Kumpulan Cerita Silat

11/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (11)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 5:05 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

11. Xiao Tie

Sembilan puluh hari lagi.

Tapi keadaannya masih sama seperti dua puluh sembilan hari yang lalu, informasi tentang Lao Bo masih sangat terbatas.

Entah bagaimana kelihaian Lao Bo, seperti apa pula ilmu silatnya, Meng Xin Hun tidak tahu.

Pada serangan di hari ulang tahun itu, jemari Lao Bo sama sekali tidak bergerak. Ketenangan yang sungguh menakutkan.

Berapa banyakkah anak buah Lao Bo? Seberapa tangguhkah mereka?

Meng Xin Hun tidak tahu.

Ia hanya melihat seorang pemuda berdiri di belakang Lao Bo, sangat terpelajar, dan di balik bajunya tersimpan entah berapa banyak senjata rahasia.

Juga ada Sun Jian, putra Lao Bo, pemuda dengan semangat tempur seperti api membara mengerikan.

Ia mendapat kabar, keduanya sudah meninggalkan kota. Apakah di sisi Lao Bo masih ada pelindung lain setangguh mereka?

Siapa pula si Jubah Kelabu? Di mana ia sekarang?

Meng Xin Hun seorang pembunuh berdarah dingin, berhati dingin, bertangan dingin. Tapi ia menilai si Jubah Kelabu terlebih kejam dan dingin lagi.

Ketika melihat cara membunuh sekejam dan secepat itu, timbul rasa takut di hati Meng Xin Hun.

Meng Xin Hun sudah pernah coba mencari tahu tentang si Jubah Kelabu. Hasilnya nihil, ia tidak mendapat apa-apa.

Kebiasaan dan kehidupan sehari-hari Lao Bo pun ia tidak tahu, juga tidak tahu di mana tempat tinggal Lao Bo.

Taman chrysan itu begitu luas, di dalamnya terdapat tujuh belas ruangan. Di ruangan mana Lao Bo tinggal?

Pun taman bunga Lao Bo tidak hanya chrysan itu saja, masih terbentang taman-taman lain: taman bunga mei, mawar, mudan, belum lagi kebun bambu.

Setiap taman saling berhubungan. Meng Xin Hun tidak punya informasi seberapa luas total keseluruhan taman bunga Lao Bo.

Kabarnya, jika seseorang berjalan dengan cepat mengelilingi seluruh taman, satu hari pun tidak cukup.

Sejak hari ulang tahun itu, Meng Xin Hun tidak pernah melihat Lao Bo lagi. Sepertinya, Lao Bo tidak pernah menginjakkan kaki di luar daerah kekuasaannya.

Bagaimana penjagaan di taman itu? Berapa banyak penjaga dan jebakannya? Meng Xin Hun tidak tahu.

Untuk order membunuh kali ini, begitu banyak hal menyangkut target sasaran yang belum ia ketahui.

Ia tidak mau gegabah.

—–

Waktu makan malam.

Ia ingin makan, sederhana saja dan tidak berlebihan, karena ia beranggapan terlalu banyak makan bisa membuat pikiran dan pergerakan lamban.

Mungkin karena pengalaman masa kecilnya yang prihatin, berhari-hari tidak makan, dan kini profesinya selaku pembunuh, ia merasa tubuhnya jadi seperti hewan.

Terkadang ia merasa seperti kelelawar; pagi tidur, malam keluar. Atau seperti ular; makan hanya sekali, kemudian berhari-hari baru makan lagi.

Tapi sekarang ia lapar.

Meng Xin Hun memilih rumah makan yang tidak teralu besar, tidak terlalu kecil, tidak begitu sepi, juga tidak begitu ramai.

Ia selalu memilih tempat yang tidak mencolok, tidak memancing perhatian.

Beberapa orang keluar masuk dari rumah makan. Ada lelaki, ada perempuan, ada yang muda, juga ada yang berpenampilan kaya raya. Meng Xin Hun berharap ia bisa seperti mereka.

Tidak seperti Lu Xiang Chuan, Meng Xin Hun tidak iri. Juga tidak seperti Lu Xiang Chuan, masa lalu yang kelam pun tidak membuatnya sakit hati.

Terdengar tawa sangat keras. “Hari ini siapa yang minumnya paling banyak?” orang itu menjawab sendiri, “Yang paling banyak adalah Xiou Tie!” Jarinya menunjuk seorang gadis berbaju merah.

Tiba-tiba seorang pemuda memasuki rumah makan, membawa satu guci arak dan memberikanya pada Xiao Tie.

Xiao Tie tidak bicara, juga tidak menolak. Ia hanya tersenyum, langsung menghabiskan seguci arak seperti setan arak.

Gadis setan arak tidak banyak, Meng Xin Hun juga setan arak, maka ia memperhatikan Xiao Tie lebih teliti.

Semakin diperhatikan, terlihat semakin istimewa.

Ia sangat cantik. Biasanya gadis cantik yang tahu dirinya cantik selalu menebar pesona pada sekelilingnya. Tapi gadis ini tidak seperti gadis lain, seakan ia tidak perduli dirinya cantik atau tidak.

Meski di tengah keramaian, ia seakan sedang sendirian, seolah berada di tengah lapangan yang dingin dan sepi.

Malam semakin larut.

Kereta kuda datang silih berganti. Orang-orang datang dan pergi. Tertinggal hanya Xiao Tie dan pemuda berbaju hitam.

Pemuda itu sangat tampan, badannya tinggi, sarung pedangnya berkilauan; sangat pantas menjadi pendamping gadis secantik Xiao Tie.

Kini tersisa satu kereta kuda di pinggir jalan.

“Mari naik kereta,” ajak si pemuda.

Xiao Tie menggeleng kepala.

“Masih ingin minum?” tanya si pemuda.

Xiao Tie menggeleng kepala.

Pemuda itu tertawa, “Kau mau di sini semalaman?”

Xiao Tie kembali menggeleng kepala. “Aku ingin jalan-jalan,” jawabnya.

“Baiklan, ayo kutemani.”

Mereka terlihat akrab, juga tidak khawatir orang memperhatikan mereka. Si pemuda memegang tangannya, dan Xiao Tie membiarkan.

“Aku ingin jalan-jalan sendiri, boleh?” pinta Xiao Tie.

Pemuda itu terpaku, perlahan melepaskan genggamannya. “Besok boleh kutemanimu
lagi?”

“Kalau ada waktu, kenapa tidak?” balik tanya Xiao Tie.

Setelah itu Xiao Tie tidak bicara lagi, terus berjalan. Biar pun jalannya lamban, akhirnya hilang di kegelapan.

Biasanya anak gadis takut kegelapan, tapi Xiao Tie tidak.

Meng Xin Hun tidak mengenal Xiao Tie, apalagi pemuda baju hitam itu. Ia merasa keduanya sangat serasi.

Begitu melihat si gadis pergi sendiri, hati Meng Xin Hun entah mengapa merasa senang sekali.

Pemuda itu masih terlongong memandangi bayangan Xiao Tie yang menghilang di kegelapan. Sesaat kemudian baru berkata kepada pemilik rumah makan, “Beri aku seguci arak yang paling besar!”

Dan Meng Xin Hun memutuskan pergi dari situ.

Saat keluar dari pintu, ia masih mendengar pemuda itu meracau, “Xiao Tie… Xiao Tie… Apa kau mencintaiku? Sungguh kau membuatku penasaran…”

Di depan kegelapan semata.

Inilah jalan yang tadi dilalui Xiao Tie. Tidak sengaja, Meng Xin Hun juga berjalan ke arah yang sama.

Walau Meng Xin Hun tidak mengakui, sesungguhnya ia berharap bisa bertemu gadis itu lagi.

Tapi gadis itu seperti setan gentayangan hilang di kegelapan malam.

Dan Meng Xin Hun memutuskan pulang ke penginapan.

—–

Malam semakin larut.

Pekarangan itu sunyi lagi sepi.

Kamar yang ia sewa pun tidak ada cahaya lampu.

Meng Xin Hun tidak pernah menyalakan lampu karena di tengah kegelapan ia merasa lebih aman.

Waktu ia pergi, pintu dan jendela sudah ditutup. Sebelum melangkah masuk, tiba-tiba ia berhenti.

Seperti seekor anjing pemburu yang terlatih, ia mencium bahaya mengancam.

Tubuh Meng Xin Hun meloncat tinggi dan berhenti di pekarangan belakang.

Jendela belakang masih tertutup. Ia mengetuk jendela dan mendadak melompat lagi ke halaman depan. Gerakannya ringan dan cepat seperti kelelawar.

Saat itu ia melihat sesosok bayangan melesat keluar dari jendela depan.

Gerakan orang itu sangat cepat. Meng Xin Hun segera mengikuti kemana pun bayangan pergi.

Akhirnya Meng Xin Hun berkata, “Untung kau adalah Xiao He, kalau tidak, sudah kubunuh kau!”

Bayangan itu terdiam. Setelah ragu sejenak, ia memutuskan kembali berkelebat ke kamar Meng Xin Hun.

Setelah lampu kamar dinyalakan, Meng Xin Hun langsung duduk di depan Xiao He. Ia menatap Xiao He, tapi Xiao He tidak menatapnya.

Ia sudah mengenal Xiao He lebih dari dua puluh tahun, tapi tetap tidak bisa memahaminya.

—–

Meng Xin Hun, Shi Qun, Ye Xiang, dan Xiao He semua anak yatim piatu. Mereka bisa bertahan hidup karena Gao Lao Da.

Di antara mereka berempat, umur Xiao He paling kecil. Xiao He yang pertama bertemu Gao Lao Da dan selalu menganggap Gao Lao Da sebagai kakak sendiri.

Waktu Gao Lao Da mengangkat tiga bocah lain sebagai anaknya, ia iri dan marah, dan karenanya sering mengadu domba mereka.

Ia mengangap ketiga bocah lainnya merebut makanan Gao Lao Da, juga merebut kasih sayang Gao Lao Da darinya. Bila tidak ada ketiga bocah itu, ia merasa hidupnya akan lebih nyaman dan makan lebih kenyang.

Sejak awal ia sudah menggunakan berbagai cara agar Gao Lao Da mengusir mereka.

Saat itu usianya baru enam tahun, ia sudah bisa berbuat licik, jalan pikirannya sudah jahat.

Pernah suatu kali Gao Lao Da menyuruh Xiao He memberi tahu tiga “saudara”-nya untuk berkumpul di sebelah barat kota. Namun Xioa He malah bilang berkumpul di sebelah timur.

Tiga bocah itu menunggu di sebelah timur kota selama dua hari dan hampir mati kelaparan. Kalau Gao Lao Da tidak terus menerus mencari, mereka mungkin sudah mati.

Masih ada lagi. Suatu hari Xiao He memberi tahu patroli polisi bahwa mereka bertiga pencuri dan sengaja meletakkan barang yang dicuri ke dalam pakaian mereka.

Jika bukan Gao Lao Da yang menyogok polisi, mereka bertiga sudah mati di lempar ke sungai.

Saat itu penjara penuh, sehingga bukannya dimasukkan kepenjara, banyak penjahat yang dilempar mati polisi ke sungai.

Masih banyak lagi akal bulus Xiao He guna mencelakakan tiga “saudara”-nya. Walau Gao Lao Da memarahi, tapi tidak sampai mengusir Xiao He. Gao Lao Da menilai, usia Xiao He terlalu kecil, sehingga kesalahannya masih bisa dimaafkan.

Dalam melakukan segala sesuatu, Gao Lao Da memang hanya menuruti hati kecil. Ia tidak tahu batasan benar dan salah karena tidak seorang pun memberitahunya. Pokoknya, asalkan bisa bertahan hidup, perbuatan apa pun boleh dilakukan.

Sudah dua puluh tahun berlalu, Xiao He terus melakukan hal yang merugikan “saudara”-nya. Cara-caranya pun semakin lihai dan sulit dilacak.

Apalagi terhadap Meng Xin Hun, ia sangat iri.

Saat berlatih kungfu bersama, Meng Xin Hun selalu lebih unggul darinya.

Kini, posisi Meng Xin Hun di mata Gao Lao Da semakin penting.

Itu semua membuat Xiao He semakin membencinya.

—–

Meng Xin Hun memandang wajah Xiao He.

Namun saat ini Xiao He sedang marah. Wajahnya menjadi hijau, sepasang tangannya tampak gemetar, membuat Meng Xin Hun merasa tidak enak.

Biar bagaimana Xiao He teman sedari kecil, usianya dua tahun lebih muda darinya, ia menganggap Xiao He adik sendiri.

Meng Xin Hun tertawa terpaksa, “Tidak kusangka kau yang datang, seharusnya memberi tahu lebih dulu.”

“Memangnya, siapa yang kau sangka?” tanya Xiao He.

“Orang semacam kita selayaknya ekstra hati-hati!” jawab Meng Xin Hun.

Xiao He tidak senang. “Apa kau pikir sembarang orang bisa datang ke sini? Apa selain Gao Lao Da masih ada yang tahu kau berada di sini?”

Tawa Meng Xin Hun seketika lenyap. “Apa Gao Lao Da yang menyuruhmu ke sini?”

Xiao He diam.

Diam berarti mengakui.

Wajah Meng Xin Hun mendadak tanpa ekspresi. Namun dari matanya terlihat bayangan gelap. Sudut mata kanannya mulai berkedut.

Pada saat melaksanakan tugas, Gao Lao Da tidak pernah mengikutinya, bertanya pun tidak. Ga Lao Da sangat mempercayainya.

Namun sekali ini sepertinya berbeda.

Meng Xin Hun teringat, Gao Lao Da pernah menyuruhnya menguntit Ye Xiang karena meragukannya.

Itukah yang terjadi sekarang?

Xiao He diam-diam memperhatikan Meng Xin Hun, matanya tiba-tiba menyorot sinar seakan sudah menebak apa yang ada di pikiran Meng Xin Hun.

Xiao He tertawa. “Bukannya Gao Lao Da tidak mempercayaimu, ia hanya meyuruhku menyampaikan pesan.”

Tawa Xiao He terdengar sangat rahasia sekaligus menyebalkan. Siapa pun yang mendengar tahu bahwa tawanya mengandung niat jahat. Ia memang sengaja membuat Meng Xin Hun merasa seperti itu.

Meng Xin Hun lama terdiam, baru bertanya, “Apa pesan Gao Lao Da padaku?”

“Dua anak buah Sun Yu Bo yang paling lihai sedang keluar melaksanakan tugas, apa kau tahu?”

“Mereka adalah Sun Jian dan Lu Xiang Cuang?” balas tanya Meng Xin Hun.

Xiao He tertawa. “Ternyata kau sudah tahu. Gao Lao Da khawatir kau belum tahu.”

“Khawatir belum tahu” artinya Gao Lao Da sudah tidak mempercayaimu!

Meng Xin Hun mengerti arti kata-kata itu. Xiao He pun tahu bahwa Meng Xin Hun sudah mengerti.

“Dua anak buah terpercaya sudah pergi, Sun Yu Bo ibarat kehilangan dua tangan, Kalau orang sudah kehilangan tangan kiri dan kanan, tentu tidak menakutkan lagi!” dingin pernyataan Xio He.

Meng Xin Hun hanya diam.

“Sekarang sudah waktumu bergerak, kenapa masih belum beraksi?” tanya Xiao He dingin.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: