Kumpulan Cerita Silat

09/01/2009

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 19

Filed under: Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 4:40 pm

Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

“Ya, memang betul, Hui-ang-kin, ia telah menjadi is-teriku,” kata Hun-cong pula dengan hati cemas.

“Nyo Hun-cong, kau telah berbuat salah!” seru Hui-ang-kin tiba-tiba.

Karena im, seluruh tubuh Nyo Hun-cong gemetar, tiba-tiba bayangan Nilan Ming-hui muncul dalam ingatannya, gadis im begitu halus, begitu agung dan begitu menggiurkan, Nilan Ming-hui serupa dengan rumput kecil yang ada di padang rumput dan memerlukan perlindungannya.

“Tetapi Hui-ang-kin,” kata Nyo Hun-cong kemudian dengan suara memprotes, “Ia adalah seorang gadis yang baik dan berhati lembut, aku kira ia pun akan menganggapmu sebagai tacinya. Sukalah kau pun menganggap dia sebagai adikmu?”

Namun sekonyong-konyong Hui-ang-kin membalikkan tubuh terus berlari kembali menuju ke jalan ketika mereka datang tadi, air mata si gadis sudah menetes turun. Ia tidak ingin Nyo Hun-cong melihat air matanya dan mengetahui kelemahan perasaannya, walaupun Nyo Hun-cong adalah orang yang paling ia cintai.

Perbuatan Hui-ang-kin yang tiba-tiba im telah membuat Nyo Hun-cong tidak berdaya. Menarik tubuh gadis itu juga tidak enak, tidak menarik pun salah, ia coba menenangkan semangatnya dan lantas berlari mengejar.

“Hui-ang-kin, adikku yang baik, harap tunggu dulu, tunggu dulu!” ia berteriak memanggil.

Akan tetapi Hui-ang-hin masih terus berlari sambil menangis. Pikiran Nyo Hun-cong waktu im sudah kalut sekali dan hanya berlari mengikut di belakang Hui-ang-kin secara tak sadar.

Pada saat itu juga, tiba-tiba dari depan sana telah menerjang datang beberapa penunggang kuda dengan cepat dan berteriak dengan ramainya “Nyo taihiap, Hui-ang-kin, apa belum tahukah kalian? Tidak usah kalian kembali ke sana kejarlah ke jurusan barat daya Coh Ciau-lam dan Sin Liong-cu telah kabur!”

Mendengar teriakan yang ramai ini, Nyo Hun-cong terkejut sekali, pikirannya segera tersadar dari kekusutan, secepat kilat ia mencemplak seekor kuda dan lantas dipecut mengejar bagaikan terbang, di atas kuda ia masih sempat berseru, “Hamaya bantulah aku, lekas kejar dan tangkap kembali pengkhianat itu!”

Hui-ang-kin diam saja tidak menyahut, tetapi ia pun segera mencemplak seekor kuda dan ikut mengudak.

Di atas padang rumput yang luas terlihat empat penunggang kuda berkejaran dengan cepat, sekejap saja yang lainnya sudah tertinggal jauh, Nyo Hun-cong berjajar dengan kuda Hui-ang-kin, tetapi sama sekali Hui-ang-kin tidak memandang diri pemuda ini.

Tidak lama kemudian, kedua penunggang kuda di depan sana sudah mulai terlihat, kedua penunggang kuda tersebut adalah Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam.

Hun-cong mengempitkan kedua kakinya dengan kencang di atas perut kuda sehingga berlari lebih cepat lagi, ia berpaling dan berseru pada Hui-ang-kin.

“Sebentar lagi kau cegat Sin Liong-cu, tetapi jangan mencelakai jiwanya sedangkan aku pergi menangkap Coh Ciau-lam,” katanya.

Hui-ang-kin masih diam saja tidak menyahut. Sementara itu kuda Nyo Hun-cong sudah berada di muka kelihatatanya segera sudah bisa mencapai kedua penunggang kuda yang berada di depannya itu.

Tiba-tiba dari depan sana berlari dengan cepat dua orang penunggang kuda lagi, belum sempat Nyo Hun-cong melihat jelas siapa kedua orang yang mendatanginya im, tiba-tiba terdengar Sin Liong-cu berseru memanggil, “Su-siokco, bantulah menahan mereka mereka hendak mencelakai kami!”

Mendadak Nyo Hun-cong mengendalikan tali kudanya ketika itu kedua penunggang kuda pun sudah datang mendekat, kedua penunggangnya ternyata adalah dua orang Tosu atau imam, masing-masing tangannya memegang sebatang pedang panjang yang mengkilap.

Ketika Nyo Hun-cong hendak berkata di belakangnya ternyata Hui-ang-kin dengan cepat sudah menerobos datang.

“Kau pernah apanya Pek-hoat Mo-li?” bentak salah seorang Tosu tua yang memakai tudung kuning dengan tiba-tiba Hui-aing-kin yang memang sedang mendongkol pikirannya sejak tadi, tanpa menjawab lagi mendadak cambuknya telah memecut.

“Kamu mengapa menghalangi aku, kamu malahan berani menyebut nama guruku dengan tidak hormat!” dampratnya dengan gusar.

Atas jawaban ini, kedua Tosu im saling pandang dan kemudian berteriak, “Ha akhirnya ketemu juga biarlah Toa-ya membereskan kalian berdua siluman kecil ini dulu baru kemudian pergi mencari gurunya!”

Habis berkata pedang mereka diacungkan, dari dua jurusan segera mereka menyerang, sinar pedang bergemer-depan dengan cepat, serangannya ternyata tipu pukulan yang berbahaya.

“Hai, ada perkara apa berbicaralah lebih dulu!” seru Hun-cong cepat sambil menghindar dari serangan orang yang membabi buta.

“Siapa sudi berbicara dengan kau!” bentak pula Tosu itu.

Pedangnya terus menyerang dengan cepat dan beruntun tiga kali, ternyata tipu serangannya adalah kiam-hoat yang paling lihai dari golongan Bu-tong-pay, walaupun Nyo Hun-cong dapat menduga asal usul mereka, tetapi pertandingan antara jago silat, mati atau hidup hanya tergantung dalam sekejap mata saja, maka ia tidak berani gegabah, ia harus mencurahkan sepenuh perhatiannya untuk mengawasi setiap gerak gerik musuh.

Tiap serangan imam itu ternyata sangat lihai, sedang keuletannya lebih-lebih selama hidup belum pernah dialami Nyo Hun-cong.

Terpaksa Nyo Hun-cong harus mengeluarkan ‘Han-tho-kiam-hoat’ yang merupakan bagian dari Thian-san-kiam-hoat, serangan pedang pendeknya begitu dilancarkan langsung sinar mengkilapnya berkilauan, sebatang pedang segera menjelma seperti beberapa puluh batang, di waktu cepat, permainan pedangnya seperti arus air yang mengombak ke angkasa dan sinar perak beterbangan, beratus ribu bintik-bintik purih bersebaran turun!

Akan tetapi Tosu itu ternyata sangat lihai juga, pedangnya tidak cepat pula tidak lambat, sinar pedangnya hanya melingkar seperti membentuk satu pagar tembaga dan tembok besi di depan Nyo Hun-cong, ujung pedang Hun-cong sampai di mana saja tentu terbentur balik oleh suatu kekuatan dalam yang luar biasa besarnya, ‘Han-tho-kiam-hoat’ yang dimainkan selekasnya sudah akan habis jurusnya, tetapi ia masih belum dapat mendesak mundur musuh.

Dalam kerepotannya Hun-cong masih mencoba memandang ke pihak Hui-ang-kin, gadis ini kelihatan sudah kerepotan sampai rambutnya bersebaran tak teratur, pecut panjangnya hanya berayun tak keruan dan pedangnya berputar-putar tanpa tujuan, agaknya sudah tak tahan lebih lama lagi.

Hun-cong menjadi kuatir sekali, lekas ia mengeluarkan seluruh ilmu pedang Thian-san yang paling lihai dan menyerang secepat kilat.

Melihat permainan Nyo Hun-cong yang hebat, Tosu itu bersuara dengan penuh keheranan, akan tetapi ia tetap terus mempertahankan diri, pedangnya menyambar naik turun, kadang-kadang malahan pedang Nyo Hun-cong tertangkis ke samping, Nyo Hun-cong sudah mandi keringat, tetapi tetap masih tidak dapat melepaskan diri.

Hun-cong yang telah menguasai Thian-san kiam-hoat sebenarnya sudah sulit dicari tandingannya, ilmu pedangnya sungguh sangat lihai dan kalau dibandingkan dengan ilmu pedang Tosu itu tentu jauh lebih bagus, tetapi kalau soal keuletan sebaliknya ia masih kalah jauh, maka ia berbalik berada di bawah angin.

Sementara itu di lain pihak Hui-ang-kin sudah dalam keadaan lelah letih dan kelihatannya segera akan menjadi pecundang, Hun-cong tidak berdaya, ketika ia hendak menggunakan serangan yang paling lihai untuk mengadu jiwa dengan Tosu tua itu, tiba-tiba Tosu tua ini sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran.

“Berhenti, berhenti dulu!” teriaknya tiba-tiba.

Nyo Hun-cong menarik pedangnya dan dilintangkan di dadanya, ia melihat ke jurusan Hui-ang-kin, kelihatan gadis ini sudah tersengal-sengal napasnya dan juga sudah melompat keluar dari kalangan.

“Sute, kedua orang ini sudah kuketahui sedikit asal-usulnya!” kata Tosu tua yang bertanding melawan Nyo Hun-cong im pada kawannya.

“Tidak salah, memang juga sudah kuketahui sedikit asal-usulnya, ia mempunyai ilmu silat yang khas dan menandakan betul adalah ajaran Pek-hoat Mo-li, mereka tidak membohongi kita, dan kalau sudah terang mereka adalah murid Pek-hoat Mo-li, mengapa Suheng berhenti sampai di sini?” sahut Tosu yang melawan Hui-ang-kin tadi.

Kemudian imam tua berhidung kuning im mendadak tertawa sambil mendongak ke atas.

“Sudah lama aku mendengar Thian-san-kiam-hoat tiada bandingannya di kolong langit, kini terbukti memang tidak salah lagi. Hai, kau pernah apanya Hui-bing Siansu?” tanyanya dengan suara nyaring.

Imam tua yang sudah mumpuni dengan ilmu pedangnya yang sudah terlatih puluhan tahun lamanya dan adalah jagoan kelas satu dari Bu-tong-pay ternyata harus bergebrak begitu lama dengan Nyo Hun-cong yang masih begitu muda, jidatnya sendiri sampai berkeringat, tentu saja ia terperanjat dan heran sekali.

“Hui-bing Siansu adalah guruku, maaf numpang tanya siapakah gelar suci Locianpwe?” sahut Hun-cong kemudian dengan hormat.

“Kalau kau adalah murid Hui-bing, mengapa berbalik membela murid Pek-hoat Mo-li?” bentak Tosu di sebelah sana dengan tiba-tiba.

“Aku tidak memandang pihak mana pun,” jawab Nyo Hun-cong dengan lantang, “Lienghiong ini adalah ketua dari perserikatan suku-suku bangsa di Sinkiang selatan sini, ialah Hui-ang-kin Lienghiong yang namanya tersohor di seluruh padang rumput, mengapa aku tidak boleh membantunya?”

“O, kiranya jagoan wanita ini adalah Hui-ang-kin, sungguh tidak nyana ia adalah murid Pek-hoat Mo-li!” ujar Tosu tua im agak tercengang.

“Aku memang adalah murid Pek-hoat Mo-li, pahlawan-pahlawan yang berada di daerah luar sini siapa yang tidak mengetahui?” sahut Hui-ang-kin dengan lagak agak congkak, “Ada apa dengan guruku, ia adalah ahli pedang kelas satu di kalangan persilatan, perbuatan memalukan apakah yang telah diperbuatnya sehingga membuat para Locianpwe begitu gusar?”

“Lienghiong, maafkanlah kami!” kata Tosu tua tadi yang kini lagu suaranya sudah berubah menjadi halus. “Perkara ini panjang ceritanya, aku sepatutnya tidak ingin mengutuk nama gurumu di hadapanmu, tetapi kau masih terlalu muda, banyak urusan yang belum kau ketahui, kau boleh pergi melawan tentara Boan dan menjalankan tugasmu yang mulia, untuk ini kami tentu membantu kau dan tidak nanti merintangi, hanya saja jika kau menuruti perintah gurumu pergi menindas murid keponakanku, itulah yang kami tidak bisa biarkan!”

“Kalau begitu, kiranya kedua Totiang adalah Susiok Toh-taihiap?” tanya Hun-cong terperanjat.

“Betul!” sahut kedua Tosu im dengan memanggut.

Jika diurutkan ternyata Nyo Hun-cong masih lebih rendah dua tingkat, maka lekas ia memberi hormat pada kedua orang tua ini.

“Kami dengan Hui-bing semua adalah sahabat yang sudah turun-temurun,” kata Tosu tua lagi, “Masing-masing mempunyai hubungan yang khusus, kami menganggap gurumu dari tingkatan yang sama, tetapi karena ia menghormati Sutit kami yang pernah mengetuai satu golongan persilatan, maka ia juga menganggap kedudukannya setingkat, kalau kau hendak mengurutkan secara adat, maka biarlah kau menyebut aku sebagai Susiok juga.”

“Maafkanlah aku!” kata Nyo Hun-cong sambil memberi hormat lagi, perasaannya pun penuh rasa heran, tetapi ia tak berani bertanya.

Kiranya kedua imam ini baru datang dari Su-jwan, maka mereka tidak mengetahui seluk-beluk Hui-ang-kin. Sedang diri Toh It-hang asalnya adalah dari kaum bangsawan, belakangan ia telah menjadi Ciang-bun atau ketua Bu-tong-pay, tapi di atasnya masih ada lagi empat orang Susiok atau paman guru, kepandaian It-hang lebih rendah sedikit daripada Ji-susioknya yakni Tosu yang bertanding dengan Nyo. Hun-cong tadi, yang bernama Oei-yap Tojin, kepandaian Ji-susioknya ini jauh lebih tangguh daripada Susiok yang lain.

Yang bertanding dengan Hui-ang-kin tadi adalah Si-susiok yang bernama Pek-ciok Tojin.

Mengenai diri Pek-hoat Mo-li, ia asalnya adalah seorang begal besar dari daerah Su-jwan. Kedekatannya dengan Toh It-hang sebenarnya adalah hubungan percintaan yang sudah dekat pada pernikahan, akan tetapi para Susioknya menganggap Bu-tong-pay adalah salah satu aliran yang bersih dalam kalangan persilatan. Toh It-hang adalah orang pilihan di dalam golongan mereka dan baru saja menerima jabatan sebagai Ciang-bun atau ketua, maka tidak pantas mendapatkan jodoh seorang begal perempuan.

Pada masa itu, soal perjodohan masih harus menurut kepada keputusan orang tua, Toh It-hang yang sudah piatu dengan sendirinya harus menurut pada perkataan para Susioknya, karena rintangan inilah yang telah membuatnya sangat menderita dan penuh kemasgulan.

Sebenarnya, soalnya bukan sudah tak dapat diperbaiki lagi, tak terduga Pelc-hoat Mo-li yang berwatak keras sekali, dengan amarahnya ia telah mengeluruk ke Bu-tong-san dan bergebrak dengan Susiok Toh It-hang.

Waktu itu, Oei-yap Tojin dan Pek-ciok Tojin justru tidak berada di situ, Toh It-hang masih mempunyai dua Susiok yang lain yaitu Ang-hun Tojin dan Jing-sui Tojin, merekalah yang telah mengerubuti Pek-hoat Mo-li beserta enam murid mereka yang tertua.

Pek-hoat Mo-li yang sendirian melawan delapan jago dari Bu-tong-pay ternyata telah dapat melukai Ang-hun Tojin, sebaliknya iapun terluka oleh pedang Jing-sui Tojin, kedua pihak sama-sama ada yang mengalami luka, Pek-hoat Mo-li yang telah patah hati dalam soal asmara mengerti tidak dapat menetap terus di daerah Su-jwan lagi, maka jauh-jauh ia telah datang ke Thian-san dan menyembunyikan diri di sana. Dan rambutnya dalam semalaman telah berubah menjadi putih semua, maka orang lantas menyebut dirinya Pek-hoat Mo-li atau si iblis perempuan berambut putih.

Toh It-hang yang juga mengalami pukulan batin begitu hebat, ia pun menjadi putus asa, tiba-tiba ia meninggalkan kewajibannya sebagai Ciang-bun dan menyusul ke daerah perbatasan, tetapi Pek-hoat Mo-li yang telah salah paham padanya di samping cinta juga benci, maka mereka susah diakurkan kembali.

Selama beberapa puluh tahun ini, kedua orang ini selalu dalam keadaan yang bertentangan dan berlainan jurusan.

Belakangan bahkan Pek-hoat Mo-li mengira Toh It-hang telah bermain cinta dengan murid perempuan Oei-yap Tojin yang bernama Ho Lok-hua dari cemburu menjadi gusar dan hendak mengusir mereka keluar dari daerah Sinkiang, Toh It-hang yang mengetahui watak Pek-hoat Mo-li yang cukup ganas, ia menjadi kuatir Ho Lok-hua dicelakai maka cepat ia mengantar Ho Lok-hua keluar dari daerah Sinkiang, tidak terduga Oei-yap Tojin yang entah mendapat kabar dari mana, jauh-jauh ia telah datang menyusul.

Di waktu masih kecil Sin Liong-cu pernah bertemu sekali dengan Oei-yap Tojin, dengan kedatangan mereka yang secara kebetulan ini justru telah menghindarkan bahaya bagi diri Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam berdua.

Kembali tentang Hui-ang-kin, setelah mendengar perkataan Oei-yap Tojin tadi, ia menjadi gusar.

“Hm, kamu masih berkata membantu aku melawan tentara Boan, tetapi mata-mata musuh justru telah lolos karena kamu!” katanya sengit.

Keruan Oei-yap Tojin terperanjat sekali mendengar dampratan itu.

“Apa?” tanyanya cepat, “Sin Liong-cu adalah mata-mata musuh? Ah, mana mungkin! Walaupun aku tidak berada di Thian-san, tetapi pernah juga mendengar murid Toh It-hang ini selalu belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, bagaimana ia bisa membantu pemerintah Boan-jing!”

“Sin-toako mungkin tidak, tetapi maafkan kalau Tecu harus berterus terang, ia biasanya terlalu ceroboh, mungkin ia sudah kena hasutan Coh Ciau-lam dan telah membebaskan dirinya yang telah kami tawan dan lantas kabur bersama!” kata Nyo Hun-cong.

“Coh Ciau-lam yang mana?” tanya Oei-yap Tojin.

“Coh Ciau-lam adalah Tecu punya Sute yang tak berguna itu,” sahut Hun-cong, “Ia telah mengkhianati sumpah perguruan dan menyerah pada pihak Boan untuk berbuat sewenang-wenang, kemarin malam telah tertangkap oleh Tecu, tetapi paginya telah terlepas dan kini sudah melarikan diri!”

Karena keterangan ini lantas Oei-yap Tojin ketok-ketok batok kepala sendiri.

“Ya, ya, memang aku si tua bangka ini yang ceroboh!” katanya berulang-ulang, “Baiklah begini saja, kalau kami ketemukan Toh It-hang, kami akan meminta dia memberi ajaran dan hukuman yang setimpal pada Sin Liong-cu, sedang mengenai Coh Ciau-lam, karena ia bukan orang golonganku, maka kami tidak pantas mengurusi dia.”

Sementara itu, Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam sudah pergi terlalu jauh, hendak mengejar pun sudah tak keburu lagi, maka terpaksa Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berpamitan pada Oei-yap Tojin dan Pek-ciok Tojin kembali ke perkemahan bangsa Kazak sana.

Sepanjang jalan Nyo Hun-cong mencoba mengajak Hui-ang-kin bercakap-cakap, tetapi Hui-ang-kin tidak menyahut dan tidak menggubris, karena tidak tahan lagi Nyo Hun-cong telah mengalirkan air mata.

“Hui-ang-kin,” kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh, “Anggaplah aku telah mengecewakan maksud baikmu, tetapi kita masih harus melawan tentara Boan bersama!”

Tidak diduganya, perkataannya itu makin menambah kegusaran Hui-ang-kin.

“Nyo Hun-cong,” sahurnya dengan gemas, “Siapa yang memikirkan dirimu, kau pandang aku Hui-ang-kin sebegitu rendah dan harus tetap mengikutimu? Hm!” akhirnya ia menjengek.

Habis berkata beruntun ia memecut kudanya terus dilarikan kembali ke arah datangnya tadi, Hun-cong tertegun dan tak berani buka suara lagi.

Setelah sampai di perkemahan, lebih dulu Nyo Hun-cong menemui kepala suku Kazak dan meminta maaf, ia menceritakan pengalamannya.

“Cukuplah,” kata kepala suku itu sambil tertawa, “Coh Ciau-lam dapat lolos, hal ini walaupun sangat disayangkan, tetapi kalau kau tetap bersama kami, apakah masih kuatir tidak dapat menangkap dia lagi? Pihak yang benar pasti menang, Tuhan melindungi kita, musuh dan kaum pengkhianat pasti tidak akan mendapat pengampunan, sekarang boleh kau pergi istirahat dulu!”

Dengan perasaan penuh kemasgulan, setelah kembali ke dalam kemah, Hun-cong tidak pergi mencari Hui-ang-kin.

Pada besok paginya, kepada suku Kazak tiba-tiba menerobos datang padanya dan berteriak, “Apakah artinya ini? Hui-ang-kin telah pergi dengan membawa orang-orangnya!”

Pikiran Nyo Hun-cong tergoncang keras mendapat kabar yang tiba-tiba ini.

Advertisements

5 Comments »

  1. Mana sambungannya?
    pleeeaaassseeee………..

    Comment by o.k — 29/09/2009 @ 2:14 pm

  2. Diusahakan segera, mas.

    Comment by ceritasilat — 30/09/2009 @ 3:19 am

  3. Putus lagi, jadi patah hati deh

    Comment by ewrinar — 07/03/2010 @ 5:53 am

  4. lama kunanti ……

    Comment by ßaöng — 06/12/2010 @ 4:12 pm

  5. Wah lagi seru terputus, jadipenasaran.
    Kalau bisa sambungannya dilanjutkan mas. TQ.

    Comment by Hartono Suriya — 13/03/2011 @ 9:53 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: