Kumpulan Cerita Silat

09/01/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 29

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — ceritasilat @ 4:09 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Nra)

A Cu merasa kurang enak bila tinggal lama-lama di situ mengingat orang-orang itu adalah kawan Kiau Hong, kalau pemalsuannya ketahuan, tentu urusan bisa runyam. Maka cepat katanya, “Urusan pang kita boleh dirundingkan nanti saja, sekarang aku akan pergi melihat kawanan anjing Se He itu.”

Habis berkata, dengan langkah lebar ia lantas kembali ke ruangan depan dengan diikuti Toan Ki.

Di sana mereka mendengar Helian Tiat-si sedang mencaci maki, “Lekas suruh periksa siapakah bangsat orang Se He itu, berani dia main gila pada Ciangkunmu ini. Bila kita sudah pulang nanti pasti akan kusikat bersih antero anggota keluarganya tua-muda maupun laki-perempuan. Bangsat, orang Se He malah membantu bangsa lain, mencuri kabut wangi kita untuk merobohkan bangsa sendiri.”

Toan Ki melengak, ia heran orang Se He mana yang dimakinya itu.

Dalam pada itu Nurhai cuma mengiakan belaka dan tidak berani menimbrung. Terdengar Helian Tiat-si lagi memaki pula, “Bangsat keparat, coba lihat, apa yang dia tulis itu bukankah sindiran terang-terangan kepada kita?”

Waktu Toan Ki dan A Cu mendongaki terlihatlah di dinding ruangan itu ada dua baris tulisan, masing-masing baris terdiri dari empat huruf, bunyinya, “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin”.

Toan Ki sampai bersuara heran, bukankah itu istilah khas Buyung Hok yang disamarnya sekarang? Melihat tinta tulisan yang belum lagi kering itu, terang penulisnya belum lama perginya.

Melihat pemuda itu agak gugup, lekas A Cu memperingatkannya, “Toan-kongcu, jangan lupa bahwa engkau sekarang adalah Buyung-kongcu. Aku sendiri tidak dapat memastikan apakah tulisan itu benar buah tangan kongcu kami atau bukan, sebab beliau memang mahir menulis dalam berbagai macam gaya yang indah.”

Dalam pada itu terdengar Nurhai sedang tertawa dingin dan berkata, “Hehe, benar-benar kepandaian yang lihai, baru hari ini dapat kami saksikan sendiri ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’.”

Namun begitu, dalam hati sebenarnya ia sangat khawatir entah cara bagaimana orang Kay-pang hendak memperlakukan mereka, sebab waktu orang-orang Kay-pang tertawan, mereka telah menyiksa kawanan pengemis itu dengan macam-macam cara, kalau sekarang pengemis-pengemis itu pun membalas ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’, kan bisa celaka mereka?

Sebenarnya Toan Ki agak cemburu kepada Buyung Hok, tapi kini demi merasa pasti tokoh muda itu telah merobohkan orang-orang Se He itu, mau tak mau ia rada kagum juga.

“Urusan sudah beres, marilah kita tinggal pergi saja,” tiba-tiba A Cu membisikinya ketika melihat orang-orang Kay-pang sudah banyak yang dapat bergerak dan datang ke ruangan depan itu. Segera ia berseru, “Para Tianglo, aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan bersama Buyung-kongcu, sampai berjumpa lagi pada lain hari.”

“Nanti dulu, Pangcu, nanti dulu!” cepat Go-tianglo menahannya.

Namun A Cu tidak berani tinggal lebih lama lagi di situ, bahkan jalannya bertambah cepat bersama Toan Ki. Umumnya anggota-anggota Kay-pang sangat segan kepada sang pangcu, maka tiada seorang pun berani menahan mereka.

Setelah beberapa li jauhnya, dengan tertawa berkatalah A Cu, “Toan-kongcu, benar-benar sangat kebetulan sekali, muridmu yang jelek seperti siluman itu justru ingin menjajal kepandaianmu Leng-po-wi-poh, bahkan memuji engkau lebih lihai daripada gurunya. Hahaha, sungguh lucu!”

Lalu katanya pula, “Dan aneh juga, entah siapakah gerangan yang diam-diam menyebarkan kabut racun itu? Orang-orang Se He itu mencaci maki, katanya ada pengkhianat, kukira bukan mustahil memang benar perbuatan seorang Se He.”

Mendadak Toan Ki teringat akan seorang, cepat katanya, “He, jangan-jangan perbuatan Li Yan-cong? Yaitu jago Se He yang kutemukan di rumah penggilingan itu?”

Karena A Cu tidak pernah melihat Li Yan-cong, maka ia tidak berani memberi pendapat, katanya, “Marilah kita bicarakan dengan Ong-kohnio saja dan minta pendapatnya.”

Tadinya Toan Ki sangsi penulis di dinding itu adalah Buyung Hok sendiri, dan kalau benar, tentu Buyung Hok berada di sekitar sini, bahkan mungkin sudah berjumpa dengan Giok-yan, hal ini membuatnya sangat masygul. Tapi kini demi teringat orang itu boleh jadi adalah Li Yan-cong seketika lega hatinya dan dapat bicara dengan bergurau lagi.

Tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara derap kuda dari depan, seorang penunggang kuda sedang datang dengan cepat. Waktu Toan Ki memerhatikan, segera ia mengenali orang itu tak-lain-tak-bukan adalah Kiau Hong.

“Itulah dia Kiau-toako!” serunya dengan girang terus hendak memapak maju.

Namun A Cu lantas menahannya, “Jangan bersuara, nanti sandiwara kita terbongkar!”

Habis berkata, ia sendiri lantas berdiri mungkur.

Tidak lama kemudian, Kiau Hong sudah mendekat dan memandang Toan Ki dan A Cu.

Karena dicegah A Cu tadi, barulah Toan Ki ingat mereka sedang menyamar sebagai orang lain. A Cu justru menyaru sebagai Kiau-toako itu, kalau dilihat orang yang asli, tentu urusan bisa runyam. Maka waktu Kiau Hong sudah dekat, Toan Ki juga tidak berani memandang padanya, sebaliknya ia melengos ke samping.

Kiranya setelah Kiau Hong membebaskan A Cu dan A Pik dari cengkeraman musuh, ia menjadi khawatir ketika mengetahui orang-orang Kay-pang juga ditawan oleh orang-orang Se He. Ia telah mencari kian kemari, akhirnya dapat diketemukan juga kedua hwesio cilik dari Thian-leng-si itu. Sesudah menanyakan tempatnya, segera ia memburu ke kuil itu.

Ketika dilihatnya wajah Toan Ki yang gagah dan ganteng dalam samarannya sebagai Buyung Hok itu, diam-diam Kiau Hong berpendapat, “Kongcu ini benar-benar tampannya seperti saudaraku Toan Ki itu.

Sedangkan A Cu yang berdiri mungkur itu tidak diperhatikannya, karena mengkhawatirkan keselamatan orang-orang Kay-pang, segera ia mencambuk kudanya melanjutkan perjalanan ke depan dengan cepat.

Setiba di Thian-leng-si, ia lihat belasan anggota Kay-pang sedang menggelandang orang-orang Se He satu per satu keluar dari kuil itu. Sudah tentu Kiau Hong sangat girang dan bangga. Memang orang-orang Kay-pang adalah kesatria yang gagah perkasa, betapa pun dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan.

Sebaliknya demi melihat sang pangcu yang sudah pergi telah kembali lagi, para anggota Kay-pang berbondong-bondong lantas menyambutnya, “Pangcu, cara bagaimana para tawanan ini harus diatur, harap engkau suka memberi petunjuk.”

“Aku sudah bukan anggota Kay-pang lagi, maka jangan kalian sebut aku sebagai pangcu,” sahut Kiau Hong. “Kalian baik-baik saja dan tidak kurang apa-apa, bukan?”

Sementara itu Ci-tianglo dan lain-lain sudah mendapat laporan dan menyambut keluar.

Go-tianglo adalah orang tulus, terus saja ia menyapa, “Pangcu, begitu engkau meninggalkan kami, seketika kami masuk perangkap musuh. Untung engkau datang tepat pada waktunya bersama Buyung-kongcu sehingga Kay-pang tidak sampai terjungkal habis-habisan. Jika engkau tidak kembali memegang tampuk pimpinan, pasti pang kita akan kacau-balau tak keruan.”

“Buyung-kongcu apa maksudmu?” tanya Kiau Hong dengan heran.

“Ah, orang-orang seperti Coan Koan-jing itu cuma mengaco-belo, jangan engkau peduli,” ujar Go-tianglo. “Untuk mencari sahabat apa susahnya? Aku percaya engkau juga baru hari ini berkenalan dengan Buyung-kongcu.”

“Buyung-kongcu? Apakah maksudmu Buyung Hok?” Kiau Hong menegas. “Tapi selamanya aku tidak pernah kenal dia.”

Seketika Ci, Song, Ge, Tan, dan Go-tianglo saling pandang dengan bingung. Pikir mereka, “Bukankah baru saja dia datang bersama Buyung-kongcu hingga kita tertolong, mengapa sekarang dia menyatakan tidak kenal Buyung-kongcu?”

Go-tianglo pikir sejenak, tiba-tiba ia seperti mengerti duduknya perkara, serunya, “Aha, tahulah aku! Pemuda tampan tadi itu mengaku she Buyung, tapi dia bukanlah Buyung Hok. Memangnya di dunia ini cuma ada seratus-dua ratus orang she Buyung? Kenapa mesti heran?”

“Tapi dia menulis tanda pengenal yang khas di dinding itu, kalau bukan Buyung Hok lantas siapa lagi?” ujar Ci-tianglo.

“Memang pasti dia, habis siapa lagi?” tiba-tiba suara seorang melengking aneh menimbrung. “Bocah itu serbapandai dalam berbagai ilmu silat, bahkan setiap macam kepandaiannya lebih lihai daripada pemilik asalnya. Kalau dia bukan Buyung Hok, siapa yang mampu berbuat demikian? Sudah tentu dia, pasti dia!”

Waktu semua orang memandang ke arah suara itu tertampak mata orang itu kecil sempit dan penuh berewok, itulah dia Lam-hay-gok-sin.

“Jadi Buyung Hok tadi telah datang kemari?” demikian Kiau Hong menegas dengan heran.

“Kentut anjingmu!” maki Lam-hay-gok-sin mendadak. “Tadi kau sendiri datang bersama Buyung-siaucu itu, dan entah dengan ilmu sihir apa kalian telah membikin kami tidak dapat berkutik, tapi sekarang kau malah berlagak pilon? Ayo, lekas lepaskan Locu, kalau tidak, hm, hm ….”

Meski dia “hm, hm” segala, tapi apa yang dapat dia perbuat?

Maka berkatalah Kiau Hong, “Tampaknya engkau juga seorang tokoh pilihan dalam Bu-lim, tapi mengapa sembarangan ngoceh tak keruan? Bilakah aku datang kemari? Apalagi bersama Buyung-kongcu, haha, lucu, sungguh lucu!”

“Bagus kau, Kiau Hong! Sia-sia engkau jadi pemimpin Kay-pang, tapi di siang hari bolong kau berani coba membohongi orang!” teriak Lam-hay-gok-sin dengan marah. “Nah, para sobat, katakanlah, bukankah tadi Kiau Hong sudah pernah datang ke sini? Bukankah Ciangkun kami telah menyilakan dia duduk dan minum bersama?”

“Memang benar,” sahut orang-orang Se He serentak. “Malahan waktu Buyung Hok mempertunjukkan kepandaian ‘Leng-po-wi-poh’, Kiau Hong sendiri memberi sorak pujian tiada habis-habis, katanya ‘Pak Kiau Hong dan Lam Buyung’ apa segala, masakah hal itu dapat dipalsukan?”

Diam-diam Go-tianglo juga menjawil Kiau Hong dan membisikinya, “Pangcu, orang terang tidak perlu berbuat gelap, kejadian tadi betapa pun memang tak dapat disangkal.”

Sudah tentu Kiau Hong merasa serbasusah, dengan tersenyum pahit ia tanya, “Go-siko, apakah tadi engkau pun melihat aku datang kemari?”

Go-tianglo tidak menjawab, tapi ia lantas menyodorkan botol porselen kecil wadah obat penawar itu kepada Kiau Hong dan berkata, “Pangcu, botol ini kukembalikan padamu, mungkin kelak masih dapat dipergunakan.”

“Kembalikan padaku? Mengapa dikembalikan kepadaku?” Kiau Hong, menegas dengan terheran-heran.

“Obat penawar ini adalah pemberianmu tadi, masakah engkau sudah lupa?” ujar Go-tianglo.

“Masa bisa bagian? Jadi engkau juga mengatakan tadi telah melihat kudatang ke sini?” Kiau Hong menegas pula.

Biasanya Kiau Hong sangat cerdik, namun betapa pun tak tersangka olehnya bahwa ada orang telah memalsukan dirinya. Bahkan belum lama berselang pemalsu itu telah datang ke Thian-leng-si. Segera terpikir olehnya di balik kejadian itu pasti tersembunyi suatu muslihat mahakeji.

Ia lihat air muka orang-orang Kay-pang itu berbeda-beda, Ada yang merasa terima kasih karena telah diselamatkan olehnya, tapi merasa sangsi juga demi mendengar Kiau Hong tetap menyangkal. Ada yang mengira pikiran bekas pangcu itu lagi kusut karena mengalami macam-macam pukulan batin selama beberapa hari ini. Ada yang menduga pasti dia yang telah membunuh Be Tay-goan dengan menggunakan Buyung Hok, tapi khawatir muslihatnya ketahuan, maka sengaja menyangkal kenal dengan Buyung Hok. Bahkan ada yang percaya penuh dia adalah orang Cidan yang sengaja melawan orang Se He dan memusuhi orang Song pula.

Menghadapi keadaan yang membingungkan itu, akhirnya Kiau Hong menghela napas panjang, katanya, “Jika saudara-saudara ternyata baik-baik saja, biarlah sekarang juga Kiau Hong mohon diri.”

Habis berkata, ia memberi salam sekali, segera ia cemplak kudanya dan dilarikan pergi dengan cepat.

“Kiau Hong, tinggalkan Pak-kau-pang dahulu!” seru Ci-tianglo mendadak.

Sekonyong-konyong Kiau Hong menghentikan kudanya serta menyahut, “Pak-kau-pang? Bukankah sudah kukembalikan di tengah hutan sana?

“Tapi sesudah kami tertawan, Pak-kau-pang telah jatuh di tangan anjing-anjing Se He itu, kami telah mencarinya dengan teliti dan tetap tidak ketemu, maka kami menduga pasti telah kau ambil lagi,” kata Ci-tianglo.

“Hahahaha!” mendadak Kiau Hong terbahak-bahak sambil menengadah, suaranya pedih memilukan. Lalu serunya, “Aku Kiau Hong sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan Kay-pang, guna apa aku memiliki Pak-kau-pang itu? Ci-tianglo, agaknya engkau terlalu rendah menilai diriku.”

Habis berkata, ia kempit kudanya dan dilarikan secepat terbang ke utara.

Sejak kecil Kiau Hong sangat disayang kedua orang tuanya. Kemudian ia mendapat didikan guru dari Siau-lim-si, akhirnya menjadi murid Ong-pangcu dari Kay-pang. Ia telah banyak mengalami gemblengan dalam pengembaraan, baik guru maupun sahabat, semuanya sangat baik dan jujur padanya. Tapi apa yang dialaminya selama dua hari ini benar-benar merupakan pukulan keras bagi kehidupannya. Pangcu yang terkenal mahajujur dan berbudi ini kini telah dituduh sebagai seorang pengkhianat, seorang penjual kawan yang rendah.

Ia membiarkan kudanya berjalan perlahan, hatinya sangat kusut, pikirnya, “Andaikan aku benar keturunan Cidan, padahal selama ini tidak sedikit jago Cidan yang telah kubunuh, banyak pula rencana penyerbuan negeri Cidan telah kugagalkan, bukankah aku benar-benar seorang yang tidak setia? Bila benar ayah-bundaku dibunuh oleh bangsa Han di Gan-bun-koan, sebaliknya aku malah mengangkat pembunuh orang tua sebagai guru dan selama 30 tahun ini mengaku orang asing sebagai ayah-bunda, bukankah hal ini benar-benar sangat tidak berbakti? Wahai, Kiau Hong, sedemikianlah engkau tidak setia pada negeri asal dan tidak berbakti pada orang tua, mengapa engkau masih ada muka untuk hidup di dunia ini? Jika Kiau Sam-hoay bukan ayahku yang sebenarnya, itu berarti aku juga bukan Kiau Hong yang sebenarnya? Lantas aku she apa? Siapakah namaku yang asli pemberian orang tua? Hehe, bukan saja aku tidak setia dan tidak berbakti, bahkan aku tidak punya she dan tidak bernama.”

Tapi segera terpikir pula olehnya. Namun bukan mustahil ada seorang yang mahajahat dan mahadurjana yang sengaja memfitnah diriku. Sebagai seorang laki-laki sejati, masakah aku manda dipermainkan orang sehingga nama runtuh dan badan merana? Kalau aku tinggal diam, tentu durjana itu akan berhasil intriknya yang keji itu. Ya, pendek kata, aku harus menyelidiki urusan ini hingga jelas.”

Setelah ambil keputusan itu, langkah pertama ia harus menuju ke Siau-sit-san di Holam untuk menanyakan asal usul diri sendiri kepada ayah Kiau Sam-hoay, dan langkah kedua ialah datang ke Siau-lim-si untuk minta petunjuk duduk perkara yang sebenarnya kepada gurunya, Hian-koh Taysu.

Kedua orang tua itu biasanya sangat sayang padanya, rasanya tidak nanti menutupi sesuatu rahasianya. Sebagai seorang kesatria yang bijaksana dan dapat berpikir panjang maka Kiau Hong tidak merasa kesal lagi. Yang masih dirasakannya agak canggung adalah dahulu dengan kedudukannya sebagai pangcu dari Kay-pang, ke mana pun ia pergi, di situ pula adalah rumahnya.

Tapi kini ia telah dipecat dari Kay-pang, ia tidak dapat mendatangi cabang-cabang Kay-pang lagi untuk bermalam atau minta makan, bahkan demi untuk menghindarkan kesulitan-kesulitan yang tak diinginkan, ia malah mencari jalan yang sepi saja supaya tidak kepergok oleh anggota Kay-pang bekas bawahannya.

Sesudah dua hari, sangu yang dia bekal sudah habis terpakai, terpaksa ia menjual kuda yang dirampasnya dari orang Se He itu sekadar sebagai biaya perjalanan.

Tidak lama kemudian, tibalah dia sampai di kaki gunung Siong-san, segera ia menuju ke Siau-sit-san yang merupakan lereng Gunung Siong itu. Pegunungan ini adalah tempat tinggal masa kecilnya, ia merasa suasana lereng gunung itu masih tetap menghijau seperti sediakala.

Sejak ia diangkat sebagai pangcu Kay-pang, karena Kay-pang adalah suatu organisasi terbesar di kalangan Kangouw, sebaliknya Siau-lim-pay adalah suatu aliran persilatan paling besar dalam Bu-lim, bila pangcu dari Kay-pang diketahui mengunjungi Siau-lim-si, pastilah hal ini akan bikin gempar kalangan Bu-lim.

Sebab itulah selamanya dia belum pernah pulang menjenguk kedua orang tua itu. Hanya setiap tahun ia suruh dua orang anak buahnya menyampaikan salam hormat dan membawa sekadar oleh-oleh kepada ayah bunda serta sang guru.

Kini seorang diri ia pulang ke tempat asalnya, teringat teka-teki yang meliputi sejarah hidup sendiri akan segera dapat diketahui dalam waktu tidak lama lagi, betapa pun biasanya ia adalah seorang yang tenang dan sabar, mau tak mau sekarang ia pun merasa bimbang.

Tempat tinggal yang ditinggalkannya itu terletak lereng gunung sebelah timur Siau-sit-san. Dengan cepat Kiau Hong melintasi lereng gunung itu, dari jauh terlihat olehnya di bawah pohon di tepi kebun sayur sana terletak sebuah caping dan sebuah teko. Pegangan teko itu sudah putus. Kiau Hong masih kenal itulah benda milik sang ayah, Kiau Sam-hoay.

Melihat benda-benda itu, seketika timbul rasa haru Kiau Hong, “Ayah benar-benar seorang yang rajin dan jujur, sudah belasan tahun teko bobrok itu dipakainya dan sampai sekarang masih tak dibuangnya.”

Melihat pohon kurma itu, Kiau Hong terkenang pada masa kanak-kanak, tatkala buah ang-co sudah masak, sering kali Kiau Sam-hoay mengajaknya memetik buah yang manis dan enak itu.

Sejak dia meninggalkan kampung halamannya tidak pernah lagi ia merasakan buah ang-co. Diam-diam ia berpikir, “Andaikan mereka bukan ayah-bunda kandungku, namun budi peliharaan mereka padaku sedari kecil betapa pun sukar kubalas. Maka bagaimanapun tentang asal-usul diriku, aku tetap akan memanggil mereka sebagai ayah dan ibu.”

Segera ia mendekati tiga petak rumah atap di depan sana, ia lihat di luar rumah terbentang sehelai tikar yang penuh jemuran sayuran kering. Seekor induk ayam dengan beberapa ekor anaknya sedang mencari makan di tanah rumput pinggir rumah sana.

Tanpa terasa tersenyumlah Kiau Hong. Pikirnya, “Malam ini ibu pasti akan sembelih ayam dan masak yang enak-enak untuk menjamu putranya yang sudah lama meninggalkan rumah ini.”

Segera ia berteriak-teriak memanggil, “Tia, Nio (ayah, ibu), anak sudah pulang!”

Namun meski dia mengulangi seruannya keadaan tetap sepi saja tanpa sesuatu jawaban. Ia pikir, “Ah, mengapa aku begini bodoh, kedua orang tua sekarang tentu telah lanjut usianya, telinga mereka tentu juga sudah tuli.”

Segera ia mendorong daun pintu dan melangkah masuk ke dalam. Ia lihat keadaan di dalam rumah masih tetap seperti dulu. Meja kursi sudah butut, pacul, luku, arit, dan sebagainya masih tetap berada di tempatnya. Hanya tiada tampak bayangan seorang pun.

Kembali Kiau Hong berseru memanggil dua kali, tapi tetap tiada jawaban apa-apa. Ia agak heran dan bergumam sendiri, “Ai, ke manakah perginya mereka?”

Waktu ia melongok ke dalam kamar, seketika ia terkejut. Ia lihat Kiau Sam-hoay suami-istri menggeletak semua di lantai tanpa berkutik.

Cepat Kiau Hong melompat ke dalam kamar. Lebih dulu ia bangunkan sang ibu, ia merasa napas orang tua itu sudah putus, tapi badannya masih rada hangat, suatu tanda belum terlalu lama meninggalnya. Waktu ia membangunkan sang ayah juga, keadaannya ternyata serupa.

Sungguh kaget dan sedih Kiau Hong tak terkatakan. Ia coba membawa jenazah sang ayah keluar rumah, ia coba periksa keadaan mayat itu di bawah sinar matahari. Segera dapat diketahuinya antero tulang iga orang tua itu telah patah semua, nyata tewasnya disebabkan semacam pukulan yang mahadahsyat. Waktu ia periksa pula mayat sang ibu, keadaannya sami mawon alias sama.

Kau Hong benar-tenar dihadapkan kepada suatu persoalan yang mahapelik. Ia tidak habis mengerti, “Ayah-ibu adalah kaum petani yang jujur tulus, mengapa ada orang Bu-lim yang begini tega turun tangan keji pada mereka? Tentu urusan ini berpangkal pada persoalan diriku.”

Ia coba mengelilingi ketiga petak rumah itu, ia periksa dengan teliti bagian depan, samping dan belakang rumah-rumah itu, ia ingin tahu macam apakah pembunuh itu. Namun pembunuh itu ternyata sangat cerdik, bahkan bekas tapak kaki tidak sedikit pun tertinggal.

Semakin dipikir semakin pedih hati Kiau Hong, air mata tak tertahan lagi bercucuran, sampai akhirnya ia tak dapat lagi menahan gelora perasaannya, ia menangis tergerung-gerung dengan keras.

Tapi baru saja ia mulai menangis, tiba-tiba terdengar suara orang berkata di belakang, “Ai, sayang, sayang kita terlambat datang!”

Cepat Kiau Hong berpaling, ia lihat empat hwesio setengah umur sudah berdiri di situ. Dari dandanan mereka segera Kiau Hong dapat menduga mereka adalah padri Siau-lim-si.

Walaupun ilmu silat Kiau Hong semula diperoleh dari Siau-lim-pay, tapi guru yang mengajar dia, yaitu Hian-koh Taysu, hanya datang di tengah malam setiap hari, tentang dia belajar silat bahkan kedua orang tua sendiri tidak tahu, maka dengan padri Siau-lim-si pun ia tidak kenal.

Oleh karena hati sedang sedih, biarpun di depannya berdiri empat orang tak dikenal, namun seketika Kiau Hong tak dapat menahan tangisnya.

Tiba-tiba salah satu padri di antaranya yang bertubuh tinggi menegurnya dengan suara kasar, “Kiau Hong, perbuatanmu ini benar-benar melebihi binatang. Kiau Sam-hoay suami-istri meski bukan ayah-bunda kandungmu, namun budi membesarkanmu selama belasan tahun juga tidak kecil, mengapa kau tega turun tangan keji untuk membunuhnya?”

“Cayhe juga baru saja sampai rumah dan mendapatkan ayah dan ibu sudah terbunuh, aku justru lagi ingin mencari tahu siapa pengganas itu untuk membalas sakit hati orang tua, mengapa Taysu mengucapkan kata-kata demikian?” sahut Kiau Hong dengan menangis.

“Huh, orang Cidan memang berhati buas seperti binatang, kau sendiri yang telah membinasakan ayah-ibu angkatmu, tapi kau masih pura-pura tidak tahu,” bentak padri itu dengan gusar. “Orang she Kiau, memang salah kami karena terlambat datang. Tapi bila kau kira Siau-sit-san boleh sembarangan dibuat main gila, terang kau salah hitung besar.”

Habis berkata, tanpa ampun lagi ia terus menghantam dada Kiau Hong.

Selagi Kiau Hong hendak mengelak, tiba-tiba dari belakang juga ada kesiur angin perlahan, segera ia tahu ada orang membokong dari belakang. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si itu tanpa mengetahui duduknya perkara. Maka sekali kakinya mengentak, bagaikan burung ia melayang pergi sejauh beberapa meter. Waktu ia menoleh, benar juga padri yang berdiri di belakangnya itu telah menendang tempat kosong.

Melihat cara begitu mudah Kiau Hong menghindarkan serangan mereka dari muka dan belakang, mau tak mau para padri itu terkejut dan heran pula.

“Biarpun ilmu silatmu tinggi juga jangan coba bertingkah di sini,” damprat si padri jangkung tadi. “Engkau sengaja membunuh kedua orang tua untuk menutupi rahasia asal-usul dirimu, cuma sayang tentang dirimu yang keturunan bangsa Cidan itu sudah tersiar luas di Kangouw, siapakah orang Bu-lim yang tidak tahu akan hal ini sekarang? Sekarang kau melakukan perbuatan durhaka sebesar ini, hal ini jelas semakin menambah dosamu yang tak dapat diampuni.”

“Lebih dulu engkau membunuh Be Tay-goan, sekarang kau bunuh pula Kiau Sam-hoay berdua, hm, apakah perbuatanmu yang terkutuk ini dapat kau tutupi?” demikian padri yang lain ikut mendamprat.

Dalam keadaan berduka, meski mendengar caci maki padri itu sangat menyakitkan hati, namun tak dapat Kiau Hong mengumbar kemarahannya. Selama hidup sudah banyak persoalan besar dan kejadian hebat yang dialaminya, maka kini ia tetap dapat bersabar, ia memberi hormat, lalu katanya, “Numpang tanya siapakah gelaran suci para Taysu? Bukankah kalian adalah padri saleh Siau-lim-si?”

Watak salah satu hwesio itu cukup ramah tamah, maka dengan suara tenang ia menjawab, “Benar, kami adalah anak murid Siau-lim-si. Ai, suami-istri Kiau Sam-hoay selamanya sangat jujur dan baik, tapi toh mendapatkan ganjaran mengenaskan seperti ini. Kiau Hong, bangsa Cidan sungguh teramat keji.”

Melihat orang tidak sudi memberitahukan gelar mereka, Kiau Hong pikir percuma saja bertanya lagi. Tapi ia mendengar si padri jangkung menyatakan mereka datang terlambat untuk menolong, agaknya mereka telah diberi tahu seseorang, lalu buru-buru datang kemari, tapi siapakah pemberi kabar itu? Siapakah yang sebelumnya sudah mengetahui ayah-bundaku bakal tertimpa malang?

Maka katanya segera, “Keempat Taysu berhati welas asih dan sengaja buru-buru datang ke sini untuk menolong ayah-bundaku, cuma sayang agak terlambat sedikit ….”

Mendadak si padri jangkung yang berwatak keras itu menghantam dengan kepalan sebesar mangkuk sambil membentak, “Kami datang terlambat, makanya kau dapat berbuat durhaka dengan bebas, ya? Hm, tentu kau merasa senang dan sengaja mengejek kami?”

Kiau Hong tahu maksud baik kawanan hwesio itu, maka tidak ingin bertempur dengan mereka. Tapi untuk mengetahui duduknya perkara, kalau mereka tidak diberi tahu rasa, tentu urusan ini takkan selesai untuk selamanya. Maka katanya segera, “Cayhe sangat berterima kasih atas maksud baik keempat Taysu, tapi karena terpaksa, harap suka dimaafkan!”

Sembari berkata, ia bergerak secepat kilat, pundak padri ketiga segera ditepuknya sekali.

“Apakah kau ajak bergebrak?” bentak padri itu. Namun tahu-tahu pundaknya kena ditabok Kiau Hong pula, tubuhnya menjadi lemas dan duduk mendeprok di tanah.

Kiau Hong pernah meyakinkan ilmu silat Siau-lim-pay, meski tidak saling kenal dengan keempat padri itu, tapi dasar ilmu silat mereka cukup dipahaminya, maka beruntun Kiau Hong menepuk empat kali, kontan keempat padri itu pun dirobohkan.

“Maafkan,” kata Kiau Hong kemudian, “numpang tanya, Taysu tadi bilang terlambat datang ke sini, dari manakah kalian mengetahui ayah-bundaku akan tertimpa bahaya? Siapakah gerangan orang yang mengirim kabar kepada para Taysu itu?”

“Hehe, apa maksudmu si pengirim kabar itu pun kan kau bunuh bila kau tahu nama dia ya?” sahut padri jangkung tadi dengan gusar. “Anak murid Siau-lim-pay bukanlah manusia pengecut hingga dapat dipaksa mengaku oleh anjing buduk Cidan seperti dirimu ini. Biarpun kau siksa kami dengan cara paling keji juga jangan harap memperoleh sesuatu pengakuan dari mulut kami.”

Diam-diam Kiau Hong gegetun, “Sungguh celaka, kesalahpahaman ini menjadi semakin mendalam sekarang, kalau kutanya lagi, pasti mereka akan anggap aku hendak memaksa pengakuan mereka.”

Maka ia tidak tanya lebih jauh, sebaliknya ia pijat beberapa kali punggung keempat padri itu untuk membuka hiat-to mereka, katanya, “Jika aku hendak membunuh kalian untuk menutupi perbuatanku, saat ini juga jiwa kalian tentu sudah melayang. Tapi aku tidak nanti berbuat demikian, adapun duduk perkara yang sebenarnya kelak pasti akan kubikin terang.”

“Hendak membunuh orang untuk menutupi perbuatanmu yang keji? Hm, belum tentu begitu mudah!” demikian tiba-tiba suara seorang menjengek dari samping lereng bukit.

Waktu Kiau Hong mendongak, ia lihat di lereng sana berdiri belasan padri Siau-lim-si yang bersenjata lengkap, ada yang membawa tongkat padri, ada yang membawa golok suci, tiada seorang pun yang bertangan kosong.

Selintas pandang saja Kiau Hong lihat padri-padri itu dipimpin oleh dua hwesio berumur setengah abad, masing-masing padri itu membawa senjata hong-pian-jan (sekop yang berbentuk bulan sabit), ujung senjata itu hijau kemilau, sinar mata kedua padri itu pun berkilat-kilat, sekali pandang segera orang akan tahu mereka pasti mempunyai lwekang yang sangat tinggi.

Meski Kiau Hong tidak jeri menghadapi musuh macam pun, tapi ia belasan tahu padri ini pasti jauh lebih lihai daripada keempat hwesio yang duluan. Asal sekali sudah bergebrak, sebelum membunuh beberapa di antaranya pasti susah untuk melepaskan diri.

Dengan cepat Kiau Hong dapat menghadapi segala kesulitan dan mengatasi segala kesangsian. Segera ia memberi hormat sambil berkata, “Kiau Hong telah berlaku kurang ajar, harap para Taysu suka memaafkan!”

Mendadak tubuhnya melayang mundur ke belakang, punggung membentur daun pintu dan menghilang ke dalam rumah.

Perubahan itu sangat cepat terjadinya, padri Siau-lim-pay sama berteriak kaget dan segera ada 5-6 orang menerjang ke dalam rumah itu. Tapi baru sampai di ambang pintu, tiba-tiba mereka merasa dipapak oleh serangkum angin mahadahsyat. Lekas mereka angkat sebelah tangan untuk bertahan sekuatnya.

Sambaran angin itu sangat hebat hingga debu berhamburan, para padri itu sampai terentak mundur beberapa tindak dan dada pun terasa sesak, dengan muka pucat mereka saling pandang dengan terkejut. Mereka tahu bila Kiau Hong serentak menyerang pula untuk kedua kalinya, pasti mereka tidak mampu bertahan dan bukan mustahil akan binasa, tapi hal itu tidak dilakukan Kiau Hong. Padahal mereka menyangka bekas ketua Kay-pang itu adalah orang jahat.

Selang sejenak, tiba-tiba kedua hwesio yang memimpin itu angkat senjata mereka dan menyerbu ke dalam rumah dengan gerakan “Siang-liong-jip-tong” atau dua ekor naga menyusup ke gua. Mereka putar tongkat sedemikian kencangnya hingga terbentuk selapis jaringan sinar untuk melindungi mereka.

Namun sesudah di dalam rumah, mereka lihat keadaan sunyi senyap tiada suatu bayangan pun. Yang lebih aneh adalah jenazah suami-istri Kiau Sam-hoay juga sudah lenyap.

Kedua padri bersenjata tongkat itu adalah hwesio ruang “Kay-lut-ih” Siau-lim-si, yaitu bagian pengawasan dan perundang-undangan, tugas mereka adalah mengawasi kelakuan anak murid Siau-lim-si dan ketaatan mereka. Ilmu silat mereka dengan sendirinya sangat tinggi, bahkan pengalaman mereka juga sangat luas.

Keruan mereka ternganga heran melihat dalam sekejap itu Kiau Hong sudah menghilang bahkan menggondol pula mayat suami-istri Kiau Sam-hoay. Tapi mereka tidak percaya Kiau Hong mampu lari jauh, tentu masih bersembunyi di sekitar situ. Maka cepat mereka mencari di sekitar rumah, namun tiada sesuatu yang ditemukan.

Segera kedua padri Kay-lut-ih itu menguber ke bawah gunung, mereka yakin Kiau Hong pasti melarikan diri ke jurusan sana. Tapi meski belasan li mereka mengejar tetap tidak tampak suatu bayangan pun.

Sudah tentu mereka tidak menyangka bukannya Kiau Hong melarikan diri ke bawah gunung, sebaliknya ia malah berlari ke arah Siau-sit-san. Ia mencari suatu tempat yang terjal dan sukar didatangi orang, di situ ia kubur dulu ayah-bundanya, ia memberi penghormatan terakhir kepada tempat semayam abadi kedua orang tua itu sambil berdoa, “Tia, Nio, siapakah gerangan pembunuh kalian berdua, anak berjanji pasti akan menangkapnya untuk kemudian dikorek hatinya sebagai sesajen kalian.”

Ia menyesal pulangnya terlambat sebentar saja hingga tidak dapat bertemu lagi dengan ayah-bundanya yang sangat dicintainya itu. Coba kalau dapat berjumpa, tentu kedua orang tua akan betapa senangnya melihat putranya yang kini sudah demikian gagah perkasanya. Alangkah bahagianya bila antara ayah-bunda dan sang putra dapat berkumpul untuk sehari-dua untuk mengenyam sekadar kesenangan orang hidup.

Teringat akan semua itu, tak tertahan lagi air mata Kiau Hong bercucuran, ia menangis terguguk dengan sedih. Sejak kecil wataknya memang sangat keras, jarang sekali ia menangis, sesudah dewasa, lebih-lebih ia tidak pernah meneteskan sebutir air mata pun. Tapi hari ini, saking duka dan pilunya ia tak dapat menguasai perasaannya hingga mengucurkan air mata.

Mendadak terpikir pula olehnya, “Wah, celaka, guruku yang berbudi Hian-koh Taysu jangan-jangan akan mengalami nasib malang juga! Pembunuh itu telah membinasakan ayah-bundaku, waktunya ternyata begini cepat, yaitu setengah jam sebelum aku pulang. Nyata hal ini memang sudah direncanakan lebih dulu, dan sesudah dia turun tangan, segera ia pergi ke Siau-lim-si untuk memberitahukan kepada para padri di sana. Ya, tentu para padri itu tertipu hingga datang kemari hendak menolong ayah-bunda, tapi kepergok dengan aku. Di dunia ini yang mengetahui asal-usul diriku masih ada pula guruku Hian-koh Taysu, maka aku harus berjaga-jaga pengganas itu akan turun tangan keji pula terhadap guruku itu dan aku lagi yang mesti menanggung dosa perbuatan musuh itu.”

Demi ingat bisa jadi Hian-koh Taysu juga akan tertimpa malang, perasaan Kiau Hong menjadi seperti terbakar, tanpa pikir lagi ia berlari ke arah Siau-lim-si.

Ia tahu di dalam Siau-lim-si itu penuh orang-orang kosen, beberapa padri tua di Tat-mo-ih lebih-lebih bukan main ilmu silatnya, bila dirinya kepergok hingga dikerubut, tentu sukar sekali untuk meloloskan diri. Sebab itulah meski dia berlari secepatnya, namun yang dipilih selalu jalan kecil yang sepi dan lebih jauh.

Sesudah lebih satu jam, akhirnya tibalah dia di belakang Siau-lim-si. Tatkala itu hari sudah remang-remang, ia merasa girang dan khawatir. Girangnya karena hari sudah gelap dan menguntungkan baginya untuk bersembunyi. Khawatirnya kalau-kalau musuh juga menggunakan kesempatan malam gelap itu untuk menyergap, tentu susah mengetahui jejak musuh.

Selama beberapa tahun akhir ini Kiau Hong malang melintang di dunia Kangouw dan jarang ketemu tandingan, tapi sekali ini bukan saja ilmu silat musuh sangat tinggi, bahkan tipu muslihatnya yang licin itu pun tidak pernah dialaminya.

Meski sekarang ia harus menyerempet bahaya masuk ke Siau-lim-si yang penuh jago kosen itu, tapi mengingat gurunya, Hian-koh Taysu bukan mustahil juga akan mengalami sergapan musuh di luar dugaan, malahan kalau dirinya kepergok menyelundup ke dalam kuil itu tentu susah baginya untuk cuci tangan. Padahal kalau dia mau cari selamat sendiri, ia dapat meninggalkan Siau-lim-si sejauh mungkin. Tapi karena dia khawatirkan keselamatan Hian-koh Taysu, pula ingin mencari kesempatan untuk menangkap pembunuh yang sebenarnya guna membalas sakit hati ayah-bundanya, maka akibat apa yang bakal dihadapinya nanti sudah tak terpikir olehnya.

Meski dia pernah tinggal belasan tahun di pegunungan Siau-sit-san, tapi tidak pernah ia masuk ke Siau-lim-si, maka terhadap keadaan biara yang besar dan banyak ruangan itu, terutama tempat tinggal Hian-koh Taysu, sama sekali tak diketahui olehnya. Ia pikir, “Semoga Insu (guru berbudi) baik-baik saja tak kurang satu pun apa, mungkin beliau akan dapat memberi penjelasan asal-usul diriku serta mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya.”

Namun biara Siau-lim-si yang ruangan dan gedungnya tersebar di lereng gunung itu sangat luas, pula Hian-koh Taysu tidak memegang tugas tertentu di biara itu, ia pun bukan padri angkatan tua Tat-mo-ih, sedangkan padri angkatan yang pakai gelar “Hian” sedikitnya ada 20 orang lebih, dandanannya serupa pula, lantas ke mana ia harus mencarinya di tengah malam gelap?

Ia pikir, “Jalan satu-satunya sekarang aku harus menangkap seorang padri dan paksa dia membawaku pergi menemui Suhu. Sesudah bertemu akan kuminta dia memaafkan tindakanku itu. Tapi kalau menuruti watak padri Siau-lim-si yang mengutamakan setia kawan, bila aku disangkanya akan berbuat tidak baik terhadap Hian-koh Taysu biarpun mati tak nanti ia mau mengatakan tempatnya. Ai, jika begitu, lebih baik aku mencari seorang tukang api atau tukang sapu di bagian dapur saja. Namun orang-orang demikian juga belum tentu tahu tempat tinggal guruku.”

Begitulah ia menjadi serbasusah tapi ia terus menggerayangi ruangan biara itu, setiap kamar dan setiap ruangan diintainya dengan harapan dapat memperoleh sedikit keterangan.

Berkat gerakannya yang gesit, meski tubuhnya tinggi besar, namun ia dapat melompat dan melejit dengan lincah hingga tidak mengeluarkan sesuatu suara dan diketahui orang.

Ia meneruskan penyelidikannya itu, ketika sampai di suatu ruangan samping, tiba-tiba didengarnya di dalam kamar ada suara orang sedang bicara, “Hongtiang ada urusan penting ingin berunding dengan Susiok, maka Susiok diharap datang ke ‘Cin-to-ih’.”

Lalu suara seorang tua menjawab, “Baiklah, segera kudatang ke sana!”

“Hongtiang sedang mengumpulkan kerabat untuk berunding urusan penting, tentu guruku juga akan hadir di sana, biarlah kukuntit di belakang orang ini ke sana, tentu akan dapat kujumpai Suhu,” demikian pikir Kiau Hong.

Maka terdengarlah suara berkeriutnya pintu didorong, keluarlah dua padri dari kamar itu. Padri yang tua menuju ke arah barat, sedangkan yang muda buru-buru menuju ke jurusan lain, mungkin hendak mengundang padri lain lagi.

Kiau Hong menduga padri tua yang diundang hongtiang itu tentu mempunyai kedudukan tinggi dan dengan sendirinya ilmu silatnya sangat tinggi juga. Maka ia tidak berani menguntit terlalu dekat melainkan mengintilnya dari jauh. Ia lihat padri itu menuju ke barat sana hingga sampai di suatu rumah ujung.

Kiau Hong menunggu padri itu masuk ke dalam rumah, lalu ia mengitar ke belakang rumah itu, ia dengarkan dulu keadaan di sekitar situ, setelah yakin tiada orang lain lagi barulah ia mendekam di bawah jendela untuk mendengarkan.

Mengingat kelakuannya sendiri itu, diam-diam Kiau Hong berduka dan menyesal pula, pikirnya, “Aku Kiau Hong selamanya menghadapi segala urusan dengan secara terang-terangan, tapi hari ini terpaksa aku harus main sembunyi-sembunyi. Bila perbuatanku ini dipergoki, lenyaplah nama baikku selama ini dan tiada muka untuk berkecimpung di kalangan Kangouw lagi.”

Namun bila terkenang kepada jasa sang guru waktu mengajar ilmu silat padanya, biarpun hujan badai sekalipun juga tidak pernah absen barang semalam, budi sebesar itu biar hancur lebur tubuhnya juga perlu dibalas, apalagi cuma menderita malu dan ternoda namanya saja?

Dalam pada itu ia dengar ada suara tindakan orang di depan rumah sana, berturut-turut ada empat orang masuk ke situ pula. Tidak lama kemudian, kembali datang lagi dua orang. Dengan demikian, dari bayangan orang yang tertampak dari luar jendela, sudah ada belasan orang yang berkumpul di dalam rumah.

Diam-diam Kiau Hong berpikir pula, “Jika urusan yang mereka rundingkan adalah rahasia Siau-lim-pay, dan kini aku mengintipnya, meski tiada maksud jahat, jelas hal ini pun tidak pantas. Maka lebih baik aku sembunyi di tempat agak jauh dan jangan mendengarkan rahasia yang hendak mereka rundingkan ini. Jika Suhu memang berada di dalam kamar, dengan berkumpulnya tokoh-tokoh Siau-lim-pay sebanyak ini di sini, betapa pun lihainya musuh juga tidak mampu mengganggu seujung rambutnya. Dan nanti kalau perundingan mereka sudah selesai, setelah padri-padri itu bubar, barulah aku mencari akal untuk menemui Suhu dan melaporkan segala apa yang terjadi.”

Selagi ia hendak menyingkir, tiba-tiba didengarnya suara belasan hwesio di dalam kamar itu serentak membaca kitab. Kiau Hong tidak paham kitab apa yang sedang dibaca mereka itu, tapi suaranya sangat khidmat dan sendu, bahkan suara beberapa orang di antaranya mengandung rasa duka.

Lama sekali padri-padri itu berdoa, lama-kelamaan Kiau Hong merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pikirnya, “Apakah mereka sedang sembahyang? Atau sedang mengadakan sesuatu khotbah? Mungkin Suhu tidak berada di sini.”

Waktu ia dengarkan dengan cermat, benar juga tiada terdengar suara Hian-koh Taysu yang sangat dikenalnya itu.

Seketika ia menjadi bingung apakah mesti menunggu lagi di situ. Tiba-tiba terdengar suara pembacaan kitab di dalam kamar telah berhenti, lalu suara seorang yang kereng sedang bicara, “Hian-koh Sute, apa yang hendak kau katakan pula?”

Mendengar nama gurunya disebut, sungguh girang Kiau Hong tidak kepalang, ternyata orang tua itu pun berada di situ dan dalam keadaan baik-naik tanpa kurang suatu pun apa.

Lalu didengarnya suara gurunya yang dikenalnya sedang menjawab, “Waktu Siaute diberi nama sebagai Hian-koh oleh Siansu (mendiang guru), maksudnya agar Siaute dapat membebaskan diri dari sengsara dan penderitaan. Akan tetapi untuk ini masih diharapkan bantuan para Suheng dan Sute.”

Mendengar suara sang Suhu sangat tenang dan penuh tenaga dalam, nyata selama belasan tahun ini lwekang sang guru semakin hebat, diam-diam Kiau Hong bergirang bagi orang tua itu. Cuma apa yang diucapkan itu adalah kata-kata dalam agama Buddha yang dalam artinya, seketika Kiau Hong tidak paham maksudnya.

Lalu terdengar suara kereng tadi berkata, “Beberapa bulan yang lalu Hian-pi Sute terbinasa di tangan orang jahat, kita sudah menyelidiki si pembunuh dengan sepenuh tenaga, hal ini agak melampaui batas pantangan Buddha yang menghendaki jangan suka marah dan jangan suka murka. Namun membasmi kaum jahat untuk menolong sesamanya adalah menjadi asas utama kaum persilatan kita ….”

Mendengar sampai di sini, Kiau Hong menduga pembicara yang bersuara kereng ini tentulah ketua Siau-lim-si, Hian-cu Taysu.

Ia dengar suara itu sedang melanjutkan, “Setiap gembong iblis yang dapat kita basmi akan besar artinya bagi keselamatan orang banyak. Maka, sudilah Sute memberi tahu, apakah pengganas itu Koh-soh Buyung atau bukan?”

Kiau Hong terkesiap, “Kembali menyangkut nama Koh-soh Buyung-si lagi. Sudah lama kudengar bahwa Hian-pi Taysu dari Siau-lim-si telah tewas disergap orang, apakah barangkali mereka pun mencurigai Buyung-kongcu yang berbuat?”

Dalam pada itu terdengar Hian-koh Taysu sedang menjawab, “Hongtiang-suheng, Siaute tidak ingin menambah dosa, hingga membikin Suheng, dan para Sute banyak membuang tenaga bagiku. Bila orang itu dapat meninggalkan golok jagalnya, dengan sendirinya masih belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi kalau tetap sesat tak mau sadar, ai, itu pun akan ditanggung sendiri sengsaranya. Tentang bagaimana wujud orang itu, biarlah tak perlu dikatakan saja.”

“Kesadaran Sute memang lebih tinggi, Suhengmu ini terlalu bodoh, jauh tak dapat mengimbangi Sute,” ujar Hian-cu Taysu, ketua Siau-lim-si.

“Kini Siaute ingin duduk tenang sebentar untuk mengenangkan dosa,” ujar Hian-koh.

“Baiklah, harap Sute menjaga diri dengan baik,” sahut Hian-cu. Lalu terdengar pintu dibuka, seorang padri tinggi kurus dan berjubah merah berjalan keluar dengan merangkap tangan sambil berdoa perlahan. Menyusul keluar pula 17 padri yang lain, semuanya juga berkasa merah dan sama menunduk sambil berdoa dengan khidmat.

Sesudah padri-padri itu pergi jauh dan di dalam kamar sunyi senyap, Kiau Hong masih ragu-ragu untuk masuk ke situ mengingat suasana yang khidmat tadi. Tapi tiba-tiba terdengar Hian-koh berkata, “Jauh-jauh tamu agung berkunjung kemari, mengapa tidak sudi masuk saja?”

Sungguh kejut Kiau Hong tidak kepalang. Padahal ia sudah sangat hati-hati, sekalipun bernapas juga tidak berani keras, orang berada satu meter di sebelahnya juga belum tentu mengetahui. Tapi kini gurunya seakan-akan orang memiliki telinga sakti, biarpun teraling-aling dinding masih dapat mengetahui kedatangannya. Maka dengan sangat hormat segera Kiau Hong mendekati pintu sambil berkata, “Baik-baikkah Suhu, Tecu Kiau Hong menyampaikan sembah hormat kepada Suhu.”

“Hah, kiranya Hong-ji?” seru Hian-koh. “Saat ini aku justru lagi terkenang padamu dan berharap dapat berjumpa denganmu, marilah lekas masuk.”

Dari suara sang guru yang penuh rasa girang itu, Kiau Hong menjadi terharu, cepat ia lari masuk dan berlutut memberi hormat sambil berkata, “Tecu tidak dapat selalu mendampingi Suhu sehingga membikin Suhu senantiasa terkenang. Kini melihat Suhu dalam keadaan sehat walafiat, sungguh murid merasa sangat girang.”

Habis berkata ia lantas mendongak untuk memandang Hian-koh.

Sebenarnya wajah Hian-koh tersenyum simpul. Tapi di bawah sinar pelita demi dilihatnya muka Kiau Hong itu, mendadak air mukanya berubah hebat, ia berbangkit sambil berkata dengan suara gemetar, “Jadi kau … kau inilah Kiau Hong, murid … murid yang kudidik sejak kecil itu?”

Melihat perubahan air muka gurunya yang terkejut, menyesal tercampur rasa kasih sayang itu, seketika Kiau Hong juga melongo heran, sahutnya bingung, “Ya, Suhu, anak inilah Kiau Hong adanya.”

“Bagus, bagus, bagus!” berturut Hian-koh Taysu mengucapkan tiga kali “bagus”, lalu tidak bicara lagi.

Kiau Hong tidak berani tanya pula, dengan tenang ia menunggu apa yang hendak dikatakan sang guru. Siapa duga, tunggu punya tunggu, tetap Hian-koh Taysu tidak buka suara. Waktu Kiau Hong memandang wajah padri itu, ia lihat sikapnya masih tetap seperti tadi, tapi air mukanya tiada sesuatu perasaan.

Kiau Hong terkejut, cepat ia meraba tangan sang guru, ia merasa tangan yang kurus itu sudah dingin, waktu ia memeriksa pernapasan hidungnya, ternyata napasnya sudah berhenti sejak tadi.

Kejadian ini benar-benar membikin Kiau Hong terperanjat tidak kepalang, pikirnya dengan bingung, “Masakah demi lihat diriku lantas Suhu mati ketakutan? Tidak, tidak mungkin! Apa yang menakutkan beliau? Ah, sebelum melihat diriku besar kemungkinan lebih dulu ia sudah terluka parah.”

Akan tetapi ia tidak berani memeriksa tubuh orang tua itu, setelah tenangkan diri, ia ambil keputusan, “Jika aku tinggal pergi begini saja, apakah ini perbuatan seorang laki-laki sejati? Urusan hari ini biarpun betapa bahayanya juga harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara.”

Segera ia keluar dari kamar itu, dengan suara lantang ia berseru, “Hongtiang Taysu, Hian-koh Suhu telah wafat! Hian-koh Suhu wafat!”

Suara Kiau Hong sangat keras, tenaga dalamnya sangat kuat, maka suaranya berkumandang hingga jauh sampai lembah pegunungan mendengung-dengung seakan-akan terguncang. Dan sudah tentu antero penghuni Siau-lim-si mendengar seruannya yang keras tapi mengandung rasa nestapa itu.

Rombongan Hian-cu tadi malahan belum sampai di kamarnya masing-masing, maka demi mendengar suara Kiau Hong itu, serentak mereka berlari kembali ke Cin-to-ih tadi. Maka tertampaklah oleh mereka seorang laki-laki tinggi besar sedang berdiri di depan pintu kamar sambil mengusap air mata dengan lengan baju. Keruan padri-padri Siau-lim-si itu sangat heran.

“Siapakah Sicu?” tanya Hian-cu sambil memberi hormat. Karena khawatirkan keselamatan Hian-koh, maka tanpa menunggu jawaban Kiau Hong terus saja ia mendahului masuk ke dalam kamar. Ia lihat Hian-koh berdiri kaku di situ tanpa roboh. Keruan ia tambah terkejut.

Sementara itu padri yang lain juga sudah ikut masuk, mereka menunduk dan memanjatkan doa. Kiau Hong paling akhir masuk ke dalam, ia berlutut dan diam-diam berdoa, “Suhu, Tecu terlambat membawa berita ke sini hingga engkau akhirnya dicelakai juga oleh musuh. Sakit hati Tecu kepada musuh itu setinggi langit dan sedalam lautan, betapa pun Tecu berjanji akan menuntut balas.”

Selesai membaca kitab, kemudian Hian-cu mengamat-amati Kiau Hong, lalu tanyanya, “Siapakah Sicu? Apakah seruan tadi dilakukan olehmu?”

“Tecu Kiau Hong adanya, waktu Tecu mengetahui Suhu wafat, saking dukanya hingga terpaksa membikin kaget Hongtiang.”

Hian-cu terkejut mendengar nama Kiau Hong, ia menegas, “Jadi Sicu adalah … adalah bekas Pangcu Kay-pang?”

“Benar,” sahut Kiau Hong. Diam-diam ia kagum betapa cepat berita yang diterima Siau-lim-si itu. Dan kalau sudah tahu dirinya adalah “bekas pangcu”, tentu orang tahu juga sebab musabab dia dipecat Kay-pang.

“Mengapa tengah malam buta Sicu menggerayangi biara kami? Dan mengapa dapat menyaksikan wafatnya Hian-koh Sute?” tanya Hian-cu pula.

Seketika Kiau Hong tidak tahu cara bagaimana harus menceritakan perasaannya waktu itu, terpaksa ia jawab, “Hian-koh Taysu adalah guru pengajar Tecu, waktu Tecu mengetahui ….”

Belum lanjut ucapannya, segera Hian-cu memotong, “Apa katamu? Hian-koh Sute adalah gurumu? Jadi Sicu ini anak murid Siau-lim-si? Ini sungguh … sungguh aneh.”

Perlu diketahui bahwasanya nama Kiau Hong tersohor di seluruh jagat dan terkenal sebagai murid ahli waris Ong-pangcu, ilmu silatnya juga tiada sangkut paut dengan Siau-lim-pay. Tapi kini ia mengaku sendiri sebagai anak murid Siau-lim-pay, sudah tentu Hian-cu Taysu tidak percaya dan hampir-hampir menyemprotnya karena dianggap sembarangan mengoceh.

Tapi Kiau Hong lantas menjawab, “Cerita ini cukup panjang, entah luka apakah yang diderita Insu dan siapa gerangan pengganasnya?”

“Hian-koh Sute disergap orang, dadanya terkena pukulan dahsyat musuh, tulang iganya patah semua, isi perutnya juga hancur,” demikian tutur Hian-cu Hongtiang. “Tapi berkat lwekangnya yang tinggi ia dapat bertahan sampai tadi. Kami telah tanya dia siapakah gerangan musuh itu, namun ia menyatakan tidak kenal dan juga tidak mau menjelaskan bagaimana macam orang itu.”

Baru sekarang Kiau Hong paham perkataan Hian-koh sebelum meninggal tadi. Katanya dengan mengembeng air mata, “Para Taysu mengutamakan welas asih, maka tidak ingin mengikat permusuhan lebih dalam. Sebaliknya Tecu adalah orang biasa, harus berusaha menangkap pengganas itu untuk dicencang guna membalas sakit hati Suhu. Padahal biara kalian terjaga sangat ketat, entah cara bagaimana pembunuh itu mampu menyelundup ke sini?”

Selagi Hian-cu termenung belum menjawab, tiba-tiba seorang hwesio tua pendek di sebelah berkata dengan dingin, “Hm, Sicu sendiri mampu menyusup ke sini tanpa rintangan apa-apa, dengan sendirinya pembunuh itu pun mampu pergi-datang dengan bebas seakan-akan mendatangi tempat yang tiada manusianya.”

Kiau Hong membungkuk minta maaf, sahutnya, “Tecu terpaksa oleh keadaan hingga tidak sempat permisi dulu di luar, atas kelancanganku ini mohon para Taysu suka memberi maaf. Hubungan Tecu dengan Siau-lim-pay sangat erat, sekali-kali tidak berani memandang rendah dan menghina.”

Dengan kata-katanya yang terakhir itu ia hendak memberi penjelasan bahwasanya bila Siau-lim-pay dibikin malu, hal itu pun berarti dia ikut malu.

Pada saat itulah, tiba-tiba seorang hwesio cilik membawakan semangkuk obat yang masih mengepul dan masuk ke situ dengan tergesa-gesa, ia berkata kepada jenazah Hian-koh yang disangkanya hidup itu, “Suhu, silakan minum obat.”

Kiranya hwesio cilik ini adalah pelayan Hian-koh yang tadi disuruh pergi menyeduh obat luka Siau-lim-si, yaitu “Kiu-coan-kim-kong-theng”, maka tentang kematian Hian-koh belum lagi diketahuinya.

Saking pilunya Kiau Hong lantas berkata padanya dengan suara terguguk, “Suhu … Suhu sudah ….”

Hwesio cilik itu berpaling ke arahnya dan mendadak menjerit kaget, “Hai, kiranya kau … kau kembali lagi ke sini!”

Maka terdengarlah suara jatuhnya mangkuk hingga pecah berantakan, air obat muncrat ke mana-mana, hwesio cilik itu pun melompat mundur dengan ketakutan sambil berteriak, “Dia … dia inilah yang menyerang Suhu!”

Karena teriakan hwesio cilik itu, semua orang terkejut. Lebih-lebih Kiau Hong menjadi gugup dibuatnya. “Apa katamu?” serunya keras-keras.

Usia padri kecil itu kira-kira baru 12-13 tahun, ia sangat ketakutan melihat Kiau Hong, ia sembunyi di belakang Hian-cu sambil menarik-narik lengan ketua Siau-lim-si itu dan meratap, “Hongtiang! Hongtiang!”

“Jangan takut, Ceng-siong!” sahut Hian-cu. “Katakanlah yang terang, kau bilang dia yang menyerang suhumu tadi?”

“Ya … ya!” sahut hwesio cilik yang bernama Ceng-siong itu. “Dengan telapak tangannya ia pukul dada Suhu, Tecu sendiri menyaksikan di luar jendela. Suhu, Suhu, ayolah balas hantam dia, mengapa engkau diam saja?”

Ternyata sampai saat ini ia belum lagi tahu Hian-koh sudah meninggal.

“Ceng-siong, cobalah kau lihat lagi yang jelas, jangan-jangan kau salah mengenali orang?” ujar Hian-cu Hongtiang.

“Tidak, tidak salah lagi!” seru Ceng-siong. “Telah kulihat dengan jelas, beginilah pakaiannya, begini pula mukanya yang lebar dan alisnya yang tebal itu, mulutnya lebar dan telinganya besar, memang tidak salah lagi dia ini. Suhu, ayolah balas serang dia, lekas!”

Saat itu Kiau Hong merasa merinding bulu romanya, tiba-tiba ia sadar, “Ya, tidak salah lagi. Pembunuh itu telah menyaru sebagai diriku untuk memfitnah aku. Tadi waktu Suhu mendengar aku datang, beliau sangat girang. Tapi begitu melihat wajahku, melihat aku serupa penjahat itu, seketika beliau terkesiap dan menyesalkan karena murid didiknya ternyata adalah orang yang telah menyerangnya pula. Ya, maklum, aku sudahi belasan tahun berpisah dengan Suhu, dari anak cilik kini berubah dewasa, dengan sendirinya wajahku sudah banyak berubah daripada masa kanak-kanak dulu.”

Waktu Kiau Hong kenangkan kembali kata “bagus” tiga kali yang diucapkan Hian-koh Taysu sebelum ajalnya itu, sungguh hatinya pedih bagai disayat-sayat. Pikirnya, “Suhu telah kena serangan maut musuh, tapi tak diketahui siapa nama musuh itu. Ketika aku datang dan tahu wajahku serupa dengan penyerang itu, maka beliau sangat menyesal dan berduka hingga tewas. Memang luka Suhu sudah terlalu parah, dalam keadaan payah dengan sendirinya tidak dapat berpikir dengan saksama, jika benar aku yang menyerang dia, mengapa untuk kedua kalinya aku menemuinya lagi?”

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara berisik orang banyak, serombongan padri tampak berlari datang, setiba di luar mereka lantas berhenti, hanya dua padri di antaranya dengan membungkuk tubuh melangkah masuk dengan hormat. Ternyata mereka adalah kedua hwesio bersenjata tongkat yang mengerubut Kiau Hong di kaki gunung itu.

Segera satu di antaranya menutur, “Lapor Hongtiang ….”

Tapi baru sekian ucapannya, sekilas ia lihat Kiau Hong juga berada di situ, seketika wajahnya menampilkan rasa kaget dan gusar. Ia mendelik dengan termangu-mangu lantaran heran mengapa Kiau Hong tahu-tahu sudah berada di situ.

Dengan kereng Hian-cu bersuara, “Sicu sudah tidak di dalam Kay-pang lagi, tapi apa pun juga kau seorang tokoh Bu-lim yang terkenal. Hari ini sengaja berkunjung ke biara kami dan membinasakan Hian-koh Sute, entah apa maksud tujuanmu, silakan memberi penjelasan.”

Namun Kiau Hong tidak menjawab, mendadak ia menghela napas panjang sekali, lalu menyembah kepada Hian-koh dan meratap, “Suhu, O, Suhu, sebelum engkau mengembuskan napas penghabisan, engkau juga mengatakan Tecu yang mencelakai dirimu dan meninggal dengan menanggung penasaran Meski Tecu sekali-kali tidak nanti berani terhadap Suhu, meski karena difitnah musuh sebab musababnya dengan sendirinya berpangkal pada diriku. Umpama Tecu sekarang rela mati untuk membalas budi Suhu, namun sakit hati Suhu selanjutnya menjadi tak terbalas. Adapun Tecu telah membikin rusuh di sini hingga melanggar ketertiban Siau-lim-si, untuk ini harap Suhu suka memaafkan.”

Selesai berdoa, sekonyong-konyong ia mengembuskan napas dua kali, dua rangkum angin keras menyambar, seketika dua pelita minyak di dalam kamar tertiup padam hingga keadaan lantas gelap gulita.

Kiranya waktu Kiau Hong berdoa tadi, diam-diam ia sudah mempunyai akal untuk meloloskan diri. Begitu pelita minyak tertiup padam, menyusul tangan kirinya menghantam ke depan dan tepat kena punggung siu-lut-ceng, padri pengawas yang pernah ditempurnya di kaki gunung itu.

Cuma hantamannya ini melulu menggunakan tenaga luar yang kuat, maka isi perut padri itu tidak sampai terluka melainkan tubuhnya yang besar itu mencelat ke luar pintu.

Dalam keadaan gelap para hwesio Siau-lim-si itu menyangka Kiau Hong hendak melarikan diri. Tanpa pikir lagi mereka serentak mengeluarkan kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap dan memegang) dan mencengkeram tubuh siu-lut-ceng itu.

Padri itu pun mempunyai pikiran yang sama, yaitu tidak ingin menggunakan pukulan berat untuk membinasakan Kiau Hong, tapi ingin menawannya hidup-hidup untuk ditanyai mengapa membunuh Hian-koh Taysu, muslihat keji apa di balik perbuatannya itu.

Para padri itu adalah jago pilihan Siau-lim-si, dengan sendirinya adalah jago silat terkemuka pula dalam Bu-lim, kim-na-jiu-hoat mereka pun berbeda-beda, semuanya mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Maka kontan siu-lut-ceng itu kena dicengkeram oleh berbagai macam kim-na-jiu-hoat Siau-lim-pay yang lihai seperti Kim-liong-jiu (cengkeraman cakar naga), Eng-jiau-jiu (cakar elang), Hou-jian-kang (cakar harimau), dan lain-lain lagi.

Keruan yang paling sial adalah siu-lut-ceng itu, dalam sekejap hiat-to penting antero tubuhnya kena dicengkeram padri-padri lihai itu, seketika tubuhnya terkatung-katung di udara. Pengalaman demikian mungkin sejak dahulu hingga kini belum pernah dialami siapa pun juga.

Oleh karena berada dalam biara sendiri padri-padri itu tiada yang membawa alat ketikan api segala. Tapi kepandaian mereka tinggi, pengalaman mereka banyak, begitu merasa gelagat tidak beres, segera ada orang melompat ke atas rumah untuk berjaga di sana, begitu pula semua jalan keluar di sekitar situ segera dijaga dengan ketat.

Dalam keadaan begitu, jangankan Kiau Hong bertubuh tinggi besar, sekalipun dia berubah menjadi seekor burung juga sukar mengelabui mata telinga penjaga-penjaga itu.

Tidak lama kemudian, si padri cilik Ceng-siong telah memperoleh batu api, ia menyalakan pelita minyak, dan baru kawanan hwesio Siau-lim-si itu mengetahui mereka telah salah tangkap kawan sendiri.

Segera Hian-lan Taysu, kepala Tat-mo-ih, memerintahkan agar setiap padri jaga di tempatnya masing-masing dan tidak boleh sembarangan bergerak. Mereka khawatir jangan-jangan Kiau Hong membawa bala bantuan dan ada rencana pengacauan lain.

Dalam pada itu padri lain yang dipimpin ji-kay-ceng masih terus mencari dan menggeledah di sekitar Cin-to-ih itu, hampir setiap tempat dan setiap pelosok telah diperiksanya, namun tetap tiada menampak suatu bayangan pun.

Setelah sibuk hampir satu jam, mereka sangat heran, sebab Kiau Hong tetap menghilang. Lalu jenazah Hian-koh diusung ke ruang Sik-li-ih untuk dibakar. Sedang siu-lut-ceng diantar ke Yok-ong-tian untuk diberi obat. Para padri Siau-lim-si itu sama lesu dan cemas, mereka merasa sekali ini benar-benar kehilangan muka.

Di antara jago-jago Siau-lim-pay itu, belasan padri agung yang berkumpul di Cin-to-ih itu semuanya sangat tinggi ilmu silatnya, nama setiap orang tersohor dan disegani di dunia Kangouw. Tapi kini Kiau Hong mampu pergi-datang dengan bebas, jangankan menangkapnya, cara bagaimana Kiau Hong lolos pun mereka tidak tahu.

Lantas lolos ke mana atau sembunyi di manakah Kiau Hong?

Kalau dijelaskan sebenarnya tidaklah mengherankan dan juga tidak aneh. Kiranya Kiau Hong sudah menduga para padri itu akan menguber dan mencarinya keluar. Terhadap tempat yang baru saja dibuat berkumpul itu sebaliknya takkan diperhatikan.

Sebab itulah begitu ia hantam siu-lut-ceng, segera ia mengkeret mundur malah dan diam-diam ia menyusup ke kolong tempat tidur Hian-koh Taysu.

Dengan sepuluh jarinya ia cengkeram papan ranjang, tubuhnya menempel rapat di bawah kolong. Meski tadi ada juga salah seorang memeriksa sekadarnya ke bawah ranjang, tapi cuma sekilas saja dan tidak menemukannya. Apalagi sesudah jenazah Hian-koh Taysu dipindah dan para padri petugas merapatkan pintu kamar itu, keadaan menjadi sepi dan lebih-lebih tiada yang menduga Kiau Hong masih bersembunyi di situ.

Tapi Kiau Hong belum berani sembarangan bergerak, ia dengar para padri itu masih sibuk mencarinya, setelah tengah malam, barulah keadaan mereda. Pikirnya, “Jika menunggu sampai pagi tentu lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Agaknya sekarang inilah kesempatan paling baik untuk angkat kaki.”

Maka diam-diam ia menerobos keluar dari kolong ranjang, perlahan ia membuka pintu dan menyelinap ke belakang sebatang pohon besar.

Cin-to-ih adalah ruang ujung barat Siau-lim-si, asal dia berlari ke barat lebih jauh, tentu akan mencapai lereng gunung.

Namun Kiau Hong memang seorang kesatria lihai, biarpun lahirnya tampak kasar, namun pikirannya sangat cerdik. Ia pikir suasana Siau-lim-si sementara ini meski sudah sepi, tapi padri Siau-lim-si bukanlah sembarangan orang, mana mereka sudahi kejadian itu mengendurkan penjagaan? Ia menghilang di barat biara itu, para padri tentu akan menjaga keras jalan di sebelah barat yang menjurus ke lereng Siau-sit-san.

Sebenarnya kalau Kiau Hong mau, asal dia sudah keluar dari Siau-lim-si, setelah kekuatan para padri terpencar, tentu susah untuk merintanginya, apalagi hendak menangkapnya. Tapi ia tidak ingin bertempur dengan padri Siau-lim-si, ia berharap kelak dapat menangkap pembunuh yang sebenarnya untuk dibawa ke Siau-lim-si agar duduk perkasa yang sebenarnya dapat diketahui oleh padri-padri itu.

Memangnya ia pun tidak ingin melawan padri Siau-lim-si itu, semakin banyak bergebrak dengan padri semakin banyak pula musuhnya. Apalagi kalau dirinya kalah, celaka, dan runyamlah segala urusan.

Sebab itulah sesudah berpikir sejenak, ia taksir jalan paling selamat harus menyusup ke tengah biara dan meninggalkan Siau-lim-si dari jurusan yang berlawanan, yaitu sebelah timur.

Segera ia merunduk maju ke bawah aling-aling pohon dan tetumbuhan lain. Ia menyeberangi empat ruang rumah, ketika ia sembunyi di balik pohon beringin lagi, tiba-tiba dilihatnya di belakang pohon di depan sana juga bersembunyi dua orang padri.

Kedua padri itu tidak bergerak sedikit pun, dalam keadaan gelap sebenarnya sangat sukar diketahui. Tapi mata Kiau Hong sangat tajam, sekilas saja ia sudah melihat kemilau senjata yang dipegang salah seorang padri itu. Pikirnya, “Wah, hampir saja aku kepergok!”

Dengan tenang ia menunggu di balik pohon itu. Tapi kedua padri itu pun tetap tidak pergi. Cara berjaga secara sembunyi ini benar-benar sangat lihai, asal dirinya sedikit bergerak saja pasti akan segera diketahui, sebaliknya ia juga tidak dapat berdiam terlalu lama situ tanpa berusaha meloloskan diri.

Setelah pikir sebentar, segera Kiau Hong menjemput sepotong batu kecil, ia selentik batu kecil itu dengan kuat.

Cara selentikannya itu sangat bagus, mula-mula lambat, kemudian cepat. Waktu batu mulai melayang ke depan tiada terdengar sesuatu suara, tapi sesudah jauh mendadak timbul suara mendenging yang keras dari angin sambaran batu itu. “Plok” batu itu akhirnya menimpuk pada batang pohon.

Dengan sendirinya kedua padri tadi terkejut. Perlahan mereka mendekati pohon itu, menunggu sesudah kedua padri itu melalui tempat sembunyinya, segera Kiau Hong melayang ke depan dan melompat ke dalam ruangan di samping.

Di bawah sinar bulan dapat dilihatnya dengan jelas papan ruangan itu tertulis tiga huruf “Po-te-ih”.

Ia tahu bila kedua padri tadi tidak menemukan apa-apa tentu akan segera kembali, maka cepat Kiau Hong berlari ke ruangan belakang.

Sesudah menyusur ruangan depan Po-te-ih itu, akhirnya ia sampai di ruang belakang. Sekilas mendadak terlihat sesosok bayangan orang laki-laki tinggi besar berkelebat lewat di belakangnya dengan kecepatan luar biasa, begitu cepat gerak bayangan itu sungguh tidak pernah dilihatnya.

“Betapa cepat orang itu, siapakah dia?!” demikian Kiau Hong terkejut. Sambil siap siaga cepat ia menoleh. Tapi ia lantas tertawa sendiri ketika dilihatnya yang berhadapan dengan dirinya juga seorang laki-laki tegap dan mengambil sikap siap siaga dengan penuh waspada.

Kiranya di ruang belakang, di depan arca Buddha terdapat sebaris pintu angin dan pintu angin itu terpasang sebuah cermin perunggu yang sangat besar dan bundar cermin itu tergosok sedemikian bersih dan mengilap hingga bayangan tertampak jelas dalam cermin itu.

Di atas cermin perunggu itu terpasang sebuah pigura yang bertuliskan kata-kata mutiara sang Buddha:
Badan kuat seperti pohon bodhi
hati bersih laksana cermin
setiap saat rajinlah mengurusnya
jangan ternoda karena debu

Selagi Kiau Hong hendak melanjutkan, sekonyong-konyong hatinya seperti terpukul oleh sesuatu apa. Seketika ia tertegun, dalam sekejap itu tiba-tiba ia teringat pada sesuatu yang mahaaneh dan penting. Tapi mengenai urusan apa, ia pun tak dapat memberi penjelasan.

Ia termangu sejenak di tempatnya. Tanpa terasa ia menoleh ke arah cermin perunggu lagi, melihat bayangan sendiri, mendadak ia sadar, “He, baru saja aku telah melihat bayanganku sendiri, di manakah itu? Aku tidak pernah melihat cermin sebesar ini, mengapa bisa melihat bayanganku sendiri dengan begitu jelas?”

Selagi Kiau Hong termenung, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan beberapa orang sedang mendatang.

Karena tiada tempat sembunyi lain, Kiau Hong melihat di ruangan itu terdapat tiga arca Buddha besar, tanpa pikir lagi ia melompat ke altar dan bersembunyi di belakang arca Buddha ketiga.

Dari suara tindakan orang-orang itu dapat diketahui seluruhnya ada enam orang, sesudah masuk ke ruangan pendopo situ, masing-masing lantas duduk di atas tikar.

Dari belakang arca Kiau Hong coba mengintip keluar, ia lihat keenam orang itu semuanya adalah padri setengah umur, terdengar yang sebelah kiri sedang berkata, “Suhu memberi perintah agar memeriksa dan mengawasi kitab-kitab di ruang Po-te-ih ini untuk menjaga kalau-kalau dicuri musuh.”

Habis padri itu berkata, kawan-kawannya yang lain tiada yang bersuara, semuanya diam saja. Kiau Hong pikir kalau saat itu mau melarikan diri, mungkin tidaklah terlalu susah. Tapi tiba-tiba ia ingin tahu penjagaan kitab apa yang hendak dilakukan padri-padri itu, ia pikir biarlah aku menunggu lagi sebentar.

Maka terdengar padri yang sebelah kanan sedang berkata, “Suheng, di ruang Po-te-ih kosong melompong tiada sesuatu benda apa pun, masakah ada kitab pusaka segala? Apa yang Suhu suruh kita jaga di sini?

“Itu mengenai urusan Po-te-ih ini, tidak perlu banyak bicara,” sahut padri yang sebelah kiri tadi dengan tersenyum.

“Ah, kukira engkau sendiri pun tidak tahu,” ujar padri sebelah kanan.

Karena kata-kata pancingan itu, si padri sebelah kiri lantas berseru, “Mengapa aku tidak tahu? ‘Sin-ju-hud-tim’ ….”

Hanya kalimat itu saja yang dia ucapkan, mendadak ia sadar dan cepat bungkam.

“Apa maksudnya Sin-ju-hud-tim?” si padri sebelah kanan ingin tahu.

“Ti-jing Sute,” mendadak padri kedua yang duduk sebelah kiri menyela, “biasanya engkau tidak suka ceriwis, mengapa hari ini terus-menerus bertanya saja? Jika kau ingin tahu rahasia Po-te-ih ini, silakan kau tanya kepada gurumu sendiri saja.”

Maka padri yang bernama Ti-jing itu tidak tanya pula. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata, “Aku akan ke kamar kecil.”

Lalu ia berbangkit menuju ke pintu samping sebelah kiri.

Tapi baru saja ia mengitar ke belakang, mendadak kakinya menendang punggung padri kedua dari kanan yaitu yang duduk tepat di sisinya tadi. Tendangan itu tepat mengenai “koan-ki-hiat” di tulang punggung. Padri itu sedang duduk bersila di atas tikarnya, dengan sendirinya ia tidak menyangka akan diserang oleh kawan sendiri. Maka tanpa ampun lagi ia roboh perlahan ke samping.

Oleh karena tendangan Ti-jing itu dilakukan dengan sangat cepat, pula tanpa suara. Setelah merobohkan padri itu, menyusul padri di sisinya lagi juga didepak dengan cara yang sama, habis itu padri ketiga. Hanya dalam sekejap saja tiga padri sudah dirobohkan.

Dengan jelas Kiau Hong dapat mengikuti kejadian itu di tempat sembunyinya. Ia menjadi terheran-heran mengapa padri Siau-lim-si itu bertarung antara kawan sendiri? Ia lihat Ti-jing sedang menendang padri yang kedua dihitung dari sisi kanan. Dan baru ujung kaki kena sasarannya sementara itu ketiga padri yang ditendang jalan darahnya itu pun menggeletak, kepala membentur lantai hingga mengeluarkan suara.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: