Kumpulan Cerita Silat

09/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (09)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 5:01 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

9. Wan Peng Wang

Lu Xiang Chuan sangat teliti. Sebelum menjalankan tugas, ia sudah menyelidiki Wan Peng Wang sedetil mungkin.

Wan Peng Wang tidak bermarga Wan, juga tidak bermarga Wang. Konon, ia anak haram yang tidak jelas bapak dan dibuang ibunya. Tapi, tidak ada yang bisa membuktikan cerita ini.

Sebelum berumur tujuh belas, tidak ada yang tahu asalnya. Sesudah berumur tujuh belas, ia sudah bekerja pada sebuah perusahaan. Setengah tahun kemudian, ia sudah naik jabatan. Pada umur sembilan belas, ia membunuh bos perusahaannya kemudian menjadi bos perusahaan itu.

Tapi, setahun kemudian ia menjual perusahaan dan menjadi seorang polisi. Dalam tiga tahun, ia sudah menangkap dua puluh sembilan penjahat, membunuh delapan orang, sisanya ia lepaskan.

Semenjak itu, ia punya dua puluh satu pembantu yang sangat setia padanya. Waktu berumur dua puluh empat, ia keluar dari kepolisian dan mendirikan perkumpulan Da Peng. Mula-mula hanya memimpin 100 orang, tapi sekarang anak buahnya sudah mencapai puluhan ribu orang. Kekayaanya sudah tidak terhitung lagi.

Dulu, tidak ada yang perduli pada kata-katanya. Sekarang, kata-katanya adalah perintah.

Semua kejayaan dan kekayaannya tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui pertarungan hidup mati.

Apalagi beberapa tahun ini terdengar kabar Wan Peng Wang telah mendapatkan sebuah rahasia kungfu aneh yang ia beri nama Fei Peng Si Shi Jiu Shi. Ilmu telapak tangan itu sangat dahsyat, jarang ada yang bisa menandingi.

Lu Xiang Chuan merasa tugasnya sangat berat. Apakah pertarungan antara Lao Bo dengan Wan Peng Wang tidak bisa dihindari? Bagaimana akhirnya? Lu Xiang Chuan tidak berani memastikannya.

Sungguh, bila bukan terpaksa, Lu Xiang Chuan tidak ingin pertentangan ini terjadi!

—–

Lu Xiang Chuan khawatir, Wan Peng Wang tidak sudi bertemu dengannya, maka ia sengaja mengajak Nan Gong Yuan.

Nan Gong Yuan adalah turunan keluarga Nan Gong terakhir. Ia seorang terpelajar, juga pesilat dan play boy yang terkenal. Orang sepertinya sangat senang menghamburkan uang. Kekayaan keluarganya semakin lama semakin menipis dan serkarang ia sering meminjam uang pada Lao Bo.

Lu Xiang Chuan percaya, Nan Gong Yuan tidak akan mau kehilangan teman seperti Lao Bo. Karenanya, pasti akan membantunya.

Kebetulan Nan Gong Yuan juga teman Wan Peng Wang.

Wan Peng Wang seorang lelaki berduit. Semakin tinggi kedudukannya, hobinya semakin banyak. Ia senang perempuan, suka berjudi dan berkuda, juga senang mempelajari etika.

Kebetulan kesenangannya sama seperti Nan Gong Yuan, dan Nan Gong Yuan adalah ahli di bidang itu. Karena itulah mereka bisa berteman.

—–

Kereta kuda berhenti di luar hutan.

Seseorang berdiri di tepi hutan bertubuh tinggi dan gagah, memakai baju seputih salju.

Di bawah pohon tersedia meja, kursi, kecapi, dan arak. Juga seekor kuda yang tinggi dan bagus.

Lelaki itu dari jauh terlihat masih sangat muda, tapi sudah terlihat keriput di sudut matanya. Ia tampak begitu dewasa dan luwes, sulit dibandingkan dengan siapa pun.

Lu Xiang Chuan turun dari kereta dan mendekati Nan Gong Yuan. Melihat wajah Nan Gong Yuan yang terlihat kesal, ia menghentikan langkah.

Nan Gong Yuan justeru menghampiri.

“Apa ia tidak mau bertemu denganku?” tanya Lu Xiang Chuan.

Nan Gong Yuan menghela nafas, “Ia menolak bertemu denganmu.”

“Kau sudah jelaskan maksud Lao Bo?”

“Ia tidak pernah berhubungan dengan Lao Bo, kelak pun tidak akan berhubungan dengannya!”

“Bisakah ia berubah pikiran?”

“Tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.”

Lu Xiang Chuan tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu, jika terus bertanya pun akan sia-sia.

Wajah Lu Xiang Chuang tanpa ekspresi, tapi hatinya kusut dan ia tidak punya cara mengurai benang kusut itu. Padahal baginya misi ini harus berhasil, tidak boleh gagal. Jika gagal, bisa berakibat fatal.

Saat ia tercenung, tiba-tiba Nan Gong Yuan berkata, “Tiap tanggal satu setiap bulan, Wan Peng Wang selalu membeli barang antik dan kuno.”

“Besok tangal satu,” gumam Lu Xiang Chuan.

Nan Gong Yuan menghel nafas panjang. “Waktu begitu cepat berlalu, hari berganti bulan, dulu masih muda sekarang rambut sudah memutih. Kehidupan manusia seperti mimpi, tiap hari menghabiskan waktu, entah untuk apa…”

Lu Xiang Chuan tertawa kecil, dari dalam saku ia mengeluarkan sebuah amplop. “Mungkin untuk ini,” jawabnya.

“Apa itu?”

“Ini cek 5,000 tail emas. Inilah penghormatan dari Lao Bo.”

Nan Gong Yuan memandang amplop itu, tertawa sinis. “Orang sepertiku tidak pantas diberi penghormatan.”

Seketika Nan Gong Yuan membalik tubuh, berjalan ke meja, dan mulai memainkan kecapi.

Hidup ibarat mimpi
Manakala tersadar dari mimpi
‘Kan kita hadapi kenyataan?
Tiap hari sibuk, apalah kegunaan?

Lagu yang sedih. Denting kecapi terdengar menyayat hati. Matahari sore menyinari tepi hutan itu.

Tiba-tiba hening.

Bumi dan langit begitu sepi. Lu Xiang Chuan perlahan berdiri. Kedudukan dan keberhasilannya lebih tinggi daripada Nan Gong Yuan, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang ‘kurang’ pada diri sendiri.

Mungkinkah kekurangannya adalah ‘masa lalu’?

Apakah karena Lu Xiang Chuan hanya memiliki ‘masa sekarang’ dan ‘masa depan’, sementara Nan Gong Yuan memiliki ‘masa lalu’?

Betapa pun kau memiliki uang dan kedudukan, kau tidak bisa membeli masa lalumu!

Tiba-tiba Lu Xiang Chuan terkenang masa lalunya yang sulit. Seketika kemarahan membakar dadanya.

Ia meletakkan amplop itu, sepatah demi sepatah berkata, “Mimpiku selamanya tidak akan pernah terbangun sebab aku tidak pernah bermimpi.”

Nan Gong Yuan tidak mengangkat kepala, hanya menjawab, “Sebenarnya kau pun tahu, terkadang orang tetap harus bermimpi.”

Lu Xiang Chuan tahu itu. Tapi ia punya semacam penyakit. Penyakitnya ialah tidak bisa bermimpi dan karenanya ia merasa tegang.

Ketegangan yang membuatnya lelah.

Lantas, kalau begini, apakah sudah seharusnya ia bermimpi? Memiliki mimpinya sendiri?

Semua itu adalah pilihan. Dan pilihan itu ada pada dirinya!

Denting kecapi sudah berhenti.

Lu Xiang Chuan melangkah ke kereta kuda, memberi perintah singkat, “Ke Gu Huang Xian.”

—–

Tanggal satu.

Semua pedagang antik sudah tiba di kaki bukit. Mereka datang dari berbagai lokasi, bahkan ada yang datang dari tempat yang sangat jauh.

Ini adalah hari Wan Peng Wang memilih barang antik, dan ia adalah pembeli sekaligus kolektor yang baik.

Di antara para pedagang itu terlihat seorang pemuda yang sangat tenang tapi tidak dikenal para pedagang lain yang umumnya sudah saling mengenal. Pemuda itu konon datang dari Gu Huang Xian. Dan ia adalah Lu Xiang Chuan.

Sebelumnya Lu Xiang Chuan pergi ke Gu Huang Xian terlebih dulu dan baru masuk ke kota ini.

Awan putih berarak.

Rumah Wan Peng Wang di atas bukit seperti istana di atas awan, sangat tinggi dan seolah tidak terjangkau.

Terdengar suara lonceng seperti keluar dari balik awan.

Para pedagang berjalan beriringan menuju rumah Wan Peng Wang.

Lu Xiang Chuan sangat terkejut ketika melihat Wan Peng Wang untuk pertama kalinya. Ia belum pernah melihat orang seperti Wan Peng Wang.

Wan Peng Wang seperti raksasa di dalam dongeng. Saat ia duduk, tingginya hampir setinggi orang normal yang berdiri.

Ada yang bilang, “Semakin besar tubuh seseorang, semakin sederhana otaknya.”

Namun hal ini tidak berlaku bagi Wan Peng Wang.

Pandangannya sangat dingin, tajam, dan kuat, memancarkan kecerdasan dan keteguhannya. Ia juga penuh percaya diri, membuat orang tidak berani sembarangan dengannya.

Telapak tangannya lebar, besar, dan tebal. Setiap saat ia mengepalkan tangan dengan erat seakan ingin memukul orang.

Saat Lu Xiang Chuan mendekati, mata Wan Peng Wang tiba-tiba menyorot setajam pisau, seolah menguliti Lu Xiang Chuan.

Setelah lama pelan-pelan Wan Peng Wang bertanya, “Apa kau dari Gu Huang Xian?”

Saat itu juga Lu Xiang Chuan tahu sulit mengelabui orang semacam Wan Peng Wang. Sepertinya anak buah Wan Peng Wang telah mendata setiap pedagang yang akan masuk ke rumahnya, ataukah itu justru Nan Gong Yuan yang membocorkan rahasianya?

Apa pun, Lu Xiang Chuan adalah orang yang sangat cerdas dan fleksibel. Seketika ia mengubah rencana dan berkata jujur.

“Bukan,” jawab Lu Xiang Chuan.

Wan Peng Wang pun tertawa senang. “Baiklah, kau orang yang pintar! Bosmu pasti lebih pintar lagi.” Tawa Wan Peng Wang perlahan berhenti. Ia kembali memelototi Lu Xiang Chuan dan bertanya, “Bukankah bosmu Sun Yu Bo?”

Ditanya seperti itu, seketika timbul rasa hormat di wajah Lu Xiang Chuan. Perlahan ia maju ke muka membawa sebuah piring dan berkata, “Piring giok ini dari dinasti Han, di atasnya adalah sebuah guci yang dibuat di masa dinasti Qing. Barang ini pemberian Lao Bo untuk Ketua Bang sebagai rasa hormat beliau. Harap Ketua menerimanya.”

Setiap kali Lao Bo meminta bantuan, selalu menghantarkan hadiah yang mewah. Maknanya adalah ia ingin menjalin persahabatan. Bila hadiahnya ditolak, berarti menolak persahabatan. Berarti pula, kau telah menantang Lao Bo!

Namun kali ini bukan maksud Lao Bo menghantar hadiah. Semua ini adalah ide Lu Xiang Chuan. Ia berharap semua permasalahan ini bisa diselesaikan dengan damai.

Mata Wan Peng Wang yang semula menatap wajah Lu Xiang Chuan kini memperhatikan piring itu. Namun sesungguhnya ia sedang berpikir. Setelah lama Wan Peng Wang baru membuka mulut, “Kudengar Wu Lao Dao adalah perantauan dari Jiang Bei dan tiga puluh tahun yang lalu menetap di Jiang Nan.” Wan Peng Wang mengangkat kepala dan memelototi Lu Xiang Chuan, “Sun Yo Bo pun demikian, apa benar begitu?”

Lu Xiang Chuan membenarkan, “Lao Bo dan Wu Lao Dao berasal dari desa yang sama. Mereka sama-sama menetap di Jiang Nan.”

Lu Xiang Chuan tahu Wan Peng Wang sudah mengetahui maksud kedatangannya sehingga tidak perlu menutup-nutupi lagi. Seketika ia merasa Wan Peng Wang lebih menakutkan daripada yang ia bayangkan.

Wan Peng Wang gusar berkata, “Sun Yu Bo menyuruhmu datang ke sini apakah untuk kepentingan anak lelaki Wu Lao Dao?”

“Lao Bo mengetahui masalah hubungan lelaki dan perempuan. Ketua pasti bisa mengijinkan mereka bersama, apalagi gadis itu hanyalah seorang pelayan.”

Kata-kata Lu Xiang Chuan sangat sopan dan tidak langsung pada sasaran, namun menjelaskan keuntungan dan kerugian masalah ini, bahwa demi seorang pelayan harus bermusuhan dengan Lao Bo adalah tidak sebanding.

Tapi Wan Peng Wang marah menjawab, “Ini bukan sekedar masalah lelaki perempuan, tapi adalah aturan perkumpulan di sini. Siapa pun dilarang melanggar aturan ini!”

Hati Lu Xiang Chuan serasa tenggelam, ia melihat harapannya semakin menipis. Namun sebelum benar-benar pupus, ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Lao Bo senang berteman, kalau Ketua bisa berteman dengannya, semua akan gembira menyambutnya.”

Wan Peng Wang tidak menjawab. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, “Ikut aku!”

Lu Xiang Chuan tidak tahu akan dibawa ke mana, pun tidak bisa menebak maksud Wan Peng Wang membawanya. Seketika rasa takut menyelimuti dirinya. Tapi belakangan ia berpikir, jika Wan Peng Wang ingin membunuhnya, saat ini pun dirinya sudah menjadi mayat.

Maka Lu Xiang Chuan mengikuti Wan Peng Wang keluar dari ruangan. Ia baru memperhatikan kemegahan dan kemewahan kediaman Wan Peng Wang. Dan ia pun mulai menyadari, sekelilingnya tidak terlihat penjagaan.

Sedemikian sepi dan lengangnya seolah menunjukan pengawalan yang lemah. Tapi Lu Xiang Chuan tidak berfikir seperti itu. Ia mengerti, jika rumah ini terlihat banyak penjaga justeru akan memperlihatkan sosok Wan Peng Wang yang sebenarnya.

Orang seperti Wan Peng Wang tidak begitu saja mau memamerkan kekuatannya.

Begitu juga Lao Bo.

“Lebih baik musuh tidak mengetahui dan tidak bisa memperhitungkan kekuatanmu karena, bila tidak, sebaiknya kau tidak memiliki musuh,” begitu prinsip Lao Bo.

Prinsip itu sepertinya juga dianut Wan Peng Wang. Hanya “orang kaya baru” saja yang akan memamerkan seluruh harta di tubuhnya!

—–

Beranda tampak gelap dan sunyi.

Di ujung beranda terdapat sebuah pintu yang tidak terkunci. Di sana terlihat sebuah ruangan yang sepertinya kosong.

Bila pintu dibuka kau akan menyadari bahwa tebakanmu keliru.

Ruangan itu penuh barang kuno dan antik. Di istana Kota Raja pun belum tentu ada barang antik sebanyak dan selengkap ini. Lu Xiang Chuan tidak tahu harus mulai melihat dari mana.

Wan Peng Wang membawanya berkeliling, baru berkata, “Silahkan ambil dua macam barang, hitung-hitung membalas pemberian Lao Bo.”

Lu Xiang Chuan tidak menolak. Terkadang ada permintaan yang ditolak pun tidak ada gunanya. Maka, ia benar-benar memilih dua macam barang.

Yang ia pilih adalah lempengan giok dan sebuah pisau dari Persia. Nilai kedua barang ini hampir sama dengan hadiah yang diberikan Lu Xiang Chuan pada Wan Peng Wang.

Ini artinya Lu Xiang Chuan bisa menilai barang bagus dan juga menunjukkan bahwa dirinya tidak ingin mengambil keuntungan dengan mengambil barang yang lebih mahal.

Benar saja, mata Wan Peng Wang mengekpresikan pujian. “Kapan pun kau sudah tidak bekerja pada Sun Yu Bo atau bertengkar dengannya, datanglah padaku dan aku pasti akan menerimamu.”

“Terima kasih,” jawab Lu Xiang Chuan.

Diperhatikan seorang seperti Wan Peng Wang, sedikit banyak Lu Xiang Chuan merasa bangga. Namun hatinya juga semakin dingin. Karena ia tahu makna ucapan itu: Wan Peng Wang tidak memberinya kesempatan lagi.

—–

Mereka kembali melalui jalan yang lain. Begitu keluar dari pekarangan, terdengar ringkik kuda.

Wan Peng Wang menghentikan langkahnya. “Mau melihat kuda-kudaku?” tawarnya.

Untuk pertama kalinya Lu Xiang Chuan melihat entah rasa senang atau bangga memancar dari diri Wan Peng Wang. Ia merasa undangan ini tidak ada maksud lain seperti seorang tuan rumah memanggil putra putrinya untuk menemui tetamu agar sang tamu memuji anaknya.

Sementara memuji orang pun merupakan keahlian Lu Xiang Chuan. Karena itu, tidak ada salahnya mengikuti tawaran Wan Peng Wang.

Dengan memuji, kau bisa membuat seseorang senang dan kemudian dapat mengambil keuntungan. Memang, tidak ada salahnya untuk memberi sebuah pujian. Hanya saja saat ini Lu Xiang Chuan belum mengetahui keuntungan apa yang akan ia peroleh.

Istal kuda itu terlihat begitu panjang dan bersih. Hampir semuanya kuda pilihan terbaik.

Lu Xiang Chuan melihat sekor kuda memiliki kandang yang paling besar. Bulunya mengkilat dan tampak licin. Walaupun hanya seekor kuda, tapi perbawanya sangat angkuh dan anggun, seakan tidak ingin bersahabat dengan manusia. Total harga seluruh kuda yang telah dilihat sebelumnya tidak akan bisa membandingi harga seekor kuda ini.

Lu Xiang Chuan langsung memuji. “Kuda ini sangat istimewa dan sempurna, apakah keturunan Han Xue?”

Wan Peng Wang tertawa polos dan sangat bangga. “Kau sangat mengetahui barang berkualitas.”

Untuk pertama kalinya Lu Xiang Chuan melihat Wan Peng Wang seperti itu. Walau Wan Peng Wang berdiri di tengah rumah yang penuh dengan kekayaannya, ia tidak pernah berekspresi seperti itu.

Tiba-tiba melintas di hati Lu Xiang Chuan sebuah harapan. Terpikir olehnya sebuah cara yang mungkin bisa membuat Wan Peng Wang tunduk.

Ia tidak tahu seberapa efektifkah caranya itu.

Tapi, jika tidak dicoba, bagaimana ia bisa tahu?

Karena itu, tidak ada salahnya jika mencoba.

Advertisements

1 Comment »

  1. tks atas sharing nya . semoga blog nya makin sukses gan

    Comment by hendri — 17/07/2013 @ 5:26 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: