Kumpulan Cerita Silat

20/01/2009

Pisau Terbang Li (80)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 6:54 pm

Kesalahan Fatal

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

“Ternyata kau tidak begitu setia kawan seperti yang kusangka. Paling tidak, kau lebih setia kawan pada yang hidup daripada yang mati,” ejek Sun Xiao Hong nakal.

Tiba-tiba Li Xun Huan bertanya, “Kemarin, kapan kita berangkat?”

“Malam hari, seperti sekarang ini.”

“Dan kapan kita tiba hari ini?” tanya Li Xun Huan.

“Hampir petang, hari belum lagi gelap.”

“Dan bagaimana kita bisa sampai ke sini?” tanya Li Xun Huan lagi.

“Kita naik kereta untuk beberapa saat, kemudian kita berjalan kaki sampai pagi tadi. Setelah itu kita naik kuda.”

“Jadi jika kita kembali dengan cara yang sama, kita tidak mungkin bisa sampai sebelum matahari terbenam.”

“Betul,” jawab Sun Xiao Hong.

“Tapi sekarang, kita sudah terjaga begitu lama. Kekuatan kita tidak sebesar kemarin. Jadi kita tidak mungkin berjalan secepat kemarin.”

Sahut Sun Xiao Hong, “Dan lagi kemarin, hampir-hampir aku tidak bisa mengikutimu. Tidak heran kakek bilang bahwa kecepatanmu berjalan hampir sama dengan kecepatan pisaumu.”

“Jadi walaupun kita pergi sekarang, belum tentu aku bisa datang tepat waktu untuk duel dengan ShangGuan JinHong?”

Sun Xiao Hong terdiam.

Li Xun Huan mengangkat kepalanya dan memandang gadis itu. Katanya, “Seharusnya kau mendorong aku untuk segera kembali. Kau kan tahu, aku tidak bisa terlambat untuk duel itu.”

Sun Xiao Hong memalingkan wajahnya dan menggigit bibirnya. Seakan-akan ia sedang menghindari tatapan mata Li Xun Huan.

Kemudian ia berkata dengan lembut, “Aku ingin kau berjanji padaku.”

“Apa itu?”

“Kali ini, mari kita pulang dengan kereta. Jangan kita berjalan ataupun naik kuda.”

Kata Li Xun Huan, “Kau ingin aku beristirahat selama perjalanan.”

“Ya. Jika kau tidak beristirahat, kau akan kehabisan tenaga sebelum menghadapi ShangGuan JinHong. Kau tidak akan bisa berduel jika belum apa-apa kau sudah terpuruk ke lantai.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Baiklah, aku menurutimu. Kita pulang dengan kereta.”

Seketika wajah Sun Xiao Hong berbinar karena gembira. “Kita bisa membawa anggur dalam kereta. Jika kau tidak bisa tidur, aku akan minum bersamamu sepanjang perjalanan.”

“Kalau aku mulai minum, lama-lama aku pasti akan tertidur,” sahut Li Xun Huan.

“Bagus. Selama kau bisa beristirahat dalam perjalanan, ShangGuan JinHong tidak akan mampu melawanmu.”

“Kau sungguh yakin akan diriku,” kata Li Xun Huan sambil tersenyum.

Gadis itu menatap Li Xun Huan lekat-lekat. Katanya, “Tentu saja aku yakin padamu. Kalau tidak mengapa aku…”

Wajahnya menjadi bersemu merah. Tiba-tiba ia berlari keluar dan berseru dengan riang, “Aku akan pergi mencari kereta. Kau siapkan araknya ya. Dan jika masih ada waktu, pergi dan temuilah dia. Aku berjanji, aku tidak akan cemburu.”

Kuncir rambutnya melambai-lambai saat ia berlari dan dalam hitungan detik, ia sudah tidak kelihatan lagi.

Li Xun Huan memandanginya sampai ia tidak terlihat lagi, baru ia bangkit berdiri dan berjalan keluar.

Ia menengadah. Di balik tembok itu, terlihat ruangan kecil di pojok atas.

Cahaya masih tampak bersinar dari kamar itu.

Namun bagaimana dengan orang di dalamnya?

Apakah ia sedang sibuk menjahit pakaian untuk putra kesayangannya?

Cinta seorang ibu akan anaknya bagaikan seutas benang yang tiada putusnya.

Namun masih belum dapat menandingi panjangnya kesepian. Tidak ada satupun di dunia ini yang dapat menandingi panjangnya kesepian hidup.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun. Benang yang tidak habis terjahit. Kesepian yang tidak dapat disembuhkan.

Wanita itu telah mengubur hidupnya, dan ruang kecil itu adalah kuburannya.

Seseorang…seorang wanita….tanpa masa muda, tanpa cinta, tanpa suka cita. Untuk apa ia hidup?

‘Shi Yin, Shi Yin, kau telah menderita begitu banyak.’

Tiba-tiba Li Xun Huan membungkuk dan mulai terbatuk. Batuk darah!

Bagaimana mungkin ia tidak ingin menemuinya?

Walaupun tubuhnya masih berdiri di situ, hatinya telah melayang pergi ke ruang kecil itu.

Walaupun hatinya telah melayang ke kamar itu, tubuhnya masih berdiri tidak bergerak di luar.

Ia tidak berani pergi ke sana. Ia tidak sanggup. Walaupun mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa bertemu dengannya, ia masih tetap tidak sanggup…. Berjumpa dengannya sama seperti tidak berjumpa. Dan walaupun ia pergi menjumpainya, apakah yang bisa diperbuatnya?

Wanita itu bukan lagi miliknya. Ia sudah bersuami, mempunyai seorang anak, hidup dalam dunianya sendiri.

Ia sepenuhnya berada di dunianya sendiri, dunia yang lain.

Li Xun Huan menyeka darah dari bibirnya dan mencoba menelan kembali darah yang masih ada dalam mulutnya.

Bahkan darahnya pun terasa pahit, amat sangat pahit.

‘Shi Yin…Shi Yin, aku akan merasa puas selama kau hidup damai sejahtera. Apakah itu di surga atau di neraka, suatu hari nanti kita akan bertemu kembali.”

Namun, apakah Lin Shi Yin hidup damai sejahtera?

Di tengah hembusan angin malam yang dingin, Li Xun Huan terlihat lebih lemah daripada setangkai bunga seruni.

Li Xun Huan berdiri sendirian di tengah angin barat yang menderu. Apakah ia sedang berharap bahwa angin barat itu akan menerbangkan dirinya pergi?

Akhirnya, Sun Xiao Hong pun kembali. Ia memandang Li Xun Huan dan bertanya, “Kau…Kau tidak pergi menemuinya?”

Li Xun Huan menggelengkan kepalanya. “Kau berhasil menemukan kereta?”

“Kereta sudah menunggu di depan sana. Jika kau tidak ingin menemuinya, mari kita segera pergi.”

“Ayo, kita pergi!” jawab Li Xun Huan.

Kereta itu berguncang-guncang sepanjang perjalanan. Anggur pun bergoyang-goyang dalam cawannya.

Anggur yang cukup umur.

Kereta itu sepertinya berusia lebih tua daripada anggur itu. Dan kudanya lebih tua lagi.

Li Xun Huan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum, “Jika kuda yang menarik kereta ini adalah Si Surai Merah milik Jenderal Guan, pasti kereta ini langsung menjadi barang antik. Hebat juga kau bisa menemukan kereta seperti ini.”

Sun Xiao Hong tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ia mengangkat dagu sambil berkata, “Kau tidak puas atas persiapanku?”

“Tidak, tidak, aku sangat puas. Sangat sangat puas.”

Li Xun Huan memejamkan matanya dan menambahkan, “Saat aku masuk ke dalam kereta ini, aku langsung teringat pada sesuatu di masa lalu.”

“O ya? Apa itu?”

“Aku teringat akan kuda kayu mainanku waktu aku masih kecil. Rasanya sama seperti terayun-ayun di atas kereta ini.”

Sebelum ia selesai bicara, ia merasa ada sesuatu yang dijejalkan ke dalam mulutnya.

“Habiskan kurma itu dan cepat tidur,” kata Sun Xiao Hong sambil tersenyum.

Sahut Li Xun Huan, “Seandainya aku bisa tertidur dan tidak bangun lagi, ah, sungguh menyenangkan. Sayangnya….”

Sun Xiao Hong segera memotongnya dan berkata, “Aku bersusah-payah mendapatkan kereta ini supaya kau bisa beristirahat. Jika kau bisa tidur nyenyak, besok pagi kita bisa berganti kereta.”

Li Xun Huan menghabiskan cawan anggurnya dan berkata, “Kalau begitu, aku akan minum beberapa cawan lagi supaya aku bisa tidur nyenyak.”

Anggur di cawannya bergoyang-goyang. Kuncir Sun Xiao Hong pun terayun-ayun ke kiri ke kanan.

Matanya bercahaya dan teduh, seperti sinar bintang yang menerangi langit malam di luar sana.

Cahaya bintang tampak seperti mimpi.

Li Xun Huan mulai mabuk.

Di malam yang begitu indah, ditemani wanita yang begitu cantik, bagaimana mungkin ia tidak mabuk?

Karena ia sudah mabuk, bagaimana mungkin ia tidak jatuh terlelap?

Li Xun Huan bersandar pada salah satu sisi kereta dan mengangkat kakinya ke atas kursi kereta itu. Ia bergumam, “Orang bijak dan para pendekar selalu dihantui kesepian dan tidak punya sahabat kecuali guci anggurnya…. Namun ternyata, minum semalam suntuk pun sama menderitanya.”

Lalu semuanya hening. Hanya kesunyian yang tinggal.

Akhirnya ia jatuh terlelap.

Sun Xiao Hong memandangnya sampai lama. Lalu ia menjulurkan tangannya dan membelai rambutnya dengan lembut. “Tidur, tidurlah dengan tenang. Setelah kau bangun, segala kesedihan dan persoalan akan berlalu. Dan bila saatnya tiba, aku tidak akan membiarkanmu minum sebanyak ini lagi.”

Mata Sun Xiao Hong bersinar semakin terang, penuh dengan harapan dan suka cita.

Ia masih sangat muda.

Orang-orang muda selalu optimis menghadapi dunia ini. Mereka selalu beranggapan bahwa segala sesuatu akan terjadi sesuai dengan rencana mereka.

Ia belum mengerti bahwa dunia ini tidak berjalan seperti itu. Apa yang terjadi selalu saja jauh dari bayangan dan rencana kita. Jika saat itu ia tahu seberapa jauhnya kenyataan yang akan terjadi dari bayangannya, bajunya pasti sudah basah kuyup oleh air mata.

Kusir kereta pun sedang menghirup araknya dengan santai.

Ia tidak terburu-buru.

Karena si wanita muda penyewa keretanya telah memerintahkannya begitu!

‘Pelan-pelan saja di jalan. Kami tidak tergesa-gesa pergi.’

Sang kusir tersenyum sendiri. Jika ia sedang naik kereta bersama kekasih hatinya, ia pun tidak akan tergesa-gesa pergi.

Ia sungguh iri pada Li Xun Huan. Ia merasa, Li Xun Huan adalah orang yang sangat beruntung.

Namun jika ia tahu situasi macam apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh Li Xun Huan dan Sun Xiao Hong, mungkin ia tidak akan sanggup menelan anggur dalam cawannya.

Hari esok telah tiba.

Waktu Li Xun Huan bangun, cahaya matahari telah menerangi seluruh kereta dari jendela.

Ia tidak tahu berapa lama ia sudah tertidur. Apakah ia sungguh kelelahan? Apakah karena anggur?

Li Xun Huan memungut cawan anggur dan menciumnya, lalu diletakkannya kembali.

Kereta itu masih bergoyang-goyang ke kiri ke kanan selagi melaju di sepanjang jalan itu. Jalan kereta itu sangat lambat, bahkan kadang-kadang berhenti sejenak, seakan-akan kusirnya pun tertidur.

Sun Xiao Hong masih tidur di pangkuan Li Xun Huan.

Rambutnya yang panjang terurai di atas kaki Li Xun Huan bagaikan aliran air.

Li Xun Huan melongok ke luar jendela, namun ia tidak bisa melihat bayangan kereta itu.

Matahari tepat berada di atas.

Setelah beberapa lama, Li Xun Huan melihat batu penunjuk di sisi jalan. Pada batu itu terukir nama desa yang akan mereka masuki.

Waktu perjanjian dengan ShangGuan JinHong tinggal sebentar lagi.

Namun ternyata mereka baru setengah perjalanan.

Dalam sekejap tangan Li Xun Huan menjadi dingin dan mulai gemetaran.

Ada kalanya ia merasa kuatir, sedih, gelisah. Ada kalanya pula ia merasa bahagia. Jarang sekali ia merasa marah.

Saat ini, ia belum marah betul, namun sudah dekat sekali.

Tiba-tiba Sun Xiao Hong terjaga dan merasa tubuh Li Xun Huan menggigil. Ia memandang wajah Li Xun Huan dan melihat ekspresi kemarahannya. Belum pernah ia melihat Li Xun Huan seperti itu.

Ia menundukkan kepalanya. Matanya langsung memerah dan ia bertanya, “Apakah kau marah padaku?”

Mulut Li Xun Huan terkatup. Terkatup erat.

“Aku tahu kau akan marah padaku, tapi aku akan tetap melakukannya. Aku tidak peduli apakah kau akan membentakku atau memukul aku. Tapi kau harus tahu bahwa aku melakukannya demi kebaikanmu,” kata Sun Xiao Hong.

Li Xun Huan mengeluh panjang. Seluruh tubuhnya yang tegang mulai mengendur. Hatinya pun mulai lumer.

Sun Xiao Hong melakukan semuanya demi dirinya.

Apa salah Sun Xiao Hong? Selama ia sungguh-sungguh menginginkan yang terbaik bagi Li Xun Huan, bagaimana mungkin ia menyalahkan gadis itu?

Kata Li Xun Huan, “Aku mengerti perasaanmu. Aku tidak menyalahkanmu. Tapi, bisakah kau juga berusaha mengerti perasaanku?”

“Kau….kau pikir aku tidak mengerti perasaanmu?”

“Jika kau sungguh mengerti perasaanku, kau akan tahu bahwa sekalipun kau berhasil mencegah aku bertemu dengan ShangGuan JinHong kali ini, bagaimana dengan nanti? Cepat atau lambat, aku harus berhadapan dengannya. Mungkin juga besok,” kata Li Xun Huan.

“Kalau besok, semuanya akan berbeda.”

“Apa yang akan berbeda besok?”

“Besok, ShangGuan JinHong sudah mati. Mungkin ia tidak akan melewati malam ini,” kata Sun Xiao Hong.

Caranya berbicara sungguh aneh, seakan-akan ia sudah tahu pasti apa yang akan terjadi.

Li Xun Huan tidak bisa menebak mengapa Sun Xiao Hong kedengaran begitu pasti. Ia berpikir-pikir sejenak.

Kata Sun Xiao Hong, “Tidak akan ada yang menyalahkan kalau hari ini kau tidak hadir. Itu kan semua salah ShangGuan JinHong. Jika ia tidak memaksamu pergi ke Puri Awan Riang, kau tidak mungkin terlambat datang.”

Li Xun Huan masih berkutat dengan pikirannya. Wajahnya sedikit demi sedikit berubah.

Perasaan Sun Xiao Hong semakin ringan saat ia bersandar di lengan Li Xun Huan. Katanya, “Kalau ShangGuan JinHong sudah mati, tidak ada yang akan bilang bahwa….”

Tiba-tiba Li Xun Huan memotongnya, “Apakah kakekmu yang menyuruhmu berbuat begini?”

Sun Xiao Hong mengedipkan matanya dan berkata sambil berkelakar, “Mungkin ya, mungkin tidak.”

“Apakah ia yang pergi menghadapi ShangGuan JinHong?” tanya Li Xun Huan.

“Betul sekali. Kau pasti tahu, ShangGuan JinHong melihat kakek sama seperti seekor tikus kecil melihat kucing. Kurasa, kakeklah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menghadapi ShangGuan JinHong.”

Lalu Sun Xiao Hong meraih tangan Li Xun Huan dan hendak melanjutkan perkataannya. Namun akhirnya ia terdiam, karena ia merasa tangan Li Xun Huan begitu dingin seperti es.

Waktu hati manusia diliputi ketakutan, mengapa tangannya selalu dingin membeku?

Namun apakah yang ditakutinya?

Melihat ekspresi wajah Li Xun Huan, Sun Xiao Hong pun takut bertanya.

Akhirnya Li Xun Huan bertanya, “Apakah kakekmu sendiri yang ingin pergi, atau engkaukah yang memintanya pergi?”

“Apakah…Apakah itu ada bedanya?” tanya Sun Xiao Hong tergagap.

“Ya, sangat jauh perbedaannya.”

“Akulah yang meminta dia pergi. Karena untuk menghadapi orang seperti ShangGuan JinHong, tidak jadi masalah siapa yang membunuhnya. Tidak harus kau yang melakukannya.”

Li Xun Huan mengangguk, sepertinya ia pun setuju dengan pendapatnya. Namun ekspresi wajahnya tampak berbeda.

Ia bukan hanya kelihatan takut, tapi juga kelihatan sangat berduka.

Sun Xiao Hong tidak bisa menahan diri, tanyanya, “Apakah kau kuatir?”

Li Xun Huan tidak perlu menjawab. Wajahnya telah menjawab dengan jelas.

“Aku tidak mengerti apa yang kau kuatirkan… Kau menguatirkan Kakek?” tanya Sun Xiao Hong.

Li Xun Huan mendesah dan menjawab dengan suara rendah, “Aku menguatirkan dirimu.”

“Menguatirkan diriku? Kenapa?” tanyanya tidak mengerti.

“Semua orang pasti pernah membuat kesalahan dalam hidupnya. Ada kesalahan yang bisa diperbaiki, tapi ada juga yang selamanya tidak dapat ditarik kembali.”

Kini dalam pandangan matanya, bukan hanya tampak duka namun juga kepedihan yang begitu mendalam.

Ia menatap lurus pada gadis itu, lalu melanjutkan, “Jika kau membuat kesalahan yang tidak mungkin diperbaiki, apapun juga niatmu, kau harus menanggung beban itu selamanya seumur hidupmu. Walaupun orang lain sudah mengampunimu, kau tidak akan pernah bisa mengampuni dirimu sendiri. Suatu perasaan yang sangat tidak menyenangkan.”

Li Xun Huan sangat memahami perasaan ini.

Karena satu kesalahan yang diperbuatnya, ia harus membayar harga yang sangat mahal.

Sun Xiao Hong balik menatapnya dan tiba-tiba merasakan suatu firasat buruk. Tanyanya, “Apakah kau kuatir aku akan melakukan suatu kesalahan?”

Setelah lama terdiam, Li Xun Huan balik bertanya, “Selama bertahun-tahun ini, apakah kau selalu bepergian dengan kakekmu?”

“Ya.”

“Apakah kau pernah melihat beliau bertempur?”

“Mmmm, rasanya tidak pernah…” Jawab Sun Xiao Hong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: