Kumpulan Cerita Silat

17/04/2009

Kisah Membunuh Naga (57)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — Tags: — ceritasilat @ 12:37 pm

Kisah Membunuh Naga (57)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

Keterangan Tio Beng sangat beralasan tapi mengingat sikap dan suara Tan Yoe Liang yang wkt itu sangat bersungguh-sungguh, Boe Kie menyangsikan kebenaran penafsiran si nona.

“Baiklah,” kata pula nona Tio. “Sekarang aku ingin mengajukan lain pertanyaan. Waktu Tan Yoe Liang bicara dengan Cia Tayhiap, bagaimana sikap kedua tangan dan kedua kakinya?”

Boe Kie tertegun. Tak dapat ia menjawab pertanyaan tu. Waktu Tan Yoe Liang berbicara, ia hanya memperhatikan paras muka pemuda itu dan paras muka ayah angkatnya. Ia tidak memperdulikan tangan dan kaki Tan Yoe Liang. Ia melihat, tapi seperti juga tidak melihat.

Sekarang, dengan munculnya pertanyaan Tio Beng, di depan matanya terbayang kembali peristiwa itu, terbayang sikap dan gerakan Tan Yoe Liang selagi dia mengeluarkan kata-kata seorang ksatria.

Selang beberapa saat, barulah ia berkata. “Ya sekarang aku ingat. Tangan kanan Tan Yoe Liang terangkat sedikit, tangan kirinya dilintangkan di depan dada. Ha! Itulah pukulan Say coe pek touw (Anak singa menubruk kelinci) dari Boe tong pay. Kakinya…” Hm… ya! Kakinya memasang kuda-kuda dari pukulan Hang tee tauw sit (Tendangan menakluki siluman) Hang mo tee tauw sit adalah salah satu pukulan lihai dari Siauw Lim pay. Apakah ia hanya berlagak mengeluarkan kata-kata itu dan sebenarnya ia ingin membokong Gie Hoe? Tapi.. tapi tak bisa jadi…”

Tio Beng tertawa dingin. “Tio Kong coe, pengetahuanmu tentang hati manusia tinggi ilmu silatnya Tan Yoe Liang dalam, mana mampu dia membokong Cia Tayhiap. Dia seorang yang sangat pintar dan dia pasti tahu kemampuannya sendiri. Sekali lagi aku mau menanya. Andaikata tipu muslihatnya diketahui Cia Tayhiap yang tidak mau mengampuninya, siapakah yang akan ditendang olehnya dengan tendangan Hang mo tee sauw sit? Siapa yang akan diterkam dengan Say boe Pek tauw.”

Boe Kie bukan manusia tolol. Sebab ia seorang baik dan menganggap bahwa semua manusia sama mulianya seperti dia maka dia tidak bisa melihat kebusukan Tan Yoe Liang, tapi begitu disadarkan, ia segera dapat memecahkan teka teki itu dalam keseluruhannya. Ia merasa seolah olah diguyur dengan air es dan paras mukanya lantas saja berubah pucat. “Celaka…” ia mengeluh. “Sekarang aku mengerti… ia akan menendang The Tiangloo yang rebah di tanah dan menubruk In Kouwnio ke arah Cia Tayhiap dan berbareng menubruk serta mendorong sahabatmu In Kouwnio ke arah Cia Tayhiap juga. Dengan tipu itu masih terdapat kemungkinan untuk melarikan diri. Memang juga belum tentu ia berhasil, tapi kecuali itu, tidak ada lain jalan yang lebih baik. Andaikata aku berada dalam kedudukannya, akupun akan berbuat begitu. Sampai detik ini, aku belum dapat memikir jalan yang lebih baik. Ah!… bahwa dalam sekejap mata manusia itu sudah bisa mendapatkan tipu tersebut, merupakan bukti, bahwa dia benar-benar lihai.” Sehabis berkata begitu nona Tio menghela napas.

Boe Kie mendengari keterangan itu dengan hati berdebar-debar. Sedari kecil ia sudah mengalami banyak perbuatan manusia-sia busuk tapi manusia yang selihai Tan Yoe Liang, ia belum pernah menemui. Lewat beberapa saat barulah ia dapat membuka suara, “Tio Kouwnio dengan sekali melirik kau sudah bisa melihat tipu muslihatnya. Hal ini membuktikan bahwa kau lebih unggul daripada dia.”

“Apa kau menyindir aku.” tanya si nona dengan suara jengah. “Thio Kongcoe, jika kau kuatir akan kelihaian atau kejahatanku lebih baik kau menyingkir jauh-jauh.”

Boe Kie ketawa geli. “Tak usah” katanya. “Terhadap siasatmu aku masih bisa menjaga diri.”

“Apa benar?” tanya Tio Beng sambil tersenyum. “Apa benar kau mampu menjaga diri? Tapi mengapa sampai pada detik ini, kau masih belum tahu, siapa yang menaruh racun di belakang tanganmu.”

Boe Kie terkejut. Hampir berbareng ia merasa gatal-gatal pada lukanya. Buru-buru ia membuka balutan memeriksa lukanya dan mencium cium belakang tangannya. Ia mengendus bau harus campur manis.

“Celaka!” serunya. Ia tahu lukanya telah dilumas dengan kie hye siauw kie san, semacam racun yang merusak daging. Walaupun tidak berbahaya, racun itu memperhebat lukanya dan sesudah luka itu sembuh, tapak gigi si nona akan melekat terus pada belakang tangannya.

Buru-buru Boe Kie pergi ke buritan kapal dan mencuci lukanya dengan air bersih. Tio beng mengikuti sambil tertawa haha hihi dan coba membantu pemuda itu.

Dengan rasa mendongkol Boe Kie mendorong pundak si nakal. “Jangan dekat-cekat!” bentaknya. “Mengapa kau begitu jahat? Apa kau kira tak sakit.”

Racun itu sebenarnya mudah dikenali, tapi sebab dicampur dengan yan cie dan luka itu dibalut dengan sapu tangan yang wangi, maka Boe Kie tak mendusin bahwa dirinya diakali.

Sebaliknya dari gusar, Tio Beng tertawa berkakakan. “Kau benar-benar tak mengenal kebaikan orang” katanya. “Aku menggunakan itu sebab kuatir kau merasakan kesakitan yang terlalu berat.”

Boe Kie tak mau meladeni dan uring-uringan, ia turun ke bawah dan masuk kamarnya. Tio Beng mengikuti.

“Thio Kongcoe!” panggilnya.

Boe Kie tidak menyahut. Ia pura-pura tidur. Si nona memanggilnya beberapa kali, tapi ia tetap tidak menggubris.

“Ah, kalau tahu bakal begini tadi benar-benar menaruh racun dan mengambil jiwa anjingmu!” kata Tio Beng yang mulai hilang sabarnya.

Boe Kie membuka matanya. “Mengapa kau mengatakan aku tak mengenal kebaikan orang.” tanyanya. “Coba ceritakan.”

Nona Tio tertawa geli. “Bagaimana kalau keteranganku sangat beralasan dan kau menyetujui kebenarannya keteranganku itu?” tanyanya.

“Kau memang pintar bicara. Dalam mengadu lidah, aku tak bisa menandingi kau.”

“Ha ha! Sebelum aku membuka mulut, kau sudah mengakui, bahwa maksudku memang bagus sekali.”

“Fui! Dikolong langit mana ada maksud baik yang diperlihatkan secara begitu? Kau menggigit tanganku dank au tidak meminta maaf. Itu masih tak apa. Kau bahkan melabur racun. Aku tak suka menerima maksud baik yang semacam itu.”

“Hm… Thio Boe Kie, kini aku bertanya. Mana yang lebih hebat, apa gigitanmu, atau gigitan mu pada tangan Kouw nio?”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Itulah kejadian lama…. Perlu apa kau menyebut-nyebut lagi.” katanya.

“Biarpun telah lama, justru aku mau menanya. Jangan kau coba berkelat-kelit.”

“Andai kata benar gigitanmu lebih hebat, aku mempunyai alasan untuk berbuat begitu. Ia mencekal tanganku erat-erat. Ilmu silatku belum bisa menandinginya. Aku berontak, tapi tidak bisa meloloskan diri. Waktu itu, aku masih kanak-kanak dan dalam bingungku tanpa merasa aku telah menggigit tangannya. Tapi kau bukan kanak-kanak dan akupun tidak mencekal tanganmu untuk menyeret kau datang di Leng coa to.”

“Heran sekali. Dulu, In Kouwnio mencekal tanganmu untuk memaksa kau datang di Leng coa to, tapi kau menolak keras. Tapi mengapa kini kau datang d ipulau ini, tanpa diundang siapapun jua.”

Sekali lagi paras muka Boe Kie berubah merah. Ia tertawa dan menjawab. “Aku datang di sini sebab diperintah olehmu!”

Mendengar jawaban itu, paras muka si nona pun berubah merah, sedang hatinya senang sekali. Dengan menjawab begitu, Boe Kie seolah-olah mengatakan begini. “Waktu dia memaksa aku, aku menolak keras. Tapi diperintah olehmu, aku lantas saja menurut.”

Untuk beberapa saat, mereka saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata dan akhirnya masing-masing memalingkan muka dengan sikap jengah.

Sambil menundukkan kepala, Tio Beng kemudian berkata dengan suara perlahan.

“Baiklah! Aku akan menjelaskan secara jujur. Dahulu kau mengigit tangan In Kouw nio. Sesudah berselang begitu lama ia masih belum bisa melupakan kau. Didengar dari perkataannya, mungkin sekali seumur hidup ia tak akan melupakan kau. Sekarang akupun menggigit tanganmu. Aku menggigit tanganmu supaya… supaya.. seumur hidup, kau tidak melupakan aku.”

Jantung Boe Kie melonjak. Sekarang ia baru mengerti maksud si cantik yang sebenarnya. Mulutnya seolah-olah terkancing dan ia hanya mengawasi nona Tio dengan mata membelalak.

Sementara itu Tio Beng berkata pula.

“Dengan melihat tanda luka di tangan In Kouw nio, kutahu lukanya sangat dalam. Karena gigitanmu hebat, karena lukanya sangat dalam, maka peringatan In Kouwnio akan dirimu juga sangat mendalam, pikirku. Semula aku ingin mengigit keras-keras tanganmu, sama kerasnya seperti gigitanmu pada tangan In Kouwnio. Tapi aku merasa tidak tega. Di lain pihak apabila aku tidak menggigit keras-keras mungkin sekali kau akan segera melupakan aku. Sesudah menimbang-nimbang, aku segera mengambil jalan yang paling baik. Aku tidak mengigit hebat. Gigitanku hanya cukup untuk membuat sedikit luka dan pada luka itu aku melebur sedikit Kie hoe Siauw kie san, supaya tanda gigitanku tidak bisa menghilang lagi dari tanganmu.”

Boe Kie merasa geli dan tercampur terharu. Dengan memberi pengakuan kanak-kanak yang tolol kedengarannya si nona telah membuka hatinya dan menunjuk rasa cintanya yang sangat besar.

Ia menghela napas dan berkata, “Sekarang aku tidak menggusari kau lagi. Akulah yang tidak mengenal kebaikan orang. Kau memerlukan aku secara begitu. Sebenarnya tak perlu, sebab, bagaimanapun jua, aku tidak akan melupakan kau.”

Mendengar perkataan Boe Kie, pada mata Tio Beng lantas saja berkelebat sinar kenakalannya. Ia tertawa dan berkata, “Kau mengatakan, kau memperlakukan aku secara begitu. Apa maksudnya? Apakah aku memperlakukan kau secara baik atau tidak baik? Tio Kongcoe berulang kali aku melakukan perbuatan yang tidak baik terhadapmu dan belum pernah aku berbuat sesuatu yang baik terhadapmu.”

“Sudahlah,” katanya seraya tersenyum. “Aku akan merasa girang, jika mulai sekarang kau menjadi anak yang baik,” ia memegang tangan kiri si nona erat-erat dan kemudian mengangkat ke mulut sendiri.

“Akupun ingin menggigit tanganmu keras-keras, supaya seumur hidup kau tidak melupakan aku,” katanya sambil tertawa.

Girang dan malu memenuhi dada si nona. Ia memberontak dan melarikan diri. Tapi baru ia melangkah pintu, tiba-tiba ia kesamprok dengan Siauw Ciauw, “Celaka!” ia mengeluh. “Malu sungguh kalau pembicaraan didengar olehnya.” Dengan paras muka kemerah-merahan, ia naik ke geladak kapal dengan tindakan lebar.

Siauw Ciauw menghampiri Boe Kie dan berkata, “Tio Kongcoe, tadi ku lihat Kim hoa popo dan nona muka jelek itu masing-masing menggendong selembar karung besar. Apa maksud mereka?”

Sehabis bersenda gurau dengan Tio Beng, Boe Kie merasa jengah dan untuk sejenak, ia tidak bisa bicara.

“Apakah mereka menuju ke sebuah gubuh di atas gunung yang terletak di sebelah utara pulau ini.” tanyanya kemudian.

“Benar,” jawab Siauw Ciauw. “Sambil berjalan mereka bertengkar dan didengar dari suaranya Kim hoa popo sedang bergusar.”

Boe Kie mengangguk. “Biarlah sebentar kita berdamai,” katanya. “Sebaiknya kita menyelidiki maksud mereka.”

Sehabis berkata begitu, ia segera naik keatas dan pergi ke buritan kapal. Jauh-jauh ia melihat Tio Beng yang sedang berdiri termenung di kepala kapal. Ia mengawasi si nona dengan pikiran bergelombang seperti turun naiknya ombak yang memukul badan kapal. Lama ia berdiri di situ. Sesudah sang surya menyelam kebarat dan pulau Leng Coa to diliputi kegelapan, barulah ia turun ke bawah.

Sesudah makan malam, Boe Kie berkata kepada Tio Beng dan Siauw Ciauw. “Aku ingin menengok Gie hoe. Kalian tunggu saja di kapal.”

“Jangan pergi sekarang,” kata Tio Beng. “Tunggu sejam lagi.”

Boe Kie menganggukkan kepala. Karena memikiri ayah angkatnya ia merasa jalannya sang waktu lambat sekali. Sesudah berselang kurang lebih satu jam ia berbangkit dan sambil tersenyum ia menghampiri pintu.

“Tunggu!” kata Tio Beng sambil membuka tali Ie Thian kiam dari pinggangnya.

“Tio Kongcoe, bawalah pedang ini unutk menjaga diri.”

Boe Kie terkejut. “Kau lebih memerlukan senjata itu untuk menjaga diri,” katanya.

“Tidak! Aku sangat berkuatir akan kepergianmu ini.”

“Mengapa berkuatir.”

“Entahlah. Kim hoa popo sukar ditebak maksudnya. Tan Yoe Liang banyak tipu muslihat. Di samping itu ayah angkatmu juga belum tentu percaya, bahwa kau ada si anak Boe Kie. Hai!… pulau ini dinamakan Leng coa (ular sakti). Mungkin sekali di pulau ini terdapat mahluk beracun yang sangat lihai. Apapula..” ia tidak meneruskan perkataannya.

“Apapula apa.”

Tio beng tidak menjawab. Sambil tertawa dengan muka bersemu dadu, ia mengangkat sebelah tangannya ke mulut sendiri yang dibuka seperti orang mau menggigit. Bie Kie tahu, bahwa yang dimaksud nona Tio adalah In Lee saudari sepupunya. Ia tersenyum dan lalu berjalan pergi.

“Sambutlah!” teriak Tio Beng seraya melontarkan Ie Thian Kiam.

Mau tak mau Boe Kie menyambuti. Jantung relaannya itu, sekali lagi Tio Beng menunjuk rasa cintanya yang sangat besar.

Sesudah menyisipkan senjata mustika itu di punggungnya, dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan Boe Kie berlari lari ke arah gunung di sebelah utara Leng coa to. Untuk menghindarkan diri dari serangan binatang beracun, ia hanya menginjak batu-batu gunung.

Kira-kira semakanan nasi, ia sudah tiba di kaki puncak. Ia mengadah dan sayup-sayup melihat gubuk ayah angkatnya yang diliputi kegelapan.

“Lampu sudah dipadamkan, apa Gie hoe sudah tidur?” tanyanya di dalam hati.

Di lain saat ia ingat, bahwa ayah angkatnya tidak bisa melihat dan sama sekali tidak memerlukan penerangan.

Mendadak di lereng gunung sebelah kiri lapat-lapat ia mendengar suara manusia. Dengan merangkak ia maju untuk mencari suara itu yang tiba-tiba menghilang pula. Secara kebetulan, angin dari kesempatan itu, ia berlari-lari ke arah suara tadi. Sebelum angin berhenti, dalam jarak empat limat tombak, ia sudah mendengar suara seorang yang berbicara sangat perlahan.

“Mengapa kau tidak lantas bekerja? Mengapa kau main lambat-lambatan?” Itulah suara Kim hoa popo.

“Popo, dengan berbuat begini kan berdosa terhadap seorang sahabat,” kata seorang wanita yang bukan lain daripada In Lee. “Selama puluhan tahun Cia tayhiap bersahabat dengan popo, maka dari peng hwee to ia telah datang ke sini.”

“Dia percaya aku? Jangan kau omong yang gila-gila! Kalau benar dia percaya mengapa dia tak sudi meminjami tio liong to? Pulangnya ke tiong goan adalah untuk mencari anak angkatnya. Ada sangkut paut apakah dengan diriku?”

Boe Kie mengerti, bahwa nenek itu sedang mengatur tipu untuk mencelakai ayah angkatnya guna merampas To liong to. Dengan hati-hati ia maju lagi beberapa tindak dan di antara kegelapan, ia melihat badan si nenek. Tiba-tiba ia mendengar suara “tring” seperti logam beradu dengan batu. Lewat beberapa saat, suara itu terulang pula.

Ia merasa sangat heran tapi ia tidak berani maju terlebih jauh.

“Popo,” demikian tedengar suara In Lee. “Jika kau mau goloknya secara terang-terangan, seperti caranya seorang gagah. Nama Kim Hoa dan Gin hiap dari Leng coato pernah mengantarkan dunia Kang ouw kalau perbuatan popo sampai tersiar di luaran bukanlah popo akan ditertawai oleh segenap orang gagah? Biarpun popo dapat merampas To Liong To dan mengalahkan murid Go Bie Pay muka popo tak menjadi terlebih terang”

Bukan main gusarnya si nenek, “Budak kecil!” bentaknya. “Siapa yang sudah menolong jiwamu dari bawah telapak tangan ayahmu? Sekarang kau sudah besar dan kau tak suka mendengar lagi perkataan. Cia Soen bukan sanakmu. Mengapa kau coba melindungi dia secara begitu mati-matian? Jawab! Jawab pertanyaan popo!” bergusar ia bicara dengan suara sangat perlahan seperti juga ia kuatir perkataannya akan didengar oleh Cia Soen yang berada di atas pundak.

In Lee menghela napas. Ia melontarkan karung yang dipegangnya ketanah dan jatuhnya karung disertain suara gemerincing, sedang ia sendiri mundur beberapa tindak.

“Oh, begitu.” bentak pula si nenek. “Ibarat burung sekarang bulumu sudah tumbuh semua dan kau ingin terbang sendiri. Bukankah begitu?”

Di antara kegelapan Boe Kie melihat sinar mata si nenek yang dingin dan berkeredepan.

“Popo” kata In Lee dengan suara sedih, “Aku takkan melupakan budimu yang sangat besar. Popo sudah menolong jiwaku dan mengajar ilmu silat kepadaku. Akan tetapi Cia Tayhiap adalah ayah angkatnya…”

Nenek Kim Hoa tertawa getir, “Aku tak nyana, bahwa di dalam dunia ada manusia yang begitu tolol seperti kau” katanya. “Bukankah dengan kupingmu sendiri kau sudah mendenagr pengakuan Boe Liat dan Boe Ceng Eng, bahwa bocah she Thio itu jatuh ke dalam jurang yang dalamnya berlaksa tombak di wilayah she hek? Pada waktu ini tulang-tulangnya mungkin sudah jadi tanah. Dan kau masih memikiri dia!”

“Tapi popo entah mengapa aku tetap tidak bisa melupakan dia,” kata si nona. “Mungkin sekali… inilah apa yang pernah dikatakan popo tentang hutang pada penitisan yang lampau…”

Si nenek menghela napas dan paras mukanya jadi terlebih sabar. “Sudahlah! Hapuskan bocah itu dari pikiranmu!” katanya dengan membujuk. “Dia sekarang sudah mati. Andaikata kau dan dia sudah jadi suami istri, kaupun tak bisa berbuat apapun jua. Hm… baik juga dia mati siang-siang. Kalau dia belum mati dan sekarang dia melihat mukamu apakah kau akan jatuh cinta kepadamu? Untung dia sudah mampus. Kalau tidak kau harus menyaksikan dia bercinta-cintaan dan menikah dengan wanita lain. Apabila terjadi kejadian itu bukankah kau akan lebih menderita daripada sekarang?”

In Lee tidak menjawab. Ia menundukkan kepala dan air mata meleleh turun di kedua pipinya.

“Kita tak usah menyebut wanita lain,” kata pula si nenek. “Lihat saja Cioe Kouwnio yang ditawan kita. Dia cantik dan ayu bagikan bunga. Kalau she Thio itu masih hidup dan melihat nona Cioe dia pasti akan jatuh cinta. Dan kau? Apa yang akan diperbuat olehmu? Apa kau akan membunuh Cioe Kouwnio atau akan membunuh bocah she Thio itu? Huh! Huh! … Jika kau tak melatih diri dalam Ciat hoe chioe kau akan menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Tapi sekarang… segala apa sudah kasep.”

“Benar…” kata In Lee dengan suara sedih. “Orangnya sudah mati, sedang mukaku sudah rusak. Tak guna bicara panjang-panjang lagi. Tapi Cia Tayhiap adalah ayah angkatnya. Popo, aku hanya memohon belas kasihanmu dalam hal ini. Mengenai lain urusan, aku berjanji akan menaati segala perintahmu.” Sehabis berkata begitu, ia berlutut dan menangis sedusedan sambil memanggut-manggutkan kepalanya.

Dalam pelayaran ke Peng Hwee to untuk mengajak Cia Soen pulang ke Tiong goan, Kim hoa popo dan In Lee telah menggunakan waktu sekarang lebih satu tahun. Belakangan, setelah masuk ke dalam dunia Kang Ouw, mereka tidak pernah berhubungan dengan tokoh Rimba Persilatan. Itulah sebabnya mengapa sampai sekurang mereka belum tahu bahwa Boe Kie telah menjadi Kauwcoe dari Beng Kauw.

Sesudah memikir beberapa saat, nenek Kim hoa berkata, “Baik kau bangunlah!”

“Terima kasih popo!” kata si nona dengan girang.

“Aku hanya meluluskan permohonanmu untuk tidak mengambil jiwanya. Tapi tekadku untuk merampas To Liong to tidak dapat diubah lagi…”

“Tapi popo…”

“Jangan rewel! Jangan sampai darahku meluap!” Sehabis membentak, si nenek mengayun tangannya. “Cring!” Demikian terdengar suara beradunya logam daengan batu. Sambil maju dengan perlahan, ia mengayun tangannya berulang-ulang dan setiap ayun tangan di iring dengan suara “cring”. In Lee sendiri berduduk di batu seraya menangis dengan perlahan.

Melihat kecintaan nona itu terhadap dirinya, Boe Kie merasa sangat terharu dan berterima kasih.

Beberapa lama kemudian, dari jarak belasan tombak, si nenek membentak, “Bawa kemari!”

Mau tak mau In Lee berbangkit dan menjemput karungnya. Dengan menenteng karung itu, ia menghampiri si nenek.

Boe Kie merangkak maju beberapa tindak. Tiba-tiba ia bergidik ia merasa punggungnya diguyur dengan air es. Mengapa? Karena di batu-batu gunung dalam jarak dua tiga kaki, tertancap sebatang jarum baja yang panjangnya kira-kira delapan coen dengan tajamnya mendongak ke atas.

Ah! Nenek Kim hoa benar-benar jahat! Sebab kuatir tidak bisa menjatuhkan ayah angkatnya, dia memasang “barisan jarum”. Rupa-rupanya Kim Hoa popo menganggap bahwa ia juga menggunakan senjata rahasia, ia belum tentu bisa berhasil. Sebab Kim mo Say ong bisa berkelit dengan mendengar sambaran angin.

Boe Kie seorang manusia yang sangat sabar. Tapi sekarang darahnya meluap. Sebisa-bisa ia mencekam hawa amarahnya karena ia tahu bahwa dengan mengumbar napsu ia bisa merusak urusan besar. Semula ia ingin segera mencabut jarum itu dan melocoti topeng si nenek, tapi ia segera membatalkan niatnya karena mendapat lain pikiran.

“Nenek jahat itu memanggil Gie hoe dengan istilah Cia Hiantee. Dahulu mereka tentu mempunyai perhubungan yang lebih erat. Sekarang kutunggu sampai ia bertengkar dengan Gie hoe dan pada saat yang tepat, aku membuka topengnya. Hari ini, langit menaruh belas kasihan sehingga secara kebetulan aku berada di tempat ini. Gie Hoe pasti tidak akan mengalami bahaya apapun jua.”

Sesudah mengambil keputusan, dengan pikiran lebih tenang, ia segera duduk di atas sebuah batu.

Sekonyong-konyong angin meniup dan di antara suara angin terdapat lain suara seperti jatuhnya selembar daun. Tapi Boe Kie yang berkuping tajam sudah tahu bahwa suara itu adalah Tan Yoe Liang yang tangannya memegang sebatang golok bengkok. Golok itu sangat tipis dan di bungkus dengan selembar kain untuk menutup sinarnya. Melihat lagak orang yang seperti maling, diam-diam Boe Kie memuji, tepatnya tebakan Boe Kie. “Sesungguhnya dia bukan manusia baik-baik, katanya di dalam hati.

Mendadak terdengar seruan Kim Hoa Popo, “Cia Hiantee, penjahat anjing yang tak mengenal mampus datang menyatroni lagi!”

Boe Kie terkejut. Nenek Kim Hoa sungguh tidak boleh dibuat gegabah. “Apa dia juga sudah tahu kedatanganku?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia melihat Tan Yoe Liang sendiri sudah merebahkan diri di rumput, tanpa berani bergerak. Dengan sangat hati-hati ia maju lagi beberapa tombak. Ia ingin berada terlebih dekat dengan ayah angkatnya untuk merintangi setiap bokongan dari si nenek.

Di lain saat orang yang bertubuh tinggi besar keluar dari gubuk. Orang itu adalah Cia Soen. Ia berdiri tegak tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Cia hiantee, kau selalu bercuriga terhadap sahabat lama, tapi menaruh kepercayaan besar terhadap orang luar,” kata Kim Hoa popo. “Tadi siang kau melepaskan Tan Yoe Liang dan sekarang dia datang lagi.”

“Tombak yang terang gampang dikelit, anak panah gelap sukar dijaga,” jawabnya. “Selama hidupnya Cia Soen paling sering menderita karena perbuatan orang sendiri. Kalau Tan Yoe Liang mau mencari aku, biarlah dia mencari aku.”

“Cia Hiantee, perlu apa kau meladeni manusia rendah itu.” kata si nenek. “Tadi siang waktu kau mengampuni jiwanya, apa kau tahu sikap kai dan tangannya? Hm… kedua tangannya bersiap dengan pulukan Say coe Pek Tauw sie kakinya memasang kuda-kuda Heng mo Tee Tauw sit dari Siauw lim pay. Ha ha … ha ha…” suaranya tertawa yang menyerupai jeritan burung hantu sangat menyeramkan.

Cia Soen kaget. Ia tahu bahwa Kim Hoa popo tidak berdusta. Karena tidak bisa melihat ia sudah bisa diakali.

“Cia Soen sudah sering dihina orang,” katanya dengan suara tawar. “Dalam dunia Kang Ouw, jumlah manusia rendah seperti dia tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Membunuh atau tidak membunuh dia tidak menjadi soal. Han Hoe jin, kau adalah seorang sahabat lama, waktu itu, mengapa kau tidak memberitahukan aku? Mengapa baru sekarang kau mengatakan begitu? Apa maksudmu.”

Sehabis bertanya begitu, tiba-tiba badannya melesat dan dalam gerakan yang cepat luar biasa, ia sudah berada di hadapan Tan Yoe Liang.

Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya ia merampas golok bengkok, sedang tangan kanannya memberi tiga gaplokan beruntun pada pipi Tan Yoe Liang. Sesudah itu sambil mencengkeram leher pemuda itu, ia membentak, “Binatang! Aku bisa mengambil jiwamu seperti mengambil jiwa ayam, tapi aku sudah meluluskan bahwa sepuluh tahun kemudian, kau boleh datang lagi untuk mencari diriku. Di lain kali, jika kita bertemu pula, antara kira berdua hanya terbuka jalan mati atau hidup.” Ia mengangkat tubuh Tan Yoe Liang dan melontarkannya jauh-jauh.

Apa mau, pemuda itu melayang jatuh ke arah “barisan jarum”. Si nenek kaget. Kalau Tan Yoe Liang jatuh di atas jarum, rahasianya akan terbuka dan capai lelahnya akan tersia-sia. Secepat kilat ia melompat dan menotok pingang pemuda itu dengan tongkatnya, sehingga tubuh yang hampir ambruk di tanah terpental lagi beberapa tombak jauhnya.

“Pergi!” bentaknya. “Kalau kau berani menginjak lagi pulau Leng coa to, aku akan mengambil jiwanya seratus murid Kay pang, Kim hoa popo tidak pernah omong kosong. Sekarang aku hanya menghadiahkan kau dengan sekuntum bunga emas.”

Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan sekuntum bunga emas (kim hoa) mampir tepat pada jalan darah dipipi Tan Yoe Liang sehingga untuk sementara waktu, dia tidak dapat berbicara timpukan si nenek itu adalah untuk menjaga kalau-kalau Tan Yoe Liang membuka rahasianya. Di lain pihak, pemuda itu sendiri lalu kabur sekeras-kerasnya.

Karena menyerang Tan Yoe Liang, sekarang Cia Soen hanya terpisah beberapa tombak dari ‘barisan jarum’ dan Boe Kie berada di sebelah belakangnya. Dengan memiliki lweekang yang beberapa kali lipat lebih tinggi daripada Tan Yoe Liang, Boe Kie dapat menahan pernapasannya begitu rupa, sehingga biarpun dia berada sangat dekat, Kim hoa popo dan Cia Soen masih belum mengetahui.

“Cia hiantee, kau sungguh lihai,” memuji si nenek. “Kupingmu dapat menggantikan mata dan kegagahanmu masih belum berkurang. Menurut pendapatku kau masih bisa malang-melintang dalam dunia Kang Ouw sedikitnya duapuluh tahun lagi.”

“Hm, tapi aku tak bisa mendengar, Say Coe Pek Touw atau Hang Mo Tee Touw Sit Han Hoe Jin, aku tidak mengharap banyak. Asal saja aku bisa tahu di mana adanya Boe Kie atau mendapat kabar tentang keadaannya, biarpun mati, aku akan mati dengan mata meram. Hutang darah Cia Soen berat bagaikan gunung. Ia pantas mati dengan menggenaskan.. huh huh… janganlah bicara lagi dengan malang-melintang dalam dunia Kangouw.”

Si nenek tertawa, “Cia Hian tee,” katanya. “Bagi Hoe kauw Hoat ong dari Beng Kauw, membunuh beberapa orang tak menjadi soal. Cia Hiantee, pinjamkanlah To Liong to kepadaku.”

Cia Soen tidak menyahut.

“Cia Hiantee,” kata pula si nenek, “tempat ini telah diketahui musuh dan kau tak bisa berdiam lebih lama lagi. Aku akan mencari tempat lain yang lebih aman dan akan membawamu ke situ untuk berdiam beberapa bulan. Serahkanlah To Lion To kepadaku. Setelah merobohkan Go bie Pay, aku akan mencari Tio Kongcu dengan seantero tenagaku.”

Tapi Kim mo say ong tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Cia Hiantee, apa kau masih ingat kata-kata soe tay hoat ong, Cie peh kim ceng? Dahulu di bawah pimpinan Yo Kauwcoe Eng ong, In Hian tee, Hong Ong, Wie Hiantee ditambah lagi dengan kau dan aku berdua, Benkauw telah malan- melintang di kolong langit tanpa menemui tandingan. Sekarang biarpun badan kita sudah tua. Hati kita masih gagah seperti dahulu. Cia Hiantee apakah kau tega membiarkan Cie San Lao, cie cie mu dihina orang?” (Soe tay hoat ong Cie peh kim ceng, Empat hoe hauw Hoat ong, yaitu Cie san liong on. Peh bie Eng ong, Kim mo say ong dan Ceng Ek Hok on!)

Boe Kie terkesiap, “Ah! Apa Kim hoa popo Cie San Lion ong.” tanyanya di dalam hati.

“Sudahlah!” kata Cia Soen dengan suara tawar. “Itulah urusan dahulu. Perlu apa disebut-sebut lagi? Sudah tua! … kita sekarang sudah tua.”

“Cia hiantee, cie cie mu belum lamur. Apa aku tak bisa melihat, bahwa selama dua puluh tahun kepandaianmu banyak bertambah? Perlu apa kau merendahkan diri? Kita hidup tidak terlalu lama lagi. Menurut pendapatku, sementara Soe Tay hoat ong belum mati, kita berempat haruslah bergandengan tangan pula dan melakukan sesuatu yang lebih hebat dan menggemparkan di dalam dunia.”

Cia Soen menghela napas, “In jieko dan Wie hantee belum tentu masih hidup,” katanya. “Apa pula Wie Han tee yang di dalam badannya mengeram racun dingin. Mungkin sekali ia sekarang sudah tidak berada di dalam dunia lagi.”

“Kalau salah, dengan sejujurnya aku memberitahukan bahwa di sini waktu Peh bie Eng ong dan Ceng ek Hok Ong berada di Kong Beng Teng.”

“Di Kong Beng Teng? Perlu apa mereka datang di Kong Beng Teng?”

“A lee telah melihat mereka dengan mata sendiri. A lee adalah cucu kandung dari In Hiantee. Ia dimarahi oleh ayahnya dan ayahnya mau membunuh dia, pertama kali aku yang menolongnya. Kedua kali ia ditolong Wie Hiantee yang membawanya ke Kong Beng Teng. Tapi ditengah jalan diam-diam aku merampasnya. A lee coba kau ceritakan kepada Cia Kong-kong cara bagaimana enam partai besar coba menyerang Kong beng teg?”

Dengan ringkas Alee segera memutarkan apa yang diketahui olehnya. Tapi karena sebelum tiba di Kong Beng Teng ia sudah ditemukan dan dibawa pergi oleh Kim hoa popo, maka ia tidak tahu kejadian-kejadian di puncak gunung itu.

Makin lama mendengar, Cia Soen jadi bingung, “Habis bagaimana? Habis bagaimana?” Ia bertanya tak henti-hentinya. Akhirnya ia teriak dengan penuh kegusaran. “Han hoe jin! Karena berebut kedudukan Kauw Coe kau tidak akur dengan saudara-saudara kita. Tapi pada waktu agama kita menghadapi bahaya, bagaimana kau tega untuk berdiri dengan berpeluk tangan? Lihatlah In Jie ko Wie hiantee, Ngoi sian jin dan Ngo hen kie! Bukankah mereka semua datang di Kong Beng Teng untuk membantu?”

“Tanpa To Liong to, aku hanya pecandu Biat Coat Loonie. Biapun datang di Kong Beng Teng, aku tak ada muka untuk bertempur melawan dia. Apa pula waktu aku kebetulan mendengar tempat sembunyianmu. Dengan tergesa-gesa aku serga berlayar ke Peng hwee to.”

“Bagaimana kau tahu tempatku? Apakah orang Boe tong yang memberitahukan kepadamu.”

“Bukan!” orang Boe tong tak tahu tempatmu.

“Waktu didesak Coei San duami istri lebih suka membunuh diri dari pada membuka rahasia. Orang Boe tong tak tahu tempat sembunyianmu. Baiklah, hari ini aku akan bicara terang-terangan. Di See hek aku bertemu dengan seorang yang bernama Boe Liat. Secara kebetulan kau mendengar pembicaraannya, dengan anak perempuan. Aku segera membekuk dia. Aku menyiksa dia dan sebab tak tahan siksaan dia membuka rahasia.”

Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen bertanya, “Bukankah orang she Boe itu pernah bertemu dengan anak Boe Kie. Hm.. dia tentu menipu anakku dan mengorek rahasiaku dari mulutnya.”

Bukan main rasa malu Boe Kie. Ia ingat cara bagimana ia sudah ditipu Coe Tiang leng dan Coe Kioe Tin sehingga ia membuka rahasia. Kalau lantaran itu ayah angkatnya benar-benar jadi celaka, biarpun mati berlaksa kali, ia tak bisa menebus dosa.

“Serangan enam partai terhadap Beng Kauw bukan urusan kecil,” kata pula Cia Soen. “Bagaimana sebenarnya nasib kita? Mengapa kau tidak memberitahukan hal itu kepadaku, waktu kita bertemu di Peng hwee to? Kau sudah pergi ke Tiong goan lagi dan aku percaya bahwa kau sudah mendapat warta yang lebih jelas.”

“Apa faedahnya jika aku beritahukan kau kejadian itu pada waktu aku datang di Peng Hwee to? Paling banyak kau mengemel panjang pendek. Mati hidupnya Beng Kau tak ada sangkut pautnya lagi dengan Kim hoa popo. Kau rupa-rupanya sudah lupa kejadian di Kong Beng Teng. Waktu Kong Beng Co soe dan Kong Beng Yoe soe mengepung aku. Tapi si nenek masih belum melupakan kejadian itu.”

“Hait….. Ganjelan pribadi adalah soal kecil, melindungi agama kita adalah soal besar. Han hoejin dadamu sempit sekali.”

“Bagus!” bentak si nenek dengan gusar. “Kau laki-laki gagah aku perempuan berpemandangan sempit! Apa kau tidak tahu, bahwa aku sudah untuk memutuskan hubungan dengan Beng Kauw? Kalau bukan begitu cara bagaimana Ouw Goe bisa memperlakukan aku sebagai orang luar? Dia menuntut supaya aku bersumpah untuk kembali kepada Beng Kauw dan hanyalah jika aku memenuhi tuntutannya barulah ia mengobati luka keracunan dari Gin yan sianseng. Cia hian tee, sekarang aku berterus-terang. Akulah yang membunuh Tiap kok Ie sien Ouw Ceng Goe. Cie san Liong ong sudah melanggar peraturan Beng Kauw yang paling penting. Mana bisa aku berhubung lagi dengan orang Beng Kauw?”

“Cia Song menggeleng-gelengkan kepalanya. “Han hoe jin, aku mengerti maksudmu yang sebenarnya,” katanya. “Dengan meminjam To liong to, di mulut kau mengatakan untuk melawan Go bie pay, tapi dihati, kau sebenarnya ingin menggunakan golok itu untuk menggempur Yo Siauw dan Hoan Yauw. Tidak! Aku takkan meminjamkan golok ini.”

Kim hoa popo batuk-batuk, “Cia hiantee, antara kita berdua, siapa yang berkepandaian tinggi?” tanyanya.

“Keempat hoat ong masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri”.

“Apa sesudah matamu buta, kau masih berani bertanding dengan aku?”

“Kau mau coba merampas golokku dengan kekerasan, bukan? Dengan mempunyai To Liong to biarpun buta, Cia Soen masih bisa meladeni kau.”

Mendadak ia mendongak dan mengeluarkan siulan nyaring. “Han Hoe jin!” bentaknya dengan gusar. “Dua puluh tahun Giok Bin Hwee Kauw mengawani aku di Peng Hwe to. Mengapa kau membunuh dia dengan racun? Aku selalu menahan sabar dan tidak menegur kau, apa kau kira aku tidak tahu?”

(Giok bin Hwee kauw, kera bulu merah, muka putih seperti batu giok).

Boe Kie terkesiap. Kera itu pernah menolong kedua orang tuanya. Di waktu kecil, binatang itu adalah kawan mainnya satu-satunya. Mendengar kebinasaan binatang itu, ia seolah-olah mendengar meninggalnya seorang sahabat karib. Ia berduka tercampur gusar.

Si nenek tertawa dingin. “Aku benci kera kecil itu,” katanya. “Saban kali bertemu dia selalu mengawasi aku dengan sorot mata beringas. Gerakannya sangat cepat dan kalau aku tidak selalu berwaspada, bisa-bisa aku mampus dalam cakarnya. Aku merendam beberapa buah tho di dalam air racun. Kalau dia benar sakti, dia tentu tahu apa buah itu beracun atau tidak, pikirku. Tapi kera tetap kera. Nama besarnya hanya nama kosong. Dia gegares habis beberapa buah tho itu dan bahkan dia menyoja-yoja, mengucapkan terima kasih kepadaku.”

Boe Kie meluap darahnya. Hampir-hampir ia menerjang. Sebisa-bisa ia menahan sabar karena mengingat bahwa biar bagaimanapun jua, si nenek adalah kepala dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong. Untuk mempertahankan ‘gie-khie’ ia harus berdaya untuk menaklukkan nenek yang gagah itu.

Cia Soen menarik napas dalam-dalam dan maju setindak. Dengan sikap angker, kedua biji matanya yang sudah tidak dapat melihat lagi menatap wajah nenek Kim Hoa. In Lee keder dan mundur beberapa tindak. Di lain pihak, Kim hoa popo mencekal tongkatnya erat-erat dan mengawasi Cia Soen dengan waspada.

Suasana tegang luar biasa, ibarat gendewa yang sudah terpentang. Di antara tiupan angin malam yang membangunkan bulu roma, kedua lawan itu saling berhadapan dalam jarang kurang lebih setombak. Lama mereka berdiri, masing-masing sungkan untuk bergerak lebih dahulu.

Tiba-tiba Cia Soen berkata, “Han hoe jin, hari ini kau mendesak aku, sehingga aku tidak bisa turun tangan. Hai! Kejadian ini melanggar sumpah saudara dari keempat Hoe kauw hoat ong. di dalam hati, Cia Soen sangat menderita.”

“Cia Hiantee, hatimu memang lembek. Waktu baru mendengar, aku tidak percaya bahwa kau sudah membunuh begitu banyak jago-jago Rimba Persilatan.”

Cia Soen menghela napas, “Aku kalap karena terbinasanya keluargaku – ayah, ibu, istri dan anak,” katanya. “Tapi kejadian yang membuat aku paling menyesal ialah, bahwa aku sudah membinasakan Kongkian Seng ceng dengan pukulan Cit siang koen.”

Si nenek tekejut. “Apa benar-benar kau membinasakan Kong kian Seng Ceng?” ia menegas. “Lagi kapan kau belajar ilmu yang hebat itu.” Mendengar matinya Kong kian di dalam tangan Kim mo say ong, hatinya keder.

“Kau tak usah takut. Waktu dipukul, Kong kian Seng ceng tidak membalas. Dengan menggunakan ilmu Budha yang tiada batasnya, beliau berusaha untuk menuntun aku kejalan yang benar. Hai! … aku membinasakannya dengan tiga belas pukulan…”

“Kini aku percaya. Kepandaianku tak bisa menandingi Kong Kian Seng Ceng. Kau membinasakannya dengan tigabelas pukulan. Mungkin sekali, dengan sembilan atau sepuluh tinju, kau sudah bisa membinasakan aku.”

Cia Soen mundur setindak. Mendadak suaranya berubah lunak. “Han Hoe jin,” katanya, “Dahulu, waktu masih berada di Kong Beng Teng, Han Taoko dan kau telah memperlakukan aku baik sekali. Ketika Siauwtee sakit, sebulan lebih kalian merawat aku. Budi ini takkan bisa dilupakan.”

Sambil menepuk-nepuk bajunya yang berlapis kapas, ia berkata pula, “Di pulau peng hwee to, aku mengenakan baju yang terbuat dari kulit binatang. Kau membuat pakaian yang sangat cocok bagiku. Ini semua membuktikan, bahwa kecintaan persaudaraan masih belum hilang. Kau membunuh Giok bin Hwee kauw dan hatiku sakit. Tapi apa yang sudah terjadi tak dapat diubah lagi. Kau pergilah! Mulai sekarang, kita tak usah bertemu lagi. Aku hanya bisa mohon pertolonganmu, supaya anak Boe Kie bisa datang di sini untuk menemui aku. Jika kau sudi meluluskan permohonanku, aku merasa sangat berhutang budi.”

Si nenek tertawa sedih. “Kalau begitu, kau masih ingat kejadian-kejadian dahulu” katanya. “Sementara Gin yap taoko meninggal dunia, aku sudah merasa tawar terhadap segala keduniawian. Hanyalah karena masih ada beberapa urusan yang belum beres, aku masih belum mau mati untuk mengikuti Gin yap taoko. Cia hiantee, biarpun kepandaian mereka tinggi dan akalnya banyak, semua jago di Kong beng teng tak dipandang sebelah mata olehku. Kecuali satu-satunya adalah kasu sendiri. Apa kau tau sebab musababnya?”

Sesudah memikir beberapa saat, Cia Soen menggelengkan kepala, “Tidak,” jawabnya. “Cia Soen seorang bodoh dan tidak cukup berharga untuk dihargai oleh Hian Cie (kakakku yang budiman).”

Si nenek berjalan beberapa tindak dan berduduk di atas sebuah batu besar. “Di seluruh Kong Beng Teng, hanya nyonya Yo Kauwcoe dan kau sendiri yang dipandang mata oleh Cie san li ong long,” katanya. “Waktu aku menikah dengan Gin Yap Siang seng, hanya kau berdua yang tidak mengutuk aku, karena aku menikah dengan orang luar.”

Perlahan-lahan Cia Soen pun berduduk di atas sebuah batu besar. “Biarpun bukan penganut agama kita, Han Taoko adalah seorang gagah sejati,” katanya. “Pemandangan saudara-saudara kita memang sangat cupat. Hmm… bagaimana akibat serangan enam partai terhadap Kong Beng Teng? Bagaimana nasih saudara-saudara kita itu.”

“Cia Hiantee, badanmu di luar lautan, hatimu tetap di Tiong goan. Manusia hanya hidup beberapa puluh tahun. Dalam sekejap waktu itu lewat. Perlu apa kau memikiri orang lain?”

Mereka berhadapan dalam jarak beberapa kaki dan bisa saling mendengar jalan pernapasan masing-masing. Karena si nenek selalu batuk-batuk di waktu berbicara, Cia Soen lalu berkata, “Waktu bertempur dengan orang-orang Kaypang, dadamu tertikam pedang. Apa luka itu sampai sekarang belum sembuh.”

“Saban hawa udara dingin, batukku menghebat. Hmm, sesudah batuk tigapuluh tahun, aku sudah jadi biasa lagi. Cia Hiantee kudengar jalan pernapasanmu tidak begitu baik. Apakah kau mendapat luka di dalam waktu berlatih Cit siang koen? Cia hiantee kau harus menjaga diri.”

“Terima kasih atas perhatian Hian cie,” mendadak ia menengok kepada In Lee dan berkata, “In Lee, kemari.”

Si nona mendekati.

“Coba kau totok aku dengan jari tangamu, dengan seantero tenagamu.”

In Lee terkejut, “Aku tak berani!” katanya.

Cia Soen tertawa. “Cia Kong Kong, kau dan popo adalah saudara angkat. Segala urusan bisa dibereskan secara damai.”

Cia Soen tertawa sedih, “Cobalah totok aku,” katanya pula. “Kau tak usah takut. Kau diperintah olehku.”

In lee tak bisa menolak lagi. Ia segera membalut telunjuk tangan kanannya dengan sapu tangan dan kemudai menotok pundak Cia Soen. “Aduh!” ia menjerit, tubuhnya terpental setombak lebih dan ia jatuh duduk. Ia merasa kesakitan hebat, seolah-olah tulang-tulangnya patah semua.

“Cia Hiantee, kau sungguh beracun,” kata Kim Hoa popo. “Sebab takut aku mendapat pembantu, kau bertindak untuk menyingkirkannya.”

Cia Soen tidak lantas menjawab. Selang beberapa saat barulah ia berkata, “Anak ini sangat baik hatinya. Ia menotok hanya dengan menggunakan dua tiga bagian tenaga. Ia membungkus jarinya dan tidak mengerahkan racun Cian coe, bagus-bagus! Kalau dia tidak berhati mulia, racun laba-laba sekarang sudah menyebar jantungnya dan ia tentu sudah menjadi mayat.”

Mendengar itu, keringat dingin mengucur dari hati Boe Kie. Orang-orang Beng Kauw memang agak kejam, pikirannya. “Gie hoe yang begitu mulia, tak urung telengas juga.”

“A lee, mengapa kau begitu baik terhadapku.” tanya Ciao Soen.

“Sebab kau … kau …. Adalah ayah angkatnya. Sebab kau dengan ke sini untuk kepentingannya. di dalam dunia, hanya kita berdua, kau dan aku yang masih memperhatikan dia.”

“Ah! Aku tak nyana kau begitu menyayangi Boe Kie. Hampir-hampir aku mengambil jiwamu. Mari! Aku ingin membisikkan sesuatu dikupingmu.”

Perlahan-lahan, sambil menahan sakit, In Lee bangun berdiri lalu menghampiri Cia Soen.

“Aku akan turunkan pelajaran semacam Lwee kang kepadamu,” bisik Cia Soen di kuping nona. “Lwee kang didapatkan olehku di Peng hwee to dan merupakan hasil jerih payahku selama seumur hidup.” Sebab berkata begitu ia segera membaca pelajaran tersebut, dari kepala sampai di buntut. Tentu saja In Lee tidak bisa lantas mengerti dan ia hanya coba menghafalnya. Sesudah membaca tiga kali beruntun Cia Soen bertanya “Apa kau sudah ingat semua?”

“Ya” jawabnya.

“Kau harus berlatih terus dan sesudah berlatih diri selama lima tahun, kau akan memperoleh hasilnya. Apa kau tahu maksudku yang sebenarnya dalam memberi pelajaran ini?”

tiba-tiba In Lee mengangis segak seguk, “Aku tahu… tapi… hal itu tidak bisa terwujud,” jawabnya dengan suara terputus-putus.

“Apa yang kau tahu? Mengapa tidak bisa terwujud?” sambil bertanya begitu Cia Soen mengangkat tangannya. Jika In Lee memberi jawab yang tak menyenangkan, ia segera membinasakannya. Seraya mendekap muka dengan kedua tangannya, si nona berkata, “Ku tahu .. ku tahu, kau ingin aku mencari Boe Kie dan memberi pelajaran itu kepadanya. Kutahu.. kau ingin aku memiliki lweekangmu yang sangat lihai itu supaya aku bisa melindungi dia, supaya dia tak dihina orang. Tapi.. tapi…” ia tak bisa meneruskan kata-katanya dan menangis menggerung-gerung.

“Tapi apa.” bentak Cia Soen, “Apakah anakku Boe Kie…?”

In Lee menubruk dan memeluk Cia Soen. Sambil menangis sedu-sedan ia berkata, “Enam.. enam tahun yang lalu.. dia.. dia mati di See hek… terjerumus ke dalam jurang!”

Badan Cia Soen bergoyang-goyang. “Apa benar?” ia menegas dengan suara gemetar.

“Benar… Boe Liat dan anak perempuannya menyaksikan kebinasaannya dengan mata sendiri. Tujuh kali aku totok mereka dengan Cian Coe Chioe dan tujuh kali aku menolong jiwanya. Aku menyiksa mereka secara hebat luar biasa. Kupercaya mereka tidak berdusta.”

Sekonyong-konyong Cia Soen menengadah dan mengeluarkan jeritan menyayat hati sedang air matanya mengucur turun di kedua pipinya.

Melihat kedukaan ayah angkatnya dan saudari sepupunya, hampir-hampir Boe Kie tak bisa mempertahankan diri. hampir-hampir ia melompat untuk memperkenalkan dirinya.

“Cia Hiantee,” kata nenek Kim hoa.

“Sesudah Thio Kongcoe meninggal dunia, perlu apa kau memegang terus to Liong to? Bukankah lebih baik kau menyerahkannya kepadaku.”

“Hebat sungguh kau mendustai aku!” bentak Cia Soen dengan suara menyeramkan. “Kalau kau maui golok ini, ambil dulu jiwaku!”

Perlahan-lahan ia mendorong In Lee dan “brett” ia merobek pakaiannya dan melontarkan robekan itu kepada si nenek. Inilah yang dinamakan “Kwa pauw toan gie” (Merobek pakaian, memutuskan persahabatan).

Waktu In Lee mau memberitahukan tentang “kebinasaan” Boe Kie, Kim hoa popo sebenarnya ingin merintangi. Tapi ia mendapat lain pikiran. Ia tahu, warta jelek itu akan sangat mendukakan Kim mo say ong, sehingga dalam pertempuran tenaganya akan berkurang, pikirnya kalut dan lebih gampang dipancing masuk ke dalam ‘barisan jarum’. Memikir begitu, dia hanya mengawasi sambil tersenyum dingin.

“Ah! Kini tiba waktunya unutk maju dan mencegah pertempuran,” kata Boe Kie di dalam hati. Tapi sebelum dia melompat keluar, kupingnya yang sangat tajam mengangkap suara bernapasnya manusia di antara rumput-rumput tinggi.

Suara itu sangat perlahan dan pendek. Kalau bukan Boe Kie, lain orang pasti takkan bisa mendengarnya. “Kalau begitu si nenek menyembunyikan pembantu yang sangat lihai,” pikir Boe Kie. “Aku tak boleh lantas keluar.”

Sementara itu, setelah merobek pakaian nya sambil membentak keras Cia Soen memutar To liong to yang bagaikan seekor naga hitam turun naik di sekitar tubuhnya. Kim hoa popo melayani dengan sangat hati-hati.

Dia bergerak di luar jarak sambaran golok dan jika Cia Son sengaja membuka lowongan barulah ia berani merangsek. Tapi begitu lekas tongkatnya hampir beradu dengan To long to, dengan kecepatan luar biasa, ia menyingkir pula. Kedua lawan itu saling mengenal ilmu silat masing-masing. Mereka tahu, bahwa keputusan tak didapatkan dalam seratus atau dua ratus jurus yang kedua belah pihak mempunyai sesuatu yang menguntungkan. Cia Soen mempunyai golok mustika, sedangkan si nenek menarik keuntungan karena Cia Soen tidak bisa melihat. Dengan sedikit keuntungan itu, masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemenangan. Pada hakekatnya mereka bukan mengadu ilmu silat tapi mengadu kepintaran.

Mendadak dua sinar emas menyambar. Nenek Kim Hoa menumpuk dengan bunga emasnya. Cia Soen menyambut dengan goloknya dan … kedua senjata rahasia itu, menempel badan To Liong to! Bunga emas tersebut terbuat dari baja murni yang dilapis emas. Sebab To liong to terbuat daripada besi “hian tian” yang mengandung besi berani (sembrani) Kim Hoa popo mendapat nama besarnya karena senjata rahasia itu. Biarpun matanya bisa melihat, Cia Soen harus menggunakan seantero kepandaiannya untukmenyelamatkan diri dari serangan Kim Hoa. Di luar dugaan To Liong to justru penakluk senjata rahasia.

Dengan beruntun si nenek melepaskan tujuh delapan bunga emas akan tetapi semuanya menempel di badan golok. Di antara kegelapan malam, bunga-bunga emas itu bagaikan kunang-kunang yang menari-nari. Sekonyong-konyong sambil batuk-batuk, si nenek melepaskan seraup kim hoa. Beberapa belas bunga emas menyambar serentak. Cia Soen mengibas tangan baju kiri, sambil menyampik dengan To Liong to. Delapan sembilan kim hoa menempel di golok, yang lainny masuk ke dalam tangan baju.

“Han hoe jin,” kata Kim mo say ong. “Gelarmu Cie San liong on bertemu dengan golokku ini. Gelar itu sangat tidak baik.”

Kim Hoa popo bergidik. Pada jaman itu, di antara ahli-ahli silat yang setiap hari bermain senjata masih banyak yang percaya akan takhayul mengenai nama senjata nama atau gelaran. Si nenek bergelar “Liong Ong” (Raja Naga) sedang nama golok itu adalah “To Liong” (Membunuh Naga).

Sambil menekan rasa kedernya, ia tertawa dingin dan berkata, “Mungkin sekali tongkat Sat say thung (Tongkat membunuh singa) lebih dulu membinasakan anak singa yang matanya buta.” (Gelar Cia Soen Kim mo Say Ong yang berarti Raja Singa bulu emas).

Sehabis berkata begitu, dengan kecepatan luar biasa, ia menyamber pundak Cia Soen dengan tongkatnya. Cia Soen coba mengegos, tapi ia terlambat dan pundaknya terpukul. “Aduh!” teriaknya sambil terhuyung beberapa tindak.

Boe Kie kaget tercampur girang. Mengapa ia bergirang? Karena ia tahu, bahwa dengan sengaja menerima pukulan, ayah angkatnya sedang menjalankan tipu. Pada waktu itu, ia sudah menjadi seorang ahli silat yang berkedudukan sangat tinggi dan dalam menonton pertempuran. Ia selalu bisa meramalkan pukulan-pukulan yang bakal dikeluarkan oleh kedua belah pihak. Setelah Cia Soen terpukul, ia berkata di dalam hati. “Kalau Gie hoe menimpuk dengan bunga emas yang tergulung dudalam tangan bajunya. Kim hoa popo pasti akan mundur ke sebelah kiri. Gie hoe tentu akan membacok dengan pukulan Cian san Bai soei loan pie hong sit. Sebab takut akan ketajaman To lion to, si nenek pasti akan mundur dua kali, dia tidak bisa mundur lagi. Kalau dengan menggunakan kesempatan itu, dengan lweekangnya Gie hoe menimpuk dengan bunga emas yang menempel pada badan To Liong to. Kim hoa popo rasanya akan terlalu berat.”

Sesuai dengan dugaan Boe Kie, tiba-tiba terlihat menyambar beberapa sinar emas. Cia Soen benar-benar menimpuk dengan kim hoa yang tergulung di dalam tangan bajunya. Dan sesuai dengan dugaan pemuda itu, nenek Kim hoa melompat mundur kesebelah kiri.

Mendadak Boe Kie mengeluh, “Celaka! Kim hoa popo menggunakan tipu!” ia mengeluh karena ingat sesuatu.

Sementara itu, di gelanggang terus berlangsung pertempuran seperti yang ditaksir Boe Kie. Cia Soen membacok dengan Cian Sen Ban Soei Loan pie hong sit. Si nenek melompat mundur lagi kekiri dan Cia Soen lalu menimpuk dengan beralsan kim hoa yang menempel pada badan golok.”Aduh!” teriak si nenek dan badannya sempoyongan.

Sesudah “merobek baju, memutuskan persahabatan,” Cia Soen tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil membentak keras, ia melompat tinggi dan lagi tubuhnya melayang ke bawah, ia mengayun goloknya.

Mendadak terdengar teriakan In Lee, “Awas! Di bawah ada jarum!”

Cia Soen terkesiap. Kejadian inilah yang sudah dilihat Boe Kie, sehingga ia mengeluh.

Pada detik itu, belasan bunga emas menyambar. Kim hoa popo menimpuk selagi badan Cia Soen masih berada di tengah udara supaya ia tidak bisa mundur lagi dan jatuh di atas ‘barisan jarum’.

Kim mo say ong memang sudah tidak berdaya lagi. Ia hanya bisa menyelamatkan diri dari serangan bunga-bunga emas dengan menyampok dengan To Liong to, tapi ia tidak bisa menggelakkan hinggapnya di atas ‘barisan jarum’. Selagi dianya sedang ia menyampok dan selagi badannya melayang turun tiba-tiba ia mendengar suara ‘tring tring….’

Di lain detik kedua kakinya hinggap di atas batu…. Dengan tak kurang suatu apa! Ia berjongkok dan meraba-raba dan tangannya menyentuh jarum tajam di batu-batu sekitarnya. Tapi empat batang jarunm yang sedang diinjaknya, hilang terpukul batu. Cia Soen gusar tercampur kaget. Ia tahu, bahwa ia sudah di tolong oleh orang yang berkepandaian tinggi.

Dengan mendengar sambaran batu, ia pun tahu, bahwa yang menolongnya bukan lain daripada si pemuda yang mengaku sebagai kie keng pang dan yang pernah coba menolongnya dengan timpukan tujuh butir batu.

Hebat sungguh kepandaian pemuda itu, pikirnya. Sudah lama dia menonton tanpa diketahui. Mengingat begitu, keringat dingin mengucur di dahi Kim mo say ong.

Sekarang kedua Hoe Kouw hoat ong dari Beng Kauw masing-masing sudah berjalan kau tipu Kouw jiok kee (tipu mempersakiti diri sendiri). Pundak Cia Soen sudah terpukul tongkat, tubuh si nenek sudah kena bunga emas. Biarpun tidak berbahaya, luka itu juga tak enteng.

Sesudah batuk-batuk, sambil mengawasi tempat bersembunyinya Boe Kie, Kim hoa popo membentak, “Bocah Kie keng pang! Sekali lagi kau mengacau urusan nenekmu. Siapa namamu.”

Sebelum Boe Kie menjawab mendadak menyambar sinar emas dan In Lee mengeluarkan teriakan kesakitan. Kim hoa popo tahu, bahwa kepandaian Boe Kie tidak berada di sebelah bawahnya. Jika ia menyerang In Lee, pemuda itu tentu akan merintangi. Maka itu, ia sengaja berbicara dan pada saat Boe Kie tidak berwaspada ia menimpuk dengan tiga bunga emas yang menancap tepat di dada si nona.

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Badannya melesat bagaikan anak panah dan selagi berada di tengah udara, ia menyambut dua kim hoa yang menyambar. Begitu hinggap di tanah, ia memeluk tubuh In Lee.

Dealam keadaan setengah lupa si nona melihat seorang lelaki berkumis memeluk dirinya. Secara wajar, ia menolak keras dengan kedua tangannya. Begitu menggunakan tenaga, ia memuntahkan darah.

Boe Kie lantas saja mengerti mengapa In Lee menolak dirinya. buru-buru ia mengusap mukanya beberapa kali untuk mencopot kumis palsu dan penyamarannya.

Di lain saat nona In mengawasi dengan mata membelak. “A Goe koko, apa kau.” tanyanya dengan suara parau.

“Benar aku!” jawabnya.

Hati si nona lega dan ia pingsan. Karena lukanya sangat berat, Boe Kie tidak berani mencabut senjata rahasia yang menancap dan hanya menotok beberapa jalan darah untuk melindungi bagian-bagian terpenting dari tubuh In Lee.

“Dua kali tuan menolong Cia Soen dan Cia Soen takkan melupakan budi yang sangat besar itu,” kata Kim mo Say ong.

Mata Boe Kie lantas saja mengembeng air. “Gie… mengapa…?” katanya.

Sesaat itu, di tempat jauh mendadak terdengar suara “tring!” Suara itu aneh. Perlahan tapi merdu dan menusuk kuping. Mendengar suara itu, jantung Kim hoa, Cia Soen dan Boe Kie melonjak, seolah-olah mendengar halilintar yang dahsyat.

Mereka bertiga adalah orang yang memiliki lwee kang yang tinggi. Kioe yang sin kang Boe Kie dapat dikatakan sudah sempurna dan ia tidak bisa dilanggar lagi oleh segala kekotoran. Tapi heran, suara itu dapat menggetarkan jantungnya. Ia bahkan merasa dirinya terombang ambing di angkasa. Itulah kejadian yang benar-benar luar biasa.

Di lain detik, suara itu terdengar pula, lebih dekat bberapa puluh tombak. Dalam sedetik suara itu sudah berpindah sedemikian jauh. Sungguh hebat!

Tapi suara kedua berbeda dari yang pertama. Suara itu halus lema- lembut. Bagaikan bisikan seorang bercintaan di tengah malam yang sunyi seolah-olah tiupan angin yang silir. Akan tetapi biarpun begitu, suara itu seperti membetot nyawa.

Boe Kie mengerti, bahwa ia sedang menghadapi seorang manusia luar biasa. Sambil memeluk In Lee, ia berdidi tegak siap sedia untuk menyambut setiap serangan.

Sekonyong-konyong terdengar “tang!” yang sangat hebat, yang berkumandang di seluruh lembah.

Advertisements

2 Comments »

  1. Starting immediately the Snappy Abutment is available
    in 4. s a great way to have fun, relax and learn a lot about other cultures.
    Other all-inclusive packages worth looking up are at Hilton Waikiki Prince Kuhio ($459, includes 50% off parking), Aston Waikiki Sunset ($465), Waikiki Beach Marriott Resort & Spa ($485), Hyatt Regency Waikiki Beach Resort & Spa ($509), Aston Waikiki Beach Hotel ($545), Hilton Hawaiian Village Beach Resort & Spa ($555), Moana Surfrider, A Westin Resort & Spa ($595), and Trump International Hotel Waikiki Beach Walk ($615).

    Comment by Honua Kai — 11/04/2013 @ 7:47 am

  2. Today’s deluxe motor coaches make this an effortless trip. The internet is the best place to start, and if youre reading this, youre on the right track. 50% Off Rates at Sheraton Kauai Resort (located in Poipu) The Sheraton Kauai Resort is offering a special rate of $285, with a fifth night free when booking five nights or more, along with a special $50 daily food and activity credit, and two for one surf lessons in Hanalei Bay.

    Comment by Mohammed — 20/07/2013 @ 7:22 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: