Kumpulan Cerita Silat

16/01/2009

Pisau Terbang Li (76)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:04 am

Taktik yang Cemerlang

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Jawab Tuan Sun dengan suara rendah, “ShangGuan JinHong pasti datang awal esok hari.”

“Mengapa begitu?” tanya Sun Xiao Hong.

“Karena siapa yang datang lebih awal, punya kesempatan untuk memilih lokasi yang paling menguntungkan. Tidak mungkin ShangGuan JinHong menyia-nyiakan kesempatan ini.”

“Lalu mengapa Li Xun Huan tidak datang lebih awal lagi saja?”

“Mungkin dia tidak ingin berlomba datang lebih awal. Atau mungkin juga ia punya alasan yang lain sama sekali.”

Tuan Sun terkekeh pelan dan menambahkan, “Li Tan Hua bukan orang biasa. Kadang-kadang aku pun dibuatnya bingung, tidak mengerti apa maksud perbuatannya.”

Kata Sun Xiao Hong, “Dalam pandanganku, seluruh tempat ini tampak sama saja. Aku tidak bisa menentukan tempat mana yang paling menguntungkan.”

“Tempat di mana ia berdiri saat ini,” kata Tuan Sun.

“Apa istimewanya tempat itu?”

“Jika ShangGuan JinHong berdiri di situ, Li Xun Huan pasti harus berdiri tepat di depannya.”

“Mmmm.”

“Waktu berduel telah ditentukan, yaitu pada saat matahari terbenam.”

“Aaah, sekarang aku mengerti. Jika seseorang berdiri di situ, punggungnya akan tepat menghadap cahaya matahari terbenam, jadi cahaya itu tidak akan mempengaruhinya sama sekali. Namun, orang yang berada tepat di depannya, akan silau oleh cahaya itu. Dan jika sekali saja kau berkedip, lawanmu akan mempunyai kesempatan yang sempurna untuk menyerangmu.”

“Tepat sekali.”

“Namun mengapa ShangGuan JinHong memilih untuk berdiri di situ?”

“Hanya dengan cara berdiri di situ, baru ia tahu kelemahan tempat itu. Lalu ia dapat mencari tempat yang lain,” kata Tuan Sun, “Jika kau melihat hutan di sana, sinar matahari senja pun dipantulkan oleh embun yang membeku di atas dedaunan. Jadi berdiri di situ pun akan silau juga.”

Kini Li Xun Huan berjalan menuju sebatang pohon tepat di hadapan mereka.

Mata Sun Xiao Hong terus mengikuti gerakannya. Tiba-tiba selarik sinar menyilaukan matanya…. Pohon itu mempunyai paling banyak embun yang membeku, dan sinar matahari yang dipantulkannya pun paling banyak.

Tanya Tuan Sun, “Kini kau mengerti?”

Sun Xiao Hong tidak menjawab. Tiba-tiba tubuh Li Xun Huan melesat ke atas pohon dan dengan cepat mengitari pohon itu.

“Semua orang tahu bahwa ‘Pisau Terbang Li Kecil tidak pernah luput’. Namun ilmu meringankan tubuhnya pun ternyata sangat tinggi. Tidak banyak orang di dunia ini yang dapat menandinginya,” seru Tuan Sun.

“Tapi, apa yang sedang dilakukannya di pohon itu?” tanya Sun Xiao Hong.

“Ia sedang memeriksa tiap ranting dan cabang pohon itu, berapa kuatnya mereka itu. Ada dua alasan mengapa ia melakukannya.”

“Dua alasan?”

“Yang pertama, ia ingin memastikan bahwa pohon itu belum ‘dikerjai’ oleh ShangGuan JinHong.”

“Dikerjai?”

“Ketika ia sedang berhadapan dengan ShangGuan JinHong, apa yang akan terjadi jika tiba-tiba ranting-ranting pohon itu patah?”

“Kalau patah yang pasti akan jatuh ke bawah.”

“Jatuh ke mana?”

“Ke tanah.” Tiba-tiba Sun Xiao Hong jadi mengerti maksudnya, “Atau di depannya, sehingga menghalangi pandangannya. Atau mungkin di atas kepalanya. Yang pasti, itu akan memecahkan konsentrasinya dan memberikan keuntungan bagi ShangGuan JinHong.”

“Lagi pula, jika ia tidak punya pilihan lain, ia bisa naik ke atas pohon itu. Apa yang akan terjadi jika tiba-tiba pohon itu berubah menjadi medan laga?” tanya Tuan Sun.

“Oleh sebab itulah, ia harus memeriksa segala sesuatu dengan seksama. Pohon itu dan juga segala sesuatu di sekitar sini,” jawab Sun Xiao Hong.

“Akhirnya kau mengerti.”

“Ya, kini aku mengerti. Siapa sangka ada begitu banyak persiapan sebelum berduel.”

“Apapun yang kau kerjakan, jika kau telah mencapai tingkatan yang tertinggi, selalu akan lebih rumit dan mendetil. Bahkan dalam hal menyulam atau memasak sekalipun.”

Tuan Sun melirik pada Li Xun Huan dan melanjutkan, “Walaupun waktu duelnya ditentukan esok hari, sebenarnya duel itu telah dimulai sejak pertama kali mereka bertemu. Yang diuji adalah perhatian mereka akan hal-hal yang mendetil, kesabaran mereka, dan pengetahuan mereka. Kesempatan mereka menang telah ditentukan sejak saat itu, namun pemenang akhirnya baru ditentukan esok hari saat berduel.”

“Namun apa yang dilihat orang adalah apa yang terjadi di saat yang sangat singkat itu. Ada pepatah, ‘Menang kalah dalam pertarungan antara dua jagoan ditentukan oleh satu langkah saja’. Namun siapa yang dapat membayangkan betapa banyak persiapan di balik satu langkah itu,” kata Sun Xiao Hong.

Wajah Tuan Sun menjadi muram. Ia memantik api dan menyalakan pipanya. Matanya tertuju pada api dalam pipa itu. Katanya, “Seorang ahli silat yang sejati selalu hidup kesepian. Orang hanya melihat mereka dalam kejayaan dan kesuksesan mereka. Tidak ada yang melihat betapa banyak pengorbanan mereka. Karena itulah, tidak ada orang yang dapat memahami mereka.”

Sun Xiao Hong menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan ujung lengan bajunya. Katanya, “Tapi apakah mereka tidak ingin dimengerti oleh orang lain?”

Sementara itu, Li Xun Huan mengencangkan ikat pinggangnya dan dengan sedikit tekanan di kakinya ia melompat ke atap paviliun itu.

Tuan Sun menghembuskan asap dan berkata, “Semua orang selalu menganggap Li Xun Huan sebagai orang yang berantakan dan sembarangan. Siapakah yang pernah melihat sisi kerapiannya? Namun untuk hal-hal yang penting, ia tidak melewatkan satu detil yang terkecil sekalipun.”

Sun Xiao Hong mendesah dan berkata, “Mungkin karena ia telah membiarkan begitu banyak hal berlalu…”

Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan bertanya, “Tadi Kakek bilang pertempuran ini sudah berlangsung sejak lama. Dalam pandanganmu, siapakah yang saat ini berada di atas angin?”

Jawab Tuan Sun, “Sepertinya tidak ada yang tahu jawabannya.”

Ia menggigit-gigit bibirnya lagi.

Jika pikirannya sedang kusut, ia selalu menggigit-gigit bibirnya. Semakin kusut pikirannya, semakin kuat gigitannya.

Saat ini, ia hampir menggigit bibirnya sampai lepas.

“Apa pendapatmu?” tanya kakeknya.

“Mmm…. ShangGuan JinHong terlihat begitu percaya diri.”

“Betul. Dan ini karena pada tahun-tahun terakhir ini ia selalu berhasil dalam usahanya. Hanya saja, mungkin kematian anaknya bisa mempengaruhi sedikit konsentrasinya.”

Kata Sun Xiao Hong, “Juga Jin Wu Ming. Kepergiannya bisa dianggap sebagai kehilangan yang besar bagi ShangGuan JinHong.”

Kata Tuan Sun, “Inilah sebabnya ia ingin segera berduel dengan Li Xun Huan, karena ia takut rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit mulai berkurang.”

Tuan Sun mengeluh dan melanjutkan, “Itulah sebabnya, duel ini bukan hanya menyangkut hidup ShangGuan JinHong dan Li Xun Huan, tapi juga menyangkut seluruh dunia persilatan.”

Sun Xiao Hong tampak kaget, “Apa betul pengaruhnya sedemikian besar, Kek?”

“Yang pertama, jika ShangGuan JinHong menang, rasa percaya dirinya pasti akan melambung semakin tinggi. Perbuatannya pasti akan semakin berani dan aku kuatir, tidak akan ada yang dapat menghalanginya.”

Mata Sun Xiao Hong berkejap-kejap, “Sebetulnya, kurasa tidak mungkin ShangGuan JinHong bisa menang.”

“Kenapa begitu?”

“Pisau Terbang Li Kecil tidak pernah luput! Pisaunya tidak pernah gagal!” seru Sun Xiao Hong.

“Tapi ShangGuan JinHong pun tidak pernah kalah,” kata Tuan Sun lirih.

Sun Xiao Hong tertawa keras dan berkata, “Apakah Kakek sudah lupa? ShangGuan JinHong pernah kalah sekali.”

“Oh?”

“Hari itu, di paviliun di luar kota Luoyang. Bukankah Kakek mengalahkannya?”

Tuan Sun diam saja.

“Kakek, sebelum ini, aku belum pernah minta apapun darimu. Tapi kali ini, aku minta tolong satu saja.”

“Apa itu?” tanya Tuan Sun sambil meniup pipanya dan menyelubungi dirinya sendiri dengan asap putih.

Kata Sun Xiao Hong, “Aku mohon Kakek memastikan Li Xun Huan tetap hidup, bagaimanapun caranya….”

Tiba-tiba ia berlutut di hadapan kakeknya dan berkata, “Kakek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat mengatasi ShangGuan JinHong. Kakeklah satu-satunya yang dapat menolong Li Xun Huan. Dan Kakek pasti tahu bahwa jika Li Xun Huan mati, aku sungguh tidak sanggup hidup tanpa dirinya.”

Lautan asap itu telah lenyap.

Namun asap tebal seolah-olah membayangi mata Tuan Sun.

Kabut musim gugur, muram dan sedih…

Namun secercah senyum menghiasi wajahnya.

Matanya menatap ke kejauhan, dan dengan lembut tangannya membelai rambut cucunya. Katanya, “Dari semua cucu-cucuku, kaulah yang paling nakal. Kalau kau mati, siapa yang akan mencabuti jenggotku dan menjambak rambutku?”

Sun Xiao Hong bangkit perlahan, “Jadi Kakek berjanji?”

Tuan Sun menganggukkan kepalanya dan berkata, “Selama ini kau hanya menunggu aku mengatakannya, bukan?”

Pipi Sun Xiao Hong bersemu merah dan ia pun menyahut, “Kakek kan tahu setelah seorang gadis menjadi dewasa, ia tidak bisa terus tinggal di rumah. Hatinya akan berpaling ke tempat lain.”

Tuan Sun tertawa dan berkata, “Namun kulitmu masih tebal. Aku tidak tahu, apakah ada orang yang menginginkanmu atau tidak.”

Sun Xiao Hong beringsut dan mendekatkan bibirnya ke telinga kakeknya. Ia berbisik, “Aku tahu. Dan jika ia tidak menginginkan aku, aku punya cara untuk membuatnya menginginkan aku.”

Tuan Sun memeluknya, seolah-olah ia kembali menjadi seorang gadis kecil dan berkata dengan lembut, “Kau adalah cucu kesayanganku, tapi kau terlalu nakal dan terlalu berani. Tadinya aku sungguh kuatir kau tidak akan menemukan jodohmu, tapi kini paling tidak kau telah menemukan orang yang betul-betul kau sukai. Aku hanya bisa berbahagia untukmu.”

Kata Sun Xiao Hong sambil cekikikan, “Aku memang sungguh beruntung bertemu dengan dia. Tapi ia juga beruntung bertemu dengan aku. Dalam dunia ini, tidak banyak orang yang seperti aku.”

Tuan Sun tersenyum, “Memang kau adalah satu-satunya dalam dunia ini.”

Ia duduk di pangkuan kakeknya dengan hati ringan dan gembira.

Karena ia bukan saja memiliki kakek yang hebat, namun ia juga memiliki orang yang sangat mengagumkan dalam hatinya.

Keluarga, kekasih, ia punya keduanya. Apalagi yang diinginkan seorang gadis?

Ia merasa ialah orang yang paling berbahagia di seluruh dunia.

Ia merasa, masa depannya sungguh gilang gemilang.

Kini hari sudah mulai malam. Kegelapan telah menelan habis sinar matahari yang cerah.

Tapi seakan-akan ia tidak menyadarinya.

‘Cinta dapat membutakan mata manusia’.

Walaupun ini adalah perkataan kuno, kebenarannya tidak pernah berubah.

Jika Sun Xiao Hong dapat membuka matanya sekarang, ia akan melihat betapa dalam kesedihan dan kepedihan dalam sorot mata kakeknya. Walaupun orang lain dapat melihat kesedihan itu, tidak akan ada yang bisa menebak apa sebabnya.

Malam semakin dekat, hembusan angin semakin dingin.

Suasana begitu hening, hanya suara dahan dan dedaunan yang berdansa mengikuti irama angin.

Di manakah Li Xun Huan?

Sun Xiao Hong sudah tidak sabar. Ia berjalan keluar dan berseru, “Apa yang kau lakukan di atas sana? Mengapa kau belum turun juga?”

Tidak ada jawaban.

Ke mana perginya Li Xun Huan?

Apakah ada jebakan licik di atas atap paviliun itu? Apakah Li Xun Huan sudah terjebak?

Atap paviliun itu terbuat dari genteng berwarna merah dengan hiasan keemasan di puncaknya.

Di atas puncak itu ada sebuah kotak hitam terbuat dari besi.

Kotak besi hitam yang sederhana, sama sekali tidak ada hiasannya. Tidak juga ada jebakan yang akan melontarkan panah beracun pada orang yang membukanya.

Tapi, apa maksudnya kotak besi itu berada di atas puncak atap paviliun itu?

Dalam kotak besi itu ada sehelai rambut.

Sehelai rambut yang hitam panjang. Tidak ada istimewanya.

Namun entah berapa lama Li Xun Huan terpekur memandangi sehelai rambut itu. Ketika Sun Xiao Hong berseru memanggilnya, seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa.

Apa istimewanya sehelai rambut ini?

Sun Xiao Hong tidak habis pikir.

Tidak ada seorang pun yang habis pikir.

Wajah Li Xun Huan tampak begitu mendung, matanya mulai kelihatan merah.

Sun Xiao Hong belum pernah melihat dia seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika mereka minum begitu banyak anggur, mata Li Xun Huan selalu segar dan terang.

Apa yang mengakibatkan perubahan yang begitu tiba-tiba ini?

Mereka meletakkan sehelai rambut itu di meja batu dalam paviliun.

Sun Xiao Hong tidak tahan untuk tidak bertanya, “Rambut siapa ini?”

Tidak ada jawaban. Tidak ada yang bisa menjawab.

Kelihatannya mirip dengan rambut siapapun juga di dunia ini.

Kata Sun Xiao Hong, “Rambut sepanjang ini, pastilah rambut seorang wanita.”

Ia tahu bahwa pernyataannya tidak sepenuhnya betul karena laki-laki pun bisa berambut sepanjang itu.

Memotong rambut dapat diartikan tidak hormat terhadap orang tua.

Dalam cerita-cerita, selalu dikisahkan anak-anak gadis yang berdandan seperti pria akan segera ketahuan jika rambut mereka yang asli terlihat.

Namun cerita itu hanya dapat menipu anak-anak kecil. Anehnya, cerita-cerita semacam itu masih juga diceritakan sampai saat ini.

Sun Xiao Hong menghentakkan kakinya dan berkata, “Rambut siapapun juga, ini kan cuma sehelai rambut saja. Apa sih anehnya?”

“Ada,” kata Tuan Sun singkat.

“Ada apanya?” tanya Sun Xiao Hong.

“Ada yang aneh. Ada yang sangat aneh tentang rambut ini.”

“Apa anehnya?”

“Segalanya aneh,” jawab Tuan Sun, “Mengapa sehelai rambut berada dalam kotak besi? Bagaimana kotak besi itu berada di atas puncak atap paviliun ini? Siapa yang meletakkannya di sana? Apa alasannya?”

Sun Xiao Hong terkesima.

Tuan Sun menghela nafas dan berkata, “Jika tebakanku tepat, ini adalah perbuatan ShangGuan JinHong.”

Tanya Sun Xiao Hong, “ShangGuan JinHong? Mengapa ia melakukannya?”

“Karena ia ingin Li Xun Huan melihat sehelai rambut itu.”

“Tapi…tapi dia….”

“Ia pasti telah mengira bahwa Li Xun Huan pasti datang sebelumnya untuk memeriksa keadaan tempat ini. Mungkin ia telah mengira bahwa Li Xun Huan pasti akan memeriksa atap paviliun ini, sehingga dengan sengaja ia meletakkan kotak besi ini di atas sana.”

“Tapi apa istimewanya sehelai rambut ini? Memangnya kenapa kalau Li Xun Huan melihatnya? Bukankah ini sungguh bodoh?” tanya Sun Xiao Hong tidak mengerti.

Namun saat ia mengatakan kalimat itu, ia merasa memang ada yang salah, ada yang betul-betul salah.

ShangGuan JinHong bukanlah orang melakukan hal-hal bodoh yang tidak berguna.

Mata Tuan Sun tertuju pada Li Xun Huan dan bertanya, “Apakah kau tahu rambut siapa ini?”

Li Xun Huan terdiam beberapa saat. Akhirnya ia mendesah dan menjawab, “Aku tahu.”

“Tapi apakah kau sungguh-sungguh yakin?” tanya Tuan Sun.

Nada suaranya tajam dan tegas.

Li Xun Huan hanya dapat menjawab, “Aku…”

“Kau tidak yakin, kan?”

Ia tidak menunggu jawaban Li Xun Huan. Segera ia menambahkan, “ShangGuan JinHong melakukannya karena ia ingin kau percaya bahwa sehelai rambut ini adalah milik Lin Shi Yin, dan bahwa ia telah jatuh ke dalam tangannya. Ia ingin kau terganggu, sehingga ia berkesempatan untuk membunuhmu. Mengapa kau jatuh dalam jebakannya?”

“Betul. Jika Nyonya Lin telah jatuh ke dalam tangannya, mengapa ia tidak membawanya saja ke sini untuk mengancammu?” tambah Sun Xiao Hong.

Jawab Li Xun Huan, “Karena ia tidak bisa melakukannya… Orang lain mungkin bisa, namun dia tidak bisa.”

“Mengapa?”

“Karena jika ada orang yang tahu ia menggunakan cara serendah itu untuk mengalahkan Li Xun Huan, ia akan menjadi bahan tertawaan seluruh dunia.”

“Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan engkau melihat sehelai rambut.”

“Karena itulah, taktiknya sungguh cemerlang,” sahut Li Xun Huan.

Sun Xiao Hong masih terus mendebatnya, “Tapi rambut ini belum tentu miliknya.”

“Mungkin juga, mungkin juga tidak…. Tidak ada yang bisa memastikan,” kata Li Xun Huan.

“Lalu mengapa tidak kau lupakan saja, dan anggap saja kau tidak pernah melihat rambut itu. Dengan begitu, jebakannya gagal total.”

“Sayang sekali, aku sudah melihatnya.”

Kata Sun Xiao Hong, “Karena ia tidak mengatakan apa-apa, maka kau malah menjadi curiga. Karena ia tahu bahwa kau akan menjadi curiga, maka ia membuat rencana seperti ini. Walaupun kau tahu maksud yang sebenarnya, kau tetap memilih untuk terjebak dalam permainannya.”

Li Xun Huan menghela nafas panjang dan berkata, “Mengapa aku selalu dihadapkan pada situasi seperti ini?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: