Kumpulan Cerita Silat

28/01/2009

Pisau Terbang Li [88]

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 7:21 pm

Kemenangan dan Kekalahan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Kaki Ah Fei tertekuk saat ia tersungkur dan tubuhnya mulai mengejang. Baru ia sadar bahwa mereka tidak punya jalan keluar yang lain lagi. Perasaan itu membuatnya menjadi setengah linglung.

Namun sudah percuma untuk menangis menggerung-gerung sekalipun.

Li Xun Huan berada di balik pintu besi ini, disiksa perlahan-lahan menantikan kematiannya.

Dan apa yang bisa dilakukan kedua sahabatnya hanyalah menunggu dengan pasrah di luar.

Tapi apakah sebenarnya yang mereka tunggu? Apakah mereka menunggu ShangGuan JinHong membuka pintu itu?

Jika ShangGuan JinHong membuka pintu, itu berarti hidup Li Xun Huan telah berakhir.

Jadi apa yang mereka nantikan? Mereka sedang menantikan suatu kematian.

Tidak mungkin ShangGuan JinHong akan menyayangkan nyawa mereka pula. Saat ShangGuan JinHong keluar dari pintu itu adalah saat mereka menandatangani surat kematian mereka.

Sun Xiao Hong berlari ke arah Ah Fei dan berusaha menarik Ah Fei bangun.

“Ayo, cepatlah lari,” kata Sun Xiao Hong.

“Kau….Kau menyuruh aku lari?”

“Tidak ada lagi yang dapat kau lakukan sekarang, aku….”

Tanya Ah Fei, “Bagaimana dengan engkau?”

Sun Xiao Hong menggigit bibirnya dan berpikir lama. Lalu ia menunduk dan berkata, “Situasiku berbeda.”

“Berbeda?”

“Aku sudah memutuskan sejak lama bahwa jika ia mati, aku pun tidak akan hidup tanpa dia. Tapi kau….”

Kata Ah Fei, “Aku memang tidak bermaksud ikut mati menemani dia.”

“Oleh sebab itulah kau harus secepatnya lari.”

“Aku pun tidak bermaksud untuk lari.”

“Kenapa?”

Jawab Ah Fei singkat, “Kau pasti tahu kenapa.”

Kata Sun Xiao Hong, “Aku mengerti, kau pasti ingin membalaskan kematiannya. Tapi itu kan tidak harus sekarang. Kau bisa menunggu…”

“Aku tidak bermaksud untuk menunggu.”

“Tapi jika kau tidak menunggu, maka….maka….”

Tanya Ah Fei, “Maka apa?”

Bibir Sun Xiao Hong mulai berdarah.

Serunya lantang, “Maka kaulah yang akan mati!”

Ah Fei memandangi bekas noda darah di pedang bambunya.

Darah itu sudah kering.

Kata Sun Xiao Hong, “Aku tahu, apapun yang akan terjadi, kau akan tetap mencoba. Tapi usahamu akan sia-sia belaka.”

Kata Ah Fei, “Dan apa gunanya juga kau menunggu di sini untuk mati bersama dengan dia?”

Sun Xiao Hong tidak punya jawaban.

Kata Ah Fei lagi, “Kau menunggu di sini karena kau tahu bahwa ada hal-hal tidak akan berhasil, namun tetap saja harus kau lakukan.”

Sun Xiao Hong akhirnya mengeluh panjang dan berkata, “Makin lama perkataanmu semakin mirip dengan perkataannya.”

Ah Fei terdiam dan menganggukkan kepalanya.

Ia mengakuinya. Tidak mungkin ia menyangkalnya.

Setiap orang yang pernah berteman dengan Li Xun Huan tidak mungkin tidak terimbas oleh sikapnya yang tidak pernah mementingkan diri sendiri.

Jika ia tidak pernah bertemu dengan Li Xun Huan, mungkin Ah Fei telah kehilangan kepercayaan terhadap sesama manusia sejak lama.

‘Jangan percaya kepada siapapun juga, dan jangan pernah menerima kebaikan orang lain; kalau kau tidak menurutinya, hidupmu akan penuh dengan berbagai macam penderitaan.’

Ibu Ah Fei harus menanggung duka dan derita seumur hidupnya. Tidak pernah sekalipun Ah Fei melihat ibunya tersenyum. Ia telah meninggal dalam usia muda, mungkin karena ia telah putus harapan dalam hidupnya.

‘Aku bersalah kepadamu. Seharusnya aku menunggu sampai kau dewasa, baru aku meninggalkan dunia ini. Tapi aku sungguh tidak tahan lagi, aku merasa sangat lelah… Maafkan aku, aku tidak dapat meninggalkan apa-apa untukmu, hanya sedikit pesan ini saja. Aku harus hidup menderita seumur hidupku untuk mempelajarinya, jadi jangan pernah lupa akan pesanku ini.’

Ah Fei tidak pernah lupa akan pesan ibunya.

Waktu ia meninggalkan alam bebas dan masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat, ia tidak sedang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik. Sebaliknya, ia ingin membalas dendam terhadap umat manusia, siapa pun juga, atas penderitaan ibunya.

Tapi ironisnya, orang yang pertama ditemuinya adalah Li Xun Huan.

Li Xun Huan telah membuatnya sadar bahwa hidup itu tidak melulu penderitaan dan duka nestapa. Li Xun Huan membuatnya sadar bahwa kematian bukanlah suatu hal yang buruk dan mengerikan, seperti yang dulu dipikirnya. Ia telah belajar begitu banyak dari Li Xun Huan.

Awalnya ia sungguh yakin bahwa moralitas dan keluhuran budi itu tidak ada dalam dunia nyata.

Tapi Li Xun Huan telah menyentuh hidupnya begitu rupa, bahkan lebih daripada ibunya sendiri.

Karena yang didengungkan Li Xun Huan adalah ‘cinta’, bukan ‘benci’.

Cinta memang selalu lebih mudah diterima daripada benci.

Namun kini, begitu sulitnya Ah Fei memadamkan api kebencian yang sedang berkobar dalam hatinya.

Kobaran kebencian ini mendorongnya untuk menghancurkan. Menghancurkan orang lain, menghancurkan diri sendiri, menghancurkan segala sesuatu.

Ia sungguh merasa bahwa hidup itu sama sekali tidak adil. Bahwa orang seperti Li Xun Huan harus berakhir seperti ini.

Sun Xiao Hong menghela nafas dengan berat. Katanya, “Jika ShangGuan JinHong tahu kita berdiri di sini menantikan dia, ia pasti sangat berbahagia.”

Ah Fei mengertakkan giginya dan berteriak, “Biar saja dia berbahagia! Hanya orang baik saja yang selalu menderita. Kebahagiaan hanya dianugerahkan kepada orang-orang jahat!”

Tiba-tiba terdengar suara berseru, “Kau salah besar!”

Walaupun pintu besi itu begitu berat, ternyata saat pintu itu dibuka, tidak kedengaran derit sedikit pun.

Oleh sebab itulah, mereka berdua tidak menyadari bahwa pintu itu telah dibuka.

Seseorang melangkah perlahan keluar dari sana….dan ia adalah Li Xun Huan!

Ia kelihatan lelah dan letih, namun ia hidup.

Yang terpenting adalah ia hidup!

Ah Fei dan Sun Xiao Hong menoleh dan menatapnya dengan mulut ternganga. Air mata langsung mengalir membasahi wajah mereka.

Air mata bahagia. Dalam kegembiraan dan kesedihan, selain air mata, tidak ada lagi yang perlu dilakukan, tidak ada lagi yang perlu diucapkan. Tidak seorang pun bergerak.

Mata Li Xun Huan pun telah terasa panas dan basah oleh air mata. Dengan tersenyum ia berkata, “Kau salah besar. Orang yang baik tidak akan menderita dalam keputusasaan. Dan penderitaan yang dialami orang yang jahat akan jauh lebih besar daripada kebahagiaannya.”

Sun Xiao Hong memburu ke arahnya dan jatuh ke dalam pelukan Li Xun Huan. Ia menangis tersedu-sedu.

Ia tidak bisa berhenti menangis saking bahagianya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Ah Fei mendesah dan tidak dapat membendung pertanyaannya. “Di manakah ShangGuan JinHong?”

Li Xun Huan membelai rambut Sun Xiao Hong dengan lembut sambil menjawab, “Ia pasti menderita sekarang, karena ia telah membuat satu kesalahan.”

“Kesalahan apa yang diperbuatnya?”

“Sesungguhnya ia punya begitu banyak kesempatan untuk membunuhku. Ia bisa memojokkanku sampai aku tidak bisa lagi mempertahankan diri. Tapi ia tidak menggunakan kesempatan itu.”

Bagi seseorang seperti ShangGuan JinHong, mengapa ia sengaja melepaskan kesempatan sebaik itu?

Sun Xiao Hong pun ikut bertanya, “Kenapa bisa begitu?”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Karena ia ingin berjudi.”

Mata Sun Xiao Hong berkilat dan ia berkata, “Ia pasti tidak percaya akan perkataan ‘Pisau Terbang Li Kecil, sekali sambit tidak pernah luput’!”

“Ia tidak percaya – ia tidak percaya pada siapapun juga. Tidak ada satu pun dalam dunia ini yang dipercayainya,” kata Li Xun Huan.

Tanya Sun Xiao Hong, “Dan bagaimana jadinya?”

“Jadinya, ia sudah kalah!”

Ia sudah kalah!

Tiga kata yang sederhana.

Kemenangan dan kekalahan ditentukan dalam sekejap saja.

Tapi betapa menegangkannya, betapa menakjubkannya satu kejap itu!

Satu kilatan cahaya itu pasti begitu mengerikan. Namun juga begitu mempesona.

Satu-satunya kekecewaan Sun Xiao Hong adalah bahwa ia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi dalam satu kejap itu.

Ia tidak perlu melihatnya dengan mata kepala sendiri. Hanya memikirkannya saja, membuat jantungnya berdegup kencang!

Meteor pun begitu indah dan menawan.

Meteor meluncur membelah langit malam dengan cahayanya yang terang berkilat, membuat siapapun yang melihatnya pasti tergugah hatinya.

Tapi meteor tidak dapat dibandingkan dengan kilatan sinar sebilah pedang.

Cahaya meteor tidak hidup lama.

Namun kegemilangan sebilah pedang akan bercahaya selama-lamanya!

Pintu itu telah terbuka.

Tidak ada yang bisa memisahkan dunia ini lagi.

Jika seseorang ingin mengasingkan diri dari dunia, ia pasti telah terlebih dulu ditolak oleh dunia ini!

Ah Fei melangkah masuk ke dalam.

Yang pertama terlihat olehnya adalah pisau itu, pisau yang penuh misteri.

Pisau Terbang Li Kecil!

Pisau itu tidak menembus leher ShangGuan JinHong, namun cukup untuk mengambil nyawanya.

Pisau itu masuk tepat di pangkal lehernya, menembus tulang bahunya, dan mengarah ke atas. Pisau itu pasti dilepaskan dari tempat yang sangat rendah.

Wajah ShangGuan JinHong kelihatan ketakutan dan tidak percaya. Sama seperti ekspresi sebagian besar orang yang dibunuh Li Xun Huan sebelum dia.

Semua kehidupan diciptakan sama. Terutama di hadapan kematian, kita semua sama. Tapi sayang, banyak orang menyadarinya setelah hasil akhir ditentukan.

Wajah ShangGuan JinHong penuh dengan rasa terkejut, ragu, dan tidak percaya.

Ia sama seperti yang lain, ia tidak percaya ada pisau yang begitu cepat.

Bahkan Ah Fei pun sulit percaya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Li Xun Huan menyambitkan pisau itu.

Ia ingin sekali Li Xun Huan menceritakan segala sesuatu dengan detil, tapi ia tahu bahwa Li Xun Huan tidak akan melakukannya.

Kegemilangan cahaya dalam satu kejap itu. Kecepatan sambitan pisaunya. Keduanya tidak dapat diterangkan dengan kata-kata.

‘Ia sudah kalah!’

Tangan ShangGuan JinHong masih terkepal erat, seolah-olah sedang berpegangan pada sesuatu. Apakah ia masih tidak mau percaya akan apa yang terjadi sampai akhirnya?

Ah Fei tiba-tiba merasa muram, seakan-akan ia bersimpati pada orang ini. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa begitu.

Mungkin ia bukan bersimpati pada ShangGuan JinHong, melainkan pada dirinya sendiri.

Karena ia adalah manusia, dan ShangGuan JinHong pun adalah manusia. Semua manusia memiliki rasa sedih dan penderitaan yang serupa.

Walaupun bukan ia yang kalah, apakah yang ia pegang erat-erat? Apakah yang sesungguhnya telah didapatkannya?

Ah Fei terpekur sekian lama, lalu menolehkan kepalanya.

Yang ditemukannya adalah Jin Wu Ming.

Seolah-olah Jin Wu Ming tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ. Walaupun selama itu ia berdiri tepat di belakang Ah Fei, seakan-akan ia sedang berdiri di dunia lain.

Walaupun matanya menatap lurus pada ShangGuan JinHong, sebenarnya ia sedang menatap dirinya sendiri.

Hidup ShangGuan JinHong adalah hidupnya. Ia adalah bayangan ShangGuan JinHong.

Ketika hidup sudah musnah, bagaimana mungkin bayangannya bisa tetap ada?

Kapan pun dan di mana pun, setiap kali Jin Wu Ming berdiri di dekatnya, orang akan merasakan aura membunuh melingkupi dirinya.

Tapi sekarang, aura itu sudah hilang lenyap.

Ketika Ah Fei masuk ke dalam situ, ia bahkan tidak menyadari ada jiwa lain di sana.

Walaupun Jin Wu Ming masih hidup, yang tinggal hanyalah tubuhnya yang hampa. Ia bagaikan sebilah pedang yang telah kehilangan ketajamannya. Sama sekali tidak ada fungsinya lagi.

Ah Fei mengeluh panjang dalam hatinya. Ia sungguh mengerti perasaan Jin Wu Ming.

Karena ia pun pernah mengalami perasaan yang sama.

Setelah beberapa lama, Jin Wu Ming berjalan menuju mayat ShangGuan JinHong dan mengangkatnya dengan kedua tangannya.

Ia masih belum melihat ada orang lain di situ. Dengan perlahan, ia berjalan menuju ke pintu.

Tanya Ah Fei, “Kau tidak ingin membalas dendam?”

Jin Wu Ming tidak menoleh. Kecepatan langkahnya pun tidak berubah.

Ah Fei tertawa dingin. “Kau takut ya?”

Jin Wu Ming tiba-tiba berhenti.

Kata Ah Fei, “Masih ada pedang di pinggangmu. Mengapa kau takut untuk menghunusnya? Kecuali pedang itu hanya untuk pajangan saja.”

Jin Wu Ming memutar badannya.

Mayat itu jatuh ke tanah dan pedang pun melayang keluar dari pinggangnya.

Pedang itu berkelebat maju, menyerang langsung ke arah leher Ah Fei!

Ia memang sangat cepat, secepat biasanya. Tapi entah bagaimana, ketika pedang itu sudah sampai setengah kaki dari targetnya, pedang bambu Ah Fei telah tiba di lehernya!

Ah Fei telah membuat tiga pedang bambu. Ini adalah yang kedua.

Ia memandang Jin Wu Ming dan berkata perlahan, “Kau memang luar biasa cepat, namun kau tidak bisa lagi membunuh. Tahukah kau kenapa?”

Jin Wu Ming menurunkan pedangnya.

“Karena keinginanmu untuk mati lebih besar daripada musuhmu. Itulah sebabnya kau tidak bisa lagi membunuh.”

Mata Jin Wu Ming yang biasanya mati, mendadak bercahaya, penuh kesedihan. Setelah lama memandang Ah Fei, akhirnya ia menjawab singkat, “Ya.”

Kata Ah Fei, “Aku bisa membunuhmu.”

“Ya.”

“Tapi aku tidak akan membunuhmu.”

“Kau tidak akan membunuhku?” tanya Jin Wu Ming kaget.

“Aku tidak akan membunuhmu karena engkau adalah Jin Wu Ming!”

Otot-otot wajah Jin Wu Ming bergerak-gerak.

Ini adalah perkataan yang tepat sama, yang diucapkannya kepada Ah Fei saat pertama kali mereka bertempur. Namun hari ini, perkataannya telah berbalik menjadi perkataan Ah Fei.

Ia memikirkan perkataan ini dengan murka. Seolah-olah api telah berkobar di matanya, bagaikan seonggok abu yang tiba-tiba tersulut lagi.

Ah Fei memandangnya dan berkata, “Kau boleh pergi sekarang.”

“Pergi….?”

“Kau pernah memberikan kesempatan kedua kepadaku. Kini aku pun memberikan kesempatan kedua kepadamu…kesempatan yang terakhir.”

Ia memandangi punggung Jin Wu Ming yang melangkah keluar. Perasaan yang aneh bergelora dalam hatinya.

‘Gigi balas gigi, darah balas darah.’

Apa yang dulu diberikan Jin Wu Ming kepadanya, kini telah dibayarnya lunas.

Ketika hati manusia sudah mati, hanya dua hal yang bisa membuat orang itu terus hidup.

Yang satu adalah cinta, yang lain adalah benci.

Ah Fei bisa terus hidup karena cinta. Dan kini ia ingin memperpanjang hidup Jin Wu Ming oleh kebencian.

Tapi sungguh, ia hanya ingin Jin Wu Ming terus hidup.

Jika ini adalah balas dendam, ini adalah cara membalas dendam yang tidak mementingkan diri sendiri. Kalau semua balas dendam dilakukan dengan cara ini, sejarah umat manusia akan jauh lebih cerah. Dan tidak dapat diragukan bahwa kehidupan umat manusia akan berlanjut untuk selama-lamanya.

Dalam bentuk apapun, balas dendam itu selalu memuaskan hati.

Namun apakah saat ini Ah Fei sungguh bergembira?

Ia hanya merasa lelah, sangat sangat lelah….dan pedang di tangannya pun terlepas, jatuh ke tanah.

Selama itu Sun Xiao Hong hanya memandangnya dari jauh. Baru saat itu, ia berani menghela nafas lega.

‘Amat mudah membunuh seseorang. Yang teramat sulit adalah meyakinkan seseorang untuk mau terus hidup.’

Ini adalah perkataan Li Xun Huan.

Siapapun dia, apapun situasinya, metode yang digunakannya selalu sama, yaitu dengan cinta kasih, bukan kebencian. Karena Li Xun Huan tahu, kebencian hanya akan membawa kehancuran. Namun kekuatan cinta dapat memberikan hidup yang kekal.

Cintanya hanya akan bertambah lebar seiring dengan waktu. Kepribadiannya akan selalu mengutamakan sesama manusia, untuk selama-lamanya.

Sun Xiao Hong baru menyadari bahwa Ah Fei telah berubah menjadi sama seperti Li Xun Huan.

Ia tidak tahan dan melirik ke arah Li Xun Huan.

Li Xun Huan tampak begitu letih dan lelah, sampai-sampai tidak bisa lagi berbicara.

Sun Xiao Hong menatapnya sampai lama, baru akhirnya tersenyum dan berkata, “Kalian berdua baru saja mengalahkan dua pesilat yang paling tangguh di seluruh dunia. Dua kekuatan gabungan yang terbesar baru saja kalian hancurkan. Kalian berdua seharusnya bergembira, tapi tidak kulihat secercah pun cahaya kebahagiaan di wajah kalian. Seolah-olah kalian berdualah yang baru saja kalah.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: