Kumpulan Cerita Silat

13/01/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 33

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 4:25 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Pekok Nra)

“Ya. memang besar kemungkinan dia tak mau mengatakan, tapi akan kupaksa secara keras atau halus agar dia mengaku, sebelum dia menjelaskan tidak nanti aku mau sudah urusan ini,” kata Kiau Hong.

“Tapi Ti-kong Taisu itu tampaknya sangat keras wataknya dan tidak gentar mati!, biarpun kita pancing dengan halus maupun paksa secara kasar, mungkin takkan membuatnya mengaku, kukira lebih baik…”

“Ya, memang lebih baik pergi mencari Tio-ci-sun saja,” sela Kiau Hong. “Tlo-ci-sun itu besar kemungkinan juga takkan mengaku biarpun mati, tapi aku sudah mempunyai akal untuk menghadapinya.”

Sampai di sini, ia pandang arah jurang di sebelahnya, lalu kalanya pula, “A Cu, aku akan turun ke bawah jurang itu.”

Karuan A Cu terperanjat, ia melongok sekejap ke jurang yang tertutup kabut tebal itu, kemudian berkata, “Ai, mana boleh jadi! Jangan kauturun ke sana. Apa sih yang ingin kau lakukan?”

“Sebenarnya aku bangsa Han atau orang Cidan, hal ini yang selalu menekan perasaanku, maka ingin kuturun ke sana untuk memeriksa mayat orang Cidan itu.”

“Sudah lebih 30 tahun orang itu terjun ke jurang itu mungkin yang tertinggal sekarang hanya, tulang belulang belaka, apa yang dapat kau periksa?”

“Aku justeru ingin melihat tulang belulangnya. Kupikir jika … jika benar dia adalah ayahku sendiri maka harus kukumpulkan tulang jenazahnya untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.”

“Ai, mana bisa, mana mungkin!” seru A Cu melengking. “Engkau adalah ksatria berbudi mana mungkin keturunan orang Cidan yang buas dan kejam?”

“Sudahlah, harap kautunggu sehari saja disini, bila besok pada waktu yang sama aku belum naik kembali, maka bolehlah kautinggal pergi saja.”

Keruan A Cu kuatir, sekonyong-konyong ia menangis dan berseru, “Jangan, Kiau-toaya, jangan engkau turun ke bawah, jurang!”

Tapi watak Kiau Hong sangat keras, apa yang menjadi ketetapan hatinya tidak mungkin mengubahnya. Dengan tersenyum ia menjawab, “Di-keroyok jago-jago sebanyak itu di Cip-hian-ceng pun aku tak terbinasa, masakan jurang yang tiada artinya ini dapat merenggut jiwaku?”

Habis berkata, ia pandang sekitar jurang itu untuk mencari sesuatu tempat berpijak yang sekadar dapat dipakai sebagai batu loncatan ke bawah.

Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sayup sayup terdengar suara derap kuda lari yang ramai menuju ke arah selatan. Dari suaranya dapat ditaksir sedikitnya ada lebih 20 penunggang kuda.

Cepat Kiau Hong lari melintasi bukit sana dan, memandang jauh ke arah datangnya suara itu. Maka jelas tertampak olehnya 20-an penunggang kuda itu berpakaian seragam kuning, semuanya adalah prajurit kerajaan Song.

Setelah mengetanui siapa pendatang itu, sebenarnya Kiau Hong tidak taruh perhatian apa-apa. Tapi tempat dia dan A Cu berada itu justru adalah jalan penting yang pasti akan dilalui oleh orang orang dari luar perbatasan yang akan memasuki Gan-bun-Koan sebagaimana dahulu jago silat Tionggoan telah memilih tempat ini untuk mencegat orang Cidan.

Kian Hong pikir dari pada nanti kepergok prajurit Song itu hingga mungkin akan menimbulkan kerewelan lebih baik menghindari saja. Maka cepat ia kembali ketempat semula dan mengajak A Cu bersembunyi di balik sebuah batu karang raksasa. Bisiknya pada si gadis, “Rombongan prajurit Song!”

Tidak lama, prajurit Song itu telah muncul di atas bukit situ. Dari belakang batu Kiau Hong dapat melihat perwira yang memimpin pasukan itu, terkenanglah olehnya cerita Ti-Hong Taisu tentang peristiwa penghadangan di bukit ini dahulu. Suasana bukit karang itu masih tenang seperti dulu, tapi jago silat dari kedua pihak sudah banyak yang jatuh menjadi korban dan tinggal tulang belulang belaka.

Tengah Kiau Hong termenung, tiba-tiba didengarnya suara jerit tangis anak kecil. Ia terkejut seakan-akan di alam mimpi.

“Dari manakah suara tangisan anak kecil itu?” pikirnya heran.

Tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara jeritan tajam kaum wanita. Waktu ia melongok ke depan, jelas terlihat olehnya di antara prajurit-prajurit Song itu terdapat pula beberapa orang tawanan wanita dan anak-anak. Wanita dan anak-anak itu mengenakan baju kaum gembala orang Cidan. Banyak di antara prajurit Song itu main raba dan main comot pada tawanau wanita mereka tingkah-laku mereka itu rendah dan memuakkan. Ada di antara wanita itu melawan perlakuan tidak senonoh itu. tapi segera mereka dipersen dengan, gamparan dan hajaran kejam oleh prajurit dan perwira Song.

Kiau Hong terheran-heran dan tidak mengerti apa yang telah terjadi itu.

Pasukan Song itu sebentar saja sudah lalu dan menuju ke arah Gan-bun-koan.

‘Kiau-toaya, apa yang dikerjakan mereka itu?” tanya A Cu.

Kiau Hong menggeleng kepala tanpa menjawab, hanya dalam hati ia membatin, “Mengapa pasukan penjaga perbatasan sedemikian bejat kelakuannya?”

Dalam pada itu A Cu telah berkata, pula, “Huh, prajurit seperti itu pada hakekatnya lebih mirip kawanan bandit!”

Tengah bicara, dari arah tadi kembali muncul lagi satu regu pasukan Song yang lain sambil menggiring beratus ekor ternak sebangsa domba dan sapi, di samping itu ada pula belasan wanita Cidan.

Terdengar seorang perwira di antaranya sedang berkata, “Operasi kita ini tidak banyak membawa hasil, entah Tai-swe (komandan) bakal marah atau tidak?”

Maka perwira yang lain menjawab, “Tidak banyak ternak musuh yang dapat kita rampas, tapi beberapa orang di antara tawanan wanita ini parasnya cukup lumayan dan dapat menghibur Tai-swe, dengan demikian tentu beliau takkan marah.”

“Cuma belasan orang perempuan hasil ‘panenan’ kita kali ini hingga tidak cukup memenuhi ‘jatah’ orang banyak, biarlah besok kita berusaha lagi mencari tambahan lain,” demikian perwira yang pertama tadi.

‘Tidak ganpang lagi, pak!” demikian timbrung seorang prajurit. “Setelah mengalami kejadian tadi, kawanan anjing Cidan itu tentu sudah lari sejauh-jauhnya. Untuk bisa ‘panen’ lagi sedikitnya harus tunggu beberapa bulau pula.”

Mendengar sampai di sini, dada Kiau Hong sudah hampir meledak. Sungguh kelakuan prajurit itu jauh lebih jahat daripada kawanan bandit yang paling kejam sekalipun.

Sekonyong-konyong terdengar suara orok di dalam pelukan seorang wanita menjerit-jerit. Maka wanita Cidan itu mengipatkan tangan seorang perwira yang sedang ‘gerayangan’ ditubuhnya untuk menimang orok di dalam pelukannya itu.

Perwira itu menjadi marah. Mendesak ia jambret orok dalam pangkuan ibundanya terus dibanting ke tanah. Menyusul ia larikan kudanya ke depan hingga bayi itu terinjak kuda, seketika perut pecah dan usus keluar. Saking ketakutan wanita Cidan itu sampai tak dapat menangis lagi. Sebaliknya prajurit Song yang lain sama tertawa malah dan sebentar saja lantas berlalu.

Selama hidup Kiau Hong sudah banyak menyaksikan keganasan oraug, tapi perbuatan membunuh anak kecil secara keji tanpa kenal kasihan sedikit pun baru sekarang dilihatnya. Sungguh gusarnya tak terskatakan, tapi dasar dia memang cukup sabar, sedapatnya ia tenangkan diri untuk melihat bagaimana kelanjutannya.

Sebentar kemudian, kembali muncul lagi belasan prajurit yang lain. Prajurit-prajurit ini berkuda dan bertombak. Pada ujung tombak masing masing tampak menyubduk sebuah kepala manusia dengan darah masih berketes-ketes. Di belakang kuda mereka menyeret lima orang laki-laki Cidan yang terikat tali panjang.

Dari dandanan orang-orang Cidan itu Kiau Hong dapat menarik kesimpulan mereka adalah kaum gembala biasa. Dua di antaranya berusia sangat tua, tiga lagi adalah pemuda tanggung. Maka tahulah Kian Hong duduknya persoalan. Prajurit-prajurit Song ini telah mendatangi tempat orang-orang Cidan untuk merampok dan membunuh, penggembala Cidan yang muda dan kuat sudah sama melarikan diri, hanya tertinggal kaum wanita, anak-anak dan orang tua yang ditawan.

Ia dengar seorang perwira di antaranya sedang berkata dengan tertawa, “Kita dapat memenggal 14 buah kepala dan menawan hidup lima anjing Cidan, jasa ini dibilang besar memang kurang besar, dikatakan kecil juga tidak kecil, untuk naik tingkat setingkat dan mendapat hadiah seratus tahil perak rasanya tidak perlu disangsikan lagi.”

“He, Lau; Tio,” tiba-tiba seorang kawanan menimbrung, “kira-kira lima puluh li di sebelah barat kan ada suatu tempat pemukiman orang Cidan, apa kau berani mengaduk ke sana?”

“Kenapa tidak berani?” sahut si Lau Tio yang ditegur itu. “Memangnya kaukira, aku baru datang kemari, masa tidak berani? Hm, justru karena aku orang baru, maka perlu lebih banyak mengumpulkan jasa.”

Tengah bicara, sementara itu rombongan mereka sudah sampai di dekat batu karang tempat sembunyi Kiau Hong berdua itu. Ketika melihat di tengah jalan situ terdapat sesosok mayat anak bayi, seketika salah seorang tua Cidan itu menjerit keras-keras.

Meski Kiau Hong tidak paham bahasa Cidan, tapi dapat juga menyelami betapa pedih dan gusar orang tua itu. Boleh jadi bayi yang diinjak kuda itu adalah anak keluarganya.

Mendadak prajurit yang menyeretnya dengan tali itu menarik sekuatnya agar orang itu berjalan cepat. Tapi oraug tua Cidan itu menjadi murka, tiba-tiba menubruk ke arah prajurit itu.

Keruan prajurit itu terkejut, cepat ia ayun goloknya untuk membacok. Tapi orang Cidan, itu lantas menarik sekuatnya hingga prajurit itu terseret jatuh ke bawah kuda. Menyusul orang Cidan terus menggigit leher prajurit itu dengan kalap.

Pada saat itulah seorang perwira pasukan Song ayun golok panjangnya dari atas hingga punggung orang tua Cidan itu terbacok. Dengan demikian dapatlah prajurit tadi meronta bangun, saking gemasnya prajuiit itu terus membacok beberapa kali lagi atas tubuh orang Cidan itu.

Namun orang tua Cidan itu ternyata sangat kuat, ia sempoyongan, tapi tetap berdiri tegak tak roboh. Serentak prajurit dan perwira Song yang lain merubungi orang Cidan itu dengan senjata siap.

Tiba-tiba orang tua itu putar tubuh ke arah utara, ia lepas baju atasnya dan membusungkan dada, mendadak ia menggerung keras keras, suaranya sedih memilukan bagaikan lolongan srigala.

Seketika air muka prajurit Song itu berubah ketakutan. Diam diam Kiau Hong juga terkesiap. Tiba-tiba terasa olehnya seolah-olah ada ikatan batin dengan orana tua Cidan itu. Suara lolong, serigala tatkala mendekati ajalnya itu pernah juga ingin disuarakan olahnye dahulu, yaitu pada waktu dirinya berulang-ulang terluka di Cip-hian-ceng dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, cuma teringat teriakan yang menyamai binatang itu sesungguhnya akan merosotkan pamornya sebagai ksatria yang tarpuja selama ini. maka sedapat mungkin telah ditahannya. Tapi bila kemudian tak tertolong oleh laki-laki berbaju hitam, boleh jadi pada saat akan binasa toh lolong serigala itu akan dikeluarkan juga olehnya.

Begitulah demi mendengar suara melolonng itu, otomatis timbul semacam rasa persaudaraan dalam benak Kiau Hong. Tanpa pikir lagi segera melompat keluar dari belakang, batu, sekali pegang satu orang, prajurit Song itu satu per satu dilemparkannya ke bawah jurang.

Dalam hal menindas rakyat jelata prajurit-prajurit itu memang tangkas dan gagah berani, tapi menghadapi Kiau Hong mereka jadi mirip tikus ketemu kucing. Hanya sekejap saja mereka sudah disapu bersih ke dalam jurang.

Saking nafsunya sampai kuda tunggangan prajurit-prajurit itu pun didepak ke dalam jurang oleh Kiau Hong. Maka riuh ramailah suara jeritan wnaiia dan ringkik kuda yang bercampur aduk.

Tapi hanya sebentar saja suara itu lantai lenyap, suasana kembali hening lagi.

Melihat betapa tangkasnya Kiau Hong, seketika A Cu dan keempat orang Cidan yang lain sama termangu-mangu kesima.

Habis membasmi habis kawanan prajurit penidas itu, Kiau Hong terus bersuit panjang hingga suaranya menggetar lembah pegunungan. Ia lihat orang tua Cidan yang terluka parah itu masih tetap berdiri tegak, diam-diam ia kagum pada keperwiraannya, segera ia mendekatinya. Ia lihat dada orang tua itu terbuka dan tepat menghadap keutara ternyata orangnya sudah tak bernapas lagi.

Tiba-tiba Kiau Hong berseru kaget demi melihat dada orang Cidan itu, ia menyusut mundur beberapa tindak dengan sempoyongan se akan-akan roboh.

Keruan A Cu kuatir, cepat serunya, “Kiau-toaya, ada … ada apa?”

Segera terdengar suara “bret-bret” beberapa kali, mendadak Kiau Hong merobek baju sendiri hingga tertampak simbar dadanya yang hitam pekat.

Waktu A Cu mengawasi, ia lihat pada dada Kiau Hong bercacah sebuah gambar kepala serigala yang pentang mulut dan kelihatan siungnya bentuk kepala serigala itu sangat menakutkan. Ketika A Cu memandang si orang tua Cidan, dilihatnya pada dadanya juga bercacahkan gambar kepala serigala yang persis dengan gambar di dada Kiau Hong itu. Pada saat lain, tiba-tiba terdengar keempat orang Cidan pun berseru serentak.

Segera mereka merubungi Kiau Hong sambil bicara dalam bahasa Cidan dan berulang-ulang menuding gambar kepala serigala di dada Kiau Hong.

Sudah tentu Kiau Hong tidak paham masud mereka. Cacahan gambar kepala serigala di dadanya itu sejak kecil sudah ada. Pernah ia tanya kepada suami-istri Kiau Sam-hoai tentang gambar cacah itu, tapi kedua orang tua itu sama mengatakan untuk hiasan saja agar indah dipandang lebih dari itu takmau menerangkan lagi.

Pada jaman Pak Song (dinasti Song utara) itu soal mencacah gambar di badan (tatto) adalah sangat umum, bahkan ada yang sekujur badan penuh dicacah beraneka ragam gambar yang aneh-aneh. Malahan banyak di antara anggota Kai-pang juga mempunyai gambar cacah di lengan, dada, punggung dan bagian tubuh lain, makanya selama itu Kiau Hong tidak pernah curiga apa apa. Tapi kini demi melihat di dada orang tua Cidan itu pun tercacah gambar kepala serigala seperti di dadanya sendiri, sedangkan keempat orang Cidan yang lain terus mengoceh tiada hentinya padanya sambil menunjuk gambar cacah itu, bahkan mendadak laki-laki tua itu pun membuka bajunya hingga kelihatan di dadanya juga terdapat gambar cacah kepala serigala yang sama.

Sesaat itu teranglah duduknya perkara bagi Kiau Hong, kini ia yakin benar-benar dirinya memang betul adalah orang Cidan. Gambar kepala serigala di dada itu tentulah tanda kelompok suku mereka, mungkin sejak bayi sudah harus dicacah gambar seperti itu.

Padahal sejak kecil Kiau Hong sangat benci pada orang Cidan dan tahu suku bangsa itu suka mengganas secara kejam dan tidak pegang janji, masakah sekarang ia harus mengaku diri sendiri sebagai babgsa yang dipandangnya serendah binatang itu, sungguh kesalnya tidak kepalang, jiwanya benar-benar tertekan sekali. Ia termangu-mangu sejenak, sekonyong-konyong ia berteriak terus berlari ke arah lereng bukit bagai orang gila.

“Kiau-toaya, Kiau-toaya!” cepat A Cu berseru dan menyusulnya.

Sesdah belasan li A Cu mengejar barulah ia lihat Kiau Hong duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil mendekap kepala sendiri, air mukanya tampak muram, otot hijau di kening sampai menonjol besar-besar, suatu tanda betapa pedih perasaan bekas Pangcu itu.

A Cu mendekatinya dan duduk sejajar dengan dia. Namun Kiau Hong batal menyurutkan tubuh dan berkata, “Aku adalah bangsa asing yang kotor dan rendah sebagai babi dan anjing, sejak kini lebih baik jangan kau temui aku lagi.

Seperti juga bangsa Han yang lain, sebenarnya A Cu sangat benci pada orang Cidan. Tapi dalam pandangannya Kiau Hong adalah tokoh yang dipujanya melebihi malaikat dewata, jangankan cuma manusia Cidan, sekalipun setan iblis atau binatang buas juga takkan ditinggalnya pergi. Pikir gadis itu, “Saat ini perasaannya lagi sedih, sedapatnya aku harus menghiburnya.”

Maka katanya dengan tertawa, “Di antara bangsa, Han juga ada orang baik dan orang jahat begitu pula dalam bangsa Cidan tentu juga ada yang baik dan ada yang jahat. Kiau-toaya, mari janganlah kaupikirkan urusan ini. Jiwa A Cu ini engkaulah yang menyelamatkan, biarpun engkau orang Han ataupun orang Cidan, sama sekali tiada perbedaannya bagi A Cu.”

“Aku tidak perlu belas kasihanmu,” sahut Kiau Hong dengan dingin. “Di dalam hati tentu kau pandang rendah padaku, maka kamu tidak perlu pura-pura bermulut manis. Aku menolong jiwamu juga bukan timbul dari maksudku yang sebenarnya, hanya terdorong oleh nafsu ingin menang saja. Maka tentang peristiwa itu biar kuhapus untuk selamanya dan bolehlah kau pergi saja.”

A Cu jadi kuatir, sesudah mengetahui dirinya adalah bangsa Cidan, boleh jadi Kiau Hong aku terus pulang ke utara dan untuk selamanya takkan menginjak selangkah pun ke negeri Tiongkok,’ demikian pikirnya.

Saking tak tahan oleh gelora kalbunya, terus saja ia berkata, “Kiau-toaya, bila engkau tetap meninggalkan aku tanpa peduli lagi, segera aku akan terjun ke dalam jurang itu. Selamanya A Cu berani berkata berani berbuat, tentu engkau anggap dirimu adalah ksatria gagah perwira bangsa Cidan, maka memandang hina pada kaum budak yang rendah seperti diriku, biarlah lebih baik aku mati saja.”

Kiau Hong jadi terharu oleh ucapan A Cu yang tulus itu. Tadinya ia mengira setiap orang pasti akan menjauhi bangsa kejam sebagai dirinya ini, tak tersangka A Cu ternyata tidak pandang bulu, tetap menghargai dirinya tanpa ada kecualinya. Segera ia pegang tangan gadis itu dan berkata dengan suara lembut, “A Cu, kamu adalah pelayan Buyung-kongcu dan bukan budakku, masakah aku memandang hina padaku?”

“Huh, aku tidak perlu belas Kasihanmu! Di dalam hati tentu Kau pandang rendah padaku, tidak perlu pura-pura bermulut manis!” demikian A Cu menirukan lagu Kiau Hong tadi dengan sorot mata yang menggoda.

Tak tertahan, lagi Kiau Hong terbahak-bahak, pada saat sudah bisa terhibur olah seorang gadis jelita sebagai A Cu yang pandai bicara dan pintar berkelakar, sudah tentu rasa kesalnya lantas banyak berkurang.

“Kiau-toaya,” tiba-tiba A Cu berkata pula dengan kereng, “aku memang pelayan Buyung-kongcu, tapi itu tidak berarti aku telah menjual diriku padanya. Soalnya karena keluarga kami suatu waktu mendapat kesulitan, ada seorang musuh yang 1ihai mendatangi ayah buat menuntut balas dendam. Ayahku merasa tidak dapat melawan musuh itu. maka aku lantas dititipkan pada Buyang-loya, yaitu ayah Buyung-kongcu sekarang,” katanya untuk dijadikan budaknya, tapi sebenarnya lebih tepat dikatakan untuk menyelamatkan diriku di rumah keluarga Buyung. Maka selanjutnya akan kulayanimu dan menjadi dayangmu, pasti Buyung-kongcu takkan marah.”

“Tidak, tidak! Mana boleh jadi!” seru Kiau Hong sambil goyang kedua tangannya. “Aku adalah bangsa Cidan, masakah punya budak apa segala? Kamu sudah biasa tinggal di tengah keluarga mampu di daerah Kanglam, apa faedahnya ikut aku terlunta lunta dan menderita? Lihatlah laki-laki kasar seperti aku ini apa ada harganya untuk mendapat pelayananmu?”

A Cu tertawa manis, sahutnya, “Baik begini saja, anggaplah aku sebagai budak tawananmu, bila engkau senang, engkau boleh tertawa padaku, jika tidak suka, boleh engkau hajar diriku. Nah, jadi bukan?”

“Hah, mungkin sekali hantam dapat kuhaturkan tubuhmu,” ujar Kiau Hong.

“Ya jangan keras-keras, dong. Pelahan saja.” sahut A Cu.

Kiau Hong terbahak, katanya, “Pelahan? Kan lebih baik tidak menghajar saja, pula aku pun tidak menginginkan budak apa segala.”

“Engkau adalah ksatria Cidan. kalau menawan beberapa wanita Han untuk dijadikan budak, apa salahnya?”‘ ujar A Cu. “Bukankah prajurit Song itu juga banyak menawan orang Cidan?”

Kiau Hong terdiam tanpa menjawab.

Melihat bekas Pangcu itu berkerut kening, sorot matanya sayu, A Cu menjadi kuatir salah omong hingga membuatnya kurang senang.

Syukurlah tidak antara lama Kiau Hong membuka suara pula dengan pelahan, “Selama ini kusangka orang Cidan adalah bangsa yang paling kejam dan ganas, tapi dengan mata kepalaku tadi kulihat kawanan prajurit Song juga mengganas pada orang Cidan, bahkan kaum wanita dan anak-anak juga tidak terhindar dari siksaan mereka. A Cu, aku adalah orang . . . orang Cidan, sejak kini aku tidak merasa malu lagi sebagai bangsa Cidan dan takkan bangga sebagal bangsa Han. Ayah-bundaku dibunuh tanpa berdosa, maka aku harus menuntut balas sakit hati itu.”

A Cu mengangguk. Tapi diam-diam ia merasa takut, terbayang olehnya “menuntut balas” yang ditegaskan oleh Kiau Hong itu pasti akan mengakibatkan banjir darah di kalangan Bu-lim.

“Dahulu Ibuku dibunuh mereka,” demikian Kiau Hong berkata pula sambil menunjuk jurang, “saking berduka ayahku lantas terjun juga ke dalam jurang itu. Tapi mendadak beliau tidak tega aku ikut mati bersama mereka, maka aku dilemparkan ke atas selagi ayah masih terapung di udara, dengan demikian biar aku dapat hidup sampai hari ini. A Cu, hal itu menandakan betapa cintanya ayah kepadaku, bukan?”

Dengan air mata meleleh A Cu mengiakan.

“Dan sakit hati sedalam lautan itu masakan tidak kutuntut balas?” kata Kiau Hong. “Dahulu aku tidak tahu hingga mengaku musuh sebagai kawan, jika sekarang aku tidak menuntut balas, apakah aku ada harganya untuk hidup lebih lama di dunia ini? Itu ‘Toako pemimpin’ yang mereka sebut itu entah siapa sebenarnya? Pada surat yang ditulisnya kepada Ong-pangcu terdapat namanya, tapi Ti-kong Taisu sengaja menyobek bagian yang tertulis nama itu dan ditelan ke dalam perut. Terang ‘Toako pemimpin’ itu masih hidup dengan baik. Kalau tidak, mestinya mereka tidak perlu merahasikan dia.”

Begitulah ia bertanya dan menjawab sendiri untuk meraba seluk-betuk perkara itu. Kemudian katanya lagi, “Toako pemimpin itu dapat memimpin para ksatria Tionggoan, dengan sendirinya dia seorang tokoh yang berilmu silat sangat tinggi dan sangat dihormati. Dalam suratnya ia sebut Ong-pangcu sebagai ‘laute’ (saudara), maka dapat diduga usianya sudah lanjut kini, sedikitnya sudah lebih 60 tahun, boleh jadi di antara 70 tahun malah. Untuk mencari seorang tokoh seperti itu sebenarnya tidak susah. Ehm, orang yang pernah membaca surat itu antara lain adalah Ti-kong Taisu, Ci-tianglo dari Kai-pang, Be-hujin, Tiat-bin-poan-koan Tan Cing. Dan masih ada pula Tio-ci-sun, tentu ia pun tahu siapa gerangan Toako pemimpin itu. Hm, aku . . . aku harus membunuhnya, menghabisi pula antero keluarganya, dari tua sampai yang muda, satu pun tidak boleh dibari ampun!”

A Cu bergidik mendengar nada yang seram itu. Tapi ia tidak berani menimbrung demi melihat sikap gagah berwibawa Kiau Hong pada saat itu.

Kiau Hong melanjutkan lagi, “Ti-kong Hwesio suka berkelana, Tio-ci-sun juga tiada tempat tinggal yang tetap, untuk mencari ke dua orang tua itu tidaklah mudah, maka marilah A Cu, lebih baik kita pergi mencari Ci-tianglo saja.”

Sungguh girang A Cu tidak kepalang demi mendengar ucapan “kita” itu, sebab itu berarti dirinya juga diajak serta. Diam diam ia berkata di didalam hati, “Biarpun ke ujung langit juga aku akan ikut serta padamu.”

Segera mereka putar baik ke selatan, setelah melintasi Gan-bun-koan, melalui lereng bukit, tibalah mereka di suatu kota kecil. Mereka mendapatkan sebuah hotel. Tanpa disuruh segera A Cu pesan pelayan membawa 20 kati arak.

Pelayan hotel memang sedang curiga karena melihat kedua orang tidak mirip sebagai suami-istri, dibilang saudara juga tidak sama, kini demi mendengar permintaan 20 kati arak lagi, karuan ia tambah heran hingga terkesima memandangi A Cu berdua.

Pelayanan itu terkejut ketika mendadak Kiau Hong melotot padanya, cepat ia lari pergi sambil menggerutu, “Masakan minta arak 20 kati? Apa barangkali digunakan untuk mandi?”

Kemudian A Cu berata pada Kiau Hong dengan tertawa, “Kiau-toaya, keberangkatan kita untuk mencari Ci-tianglo ini, kukira dua hari lagi jejak kita tentu akan diketahui orang. Dan kalau sepanjang jalan kita mesti bertempur, meski menarik juga permainan ini, mungkin lebih dulu Ci-tianglo akan melarikan diri dan sembunyi, dan untuk mencarinya tentu susah.”

“Habis menurut pendapatmu bagaimana kita harus bertindak?” tanya Kiau Hong, “Apa kita mengaso pada siang hari dan berjalan waktu malam hari?”

“Untuk mengelabuhi mereka sebenarnya tidak sulit,” ujar A Cu dengan tersenyum, “Cuma entah Kiau-toaya yang namanya disegani diseluruh jagat ini sudi menyamar atau tidak?”

“Aku bukan bangsa Han lagi, memangnya pakaian orang Han ini aku tidak ingin pakai lagi,” sahut Kiau Hong dengan tertawa, “Lalu aku harus menyamar sebagai siapa, A Cu?”

“Perawakanmu tinggi besar, mudah menarik perhatian orang, sebaiknya menyaru seorang yang berwajah biasa tanpa sesuatu tanda orang Kangouw yang menarik. Dengan demikian perjalanan kita tentu akan aman.”

“Bagus, bagus! Habis minum arak segera kita mulai menyamar!” seru Kiau Hong dengan senang.
Setelah menghabiskan 20 kati arak, segera A Cu membelikan tepung kanji, pensil, tinta dan lain-lain yang diperlukan. Setelah “bersolek”, lenyaplah banyak ciri-ciri khas muka Kiau Hong. Waktu A Cu menambahi pula bibir Kiau Hong dengan selapis kumis tipis, ketika bercermin sampai Kiau Hong pun pangling pada diri sendiri.
Menyusul A Cu juga menyamar sebagai laki-laki setengah umur dan katanya, “Lahirmu sekarang sudah berubah sama sekali, tapi suaramu dan kegemaranmu akan minum arak mudah dikenali orang.”

“Ehmm, aku akan sedikit bicara dan sedikit minum,” sahut Kiau Hong.

Benar juga perjalanan selanjutnya jarang Kiau Hong buka mulut, setiap kali dahar cuma minum dua-tiga kati arak saja sekedar menghilangkan rasa dahaga.

Suatu hari, sampailah mereka di Sam-ha-tin propinsi Soasai selatan, tengah Kiau Hong dan A Cu asyik makan bakmi di suatu kedai, tiba-tiba mereka dengar percakapan dua orang pengemis di luar kedai. Kata yang seorang, “Kematian Ci-tianglo benar-benar sangat mengenaskan, besar kemungkinan bangsat Kiau Hong itu yang membunuhnya.”

Keruan Kiau Hong terperanjat. “Jadi Ci-tianglo telah mati?” demikian batinnya. Ia saling pandang sekejap dengan A Cu.

Dalam pada itu pengemis yang lain telah mendesis pada kawannya sambil memperingatkan jangan kata-kata rahasia Kai-pang agar jangan sembarangan bicara, sebab mungkin di situ terdapat begundal bangsat she Kiau, kita harus lekas menyusul ke Wi-hui di Holam, disana para Tiang-lo kita akan mengadakan sembahyang bagi arwah Ci-tianglo dan akan berunding cara bagaimana untuk menangkap Kiau Hong.

Mendengar itu, dengan cepat Kiau Hong dan A Cu habiskan bakmi mereka dan meninggalkan Sam-ha-tin itu. Kata Kiau Hong, “Marilah kita pergi ke Wi-hui, bisa jadi di sana kita dapat memperoleh sesuatu kabar.”

“Ya, sudah tentu kita harus kesana,” sahut A Cu, “Tapi engkau harus hati-hati Kiau-toaya, ingat bahwa orang-orang yang hadir di sana hampir semuanya kenal gerak-gerikmu, maka jangan sampai engkau dapat dikenali.”

“Aku tahu,” sahut Kiau Hong mengangguk.
Segera mereka putar ke arah timur, menuju kota Wi hui.

Esok paginya sampailah mereka di kota itu. Ternyata di dalam kota sudah penuh kawanan pengemis anggota Kai-pang. Ada yang nongkrong di kedai arak, yang potong anjing dan sembelih babi di gang yang sepi, ada pula yang minta-minta sepanjang jalan, kalau tak diberi lantas main paksa dan memcaci-maki.

Pedih hati Kiau Hong menyaksikan kelakuan anak buah Kai-pang yang dihormati sebagai Pang terbesar di kangouw itu, sejak ditinggalkan olehnya ternyata sudah berubah sedemikian buruk disiplinnya. Walaupun sekarang Kai-pang telah menjadi lawan dan bukan kawan lagi baginya, tapi mengingat jerih payah sendiri dahulu waktu membina kesatuan Kai-pang yang jaya itu, mau-tak-mau Kiau Hong merasa menyesal juga.

Tempat layon Ci-tianglo itu terletak di sebuah taman bobrok di barat kota. Sesudah membeli lilin, dupa dan lain-lain keperluan, segera Kiau Hong dan A Cu menuju ke sana. Mereka mengikuti orang banyak untuk sembahyang di depan layon Ci-tianglo.
Di atas meja sembahyang itu penuh berlumuran darah, itu adalah peraturan Kai-pang yang menandaskan bahwa orang yang meninggal itu mati dibunuh musuh, maka saudara Pang harus menuntut balas baginya.

Di tengah ruangan sembahyang itu orang ramai membicarakan dan mencaci-maki Kiau Hong, tapi tiada yang tahu bahwa yang dicaci-maki itu justru berada di situ.

Melihat orang yang jaga layon itu adalah tokoh-tokoh terkemuka Kai-pang, Kiau Hong kuatir akan dikenali, maka selekasnya ia mohon diri bersama A Cu. Sambil berjalan keluar, diam-diam ia membatin, “Dengan matinya Ci-tianglo, orang yang kenal siapa gerangan Toako pemimpin di dunia ini menjadi berkurang pula satu orang.”

Pada saat itulah tiba-tiba di ujung jalan sana berkelebat bayangan orang, dari perawakannya tertampak jelas adalah seorang wanita yang tinggi besar. Dengan kejelian mata Kiau Hong, segera orang itu dapat dikenalinya sebagai Tam-poh, si nenek Tam. Pikirnya, “Hah, sangat kebetulan. Tentu ia pun datang untuk melayat kematian Ci-tianglo aku justru lagi ingin cari dia.”

Pada saat lain kembali ada lagi seorang melayang ke sana dengan ginkang yang tinggi, ternyata orang kedua ini adalah Tio-ci-sun.

Kiau Hong menjadi heran, “Ada urusan apa kedua orang ini main sembunyi-sembunyi seperti maling kuatir kepergok?”

Ia pun tahu kedua orang itu adalah saudara seperguruan dan pernah saling cinta, bahkan cinta asmara itu sampai tua juga belum lenyap, jangan-jangan sekarang mereka hendak mengadakan pertemuan gelap dan main pat-pat-gulipat.

Sebenarnya Kiau Hong tidak suka mencari tahu urusan pribadi orang lain, tapi mengingat Tio-ci-sun dan Tam-poh itu adalah orang yang mengetahui siapakah Toako pemimpin yang dimaksud itu, jika ada sesuatu ciri rahasia mereka terpegang olehnya, bisa jadi hal itu akan dapat dipakai sebagai alat penekan agar mereka mau menceritakan apa yang mereka ketahui tentang Toako pemimpin. Maka ia lantas membisiki A Cu agar pulang dulu dan menunggu di hotel.

A Cu mengangguk. Segera Kiau Hong mengejar ke jurusan larinya Tio-ci-sun. Ia lihat kakek aneh itu sebentar-sebentar sembunyi di pojok jalan sana dan lain saat mengumpet di balik pohon, kelakuannya penuh rahasia dan kuatir dipergoki orang, jurusan yang dituju adalah timur kota.

Kiau Hong terus menguntit dari jauh dan selama itu tak diketahui oleh Tio-ci-sun. Dari jauh tertampak kakek itu lari sampai di tepi sungai, lalu menyusup ke dalam sebuah perahu beratap.

Cepat Kiau Hong memburu ke sana, dengan beberapa kali lompatan saja ia dapat menyusul sampai disamping perahu, dengan pelahan ia melompat ke atas atap perahu dan menempelkan telinganya untuk mendengarkan.
Dindengarnya suara Tam-poh sedang berkata, “Suko, usia kita sudah selanjut ini, hubungan masa muda dahulu sudah terlambat untuk disesalkan, buat apa mesti diungkat-ungkat lagi?”

“Hidupku ini sudah kukorbankan bagimu, maksudku mengajakmu ke sini tiada keinginan lain, Siau koan, hanya kumohon sudilah kau nyanyikan lagi beberapa lagu waktu dahulu itu,” demikian pinta Tio-ci-sun.

“Ai, engkau ini sungguh ketolol-tololan,” ujar Tam-poh, “Ketika kita sama-sama datang di Wi-hui ini, suamiku telah melihatmu juga, hatinya sudah merasa kurang senang. Wataknya juga suka curiga, hendaknya jangan kau ganggu diriku lagi.”

“Takut apa?” sahut Tio-ci-sun, “Perbuatan kita cukup terang dan dapat dipertanggung-jawabkan, kita cuma omong-omong kejadian dahulu, apa salahnya?”

“Tapi, ai, nyanyian masa dahulu itu-”

Melihat Tam-poh sudah goyah pikirannya segera Tio-ci-sun memohon dengan sangat lagi, katanya, “Siau Koan, pertemuan kita hari ini entah sampai kapan baru dapat terjadi pula. Mungkin juga usiaku sudah tidak panjang lagi. Tiada banyak kesempatan untuk mendengarkan nyanyianmu.”

“Suko, janganlah berkata demikian. Jika engkau berkeras ingin mendengar, bolehlah aku menyanyi satu lagu.”

“Bagus, bagus!” sorak Tio-ci-sun dengan gembira.

Lalu terdengar Tam-poh mulai tarik suara, “Terkenang dahulu kakanda lalu di atas jembatan, dinda asyik mencuci pakaian di tepi sungai-”

Baru sekian dinyanyikan, mendadak terdengar suara gedubrak, pintu rumah perahu itu didobrak orang hingga terpentang, menyusul seorang laki-laki menerjang ke dalam. Itulah Kiau Hong. Cuma ia sudah menyamar, maka Tio-ci-sun dan Tam-poh tidak mengenalnya lagi.

Dan karena pendatang Itu bukan Tam-iong, Legalah hati kedua kakek dan nenek itu, segera mereka membentak, “Siapa kau?”

Dengan sorot mata dingin menghina Kiau Hong memandang mereka, sahutnya, “Yang satu adalah lelaki bangor dan suka memikat wanita bersuami, yang lain adalah perempuan jalang tak kenal malu yang berani mendurhakai suami sendiri dan bergendak dengan laki-laki lain-”

Belum habis ucapannya, serentak Tam-poh dan Tio-ci-sun menyerang dari kanan dan kiri. Namun sedikit Kiau Hong mengegos, tangan membalik terus mencengkeram pergelangan tengan Tam-poh, berbareng sikunya juga menyikut, ia mendahului menyerang iga kiri Tio-ci-sun.

Sebagai jago kelas satu dalam Bu-lim, Tio-ci-sun dan Tam-poh mengira dalam sejurus saja mesti dapat membekuk lawannya. Siapa duga laki-laki yang tidak ada sesuatu tanda luar biasa itu ternyata memiliki kepandaian yang sukar diukur, hanya sejurus saja dari pihak terserang telah berubah manjadi pihak penyerang.

Ruangan perahu sebenarnya sangat sempit, tapi bagi Kiau Hong keadaan itu tidak menjadi halangan, ia menghantam dan menyerang dengan gesit dalam ruangan sempit itu sama lincahnya seperti di tempat luas.

Sampai jurus ketujuh, tahu-tahu pinggang Tio-ci-sun tertutuk. Karuan Tam-poh terkejut, dia sedikit ayal, punggung lantas kena digaplok juga oleh Kiau Hong hingga keduanya roboh terkulai.

“Nah, kalian boleh mengaso sebentar di sini, di dalam kota sedang berkumpul para ksatria, biarlah kupergi mengundang mereka untuk menimbang atas perbuatan kalian ini,” demikian ujar Kiau Hong.

Tentu saja Tio-ci-sun dan Tam-poh sangat kuatir, mereka coba mengerahkan lwekang untuk melepaskan tutukan musuh, tapi ternyata tak bisa berkutik sama sekali, bahkan satu jari pun sukar bergerak.

Sebenarnya usia mereka sudah lanjut, pertemuan gelap yang mereka adakan ini bukan karena dirangsang oleh nafsu berahi, tapi cuma sekedar omong-omong untuk mengenang cinta kasih masa lalu saja, sama sekali tidak melampaui batas-batas kesopanan.

Tapi tatkala itu adalah dinasti Song yang sangat mengutamakan tata tertip kesopanan, pelanggaran mengenai urusan perempuan adalah sesuatu yang tak bisa diampuni pada masa itu. Kalau sekarang mereka mengaku mengadakan pertemuan gelap dalam perahu hanya sekedar omong-omong dan nyanyi-nyanyi mengenang masa lalu, sudah tentu tiada seorang pun yang mau percaya. Terutama Tam-kong sudah tentu akan kehilangan muka.

Maka cepat Tam-poh berseru, “Kami tidak berbuat sesuatu kesalahan apa padamu, jika tuan dapat berlaku murah hati pada kami, tentu aku akan- akan membalas kebaikanmu ini.”

“Membalas kebaikan sih tidak perlu,” sahut Kiau Hong, “Aku hanya ingin tanya satu soal padamu, cukup asal kaujawab tiga huruf saja dengan sebenarnya, segera akan kubebaskan kalian, kejadian sekarangpun takkan kukatakan pasa siapa pun juga.”

“Asal aku tahu, tentu akan kukatakan,” sahut Tam-poh.

“Begini, pernah ada orang mengirim surat kepada Ong-pangcu dari Kai-pang untuk membicarakan persoalan Kiau Hong, pengirim surat itu disebut orang sebagai ‘Toako pemimpin’. Nah, siapakah dia itu?”

“Siau Koan, jangan kaukatakan, jangan katakan!” cepat Tio-ci-sun berteriak.

Dengan mata mendelik Kiau Hong pandang kakek itu, katanya, “Jadi kamu lebih suka badan hancur dan nama busuk daripada menerangkan?”

“Locu tidak gentar mati. Toako pemimpin yang berbudi padaku itu tidak nanti kujual padamu,” sahut Tio-ci-sun dengan angkuh.

“Tapi Siau Koan juga akan ikut menjadi korban, apa kamu tidak pikirkan dia lagi?” tanya Kiau Hong.

“Jika kejadian ini diketahui Tam-kong, segera akan kubunuh diri dihadapannya untuk menebus dosaku.” sahut Tio-ci-sun tegas.

Terpaksa Kiau Hong mengalihkan pembicaraannya kepada Tam-poh, “Tapi Toako pemimpin itu belum tentu ada budi padamu, bolehlah kamu yang menerangkan, dengan demikian kita akan sama-sama baik, kehormatan Tam-kong juga dapat dijaga, jiwa Sukomu pun dapat diselamatkan.”

Diam-diam Tam-poh merasa seram oleh ancaman itu, segera katanya, “Baiklah, akan kukatakan padamu. Orang itu bernama-”

“Siau Koan, jangan kaukatakan padanya!” seru Tio-ci-sun dengan suara melengking kuatir, “O, Siau Koan, kumohon dengan sangat, janganlah kaukatakan padanya. Orang ini besar kemungkinan adalah begundal Kiau Hong, sekali kamu mengaku, pasti jiwa Toako pemimpin akan terancam.”

“Aku sendiri inilah Kiau Hong, jika kalian tidak mau mengaku, celakalah kalian!” kata Kiau Hong.

Karuan Tio-ci-sun terperanjat, sahutnya, “Pantas, maka ilmu silatmu sedemikian tinggi. Siau Koan, selama hidupku ini tidak pernah kumemohon sesuatu padamu, maka sekarang ini adalah satu-satunya permintaanku, janganlah kau katakan nama Toako pemimpin padanya. Betapapun permitaanku ini harus kauterima.”

Teringat selama berpuluh tahun ini betapa bekas kekasih itu mencintai dan merindukan dirinya, selamanya memang tidak pernah memohon sesuatu apapun padanya, kini demi untuk membela keselamatan Toako pemimpin yang berbudi itu ia rela korbankan jiwa pula, maka bagaimanapun juga dirinya tidak boleh mengecewakan perbuatannya yang gagah perwira ini.

Maka Tam-poh lantas menjawab, “Kiau Hong apakah kamu akan berbuat jahat atau berlaku bajik semuanya terserah padamu. Kami berdua asal merasa tidak berdosa, apa yang mesti kami takutkan? Maka apa yang ingin kauketahui, maafkan, tidak bisa kuberitahu.”

“Terima kasih, Siau Koan, terima kasih!” seru Tio-ci-sun dengan girang.

Melihat jawaban si nenek yang tegas itu Kiau Hong tahu percuma memaksanya. Ia mendengus sekali, tiba-tiba ia cabut sebuah tusuk konde dari rambut Tam-poh, lalu melompat ke gili-gili dan pulang ke kota Wi-hui untu mencari tempat tinggal Tam-kong, si kakek Tam.

Karena dalam penyamaran, dengan sendirinya tiada seorangpun yang kenal Kiau Hong. Sedangkan “Ji-kui-khek-tiam”, yaitu nama hotel tempat Tam-kong dan Tam-poh menginap juga bukan tempat yang dirahasiakan, maka dengan mudah saja Kiau Hong dapat mengetahui letak hotel itu.

Sampai di hotel itu, ia lihat Tam-kong sedang modar-mandir di dalam kamar dengan mengendong tangan, sikapnya sangat gelisah dan air mukanya bersengut.

Tanpa bicara apa-apa Kiau Hong mendekati kakek itu dan sodorkan tangannya, maka tertampaklah tusuk konde milik Tam-poh itu.

Tam-kong memang lagi murung dan merasa tidak tentram sejak melihat Tio-ci-sun juga datang di kota Wi-hui, sementara itu istrinya menghilang setengah harian, ia sedang kuatir dan curiga. Kini mendadak nampak tusuk konde milik sang istri itu, ia terkejut dan girang, cepat ia tanya, “Siapa saudara? Apakah kamu disuruh istriku ke sini? Ada urusan apakah?”

Sembari bicara ia terus ambil tusuk konde di tangan Kiau Hong itu.

Kiau Hong membiarkan tusuk konde diambil si kakek, lalu katanya, “Istrimu telah ditawan orang, jiwanya terancam.”

Karuan Tam-kong terperanjat, cepat tanyanya, “Ilmu silat istriku sangat hebat, masakan begitu gampang ditawan orang?”

“Kiau Hong yang menawannya!”

“Hah, Kiau Hong?” seru Tam-kong. Kalau orang lain boleh jadi tidak percaya, tapi bekas Pangco itu cukup dikenalnya, maka tidak heran istrinya dapat ditawan dengan mudah. “Jika demikian, sulitlah urusan ini. Dan di- di manakan istriku sekarang?”

“Apakah kauinginkan hidupnya istrimu, itulah sangat mudah. Dan jika inginkan dia mati, itupun sangat gampang!” kata Kiau Hong.

Sifat Tam-kong sangat pendiam dan sabar, meski dalam hati sebenarnya sangat gugup, tapi lahirnya tetap tenang-tenang saja, ia bertanya malah, “Apa maksudmu, coba katakan!”

“Ada suatu pertanyaan ingin kutanya Tam-kong, asal kaujawab terus terang, maka istrimu segera akan pulang dengan selamat tanpa terganggu seujung rambut pun,” kata Kiau Hong, “Tapi bila Tam-kong tidak mau menerangkan, terpaksa istrimu akan dibunuh, mayatnya akan dikubur satu liang dengan mayat Tio-ci-sun!”

Sampai di sini Tam-kong tidak dapat tahan perasaan lagi, bentaknya murka dan menghantam muka Kiau Hong. Tapi sedikit Kiau Hong mengegos ke samping, serangan Tam-kong itu lantas luput.

Diam-diam kakek itu terkejut, padahal pukulan geledek itu adalah ilmu andalannya, tapi dengan gampang lawan dapat menghindar. Ia tidak berani ayal lagi, telapak tangan kanan mengitar ke samping, telapak tangan kiri lantas menghantam pula.

Melihat ruangan kamar hotel itu kurang luas untuk menghindar lagi agak susah, terpaksa Kiau Hong menangkis. “Plok!”, hantaman Tam-kong itu tepat mengenai lengan Kiau Hong, tapi sama sekali Kiau Hong tidak bergeming, sebaliknya tangan terus terjulur ke depan dan meraih ke bawah hingga pundak Tam-kong terpegang.

Seketika Tam-kong merasa pundaknya seperti dibebani beribu kati beratnya, begitu antap hingga tulang punggung seakan-akan patah, hampir ia bertekuk lutut saking tak tahan. Tapi sekuatnya ia menegak, betapa pun ia tak sudi menyerah, tapi akhirnya lemas juga kakinya, “Bluk!”, terpaksa ia tekuk lutut ke bawah.

Hal ini bukan dia menyerah dan minta ampun, tapi disebabkan tenaga tidak kuat menahan, maklum, kekuatan tulang manusia ada batasnya, pada ruas-ruas tulang sudah tertekan sedemikian rupa, tanpa kuasa lagi ia berlutut ke bawah, jalan lain tidak ada.

Kiau Hong memang sengaja hendak mematahkan keangkuhan kakek itu, maka ia tetap tindih pundaknya hingga akhirnya punggung ikut membungkuk seakan-akan orang hendak menjura. Tapi Tam-kong benar-benar sangat kepala batu, mati-matian ia masih terus bertahan, ia kerahkan segenap tenaganya untuk melawan dan bertahan sekuatnya.

Sekonyong-konyong Kiau Hong melepaskan tangannya. Saat itu Tam-kong yang ditekan ke bawah itu lagi bertahan sekuatnya ke atas dan karena mendadak Kiau Hong lepas tangan, tanpa kuasa lagi Tam-kong menjembul ke atas setinggi beberapa meter, “blang!”, kepalanya menubruk belandar rumah, hampir belandar itu patah tertumbuk olehnya.

Ketika jatuh kembali dari atas, sebelum kedua kakinya menyentuh tanah, lebih dulu Kiau Hong ulur tangan kanan untuk mencengkeram dadanya. Perawakan Tam-kong pendek kecil sebaliknya tangan Kiau Hong panjang dan kuat betapapun Tam-kong hendak menhantam dan menendang, selalu tak bisa mengenai sasarannya, apalagi kedua kakinya terapung di udara, percuma saja ia berilmu tinggi, sedikit pun tidak bisa digunakan.

Dalam gugupnya, seketika Tam-kong jadi sadar, bentaknya, “Kamu inilah Kiau Hong!”

“Memang!” sahut Kiau Hong.

“Keparat. Meng- mengapa kausangkut-pautkan istriku dengan Tio-ci-sun?” bentak Tam-kong pula dengan gusar karena tadi Kiau Hong menyatakan akan membunuh Tam-poh dan akan menguburnya bersama Tio-ci-sun.

“Habis, istrimu sendiri yang suka menyangkut-pautkan dia, peduli apa dengan aku?” sahut Kiau Hong. “Apakah kauingin tahu saat ini Tam-poh berada dimana? Ingin tahu dia sedang menyanyi dan bercumbu dengan siapa?”

Mendengar itu, sudah tentu Tam-kong dapat menduga sang istri berada bersama Tio-ci-sun, dengan sendirinya ia sangat ingin tahu keadaannya, maka cepat sahutnya, “Di mana dia? Harap bawa aku ke sana.”

“Kebaikan apa yang kauberikan padaku? Mengapa harus kubawamu ke sana?” jengek Kiau Hong.

Tam-kong ingat apa yang dikatakan Kiau Hong tadi, segera tanyanya, “Kaubilang ingin tanya sesuatu padaku, soal apakah itu?”

“Tempo hari waktu berkumpul di tengah hutan di luar kota Bu-sik, Ci-tianglo membawa sepucuk surat yang dikirim orang kepada mendiang Ong-pangcu dari Kai-pang, siapakah penulis surat itu?”

Seketika Tam-kong tergetar, tapi saat itu ia diangkat oleh Kiau Hong dan terkatung di udara, asal Kiau Hong mengerahkan tenaga dalamnya, kontan jiwanya bisa melayang. Tapi sedikitpun kakek itu tidak gentar, sahutnya tegas, “Orang itu adalah pembunuh ayah-bundamu, sama sekali tidak boleh kukatakan namanya, kalau kukatakan, tentu kamu akan menuntut balas padanya dan itu berarti aku yang bikin susah dia.”

“Jika kamu tidak mengaku, jiwamu sendiri segera akan melayang lebih dulu,” ancam Kiau Hong.

“Hahahaha!” tiba-tiba Tam-kong bergelak tertawa, “Memangnya kauanggap aku ini manusia pengecut hingga perlu menjual kawan untuk mencari hidup sendiri?”

Melihat ketegasan kakek itu, mau-tak-mau Kiau Hong kagum juga jiwa ksatrianya. Coba kalau urusan lain, tentu ia tidak sudi mendesak lebih jauh, namun kini urusannya menyangkut sakit hati ayah-bundanya, terpaksa ia tanya pula, “Kau sendiri tidak gentar mati, tapi apa jiwa istrimu tidak kausayangkan lagi? Nama baik Tam-kong dan Tam-poh segera akan tersapu runtuh seluruhnya dan ditertawai ksatria sejagat, apakah hal ini tak kaupikirkan?”

Pada umumnya orang Bu-lim paling sayang pada nama baik atau kehormatan. Tapi sikap Tam-kong sekarang sangat tegas, sahutnya, “Asal tindak-tandukku dapat kupertanggung-jawabkan, mengapa kukuatir dipandang rendah dan ditertawai orang?”

“Tapi bagaimana dengan istrimu? Bagaimana dengan Tio-ci-sun?” tanya Kiau Hong.
Seketika air muka Tam-kong berubah merah padam, dengan mata mendelik ia pandang Kiau Hong.

Tanpa bicara lagi Kiau Hong taruh kakek itu ke tanah, lalu melangkah ke luar. Dengan bungkam Tam-kong lantas ikut di belakangnya.

Begitulah mereka lantas keluar kota Wi-hui. Banyak juga kawan Kangouw yang diketemukan di tengah jalan, mereka sama memberi hormat kepada Tam-kong yang di jawabnya dengan tawar saja.

Tidak lama, sampailah mereka di tepi sungai tempat berlabuh perahu itu. Sekali lompat Kiau Hong melayang ke haluan perahu. Ia tuding ke dalam rumah perahu dan berkata, “Nah, boleh kauperiksa sendiri!”

Segera Tam-kong ikut melompat ke atas perahu dan melongok ke dalam, ia lihat sang istri meringkuk di pojok ruangan saling bersandaran dengan Tio-ci-sun. Sungguh gusar Tam-kong tak tertahan lagi, kontan ia menghantam kepala Tio-ci-sun.

“Prak”, badan Tio-ci-sun bergerak sekali, tidak menangkis juga tidak berkelit. Begitu tangan Tam-kong menyentuh kepala Tio-ci-sun segera ia merasakan keadaan agak aneh, cepat ia meraba pipi sang istri, ternyata sudah dingin, sudah lama sang istri meninggal.

Badan Tam-kong menggigil, ia masih belum percaya, ia coba periksa pernafasan hidung sang istri dan memang benar sudah tidak bernafas lagi. Begitu pula keadaan Tio-ci-sun ketika diperiksa.

Tam-kong tertegun sejenak dengan rasa duka dan gusar tak terhingga, mendadak ia putar tubuh dan melotot pada Kiau Hong dengan mata membara.

Kiau Hong sendiri juga terheran-heran ketika mengetahui Tam-poh dan Tio-ci-sun sudah mati dalam waktu singkat setelah ditinggal pergi tadi. Padahal ia cuma menutuk hiat-to kedua orang itu, mengapa mendadak kedua jago kelas tinggi itu bisa mati begitu saja.
Segera ia tarik jenazah Tio-ci-sun untuk diperiksa, tapi tidak melihat sesuatu luka senjata dan noda darah. Ia coba buka baju dada orang, maka tertampaklah dada Tio-ci-sun ada satu bagian berwarna matang biru. Itulah tanda terkena pukulan berat. Dan yang paling aneh adalah bekas telapak tangan yang memukul itu ternyata mirip dengan tangan Kiau Hong sendiri.

Sementara itu Tam-kong juga telah putar jenazah Tam-poh ke hadapannya, lalu juga diperiksanya dada sang istri, ternyata luka yang diderita itu serupa dengan Tio-ci-sun. Sungguh pedih Tam-kong tak terkatakan, hendak menangis juga tiada air mata. Dengan suara geram ia maki Kiau Hong, “Kau manusia berhati binatang, kamu demikian keji!”

Dalam heran dan kejutnya Kiau Hong tidak sanggup menjawab. Dalam benaknya timbul macam-macam pikiran, “Siapakah gerangan yang menyerang sehebat ini kepada Tam-poh dan Tio-ci-sun? Tenaga dan kepandaian penyerang itu luar biasa, jangan-jangan perbuatan musuhku yang tak terkenal itu pula? Tapi dari mana ia tahu kedua orang ini berada di dalam perahu ini?”

Saking berduka atas kematian istrinya itu, tanpa bicara lagi Tam-kong kerahkan antero tenaganya dan menghantam Kiau Hong dengan kedua tangannya. Tapi sedikit Kiau Hong berkelit, terdengarlah suara gedubrak yang gemuruh, atap perahu rompal sebagian kena pukulannya.

Tiba-tiba Kiau Hong menjulurkan tangan kanan ke depan dan tahu-tahu pundak Tam-kong kena terpegang, katanya, “Tam-kong, aku tidak membunuh istrimu, kaupercaya tidak?”

“Jika bukan kamu, habis siapa lagi?” sahut Tam-kong dengan gemas.

“Saat ini jiwamu tergantung di tanganku, jika aku mau membunuhmu, sungguh terlalu mudah bagiku, untuk apa aku berbohong padamu?” ujar Kiau Hong.

“Tujuanmu ingin mengetahui siapa pembunuh orang tuamu, biar ilmu silat orang she Tam ini jauh di bawahmu juga tidak nanti dibodohi olehmu.”

“Baiklah, asal kau katakan nama orang yang membunuh orang tuaku, aku berjanji akan menuntut balas sakit hati istrimu ini.” bujuk Kiau Hong.

Tapi mendadak Tam-kong bergelak tertawa pedih, berulang-ulang is mengerahkan tenaga dengan maksud melepaskan cengkeram Kiau Hong. Tapi tangan Kiau Hong yang menahan pelahan di pundaknya itu dapat bergerak menurut keadaan, lebih keras Tam-kong meronta, lebih berat pula tekanannya hingga selama itu tetap Tam-kong tak sanggup melepaskan diri.

Sampai akhirnya Tam-kong menjadi nekat. Mendadak ia gigit lidah sendiri, sekumur darah segar lantas disemburkan ke arah Kiau Hong. Terpaksa Kiau Hong lepas tangan untuk menghindar. Kesempatan itu segera digunakan oleh Tam-kong untuk berlari ke sana, sekali depak ia tendang mayat Tio-ci-sun ke pinggir, lalu ia rangkul jenazah istrinya, pada saat lain, tahu-tahu kepalanya terkulai, kakek itupun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Menyaksikan adegan mengerikan itu, mau-tak-mau terharu dan menyesal juga Kiau Hong. Meski kedua suami-istri she Tam dan Tio-ci-sun itu tidak terbunuh olehnya, tapi sebab musabab kematiannya adalah karena gara-gara Kiau Hong. Jika dia mau menghilangkan jenazah untuk menghapus jejak, sebenarnya cukup ia banting kaki sekerasnya hingga dasar perahu itu berlubang, maka perahu itu akan tenggelam ke sungai dan hilanglah segala bukti peristiwa menyedihkan itu. Tapi Kiau Hong pikir, “Jika aku menghapuskan jenazah-jenazah ini tentu akan kentara seakan-akan aku yang bersalah dan ketakutan.”

Segera ia meninggalkan perahu itu, ia coba berusaha menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan di sekitar situ, tapi tiada sesuatu apa yang dilihatnya. Buru-buru ia kembali ke hotel.

Sejak tadi A Cu sudah menunggu di luar pintu, melihat Kiau Hong pulang tanpa kurang apa-apa, gadis itu sangat girang. Tapi demi nampak Kiau Hong agak lesu, ia lantas tahu pasti penguntitan Kiau Hong atas Tam-poh dan Tio-ci-sun itu tidak mendatangkan sesuatu hasil yang baik. Dengan suara lembut ia bertanya, “Bagaimana?”

“Sudah mati semua,” sahut Kiau Hong singkat.

“Hah, mati semua? Tam-poh dan Tio-ci-sun?” A Cu menegaskan dengan kaget.

“Ya, ditambah lagi Tam-kong, menjadi tiga,” kata Kiau Hong.

Mengira Kiau Hong yang membunuh ketiga korbannya itu, meski merasa tidak tentram, tapi A Cu tidak berani menegur, hanya katanya, “Tio-ci-sun itu ikut serta dalam pembunuhan ayahmu adalah setimpal jika dia terima gajarannya.”

“Tapi bukan aku yang membunuhnya,” kata Kiau Hong sambil menggeleng. Lalu ia hitung-hitung dengan jari dan menyambung, “Kini orang yang mengetahui nama biangkeladi dari pada durjana pembunuh ayahku itu hanya tinggal tiga orang saja di dunia ini. A Cu, berbuat sesuatu harus dilakukan dengan cepat, kita jangan didahului musuh lagi hingga selalu kita ketinggalan.”

“Benar,” sahut A Cu, “Be-hujin sudah terlampau benci padamu, apalagi tidak pantas jika kita paksa pengakuan seorang janda. Marilah kita berangkat ke tempat orang she Tan di Soatang saja.”

Lalu ia berseru, “Pelayan, pelayan! Selesaikan rekening kami.”

Sungguh Kiau Hong sangat terharu, dengan sorot mata kasih sayang ia pandang gadis itu, katanya, “A Cu, selama beberapa hari ini sudah terlalu melelahkanmu, biarlah kita berangkat besok saja.”

“Tidak, kita harus berangkat malam ini juga agar tidak didahului musuh,” ujar A Cu.

Terima kasih Kiau Hong tak terhingga, maka menggangguklah dia.

Malam itu juga mereka lantas keluar kota Wi-hui, sepanjang jalan terdengar orang ramai membicarakan “Iblis Cidan Kiau Hong” mengganans lagi dengan membunuh Tam-kong suami-istri dan Tio-ci-sun. Waktu bicara orang-orang itu suka celingukan kian kemari seakan-akan kuatir mendadak Kiau Hong berada disitu hingga jiwanya bisa celaka. Tak terduga bahwa memang benar Kiau Hong berada di sisi mereka, jika dia mau membunuh boleh dikatakan tidak sukar sedikit pun.

Begitulah Kiau Hong dan A Cu terus melanjutkan perjalanan siang dan malam tanpa berhenti dengan menunggang kuda dan secara berganti-ganti binatang tunggangan itu.

Tiga hari kemudian, Kiau Hong tahu A Cu pasti sangat lelah walaupun tidak diucapkan gadis itu. Maka ia ganti kuda dengan menumpang kereta, dalam kereta kuda mereka dapat mengaso untuk beberapa jam lamanya, sesudah tenaga pulih, segera menunggang kuda pula dan melarikan secepatnya.

“Sekali ini biar bagaimana pun kita harus dapat mendahului Tai-ok-jin itu,” ujar A Cu dengan girang.

Kiau Hong tidak menjawab, tapi diam-diam hatinya merasa sedih. “Tai-ok-jin” (manusia paling jahat), yaitu sebutan A Cu dan Kiau Hong kepada pembunuh yang sampai kini belum dikenal itu, setiap kali selalu mendahului usaha penyelidikannya, dan jika sekali ini lagi-lagi Tiat-bin-boan-koan Tan Cing juga terbunuh, mungkin penyelidikan selanjutnya akan tambah sulit dan sakit hati sedalam lautan itu akan sukar terbalas.

Setibanya di kota Thai-an di Soatang, rumah tinggal Tan Cing itu ternyata sangat terkenal, sekali tanya saja lantas tahu, yaitu di timur kota.

Tatkala itu sudah magrib, sampailah mereka di luar pintu timur kota. Tidak jauh pula, sekonyong-konyong tampak asap mengepul bergulung-gulung dan api menjilat-jilat tinggi, entah tempat mana yang kebakaran. Menyusul terdengarlah riuh ramai suara gembreng dan kentongan bertalu-talu disertai teriakan orang, “Kabakaran! Kebakaran!”

Kiau Hong tidak menaruh perhatian apa-apa, ia tetap melarikan kuda ke depan bersama A Cu dan akhirnya dekat juga dengan tempat kebakaran itu.

“Lekas padamkan api, lekas! Itulah rumah keluarga Tiat-bin-boan-koan!” demikian terdengar seruan orang.

Karuan Kiau Hong dan A Cu terkejut. Mereka berhentikan kuda dan saling pandang sekejap, mereka sama berpikir, “Jangan-jangan didahului lagi oleh Tai-ok-jin itu?”

“Keluarga Tan tentu banyak penghuninya, kalau rumahnya terbakar, orangnya belum tentu ikut terbakar,” demikian A Cu coba menghibur.

“Tahu begini, tempo hari seharusnya jangan kubunuh Tan Pek-san dan Tan Tiong-san,” ujar Kiau Hong menyesal.

Sejak kedua saudara Tan itu dibunuh Kiau Hong, permusuhan kedua pihak boleh dikatakan tak dapat didamaikan lagi. Walaupun kedatangannya ke Tai-an ini tiada maksud membunuh orang pula, tapi pihak Tan Cing pasti tidak mau menyudahi permusuhan itu, maka ia sudah siap utnuk menempur mereka. Siapa duga baru sampai di tempat tujuan, pihak yang dicari itu sudah mengalami musibah.

Kebakaran itu ternyata sangat hebat, sebentar saja sudah berwujut lautan api. Sementara itu penduduk di sekitar beramai-ramai sudah datang hendak memadamkan kebakaran itu, ada yang membawa ember dan menyiramkan air, ada yang menghamburkan pasir. Untung juga di sekeliling Tan-keh-ceng (perkampungan keluarga Tan) itu ada sungai yang cukup dalam, sekitar situ juga tiada rumah penduduk lain, maka api tidak sampai menjalar. Secara gotong-royong penduduk berusaha memadamkan api dengan perkasa.

Kiau Hong dan A Cu turun dari kuda serta mendekati tempat kebakaran itu untuk menonton. Terdengar seorang laki-laki di sebelah mereka sedang berkata, “Sungguh sayang, Tan-loya yang baik hati mengapa tertimpa bencana begini, sudah terbakar rumahnya, anggota keluarganya sebanyak 30 jiwa tiada seorangpun yang berhasil menyelamatkan diri!”

“Tentu musuh yang membakar rumah dan menutup pintu supaya tiada yang bisa lolos,” demikian sahut seorang, “Padahal anak kecil umur tiga keluarga Tan juga pandai ilmu silat mustahi tiada seorangpun berhasil menyelamatkan diri?”

“Kabarnya Tan-toaya dan Tan-jiya telah dibunuh orang jahat bernama Kiau Hong di Holam, jangan-jangan yang membakar rumahnya sekarang juga Tai-ok-jin itu lagi?” ujar laki-laki yang duluan.

Bila Kiau Hong bicara dengan A Cu, musuh yang tak dikenal itupun disebutnya sebagai “Tai-ok-jin”, kini mendengar kedua orang desa itu pun menyinggung “Tai-ok-jin”, tanpa terasa mereka saling pandang sekejap.

Dalam pada itu terdengar orang tadi lagi menjawab, “Ya, pasti perbuatan Kiau Hong keparat itu!”

Sampai di sini, tiba-tiba ia tahan suaranya dan berbisik, “Pasti Tai-ok-jin itu dan begundalnya menyerbu ke Tan-keh-ceng hingga keluarga Tan terbunuh semua. Ai, di mana letak keadilan ini.”

“Kiau Hong itu terlalu banyak berbuat kejahatan, pada akhirnya dia pasti akan diganjar secara setimpal dan matinya pasti akan lebih mengenaskan daripada Tan-loya yang baik budi itu,” demikian laki-laki yang satu menanggapi.

Mendengar mereka mengutuk Kiau Hong, A Cu jadi mendongkol. Mendadak ia tepuk leher kudanya hingga binatang itu kaget dan berjingkrak, sekali kaki kuda mendepak, tepat punggung orang yang ceriwis itu tertendang, sambil menjerit tanpa ampun lagi orang itu jatuh terguling.

“Kalian sedari tadi mengoceh apa?” damprat A Cu.

Meski terdepak kuda, tapi demi ingat “Tai-ok-jin” Kiau Hong banyak begundalnya, orang itu jadi ketakutan dan tidak berani bersuara lagi, cepat ia menyingkir pergi.

Kiau Hong tersenyum pedih, ia dapat merasakan betapa jelek kesan dirinya dalam pandangan khalayak ramai, terbukti dari percakapan kedua orang desa itu. Ia coba pindah ke sebelah lain dari tempat kebakaran, di sana juga orang ramai membicarakan keluarga Tan yang berjumlah lebih 30 jiwa itu tiada seorangpun selamat. Dari bau sangit yang di endus Kiau Hong dari gumpalan asap kebakaran itu, ia tahu apa yang dikatakan orang-orang itu tentu tidak salah, segenap anggota keluarga Tan memang benar telah terkubur di tengah lautan api.

“Tai-ok-jin itu benar-benar sangat keji, tidak cukup membunuh Tan Cing dan putra-putranya, bahkan antero keluarganya juga dibunuh, dan mengapa mesti membakar pula rumahnya?” kata A Cu dengan suara pelahan.

“Ini namanya membabat rumput harus sampai akar-akarnya,” sahut Kiau Hong, “Andaikan aku, pasti juga akan kubakar rumahnya.”

“Mengapa?” tanya A Cu terkesiap.

“Bukankah waktu di tengah hutan tempo hari Tan Cing pernah mengucapkan apa-apa yang telah kaudengar juga. Ia menyatakan, ‘Di rumahku juga tersimpan beberapa pucuk surat dari Toako pe mimpin ini, sesudah kucocokan gaya tulisannya nyata memang betul adalah tulisan tangannya’.”

“Ya, Tai-ok-jin itu kuatir surat di rumah Tan Cing itu akan kautemukan dan mendapat tahu nama Toako pemimpin itu, makanya ia sengaja membakar rumah Tan Cing agar surat-surat itu hilang tak berbekas lagi,” kata A Cu dengan gegetun.

Dalam pada itu penduduk yang datang menolong kebakaran itu semakin banyak, tapi api sedang mengamuk dengan dahsyatnya, siraman air berember-ember itu ternyata tida berguna sama sekali.

Di antara penonton itu banyak yang menyesalkan kebakaran itu di samping mencaci maki keganasan Kiau Hong yang dituduh yang membakar. Caci maki orang desa sudah tentu kasar dan kotor, A Cu menjadi kuatir jangan-jangan Kiau Hong tidak tahan oleh caci maki yang ngawur itu dan mendadak mengamuk sehingga orang-orang desa akan menjadi korban.

Tapi demi diliriknya, ia lihat bekas Pangcu itu menampilkan air muka yang aneh, seperti berduka dan seperti menyesal pula, tapi yang paling kentara adalah rasa kasihan, orang desa itu dianggapnya terlalu bodoh, dan tiada harganya untuk dilabrak.

Akhirnya dengan menghela nafas, berkatalah Kiau Hong, “Marilah kita pergi ke Thian-tai-san!”

Dengan keputusannya akan pergi ke Thian-tai-san itu menandakan ia sesungguhnya sangat terpaksa. Benar Ti-kong Taisu dari Thian-tai-san itu dahulu pernah ikut serta dalam pembunuhan ayah bundanya, tapi 20 tahun terakhir ini padri saleh itu telah banyak berbuat kebajikan bagi sesamanya, jauh ia pergi ke negeri lain untuk mengumpulkan obat-obatan guna menyembuhkan penyakit malaria yang diderita rakyat jelata di wilayah propinsi daerah selatan seperti, Hokkian, Ciatkang, Kuitang dan Kuisai, hingga banyak jiwa orang tertolong olehnya, sebaliknya padri itu sendiri jatuh sakit payah, sesudah sembuh ilmu silatnya jadi punah.

Perbuatan menolong sesamanya tanpa memikirkan kepentingan sendiri itu sungguh sanggat dihormati oleh kawan Kangouw dan sama menyebutnya sebagai ‘Budha hidup penolong manusia’. Maka sesungguhnya kalau tidak terpaksa. Tidak nanti Kiau Hong mau membikin susah padri saleh itu.

Begitulah mereka lantas meninggalkan Thian-tai-san menuju ke selatan. Sekali ini Kiau Hong tidak mau buru-buru, boleh jadi setibanya di Thian-tai-san, mungkin yang tertampak kembali adalah mayat Ti-kong Taisu, bisa jadi kuilnya juga terbakar menjadi puing.

Maka ia sengaja menempuh perjalanan seenaknya, dengan demikian mungkin jiwa Ti-kong Taisu dapat diselamatkan malah. Apalagi jejak padri itu pun tidak menentu, biasanya suka mengembara, bukan mustahil waktu itu orangnya tidak berada di kuilnya di Thian-tai-san.

Pegunungan Thian-tai terletak di Ciatkang timur, sepanjang jalan Kiau Hong berlaku seperti pelancong saja ambil mempercakapkan peristiwa menarik di kalangan Kangouw dengan A Cu.

Suatu hari, tibalah mereka di Tinkang. Kedua orang lantas pesiar ke Kim-san-si yang terkenal itu. Sambil memandangi air sungai yang berdebur-debur mengalir ke timur itu, mendadak Kiau Hong ingat sesuatu, katanya, “Itu ‘Toako pemimpin’ bukan mustahil adalah orang yang sama dengan ‘Tai-ok-jin’ itu.”

“Ya, mengapa sebegitu jauh kita tidak pikir ke situ?” ujar A Cu seperti orang baru sadar.

“Tapi, bisa jadi memang terdiri dari dua orang yang berlainan,” kata Kiau Hong pula, “Namun kedua orang itu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat. Kalau tidak masakah Tai-ok-jin itu berusaha mati-matian hendak menutupi siapakah gerangan Toako pemimpin itu?”

“Kiau-toaya,” sahut A Cu, “aku jadi ingat juga waktu kalian membicarakan peristiwa masa lalu itu, jangan-jangan-”

Berkata samapai di sini, tanpa terasa suaranya menjadi agak gemetar.

“Jangan-jangan Tai-ok-jin itu juga berada di dalam hutan itu, demikiankah maksudmu?” tukas Kiau Hong.

“Benar,” sahut A Cu, “di sanalah Tiat-bin-boan-koan mengatakan bahwa di rumahnya tersimpan surat yang pernah di terimanya dari Toako pemimpin itu dan sekarang rumahnya terbakar menjadi puing- Ai, aku jadi takut bila teringat hal itu.”

Dengan badan agak gemetar ia menggelendot di samping Kiau Hong.

“Dan masih ada sesuatu pula yang aneh,” kata Kiau Hong.

“Tentang apa?’ tanya A Cu.

Sambil memandang perahu layar di tengah sungai, berkatalah Kiau Hong, “Kepintaran dan kecerdikan Tai-ok-jin itu jauh di atas diriku, bicara tentang ilmu silat juga mungkin tidak dibawahku, jika dia mau mencabut nyawaku sebenarnya sangat mudah. Tapi mengapa ia takut bila kutahu nama musuhku itu?”

A Cu merasa apa yang dibahas Kiau Hong itu cukup beralasan, sambil memegang tangan bekas Pangcu itu, katanya, “Kiau-toaya, kukira sesudah Tai-ok-jin itu membunuh ayah bundamu tentunya ia merasa menyesal sekali, maka tidak tega membikin celaka dirimu lagi. Sudah tentu ia pun tidak ingin engkau menuntut balas padanya hingga jiwanya akan melayang di tanganmu.”

Kiau Hong mengangguk, “Ya, besar kemungkinan demikianlah!” katanya dengan tersenyum, “Dan bila dia tidak tega mencelakaiku, dengan sendirinya juga tidak mau mengganggu dirimu, maka kamu jangan takut lagi.”

Sejenak kemudian, ia menghela nafas dan berkata pula, “Percuma aku mengaku sebagai Eng-hiong (ksatria), tapi kini dipermainkan orang sedemikian tanpa dapat berbuat apa-apa.”

Begitulah, sesudah menyeberang sungai Tiang-kang, tidak lama mereka menyeberangi Ci-tong-kang pula, akhirnya sampai di Thian-tai-koan, kota di kaki pegunungan Thian-tai.

Maka mereka mendapatkan sebuah hotel untuk menginap. Esok paginya ketika mereka ingin tanya pelayan tentang jalan menuju ke Thian-tai-san, tiba-tiba masuk tergesa-gesa seorang pegawai kantor hotel dan memberitahu, “Kiau-toaya, ada seorang suhu dari Siang-koan-sian-si di Thian-tai-san ingin bertemu denganmu.”

Sudah tentu Kiau Hong terkejut, padahal waktu menginap di hotel ini ia mengaku she Koan, maka cepat ia tanya, “Mangapa kaupanggil Kiau-toaya padaku?”

“Suhu dari Thian-tai-san itu menjelaskan bangun tubuh dan wajah Kiau-toaya, terang tidak salah lagi,” sahut pegawai hotel.

Kiau Hong saling pandang dengan A Cu, keduanya sama heran. Padahal mereka menyamar lai, tidak serupa pula seperti waktu di thai-san, tapi setiba di Thian-tai-koan segera dikenali orang.

Terpaksa Kiau Hong berkata, “Baiklah, silakan dia masuk.”

Sesudah pegawai hotel itu keluar, tidak lama kemudian ia bawa datang seorang padri berumur 30-an dan berbadan gemuk. Sesudah memberi hormat kepada Kiau Hong, padri itu lantas berkata, “Guruku Ti-kong Taisu adanya, Siauceng Koh-teh disuruh mengundang Kiau-toaya dan Wi-kohnio sudilah mampir ke kuil kami.”

Bukan saja dirinya dikenal, bahkan A Cu she Wi juga diketahui, karuan Kiau Hong bertambah heran. Sahutnya segera, “Entah dari mana Suhu mengetahui nama kami?”

Sahut Koh the Hwesio, “Menurut pesan Suhu, katanya di hotel sini tinggal seorang Kiau-enghiong dan seorang Wi-kohnio, maka Siauceng disuruh memapak kemari. Kiranya tuan sendirilah Kiau-toaya, entah Wi-kohnio itu berada di mana?”

Peristiwa kejutan apa pula yang akan terjadi atas Ti-kong Hwesio di Thian-tai-san?
Sesungguhnya siapa tokoh misterius yang bertindak selicin dan selicik itu?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: