Kumpulan Cerita Silat

19/01/2009

Pisau Terbang Li (79)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 6:47 pm

Persahabatan yang Tulus dan Setia

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

GongSun Yu berteriak lagi saat ia berusaha merangkak mengangkat tubuhnya, “Kita pasti telah salah sangka. Ia pasti tidak….”

Suaranya putus.

Sebatang tombak lagi menusuk punggung GongSun Yu!

Dan tombak itu pun dicabut. Dalam keremangan cahaya lentera di dinding sana, tampak kabut tipis menyelimuti terowongan itu.

Kabut tipis berwarna merah muda.

Kabut darah!

Awalnya ada 26 orang. Kini 16 orang sudah gugur.

Tapi pembantaian berdarah ini tampaknya belum selesai. Kini kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah tampak makin besar perbedaannya.

Seorang penjual obat dengan enam luka di tubuhnya berkata dengan suara serak, “Tie ChuanJia sudah mati, mari kita pergi dari tempat ini!”

Hanya tinggal 3 orang yang hidup dari kelompok mereka. Dan mereka kini berada di pihak yang kalah. Tidak mungkin mereka bisa terus bertahan.

Seseorang dengan kapak di tangannya, Kapak Pembelah Gunung Hua, mengertakkan giginya dan berkata, “Kakak Kedua, apakah kita harus mundur?”

Si buta menjawab, “Mundur? ‘Delapan Orang Benar dari Dataran Tengah’ lebih baik mati daripada mundur. Siapa yang mengatakan kata ‘mundur’ sekali lagi akan kubunuh sekarang juga!”

Salah seorang yang berpakaian kuning tertawa dan berkata, “Bagus! Kalian memang punya nyali! Maka hari ini, biarlah kami yang melaksanakan impian kematian….”

Suaranya tiba-tiba terputus. Matanya melotot seperti mata ikan mati.

Kematiannya tiba-tiba dan hampir tanpa suara. Hanya terdengar bunyi ‘Gaak’ ‘Gaak’ yang lemah dari tenggorokannya.

Nafasnya belum putus, namun ia sudah tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Ia mencoba sekuat tenaga, namun tiada sepatah katapun yang bisa keluar. Karena di lehernya terlihat ada sebilah pisau menancap.

Pisau sepanjang 15 cm.

Pisau Terbang Li Kecil!

Tiba-tiba semua gerakan berhenti. Mata semua orang tertuju pada pisau itu.

Tidak ada yang tahu dari mana datangnya pisau itu, tapi semua orang tahu siapa yang sudah tiba.

Setiap orang di terowongan bawah tanah itu ternganga mulutnya.

Li Xun Huan berdiri tepat di hadapan mereka semua.

Tapi tidak seorang pun berani menoleh memandangnya. Mereka kuatir, saat mereka menoleh, pisau pencabut nyawa itu tiba-tiba bersarang di leher mereka.

Mereka semua adalah anggota papan atas yang setia dalam Partai Uang Emas. Tidak seorang pun pengecut dan takut mati. Namun saat ini, mereka semua sudah lemah dan kehabisan tenaga. Mereka sudah melihat terlalu banyak kematian, terlalu banyak darah yang tertumpah.

Hal ini telah banyak melunturkan semangat mereka. Lagi pula, ‘Pisau Terbang Li Kecil’ sudah terkenal di seluruh dunia. Ini bukan pisau biasa, pisau ini seakan-akan punya jiwa dan roh yang haus darah!

Empat kata itu kini terasa semakin erat hubungannya dengan arti kematian.

Atau mungkin baru sekarang mereka sungguh-sungguh mengerti arti kematian.

Mayat teman seperjuangan mereka masih tergeletak dekat kaki mereka.

Sedetik yang lalu ia masih merupakan manusia hidup yang bernafas.

Lalu pisau yang mengerikan itu telah mengubahnya menjadi tubuh yang kaku dan mati.

Hidupnya menjadi tidak berarti, bahkan sebelum ia menyadarinya.

Tidak ada yang lebih mengerikan daripada perubahan mendadak. Yang menakutkan bukanlah kematian itu, namun penantian akan kematian itu sendiri.

Tiba-tiba Si Buta bertanya, “Li Tan Hua?”

Walaupun ia tidak bisa melihat apapun juga dan tidak terdengar suara apapun juga, entah bagaimana ia bisa merasakan kehadiran Li Xun Huan. Ia bisa merasakan hawa membunuh yang begitu kental.

“Ya,” jawab Li Xun Huan.

Si Buta menghela nafas, lalu duduk bersila.

Jin FengBai dan Si Penebang Kayu mengikutinya dan duduk perlahan. Mereka duduk tepat di antara genangan darah yang mengalir dari tubuh GongSun Yu dan Tie ChuanJia. Dari sorot mata mereka, seakan-akan mereka sedang duduk di dunia yang lain.

Dalam dunia itu, tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi penderitaan.

Li Xun Huan berjalan perlahan ke kelompok orang berpakaian kuning itu.

Tangannya kosong. Tidak ada pisau di sana.

Namun seolah-olah pisau itu ada di matanya.

Ia menatap mereka dan bertanya, “Di mana orang yang mereka bawa?”

Orang-orang berbaju kuning itu menunduk memandangi kaki mereka.

Li Xun Huan mengeluh dan berkata perlahan, “Aku tidak ingin memaksa kalian, namun kuharap kalian pun tidak memaksaku juga.”

Salah satu dari mereka yang berdiri tepat di hadapannya, yang wajahnya sudah basah oleh keringat dingin dan yang tubuhnya sudah gemetar hebat, tiba-tiba bertanya, “Apakah kau bertanya mengenai Si Bungkuk Sun?”

“Ya.”

Orang itu tersenyum janggal lalu berseru, “Baik! Akan kubawa kau padanya. Ikuti aku!”

Senjatanya adalah kait kepala harimau. Setelah kalimatnya selesai, tangannya naik ke atas. Ujung kaitnya menembus lehernya sendiri.

Ia tidak bisa lagi menahan penantian yang mengerikan ini. Kematian adalah jalan keluar yang paling cepat.

Li Xun Huan menyaksikan tubuhnya berdebam jatuh ke tanah. Tangannya terkepal erat.

Si Bungkuk Sun sudah mati!

Kematian si kait kepala harimau itulah jawabannya.

Tapi bagaimana dengan Lin Shi Yin?

Tiba-tiba sinar ketakutan terpancar dari mata Li Xun Huan. Perlahan matanya terangkat dari tubuh yang mati itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara Tie ChuanJia. Keringat dan darah sudah membasahi wajahnya dan menutupi matanya. Ia hampir-hampir tidak bisa melihat dan nafasnya tersengal-sengal. Katanya, “Yi Min Tang, Saudara Kedua Yi….”

Wajah Si Buta yang biasanya kaku seperti batu mulai bergerak-gerak. Ia mengatupkan giginya dan menjawab, “Aku di sini.”

“Apa…Apakah hutangku sudah terbayar lunas?”

“Hutangmu sudah terbayar lunas.”

“Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan,” kata Tie ChuanJia.

“Katakan saja.”

“Walaupun aku sudah bersalah terhadap Saudara Weng, aku tidak pernah mengkhianatinya. Aku hanya…”

Yi Min Tang segera memotongnya dan berkata, “Kau tidak perlu bicara lagi, aku sudah mengerti.”

Ia benar-benar mengerti.

Seseorang yang mengkhianati sahabatnya tidak mungkin mau mengorbankan dirinya dalam situasi seperti tadi.

Bukan hanya Yi Min Tang yang mengerti. Jin FengBai dan Si Penebang Kayu pun mengerti betul.

Sayang sekali mereka terlambat menyadarinya.

Air mata mulai meleleh dari mata Yi Min Tang. Mata yang sudah buta bertahun-tahun lamanya.

Li Xun Huan melihatnya. Melihatnya dengan jelas.

Itulah pertama kalinya ia menyadari bahwa orang buta pun dapat meneteskan air mata.

Air mata yang hangat pun telah mengalir dari matanya sendiri.

Air mata yang hangat itu jatuh ke atas wajah Tie ChuanJia yang mulai dingin. Ia berlutut dan menyeka keringat dan darah dari wajah Tie ChuanJia.

Akhirnya Tie ChuanJia membuka matanya dan segera setelah dilihatnya Li Xun Huan, ia berseru gembira, “Tuan Muda! Tuan Muda…kau benar-benar telah datang!”

Ia sungguh penuh dengan suka cita, ia berusaha bangun, namun terus-menerus roboh kembali.

Li Xun Huan berlutut di sampingnya dan berkata, “Aku sudah datang. Kita punya banyak waktu untuk bercakap-cakap nanti.”

Tie ChuanJia berusaha keras menggelengkan kepalanya dan tersenyum pedih. Katanya, “Kini aku bisa mati tanpa menyesal. Tidak ada lagi yang perlu kukatakan.”

Li Xun Huan tersenyum dengan mata penuh air mata, “Tapi masih banyak yang seharusnya kau katakan. Kau tidak pernah mengkhianati Saudara Weng. Mengapa tidak kau ceritakan seluruhnya? Mengapa kau menunda-nunda begitu lama?”

Sahut Tie ChuanJia, “Aku menundanya bukan demi diriku sendiri.”

“Lalu demi siapa?”

Tie ChuanJia kembali menggelengkan kepalanya.

Lengan dan kakinya mulai mengejang karena kesakitan, namun wajahnya tetap tenang dan damai. Bahkan seulas senyum gembira terkulum di sudut bibirnya.

Kematiannya sungguh penuh kedamaian.

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup ini adalah mati dengan damai!

Li Xun Huan terus berlutut di sampingnya. Seluruh tubuhnya mati rasa.

Ia tahu demi siapa Tie ChuanJia mati.

Kemungkinan besar Tie ChuanJia tiba di Puri Awan Riang sebelum Li Xun Huan dan mengetahui rencana ShangGuan JinHong untuk menjebaknya, maka ia mengikuti rombongan orang berbaju kuning ini ke dalam terowongan bawah tanah. Jika Tie ChuanJia tahu bahwa ada kemungkinan Li Xun Huan berada dalam bahaya, tidak mungkin Tie ChuanJia hanya berpangku tangan. Kemana pun juga, ia akan pergi menolongnya.

Namun bagaimana ia bisa tahu rencana ShangGuan JinHong?

Dan apa sebenarnya rahasia antara dia dengan Weng TianJie, atau Saudara Weng itu? Yang sampai matipun tidak dibeberkannya?

“Apakah sebenarnya yang kau sembunyikan? Walaupun kau bisa mati tanpa penyesalan, bagaimana aku bisa hidup dengan tenang jika kau berakhir seperti ini?” kata Li Xun Huan dengan muram.

“Kurasa aku tahu apa yang disembunyikannya,” kata Jin FengBai tiba-tiba.

“Kau….kau tahu?” tanya Li Xun Huan tidak percaya.

Wajah Jin FengBai selalu tampak kelam dan sedih. Namun kini warnanya hijau seperti sedang sakit.

Ia mengertakkan gigi dan berkata, “Persahabatan dan kesetiaan Kakak Weng sudah terkenal sangat luas. Kurasa kau pun pasti mengetahuinya.”

“Ya, aku tahu.”

“Selama itu adalah permintaan sahabatnya, ia tidak akan pernah menolak. Karena itu, pengeluarannya pun menjadi tidak sedikit. Namun ia tidak seperti engkau, ia tidak mempunyai ayah yang menjabat sebagai Menteri Kerajaan.”

Li Xun Huan tersenyum.

“Jadi ia selalu hidup dalam kemiskinan. Seseorang yang miskin, namun mempunyai banyak sahabat, tapi juga menginginkan penghormatan, harus memikirkan cara lain untuk membayar hutang-hutangnya,” kata Jin FengBai.

“Maksudmu… Saudara Weng terlibat urusan yang tidak halal?” tanya Si Penebang Kayu terbelalak.

“Betul, aku secara tidak sengaja mendengarnya. Tapi aku tidak sanggup mengatakannya, karena aku tahu bahwa Saudara Weng melakukannya karena ia sangat terdesak kebutuhan,” kata Jin FengBai.

Lalu ia melanjutkan dengan lantang, “Lagi pula semua orang yang ditipu Saudara Weng memang pantas mendapat ganjaran! Walaupun ia memang menipu dan memanfaatkan orang, ia tidak pernah melakukan yang bertentangan dengan moral dan hati nuraninya.”

Tanya Yi Min Tang, “Lalu apa hubungan Tie ChuanJia dengan kasus ini?”

“Setelah ada banyak yang aneh, orang mulai curiga dan menyelidiki transaksi-transaksinya. Salah satu sahabat Tie ChuanJia adalah inspektur yang bertanggung jawab akan kasus ini. Mereka berdua sudah mencurigai Kakak Weng sejak lama, namun mereka tidak punya bukti.”

“Mungkin itulah sebabnya Tie ChuanJia pura-pura bersahabat dengan Kakak Weng, supaya ia dapat menyelidiki lebih jauh dan menemukan bukti-bukti yang kuat,” kata Si Penebang Kayu.

“Mungkin itulah yang terjadi.”

Jin FengBai melanjutkan, “Namun Tie ChuanJia tidak ingin mengungkapkannya karena Kakak Weng selalu baik padanya. Ia sudah menganggap Kakak Weng sebagai sahabatnya, dan ia tidak mungkin mengungkapkannya dan merusak reputasi Kakak Weng setelah ia meninggal. Oleh sebab itulah ia menanggung semua kesalahan dan tuduhan kita. Ia bukan melarikan diri demi dirinya sendiri.”

Tanya Yi Min Tang, “Lalu mengapa kau tidak pernah memberitahukannya kepada kita semua?”

“Aku…? Bagaimana aku dapat mengungkapkannya? Kakak Weng begitu murah hati dan baik kepadaku. Tie ChuanJia saja tidak mau mengatakannya, bagaimana mungkin aku tega melakukannya?”

“Bagus sekali! Kau memang sahabat sejati Kakak Weng!” kata Yi Min Tang.

Terlihat senyum dingin menghiasi wajahnya, namun seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Kata Jin FengBai, “Aku tahu bahwa ini memang tidak adil bagi Tie ChuanJia, tapi aku tidak punya pilihan lain, aku sungguh-sungguh tidak punya pilihan lain….”

Suaranya makin lirih saat ia berbicara, dan tiba-tiba diangkatnya sebatang golok. Golok yang sama yang telah mengambil nyawa Tie ChuanJia. Ia mengarahkannya pada tubuhnya sendiri dan menusuk dadanya, tepat di tempat golok itu menusuk dada Tie ChuanJia.

Walaupun ia mengerang kesakitan, di wajahnya terbayang senyuman yang sama dengan senyuman Tie ChuanJia. “Aku sudah berhutang begitu banyak kepadanya, namun sekarang, paling tidak hutang itu sudah kubayar lunas!”

Dan ia pun mati dengan tenang….

Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup ini adalah mati dengan tenang.

Tiba-tiba Yi Min Tang tertawa seperti orang kesurupan. “Bagus sekali! Kau sudah berani untuk mengatakan kebenaran, juga berani untuk membayar hutang darah ini, kau sungguh-sungguh adalah sobat sejatiku! Paling tidak kita, ‘Delapan Orang Benar dari Dataran Tengah’ tidak pernah sekalipun mempermalukan diri kita sendiri!”

Lama-kelamaan suara tawanya menjadi seperti tangisan yang memilukan.

Lalu Si Penebang kayu pun berlutut di hadapan tubuh Tie ChuanJia yang berlumuran darah, dan membungkuk sekali. Kemudian ia menoleh pada Yi Min Tang dan berkata, “Kakak Kedua, aku pergi duluan.”

Tawa Yi Min Tang pun terhenti mendadak dan sikapnya kembali menjadi dingin dan tenang. Sahutnya, “Baiklah.”

Kapaknya terangkat ke atas, darah tersembur ke tanah, ia pun mati. Bahkan lebih cepat, lebih tenang.

Jika Li Xun Huan tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah percaya bahwa ada orang-orang yang sama sekali tidak takut akan kematian seperti mereka ini.

Yi Min Tang menoleh pada Li Xun Huan. Di wajahnya tidak tergambar emosi apapun. Katanya, “Aku masih belum pergi, karena masih ada yang harus kukatakan kepadamu.”

Li Xun Huan hanya bisa menganggukkan kepalanya.

“Mungkin sekarang kau sudah bisa menebak bahwa kami telah bersembunyi di sini sejak lama. Kami sudah mengira bahwa cepat atau lambat, Tie ChuanJia akan kembali ke sini. Oleh sebab itu, kami tahu banyak hal yang telah terjadi di sini.”

Lanjut Yi Min Tang perlahan-lahan, “Kami tahu akan rencana ShangGuan JinHong sejak awal. Long Xiao Yun pun mengetahuinya. Aku selalu merasa heran, mengapa kau mau berteman dengan orang semacam dia.”

Tentu saja Li Xun Huan tidak bisa menjawabnya.

“Tie ChuanJia mengetahui akan perangkap ini dari Long Xiao Yun. Ia sengaja membocorkan rahasia ini, karena ia ingin mengantarkan Tie ChuanJia ke dalam liang kuburnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa kami mengikutinya kemari, karena kami tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain.”

Lanjutnya lagi, “Namun tentang Nyonya… Nyonya Lin Shi Yin, ia sama sekali tidak berada dalam bahaya. Ia tidak berada di tangan ShangGuan JinHong. Jika kau mampir ke Puri Awan Riang, kau pasti akan menjumpainya di sana.”

Li Xun Huan merasakan kehangatan di dadanya. Apakah itu rasa terima kasih? Apakah itu rasa bahagia?

“Dan sekarang, segala permusuhan di antara kami telah selesai. Aku hanya bisa berharap bahwa kau sudi menguburkan kami bersama-sama. Dan jika ada yang bertanya tentang ‘Delapan Orang Benar dari Dataran Tengah’, aku berharap kau bisa menjelaskan kepada mereka bahwa walaupun kami telah berbuat kesalahan dalam hidup kami, kami telah berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya dalam kematian kami,” kata Yi Min Tang.

Orang-orang berjubah kuning yang masih hidup diam-diam meloloskan diri keluar. Walaupun Li Xun Huan melihat mereka pergi, ia tidak merasa perlu untuk menghalangi mereka.

Ia pun tidak merasa perlu untuk menghalangi Yi Min Tang.

Karena ia tahu pasti, Yi Min Tang tidak mungkin bisa terus hidup.

Jikalau seseorang bisa mati dengan tenang, apa lagi yang diinginkannya?

Kematian tidak berarti apapun juga bagi mereka.

Kini, saat Li Xun Huan memandangi lantai yang penuh mayat, ia pun bergidik. Ia menyadari betapa brutal dan mengerikannya pembalasan dendam itu.

Namun sedalam apapun dendam mereka, kini semuanya telah selesai.

Perkataan Yi Min Tang sungguh tepat. Walaupun mereka melakukan kesalahan dalam hidup mereka, mereka telah mati dengan terhormat, dengan gagah, dengan hati nurani yang bersih.

Begitu sedikit orang dalam dunia ini yang dapat mati seperti mereka.

Lengan dan kaki Li Xun Huan terasa begitu dingin, sampai ia menggigil. Namun dalam dadanya, terasa api yang membara.

Ia menjatuhkan diri, berlutut dalam genangan darah mereka.

Darah ksatria sejati!

Ia berlutut dengan hati tenang. Ia sungguh lebih suka berada di sini, bersama dengan orang-orang benar yang mati, daripada bersama dengan senyuman orang-orang licik yang hidup.

‘Pria sejati tidak lupa diri oleh kesukaan dalam hidup dan tidak terguncang oleh ketakutan dalam kematian’. Jika seseorang bisa mati tanpa penyesalan, apakah yang harus ditakuti dari kematian?

Tapi sungguh-sungguh teramat sulit untuk mati seperti itu!

Selama itu, Sun Xiao Hong sama sekali tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Bukan karena ia takut, namun karena ia tidak tahan melihat adegan berdarah seperti itu. Ia baru menyadari, laki-laki memang berbeda dari wanita.

Ia baru menyadari bahwa menjadi wanita pun merupakan suatu anugerah.

***

Malam.

Dalam warung kecil itu ada setitik cahaya dan dua orang manusia.

Cahayanya guram, namun hati mereka lebih muram lagi….

Lilin itu berada tepat di hadapan Li Xun Huan. Anggur pun ada di hadapan Li Xun Huan. Namun seakan-akan ia tidak bertenaga untuk mengangkat cawan itu. Yang bisa dilakukannya adalah menatap cawan itu saja dengan pandangan kosong.

Cahaya lilin menari dan berkelap-kelip.

Setelah sekian lama, akhirnya Li Xun Huan menghela nafas panjang dan berkata, “Mari kita pergi.”

“Ak…Aku ikut denganmu?” tanya Sun Xiao Hong ragu.

“Kita datang bersama. Tentu saja kita pulang bersama.”

“Pulang? Tapi, apakah kau tidak jadi berkunjung ke Puri Awan Riang?”

Li Xun Huan menggeleng.

“Tapi bukankah tujuan kedatangan kita ke sini adakah untuk mengunjungi Puri Awan Riang?”

Jawab Li Xun Huan, “Sekarang tidak perlu lagi.”

“Kenapa?”

Li Xun Huan menatap lurus pada lilin itu dan berkata, “Yi Min Tang telah mengatakan padaku bahwa dia tidak berada dalam bahaya. Itu sudah cukup bagiku.”

“Dan kau percaya begitu saja pada perkataannya?”

“Ia adalah tipe orang yang bisa dipercaya.”

Sun Xiao Hong mengejapkan matanya dan bertanya, “Tapi…bukankah kau ingin bertemu dengannya?”

Li Xun Huan terdiam. Lalu perlahan menjawab, “Berjumpa dengannya akan seperti tidak berjumpa. Karena ia tidak berada dalam bahaya, tidak ada gunanya aku pergi ke sana.”

“Tapi kau kan sudah sampai di sini. Tidak ada salahnya kau menjumpainya,” kata Sun Xiao Hong mendesak.

Kembali Li Xun Huan terdiam. Lalu tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Tiba-tiba aku merasa bahagia. Karena perasaanku sudah tenang, tidak ada bedanya aku berjumpa dengan dia atau tidak.”

Sun Xiao Hong mengeluh dan tersenyum. “Kau memang orang aneh. Orang lain tidak akan pernah mengerti apa yang kau lakukan.”

“Cepat atau lambat kau akan mengerti.”

Gadis itu menatap Li Xun Huan bengong. Lalu katanya, “Namun paling tidak kau harus menguburkan mereka dengan sepantasnya.”

“Mereka bisa menunggu, ShangGuan JinHong tidak,” sahut Li Xun Huan

Lalu ia tersenyum pahit dan menambahkan, “Orang mati memang jauh lebih sabar daripada orang hidup.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: