Kumpulan Cerita Silat

13/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (13)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 5:12 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

13. Pembunuh Sejati

Ye Xiang berbaring di bawah pohon rindang di padang rumput yang gersang.

Rumput-rumput berwarna kuning kekeringan. Ia melemaskan tangan dan kakinya.

Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini karena tidak punya cukup waktu buat bersantai.

Sekarang keadaannya sudah berbeda, sudah tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan, ia bisa lebih santai menjalani hidup.

Ternyata kegagalan pun ada hikmahnya, orang sukses belum tentu bisa menikmati hidup seperti dirinya. Ye Xiang tertawa kecut.

Tiba-tiba terdengar suara langkah berjalan di atas rumput, begitu ringan seperti kucing yang mengendap.

Ye Xiang tetap berbaring. Tanpa berpaling pun ia tahu siapa yang datang.

Itu langkah Meng Xin Hun, kecuali Meng Xin Hun tidak ada yang melangkah seperti itu.

“Kapan kau pulang?” tanya Ye Xiang tetap berbaring.

“Baru saja,” jawab Meng Xin Hun.

Tawa Ye Xiang pecah. “Kau baru pulang tapi langsung mencariku, benar-benar sahabat yang baik.”

Seketika jengah wajah Meng Xin Hun. Selama dua tahun ini banyak yang menjauhi Ye Xiang, termasuk dirinya.

Ye Xiang menepuk-nepuk rumput kering di sampingnya. “Duduklah! Minumlah dulu, baru katakan maksudmu mencariku…”

Meng Xin Hun duduk di tempat yang ditunjuk Ye Xiang, menenggak arak sambil berjanji dalam hati, kelak bila kembali dengan selamat akan memperlakukan Ye Xiang lebih baik, minum berdua lebih sering lagi.

Harus diakui, hari-hari lalu ia sempat menjauhi Ye Xiang. Bukan karena sombong, melainkan karena takut. Manakala ia melihat Ye Xiang, seolah ia bercermin melihat diri sendiri.

“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Ye Xiang.

“Kau pernah bilang, di dunia ini ada dua macam orang. Pertama, orang yang membunuh dan, kedua, orang yang dibunuh.” jawab Meng Xin Hun sambil mengembalikan botol arak ke tangan Ye Xiang setelah sekali lagi menenggaknya.

Ye Xiang tertawa. “Tidak seorang pun yang bisa membagi jenis orang dengan cara sama! Mungkin caraku membagi pun salah.”

“Kau bisa membagi dengan cara seperti itu, karena sesunguhnya kau memang bukan tipe pembunuh,” sahut Meng Xin Hun.

Ye Xiang menenggak araknya sambil tersenyum. “Kebanyakan pembunuh akhirnya mati dibunuh juga.”

“Apa tidak ada pengecualian?” tanya Meng Xin Hun.

“Maksudmu, apa ada pembunuh tapi akhirnya tidak terbunuh?” Ye Xiang balik bertanya.

Meng Xin Hun mengangguk.

Sesaat Ye Xiang termangu. “Sesungguhnya, sangat jarang orang seperti itu.”

“Sangat jarang berarti tetap ada, bukan? Kau kenal orang seperti itu?” kejar Meng Xin Hun.

Setelah lama termangu, Ye Xiang menjawab, “Aku adalah salah satunya.” Nadanya menjadi kecut, “Sekarang sudah tidak ada yang berniat membunuhku.”

Meng Xin Hun tidak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba Ye Xiang terduduk, memandang Meng Xin Hun dalam-dalam. “Dia seperti apa?”

Meng Xin Hun tahu, Ye Xiang kini sudah menangkap maksud kedatangan dan arah pertanyaannya.

“Orangnya sangat biasa,” jawab Meng Xin Hun, “Tidak tinggi, juga tidak pendek. Tidak gemuk, juga tidak kurus.”

“Apa kau pernah melihat wajahnya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena setelah membunuh, ia mengoleskan darah korban ke wajahnya.”

Wajah Ye Xiang berubah kaku. Lama baru ia berkata, “Aku tahu orang semacam ini. Di dunia ini hanya ada satu orang semacam ini! Tidak ada kecualinya. Hanya saja …,” Ye Xiang berubah menjadi sangat serius menatap Meng Xin Hun, “… kalau kau bertemu dengannya, larilah sejauh mungkin. Semakin jauh semakin baik.”

“Kenapa?” Meng Xin Hun tidak mengerti.

“Pembunuh bukan hanya kita berdua!” jawab Ye Xiang.

“Oh?” Meng Xin Hun semakin tidak paham.

“Pembunuh adalah pekerjaan yang tidak biasa,” jelas Ye Xiang sambil menatap Men Xin Hun.

Meng Xin Hun mengangguk, balik menatap Ye Xiang, dan berkata. “Kau pernah bilang, menjadi pembunuh tidak bisa memiliki nama! Bila kau punya nama, berarti kau bukan pembunuh profesional.”

Ye Xiang menghela nafas. “Ya, itulah pengorbanan kita atas profesi ini. Nama baik, keluarga, teman, semua tidak bisa kita miliki.” Sesaat ia terdiam, baru melanjutkan, “Karena itu, tidak seorang pun mau menjalani pekerjaan seperti kita, terkecuali orang gila!”

Kecut senyum Meng Xin Hun. “Walau sekarang belum gila, lambat laun pasti gila.”

Ye Xiang menenggak araknya lagi. “Tapi tetap saja ada orang yang memang ditakdirkan jadi pembunuh! Orang seperti itulah sejatinya seorang pembunuh. Pada waktu membunuh, dia benar-benar membunuh tanpa perasaan. Selamanya dia tidak akan merasa jenuh atau lelah untuk membunuh, hati dan tangan pun tidak dapat berhenti untuk terus membunuh.”

Men Xin Hun hanya diam, menatap botol arak di tangan Ye Xiang.

“Asal kau tahu,” Ye Xiang melanjutkan, “Orang yang kau maksud adalah salah satu pembunuh paling gila yang pernah kutahu!”

Meng Xin Hun mengambil botol arak dari tangan Ye Xiang dan langsung menenggaknya. “Apa dia pembunuh terbaik?” tanya Meng Xin Hun setelah beberapa saat.

“Benar, di dunia ini tidak ada yang lebih hebat daripadanya,” jawab Ye Xiang.

Meng Xin Hun menatap Ye Xiang, ia tahu perkataannya belum selesai.

Ye Xiang melanjutkan, “Kau tidak akan bisa menandinginya! Bisa jadi kau lebih tenang, lebih dingin, dan lebih pintar darinya. Mungkin pula gerakanmu lebih cepat darinya. Tapi kau tidak mungkin bisa menjadi pembunuh nomor satu kalau kau bukan seorang yang gila.”

Meng Xin Hun mengembalikan botol arak ke tangan Ye Xiang. Setelah lama, Meng Xin Hun baru bertanya, “Apa kau pernah melihat saat dia membunuh?”

“Kecuali melihat dengan mata kepala sendiri, tidak ada yang bisa menggambarkan caranya membunuh. Pada waktu membunuh, dia tidak menganggap lawannya manusia.”

“Mungkin, saat membunuh, dia tidak menganggap dirinya manusia!” Meng Xin Hun menatap jauh ke sana.

Seperti tidak mendengar Meng Xin Hun, Ye Xiang perlahan berkata, “Ada yang bilang dia sudah pensiun…,” tiba-tiba Ye Xiang menatap Meng Xin Hun dalam-dalam, “Di mana kau menemuinya?”

“Di taman bunga Sun Yu Bo!”

“Siapa yang dibunuh olehnya?”

“Huang Shan San You.”

“Kenapa dia membunuh Huang Shan San You?”

“Karena mereka berlaku tidak sopan pada Sun Yu Bo.”

Mendengar jawaban ini Ye Xiang menghela nafas. “Sudah kuduga Sun Yu Bo punya pelindung yang kuat. Tapi tidak kusangka dialah pelindungnya.” Sekarang ia memegang tangan Meng Xin Hun kuat-kuat, “Lupakanlah niatmu untuk membunuh Sun Yu Bo,” ucapnya begitu sungguh-sungguh

“Aku tidak bisa melupakannya!”

Ye Xiang tampak sangat serius. “Tetap berusahalah untuk melupakannya! Kalau tidak, aku khawatir, kau akan mati dalam waktu dekat. Walau kau bisa membunuh Sun Yu Bo, dia akan mencarimu kemana pun pergi dan akhirnya berhasil membunuhmu!”

Meng Xin Hun menghela nafas. “Betapa pun, akan kucari cara agar tidak seorang pun tahu siapa yang membunuh Sun Yu Bo.”

“Orang lain mungkin tidak bisa,” geleng Ye Xiang, “Tapi, percayalah, orang ini pasti bisa melacaknya!”

Meng Xin Hun perlahan bertanya, “Apa orang ini mengenalmu?”
.
Ye Xiang mengangguk. “Dia mengenaliku. Begitu dia melihatku, dia tahu siapa aku.”

Orang lain mungkin tidak mengerti ucapan Ye Xiang. Tapi, Meng Xin Hun paham maksudnya. Seperti juga Ye Xiang, si Jubah Kelabu dan Meng Xin Hun juga manusia.

Walau mereka adalah pembunuh, sehari-hari sedapat mungkin mereka tampil tidak berbeda dengan orang lain, pun sedapatnya tidak memancing keributan dengan orang lain.

Namun pembunuh adalah pembunuh. Seorang pembunuh sejati sekali melihat pasti bisa mengenali siapa dirimu!

Meng Xin Hun bertanya lagi, “Bila dia bisa mengenalimu, apakah dia juga mengenaliku?”

“Ya,” Ye Xiang balik menatap Meng Xin Hun, “Walau waktu itu dia tidak melihatmu, tapi…”

Meng Xin Hun diam, menunggu kelanjutan ucapannya.

“… percayalah, dia sudah mengenalimu! Bila Sun Yu Bo mati, dia pasti akan datang mencarimu.”

Meng Xin Hun bergidik ngeri, tapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu, Ye Xiang masih belum selesai.

“Barang kali ia tidak langsung membunuhmu,” lanjut Ye Xiang, “Tapi, kalau kau sudah dicurigai olehnya, dia akan selalu menguntitmu, menunggumu, ikut pergi ke mana pun kau pergi…”

Meng Xin Hun membulatkan tekad. “Aku lebih dulu harus membunuhnya!”

Ye Xiang terkejut mendengar kesungguhannya. “Kau mau membunuhnya? Apa kau bisa membunuhnya?”

“Betapa pun, dia manusia!” jawab Meng Xin Hun.

Selama manusia, pasti bisa mati! Tapi Ye Xiang menggeleng-geleng kepala. “Dia manusia macam apa kau sendiri tidak tahu, bagaimana bisa membunuhnya?”

“Tapi ada kau yang bisa memberi tahuku dia macam apa.”

“Aku?” Ye Xiang menggoyang-goyang kedua tangan. “Tidak! Aku tidak tahu.”

Meng Xin Hun masih menatap Ye Xiang begitu dalam. Sesaat ia menghela nafas, kemudian berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu.

Ia tidak memaksa Ye Xiang untuk mengatakannya. Bila Ye Xiang tidak ingin mengatakan, ia tidak mau memaksa.

Tiba-tiba Ye Xiang berseru, “Tunggu sebentar!”

Meng Xin Hun menghentikan langkah.

Setelah lama Ye Xiang baru berkata, “Dia membunuh bukan karena dia tidak menyukai manusia, melainkan karena dia sangat menyukai darah!”

“Darah?” Meng Xin Hun tidak mengerti.

Tanpa juntrungan, Ye Xiang melanjutkan, “Dia juga tidak suka makan ikan, tapi dia suka memelihara ikan. Orang yang suka memelihara ikan tetapi tidak makan ikan tidaklah banyak.”

Meng Xin Hun masih ingin bertanya tapi Ye Xiang sudah menutup mulut sendiri dengan botol arak.

Matahari senja menyinari pepohonan dan muka Ye Xiang. Wajahnya sudah berubah, ia seperti tertidur.

Meng Xin Hun menatap Ye Xiang dengan sorot penuh terima kasih.

Meng Xin Hun tahu, tidak seorang pun bisa memaksa Ye Xiang mengatakan hal yang tidak ingin ia katakan.

Tapi, tetap ada pengecualian.

Jika Meng Xin Hun yang meminta, Ye Xiang pasti bicara.

Meng Xin Hun adalah teman Ye Xiang.

Juga saudaranya.

—–

Sewaktu Meng Xin Hun kembali, Gao Lao Da sudah menanti.

Kelihatannya Ga Lao Da sedang gembira. Namun begitu melihat Meng Xin Hun, ia jadi marah, “Kenapa tidak menungguku?”

“Aku tidak kemana-mana,” jawab Meng Xin Hun, “hanya menemui Ye Xiang.”

“Sepertinya antara kau dan Ye Xiang begitu banyak yang ingin dibicarakan,” jengek Gao Lao Da. Setelah terdiam sesaat, ia melanjutkan, “Aku sudah tahu kemana Sun Yu Bo menugaskan Lu Xiang Chuan.”

“Oh ya?”

“Ia menugaskan Lu Xiang Chuan menemui Wan Peng Wang,” jawab Gao Lao Da.

“Untuk apa?” tanya Meng Xin Hun lagi.

“Teman lama Sun Yu Bo bernama Wu Lao Dao. Anak lelaki Wu Lao Dao mencintai pelayan Wan Peng Wang, namun Wan Peng Wang tidak merestui. Karena itu, Sun Yu Bo memerintahkan Lu Xiang Chuan meminta restunya.”

Walau Gao Lao Da seorang perempuan, ia bisa menjelaskan masalah ini secara cepat dan sederhana.

“Lantas?” tanya Meng Xin Hun.

“Akhirnya Wan Peng Wang merestui mereka dan dia pun menyediakan semua tetek bengek untuk pernikahan gadis itu.”

Kembali tanya Meng Xin Hun, “Dengan begitu, masalah selesai?”

“Belum! Malah baru dimulai!” Gao Lao Da tertawa senang, “Orang semacam Wan Peng Wang tentu tidak menyerah begitu saja.”

Meng Xin Hun tidak bertanya lagi karena ia tidak mengenal Wan Peng Wang.

Gao Lao Da berkata, “Menurutku, Wan Peng Wang sengaja melakukan itu agar Sun Yu Bo lengah. Di saat itulah dia akan menyerang Sun Yu Bo.” Gao Lao Da berkeplok gembira. “Bila Wan Peng Wang mulai menyerang, pasti akan sangat dahsyat!”

“Karena itu dia memanggil Tu Da Peng?” Meng Xin Hun bertanya sekaligus menyimpulkan, teringat pada anak buah Gao Lao Da yang mengetuk pintu tadi.

Gao Lao Da mengangguk. “Selain Tu Da Peng, ia juga sudah memanggil Ji Peng dan Nu Peng. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju markas pusat Wan Peng Wang.”

“Mereka akan menyerang Sun Yu Bo?”

“Benar! Saat mereka mulai menyerang, itulah kesempatan emasmu,” senyum Gao Lao Da begitu puas.

“Kalau begitu, aku harus menguntit Tu Da Peng!”

“Ya, kau harus mencermati gerak-gerik mereka dan menunggu kesempatan baik. Namun, kau tidak boleh membiarkan orang lain mengambil kesempatan emas itu. Kau harus membunuh Sun Yu Bo dengan tanganmu sendiri.”

“Aku mengerti.”

Meng Xin Hun memang mengerti bahwa harus dirinya yang membunuh Sun Yu Bo. Kalau tidak, Gao Lao Da tidak akan menerima honor. Selain itu, tidakkah ia juga harus menjaga reputasi Gao Lao Da?

“Berapa orang yang ikut dengan Tu Da Peng?” tanya Meng Xin Hun.

“Mereka hanya bertiga, menunjukkan bahwa gerak-gerik mereka sangat rahasia.”

“Siapa kedua lainnya?”

“Yang satu bernama Wang Er Dai. “Dai” yang berarti bodoh. Walau penampilannya tampak bodoh, tapi dia tidak bodoh. Ini sekedar upaya mengelabui orang.”

“Satunya lagi?” tanya Meng Xin Hun.

“Yang satu lagi bernama Ye Mao Zi, si Kucing Malam, sesuai namanya ia adalah pencuri ulung dan ahli membius orang. Tu Da Peng sudah memanggilnya, pasti ada penugasan khusus buatnya.”

“Kapan mereka berangkat?”

Gao Lao Da tertawa puas. “Walau Tu Da Peng tergesa, tapi ia tidak akan segera berangkat, Jin Er sekarang masih menemaninya di kamar. Sayangnya, Jin Er hanya bisa menahannya satu hari lagi.”

Meng Xin Hun terlihat berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Gao Lao Da.

“Orang yang bisa dirayu untuk tinggal satu hari lagi tidak akan pernah bisa menjadi anak buah Wan Peng Wang yang utama.”

Gao Lao Da tertawa manis. “Sepertinya semakin hari kau semakin cerdas.”

“Karena aku memang harus menjadi lebih pintar,” jawab Meng Xin Hun dingin.

Advertisements

4 Comments »

  1. Jilid 14 dan seterusnya kapan munculnya? terima kasih

    Comment by an — 10/07/2009 @ 7:20 am

  2. plz.,lanjutannya bo.

    Comment by tulus — 05/12/2009 @ 1:31 am

  3. gan, ditunggu terusannya ya..salam rimba persilatan..

    Comment by hendri — 17/07/2013 @ 10:00 am

  4. Wah, lagi seru2nya….plis dunk lanjutannya…salam dunia hitam persilatan

    Comment by Anonymous — 11/08/2014 @ 2:25 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: