Kumpulan Cerita Silat

08/01/2009

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 18

Filed under: Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 4:38 pm

Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Thian-bong Siansu adalah Sute Thian-bong Siansu, ilmu pedangnya juga tinggi. Dahulu waktu mendengar Nyo Hun-cong telah mengalahkan Thian-liong, hatinya tidak terima, ia ingin sekali mencari Hun-cong untuk diajak bertanding, karena im ia telah ditarik kemari oleh Coh Ciau-lam, Ha-haptoh melayani dia dengan hormat sekali.

Waktu Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berdua melompat turun tadi, ia sebenarnya sudah berada di situ, tetapi karena ia tidak kenal Nyo Hun-cong dan hanya melihat seorang pemuda sedang bertempur melawan Coh Ciau-lam, sedang seorang wanita muda telah menyeret seorang anak muda untuk kabur, ia berpikir Coh Ciau-lam yang berkepandaian tinggi tentu tidak menjadi soal melawan si pemuda, ditambah pula suara-suara orang yang ramai, hakikatnya ia tidak mendengar apa yang Coh Ciau-lam teriakkan padanya tadi, tanpa pikir lagi ia lantas mengejar Hui-ang-kin.

Ilmu meringankan tubuh Hui-ang-kin walaupun mempunyai keistimewaan sendiri dan di atas Thian-bong, tetapi karena bertambah satu beban, yakni membawa seorang anak, akhirnya terkejar olehnya dan telah bertempur ratusan jurus, Hui-ang-kin yang hanya bisa menggunakan satu tangan saja, ternyata berbalik terdesak di bawah angin.

Ketika mendadak Thian-bong Siansu melihat Ciau-lam diseret oleh Nyo Hun-cong seperti orang menuntun kambing, ia menjadi terkejut sekali, ia lepaskan Hui-ang-kin dan memapak Hun-cong dengan pedangnya.

Lebih dulu Nyo Hun-cong dengan tatakannya yang keras membuat Coh Ciau-lam tak bisa berkutik, dengan demikian, walaupun ia bisa melancarkan sendiri tutukan itu, sedikitnya harus enam jam lagi.

“Kau ini apa bukan Suheng Coh Ciau-lam?” tanya Thian-bong segera dengan terheran-heran.

“Coh Ciau-lam membaui 3 pemerintah Boan-jin menindas rakyat Sinkiang, Tibet dan Mongolia, mengapa kau bersedia membantu yang jahat supaya semakin jahat?” sahut Nyo Hun-cong cepat.

“Aku, Jut-keh-lang, tidak mengurusi segala tetek-be-ngek, hanya mendengar dari Thian-liong Suheng, bahwa kau berani berdebat tentang ilmu pedang dengan kami, itulah yang ingin kujajal!” kata Thian-bong lagi.

“Ya, waktu itu aku masih terlalu muda dan kurang mengerti,” Nyo Hun-cong menerangkan. “Sebenarnya Thian-liong Siansu mempunyai ilmu pedang dan Cio-hoat yang hebat, kami orang muda mana bisa menyelami begitu saja.”

“Kau mau memberi pelajaran, itulah yang kurasakan telah menghinakan kami!” kata Thian-bong menjengek.

Hui-ang-kin menjadi jengkel melihat lagak dan perkataan Hwesio ini, kontan ia pun balas menyindir, “Kau ingin dia memberi pelajaran padamu, sesungguhnya kau jangan mencari susah sendiri!”

Thian-bong menjadi merah padam mukanya, ia menjadi gusa”- sekali dan lantas berteriak, “Nyo Hun-cong, hati-hati, terimalah serangan ini!” belum habis perkataannya, satu tusukan pedang segera menuju ke dada Nyo Hun-cong.

Hun-cong berkelit menurut gaya serangan orang, beruntun ia menghindari tiga kali serangan pedang lawan.

“Mengapa kau tak melolos pedangmu?” bentak Thian-bong mendongkol.

“Wan-pwe tidak berani menggerakkan senjata di hadapan Cian-pwe,” kata Nyo Hun-cong dengan kedua tangannya diturunkan lurus ke lutut, perkataannya kelihatan merendah, tetapi sebenarnya sebaliknya.

Thian-bong menjadi gusar, pedangnya beruntun me-rangsek lagi dengan cepat. “Kau berani pandang enteng padaku,” dampratnya lagi.

Nyo Hun-cong berkelit semaunya, ilmu pedang Thian-bong Siansu walaupun lihai, toh sedikit pun tidak dapat melukainya.

“Mengapa kau harus sungkan-sungkan padanya,” ujar Hui-ang-kin dari samping, “Sebentar lagi jika ada pasukan Boan yang mengejar kemari bukankah kita akan menjadi tambah repot.”

Hun-cong pikir omongan itu ada betulnya juga, mendadak tubuhnya bergerak cepat, kedua jarinya diulur mengarah pada kedua mata Thian-bong, keruan Thian-bong terperanjat sekali, pedangnya ditarik untuk menangkis, tetapi bahunya telah terpukul oleh Hun-cong, pedang panjangnya langsung jatuh ke tanah.

“Maaf,” kata Hun-cong, lantas ia mengempit tubuh Coh Ciau-lam dan kabur dengan cepat bersama Hui-ang-kin.

Maka kembalilah Thian-bong Siansu ke Tibet dengan hati penuh rasa dendam.

Sesudah Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berangkat tadi, para kepala suku lantas menyalakan lilin besar dan duduk berputar di dalam kemah, kebanyakan kepala-kepala suku itu kuatir atas keselamatan Hui-ang-kin dan Nyo Hun-cong, mana mereka mau pergi tidur, hanya Bing-lok seorang yang masih berbisik-bisik dengan begundalnya ia malah kuatir Hun-cong yang telah pergi itu akan kembali lagi.

Kepala-kepala suku itu bercakap-cakap sepanjang malam, tanpa terasa sudah jauh malam, kepala suku Sinjia telah menguap.

“Kenapa begitu tak berguna,” kata kepala suku Tahsan menggoda, “Malam ini kita semua tidur, sedikitnya akan menunggu sampai besok pagi.”

Kepala suku Kazak menyetujuinya, kemudian berkata, “Ya, tetapi dikuatirkan sampai pagi nanti mereka masih belum kembali. Karena anakku y ari”; tak berguna harus membikin Nyo-taihiap dan Hamaya pergi menghadapi bahaya, aku sesungguhnya merasa tak enak sekali.”

“Ya, serdadu Boan yang ribuan banyaknya berkumpul di suatu benteng kecil, ditambah orang lihai seperti Coh Ciau-lam, mereka berdua hendak pergi menolong dan menawan orang dengan masuk keluar benteng musuh sesukanya, sesungguhnya adalah mimpi belaka,” kata Bing-lok menyindir.

“Sebaliknya aku kuatir Nyo Hun-cong saat ini sudah bersekongkol dengan Sutenya dan telah menahan Beng-cu kita.”

Karena olok-olok ini kepala suku Tahsan memandang hina kepada Bing-lok, ia menjadi sangat mendongkol, dan ketika ia hendak unjuk gigi, tiba-tiba pintu kemah tersingkap dan Hui-ang-kin dengan tersenyum simpul telah melangkah masuk.

“Inilah putramu telah kembali, sedikit pun tak kurang sesuatu apa pun, kami telah menyelesaikan tanggung jawab yang tadi diberikan kepada kami!” katanya sambil mendorong anak muda im kepada kepala suku Kazak.

“Dan mana Nyo Hun-cong?” tanya Bing-lok dengan cepat ketika tidak melihat Nyo Hun-cong.

Namun dari luar kemah terdengar Nyo Hun-cong telah menyahut dan lantas melangkah masuk, ia meletakkan Coh Ciau-lam di tengah kemah, selanjurnya ia tertawa terbahak-bahak.

“Syukurlah aku tidak sampai membikin kalian kecewa, inilah Coh Ciau-lam yang kalian kehendaki im!” katanya kemudian.

Dalam keadaan girang dan terharu kepala suku Kazak merangkul putranya, air matanya mengalir deras, berulang-ulang ia menghaturkan terima kasih pada Nyo Hun-cong. Kepala suku Tahsan pun tidak ketinggalan mengacungkan jempolnya memuji, sedang Hui-ang-kin terlihat gembira. Hanya Bing-lok sendiri yang mati kutu, ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Keparat Coh Ciau-lam ini aku serahkan padamu,” kata Hun-cong pada kepala suku Kazak.

Segera kepala suku im memerintahkan orangnya meringkus Coh Ciau-lam dengan rantai besi, walaupun bagaimana tingginya kepandaian Coh Ciau-lam kini ia tak akan bisa bergerak lagi. Menurut rencana, pada malam kedua nanti sesudah mengumpulkan kepala-kepala suku lainnya, akan diadakan upacara pembalasan sakit hati. Coh Ciau-lam akan dibuat sesajen sembahyang bagi pejuang-pejuang yang telah menjadi korbannya.

Sesudah Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin melaksanakan tugas semalaman, kini mereka pun sudah merasa lelah sekali, sesudah mereka minum sedikit susu kuda lantas pergi mengaso.

Sebelum mereka berpamitan, diam-diam Hui-ang-kin berkata pada Nyo Hun-cong dengan tersenyum, “Sampai ketemu, besok kita bicarakan dengan baik.”

Nyo Hun-cong hanya manggut-manggut dengan masgul.

“Kenapa kau masih tidak bergembira?” kata Hui-ang-kin pula dengan tertawa, “Kalau ada omongan apa-apa, besok bisa kau katakan dengan baik-baik, jika kau ada permintaan apa-apa, akan kuhaluskan semuanya untukmu.” Setelah berkata begitu, kembali ia tertawa lagi.

Hui-ang-kin mengira bahwa besok Nyo Hun-cong pasti akan mengutarakan semua isi hatinya, mengutarakan rasa cinta padanya, maka malam ini ia bahkan sudah akan membayangkan akan bermimpi yang muluk-muluk.

Esok paginya Nyo Hun-cong telah dibangunkan oleh penjaga, katanya ada orang yang mencarinya.

Nyo Hun-cong mengenakan pakaiannya dan bangun, sementara itu kepala suku Kazak telah membawa masuk seorang lelaki setengah umur.

“Ha, Sin Liong-cu, kiranya adalah kau,” panggil Nyo Hun-cong, “Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

Sin Liong-cu adalah murid Toh It-hang, ia sebenarnya adalah putra seorang penggembala Kazak, setelah berguru pada Toh It-hang, ia telah belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak rnempedulikan segala persoalan di luar, terhadap ilmu pedang dan pukulan dari golongannya, boleh dikatakan sudah memperoleh seluruh ilmu dan kepandaian gurunya.

Sewaktu di Thian-san, ia dan Nyo Hun-cong serta Coh Ciau-lam sering berkumpul bersama, hanya wataknya agak aneh, dengan Hun-cong ia tidak begitu cocok, sebaliknya dengan Ciau-lam ia bisa lebih akur. Ketiga orang ini sering merundingkan bersama soal ilmu silat dan saling memanggil sebagai saudara.

Sin Liong-cu dengan kepala suku Kazak sebenarnya memang kenal, kepala suku itu sangat girang dan bangga sekali bahwa di antara sukunya terdapat seorang yang menjadi murid salah satu jagoan dari Bu-tong-pay.

Setelah bertemu Nyo Hun-cong, dengan memutar biji matanya yang aneh Sin Liong-cu lantas bertanya, “Bagaimana dengan guruku? Tahukah kau ke mana perginya?”

“Mengapa beberapa hari ini aku selalu ditanya orang mengenai gurumu itu?” sahut Hun-cong dengan tertawa, “Pek-hoat Mo-li bertanya soal gurumu padaku, kini kau juga menanyakan gurumu padaku.”

“Itulah karena aku juga telah bertemu Pek-hoat Mo-li si siluman tua itu, aku kemudian kemari untuk menanyai kau,” kata Sin Liong-cu lagi, “Aku bertanya keadaan Suhu pada Pek-hoat Mo-li, tetapi dia malah telah memberiku satu tendangan sehingga aku terjungkal, kemudian ia berkata pula dengan menyindir, ‘Kau boleh pergi dan bertanya kepada murid Hui-bing Siansu, Nyo Hun-cong, siapa sudi mengurus Suhumu!’. Hm, dia mengatakan tidak mengurus, tetapi ia telah memaksa Suhuku hingga tidak tahan berdiam lebih lama lagi di Thian-san. Hm, jika dia berani mencelakai guruku, walaupun kepandaianku rendah aku akan berlatih beberapa puluh tahun lagi untuk menuntut balas.”

“Kau tak usah kuatir, Pek-hoat Mo-li tak nanti akan mencelakai Suhumu,” kata Nyo Hun-cong tertawa. “Suhumu sebenarnya sudah bertemu juga denganku, tetapi sedikit pun aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya sekarang.”

Lalu ia menceritakan dengan jelas apa yang terjadi pada saat bertemu dengan Toh It-hang.

“Meski harus mengelilingi seluruh padang rumput ini, harus tetap kutemukan Suhu,” kata Sin Liong-cu dengan mata merah, “Sebab masih ada beberapa jurus ilmu pedang yang belum aku pelajari, hanya sayang aku tidak mendapatkan sebatang pedang yang bagus.”

Sehabis berkata begitu ia lalu mengamat-amati kedua batang pedang yang menggantung di pinggang Hun-cong.

“Sayang kedua pedang ini semua adalah pusaka guruku, kalau tidak, diberikan padamu satu juga tidak menjadi soal,” ujar Hun-cong dengan tertawa.

“Aku hanya merasa aneh mengapa kau membawa dua batang pedang, aku bukannya menginginkan barangmu,” kata Sin Liong-cu.

“Kedua pedang ini apakah masih belum kaukenali?” kata Hun-cong, “Yang satu ini adalah pedangku Toan-giok-kiam’, sedang yang lain adalah ‘Yu-liong-kiam’ milik Coh Ciau-lam, sewaktu di Thian-san kau tentu sudah pernah melihatnya.”

“Mengapa pedangnya bisa berada di tanganmu?” tanya Sin Liong-cu dengan mengerling mata yang aneh.

“Suteku yang tak berguna ini telah menyerah pada tentara Boan dan banyak berbuat kejahatan, sehingga aku telah menawannya,” tutur Hun-cong dengan wajah masgul.

“Betul apa yang dikatakannya!” tiba-tiba kepala suku Kazak menyeletuk, “Maka kini kami akan membikin upacara pembalasan sakit hati, harap kau tinggal di sini dulu untuk menyaksikan keramaian.”

“Ha, Suheng menawan Sute, ini sungguh suatu hal aneh di kalangan persilatan!” kata Sin Liong-cu.

Pada saat im tiba-tiba Nyo Hun-cong teringat sesuatu.

“Kau masih akan kembali ke Thian-san, bukan?” tanyanya kemudian.

Sin Liong-cu memanggutkan kepalanya.

“Tentu aku akan kembali ke sana,” sahurnya, “Aku a-kan pergi mencari Suhu dulu, sesudah kuketemukan lantas kembali ke sana bersama dia, jika tidak ketemu, aku pun akan kembali dulu sekaligus untuk berpamitan pada Hui-bing Supek, baru kemudian kuakan pergi mencari dia lagi.”

Karena itu Hun-cong lantas melepaskan pedang Ciau-lam, Yu-liong-kiam, dan diserahkan kepada Sin Liong-cu.

“Ini adalah salah satu di antara pedang pusaka gunung kami,” Hun-cong berpesan padanya, “Barang ini tidak boleh terjatuh ke tangan orang lain, aku sementara mengembara ke timur dan ke barat tanpa ada ketentuan mati atau hidup, aku pun tidak tahu kapan baru bisa kembali ke Thian-san, juga tak tahu kapan akan menemui ajal, aku hanya minta tolong kau suka menyerahkan kembali pedang ini pada Suhuku, berbareng memintakan maaf padanya bahwa Coh Ciau-lam telah melanggar larangan besar dari perguruan, aku tidak keburu memberitahu pada Suhu, tetapi telah lebih dulu mengambil tindakan sendiri.”

Sin Liong-cu menerima pedang pusaka itu, tangannya agak gemetaran.

Sementara im, di luar telah ada orang melapor lagi, kali ini adalah pesuruh Hui-ang-kin yang berkata pada Nyo Hun-cong, “Nyo-taihiap dipersilakan datang pada Hamaya Siocia.”

Sebenarnya Sin Liong-cu pun berpikir hendak mohon diri, tetapi oleh kepala suku Kazak itu ia ditahan terus.

“Kau telah lama meninggalkan kampung halaman kita, banyak urusan yang sudah tak kaupahami lagi,” katanya pada Sin Liong-cu, “Bangsa kita sedang mendapat perlakuan sewenang-wenang dari orang lain, ada baiknya kalau kau tinggal beberapa hari lagi untuk bercakap-cakap dengan keluarga kita di sini.”

Maka Sin Liong-cu pun menyatakan setuju, sedang Hun-cong lantas keluar menuju perkemahan Hui-ang-kin.

“Kau ada hubungan apakah dengan Hui-ang-kin Siocia?” tanya Sin Liong-cu yang merasa heran.

“Hamaya Siocia adalah pahlawan wanita yang tersohor dari daerah selatan, Hui-ang-kin, sungguh mereka merupakan pasangan yang setimpal,” kata kepala suku Kazak dengan tertawa, “Liong-cu, bagaimana kau sampai tidak mengenal nama Hui-ang-kin yang telah tersohor im?”

Tetapi Sin Liong-cu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dalam usia dua-tiga belas tahun aku sudah naik gunung dan tinggal di Thian-san sudah hampir dua puluh tahun lebih, bagaimana aku bisa mengetahui di padang rumput sini telah muncul seorang pahlawan wanita?” katanya kemudian.

“Kabarnya dia adalah murid Pek-hoat Mo-li!” tutur kepala suku itu lagi.

“Pek-hoat Mo-li telah mengejar guruku, tetapi selamanya ia tak pernah membawa serta muridnya, darimana aku bisa mengetahui dia itu Hui-ang-kin atau Hui-pek-kin segala?” kata Sin Long-cu lagi dengan gemas. “Hm, murid Pek-hoat Mo-li, aku kira dia pun bukan seorang yang baik.”

Kepala suku Kazak berkerut kening demi mendengar perkataan Sin Liong-cu ini.

“Kau telah mencurahkan seluruh pikiranmu buat belajar, itulah hal yang bagus sekali, tetapi terhadap urusan di luar sedikitpun kau tidak pernah bertanya dan tidak mau tahu, hal itu nanti akan membikin susah dirimu sendiri,” katanya, “Agaknya kau tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, tidak jelas antara putih dan hitam, kau harus berlaku hati-hati dan jangan tertipu. Hui-ang-kin adalah ketua perserikatan suku-suku bangsa di daerah selatan sini, ia bertempur melawan musuh dengan gagah berani, semua orang memuji dia, bagaimana mungkin dia bisa menjadi orang yang busuk!”

Mendapat omelan ini Sin Liong-cu menjadi kurang senang, tetapi karena kepala suku adalah orang yang lebih tua dan sangat dihormati, maka ia tidak enak untuk mendebatnya.

Kebetulan waktu itu telah ada orang yang datang memanggil kepala suku, maka orang tua ini lantas berkata lagi.

“Dalam dua hari ini aku repot sekali dengan berbagai macam urusan, kau toh orang sendiri, kau boleh pergi melihat-lihat dan berbincang dengan saudara-saudara kita di sini, aku terpaksa tidak menemanimu.”

Sementara itu Nyo Hun-cong yang dipanggil Hui-ang-kin telah sampai di perkemahannya, gadis ini mengajak Hun-cong sarapan pagi di tempatnya dan kemudian menarik dia pergi jalan-jalan di padang rumput.

Suasana pagi di padang rumput sangat menarik, sinar matahari terang benderang, rumput menghijau masih basah oleh embun pagi bagaikan butiran mutiara, seperti seorang gadis yang habis bersolek dengan mukanya yang berseri-seri sedang tersenyum, sungguh cantik dan molek sekali.

Perasaan Hui-ang-kin waktu itu sedang gembira, ia bersandar di bahu Hun-cong sambil bernyanyi-nyanyi kecil, tetapi sebaliknya hati Nyo Hun-cong bergolak seperti ombak mendampar, suara nyanyian yang merdu sama sekali tidak ia dengarkan lagi.

Sesudah Hui-ang-kin menyanyikan beberapa buah lagu populer dari padang rumput, ketika dilihatnya Nyo Hun-cong seperti sedang memikirkan sesuatu, ia telah menarik tangannya.

“Hun-cong,” tegurnya, “Katakanlah sekarang juga apa yang hendak kau ucapkan, walaupun kita berkumpul belum begitu lama, tetapi hubungan kita sudah sangat baik, betul tidak kata-kataku ini? Malam kemarin kau bilang hendak menganggap aku sebagai adik kandung perempuanmu, kalau begitu, perasaan sang kakak seharusnya biarlah adik juga ikut mengetahuinya, Hun-cong, mungkin kau tidak tahu, bahwa sejak pertempuran yang gaduh di padang rumput itu dan berpencar denganmu, aku telah merasa kesepian, hatiku selalu terkenang padamu.”

Tergetar hati Nyo Hun-cong, ia menggigit bibirnya dengan menahan perasaan.

“Hamaya, kau adalah adikku yang paling baik, selama hidup aku akan menganggap kau sebagai adikku yang paling baik!” demikian sahurnya.

“Selain adik, apa sudah bukan apa-apa lagi?” tanya Hui-ang-kin mendesak dengan senyum simpul.

“Ya, betul, hanya antara kakak dan adik saja,” sahut Nyo Hun-cong memanggut.

Melihat pemuda ini berkata dengan sungguh-sungguh dan dari air mukanya kelihatan ada perasaan yang aneh dan menderita, Hui-ang-kin terkejut sekali.

“Hun-cong, apa yang kau katakan? Apakah kau telah mempunyai seorang gadis yang lain?” tanyanya cepat.

“Ya,” jawab Nyo Hun-cong dengan memanggut kepala, “Sebelum bertemu denganmu, aku telah bertemu dengan seorang gadis yang lain, ia adalah…..”

“la adalah putri Nilan Siu-kiat, bukan?” Hui-ang-kin memotong dengan suara agak gemetar.

“Ya,” jawab pula Nyo Hun-cong sambil menggigit bibir lebih kencang.

Karena jawaban ini, muka Hui-ang-kin seketika berubah muram seperti udara yang tadinya terang mendadak tertutup oleh awan mendung, ia tidak berkata lagi, ia coba menahan mengalirnya air mata, adatnya yang keras dan hati yang halus dari seorang gadis yang untuk pertama kalinya terbakar oleh api asmara telah bergolak dengan hebat. Sesaat itu pikirannya menjadi sangat kalut, selama hidupnya tak pernah ia merasakan pukulan yang begitu hebat, sekalipun musuhnya yang paling buas tidak mungkin membikin hancur hatinya seperti apa yang ia terima dari Nyo Hun-cong sekarang ini. Akhirnya, lahirnya harus meayerah kepada batinnya yang keras, ia menutup mukanya dan meratap, “Hm, ternyata benar perkataan Bing-lok, kau sungguh telah mencintai putri musuh!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: