Kumpulan Cerita Silat

14/01/2009

Pisau Terbang Li (74)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:02 am

Orang yang Paling Murah Hati

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Api telah padam.

Namun ada kobaran lain yang di sulut dalam rumah itu.

Sepasang tungkai yang panjang dan langsing terjulur di sisi ranjang. Tampak semakin mempesona di bawah sinar bulan yang remang-remang.

Kaki wanita itu sedikit tertekuk saat tubuh sang pria bergetar.

Tubuh Ah Fei kaku seperti busur yang ditarik.

Anak panah pun sudah siap di atas busur itu untuk dibidikkan.

Seorang yang berpengalaman pasti tahu betapa sulitnya bertahan dalam situasi ketegangan seperti itu.

Lin Xian Er, tidak perlu diragukan, adalah seseorang yang berpengalaman.

Ia terus menerus menghindar dan mendorong tubuh Ah Fei, sambil terus berbisik, “Tunggu….tunggu….”

Ah Fei tidak menjawab dengan kata-kata, namun dengan perbuatan.

Ia tidak bisa lagi menunggu.

Lin Xian Er menggigit bibirnya dan menatap mata Ah Fei yang merah terbelalak.

“Meng….Mengapa kau tidak pernah bertanya padaku?”

“Bertanya apa?”

“Apakah ShangGuan JinHong dan aku sudah…”

Tubuh Ah Fei mengejang tiba-tiba, seolah-olah seseorang menendangnya di bawah sana.

“Apakah karena hal itu tidak mengganggumu lagi?” tanya Lin Xian Er

Ah Fei mulai berkeringat. Keringat menandakan kelemahan seseorang.

Lin Xian Er mulai melihat kelemahannya.

“Aku tahu, hal itu pasti mengganggumu, karena aku tahu kau sangat mencintaiku.”

Suara Lin Xian Er terdengar sedih dan tertekan, namun matanya memancarkan kesenangan yang sadis. Ia seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus di bawah tangannya. Ia seperti ShangGuan JinHong yang memandangnya saat ia berada dalam situasi yang kurang menguntungkan.

“Jadi apakah kau melakukannya atau tidak?” tanya Ah Fei dengan suara parau.

Lin Xian Er mendesah dan menjawab, “Seekor tikus yang malang dalam genggaman seekor kucing yang kejam. Kau tidak perlu menanyakan hasil akhirnya.”

Tiba-tiba Ah Fei tersungkur. Ia merasa sangat marah, seluruh tubuhnya terasa lemas.

Lin Xian Er memandang wajahnya, air matanya seolah-olah akan menetes.

“Aku tahu, hal ini pasti membuatmu sangat marah, tapi aku tidak dapat menyembunyikannya dari dirimu. Aku ingin mempersembahkan diriku padamu suci dan tidak bernoda, tapi….”

Ia merayap ke atas dada Ah Fei dengan air mata di wajahnya dan berkata, “Kini aku menyesal menunggu terlalu lama. Walaupun semuanya itu demi engkau, kini aku….”

Tiba-tiba Ah Fei berseru, “Aku tahu bahwa semuanya itu demi diriku. Oleh sebab itu, aku bersumpah akan mengembalikan kesucianmu kepadamu.”

“Kesucian tidak mungkin didapatkan kembali!” sahut Lin Xian Er.

“Bisa, aku punya cara.”

Ia mengepalkan tangannya dan berkata dengan tegas, “Jika aku membunuh ShangGuan JinHong, jika aku membunuh orang yang telah menodaimu, maka kau akan kembali suci bersih…”

Ia berhenti bicara, karena tiba-tiba terdengar suara tawa melengking dari luar jendela.

“Kalau begitu, kau harus siap membunuh banyak sekali orang!”

Terdengar suara lain menambahkan, “P-e-l-a-c-u-r itu selamanya tidak pernah bersih! Selain engkau, semua lelaki yang pernah melihatnya, pernah juga tidur dengan dia!”

Suara yang ketiga menambahkan, “Jika kau ingin membunuh semua orang yang pernah tidur dengan dia, sekalipun kau bunuh 80 orang sehari, sampai tua pun kau belum akan selesai!”

Rumah itu memiliki tiga jendela, dan ketiga orang itu berada di balik tiap-tiap jendela.

Ketiga suara itu berbeda, tapi ada juga kesamaannya yang aneh.

Melengking dan sember. Siapapun yang mendengarnya pasti merasa mual.

Ah Fei segera bangkit berdiri dan menutupi tubuh Lin Xian Er dengan selimut. Ia menendang sebuah bantal yang kemudian menggulingkan sebatang lilin di atas meja. Dengan suara tajam ia bertanya, “Siapa kalian?”

Sebenarnya ia ingin segera memburu keluar, namun setelah ia berdiri ia memutuskan untuk tetap berada di samping Lin Xian Er.

Ketiga orang di luar sana kembali tertawa tergelak.

“Jangan bilang bahwa kau kuatir kami akan melihat tubuhnya yang telanjang!”

“Baginya, sudah biasa orang memandang tubuhnya. Ia malah akan merasa tidak nyaman jika orang tidak memandang tubuhnya!”

‘Pang’. Ketiga jendela itu terpentang.

Tiga larik cahaya masuk ke dalam ruangan itu, langsung tertuju pada Lin Xian Er.

Ketiganya itu adalah Lentera Kongming.

Hanya terlihat cahayanya yang terang, tapi tidak terlihat dari mana datangnya atau siapa yang memegangnya.

Cahayanya begitu terang menyilaukan, sampai-sampai orang sulit membuka mata.

Lin Xian Er menutup matanya dengan tangannya. Selimut katun yang menutupi tubuhnya perlahan-lahan jatuh, memperlihatkan kakinya, lalu pahanya….

Ia tidak berusaha menarik selimut itu. Ia memang tidak takut dilihat orang.

Ah Fei mengertakkan giginya. Ia merenggut pakaiannya dan memberikannya kepada Lin Xian Er, “Pakailah ini.”

Lin Xian Er memutar bola matanya dan tersenyum mengejek, “Kenapa? Apakah kau malu dengan tubuhku?”

Walaupun ia telanjang bulat, ia masih dapat tersenyum penuh percaya diri.

Ia telah menggunakan dua senjatanya yang paling mematikan.

Ah Fei membanting kursi ke lantai dan mengoyakkan kaki kursi itu. Katanya, “Siapa yang berani masuk ke sini akan mati!”

Terdengar ketiga suara itu tertawa lagi. Kali ini terdengar dari balik pintu.

“Ia masih ingin membunuh.”

“Dalam kondisinya saat ini, lebih baik ia tidak berpikir untuk membunuh orang.”

“Ia masih bisa membunuh satu orang….dirinya sendiri!”

Terdengar suara ‘Pang’ sekali lagi. Kini pintu kayu yang tebal itu telah hancur berkeping-keping.

Serpihan kayu masih beterbangan saat ketiga orang itu masuk ke dalam.

Ketiganya mengenakan jubah kuning.

Ketiganya mengenakan topi bambu yang terikat erat di kepala mereka, menutupi wajah mereka.

Ini adalah penampilan khas anggota Partai Uang Emas.

Yang pertama mempunyai rantai emas yang terlibat di tangannya. Cambuk rantai itu terdiri dari dua bagian yang dihubungkan oleh sebuah palu besi yang besar.

Yang kedua bersenjatakan golok, yang ketiga bersenjatakan pedang.

Golok Kepala Setan dan Pedang Pintu Kematian.

Ketiga senjata itu telah siap sedia, seolah-olah mereka kuatir akan melewatkan kesempatan untuk membunuh.

Ah Fei tiba-tiba berdiri tanpa bergerak. Ia seperti serigala kelaparan yang mencium daging segar.

Walaupun reaksinya sudah banyak berkurang dan kekuatannya sudah melemah, naluri alamiahnya belum menjadi tumpul.

Ia telah mencium bau darah.

Lin Xian Er terkikik geli saat berkata, “Ah, ternyata Si Meteor Kembar Angin dan Hujan, Ketua Cabang Xiang Song yang terkenal itu. Sungguh aku merasa terhormat.”

Palu meteor kembar di tangannya terayun ringan ke depan ke belakang. Ia tampak teguh dan kokoh bagaikan gunung batu.

“Apakah Ketua Cabang Xiang datang atas perintah ShangGuan JinHong untuk membunuhku hari ini?” tanya Lin Xian Er menantang.

“Tebakanmu memang tepat,” jawab Xiang Song.

Lin Xian Er mengeluh dan berkata, “Aku tidak percaya kalau ShangGuan JinHong ingin membunuhku sesegera ini.”

Sahut Xiang Song, “Orang yang tidak berguna lagi, harus mati.”

“Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku untuk alasan itu.”

“Hmmm?”

“Ia ingin aku mati karena ia kuatir aku akan menemukan laki-laki lain dan menodai reputasinya.”

Xiang Song menjawab dingin, “Perintah Ketua ShangGuan tidak perlu penjelasan. Hanya perlu dilaksanakan.”

Lin Xian Er melirik Ah Fei sekilas dan berkata, “Kalian bertiga menerobos masuk ke sini untuk membunuhku, karena kalian pikir ia tidak bisa lagi melindungi aku.”

Jawab Xiang Song, “Dia boleh mencoba.”

“Tidak ada gunanya mencoba,” kata yang bersenjatakan golok sambil tertawa dingin.

“Hmmm?”

“Kau sendiri sudah mengatakan di depan mukanya. Kau pun tidak percaya bahwa ia dapat melindungimu. Kita semua pun tahu itu. Apa gunanya mencoba?”

Lin Xian Er tertawa dan berkata, “Benar. Bahkan saat ini, melindungi diri sendiri saja dia tidak bisa. Aku hanya akan mempersulit dia, kecuali…”

Perlahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya yang telanjang diterangi cahaya lentera dan melanjutkan, “Kalian pikir aku tidak dapat melindungi diriku sendiri?”

Payudaranya tegak menantang, kakinya lurus jenjang.

Di bawah cahaya lentera, kulitnya tampak putih mulus bagaikan kain sutra yang mahal.

Memang pantas ia bangga akan kemolekan tubuhnya.

Wajah Ah Fei berkerut kesakitan. Keringat dingin, hampir sebesar butiran kacang polong mulai mengalir dari dahinya.

Tangan Lin Xian Er perlahan bergerak turun membelai tubuhnya sendiri. Dengan suara serak ia berkata, “Tidak sayangkah jika kalian bertiga membunuhku?”

Xiang Song mengeluh dan berkata, “Ada wanita yang menggunakan tubuhnya untuk membeli barang-barang tertentu. Waktu memilih minyak wangi, atau mencoba baju baru, dan mereka tidak malu. Tapi kau sama sekali berbeda.”

“Tentu saja aku berbeda.”

“Kau jauh lebih murah hati dibandingkan mereka. Kau menggunakan tubuhmu untuk membayar hal-hal sepele. Selama hatimu senang, kau akan memuaskan nafsu pegawai rendahan yang membukakan pintu untukmu,” kata Xiang Song.

“Apakah kau ingin minta bayaran?”

Lin Xian Er berjalan perlahan ke arahnya dan berkata, “Mari datang dan ambillah. Kalau aku ingin membayar sedikit upah untukmu, tidak ada yang akan bilang itu terlalu sedikit.”

Xiang Song berdiri tegak seperti sebatang pohon.

Lin Xian Er berjalan ke hadapannya dan mulai menciumi lehernya.

Namun Xiang Song menyerang tiba-tiba. Palunya menghantam dada Lin Xian Er.

Tubuh Lin Xian Er terpelanting, dan jatuh tepat di atas ranjang!

Topi bambu lepas dari kepala Xiang Song, dan tampaklah wajahnya.

Seraut wajah putih pucat, penuh kerut merut, tapi tanpa sehelai rambut atau bulu di wajahnya.

Tiba-tiba Lin Xian Er tergelak dan berkata, “Tidak heran kaulah yang dikirim ShangGuan JinHong untuk membunuhku. Kau bukan lelaki, bukan juga perempuan! Kau setengah lelaki-setengah perempuan. Dasar orang aneh!”

Xiang Song menatapnya dingin, tanpa perasaan di wajahnya. Setelah beberapa saat ia berpaling pada Ah Fei dan berkata, “Lebih baik kau pergi dulu.”

“Pergi?” tanya Ah Fei.

“Jangan bilang kau masih ingin melindungi p-e-l-a-c-u-r ini.”

Ah Fei menundukkan kepalanya.

“Sebaiknya kau pergi sekarang. Lebih baik kau tidak berada di sampingnya saat aku membunuh dia.”

“Kenapa?”

“Karena kau pasti ingin muntah waktu melihatnya,” jawab Xiang Song dengan garang.

Ah Fei terdiam, lalu kembali menundukkan kepalanya.

Lin Xian Er pun sudah berhenti tertawa. Saat ini, ingin tertawa pun tidak bisa lagi.

Saat itulah Ah Fei menyerang!

Naluri Ah Fei masih amat tajam.

Ia benar-benar memilih saat yang tepat untuk menyerang.

Sayangnya, gerakannya lambat dan tenaganya lemah.

Selarik cahaya emas berkelebat dan meteor kembar pun menyambar.

Serpihan kayu kembali beterbangan dan kaki kursi di tangan Ah Fei sudah hancur.

“Perintah yang kuterima adalah membunuhnya, bukan membunuhmu. Kau masih hidup karena aku tidak suka ikut campur,”kata Xiang Song dingin.

Ah Fei menggenggam erat dua serpihan kayu di tangannya, bagaikan orang yang sekarat berpegangan pada harapannya yang terakhir.

Tapi harapan apakah ini?

Dulu ia adalah sang pembunuh.

Kini ia tidak bisa lagi membunuh. Bahkan di mata orang lain, ia pun tidak berharga lagi untuk dibunuh.

Ini tandanya ia tidak berguna lagi di mata orang lain. Apakah dia mati atau hidup, tidak ada bedanya.

‘Begitu sulit untuk merangkak ke atas, bergitu mudah untuk jatuh ke bawah’.

Tiba-tiba Ah Fei teringat saat ia pergi untuk menyelamatkan Li Xun Huan. Saat pertama kali ia beradu pedang dengan Jin Wu Ming….

Saat itu, tidak ada yang berani meremehkan dia.

Tapi sekarang?

Kejadian itu baru beberapa hari yang lalu saja, namun rasanya seperti kenangan masa silam.

Suara Xiang Song pun terdengar seperti datang dari kejauhan.

“Kalau mau, kau boleh tetap di sini dan menyaksikannya. Akan kuperlihatkan bagaimana seorang pembunuh membunuh orang.”

Tiba-tiba sebuah suara yang lain masuk ke dalam ruangan itu, “Dan kau adalah ahli dalam hal membunuh? Kurasa kau belum pantas disebut pembunuh!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: