Kumpulan Cerita Silat

10/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (10)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 5:02 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

10. Kibaran Bendera Perang

Tengah malam.

Angin menderu bertiup dari barat. Derunya seperti setan mengayun cambuk, melecut hati mereka yang ingin pulang. Tapi Wu Lao Dao tidak bisa pulang, ia harus mengikuti Lu Xiang Chuan pergi ke sana.

Malam hening. Sepi. Mati.

Wu Lao Dao tidak tahu akan dibawa kemana. Lu Xiang Chuan meski muda tapi sangat sopan, membuat Wu Lao Dao enggan bertanya.

Sejak awal ia melihat pemuda ini berbeda, persis seperti Lao Bo semasa muda, begitu bercahaya, namun Lu Xiang Chuan lebih sulit ditebak hati dan kemauannya.

“Masa depan pemuda ini pasti berbeda dengan Lao Bo,” pikir Wu Lau Dao, “Akankah ia lebih bersinar?”

Entah sejak kapan angin berhenti. Namun papan nama rumah makan itu masih terayun sisa terpaan angin. Di keremangan malam, samar-samar terbaca: Ba Xian Lao.

Itulah rumah makan terbesar di kota ini.

Seluruh jendela rumah makan besar itu tertutup rapat, terlihat gelap, mungkinkah para pelayan sudah terlelap?

Lu Xiang Chuan mendorong pintu. Tidak terkunci.

Wu Lao Dao mengikuti melangkah ke dalam. Di lantai atas terlihat lampu menyala benderang.

Lantas kenapa dari luat terlihat begitu gelap?

Wu Lao Dao segera menyadari, tiap jendela dipasangi gorden tebal dan hitam, membuat setitik pun cahaya tidak bisa menerobos keluar.

Ternyata telah banyak orang berkumpul di sana.

Menilik cara berpakain, mereka pasti datang dari berbagai kalangan. Walau latarbelakang mereka tampak berbeda, tapi ada satu persamaan. Mereka terlihat sangat tenang, tubuh sehat terawat, mata mencorong, serta memiliki sepasang tangan yang cekatan dan bertenaga.

Mereka bukan orang sembarangan. Kelihatannya pun mereka tidak saling kenal, tapi begitu melihat Lu Xiang Chuan, seketika membungkuk memberi hormat.

Sepertinya Lu Xiang Chuan telah mengumpulkan begitu banyak orang. Kini mereka semua datang.

Wu Lao Dao sudah tinggal lebih dari dua puluh tahun di kota ini, tapi hanya mengenali sebagian dari mereka, di antaranya adalah bos rumah makan itu. Lelaki inilah yang pertama menyambut Lu Xiang Chuan.

Wu Lao Da sudah mengenal si Bos selama dua puluh tahun, tapi tidak pernah mengetahui hubungannya dengan Lao Bo. Sekarang jelas, lelaki itu anak buah Lao Bo. Jangan-jangan, rumah makan ini pun salah satu bisnis Lao Bo?

Saat itu juga Wu Lao Dao menyadari, kekuasaan Lao Bo ternyata lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan.

Lu Xiang Chuan sangat hormat dan bersikap ramah pada si Bos, layaknya seorang raja yang menghadapi perdana menteri yang berprestasi.

Si Bos bernama Yu Bai Le, membungkuk badan dan berkata sopan, “Kecuali beberapa orang yang berada di luar kota, semua sudah tiba. Silahkan memberi perintah.”

Lu Xiang Chuan tersenyum dan mengangguk. “Saudara-saudara, silahkan duduk. Lao Bo mengirim salam untuk kalian.”

Semua orang membungkuk dan berkata, “Hamba pun selalu mendoakan dan mengingat Lao Bo. Apa Lao Bo sehat-sehat saja?”

Lu Xiang Chuan tertawa. “Yang Mulia seperti benda terbuat dari besi. Kalian teman lama beliau, pasti lebih tahu daripadaku: bila Dewa Penyakit bertemu dengannya, pasti lari ketakutan.”

Semua tertawa.

Lu Xiang Chuan melanjutkan, “Hari ini pertamakali aku bertemu kalian, seharusnya kita bisa minum-minum. Tapi, aku khawatir Bos Yu sakit hati kita habiskan araknya.”

Semua kembali tertawa.

Setelah tawa mereda, sikap Lu Xiang Chuan berubah serius. “Kali ini kudatang ke sini karena tugasku sangat berat. Kalau masalah ini tidak bisa dibereskan, aku malu bertemu Lao Bo kembali.”

Tiba-tiba ada yang bertanya, “Tuan Lu punya kesulitan apa? Kekurangan uang atau kekurangan orang, silahkan utarakan.”

“Terima kasih,” jawab Lu Xiang Chuan. Ia menunggu perhatian mereka terfokus padanya, baru melanjutkan, “Yang kuinginkan hanya satu,” ia menetap wajah mereka satu persatu, “yaitu, kuda Wan Peng Wang!”

—–

Hari semakin malam.

Wu Lao Dao dan Lu Xiang Chuan berangkat pulang.

Sekarang Wu Lao Dao lebih hormat lagi pada pemuda ini. Teknik berbicaranya lebih bagus daripada tetua persilatan mana pun serta memiliki perbawa yang membuat orang menghormatinya.

Pengalaman Wu Lao Dao selama bertahun-tahun menunjukkan, mendapatkan hormat seperti itu sangat sulit.

Yang membuat Wu Lao Dao terharu, walau kedudukan Lu Xiang Chuan setinggi itu, namun ia tetap ingat bahwa Lao Bo adalah atasannya.

Tiba-tiba Lu Xiang Chuan bertanya, “Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

Wu Lao Dao sedikit ragu, di hadapan pemuda ini ia memilih untuk berhati-hati bicara, tapi akhirnya bertanya juga, “Apa kau benar-benar menginginkan kuda itu?”

“Seumur hidup Lao Bo tidak pernah bohong,” kata Lu Xiang Chuan, “Aku sangat setia pada Lao Bo. Hal lain aku tidak bisa menandinginya. Walau begitu, untuk pekerjaan ini paling sedikit aku bisa melakukannya.”

Wu Lao Dao dalam kegelapan mengacungkan jempol. Setelah lama baru bertanya lagi, “Penjagaan rumah Wan Peng Wang sangat ketat, harus mencuri seekor kuda yang bisa meringkik dan berlari jelas bukan hal yang mudah. Walau penjaga kuda itu berhutang budi pada Lao Bo, tetap sulit.”

“Memang sulit, malah boleh dikata: mustahil!” jawab Lu Xiang Chuan sambil tertawa, “Tapi aku tidak bilang akan membawa kuda itu hidup-hidup, bukan?”

Wu Lao Dao terperangah, wajahnya seketika berubah. “Maksudmu, kuda itu akan dikeluarkan entah hidup atau mati?”

“Memang, begitulah maksudku.”

“Wan Peng Wang menganggap kuda itu bagian terpenting dari seluruh kekayaannya. Bila kita membunuh kuda itu, akibatnya sungguh fatal.”

“Bila tidak dibunuh akibatnya pun tetap fatal,” tegas Lu Xiang Chuan.

“Kenapa?” tanya Wu Lao Dao.

“Kau tahu, Lao Bo tidak suka penolakan. Lao Bo wanti-wanti sudah berpesan padaku, asal Wa Peng Wang mau melepaskan kekasih anakmu, ia tidak perduli hal lain!” Lu Xiang Chuan menepuk-nepuk pundak Wu Lao Dao, “Teman Lao Bo sangat banyak, namun teman Lao Bo sedari kecil bisa dihitung dengan jari. Ia bersedia mengorbankan segalanya karena tidak ingin membuatmu kecewa dan bersedih.”

Wu Lao Dao merasa dadanya panas, tenggorokkan pun serasa tersekat. Perlahan ia berkata, “Apakah demi diriku Lao Bo akan melawan Wan Peng Wang?”

“Kami sudah mempersiapkan semuanya,” jelas Lu Xiang Chuan.

Kata-kata Lu Xiang Chuan sangat ringan, seolah bukan masalah berat. Tapi Wu Lao Dao mengetahui kekuatan Wan Peng Wang. Karenanya, ia juga memahami pengorbanan Lao Bo. Tak tahan air mata Wu Lao Dao mengalir.

“Aku pun tidak mengharapkan pertarungan,” kata Lu Xiang Chuan, “karena itu kutempuh cara ini.”

Wu Lao Dao menghapus air mata, ingin bicara, tapi kata-katanya tidak keluar.

Lu Xiang Chuan melanjutkan, “aku hanya berharap, tindakan ini bisa mengejutkan Wan Peng Wang dan dia akan melepaskan gadis itu.”

Wu Lao Dao hanya mengangguk. Hatinya diliputi rasa berterima kasih.

“Aku sengaja memilih kuda itu,” jelas Lu Xiang Chuan, “Jika tidak terpaksa, aku tidak ingin melukai orang.” Sesaat ia terdiam, perlahan melanjutkan. “… Kutahu, apabila barang kesayangan kita rusak, selain marah dan sedih, kita juga akan takut dan lemah.”

“Namun Wan Peng Wang bukan orang yang lemah dan mudah takut,” lirih suara Wu Lao Dao.

Lu Xiang Chuan tertawa. “Sudah kuperhitungkan segala akibat yang timbul dari tindakan ini. Kita sudah siap menghadapinya.”

Wu Lao Dao menunduk. Hatinya terasa berat. Sunguh ia menyesal mengadukan masalah ini pada Lao Bo. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Cepat atau lambat, pertarungan akan terjadi.

Banjir darah tidak bisa dihindari.

—–

Pagi.

Setiap Wan Peng Wang bangun kebiasaannya selalu marah-marah. Semua gadis yang tidur dengannya pasti mencari kesempatan kabur sepagi mungkin.

Setelah sarapan, baru emosi Wan Peng Wang mereda.

Makanan Wan Peng Wang berbeda dengan kebanyakan orang. Sarapannya adalah sepanci kuah dimasak dengan ayam betina muda dan jamur. Kemudian dicampur daging ham. Masih harus ditambah sepuluh butir telur ayam dan dua puluh bakpau.

Sarapan seperti itu pasti mengejutkan banyak orang.

Namun, pagi ini sarapannya tidak sama. Begitu Wan Peng Wang membuka tutup panci, wajahnya menghijau.

Di dalam panci tidak ada jamur, daging ham, juga tidak ada kepala ayam. Yang ada hanya kepala kuda yang masih berdarah.

Wa Peng Wang mengenali kepala kuda itu. Lambungnya seketika keram dan menciut seperti dipukuli puluhan orang.

Rasa keram seketika berganti kemarahan membara. Sepertinya ia ingin meloncat dari tempat tidur dan mencekik mati siapa pun orang pertama yang ia temui, lalu mencekik mati semua pengurus kudanya, dan mencekik mati hingga sepuluh kali pelayan yang sudah mengantar panci itu.

Nyatanya semua tidak ia lakukan. Wan Peng Wang mampu menahan kemarahan. Padahal, biasanya, hal sepele saja bisa mendatangkan kemurkaannya.

Kali ini ia tahu masalahnya tidak sederhana. Untuk masalah sebesar ini, ia harus berpikir tenang dan jernih. Karena jika ia sampai kehilangan kendali, justeru akan menghancurkan dirinya.

Ia paham siapa yang melakukan ini.

Lao Bo sudah melakukan gebrakan awal!

Sejak penolakannya ia sudah memperhitungkan, Lao Bo pasti akan melakukan serangan. Tapi, ia tidak menyangka Lao Bo melakukannya secepat ini.

Sungguh, ia tidak menyangka Lu Xiang Chuan berani melakukan hal ini.

—–

“Bila ingin melakukan serangan, kau harus mengunakan kesempatan pertama. Bila tidak, kau harus menanti kesempatan terakhir, yaitu saat musuh sudah lengah. Menunggu dan menanti kesempatan terakhir harus memiliki kesabaran tinggi,” begitu ajaran Lao Bo.

Lu Xiang Chuan tidak pernah melupakan ajaran itu. Karenanya, ia sudah menggunakan kesempatan pertama saat lawan belum siap.

—–

Bila Wan Peng Wang sedang sarapan, tidak ada yang berani dekat-dekat dengannya.

Wan peng Wang tidak menyukai orang melihatnya sedang makan dengan rakus. Maka, di kamar itu tidak ada orang, hanya Wan Peng Wang sendiri.

Karenanya, ia dapat berpikir tenang. Sekarang ia sadar, Lao Bo benar-benar lawan yang sangat menakutkan, sepuluh kali lebih menakutkan daripada yang ia sangka semula.

“Satu anak buah Lao Bo bernama Lu Xiang Chuan sudah begini, masih adakah yang lain?” pikir Wan Peng Wang sambil menutup panci perlahan.

Saat keluar kamar wajahnya tanpa ekspresi. Ia hanya berpesan satu kalimat, “Segera antarkan Dai Dai ke rumah Wu Lao Dao!”

—–

Sebuah penginapan.

Meng Xin Hun berbaring di tempat tidur. Ia sudah berbaring selama tujuh delapan jam.

Ia tidak makan, tidak bergerak, juga tidak tidur.

Sekarang batas waktu yang diberikan Gao Lao Da tinggal sembilan puluh hari lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: