Kumpulan Cerita Silat

13/01/2009

Pisau Terbang Li (73)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:01 am

Kurungan dan Belenggu

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Dalam rumah, hawa terasa sangat panas. Empat tiang api terbakar menjilat-jilat.

Kobaran api memanasi keempat dinding rumah dan langit-langit hingga membara.

Wajah Ah Fei terlihat merah padam. Sekujur tubuhnya pun merah padam.

Ia berada di tengah-tengah keempat tiang api itu. Dadanya telanjang. Ia hanya mengenakan celana yang sudah lusuh.

Celananya basah kuyup oleh air.

Keringatnya mengucur keluar dengan deras dan nafasnya memburu.

Seluruh tubuhnya terlihat sangat lelah, bahkan kelihatannya ia hampir semaput.

Seorang tua berambut putih terlihat duduk di salah satu pojok rumah itu sambil mengisap pipanya.

Asap putih mengalir keluar dari lubang hidungnya dan memenuhi pojok rumah itu dengan kabut tipis.

Ia memang orang yang aneh.

Tidak ada yang tahu dari mana dia datang, tidak ada yang tahu ke mana ia akan pergi.

Sebenarnya, bahkan tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Mungkin ia hanya seorang tukang cerita yang miskin.

Atau mungkin ia adalah ‘Si Bijak dari Surga’ yang tiada tandingannya!

Siapapun dia, ialah yang pertama kali terlihat saat orang memasuki pondok kecil itu.

Mata Ah Fei terpejam. Ia tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ.

Sun Xiao Hong terkejut melihatnya dan berseru, “Kakek, apa yang kau lakukan?”

Mata Tuan Sun pun terpejam. Ia mengisap pipanya sekali dan menghembuskan segulung uap putih dari mulutnya.

Jawabnya, “Aku sedang mengukusnya.”

Mata Sun Xiao Hong makin terbelalak. Katanya, “Mengukusnya? Memangnya dia bakpao atau kepiting? Buat apa Kakek mengukusnya?”

Ah Fei benar-benar kelihatan seperti kepiting yang dikukus hidup-hidup.

Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Aku mengukusnya karena aku ingin memaksa seluruh alkohol dalam tubuhnya menguap, supaya ia bisa segera sadar.”

Lalu matanya beralih pada Li Xun Huan dan berkata, “Aku juga sedang berusaha memompa semangat ke dalam pembuluh darahnya, supaya ia bisa menjadi manusia seutuhnya lagi.”

Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, mungkin berikutnya adalah giliranku untuk dikukus. Tapi takutnya, setelah semua alkohol dalam tubuhku menguap, aku ternyata tinggal kulit saja.”

Kata Tuan Sun, “Jadi selain anggur, tidak ada yang lain dalam tubuhmu itu?”

Li Xun Huan mendesah dan berkata, “Mungkin juga perutku ini penuh dengan kesempatan yang buruk.”

Tuan Sun tertawa dan menjawab, “Bagus. Jika perutmu itu tidak penuh dengan pengetahuan, bagaimana mungkin perkataan yang begitu dalam keluar dari mulutmu.”

Tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata, “Sebenarnya sudah lama juga aku ingin mengukusmu. Aku ingin tahu, apa lagi yang ada dalam tubuhmu selain anggur dan pengetahuan. Aku ingin tahu apa yang digunakan oleh Tuhan yang di Surga untuk membentuk orang seperti engkau.”

“Setelah itu mau diapakan?” tanya Sun Xiao Hong.

“Setelah itu aku ingin mengumpulkan semua orang dalam dunia ini dan menjejalkannya apapun yang kutemukan dalam tubuhnya ke dalam perut mereka.”

“Maksud Kakek, supaya semua orang sedikit banyak menjadi serupa dengan dia?”

“Bukan hanya sedikit, makin banyak makin baik.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Bukankah dengan demikian semua orang akan menjadi seperti dia?”

Jawab Tuan Sun, “Apa salahnya jika semua orang menjadi seperti dia?”

“Ada yang salah.”

“Apanya yang salah?”

Sun Xiao Hong menundukkan kepalanya dan terdiam.

Kakek dan cucu ini memang selalu berbicara dalam bentuk tanya jawab. Orang akan merasa sulit untuk menyela pembicaraan mereka.

Baru sekarang Li Xun Huan punya kesempatan untuk berbicara.

“Tetua, jika kau ingin menjadikan seluruh dunia persis seperti aku, rasanya hanya ada satu jenis orang yang akan setuju.”

“Jenis orang bagaimana?” tanya Tuan Sun.

“Penjual arak,” jawab Li Xun Huan.

Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Dalam pandanganku, hanya ada satu jenis orang yang tidak akan setuju.”

“Siapa?” tanya Sun Xiao Hong.

Namun segera setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, ingin sekali kata itu ditariknya kembali.

Ia sudah tahu apa jawaban kakeknya.

Kakeknya tersenyum padanya dan menyahut, “Kau.”

Wajah Sun Xiao Hong langsung bersemu merah. Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan gugup, “Meng….Mengapa aku tidak setuju?”

Jawab kakeknya sambil tersenyum, “Jika semua orang di dunia ini menjadi persis sama dengan dia, kau jadi tidak tahu lagi siapa yang kau inginkan.”

Sun Xiao Hong langsung menoleh menyembunyikan wajahnya yang merah padam bagai bara api.

Apakah hatinya pun membara bagai api?

Api yang membara dalam hati perawan muda. Tuan Sun tergelak dan kembali mengisap pipanya.

Seakan-akan ia tidak melihat Lin Xian Er dalam ruangan itu sama sekali. Mungkin ia berusaha mengacuhkannya, sebab tidak diliriknya wanita itu sekalipun juga. Ia juga tidak menyadari bahwa pipanya sudah mati.

Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Satu-satunya suara yang terdengar adalah letikan bunga api pada tiang api yang berkobar di situ.

Lin Xian Er berjalan perlahan menuju ke depan Ah Fei.

Matanya hanya tertuju pada Ah Fei.

Cahaya kobaran api itu menerpa tubuhnya. Wajahnya menjadi sesaat putih, sesaat merah. Waktu wajahnya merah, ia kelihatan seperti malaikat yang nakal. Waktu wajahnya putih, ia tampak seperti hantu penasaran.

Manusia memang selalu punya dua wajah. Sesaat cantik, sesaat mengerikan.

Tapi Lin Xian Er berbeda. Ia selalu terlihat cantik.

Jika ia adalah seorang malaikat, pasti ia adalah malaikat yang tercantik di seluruh nirwana. Jika ia adalah hantu penasaran, ia pasti adalah hantu penasaran yang tercantik di seantero neraka.

Namun kelihatannya Ah Fei sudah bertekad bulat. Secantik apapun dia, Ah Fei tidak akan memandangnya lagi.

Lin Xian Er mendesah dan berkata, “Aku jauh-jauh datang ke sini karena aku ingin mengatakan dua hal padamu. Apakah kau mau mendengarnya atau tidak, terserah padamu.”

Ah Fei tampak tidak peduli.

Namun mengapa tubuhnya kini terlihat membeku seperti sepotong kayu?

“Hari itu, aku tahu aku sangat menyakiti hatimu. Namun aku tidak bisa berbuat lain. Aku tidak ingin kau mati di tangan ShangGuan JinHong. Itu adalah satu-satunya cara untuk membujuk ShangGuan JinHong supaya tidak membunuhmu.”

Ah Fei masih tampak acuh.

Namun mengapa tangannya kini terkepal erat?

“Hari ini aku datang bukan untuk memohon supaya kau mau mengerti, atau supaya kau mau mengampuni aku. Aku sudah tahu bahwa kita sudah selesai….”

Ia mendesah panjang sebelum meneruskan, “Aku mengatakannya karena aku ingin hatimu menjadi tenang. Selamanya, aku hanya ingin kau hidup berbahagia. Itu saja. Tentang diriku….”

“Sudah cukup,” potong Sun Xiao Hong tajam.

Lin Xian Er tersenyum pahit. Katanya, “Kau benar, aku sudah bicara terlalu banyak.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Lin Xian Er membalikkan badannya dan berjalan keluar.

Ia tidak tergesa-gesa, namun ia juga tidak menoleh ke belakang.

Ah Fei masih terdiam. Matanya terpejam rapat.

Mata Lin Xian Er manatap lurus ke pintu.

Li Xun Huan menahan nafas.

Ia tahu, jika Lin Xian Er keluar dari pintu itu, Ah Fei tidak akan pernah melihatnya lagi untuk selama-lamanya.

Selama Ah Fei tidak melihatnya lagi, Ah Fei bisa mulai dengan hidup barunya.

Lin Xian Er pun tahu dengan pasti, jika ia keluar dari pintu itu, ia sama saja dengan keluar dari dunia ini.

Langkahnya tidak menjadi lambat, namun di matanya kini tersirat rasa takut. Dalam rumah itu, suasana terang benderang bagai siang, di luar, malam gelap gulita tanpa cahaya bulan.

Walaupun bintang bersinar terang di angkasa, Lin Xian Er tidak pernah peduli dengan langit malam.

Ia hanya menyukai gemerlap dunia materi.

Ia sangat suka pujian, kata-kata manis, tepuk tangan meriah. Ia menikmati pesta pora, kelimpahan, dan kemewahan. Ia suka dicintai, ia suka dibenci.

Ia hanya hidup untuk hal-hal ini.

Tanpa hal-hal ini, walaupun hidup, rasanya seperti hidup dalam kubur.

Kegelapan malam terasa semakin mendekat.

Rasa takut yang terbersit di matanya kini menjadi kejengkelan dan kebencian.

Saat itu, rasanya ia ingin membunuh semua orang di dunia ini.

Namun saat itulah, tiba-tiba Ah Fei berdiri dan berseru, “Tunggu dulu.”

‘Tunggu dulu’.

Siapa sangka, dua kata ini dapat mengubah hidup begitu banyak manusia?

Saat itu, Lin Xian Er pun berubah total.

Kini matanya penuh dengan pesona, rasa percaya diri, dan kebanggaan. Ia telah kembali berubah menjadi seorang dewi yang cantik molek.

Belum pernah ia terlihat secantik ini selama hidupnya.

Kebanggaan dan rasa percaya diri adalah riasan wanita yang paling sempurna.

Seorang wanita tanpa kebanggaan dan rasa percaya diri, betapapun cantiknya, tidak akan terlihat menarik sama sekali.

Sama halnya seperti wanita menganggap pria yang sukses adalah pria yang sangat menarik.

Kesuksesan adalah riasan pria yang paling sempurna.

Langkah Lin Xian Er terhenti. Ia tidak menoleh, hanya mendesah halus.

Desahannya sangat lembut, namun membawa nada yang begitu sedih dan berduka.

Tidak pernah ada yang mengira desahan seperti itu dapat keluar dari mulutnya, apalagi dengan kecantikannya saat itu yang tiada taranya.

Hati Li Xun Huan melorot.

Ia tahu bahwa tidak ada musik ataupun suara dalam dunia ini yang lebih efektif daripada desahan seorang wanita yang tidak berdaya, untuk menggerakkan hati seorang pria. Tidak juga suara daun beterbangan di musim gugur, tidak juga suara aliran air sungai yang deras, tidak juga suara harpa yang merdu di malam terang bulan, tidak juga suara suling yang merayu-rayu dalam kegelapan malam. Tidak ada yang bisa menyaingi desahannya yang putus asa.

Li Xun Huan berharap Ah Fei menoleh padanya dan mendengar penjelasannya.

Namun mata Ah Fei lekat pada Lin Xian Er. Telinganya hanya bisa mendengar suaranya.

Kata Lin Xian Er, “Aku sudah selesai berbicara. Aku tidak bisa tinggal lebih lama.”

“Mengapa?”

“Karena aku sudah berjanji, aku hanya akan mengatakan dua kalimat, sesudah itu aku akan pergi.”

“Apakah kau memang ingin pergi?” tanya Ah Fei

“Kalau aku tidak segera pergi, mereka akan mengusirku.”

“Siapa? Siapa yang akan mengusirmu?”

Tiba-tiba matanya menyala dengan semangat yang baru dan berseru lantang, “Mengapa kau membiarkan orang mengusirmu. Ini kan rumahmu.”

Kini Lin Xian Er menoleh dan menatap Ah Fei.

Matanya sudah basah oleh air mata. Mata itu begitu lembut, selembut tetesan embun di pagi hari.

Sampai lama ia hanya menatap Ah Fei, lalu kembali ia mendesah dan bertanya, “Apakah ini masih rumahku?”

Sahut Ah Fei, “Tentu saja. Selama kau mau, ini tetap adalah rumahmu.”

Hati Lin Xian Er bergejolak. Ia sudah akan menghambur ke pelukan Ah Fei, namun tidak jadi dilakukannya. Katanya, “Tentu saja aku mau, tapi aku takut yang lain tidak akan setuju.”

Ah Fei mengertakkan giginya, “Yang tidak setuju, boleh keluar.”

Tuan Sun sungguh berhasil membuat darah Ah Fei mendidih dan membangkitkan semangatnya. Bukan itu saja, namun seluruh emosi dalam hatinya pun kini terangkat ke permukaan.

Jika tubuh seseorang menjadi lemah, perasaannya akan semakin meluap-luap.

Matanya tidak pernah lepas dari Lin Xian Er. Lalu katanya, “Di rumah ini, tidak ada yang berhak mengusirmu. Engkaulah yang berhak mengusir orang lain.”

“Aku sungguh ingin hidup bersamamu, tapi mereka juga adalah teman-temanmu….” Kata Lin Xian Er sambil tersenyum. Setetes air mata bergulir ke pipinya.

Sahut Ah Fei, “Siapapun yang tidak ingin bersahabat denganmu, bukan sahabatku.”

Kini dikalungkannya lengannya di leher Ah Fei dan berkata, “Aku sudah puas hanya mendengar engkau mengatakannya. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang akan aku. Aku tidak peduli bagaimana mereka memperlakukan aku.”

Pintu masih terbuka lebar.

Perlahan Li Xun Huan berjalan ke arah pintu dan keluar ke kegelapan malam.

Sun Xiao Hong mengikutinya. Ia menggigit bibirnya dan berkata, “Apakah kita pergi begitu saja?”

Li Xun Huan tidak menjawab. Kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya.

Sun Xiao Hong berjalan menjajarinya. Katanya dengan marah, “Aku tidak bisa percaya, ternyata dia adalah orang semacam itu! Masih juga ia memperlakukan wanita seperti itu dengan baik…. Tidak tahu terima kasih! Ia hanya peduli akan cintanya dan tanpa ragu-ragu mengkhianati sahabat-sahabatnya!”

Li Xun Huan mengeluh panjang. Katanya, “Kau salah menilai dia.”

“Bagaimana salahnya? Apakah menurutmu dia bukan orang seperti itu?”

“Bukan.”

“Kalau bukan, kenapa dia bertindak seperti barusan?”

Suara Li Xun Huan tercekat, “Karena….karena….”

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Sunlah yang melanjutkan kalimatnya.

“Ia berbuat begitu karena ia tidak bisa mengendalikan diri saat ini,” kata Tuan Sun sambil menghela nafas.

Tanya Sun Xiao Hong, “Mengapa ia tidak bisa mengendalikan diri? Tidak ada yang mengancamnya dengan pisau. Tidak ada yang mengikatnya dengan tali.”

Sahut kakeknya, “Memang benar tidak ada yang memaksanya. Dia sendirilah yang membelenggu dirinya.”

Tuan Sun kembali mendesah dan menambahkan, “Sebenarnya, setiap orang memang punya belenggu dan penjaranya masing-masing.”

Sahut Sun Xiao Hong cepat, “Aku tidak punya.”

“Kau pikir kau tidak punya, karena kau masih anak-anak dan kau belum mengerti.”

Suara Sun Xiao Hong meninggi karena kesal, “Kalau aku dianggap masih anak-anak, ya sudah! Bagaimana dengan dia?”

Ia menunjuk Li Xun Huan dan melanjutkan, “Ia bukan anak-anak, tapi dia tidak punya belenggu ataupun penjara.”

Sahut kakeknya sabar, “Tentu saja dia punya.”

Sun Xiao Hong memandang Li Xun Huan dengan matanya yang besar, “Benarkah?”

Li Xun Huan tersenyum dan menjawab, “Harus kuakui, aku memang punya.”

Kata Tuan Sun, “Ia tidak pernah menyimpan amarah dalam hatinya. Walaupun orang menghina dia, atau menyakitinya, ia tidak pernah marah. Sampai-sampai orang berpikir ia berbuat begitu karena semangat hidupnya sudah tidak ada.”

Li Xun Huan tersenyum.

“Namun ketika ia tahu bahwa sahabatnya ada dalam bahaya, ia akan meninggalkan segala sesuatu untuk menolong mereka. Apakah itu artinya masuk ke dalam air mendidih, atau berjalan melewati bara api, atau ditusuk dengan pisau di dadanya, ia akan melakukan segalanya….”

Tuan Sun mendesah dan melanjutkan lagi, “Karena ‘persahabatan’ adalah penjaranya. Hanya penjara ini yang dapat mendorong semangatnya ke permukaan. Hanya penjara ini yang dapat membuat darahnya bergolak.”

Tanya Sun Xiao Hong, “Lalu bagaimana dengan orang seperti Long Xiao Yun. Apakah ia pun mempunyai penjara?”

“Tentu saja.”

“Apa penjaranya?”

Jawab Tuan Sun, “Kekayaan dan kekuasaan!”

“Namun ia ingin membunuh Li Xun Huan bukan demi harta atau kekuasaan. Ia tahu pasti bahwa Li Xun Huan bukan orang yang akan bertempur demi harta atau kekuasaan.”

“Ia ingin membunuh Li Xun Huan karena belenggu dalam hatinya,” sahut kakeknya.

“Belenggu apa?”

Tuan Sun menoleh pada Li Xun Huan dan berhenti bicara.

Wajah Li Xun Huan terlihat lebih muram daripada kegelapan malam.

Sun Xiao Hong jadi tahu jawabannya.

Long Xiao Yun membenci Li Xun Huan karena ia selalu curiga, selalu cemburu.

Ia curiga Li Xun Huan akan membalas perbuatannya yang dulu.

Ia cemburu akan kehormatan dan kemurahan hati Li Xun Huan. Karena ia tidak mungkin pernah menjadi seperti itu.

Kecurigaan dan kecemburuan adalah belenggunya.

Sebagian besar orang dalam dunia juga punya belenggu ini.

Lalu apakah belenggu Ah Fei?

Tuan Sun menengadah, memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit malam, “Belenggu Ah Fei berbeda sama sekali dengan belenggu Long Xiao Yun. Ah Fei dibelenggu oleh cinta.”

Sun Xiao Hong jadi bingung, “Cinta pun dapat dianggap sebagai belenggu?”

“Tentu saja. Sebenarnya belenggu cinta itu lebih berat daripada belenggu apapun juga.”

“Tapi, apakah betul ia mencintai Lin Xian Er? Sepertinya ia mencintai Lin Xian Er hanya karena ia tidak dapat memiliki wanita itu,” kata Sun Xiao Hong.

Tidak ada jawaban.

Karena memang tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan ini.

Sun Xiao Hong mendesah dan memandang Li Xun Huan. Katanya, “Ia adalah sahabatmu. Kau harus memikirkan bagaimana caranya membebaskan dia dari belenggunya itu.”

Perlahan Li Xun Huan menoleh ke belakang…

Cahaya dalam rumah itu sudah padam. Pondok kecil itu berdiri sendirian di tengah hembusan angin barat dalam kegelapan malam. Seolah-olah menjadi serupa dengan Ah Fei, keras kepala, tahan bantingan, kesepian.

Li Xun Huan membungkukkan badannya dan mulai terbatuk-batuk lagi.

Ia tahu tidak ada yang bisa membantu Ah Fei lepas dari belenggunya.

Hanya Ah Fei sendirilah yang dapat melepaskannya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: