Kumpulan Cerita Silat

29/01/2009

Pisau Terbang Li (89 – Tamat)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 7:25 pm

Penutup

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Li Xun Huan terdiam beberapa saat. Lalu ia mendesah dan berkata perlahan, “Ketika seseorang menang, ia selalu merasa sangat kelelahan dan kesepian.”

“Kenapa?” tanya Sun Xiao Hong.

“Karena ia telah berhasil, ia telah mencapai tujuannya. Tidak akan ada lagi yang diharapkannya, yang dinanti-nantikannya. Tapi orang yang menderita kekalahan justru akan semakin terpacu untuk berusaha lebih giat lagi.”

Sun Xiao Hong kembali menggigit bibirnya dan berkata, “Jadi ternyata, kemenangan pun tidak terasa manis.”

Li Xun Huan terdiam. Lalu ia menyahut sambil tersenyum, “Walaupun rasa kemenangan pun sulit ditanggung, itu masih lebih ringan daripada rasa kekalahan.”

Keberhasilan dan kemenangan tidak akan memberikan kepuasan, tidak juga membawa kebahagiaan.

Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih saat menjalani perjuangan yang kau alami seumur hidupmu.

Jika kau sempat menikmati kebahagiaan seperti itu, hidupmu sungguh tidak sia-sia.

Paviliun adalah tempat orang bertemu untuk mengucapkan salam perpisahan. Perpisahan memang selalu membawa perasaan yang mengharu-biru.

Oleh sebab itu, hanya dengan mengucapkan kata ‘paviliun’, kesedihan pun sudah bisa terasa.

Hujan telah berhenti. Rerumputan basah dan kelihatan kacau.

Di luar paviliun, dekat jalan raya, sepasang muda-mudi sedang mengucapkan salam perpisahan mereka.

Seorang pemuda yang bersemangat dan seorang gadis yang penuh gairah. Tampak jelas, bahwa mereka sedang dimabuk cinta. Ia seharusnya tetap tinggal dan menikmati kegembiraan masa mudanya. Mengapa ia berkeras ingin pergi?

Terlihat pedang di sisinya. Namun pedang setajam apapun tidak dapat memisahkan cinta masa muda dan mimpi-mimpinya. Mata pemuda itu terlihat merah, sepertinya ia habis menangis.

“Kau telah menemaniku sejauh ini. Sudahlah, kau pulang saja.”

Si gadis menundukkan kepalanya dan bertanya, “Kapankah engkau akan kembali?”

“Aku belum tahu. Mungkin setahun, dua tahun,….”

Air mata si gadis kembali mengalir membasahi pipinya. Ia berkata, “Mengapa kau harus membuatku menunggu begitu lama? Mengapa kau harus pergi?”

Si pemuda menegakkan tubuhnya dan menjawab, “Aku telah mengatakannya kepadamu. Aku ingin menemukan mereka, dan mengalahkan mereka satu per satu!”

Pandangan mata si pemuda menuju ke kejauhan. Cahaya terang terpancar dari matanya. Lanjutnya, “Orang-orang yang tercantum dalam Kitab Persenjataan. ShangGuan JinHong, Li Xun Huan, Guo Song Yang, Lu Feng Xian…. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku lebih hebat daripada mereka semua. Dan setelah itu….”

Potong si gadis, “Dan setelah itu apa? Kita sudah begitu berbahagia sekarang. Setelah kau kalahkan mereka semua, apakah kita akan lebih berbahagia?”

Jawab si pemuda, “Mungkin juga tidak. Tapi, ini harus kulakukan!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa menyia-nyiakan setengah hidupku tanpa arti seperti ini. Aku ingin membuat nama bagi diriku sendiri. Aku ingin terkenal seperti ShangGuan JinHong dan Li Xun Huan. Dan aku yakin, aku pasti berhasil!”

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sungguh-sungguh sudah bertekad bulat.

Si gadis memandang kepadanya dengan tatapan kagum. Matanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan. Akhirnya ia mendesah dan berkata dengan lembut, “Aku pun yakin bahwa kau akan berhasil. Sampai kapan pun kau pergi, aku akan menunggumu di sini dengan setia.”

Hati mereka penuh dengan kesedihan karena akan berpisah, namun juga penuh dengan harapan akan kebahagiaan yang akan datang.

Tentu saja kedua orang itu tidak akan menyadari kehadiran orang lain.

Dari balik hutan, ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka.

Ketika si pemuda mulai melangkah menapaki jalan raya yang panjang di hadapannya, Sun Xiao Hong menghela nafas dan berkata, “Kalau saja dia tahu nasib seperti apa yang dialami Shang Guan Jin Hong, mungkin ia tidak akan begitu mudah meninggalkan kekasih hatinya…”

Apa yang terjadi setelah seseorang membuat nama untuk dirinya sendiri?

Sun Xiao Hong memandang Li Xun Huan dengan mata penuh air mata. Lanjutnya, “Ia ingin menjadi terkenal seperti engkau, tapi kau….apakah kau memang lebih berbahagia daripada dia? Kurasa….Kurasa jika kau berada di tempatnya, kau tidak akan berbuat seperti itu.”

Mata Li Xun Huan masih terpaku pada sosok si pemuda yang berjalan semakin jauh, dan akhirnya hilang dari pandangan. Jawabnya, “Jika aku ada di tempatnya, aku pun akan berbuat seperti itu.”

“Kau…”

“Manusia harus selalu memiliki tujuan dan ambisi. Dan terkadang, kita harus berani meninggalkan segala sesuatu demi meraih cita-cita itu. Apapun hasilnya, apakah itu keberhasilan atau kegagalan, itu tidaklah penting.”

Senyum kepuasan tergambar di sudut bibir Li Xun Huan. Matanya pun cerah dan bercahaya. Lanjutnya, “Ada orang yang akan menganggap itu sangat bodoh, namun tanpa pikiran seperti itu, apa jadinya dunia kita ini?”

Kini mata Sun Xiao Hong pun penuh kelembutan dan kekaguman, sama seperti mata si gadis tadi. Ia, seperti si gadis di paviliun itu, sangat bangga akan kekasihnya.

Ah Fei yang sejak tadi berdiri agak jauh, perlahan-lahan berjalan mendekati mereka.

Namun Sun Xiao Hong masih menggenggam tangan Li Xun Huan erat-erat, tidak ingin dilepaskannya. Ia tidak merasa malu. Ia tidak menganggap bahwa rasa cintanya terhadap Li Xun Huan harus disembunyikan.

Kalau bisa, ia bahkan ingin menyerukan pada seluruh dunia betapa ia mencintai Li Xun Huan.

Kata Ah Fei, “Kelihatannya ia tidak akan datang.”

Mereka berencana untuk bertemu dengan Lin Shi Yin di situ.

Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi di antara Lin Shi Yin dan Long Xiao Yun. Sama seperti si pemuda tadi, tidak tahu apa yang telah terjadi pada ShangGuan JinHong.

Ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui.

Ketika ia berpikir tentang Lin Shi Yin, tanpa terasa genggaman tangan Sun Xiao Hong pada Li Xun Huan mengendur.

Tapi dengan segera ia kembali menggenggamnya kuat-kuat, bahkan lebih dari sebelumnya. Katanya, “Ia telah berjanji untuk bertemu denganku di sini. Aku yakin, ia pasti akan datang.”

“Ia tidak akan datang!” kata Ah Fei.

“Kenapa?” tanya Sun Xiao Hong.

“Karena ia tahu bahwa tidak ada gunanya ia datang kemari.”

Sun Xiao Honglah yang bertanya, tapi waktu Ah Fei menjawab, matanya terarah kepada Li Xun Huan.

Li Xun Huan pun tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Sun Xiao Hong.

Dulu, setiap kali ia mendengar orang menyebut nama Lin Shi Yin, ia akan merasa sedih dan tertekan. Seolah-olah seluruh tubuhnya dikunci dengan belenggu.

Ia selalu menanggung beban kesedihan ini di punggungnya.

Namun kini, kesedihan itu tidak lagi seberat sebelumnya. Apakah yang telah membebaskannya?

Perasaannya terhadap Lin Shi Yin telah terpupuk begitu lama. Tentu saja perasaan itu menjadi teramat dalam.

Tapi, walaupun ia baru mengenal Sun Xiao Hong sebentar saja, mereka berdua telah mengalami kesukaran yang paling berat bersama-sama. Mereka telah melalui lautan api hidup dan mati.

Oleh sebab itukah, perasaan mereka menjadi lebih dalam?

Saat itu, Lin Shi Yin telah lama pergi.

Ah Fei benar – ia tidak datang, karena ia tidak perlu datang.

Long Xiao Yun muda pun pernah menanyakan pada ibunya, “Mengapa kau tidak memperbolehkan aku menemuinya sekali lagi saja?”

Lin Shi Yin balas bertanya, “Untuk apa kau menemuinya?”

“Aku hanya ingin ia tahu, mengapa ayah sampai mati,” kata Long Xiao Yun muda sambil mengertakkan giginya.

Apapun yang telah diperbuat Long Xiao Yun di masa lalu, ia telah membasuhnya bersih dengan darahnya sendiri.

Sebagai seorang anak, ia pasti ingin seluruh dunia mengetahuinya.

Tapi Lin Shi Yin tidak berpikir demikian. Katanya, “Ia melakukan apa yang dilakukannya, hanya karena ia merasa itulah yang harus dilakukan. Bukan karena ia ingin memohon pengampunan orang lain, juga bukan karena ingin seluruh dunia mengetahuinya.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Bukan saja ia telah melunasi hutang-hutangnya, ia pun telah melunasi hutang-hutang kita. Selama kita hidup berbahagia, aku yakin ayahmua akan bisa beristirahat dengan tenang.”

Lin Shi Yin pun tidak ingin berjumpa dengan Li Xun Huan, karena ia tahu bahwa perjumpaan itu hanya akan membawa kesedihan belaka.

Mereka pun tidak berusaha mencari mayat Long Xiao Yun, karena mereka tahu bahwa Partai Uang Emas selalu membuang mayat orang yang mereka bunuh dengan cepat dan efisien.

Dan jika mereka memaksa mencari, yang akan mereka dapatkan hanyalah kesedihan. Hal ini pun dipahami oleh Sun Xiao Hong. Mayat kakeknya pun tidak akan pernah ditemukan.

Ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak bisa dikendalikan. Siapapun tidak dapat mengendalikannya.

Walaupun hal-hal ini sulit diterima, kita hanya dapat mencari jalan untuk melaluinya, dan hidup terbebas dari belenggunya.

Mereka telah bertekad bulat untuk terus hidup! Karena kematian bukanlah solusi permasalahan mereka – kematian bukanlah solusi permasalahan apapun juga.

Ada sekelompok orang lain yang sedang mengucapkan salam perpisahan di paviliun itu.

Kali ini, Ah Feilah yang mengucapkan salam perpisahan. Ia berkata bahwa ia ingin bertualang pergi ke lautan luas, mencari rempah-rempah yang dapat membuat manusia hidup selama-lamanya dan mencari dewa umur panjang.

Tentu saja ia berbohong, namun Li Xun Huan tidak berusaha mencegahnya pergi.

Karena asal-usul Ah Fei pun merupakan suatu misteri. Ia tidak suka membicarakannya, bahkan dengan Li Xun Huan sekalipun. Namun setiap kali Li Xun Huan menyebut nama Shen Lang, Xiong Mao Er, Wang LianHua, Zhu QiQi, dan para pendekar lain dari generasi sebelumnya, wajah Ah Fei selalu berseri-seri dengan suatu ekspresi yang aneh.

Apakah ada hubungan antara Ah Fei dengan para pendekar di masa lalu itu?

Apakah itulah sebabnya ia memutuskan untuk bertualang di lautan lepas?

Li Xun Huan tidak berusaha menanyakannya.

Karena ia tahu bahwa masa lalu seseorang tidaklah penting. Manusia bukanlah anjing, bukan juga kuda. Silsilah keturunan bukanlah hal yang penting sama sekali.

Kita ingin menjadi orang seperti apa, itu semua ada di tangan kita masing-masing.

Itulah yang terpenting dan terutama.

Ketika sahabat berpisah, biasanya ada ucapan-ucapan selamat, juga ada banyak kesedihan dan emosi. Tapi di antara Li Xun Huan dan Ah Fei, yang ada hanyalah ucapan selamat, tidak ada kesedihan sama sekali.

Karena yang satu tahu pasti bahwa yang lain akan hidup berbahagia. Bahwa akan ada banyak kesempatan untuk bertemu kembali di kemudian hari.

Terutama ketika Ah Fei melihat tangan Li Xun Huan, hatinya menjadi tenteram.

Tangan Li Xun Huan masih menggenggam erat tangan Sun Xiao Hong.

Tangan itu telah memegang pisau terlalu lama. Telah memegang cawan anggur terlalu lalu lama. Pisau itu terlalu kejam dan cawan anggur terlalu dingin. Tangan itu pantas untuk merasakan kehangatan mulai sekarang.

Adakah dalam dunia ini yang lebih hangat daripada tangan kekasih hatimu?

Ah Fei tahu bahwa Sun Xiao Hong akan menghargai tangan itu, lebih daripada orang lain. Walaupun tangan itu masih penuh dengan luka-luka pertempuran panjang di masa lalu, dengan berjalannya waktu ia pasti dapat pulih kembali.

Tentang dirinya sendiri, tentu saja ia pun mempunyai luka-luka lama.

Tapi ia tidak ingin membicarakannya lagi.

‘Masa lalu sudah berlalu…’

Perkataan ini sepertinya sangat sederhana, tapi orang yang mampu melakukannya sungguh teramat sedikit.

Namun Li Xun Huan dan Ah Fei, mereka berdua telah berhasil lepas dari masa lalu mereka masing-masing.

Tiba-tiba Ah Fei berkata, “Aku akan kembali tiga tahun lagi.”

Ia memandang tangan mereka berdua yang masih bertaut dan tersenyum. “Waktu aku kembali, sebaiknya kau segera mentraktirku minum arak.”

Sahut Li Xun Huan, “Itu sudah pasti, tapi tiga tahun adalah waktu yang sangat lama.”

“Namun arak yang ingin kuminum itu arak yang spesial. Aku tidak tahu apakah kalian berdua bersedia menjamuku dengan arak itu.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Arak apa sih yang kau inginkan?”

“Tentu saja arak pernikahan kalian,” jawab Ah Fei sambil tersenyum lebar.

Arak pernikahan. Tentu saja arak pernikahan.

Karena arak pernikahan memang membutuhkan tiga tahun lamanya. Tiga tahun untuk berduka atas kematian kakeknya.

Wajah Sun Xiao Hong langsung bersemu merah.

Kata Ah Fei, “Aku telah mencicipi berbagai macam arak, kecuali yang satu ini. Kuharap kalian berdua tidak mengecewakan aku.”

Semakin merah wajah Sun Xiao Hong dibuatnya. Ia menundukkan kepala, namun mencuri-curi pandang pada Li Xun Huan.

Ekspresi wajah Li Xun Huan pun tampak aneh. Kata ‘arak pernikahan’ sama sekali tidak disangkanya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata, “Aku telah mengundang orang minum berbagai macam arak, namun aku belum pernah mengundang orang untuk minum arak pernikahan. Kau tahu sebabnya?”

Tentu saja Ah Fei tahu jawabannya, namun Li Xun Huan tidak menginginkan dia menjawabnya.

Jadi Li Xun Huanlah yang menjawab sendiri pertanyaannya, “Arak pernikahan itu terlalu mahal.”

“Terlalu mahal?” tanya Ah Fei heran.

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Ketika seorang pria menjamu orang lain dengan arak pernikahannya, itu berarti ia mengakui ia bersedia membayar hutang-hutangnya sedikit demi sedikit seumur hidupnya. Sayangnya, aku bukan orang yang suka mengecewakan sahabat-sahabatnya.”

Sun Xiao Hong memekik dan menghambur ke pelukan Li Xun Huan.

Ah Fei pun tertawa.

Ia sudah tidak tertawa seperti ini begitu lama.

Dengan satu tawa itu, tiba-tiba ia merasa bertambah muda. Semangat dan rasa percaya dirinya meluap-luap. Harapan dan cita-citanya pun bertunas kembali.

Bahkan sepotong kayu kering pun tampak begitu hidup di matanya. Karena ia tahu bahwa dari kayu lapuk itu akan muncul kehidupan yang baru. Tidak berapa lama lagi tunas-tunas pohon baru akan bermunculan di sana.

Ia tidak menyangka begitu besarnya pengaruh ‘tawa’ itu.

Ia tidak hanya mengagumi Li Xun Huan, ia pun sangat berterima kasih kepadanya. Karena tidak mudah bagi seseorang untuk melepaskan tawa yang sudah terpendam begitu lama. Tapi jika seseorang bisa membangkitkan tawa orang lain, itu lebih berharga lagi.

‘Menambahkan kaki pada gambar ular’ adalah suatu tindakan yang tidak perlu, juga suatu tindakan yang tolol.

Namun sudah ada begitu banyak ketidakpuasan dalam dunia ini. Mengapa kita tidak membantu menguranginya dengan sedikit tawa?

Tawa adalah seperti minyak wangi. Tidak hanya membuat diri sendiri menjadi lebih baik, namun juga membuat orang lain bergembira.

Apa salahnya bersikap sedikit tolol, kalau itu bisa membawa tawa bagi orang lain?

TAMAT

Advertisements

12 Comments »

  1. DAHSYAT MAN.SALAM KENAL

    Comment by SAIFULLAH — 29/04/2009 @ 4:32 am

  2. Ok. Salam kenal balik.

    Comment by ceritasilat — 30/04/2009 @ 3:49 am

  3. cerita yg paling ditunggu-tunggu pembaca adalah jalannya pertarungan antara LI Xun Huan dan Shang Guan Jinhong. Tapi anehnya, tau-tau li xun huan menang begitu saja….sungguh sayang seribu sayang.

    Comment by abuayyub — 23/05/2009 @ 11:25 am

  4. Kepada Abu Ayuub:

    Itu khas Khu Lung, mas. Mendebarkan di awal, biasa di akhir.

    Comment by ceritasilat — 25/05/2009 @ 2:24 am

    • keliru, justru itu letak aura kemisteriusannya Gulong, pertarungan antara Li Xun Huan vs Shang Guan Jinhong haruslah sangat dasyat. Oleh karena itu Gulong memilih untuk tidak menceritakannya secara detail, karena dia ingin seakan2 pertarungan ini terlalu dahsyat utk bisa digambarkan dengan kata-kata. Gulong ingin para pembaca bermain dengan imajinasi dan misteri dalam bayangan pikiran pembaca masing-masing utk merasakan kemisteriusan pertarungan tsb.

      Comment by Benyamin Obed S (@BenyaminObedS) — 25/08/2016 @ 2:10 pm

  5. ceritanya bagus, endingnya juga keren. Salam kenal pak, makasih utk ceritanya….

    Comment by Lian — 09/02/2010 @ 7:26 pm

  6. Wah, keren kok…Salam kenal yah…masih ada lanjutannya gak yah?

    Comment by Julian cheng — 05/04/2010 @ 5:29 pm

  7. Wow keren…Salam Kenal…ada lanjutan nya ga yah?

    Comment by Julian cheng — 05/04/2010 @ 5:32 pm

  8. saya sudah pernah membaca pisau terbang li karya khu lung saduran gan kl, agak kagok juga menyebut li xun huan sama dengan li sun hoan, shangguan jinhong adalah siangkoan kimhong, jin wu ming ternyata hing bu bing….untuk mas moderator, utk tiap penyadur memang memakai logat bahasa mandarin yang berbeda ya…trims.

    Comment by ivan gindink — 15/04/2010 @ 2:37 pm

  9. cerita yang bagus terutama pada penekanan kata-kata yang mendalam,seperti “aku tau apa yang tidak aku ketahui tapi aku tidak tau apa yang seharusnya aku tau” dan banyak lagi, so di tunggu karya selanjutnya.

    Comment by ardiyudiar — 01/01/2011 @ 12:32 am

  10. […] ardiyudiar on Pisau Terbang Li (89 –… […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:05 pm

  11. Cerita yg sangat dalam tanks buat dulur pengarang , dulur admin dan saudara Dodokins

    Comment by Anonymous — 12/08/2013 @ 7:58 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: