Kumpulan Cerita Silat

16/04/2009

Kisah Membunuh Naga (56)

Filed under: Kisah Membunuh Naga — Tags: — ceritasilat @ 12:34 pm

Kisah Membunuh Naga (56)
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Saudara Pepe Haliwell)

“Cioe Kouwnio, kepandaianmu masih sangat rendah.” kata si nenek. “Apa bisa gurumu menyerahkan kedudukan Ciang boenjin kepadamu.”

Cioe Jiak tahu, bahwa begitu si nenek menekan dengan tenaga dalam, jiwanya akan melayang. Tapi begitu ingat gurunya, semangatnya berkobar2. Sambil mengacungkan tangannya, ia berkata dengan suara nyaring, “Popo, inilah cincin besi tanda Ciang boenjin yang dimasukkan kejari tanganku oleh Siansoe sendiri. Apa kau masih bersangsi.”

Si nenek tersenyum, “Tugas seorang Ciang boenjin dari Go Bie Pay adalah sangat berat,” katanya. “Setiap Ciangboenjin harus memikul pikulan yang tidak enteng. Apakah soal itu tidak diberitahukan kepadamu oleh gurumu? Kurasa belum tentu.”

“Tentu saja Siansoe memberitahukan soal itu kepadaku,” kata Cie Jiak. Berbareng dengan jawabnnya, jantung nona Cioe melonjak. “Mengapa dia tahu rahasia partaiku.” tanyanya di dalam hati.

Sementara itu dengan hati berdebar-debar Boe Kie memperhatikan semua perkembangan. Melihat kekerasan Cie Jiak, ia berkuatir bahwa dalam gusarnya, Kim Hoa Popo akan turunkan tangan jahat. Dalam bingungnya, ia bergerak untuk melompat keluar, tapi tangannya dicekal Tio Beng yang melarangnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sekonyong-konyong si nenek tertawa terbahak-bahak. “Biat Coat Soethay tidak salah mata,” katanya. “Biarpun ilmu silatnya cetek, Ciangboen jin yang dipilihnya adalah seorang yang berwatak keras. Benar, ilmu silat memang dapat dipertinggi dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah diubah, tapi watak manusia susah diubah.”

Sebenarnya Cioe Cie Jiak sendiri sudah ketakutan setengah mati dan keberaniannya muncul karena ia ingat pesan sang guru. Sementara itu di mata saudara-saudari seperguruannya derajat nona Cioe naik tinggi. Ia sudah memperlihatkan kemuliaan hatinya bahwa dengan menyampingkan kepentingan pribadi ia sudah menolong Teng Bin Koen. Ia pun sudah membuktikan wataknya yang kuat dalam menghadapi kebinasaan.

Mendadak Ceng coe mengibaskan pedangnya dan memberi komando dengan teriakan. Para murid Go bie lantas saja berpencaran, menghunus senjata dan mengurung pendopo itu.

“Apa kau mau.” tanya si nenek sambil tertawa.

“Apa maksud popo dengan menculik cian boenjin partai kami.” Ceng Coe balas menanya.

Si nenek batuk-batuk. “Apa kamu mau menekan aku dengan jumlah yang lebih besar.” tanyanya dengan suara memandang rendah. “Huh, huh…. Di mata Kim Hoa popo, sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlahnya ini masih belum masuk hitunganku.”

Mendadak ia melepas Cie Jiak, badannya berkelebat dan tahu-tahu jari-jarinya menyambar mata Ceng Coe. Nie Kauw itu menangkis dengan pedangnya, tapi hampir berbareng dengan teriakan kesakitan dan seorang sumoi sudah terguling di sampingnya. Gerakan Kim hoa popo cepat sekali dan aneh. Berbareng dengan serangannya kepada Ceng Coe, kaki kirinya menendang pinggang seorang murid Go Bie yang lain.

Di lain saat, tubuh nenek itu berkelebat-kelebat di seputar pendopo dan di antara suara batuk-batuk kaki tangannya menyambar-nyambar. Dengan nekad para murid Go Bie melawan dengan senjata mereka. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam sekejap tujuh delapan orang sudah roboh dengan jalan darah tertotok. Totokan si nenek hebat luar biasa. Mereka menjerit-jerit dan berguling di tanah.

Beberapa saat kemudian, sambil menepuk kedua tangannya, Kim hoa popo sudah kembali ke pendopo. “Cioe Kauwnio bagaimana pendapatmu.” tanyanya. “Apa ilmu silat Go Bie atau ilmu silat Kim Hoa popo yang lebih unggul.”

“Tentu saja ilmu silat kami yang lebih unggul.” jawabnya. “Apa popo sudah lupa kekalahan dalam tangan Siansoe.”

Mata si nenek melotot. “Biat coat loo nie menang berkat Ie thian kiam.” bentaknya dengan gusar. “Dia bukan menang sewajarnya.”

“Popo,” kata Cie Jiak, “Cobalah kau bicara menurut perasaan hatimu, dengan sejujurnya. Siapa yang lebih unggul andaikata Siansoe dan Popo bertanding dengan tangan kosong.”

Si nenek tidak lantas menjawab. Untuk sejenak ia mengawasi muka si nona. Akhirnya ia menggelengkan kepala dan berkata, “”Entahlah. Aku datang ke kota raja justru untuk mendapat keputusan siapa di antara kita yang lebih unggul. Hai! Sesudah Biat coat Soethay meninggal. Rimba persilatan kehilangan seorang tokoh yang berkepandaian tinggi. Hai! Mulai dari sekarang, Go Bie pay menjadi partai yang lemah.”

Selagi mereka berbicara, murid-murid Go Bie yang tertotok jalan daranya terus berteriak-teriak. Ceng Coe coba menolong, tapi tidak berhasil.

Ternyata ilmu totok Kim hoa popo berbeda dari ilmu totok yang dikenal di rimba persilatan dan hanyalah yang sudah mempelajarinya barulah bisa membukanya. Sebagai seorang yang pernah menolong sejumlah jago yang dilukai si nenek, Boe Kie sudah mengenal kelihaiannya orang tua itu.

“Cioe Kaownio, bagaimana? Apa kau sudah merasa takluk terhadapku.” tanya nenek itu.

“Ilmu silat partai kami sangat dalam bagaikan lautan dan seseorang yang mempelajarinya tak bisa berhasil dalam waktu yang singkat.” jawab si nona. “Kami masih berusia muda tentu saja kami belum bisa menandingin popo. Tapi di kemudian hari, kemajuan kami tiada batasnya.”

Si nenek tertawa, “Bagus!” katanya. “Kalau begitu, sekarang Kim hoa Popo meminta diri. Di hari kelak, kapan ilmu silatmu telah tidak terbatas, barulah kau membuka jalan darah dia.” Sehabis berkata begitu, ia menuntun tangan Coe Jie, memutar badan dan berjalan pergi.

Cie Jiak terkejut. Kalau si nenek pergi, saudara-saudari seperguruannya pasti akan binasa. “Popo, tahan dulu!” katanya. “Aku memohon popo suka menolong sucie dan suhengku.”

“Aku bersedia untuk menolong, asal saja kau mau berjanji, bahwa mulai kini orang-orang Go Bie pay harus menyingkir dari tempat-tempat di mana aku dan Coe Jie berada.”jawabnya.

Nona Cioe mengawasi si nenek dengan rasa mendongkol. Sebagai Ciang boenjin, dia pasti tidak bisa memberi janji itu yang berarti runtuhnya Go Bie pay.

Kim hoa popo tertawa. “Kalau kau tidak mau menurunkan keangkeran Go Bie pay, aku pun tak mau memaksa, asal saja kau suka meminjamkan Ie thian kiam kepadaku.” katanya. “Begitu lekas kau menyerahkan pedang itu kepadaku, aku akan segera menolong suci dan suhengmu.”

“Sebagaimana popo tahu, karena ditipu oleh kerajaan, kami, guru dan murid, telah tertawan dan terkurung di menara kelenteng Ban hoat sie.” kata si nona. “Cara bagaimana Ie thian kiam masih bisa berada di dalam tangan kami.”

Si nenek memang sebenarnya telah menduga hal itu. Dalam mengajukan permintaan, dia tahu harapannya sangat tipis. Tapi mendengar jawabannya Cie Jiak, paras mukanya lantas saja terlihat sinar putus harapan. Tiba-tiba ia membentak, “Cioe Kouwnio! Jika kau mau melindungi nama Go bie pay, kau tidak melindungi jiwamu sendiri…” Ia mengeluarkan sebutir pel dan berkata pula, “Inilah racun yang bisa memutuskan usus manusia. Setelah kau menelannya, aku segera akan menolong mereka.”

Sambil menyubiti pel itu, Cie Jiak berkata di dalam hatinya, “Suhu memerintahkan aku untuk menipu Tio Kongcu dan aku sebenarnya tak bisa berbuat begitu. Daripada hidup menderita, memang lebih baik aku lantas mati.”

“Cioe sumoi, jangan telan racun itu !” teriak Cengcoe.

Melihat keadaan mendesak, Boe Kie segera bergerak untuk melompat keluar, tetapi lagi-lagi tangannya dicekal Tio Beng. “Anak tolol!” bisik si nona. “Pel itu bukan racun.”

Boe Kie terkejut dan Cie Jiak telah menelan pel tersebut.

Semua murid Go Bie mencelos hatinya. Mereka segera bergerak untuk menyerang.

“Jangan banyak tingkah!” bentak si nenek.

“Racun ini tidak lantas bekerja. Cioe Kouwnio, ikutlah aku. Jika kau dengar kata, mungki sekali aku pasti akan memberikan obat pemunah. Sehabis berkata begitu, ia menepuk badannya murid-murid Go Bie yang tertotok. Rasa sakit mereka lantas saja hilang, tapi untuk sementara waktu belum bisa bergerak, sebab kaki tangannya masih kesemutan. Melihat kegagahan dan kemuliaan nona Cioe yang telah menolong mereka dengan menelan racun, bukan main rasa terima kasihnya.

“Terima kasih, Cioe sumoi.” teriak seorang.

Sementara itu, seraya menarik tangan Cie Jiak, Kim hoat popo berkata dengan suara lemah lembut. “Anak baik, ikutlah aku. Popo takkan mencelakaimu.”

Sebelum ia sempat menyahut, nona Cioe merasa dirinya dibetot dengan tenaga yang sangat besar dan tanpa merasa, ia melompat.

Ceng coe berteriak. “Cioe sumoi!…” Ia melompat untuk mencegat.

Tiba-tiba ia merasa sambaran angina tajam. Itulah serangan Cioe Jie. Dengan cepat ia menangkis dengan tangan kirinya. Tapi pukulan Cioe Jie hanya pukulan gerak.

“Plak!” yang benar-benar di gaplok adalah pipi Teng Bin Koen. Pukulan itu yang diberi nama Cie Tang Tah say (Menunjuk ke Timur, memukul ke Barat) adalah salah satu pukulan lihai dari Kim hoa popo. Sesudah menggaplok, sambil tertawa nyaring, Coe Jie melompati tembok.

“Kejar!” kata Boe Kie sambil mencekal tangan Siauw Ciauw. Mereka lantas saja melompati tembok. Melompat munculnya tiga orang lain, murid-murid Go bie pay tentu saja merasa kaget dan di lain saat, merekapun melompat untuk mengejar. Tapi ilmu ringan badan Kim hoa popo dan Boe Kie bukan ilmu ringan badan yang sembarangan. Waktu murid-murid Go Bie melompati tembok mereka tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.

Sesudah kejar-kejaran beberapa puluh tombak, Kim hoa popo membentak, “Siapa!”

“Serahkan Ciang boen kami! Setelah kau menyerahkan aku mengampuni jiwamu.” teriak Tio Beng yang kemudian berbisik di kuping Boe Kie, “Kau mengamat-amati dari kejauhan. Jangan munculkan diri.” Sehabis berkata begitu ia mengempos semangat dan tubuhnya melesat beberapa tombak.

Dengan pukulan Kim Teng hoed kong (Sinar Budha di Kim teng) yaitu salah satu pukulan dari Kim hoat Go bie pay ia menikam punggung si nenek. Dengan memiliki kecerdasan yang luar biasa, dari latihan di kelenteng Ban hoat sie ia sudah bisa menggunakan ilmu pedang Go Bie pay. Biarpun tenaga dalamnya masih belum cukup tapi serangannya itu yang dikirim dengan Ie Thian Kiam sudah cukup hebat.

Mendengar sambaran angin yang luar biasa si nenek buru-buru melepaskan Cioe Jiak dan berkelit sambil memutar tubuh. Dengan beruntun Tio Beng mengirim beberapa serangan tapi semuanya di punahkan secara mudah.

Melihat senjata yang digunakan si nona adalah Ie Thian Kiam, Kim hoa popo kaget tercampur girang. Ia merangsek dan terus menyerang sesudah bergebrak memakai beberapa jurus, tiba-tiba Tio Beng memutar pedangnya dan menyerang dengan pukulan Soan hong chioe (angin puyuh) dari Koen loen pay. Dalam pertempuran itu, si nenek menganggap bahwa Tio Beng adalah murid Go bie pay dan diperhatikan ialah kiam hoat Go bie pay. Pada detik itu ia justru sedang melompat untuk menangkap pergelangan tangan si nona dan merampas Ie Thian Kiam. Serangan mendadak dengan pukulan Koen loen pay benar-benar di luar dugaannya. Ia terkesiap tapi sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, dalam bahaya ia tidak jadi bingung dan secepat kilat ia menggulingkan badannya di tanah. Tapi walaupun ia dapat menyelematkan jiwa, tangan bajunya tak urung kena disambar juga dan robek.

Bukan main gusarnya Kim hoa popo. Begitu melompat bangun, ia menyerang dengan hebatnya. Tio beng mengerti bahwa ilmu silatnya masih kalah jauh dari si nenek! Dalam pertempuran yang lama ia pasti bakal dirobohkan.

Dengan secepat ia mengubah siasat. Sekarang ia menyerang berbagai ilmu pedang, sebentar dengan kim hoat Khong tong pay, sebentar dengan kiam goat Hwa san pay, Koen loen pay, atau Siauw lim pay dan yang digunakannya selalu pukulan-pukulan yang paling hebat. Berkat Ie thian kiam, serangan-serangannya itu dahsyat luar biasa dan Kim hoat popo tidak berlaku sembrono.

Coe Jie jengkel. Ia menghunus pedangnya dan melontarkannya kepada sang popo. Karena orang itu itu menyambuti senjata tersebut, tapi baru bertanding sembilan jurus, dengan satu suara, “kres!” pedangnya putus dua.

Paras muka si nenek berubah. Ia melompat keluar dari gelanggang dan membentak. “Bocah! Siapa kau sebenarnya.”

Tio Beng tertawa. “Mengapa kau tidak mencabut To liong to.” tanyanya

“Kurang ajar! Jika aku memegang To Liong to kau sama sekali bukan tandinganku. Apa kau berani mengikuti kami untuk menjajal.”

Mendengar disebutnya To Liong to, Boe Kie merasa heran.

“Nenek pergilah kau ambil To liong to.” kata si nona sambil tertawa. “Aku tunggu kau di kota raja. Sesudah kau bersenjatakan golok itu, kita boleh bertempur lagi.”

“Balik kepalamu kemari! Aku mau lihat lebih tegas mukamu.” kata si nenek dengan gusar.

Tio Beng memutar badan, mengeluarkan lidahnya dan memejamkan sebelah matanya, sehingga mukanya tidak keruan macam. Si nenek mengutuk dan meludahi muka si nona. Sesudah itu dengan menuntun Coe Jia han Cie Jiak, ia berlalu.

“Kejar lagi!”” kata Boe Kie

“Tak perlu tergesa-gesa. Aku tanggung keselamatan Cioe Kauwniomu tidak akan terganggu.”

“Mengapa tadi kau menyebut-nyebut To liong to.”

“Waktu berhadapan dengan murid-murid Go Bie pay, nenek itu mengatakan bahwa seorang sahabat lama bersedia untuk meminjamkan sebatang golok mustika kepadanya dan dengan golok itu, ia ingin bertempur lagi dengan Boat coat soethay. Ie thian poe coet, swee ie ceng hong (“kalau ie thian tidak keluar, siapa lagi yang bisa melawan ketajamannya”) untuk melawan In thiam Kiam, orang harus menggunakan To Liong to. Aku bertanya dalam hatiku, apakah dia sudah berhasil meminjam to liong to dari ayah angkatmu, Cia locianpwee? Maka itulah, tadi aku menyerang dengan Ie Thian kiam dan maksudku adalah untuk memaksa supaya ia mengeluarkan to liong to. Tapi ternyata ia tdiak membawa golok mustika itu dan hanya menantang supaya aku mengikuti dia untuk menjajal Ie thian kiam dengan to liong to. Dari perkataannya itu mungkin sekali ia sudah tahu di mana adanya to liong to, tapi belum bisa mendapat.” katanya.

“Mendengar keterangan itu, Boe kie mangggutkan kepalanya. “Ya benar sekali bahwa golok itu berada dalam tangan Gie Hoe.” katanya.

“Menurut dugaan ia segera akan pergi ke pantai untuk menyeberangi lautan guna mencari golok itu.” kata pula Tio Beng. “kita harus mendahului, supaya Cia locianpwee yang buta dan berbaik hati tak sampai kena diperdayai oleh perempuan tua itu.”

Darah Boe Kie bergolak. “Benar! Benar! Katamu!” katanya dengan tergesa-gesa. Waktu meluluskan permintaan Tio Beng yang mau meminjam To liong to, ia hanya mempertahankan sifatnya lelaki yang takkan menjilat ludah sendiri. Tapi sekarang mengingat keselamatan ayah angkatnya, ia ingin sekali mempunyai sayap supaya ia bisa segera terbang untung melindungi ayah angkat itu.

Tanpa membuang-buang waktu lagi Tio Beng segera mengajak Boe Kie dan Siauw Ciauw ke gunung Ong hoe. Ia tak masuk ke dalam dan hanya bicara dangan penjaga pintu yang sesudah mendengari pesanan sang majikan, buru-buru masuk ke dalam keluar lagi dengan menuntun sembilan ekor kuda yang jarang kelihatannya dan menenteng buntalan yang berisi emas dan perak.

Tio Beng bertiga lantas saja melompat ke punggung tunggangan itu yang terus dikaburkan ke arah timur. Enam ekor kuda lainnya mengikuti di belakang dan ditunggang dengan bergantian supaya mereka tak terlalu capai.

Pada keesokan paginya, ke sembilan kuda itu dapat dikatakan sudah tak bisa lari lagi. Dengan memperlihatkan kin pay (tanda perintah) Jie lam ong, Tio beng menemui pembesar setempat dan menukar kuda-kuda itu dengan tunggangan yang masih segar.

Malam itu, mereka tiba di kota pesisir. Malam-malam nona Tio menemui pembesar di kota itu dan memerintahkan supaya ia segera menyediakan sebuah perahu besar yang kuat dan lengkap segala-galanya. Ia pun memerintahkan supaya semua perahu yang berada di pelabuhan segera berlayar ke arah selatan dan di sepanjang pantai kota itu dalam jarak seratus li, tak boleh berlabuh perahu apapun juga.

Belum cukup sehari, segala apa sudah siap sedia. Tio beng, Boe Kie dan Siauw Ciauw segera menukar pakaian pelaut, memasang kumis palsu, memoles muka mereka dengan semacam cat air sehingga warna kulit jadi berubah dan terus turun ke perahu untuk menunggu Kim Hoa popo.

Lihai sungguh tebakan Beng beng koencoe. Kira-kira magrib, sebuah kereta tiba di pantai dengan diiringi oleh Kim hoa popo yang menuntun Cie Jiak dan Coe Jie. Si nenek segera pergi ke perahu itu kendaraan air satu-satunya yang berlabuh di pesisir dan minta menyewanya. Anak buah kapal yang sudah menerima pesanan Tio Beng, semula menolak dan sesudah Kim hoa popo menyerahkan sepotong emas dengan sikap apa boleh buat, barulah pemimpin kapal meluluskan permintaannya. Begitu lekas si nenek begitu turun kapal segera memasang layar dan berangkat ke arah timur.

Di atas samudra seolah-olah tidak berbatas sekuat perahu berlayar ke arah tenggara.

Perahu itu sangat besar bertingkat dua, di atas geladak di kepala perahu dan di kiri-kanannya terdapat meriam. Perahu itu adalah sebuah perahu meriam Mongol. Bangsa Mongol pernah berniat menyerang negeri Jepang dan mempersiapkan perahu-perahu perang. Di luar dugaan, angkatan laut itu diserang topan hingga berantakan dan niatan itu menjadi gagal. Jika berlabuh di pantai, perahu itu karam kelihatannya. Tapi di atas samudra dia menyerupai selembar daun yang terombang ambing merupakan tiupan angin.

Dengan menyamar sebagai anak buah Thio Boe Kie, Tio Beng dan Siauw Ciauw bersembunyi di bagian bawah perahu.

Hari itu, waktu mau turun ke perahu, Tio Beng kaget dan berkuatir. Ia sama sekali tak menduga, pembesar setempat menyediakan sebuah perahu meriam dari angkatan laut Mongol. Hal ini bisa membuka rahasia. Tapi sebgai seorang yang sangat pintar si nona lantas saja dapat memikir satu jalan untuk memperdayai Kim hoa popo, ia segera memerintahkan supaya perahu itu membawa sejumlah jala dan beberapa ton ikan basah. Dengan demikian nenek Kim Hoa akan percaya bahwa lantaran sudah tua maka perahu perang itu telah diubah menjadi semacam perahu penangkap ikan.

Ketika tiba di pantai sebab tak mendapatkan kendaraan air lain tanpa curiga Kim hoa popo segera menyewa perahu tersebut.

Dari lubang jendela, Boe Kie dan Tio Beng memperhatikan jalannya matahari dan rembulan yang selalu naik dari sebelah kiri perahu. Mereka tahu, bahwa perahu sedang berlayar ke arah selatan. Waktu itu sudah masuk musim dingin dan angin utara meniup dengan hebatnya, sehingga perahu berlayar dengan kecepatan luar biasa.

“Gie hoe berada di pulau Penghwee to, di daerah Kutub utara.” kata Boe Kie. “Untuk mencarinya, kita harus berlayar ke arah utara. Mengapa Kim hoa popo memerintahkan perahu ini menuju ke selatan.”

“Si nenek tentu mempunyai niatan yang belum di ketahui kita.” jawab Tio Beng. “Sekarang ini angin selatan belum waktunya turun, sehingga biar bagaimanapun juga, kita tidak akan bisa berlayar ke jurusan utara.”

Pada hari ketiga, di waktu lohor, salah seorang anak buah memberi laporan kepada Tio Beng, bahwa Kim hoa popo sangat paham dengan jalanan air yang digunakan mereka. Si nenek tahu mana ada pulau yang di tempat apa bakal ada batu karang yang menonjol ke atas dia bahkan lebih paham daripada anak buah perahu itu.

Tiba-tiba Boe Kie ingat sesuatu. “Ah!” serunya dengan suara tertahan. “Apa dia bukan mau pulang ke pulau Leng coat to.”

“Leng coat to apa.” menegas si nona.

“Kim hoa popo bersarang di pulau Leng coat to.” jawabnya. “Mendiang suaminya dikenal sebagai Gin yap sian seng. Pada banyak tahun berselang, Kim hoa dan Gin yap dari Leng coat to mengentarkan dunia Kang ouw. Apa kau tidak tahu?”

Si nona tertawa. “Kau hanya lebih tua beberapa tahun daripada aku, tapi dalam pengalaman kau seperti seorang kakek.” katanya.

Boe Kie turut tertawa, “Beng Kauw dikenal sebagai agama siluman dan anggota-anggota Beng Kauw memang sedikit, lebih berpengalaman daripada seorang kauwcoe yang dikeram di dalam gedung raja muda.” katanya.

Mereka berdua adalah musuh besar. Dengan masing-masing pemimpin, sejumlah jago beberapa kali mereka telah mengukur tenaga. Tapi sekarang sesudah bergaul beberapa hari dalam sebuat perahu dengan Kim hoa popo sebagai musuh umum mereka. Dari musuh, mereka telah berubah menjadi sahabat.

Sesudah memberi laporan, anak buah itu buru-buru kembali ke tempat kemudi.

“Toa kauwcoe,” kata Tio Beng. “Apakah kau sudah menceritakan sepak terjang Kim hoa dan Gin yap kepada seorang budak kecil yang dikeram di dalamg gedung raja muda.”

Boe Kie menyeringai, “Mengenai Gin yap Sian seng, aku tidak mempunyai pengetahuan apa pun jua.” jawabnya. “Tapi dengan si nenek aku pernah bertemu dan pernah menyaksikan sendiri sepak terjangnya.”

Ia segera menuturkan pengalamannya di Ouw Tiep Kok, Ie Sian Ouw Ceng Goe untuk minta diobati, cara bagaimana nenek dikalahkan oleh Biat coat suthay dan akhirnya cara bagaimana Ouw Ceng Coe dan Ong Len Kouw binasa dalam tangan nenek itu. Sehabis bercerita kedua matanya mengembang air mata, biar pun Ouw Ceng Coe berada aneh, orang itu itu telah memperlakukannya dengan baik sekali dan telah banyak memberi pertolongan kepadanya. Ia merasa sangat berduka, bahwa orang tua itu dan istrinya telah dibinasakan secara menggenaskan dan jenazah mereka digantung di pohon oleh si nenek Kim Hoa. Ia hanya tidak menceritakan ajakan Coe Jia supaya ia turut pergi ke Leng coat to dan karena tampikannya sebelah tangannya sudah digigit oleh nona itu. Mungkin sekali ia merasa jengah untuk menuturkan peristiwa yang kecil itu.

Sesudah mendengarkan cerita Boe Kie dengan paras sungguh-sungguh, Tio Beng berkata, “Thio kong coe semuda aku hanya menganggap nenek itu sebagai seorang yang ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi dalam penuturannya, aku menarik kesimpulan, bahwa dia orang yang sangat cerdik dan bukan lawan yang enteng. Kita tidak boleh memandang rendah kepadanya.”

Boe Kie tertawa, “Koencoe nio nio seorang Boen boe song coan dan bukan saja begitu, ia bahkan memimpin sejumlah orang gagah yang berkepandaian sangat tinggi.” katanya. “Maka itu menurut pendapatku menghadapi seorang nenek sama sekali tidak menjadi soal baginya.”

“Hanya yang di lautan ini aku tidak bisa memanggil para boesoe dan hoenceng.”

Boe Kie tersenyum, “Tukang masak dan anak buah yang menarik layar bukan sembarang orang.” katanya. “Biarpun mereka bukan jago kelas satu mereka pasti bisa termasuk dalam kalangan jago-jago kelas dua.”

Si nona berkesiap. Sesudah berdiam sejenak ia tertawa geli. “Aku menyerah kalah! Menyerah kalah!” katanya. “Dengan sesungguhnya Toa kauwcoe mempunyai mata yang sangat awas.”

Ternyata waktu pulang ke Ong hoe untuk mengambil kuda dan emas perak, diam-diam Tio Beng telah memesan boesoe penjaga pintu supaya sejumlah orang sebawahannya menyusul ke pesisir untuk ikut berlayar. Orang-orang itu menggunakan kuda, tapi mereka ketinggalan kira-kira setengah hari dari majikan mereka. Mereka menyamar sebagai tukang masak dan anak buah perahu dan terdiri dari orang yang tidak turut dalam pertempuran di Ban hoat she. Tapi sebagai ahli-ahli silat, sinar mata sikap dan gerak-gerik mereka berbeda dari orang biasa. Dan Boe Kie yang bermata tajam tidak kena dikelabui.

Kenyataan itu mengkuatirkan hati si nona. Kalau Boe Kie masih belum bisa diakali, apalagi Kim Hoa popo yang berpengalaman luas. Tapi untung juga pihaknya berjumlah banyak lebih besar sehingga kalau sampai mesti bergerak dengan bantuan Boe Kie ia pasti tak akan kalah.

Selama beberapa hari yang paling mengganggu pikiran Boe Kie ialah keselamatan Cie Cioe Jiak yang telah menelan pel ‘racun’. Di dalam hati ia selau bertanya-tanya, kapan racun itu mengamuk. Tio Beng yang pintar lantas saja dapat menebak rahasia hatinya.

Setiap kali alis pemuda itu berkerut, setiap kali ia memerintahkan orang pergi ke atas untuk menyelidiki dengan berlagak membawa air atau teh. Orang iut lalu kembali dengan laporan yang menyenangkan, nona Cioe sehat-sehat saja. Sesudah kejadian ini berulang beberapa kali Boe Kie merasa jengah sendiri.

Sementara itu, lain peringatan sering mengganggu pikiran Boe Kie. Saban ia termenung seorang diri, ia ingat peristiwa itu di atas salju di daerah see hek. Ia ingat pengalamannya dengan Coe Jie. Ia ingat, cara bagaimana dengan Ho thay Ciong, Boe liat dan yang lain-lain, ia pernah berkata begini, “Nona dengan setulus-tulus hati aku bersedia, untuk menikah dengan kau. Aku hanya mengharap kau jangan mengatakan, bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.” Di lain saat sambil mencekal tangan si nona, ia berkata pula, “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung supaya kau melupakan penderitaanmu yang dulu-dulu. Tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghina kau, aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi keselamatanmu.” Ia ingat itu semua (Kisah pembunuh naga jilid 14, halaman 44) dengan mulut berkumak kumik, ia mengulangi perkataan-perkataan itu. Mukanya lantas berubah merah.

Tiba-tiba terdengar suara tertawanya Tio Beng “Hai!” kata si nona “Lagi-lagi kau memikiri Cioe Kouwnie mu!”

“Tidak!”

“Kau memikiri apa dia atau tidak memikiri dia sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan diriku. Aku hanya merasa menyesal, seorang laki-laki gagah sudah berdusta di hadapan seorang wanita.”

“Perlu apa kau berdusta? Dengan sesungguhnya aku bukan memikiri Cioe Kouwnio.”

“Dusta! Kalau ingat Kouw Tauwto Wie It Siauw atau lain-lain manusia muka jelek, paras mukamu tidak nanti mengunjuk sinar yang begitu lemah-lembut yang penuh kasih sayang, yang kemerah-merahan. Omong kosong kau!”

Boe Kie tertaw. “Kau sungguh lihai.” katanya. “Kau dapat membaca hati orang, apa dia sedang memikiri orang yang cantik atau yang jelek. Tapi aku mau menerangkan dengan sesungguh-sungguhnya, bahwa orang yang kuingat pada detik ini sedikitpun tak ada yang berparas cantik.”

Mendengar nada suara yang sungguh-sungguh si nona tersenyum dan tidak menggoda lagi. Biarpun pintar, ia sama sekali tidak menduga, bahwa yang diingat Boe Kie adalah Coe Jie yang mukanya tak keruan macam.

Mengingat, bahwa jeleknya muka Coe Jie adalah akibat latihan Cian Coe Ciat Hoe Chie, Boe Kie menghela napas. Waktu si nona muncul pada malam itu di antara murid-murid Go Bie, ia mendapat kenyataan bahwa muka Coe Jie lebih hebat daripada dulu. Ia merasa menyesal, karena ia merasa, bahwa makin mendalam Coe Jie melatih diri dalam ilmu silat itu, makin besar bahaya bagi dirinya. Ia kuatir akan keselamatan si nona, baik jasmani maupun rohani. Dengan rasa terima kasih, ia ingat budi nona itu. Sesudah berada di Kong Beng Teng dan menjadi Kauw coe karena repot, ia tak sempat memikiri segala urusan pribadi. Tapi biarpun begitu ia pernah meminta bantuan Leng Kiam untuk mencarinya di seluruh Kong Beng Teng. Ia pernah meminta pertolongan Wie It Siauw untuk bantu menyelidiki tapi usahanya tinggal tersia-sia. Coe Jie menghilang bagaikan batu yang tenggelam di lautan.

Tiba-tiba si nona muncul, tak usah dikatakan lagi. Ia merasa sangat girang. Diam-diam ia mengutuk dirinya sendiri, Coe Jie begitu baik mengapa dia sendiri bersikap begitu tawar? Tapi pada hakekatnya pemuda itu bukan manusia yang tidak mengenal budi. Sikap tawarnya itu adalah karena ia selalu memikiri bebannya yang sangat berat. Sebagai Kauw Coe dari Beng Kauw dan Bengcoe dari perserikatan segenap Rimba Persilatan, ia tak sempat untuk mengurus kepentingan pribadi.

Mendadak Tio Beng tertawa nyaring, “Eh! Mengapa kau menghela napas.” tanyanya.

Sebelum Boe Kie menjawab di atas perahu sekonyong-konyong terdengar teriakan-teriakan. Sesaat kemudian seorang anak buah datang melapor, “Di sebelah depan terlihat daratan dan nenk itu memerintahkan supaya perahu dijalankan terlebih cepat.”

Boe Kie dan Tio Beng segera mengintip dari lubang jendela. Pada jarak beberapa li, mereka melihat sebuah pulau yang besar, dengan pohon-pohon yang hijau di sebelah timur terlihat beberapa gunung yang menjulang tinggi keangkasa. Dengan angin yang bagus, perahu itu berlayar dengan cepat dan dengan waktu kira-kira semakanan nasi, dia sudah tiba di depan pulau. Di bagian timur pulau, tidak terdapat pesisir yang lazim dari pasir cetek. Batu gunung di bagian itu termasuk masuk ke dalam air yang tak diketahui berapa dalamnya. Perahu ditujukan ke jurusan timur dan segera menempel pada batu gunung yang menjulang ke atas dari pinggir air.

Baru saja perahu itu melepas jangkar di atas gunung sekonyong-konyong terdengar teriakan atau jeritan dahsyat yang menyerupai auman harimau dan jeritan Naga. Teriakan itu yang berulang-ulang seolah-olah menggetarkan seluruh gunung.

Mendengar teriakan itu, Boe Kie tercampur girang, karena dia mengenali karena itulah teriakan ayah angkatnya, Kim Mo Say Ong Cia Soen. Sesudah berpisah belasan tahun, keangkeran Gie Hoe ternyata masih seperti dahulu. Tanpa memikir panjang-panjang lagi, buru-buru ia mendaki tangga dan naik di atas geledak di belakang perahu. Ia menengadah dan mengawasi puncak bukit atau gunung kecil itu. Ia melihat empat pria bersenjata sedang mengepung sorang yang bertubuh tinggi besar dan orang itu, yang bertangan kosong memang bukan lain dari ayah angkatnya.

Biarpun buta dan biarpun dikerubuti berempat Cia Soen tidak jatuh di bawah angin. Boe Kie yang belum pernah melihat ayah angkatnya yang sedang ramai bertempur dia merasa kagum sekali. Tak heran nama Kim mo say ong Cia Soen menggetarkan Rimba Persilatan. Ilmu silatnya lebih tinggi daripada Ceng Ek Hok Ong, Wie It Siauw dan kira-kira setanding dengan kakeknya.

Tapi ke empat musuh itupun bukan lawan enteng. Karena jauh, Boe Kie tidak bias melihat dengan jelas muka mereka. Tapi dilihat dari pakaian mereka yang compang-camping dan karung yang menggemblok dipunggung mereka sudah dapat dipastikan mereka adalah anggota Kaypang. Tiga orang lain berdiri menonton, kalau empat kawannya kalah, mereka tentu turut turun tangan.

Tiba-tiba teriakan seseorang, “Serahkan To liong to! Golok tukar dengan jiwa!”

Meskipun kuping nya tajam, Boe Kie tidak bias menangkap semua perkataan itu. Tapi ia sudah tahu, bahwa musuh itu dating menyatroni untuk merebut To liong to!

Cia Soen tertawa terbahak-bahak, “To liong to ada di sini! Ambillah sendiri, kalau kau mampu!” teriaknya. Sedang mulutnya berbicara, perlawanannya sedikitpun tak menjadi kendor.

Dengan sekali berkelebat, Kim hoa popo sudah mendarat. Sambil batuk-batuk ia berteriak, “Para pendekar Kaypang! Apa maksud kalian? Tanpa bicara dulu dengan si nenek, kalian mengganggu tamu terhormat dari Leng coa to.”

Sekarang Boe Kie mendapat kepastian, bahwa pulau itu benar Leng coa to. Ia merasa sangat heran. Dulu ayah angkatnya menolak untuk kembali ke Tong Goan. Mengapa kini ia suka mengikuti Kim hoa popo? Cara bagaimana si nenek tahu, bahwa ayah angkatnya berada di Peng Hwee To?

Mendengar teriakan nyonya rumah, keempat orang itu rupa-rupanya menjadi bingung. Dalam usaha untuk menjatuhkan Cia Soen secepat mungkin, mereka memperhebat serangan. Tapi dengan berbuat begitu, mereka melakukan kesalahan besar.

Sebagai orang buta, Cia Soen melawan dengan mengandalkan kupingnya. Ia menangkis setiap serangan dengan mendengar sambaran angin dari pukulan-pukulan musuh. Dengan memperhebat serang mereka-mereka, sambaran-sambaran jadi makin keras dan hal ini bahkan memusnahkan perlawanan Cia Soen. Di lain saat, seraya membentak keras Cia soen meninju dan tinju itu mampir di dada salah seorang musuh. Orang berteriak dan roboh tergelincir kebawah, akan kemudian jatuh di atas batu, sehingga kepalanya hancur.

Melihat begitu, salah seorang yang nonton lantas saja membentak, “Mundur!” Ia melompat dan meninju. Ia meninju dengan tenaga yang “seperti ada dan seperti tidak ada” sehingga Cia soen tak bisa membedakan arah sambarannya. Waktu tinju hanya terpisah beberapa dim dari tubuhnya, barulah ia bisa merasakan sambarannya dan menangkis dengan terburu-buru.

Sementara itu, ketiga orang yang tadi mengerubuti sudah melompat keluar dari gelanggang. Di lain saat seorang kakek lain yang tadi menonton turut membantu kawannya. Ia pun menyerang dengan pukulan-pukulan “lembek” sehingga baru saja bertempur beberapa jurus Cia Soen sudah jadi repot sekali.

“Kie Tiangloo! The Tiangloo!” teriak Kim hoat popo. “Kim mo say ong buta matanya. Dengan menyerang secara licik cuma saja kalian mempunyai nama besar dalam dunia Kang Ouw.” Seraya berkata begitu, bagaikan terbang ia terus mendaki gunung. Dengan menggunakan segenap tenaganya, Coe Jie mengikuti dari belakang.

Sebab kuatir akan keselamatan ayah angkatnya, Boe Kie juga segera menyusul. Tio Beng memburu dan menyandaknya. “Dengan adanya nenek itu, kau tak usah kuatir,” bisiknya. “Yang paling penting kau tak boleh memperkenalkan dirimu.”

Boe Kie mengangguk dan sambil mencekap tangan si nona ia terus berlari-lari di belakang Coe Jie. Sambil mengikuti dengan rasa kagum ia mengawasi potongan badan Coe Jie yang langsing dan gemulai. Kalau mukanya tidak jelek karena latihan ilmu yang sesat, nona itu pasti tidak kalah dengan Tio Beng, Cie Jiak atau Siauw Ciauw. Mengingat begitu, jantungnya memukul keras. Di lain detik, ia mengutuk dirinya sendiri. “Boe Kie! Boe Kie! Kau benar edan!” katanya di dalam hati. “Sedang ayah angkatmu menghadapi bencana, kau masih bisa memikir yang gila-gila!”

Tak lama kemudian ia sudah tiba di pinggang gunung. Ia mendapat kenyataan, bahwa ayah angkatnya melawan dengan pukulan-pukulan pendek. Itulah siasat untuk membela diri. Ia memunahkan serangan-serangan musuh dengan Siauw kim na chioe (ilmu menyengkram dan membantung dengan jarak pendek). Dengan menggunakan siasat itu, untuk sementara waktu Cia Soen memang bisa menyelamatkan diri, tapi ia sukar bisa memperoleh kemenangan.

Dengan menyembunyikan diri dibawah sebuah pohon siong, Boe Kie mengawasi ayah angkatnya. Pada muka orang tua itu terlihat lebih kerutan sedang rambutnya sudah hampir putih semua. Rupa-rupanya, selama berada di pulau Peng hwee to belasan tahun, ia banyak menderita, sehingga ia cepat tua. Boe Kie ikut menderita. Ia ingin sekali turut menyerbu untuk menghajar musuh. Ia ingin sekali memeluk orang tua itu dan memperkenalkan dirinya.

Tio Beng mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu. Ia memegan tangan Boe Kie erat-erat dan mengeleng-gelengkan kepalanya.

Sekonyong-konyong Kim hoa popo berkata dengan suara nyaring. “Kie Tangloo, Im san ciang Liok Kioe sudah tersohor dalam dunia Kang Ouw. Mengapa kau malu-malu kucing dan menyembunyikan dalam pukulan Sin Ciang? Ah! The Tiang Loo lebih tolol lagi. Dia menyembunyikan Hoei hong Hoed lioe koen di dalam Patkwa koen. Apa kau kira Cia tayhiap tak tahu? Oh oh oh … oh oh … uh.. uh …” Ia batuk-batuk. “Dahulu, kaypang adalah sebuah partai besar yang dihormati sebagai partai yang selalu menolong sesama manusia….. oh oh oh … sayang, sungguh sayang! … makin lama jadi makin busuk…”

Karena tak bisa melihat pukulan musuh yang sangat licik, Cia Soen memang lagi bingung. Mendengar petunjuk si nenek ia girang. Pada detik The Tiangloo mau mengubah pukulannya, ia membarengi dengan tinjunya. Hampir berbareng dengan beradunya kedua tinju kanan The Tiangloo terhuyung satu dua tindak. Untung juga iapun memiliki kepandaian tinggi sehingga ia tak sampai roboh. Sebelum Cia Soen bisa mengirim serangan susulan, Cia Tiangloo sudan merangsek untuk menolong kawannya.

Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa Kie Tiangloo bertubuh kate gemuk dan dengan mukanya yang bersinar merah, ia menyerupai seperti seorang tukang potong babi. Di lain pihak, The Tiangloo berbadan kurus kering. Di sebelah kejauhan, berdiri seorang pemuda yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Iapun mengenakan pakaian kaypang dengan perbedaan, bahwa pakaiannya yang rombeng kelihatan bersih. Di punggungnya menggemblok delapan lembar karung. Bahwa seorang muda seperti dia bisa menjadi tiangloo (tetua) dengan pertandaan delapan karung, adalah kejadian yang luar biasa. Beberapa kali Boe Kie mengawasi dia, ia merasa, bahwa ia pernah bertemu dengan orang itu, tapi ia lupa di mana dan lagi kapan pertemuan itu terjadi.

Tiba-tiba pemuda itu berkata, “Kim hoa popo, terang-terangan kau tidak membantu Cia Soen, tapi gelap-gelapan kau membantu juga. Apa kau tidak curang?”

“Apakah tuan tiangloo dari kay pang.” Tanya si nenek dengan suara tawar. “Maaf, nenekmu belum pernah bertemu muka denganmu.”

“Tentu saja popo tidak mengenal aku, sebab belum lama aku menduduki kursi tiangloo,” jawabnya. “Aku she Tan, namaku Yoe Liang.”

Tan Yoe Liang! Boe Kie lantas saja ingat. Waktu Thay suhu mengajaknya ke Siauw Lim sie untuk berobat, salah seorang murid Siauw Lim telah menghafal Boe Teng Kioe yang kang dengan hanya sekali membaca. Murid Siauw lim itu bukan lain adalah Tan Yoe Liang. Bagaimana ia sekarang menjadi tiangloo dari partai pengemis? Tapi hal itu tidak tetlalu mengherankan. Memang juga ada banyak anggota lain partai yang masuk kedalam kaypang. Bahwa ia bisa menjadi tiangloo bukan kejadian luar biasa. Ia berotak cerdas. Dengan memiliki ilmu silat Siauw lim sie dan Boe tong Kioe yang kang, tak heran kalau dia menduduki kedudukan penting di dalam partai itu.

“Apa murid Boe tong pun masuk ke dalam kaypang?” bentak Kim hoa popo.

Dari suara Tan Yoe Liang, Boe Kie tahu bahwa orang itu memilki lweekang boe tong pay. Dia ternyata sudah melatih diri dalam Boe tong kioe yang kang yang dicurinya. Mendengar bentakan si nenek, Boe Kie mendongkol bukan main.

“Tak tahu malu!” katanya di dalam hati. Berbareng dengan itu, iapun akan merasa kagum atas ketajaman Kim Hoa Popo.

Tan Yoe Liang tertawa, “Sungguh lucu.” katanya. “Aku murid Siau Lim, tapi si nenek kukuh, bahwa aku anggota dari partai lain.

“Keras,” disertai Siaw Lim Kioe yang kang.

Boe Kie terkejut. Orang itu sudah mempelajari Kioe yang kang dari Siauw lim dan Boe tong dan benar-benar lihai.

Mendadak terdengar bentakan keras. Lengan kiri The Thiangloo kembali berbentur dengan tinjunya Cia Soen. Tiga murid kay pang yang tadi mundur dari gelanggang, dengan serentak menerjang pula dengan senjata mereka. Ilmu silat ketiga orang itu kalah jauh dari kedua tiangloo tapi penyerbuan mereka sangan menambah kerepotan Cia Soen.

Orang tua itu bukan saja tidak bisa melihat, tapi semenjak kedua matanya buta iapun belum pernah bertempur, sehingga ia tidak punya pengalaman. Hari ini pertama kali ia berhadapan dengan lawan-lawan berat dan berkelahi dengan hanya mengandalkan ketajaman kupingnya. Dengan bertambahnya musuh, bersenjata ia lantas jatuh di bawah angin sebab ia sukar membedakan yang mana sambaran tinju yang mana sambaran senjata tajam. Dalam sekejap bahunya sudah terbacok.

Melihat bahaya Boe Kie bersiap untuk menolong.

“Kim hoa popo tidak bisa tidak menolong” bisik Tio Beng sambil mencekal erat-erat tangan pemuda itu.

Tapi si nenek masih tenang-tenang saja. Sambil bersandar dengan tongkatnya ia hanya bersenyum dingin.

Di lain detik, betis Cia Soen kena tendangan Tiangloo. Tendangan itu sangat hebat, sehingga Cia Soen terhuyung hampir-hampir ia roboh. Kelima anggota kaipang itu jadi girang. Sambil berteriak mereka memperhebat serangan.

Boe Kie sudah siap sedia. Sebelah tangannya sudah memegang tujuh butir batu kecil. Pada detik yang sangat berbahaya, ia menimpuk dan tujuh butir batu itu menyambar ke arah lima musuh. Tapi sebelum batu-batu itu mampir pada sasarannya, mendadak terlihat berkelebatnya sehelai sinar hitam.

“Trang!” tiga senjata putus empat sosok tubuh manusia juga putus dan jatuh ke lereng gunung.

Antara kelima musuh itu, hanya The tiangloo yang masih hidup dan cuma putus lengan kanannya. Ia menggeletak di tanah dengan punggung tertancap sebutir batu yang ditimpukkan oleh Boe Kie. Keempat musuh yang sudah binasa juga tak luput dari sasaran batu. Tapi batu-batu itu sudah didahului dengan babatan golok, sehingga bantuan Boe Kie sebenarnya sudah tidak perlu lagi.

Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Di lain detik, Cia Soen kelihatan berdiri sambil mencekal sebatan golok yang berwarna hitam. Golok itu bukan lain daripada “Boe lim Cie Coen” To liong to! Sambil melintangkan senjatanya, Kim mo berdiri tegak dengan semangat bergelora dan keangkeran yang tiada taranya sehingga ia seolah-olah malaikat yang baru turun dari atas langit.

Sedari kecil Boe Kie sudah sering melihat golok mustika itu, tapi ia tak pernah menduga bahwa To liong to sedemikian hebat.

“Boe lim cie coen… po to To liong!… boa lim coen po to To lion!” (yang termulia dari rimba persilatan adalah golok mustika To liong).

Sementara itu The tiangloo yang putus lengannya terus berteriak-teriak. Dengan paras muka pucat Tan YOe Liang berkata, “Cia Tayhiap, aku akan merasa sangat takluk dengan ilmu silatmu. Aku mohon kau suka mengampuni jiwa The tiangloo dan membiarkan dia turun gunung. Aku bersedia untuk menggantikan jiwanya dengan jiwaku sendiri. Cia Tayhiap kau turun tanganlah!”

Semua orang kaget. Mereka tak sangka pemuda itu mempunya “gie kie” (perasaan persahabatan) yang begitu besar. “Gie” adalah sesuatu imlu silat yang sangat hebat dalam Rimba persilatan dan tiada bandingannya di kolong langit ini.

—–

“Aku akan mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi dan sepuluh tahun kemudian, aku akan menemui Cia tayhiap lagi.”

Kalau mau, dengan sekali membabat Cia Soen bisa membinasakan Tan Yoe Liang dan menyingkirkan ancaman di hari kemudian. Tapi ia seorang yang bernyali sangat besar dan sedikit pun ia tak merasa jeri terhadap ancaman itu. “Baiklah,” katanya.

“Jika lohu masih hidup, sepuluh tahun kemudian lohu akan meminta pelajaran mengenai sinkang dari Siauw Lim dan Boe Tong.”

Tan Yoe Liang merangkap kedua tangannya dan sambil membungkuk ia berkata kepada Kim Hoa popo. “Kay pang telah mengacau di pulau ini dan aku meminta maaf.” Sesudah itu mendukung The tiangloo, ia berlalu.

Seperginya Tan Yoe liang, dengan mata melotot Kim hoa popo mengawasi Boe Kie. “Bocah, timpukanmu lihai juga!” katanya. “Tapi mengapa di dalam kedua tanganmu, kau memegang tujuh butir batu? Apakah sebutir untuk Tan Yoe Liang dan sebutir lagi untuk aku sendiri.”

Boe Kie terkejut karena is nenek sudah dapat menebak niatnya. Ia tak bisa segera menjawab dan hanya tersenyum.

“Bocak!” bentak Kim hoa popo dengan gusar. “Siapa kau? Mengapa kau menyamar sebagai anak buah kapal? Mengapa kau menguntit nenekmu. Bocah! Di hadapaan Kim hoa popo, kau tidak boleh main gila.”

Dibentak begitu, Boe Kie yang tidak bisa berdusta jadi gugup. Untung juga Tio Beng lantas menolong. Dengan mengubah suaranya, si nona berkata. “Kami orang-orang Kie kengpang memang biasa berdagang tanpa modal di lautan terbuka dan popo telah mengeluarkan banyak uang untuk menyewa kapal itu. Halangan apa kalau kami mengantar popo? Melihat kay pang menghina orang mengandalkan jumlahnya yang besar, saudaraku sudah membantu. Maksudnya baik sekali. Di luar dugaan Cia tayhiap memiliki kepandaian yang begitu tinggi, sehingga bantuan itu sebenarnya tidak perlu.” Ia berbicara dengan nada seorang pria yang agak terlalu nyaring. Baik juga si nenek tidak memperhatikan keganjilan itu.

Cia Soen mengibaskan tangan kirinya dengan berkata “Terima kasih. Kalian pergilah. Hai!… Kim Mo Say Ong telah jatuh di tanah datar dan hai ini ia mesti menerima bantuan Kim keng pang. Selama berpisahan dengan dunia kang ouw kira-kira dua puluh tahun, dalam rimba persilatan telah banyak muncul orang pandai. Hai!… sebenarnya, perlu apa kau kembali di Tiong goan.” Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara berduka.

Timpukan Boe Kie telah mengejutkan hatinya, karena dari sambaran angin ia tahu, bahwa orang yang menimpuk adalah seorang yang berkepandaian sangat tinggi, yang jarang terdapat di dalam dunia. Di samping itu ia telah berhasil membinasakan musuh-musuhnya hanya karena bantuan To liong to. Tanpa terasa, ia ingat kegagahannya pada duapuluh tahun berselang, pada ia mengamuk di pulau Ong poan san. Mengingat berbedaan antara dahulu dan sekarang, ia jadi berduka.

“Cia Hiantee,” kata Kim hoa popo, “Aku tidak membantu kau, sebab kutahu, bahwa kau dan aku selamanya tidak suka dibantu orang. Cia Hiantee, apa kau tidak gusar.”

Mendengar si nenek memanggil ayah angkatnya dengan istilah “hiantee” (adik) Boe Kie kaget tercampur heran.

“Tak usah sebut gusar, atau tidak gusar,” kata Cia Soen. “Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apakah kau sudah mendapat kabar tenang anakku Boe Kie.”

Boe Kie terkesiap. Hampir berbareng ia merasa tangannya dipijit Tio Beng. Ia tahu bahwa si nona melarang ia bergerak. Tadi ia karena ia tidak menghiraukan nasihat Tio Beng, hampir-hampir ia berurusan dengan si nenek karena urusan batu. Maka itu ia sekarang tidak berani berlaku sembrono lagi dan sebisa-bisa menahan hatinya.

“Belum! Aku tidak berhasil,” jawab si nenek.

Cia Soen menghela napas. Sesudah berdiam beberapa saat, ia berkata “Han Hoejin, kita berdua adalah saudara. Tak boleh kau menipu aku sebab mataku buta. Bilanglah! Apakah anakku Boe Kie masih hidup?”

Sebelum si nenek keburu menjawab, mendadak Coe Jie mendahului. “Cia Tayhiap…” Tapi ia tidak bisa meneruskan perkataannya, karena tangannya dipijit nenek Kim hoa yang menatap wajahnya dengan melotot.

“In Kauwnio,” kata Cia Soe tergesa-gesa. “Omong terus! Hayo…. Apa popo menipu aku. Dia berdusta bukan.”

Air mata si nona mengalir turun di kedua pipinya. Dengan muka menyeramkan, si nenek menempelkan telapak tangannya pada batok kepala Coe Jie. Si nona tahu, bahwa kalau ia berani bicara secara bertentangan dengan kemauan popo nya, ia bakal binasa seketika.

“Cia tayhiap,” katanya. “Popo tidak menipu kau. Kami tidak mendapat kabar apapun jua tentang Thio Boe Kie.”

Paras muka si nenek berubah terang, ia mengangkat tangannya dari batok kepala Coe Jie, tapi tangan kirinya masih tetap mencekal pergelangan tangan nona itu.

“Apa saja yang didengar olehmu?” tanya pula Cia Soen. “Bagaimana dengan Bengkauw? Bagaimana dengan sahabat-sahabat lama.”

“Tak tahu,” jawab si nenek. “Aku tidak memperdulikan urusan Kang Ouw. Yang penting bagiku adalah mencari Biat Coat suthay untuk membalas sakit hati. Urusan lain tidak menarik hatiku.”

“Bagus!” teriak Cia Soen dengan gusar. “Han Hoejin, apa yang dikatakan olehmu pada hari itu di pulau Teng Bwe to? Kau mengatakan, bahwa Thio Ngo tee suami istri telah membunuh diri di Boetongsan. Kau mengatakan bahwa anakku Boe Kie telah yatim piatu yang terhina-hina dalam dunia Kang Ouw dan di mana-mana dihina orang. Kau mengatakan, sungguh kasihan anak itu! Bukankah kau mengatakan itu semua.”

“Benar!”

“Kau mengatakan bahwa anakku itu kena pukulan Hian beng sin ciang, sehingga siang dan malam ia menderita kedinginan. Kau mengatakan juga bahwa di Ouw Hiap kok, kau telah bertemu dengan dia. Kau coba membawa dia ke leng coat to, tapi ia menolak. Tahulah yang dikatakan olehmu, bukan.”

“Benar! Jika aku menipu kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Kalau aku berdusta biarlah Kim hoa popo menjadi manusia hina-dina dalam Rimba Persilatan.”

“Koawmo, aku ingin mendapat keteranganmu,” kata Cia Soen.

“Memang benar apa yang di katakan popo,” kata Coe Jie. “Aku telah membujuk ia untuk mengikut ke leng coa to. Ia bukan saja menolak, ia bahkan menggigit belakang tanganku. Sampai sekarang masih ada tandanya. Aku tidak berdusta.”

Mendengar keterangan itu, tiba-tiba Tio Beng memijit tangan Boe Kie, sedang pada kedua matanya terlihat sinar mengejek dan mendongkol. Maka Boe Kie lantas saja berubah merah.

Sekonyong konyong si nona mengangkat tangan Boe Kie ke mulutnya dan menggigit belakang tangan si pemuda itu. Darah lantas saja mengalir keluar. Karena gigitan itu, kio yang sin kang yang berada di dalam tubuh Boe Kie lantas saja bergerak secara wajar untuk melawan serangan luar, sehingga sebagai akibatnya, bibir si nona pecah dan berdarah. Tapi sambil menahan sakit mereka tidak mengeluarkan suara.

Dengan rasa heran Boe Kie mengawasi nona Tio. Ia tidak tahu mengapa nona itu menggigit tangannya. Di lain pihak, nona Tio balas mengawasi dengan sinar mata tertawa dan paras muka kemerah-merahan. Dalam keadaan begitu, biarpun mulutnya berlepotan darah dan biarpun di atas bibirnya terdapat kumis palsu, ia kelihatannya cantik luar biasa.

Mendadak terdengar teriakan Cia Soen. “Bagus! Han hanjin, hanyalah sebab memikiri nasih anakku Boe Kie, maka aku rela berlalu dari Peng hwee to dan pulang ke Tionggoan. Kau berjanji akan mencari anakku itu. Mengapa sekarang kau tidak menepati janjimu itu.”

Boe Kie tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Air matanya lantas saja mengucur. Sekarang ia tahu, bahwa ayah angkatnya sudah rela menempuh segala bahaya, rela menghadapi musuh-musuh yang berjumlah besar dengan kedua mata tidak bisa melihat, karena memikiri dirinya.

“Apa kau lupa perjanjian kita?” tanya Kim hoa popo. “Aku mencari Thio Boe Kie dan kau meminjamkan To liong to kepadaku. Ciah Hian tee, begitu lekas kau menepati janjimu, aku pun akan segera menyelidiki anak itu secara sungguh-sungguh. Perkataan Kim hoa popo berat bagaikan gunung. Tak nanti aku mungkin janji.”

Cia Soen menggeleng-gelengkan kepala. “Bawa dulu Boe Kie ke hadapanku, barulah aku menyerahkan To Liong to,” katanya.

“Apa kau tidak percaya aku.”

“Dalam dunia ini banyak terjadi kejadian yang tidak dapat diramalkan lebih dahulu. Bahkan di antara orang-orang yang mempunyai hubungan seperti bapak dan anak, seperti saudara kaundung juga sering terjadi kejadian melanggar kepercayaan.”

Boe Kie tau, bahwa dengan berkata begitu, ayah angkatnya ingat kebusukan Seng Koen.

“Apa benar kau tidak suka meminjamkan to liong to kepadaku.” Tanya si nenek dengan suara mendongkol.

“Sesudah aku melepaskan Tan Yoe Lang aku bakal terus disetaroni musuh,” jawabnya. “Entah berapa banyak musuh-musuhku akan datang ke sini untuk mencari aku. Keadaan Kim Mo Say Ong tidak seperti dahulu. Kecuali to liong to, aku tak punya lain pembantu. Huh huh!…” tiba-tiba ia tertawa dingin.

“Han Hoejin, waktu lima musuh mengepung aku, orang gagah dari Kie keng pang telah menyediakan tujuh butir batu. Apakah aku tidak boleh merasa curiga juga? Huh huh. Rupa-rupanya kau mengharap supaya aku binasa di dalam tangannya orang-orang Kaypang. Sesudah aku mampus dengan mudah kau bisa merampas golokku. Mata Cia Soen buta, tapi hatinya tidak buta. Han Hoe jin aku mau tanya, kedatangan Cia Soen ke leng coa to dan senjata-senjata yang dipakai dirahasiakan. Mengapa rahasia itu bocor? Mengapa orang-orang kaypang sampai menyateroni aku di sini?

“Hal itu justru diselidiki olehku.”

Cia Soen tersenyum getir dan lalu memasukkan to liong to kedalam jubahnya. “Jika kau tak mau menyelidiki anakku Boe Kie, akupun tidak bisa memaksa,” katanya. “Jalan satu-satunya bagi Cia Soen ialah masuk pula dalam dunia Kang Ouw dan melakukan pula perbuatan-perbuatan yang menggemparkan.” Ia menengadah bersiul nyaring dan kemudian berlari-lari turun dari tanjakan di sebelah barat.

Biarpun buta ia bisa berlari dengan cepat menuju sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah utara pulau. Di puncak gunung terdapat sebuah gubuh kecil. Gubuk itu rupa-rupanya gubuh Cia Soen.

Sesudah Kim mo say ong berlalu sambil mengawasi Boe Kie dan Tio Beng dengan mata melotot Kim hoa popo membentak, “Pergi!”

Nona Tio segera menarik tangan Boe Kie dan mereka lalu kembali ke kapal.

Baru saja tiba di kapal, Boe Kie berkata, “Aku mau menengok Gie hoe”

“Apa kau tidak lihat sinar mata si nenek yang sangat ganas.” kata Tio Beng.

“Aku tidak takut padanya.”

“Aku merasa bahwa pulau ini diliputi macam-macam rahasia. Mengapa orang-orang kaypang yang bisa datang ke sini? Cara bagaimana Kim hoa popo tahu tempat bersembunyi ayah angkatmu? Cara bagaimana dia bisa mencari ayah angkatmu di Peng hwee to? Banyak pertanyaan masih belum terjawab. Memang sukar untuk membinasakan nenek itu. Tapi begitu lekas dia binasa, semua teka-teki tidak bisa dipecahkan lagi.”

“Akupun bukan mau membinasakan Kim hoa popo. Aku hanya ingin menemui Gie Hoe karena melihat penderitaannya aku merasa sangat tidak tega.”

Nona Tio menggeleng-gelengkan kepala. “Dengan ayah angkatmu, kau sudah berpisah belasan tahun,” katanya. “Kau harus bisa menahan sabar sehari dua, Tio kong coe aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah kita harus berwaspada terhadap Kim hoa popo atau harus lebih berjaga-jaga terhadap Tan Yoe Liang.”

“Menurut pendapatku, Tan Yoe Liang adalah seorang laki-laki tulen yang sangat mengutamakan persahabatan.”

“Thio Kong coe, apa kau tidak coba menipu aku? Apa jawabanmu jawaban setulus hati.”

“Menipu kau? Tan Yoe Liang rela menerima kebinasaan untuk menggantikan The tiang loo. Apa itu bukan perbuatan yang suka dilakukan? Apakah kita tidak harus menghormatinya sebagai seorang laki-laki sejati.”

Tio beng menatap wajah Boe Kie. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal. “Thio kong coe! Kau seorang kauwcoe dari bengkauw yang harus memimpin begitu banyak orang gagah, ku tak nyana kau bisa ditipu orang secara begitu mudah.”

“Ditipu orang?”

“Terang-terang Tan Yoe Liang menipu Cia tayhiap. Kau sendiri melihat dengan matamu. Apa kau tak sadar akan adanya tipu itu?”

Boe kie berjingkrak. “Dia menipu Gie hoe?” ia menegas.

“Dengan sekali membabat, Cia tayhiap telah membinasakan orang dan melukakan seorang jago kaypang. Namun andai kata saja Tan Yoe Liang memiliki ilmu silat yang lebih tinggi lagi, ia pasti tidak akan bisa meloloskan diri dari To liong to. Dalam keadaan begitu, seorang manusia biasa hanya melihat dua jalan. Melawan dengan nekad untuk membinasakan atau menekuk lutut dan minta ampun. Cia Tayhiap tidak ingin lain orang tahu tempat bersembunyinya. Biarpun Tan Yoe Liang berlutut tiga ratus kali, belum tentu ayah angkatmu bersedia mengampuni jiwanya. Tapi Tan Yoe Liang seorang manusia luar biasa. Dengan otaknya yang sangat cerdas, segera menempuh jalan hidup satu-satunya yaitu berlagak seperti seorang ksatria, berlagak menjadi seorang laki-laki tulen yang mengutamakan Gie Khie. Thio kongcoe sebagai manusia yang sangat pintar, mustahil kau tidak bisa melihat tipu daya yang sangat licik itu.” Sambil memberi keterangan, si nona menempelkan koyo pada luka di tangan Boe Kie karena gigitannya dan kemudian membalutnya dengan menggunakan sapu tangannya sendiri.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: