurang lancar, itulah tanda bakal keok.

Tapi Cing-sun tidak menjadi gugup, ia sudah tidak pikirkan mati-hidupnya lagi, ia merasa selama hidup ini sudah kenyang merasakan hidup bahagia, kalau kini tewas di tepi Siau-keng-oh juga tidak penasaran. Apalagi seorang kekasih seperti Wi Sing-tiok sedang mengikuti pertempurannya dengan penuh perhatian, biarpun mati juga rela pikirnya.

Kiranya memang begitulah jiwa “hidung belang” Toan Cing-sun, di mana-mana dia mempunyai gendak, di mana-mana ia main cinta, dan setiap kali berada bersama dengan kekasihnya selalu ia unjuk cinta sehidup semati, biarpun korban jiwa seketika itu bagi sang kekasih juga dia rela, tapi kalau sudah berpisah, semua itu lantas dibuangnya ke awang-awang dan tak terpikir lagi olehnya.

Begitulah Toan Yan-king masih terus perhebat daya tekannya, sampai lebih 60 jurus, tatkala Toan-keh-kiam-hoat hampir selesai dimainkan, ia lihat ujung hidung Toan Cing-sun sedikit berkeringat, tapi tenaga masih cukup dan napas masih panjang teratur.

Padahal diketahuinya Toan Cing-sun itu suka main perempuan, tenaga dalamnya ternyata sangat kuat, dengan sendirinya ia tidak berani gegabah. Ia kerahkan tenaga lebih hebat hingga setiap kali tongkat menyerang selalu membawa suara mencicit perlahan, dan setiap kali Cing-sun menangkis, selalu ia tergetar dan menggeliat.

Melihat itu, Hoan Hua dan lain-lain tahu majikan mereka sudah mulai tak tahan, sekali mereka saling memberi isyarat, serentak mereka siap untuk mengerubut maju.

“Hihihi! Sungguh menggelikan!” demikian tiba-tiba suara seorang gadis cilik mengikik tawa. “Keluarga Toan dari Tayli terkenal sebagai kaum pahlawan dan kesatria sejati, kalau main kerubut, apakah hal ini takkan dibuat tertawaan orang?”

Hoan Hua dan lain-lain melengak, mereka tahu itulah suara A Ci. Keruan mereka melongo. Sudah terang orang yang lagi terancam bahaya itu adalah ayah si gadis, hal ini sudah diketahuinya, mengapa ia malah berolok-olok dan menyindir ayah sendiri?

Wi Sing-tiok menjadi gusar juga, omelnya, “A Ci, kau anak kecil tahu apa? Ayahmu adalah Tin-lam-ong dari negeri Tayli, orang yang bergebrak dengan dia itu adalah pengkhianat dari keluarganya, jika kawan-kawan yang merupakan pengabdi negeri Tayli ini ikut turun tangan membasmi orang durhaka itu, masakah hal ini dapat dikatakan main kerubut segala?”

Lalu ia berseru kepada Hoan Hua dan lain-lain, “Ayolah kawan-kawan, terhadap durjana pengkhianat itu masakah perlu bicara tentang peraturan Kangouw?”

Tapi A Ci berkata pula dengan tertawa, “Ucapanmu agak aneh juga, ibu. Jika ayahku adalah seorang kesatria sejati, segera juga aku akan mengakui dia. Tapi bila dia seorang manusia rendah dan pengecut, buat apa aku mempunyai ayah begitu?”

Suara A Ci itu cukup keras dan nyaring hingga dapat didengar oleh siapa pun. Keruan Hoan Hua dan lain-lain merasa serbasalah dan ragu apakah mesti maju membantu atau tidak?

Meski Toan Cing-sun itu seorang bangor, tapi dia sangat sayang juga kepada sebutan “enghiong-hohan” atau pahlawan dan kesatria. Dia sering kali membela diri dengan alasan “kaum pahlawan juga tidak terhindar dari godaan wanita”. Sebagai contoh ia kemukakan seperti Han-ko-co Lau Pang yang tergoda oleh Jik-hujin, dan Li Si-bin dengan Bu-cek-thian yang terkenal dalam sejarah itu. Tetapi dalam hal perbuatan rendah secara pengecut sekali-kali tidak nanti dilakukannya.

Maka ketika mendengar ucapan A Ci tadi, segera ia berseru, “Mati atau hidup, menang atau kalah, kenapa mesti dipikirkan? Jangan kalian ikut maju, siapa saja yang maju membantu aku berarti memusuhi aku Toan Cing-sun.”

Ia bicara sambil bertempur, sudah tentu tenaga dalamnya agak berkurang. Tapi Toan Yan-king tidak mau mengambil keuntungan itu, ia tidak mendesak, sebaliknya mundur dulu membiarkan lawannya bicara.

Tentu saja Hoan Hua dan lain-lain bertambah khawatir, melihat sikap Toan Yan-king yang tenang itu, jelas musuh itu sudah yakin pasti akan menang, maka tidak perlu menyerang waktu perhatian lawan terpencar.

“Silakan mulai lagi!” kata Cing-sun kemudian dengan tersenyum, lengan bajunya terus mengebas dan menyusul pedang menusuk.

“A Ci, lihatlah betapa lihainya ilmu pedang ayahmu itu, kalau dia mau membinasakan mayat hidup itu, apa sih susahnya?” demikian kata Wi Sing-tiok.

“Kalau ayah dapat mengalahkan dia, itulah paling baik,” sahut A Ci. “Tapi aku justru khawatir ibu hanya keras di mulut dan lemas di hati. Lahirnya gagah perwira, tapi dalam batin ketakutan setengah mati.”

Ucapan itu tepat kena di lubuk hati Wi Sing-tiok. Keruan ia melotot kepada putrinya yang nakal itu, pikirnya, “Budak ini benar-benar keterlaluan cara bicaranya.”

Dalam pada itu tertampak pedang Cing-sun beruntun-runtun menyerang tiga kali, tapi tenaga tolakan tongkat Yan-king Taycu juga tambah kuat, setiap serangan lawan selalu didesak kembali.

Ketika serangan keempat dilontarkan Toan Cing-sun dengan tipu “Kim-ma-thing-kong” (Kuda Emas Melayang di Udara), pedangnya menyabet dari samping. Tapi tongkat kiri Yan-king Taycu lantas menutuk ke depan dengan tipu “Pik-khe-pu-hiau” (Ayam Jago Berkeruyuk di Pagi Hari). Begitu pedang dan tongkat beradu, seketika melengket menjadi satu hingga sukar dipisahkan.

Dengan cepat Yan-king Taycu mengerahkan tenaga dengan maksud mementalkan pedang lawan, tapi gagal selalu, mendadak tenggorokannya mengeluarkan suara “krak-krok” seperti orang sakit bengek, tiba-tiba tongkat kanan menahan tanah dan tubuh lantas terapung ke atas, sedang ujung tongkat kiri masih tetap melengket di ujung pedang Toan Cing-sun.

Keadaan sekarang menjadi yang satu berdiri tegak di tanah dan yang lain terapung di udara sambil bergerak-gerak kian-kemari. Semua orang bersuara khawatir sebab tahu pertarungan kedua orang itu sudah meningkat hingga mengadu tenaga dalam yang menentukan.

Cing-sun berdiri di tanah, sebenarnya hal ini lebih menguntungkan karena dapat bertahan lebih kuat. Akan tetapi Yan-king terapung di atas hingga seluruh berat badannya menekan ke batang pedang lawan.

Selang sejenak, maka tertampak pedang yang panjang itu mulai melengkung, makin lama makin melengkung hingga mirip gendewa. Sebaliknya tongkat bambu yang mestinya lebih lemas daripada pedang itu masih tetap lempeng, tetap lurus seperti tombak. Kini jelas kelihatan unggul atau asor tenaga dalam kedua orang itu.

Melihat pedang Toan Cing-sun semakin melengkung, asal melengkung lagi sedikit mungkin akan patah, diam-diam Siau Hong membatin, “Sampai saat ini mengapa ketiga orang belum mengeluarkan “Lak-meh-sin-kiam” yang paling hebat itu, apa barangkali Toan Cing-sun tahu Lak-meh-sin-kiam sendiri tak lebih kuat dari lawan, maka tidak berani mengeluarkannya? Kalau melihat gelagatnya, tenaganya seperti hampir habis, agaknya dia tiada mempunyai kepandaian lain yang lebih lihai lagi.”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa di antara tokoh keluarga Toan dari Tayli, Toan Cing-sun hanya tergolong jago kelas dua saja. Putranya, yaitu Toan Ki, mahir Lak-meh-sin-kiam, sebaliknya Cing-sun sendiri it-meh (satu nadi) saja tak bisa, apalagi lak-meh (enam nadi).

Melihat pedang sendiri yang melengkung itu hampir menjadi bulat dan setiap saat patah, terpaksa Cing-sun harus mencari jalan lain, ia tarik napas panjang-panjang, mendadak jari telunjuk kanan menutuk ke depan dengan ilmu It-yang-ci.

Tapi dalam hal It-yang-ci ia jauh dibandingkan kakak bagindanya, yaitu Toan Cing-beng, tenaga tutukannya itu tak dapat mencapai lebih dari dua meter. Padahal sekarang jaraknya dengan Toan Yan-king itu karena disambung oleh dua senjata, maka jarak mereka kini lebih tiga meter jauhnya, dengan sendirinya tutukan It-yang-ci itu tak dapat melukai lawan. Sebab itulah tutukan Cing-sun itu tidak diarahkan kepada Yan-king Taycu, tapi ditujukan kepada tongkatnya.

Mau tak mau Siau Hong berkerut kening juga, pikirnya, “Agaknya orang ini tidak paham Lak-meh-sin-kiam, kalau dibandingkan adik angkat she Toan masih kalah jauh. Tutukannya ini hanya ilmu tiam-hiat yang sangat hebat, tapi apa gunanya menghadapi musuh dari jarak jauh?”

Tertampak sesudah tutukan Toan Cing-sun itu tongkat bambu Toan Yan-king lantas tergetar sedikit, lalu pedang Cing-sun melurus sedikit juga. Dan begitu beruntun Cing-sun menutuk tiga kali hingga pedangnya juga melurus tiga kali, lambat laun pedangnya sudah hampir pulih lagi seperti semula.

Saat itulah A Ci mengoceh pula, “Lihatlah, ibu, ayah memakai pedang, sekarang menggunakan jari pula, tapi tetap tak dapat mengalahkan lawan, bila tongkat lawan yang lain dipakai menyerang pula, masakah ayah punya tangan ketiga untuk menangkisnya?”

Memangnya Wi Sing-tiok lagi khawatir, anak dara itu tambah mengoceh tak keruan. Tentu saja ia sangat mendongkol dan ingin menjewernya. Tapi belum lagi ia menyahut, tiba-tiba dilihatnya tongkat kanan Toan Yan-king benar-benar telah bergerak, “crit”, tahu-tahu tongkat itu menutuk ke arah jari telunjuk kiri Cing-sun.

Tutukan tongkat Toan Yan-king itu, baik caranya maupun tenaganya dilakukan dengan tepat seperti tutukan It-yang-ci, bedanya cuma tongkat dipakai sebagai pengganti jari.

Sudah tentu serangan itu kontan disambut Toan Cing-sun, tapi begitu tenaga jari kebentrok dengan tenaga tongkat lawan, seketika lengan terasa kaku linu, cepat ia tarik tangan dengan maksud mengerahkan tenaga untuk menutuk lebih keras lagi.

Di luar dugaan mendadak bayangan tongkat lawan yang hitam sudah berkelebat lebih dulu, tutukan kedua Toan Yan-king sudah tiba pula. Keruan Cing-sun terkejut, sungguh tak tersangka olehnya begini cepat pihak lawan mengumpulkan tenaga dalamnya bagaikan dapat dilakukan sesuka hati, nyata dalam hal It-yang-ci lawan jauh lebih kuat. Tanpa pikir cepat ia balas menutuk, cuma sudah terlambat sedetik hingga tubuhnya tergeliat sedikit.

Sesudah sekian lama mengadu tenaga dalam, rupanya Toan Yan-king tidak mau membuang waktu lagi sebab khawatir kawan-kawan Cing-sun akan ikut mengerubut maju, maka serangannya kini berubah gencar, hanya sekejap saja ia sudah menutuk sembilan kali dengan tongkatnya.

Dengan sendirinya Cing-sun bertahan sekuat tenaga, tapi sampai tutukan kesembilan tenaganya sudah mulai payah. “Cus”, tongkat hitam lawan kena menikam pundak kirinya. Sekali tubuhnya sempoyongan, “pletak”, tahu-tahu pedang tangan kanan juga ikut patah.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Toan Yan-king, sambil mengeluarkan suara “krak-krok” yang aneh dari kerongkongannya tongkat sebelah kanan secepat kilat menutuk batok kepala Toan Cing-sun.

Dengan tekad harus mematikan Cing-sun, maka tutukan terakhir ini menggunakan antero tenaga Toan Yan-king yang ada, maka di mana tongkatnya menyambar lantas terdengar suara mendesing keras.

Tampaknya jiwa Toan Cing-sun segera akan melayang oleh tutukan itu, segera Hoan Hua, Pah Thian-sik, dan Hoa Hek-kin bertiga menerjang maju sekaligus.

Tayli Sam-kong ini adalah tokoh-tokoh persilatan pilihan, melihat Toan Cing-sun terancam bahaya, untuk menolongnya terang tidak keburu lagi, maka mereka pakai siasat “Wi-gui-kiu-tio” (Mengepung Negeri Gui untuk Menolong Negeri Tio).

Yang mereka serang adalah tiga tempat berbahaya di tubuh Toan Yan-king, dengan demikian kepala Su-ok itu akan terpaksa membatalkan serangannya kepada Toan Cing-sun jika ia sendiri tidak ingin disikat oleh Tayli Sam-kong itu.

Tak tersangka sebelumnya Toan Yan-king sudah memperhitungkan akan kemungkinan itu. Ia menduga pada saat genting pasti kamerad negeri Tayli itu akan mengerubut maju, maka dengan tongkat kiri yang diputar dengan penuh tenaga dalam itu ia jaga rapat tempat-tempat berbahaya di seluruh tubuhnya. Maka pada waktu Hoan Hua bertiga menerjang maju, sedikit pun Toan Yan-king tidak menghindar, hanya tongkat kirinya menangkis untuk menahan serangan ketiga lawan itu, sedang tongkat kanan tetap menutuk batok kepala Toan Cing-sun.

Keruan yang paling khawatir adalah Wi Sing-tiok, sampai ia menjerit ketika menyaksikan sang kekasih sudah pasti akan terbinasa di bawah tongkat musuh. Jika kekasih itu mati, sungguh ia pun tidak ingin hidup lagi. Maka tanpa pikir ia pun menerjang maju.

Ketika ujung tongkat Toan Yan-king tinggal satu-dua senti dari “pek-hwe-hiat” di batok kepala Cing-sun yang diarah itu, sekonyong-konyong tubuh Cing-sun mencelat ke samping, dengan demikian tutukan itu mengenai tempat kosong.

Sementara itu Hoan Hua bertiga juga telah dipaksa mundur oleh tongkat Toan Yan-king. Pah Thian-sik yang gerak-geriknya lebih cepat dan gesit, sekalian ia tarik mundur Wi Sing-tiok agar tidak mati konyol di bawah tongkat musuh.

Sudah tentu kaget Toan Yan-king tak terkatakan ketika tutukannya tadi luput mengenai sasarannya. Ketika diperhatikan, terlihatlah seorang laki-laki tinggi besar memegang tengkuk Toan Cing-sun, jadi pada detik yang menentukan mati-hidup Toan Cing-sun tadi, sekonyong-konyong orang itu tarik Cing-sun ke samping secara paksa.

Ilmu sakti ini benar-benar sukar dibayangkan, betapa pun lihai kepandaian Toan Yan-king juga merasa tidak sanggup berbuat seperti laki-laki itu. Tapi dasar mukanya memang kaku, biarpun sangat terkejut toh kelihatannya tenang-tenang saja, hanya dari hidungnya terdengar suara mendengus sekali.

Dan siapa lagi laki-laki yang menolong Toan Cing-sun itu kalau bukan Siau Hong?

Sejuk tadi ia mengikuti pertarungan kedua orang she Toan itu dengan penuh perhatian. Ketika dilihatnya Toan Cing-sun akan binasa oleh tongkat Toan Yan-king, itu berarti dendam kesumat sendiri akan kandas dan tak terbalas.

Padahal untuk mana ia sudah bersumpah akan menuntut balas sakit hati itu, selama ini pun tidak sedikit jerih payahnya dalam usaha mencari musuh itu, kini orangnya sudah diketemukan, sudah tentu ia tidak dapat membiarkan musuh itu dibunuh oleh orang lain. Sebab itulah ia turun tangan untuk menarik Toan Cing-sun ke samping.

Tapi Toan Yan-king sangat cerdik, sebelum Siau Hong melepaskan Toan Cing-sun, segera kedua tongkat menyerang pula secara membadai, yang diarah selalu tempat mematikan di tubuh Toan Cing-sun.

Namun sambil mengangkat Toan Cing-sun, Siau Hong dapat mengelak ke sana dan menghindar ke sini dengan lincah, beruntun Toan Yan-king menyerang 27 kali, tapi selalu dapat dihindarkan Siau Hong dengan tepat, bahkan ujung baju Cing-sun saja tidak tersenggol.

Sungguh kejut Yan-king tak terkatakan, ia tahu bukan tandingan Siau Hong, sekali bersuit aneh, mendadak ia melayang sejauh beberapa meter, tanpa terlihat mulutnya bergerak, tapi terdengar ia bersuara, “Siapakah Saudara? Mengapa sengaja mengacau urusanku?”

Dan sebelum Siau Hong menjawab, tiba-tiba In Tiong-ho berseru, “Lotoa, dia ini bekas Pangcu Kay-pang, Kiau Hong namanya. Murid kesayanganmu Tam Ceng itu juga terbunuh oleh keparat ini.”

Ucapan In Tiong-ho ini tidak saja menggetarkan perasaan Toan Yan-king, bahkan para jago Tayli itu juga ikut terperanjat. Nama Kiau Hong selama ini lebih dikatakan terkenal di seluruh jagat, siapa yang tidak kenal istilah “Pak Kiau Hong dan Lam Buyung?”

Cuma tadi ia memperkenalkan diri kepada Toan Cing-sun dengan nama Siau Hong, maka tiada seorang pun yang mengetahui bahwa dia inilah Kiau Hong yang termasyhur itu.

Toan Yan-king memang sudah dilapori In Tiong-ho tentang kejadian murid kesayangannya dibunuh oleh Kiau Hong di Cip-hian-ceng, kini mendengar bahwa laki-laki tegap di hadapannya inilah musuh pembunuh muridnya itu, sudah tentu ia sangat gusar dan jeri pula. Tiba-tiba ia ulur tongkat dan mulai menulis di atas balok batu di situ, “Ada permusuhan apakah antara Saudara dengan aku? Sudah membunuh muridku, mengapa sekarang menggagalkan urusanku pula?”

Tulisan itu berjumlah 18 huruf dan setiap huruf itu seolah-olah terukir di atas batu hingga melekuk cukup dalam, ketika tongkatnya menggores dan mengeluarkan suara gemeresak bagaikan orang menulis di tanah pasir saja.

Kiranya Toan Yan-king tidak berani bicara lagi dengan Siau Hong dengan menggunakan hok-lwe-gi atau bicara dengan perut, karena dia sudah tahu kematian muridnya tempo hari adalah disebabkan gempuran lwekang Siau Hong yang hebat. Ia khawatir jangan-jangan kepandaiannya bicara dengan perut yang dikerahkan dengan lwekang tinggi itu takkan sanggup melawan kekuatan lwekang Siau Hong hingga berakibat membikin celaka dirinya sendiri. Sebab itulah ia mengajak bicara dengan mengukir batu.

Siau Hong diam saja, ia biarkan lawan selesai menulis, lalu ia maju, kakinya menggosok-gosok beberapa di atas huruf-huruf itu, hanya beberapa kali kakinya menghapus, seketika tulisan itu tersapu bersih.

Untuk mengukir tulisan di atas batu saja mahasulit, tapi yang lain sanggup menghapus bersih ukiran itu dengan kaki, padahal cara mengerahkan tenaga dalam di bagian kaki lebih sulit daripada memusatkan tenaga dalam pada sebatang tongkat.

Begitulah yang satu menulis dan yang lain menghapus hingga jalan yang terdiri dari balok batu di tepi danau itu dianggap sebagai pesisir saja oleh kedua orang itu.

Toan Yan-king tahu bahwa maksud Siau Hong menghapus tulisannya di atas batu itu pertama ingin menunjukkan kepandaiannya, kedua untuk menandaskan tiada permusuhan apa-apa dengan dirinya, apa yang pernah terjadi tempo hari adalah tidak disengaja, bila hal mana dapat dianggap selesai, maka kedua pihak tidak perlu bermusuhan lagi.

Dasar Toan Yan-king memang licik, ia tahu bukan tandingan Siau Hong, supaya tidak kecundang lebih jauh, jalan paling selamat adalah kabur saja.

Maka tanpa bicara lagi tongkat kanan terus menggores dari atas ke bawah, kemudian menjungkit miring ke atas pula, artinya menyatakan segala urusan telah dicoret dan habis perkara. Dan sekali tongkat yang lain menutuk tanah, secepat terbang tubuhnya melayang pergi sejauh belasan meter.

Di antara Su-ok hanya Lam-hay-gok-sin yang masih penasaran, dengan matanya yang kecil bundar itu ia mendelik dan mengamat-amati Siau Hong dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, dari muka ke belakang, dan dari belakang putar ke depan lagi, sikapnya penuh penasaran dan tidak rela mengaku kalah. Mendadak ia memaki, “Keparat, apanya sih yang hebat pada anak haram ini….”

Belum habis ucapannya, mendadak tubuhnya mencelat ke udara dan melayang ke tengah danau. “Plung”, disertai muncratnya air, tanpa ampun lagi Lam-hay-gok-sin tercebur ke dalam danau.

Kiranya Siau Hong paling benci jika ada orang memaki sebagai “anak haram”, maka sambil menjinjing Cing-sun, terus saja ia melompat maju dan sekali hantam, kontan Lam-hay-gok-sin mencelat ke tengah danau.

Serangan mendadak dan cepat luar biasa ini membikin Lam-hay-gok-sin sama sekali tidak berdaya untuk menghindar atau menangkis. Tapi ia berasal dari Lam-hay atau laut selatan, dan bergelar “Gok-sin” atau malaikat buaya, dengan sendirinya ia mahir berenang, maka begitu dua kaki menyentuh dasar danau, sekali pancal segera ia melompat keluar permukaan air dan berteriak, “Apa-apaan ini?”

Habis berucap kembali tubuhnya tenggelam lagi, ketika ia mengapung lagi ke atas, kembali ia berteriak pula, “Kau membokong Locu ya?”

Selesai ucapan itu, lagi-lagi ia kecemplung ke dalam danau. Ketika untuk ketiga kalinya ia melompat ke atas, ia berteriak, “Locu akan mengadu jiwa denganmu!”

Begitulah dasar wataknya memang berangasan dan tidak sabaran, ia tidak mau berenang dulu ke daratan untuk kemudian memaki Siau Hong, tapi sambil meloncat naik-turun di tengah danau ia lantas memaki kalang kabut.

Keruan yang paling geli adalah A Ci, si Ungu. Dengan tertawa mengikik ia berseru sambil bertepuk tangan, “Hihihihi! Lihatlah orang itu naik-turun di dalam air, mirip benar seekor kura-kura besar!”

Kebetulan sekali saat itu Lam-hay-gok-sin lagi meloncat ke atas air, mendengar olok-olok itu, kontan ia balas memaki, “Kau sendiri adalah kura-kura kecil!”

A Ci menyambitkan sebuah hui-cui (gurdi terbang) kecil, “crit”, senjata rahasia itu masuk ke air, sebab Lam-hay-gok-sin keburu selulup ke bawah, lalu berenang ke tepi danau dan mendarat dengan basah kuyup.

Bahkan sedikit pun Lam-hay-gok-sin tidak merasa jeri atau kapok, dengan ketolol-tololan ia malah mendekati Siau Hong, dengan kepala miring ke sini dan meleng ke sana ia mengamat-amati Siau Hong dengan mata melotot, katanya kemudian, “Dengan gerakan apa kau melemparkan aku ke danau? Kepandaian ini Locu mengaku belum mahir.”

“Losam, lekas pergi saja, jangan membikin malu lagi di sini!” seru Yap Ji-nio.

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, sahutnya, “Aku dilempar orang ke dalam danau, bahkan cara bagaimana orang melemparkanku pun tak diketahui, bukankah ini suatu penghinaan mahabesar? Sudah tentu aku harus tanya dulu sejelas-jelasnya!”

“Baiklah, biar kukatakan padamu,” demikian tiba-tiba A Ci menyela. “Gerak serangannya tadi disebut ’Liak-ku-kang’ (ilmu menangkap kura-kura).”

Dasar otak Lam-hay-gok-sin memang agak bebal, maka ia tidak sadar bahwa anak dara itu sengaja mengolok-oloknya, sebaliknya ia mengulangi nama itu, “Liak-ku-kang? Ah, kiranya kepandaian itu bernama ’Liak-ku-kang’. Baiklah, sesudah kutahu namanya, akan kucari orang agar suka mengajarkan padaku, dengan demikian kelak aku takkan kecundang lagi seperti tadi.”

Habis berkata, segera ia melangkah pergi dengan cepat untuk menyusul Yap Ji-nio dan In Tiong-ho yang sudah pergi jauh itu.

Kemudian Siau Hong melepaskan Toan Cing-sun, dengan hormat Wi Sing-tiok berkata, “Kiau-pangcu, atas pertolonganmu, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padamu.”

Begitu pula Hoan Hua dan lain-lain ikut menyatakan terima kasih mereka.

Tapi Siau Hong menjawab dengan dingin saja, “Sebabnya aku menolong dia atas dasar kepentingan pribadiku sendiri, maka kalian tidak perlu berterima kasih padaku. Toan-siansing, aku ingin tanya sesuatu padamu, harap engkau suka menjawab secara terus terang. Dahulu di luar Gan-bun-koan engkau pernah melakukan sesuatu kesalahan mahabesar yang menyesalkan, betul atau tidak?”

Mendengar pertanyaan itu, seketika wajah Toan Cing-sun merah jengah, menyusul lantas berubah pucat lesu, dengan kepala menunduk ia menjawab, “Ya, benar. Atas kejadian itu selama ini aku memang senantiasa merasa tidak tenteram. Kesalahan sudah terjadi dan tak dapat ditarik kembali lagi.”

Sejak Siau Hong mendengar pengakuan Be-hujin di Sinyang yang menyatakan biang keladi pembunuhan orang tua Siau Hong itu adalah Toan Cing-sun, maka siang-malam selalu terpikir olehnya jika nanti musuh besar itu tertawan, sebelum membinasakannya lebih dulu akan disiksanya pula agar merasakan akibat perbuatannya yang kejam itu.

Tapi sesudah menyaksikan caranya Toan Cing-sun berlaku terhadap kawan-kawannya di Siau-keng-oh sekarang dan betapa gagahnya menghadapi musuh tadi, tindak tanduknya sekali-kali tidak mirip sebagai seorang rendah dan pengecut yang suka berbuat kejahatan, mau tak mau timbul juga rasa ragunya terhadap Toan Cing-sun. Pikirnya, “Sebabnya dia membunuh orang tuaku di Gan-bun-koan dulu adalah karena kesalahpahaman, kesalahan begitu dapat diperbuat oleh setiap orang. Tapi dia juga telah membunuh ayah-bunda angkatku serta guruku yang tercinta itu, betapa pun perbuatan itu adalah dosa yang tak berampun, dan mengapa dilakukannya? Jangan-jangan di balik kejadian itu masih ada sebab musabab lain lagi?”

Dasar Siau Hong memang seorang cermat dan bisa berpikir panjang, ia tidak ceroboh dalam setiap tindak tanduk, maka ia sengaja mengungkat kejadian Gan-bun-koan pula untuk tanya sekali lagi kepada Toan Cing-sun agar dia sendiri mengaku sejujurnya, habis itu baru akan diambil keputusan.

Kini demi melihat wajah Toan Cing-sun menampilkan rasa malu dan menyesal serta menyatakan kesalahan itu sudah telanjur diperbuat dan sukar ditarik kembali lagi, maka Siau Hong tidak ragu-ragu lagi, ia yakin seyakin-yakinnya apa yang terjadi memang betul Toan Cing-sun biang keladinya. Seketika air muka Siau Hong berubah membesi sambil mendengus sekali.

“Dari… dari mana kau pun tahu kejadian itu?” tanya Wi Sing-tiok tiba-tiba.

Waktu Siau Hong memandang ke arah wanita cantik itu, ia lihat wajah orang juga merah jengah, sikapnya kikuk. Maka jawabnya singkat, “Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat.”

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Toan Cing-sun, “Tengah malam nanti kutunggu di jembatan batu itu, ada sesuatu urusan ingin kubicarakan denganmu.”

“Aku pasti akan datang tepat pada waktunya,” sahut Cing-sun. “Budi besar tidak berani bicara tentang terima kasih, cuma Kiau-pangcu datang dari jauh, apakah tidak mampir dulu dan minum sekadarnya ke rumah bambu sana?”

“Bagaimana dengan lukamu barusan? Apakah perlu merawat diri buat beberapa hari lagi?” tanya Siau Hong. Sama sekali ia anggap sepi undangan minum orang.

Cing-sun agak heran, sahutnya, “Terima kasih atas perhatian Kiau-heng, sedikit luka ini rasanya tidak beralangan.”

“Baiklah jika begitu,” kata Siau Hong sambil mengangguk. “A Cu, marilah kita pergi saja.”

Dan setelah beberapa tindak, tiba-tiba ia menoleh dan berpesan pula, “Dan sobat-sobat baik bawahanmu itu hendaknya jangan dibawa serta nanti.”

Cing-sun merasa tingkah laku bekas pangcu ini agak aneh, tapi orang telah menolong jiwanya tadi, segala permintaan orang sepantasnya dituruti, maka sahutnya, “Segala pesan Kiau-heng pasti akan kupenuhi.”

Segera Siau Hong gandeng tangan A Cu, tanpa berpaling lagi terus tinggal pergi. Kiranya ia lihat Hoan Hua dan kawan-kawannya itu adalah kesatria yang berjiwa luhur, jika mereka ikut Toan Cing-sun menghadiri pertemuan di jembatan batu itu, rasanya mereka pun pasti akan menjadi korban di tangannya, hal ini tentu sangat disayangkannya.

Begitulah Siau Hong dan A Cu lalu mendatangi rumah seorang petani, mereka minta mondok semalam di situ, mereka membeli beras seperlunya untuk menanak nasi, lalu membeli dua ekor ayam pula dan dibuat kaldu, mereka makan sekenyang-kenyangnya. Cuma tanpa arak, hal ini agak kurang memenuhi selera Siau Hong.

Melihat A Cu seperti menyembunyikan sesuatu perasaan dan sejak tadi enggan bicara, segera Siau Hong tanya, “A Cu, sebab apa kau tampak murung? Padahal aku sudah menemukan musuhku, seharusnya kau bergirang bagiku.”

A Cu tersenyum, sahutnya, “Ya, benar, memang seharusnya aku bergembira.”

Melihat senyum gadis itu sangat dipaksakan, segera Siau Hong berkata pula, “Malam ini juga sesudah kubunuh musuhku itu, segera kita berangkat ke utara, keluar Gan-bun-koan untuk angon sapi dan menggembala domba, selamanya takkan melangkah kembali lagi ke tanah Tionggoan sini. Ai, A Cu, pada waktu belum kutemukan Toan Cing-sun, sebenarnya aku telah bersumpah akan membunuh segenap anggota keluarganya, akan membunuh bersih seisi rumahnya, seekor anjing dan seekor ayam pun takkan kuberi hidup. Tapi demi tampak orang ini sangat gagah perkasa, tidak mirip manusia rendah dan pengecut sebagaimana kubayangkan, maka aku lantas berubah pikiran, kupikir seorang yang berbuat biarlah seorang yang bertanggung jawab, tidak perlu lagi kubikin susah pada sanak keluarganya!”

“Pikiranmu yang luhur dan bajik ini kelak pasti akan mendapat ganjaran rezeki yang setimpal,” ujar A Cu.

Mendadak Siau Hong terbahak-terbahak keras, katanya, “Kedua tanganku ini entah sudah berlumuran darah berapa banyak orang yang kubunuh, masakah bicara tentang kebajikan apa segala?”

Dan demi melihat A Cu tetap muram durja, segera ia tanya lagi, “A Cu, sebab apakah kau merasa kurang senang? Apakah kau tidak suka aku membunuh orang lagi?”

“Bukan tidak gembira, tapi entah mengapa mendadak perutku terasa sakit,” sahut A Cu.

Siau Hong coba pegang nadi si gadis, benar juga ia merasakan denyut nadi A Cu itu tidak teratur, terkadang cepat dan terkadang lambat, suatu tanda pikirannya kurang tenteram. Maka katanya dengan suara lembut, “A Cu, mungkin kau terlalu lelah, boleh jadi kau masuk angin. Biarlah kusuruh ibu tani di sini membuatkan semangkuk wedang jahe untukmu.”

Tapi belum lagi wedang jahe itu selesai dibuatkan, mendadak A Cu menggigil sambil berseru, “O, aku sangat dingin!”

Dengan penuh kasih sayang Siau Hong menanggalkan baju luar sendiri untuk selimut si gadis.

“Toako, malam ini akan terkabul cita-citamu selama ini dengan membunuh musuhmu, mestinya aku ingin mengawanimu ke sana, tapi rasanya aku tidak sanggup ikut ke sana, sungguh aku ingin selalu berada bersamamu, sedetik pun tidak ingin berpisah denganmu, tentu engkau akan kesepian berada sendirian,” demikian kata A Cu dengan menyesal.

“Tidak, kita hanya berpisah sebentar saja, tiada alangan apa-apa,” sahut Siau Hong. “A Cu, sedemikian baik kau padaku, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana membalas budimu ini.”

“Tidak hanya berpisah sebentar saja, tapi kurasakan akan sangat lama, ya lama sekali,” kata A Cu. “Toako, sesudah kutinggalkan engkau, tentu kita akan kesepian dan sebatang kara. Paling baik kalau sekarang juga kita berangkat keluar Gan-bun-koan, tentang sakit hati terhadap Toan Cing-sun, biarlah kita balas setahun lagi. Biarlah aku hidup mendampingimu barang setahun dahulu.”

Perlahan Siau Hong membelai rambut A Cu, katanya, “Secara kebetulan baru aku ketemukan dia di sini, jika lewat setahun lagi tentu aku harus mencarinya ke Tayli, di sana banyak sekali begundalnya, sedangkan toakomu seorang diri dan belum tentu dapat menangkan dia. Dalam hal ini bukanlah aku tidak mau menurut keinginanmu, tapi sesungguhnya banyak kesulitannya bagiku.”

“Ya, memang, tidak seharusnya aku minta engkau menunda setahun lagi untuk membalas dendam, seorang engkau ke Tayli tentu besar bahayanya,” kata A Cu dengan perlahan.

Siau Hong terbahak sambil menenggak semangkuk, ia sudah biasa menenggak arak secara begitu, meski sekarang mangkuk itu tiada isinya, tapi ia berbuat seperti kebiasaannya itu. Lalu katanya, “Jika aku sendirian sudah tentu takkan khawatir apakah keluarga Toan di Tayli itu sarang harimau atau kubangan naga, soal mati-hidup tentu tak kupikirkan. Tapi kini aku sudah mempunyai seorang A Cu cilik, aku harus mendampingimu selama hidup, untuk itu jiwa Siau Hong menjadi besar artinya.”

A Cu mendekap di pangkuan Siau Hong dengan penuh rasa terharu, Siau Hong juga merasakan bahagia yang tak terkatakan, mempunyai istri seperti A Cu, apalagi yang diharapkan dalam hidupnya ini? Sesaat itu terbayang olehnya suasana padang rumput di utara sana, sebulan kemudian ia akan menunggang kuda dan menggembala bersama A Cu, selanjutnya tidak perlu khawatir lagi akan disatroni musuh, sejak itu hidupnya akan bebas merdeka tanpa sesuatu kekhawatiran lagi. Suatu hal yang masih membuatnya merasa tidak tenteram adalah belum dibalasnya budi pertolongan kesatria berbaju hitam yang telah menyelamatkan jiwanya di Cip-hian-ceng tempo hari itu….

Sementara itu hari sudah gelap, lambat laun A Cu terpulas dalam pelukan Siau Hong. Perlahan Siau Hong rebahkan gadis itu di atas dipan dalam kamar yang disediakan si petani, lalu ia keluar dan duduk bersemadi di ruangan tengah.

Kira-kira satu-dua jam kemudian, ketika ia keluar pondokan itu, ia lihat bulan sabit hampir menghilang tertutup oleh awan mendung yang tebal, tampaknya malam ini pasti akan hujan lebat.

Segera ia menuju ke jembatan batu itu, kira-kira lima li jauhnya, keadaan tambah gelap gulita, terkadang bunyi guntur diseling berkelebatnya kilat menembus awan mendung yang memenuhi cakrawala hingga makin menambah seramnya suasana.

Siau Hong mempercepat jalannya, tidak lama kemudian, tibalah dia di jembatan batu yang dijanjikan itu. Ia coba memerhatikan bintang-bintang di langit, ia lihat masih lama daripada waktu yang ditentukan, paling-paling waktu itu baru jam sebelas malam.

Diam-diam ia merasa geli sendiri mengapa begitu tak sabaran hingga hadir di situ satu-dua jam lebih cepat. Dalam keadaan sunyi senyap itu barulah ia teringat kepada A Cu, “Alangkah baiknya jika saat ini A Cu berada di sampingku.”

Ia tahu ilmu silat Toan Cing-sun selisih terlalu jauh dengan dirinya, pertarungan nanti boleh dikatakan tidak perlu khawatir, sebab kemenangan sudah pasti berada di tangannya. Karena waktu yang dijanjikan belum tiba, segera ia duduk di bawah pohon di tepi jembatan untuk menghimpun tenaga.

Sekonyong-konyong angkasa dipecahkan oleh bunyi guntur yang gemuruh sekali, ketika ia membuka mata, ia lihat hujan sudah hampir turun, waktu itu mungkin sudah tengah malam sebagaimana yang dijanjikan.

Pada saat itulah terlibat dari jalan Siau-keng-oh sana seorang sedang mendatang dengan langkah perlahan, orang itu berjubah longgar dan pakai ikat pinggang yang kendur, siapa lagi dia kalau bukan Toan Cing-sun?

Setiba di depan Siau Hong, segera Cing-sun membungkuk tubuh kepada Siau Hong dan berkata, “Kiau-pangcu mengundang Cayhe ke sini, entah ada petunjuk apa yang hendak diberikan padaku?”

Dengan kepala melengos dan melirik hina, seketika api kemarahan Siau Hong berkobar hebat, sahutnya, “Toan-siansing, maksudku mengundangmu ke sini, masakah sama sekali engkau tidak tahu?”

Toan Cing-sun menghela napas, katanya, “Apakah maksud Kiau-pangcu tentang kejadian di Gan-bun-koan tempo dulu? Waktu itu aku keliru dihasut orang hingga tidak sengaja membinasakan ayah-bundamu, sungguh itu suatu kesalahan mahabesar.”

“Dan mengapa engkau membunuh pula ayah-ibu angkat dan guruku pula?” tanya Siau Hong.

Cing-sun menggoyang kepala perlahan, sahutnya, “Yang kuharapkan supaya dapat menutupi kesalahanku itu, siapa duga makin ditutup makin terbuka sehingga akhirnya tak tertolong lagi.”

“Hm, jujur juga kau,” jengek Siau Hong. “Nah, apakah kau akan menghabiskan riwayatmu sendiri atau perlu aku turun tangan?”

“Jika Kiau-pangcu tidak menolong jiwaku, mungkin saat ini aku pun sudah almarhum,” sahut Cing-sun. “Maka kalau sekarang Kiau-pangcu ingin mencabut nyawaku, silakan mulai saja.”

Saat itu kembali terdengar suara gemuruh bunyi guntur, menyusul air hujan mulai menetes dengan derasnya. Hati Siau Hong tergerak juga oleh jawaban yang terus terang dan gagah berani itu.

Biasanya Siau Hong paling suka bersahabat dengan kaum pahlawan dan kesatria, sejak dia bertemu dengan Toan Cing-sun lantas timbul rasa suka dan cocok dengan jiwa kesatrianya, coba kalau cuma permusuhan biasa saja, tentu akan dianggap selesai dan akan mengajaknya pergi minum arak. Tapi kini soalnya menyangkut sakit hati orang tua, masakah boleh disudahi begitu saja?

Segera sebelah tangannya terangkat, katanya, “Sebagai anak murid orang, sakit hati ayah-bunda dan guru tak bisa tidak harus kubalas. Kau telah membunuh ayah-bundaku dan ayah-ibu angkat serta guruku berlima, maka aku akan menghantammu lima kali, sesudah terima lima kali seranganku, apakah engkau akan mati atau masih hidup, biarlah segala dendam kesumatku akan kuanggap selesai.”

“Satu jiwa cuma diganti dengan sekali pukul, pembalasanmu ini sungguh terlalu murah,” demikian sahut Cing-sun dengan tersenyum getir.

Diam-diam Siau Hong membatin masakah kau takkan mampus kena hantaman Hang-liong-sip-pat-ciangku ini. Maka segera ia berkata, “Baiklah, terima pukulanku ini!”

Sekali tangan kiri berputar, segera telapak tangan kanan menghantam ke depan. Itulah jurus “Hang-liong-yu-hwe”, salah satu jurus Hang-liong-sip-pat-ciang yang mahalihai.

Saat itu kembali sinar kilat berkelebat, petir menggelegar pula, pukulan dahsyat ditambah dengan bunyi geledek, keruan pukulan Siau Hong sehebat gugur gunung dahsyatnya. “Bluk”, badannya lemas lunglai tersampir di langkan jembatan dan tak berkutik lagi.

Sekilas Siau Hong terkesiap juga mengapa musuh tidak menangkis dan begitu tak becus pula, masakah tidak tahan oleh sekali hantam? Cepat ia melompat maju, ia pegang tengkuk orang dan diangkat, tapi ia bertambah kaget.

Sementara itu bunyi guntur semakin menggelegar dan hujan makin lebat, namun Siau Hong seakan-akan tidak merasakan semua itu, yang terpikir olehnya cuma, “Mengapa dia berubah begini ringan?”

Padahal siang tadi di waktu ia menolong Toan Cing-sun, ia telah mengangkat pula badan pangeran dari Tayli itu dengan cukup lama. Sebagai seorang tokoh persilatan, perbedaan bobot sedikit saja segera dapat diketahuinya.

Kini mendadak terasa bobot badan Toan Cing-sun susut beberapa puluh kati beratnya, seketika timbul semacam rasa takut yang sukar dilukiskan, seketika pula keringat dingin mengucur di seluruh badannya.

Pada saat itulah kembali sinar kilat berkelebat lagi, ketika Siau Hong pegang muka Toan Cing-sun, ia merasa apa yang terpegang itu lunak empuk sebagai tanah liat. Waktu diremasnya, kontan benda-benda lunak itu mengelotok dari muka “Toan Cing-sun”. Di bawah sinar kilat itu sekilas dapat terlihat dengan jelas oleh Siau Hong siapa gerangan “Toan Cing-sun” yang sebenarnya itu, tanpa terasa lagi ia menjerit, “He? A Cu, A Cu! Kiranya kau A Cu?”

Sesaat itu Siau Hong merasa lemas benar-benar, sedikit pun tak punya tenaga hingga ia berlutut sambil merangkul kedua kaki A Cu. Pukulan “Hang-liong-yu-hwe” tadi telah menggunakan segenap tenaganya, sekalipun ditangkis oleh jago kelas satu juga tidak tahan, apalagi sekarang cuma seorang A Cu yang lemah itu, sudah tentu tulang gadis itu akan remuk dan hancur isi perutnya, biarpun Sih-sin-ih berada di situ juga susah menolong jiwanya.

Begitulah tubuh A Cu yang tersampir di langkan jembatan itu lambat laun merosot ke bawah dan akhirnya jatuh bersandar di badan Siau Hong. Ia masih dapat bersuara dengan lirih dan lemah, “Toako, maafkan perbuatanku ini, apa engkau marah padaku?”

“Tidak, tidak, aku tidak marah padamu, tapi akulah yang bersalah!” sahut Siau Hong terus memukul kepala sendiri berulang-ulang.

Tangan A Cu tampak bergerak sedikit, mungkin bermaksud mencegah perbuatan Siau Hong yang menghajar dirinya sendiri itu, tapi saking lemasnya gadis itu tidak kuat mengangkat tangan sendiri lagi, katanya lirih, “Toako, berjanjilah padaku, selanjutnya engkau takkan menyiksa diri sendiri.”

“Sebab apa kau? Sebab apa?” demikian Siau Hong berteriak.

“Toako,” sahut A Cu dengan suara lemah, “cobalah membuka bajuku, periksalah pundak kiriku!”

Dalam perjalanan selama ini, biarpun mereka selalu berdampingan, tapi selalu Siau Hong berlaku sopan. Maka ia agak terkesiap oleh permintaan A Cu yang menyuruh membuka bajunya itu.

Tapi A Cu memohon lagi, “Sudah lama aku adalah milikmu, tubuhku ini pun punyamu. Asal engkau periksa pundak kiriku, tentu engkau akan paham duduknya perkara.”

Dengan mengembeng air mata, Siau Hong gunakan tangan kiri untuk menahan punggung si gadis dan mengerahkan hawa murni ke tubuh gadis itu, ia berharap dapat menyelamatkan jiwanya berbareng itu tangan kanan membuka baju A Cu hingga menonjol keluar pundak kirinya, pada saat itu kebetulan sinar kilat berkelebat di angkasa, sekilas Siau Hong dapat melihat pundak si gadis yang putih bersih itu tercacah satu huruf “Toan” warna merah.

Siau Hong terheran-heran dan berduka pula, ia tidak berani terlalu lama melihat pundak si gadis, cepat ia rapatkan pula bajunya dan perlahan memeluknya sambil bertanya, “Di pundakmu terdapat satu huruf ’Toan’, apakah artinya itu?”

“Ayah-bundaku yang mencacahnya ketika mereka memberikan diriku kepada orang lain, yaitu untuk tanda pengenal bila kelak saling bertemu.”

“Huruf ’Toan’ ini….” demikian Siau Hong belum lagi paham.

“Hari ini kalian tentu melihat juga tanda pengenal yang sama di pundak nona A Ci dan segera diketahui dia adalah putri mereka, apakah engkau melihat tanda… tanda pengenal itu?” tanya A Cu.

“Tidak, aku rikuh untuk melihatnya,” sahut Siau Hong.

“Tanda pengenal yang tercacah di pundak A Ci itu adalah sama seperti huruf ’Toan’ di pundakku ini,” kata A Cu.

Seketika Siau Hong pun paham duduknya perkara, serunya, “Hah, jadi kau… kau juga putri mereka?”

“Semula aku pun tidak tahu,” sahut A Cu. “Sesudah melihat huruf di pundak A Ci baru kutahu. Dia mempunyai sebuah mainan kalung pula yang serupa seperti milikku, pada mainan kalung itu juga tertulis ’A Si genap sepuluh tahun, makin besar makin tambah nakal’. Semula kukira A Si adalah namaku, tak tahunya adalah nama ibuku. Ibuku bukan lain ialah Wi… Wi Sing-tiok yang tinggal di rumah bambu itu dan mainan kalung ini adalah pemberian Gwakong (kakek luar) waktu ibu masih kecil. Sesudah mempunyai anak kami taci-beradik, kami masing-masing diberinya sebuah mainan kalung ini.”

“A Cu, sekarang kupaham duduknya perkara,” kata Siau Hong. “Lukamu tidak ringan, biarlah kita berteduh dari hujan dahulu, kemudian kita berdaya untuk menyembuhkan lukamu, tentang urusanmu biarlah kita bicarakan nanti.”

“Tidak, tidak, bisa! Aku harus ceritakan dengan jelas padamu, jika tertunda sebentar lagi mungkin sudah terlambat,” kata A Cu. “Toako, engkau harus mendengarkan ceritaku ini hingga selesai.”

Siau Hong tidak tega menolak keinginan si gadis, terpaksa menyahut, “Baiklah aku akan mendengarkan, jangan terlalu banyak membuang tenagamu.”

A Cu tersenyum, katanya, “Toako sangat baik, segala apa selalu pikirkan diriku, sedemikian engkau memanjakan aku, mana boleh jadi?”

“Selanjutnya aku akan lebih memanjakan dikau, ya, seratus kali, bahkan seribu kali lebih memanjakanmu,” sahut Siau Hong.

“Sudahlah cukup, aku tidak suka engkau terlalu baik padaku, sebab kalau aku sudah nakal, maka tiada seorang pun lagi yang dapat mengatasi aku,” kata A Cu. “Toako, tadi aku… aku sembunyi di belakang rumah bambu mereka untuk mendengarkan percakapan ayah-ibu dan A Ci. Baru kutahu bahwa ayahku ternyata mempunyai istri lain, dia dan ibuku bukan suami-istri yang resmi, sesudah kami taci-beradik dilahirkan, kemudian ayah mau pulang ke Tayli, tapi ibu tidak mengizinkan hingga kedua orang bertengkar, bahkan ibu telah menghajar dia, namun ayah sama sekali tidak membalas. Kemudian, ya, tiada jalan lain, terpaksa mereka berpisah.

“Padahal Gwakong sangat keras wataknya, bila beliau tahu perbuatan ibu, pasti ibu akan dibunuhnya. Maka ibu tidak berani membawa kami pulang ke rumah, terpaksa kami diberikan kepada orang lain dengan harapan kelak dapat bertemu pula, maka di pundak kami taci-beradik masing-masing dicacah sebuah huruf ’Toan’. Orang yang memelihara diriku itu cuma tahu ibu she Wi, pula mainan kalung yang kupakai ini ada nama ’A Si’, maka aku disangkanya bernama Wi Si, padahal aku sebenarnya she Toan….”

“Kau benar-benar anak yang harus dikasihani,” kata Siau Hong dengan penuh kasih sayang.

“Ketika aku diberikan kepada orang lain, waktu itu usiaku cuma setahun lebih, dengan sendirinya aku tidak kenal ayah, bahkan wajah ibu juga tidak kenal lagi,” demikian A Cu melanjutkan. “Toako, nasibmu serupa diriku. Malam itu, ketika aku mendengar orang bercerita tentang asal usulmu di hutan sana, sungguh aku ikut berduka sebab kurasakan kita berdua sama-sama anak yang bernasib malang.”

Saat itu kilat berkelebat dan guntur menggelegar pula, mendadak sebatang pohon di tepi sungai sana tersambar petir hingga roboh. Tapi Siau Hong dan A Cu tidak menghiraukan lagi keadaan di sekitar mereka, biarpun langit akan ambruk juga tak terpikir lagi.

Maka A Cu berkata pula, “Kini diketahui bahwa orang yang membunuh ayah-ibumu itu adalah ayahku sendiri. Ai, mengapa kita mesti ditakdirkan mempunyai nasib begini? Malahan… malahan orang yang dapat memancing pengakuan Be-hujin tentang ayahku itu tak-lain-tak-bukan adalah diriku sendiri. Coba kalau aku tidak menyaru sebagai Pek Si-kia untuk menipunya, tentu dia takkan menyebut nama ayahku.”

Dengan lesu Siau Hong menunduk, hati serasa benang kusut, akhirnya ia tanya, “Apakah kau yakin Toan Cing-sun adalah ayahmu? Tidak salah lagi?”

“Tidak salah,” sahut A Cu tegas. “Kudengar sendiri ayah-ibu menangis sedih sambil memeluk A Ci dan menguraikan kisah waktu kami berdua diberikan kepada orang lain dahulu. Ayah-ibu menyatakan bahwa apa pun juga aku akan ditemukannya kembali. Sudah tentu mereka tidak menduga bahwa putri kandung yang hendak mereka cari saat itu justru sedang mengintip di luar jendela.

“Toako tadi aku pura-pura bilang sakit, sebenarnya aku lantas menyamar sebagai dirimu untuk menemui ayahku, kukatakan padanya bahwa pertemuan di jembatan malam ini dibatalkan, segala permusuhan kuhapus seluruhnya. Habis itu aku menyaru pula sebagai ayah untuk menemuimu di jembatan ini agar di… agar di….”

Bertutur sampai di sini, denyut nadinya sudah teramat lemah.

Lekas Siau Hong kerahkan tenaga murni lebih kuat agar A Cu tidak sampai putus napasnya, lalu katanya dengan air mata berlinang-linang, “Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Bila kutahu dia adalah ayahmu….”

Ia tidak sanggup meneruskan lagi, sebab ia pun tidak tahu bila sebelumnya mengetahui Toan Cing-sun adalah ayah kekasihnya, lantas bagaimana ia akan bertindak?

Maka A Cu berkata pula, “Sesudah kupikir hingga lama, tetap aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Toako, selalu kuharapkan dapat hidup di dampingmu selamanya, tapi apakah harapan itu dapat terkabul? Apakah aku dapat memohon agar engkau jangan menuntut balas kepada musuh yang telah membunuh kelima orang tuamu yang kau cintai itu? Dan umpama aku memohon, apakah sekiranya engkau dapat meluluskan?”

Suara A Cu itu sangat lemah dan lirih, di angkasa guntur masih terus menggelegar, tapi bagi pendengaran Siau Hong suara A Cu itu jauh lebih mengguncangkan sukma daripada suara gemuruh guntur itu.

Sambil menjambak rambut sendiri Siau Hong berkata, “Tapi kau dapat minta ayahmu melarikan diri saja! Atau karena ayahmu adalah seorang kesatria sejati dan tidak mungkin ingkar janji, kau dapat menyamar sebagai diriku untuk mengadakan perjanjian baru dengan ayahmu, boleh berjanji pada suatu hari lain untuk bertemu di suatu tempat yang jauh di sana. Ya, mengapa… mengapa kau tidak berbuat demikian, tapi malah mengorbankan dirimu sendiri?”

“Aku ingin menunjukkan padamu bahwa seseorang secara tidak sengaja membunuh orang lain dapat terjadi bukan disebabkan maksud yang sesungguhnya,” kata A Cu. “Seperti dirimu, sudah tentu engkau tidak ingin membunuh diriku, tapi engkau telah hantam sekali padaku. Sebaliknya ayahku membunuh ayah-bundamu, itu pun suatu kesalahan yang tidak disengaja.”

Dengan mesra Siau Hong memandangi mata si gadis yang berkedip-kedip bagai bintang di langit, sorot mata A Cu itu penuh kasih sayang yang tak terbatas.

Hati Siau Hong tergerak, tiba-tiba terasa olehnya cinta A Cu padanya yang tak terbatas itu sesungguhnya di luar segala apa yang pernah dibayangkannya. Cepat katanya dengan suara gemetar, “A Cu, tentu kau masih mempunyai alasan lain, tidak cuma ingin menyelamatkan ayahmu, juga tidak cuma ingin menunjukkan padaku tentang kesalahan yang tak disengaja itu, tapi kau berbuat demi diriku, demi kebaikanku!”

Segera Siau Hong pondong A Cu dan berbangkit, air hujan membasahi kepala dan mukanya.

Muka A Cu menampilkan senyuman puas, rupanya karena akhirnya Siau Hong dapat memahami perasaannya, maka ia merasa senang. Ia tahu jiwa sendiri sudah hampir tamat, walaupun ia tidak mengharapkan sang kekasih tahu maksudnya yang tersembunyi dalam lubuk hatinya itu, tapi akhirnya sang kekasih tahu sendiri.

“Ya, A Cu, engkau berbuat demi aku, bukan? Jawablah, betul tidak?” desak Siau Hong.

“Ya, benar,” sahut A Cu dengan lirih.

“Sebab apa? Sebab apa?” seru Siau Hong keras.

“Keluarga Toan dari Tayli memiliki Lak-meh-sin-kiam yang mahasakti, bila engkau membunuh Tin-lam-ong mereka, masakah mereka mau sudahi urusan ini? Toako….”

Seketika Siau Hong sadar, tanpa terasa air mata bercucuran bagai hujan.

Lalu A Cu melanjutkan, “Toako, ingin kumohon sesuatu padamu, dapatkah engkau memenuhinya?”

“Jangankan cuma satu, biarpun seratus, seribu permintaanmu juga akan kupenuhi,” sahut Siau Hong.

“Aku hanya mempunyai seorang adik perempuan dari ayah dan ibu yang sama,” ucap A Cu. “Tapi sejak kecil kami berpisah, maka ingin kumohon padamu agar suka menjaga dia, kukhawatir dia akan tersesat.”

“Nanti kalau engkau sudah sembuh, kita akan mencari dia agar dapat kumpul bersamamu,” sahut Siau Hong dengan senyum paksa. “Wataknya yang aneh dan cerdik itu mungkin masih kalah daripadamu, maka engkau boleh mengajarnya nanti.”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: