Kumpulan Cerita Silat

08/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang [08]

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:59 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

8. Lu Xiang Chuan

Dengan berteriak, Feng Jian berkata, “Kau menculikku! Apa kau membawaku ke sini hanya untuk dilempar begitu saja?”

“Sedikit pun tidak salah.”

“Apa maksudmu?”

Sun Jian tertawa dan ia membedal kuda meninggalkan Feng Jian. Ia merasa tidak perlu menjelaskan perbuatannya.

Feng Jian marah dan memaki. Seluruh perkataan kotor keluar dari mulutnya, kemudian menangis tersedu.

Ia menangis bukan karena tulangnya sakit terjatuh tadi, bukan pula karena harus pulang jalan kaki. Ia menangis karena tahu Mao Wei tidak akan mempercayai kata-katanya, juga tidak percaya bahwa Sun Jian tidak melakukan apa-apa padanya.

Bila Sun Jian benar-benar melakukannya, Feng Jian malah merasa tidak sakit hati.

Memang terkadang di dunia ini terdapat semacam perempuan yang tidak bisa membedakan antara harga diri dan penghinaan.

Feng Jian adalah perempuan semacam itu. Jika orang lain menghinanya, ia malah senang. Jika tidak menghinanya, harga dirinya malah terganggu.

Ya, mengapa Sun Jian tidak melakukannya?

Harga diri Feng Jian sungguh terusik. Selamanya ia tidak bisa mengerti maksud Sun Jian.

Padahal, Sun Jian melakukan itu hanya ingin agar Mao Wei tahu bagaimana rasanya bila istri diculik orang. Ia pun sengaja menculik Feng Jian, sekali pandang ia bisa mengenali istri macam apa perempuan itu. Karenanya, ia perlu memberi pelajaran.

Sekali tepuk dua nyawa!

—–

Hutang darah bayar darah, pikir Sun Jian. Bukankah itu yang diajarkan Lao Bo?

Lao Bo menggunakan cara seperti ini untuk membunuh penjahat, pikirnya dalam hati. Sun Jian tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik lagi, karena memang tidak ada cara yang lebih baik daripada caranya itu. Memikir apa yang telah ia lakukan, Sun Jian tertawa sendiri.

Lao Bo tidak pernah memberi petunjuk cara membereskan masalah. Sun Jian percaya, jika Lao Bo sendiri yang melakukannya, belum tentu akan lebih baik daripada caranya tadi.

Dalam beberapa tahun ini Sun Jian sedikit demi sedikit merasa sudah bisa meniru cara dan teknik Lao Bo memecahkan masalah.

Dan Sun Jian merasa sangat puas.

—–

Senja.

Lao Bo masih berada di taman bunga.

Ia sedang membuang ulat yang berada pada sekuntum chrysan serta menggunting dedaunan yang layu.

Itulah bagian dari pekerjaannya. Lao Bo senang melakukan pekerjaan itu sendiri. Itu adalah hiburan dan hobinya, dan karenanya ia tidak memberi pekerjaan membuang ulat dan menggunting daun pada orang lain.

Di saat itu Wen Hu dan Wen Bao bersaudara masuk. Lao Bo meletakkan gunting yang dipegangnya.

Menghadapi anak buah pun bagian dari pekerjaannya. Ketika bekerja, ia akan lakukan dengan sepenuh hati. Begitu pula saat ia melaksanakan hobi dan kesenangannya. Lao Bo tidak mencampuradukkan kedua tugas itu.

Wen Hu dan Wen Bao, dua pemuda sangat pemberani, sering melakukan tugas berat. Wajah mereka mulai keriput, apakah karena tugas yang dipikul terlalu berat?

Wajah itu kali ini pun terlihat lelah. Dua hari ini mereka telah bekerja keras. Tapi hanya dengan melihat senyum Lao Bo, kelelahan itu seketika lenyap.

Sambil tersenyum, Lao Bo bertanya, “Apa tugas kalian sudah selesai?”

Wen Hu menjawab penuh hormat, “Ya.”

“Ceritakanlah padaku,” perintah Lao Bo dengan gembira.

“Kami sudah menyelidiki, ternyata Xu Qing Song punya seorang putri, dan kami pun menculiknya.” kata Wen Hu langsung pada masalah.

Tanya Lao Bo, “Berapa usia Nona Xu? Apa sudah menikah?”

“Putri Xu Qing Song dua puluh satu tahun,” jawab Wen Hu, “dan belum menikah, wajah maupun sifatnya sangat buruk. Konon, Nona Xu pernah bertunangan, tapi ia mengusir calon mertuanya.”

“Teruskan ceritamu,” Lao Bo mengangguk.

“Sebelumnya, kami berkenalan dulu dengan Jiang bersaudara, mencekok mereka dengan arak sampai mabuk, lalu membawa kehadapan Nona Xu,” jelas Wen Hu.

Wen Bao melanjutkan cerita kakaknya dengan bangga, “Jiang bersaudara selagi mabuk seperti lalat melihat darah, tidak perduli siapa pun perempuan itu. Begitu bertemu Nona Xu, mereka segera melakukan pekerjaan bejat itu.”

Giliran Wen Hu meneruskan, “Begitu selesai melakukannya, kami beri mereka pelajaran.”

Kata Wen Bao, “Kami menghajar mereka dengan hati-hati, selalu menghindari kepala bagian belakang supaya tidak sampai gegar otak. Tapi dalam dua tiga bulan, berani jamin, mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur.”

Wen Hu dan Wen Bao memiliki jurus lihai, yang satu bernama “Jurus Memukul Harimau”, satunya lagi “Jurus Telapak Tangan Besi”. Kungfu mereka pun seperti anak buah Lao Bo yang lain, tidak ada yang aneh-aneh, tapi kecepatan dan kekuatannya sangat dahsyat.

Lao Bo selalu berkata, kungfu bukan untuk dipamerkan. Jadi, tidak perlu aneh-aneh.

Kalau Jiang bersaudara tidak mabuk, barangkali masih bisa menahan serangan mereka. Tapi karena sudah mabuk, yang terdengar hanya jerit kesakitan. Jiang bersaudara tidak bisa apa-apa lagi.

“Kemudian kami menyewa tandu, mengantarkan mereka pada Xu Qing Song,” jelas Wen Hu.

“Sayang kami tidak bisa melihat ekspresi Xu Qing Song,” lanjut Wen Bao.

Penjelasan Wen bersaudara sangat singkat. Begitu habis cerita, mereka langsung berhenti. Mereka tahu, Lao Bo tidak suka bertele-tele.

Nyatanya, mendengar sampai di sini, senyum Lao Bo hilang.

Hati Wen bersaudara seketika tengelam. Melihat ekspresi Lao Bo, mereka menduga telah berbuat salah. Dan siapa melakukan kesalahan harus dihukum, begitu prinsip Lao Bo.

Setelah lama, Lao Bo berkata gusar, “Kalian tahu sudah melakukan kesalahan apa?”

Wen bersaudara menunduk kepala.

Kata Lao Bo, “Jiang bersaudara tidak bisa bangun dalam tiga bulan itu tidak masalah, ketidakadilan Xu Qing Song pun pantas diberi ganjaran. Untuk kedua hal ini kalian sudah melakukan tugas dengan baik.” Tiba-tiba nada bicara Lao Bo semakin tegas, “Lantas, apa kesalahan Nona Xu hingga kalian memperlakukannya seperti itu? ”

Wen bersaudara seketika berkeringat dingin. Mereka hanya bisa tertunduk. Bila Lao Bo sedang marah, siapa pun tidak berani memandangnya.

Setelah lama, kemarahan Lao O sedikit reda. “Ini ide siapa?” tanyanya.

Wen bersaudara menjawab bersamaan, “Aku!”

Lao Bo melihat keduanya, kemarahannya semakin berkurang. Perlahan ia berkata, “Wen Hu lebih jujur, pasti bukan idenya.”

Tunduk Wen Bao semakin dalam. “Sejak awal kakak sudah tidak setuju dengan ideku ini.”

Lao Bo menatap Wen Bao, “Apa kau sudah menikah?”

“Belum,” jawab Wen Bao.

“Segera ambil undanganku. Kita kerumah Xu Qing Song melamar Nona Xu.”

Kaki Wen Bao seperti digigit ribuan semut. “Tapi… tapi…”

Lao Bo kembali marah, “Tidak ada tapi-tapian, segera lamar Nona Xu. Idemu sudah mencelakai orang, kau harus bertanggung jawab. Biar pun sifat Nona Xu tidak begitu baik, kau tetap harus mengalah.”

Siapa pun melakukan kesalahan harus dihukum. Sepertinya hanya Lao Bo yang bisa memikirkan cara menghukum Wen Bao.

“Bila Tuan Xu tidak mengijikan, bagaimana?” tanya Wen Bao.

“Tuan Xu pasti mengijinkan. Apalagi, sekarang,” jawab Lao Bo.

Siapa pun bisa menduga, Xu Qing Song pasti setuju, takut putrinya tidak bisa menikah lagi, pun Wen Bao pemuda yang baik.

—–

Lao Bo menggunting dedaunan yang berlebihan. Ia tidak suka bunga yang terlalu banyak daun karena merusak keindahan.

Ia juga tidak suka melihat hal yang rumit, karena kerumitan adalah sesuatu yang berlebihan dan harus bisa disederhanakan.

Anak buah Lao Bo yang benar-benar bisa diandalkan tidak terlalu banyak, tapi ia percaya setiap anak buahnya punya kemampuan tinggi dan sangat setia padanya.

Lao Bo selalu puas pada anak buahnya. Ia pun tahu mereka selalu melaksanakan tugas dengan baik. Karenanya, sudah lama Lao Bo tidak turun tangan langsung di lapangan.

Walau ia lama tidak turun tangan, Lao Bo yakin masih punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Sewaktu pedang Yi Shi menyerang, Lao Bo sudah membaca kekurangan ilmu pedang lawan. Biar pun tidak dilindungi anak buah, ia tetap bisa mengalahkan Yi Shi.

Dalam bertempur, Lao Bo selalu menunggu kesempatan terakhir mengalahkan lawan, karena di saat itulah lawan berada dalam keadaan lengah dan lelah, tenaga belum sepenuhnya pulih. Lawan-lawannya selalu mengira, kesempatan terakhir pasti berhasil. Di saat terakhir yang sangat menetukan itu, Lao Bo biasanya melakukan serangan balik.

Serangan balik yang mematikan.

Hanya saja menunggu dan menentukan saat tepat melancarkan serangan balik yang mematikan tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran, keberanian, ketenangan, serta pengalaman yang luas.

Sampai di sini, Lao Bo menghela nafas. Ia tahu Lu Xiang Chuan bukan anak kandungnya, tapi kesetiaannya melebihi Sun Jian anak kandung sendiri.

Lao Bo sangat percaya dan suka pada Lu Xiang Chuan. Ia membagi separuh harta dan usahanya kepada Lu Xiang Chuan karena sifatnya sangat tenang dan lincah.

Sifat ini sangat berlawanan dengan Sun Jian yang ceroboh dan pemarah.

Bisnis Lao Bo sangat luas dan besar, ia harus memiliki anak buah semacam Lu Xiang Chuan untuk menjaga dan meneruskan usahanya. Apalagi ketika dulu di awal mendirikan bisnis, tidaklah mudah.

Perjuangan awal membutuhkan curahan tenaga, air mata, dan jiwa-jiwa muda pemberani seperti Lu Xiang Chuan.

Tiba-tiba Lao Bo teringat lelaki berjubah kelabu.

Di hadapan anak buahnya ia tidak pernah membicarakan lelaki ini, tapi anak buahnya bisa menduga lelaki jubah kelabu pernah muncul dalam kehidupan Lao Bo.

Demi Lao Bo, si Jubah Kelabu rela melakukan hal yang orang lain belum pernah lakukan.

Sesungguhnya Lao Bo menyadari, jika membiarkan si Jubah Kelabu tetap hidup, bisa menambah kesulitan. Dalam melakukan pekerjaannya, lelaki itu selalu menggunakan kekerasan. Sementara Lao Bo punya cara yang lebih jitu daripada menempuh jalan kekerasan.

Dalam kematangan usianya sekarang, Lao Bo bukan ingin melenyapkan nyawa orang, melainkan ingin mendapatkan kesetiaan dan penghormatan. Sebab, bagi Lao Bo, membunuh tidak ada gunanya sama sekali. Tapi, mendapatkan penghormatan dan kesetiaan akan lebih bermanfaat.

Alasan dan kemauan Lao Bo ini tidak dimengerti Sun Jian yang masih muda, apalagi lelaki jubah kelabu itu.

Lao Bo menarik nafas. Sungguh, ia tidak suka cara-cara yang ditempuh si Jubah Kelabu.

—–

Setiap orang yang menjalankan bisnis pasti memiliki rahasia, karenanya disebut rahasia bisnis. Tapi dengan si Jubah Kelabu, rahasia bisnis tidak bisa lagi disebut rahasia.

Si Jubah Kelabu mengetahui terlalu banyak rahasia Lao Bo.

Seperti pada kebanyakan orang, jika rahasianya diketahui terlalu banyak, mungkin sudah sejak dulu si Jubah Kelabu dilenyapkan. Tapi, Lao Bo bukan kebanyakan orang. Karena itu, si Jubah Kelabu tidak ia lenyapkan.

Itulah perbedaan Lao Bo dengan orang lain.

Dalam mencapai tujuan, terkadang Lao Bo menghalalkan segala cara. Namun dalam segala cara yang halal itu sedapat mungkin ia mengharamkan pembunuhan. Lao Bo sangat menghargai jiwa orang dan sangat lapang dada serta berjiwa besar.

Tidak ada yang bisa membantah ini.

Seberapa banyak dan besarnyakah bisnis Lao Bo? Dalam bidang apa saja usahanya?

Ini adalah rahasia. Kecuali Lao Bo sendiri, mungkin tidak ada yang tahu. Yang pasti, usahanya begitu banyak sehingga harus melibatkan begitu banyak orang.

Karenanya, Lao Bo terus mencari tenaga-tenaga muda berbakat. Dalam hal ini, matanya sangat trampil menilai seseorang.

Dalam penilaiannya itulah nama Chen Zhi Ming muncul ke perhatiannya.

Lao Bo sangat menyukai pemuda bernama Chen Zhi Ming. Ia merasa, asalkan diarahkan dan dilatih, sebentar saja pemuda itu akan menjadi pembantu yang berguna. Tapi sayang semenjak hari ulang tahunnya pemuda itu tidak muncul lagi.

‘Sepertinya aku sudah semakin tua, banyak hal tidak bisa dijalankan sempurna, sampai lupa meminta alamatnya,’ sesal Lao Bo dalam hati.

Lao Bo menarik nafas dan menepuk-nepuk pinggang sendiri. Ia memandang matahari yang terbenam. Apakah dirinya sudah seperti matahari itu, sebentar lagi harus tenggelam?

Sesaat ia teringat Lu Xiang Chuan. Tiap kali Lu Xiang Chuan menjalankan tugas, Lao Bo tidak pernah khawatir.

Tapi kali ini Lao Bo tidak setenang biasanya. Lao Bo tahu kekuatan Wan Peng Wang dan juga sangat tahu cara apa yang biasa dipakai Wan Peng Wang.

Terlalu menghawatirkan anak buah menjalankan tugas adalah perasaan seorang tua, Lao Bo menghela nafas. Mungkin ia memang sudah tua.

Di bawah mentari senja ia berjalan menuju rumah. Sesaat melintas dalam benak Lao Bo untuk melepas segala kegiatan bisnisnya.

Mungkin sudah waktunya pensiun?

Tapi itu hanya pemikiran sesaat. Begitu matahari terbit esok pagi, Lao Bo akan mengubah pikirannya lagi.

Di dunia ini ada semacam orang yang tidak bisa dikalahkan oleh apa pun, termasuk ‘tua’ dan ‘kematian’.

Orang semacam itu tidak banyak, dan Lao Bo salah satunya.

—–

Sewaktu Lu Xiang Chuan berada di dalam kereta, yang dipikirkannya bukan bagaimana cara memperlakukan Wan Peng Wang. Yang dipikirkannya adalah si Pembunuh Berjubah Kelabu yang membunuh orang seperti memotong rumput.

Sewaktu si Jubah Kelabu mencabut nyawa Huang Shan San You, Lu Xiang Chuan tidak sempat melihat wajah yang sudah langsung dilumuri darah itu. Tapi sepertinya ia bisa menebak siapa orang ini. Namun Lu Xiang Chuan tidak berani bertanya pada Lao Bo.

Hal yang Lao Bo tidak mau bicarakan, tidak ada yang berani memaksanya. Jika Lao Bo tidak mau membicarakan, bertanya pun sia-sia.

Perasaan Lu Xiang Chuan menyatakan, si Jubah Kelabu adalah Han Tang.

Cara orang ini membunuh sangat kejam dan cepat. Lu Xiang Chuan selamanya belum pernah melihat orang membunuh secepat dan sekejam itu.

Lao Bo pernah bilang pada Lu Xiang Chuan, pekerjaan Han Tang tidak pernah dilakukan orang lain, nanti pun tidak ada orang yang bisa melakukannya.

Kedudukan Lu Xiang Chuan semakin tahun semakin tinggi, kekuasaannya semakin besar. Ia sudah memimpin banyak bawahan. Tapi ia tahu, biar pun memakai semua cara guna mencari tahu tentang Han Tang, percuma saja.

Semua orang pasti punya masa lalu, tapi Han Tang sepertinya tidak memiliki masa lalu.

—–

Kereta kuda yang dinaiki Lu Xiang Chuan sangat indah.

Kereta itu seperti sebuah tempat tidur yang nyaman, begitu empuk, getaran pun hampir tidak terasa.

Bila Lu Xiang Chuan menjalankan tugas, ia akan melakukannya dengan sepenuh hati dan konsentrasi. Selain apa yang harus ia kerjakan, hal lain tidak terlintas di benaknya.

Yang ia tahu, tugas kali ini teramat sulit.

“Lelaki harus seperti lelaki, kata-katanya harus seperti lelaki, kerjanya pun harus seperti lelaki,” begitu kalimat yang sering diucapkan Lao Bo.

Dan masalah antara Lao Bo dan Wan Peng Wang adalah masalah lelaki. Orang lain akan merasa aneh, karena urusan sepele Lao Bo sampai bermusuhan dengan Wan Peng Wang.

Hanya Lu Xiang Chuan yang mengerti maksud Lao Bo.

Sasaran misi Lao Bo sebenarnya adalah Wan Peng Wang sendiri. Jika kali ini Wan Peng Wang merestui hubungan Dai Dai dengan Xiao Wu, berarti ia sudah tunduk pada Lao Bo dan ia akan berteman dengan Lao Bo. Bila tidak, ia akan menjadi musuh Lao Bo.

Lao Bo pernah berkata, “Aku tidak begitu mengerti orang. Bagiku, di dunia ini hanya ada dua jenis manusia. Kalau dia bukan musuh berarti dia adalah teman. Apakah ingin menjadi musuh atau teman, tergantung diri sendiri. Tidak ada pilihan lain!”

Lu Xiang Chuan tahu, dalam prakteknya, Lao Bo tidak pernah memberi kesempatan pada orang lain untuk memilih. Karena siapa pun yang memilih jadi musuh Lao Bo, pasti mati.

Masalahnya, Wan Peng Wang bukanlah seorang penakut. Pilihan yang ia ambil mungkin tidak sama dengan orang lain. Kalau ia memilih jadi musuh Lao Bo, banjir darah pasti terjadi.

Seandainya hal ini benar terjadi, begitu pikir Lu Xiang Chuan, barangkali Lao Bo masih bisa menang meski resikonya sangat tinggi.

Advertisements

1 Comment »

  1. cerita yang menarik. salam sukses

    Comment by norfug — 09/01/2009 @ 6:14 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: