Kumpulan Cerita Silat

12/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (12)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 5:11 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

12. Xiao He

Kemarahan Meng Xin Hun seketika timbul. “Yang melakukan tugas ini aku atau kau?” bentaknya.

“Tentu saja kau.”

“Bila aku yang melakukan, tentu akan kugunakan caraku sendiri!”

“Aku hanya bertanya, tidak ada maksud apa-apa,” ejek Xiao He sambil melanjutkan, “Gao Lao Da selalu bilang, kepalamu paling dingin. Tidak kusangka, ternyata kau cepat marah.”

Meng Xin Hun seketika merasa dipecut. Sebetulnya ia tidak boleh marah.

Marah adalah sejenis emosi. Seorang pembunuh profesional tidak boleh memiliki emosi. Apa pun bentuknya, emosi bagi profesi seperti Meng Xin Hun adalah racun.

Meng Xin Hun merasa ujung-ujung jarinya mendingin.

Xiao He menatapnya. “Kau kenapa, tidak biasanya begini?”

Meng Xin Hun membuang pandang. Seluruh otot-ototnya seperti hilang. Ia sendiri pun tidak tahu megapa sekarang jadi begini. Lama baru ia berkata, “Aku lelah…”

Mendengar perkataan ini, Xiao He malah senang. “Aku boleh tanya?”

“Apa?”

Mata Xiao He berputar jahil. “Lebih baik tidak jadi kutanya.”

Hampir naik kembali darah Meng Xin Hun. Sedapatnya ia menekan emosi. “Bicaralah!”

Puas mempermainkan Meng Xin Hun, Xiao He berkata simpati, “Dua tahun sejak kau mengganti posisi Ye Xiang, sudah waktunya kau beristirahat.” Nadanya penuh perhatian, “Kalau kau tidak mau melakukan tugas ini, biar aku yang menggantikan.”

Lirih suara Meng Xin Hun. “Kau tahu Sun Yu Bo macam apa?”

“Kau kira aku tidak bisa membunuhnya?”

“Kemungkinan aku juga tidak bisa membunuhnya!”

“Kalau kau tidak bisa membunuhnya, kau pikir aku juga tidak bisa?” Wajah Xiao He menghijau marah. “Kungfumu memang lebih tinggi dariku. Untuk membunuh tidak hanya memerlukan kungfu, tapi juga semangat dan kemauan!”

“Kalau kau ingin menggantikanku, pergilah.” Meng Xin Hun merasa begitu lelah.

Lelah membuatnya malas bicara, juga membuatnya malas melakukan apa pun.

Tapi masih ada satu kalimat yang ia ucapkan. “Sebelum melakukannya, kau harus tahu, tugas ini sangat berbahaya.”

Xiao He langsung menjawab, “Aku tidak takut karena aku sudah memperhitungkannya.”

Bahaya tidak akan membuat Xiao He mundur. Kesempatan ini sudah lama ia tunggu. Asal bisa melaksanakan tugas ini dengan baik, maka Xiao He bisa mengganti posisi Meng Xin Hun. Itulah ambisinya.

Namun Meng Xin Hun tidak perduli. Walau kedudukannya terancam direbut Xiao He, ia tidak perduli.

Ia hanya ingin istirahat. Lain-lainnya ia tidak mau tahu. Ia hanya ingin tidur, kalau bisa tidak usah bangun lagi.

Nyatanya sampai dini hari pun ia tidak bisa memejam mata.

—–

Ayam berkokok.

Kabut mengambang di permukaan begitu tebal. Sedemikian tebalnya bahkan telapak tangan sendiri pun sulit terlihat

Meng Xin Hun berjalan ke pinggir kota. Entah berjalan ke mana ia tidak perduli. Berjalan sampai kapan pun ia tidak mau tahu. Pokoknya, ia membiarkan kakinya melangkah semaunya.

Pikirannya hampa, sehampa hatinya.

Suara air mengalir.

Sungai kecil.

Ia menghampiri dan duduk di tepi kali.

Ia suka mendengar suara air mengalir. Walau air bisa saja mengering, tapi air tidak pernah berhenti mengalir. Air sepertinya tidak mengenal lelah. Begitu bersemangat, tidak pernah berubah.

Mungkin di semesta ini hanya manusia yang bisa merasa lelah, bosan, dan berubah?

Meng Xin Hun menghela nafas.

—–

Kabut mulai menipis.

Ketika itulah Meng Xin Hun baru menyadari sesosok bayangan duduk di atas batu di seberang sana. Kini sosok itu bangkit mendatanginya.

Seorang gadis berbaju merah. Wajahnya terlihat pucat, mungkin menahan dingin?

Matanya sangat benderang, seakan menembus kepekatan kabut.

Mata itu memandang Meng Xin Hun penuh simpati.

Ia seperti kasihan kepada kebodohan manusia dan juga bersimpati pada manusia yang tidak mengerti arti kehidupan. Karena ia bukan manusia, melainkan dewi.

Dewi yang baru keluar dari sungai.

Tenggorokan Meng Xin Hun tercekat. Ia merasa darahnya bergolak, membuat matanya berbinar terang.

Meng Xin Hun mengenali gadis itu dan mengetahui bahwa ia bukan dewi.

Mungkin ia memang lebih cantik daripada dewi, lebih misterius daripada dewi. Tapi ia bukan dewi.

Ia manusia biasa bernama Xiao Tie.

Xiao Tie masih memandang Meng Xin Hun, perlahan bertanya, “Kau ingin bunuh diri?”

Pertama kali Meng Xin Hun mendengarnya bicara, suaranya lebih merdu daripada air yang mengalir di musim semi.

Meng Xin Hun ingin bicara tapi tidak sanggup.

Xiao Tie bicara lagi, “Kalau kau ingin mati, aku tidak akan melarangmu. Aku hanya ingin bertanya satu kalimat saja.”

Meng Xin Hun mengangguk.

Tiba-tiba pandangan Xiao Tie beralih ke tempat jauh, sangat jauh di sana, ke tempat tertutup kabut. Ia bertanya, “Apa kau pernah mengalami kehidupan?”

Meng Xin Hun tidak menjawab karena ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Apa kau pernah menjalani kehidupan?” tanya Xiao Tie sekali lagi. “Apa kehidupanmu termasuk normal?”

Meng Xin Hun membalik badan, ia takut air matanya menetes.

Saat membalik tubuh, suara Xiao Tie seperti menjauh. “Seseorang bila belum pernah menjalani kehidupan tapi sudah memikirkan kematian, bukankah sangat bodoh?”

Meng Xin Hun ingin memukul gadis itu dan balik bertanya, “Apa kau sendiri juga punya kehidupan?”

Nyatanya Meng Xin Hun tidak bertanya, juga tidak perlu bertanya karena gadis itu masih begitu belia, begitu cantik, pasti ia punya kehidupan.

Tapi jika gadis itu punya kehidupan, kenapa memilih tempat yang sunyi ini? Apakah ia ke sini untuk menikmati kesepian?

Setelah lama, Meng Xin Hun baru membalik tubuh, tapi gadis itu sudah pergi entah ke mana. Datang seperti kabut, hilang pun seperti kabut.

Tidakkah kesepian terkadang juga bisa dinikmati?

Pertemuan begitu singkat.

Tapi entah mengapa di dalam hati Meng Xin Hun serasa ia sudah mengenal gadis itu begitu lama. Sepertinya sebelum ia dilahirkan sudah mengenalnya. Gadis itu seperti juga sudah lama menunggunya. Kehidupan Meng Xin Hun pun seperti hanya untuknya.

Apakah ini pertemuan terakhir?

Meng Xin Hun tidak tahu jawabnya. Tidak ada yang tahu ia datang dari mana dan akan pergi ke mana.

Meng Xin Hun memandang ke kejauhan, tiba-tiba hatinya hampa.

Kabut semakin menipis.

—–

Beberapa hari berlalu.

Tidak ada kabar dari Xiao He.

Xiao He seperti lenyap ditelan bumi. Meng Xin Hun tidak punya kegiatan apa pun.

Satu-satunya kegiatan yang ia lakukan hanya berusaha melupakan Xiao Tie.

Namun entah mengapa hari ini ia teringat Xiao He.

Akhirnya Meng Xin Hun memutuskan untuk kembali ke Kuai Huo Yuan.

—–

Orang-orang di dalam Kuai Huo Yuan selalu berwajah gembira.

Gao Lao Da selalu tersenyum manis. Saat melihat Meng Xin Hun pulang, tawanya semakin manis.

Tapi sejak kejadian hari itu, Gao Lao Da belum pernah benar-benar menatap Meng Xin Hun. Meng Xin Hun pun tidak berani menatap Gao Lao Da secara langsung.

Gao Lao Da selalu ingin melupakan kejadian hari itu, tapi ia tidak sanggup.

Meng Xin Hun hanya menunduk kepala.

“Kau sudah pulang?” tanya Gao Lao Da.

Meng Xin Hun sudah berada di sini, dengan sendirinya sudah pulang.

Tapi Meng Xin Hun justeru menggeleng kepala karena ia tahu yang ditanya Gao Lao Da sebetulnya apakah pekerjaannya sudah selesai.

Jika ia sudah berani pulang seharusnya tugasnya sudah rampung.

Gao Lao Da mengerut dahi. “Mengapa tugasmu belum selesai?”

Meng Xin Hun lama terdiam, baru perlahan bertanya, “Di mana Xiao He?”

“Xiao He? Kenapa kau tanya dia? Dia tidak punya tugas, mana kutahu dia ada di mana?”

Hati Meng Xin Hun serasa tenggelam. “Aku pernah bertemu dengannya.”

“Di mana?” tanya Gao Lao Da heran.

“Dia datang mencariku.”

“Kenapa dia mencarimu?” Gao Lao Da terlihat marah.

Meng Xin Hun tidak menjawab.

“Apa kau tahu dia di mana?”

Meng Xin Hun tidak bisa menjawab.

Gao Lao Da semakin marah, ia sangat tahu sifat Xiao He, anak itu suka menyombongkan diri dan cari perkara.

Meng Xin Hun membalik tubuh, beranjak keluar, karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia tanyakan.

Sekarang ia bisa menduga kejadiannya: entah bagaimana Xiao He mengetahui ke mana ia pergi dan sengaja mencarinya.

Maksud Xiao He hanya satu, yaitu menjatuhkan rasa percaya diri Meng Xin Hun supaya bisa menggantikan posisinya.

Hal seperti ini sering dilakukan Xiao He. Hanya saja kali ini ia salah, dan kesalahannya sangat fatal. Xiao He tidak tahu, Lao Bo adalah orang yang sangat menakutkan.

“Jangan pergi” cegah Gao Lao Da, “Aku ingin tahu, apa Xiao He menggantikanmu mencari Lao Bo?”

Lama terdiam, Meng Xin Hun mengangguk kepala.

“Apa kau membiarkan dia pergi begitu saja?”

“Dia sudah pergi!”

Gao Lao Da marah berkata, “Kau tahu seperti apa Sun Yu Bo! Kau sendiri paling banter hanya tujuh puluh persen berhasil. Kalau Xiao He yang pergi, berarti mengantar nyawa. Kenapa kau tidak mencegahnya?”

Meng Xin Hun membalik tubuh. Ia juga marah, berkata, “Kenapa ia bisa tahu aku ada di sana?”

Mulut Gao Lao Da seketika tersumpal.

Tugas Meng Xin Hun adalah rahasia. Kecuali Meng Xin Hun dan Gao Lao Da, tidak ada yang tahu.

Tapi kenapa Xiao He bisa tahu?

Akhirnya Gao Lao Da menarik nafas. “Aku tidak menyalahkanmu, hanya menghawatirkan Xiao He. Siapa pun dia aku tetap akan menghawatirkannya.”

Meng Xin Hun menunduk kepala.

Di depan orang lain kepala Meng Xin Hun tidak pernah menunduk, tapi di hadapan Gao Lao Da keadaannya tidak sama. Ia tidak akan pernah melupakan budi Gao Lao Da.

“Mau ke mana?” tanya Gao Lao Da melihat Meng Xin Hun mulai beranjak.

“Ke tempat aku seharusnya berada.”

“Kau sudah tidak bisa ke sana lagi!”

“Kenapa?”

“Bila benar Xiao He sudah ke tempat Sun Yu Bo, hidup atau mati, Sun Yu Bo akan lebih waspada. Kalau kau pergi, hanya mengantar nyawa.”

Meng Xin Hun tertawa. “Setiap menjalankan tugas pun aku sudah siap menghantarkan jiwa.”

“Kali ini tidak sama!”

“Kali ini tetap sama! Karena saat menjalankan tugas, selamanya kulakukan sebaik mungkin.”

“Kalau kau tetap memaksa,” kata Gao Lao Da, ” sebaiknya menunggu situasi tenang lebih dulu.”

“Bila menunggu situasi tenang, tubuh Xioa He sudah dingin.”

“Sekarang pun mungkin badannya sudah dingin.” jawab Gao Lao Da.

“Paling sedikit, aku harus melihat-lihat!”

“Tidak bisa! Aku tidak mengijinkan kau pergi demi siapa pun.”

Mata Meng Xin Hun berekspresi aneh. “Apa demi Xiao He pun hal ini tidak bisa?”

Gao Lao Da tetap berkeras. “Demi dia juga tidak bisa! Aku tidak bisa demi seseorang yang sudah mati mengorbankan orang yang masih hidup.”

“Tapi dia adalah saudara kita.”

“Saudara dan tugas tidak bisa dicampur aduk. Kalau kita tidak bisa membedakan tugas dan saudara, di hari mendatang mungkin yang mati adalah kita!” Mata Gao Lao Da menjadi sangat berat. Perlahan ia melanjutkan, “Jika kita semua mati, tidak akan ada yang mengubur mayat kita.”

Meng Xin Hun sesaat menjublak. Ia merasa Gao Lao Da sudah berubah dan terus berubah.

Gao Lao Da kini jadi sangat dingin dan kejam, berubah menjadi orang yang tidak punya perasaan.

Sejak Ye Xiang gagal menjalankan tugas, Meng Xin Hun sudah merasakan perubahan Gao Lao Da.

Tapi kenapa Gao Lao Da tidak takut Xiao He membocorkan rahasia?

—–

Terdengar ketukan pintu.

Itulah pintu rahasia Gao Lao Da.

Bila bukan hal yang sangat penting, tidak ada yang berani mengetuknya.

Gao Lao Da membuka jendela kecil pada pintu itu. “Ada apa?”

Terdengar jawaban dari luar, “Tuan Tu mengajak Nona minum arak.”

“Apakah dia yang bernama Tu Cheng?” tanya Gao Lao Da.

Suara di luar menjawab, “Betul.”

“Baiklah aku segera menemuinya.” Gao Lao Da memandang Meng Xin Hun. “Tu Cheng adalah pedagang besar. Ia juga anak buah Wan Peng Wang, malah kabarnya ia adalah tangan kanannya.”

Meng Xin Hun bertanya, “Apa Tu Cheng itu yang bernama asli Tu Da Peng?”

“Betul,” jawab Gao Lao Da.

“Kau pasti tahu Sun Yu Bo menyuruh Lu Xiang Chuan pergi. Tidak ada yang tahu tujuan penugasannya. Bisakah kau mencari tahu?” tanya Meng Xin Hun. Ia tidak pernah menanyakan hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan.

“Lu Xiang Chuan orang kepercayaan Lao Bo. Kalau bukan hal yang sangat penting, Lao Bo tidak akan menyuruh Lu Xiang Chuan pergi.”

Meng Xin Hun mengangguk. Ia pun merasa Lu Xiang Chuan tidak bisa dipandang remeh.

Gao Lao Da tertawa. “Kalau Sun Yu Bo berkelahi dengan Wan Peng Wang, akan lebih menguntungkan kita. Tu Cheng keluar sarangnya pasti terkait dengan Sun Yu Bo.” Gao lao Da langsung membuka pintu, berjalan keluar. “Lebih baik kau tunggu di sini, biar aku mencari kabar sebentar.”

Berita yang diperoleh Gao Lao Da selalu sangat cepat, karena cara kerjanya pun sangat tepat.

Tapi Meng Xin Hun tidak mau sekedar duduk menunggu, ada juga berita yang ingin ia cari sendiri.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: