Kumpulan Cerita Silat

18/04/2009

Kisah Membunuh Naga (58)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — Tags: — ceritasilat @ 12:43 pm

Kisah Membunuh Naga (58)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Hampir bersamaan muncul tiga orang, semua mengenakan jubah putih. Dua di antaranya bertubuh jangkung sedang yang di sebelah kiri seorang wanita. Mereka berdiri dengan membelakangi rembulan sehingga Boe Kie tidak bisa melihat muka mereka. Tapi tak bisa salah lagi mereka adalah anggota Beng-kauw, karena pada ujung jubah mereka tersulam sebuah obor.

“Seng hwee leng Beng-kauw sudah tiba,” kata si jangkung yang berdiri di tengah-tengah. “Hoe kauw Liong ong, Say ong, mengapa kalian tidak menyambut dengan berlutut.” Ia berbicara dalam bahasa Han yang sangat jelek dan kaku.

Boe Kie terkejut, “Menurut surat wasiat Yo Kongcoe, semenjak jaman Kongcoe ketiga puluh satu, jaman Kauwcoe, Seng hwee leng jatuh ke dalam tangan Kay-pang dan sampai sekarang belum bisa diambil kembali,” pikirnya. “Mengapa benda-benda itu berada di dalam tangan mereka? Apa itu Seng hwee leng asli? Apa benar mereka murid Beng-kauw?” Bermacam-macam pertanyaan keluar masuk dalam otaknya.

“Aku sudah keluar dari Beng-kauw, perkataan Hoe kauw Liong ong jangan disebut-sebut lagi,” kata Kim hoa po po. “Siapa nama tuan? Apa itu Seng hwee leng asli? Dari mana kalian mendapatkannya.”

“Pergi!” bentak orang itu. “Kalau kau sudah keluar dari agama kami, perlu apa kau banyak rewel? Pergi!”

Kim hoa po po tertawa dingin, “Kim hoa po po belum pernah dihina orang,” katanya, “Bahkan Kauwcoe memerlukan aku dengan segala kehormatan. Apa kedudukanmu di dalam Beng-kauw.”

Tiba-tiba ketiga orang itu bergerak dengan serentak mendekati dan tangan kiri mereka mencoba mencengkram badan si nenek. Kim hoa po po menyapu dengan tongkatnya. Entah bagaimana ketiga orang itu menggeser kaki tahu-tahu kedudukan badan mereka sudah berubah. Si nenek menyapu angin dan belakang lehernya dicengkram dengan tiga tangan dan segera dilontarkan jauh-jauh.

Astaga! Nenek Kim hoa adalah seorang ahli silat kelas utama. Andaikata ia dikepung oleh tiga orang jago yang paling hebat belum tentu ia bisa dirobohkan dengan satu dua jurus. Tapi ketiga orang itu sungguh-sungguh aneh gerakan kaki dan tangannya.

Tiba-tiba Boe Kie mengeluarkan teriakan “ini!” Ia merasa bahwa gerakan badan, tangan dan kaki ketiga orang itu tak lain dari gerakan Kian koen Tay lo ie. Apakah mereka bersama-sama memiliki ilmu yang sangat tinggi itu?

Waktu mendengar suara “tang” yang ketiga kali, In Lee sadar dari pingsannya. Ia membuka kedua matanya dan mendapati kenyataan bahwa ia masih dipeluk Boe Kie. Dadanya sakit luar biasa dan sambil menahan sakit ia segera memejamkan kedua matanya.

Sesudah ketiga orang itu mengubah kedudukan, Boe Kie bisa melihat mukanya. Yang bertubuh paling jangkung berjenggot dan matanya biru, sedang yang satunya lagi berambut kuning dan berhidung bengkok seperti patuk elang. Kedua-duanya orang asing, yang wanita berambut hitam dan mukanya tak berbeda dengan muka orang Tiong-hoa. Hanya biji matanya tidak hitam. Ia berusia kurang lebih dua puluh tahun dan raut mukanya berbentuk kwa cie, ia cantik. “Semua orang asing, tidak herean apabila mereka itu suaranya kaku dan bicaranya seperti orang menghafal buku,” kata Boe Kie dalam hati.

“Melihat Seng hwee leng seperti bertemu dengan Kauwcoe,” teriak si jenggot. “Cia Soen mengapa kau tidak menyambut dengan berlutut.”

“Siapa kalian?” tanya Kim-mo Say-ong. “Kalau kalian murid agama kita, Cia Soen pasti mengenal nama kalian. Kalau bukan murid agama kami, kalian tidak bersangkut paut dengan Seng hwee leng.”

“Dari mana asalnya Beng-kauw?”

“Dari Persia.”

“Benar, aku adalah Lioe in soe (Utusan Awan) dari Beng-kauw yang berkedudukan di Persia. Kedua kawanku ini adalah Biauw hong soe (Utusan Rembulan). Atas perintah Cong Kauwcoe (Kauwcoe Pusat) dari Persia, kami bertiga datang ke Peng-goan.”

Cia Soen dan Boe Kie terkejut. Sesudah membaca buku gubahan Yo Siauw, Boe Kie tahu bahwa Beng-kauw memang berasal dari Persia. Melihat ilmu silat ketiga orang itu, ia percaya bahwa keterangan si jenggot bukan keterangan palsu. Ia tidak membuka mulut dan menunggu jawaban ayah angkatnya.

“Kauwcoe kami mendapat kabar bahwa Kauwcoe cabang Tiong-goan hilang tanpa jejak,” kata si rambut kuning Biauw hong soe. “Karena itu, murid-murid cabang Tiong-goan bermusuhan satu sama lain dan saling bunuh. Ceng Kauwcoe memerintahkan Sam soe (tiga utusan) In, Hong dan Goat datang ke Tiong-goan untuk membereskannya. Sesudah kami tiba di sini, semua murid harus mendengar perintah kami.”

Boe Kie girang. “Bagus,” pikirnya, “Dengan begini aku terbebas dari pikulan yang berat. Pengetahuanku memang sangat cetek dan bisa jadi aku akan menggagalkan urusan yang sangat besar.”

“Meskipun benar Beng-kauw Tiong-goan berasal dari Persia, akan tetapi selama seribu tahun lebih sudah jadi agama yang berdiri sendiri tanpa dikuasai Cong-kauw (pusat),” kata Cia Soen. “Bahwa dari tempat jauh Sam wie datang ke sini, Cia Soen merasa sangat girang. Tapi menyambut dengan berlutut adalah hal yang tidak beralasan.”

Lioe in soe merogoh saku dan mengeluarkan dua potong “pay” (potongan logam atau batu) yang panjangnya kira-kira dua kaki. “Pay” itu bukan emas dan bukan batu giok, entah terbuat dari bahan apa. Begitu dikeluarkan kedua “pay” segera dipukulkan satu sama lain. “Ting!” itulah suara aneh yang terdengar paling dulu. Dalam jarak dekat, kedengarannya lebih hebat lagi.

“Inilah Seng hwee leng dari Beng-kauw cabang Tiong-goan,” kata Lioe in soe. “Mendiang Kauwcoe Cio tak becus sehingga barang ini jatuh ke tangan Kay-pang. Untung juga kami dapat merampasnya kembali. Semenjak dulu melihat Seng hwee leng seperti bertemu dengan Kauwcoe sendiri. Cia Soen apa kau masih mau berkepala batu.”

Waktu Cia Soen masuk agama Beng-kauw, Seng hwee leng sudah lama hilang. Ia belum pernah melihatnya tapi ia tahu sifat-sifatnya yang luar biasa. Menurut kitab-kitab Beng-kauw “pay” yang dipegang oleh ketiga orang asing itu adalah Seng hwee leng asli. Apalagi mereka memiliki kepandaian yang sangat luar biasa dan sekali gebrak mereka sudah bisa melemparkan tubuh Kim hoa po po. Kepandaiannya sendiri kira-kira setanding dengan Kim hoa po po sehingga andaikata ia mau melawan iapun takkan bisa melawan.

“Aku percaya omongan tuan,” katanya. “Pesan apa yang mau disampaikan oleh kalian?”

Lioe in soe tak menjawab. Ia mengibaskan tangan kirinya. Biauw hoe soe dan Hwie goat soe mengerti maksudnya. Dengan serentak ketiga orang itu melompat tinggi dan dalam sesaat mereka sudah berhadapan dengan Kim hoa po po. Si nenek menimpuk dengan enam Kim hoa tapi dengan mudah mereka bisa menyelamatkan diri. Hwie goat soe merengsek dan mencoba menotok leher si nenek. Kim hoa po po menangkis dan memukul dengan tongkatnya. Tiba-tiba tubuh si nenek terangkat tinggi, punggungnya sudah dicengkram oleh Lioe in soe dan Biauw hong soe dan diangkat ke atas. Ia tidak berdaya sebab jalan darah dipunggung sudah ditotok. Hwie goat soe maju dan dengan tangan kirinya ia menotok tujuh hiat di dada Cie San Liong ong.

Jalan serangan ketiga orang itu licin dan lancar, “Ilmu silat mereka tidak luar biasa,” kata Boe Kie dalam hati. “Yang luar biasa adalah kerjasama mereka. Hwie goat soe memancing si nenek, kedua tangannya membekuk dengan membokong, ilmu silat mereka secara perorangan belum tentu lebih tinggi dari Kim hoa po po.”

Sementara itu Lioe in soe melemparkan Kim hoa po po ke hadapan Cia Soen. “Cia Say ong,” katanya, “Menurut peraturan Beng-kauw, seseorang yang sudah masuk agama itu tapi ia meninggalkan agama kita maka dia telah menjadi murid pengkhianat. Penggal kepalanya!”

Cia Soen terkejut, “Beng-kauw di Tiong-goan tak punya peraturan begitu,” jawabnya.

“Mulai dari sekarang, Beng-kauw cabang Tiong-goan harus menurut Cong-kauw,” kata Lioe in soe dengan suara dingin. “Nenek itu telah mengatur tipuan busuk untuk mencelakai kau dan itu semua telah dilihat kami. Hidupnya dia merupakan bibit penyakit. Lekas binasakan dia!”

“Dahulu Han hoejin telah memperlakukan aku baik sekali. Empat Raja Pelindung Beng-kauw terikat pada tali persaudaraan. Biarpun hari ini dia memperlakukan aku dengan Poet ceng (tanpa kecintaan) tapi aku tak bisa membalasnya dengan Poet hie (tanpa rasa persahabatan) dan turun tangan untuk membinasakannya.”

Biauw hong soe tertawa terbahak-bahak. “Kau sungguh rewel!” katanya. “Caramu seperti perempuan bawel. Dia berusaha untuk membinasakan kau tapi kau tidak mau mengambil jiwanya. Mana ada aturan begitu? Heran! Aku sungguh tidak mengerti!”

“Aku bisa membunuh manusia tanpa terkesiap tapi aku tak bisa membunuh saudara seagama,” kata Cia Soen dengan suara mantap.

“Tapi kau mesti membunuh dia,” kata Hwie goat soe, “Kalau kau menolak berarti kau melanggar perintah. Kami akan lebih dulu mengambil jiwamu.”

“Baru datang di Tiong-goan Sam wie sudah mencoba memaksa Kim-mo Say-ong utnuk membunuh Cie San Liong ong,” kata Cia Soen dengan suara mendongkol. “Apakah Sam wie mau mencoba memperlihatkan keangkeran dengan menakut-nakuti aku?”

Hwie goat soe tersenyum, “Meskipun kau buta hati mengerti segalanya,” katanya, “Hayo! Lekas turun tangan!”

Cia Soen menengadah dan tertawa nyaring sehingga suaranya berkumandang di seluruh lembah, “Kim-mo Say-ong selamanya bekerja sebagai laki-laki,” katanya dengan suara keras. “Aku tak sudi membunuh sahabat sendiri. Tapi andaikata nenek itu musuh besarku akupun takkan turun tangan sebab dia sekarang sudah tidak bisa membela diri, Cia Soen belum pernah membunuh manusia yang tidak bisa melawan lagi.”

Mendengar perkataan itu, Boe Kie merasa kagum sekali dan terhadap ketiga utusan itu ia mulai merasa muak.

“Bagi setiap murid Beng-kauw melihat Seng hwee leng seperti melihat Kauwcoe sendiri,” kata Biauw hong soe. “Say-ong, apa kau mau memberontak?”

“Cia Soen telah buta dua puluh tahun lebih. Biarpun kau menaruh Seng hwee leng di hadapanku, aku tak bisa melihatnya. Maka itu, melihat Seng hwee leng seperti melihat Kauwcoe sendiri tiada sangkut pautnya denganku.”

“Bagus!” bentak Biauw hong soe dengan gusar. “Benar-benar kau mau berkhianat?”

“Cia Soen tidak berani berkhianat, tapi tujuan Beng-kauw ialah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menyingkirkan segala kejahatan. Di samping itu Beng-kauw pun sangat mengutamakan “gie kie”. Kepala Cia Soen boleh jatuh di tanah tapi Cia Soen tak boleh melakukan perbuatan sebusuk itu.”

Nenek Kim hoa tidak bisa bergerak tapi ia mendengar tegas setiap perkataan Kim-mo Say-ong.

Boe Kie tahu bahwa ayah angkatnya tengah menghadapi bencana. Perlahan-lahan ia melepaskan In Lee di tanah.

“Semua anggota Beng-kauw di Tiong-goan yang tidak menghormati Seng hwee leng akan mendapatkan hukuman mati,” bentak Lioe in soe.

“Aku adalah Hoe-kauw Hoat ong (Raja Pelindung Agama),” kata Cia Soen dengan suara lantang, “Biarpun Kauwcoe sendiri yang mau membinasakan aku, ia harus mengadakan upacara kepada Langit dan Bumi dengan memberitahukan segala dosa-dosaku.”

Biauw hong soe tertawa. “Gila!” katanya. “Di Persia tidak ada peraturan begitu. Begitu datang di Tiong-goan, Beng-kauw segera mempunyai aturan yang gila-gila.”

Mendadak Sam soe membentak dan menyerang dengan berbarengan. Cia Soen segera memutar To liong to untuk melindungi diri. Sesudah menyerang tiga jurus tanpa berhasil dengan serentak mereka mengeluarkan Seng hwee leng. Hwie goat soe merangsek dan memukul batok kepala Cia Soen dengan Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan kirinya. Cia Soen menangkis dengan goloknya. “Trang!”

Biarpun senjata mustika, golok itu tidak bisa memutuskan Seng hwee leng. Hampir bersamaan, Lioe in soe menggulingkan diri di tanah dan memukul betis Cia Soen sehingga ia terhuyung satu dua langkah. Pada detik yang bersamaan Biauw hong soe berhasil menotok punggung Cia Soen dengan Seng hwee lengnya.

Mendadak ia merasa tangannya dibetot orang dan Seng hwee leng dirampas. Dengan hati mencelos ia memutar badan. Yang merampas adalah seorang pemuda yang mengenakan pakaian anak buah perahu.

Perampasan Seng hwee leng dilakukan Boe Kie dengan kecepatan luar biasa. Dengan gusar Lioe in soe dan Hwie goat soe segera menyerang dari kiri dan kanan, untuk menyelamatkan diri Boe Kie melompat mundur ke sebelah kiri.

Di luar dugaan punggungnya kena dipukul Hwie goat soe. Seng hwee leng adalah benda yang sangat keras dan pukulan itu disertai Lweekang yang hebat. Maka Boe Kie berkunang-kunang. Untung juga dia memiliki Sin kang dan sambil melompat ke depan ia mengempos semangat untuk menentramkan hatinya.

Sam soe tidak memberi nafas kepadanya dan segera mengurung. Sesudah serang-menyerang beberapa jurus dengan Seng hwee leng yang dipegang tangan kanannya, Boe Kie mengirimkan pukulan gertakan kepada Lioe in soe dan berbarengan tangan kirinya menjambret Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan kiri Hwie goat soe. Baru saja mau membetot mendadak Hwie goat soe melepaskan cekalannya sehingga buntut Seng hwee leng itu membal ke atas dan memukul pergelangan tangannya. Jari-jari tangan Boe Kie kesemutan sehingga mau tidak mau ia terpaksa melepaskan pula Seng hwee leng yang sudah dipegangnya, Hwie goat soe lantas saja menyambutnya.

Semenjak memiliki Kian koen Tay loe ie dan mendapat petunjuk Thio Sam Hong mengenai Thay kek keon, Boe Kie tidak pernah menemui tandingan. Di luar dugaan, dalam menghadapi seorang wanita muda seperti Hwie goat soe, dua kali beruntun ia kena dipukul. Dalam pukulan kedua, jika tidak memiliki Sin kang, pergelangan tangannya pasti sudah patah.

Sekarang ia tidak berani melayani kekerasan lagi. Sambil membela diri ia memperhatikan serangan-serangan lawan untuk mencari jalan melawannya.

Di lain pihak, ketiga utusan itu merasa kaget. Belum pernah mereka menemui lawan seperti Boe Kie.

Tiba-tiba Biauw hong soe menundukkan kepalanya dan menyeruduk. Inilah serangan luar biasa yang bertentangan dengan peraturan ilmu silat. Menyeruduk dengan bagian tubuh yang terpenting tidak pernah atau sedikitnya jarang digunakan oleh ahli-ahli silat di daerah Tiong-goan.

Boe Kie berdiri tegak bagaikan gunung. Ia mengerti bahwa serudukan itu akan disertai dengan serudukan susulan. Ketika batok kepala Biauw hogn soe hanya terpisah satu kaki dari perutnya barulah ia menggeser kaki dan mundur selangkah. Mendadak Lioe in soe melompat tinggi dan ketika tubuhnya turun, ia mencoba duduk di atas kepala Boe Kie. Inipun serangan aneh. Buru-buru Boe Kie mengegos ke samping. Mendadak ia merasa dadanya sakit sebab kena disikat Biauw hong soe tapi Biauw hong soe sendiri yang kena didorong dengan tenaga Kioe yang Sin kang terhuyung beberapa langkah.

Paras Sam soe berubah pucat. Tapi mereka segera merangsek lagi. Selagi Hwie goat soe membabat dengan kedua Seng hwee leng mendadak Lioe in soe melompat tinggi dan menjungkir balik tiga kali di tengah udara. Ia heran melihat saltonya Lioe in soe dan cepat-cepat ia mengegos ke kiri, mendadak sinar putih berkelabat dan pundak kanannya terpukul Seng hwee leng Lioe in soe. Ia terkesiap, itu pukulan yang sangat aneh. Bagaimana caranya selagi bersalto Lioe in soe bisa memukul dirinya tanpa ia sendiri bisa mencegahnya? Pukulan itu sangat hebat, meskipun seluruh tubuhnya dilindungi Sin kang, rasa sakit terasa di sumsum. Kalau bisa ia ingin mundur tapi ia tahu kalau ia mundur, ayah angkatnya akan binasa. Ia jadi nekat, sesudah menarik nafas dalam-dalam ia melompat menghantam dada Lioe in soe dengan telapak tangannya.

Pada detik yang bersamaan, Lioe in soe pun melompat ke depan sambil memukul kedua Seng hwee lengnya. “Trang!” Selagi badannya masih berada di udara, mendengar suara itu Boe Kie merasa semangatnya terbetot keluar. Tiba-tiba Biauw hong soe terpental sebab didorong oleh Kioe yang Sin kang. Hampir bersamaan Hwie goat soe sudah menghantam pundak Boe Kie dengan Seng hwee leng.

Cia Soen tahu bahwa si pemuda Kie yang menolong jiwanya sedang menghadapi bencana, ia merasa menyesal bahwa ia tak bisa membantu. Makin lama ia jadi makin bingung. Jika bertempur sendirian ia bisa melawan dengan mengandalkan ketajaman kupingnya. Sekarang ia tak bisa membedakan yang mana lawan yang mana kawan. Bagaimana jadinya kalau To liong to sampai membinasakan kawan. Tapi ia tahu bahwa penolongnya sudah terpukul beberapa kali.

“Siauw hiap! Lekas menyingkir!” teriaknya. “Ini urusan Beng-kauw, bukan urusan Siauw hiap. Bahwa Siauw hiap sudah sudi menolong Cia Soen merasa sangat berhutang budi.”

“Aku…Lari! Lekas kau…lari!” seru Boe Kie dengan suara terputus-putus.

Mendadak Lioe in soe menghantam dengan Seng hwee leng. Boe Kie menangkis dengan Seng hwee leng juga.

“Trang!”

Seng hwee leng Lioe in soe terlepas. Boe Kie segera melompat tinggi untuk menangkapnya. Tiba-tiba “bret!” baju dipunggungnya robek sebab jambretan Hwie goat soe. Goresan kuku mengeluarkan darah dan Boe Kie merasa perih pada punggungnya. Karena serangan itu, gerakan Boe Kie jadi terhambat dan Seng hwee leng keburu diambil kembali oleh Lioe in soe.

Sesudah bertempur beberapa lama, Boe Kie yakin bahwa Lweekang ketiga lawan itu masih kalah jauh dari tenaga dalamnya. Yang sukar dilawan adalah ilmu silat, kerja sama dan senjata mereka yang aneh. Mereka bekerja sama dalam cara yang sangat luar biasa. Boe Kie tahu bahwa kalau ia bisa merobohkan salah seorang maka ia akan mendapatkan kemenangan tapi hal itu tidak gampang dilakukan.

Dengan Sin kangnya, dua kali Boe Kie menghantam Biauw hong soe tapi lawan itu hanya terhuyung beberapa langkah dan rupa-rupanya tidak mendapat luka yang berarti. Selain itu setiap kali ia menyerang yang satu, dua yang lain segera menolong dengan cara yang tak diduga-duga. Beberapa kali ia menukar ilmu silat tapi ia tetap tak bisa memecahkan kerja sama mereka yang sangat erat.

Di lain pihak, Sam soe pun tak berani membenturkan kaki tangan atau badan mereka dengan Boe Kie. Setiap kali mengadu kekuatan, setiap kali pihak mereka yang menderita.

Mendadak, sambil membentak keras Cia Soen memeluk To liong to melompat masuk ke gelanggang pertempuran dan mendekati Boe Kie. “Siauw hiap, gunakanlah golok ini!” katanya. Seraya berkata begitu, ia menyodorkan To liong to.

Boe Kie menyambuti dan Cia Soen melompat mundur. Selagi melompat, punggungnya terkena tinju Biauw hong soe yang menyambar tanpa bersuara sehingga ia tidak dapat mendengarnya. “Aduh!” ia mengeluh. Ia merasa isi perutnya seperti terbalik.

Sementara itu, sambil menggertak gigi Boe Kie membacok Lioe in soe. Si jenggot memapaki kedua Seng hwee leng yang lantas menempel di badan To liong to. Tiba-tiba Boe Kie merasa tangannya tergetar sehingga To liong to hampir terlepas.

Hatinya mencelos, buru-buru ia mengempos semangat dan menambah Lweekangnya. Merampas senjata dengan Seng hwee leng adalah satu-satunya ilmu yang sangat diandalkan oleh Lioe in soe. Dapat dikatakan ia belum pernah gagal. Kali ini ia tidak berhasil dan kaget bukan main. Melihat itu, sambil membentak keras Hwie goat soe melompat dan menempelkan kedua Seng hwee lengnya di badan To liong to. Sekarang empat Seng hwee leng membetot golok dan tenaga membetot bertambah satu kali lipat.

Boe Kie sudah terluka beberapa kali dan biarpun bukan luka berat tenaganya berkurang. Sesudah bertahan beberapa saat, ia merasa separuh badannya panas dan tangannya yang mencekal golok gemetaran. Ayah angkatnya menyayangi To liong to seperti jiwa sendiri dan bahwa orang tua itu sudah dengan rela meminjamkan kepada orang yang belum dikenal merupakan bukti bahwa sang Gie hoe mempunyai gie kie yang sangat tebal. Kalau To liong to sampai hilang dalam tangannya, mana ia ada muka untuk menemui sang ayah angkat lagi? Berpikir begitu sambil membentak, ia mengerahkan seluruh Kioe yang Sin kang ke tangan kanannya.

Paras muka Lioe in soe dan Hwie goat soe berubah pucat. Biauw hong soe kaget, ia melompat dan turut menempelkan sebuah Seng hwee lengnya ke badan To liong to.

Sekarang satu melawan tiga dan berkat Sin kang, Boe Kie tetap bisa bertahan. Diam-diam ia merasa syukur bahwa ia berhasil merampas sebelah “leng” dari tangan Biauw hong soe. Jika Liok leng (enam leng) menekannya dengan bersamaan belum tentu ia bisa mempertahankan diri.

Dengan tubuh tak bergerak, keempat orang mengerahkan Lweekang mereka yang paling tinggi.

Mendadak saja Boe Kie merasa dadanya sakit seperti ditusuk dengan jarum halus. Tusukan itu luar biasa hebat, terus menerobos ke dalam isi perutnya. Hampir bersamaan, To liong to terlepas dari cekalannya dan ditarik oleh lima Seng hwee leng!

Boe Kie terkesiap tapi sebagai ahli silat kelas utama, dalam kagetnya ia tak menjadi bingung. Ia menghunus Ie thiam kiam yang terselip dipunggungnya dan dengan Toan coan Jie ie (berputar-putar menurut kemauan hati) salah sebuah pukulan Thay kek Kiam hoat, ia membuat sebuah lingkaran dengan bersamaan membabat kepungan Sam soe. Cepat-cepat ketiga lawan itu melompat mundur. Boe Kie memasukkan Ie thiam kiam ke dalam sarung dan dengan sekali raih ia menangkap gagang To liong to.

Sungguh indah keempat gerakan melepaskan To liong to dan menghunus Ie thian kiam, memasukkan pedang ke dalam sarung dan menangkap gagang To liong to. Tempo kecepatannya bagaikan kilat dan gerakannya gemulai. Itulah gerakan-gerakan yang dikeluarkan dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh.

Sam soe Persia mengeluarkan seruan kaget. Tak kepalang heran mereka. Lweekang mereka kalah jauh dari Boe Kie. Karena mereka berteriak, tenaga bertahan mereka berkurang dan kelima Seng hwee leng berbalik kena dibetot Boe Kie bersama-sama To liong to. Buru-buru Sam soe mengempos semangat dan keadaan pulih seperti tadi, keempat orang saling bertahan dan saling membetot.

Di lain saat, sekali lagi Boe Kie merasa dadanya sakit seperti ditusuk jarum.

Tapi sekarang karena sudah bersiap-siap, To liong to tidak sampai terlepas. Sehelai hawa dingin telah menerobos masuk dari lapisan Kioe yang Sin kang yang melindungi seluruh tubuh Boe Kie dan menyerang isi perutnya. Boe Kie mengerti bahwa itulah tenaga dalam Sam soe yang menyerang dengan perantaraan Seng hwee leng. Pada umumnya manakala dingin menyerang panas, belum tentu dingin mendapatkan kemenangan, tapi dalam hal ini Kioe yang Sin kang melindungi seluruh tubuh sedang hawa dingin itu berkumpul menjadi satu dalam bentuk sehelai benang tipis itu dan menikam bagaikan tikaman pisau. Itulah sebabnya mengapa biarpun hebat, garis pertahanan Kioe yang dapat diterobos juga.

Serangan itu sebenarnya dilakukan oleh Hwie goat soe dan Lweekang yang digunakan Tauw koet ciam (jarum yang bisa menembus tulang). Ia kaget dan heran karena Boe Kie dapat mempertahankan diri terhadap serangan Lweekang Tauw koet ciam, ia ingin sekali merampas Ie thian kiam tapi tak bisa berbuat begitu sebab kedua tangannya memegang Seng hwee leng. Biauw hong soe pun ingin merebut pedang mustika itu dan tangan kirinya kosong, tapi karena tenaganya sudah dikumpulkan di tangan kanan maka tangan kiri itu tidak bertenaga lagi.

Boe Kie mengerti bahwa dengan terus bertahan seperti itu dan setiap saat diserang dengan hawa dingin pada akhirnya ia akan roboh. Tapi ia tidak berdaya untuk menolong dirinya.

Sementara itu ia mendengar suara nafas Cia Soen yang mendekati selangkah demi selangkah. Ia tahu bahwa sang Gie hoe mau memberi bantuan.

Memang benar Kim mo Say ong telah mengambil keputusan untuk membantu “si pemuda Kie keng pang”. Selagi keempat orang itu mengadu Lweekang, kalau ia memukul musuh seperti juga memukul Boe Kie. Maka itu ia terus ragu dan belum berani turun tangan.

Boe Kie jadi bingung, “Yang paling penting Gie hoe harus menyingkir,” pikirnya, “Tapi kalau ia tahu bahwa aku adalah Boe Kie, ia tidak mau menyingkir.” Berpikir demikian, ia lantas saja berteriak, “Cia Tay hiap, walaupun Sam soe berkepandaian tinggi, kalau mau aku bisa meloloskan diri dengan gampang sekali. Cia Tay hiap, kau menyingkirlah untuk sementara waktu. Aku akan segera mengembalikan golok mustikamu.”

Sam soe terkesiap, menurut kebiasaan orang yang sedang mengadu Lweekang tidak boleh bicara, begitu ia berbicara tenaga dalamnya buyar. Tapi Boe Kie bisa berbicara sambil bertahan terus.

“Siapa nama she Siauw hiap yang mulia?” tanya Cia Soen.

Untuk sejenak Boe Kie ragu, tapi ia segera mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan diri. Apabila ia menyebut namanya yang asli, ayah angkatnya pasti akan mengadu jiwa dengan ketiga orang Persia itu. Berpikir begitu, ia lantas menjawab, “Aku yang rendah she Can bernama A Goe. Mengapa Cia Tay hiap tidak mau segera pergi? Apa Cia Tay hiap tidak percaya aku dan takut aku telan golok mustika ini.”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak. “Siauw hiap, kau tak usah menggunakan kata-kata itu untuk mengusir aku,” katanya dengan suara terharu. “Kutahu kau dan aku mempunyai nyali yang sama. Cia Soen merasa bersyukur bahwa dalam usia tua ia bisa bertemu dengan seorang sahabat seperti kau. Can Siauw hiap, aku ingin menghantam perempuan itu dengan Cit siang koen. Begitu aku memukul, kau lepaskan To liong to.”

Boe Kie tahu kehebatan Cit siang koen, dengan mengorbankan golok mustika ternama itu memang dengan sekali tinju ia bisa membinasakan Hwie goat soe. Tapi kejadian itu berarti bahwa Beng-kauw Tiong goan akan bermusuhan dengan beng-kauw pusat. Kalau kini ia menyetujui dibunuhnya seorang utusan pusat, bukankah perbuatannya tidak sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang Kauwcoe? Mengingat itu, buru-buru ia mencegah. “Tahan!” Ia menengok kepada Lioe in soe dan berkata pula, “Mari kita berhenti untuk sementara waktu, aku mau berbicara dengan Sam wie.”

Lioe in soe mengangguk.

“Dengan Beng-kauw aku mempunyai hubungan erat,” kata Boe Kie. “Dengan membawa Seng hwee leng, kalian datang ke sini dan pada hakikatnya kalian adalah tamu kami. Untuk segala perbuatan yang tidak pantas aku mohon kalian sudi memaafkan. Dengan bersamaan kita menarik kembali tenaga dalam. Apa kalian setuju.”

Lioe in soe mengangguk lagi.

Boe Kie girang, ia segera menarik kembali Lweekangnya dan To liong to, dan ketiga lawannya pun menarik kembali tenaga mereka.

Tapi mendadak, sangat mendadak, semacam tenaga dingin bagaikan pisau menikam Giok tong hiat di dadanya. Nafas Boe Kie sesak dan ia tak bisa bergerak lagi. Pada detik itu di dalam otaknya berkelabat pikiran, “Setelah aku mati, Gie hoe pun akan mati. Tak disangka, utusan Cang kauw berbuat begitu. Bagaimana nasib In Lee piau moay? Bagaimana dengan Tio kauwnio, Cioe kauwnio dan Siauw Ciauw? Hai! Bagaimana dengan impian Beng-kauw untuk menolong rakyat dan merobohkan kerajaan Goan.” Selagi ia berpikir begitu, Lioe in soe sudah mengangkat Seng hwee leng dan menghantam kepalanya, Boe Kie mencoba mengerahkan Lweekang untuk membuka Giok tong hiat yang tertotok tapi sudah tidak keburu lagi.

Pada saat yang sangat genting, tiba-tiba terdengar teriak seorang wanita, “Rombongan Beng-kauw dari Tiong goan sudah tiba di sini!”

Lioe in soe terkejut, Seng hwee leng berhenti di tengah udara.

Bagaikan kilat, satu bayangan abu-abu berkelabat ke arah Boe Kie, mencabut Ie thian kiam dan menubruk Lioe in soe. Boe Kie mengenali orang itu adalah nona Tio, tapi dalam girangnya ia kaget tak kepalang sebab si nona menyerang dengan sebuah pukulan Koen loen-pay yang bertujuan untuk mati bersama-sama musuh. Pukulan itu diberi nama Giok swee Koen kong (batu giok hancur digunung Koen loen san). Meskipun Boe Kie tak tahu nama pukulan itu tapi ia mengerti jika nona Tio berhasil melukai Lioe in soe, ia sendiri sukar luput dari serangan lawan.

Lioe in soe mencelos hatinya. Ia tak pernah bermimpi bahwa sesudah memperoleh kemenangan dengan jalan licik, ia bakal diserang dengan begitu. Dalam bahaya, ia menangkis dengan Seng hwee leng dan menggulingkan dirinya di tanah.

“Trang!” Ie thian kiam terpukul balik, selagi bergulingan ia merasa dingin pada dagunya, tangannya basah lengket dan dagunya perih. Ternyata kulit dagu bersama jenggotnya terpapas Ie thian kiam. Kalau Seng hwee leng bukan senjata mustika, kepalanya pasti sudah terbelah dua.

Di lain pihak, ketika terpukul balik, Ie thian kiam memapas pinggiran kopiah nona Tioa sehingga sebagian rambutnya yang hitam terurai.

Tio Beng datang pada detik yang tepat karena hatinya tidak enak dan ia kuatir akan keselamatan Boe Kie. Ia merasa bahwa Kim hoa po po banyak akalnya, Tan Yoe Liang bukan manusia baik-baik dan pulau itu penuh dengan bahaya yang tersembunyi. Kian lama ia kian kuatir dan akhirnya ia mengikuti Boe Kie dari belakang. Ia tahu bahwa ilmu ringan badannya masih cetek dan kalau ia mendekat, Boe Kie tetap mengetahuinya.

Maka itu ia hanya menguntit dari kejauhan. Sesudah Boe Kie bertempur dengan ketiga utusan Cong kauw barulah ia mendekat. Ia girang ketika Boe Kie mengadu Lweekang sebab ia merasa pasti bahwa tenaga dalam ketiga orang itu tak akan bisa menindih Kioe yang Sin kang. Penundaan pertempuran mengejutkan hatinya. Ia ingin mendekati Boe Kie supaya ia waspada tapi sudah tak keburu.

Demikianlah pada detik berbahaya ia melompat keluar. Ia tahu bahwa kepandaiannya tidak dapat menandingi ketiga orang asing itu tapi ia sudah nekat dan tidak berpikir panjang lagi. Ia mencabut Ie thian kiam dari pinggang Boe Kie dan menyerang dengan jurus yang dapat membinasakan kedua belah pihak, yang diserang dan penyerangnya sendiri.

Sesudah jurus pertama berhasil, ia membuat setengah lingkaran dan menubruk Biauw hong soe dengan badannya sendiri. Itulah jurus Jin koei Tong touw (manusia dan setan jalan bersama-sama), jurus Kong tong-pay yang mempunyai tujuan sama seperti Giok swee Koen kong.

Nona Tio menganggap bahwa ia ditakdirkan untuk binasa bersama-sama musuh. Giok swee Koen kong dan Jin koei Tong touw bukan pukulan untuk memperoleh kemenangan dalam kekalahan atau mencari hidup dalam jalan mati. Kedua jurus itu adalah jurus bunuh diri sambil membunuh musuh. Ketika jago-jago Kong tong-pay dikurung di Ban hoat sie, beberapa di antaranya yang adatnya keras sudah menyerang dengan jurus tersebut. Tapi karena tidak mempunyai tenaga dalam serangan mereka gagal. Tio Beng yang menyaksikan serangan itu segera menghafal dalam otaknya.

Dengan jurus itu Biauw hong soe terkesiap, keringat dingin mengucur dan ia berdiri terpaku. Ternyata biarpun ilmu silatnya tinggi, ia bernyali kecil. Dalam menghadapi serangan yang mematikan, ia ketakutan dan tak berdaya lagi.

Sebagai akibat tubrukannya tubuh Tio Beng lebih dulu membentur Seng hwee leng kemudian barulah tangannya menikam dengan Ie thian kiam. Serangan jurus Jin koei Tong touw memang harus dilakukan dengan begitu. Lebih dulu menabrak senjata musuh dengan tubuh sendiri dan pada saat itu senjata itu menancap di tubuh, menikam musuh dengan senjata sendiri. Diserang begitu, biarpun kepandaiannya tinggi, seseorang tak akan bisa meloloskan diri. Biauw hong soe terpaku sebab ia segera melihat hebatnya pukulan itu. Untung besar bagi Tio Beng Seng hwee leng bukan senjata tajam. Senjata itu tumpul dan berbentuk tongkat pendek, maka itu biarpun terbentur badannya ia tidak terluka, dan untung juga bagi Biauw hong soe karena sebelum Ie thian kiam mampir di tubuhnya, Hwie goat soe sudah keburu memeluk badan Tio Beng dari belakang.

Karena dipeluk, nona Tio tak bisa menikam terus, ia tahu ia bakal celaka, tiba-tiba ia membalikkan pedangnya dan menikam kempungnya sendiri.

Itulah jurus yang lebih hebat dari dua jurus tadi! Jurus pedang ini yang dinamakan Thian tee Tong sioe (langit dan bumi bersamaan usianya) adalah jurus Boe tong-pay tapi bukan gubahan Thio Sam Hong. Siapa penggubahnya? In Lie Heng.

In Lie Heng yang menggubah itu untuk membalas sakit hatinya terhadap Yo Siauw. Semenjak Kie Siauw Hoe meninggal dunia, tekadnya yang bulat adalah membunuh Yo Siauw. Biarpun gurunya seorang ahli silat yang paling terkemuka tapi karena bakatnya kurang, ia tak dapat memperoleh ilmu yang paling tinggi.

Ia sudah tidak berharap hidup maka itu ia menggubah tiga jurus silat pedang yang bertujuan untuk mati bersama musuhnya. Satu waktu, selagi berlatih diam-diam, latihannya dilihat Thio Sam Hong. Guru besar itu menghela nafas sebab ia tahu biarpun ia coba mencegah, hasilnya akan sia-sia. Ia lalu memberi nama Thian tee Tong sioe kepada jurus itu. Nama tersebut berarti bahwa sesudah seorang manusia meninggal dunia, rohnya akan tetap hidup dan usia roh itu sama dengan usial langit dan bumi. Ketika dikurung di Ban hoat sie, murid kepala In Lie Heng pernah menggunakan jurus itu tapi ia keburu ditolong Kouw Touw too. Peristiwa tersebut disaksikan Tio Beng.

Thian tee Tong sioe adalah untuk menghabisi musuh yang tubuhnya berdempetan dengan tubuhnya sendiri, misalnya pada waktu musuh memeluk. Tio Beng menikam kempungan sendiri supaya Ie thian kiam menembus dan terus menikam kempungan Hwie goat soe seperti sate.

Tapi Tio Beng dan Hwie goat soe belum ditakdirkan mati. Saat itu dengan Kioe yang Sin kang Boe Kie sudah berhasil membuka jalan darahnya yang tertotok. Pada detik itu Boe Kie berhasil mencegah tikaman itu. Tio Beng memberontak dan berhasil melepaskan diri dari pelukan Hwie goat soe.

Nona Tio adalah orang yang cerdas luar biasa, otaknya bisa bekerja cepat sekali. Ia mengambil Seng hwee leng dari tangan Boe Kie dan melontarkannya jauh-jauh. “Ting!” benda itu jatuh di dalam “barisan jarum”.

Sam soe menyayangi Seng hwee leng seperti menyayangi dirinya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan Biauw hong soe lagi, Lioe in soe dan Hwie goat soe segera melompat dan berlari-lari ke arah “barisan jarum”. Karena gelap dan sekitar tempat jatuhnya Seng hwee leng tumbuh rumput tinggi maka setibanya di “barisan jarum” mereka terpaksa merangkak, mencabut jarum-jarum dan meraba-raba. Di saat itu Biauw hong soe tersadar, seraya berteriak ia menyusul kedua kawannya.

Untuk menolong Boe Kie tadi, Tio Beng menyerang dengan nekat. Sekarang, sesudah kekuatannya pulih rasa takutnya muncul. Tiba-tiba sambil menangis keras ia menubruk Boe Kie.

Dengan rasa terima kasih yang berlimpah, Boe Kie memegang tangan si nona. Ia tahu bahwa begitu Sam soe menemukan Seng hwee leng yang dilemparkan mereka akan segera menyerang pula. Maka itu ia berkata, “Mari kita lari.” Ia melepaskan tangan Tio Beng, mendukung In Lee yang terluka berat dan berkata kepada Cia Soen, “Cia Tay hiap, kita harus menyingkir secepat mungkin.”

“Benar,” jawab Kim mo Say ong yang lalu membungkuk dan membuka jalan darah Kim hoa po po. Boe Kie menganggap bahwa setelah mendapat pengalaman pahit, si nenek tentu akan mencoret permusuhan terhadap ayah angkatnya. Setelah ia berlari-lari beberapa tombak, ia menyerahkan In Lee kepada si nenek sebab biarpun saudari sepupunya, ia merasa bimbang untuk mendukung seorang gadis. Mereka lari sekencang-kencangnya, Tio Beng paling depan. Cia Soen dan Kim hoa po po di tengah dan Boe Kie paling belakang sebagai pelindung.

Mendadak terdengar bentakan Kim mo Say ong yang lalu meninju punggung nenek Kim hoa. Cie san Lion gong menangkis dan melemparkan In Lee di tanah.

Boe Kie terkejut dan mendekat.

“Han Hoe jin!” bentak Cia Soen. “Mengapa lagi-lagi kau coba membunuh In Kauwnio?”

Si nenek tertawa dingin, “Jangan turut campur urusanku,” jawabnya.

“Kularang kau membunuh orang secara serampangan,” kata Boe Kie.

“Apa belum cukup kau mencampuri urusan yang sebenarnya bukan urusanmu?” tanya Kim hoa po po.

“Belum tentu bukan urusanku,” sahutnya. “Musuh akan segera mengejar, apa kau ingin mati?”

Si nenek mengeluarkan suara di hidung dan lari ke arah barat. Mendadak tiga kuntum bunga emas menyambar ke kepala In Lee. Boe Kie mengebut tangannya dan senjata itu berbalik menyambar majikannya dengan suara “ungg” yang lebih hebat dari suara menyambarnya anak panah.

Si nenek kaget, ia tak menyangka pemuda itu memiliki Lweekang yang begitu dahsyat. Ia tak berani menyambuti dan buru-buru menggulingkan badannya di tanah. Ketika Kim hoa lewat di atas punggungnya dan merobek pakaiannya, jantung si nenek melonjak dan ia terus kabur tanpa menoleh lagi.

Selagi Boe Kie membungkuk untuk mendukung In Lee, tiba-tiba Tio Beng mengeluh dan memegang kempungannya.

“Mengapa?” tanya Boe Kie sambil mendekati.

Dengan terkejut ia melihat tangan si nona berlepotan darah. Ternyata biarpun keburu ditolong, tikaman Thian tee Tong sioe telah melukai kempungannya.

“Apa lukamu berat?” tanya Boe Kie dengan hati berdebar-debar.

Sebelum Tio Beng menjawab mendadak terdengar seruan Biauw hong soe, “Ini dia! Dapat! Sudah dapat!”

“Jangan perdulikan aku,” kata nona Tio. “Pergi! Lekas pergi!”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie segera memeluk pinggang Tio Beng dan terus kabur ke bawah gunung.

“Ke perahu…terus berlayar…,” bisik Tio Beng.

Boe Kie mengangguk. Dengan sebelah tangan mendukung In Lee dan sebelah tangan mendukung Tio Beng, ia lari sekencang-kencangnya. Cia Soen yang melindungi dari belakang merasa heran, sebab biarpun membawa dua orang dewasa, Boe Kie masih bisa lari begitu cepat.

Boe Kie sendiri lari dengan pikiran kusut. Ia sangat memikirkan keselamatan kedua gadis itu. Kalau seorang saja tak dapat ditolong, ia akan menyesal seumur hidup. Untung juga tubuh mereka tak berubah dingin.

Sementara itu, sesudah mendapatkan kembali Seng hwee leng, Sam soe terus mengejar. Tapi ilmu ringan badan mereka tak bisa menandingi Boe Kie bahkan belum dapat merendengi Cia Soen.

Sebelum tiba di perahu, Boe Kie sudah berteriak, “O hei! Beng beng Koencoe memberi perintah. Naikkan layar, angkat jangkar, siap untuk segera berangkat!”

Dengan demikian, waktu mereka naik di perahu layar-layar sudah terpentang. Tapi kapten tak berani menjalankan perahu sebelum mendapat perintah Tio Beng. Ia menghampiri si nona dan menanyakan sambil membungkuk.

“Dengar segala perintah Tio Kongcoe…,” kata nona Tio dengan suara lemah.

Dengan cepat perahu berangkat. Waktu Sam soe tiba di pesisir perahu itu sudah terpisah beberapa puluh tombak dari daratan.

Boe Kie segera merebahkan Tio Beng dan In Lee di pembaringan dan dibantu Siauw Ciauw, ia memeriksa luka mereka. Luka Tio Beng sendiri lebih dalam. Biarpun mengeluarkan darah, luka-luka itu tak membahayakan jiwa. Yang terluka berat adalah In Lee. Ketiga Kim hoa menancap dalam dadanya. Apa nona In bisa ditolong masih merupakan teka-teki? Boe Kie dan Siauw Ciauw menaruh obat dan membalutnya. In Lee terus pingsan sedangkan Tio Beng menangis dengan perlahan.

Sesudah kedua gadis itu diberi obat, Cia Soen berkata, “Can Siauw hiap, di luar dugaan, dalam usia tua Cia Soen masih bisa bersahabat dengan seorang ksatria yang begitu luhur budi pekertinya.”

Boe Kie tidak menjawab. Ia mengambil kursi dan menyilakan ayah angkatnya duduk. Sesudah itu ia berlutut, “Gie hoe!” katanya sambil menangis. “Anak Boe Kie tidak berbakti. Anak tidak bisa menyambut lebih dulu sehingga Gie hoe banyak menderita.”

Cia Soen terkesiap, “Kau…apa katamu?” tegasnya.

“Anak adalah Boe Kie,” jawabnya.

Tentu saja orang tua itu tak percaya, mulutnya ternganga.

Boe Kie berkata, “Intisari dari ilmu silat adalah memusatkan semangat….” Ia menghafal kouwkoar (teori) yang Cia Soen pernah ajarkan di pulau Peng hwee to.

Sesudah ia menghafal seratus lebih dengan rasa kaget bercampur girang orang tua itu mencekal kedua tangannya dan berkata dengan suara parau, “Apa…apa benar kau Boe Kie?”

Boe Kie bangkit dan memeluknya. Dengan ringkas ia menceritakan segala pengalamannya sejak ia berpisah dengan ayah angkatnya itu. Hanya satu hal yang tidak diceritakannya yaitu tentang kedudukannya sebagai Kauwcoe dari Beng-kauw. Kalau ia terangkan, orang tua itu pasti akan menjalankan penghormatan terhadapnya.

Cia Soen merasa seperti mimpi tapi sekarang ia percaya apa yang didengarnya. Selagi Boe Kie bercerita, berulang-ulang ia berkata, “Langit mempunyai mata! Langit mempunyai mata!….”

Baru selesai Boe Kie menuturkan pengalamannya, mendadak di buritan perahu terdengar teriakan beberapa orang anak buah, “Perahu musuh mengejar! O hoi! Perahu musuh mengejar!”

Buru-buru Boe Kie pergi ke buritan kapal. Benar saja ia melihat sebuah perahu besar dengan lima layar sedang mengejar dengan kecepatan luar biasa. Di antara kegelapan sang malam, ia tak bisa melihat badan perahu itu, tapi layarnya yang putih sangat menyolok mata. “Padamkan penerangan!” teriaknya. Ia mengambil mangkok teh juru mudi dan menimpuk lentera angina yang terpancang di puncak tiang layar.

“Trang!” lentera hancur, apinya padam dan perahu gelap gulita. Tapi biarpun begitu karena layar berwarna putih, perahu itu masih tetap tidak bisa menyembunyikan diri, saat layar-layar diturunkan, perahu musuh akan segera menyandak.

Boe Kie bingung, perahu musuh lebih ringan dan makin lama makin mendekati. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menunggu kedatangan musuh. Ia berharap di dek perahu yang sempit Sam soe tidak bisa bekerja sama sebaik di daratan. Cepat-cepat ia memindahkan Tio Beng dan In Lee ke kamar yang lebih aman, kemudian ia pergi ke geladak kapal dan mengambil tiga buah jangkar besar yang lalu ditaruh di kamar kedua gadis itu sebagai rintangan. Setelah itu ia menunggu musuh untuk melakukan pertempuran hidup mati.

Tiba-tiba terdengar suara “dung!” yang sangat hebat dan perahu bergoncang keras dan diikuti muncratnya air laut.

“Musuh menembak dengan meriam!” teriak anak buah di buritan perahu. Untung juga peluru yang ditembakkan jatuh ke air di samping perahu tersebut.

Selagi Boe Kie kebingungan, Tio Beng menghampirinya. Ia mendekat.

“Jangan takut,” bisik nona Tio. “Kita pun mempunyai meriam.”

Boe Kie tersadar. Dengan berlari-lari ia naik ke geladak dan memerintahkan anak buah perahu untuk segera menyingkirkan semua jala yang menutupi meriam. Dengan tergesa-gesa, mereka mengisi meriam dengan obat peledak dan peluru dan menyulut sumbunya.

“Dung!” peluru menyambar musuh. Hanya sayang, tembakan itu meleset dan peluru jatuh di antara kedua perahu, karena dalam rombongan anak buah perahu Goan, yang sebagian besar terdiri dari boesoe gedung Jie lam ong, tak terdapat meriam. Tapi biarpun begitu, karena melihat pihak Boe Kie juga memiliki meriam, perahu Persia itu tak berani terlalu mendekat. Beberapa saat kemudian, perahu musuh melepaskan tembakan dan peluru jatuh di kepala perahu yang segera saja terbakar.

Boe Kie segera memimpin sejumlah anak buah untuk memadamkan api. Tiba-tiba api berkobar-kobar di ruangan tingkat atas. Dengan kedua tangan menenteng ember air, buru-buru Boe Kie naik ke atas dan setelah menendang pintu lalu menyiram api yang telah mulai mengganas. Di antara asap, ia melihat sesosok tubuh wanita di atas pembaringan yang ketika didekati ternyata tidak lain adalah Cioe Cie Jiak yang pakaiannya sudah basah kuyup. Boe Kie terkesiap, ia melemperkan ember dan bertanya dengan suara gugup, “Cioe Kauwnio, apa kau terluka?”

Si nona menggelengkan kepalanya. Melihat pemuda itu ia kaget tak kepalang. Ketika tangannya bergerak terdengarlah suara gemerincing. Ternyata kaki dan tangannya dirantai oleh si nenek Kim hoa. Boe Kie segera turun ke bawah mengambil Ie thian kiam dan memutuskan rantai itu.

“Thio Kauwcoe,” kata nona setelah kaki tangannya terbebas, “Bagaimana kau bisa berada di sini?”

Sebelum Boe Kie menjawab, perahu berguncang keras karena tembakan sehingga si nona yang kaki tangannya masih kaku segera roboh menubruk Boe Kie. Pemuda itu segera membangunkannya dan dari sinar api yang masuk dari jendela ia melihat dadu dan titik-titik air kelihatan samara-samar membasahi pada paras yang pucat pasi sehingga muka cantik ayu itu seolah-olah sekuntum bunga Coei-sian yang kena embun.

Sesudah menentramkan hatinya, ia berkata, “Mari kita turun ke bawah.”

Selagi mereka berjalan keluar dari pintu ruang atas mendadak perahu itu berputar-putar sebab tembakan tadi telah menghancurkan kemudi di buritan perahu dan juru mudinya sendiri tenggelam di laut.

Pemimpin penembak meriam jadi bingung. Ia sendiri lalu mengisi obat peledak, dengan harapan bahwa dengan sekali tembak ia akan bisa menenggelamkan perahu musuh. Ia mengisi sekuat tenaga dan kemudian menyodok-nyodok obat peledak itu dengan sepasang toya besi supaya masuk sepadat-padatnya di dalam lubang. Sesudah merasa puas, ia mengambil obor dan menyulut sumbu. Hampir bersamaan terdengar suara “dunggg!” yang dahsyat luar biasa, diikuti melesatnya potongan-potongan baja. Meriam hancur dan semua anak buah penembak meriam menemui ajal mereka secara mengenaskan! Karena obat peledak yang diisi beberapa kali lipat lebih banyak dari takaran peluru maka peluru tidak bisa tertembak keluar dan obat peledak yang meledak telah menghancurkan meriam.

Karena ledakan itu Boe Kie dan Cie Jiak yang sedang berjalan di geladak perahu terlempar jauh dan disambar dengan hawa yang panas. Tanpa berpikir lagi Boe Kie meraih tambang layar dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya menangkap kaki Cie Jiak sehingga mereka tak jatuh ke air. Sesaat itu seluruh perahu sudah diliputi api dan asap dan mulai tenggelam dengan perlahan. Dengan hati berdebar-debar Boe Kie mengawasi sekitarnya untuk mencari jalan hidup. Mendadak terlihat sebuah perahu kecil, perahu penolong yang terikat di sisi perahu, “Cioe Kauwnio, loncatlah,” teriaknya.

Hampir bersamaan Siauw Ciauw yang mendukung In Lee dan Cia Soen yang menggendong Tio Beng muncul di geladak perahu. Mereka naik ke atas perahu lantaran perahu berlubang dan air sudah memenuhi bagian bawah perahu. Sesudah Cia Soen dan Siauw Ciauw duduk di perahu dengan In thiam kiam Boe Kie membabat tali pengikat dan perahu itu segera jatuh dan hinggap di permukaan air. Di lain detik, ia pun melompat ke perahu itu dan mengambil sepasang dayung dan lalu mendayungnya.

Ia mendayung dengan sekuat tenaga. Perahu yang sedang terbakar menerangi permukaan laut sampai pada jarak tertentu. Ia merasa bahwa perahu yang ditumpanginya harus cepat-cepat berada di luar sinar terang supaya tidak dilihat Sam soe yang tentu akan menduga bahwa semua orang mati terbakar dan tidak mencari lebih lanjut. Cia Soen mengerti maksud si anak dan ia bantu mendayung dengan sepotong papan. Perahu itu melaju bagaikan anak panah dan dalam sekejap dia sudah berada di luar lingkaran sinar terang.

Sementara itu di perahu meriam terjadi peledakan beruntun sebab terbakarnya obat peledak yang disimpan di dalam gudang. Perahu Sam soe tidak berani datang mendekat hanya mengamati dari kejauhan. Di antara boesoenya Tio Beng, terdapat orang-orang yang bisa berenang. Mereka menceburkan diri di air dan teriak-teriak minta tolong. Tapi sebaliknya dari ditolong, mereka dibunuh Sam soe dan orang-orangnya.

Cia Soen dan Boe Kie tidak berani mengaso. Di antara mereka sedikit pun tidak merasa jeri. Tapi di lautan dengan mereka di perahu kecil dan musuh berada di perahu meriam, dia pasti akan binasa kalau sampai ditemukan musuh. Jika ditembak biarpun tidak kena tepat, perahu kecil itu pasti akan karam kalau jatuh di tempat berdekatan. Untung juga Cia Soen dan Boe Kie memiliki tenaga dalam yang sangat kuat sehingga meskipun harus bekerja sangat keras selama setengah malam, mereka tidak merasa lelah.

Waktu fajar menyingsing, langit tertutup awan hitam dan di lautan muncul halimun tebal.

“Bagus!” kata Boe Kie dengan girang, “Kalau kita bisa kabur setengah hari lagi, musuh pasti tak akan bisa mencari kita.”

Tapi sesudah berada agak jauh dari bahaya mereka menghadapi penderitaan lain. Pakaian mereka basah dan mereka berada dalam musim dingin. Cia Soen dan Boe Kie yang Lweekangnya kuat masih tak apa. Tapi Cie Jiak dan Siauw Ciauw yang menggigil lebih-lebih kalau ditiup angin utara. Perahu kecil tak punya persediaan apapun juga dan mereka semua tidak berdaya, Cia Soen dan Boe Kie hanya bisa membuka pakaian luar mereka yang lalu digunakan untuk menyelimuti tubuh Tio Beng dan In Lee.

Di waktu lohor penderitaan bertambah hebat. Angin meniup keras dan hujan turun seperti di tuang. Perahu melaju ke selatan karena ditiup angin dan dayung sudah tiada gunanya. Cia Soen berempat membuka sepatu mereka untuk menyendok untuk menyendok dan membuang air hujan yang masuk di perahu.

Karena bertemu dengan anak angkatnya, biarpun menghadapi bahaya dan sangat menderita, Cia Soen sangat gembira dan di antara hujan angin ia terus berbicara dengan suara menggeledek sambil tertawa. Siauw Ciauw yang sifatnya berandalan juga turut bicara dengan setiap kali mengeluarkan suara tertawa nyaring. Hanya Cie Jiak yang terus membungkam. Setiap kali sinar matanya bentrok dengan sinar mata Boe Kie, ia berpaling ke arah lain.

“Boe Kie,” teriak Kim mo Say ong. “Dahulu ketika aku dan kedua orang tuamu mengarungi lautan, ditengah jalan kami diserang topan dan penderitaan itu lebih hebat dari sekarang. Belakangan kami menggunakan sebuah gunung es sebagai perahu dan makan daging beruang. Tapi waktu itu yang meniup adalah angin selatan dan kami ditiup sampai kutub utara. Apakah karena membenci Cia Soen, Loo thian ya (langit) ingin menggiring aku ke gedung Lam kek Sian ong (Dewa Kutub Selatan) supaya aku berdiam di situ dua puluh tahun lagi? Ha ha…Ha ha ha….”

Sesudah tertawa terbahak-bahak ia berkata, “Waktu itu kedua orang tuamu merupakan pasangan yang serasi tapi sekarang kau membawa empat orang wanita muda. Bagaimana kau bisa berbuat begitu? Ha ha ha ha ha….”

Paras muka nona Cioe berubah merah dan ia segera menundukkan kepala. Yang segera membuka suara adalah Siauw Ciauw. “Cia Loo-ya coe, aku hanya seorang pelayan yang melayani Kongcoe ya,” katanya dengan sikap wajar. “Aku tidak masuk hitungan.”

Tio Beng tersenyum. Ia terluka berat tapi ia tak tahan untuk tidak ikut bicara. “Cia Loo-ya coe,” katanya. “Kalau kau masih terus mengaco belo, sesudah sembuh aku akan menggaplok pipimu.”

Cia Soen tertawa nyaring. “Ah! Sungguh galak si nona!” katanya. Mendadak ia berhenti tertawa dan berkata pula dengan suara sungguh-sungguh. “Hm, semalam kau telah menyerang dengan tiga jurus nekat. Yang pertama Giok swee Koen kong dari Koen loen-pay. Yang kedua, Jin koei Tong touw. Yang…yang ketiga…Aku si tua, memang sangat tolol, aku tak dapat mendengar jurus yang ketiga itu.”

Nona Tio terkejut, ia tak pernah menduga bahwa meskipun matanya buta Kim mo Say ong bisa menebak kedua jurus itu secara tepat. “Yang ketiga Thian tee Tong sioe dari Boe tong-pay,” katanya. “Jurus ini rupanya belum lama digubah sehingga tidaklah heran kalau tak dikenal oleh Loo-ya coe.”

Kim mo Say ong menghela nafas, “Kau ingin menolong Boe Kie itu sangat baik, sangat mulia,” katanya dengan suara terharu. “Tapi mengapa kau berlaku nekat? Mengapa…Mengapa nekat?”

Tio Beng menjawab, “Karena dia…dia….” Untuk sejenak ia ragu tapi kemudian meneruskan juga perkataannya. “…karena…Siapa membunuh Thio Kongcoe, aku…aku tak mau hidup lagi!” Sehabis berkata begitu air matanya mengucur.

Cia Soen dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Tak seorangpun pernah menduga bahwa seorang gadis seperti Tio Beng akan membuka rahasia hatinya di hadapan orang banyak. Tapi mereka tak ingat bahwa nona Tio adalah seorang gadis Mongol yang jalan pikirannya dan cara-caranya berlainan dengan wanita Han.

Sebagai anak Mongol, ia berwatak polos. Kalau mencintai ia mencintai terang-terangan kalau membenci ia juga membenci terang-terangan. Apalagi keadaan waktu itu disaksikan banyak orang, tak seorangpun bisa mengatakan apa mereka akan hidup terus atau mati di dasar lautan.

Perkataan nona Tio sangat mengejutkan dan mengharukan Boe Kie. Ia tak sangka bahwa rasa cinta gadis itu terhadapnya sedemikian besar. Sambil mencekal tangannya erat-erat ia berbisik, “Biar bagaimanapun juga, lain kali kau tak boleh berkata begitu.”

Sesudah lidahnya terpeleset, nona Tio sebenarnya merasa menyesal. Ia merasa bahwa kata-kata itu kurang pantas dikeluarkan oleh seorang gadis, tapi begitu mendengar bisikan Boe Kie, ia kaget bercampur girang, malu bercampur bahagia yang sukar dilukiskan. Ia merasa bahwa segala pengorbanannya dan segala penderitaannya tidaklah sia-sia.

Perlahan-lahan hujan berhenti tapi halimun makin tebal. Mendadak seekor ikan yang beratnya kira-kira tiga puluh kati melompat masuk ke dalam perahu. Dengan sekali totok, lima jari tangan Cia Soen amblas di badan ikan. Semua orang girang, Siauw Ciauw mencabut pedang dan memotong daging ikan menjadi potongan-potongan kecil. Mereka sangat lapar dan sambil menahan nafas sebab bau amis, masing-masing lalu memakan sepotong daging. Cia Soen makan dengan bernafsu, selama berada di Peng hwee to ia pernah menelan macam-macam untuk menahan lapar.

Tak lama kemudian, ombak mereda. Sesudah mengganjal perut, semua orang memejamkan mata dan mengaso. Yang tertidur paling dulu adalah Siauw Ciauw. Tio Beng terus memegang tangan Boe Kie dan beberapa saat kemudian karena hatinya tenteram, iapun pulas dengan bibir tersungging senyuman. Sesudah melawan bahaya sehari dan semalam suntuk mereka semua capai dan lelah. Cie Jiak dan Siauw Ciauw tidak ikut bertempur tapi merekapun mengalami kekagetan yang tidak kecil.

Demikianlah laut yang tenang sehingga perahu itu merupakan ayunan yang berayun-ayun dengan perlahan, keenam penumpang itu tertidur semua.

Selang empat-lima jam, Cia Soen yang berusia lanjut sadar lebih dulu. Dengan kasih ia mendengar nafasnya kelima orang muda itu yang saling sahut dengan suara ombak. Nafas Cie Jiak perlahan dan panjang. Yang luar biasa adalah suara nafas Boe Kie, suara nafas itu seperti terputus seperti bersambung antara “ada” dan “tidak ada”.

Bukan main rasa kagumnya Cia Soen. “Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan manusia yang mempunyai Lweekang begitu tinggi,” katanya di dalam hati. Nafas Siauw Ciauw pun sangat aneh, sebentar cepat sebentar pelan. Itulah tanda bahwa si nona telah berlatih sesuatu yang mirip Lweekang yang sangat luar biasa. Alis Kim mo Say ong berkerut. Ia ingat sesuatu hal. “Heran!” pikirnya. “Apa dia….”

—–
Turut Berpartisipasi dalam Lomba “Rumah Mungil Yang Sehat“.

9 Comments »

  1. kok terpotong kpn lanjutan kisah ini

    Comment by yustina — 09/08/2010 @ 5:07 am

  2. Iya sy sdh 1 tahun tunggu lanjutannya

    Comment by budisr — 16/09/2010 @ 2:29 pm

  3. ceritanya lumayan,sayang cuma setengah

    Comment by retna — 06/11/2010 @ 10:37 am

  4. kok ngak sampai tamat, ayo dong dilanjutin…..thanks

    Comment by bombom — 31/03/2011 @ 3:37 am

  5. ini cerita silat yang paling luar biasa dibandingkan dengan cerita silat lainnya angkatan thn 60 an.
    Siauw Ciauw akan diangkat jadi Pangcoe Bengkau Persia karena ibunya Kim Hoa Popo ditangkap Samsu persia. Cie Jiak berhasil mendapatkan Kioe Im Cien Keng dari dalam golok To Liong To dengan mengadu pedang Ie Thian Kiam jadi masing2 patah dua sesuai pesan dari Biat Tjoat Soe Thay dan menjadi pemimpin Gobie Pay.
    Tio Beng akan menjadi pasangan Boe Kie dan Boe Kie menjadi pemimpin pemberontakan melawan Mongol. sedangkan Cia Soen menjadi pengikut Buddha dengan membuang semua ilmu silatnya setelah mengalahkan Seng Koen dengan cara mencolok mata Seng Koen dan menghancurkan semua ilmu silat Seng koen. Mohon dengan hormat agar 1 jilid terakhir diselesaikan, trima kasih.

    Comment by sonny — 16/04/2011 @ 5:22 am

  6. lanjutin dong kisahnya…. penasran nih….

    Comment by Rolly Pangkerego — 08/09/2011 @ 7:05 pm

  7. gw pernah baca cerita ini waktu gw sd… sayangnya ga ampe abis… pas gw dapet cerita ini seneng banget gw..
    eehh.. taunya gak ampe tamat… bisa dibayangi penasarannya gw… gan di sambung lgi dong critanya..

    Comment by ugal — 15/10/2011 @ 7:40 am

  8. BACA lanjutannya di:
    http://indozone.net/literatures/literature/11/

    Comment by Anonymous — 30/04/2012 @ 4:01 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: