Kumpulan Cerita Silat

30/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 50

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 1:52 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Maka terdengarlah suara “krak” sekali, di antara dua kaki yang terbentur itu ada salah satu yang patah.

Beberapa kali seniman itu terguling-guling di tanah hingga sejauh beberapa meter, lalu ia berseru sebagai peranan dalam sandiwara, “Wahai Mo Yan-siu jahanam, biar kucencangmu… aduh, kakiku!” demikian pada akhirnya mendadak ia menjerit.
(more…)

Advertisements

29/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 49

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:19 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Tapi… tapi memang betul begitu,” ujar A Pik gugup, “dan… dan hwesio itu kan belum tentu dari Siau-lim-si sini.”

“Berpuluh li di sekitar Siau-sit-san ini setiap hwesio tentu ada sangkut pautnya dengan biara kami, tapi nona bicara…” sebenarnya ia hendak mendamprat A Pik, tapi melihat kelemahlembutannya, ia jadi tidak tega dan urung melanjutkan ucapannya.
(more…)

28/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 48

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:15 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tunging)

Ketinggalan kawanan ular itu sudah tentu tak tahu tentang membalas sakit hati majikan mereka segala, binatang itu masih terus melilit Ting Jun-jiu dan murid-muridnya untuk menunggu perintah selanjutnya dari majikan mereka. Suasana di tanah pegunungan itu menjadi sunyi senyap. Namun ular adalah makhluk yang bodoh, lama-lama bukan mustahil mereka akan mengganas sendiri tanpa komando.

Di tengah kepungan kawanan ular itu, orang-orang Sing-siok-hay tidak berani sembarangan berkutik, sebab khawatir menimbulkan reaksi ular-ular itu hingga mengamuk dan itu berarti jiwa mereka bisa amblas.
(more…)

27/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 47

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 2:44 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Ketika Goan-ci hilang silaunya, tahu-tahu di dalam kamar sudah bertambah seorang, itulah dia Polo Singh yang baru saja menerobos keluar dari lubang bawah tanah. Tangan padri asing itu kelihatan memegang tiga jilid kitab. Sudah tentu ia pun terkejut demi tampak di tepi lubang itu sudah siap kelima padri tua.

Maka terdengarlah kelima padri tua itu serentak menyebut, “Omitohud!”
(more…)

26/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 46

Filed under: +Darah Ksatria — Tags: — ceritasilat @ 12:09 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Sudah biasa orang Cidan pandang orang Han seperti hewan, maka Sili malas untuk mengubur Goan-ci, ketika dilihatnya di tepi jalan ada sebuah sungai kecil, terus saja ia buang mayat Goan-ci ke dalam sungai, lalu pulang ke kota.

Dan karena keteledoran Sili inilah jiwa Yu Goan-ci jadi selamat malah.
(more…)

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 46

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 2:41 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Sudah biasa orang Cidan pandang orang Han seperti hewan, maka Sili malas untuk mengubur Goan-ci, ketika dilihatnya di tepi jalan ada sebuah sungai kecil, terus saja ia buang mayat Goan-ci ke dalam sungai, lalu pulang ke kota.

Dan karena keteledoran Sili inilah jiwa Yu Goan-ci jadi selamat malah.
(more…)

25/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 45

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:38 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Hihihi, paling-paling kepalamu akan ikut gepeng saja, apanya sih yang kau ributkan?” demikian A Ci memotong dengan tertawa. “Ai, kau anak busuk ini memang suka rewel, dasar mukamu memang juga jelek, andaikan kepalamu nanti penjol toh tetap terbungkus di dalam topeng, masakah orang bisa tahu?”

“Aku tidak…”
(more…)

24/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 44

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:37 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Pemuda itu lantas ikut ke sana, ia angkat kedua tangannya yang terikat itu, katanya, “Harap memotong tali pengikat tanganku ini, hendak kukeluarkan sesuatu barang untukmu.”

Tanpa pikir Siau Hong melolos goloknya, “sret”, sekali ayun, ia tebas tali pengikat kedua tangan pemuda itu. Begitu cepat dan jitu tebasan Siau Hong hingga membuat pemuda itu berjingkat kaget ketika mengetahui golok itu sudah menyambar lewat tangannya, tali pengikatnya sudah putus dan tangannya tidak terluka apa-apa.
(more…)

23/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 43

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:36 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh pertempuran dahsyat yang tidak pernah dilihatnya itu. Di medan pertempuran begitu, biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga tidak berguna. Pertempuran pasukan besar begini berbeda sama sekali dengan pertandingan silat di kalangan Bu-lim, segala kepandaian boleh dikatakan tidak berguna lagi.

Sebentar kemudian, tiba-tiba di pihak pasukan pemberontak ada suara trompet tanda mundur, segera pasukan berkuda pemberontak itu mengundurkan diri bagai air surut cepatnya, berbareng panah menghambur bagai hujan untuk menahan kejaran lawan. Beberapa kali Ku-bit-su memimpin pasukannya menerjang, tapi selalu tertahan, sebaliknya malah terpanah mati beberapa ribu prajuritnya oleh musuh.
(more…)

22/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 42

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:16 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Yang serbasalah adalah Siau Hong, ia berada di tengah-tengah dan entah pihak mana yang harus dibantunya. Dalam pada itu ia masih terus dihujani panah oleh orang-orang Cidan, tapi dengan mudah saja ia dapat menyampuk jatuh semua panah sambil berteriak-teriak, “Hai, apa-apaan kalian ini? Mengapa tanpa tanya sesuatu lantas sembarangan membunuh orang!”

Dari tempat sembunyinya sana Akut teriaki dia, “Siau Hong, lekas kemari, mereka tidak tahu bahwa engkau sebangsa mereka!”
(more…)

21/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 41

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:14 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Di luar dugaan hal ini memang sudah dalam perhitungan Ti-sing-cu, sebab itulah ia mengerahkan tenaga lebih kuat hingga bunga api itu mendesak lebih dekat lagi. Ia taksir bila api itu dapat menjilat tubuh si gadis, tentu tenaga dalamnya akan terganggu, dalam keadaan begitu bila ia hamburkan bunga api yang lain, pasti dara cilik itu akan tamat riwayatnya.

“Celaka!” segera hal itu dapat diketahui oleh Siau Hong. Ia tahu A Ci tidak mampu melawan lagi, segera ia ayun tangan perlahan dan serangkum angin keras terus menyambar ke depan.
(more…)

20/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 40

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:12 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Si cebol menjadi tidak sabar lagi, ia berteriak, “Samsuko, ayolah lekas turun tangan, tangkaplah budak cilik itu biar Suhu menghukumnya nanti, dia… dia entah mengoceh apa, sungguh kurang ajar!”

Tapi karena ia sendiri sedang gusar, suaranya gemeresek pula dan terlalu bernafsu, maka apa yang ia katakan menjadi kurang terang.
(more…)

19/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 39

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:09 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Cis,” Be-hujin meludah. “Perempuan hina seperti itu juga kau penujui…”

Belum habis ucapannya mendadak Siau Hong jambak rambutnya terus dibanting keras-keras ke lantai sambil mendamprat, “Berani kau olok-olok sepatah kata yang kurang hormat lagi padanya, hm, segera boleh kau rasakan siksaanku yang lebih keji.”
(more…)

18/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 38

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:06 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Dalam pada itu Be-hujin sedang melanjutkan ceritanya, “Ayah berkata kepadaku, ‘Nak, biarlah besok ayah piara babi lagi, pasti akan kubelikan cita kembang untukmu.’

“Tapi aku masih terus menangis, namun apa gunanya? Tiada sebulan keindahan tibalah tahun baru. Enci keluarga Thio tetangga sebelah itu memakai baju baru berkembang merah jambon dasar kuning, pakai celana hijau pupus bersulam, sungguh indah sekali. Dan sungguh pula aku sangat iri, sampai kue ranjang yang dibuatkan ibu juga tak kumakan lagi.”
(more…)

17/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 37

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 3:59 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Nanti kalau aku sudah… sudah baik, Toako, kita akan pergi keluar Gan-bun-koan untuk menggembala domba, tapi apakah… apakah adik perempuanku itu pun mau ikut?” tanya A Cu dengan suara lemah.

“Sudah tentu dia akan ikut, kalau cici dan cihu mengajaknya, masakah dia tidak mau?” sahut Siau Hong.
(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.