Kumpulan Cerita Silat

14/01/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 34

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 4:27 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Kiranya A Cu sudah menyaru lagi sebagai laki-laki setengah umur, dengan sendirinya Koh-teh Hwesio tidak tahu dan menyangka Nona Wi yang dicari itu tidak berada di situ.

Segera Kiau Hong tanya pula, “Semalam kami baru tiba di sini, entah dari mana gurumu mendapat tahu? Apakah beliau dapat meramal apa yang belum terjadi?”

Belum lagi Koh-teh menjawab, pengurus hotel tadi lantas menyela, “Ti-kong Taysu dari Thian-tay-san adalah seorang padri sakti, jangankan Kiau-toaya baru tiba kemarin, sekalipun apa yang akan terjadi 500 tahun yang akan datang juga dapat dihitungnya.”

Kiau Hong tahu Ti-kong Taysu itu sangat dipuja oleh rakyat setempat bagaikan malaikat dewata, maka ia pun tidak tanya lagi, katanya, “Baiklah, segera Wi-kohnio akan menyusul, silakan kau bawa kami berangkat lebih dulu.”

Koh-teh Hwesio mengiakan dan segera mendahului keluar. Ketika Kiau Hong hendak membayar rekening hotel, namun pengurus telah mencegah, “Jika kalian adalah tetamu padri sakti Thian-tay-san, betapa pun uang hotel ini tidak dapat kami terima.”

Terpaksa Kiau Hong membatalkan niatnya itu, diam-diam ia kagum atas nama baik Ti-kong Taysu yang dihormati dan sangat dicintai rakyat setempat itu, maka tentang tersangkutnya dalam peristiwa pembunuhan orang tuaku biarlah kuhapus sama sekali dan takkan kubalas dendam padanya. Asal dia memberitahukan nama Tay-ok-jin itu kepadaku sudah puaslah rasa hatiku, demikian Kiau Hong mengambil keputusan.

Begitulah mereka lantas berangkat ke Thian-tay-san mengikut Koh-teh Hwesio.

Pemandangan Thian-tay-san sangat indah permai, cuma jalan pegunungan itu sangat terjal dan berliku-liku hingga sukar ditempuh. Dari belakang Kiau Hong melihat cara berjalan Koh-teh Hwesio itu sangat cepat dan tangkas, tapi kentara sekali tidak mahir ilmu silat.

Namun begitu ia tahu hati manusia kebanyakan palsu, ia tidak menjadi lengah karena itu. Diam-diam pikirnya, “Sekali lawan sudah tahu jejakku, mustahil dia tidak mengatur penjagaan yang kuat? Meski Ti-kong Taysu adalah padri saleh yang terpuja, tapi orang lain di sekitarnya belum tentu sepikiran dengan dia.”

Jalan pegunungan itu makin lama makin sulit ditempuh, tapi senantiasa Kiau Hong pasang mata telinga untuk menjaga kalau-kalau disergap musuh.

Tak tersangka sepanjang jalan ternyata aman tenteram saja, akhirnya sampai juga di luar Siang-koan-si. Kuil itu sangat terkenal di kalangan Kangouw, tapi wujudnya ternyata sebuah kelenteng kecil saja, bahkan keadaannya sudah tak begitu terawat.

Sampai di luar kuil, tanpa melapor dulu atau diadakan penyambutan segala, Koh-teh terus mendorong pintu kuil sambil berseru, “Suhu, Kiau-toaya sudah tiba!”

Maka terdengarlah suara Ti-kong menyahut, “Selamat datang! Sediakan teh untuk tamu agung kita!”

Sembari bicara, padri itu lantas menyambut keluar.

Sebelum bertemu dengan Ti-kong, selalu Kiau Hong merasa khawatir akan didahului lagi oleh Tay-ok-jin hingga Ti-kong terbunuh, tapi demi melihat padri itu baik-baik saja, barulah Kiau Hong merasa lega. Segera mereka mengusap muka masing-masing hingga wajah asli mereka pulih kembali untuk menemui Ti-kong, lebih dahulu Kiau Hong memberi hormat.

“Siancay! Siancay!” demikian Ti-kong bersabda. “Kiau-sicu, sebenarnya engkau she Siau, apakah engkau sendiri sudah tahu?”

Seketika Kiau Hong tergetar, meski kini sudah diketahui dirinya adalah orang Cidan, tapi apa she ayahnya sebegitu jauh masih gelap baginya. Kini untuk pertama kalinya mendengar Ti-kong menyatakan dia she “Siau”, tanpa terasa keringat dingin lantas mengucur.

Ia tahu bahwa rahasia asal-usul sendiri sekarang mulai tersingkap sedikit demi sedikit, segera ia membungkuk tubuh dengan hormat dan menjawab, “Cayhe terlalu bodoh, kedatangan justru ingin minta petunjuk kepada Taysu.”

Ti-kong mengangguk, katanya, “Silakan kalian duduk!”

Dan sesudah mereka mengambil tempat duduk masing-masing, Koh-teh Hwesio lantai menyuguhkan teh. Ketika melihat wajah kedua orang sudah berubah, bahkan A Cu berubah menjadi wanita, Koh-teh jadi terheran-heran. Tapi di hadapan sang guru terpaksa ia tidak berani bertanya.

“Tentang asal usulmu,” demikian Ti-kong memulai, “menurut ukiran di dinding batu yang ditinggalkan ayahmu itu, beliau mengaku she Siau dan bernama Wan-san. Dalam tulisannya itu beliau menyebut engkau sebagai anak ‘Hong’. Karena itu kami mempertahankan nama aslimu, cuma shemu telah kami ganti mengikuti she Kiau Sam-hoay yang membesarkanmu itu.”

Seketika air mata Kiau Hong bercucuran, tiba-tiba ia berdiri dan berkata, “Baru sekarang kutahu nama asliku, atas budi kebaikan Taysu, terimalah hormatku ini!”

Habis berkata, terus saja ia menjura.

Cepat Ti-kong membalas hormat dan berkata pula, “Budi kebaikan yang kau nyatakan itu mana berani kuterima?”

Kiau Hong berpaling kepada A Cu dan mengumumkan dengan suara lantang, “Sejak kini aku bernama Siau Hong dan bukan Kiau Hong lagi.”

“Ya, Siau-toaya,” sahut A Cu.

Waktu itu, nama keluarga Kerajaan Liau adalah Yalu dan permaisurinya selalu dipilih dari keluarga Siau. Sebab itulah turun-temurun keluarga Siau sangat berpengaruh di negeri Liau. Kini mendadak Siau Hong mengetahui dirinya adalah keturunan keluarga bangsawan Cidan (suku bangsa negeri Liau), seketika tak keruan rasa hatinya.

“Siau-tayhiap, tulisan di dinding batu di luar Gan-bun-koan itu tentu sudah kau lihat bukan?” kata Ti-kong kemudian.

“Tidak,” sahut Siau Hong sambil menggeleng. “Setiba di sana, tulisan itu sudah dihapus orang, hanya tinggal bekas yang tak terbaca lagi.”

“Urusan sudah terjadi, huruf di dinding batu itu pun sudah dihapus, tapi belasan jiwa yang sudah menjadi korban apakah dapat dihidupkan kembali?” kata Ti-kong sambil menghela napas. Lalu ia keluarkan secarik kertas kuning yang sangat lebar, katanya pula, “Siau-sicu, inilah cetakan tulisan di atas dinding itu.”

Tergetar tubuh Siau Hong. Cepat ia terima kertas kuning itu dan dibentang, ia lihat di atas kertas itu banyak terdapat huruf cetak yang aneh, satu huruf pun tak dikenalnya. Ia tahu itu pasti huruf Cidan yang ditulis mendiang ayahnya sebelum terjun ke jurang, tak tertahan lagi air matanya bercucuran, katanya kemudian, “Mohon Taysu suka menjelaskan artinya.”

“Sesudah mencetak tulisan di dinding ini, kemudian kami tanya kepada beberapa orang yang paham huruf Cidan, menurut keterangan mereka, bunyinya adalah: ‘Hong-ji genap berusia setahun, bersama istriku kami berkunjung ke rumah ibu mertua, di tengah jalan mendadak kepergok bandit dari selatan. Karena sergapan tiba-tiba itu, istriku tercinta terbunuh oleh musuh, sungguh aku pun tidak ingin hidup di dunia ini. Tapi guruku yang berbudi adalah bangsa Han di selatan, di hadapan guru aku telah bersumpah takkan membunuh orang Han, siapa duga hari ini sekaligus telah kubunuh belasan orang, aku telah melanggar sumpahku dan bersedih atas kematian istri pula, di alam baka aku pun tiada muka untuk bertemu dengan Insu (guru berbudi) lagi. Sekian pesan terakhir dari Siau Wan-san.’.”

Selesai mendengar uraian Ti-kong itu, dengan penuh hormat Siau Hong melempit kembali kertas cetak itu, katanya, “Ini adalah surat wasiat ayahku, mohon Taysu suka memberikannya padaku.”

“Memang sepantasnya diserahkan padamu,” sahut Ti-kong.

Sungguh pedih dan kusut sekali perasaan Siau Hong pada saat itu. Ia dapat memahami betapa rasa duka dan sesal sang ayah pada waktu itu, sebabnya beliau terjun ke jurang bukan melulu karena berduka atas terbunuhnya ibunda, tapi juga disebabkan beliau merasa melanggar sumpah sendiri karena telah membunuh orang Han sebanyak itu, maka beliau rela membunuh diri untuk menebus dosanya.

Dalam pada itu Ti-kong berkata pula, “Semula kami menyangka ayahmu yang memimpin jago Cidan dan menyerbu Siau-lim-si, tapi sesudah membaca tulisan itu barulah kami tahu telah terjadi salah paham yang besar. Jika ayahmu bertekad membunuh diri, rasanya tidak mungkin beliau menulis hal yang tidak benar ini untuk membohongi orang lain. Dan jika beliau bertujuan menyerbu Siau-lim-si, mengapa membawa serta seorang istri yang tidak paham ilmu silat dan membawa anaknya yang masih bayi? Sesudah peristiwa itu, ketika kami menyelidiki sumber berita tentang musuh akan menyerbu Siau-lim-si segala kiranya kabar berita itu berasal dari seorang pembual besar, orang itu sengaja hendak menggoda Toako Pemimpin kami untuk olok-olok padanya apabila beliau dibikin kecele.”

“O, kiranya cuma untuk berkelakar saja, dan bagaimana dengan pembual itu?” tanya Siau Hong.

“Sesudah Toako Pemimpin tahu duduknya perkara, sudah tentu beliau sangat marah, tapi pembual itu sudah lari entah ke mana perginya, sejak itu pun tidak diketahui bayangannya lagi. Setelah berpuluh tahun, mungkin sekarang orangnya sudah mampus,” kata Ti-kong.

“Banyak terima kasih atas keterangan Taysu hingga aku dapat mengetahui seluk-beluknya urusanku ini,” kata Siau Hong. “Tapi ingin kutanya pula suatu hal padamu.”

“Apa yang Siau-sicu ingin tanya?”

“Toako Pemimpin yang kau katakan itu sebenarnya gerangan siapakah?”

“Telah kudengar bahwa untuk mencari tahu hal itu Siau-sicu telah membunuh Tam-kong, Tam-poh dan Tio-ci-sun, kemudian antero keluarga Tan Cing beserta kediamannya telah kau musnahkan. Sudah kuduga lambat atau cepat Siau-sicu pasti akan datang kemari, maka silakan Sicu menunggu sebentar, akan kupertunjukkan sesuatu padamu.”

Habis berkata ia lantas berbangkit dan menuju ke ruangan belakang. Selang tak lama, Koh-teh Hwesio datang pada Siau Hong dan berkata, “Suhu menyilakan kalian masuk ke kamar dalam.”

Segera Siau Hong dan A Cu ikut padri itu melalui sebuah jalanan serambi yang panjang, akhirnya tibalah di depan sebuah paviliun, Koh-teh mendorong pintu dan berkata, “Silakan masuk!”

Waktu Siau Hong melangkah ke dalam rumah itu, ia lihat Ti-kong duduk bersila di atas tikar. Padri saleh itu tidak menyapa, hanya tersenyum dan tiba-tiba menjulurkan jari tangan untuk menulis di lantai.

Kamar itu rupanya tidak pernah dibersihkan, maka debu kotoran memenuhi lantai. Tertampak Ti-kong menulis delapan baris huruf di situ. Habis menulis, dengan tersenyum Ti-kong lantas pejamkan mata.

Waktu Siau Hong membaca tulisan di lantai itu, ia jadi termenung-menung. Kiranya tulisan Ti-kong itu adalah sabda Buddha yang menasihatkan manusia supaya anggap segala apa di dunia fana ini cuma khayal belaka, sebab akhirnya segala apa akan sirna menjadi abu.

“Sangkut paut apa dengan persoalan yang kutanyakan padanya tadi?” demikian Siau Hong merasa bingung, maka kembali ia tanya, “Taysu, sebenarnya siapakah gerangan Toako Pemimpin itu, sudilah memberi tahu?”

Tapi meski ulangi lagi pertanyaannya, Ti-kong tetap tersenyum saja tanpa menjawab. Waktu Siau Hong mengawasi, ia terkejut. Ia lihat air muka padri itu meski masih tersenyum, tapi sudah kaku tanpa bergerak lagi.

“Taysu! Taysu!” berulang Siau Hong berseru, tetapi padri itu tetap tidak bergerak sedikit pun. Waktu ia periksa pernapasannya, ternyata sejak tadi sudah berhenti. Jadi sejak tadi padri itu sudah wafat.

Dengan rasa pedih Siau Hong menjura beberapa kali sebagai tanda penghormatan terakhir, lalu mengajak A Cu untuk meninggalkan biara itu dengan lesu.

Sesudah belasan li jauhnya, berkatalah Siau Hong, “A Cu, hakikatnya aku tidak bermaksud membikin susah pada Ti-kong Taysu, mengapa dia… berlaku nekat begitu? Menurut pendapatmu, dari mana dia mengetahui kita akan datang ke biaranya?”

“Kukira… kukira atas perbuatan Tay-ok-jin itu pula,” sahut A Cu.

“Aku pun berpikir begitu,” kata Siau Hong. “Tentu Tay-ok-jin itu mendahului memberi kabar pada Ti-kong Taysu bahwa aku akan menuntut alas padanya. Karena merasa takkan mampu lolos dari tanganku, maka Ti-kong Taysu jadi nekat dan menghabiskan nyawa sendiri.”

Begitulah mereka hanya saling pandang belaka tanpa berdaya lagi.

“Siau-toaya,” tiba-tiba A Cu membuka suara, “ada sesuatu pendapatku yang kurang wajar, jika kukatakan, harap engkau jangan marah.”

“Kenapa kau jadi sungkan padaku? Sudah tentu aku takkan marah,” ujar Siau Hong.

“Kukira sabda Buddha yang ditulis Ti-kong itu pun ada benarnya,” demikian tutur A Cu. “Peduli apa dia orang Han atau Cidan, apa benar atau khayal, segala budi atau sakit hati, kaya atau miskin, semuanya itu akhirnya akan sirna. Padahal apakah engkau bangsa Han atau orang Cidan, apa sih bedanya? Penghidupan merana di kalangan Kangouw juga sudah membosankan, tidakkah lebih baik kita pergi saja ke luar Gan-bun-koan untuk berburu dan mengangon domba, segala suka-duka penghidupan Bu-lim di Tionggoan jangan dipeduli lagi.”

“Ya, penghidupan yang selalu menyerempet bahaya di ujung senjata memang sudah membosankan aku,” sahut Kiau Hong dengan menghela napas. “Di luar perbatasan, di gurun yang luas, di padang rumput yang menghijau, di sanalah jauh lebih aman dan tenteram. A Cu, jika aku tinggal jauh di luar perbatasan sana, sudikah engkau menjenguk aku di sana?”

“Bukankah kukatakan berburu dan angon domba, engkau berburu dan aku yang angon domba,” sahut A Cu dengan suara perlahan dan muka merah sambil menunduk.

Meski Siau Hong adalah seorang laki-laki gagah kasar, tapi maksud yang terkandung dalam ucapan A Cu itu dapat ditangkapnya juga. Ia tahu si gadis menyatakan bersedia hidup berdampingan dengan dirinya di gurun luas sana dan takkan kembali ke Tionggoan lagi.

Waktu Siau Hong menolong gadis itu dulu hanya didorong oleh rasa kagum kepada Buyung Hok sebagai sesama kesatria. Kemudian setelah jauh-jauh A Cu menyusulnya ke Gan-bun-koan, lalu berangkat bersama ke Thay-an dan Thian-tay pula, dalam perjalanan jauh itu setiap hari hidup berdekatan, di situlah baru Siau Hong merasakan betapa halus budi si gadis jelita ini, kini mendengar A Cu mengutarakan isi hatinya secara terus terang pula, perasaan Siau Hong terguncang hebat, ia pegang tangan nona itu dan berkata, “A Cu, engkau sangat baik padaku, apa kau tidak mencela diriku sebagai keturunan Cidan yang rendah?”

“Cidan juga manusia, kenapa mesti dibeda-bedakan,” sahut A Cu. “Aku senang menjadi orang Cidan, ini timbul dari hatiku yang sungguh-sungguh sedikit pun tidak dipaksakan.”

Sungguh girang Siau Hong tidak kepalang, mendadak ia pegang tubuh A Cu terus dilemparkan ke atas, ketika jatuh ke bawah lagi, dengan perlahan ia tangkap badan si gadis dan diletakkan ke tanah, dengan tersenyum mesra ia pandang A Cu lekat-lekat dan berseru, “Dapatkan seorang teman sepaham, puaslah hidupku ini. A Cu selanjutnya kau akan ikut aku berburu dan menggembala, kau takkan menyesal?”

“Biarpun apa yang akan terjadi, tidak nanti aku menyesal,” sahut A Cu tegas. “Sekalipun akan menderita dan tersiksa juga aku akan merasa senang.”

“Aku dapat hidup seperti sekarang ini, sungguh jangankan disuruh menjadi Pangcu Kay-pang lagi, sekalipun diangkat menjadi raja Song juga aku tidak mau,” kata Siau Hong. “Baiklah A Cu, sekarang juga kita berangkat ke Sinyang untuk mencari Be-hujin, apakah dia mau menerangkan atau tidak, dia adalah orang terakhir yang akan kita cari, sesudah tanya dia segera kita keluar perbatasan utara untuk melewatkan penghidupan sebagai pemburu dan penggembala.”

“Siau-toaya….”

“Selanjutnya jangan kau panggil toaya apa segala, panggil toako saja!”

Wajah A Cu menjadi marah, sahutnya, “Mana… mana aku ada harganya memanggil demikian padamu?”

“Kau sudi tidak?” tanya Siau Hong.

“Sudi, seribu kali sudi, cuma tidak berani.”

“Cobalah kau panggil sekali.”

“Ya, Toa… Toako!” demikian A Cu memanggil dengan lirih.

“Hahahahaha!” Siau Hong terbahak-bahan senang. “Sejak kini aku tidak lagi sebatang kara, bukan lagi keturunan asing yang dipandang rendah dan hina oleh orang lain, paling tidak di dunia ini masih ada seorang yang… yang….”

Seketika ia menjadi bingung apa yang harus diucapkannya.

Maka A Cu lantas menyambung, “Masih ada seorang yang menghormatimu, yang mengagumimu, yang berterima kasih padamu, dan selama hidup ini, bahkan sepanjang masa bersedia hidup di sampingmu, derita sama dipikul, susah sama dirasa.”

Sungguh Siau Hong sangat terharu, terutama ucapan A Cu tentang “derita sama dipikul dan susah sama dirasa” itu, memang sudah jelas bahwa banyak sekali rintangan dan penderitaan pada waktu yang akan datang, tapi gadis itu toh rela menghadapinya tanpa menyesal, saking terharu sampai air mata Siau Hong bercucuran.

Tempat kediaman wakil Pangcu Kay-pang, yaitu Be Tay-goan, terletak di Sinyang, Provinsi Holam. Sudah tentu perjalanan dari Thian-tay ke Sinyang itu memakan tempo cukup lama pula. Tapi sejak adanya ikatan jiwa antara mereka yang mesra, sepanjang jalan mereka tidak masygul lagi, dalam pandangan mereka pemandangan di mana-mana menjadi tambah indah permai dan memabukkan.

Sebenarnya A Cu tidak gemar minum arak, tapi demi untuk membikin senang Siau Hong, terkadang ia paksakan diri mengiringi minum satu-dua cawan. Dan mukanya yang kemerah-merahan itu semakin menambah kecantikannya yang menggiurkan.

Suatu hari, tibalah mereka di Kota Kongciu, dari situ ke Sinyang hanya diperlukan kira-kira dua hari saja.

“Toako,” kata A Cu, “menurut pendapatmu, cara bagaimana kita harus menanyai Be-hujin?”

Siau Hong menjadi ragu oleh pertanyaan itu, ia masih ingat sikap Be-hujin itu sangat benci padanya karena yakin suaminya telah dibunuh olehnya. Sedangkan terhadap seorang janda yang tak mahir ilmu silat, kalau pakai cara paksaan dan gertakan, terang cara ini tidak sesuai dengan kedudukan dirinya sebagai kesatria terkemuka.

Sesudah pikir sejenak, akhirnya ia menjawab, “Kukira kita harus memohonnya secara baik-baik agar dia dapat memahami duduknya perkara dan tidak mendakwa aku sebagai pembunuh suaminya. Eh, A Cu, kau saja yang bicara padanya, kau pandai bicara, sama-sama wanita pula, segala sesuatu akan lebih mudah dirundingkan.”

“Sebenarnya aku ada suatu akal, entah Toako setuju tidak?” sahut A Cu dengan tersenyum.

“Akal apa? Coba katakan,” tanya Siau Hong.

“Engkau adalah laki-laki sejati dan seorang kesatria, dengan sendirinya tidak dapat memaksa pengakuan seorang janda, biarlah aku yang membujuk dan menipu dia, bagaimana pendapatmu?”

“Jika dia dapat dibujuk hingga mengaku, itulah paling baik,” kata Siau Hong dengan girang. “A Cu, engkau tahu, siang dan malam yang kuharapkan adalah selekasnya dapat kubunuh dengan tanganku sendiri atas pembunuh ayahku itu. Hm, sebabnya aku merana seperti sekarang ini dan bermusuhan dengan para kesatria sejagat, bahkan para jago Tionggoan itu bertekad harus membunuh diriku, semua ini adalah akibat perbuatan Tay-ok-jin itu. Jika aku tidak mencencang dia hingga hancur luluh, cara bagaimana aku bisa hidup tenteram untuk berburu dan mengangon domba denganmu?”

Makin bicara makin keras dan tegas suaranya, suatu tanda betapa berguncangnya perasaan Siau Hong. Paling akhir ini sebenarnya pikirannya tidak murung lagi seperti dulu, tapi rasa dendamnya kepada Tay-ok-jin itu tidak menjadi berkurang sedikit pun.

“Sudah tentu aku paham perasaanmu,” sahut A Cu, “Begitu keji cara Tay-ok-jin itu membikin susah padamu, bahkan aku pun ingin membacoknya beberapa kali untuk bantu melampiaskan rasa dendammu. Kelak kalau kita dapat menawan dia, kita harus mengadakan juga suatu enghiong-tay-hwe, kita akan mengundang seluruh kesatria di jagat ini, di hadapan mereka itulah kita akan menjelaskan duduknya perkara dan membongkar tuduhan tak benar atas dirimu selama ini, dengan demikian nama baikmu dapat dipulihkan.”

“Tidak perlu begitu,” sahut Siau Hong dengan menghela napas. “Sudah terlalu banyak orang yang kubunuh di Cip-hian-ceng tempo hari, permusuhanku dengan para kesatria sudah terlalu mendalam, aku tidak ingin mohon orang lain memahami urusanku lagi. Yang kuharap asal urusan ini bisa dibikin terang, hatiku bisa tenteram, lalu kita akan hidup di padang luas di utara sana, selama hidup kita akan berkawankan domba dan tidak perlu bertemu dengan para kesatria dan pahlawan-pahlawan lagi.”

“Jika benar dapat terlaksana seperti harapanmu, itulah jauh melebihi apa yang kuinginkan,” kata A Cu dengan tersenyum. “Toako, aku ingin menyamar sebagai seorang untuk membujuk Be-hujin agar mau mengatakan nama Tay-ok-jin yang kita cari.”

“Bagus, bagus! Kenapa aku lupa pada kepandaianmu ini?” seru Siau Hong dengan girang. “Kau ingin menyamar sebagai siapa?”

“Itulah yang ingin kutanya padamu,” sahut A Cu. “Pada masa hidup Be-hupangcu, di antara orang Kay-pang siapakah yang paling rapat berhubungan dengan dia? Jika aku menyamar sebagai orang itu, mengingat sebagai sahabat karib mendiang suaminya, tentu Be-hujin akan bicara terus terang.”

“Tentang kawan yang berhubungan erat dengan Be-hupangcu antara lain ialah Ong-thocu, Coan Koan-jing dan ada pula Tan-tianglo. Ya, Cit-hoat Tianglo Pek Si-kia juga sangat akrab dengan dia.”

A Cu tidak tanya lagi, ia termenung-menung membayangkan wajah dan gerak-gerik orang yang disebut itu.

“Watak Be-hupangcu sangat pendiam, berbeda dengan aku yang suka minum arak dan gemar bicara. Sebab itulah jarang dia bergaul dengan aku. Sebaliknya Coan Koan-jing, Pek Si-kia, dan lain-lain itu wataknya lebih cocok dengan dia, maka mereka sering berada bersama untuk saling tukar pikiran tentang ilmu silat.”

“Siapakah Ong-thocu yang kau katakan itu, tidak kukenal,” demikian A Cu berkata. “Sedang Tan-tianglo itu suka tangkap ular dan piara kelabang, melihat binatang berbisa begitu aku jadi takut, maka sukar untuk menyaru sebagai dia. Perawakan Coan Koan-jing tinggi besar, untuk menyaru dia tidaklah mudah, kalau tinggal terlalu lama di hadapan Be-hujin, mungkin rahasia kita akan ketahuan. Maka paling baik kukira menyamar sebagai Pek-tianglo saja. Pernah beberapa kali ia bicara denganku di Cip-hian-ceng, untuk menyaru sebagai dia adalah paling gampang.”

“Pada waktu kau terluka, bukankah Pek-tianglo sangat baik padamu, dia yang paksa Sih-sin-ih mengobatimu, dan sekarang kau malah menyamar sebagai dia untuk menipu orang, apakah tidak terasa kurang pantas?”

“Setelah menyamar sebagai Pek-tianglo, aku cuma berbuat baik dan tidak berbuat jahat, dengan demikian nama baiknya takkan tercemar,” ujar A Cu dengan tertawa.

Begitulah ia lantas menyamar sebagai Pek Si-kia, ia mendandani Siau Hong pula sebagai seorang anggota Kay-pang berkantong enam dan terhitung sebagai “ajudan” Pek-tianglo, cuma Siau Hong dilarang banyak bicara agar tidak diketahui Be-hujin yang cerdik dan cermat itu.

Mereka melanjutkan perjalanan ke Sinyang, sepanjang jalan tampak banyak anggota Kay-pang yang berlalu-lalang dan sering mengajak bicara dengan mereka dengan kode Kay-pang untuk tanya gerak-gerik tokoh pimpinan Kay-pang, lalu mereka sengaja memberitahukan kedatangan “Pek-tianglo” di Sinyang, agar Be-hujin mendapat kabar lebih dulu. Dengan demikian, penyamaran A Cu akan lebih aman dan Be-hujin pun tidak curiga.

Kediaman Be Tay-goan itu terletak di pedusunan sebelah barat Sinyang, kira-kira lebih 30 li dari kota. Sesudah tanya keterangan pada anggota Kay-pang segera Kiau Hong mengajak A Cu ke rumah Be-hujin itu.

Mereka sengaja berjalan lambat untuk membuang waktu, menjelang petang baru mereka tiba di sana. Maklum, jika siang hari tentu penyamaran A Cu akan lebih mudah diketahui orang, bila malam, segala sesuatu menjadi samar-samar dan sukar diketahui.

Sampai di luar rumah keluarga Be, tertampak sebuah sungai kecil mengitari tiga petak rumah genting yang mungil, di samping rumah terdapat beberapa pohon yangliu, di depan rumah ada tanah lapang cukup luas. Siau Hong kenal aliran ilmu silat Be Tay-goan, melihat keadaan lapangan itu, tahulah dia bekas wakilnya itu pasti sering berlatih silat di lapangan itu. Tapi kini yang satu sudah di alam baka, ia menjadi pilu mengingat itu.

Dan baru dia hendak mengetuk pintu, mendadak terdengar suara keriut pintu dibuka, dari dalam rumah muncul seorang perempuan berbaju putih mulus, yaitu pakaian berkabung, terang itulah Be-hujin adanya.

Be-hujin mengerling sekejap ke arah Siau Hong, lalu memberi hormat kepada A Cu dan menyapa, “Sungguh tidak nyana Pek-tianglo sudi berkunjung ke tempatku ini, silakan masuk sekadar dulu.”

“Ada sesuatu urusan ingin kurundingkan dengan Hujin, makanya tanpa diundang tahu-tahu sudah datang, harap Hujin suka memaafkan,” sahut A Cu.

Air muka Be-hujin seperti senyum tapi tak senyum, malahan di antara senyum tak senyum itu tampak menahan rasa sedih, sungguh sangat serasi dengan dandanannya yang putih berkabung itu.

Sesudah dekat, Siau Hong dapat melihat jelas usia Be-hujin antara 35-36 tahun, raut mukanya agak lonjong, tapi sangat cantik. Setelah masuk di dalam rumah, tertampak ruang tamu itu sangat sederhana dan agak sempit, di tengah sebuah meja dengan empat kursi, perabot lain tiada lagi.

Segera seorang pelayan tua menyuguhkan teh, lalu Be-hujin menanyakan nama Siau Hong, maka A Cu sembarangan menjawab dengan sebuah nama palsu.

Kemudian Be-hujin bertanya lagi, “Atas kunjungan Pek-tianglo ini, entah ada petunjuk apakah?”

“Ci-tianglo telah meninggal di Wi-hui, tentu Hujin sudah tahu?” kata A Cu.

Sekonyong-konyong Be-hujin mendongak dengan sorot mata yang terheran-heran, lalu sahutnya, “Ya, sudah tentu kutahu.”

Dan A Cu segera berkata lagi, “Kita sama mencurigai Kiau Hong yang telah membunuh Ci-tianglo itu, kemudian Tam-kong dan Tam-poh, Tio-ci-sun dan Tiat-bin-poan-koan Tan Cing juga menjadi korban keganasan musuh. Belum lama ini ketika aku menjalankan tugas pemeriksaan seorang anak murid pang kita yang melanggar disiplin di daerah Kanglam, di sana pun kudapat kabar bahwa Ti-kong Taysu di Thian-tay-san juga mendadak wafat.”

“Ap… apakah itu pun perbuatan keparat Kiau Hong itu?” seru Be-hujin dengan badan agak gemetar dan suara terputus-putus.

“Tapi tiada sesuatu tanda-tanda mencurigakan yang kutemukan di kuil Ti-kong Taysu itu,” sahut A Cu. “Mengingat bahwa langkah selanjutnya mungkin Hujin yang akan menjadi sasarannya, maka lekas-lekas aku memburu kemari untuk menyarankan kepada Hujin agar suka berpindah tempat dulu untuk sementara waktu agar tidak dicelakai oleh durjana Kiau Hong itu.”

Begitulah ia sengaja membesar-besarkan kesalahan Kiau Hong dengan harapan nyonya janda itu tidak menaruh curiga padanya.

Maka Be-hujin telah menjawab dengan sedih, “Sejak Tay-goan tewas, memangnya tiada berguna juga kuhidup di dunia ini, jika orang she Kiau itu hendak membunuh diriku, itulah yang kuharapkan malah.”

“Eh, mana boleh Hujin bicara begitu? Sakit hati Be-hiante belum terbalas, pembunuhnya belum lagi tertangkap, padamu masih terbeban tanggung jawab yang tidak ringan, mana boleh Hujin putus asa,” ujar A Cu. “Ehm, di manakah letak tempat perabuan Be-hiante, aku ingin memberi hormat kepadanya.”

“Terima kasih,” kata Be-hujin. Lalu ia membawa kedua orang ke ruangan belakang.

Sesudah A Cu memberi hormat, kemudian Siau Hong juga menjura ke hadapan perabuan bekas wakilnya itu sambil diam-diam berdoa, “Be-toako, semoga arwahmu melindungi aku supaya istrimu suka mengatakan padaku tentang nama penjahat yang sebenarnya itu, dengan demikian akan kubalaskan sakit hatimu.”

Dalam pada itu Be-hujin juga berlutut di samping untuk membalas hormat sambil bercucuran air matanya.

Selesai menjura, waktu Siau Hong berdiri kembali, ia lihat ruangan berkabung itu banyak terpasang “lian” berdukacita sumbangan dari Ci-tianglo, Pek-tianglo dan lain-lain, tapi lian yang dikirim olehnya sendiri ternyata tidak dipasang di situ. Tirai putih di ruang berkabung itu sudah mulai berdebu hingga makin menambah kehampaan suasana. Pikir Siau Hong, “Be-hujin tidak punya anak, setiap hari cuma didampingi seorang pelayan tua, penghidupannya yang sunyi ini benar-benar menyedihkan juga.”

Sementara itu A Cu sedang menghibur Be-hujin dengan macam-macam perkataan, katanya kalau nyonya janda itu ada kesulitan apa-apa boleh memberitahukan kepadanya dan lain-lain pesan lagi dengan lagak orang tua.

Diam-diam Siau Hong memuji cara anak dara itu menjalankan peranan dengan sangat mirip sekali. Sesudah pangcu dalam pang diusir, hupangcu meninggal juga. Ci-tianglo telah dibunuh orang, Thoan-kong Tianglo juga telah terbunuh, sisanya yang masih hidup hanya kedudukan Pek-tianglo yang paling tinggi. Kini A Cu bicara dengan lagak pejabat pangcu, nadanya memang cocok juga.

Begitulah maka Be-hujin telah mengucapkan terima kasih, tapi sikapnya dingin saja.

Diam-diam Siau Hong khawatir bagi janda muda itu. Hidup dalam keadaan sunyi dan sedih, wanita yang berwatak keras seperti itu bukan mustahil akan mengambil pikiran pendek dengan membunuh diri untuk menyusul sang suami di alam baka.

Kemudian Be-hujin membawa kedua tamunya ke ruangan depan lagi, tidak lama daharan malam pun disuguhkan secara sederhana, yaitu terdiri dari sayur-mayur belaka dan tiada daging, pula tanpa arak.

A Cu melirik sekejap pada Siau Hong, maksudnya malam ini terpaksa engkau tidak minum arak lagi. Tapi Siau Hong tidak ambil pusing, terus saja ia dahar seadanya.

Habis dahar, berkatalah Be-hujin, “Pek-tianglo datang dari jauh, seharusnya kami menyilakan para tamu bermalam dulu, cuma tempat tinggal seorang janda, tidak enak untuk memberi menginap orang, entah Pek-tianglo apakah masih ada pesan lain?”

Dengan ucapannya itu, terang secara halus ia menyilakan tetamunya lekas pergi.

Maka A Cu menjawab, “Kedatanganku ini tiada lain ialah ingin mengusulkan agar Hujin suka menyingkir dulu dari sini, entah bagaimana keputusan Hujin?”

Be-hujin menghela napas, katanya, “Kiau Hong sudah membunuh suamiku, jika aku dibunuh pula, aku akan lebih cepat menyusul Tay-goan di alam baka. Meski aku hanya seorang wanita lemah, tidak nanti aku takut mati.”

“Jadi tegasnya Hujin sudah bertekad takkan meninggalkan tempat ini?” tanya A Cu.

“Banyak terima kasih atas maksud baik Pek-tianglo, memang begitulah keputusanku,” sahut Be-hujin.

A Cu menghela napas gegetun, katanya kemudian, “Sebenarnya aku harus tinggal beberapa hari di sekitar sini sekadar menjaga keselamatan Hujin. Walaupun benar aku bukan tandingan keparat Kiau Hong itu, tapi pada saat genting paling tidak akan bertambah seorang pembantu. Cuma di tengah jalan tadi kembali aku mendapat sesuatu berita yang sangat rahasia.”

“O, tentunya sangat penting,” ujar Be-hujin.

Pada umumnya kaum wanita paling suka mencari tahu sesuatu, biarpun urusan itu tiada sangkut paut dengan diri sendiri sedapatnya ingin tahu juga, apalagi kalau urusan itu dikatakan sangat penting dan penuh rahasia. Tapi aneh, sikap Be-hujin tenyata dingin saja tanpa tertarik oleh obrolan A Cu itu.

Diam-diam Siau Hong merana heran oleh sikap janda itu. Dalam pada itu A Cu telah memberi tanda kepadanya dan berkata, “Kau keluar dulu, tunggu di luar saja, ada urusan rahasia yang ingin kubicarakan dengan Hujin.”

Siau Hong mengangguk, segera ia bertindak keluar. Diam-diam ia memuji kecerdikan A Cu.

Maklum, jika kita ingin tahu rahasia orang lain, maka lebih dulu perlu memberitahukan sesuatu yang penting juga padanya, dengan demikian pihak sana akan menaruh kepercayaan padamu.

Pada umumnya, seorang yang mengetahui sesuatu rahasia, biasanya sukar disuruh tutup mulut, sebab ia akan merasa bangga jika dapat memberitahukan rahasia itu kepada orang ketiga, asalkan kau dapat menunjukkan bahwa kau adalah orang yang dapat dipercaya, maka besar kemungkinan kau akan diberi tahu rahasia itu.

Begitu pula letak kecerdikan A Cu. Ia sengaja menyingkirkan Siau Hong untuk mendapatkan kepercayaan Be-hujin sebagai tanda bahwa rahasia yang dia ketahui itu benar-benar sangat penting, sebab pengikutnya yang dipercaya pun tidak boleh ikut mendengarkan.

Tapi setiba di luar rumah, segera Siau Hong mengitar pula ke sisi rumah, ia mendekam di bawah jendela ruang tamu itu untuk mendengarkan siapakah nama musuh besarnya itu jika sebentar Be-hujin kena dipancing oleh A Cu.

Tapi sampai sekian lamanya keadaan dalam ruangan ternyata sepi-sepi saja, Siau Hong mendekam di luar jendela dengan sendirinya tidak mengetahui keadaan di dalam. Dan sesudah sejenak kemudian, barulah terdengar Be-hujin membuka suara dengan menghela napas perlahan, “Un… untuk apa kau datang kemari lagi?”

Siau Hong menjadi heran apa maksud pertanyaan itu. Baru sekali ini A Cu datang ke situ dengan menyamar, mengapa ditegur “untuk apa datang lagi?”

Ia dengar A Cu sedang menjawab, “Aku benar-benar mendapat kabar bahwa Kiau Hong bermaksud mencelakaimu, maka jauh-jauh sengaja datang kemari untuk memberitahukan padamu.”

“O, te… terima kasih atas maksud baik Pek-tianglo,” sahut Be-hujin.

“Be-hujin,” demikian tiba-tiba A Cu menahan suaranya, “sejak Be-hiante meninggal, banyak di antara para tianglo kita ingin memperingati jasa-jasanya dahulu, maka ada maksud mengundang engkau sudi menjabat kedudukan tianglo di dalam pang kita.”

Ucapan A Cu itu bernada sungguh-sungguh, sebaliknya diam-diam Siau Hong merasa geli. Tapi mau tak mau ia pun memuji kepintaran A Cu. Tak peduli Be-hujin akan terima atau tidak atas tawaran itu, paling sedikit janda muda itu akan dibikin senang dulu hatinya.

Maka terdengar Be-hujin menjawab, “Ah, aku mempunyai kepandaian apa, sehingga ada harganya diangkat menjadi tianglo pang kita? Padahal aku pun tidak menjadi anggota Kay-pang, apa kedudukan ‘tianglo’ itu tidak selisih terlalu jauh dengan diriku?”

“Tapi aku bersama Song-tianglo, Go-tianglo dan lain-lain mendukung dengan sepenuh tenaga dan soal ini mungkin segera akan menjadi kenyataan,” kata A Cu. “Selain itu, aku mendapat pula suatu berita mahapenting, yaitu ada sangkut pautnya dengan terbunuhnya Be-hiante.”

“O, ya?” sahut Be-hujin dengan nada tetap dingin.

“Tempo hari waktu melawat Ci-tianglo di Kota Wi-hui, aku bertemu dengan Tio-ci-sun, dia memberitahukan sesuatu padaku bahwa dia mengetahui siapa pembunuh Be-hiante.”

Mendadak terdengar suara nyaring pecahnya cangkir jatuh, Be-hujin berseru kaget, lalu berkata, “Engkau ber… berkelakar?”

Suaranya kedengaran sangat marah, tapi juga rada gugup dan khawatir.

“Sungguh, begitulah Tio-ci-sun katakan padaku,” demikian A Cu menegaskan. “Dia mengetahui pembunuh Be-hiante yang sebenarnya.”

“Omong kosong, omong kosong! Dari mana dia tahu? Engkau ngaco-belo belaka!” seru Be-hujin dengan suara gemetar.

“Tapi memang benar begitu, Hujin jangan khawatir, dengarkan yang jelas,” demikian A Cu menjawab pula. “Kata Tio-ci-sun, ‘Pada hari Tiongciu tahun lalu….’.”

Belum selesai ucapannya, kembali terdengar Be-hujin menjerit kaget sekali, menyusul orangnya lantas jatuh pingsan.

“Be-hujin, Be-hujin!” cepat A Cu berusaha menyadarkannya dengan memijat jin-tiong-hiat, yaitu tempat di bawah hidung dan di atas bibir nyonya janda itu.

Maka perlahan Be-hujin siuman kembali, katanya segera, “Ken… kenapa engkau menakut-nakuti aku?”

“Bukan menakut-nakutimu, tapi benar-benar Tio-ci-sun berkata begitu padaku,” sahut A Cu. “Cuma sayang dia sudah mati sekarang, kalau tidak tentu dapat dijadikan saksi. Dia menceritakan bahwa pada hari Tiongciu tahun yang lalu Kiau Hong, Tam-kong, Tam-poh dan ada lagi pembunuh Be-hiante itu, mereka bersama-sama merayakan hari Tiongciu di rumah ‘Toako Pemimpin’ itu.”

“Apa benar dia mengatakan begitu?” terdengar Be-hujin menarik napas lega.

“Memang begitu,” sahut A Cu. “Semula aku juga tidak percaya, maka telah kutanya Tam-kong, tapi kakek itu hanya mendelik dan tidak mau mengatakan, sebaliknya Tam-poh lantas membenarkan keterangan Tio-ci-sun itu, sebab dia sendirilah yang mengatakan kejadian itu kepada Tio-ci-sun. Pantas saja Tam-kong marah, sebab sang istri dianggap suka memberitahukan segala apa kepada Tio-ci-sun.”

“O, lalu bagaimana?” tanya Be-hujin.

“Lalu urusan menjadi mudah diselidiki bukan?” sahut A Cu. “Yang berkumpul di rumah ‘Toako Pemimpin’ itu terbatas dari beberapa orang saja. Cuma sayang Tam-kong dan Tam-poh sudah mati, Kiau Hong adalah musuh kita, tidak mungkin dia mau mengatakan, maka terpaksa kita harus tanya sendiri kepada Toako Pemimpin itu.”

“Ehm, boleh juga, memang harus kau tanya padanya,” ujar Be-hujin.

“Tapi, sesungguhnya juga menertawakan, sebab siapa gerangan Toako Pemimpin itu, di mana tempat tinggalnya, aku sendiri pun tidak tahu.”

“Hm, kau bicara berputar-putar, ternyata tujuanmu adalah ingin memancing nama Toako Pemimpin itu,” kata Be-hujin.

“Ya, jika kurang bebas, tak usah Hujin katakan padaku. Hujin sendiri boleh menyelidiki dulu hingga terang, lalu kita akan bikin perhitungan pada pembunuh itu,” sahut A Cu.

Siau Hong tahu siasat A Cu itu adalah “mundur dulu untuk kemudian mendesak maju”. Pura-pura tidak menaruh perhatian agar tidak menimbulkan curiga Be-hujin, tapi di dalam hati sebenarnya sangat gelisah.

Maka terdengar Be-hujin menjawab dengan dingin, “Tentang nama Toako Pemimpin itu seharusnya dirahasiakan agar tidak diketahui Kiau Hong, tapi Pek-tianglo adalah orang sendiri, buat apa aku membohongimu? Dia adalah….”

Tapi sampai di sini, ia tidak melanjutkan lagi.

Keruan Siau Hong sangat tertarik oleh ucapan terakhir itu, ia sedang pasang kuping dengan menahan napas hingga debaran jantung sendiri pun kedengaran. Tapi sampai sekian lama Be-hujin tidak menyebut nama “Toako Pemimpin” itu.

Agar lama kemudian, dengan menghela napas perlahan barulah Be-hujin membuka suara pula, “Kedudukan Toako Pemimpin itu sangat agung, pengaruhnya besar, sekali dia memberi perintah akan dapat mengerahkan berpuluh ribu tenaga. Dia… paling suka membela kawan, jika kau tanya dia tentang nama pembunuh Tay-goan, betapa pun takkan dia katakan.”

Walaupun mendongkol karena Be-hujin tetap merahasiakan nama Toako Pemimpin itu, tapi diam-diam Siau Hong dapat merasa lega, pikirnya, “Bagaimanapun juga perjalananku ini tidak sia-sia lagi. Biarpun nyonya Be tidak mengatakan nama orang itu, tapi dengan keterangan ‘berkedudukan agung, berpengaruh besar, perintah dapat mengerahkan berpuluh ribu tenaga’, dari sini dapat kuraba siapa gerangannya. Tokoh hebat seperti itu di dalam Bu-lim tentu dapat dihitung dengan jari.”

Sedang Siau Hong mengingat-ingat siapa gerangan tokoh yang dimaksudkan itu, sementara itu terdengar A Cu berkata, “Dalam Bu-lim sekarang tokoh yang sekali perintah dapat mengerahkan berpuluh ribu tenaga, antara lain Pangcu dari Kay-pang memang mempunyai wibawa sebesar itu, begitu pula Ciangbun Hongtiang dari Siau-lim-pay mungkin juga dapat, dan…. dan….”

“Sudahlah, engkau tidak perlu menerka secara ngawur, biarlah kutunjukkan lebih jelas lagi,” kata Be-hujin. “Coba arahkan terkaanmu ke jurusan barat daya.”

“Barat daya? Masakah di daerah sana ada sesuatu tokoh besar? Agaknya tidak ada,” demikian A Cu bergumam sendiri.

Tiba-tiba Be-hujin mengulur jarinya, “plok”, mendadak kertas jendela kena dicoblosnya hingga pecah, tempat coblosan jari itu tepat di atas kepala Siau Hong, keruan ia terkejut dan lekas-lekas mengkeret ke bawah.

Maka terdengar Be-hujin sedang berkata, “Aku tidak paham ilmu silat, tapi Pek-tianglo tentu tahu, siapakah di dunia ini yang paling mahir menggunakan ilmu demikian?”

“Ilmu demikian, ilmu tiam-hiat dengan jari?” A Cu menegas. “Ah, kukira yang paling lihai antara lain adalah Kim-kong-ci dari Siau-lim-pay, Toat-hun-ci dari keluarga The di Jongcu juga sangat hebat dan masih ada pula….”

Diam-diam Siau Hong berteriak-teriak di dalam hati, “Salah, salah! Dalam hal ilmu tiam-hiat, di jagat ini tiada yang dapat menandingi It-yang-ci keluarga Toan di Tayli, apalagi nyonya itu sudah menandaskan letaknya di daerah barat daya.”

Benar juga lantas terdengar Be-hujin berkata, “Pengalaman Pek-tianglo sangat luas, tapi mengapa soal kecil ini tidak kau ingat lagi? Apa barangkali karena terlalu letih menempuh perjalanan jauh atau karena otakmu tiba-tiba menjadi puntul hingga It-yang-ci yang maha tersohor dari keluarga Toan juga terlupa?”

Ucapan nyonya itu bernada olok-olok, tapi A Cu menjawab, “It-yang-ci keluarga Toan sudah tentu kutahu, tapi keluarga Toan selamanya merajai daerah Tayli, sudah lama tiada hubungan dengan dunia persilatan di Tionggoan. Jika dikatakan Toako Pemimpin itu ada sangkut paut dengan keluarga Toan, kukira ada kesalahan dalam pemberitaan orang.”

“Meski keluarga Toan adalah raja dari Tayli, tapi anggota keluarga mereka toh tidak cuma satu orang saja,” sahut Be-hujin. “Dan orang yang tidak menjadi raja dapat pula sering datang ke Tionggoan sini. Inilah jika kau ingin tahu, Toako Pemimpin itu tak-lain-tak-bukan adalah adik baginda raja Tayli sekarang, she Toan bernama Cing-sun, bergelar Tin-lam-ong dengan jabatan sebagai Po-kok-tay-ciangkun.”

Sebagaimana diketahui, Siau Hong dan A Cu kenal baik dengan Toan Ki dan tahu pula pemuda itu berasal dari Tayli. Tapi “Toan” adalah nama kenegaraan Tayli, yaitu sama seperti halnya Kerajaan Song she Tio, keluarga Kerajaan Se He she Li, keluarga Kerajaan Liau she Yalu, banyak sekali di antara rakyat jelata memiliki she kerajaan itu. Sedangkan Toan Ki sendiri tidak pernah menyatakan dirinya adalah anak raja, dengan sendirinya Siau Hong dan A Cu tidak pernah menduga pemuda itu adalah keturunan raja.

Tapi nama Toan Cing-beng dan Toan Cing-sun sangat tenar sekali di dunia persilatan, demi mendengar Be-hujin menyebut nama “Toan Cing-sun” tadi, seketika badan Siau Hong bergetar. Diam-diam ia pun merasa bersyukur bahwa usahanya selama beberapa bulan ini ternyata tidak sia-sia belaka, akhirnya dapat juga mengetahui nama orang yang dicarinya itu.

Dalam pada itu A Cu telah berkata, “Kedudukan Toan-ongya itu sangat agung, kenapa dia ikut campur bunuh-membunuh di antara orang Kangouw?”

“Bunuh-membunuh dalam pertarungan biasa di kalangan Kangouw sudah tentu Toako Pemimpin itu tidak sudi ikut campur, tapi jika menyangkut mati-hidup negeri Tayli mereka, apakah dia mau tinggal diam?” ujar Be-hujin.

“Sudah tentu dia akan ikut campur,” kata A Cu.

“Menurut cerita Ci-tianglo dahulu, katanya Kerajaan Song kita adalah penghalang di utara negeri Tayli, bila orang Cidan berhasil mencaplok Song, langkah selanjutnya adalah Tayli yang akan ditelannya pula,” demikian Be-hujin bercerita. “Dari itu, sebagai kedua negeri yang berdampingan laksana gigi dan bibir, sudah tentu negeri Tayli tidak ingin Song kita musnah di tangan orang Cidan.”

“Ya, benar juga,” sahut A Cu.

Lalu Be-hujin melanjutkan, “Menurut cerita Ci-tianglo, waktu itu kebetulan Toan-ongya sedang bertamu di markas pusat Kay-pang, tengah Ong-pangcu menjamu Toan-ongya itu, tiba-tiba mendapat kabar bahwa jago Cidan akan menyerbu Siau-lim-si untuk merampok kitab pusaka di biara bersejarah itu. Tanpa pikir lagi Toako Pemimpin itu lantas mengerahkan para kesatria menuju ke Gan-bun-koan untuk mencegat kedatangan musuh. Padahal tindakannya itu lebih tepat dikatakan demi keselamatan negeri Tayli sendiri. Konon ilmu silat Toan-ongya itu sangat tinggi, orangnya sangat baik budi pula. Kedudukannya sangat diagungkan di negeri Tayli, dia berani membuang uang seperti membuang sampah, asal ada orang membuka mulut padanya, biarpun beratus atau beribu tahil perak juga tidak menjadi soal baginya. Coba, orang yang royal seperti dia, kalau bukan dia yang diangkat menjadi Toako Pemimpin dari jago-jago silat Tionggoan, habis siapa lagi?”

“Kiranya Toako Pemimpin itu tak-lain-tak-bukan adalah Tin-lam-ong dari negeri Tayli, dan semua orang sampai mati juga tak mau mengaku, kiranya demi untuk membela dia,” kata A Cu.

“Pek-tianglo, rahasia ini jangan sekali-kali kau katakan lagi kepada orang ketiga, hubungan Toan-ongya dengan Kay-pang kita adalah lain daripada yang lain, jika rahasia ini tersiar tidak sedikit bahayanya,” demikian pinta Be-hujin.

“Ya, sudah tentu takkan kubocorkan rahasia ini,” sahut A Cu.

“Pek-tianglo, paling baik engkau bersumpah agar aku tidak ragu-ragu,” kata janda muda itu.

“Baiklah,” jawab A Cu tanpa pikir. “Bila Pek Si-kia memberitahukan pada orang lain tentang rahasia ‘Toako Pemimpin’ itu adalah Toan Cing-sun, biarlah Pek Si-kia mengalami nasib dicencang tubuhnya, badan Pek Si-kia akan hancur dan nama busuk, selamanya Pek Si-kia akan dikutuk oleh sesama kawan Bu-lim.”

Demikian kelicikan A Cu. Sumpahnya itu kedengaran sangat berat, tapi sebenarnya sangat licin. Setiap katanya ia uruk semua dosa atas diri Pek Si-kia, orang yang akan dicencang hingga luluh adalah Pek Si-kia, yang akan busuk namanya dan dikutuk adalah Pek Si-kia, tapi tiada sangkut paut apa-apa dengan A Cu.

Namun Be-hujin ternyata sangat puas mendengar sumpah itu.

Lalu A Cu berkata pula, “Jika nanti aku bertemu dengan Tin-lam-ong dari Tayli itu, aku akan berusaha memancing dia menceritakan siapa-siapa lagi yang ikut hadir di rumahnya waktu merayakan hari Tiongciu tahun yang lalu, dari situ tentu aku dapat mengetahui siapa pembunuh Be-hiante yang sebenarnya.”

Dengan terharu lalu Be-hujin mengucapkan terima kasihnya.

“Harap Hujin menjaga diri baik-baik, Cayhe ingin mohon diri saja,” demikian A Cu lantas pamit.

“Siaulicu baru menjadi janda, maafkan kalau tidak dapat mengantar jauh-jauh,” ujar Be-hujin.

“Ah, Hujin jangan sungkan,” sahut A Cu sambil mengundurkan diri. Sampai di luar, ia lihat Siau Hong sudah menanti di kejauhan. Mereka hanya saling pandang sekejap, tanpa berkata lagi mereka lantas menuju ke arah datangnya tadi.

Suasana sunyi senyap, rembulan sabit remang-remang menyinari jalan raya Sinyang itu. Siau Hong jalan berendeng dengan A Cu. Sesudah belasan li jauhnya, dengan menghela napas kemudian Siau Hong berkata, “Terima kasih, A Cu.”

Tapi A Cu cuma tersenyum tawar saja, tanpa menjawab. Meski muka A Cu penuh keriput karena dalam penyamarannya sebagai Pek Si-kia, tapi dari sorot matanya, Siau Hong dapat menyelami perasaan A Cu yang menanggung rasa khawatir, ragu, dan cemas.

Segera Siau Hong tanya, “Usaha kita telah berhasil dengan baik, mengapa engkau malah murung?”

“Kupikir keluarga Toan di Tayli itu bukanlah sembarangan orang, jika engkau pergi ke sana seorang diri untuk menuntut balas, sungguh besar sekali risikonya bagimu,” demikian sahut A Cu.

“O, kiranya kau merasa khawatir bagiku,” ujar Siau Hong. “Tapi tak perlu kau khawatirkan, sama sekali aku takkan bertindak secara gegabah. Seperti apa yang dikatakan Be-hujin, andaikan tiga tahun atau lima tahun belum berhasil membalas dendam, biarlah aku menanti hingga delapan tahun atau sepuluh tahun. Pada akhirnya pasti akan datang suatu hari, di mana aku akan mencacah badan Toan Cing-sun untuk umpan anjing liar.”

Bicara sampai di sini, tak tertahan lagi ia mengertak gigi dengan penuh rasa dendam kesumat.

“Toako, betapa pun engkau harus bertindak secara hati-hati,” kata A Cu.

“Sudah tentu, jiwaku tidak menjadi soal, tapi sakit hati ayah-bundaku kalau tak terbalas, mati pun aku takkan tenteram,” sahut Siau Hong. Perlahan ia pegang tangan A Cu yang halus itu, lalu sambungnya, “A Cu, jika aku terbinasa di tangan Toan Cing-sun, lalu siapakah yang akan mengawani kau berburu dan menggembala domba di luar Gan-bun-koan?”

“Ai, aku justru sangat takut, aku merasa dalam urusan ini ada sesuatu yang tidak beres,” sahut A Cu. “Be-hujin… Be-hujin yang berwujud cantik molek itu, entah mengapa, asal dipandang dia, lantas timbul rasa takut dan jemu dalam hatiku.”

“Janda muda itu sangat pintar dan cerdik, karena kau khawatir penyamaranmu diketahui, dengan sendirinya kau takut padanya,” ujar Siau Hong.

Dan sesudah mereka sampai di hotel di dalam Kota Sinyang, segera Siau Hong minta pelayan membawakan arak, ia minum sepuasnya tanpa batas sambil memeras otak bagaimana jalan paling baik untuk menuntut balas.

Demi teringat keluarga Toan di Tayli, dengan sendirinya ia lantas teringat pula kepada saudara angkatnya yang baru, Toan Ki. Tiba-tiba ia terkesiap, dengan termangu-mangu ia angkat mangkuk araknya tanpa meminumnya, air mukanya seketika berubah hebat.

Melihat itu, A Cu mengira sang toako telah melihat sesuatu apa, ia coba memandang sekitar situ, tapi tiada sesuatu yang mencurigakan. Segera ia tanya dengan perlahan, “Toako, ada apakah?”

Karena itu, Siau Hong kaget dan sadar dari lamunannya, sahutnya tergegap-gegap, “O, ti… tiada apa-apa.”

Lalu ia angkat mangkuk araknya dan sekaligus ditenggaknya hingga habis. Tapi mendadak Siau Hong keselak dan terbatuk-batuk hingga arak yang sudah masuk ke tenggorokan itu tersembur keluar, baju bagian dada menjadi basah kuyup.

Padahal biasanya kekuatan minum arak Siau Hong boleh dikatakan tanpa takaran, betapa tinggi lwekangnya sungguh tiada taranya. Tapi kini minum semangkuk arak saja sudah lantas keselak, hal ini benar-benar sangat luar biasa.

Diam-diam A Cu merasa khawatir, tapi ia pun tidak suka banyak bertanya. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa pada waktu minum tadi mendadak Siau Hong teringat pada saat mengadu minum dengan Toan Ki di Kota Bu-sik tempo hari, di mana Toan Ki telah menggunakan khikang yang mahahebat dari “Lak-meh-sin-kiam” untuk memeras air arak yang diminumnya itu hingga mengucur keluar lagi melalui jari tangan. Ilmu sakti semacam itu saja Siau Hong sendiri harus mengaku kalah, apalagi Toan Ki diketahuinya sama sekali tak mahir ilmu silat dan lwekangnya toh sudah begitu lihai.

Kini musuh besarnya, yaitu Toan Cing-sun, adalah seorang tokoh terkemuka dari keluarga Toan di Tayli, kalau dibandingkan Toan Ki, tidak perlu diragukan lagi pasti berpuluh kali lebih lihai. Dan jika begitu, dendam kesumat ayah-bunda itu apakah dapat dibalasnya?

Dengan sendirinya Siau Hong tidak tahu bahwa dapatnya Toan Ki memiliki tenaga dalam sehebat itu hanya secara kebetulan saja karena dia telah makan katak merah hingga timbul tenaga sakti Cu-hap-sin-kang dalam badannya. Kalau melulu bicara tentang tenaga dalam, memang benar entah berpuluh kali Toan Ki lebih kuat daripada ayahnya. Tapi dalam hal “Lak-meh-sin-kiam,” di dunia ini selain Toan Ki hakikatnya tiada orang kedua lagi yang mampu memainkannya secara lengkap.

Walaupun A Cu tidak tahu persis apa yang sedang dipikirkan sang toako, tapi ia dapat menduga pasti mengenai urusan membalas dendam. Maka hiburnya, “Toako, soal menuntut balas tidak perlu terlalu tergesa-gesa. Kita harus menyiapkan rencananya untuk kemudian bertindak. Andaikan jumlah musuh lebih banyak daripada kita, kalau kita tak bisa menang dengan kekuatan, apakah kita tak dapat mengalahkan mereka dengan akal?”

Siau Hong menjadi girang, teringat olehnya gadis itu sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, sungguh merupakan seorang pembantu tepercaya.

Segera ia menuang arak pula semangkuk penuh dan ditenggaknya habis, lalu katanya, “Ya, benar. Tak bisa menang dengan kekuatan, biarlah kita melawannya dengan akal. Sakit hati ayah-bunda setinggi langit, dendam kesumat ini harus kubalas, maka tentang peraturan dan etiket Kangouw tak perlu lagi digubris, segala cara keji pun boleh dipakai.”

“Toako, selain dendam ayah-ibu kandungmu, ada pula sakit hati pembunuhan ayah-bunda angkat dan dendam kesumat gurumu Hian-koh Taysu,” kata A Cu.

“Benar!” seru Siau Hong mendadak sambil menggebrak meja. “Sakit hati berganda itu masakah cuma sekali urus sudah dapat selesai?”

“Toako, dahulu waktu kau belajar silat dengan padri saleh dari Siau-lim-si itu, mungkin karena usiamu masih terlalu muda hingga lwekang yang paling hebat dari Siau-lim-pay itu tidak lengkap kau pelajari. Coba kalau kau mempelajarinya, biarpun betapa lihai It-yang-ci dari keluarga Toan di Tayli itu juga bukan tandingan ‘Ih-kin-keng’ ciptaan Dharma Cosu dari Siau-lim-pay itu,” demikian kata A Cu. “Aku pernah dengar cerita Buyung-loya tentang berbagai aliran ilmu silat di dunia ini, beliau mengatakan ilmu keluarga Toan di Tayli yang paling lihai bukanlah It-yang-ci, tapi adalah semacam ilmu yang disebut ‘Lak-meh-sin-kiam’.”

“Benar,” kata Siau Hong sambil berkerut kening. “Buyung-cianpwe itu adalah orang kosen Bu-lim, setiap pandangannya memang tepat sekali. Sebabnya aku merasa sedih justru sedang memikirkan tentang Lak-meh-sin-kiam yang lihai itu.”

“Dahulu waktu Buyung-loya membicarakan ilmu silat di dunia ini dengan Kongcu, selalu aku berdiri di samping untuk melayani mereka, dengan sendirinya aku dapat mendengar sedikit-banyak apa yang mereka percakapkan,” demikian A Cu menutur lebih jauh. “Menurut Buyung-loya, ke-72 macam ilmu silat dari Siau-lim-si yang terkenal itu sebenarnya cuma biasa saja, selain dapat memainkan, bahkan beliau dapat mematahkan setiap ilmu silat itu!”

“Ai, sungguh cianpwe yang hebat, sungguh menyesal aku tidak dapat berkenalan dengan beliau,” kata Siau Hong dengan gegetun.

Maka A Cu menyambung pula ceritanya, “Waktu itu Buyung-kongcu telah menjawab, ‘Ayah, Kohbo (bibi) dari keluarga Ong, dan Piaumoay justru suka mengagulkan pengetahuan mereka yang luas dalam hal ilmu silat di jagat ini, tapi kalau cuma luas pengetahuannya tanpa mempelajari dengan mahir, apa gunanya?’ – Dan Buyung-loya telah berkata, ‘Bicara tentang mahir, apakah gampang soalnya? Padahal ilmu silat sejati Siau-lim-pay terletak pada kitab Ih-kin-keng, asal kitab itu dapat dibaca dan dilatih hingga sempurna, maka segala ilmu silat yang biasa jika dimainkan pasti akan berubah menjadi mahasakti dan tiada terkatakan daya gunanya!’.”

Siau Hong mengangguk-angguk tanda sependapat dengan cerita itu. Memang, asal dasarnya kuat, tenaga dalamnya juga kuat, maka setiap gerakan yang sepele sekalipun dapat menimbulkan daya gempur yang dahsyat, hal ini cukup diketahui oleh Siau Hong, yaitu seperti waktu menempur para kesatria di Cip-hian-ceng tempo hari, hanya dengan “Thay-co-tiang-kun” yang biasa saja ia telah membikin lawan-lawannya tak berdaya sama sekali.

Kini mendengar pendapat Buyung-loya yang diceritakan A Cu itu ternyata sepaham dengan dirinya, dalam gembiranya terus saja ia menenggak dua mangkuk arak pula. Lalu katanya, “Ehm, cocok dengan pendapatku. Sayang Buyung-siansing itu sudah wafat, kalau tidak, pasti aku akan berkunjung ke tempat tinggalnya untuk berkenalan dengan orang kosen yang jarang terdapat itu.”

Tiba-tiba A Cu tersenyum, katanya, “Pada waktu hidupnya tidak pernah Buyung-loya menerima tamu, kalau engkau, sudah tentu terkecuali.”

Siau Hong memandang sekejap pada gadis itu dengan tertawa. Ia tahu maksud “kecuali” yang dikatakan A Cu itu penuh arti.

Melihat sorot mata Siau Hong itu, tanpa merasa wajah A Cu menjadi merah dan menunduk.

Setelah menenggak lagi semangkuk arak, lalu Siau Hong berkata pula, “Usia Buyung-loya agaknya belum terlalu tua, bukan?”

“Ya, dalam usia 50-an memang belum terlalu tua,” sahut A Cu.

“O, cuma 50-an umurnya? Dalam usia setingkat itu, dengan lwekangnya yang tinggi, seharusnya ilmu silatnya sedang berada di tingkat paling gilang-gemilang, entah sebab apa beliau wafat?” tanya Siau Hong.

“Meninggalnya Loya disebabkan menderita sakit apa, tiada seorang pun antara kami mengetahui,” sahut A Cu. “Cepat sekali beliau meninggal dunia, paginya mendadak jatuh sakit, petangnya lantas terdengar Kongcu menangis tergerung-gerung, kami lantas diberi tahu, katanya Loya sudah wafat.”

“Ai, entah mendapat serangan penyakit apa? Sayang, sungguh sayang! Coba kalau Sih-sin-ih berada di sekitar situ, biar bagaimanapun tabib itu harus diseret ke sana untuk menolong jiwa Buyung-loya itu,” ujar Siau Hong dengan gegetun.

Meski dia tak pernah kenal ayah dan anak she Buyung itu, tapi setiap kali mendengar cerita orang tentang tindak tanduk kedua ayah beranak itu, segera timbul semacam rasa kagumnya yang tak terkatakan. Itulah makanya tempo hari ia menolong A Cu tanpa memikirkan sebab dan akibatnya.

Maka A Cu berkata pula, “Tatkala mana Buyung-loya telah menguraikan kitab Ih-kin-keng dari Siau-lim-pay secara jelas kepada Kongcu. Kata beliau, ‘Ih-kin-keng dari Dharma Cosu itu meski tidak pernah kulihat, tapi kalau dinilai secara ilmiah dalam ilmu silat, sebabnya Siau-lim-pay dapat tersohor sebenarnya adalah jasa Ih-kin-keng itu. Ke-72 macam ilmu silat yang hebat itu meski masing-masing ada kebagusan sendiri-sendiri, tapi kalau melulu mengandalkan ke-72 macam ilmu itu rasanya masih belum cukup untuk memimpin dunia persilatan dan dipuja sebagai pusat ilmu silat dunia.’

“Walaupun demikian, Loya lantas memberi petuah pula kepada Kongcu agar jangan mentang-mentang ilmu silat warisan leluhur sendiri sangat hebat, lalu memandang enteng anak murid Siau-lim-pay. Dengan memiliki Ih-kin-keng, bukan mustahil dalam Siau-lim-si itu terdapat padri yang berbakat kuat hingga dapat memahami isi kitab pusaka itu.”

“Pandangan Buyung-siansing itu memang benar dan sangat tepat,” ujar Siau Hong.

“Dan sesudah Loya meninggal dunia, terkadang Kongcu suka membicarakan pesan Loya, katanya selama hidup beliau boleh dibilang sudah pernah melihat segala macam ilmu silat di dunia ini, cuma sayang ‘Lak-meh-sin-kiam-keng’ dari keluarga Toan di Tayli dan ‘Ih-kin-keng’ dari Siau-lim-pay, hanya dua macam kitab itulah yang belum pernah dilihatnya.

“Dalam pembicaraan Loya, kedua kitab ilmu silat itu telah disinggung bersama, maka dapat diduga, jika ingin melawan Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan di Tayli, agaknya orang harus menggunakan Ih-kin-keng dari Siau-lim-pay itu. Maka bila orang dapat mencuri Ih-kin-keng yang tersimpan di Po-te-ih dalam Siau-lim-si itu, lalu melatihnya selama beberapa tahun, maka terhadap Lak-meh-sin-kiam atau Chit-meh-im-to apa segala kuyakin tidak perlu takut lagi.”

Bicara sampai di sini, wajah A Cu menampilkan senyum-tak-senyum yang aneh.

Mendadak Siau Hong melonjak, teringat sesuatu olehnya, serunya dengan tertawa, “Hah, kiranya engkau… engkau setan cilik ini….”

“Toako,” sahut A Cu dengan tertawa, “dengan mencuri kitab ini sebenarnya, maksudku akan kupersembahkan kepada Buyung-kongcu, dan sesudah dibacanya akan kubakar di depan makam Loya untuk memenuhi harapannya yang belum tercapai pada masa hidupnya. Tapi kini, sudah tentu kupersembahkan kitab ini kepadamu.”

Habis berkata, terus saja ia mengeluarkan satu bungkusan kecil dan diserahkan pada Siau Hong.

Seperti diketahui, malam itu dengan mata kepala sendiri Siau Hong menyaksikan A Cu menyamar menjadi Ti-jing Hwesio dan berhasil mencuri sesuatu dari balik cermin perunggu di ruang Po-te-ih di Siau-lim-si itu, sungguh tak tersangka bahwa barang curian itu adalah Ih-kin-keng yang merupakan lwekang-pit-kip atau kitab pusaka berlatih lwekang yang paling hebat dari Siau-lim-pay.

Waktu A Cu tertawan di Cip-hian-ceng, karena dia adalah kaum wanita, para kesatria tidak menggeledah badannya, dengan sendirinya Hian-cit dan Hian-lan Taysu dari Siau-lim-pay itu mimpi pun tidak menyangka bahwa kitab pusaka biara mereka justru berada pada gadis itu.

Begitulah maka Siau Hong geleng-geleng kepala, katanya, “Kau telah menyerempet bahaya dan akhirnya berhasil mencuri kitab ini, jika maksud tujuanmu sebenarnya hendak dipersembahkan kepada Buyung-kongcu, mana boleh sekarang aku menerimanya?”

“Toako,” kata A Cu, “engkau salah!”

Siau Hong menjadi heran, sahutnya, “Mengapa aku salah?”

“Habis kitab ini kucuri bukan atas perintah Buyung-kongcu, tapi adalah maksud yang timbul dari pikiranku sendiri. Sekarang ingin kuserahkan kitab ini kepada siapa saja kan tiada yang dapat melarang aku? Apalagi jika kitab ini sudah kau baca, kita masih dapat menyerahkannya pula kepada Buyung-kongcu. Dendam kesumat ayah-bundamu harus dibalas, maka segala jalan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi, baik yang keji maupun yang kotor juga harus kita tempuh, mengapa soal pinjam lihat satu jilid seperti ini mesti main sungkan?”

Ucapan A Cu benar-benar telah menggugah semangat Siau Hong, dengan sungguh-sungguh ia memberi hormat kepada si gadis, katanya, “Memang benar teguran Hianmoay, demi urusan besar masakah mesti pikirkan soal kecil?”

A Cu tertawa, sahutnya, “Apalagi engkau sendiri asalnya juga anak murid Siau-lim-pay, dengan memakai ilmu Siau-lim-pay untuk membalas sakit hati Hian-koh Taysu justru suatu tindakan yang tepat dan masuk di akal, masakah keliru perbuatan kita ini?”

Sungguh girang dan terima kasih Siau Hong tak terhingga. Segera ia membuka buntelan kertas minyak tadi, ia lihat isinya adalah satu jilid buku kecil berwarna kuning. Di atas kulit buku tertulis beberapa huruf aneh yang tak dikenalnya.

Diam-diam Siau Hong mengeluh. Ia coba membalik halaman pertama kitab itu, ia lihat di situ penuh tertulis huruf yang mencang-mencong, ada yang melingkar-lingkar, ada yang serabutan seperti cakar ayam, satu huruf pun tak dikenalnya.

“Ai, kiranya tulisan Hindu kuno, sialan!” demikian seru A Cu. “Waktu aku menyaru sebagai Ti-jing Hwesio, di sana aku dapat menyelidiki dengan jelas bahwa kitab asli Ih-kin-keng tersimpan di suatu tempat rahasia di ruang Po-te-ih. Dan hasilnya apa yang kucuri ini memang benar adalah kitab dalam naskah aslinya, tahu begini, lebih baik aku mencuri kitab salinannya saja dalam bahasa kita. Ai, pantas saja padri-padri itu tidak begitu pusing karena kitab pusaka mereka dicuri, kiranya disebabkan kitab ini tiada seorang pun di antara mereka yang dapat membacanya….”

Sambil berkata, berulang-ulang ia menghela napas dengan menyesal dan lesu.

Siau Hong menuangi mangkuknya pula hingga penuh, lalu katanya, “Hianmoay, urusan ini tidak perlu dipikirkan lagi….”

“Hai, ada akal!” mendadak A Cu berseru sambil melonjak girang. “Aku yakin ada seorang yang kenal tulisan Hindu kuno ini. Ialah seorang hoanceng (padri asing), kepandaian padri itu pun sangat hebat.”

Lalu ia ceritakan kejadian Toan Ki ditawan oleh Ciumoti, yaitu padri sakti negeri Turfan, dan menggondolnya ke Koh-soh hendak mencari Buyung-siansing, tapi tak bertemu.

Cerita ini baru pertama kali didengar Siau Hong, keruan ia sangat heran bahwa ada seorang padri asing yang begitu lihai. Cuma ia pun ragu, sebab ilmu silat A Cu sendiri tidak terlalu tinggi, untuk menilai kepandaian orang lain mungkin tidak tepat menurut kenyataannya, apalagi Ciumoti itu juga tidak pernah bergebrak sungguh dengan jago kelas satu di hadapan A Cu, maka cerita itu tidak terlalu dalam berkesan di dalam hati Siau Hong, ia pikir sesudah padri itu tidak menemukan orang yang dicarinya, mungkin kini sudah pulang ke Turfan.

Segera ia bungkus kembali kitab Ih-kin-keng itu dan diserahkan kepada A Cu.

“Simpanlah di tempatmu kan sama saja? Masakah di antara kita masih ada perbedaan antara punyamu dan punyaku?” ujar A Cu.

Siau Hong tersenyum, lalu ia masukkan bungkusan itu ke dalam bajunya. Segera ia tenggak habis lagi semangkuk araknya.

Dan selagi ia hendak minum pula, tiba-tiba terdengar suara ramai orang bertindak di luar pintu, mendadak muncul seorang laki-laki tegap yang sekujur badannya berlumuran darah, tangannya membawa sebatang kapak besar sambil mengabat-abitkan senjata itu ke udara dengan serabutan.

Laki-laki tegap itu penuh berewok, sikapnya gagah dan tangkas, tapi sinar matanya tampak buram, kelakuannya seperti orang kurang waras, terang seorang gila.

Siau Hong melihat kapak yang dibawa orang itu buatan dari baja murni, antap sekali bobotnya, tapi ketika diputar orang itu, bukan saja gerak-geriknya sangat teratur, bahkan serangannya tangkas dan penjagaannya rapat, terang bukanlah sembarangan orang gila.

Banyak tokoh Tionggoan yang dikenal Siau Hong, tapi laki-laki ini ternyata tidak dikenalnya. Pikirnya, “Poh-hoat (ilmu permainan kapak) orang ini terang sangat hebat, tapi mengapa tidak pernah kudengar ada seorang jago selihai ini?”

Dalam pada itu laki-laki itu memainkan kapaknya semakin kencang sambil berteriak-teriak, “Lekas, lekas memberi lapor kepada Cukong, katakan musuh sudah datang!”

Karena dia mengabat-abitkan kapaknya di tengah jalan, dengan sendirinya orang yang ingin lewat menjadi takut. Dari sikap orang yang cemas dan khawatir itu. Siau Hong menduga laki-laki itu pasti mengalami sesuatu kejadian yang menakutkan, dari permainan kapaknya itu dapat dilihat pula tenaganya mulai lemah, tapi laki-laki itu masih terus bertahan sekuatnya sambil berteriak-teriak pula, “Cu-hiante, lekas mundur, tak usah urus diriku, lekas memberi kabar kepada Cukong (majikan) lebih penting!”

“Orang ini membela majikannya dengan setia, nyata seorang laki-laki yang harus dipuji, caranya memainkan kapaknya ini sangat memakan tenaga, luka dalam yang akan dideritanya tentu sangat parah,” demikian pikir Siau Hong. Segera ia melangkah keluar kedai dan mendekati laki-laki itu, katanya, “Lauhia (saudara), apakah suka kuajak minum barang secawan dulu?”

Tapi laki-laki itu menjawabnya dengan mata mendelik, mendadak ia berteriak, “Tay-ok-jin, jangan kau lukai cukongku!”

Berbareng itu kapaknya terus membacok ke atas kepala Siau Hong.

Keruan orang-orang yang menonton di pinggir jalan sama berteriak kaget.

Siau Hong juga terkesiap ketika mendengar kata “Tay-ok-jin”. Pikirnya, “Aku dan A Cu justru ingin mencari Tay-ok-jin untuk menuntut balas, kiranya musuh laki-laki ini pun Tay-ok-jin. Meski Tay-ok-jin yang dimaksudkan belum tentu orang yang sama dengan Tay-ok-jin yang hendak kami cari itu, tapi betapa pun biarlah kutolong dulu orang ini.”

Karena itu, bukannya dia mundur untuk menghindarkan serangan laki-laki gila itu, sebaliknya ia mendesak maju malah terus menutuk hiat-to di iga orang.

Tak tersangka, meski pikiran laki-laki itu kurang waras, tapi ilmu silatnya ternyata sangat hebat. Kapak yang luput mengenai sasarannya tadi terus diayun naik ke atas untuk menjuju perut Siau Hong.

Coba kalau ilmu silat Siau Hong tidak jauh lebih tinggi daripada laki-laki itu, pasti serangan ini akan melukainya. Maka cepat Siau Hong ulur tangan kirinya dan tahu-tahu orang itu kena dipegang olehnya terus ditariknya.

Tarikan itu mengandung tenaga dalam yang sangat kuat, memangnya laki-laki itu sudah dalam keadaan payah, dengan sendirinya ia tidak tahan. Badan tergetar dan mendadak ia menubruk ke arah Siau Hong. Rupanya ia menjadi nekat dan bermaksud gugur bersama dengan lawan.

Tapi tangan Siau Hong sangat panjang dan kuat, sekali ia rangkul, tepat laki-laki itu kena disikapnya, sedikit ia kerahkan tenaga, orang itu tak bisa berkutik lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: