Kumpulan Cerita Silat

15/01/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 35

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 4:29 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Dalam pada itu di tepi jalan sudah banyak berkerumun penonton, demi menyaksikan Siau Hong dapat menaklukkan orang gila itu, serentak mereka bersorak memuji.

Lalu sambil merangkul dan setengah menyeret, Siau Hong membawa laki-laki itu ke dalam kedai arak serta dipaksanya berduduk, katanya, “Silakan minum arak dulu, saudara!”

Sembari berkata, ia terus menuangkan semangkuk arak dan disodorkan ke hadapan laki-laki itu.

Dengan mata tak berkedip laki-laki itu melototi Siau Hong hingga lama, akhirnya ia bertanya, “Engkau ini orang… orang baik atau orang jahat?”

Pertanyaan itu membikin Siau Hong melengak hingga susah untuk menjawabnya. Syukur A Cu lantas menyahut dengan tertawa, “Sudah tentu dia orang baik. Aku pun orang baik dan engkau juga orang baik. Kita adalah kawan, marilah kita pergi bersama untuk menghajar Tay-ok-jin.”

Orang itu tampak bingung sebentar, ia pandang Siau Hong dan pandang A Cu pula, seperti percaya dan seperti tidak, selang sejenak baru ia berkata pula, “Dan ke manakah Tay-ok-jin itu?”

“Kita adalah kawan, mari kita pergi menghajar Tay-ok-jin,” kata A Cu pula.

Mendadak laki-laki itu berbangkit dan berseru, “Tidak, tidak! Tay-ok-jin itu terlampau lihai, lekas beri tahukan kepada Cukong agar beliau cepat mencari jalan untuk menghindarinya. Biar aku merintangi Tay-ok-jin dan lekas kau pergi memberi kabar kepada Cukong.”

Habis berkata, segera ia pegang kapaknya pula dan hendak melangkah pergi.

Namun Siau Hong lantas tahan pundak orang, katanya, “Sabar dulu, saudara. Tay-ok-jin belum datang, jangan khawatir. Siapakah cukongmu? Dia berada di mana?”

Tapi mendadak orang itu berteriak malah, “Marilah Tay-ok-jin, ayo boleh kita coba-coba, biar Locu menempurmu 300 jurus, jangan harap kau mampu mencelakai majikanku!”

Siau Hong dan A Cu kewalahan, mereka saling pandang dan tak berdaya.

Sejenak kemudian, tiba-tiba A Cu berseru, “Ai, celaka, kita harus lekas memberi kabar kepada Cukong. Tapi di manakah Cukong berada sekarang? Ke manakah perginya, jangan sampai Tay-ok-jin dapat mencarinya?”

“Ya, benar, lekas kau beri kabar padanya!” seru laki-laki itu. “Cukong sedang pergi ke rumah keluarga Wi di Hong-tiok-lim Siau-keng-oh. Ayolah lekas pergi ke sana dan memberi kabar padanya.”

Lalu berulang-ulang ia mendesak pula dengan penuh rasa khawatir.

“Wah, Siau-keng-oh? Itu jarak yang tidak dekat,” demikian mendadak si pelayan kedai arak menimbrung.

Mendengar bahwa ada suatu tempat yang benar bernama “Siau-keng-oh” (Danau Cermin Kecil), segera Siau Hong bertanya, “Di manakah letak tempat itu? Betapa jauhnya dari sini?”

“Kalau tanya orang lain mungkin tak tahu, kebetulan Tuan ketemu aku, maka untunglah bagi Tuan, sebab aku berasal dari daerah Siau-keng-oh, sungguh sangat kebetulan,” ujar si pelayan.

Khawatir si pelayan bicara bertele-tele lagi, segera Siau Hong menggebrak meja dan membentak, “Lekas katakan, jangan melantur!”

Sebenarnya si pelayan bermaksud mencari persen dengan keterangannya yang akan diberitakan itu, tapi karena digertak Siau Hong, ia jadi tidak berani jual mahal lagi, segera ia menutur, “Siau-keng-oh itu terletak di arah barat laut, dari sini Tuan harus lurus ke jurusan barat, kira-kira tujuh li jauhnya, jika di tepi jalan Tuan melihat empat pohon liu besar berjajar, dari situ Tuan harus membelok ke utara, setelah 10 li lagi, di sana terdapat satu jembatan batu, tapi jangan Tuan menyeberangi jembatan ini jika Tuan tidak ingin kesasar, sebaliknya Tuan harus ambil jalan menyeberang melalui sebuah jembatan kayu di sebelah kanannya. Lewat jembatan kayu kecil itu, sebentar belok ke kiri dan sebentar putar ke kanan, pendek kata, jalan terus mengikuti jalan batu itu, kira-kira 20 li pula, akhirnya Tuan akan melihat sebuah danau yang airnya sangat bening laksana kaca, itulah yang disebut Siau-keng-oh. Itu pula tempat yang Tuan hendak cari.”

Sungguh dongkol sekali Siau Hong oleh cara menutur pelayan yang bertele-tele itu, tapi dengan sabar ia berusaha menunggu sampai selesainya penuturan pelayan itu, lalu ia sodorkan beberapa mata uang kepadanya sebagai persen jual omongnya itu.

Dalam pada itu orang tadi masih terus mendesak, “Ayolah, lekas sampaikan kabar kepada Cukong, jika terlambat mungkin tidak keburu lagi, Tay-ok-jin itu teramat lihai.”

“Siapakah cukongmu itu?” tanya Siau Hong.

“Cukong… Cukong, ah, tempat perginya itu tidak boleh kuberi tahukan kepada siapa pun, maka janganlah kau pergi ke sana,” kata orang itu.

“Kau she apa?” seru Siau Hong mendadak.

“Aku she Siau,” sahut orang itu.

Siau Hong menjadi curiga, “Aneh, mengapa ia pun she Siau? Jangan-jangan dia bohong dan sengaja hendak mengolok-olok padaku? Apakah dia sengaja hendak memancing aku pergi ke Siau-keng-oh?”

Tapi segera terpikir pula olehnya, “Jika dia sengaja memancing aku ke sana atas perintah Tay-ok-jin, itulah sangat kebetulan, memang aku sendiri juga lagi hendak mencarinya. Biarpun Siau-keng-oh itu merupakan sarang harimau atau kubangan naga juga aku tidak gentar.”

Setelah ambil keputusan itu, segera ia berkata kepada A Cu, “Marilah pergi ke Siau-keng-oh, jika majikan saudara ini berada di sana, tentu kita dapat mencarinya.”

Lalu ia berpaling kepada orang itu, katanya, “Saudara tentu sudah sangat lelah, silakan mengaso dulu di sini, biarlah aku mewakilkanmu mengirim kabar kepada majikanmu bahwa sebentar lagi Tay-ok-jin itu akan datang.”

“Ya, terima kasih, banyak terima kasih! Aku harus pergi merintangi Tay-ok-jin itu agar dia tak bisa datang ke sana,” kata orang itu, lalu ia berdiri dan bermaksud putar kapaknya lagi. Tapi rupanya ia sudah kehabisan tenaga, biarpun kapak itu masih dapat dipegangnya dengan kencang, tapi sudah tidak kuat lagi untuk mengangkatnya.

“Sudahlah, lebih baik saudara mengaso saja di sini.” ujar Siau Hong. Lalu ia membereskan rekening minumnya, bersama A Cu segera ia menuju ke barat menurut petunjuk si pelayan tadi.

Antara tujuh-delapan li jauhnya, benar juga di tepi jalan terdapat beberapa pohon liu yang rindang. Di bawah salah satu pohon itu duduk seorang petani. Petani itu duduk bersandar pohon, kedua kakinya terendam di dalam lumpur sawah di tepi jalan.

Pemandangan seperti itu sebenarnya adalah sangat umum di pedesaan, tapi muka petani itu ternyata berlepotan darah, pundaknya memanggul sebatang cangkul yang bentuknya sangat aneh, mata cangkul itu tajam sekali, setiap orang yang melihatnya pasti segera akan tahu cangkul itu adalah sejenis senjata yang sangat lihai.

Ketika Siau Hong mendekatinya, didengarnya pernapasan petani itu terengah-engah, itulah tanda orang terluka dalam yang parah.

Tanpa pikir Siau Hong terus tanya, “Numpang tanya Toako ini, kami diminta oleh seorang kawan yang bersenjata kapak agar mengirim berita ke Siau-keng-oh, apakah betul ini jalan menuju ke Siau-keng-oh itu?”

Petani itu mendongak, tiba-tiba ia balas tanya malah, “Sobat berkapak itu mati atau hidup sekarang?”

“Ia hanya kehabisan tenaga, rasanya tidak berbahaya bagi jiwanya,” sahut Siau Hong.

Petani itu menghela napas lega dan mengucapkan syukur, lalu katanya, “Harap kalian membelok ke utara sana, budi pertolongan kalian ini takkan kulupakan.”

Mendengar tutur kata orang bukan sembarangan petani desa, segera Siau Hong tanya pula, “Siapakah she saudara? Apakah kawan saudara orang berkapak itu?”

“Aku she Tang,” sahut petani itu. “Silakan Tuan lekas menuju ke Siau-keng-oh, Tay-ok-jin itu sudah lewat sejak tadi, sungguh memalukan kalau diceritakan, ternyata aku tidak sanggup merintanginya.”

Melihat orang terluka parah, Siau Hong pikir apa yang dikatakan itu pasti tidak dusta, apalagi dilihatnya petani she Tang itu sangat sederhana dan tulus sikapnya, mau tak mau menimbulkan rasa suka Siau Hong, katanya, “Tang-toako, lukamu tidak enteng, dengan senjata apakah Tay-ok-jin itu melukaimu?”

“Dengan sebatang pentung bambu,” sahut petani itu.

“Pentung bambu? Apakah Pak-kau-pang yang biasa kugunakan itu?” demikian pikir Siau Hong dengan terkesiap.

Ia lihat darah mengucur terus dari dada petani itu, ia coba menyingkap baju orang dan memeriksanya, ternyata dada orang terluka satu lubang sebesar jari dan cukup dalam, jika betul lubang luka itu kena dijuju oleh pentung bambu, maka terang pentung bambu itu jauh lebih kecil daripada Pak-kau-pang.

Segera Siau Hong menutuk beberapa hiat-to di sekitar luka petani itu untuk mencegah darah keluar lebih banyak dan menghilangkan rasa sakit. Sedang A Cu lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil, ia buka kotak itu dan mengorek sedikit salep dari kotak itu untuk dipoleskan pada luka orang. Katanya kepada Siau Hong, “Obat ini adalah pemberian Tam-kong tempo hari, waktu engkau terluka, mestinya akan kububuhkan obat mukjizat ini pada lukamu, tapi waktu itu aku tak dapat menemukanmu.”

Sementara itu si petani telah berkata pula, “Atas budi kebaikan Tuan-tuan, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga. Sekarang mohon Tuan-tuan suka lekas menyampaikan berita itu kepada majikanku di Siau-keng-oh.”

“Sebenarnya siapakah nama majikanmu, bagaimana mukanya?” tanya Siau Hong.

“Asal Tuan-tuan sampai di tepi Siau-keng-oh tentu akan melihat di barat danau itu ada hutan bambu, itulah Hong-tiok-lim (Hutan Bambu Persegi), bambu yang tumbuh di situ berbentuk persegi semua, di tengah rimba bambu itu ada beberapa petak rumah bambu dan Tuan boleh berseru di luar rumah itu, ‘Thian-he-te-it-ok-jin (Orang Jahat Nomor Satu di Dunia) telah datang, lekas sembunyi dan menghindarinya!’ dengan demikian sudah cukuplah dan Tuan tidak perlu masuk ke rumah itu. Adapun tentang nama majikanku biarlah kelak akan kuberi tahu,” demikian tutur petani ini.

Diam-diam Siau Hong heran, tapi ia pun tahu banyak pantangan orang Kangouw yang tidak suka diketahui orang luar. Tapi dengan demikian Siau Hong menjadi tidak ragu-ragu lagi, pikirnya, “Jika orang sengaja hendak memancing aku ke sana, apa yang dikatakan pasti akan dikarang sedemikian rupa agar tidak menimbulkan rasa curigaku. Tapi orang ini bertutur dengan setengah-setengah dan tidak mau bicara terus terang, hal ini menandakan dia tidak bermaksud jahat.”

Karena pikiran itu, segera Siau Hong menyatakan baik akan melaksanakan permintaan orang. Maka petani itu lantas meronta bangun dan berlutut di depan Siau Hong.

“Sudahlah, sekali berkenalan kita lantas cocok satu sama lain, tidak perlu Tang-heng banyak adat,” ujar Siau Hong sambil membangunkan orang. Berbareng tangan yang lain terus mengusap muka sendiri hingga hilang samarannya, ia perkenalkan diri pada petani itu dengan wajah yang asli, katanya, “Cayhe adalah Siau Hong, orang Cidan, sampai berjumpa pula kelak.”

Dan tanpa menunggu jawaban orang lagi segera ia gandeng tangan A Cu dan melanjutkan perjalanan ke arah utara.

“Apakah kita tidak perlu menyaru lagi?” tanya A Cu di tengah jalan.

“Ya, entah mengapa aku menjadi sangat suka kepada laki-laki tulus yang berbentuk orang desa itu, jika aku berniat berkawan dengan dia, dengan sendirinya tidak pantas aku berkenalan dengan dia dengan muka palsu,” sahut Siau Hong.

“Baiklah jika begitu, aku pun akan kembali dalam pakaian wanita saja,” kata A Cu.

Segera ia menuju ke tepi sungai, cepat ia cuci mukanya, lalu tanggalkan kopiahnya, maka tertampaklah rambutnya yang hitam ketat. Bila jubahnya yang longgar itu dicopot pula, maka tertampaklah pakaian wanita yang memang sudah dipakainya di bagian dalam.

Sesudah hampir 10 li lagi, dari jauh mereka melihat sebuah jembatan batu melintang di antara kedua tepi sungai. Sesudah dekat, tertampaklah di tengah jembatan itu berjongkok seorang susing (pelajar, sastrawan).

Orang itu lagi membentang sehelai kertas putih yang sangat lebar di tengah jembatan, di samping kertas terdapat pula sebuah hi (tempat tinta) yang besar, di atas hi sudah penuh tergosok tinta hitam. Susing itu sedang angkat pit (pensil Tionghoa) dan menggores-gores di atas kertas.

Siau Hong dan A Cu merasa heran, masakah ada orang membawa kertas, pit dan hi begitu untuk menulis di atas jembatan yang terletak di tempat sunyi begini, kan lebih enak menulis di rumah saja?

Dan sesudah didekati barulah diketahui bahwa susing itu bukan sedang menulis, tapi lagi melukis. Yang dilukis adalah pemandangan alam di sekitar jembatan itu. Dia berjongkok di tengah jembatan dan menghadap ke arah Siau Hong dan A Cu, tapi yang paling aneh adalah lukisan yang digoresnya itu justru menghadap pula ke arah Siau Hong dan A Cu, jadi cara melukis susing itu terbalik, goresannya menuju ke arah yang berlawanan daripada pelukisnya.

Siau Hong sendiri tidak paham seni lukis, sedang A Cu sudah biasa melihat lukisan indah di rumah Buyung-kongcu, maka “lukisan terbalik” karya susing itu dianggapnya tiada sesuatu yang luar biasa, hanya caranya melukis secara terbalik itulah yang rada janggal.

Dan selagi A Cu bermaksud maju menyapa, tiba-tiba Siau Hong menjawilnya dan mengajaknya ke arah sebuah jembatan kayu di sebelah kanan sana.

“Kalian sudah melihat caraku melukis dengan terbalik, mengapa sedikit pun tidak gubris? Apakah barangkali kepandaianku ini sama sekali tiada harganya untuk dipandang kalian?” demikian tiba-tiba susing itu bersuara.

“Kata Khonghucu, kursi yang tak tegak tak diduduki, daging yang tak baik tak dimakan. Seorang laki-laki sejati tidak nanti melihat lukisan terbalik,” demikian A Cu menjawabnya dengan tertawa.

Susing itu terbahak, segera ia lempit kertasnya dan berkata, “Hah, benar juga ucapanmu. Silakan lewatlah!”

Siau Hong dapat menduga maksud tujuan susing itu, ia membentang kertas lebar di tengah jembatan, perlunya agar orang lain tertarik, pertama tujuannya adalah mengulur waktu, kedua, untuk memancing dan sengaja menyamarkan orang melalui jembatan batu itu, padahal jalan yang tepat harus melalui jembatan kayu seperti petunjuk si pelayan kedai arak itu.

Maka berkatalah Siau Hong, “Kami hendak pergi ke Siau-keng-oh, jika melalui jembatan batu ini, tentu kami akan kesasar.”

“Kesasar sih tidak, paling-paling cuma berputar lebih jauh 50-60 li saja, akhirnya toh akan sampai juga di sana, maka lebih baik kalian melalui jembatan batu ini saja, jalannya lebih lebar dan lebih enak ditempuh,” demikian kata susing itu.

“Ada jalan yang lebih dekat, buat apa mesti mengambil jalan yang jauh?” ujar Siau Hong.

“Ingin cepat akhirnya malah lambat, masakah kalian tidak kenal pepatah ini?” ujar susing itu dengan tertawa.

Tapi A Cu dapat melihat kelakuan susing itu sengaja hendak menghambat kepergian dirinya bersama Siau Hong ke Siau-keng-oh, maka ia tidak mau masuk perangkap, ia tidak gubris ocehan orang lagi terus melangkah ke jembatan kayu itu bersama Siau Hong.

Di luar dugaan, baru mereka sampai di tengah-tengah jembatan kayu itu, mendadak kaki mereka terasa menginjak tempat lunak, terdengar suara “kraak” beberapa kali, jembatan kayu itu mendadak patah bagian tengah hingga Siau Hong dan A Cu terjeblos ke dalam sungai.

Untung Siau Hong cukup sigap, cepat tangan kirinya merangkul pinggang A Cu, berbareng kaki kanan menutul papan jembatan kayu, dengan tenaga genjotan itulah laksana burung saja ia melayang ke depan hingga mencapai tepi sungai di seberang sana. Menyusul sebelah tangan yang lain menyampuk ke belakang untuk menjaga kalau diserang musuh.

Tapi susing itu cuma terbahak-bahak saja, katanya, “Kepandaian hebat, sungguh hebat! Kalian berdua buru-buru hendak pergi ke Siau-keng-oh, sebenarnya ada urusan apakah?”

Dari suara tertawa orang dapat Siau Hong dengar mengandung rasa khawatir, diam-diam Siau Hong bersangsi jangan-jangan susing itu adalah begundal Tay-ok-jin, maka ia tak menjawabnya lagi, tapi terus bertindak pergi bersama A Cu.

Tidak jauh, tiba-tiba dari belakang ada suara tindakan orang yang cepat, waktu ia menoleh, dilihatnya susing itu lagi menyusulnya. Segera Siau Hong putar tubuh dan menegurnya dengan wajah kurang senang, “Sebenarnya saudara mau apa?”

“Cayhe juga akan pergi ke Siau-keng-oh, kebetulan satu jurusan dengan kalian,” sahut susing itu.

“Bagus jika begitu,” kata Siau Hong. Dengan tangan kiri ia pegang pinggang A Cu, sekali melangkah, tahu-tahu sudah belasan meter jauhnya gadis itu dibawa melayang ke depan, begitu enteng dan gesit hingga mirip orang main ski cepatnya.

Cepat susing itu lantas menguber, tapi tetap tak bisa menyusul, jaraknya makin jauh tertinggal di belakang.

Melihat kepandaian susing itu cuma biasa saja, maka Siau Hong tidak ambil perhatian lagi, ia masih terus berjalan secepat angin, meski dengan menggondol A Cu, tapi kecepatannya tidak menjadi berkurang. Kira-kira satu tanakan nasi lamanya, susing itu sudah ketinggalan hingga hilang dari pandangan mata.

Jalanan itu ternyata sangat sempit, terkadang cuma cukup dilalui seorang saja, malahan sepanjang jalan banyak tumbuh rumput alang-alang yang terkadang sebatas pinggang hingga jalan itu susah dikenali, untung sebelumnya mereka telah diberi keterangan oleh si pelayan kedai arak hingga tidak sampai kesasar. Kira-kira setengah jam kemudian sampailah mereka di tepi sebuah danau, air danau itu tenang dan jernih, pantas namanya disebut Siau-keng-oh atau danau cermin kecil.

Dan selagi Siau Hong hendak mencari di mana letak Hong-tiok-lim yang dicari itu, tiba-tiba terdengar di antara semak-semak bunga sebelah kiri danau sana ada suara tertawa orang terkikik-kikik, menyusul sebutir batu kecil tampak melayang keluar.

Siau Hong coba memandang ke arah sambaran batu itu, maka terlihat di tepi danau sedang duduk seorang nelayan yang memakai caping dan sedang mengail ikan. Saat itu pancingnya sedang diangkat ke atas karena dapat mengail seekor ikan besar, tapi batu itu tepat menyambar tiba dan mengenai tali pancingnya, “crit”, tiba-tiba tali pancing putus menjadi dua dan ikan yang mestinya sudah terkail itu tercemplung kembali ke dalam danau.

Diam-diam Siau Hong terkejut, “Cara sambitan orang itu sangat aneh sekali. Tali pancing adalah benda lemas dan sukar ditimpuk, kalau ditimpuk dengan pisau atau panah mungkin masih dapat memutusnya, tapi batu adalah benda puntul dan tali pancing itu dapat ditimpuk putus juga olehnya, terang kepandaian menimpuk senjata rahasia yang lemas dan aneh ini pasti bukan berasal dari daerah Tionggoan.”

Ia yakin ilmu silat penimpuk batu itu tidak terlalu tinggi, tapi dari kepandaian menimpuk yang tergolong sia-pay itu (aliran jahat) ia menduga besar kemungkinan orang adalah anak murid atau begundal Tay-ok-jin itu. Cuma kalau didengar dari suara tertawa tadi agaknya dia seorang gadis.

Dalam pada itu si nelayan rupanya juga terkejut ketika tali pancingnya putus tertimpuk batu. Serunya segera, “Siapa yang berkelakar dengan orang she Leng, silakan unjuk diri saja!”

Di antara suara keresek tersibaknya semak-semak bunga, maka menongol keluarlah seorang anak dara berpakaian ungu mulus, usianya kurang lebih 15-16 tahun, lebih muda satu-dua tahun daripada A Cu, kedua matanya hitam besar, sekilas pandang Siau Hong merasa anak dara ini ada beberapa bagian mirip A Cu.

Sekilas pandang di situ juga ada seorang dara jelita, yaitu A Cu, segera gadis itu tidak gubris si nelayan lagi, tapi terus berlari-lari sambil melompat-lompat hingga menerbitkan suara gemerencing dan menghampiri A Cu. Sesudah dekat ia tarik tangan A Cu dan berkata dengan tertawa, “Wah, Cici ini sangat cantik, aku suka padamu!”

Ternyata ucapannya rada pelat, lafalnya kurang tepat, mirip orang asing baru belajar bicara dalam bahasa Tiongkok.

Melihat gadis yang lincah itu, A Cu menjadi suka juga padanya. Ia lihat kaki dan tangan anak dara itu memakai sepasang gelang emas dan perak, gelang itu pakai keleningan kecil, maka menerbitkan suara gemerencing nyaring bila gadis itu bergerak.

Maka berkatalah A Cu, “Kau sendirilah yang cantik, aku pun sangat suka padamu.”

Dalam pada itu si nelayan sebenarnya akan marah, tapi demi tahu orang yang menggodanya itu adalah seorang anak dara yang lincah dan menyenangkan, rasa gusarnya menjadi hilang sirna, katanya, “Ai, nona cilik ini benar besar terlalu nekat. Caramu menimpuk tali pancing tadi juga sangat hebat.”

“Apanya yang menarik permainan mancing ikan? Bagiku sungguh tak sabar untuk menunggu ikan makan umpan, jika kau ingin makan ikan, kenapa tidak gunakan kayu pancing untuk menusuk ikan di dalam air itu?” demikian kata si gadis cilik.

Habis berkata, terus saja ia ambil pancing si nelayan dan sekenanya ditusukkan dalam danau, benar juga ketika tangkai pancing itu diangkat, tahu-tahu ujung tangkai sudah menancap seekor ikan yang masih berkelojotan sambil meneteskan darah segar.

Berulang-ulang gadis itu kerjakan pancingnya pula naik-turun hingga dalam sekejap saja lima-enam ekor ikan yang tersunduk tangkai pancing, jadi mirip sujen satai ikan.

Diam-diam Siau Hong heran dan terkejut oleh gerak tangan anak dara yang aneh dan indah itu, meski gerakan itu rasanya belum cukup kuat untuk dipakai dalam pertempuran tapi suatu tanda kepandaian gadis itu sebenarnya memang lain daripada yang lain.

Sesudah menyunduk satai ikan, kemudian gadis itu buang ikan-ikan tangkapannya itu ke tengah danau pula.

Melihat itu, si nelayan agak kurang senang, katanya, “Seorang nona cilik muda belia, tapi tingkah lakumu sudah begini kejam, kalau ikan itu kau tangkap lalu dimakan sih masuk akal, tapi sudah ditangkap dan dibunuh, lalu dibuang begitu saja, membunuh secara sewenang-wenang begini sungguh tidak pantas.”

“Aku justru ingin membunuh secara sewenang-wenang, kau mau apa?” demikian gadis itu menjawab dengan tertawa. Habis itu, terus saja ia membelikung tangkai pancing si nelayan, maksudnya hendak mematahkannya menjadi dua.

Tak terduga gagang pancing itu ternyata buatan dari logam yang ringan tapi ulet, maka sukar untuk dipatahkan.

“Hm, kau ingin mematahkan gagang pancingku, masakah begitu mudah?” demikian si nelayan menjengek.

“He, siapakah itu?” tiba-tiba gadis itu berseru sambil menuding ke arah sana.

Dengan sendirinya si nelayan menoleh. Dan ketika tidak melihat apa-apa, segera ia sadar telah tertipu. Cepat ia berpaling kembali, namun sudah terlambat, tertampak gagang pancing yang merupakan senjata andalannya itu telah dilemparkan ke tengah danau oleh anak dara itu, “plung”, pancing itu tenggelam ke dasar danau dan lenyap tanpa bekas.

Keruan nelayan itu menjadi gusar, bentaknya, “Budak liar dari mana, berani main gila di sini?”

Berbareng tangannya lantas mencengkeram bahu si gadis.

“Auuuh, tolong! Tolong!” demikian anak dara itu berteriak-teriak sambil tertawa. Berbareng ia terus sembunyi di belakang Siau Hong.

Segera si nelayan menubruk maju hendak menangkap si gadis, gerakannya ternyata cepat luar biasa.

Tapi sekilas Siau Hong melihat tangan anak dara itu telah bertambah semacam benda putih tembus pandang mirip kain plastik, begitu tipis benda itu hingga hampir-hampir tidak kelihatan.

Ketika si nelayan menubruk ke arahnya, entah mengapa mendadak kakinya keserimpet, tahu-tahu nelayan itu jauh tersungkur, lalu meringkuk bagai udang.

Kiranya benda putih tipis yang dipegang anak dara itu adalah semacam jaring ikan yang dibuat dari benang mahalembut, meski halus benang itu dan bening pula hingga tembus pandang, tapi kekuatannya sangat ulet dan dapat mulur-mengkeret, asal kena jaring sesuatu, segera jaring mengkeret sendiri. Maka sekali nelayan itu masuk jaring, semakin ia meronta, semakin kencang jaring itu mengkeret, hanya dalam sekejap saja nelayan itu tak bisa berkutik lagi. Dengan marah-marah ia mendamprat, “Budak setan, main gila apa-apaan ini, kau berani menjebak aku dengan ilmu sihir?”

Diam-diam Siau Hong terkejut juga menyaksikan itu. Ia tahu si gadis tidak main ilmu sihir segala, tapi jaring aneh itu memang rada-rada berbau sihir.

Dalam pada itu si nelayan masih terus mencaci maki. Akhirnya si gadis berkata dengan tertawa, “Jika kau maki lagi, segera akan kupukul bokongmu!”

Keruan si nelayan melengak. Ia adalah tokoh yang sudah ternama, apabila benar-benar gadis itu menghajar bokongnya, kan bisa runyam?

Syukur pada saat itu juga, tiba-tiba dari barat danau sana ada suara orang berseru, “Leng-hiante, ada apakah di situ!?”

Maka tertampaklah dari jalan kecil di tepi danau sana muncul seorang dengan cepat.

Siau Hong dapat melihat orang itu bermuka lebar, sikapnya gagah berwibawa, dandanannya sederhana, tapi cukup ganteng, usianya lebih 40 tapi kurang dari 50 tahun.

Sesudah dekat dan demi melihat si nelayan tertawan orang, ia heran dan tanya, “Kenapa kau, Leng-hiante?”

“Nona itu menggunakan ilmu… ilmu sihir….” demikian si nelayan menutur dengan tak lancar.

Orang setengah umur itu memandang ke arah A Cu. Tapi si dara nakal tadi lantas berseru dengan tertawa, “Bukan dia, tapi aku inilah!”

“O,” dengus orang setengah umur itu, lalu ia angkat tubuh si nelayan yang besar itu dengan enteng seperti mengangkat anak kecil, dengan teliti ia periksa jaring tipis yang membungkus tubuh nelayan itu. Ia coba menariknya, tapi jaring itu sangat ulet, semakin ditarik semakin erat malah, betapa pun tak bisa dibuka.

Dengan tertawa anak dara itu berkata pula, “Asal dia mau menyebut tiga kali ‘aku takluk padamu, nona!’ habis itu segera akan kulepaskan dia.”

“Tiada manfaatnya kau bikin susah Leng-hiante, akibatnya tentu tidak baik bagimu,” ujar laki-laki setengah umur itu.

“Apa benar?” sahut si dara cilik. “Aku justru ingin tahu akibat jeleknya, semakin tidak baik akibatnya, semakin senang aku.”

Mendadak orang setengah umur itu mengulur tangan terus hendak memegang bahu si gadis. Tapi dengan cepat sekali gadis itu sempat menyurut mundur, lalu ia bermaksud menggeser pergi.

Di luar dugaan gerak orang setengah umur itu jauh lebih cepat daripada dia, sekali tangan membalik, tahu-tahu bahu si gadis sudah terpegang.

Dengan mendakkan tubuh dan miringkan pundak anak dara itu bermaksud melepaskan pegangan orang. Tapi cengkeraman orang setengah umur itu terlalu kuat dan kencang, menyusul ada arus hawa hangat mengalir dari tangan masuk ke tubuh si gadis.

“Lekas lepaskan tanganmu!” bentak dara nakal itu, berbareng tinjunya terus menjotos. Tapi baru tangannya terangkat sedikit, mendadak lengan terasa lemas, akhirnya kepalan pun menjulai turun.

Selama hidup anak dara itu tidak pernah ketemu musuh selihai ini, keruan ia ketakutan dan berteriak-teriak, “Kau main ilmu sihir apa? Lekas lepaskan aku, lepas!”

“Asal kau omong tiga kali ‘aku takluk Tuan’, lalu bebaskan saudaraku dari kurungan jaringmu dan segera kau akan kulepas,” demikian kata orang setengah umur itu dengan tersenyum.

“Kau berani mengganggu nonamu ini, akibatnya takkan menguntungkanmu,” ujar si dara.

“Semakin buruk akibatnya, semakin senang aku!” demikian orang itu menirukan lagu si gadis tadi.

Sekuatnya anak dara itu meronta-ronta, tapi tidak dapat melepaskan diri. Akhirnya ia berkata dengan tertawa, “Huh, tidak malu, menirukan perkataanku! Baiklah, aku takluk padamu, Tuan!”

Maka dengan tersenyum orang itu lantas melepaskan bahu si gadis yang dipegangnya, katanya, “Sekarang lekas lepaskan jaringmu itu!”

“Itu sangat gampang,” ujar si gadis dengan tertawa. Segera ia mendekati si nelayan, ia berjongkok untuk melepaskan ikatan jaring itu tapi menyusul tangan kiri mengayun perlahan di bawah lengan baju kanan, sekonyong-konyong secomot sinar hijau menyambar cepat ke arah si orang setengah umur.

A Cu menjerit kaget. Ia tahu sinar hijau itu adalah sejenis am-gi atau senjata gelap yang berbisa. Cara serang anak dara itu sangat licik, jaraknya dengan orang setengah umur itu pun sangat dekat, maka pastilah serangan itu akan kena sasarannya.

Sebaliknya Siau Hong cuma menonton dengan tersenyum saja. Ketika laki-laki setengah umur itu menaklukkan si dara, dari tenaga dalamnya yang kuat itu dapat diketahui oleh Siau Hong bahwa orang itu pasti seorang tokoh sakti, kalau cuma serangan am-gi yang sepele itu sudah tentu takkan mampu mengapa-apakan orang itu.

Benar juga, segera terlihat orang itu sedikit mengebaskan lengan bajunya, serangkum tenaga tak kelihatan lantas menolak ke depan, senjata rahasia si anak dara yang berupa jarum halus berbisa itu kontan tersampuk ke samping dan jatuh semua ke danau.

Dari warna jarum yang berwarna-warni itu, terang itulah am-gi berbisa yang sangat jahat, sungguh tak terduga olehnya bahwa baru sekali bertemu dengan nona cilik itu, sebelumnya tiada permusuhan atau sakit hati apa-apa, tapi anak dara itu tidak segan turun tangan keji. Keruan laki-laki setengah umur itu menjadi gusar, ia pikir dara cilik yang masih hijau itu harus diberi hajaran biar tahu adat.

Maka lengan bajunya yang lain menyusul mengebas pula, kebasan itu membawa tenaga dalam yang kuat, keruan dara cilik itu tidak tahan, tubuh ikut “tertiup” ke atas, “plung”, tanpa ampun lagi ia terlempar ke tengah danau.

Segera laki-laki setengah umur itu melompat ke atas sampan yang tertambat di bawah pohon, ia dayung sampan ke tengah danau, maksudnya bila kepala dara cilik itu menongol keluar permukaan air, segera ia akan jambak rambutnya untuk diangkat ke atas.

Akan tetapi, tunggu punya tunggu, tetap gadis itu tidak menongol. Setelah menjerit sekali tadi anak dara itu terus kecemplung ke dalam danau dan menghilang tanpa bekas.

Umumnya seseorang kalau kecemplung ke dalam air, sesudah kenyang minum dan perutnya gembung, akhirnya orang itu pasti akan muncul ke permukaan air. Dan jika perut orang itu sudah penuh terisi air barulah orang itu akan tenggelam ke dasar danau.

Tapi aneh, sekarang anak dara itu tidak terjadi seperti lazimnya, sekali dia tercebur, lalu menghilang tanpa muncul lagi. Sesudah ditunggu agak lama tetap tidak kelihatan batang hidungnya.

Mau tak mau orang setengah umur itu menjadi gugup. Mestinya tiada maksud hendak membunuh si dara nakal itu, tujuannya cuma hendak memberi hajaran sedikit kepada anak dara yang ringan tangan dan keji itu. Dan kini bila dara itu telanjur mati kelelap, sungguh ia sangat menyesal.

Sebenarnya si nelayan adalah tokoh yang mahir selulup, mestinya ia dapat menyelam ke dasar danau untuk menolong si anak dara, tapi sayang ia masih terbungkus oleh jaring ikan itu, sedikit pun tak bisa berkutik. Sedangkan Siau Hong dan A Cu tidak pandai berenang sehingga tidak berdaya.

Maka terdengarlah orang setengah umur itu berteriak-teriak, “A Sing, A Sing! Lekas keluar sini!”

“Ada urusan apa? Aku tak mau keluar!” demikian terdengar sahutan seorang wanita dari hutan bambu yang jauh berada di tepi danau sana.

Dari suara itu Siau Hong dapat menarik kesimpulan, “Suara wanita itu genit merayu, tapi bersifat keras hati pula. Mungkin seorang wanita jahil pula hingga akan menjadi tiga serangkai dengan A Cu dan si dara nakal yang tercemplung ke danau tadi.”

Dalam pada itu si orang setengah umur lagi berseru pula, “Lekas kemari, A Sing! Ada orang mati kelelap, lekas menolongnya!”

“Apa bukan kau yang mati kelelap!” sahut wanita itu.

“Jangan bergurau, A Sing, jika aku mati kelelap, masakah aku masih bisa bicara?” kata orang itu. “Ayolah, lekas kemari untuk menolong orang!”

“Jika kau mati kelelap barulah aku akan keluar untuk menolong,” sahut wanita yang tak kelihatan itu. “Dan kalau orang lain yang kelelap, biarkanlah, nanti aku menonton keramaian saja!”

“Ayolah, kau mau kemari atau tidak?” seru laki-laki itu dengan tak sabar, ia banting-banting kaki di atas sampan, suatu tanda sangat gugup.

Maka terdengar si wanita itu lagi menjawab, “Jika orang laki-laki, aku akan menolongnya, tapi kalau perempuan, tidak mau aku menolongnya!”

Sambil bicara, suaranya kedengaran makin dekat, hanya sekejap saja orangnya sudah sampai di tepi danau itu.

Ketika Siau Hong dan A Cu memandang, terlihatlah wanita itu berbaju renang warna hijau muda, usianya antara 35-36 tahun, matanya bundar besar dan lincah, wajah cantik molek, mulutnya mengulum senyum-tak-senyum.

Dari suaranya tadi sebenarnya Siau Hong menduga orang paling banyak baru berumur 20-an tahun. Tak terduga dia seorang nyonya muda yang sudah tidak muda lagi.

Melihat dandanannya yang serbaringkas itu dapat diduga ketika mendengar seruan si lelaki setengah umur agar suka menolong orang kelelap, lalu wanita berganti pakaian sembari memberi jawaban menggoda kepada laki-laki itu dan dalam waktu singkat selesailah ganti pakaian renang.

Laki-laki setengah umur itu menjadi girang melihat yang diundang sudah muncul, katanya cepat, “A Sing, lekas kemari, akulah yang telah melemparkannya ke danau tanpa sengaja, tak tersangka ia terus tenggelam.”

“Coba terangkan dulu. Dia pria atau wanita? Jika pria, akan kutolongnya. Kalau wanita, persetan!” demikian wanita itu bertanya.

Siau Hong dan A Cu jadi heran, pikir mereka, “Lazimnya, mestinya dia menolak menolong kaum pria karena tidak pantas bersentuhan badan antara kedua jenis yang berlainan. Tapi sekarang ia justru ingin sebaliknya, hanya mau menolong kaum pria dan tidak sudi menolong sesama kaumnya?”

Maka terdengar laki-laki setengah umur menjawab tak sabar, “Ai, kau ini memang suka mengada-ada. Dia hanya seorang dara cilik belasan tahun, jangan kau pikir yang tidak-tidak.”

“Huh, apa bedanya bagimu dara cilik belasan tahun dan nenek-nenek reyot? Asal ada, semuanya akan kau terima dengan tutup mata!” demikian jengek wanita cantik itu. Tapi ia menjadi merah jengah setelah mengetahui di situ masih ada dua orang yang tak dikenalnya, yaitu Siau Hong dan A Cu.

Ternyata laki-laki setengah umur itu pun tidak marah oleh olok-olok wanita itu, sebaliknya ia memberi hormat di atas sampan dan memohon, “Sudahlah, A Sing, lekas kau tolong dia, apa yang kau inginkan, pasti akan kuturut.”

“Apa benar segala apa kau mau menurut padaku?” tanya si wanita cantik.

“Sudah tentu,” sahut orang itu. “Ai, sudah sekian lama nona cilik itu tenggelam, tentu jiwanya sudah melayang….”

“Kalau kuminta kau tinggal di sini untuk selamanya, apakah kau pun menurut?” demikian si wanita cantik bertanya pula.

Laki-laki setengah umur itu menjadi serbasusah, sahutnya tergegap, “Tentang ini… ini….”

“Nah, apa kataku?” ujar si wanita cantik, “hanya mulut saja yang manis, baru saja omong, sekarang sudah mungkir. Memang selamanya engkau tidak pernah menuruti permintaanku ini.”

Bicara sampai di sini, suaranya kedengaran rada tersendat.

Siau Hong saling pandang sekejap dengan A Cu, mereka merasa sangat heran atas kelakuan laki-laki setengah umur dan wanita cantik itu. Usia kedua orang sudah tidak muda lagi, tapi tingkah laku dan cara bicaranya mirip sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.

Tapi tingkah mereka juga tidak serupa suami-istri, lebih-lebih si wanita cantik, di hadapan orang luar cara bicaranya sedikit pun tidak pantang, bahkan pada saat bicara mengenai keselamatan jiwa seseorang dia justru bicara hal-hal yang tiada sangkut paut dengan urusan menolong jiwa orang itu.

Begitulah akhirnya laki-laki setengah umur itu menghela napas, katanya sambil mendayung sampan ke tepi danau, “Sudahlah, tidak perlu menolongnya lagi. Nona cilik itu menyerang aku dengan am-gi berbisa, jika mati juga pantas, marilah kita pulang saja!”

“Mengapa tidak menolongnya?” mendadak wanita cantik itu membantah. “Aku justru ingin menolongnya. Kau bilang diserang am-gi berbisa olehnya? Itulah bagus, kenapa kau tidak mampus kena senjatanya itu? Sayang, sungguh sayang!”

Ia tertawa mengikik sekali, tiba-tiba ia melompat tinggi ke udara, lalu terjun ke dalam danau.

Kepandaian wanita cantik itu dalam hal berenang ternyata sangat hebat, “plung”, hanya menerbitkan juara perlahan saja waktu tubuhnya menyelam ke bawah air, bahkan membuih pun tidak. Hanya sekejap saja lantas terdengar pula suara air tersiah, “byuuurr”, wanita cantik itu telah menongol ke permukaan air dengan tangan menyangga tubuh si dara cilik berbaju ungu tadi.

Laki-laki setengah umur itu sangat girang, katanya di dalam hati, “Dia memang suka menggoda padaku. Aku gugup dan ingin lekas menolong dara itu, dia justru tidak mau menolong dengan macam-macam alasan. Sesudah aku bilang tidak perlu menolongnya lagi, dia lantas terjun ke air dan menolongnya.”

Maka cepat ia mendayung sampannya memapak ke tengah danau.

Sesudah dekat, segera laki-laki setengah umur itu mengulur tangan hendak menyambut badan si gadis baju ungu yang tak berkutik itu, kedua mata anak dara itu tampak tertutup rapat, bahkan napasnya seperti sudah berhenti, dengan sendirinya hal ini membikin laki-laki itu rada menyesal.

Mendadak wanita cantik itu membentak, “Tarik tanganmu, jangan kau sentuh dia. Kau ini mata keranjang, tak dapat dipercaya!”

“Ngaco-belo!” laki-laki itu pura-pura marah. “Selama hidupku ini tidak pernah mata keranjang.”

Mendadak wanita cantik itu mengikik tawa, sambil mengangkat si dara baju ungu ia lompat ke atas sampan, lalu katanya, “Ya, memang selamanya kau tidak mata keranjang, tapi lebih suka…. Ai….”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena mendadak diketahuinya denyut jantung anak dara itu sudah berhenti, napasnya dengan sendirinya juga sudah putus. Cuma perut anak dara itu tidak kelihatan gembung, agaknya tidak banyak air danau yang diminumnya.

Wanita cantik itu sangat mahir berenang, ia menduga dalam waktu singkat itu tidak mungkin orang mati terbenam, siapa duga badan anak dara itu terlalu lemah dan ternyata sudah meninggal.

Wanita itu jadi menyesal, cepat ia pondong anak dara itu dan melompat ke daratan sambil berseru, “Cepat, kita harus mencari akal untuk menyelamatkan jiwanya!”

Lalu ia mendahului berlari ke hutan bambu sana dengan membawa anak dara itu.

Segera laki-laki setengah umur tadi mengangkat si nelayan yang masih terbungkus di dalam jaring itu dan bertanya kepada Siau Hong, “Siapakah nama saudara yang terhormat? Entah ada keperluan apa berkunjung kemari?”

Melihat sikap orang yang agung berwibawa, menghadapi kematian si dara baja ungu yang mengenaskan itu ternyata dapat berlaku tenang sekali, mau-tak-mau Siau Hong merasa kagum juga. Maka jawabnya, “Cayhe Siau Hong, orang Cidan. Karena dipesan oleh dua orang sahabat, maka ingin menyampaikan sesuatu berita ke sini.”

Sebenarnya nama Kiau Hong boleh dikatakan tiada seorang pun yang tak kenal di kalangan Kangouw. Tapi sejak ia ganti nama menjadi Siau Hong, selalu ia memperkenalkan pula asal usulnya sebagai orang Cidan secara blakblakan.

Biarpun nama Siau Hong rupanya tidak dikenal oleh laki-laki setengah umur itu, tapi ketika mendengar kata “orang Cidan”, sedikit pun ia tidak merasa heran, ia hanya tanya lagi, “Siapakah kedua sobat yang minta tolong kepada Siau-heng itu? Entah berita apa yang Siau-heng bawa?

“Kedua sobat itu yang seorang memakai kapak, yang lain berdandan sebagai petani dan membawa cangkul serta mengaku she Tang, kedua sobat itu terluka semua….”

Mendengar kedua orang itu terluka, laki-laki setengah umur itu terkejut dan cepat menyela, “Hah, bagaimana luka mereka? Di manakah mereka berada sekarang? Siau-heng, kedua orang itu adalah kawan sehidup sematiku, mohon engkau suka memberi keterangan agar aku dapat… dapat segera pergi menolong mereka.”

Melihat orang sedemikian setia kawan, Siau Hong merasa kagum, sahutnya, “Luka kedua sobat itu cukup parah, tapi tidak membahayakan jiwa mereka, kini mereka berada di kota sana….”

Belum selesai penuturan Siau Hong, segera orang itu memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, lalu si nelayan diangkatnya terus dibawa lari ke arah datangnya Siau Hong tadi.

Pada saat itulah tiba-tiba dari hutan bambu sana terdengar suara seruan si wanita cantik tadi, “Lekas kemari, lekas! Lihatlah ini, ai, lihatlah apa… apa ini!”

Dari suaranya dapat diketahui hatinya sangat terguncang dan khawatir.

Maka mendadak laki-laki setengah umur itu berhenti, ia ragu-ragu, tiba-tiba terlihat dari depan seorang mendatangi secepat terbang sambil berteriak-teriak, “Cukong, Cukong, ada orang membikin onar ke sini!”

Waktu Siau Hong perhatikan, kiranya pendatang itu adalah si susing yang melukis secara terbalik di jembatan batu itu. Pikirnya, “Semula kusangka dia sengaja merintangi aku, tak tahunya dia adalah kawan si lelaki gila berkapak dan si petani yang terluka itu. Dan ‘cukong’ yang mereka sebut itu kiranya laki-laki setengah umur ini.”

Dalam pada itu si susing juga sudah melihat Siau Hong dan A Cu berada di situ, bahkan berdiri di samping sang “cukong”, ia melengak.

Ketika sudah dekat dan melihat si nelayan tertawan di dalam jaring ikan, ia terkejut dan gusar pula, segera ia tanya, “Ada… ada apakah?”

Sementara itu terdengar seruan si wanita cantik di tengah hutan bambu sana semakin khawatir, “Hai, mengapa kau masih belum kemari? Ai….”

Mau tak mau laki-laki setengah umur itu ikut khawatir juga, cepat katanya, “Biar kupergi melihatnya!”

Sambil mengangkat si nelayan, terus saja ia berlari ke hutan bambu sana.

Dari langkahnya yang enteng dan gesit, cepatnya melebihi kuda lari, nyata ilmu silatnya pasti lain daripada yang lain.

Siau Hong jadi tertarik, dengan sebelah tangan menahan pinggang A Cu, terus saja ia lari sejajar dengan orang itu dengan sama cepatnya.

Orang itu memandang sekejap ke arah Siau Hong dengan penuh rasa kagum. Sebenarnya ia tidak perbolehkan orang luar masuk ke hutan bambu itu, tapi demi tampak kepandaian Siau Hong tinggi sekali, mau tak mau timbul rasa sukanya sebagai sesama kesatria, biarpun belum kenal, namun sudah timbul niatnya buat bersahabat, maka ia tidak pandang Siau Hong sebagai orang asing lagi.

Sebaliknya Siau Hong dan A Cu sudah tentu tidak tahu bahwa hutan bambu itu sebenarnya dilarang dimasuki sembarangan orang. Mereka cuma tertarik oleh suara teriakan si wanita cantik yang penuh rasa khawatir itu, mereka menduga pasti terjadi sesuatu, maka mereka ikut ke situ.

Hanya sebentar saja mereka sudah memasuki hutan bambu itu. Benar juga bambu yang tumbuh di situ bentuknya tidak bulat, tapi persegi. Kira-kira belasan meter masuk ke dalam hutan itu, tertampaklah tiga petak rumah kecil mungil dan indah.

Ketika mendengar suara tindakan orang, segera wanita cantik itu memapak keluar sambil berseru, “Coba… coba lihatlah apakah ini?”

Dan ternyata yang diunjukkan itu adalah sebuah mainan kalung emas.

Siau Hong tahu mainan kalung begitu adalah barang perhiasan kaum wanita yang sangat umum, misalnya A Cu juga mempunyai sebuah yang serupa, yaitu yang tempo hari akan dijual guna biaya perjalanan, tapi tidak jadi dijual dan kini malahan terpakai di leher A Cu.

Di luar dugaan, mendadak air muka si lelaki setengah umur itu lantas berubah hebat demi melihat mainan kalung itu, serunya dengan suara gemetar, “Da… dari mana kau dapatkan barang ini?”

“Terpakai di lehernya dan kuambilnya,” demikian sahut si wanita cantik dengan suara tersendat. “Dulu telah kugores tanda pada lengan mereka, coba kau… kau lihat sendiri sana!”

Cepat laki-laki setengah itu berlari masuk ke dalam rumah. Mendadak A Cu juga menyelinap masuk ke sana hingga mendahului si wanita cantik malah. Siau Hong lantas menyusul juga di belakang si wanita cantik itu.

Sesudah di dalam kamar, tertampak sebuah kamar tidur kaum wanita yang terpajang sangat rajin dan resik. Di antara rajin dan resik itu terasa pula ada semacam bau yang aneh, cuma Siau Hong tidak sempat memikirkan lagi, ia melihat di atas dipan membujur si dara baju ungu tadi dalam keadaan tak berkutik lagi. Nyata orangnya sudah mati sejak tadi.

Dalam pada itu si lelaki setengah umur telah menggulung lengan baju anak dara itu untuk periksa lengannya, sesudah melihat segera ia tutup kembali lengan bajunya.

Siau Hong berdiri di belakang laki-laki itu, maka ia tidak tahu tanda apa sebenarnya yang terdapat di lengan anak dara itu. Hanya dilihatnya punggung laki-laki setengah umur itu rada tergetar, suatu tanda perasaannya sangat terguncang.

Pada lain saat si wanita cantik lantas jambret dada baju si lelaki setengah umur sambil menangis dan berteriak-teriak, “Lihatlah itu, putrimu sendiri telah kau bunuh pula, kau tidak membesarkan dia, tapi malah membunuhnya, kau… kau sungguh seorang ayah yang kejam!”

Keruan Siau Hong terheran-heran, pikirnya, “Aneh, ternyata anak dara itu adalah putri mereka? Ah, tahulah aku, tentunya sesudah anak dara itu dilahirkan, lalu dititipkan pada orang lain dan mainan kalung dan tanda di lengan itu adalah tanda pengenal yang mereka tinggalkan pada anak dara itu.”

Mendadak Siau Hong melihat air mata A Cu bercucuran, badannya sempoyongan sambil berpegangan tepi tempat tidur. Keruan ia terkejut, cepat ia memburu maju dan memayang A Cu. Sekilas dilihatnya biji mata si anak dara yang sudah mati itu bergerak sekali.

Sebenarnya mata anak dara itu terpejam rapat, tapi biji matanya bergerak tetap kelihatan dari luar kelopak mata. Namun Siau Hong sedang khawatirkan keadaan A Cu, segera ia tanya, “Ada apa A Cu?”

Cepat A Cu berdiri tegak kembali, ia mengusap air mata dan menjawab dengan senyum ewa, “Ah, tidak apa-apa. Aku merasa sedih melihat kematian nona yang mengenaskan ini.”

Siau Hong merasa lega oleh keterangan itu. Sedang si wanita cantik masih menangisi sambil berkata, “Denyut jantungnya sudah berhenti, napasnya juga sudah putus, tak bisa tertolong lagi!”

Tapi diam-diam Siau Hong sangsi, ia coba mengerahkan tenaga dalam dan disalurkan kepada anak dara itu melalui urat nadi yang dipegangnya, menyusul ia lantas kendurkan tekanan tenaganya. Benar juga, terasa olehnya dari badan anak dara itu timbul semacam tenaga tolakan, nyata anak dara itu juga mengerahkan tenaga dalam untuk menjaga diri.

Maka tertawalah Siau Hong dengan terbahak-bahak, katanya, “Nona senakal ini sungguh jarang ada di dunia ini!”

Si wanita cantik menjadi gusar, semprotnya, “Siapakah engkau ini? Aku kematian anak, tapi kau sembarangan mengoceh di sini. Ayo lekas enyah dari sini!”

“Engkau kematian anak, bagaimana jika kuhidupkan dia kembali?” ujar Siau Hong dengan tertawa. Dan sekali tangannya bergerak, terus saja ia tutuk hiat-to bagian pinggang anak dara itu.

Hiat-to yang diarah itu adalah “keng-bun-hiat” yang merupakan tempat halus yang bisa membuat orang merasa geli. Karena tak tahan, anak dara itu lantas mengikik tawa sambil melompat bangun dari tempat tidurnya. Berbareng ia menjulur tangan kiri untuk pegang pundak Siau Hong.

Orang mati bisa hidup kembali, keruan hal ini membikin semua orang merasa heran. Serta-merta si wanita cantik bersorak gembira sambil pentang kedua tangan hendak memeluk si anak dara.

Di luar dugaan, mendadak Siau Hong kipratkan tangan si anak dara yang hendak memegang pundaknya tadi, berbareng ia menampar pipinya hingga anak dara itu sempoyongan, tapi Siau Hong lantas mengulur tangan yang lain untuk menariknya sambil berkata dengan tertawa dingin, “Hm, anak sekecil ini mengapa sedemikian kejam?”

“Hah, kenapa kau pukul anakku?” seru si wanita cantik. Coba kalau tidak mengingat Siau Hong telah menghidupkan putrinya, boleh jadi ia sudah melabraknya.

Siau Hong lantas puntir tangan si dara yang dipegangnya itu dan berkata, “Coba lihat!”

Ketika semua orang memandang tangan anak dara itu, ternyata yang digenggamnya adalah sebatang jarum halus berwarna hijau mengilap, sekali lihat saja orang segera tahu itu adalah senjata rahasia berbisa.

Kiranya dengan pura-pura hendak memegang pundak Siau Hong tadi diam-diam ia hendak menusuk bekas pangcu itu dengan jarum berbisa. Untung Siau Hong cukup sigap dan jeli hingga tidak dikerjai nona itu.

Dalam pada itu si nona sedang meraba-raba pipinya yang merah bengep karena tamparan Siau Hong tadi. Sudah tentu pukulan Siau Hong cuma perlahan saja, kalau keras, mungkin kepalanya sudah pecah.

Karena tangannya terpegang Siau Hong hingga tertangkap bukti, untuk melepaskan diri juga tak bisa karena badan terasa lemas lantaran urat nadi tangan terpencet Siau Hong. Tapi nona itu lantas main air mata, ia mewek-mewek dan akhirnya menangis sambil berseru, “O, kenapa engkau memukul aku, memukul anak kecil!”

“Ai, sudahlah, jangan menangis!” demikian kata si lelaki setengah umur. “Orang cuma memukulmu dengan perlahan dan kau lantas menangis, habis mengapa sedikit-sedikit kau serang orang dengan am-gi berbisa, memang kau harus diberi hajaran.”

“Jarum pek-lin-ciam ini toh bukan am-gi paling lihai, aku masih punya am-gi lain yang lebih hebat,” kata si anak dara sambil menangis.

“Ya, mengapa tidak kau gunakan bu-hong-hun (bubuk tak berwujud), atau hu-kut-san (puyer pembusuk tulang), atau kek-lok-ji (duri mahagembira), atau coan-sim-ting (paku penembus hati)?” ujar Siau Hong dengan menjengek.

“Dari mana kau tahu?” mendadak anak dara itu berhenti menangis dan bertanya dengan heran.

“Sudah tentu aku tahu,” sahut Siau Hong. “Aku tahu juga gurumu adalah Sing-siok-hay Lomo (Iblis Tua dari Sing-siok-hay), maka kutahu pula macam-macam am-gi berbisa yang kau pakai itu.”

Mendengar ucapan Siau Hong itu, semua orang terkejut.

Iblis tua Sing-siok-hay adalah tokoh persilatan dari sia-pay atau aliran jahat yang disegani setiap orang. Yang menghormat padanya menyebutnya sebagai “Lojin” atau kakek, tapi yang tidak suka lantas menyebutnya sebagai “Lomo” atau si iblis tua.

Iblis itu tidak peduli benar atau salah, segala kejahatan dapat diperbuatnya, dan justru ilmu silatnya teramat tinggi hingga orang lain tidak berani mengapa-apakan dia. Syukur dia jarang datang ke daerah Tionggoan hingga tidak banyak bencana yang ditimbulkan olehnya.

“A Ci, mengapa kau dapat mengangkat guru pada Sing-siok-hay Lojin?” tanya si lelaki setengah umur.

Tiba-tiba mata si dara baju ungu terbelalak lebar sambil mengamat-amati orang itu, tanyanya kemudian, “Dari mana kau kenal namaku?”

Laki-laki setengah umur itu menghela napas, sahutnya, “Masakah percakapan kami tadi tidak kau dengar?”

Nona itu menggeleng kepala, katanya, “Sekali aku pura-pura mati, maka pancaindraku menjadi macet semuanya hingga tidak melihat dan tidak mendengar lagi.”

“Itu Ku-lok-kang (Ilmu Kura-kura Mengeram) dari Sing-siok Lojin,” kata Siau Hong sambil melepaskan tangan si dara yang dipegangnya itu.

“Huh, sok tahu,” A Ci atau si Ungu melotot padanya.

Lalu si wanita cantik memegangi A Ci dan mengamat-amatinya dengan tertawa, sungguh rasa girangnya tak terkatakan.

Siau Hong tahu mereka adalah ibu dan anak, sebaliknya A Ci, yaitu si anak dara berbaju ungu belum lagi tahu.

“Mengapa kau pura-pura mati hingga membikin khawatir kami,” kata si lelaki setengah umur tadi.

“Habis, siapa suruh kau lemparkan aku ke danau?” sahut A Ci dengan sangat senang. “Huh, engkau ini bukan manusia baik-baik.”

Laki-laki itu berpaling sekejap kepada Siau Hong dengan air muka yang serbakikuk, katanya dengan tersenyum getir, “Ai, nakal, sungguh nakal!”

Siau Hong tahu pasti banyak yang hendak dibicarakan di antara ayah-bunda dan anak yang telah bertemu kembali itu, maka ia menarik A Cu keluar hutan bambu. Di sana dilihatnya kedua mata A Cu merah bengul, badan gemetar terus, cepat tanyanya dengan khawatir, “He, apa kau tidak entak badan, A Cu?”

Segera ia pegang nadi tangan si gadis dan terasa denyutnya sangat cepat, suatu tanda hatinya berguncang.

A Cu menggeleng kepala sambil menyatakan tidak apa-apa. Kedua orang menikmati sebentar bambu yang berbentuk persegi dan indah itu.

Sekonyong-konyong terdengar suara tindakan orang yang cepat, ada tiga orang tampak berlari ke arah sini, satu di antaranya memiliki ginkang yang hebat sekali. Tergerak hati Siau Hong, “Jangan-jangan Tay-ok-jin itu sudah datang?”

Segera ia keluar hutan bambu, ia lihat ketiga orang itu berlari datang menyusur jalan kecil di tepi danau, dua di antaranya masing-masing memanggul seorang lagi. Seorang lagi bertubuh pendek kecil dan jalannya secepat terbang seakan-akan kaki tidak menyentuh tanah. Begitu cepat larinya hingga sering ia berhenti dulu untuk menunggu kedua kawannya yang tertinggal di belakang.

Sesudah dekat, dapatlah Siau Hong melihat kedua orang yang dipanggul itu adalah si lelaki gila berkapak yang dilihatnya di kota itu, sedang seorang lagi adalah si petani yang membawa cangkul.

Terdengar orang yang pendek kecil itu berteriak-teriak, “Cukong! Cukong! Tay-ok-jin telah datang, mari lekas kita pergi saja!”

Baru dua kali ia berseru, tertampak lelaki setengah umur tadi sudah keluar dari hutan bambu sambil menggandeng si wanita cantik dan si anak dara yang bernama A Ci itu.

Muka mereka tampak ada bekas air mata. Cepat laki-laki itu melepaskan kedua orang yang digandengnya terus memburu ke samping orang-orang yang terluka itu, ia periksa urat nadi mereka, ketika mengetahui tidak membahayakan jiwa mereka, ia menampilkan rasa lega. Lalu katanya, “Ketiga saudara tentu lelah, untung luka Siau dan Tang-hiante tidak gawat, maka legalah hatiku.”

Segera ketiga orang yang baru datang itu memberi hormat. Diam-diam Siau Hong heran, “Dari ilmu silat dan lagak mereka, terang mereka bukanlah sembarangan tokoh, tapi mengapa terhadap laki-laki setengah umur ini mereka begini menghormat, sungguh sukar dimengerti.”

Dalam pada itu orang yang pendek kecil tadi telah berkata, “Lapor Cukong, dengan memakai sedikit siasat Tay-ok-jin dapat hamba merintangi untuk sementara. Tapi sekarang mungkin dia sudah melampaui rintangan itu, harap Cukong lekas pergi dari sini saja.”

“Sungguh tidak beruntung, keluarga kami terdapat keturunan durhaka seperti dia itu,” demikian kata laki-laki setengah umur. “Jika sekarang sudah kepergok di sini, jalan lain tidak ada lagi kecuali menghadapinya.”

“Soal menghadapi musuh dan membasmi kejahatan adalah tugas kewajiban hamba sekalian. Cukong harus mengutamakan kepentingan negara dan lekas pulang ke Tayli agar Hongsiang tidak merasa khawatir,” kata seorang di antaranya yang bermata besar dan beralis tebal.

Siau Hong terkesiap mendengar pembicaraan itu, pikirnya, “Aneh, mengapa pakai sebutan ‘hamba’ dan ‘cukong’, lalu suruh dia lekas pulang Tayli apa segala? Masakah laki-laki setengah umur ini adalah orang dari keluarga Toan di Tayli?”

Begitulah diam-diam hati Siau Hong berdebar-debar, ia membatin, “Jangan-jangan sudah ditakdirkan bahwa keparat Toan Cing-sun ini secara kebetulan kepergok olehku sekarang?”

Sedang Siau Hong merasa sangsi, tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang bersuit panjang nyaring, menyusul terdengar seorang yang mirip gesekan benda logam berkata, “Anak kura-kura she Toan, sekarang kau tak bisa lari lagi, boleh kau terima nasib saja dan mungkin Locu menaruh belas kasihan dan jiwamu akan kuampuni.”

Lalu suara seorang wanita menanggapi, “Mengampuni jiwanya atau tidak bukan hakmu, masakah Lotoa sendiri tak bisa mengambil keputusan?”

“Ya, biarkan anak kura-kura she Toan itu tahu gelagat dulu daripada berlagak gagah,” ujar seorang lagi dengan suara melengking aneh, tetapi nadanya kurang tenaga seakan-akan orang yang baru sembuh dari sakit keras atau masih terluka dalam.

Siau Hong bertambah curiga mendengar laki-laki setengah umur itu berulang-ulang disebut orang she Toan oleh para pendatang itu. Tiba-tiba terasa sebuah tangan kecil halus telah menggenggam tangannya, waktu ia melirik, kiranya A Cu, wajah gadis itu tampak pucat lesi, tangannya dingin pula. Segera ia tanya dengan suara perlahan, “A Cu, apakah kau tidak enak badan?”

“Tidak, tapi… tapi aku sangat takut, Toako,” sahut A Cu dengan tak lancar.

Siau Hong tersenyum, katanya, “Berada di samping toakomu ini, masakah perlu merasa takut kepada siapa pun?”

Lalu ia merotkan mulutnya ke arah laki-laki setengah umur tadi dan membisiki A Cu, “Orang ini agaknya anggota keluarga Toan dari Tayli.”

Namun A Cu tidak menjawab, tidak membenarkan juga tidak membantah, hanya bibirnya tertampak sedikit gemetar.

Dalam pada itu seorang yang berperawakan sedang di antara ketiga orang yang baru datang telah berkata, “Cukong, urusan hari ini janganlah terlalu gegabah, jika terjadi apa-apa atas diri Cukong, bagaimana kami ada muka untuk menghadap Hongsiang kelak, maka tekad kami adalah membunuh diri.”

Kiranya laki-laki setengah umur itu memang tidak salah adalah adik baginda raja Tayli, Toan Cing-sun bergelar Tin-lam-ong. Oleh karena waktu mudanya ia memang seorang “Arjuna”, seorang romantis, maka di mana-mana ia main roman dengan kaum wanita.

Dasar perawakannya gagah, tampangnya cakap, pangeran pula, dengan sendirinya di mana-mana banyak wanita cantik yang kepincut padanya. Pula sebagai pangeran, soal punya empat istri atau lima selir adalah soal lumrah.

Keluarga Toan mereka berasal dari kalangan Bu-lim Tionggoan, walaupun kemudian menjadi raja di Tayli, tapi penghidupan mereka masih menurunkan ajaran leluhur dan tidak berani terlalu mewah dan berlebih-lebihan. Ditambah lagi istri kawin Toan Cing-sun, yaitu Si Pek-hong yang suka cemburu, bagaimanapun ia keberatan kalau Toan Cing-sun mengambil istri kedua. Tapi karena pangeran “Don Juan” itu masih suka main gila dengan wanita lain, saking jengkelnya Si Pek-hong cukur rambut menjadi nikoh dengan gelar Yau-toan-siancu.

Memang banyak juga kekasih Toan Cing-sun, seperti Cin Ang-bian, yaitu ibunya Bon Wan-jing, A Po, istrinya Ciong Ban-siu dan Wi Sing-tiok, ibunya A Ci yang tinggal di hutan bambu ini, semuanya adalah bekas gula-gulanya yang mempunyai kisah roman sendiri-sendiri.

Kedatangan Toan Cing-sun kali ini tujuan adalah Siau-lim-si, tapi kesempatan ini telah dipergunakan untuk menyambangi Wi Sing-tiok yang tinggal mengasingkan diri di Siau-keng-oh yang indah ini.

Selama beberapa hari ini kedua kekasih lama sedang tenggelam dalam lautan madu yang memabukkan, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa putri kandung mereka mendadak bisa pulang dan berkumpul kembali dengan mereka. Dan selagi mereka merasa senang, mendadak diketahui pula musuh besar sedang mencarinya.

Tatkala Toan Cing-sun mengeram di tempat tinggal Wi Sing-tiok, jago-jago pengawal yang dia bawa, yaitu Sam-kong Su-un, tiga kong (gelar pahlawan) dan empat jago terpendam masing-masing berjaga di sekeliling Siau-keng-oh.

Tak terkira musuh terlalu lihai, Jay-sin-khek Siau Tiok-sing, si tukang kayu, dan Tiam-jong-san-long Tang Su-kui, si petani, berturut-turut dilukai musuh besar. Sedangkan Pit-hi-seng Cu Tan-sin, si sastrawan, salah sangka Siau Hong sebagai musuh dan berusaha menyesatkannya di jembatan batu itu, tapi gagal. Dan Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li, si nelayan atau si tukang pancing malahan kena ditawan oleh jaring A Cu.

Ketiga orang tersebut belakangan itu adalah Tayli Sam-kong, yaitu Sugong Pah Thian-sik, Suma Hoan Hua dan Suto Hoa Hek-kin.

Begitulah Toan Cing-sun lantas berkata kepada A Ci, “Lekas kau lepaskan Leng-sioksiok, musuh hampir datang, kau jangan nakal lagi.”

“Tiatia, hadiah apa yang akan kau berikan padaku?” sahut A Ci dengan tertawa.

Cing-sun berkerut kening, katanya, “Kau tidak menurut, kusuruh ibu menghajarmu. Kau berani menggoda Leng-sioksiok, ayo lekas minta maaf!”

“Jika begitu, engkau telah melemparkanku ke danau hingga aku mesti pura-pura mati, kenapa engkau tidak minta maaf juga padaku? Biar aku pun minta ibu menghajarmu!” sahut A Ci.

Diam-diam Pah Thian-sik dan lain-lain terkesiap karena mendadak muncul pula seorang putri Tin-lam-ong yang nakal dan bandel, sedikit pun tidak kenal aturan kepada orang tua. Walaupun nona cilik ini bukan putri Tin-lam-ong yang resmi, tapi jelek-jelek adalah putri pangeran, jika digoda olehnya seperti Leng Jian-li, wah, terpaksa menganggap diri sendiri yang sial.

Sedang Cing-sun hendak omong pula, tiba-tiba Wi Sing-tiok, si wanita cantik, membuka suara, “A Ci mestikaku, ayolah lekas lepaskan Leng-sioksiok, nanti ibu memberi hadiah bagus padamu.”

“Berikan dulu hadiahnya, akan kulihat apakah baik atau tidak?” sahut A Ci sambil menyodorkan tangannya.

Sungguh Siau Hong sangat mendongkol melihat kenakalan anak dara itu. Ia menghormati Leng Jian-li sebagai seorang gagah, segera ia angkat tubuh si tukang mancing itu dan berkata, “Leng-heng, jaring ini akan kendur bila terkena air, biarlah kurendam sebentar ke dalam air.”

“Lagi-lagi kau campur tangan urusan orang!” seru A Ci dengan gusar. Tapi tadi dia telah ditampar sekali oleh Siau Hong, ia sudah kapok dan tak berani merintangi.

Segera Siau Hong membawa Leng Jian-li ke tepi danau, ia rendam sebentar di dalam air, benar juga jaring dari benang halus itu lantas kendur dan mulur. Maka dapatlah Siau Hong membuka jaring ikan itu untuk membebaskan Leng Jian-li.

“Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Siau-heng,” kata Leng Jian-li dengan suara perlahan.

“Bocah itu terlalu nakal, tapi tadi sudah kugampar dia sekali untuk melampiaskan rasa dongkol Leng-heng,” ujar Siau Hong dengan tersenyum.

Leng Jian-li hanya geleng-geleng kepala saja dengan lesu.

Segera Siau Hong menggulung jaring halus itu, ia kepal jaring itu hingga menjadi bola sebesar cangkir.

“Kembalikan padaku!” tiba-tiba A Ci mendekatinya hendak meminta kembali jaring itu.

Tapi ketika Siau Hong mengangkat tangannya pura-pura hendak menghajarnya, A Ci menjadi ketakutan dan melompat mundur. Ia jawil baju Toan Cing-sun dan merengek-rengek, “Ayah, dia merampas jaringku, mintakan kembali!”

Melihat tindak-tanduk Siau Hong agak aneh, Cing-sun yakin orang tiada maksud jahat, tapi hanya sekadar memberi hukuman saja kepada A Ci. Tidak mungkin seorang tokoh demikian ingin mengangkangi barang anak kecil.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Pah Thian-sik berseru, “Selamat datang, In-heng! Sungguh aneh, ilmu silat orang lain makin dilatih makin tinggi, tapi mengapa In-heng justru terbalik, makin berlatih makin mundur? Ayolah turun kemari!”

Habis berkata, terus saja ia menghantam pohon di sampingnya, “krek”, ranting pohon terhantam patah, berbareng dengan jatuhnya ranting kayu itu ikut melompat turun pula seorang yang sangat tinggi tapi kurus kering, itulah dia In Tiong-ho, satu di antara Su-ok yang mahajahat itu.

Waktu di Cip-hian-ceng tempo hari In Tiong-ho kena dihantam sekali oleh Siau Hong dan jiwanya hampir melayang, untung luka itu dapat disembuhkannya, tapi lwekangnya jauh mundur daripada dulu. Tempo hari ketika dia bertanding ginkang dengan Pah Thian-sik di Tayli, kepandaian kedua orang boleh dikatakan seimbang, tapi demi mendengar suara gerakan lawan itu, segera Pah Thian-sik tahu kepandaian lawan itu banyak lebih mundur daripada dulu.

Ketika mendadak tampak Siau Hong juga berada di situ, In Tiong-ho terkejut, cepat ia putar balik memapak ketiga orang yang sedang mendatang dari jalan kecil di tepi danau sana.

Ketiga orang itu yang berada paling kiri berkepala botak dan berpakaian cekak, itulah “Hiong-sin-ok-sat” alias Lam-hay-gok-sin. Yang sebelah kanan membopong seorang bayi, itulah “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio. Dan orang yang berada di tengah, berjubah hijau dan memakai dua batang tongkat bambu hitam gilap, mukanya kaku seperti mayat hidup, itulah dia kepala Su-ok bergelar “Ok-koan-boan-eng” Toan Yan-king adanya.

Su-ok jarang datang ke Tionggoan, lebih-lebih Toan Yan-king, dia jarang tampil ke muka umum, maka Siau Hong tidak kenal padanya. Tapi Toan Cing-sun pernah bertemu dengan Su-ok di Tayli, ia tahu Yap Ji-nio dan Gak-losam meski cukup lihai, namun masih dapat dilawan, sebaliknya Toan Yan-king inilah yang lain daripada yang lain, sudah mahir It-yang-ci dari keluarga Toan, berhasil melatih pula ilmu sia-pay yang sangat lihai, tempo hari sampai Ui-bi-ceng dan Po-ting-te Toan Cing-beng juga kewalahan melawannya. Dengan sendirinya Toan Cing-sun insaf dirinya bukan tandingan Yan-king Taycu itu.

Seperti telah diceritakan bahwa Toan Yan-king sebenarnya adalah putra mahkota raja Tayli yang dulu. Ayahnya, yaitu Toan Lim-gi dengan gelar Siang-tek-te, telah dibunuh oleh menteri dorna, dalam keadaan kacau Yan-king Taycu telah menghilang. Maka takhta kerajaan Tayli akhirnya terturun sampai di tangan Toan Cing-beng.

Kini munculnya Yan-king Taycu justru ingin menagih kembali takhta ayah bagindanya itu. Ia tahu Toan Cing-sun adalah adik baginda raja Tayli sekarang, raja Tayli sekarang tidak punya keturunan, takhta tentu akan diteruskan oleh Toan Cing-sun, kalau sekarang Toan Cing-sun dapat dibunuh lebih dulu, itu berarti sudah hilang suatu rintangan bagi maksud tujuannya.

Sebab itulah, demi didengarnya Toan Cing-sun datang ke Tionggoan, ia terus mencari dan menguntitnya hingga sampai di Siau-keng-oh. Di tengah jalan Siau Tiok-sing dan Tang Su-kui tidak berhasil merintangi kedatangan Yan-king Taycu itu, bahkan mereka dilukai, yang satu terkena Liap-hun-tay-hoat hingga hilang ingatan dan yang lain dada terjuju oleh tongkat bambu hingga berlubang.

Begitulah maka Suma Hoan Hua yang banyak tipu akalnya itu segera memberi usul, “Cukong, Toan Yan-king itu bermaksud jahat atas diri Cukong, demi kepentingan negara, hendaklah Cukong lekas pulang ke Thian-liong-si untuk mengundang para padri saleh di sana guna melawan durjana ini.”

Dengan usul ini, maksudnya minta Toan Cing-sun suka pulang ke Tayli, di samping itu jika Yan-king berada di dekat situ, ia sengaja perkeras ucapannya itu agar musuh merasa sangsi, jangan-jangan para padri yang lihai dari Thian-liong-si juga berada di situ.

Advertisements

5 Comments »

  1. Kapan jilid 36nya ada? Sdh lama nunggunya nih. Tq

    Comment by an — 08/05/2009 @ 3:33 pm

  2. Sedang dipersiapkan. Tunggu saja kemunculannya.

    Comment by ceritasilat — 17/05/2009 @ 7:39 am

    • Tentoe akan saya toengggoe kemoencoelannya. Terima kasih.

      Comment by Anonymous — 19/05/2009 @ 6:05 am

  3. Sudah tuh, mas. Selamat menikmati.

    Comment by ceritasilat — 22/05/2009 @ 4:15 am

  4. Ceritanya memang bagus tapi sayang siau hong dan a cu akhirnya meninggal

    Comment by Haydar ali — 05/08/2015 @ 1:05 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: