Kumpulan Cerita Silat

21/01/2009

Pisau Terbang Li (81)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 6:57 pm

Tragedi yang Tidak Terduga

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Lalu dengan cepat Sun Xiao Hong menambahkan, “Tapi itu karena Kakek tidak punya kesempatan, tidak perlu bertempur.”

“Tidak pernah perlu?” tanya Li Xun Huan.

“Beliau tidak ada tandingannya.”

“Bagaimana dengan ShangGuan JinHong?”

“Dia….”

Sun Xiao Hong tiba-tiba terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya. Apakah tiba-tiba ia terpikir akan sesuatu?

Kata Li Xun Huan, “Kakekmu pasti tidak setuju akan sepak terjang ShangGuan JinHong.”

“Ia…Ia sungguh jengkel dengan perbuatan ShangGuan JinHong,” sahut Sun Xiao Hong.

“Tapi beliau tidak pernah pergi menantangnya.”

Sun Xiao Hong menundukkan kepalanya. Sahutnya, “Tidak pernah….”

“Mengapa beliau membiarkan ShangGuan JinHong membabi buta begitu lama? Dan mengapa ia baru mau menghadapi ShangGuan JinHong setelah kau memintanya?”

Mulut Sun Xiao Hong terasa kering. Ia pun kehilangan kata-kata.

Kata Li Xun Huan, “Waktu ilmu silat seseorang telah mencapai puncaknya, ia pasti akan mulai merasa takut. Takut orang lain bisa menandinginya, takut kalau setelah itu kemampuan mereka akan menurun. Dan bila saat itu tiba, ia akan menghindarinya dengan segala cara. Secara ekstrem, menghindar untuk melakukan apapun juga.”

Ia mendesah dan menambahkan, “Semakin ia tidak ingin bertindak, semakin cepat ia menjadi tidak bisa bertindak. Ada yang tiba-tiba memutuskan untuk mengasingkan diri, ada yang merusak diri sendiri – ingin segera mengakhiri segalanya dengan kematian… Inilah yang biasanya terjadi sepanjang sejarah manusia. Kecuali jika orang itu bisa melangkah melewati dunia materi dan masuk ke tingkat di mana tidak ada lagi emosi manusia yang bermain. Menjadi tidak peduli lagi akan seluruh dunia dan umat manusia di dalamnya.”

Sun Xiao Hong merasa tubuhnya mengejang, dan keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.

Karena ia tahu pasti bahwa kakeknya bukanlah orang yang ‘tidak berperasaan’.

Ia masih peduli akan banyak hal, akan banyak orang.

Kata Li Xun Huan lagi, “Mungkin aku salah….”

Tiba-tiba Sun Xiao Hong menghambur ke arah Li Xun Huan dan memeluknya erat-erat.

Tubuh gadis itu menggigil luar biasa.

Ia ketakutan, sangat sangat ketakutan.

Li Xun Huan membelai rambutnya. Apakah itu rasa kasihan? Simpati? Kesedihan?

Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan berbuat demikian.

Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan membuat kesalahan.

Namun mengapa alam selalu memaksa mereka yang penuh cinta membuat kesalahan-kesalahan fatal?

Apakah salah menjadi seseorang yang penuh perasaan?

Pecahlah tangis Sun Xiao Hong dan ia mulai sesenggukan. “Tolong, tolong kembali segera bersamaku. Jika kita segera kembali….apapun harganya….aku bersedia melakukan apapun juga.”

Terdengar suara ringkik kuda dari jendela kereta. Kini mereka sedang berada di kandang kuda.

Salah satu keahlian Li Xun Huan adalah memilih kuda yang baik. Banyak orang tahu bahwa Li Xun Huan bukan hanya ahli dalam hal wanita, tapi juga dalam hal kuda. Tidaklah mudah menjadi seorang ahli dalam dua bidang ini.

Kuda dan wanita. Dua-duanya sangat sulit dimengerti.

Ia segera memilih dua ekor kuda yang tercepat.

Wanita yang tercantik belum tentu yang terbaik. Kuda yang tercepat belum tentu yang terkuat. Wanita cantik sering kali kurang tulus, kuda yang cepat sering kali kurang ketahanannya.

Dua ekor kuda terguling.

Dua orang berlari kesetanan.

Matahari sudah mulai tenggelam.

Kedua orang itu terus berlari sekuat tenaga. Mereka tidak peduli apa yang dipikirkan orang yang di sekitarnya. Mereka tidak peduli akan kelelahn tubuh mereka sendiri.

Mereka tidak peduli akan apapun juga.

Malam pun semakin dekat.

Tidak ada orang lagi di jalan.

Malam ini, bulan dan bintang entah pergi ke mana. Tidak ada setitik cahaya pun yang tampak.

Hutan yang gelap berada di samping jalan. Di luar hutan itu tampak siluet sebuah paviliun.

Bukankah ini tempat perjanjian duel?

Di tengah malam yang gelap itu, sepertinya ada secercah cahaya di kejauhan.

Cahaya itu tampak semakin terang, dan sesosok manusia terlihat dari jauh.

Sun Xiao Hong mendesah lega dan seluruh tubuhnya yang tegang mulai rileks.

Sungguh merupakan suatu keajaiban ia bisa berlari begitu lama. Mungkin juga karena rasa takutlah yang menggerakkan kakinya.

Rasa takut memang bisa membangkitkan kekuatan manusia yang terpendam.

Namun kini, ia telah melihatnya. Ia telah melihat apa yang diharapkannya. Nafasnya yang tersengal-sengal langsung seolah-olah berhenti dan ia pun tersungkur ke tanah.

Li Xun Huan belum berani bernafas lega.

Ia melihat cahaya itu terombang-ambing dan ia melihat cahaya itu berkelap-kelip aneh. Kadang-kadang sangat terang, kadang-kadang redup tiba-tiba.

Mendadak cahaya itu berkobar seperti lentera raksasa.

Pada suatu hari dulu, di luar sebuah kota yang lain, dalam paviliun yang lain, Li Xun Huan pernah melihat kelap-kelip lampu persis seperti ini.

Pada saat itu, Tuan Sunlah yang berada di paviliun itu sedang mengisap pipanya.

Selain Tuan Sun, Li Xun Huan belum pernah melihat orang lain bisa mengisap pipa seperti itu.

Li Xun Huan merasa air mata yang hangat membasahi bola matanya.

Sun Xiao Hong masih rebah di tanah, perlahan menangis sambil berusaha bangkit berdiri lagi.

Ini adalah air mata bahagia. Air mata penuh rasa terima kasih.

Tuhan belum mengijinkan ia membuat kesalahan fatal.

Li Xun Huan membantunya bangkit berdiri dan mereka berdua segera berjalan menuju paviliun itu.

Paviliun itu sudah penuh asap dan seseorang duduk tepat di tengahnya.

Wangi asap itu sudah sangat dikenal oleh Sun Xiao Hong.

Ia merasakan kehangatan dalam dadanya. Segera dilepaskan pegangan tangan Li Xun Huan dan dengan cepat ia berlari ke paviliun itu.

Ia hanya ingin segera memeluk kakeknya dan mengatakan padanya betapa ia sungguh berterima kasih.

Sebelum tiba pun ia sudah berseru-seru, “Kakek! Kami sudah sampai….kami sudah sampai!”

Tiba-tiba cahaya di paviliun itu padam.

Lalu terdengar seseorang berkata dengan kaku, “Bagus. Aku memang menunggu kalian berdua!”

Suara itu dingin, tidak bersahabat, tegas. Tanpa nada, tanpa perasaan.

Langkah Sun Xiao Hong terhenti. Kehangatan yang baru dirasakannya langsung berubah menjadi kebekuan. Sangat dingin sampai ia tidak bisa bergerak lagi.

Suara itu seperti sebuah pentungan yang menghajar dia dari langit jatuh berdebam kembali ke bumi.

Lalu empat buah lentera menyala terang.

Empat lentera kuning yang tergantung di tongkat bambu.

Dibawah gemerlap cahaya keemasan itu, duduklah seseorang. Dingin seperti emas, anggun seperti emas, bahkan hatinya pun sepertinya terbuat dari bongkahan emas.

Ia sedang mengisap pipa.

Pipa yang diisapnya adalah pipa Tuan Sun.

Tapi orang itu adalah ShangGuan JinHong!

Orang yang sedang mengisap pipa di paviliun itu adalah ShangGuan JinHong!

Angin dingin bertiup kencang, hujan es mengguyur bumi.

Tidak ada yang menyadari kapan hujan mulai turun.

Sun Xiao Hong berdiri mematung dalam hujan. Seluruh tubuhnya mengejang, kaku sekujur tubuh.

Ia ingin berteriak, namun tidak bertenaga. Ia ingin menyeruduk masuk, namun tubuhnya tidak bisa bergerak.

Dadanya mulai sesak, ia ingin muntah.

Tapi bahkan setetes air mata pun tidak bisa keluar.

Li Xun Huan berjalan lebih lambat daripada Sun Xiao Hong. Kini ia terus berjalan menuju ke paviliun itu. Langkahnya tetap dan pasti.

Namun nafasnya telah berhenti.

Ia berjalan perlahan masuk ke paviliun itu dan berhadapan dengan ShangGuan JinHong.

ShangGuan JinHong tidak menoleh ke arahnya. Matanya masih terfokus pada pipa di tangannya.

“Kau terlambat.”

Setelah terdiam lama, Li Xun Huan menyahut, “Ya, aku terlambat.”

Mulut Li Xun Huan terasa kering. Pahit. Seolah-olah lidahnya sedang menjilati sebatang besi berkarat. Rasanya sangat sulit diutarakan.

Apakah ini rasa ketakutan?

Kata ShangGuan JinHong, “Lebih baik terlambat daripada tidak hadir.”

Kata Li Xun Huan, “Seharusnya kau tahu, cepat atau lambat aku pasti datang.”

Lalu ShangGuan JinHong berkata, “Sayangnya, orang yang seharusnya datang, datang terlambat. Dan orang yang tidak seharusnya datang, datang awal.”

Setelah perkataan itu, keduanya terdiam. Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang satu dengan yang lain. Tidak seorangpun bergerak sedikitpun.

Mereka berdua menunggu kesempatan.

Sekali mereka bergerak, tidak akan mungkin ditarik kembali!

***

Di tengah-tengah hujan dan angin, di tengah-tengah hutan yang gelap, ada dua orang lagi, dua pasang mata lagi.

Kedua pasang mata itu tertuju pada ShangGuan JinHong dan Li Xun Huan.

Sepasang mata yang tenang dan lembut, bagaikan air yang mengalir. Terang dan bercahaya, bagaikan bintang. Di seluruh dunia, sulit ditemukan sepasang mata seindah ini.

Sepasang mata yang satu lagi berwarna kelabu, seolah-olah menyatu dengan kegelapan malam yang tidak berjiwa. Di seluruh neraka pun, sulit ditemukan sepasang mata yang begitu mengerikan seperti ini.

Jika ada setan dan dedemit yang bersembunyi di hutan itu pun, mereka pasti sudah kabur sejak tadi.

Sepasang mata itu bisa membuat setan dan dedemit gemetar lututnya.

Lin Xian Er dan Jin Wu Ming telah berada di sana sebelum yang lain tiba. Mereka sudah bersembunyi di sana sejak lama.

Lin Xian Er berdiri di samping Jin Wu Ming dan berpegangan kuat-kuat pada lengannya.

Jin Wu Ming tidak bersuara dan tidak bergerak sedikitpun.

Bisik Lin Xian Er, “Jika kau ingin membunuhnya, ini adalah kesempatan yang paling baik. Tidak akan ada lagi kesempatan sebaik ini.”

Sahut Jin Wu Ming, “Saat ini ada orang lain yang sedang berusaha membunuhnya. Aku tidak perlu lagi menyerang.”

“Aku bukan menyuruhmu membunuh Li Xun Huan.”

“Lalu siapa?”

“ShangGuan JinHong. Bunuh ShangGuan JinHong!” pekik Lin Xian Er tertahan.

Tubuhnya gemetar sedikit saking gembiranya. Kuku-kukunya tertanam di kulit tangan Jin Wu Ming.

Jin Wu Ming tidak bergerak. Ia pun tidak merasa sakit sedikitpun.

Namun ada api yang berkobar di matanya. Seperti kobaran api neraka.

“Saat ini, ia sedang berkonsentrasi penuh pada Li Xun Huan. Ia tidak bisa menghadapi orang lain lagi. Lagi pula, ia tidak tahu sama sekali mengenai tangan kananmu. Kau pasti dapat membunuhnya,” kata Lin Xian Er.

Jin Wu Ming masih tidak bergeming.

“Kau kan tahu peraturan Partai Uang Emas. Kalau ShangGuan JinHong tidak ada lagi, kaulah yang akan menjadi ketua yang baru,” desak Lin Xian Er lagi.

Ia mulai menggerutu dengan suara pelan.

Suaranya sungguh tidak enak didengar. Seperti suara anjing yang akan melahirkan.

“Walaupun kau tidak menginginkan kedudukan itu, kau harus membalas perbuatannya dulu terhadapmu. Supaya waktu ia masuk ke neraka, ia akan menyesal telah memperlakukan engkau seperti itu,” Lin Xian Er terus membujuknya.

Mata Jin Wu Ming masih berkobar dengan api dari neraka. Dan kobaran api itu makin lama makin besar.

“Ayo, cepat. Kalau kau melewatkan kesempatan ini, kaulah yang akan menyesal, bukan dia.”

Akhirnya Jin Wu Ming mengangguk dan menjawab, “Baiklah, aku pergi!”

“Cepatlah, aku akan menunggumu di sini. Setelah kau berhasil, aku akan menjadi milikmu seorang untuk selama-lamanya.”

Kata Jin Wu Ming, “Kau tidak perlu menungguku.”

“Kenapa?”

“Karena kau akan ikut bersamaku!”

Tiba-tiba Lin Xian Er merasa ada sesuatu yang salah.

Setitik rasa takut terlihat dalam matanya yang indah. Jin Wu Ming mencekal pergelangan tangannya.

Lin Xian Er tidak suka menangis. Ia merasa wanita yang menangis adalah wanita yang lemah, wanita yang menjijikkan dan sangat bodoh.

Lagi pula, ia masih punya banyak cara untuk membuat laki-laki melakukan kehendaknya.

Namun saat ini ia sungguh merasa kesakitan dan air mata pun tidak dapat dibendungnya.

Ia serasa mendengar tulang-tulang tangannya gemeretuk. “Apa kesalahanku? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?”

“Seumur hidupmu, kau telah membuat satu kesalahan besar,” kata Jin Wu Ming.

“Apa itu?”

“Kau tidak boleh menganggap semua orang mencintaimu seperti Ah Fei mencintaimu!”

***

Li Xun Huan berdiri membelakangi hutan itu.

Ia tidak melihat Lin Xian Er dan Jin Wu Ming, saat mereka keluar dari sana. Perhatiannya tercurah pada ShangGuan JinHong. Namun ia dapat melihat ekspresi aneh di wajah ShangGuan JinHong.

Tiba-tiba perhatian ShangGuan JinHong terpecah.

Tidak pernah ia memberi kesempatan pada lawan seperti ini. Dan sudah tentu ia tidak akan pernah lagi melakukannya.

Namun Li Xun Huan tidak menyerang. Pisaunya masih tetap berada di tangannya.

Karena ia dapat merasakan hawa membunuh yang mengerikan datang dari arah punggungnya.

Pisaunya tidak hanya disambitkan oleh tangannya, tapi oleh seluruh tubuh dan seluruh keberadaannya. Jika ia menyambitkan pisau saat itu, ia tidak mungkin bisa melindungi diri dari serangan dari arah belakangnya.

Kakinya berputar dan bergeser tujuh kaki. Kini ia melihat Jin Wu Ming.

Jin Wu Ming berdiri tepat di belakangnya.

Lalu ia pun melihat Lin Xian Er. Ia belum pernah melihat Lin Xian Er kelihatan sangat tertekan seperti itu.

Hujan turun semakin lebat.

Mereka semua sudah basah kuyup.

Walaupun empat lentera tergantung di sudut-sudut paviliun itu, namun cahayanya redup karena malam gelap gulita.

Jin Wu Ming masih berdiri dalam kegelapan. Ia tampak seperti bayangan saja. Seolah-olah ia tidak betul-betul ada di sana.

Namun Li Xun Huan telah mengalihkan pandangannya. Dari ShangGuan JinHong pada Jin Wu Ming.

ShangGuan JinHong pun mengalihkan pandangannya. Dari Li Xun Huan pada Jin Wu Ming.

Karena mereka kini merasa bahwa kemenangan bukan lagi terletak di tangan mereka, namun di tangan Jin Wu Ming.

Jin Wu Ming mulai tertawa. Tertawa sangat keras.

Seumur hidupnya, belum pernah ia tertawa sekeras itu.

ShangGuan JinHong menghela nafas dan berkata, “Teruslah tertawa, karena kau memang berhak tertawa.”

Tanya Jin Wu Ming, “Mengapa engkau tidak tertawa?”

“Tawaku tidak bisa keluar.”

“Kenapa?”

“Kau tahu sebabnya,” jawab ShangGuan JinHong.

“Memang benar. Aku tahu sebabnya,” kata Jin Wu Ming.

Kini ia berhenti tertawa dan perlahan-lahan meluruskan tubuhnya. Katanya, “Karena kini, akulah yang bisa menentukan nasib kalian. Kalian berdua tidak akan berani menyerang aku.”

Ia memang benar. Tidak ada yang berani menyerang dia.

Jika saat itu ShangGuan JinHong menyerang Jin Wu Ming, itu berarti membiarkan dirinya terbuka bagi Li Xun Huan. Tidak mungkin ia mengambil resiko sebesar itu dan memberi kesempatan pada Li Xun Huan.

Hal yang sama juga berlaku bagi Li Xun Huan.

Kata Jin Wu Ming, “Aku dapat membantumu membunuh Li Xun Huan, atau aku dapat membantu Li Xun Huan membunuhmu.”

Sahut ShangGuan JinHong, “Kurasa memang demikian.”

“Benarkah? Bukankah bagimu aku hanya seorang cacad yang sudah tidak berguna lagi?”

“Setiap orang pasti pernah sekali-sekali salah menilai.”

“Bagaimana kau tahu kau telah salah? Mungkin aku memang hanya seorang cacad yang tidak bisa apa-apa lagi.”

Sahut ShangGuan JinHong, “Tangan kananmu lebih kuat daripada tangan kirimu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Lin Xian Er bukan wanita lemah. Sulit bagi siapa saja untuk menahannya dengan satu tangan saja.”

Perlahan Jin Wu Ming menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ternyata kau memang tahu. Sayang sekali kau tahu sedikit terlambat.”

Kata ShangGuan JinHong, “Aku tahu. Dan aku juga tahu bahwa aku telah membuat kesalahan.”

Tanya Jin Wu Ming, “Kau menyesal akan apa yang telah kau perbuat kepadaku?”

“Aku sangat menyesal. Seharusnya aku sudah membunuhmu saat itu!”

“Mengapa kau tidak membunuhku saat itu?”

“Aku tidak sanggup.”

Jin Wu Ming memandang ShangGuan JinHong dengan tatapan aneh, “Bahkan kau pun ada kalanya tidak sanggup membunuh?”

“Aku masih manusia.”

“Jadi sekarang kau pikir aku pun tidak akan membunuhmu?”

ShangGuan JinHong melirik Lin Xian Er, “Dia pasti menginginkan kau membunuhku.”

“Memang begitu.”

“Tapi jika kau memang ingin membunuhku, kau tidak akan membawanya ke sini bersamamu.”

Tiba-tiba tawa Lin Xian Er meledak.

Kini ia terjatuh ke tanah dan tertawa seperti orang kesurupan. Pemandangan yang sangat aneh.

Kata Lin Xian Er, “Sudah tentu ia takut membunuhmu. Kalau kau mati, ia pun tidak akan bisa hidup. Kini aku baru mengerti bahwa ia hanya hidup demi dirimu. Ia datang ke sini karena ia menginginkanmu untuk menghargainya. Walaupun di mata orang lain, ia tidak berharga sepeser pun juga.”

Kata ShangGuan JinHong, “Kau tahu, ia dapat membunuhmu dengan sangat mudah?”

“Kau pikir ia sanggup membunuhku?…. Waktu kau ingin membunuhku, ia malah ingin menyelamatkan aku. Kau tahu kenapa?”

Jawab ShangGuan JinHong dingin, “Karena ia ingin membunuhmu di hadapanku.”

“Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku di hadapanmu. Ia ingin kau membunuhku dengan tanganmu sendiri,,,,,”

Lin Xian Er tertawa lagi dan melanjutkan, “Waktu kau dan aku sedang bersama, ia menjadi gila karena cemburu. Saat itu, kupikir ia cemburu padamu, tapi sekarang baru aku tahu bahwa ia cemburu padaku. Ia membenci siapa saja yang kau sukai. Bahkan putramu sendiri, tidak terkecuali… Kau tahu siapa membunuh anakmu, bukan?”

“Selama ia membunuh demi aku, aku tidak peduli siapa yang dibunuhnya,” sahut ShangGuan JinHong datar.

Senyum di bibir Lin Xian Er perlahan lenyap. Ia menghela nafas panjang dan berkata, “Aku selalu menganggap bahwa aku mengerti jalan pikiran laki-laki, tapi aku sungguh tidak mengerti pikiran kalian berdua. Aku sungguh tidak mengerti hubungan macam apa yang ada di antara kalian berdua.”

Lalu ia pun tersenyum dingin dan menambahkan, “Yang aku tahu, apapun juga itu, itu pasti sangatlah menjijikkan. Aku tidak peduli apa yang kalian ingin katakan. Aku tidak mau mendengarnya.”

Kata ShangGuan JinHong, “Yang kau tahu terlalu sedikit, yang kau katakan terlalu banyak.”

“Tapi apapun juga yang kukatakan, aku tidak mungkin dapat membujukmu untuk membunuh dia, bukan?”

“Tidak mungkin!”

Lalu Lin Xian Er menoleh pada Jin Wu Ming dan bertanya, “Dan aku pun tidak mungkin membujukmu untuk membunuh dia, bukan?”

“Benar,” jawab Jin Wu Ming.

Lin Xian Er mengeluh dan berkata, “Sepertinya aku sebentar lagi akan mati dalam tangan kalian. Pertanyaannya adalah, tangan siapa? Tanganmu? Atau tanganmu?”

Jin Wu Ming tidak menjawab.

Ia menggerakkan tangannya dan melemparkan Lin Xian Er ke dekat kaki ShangGuan JinHong.

Kali ini, Lin Xian Er tidak berusaha bangkit. Ia tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya meringkuk seperti sebuah bola.

Tapi ia adalah seorang wanita.

Kau bisa menyuruhnya tidak bergerak dan tidak melawan, namun kau tidak mungkin menutup mulutnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: