Kumpulan Cerita Silat

06/01/2009

Pendekar Baja (16)

Filed under: Pendekar Baja — ceritasilat @ 4:36 pm


Oleh Gu Long

Dalam pada itu Sim Long lantas mengangkat Leng Toa, Li Tiang-ceng dan Thian-hoat Taysu bertiga, serunya, “Him-heng, hendaknya kau…”

“Kutahu!” jawab si Kucing dengan menyengir, terpaksa ia yang mengangkat Pek Fifi dan Cu Jit-jit.

Tapi Jit-jit lantas meronta dan melepaskan diri, katanya, “Aku dapat berjalan sendiri, jangan khawatir, tidak nanti kumati terbakar.”

Api berkobar dengan sangat cepat, dalam sekejap saja sekeliling ruangan itu sudah terkurung oleh api. Semua orang sama sesak napas karena asap tebal memenuhi ruangan itu.

“Tahan, ikut padaku!” seru Sim Long.

Cepat ia mendepak, daun jendela di pojok sana didobrak, segera ia mendahului menerobos ke luar.

Meski api menjilat dengan cepat, namun Sim Long, Kim Bu-bong dan Him Miau-ji adalah jago kelas tinggi, dengan sendirinya kobaran api itu tidak dapat merintangi mereka. Cu Jit-jit ikut di belakang mereka dan tentu saja banyak hemat tenaga.

Sesudah menerjang ke luar, mereka berada di halaman belakang yang tidak terlalu luas, meski di situ juga ada api, tapi barang-barang yang mudah terbakar tidak banyak, api yang menjalar ke sini sangat kecil dan lambat.

Sekaligus mereka berlari ke kaki pagar dinding sana, waktu mereka berhenti dan memandang ke belakang, api tampak berkobar terlebih hebat.

“Sungguh Ong Ling-hoa yang keji,” ucap si Kucing dengan gegetun.

“Begitu cepat dan hebat berkobarnya api, entah dibakar dengan bahan apa,” kata Sim Long. “Ai, kelicikan, kekejian, dan kecerdikan orang ini sungguh jarang ada tandingannya.”

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri di tengah lautan api, meski suara itu kedengaran sangat jauh dan lemah, tapi menggambarkan betapa cemas, putus asa dan ngerinya sehingga membuat orang yang mendengarnya merinding.

“Siapakah kiranya yang terkurung di tengah lautan api?” kata si Kucing.

“Siapa lagi, tentu saja begundal keparat she Ong itu,” ujar Jit-jit dengan gemas.

Lalu secara ringkas ia ceritakan cara bagaimana Ong Ling-hoa menggunakan tipu muslihat licik mengurung lelaki gede serupa anjing herder itu di gua penjara, lalu dengan gegetun ia berkata pula, “Terhadap anteknya sendiri saja begitu keji caranya, sungguh dia bukan manusia.”

“Kalian tunggu sebentar, akan kuselamatkan dia,” kata Sim Long mendadak.

“Untuk apa kau tolong dia, bukankah dia juga…”

Belum lanjut ucapan Jit-jit segera Sim Long memotong, “Tak peduli siapa dia, yang jelas dia juga manusia, asalkan manusia, tidak boleh kita menyaksikan dia terbakar hidup-hidup.”

Dia bicara dengan tegas tanpa ragu. Dalam pada itu ia telah menanggalkan baju luarnya dan dibikin basah dengan air salju.

Salju di sekitar lautan api sudah cair, maka dengan cepat dapat Sim Long membasahi bajunya itu, dengan baju basah yang setengah ia gunakan untuk membungkus kepalanya, separuh lagi dipuntir menjadi gada. Dan sebelum orang lain bersuara lagi dia lantas menerjang ke lautan api.

“Sungguh gila orang ini,” omel Jit-jit sambil mengentak kaki, air mata pun berlinang. “Tanpa menghiraukan keselamatan sendiri dia berusaha menolong seorang antek Ong Ling-hoa yang kejam itu, sungguh dia…”

“Sungguh dia lelaki sejati yang pernah kukenal selama hidup ini,” tukas Kim Bu-bong. “Aku Kim Bu-bong dapat berkawan dengan kesatria seperti ini, biarpun mati pun tidak menyesal lagi.”

“Aku si Kucing baru sekarang benar-benar takluk padanya lahir batin,” seru Him Miau-ji.

Mau tak mau Li Tiang-ceng dan lain-lain juga sama kagum.

“Tak tersangka sedemikian luhur budi Sim Long, inilah perbuatan seorang pendekar sejati,” ujar Li Tiang-ceng dengan gegetun.

“Huh, apanya yang hebat?” jengek Kim-Put-hoan mendadak. “Bocah she Sim itu paling pintar berlagak, dia sengaja berbuat begitu supaya kalian…”

“Kentut makmu busuk!” damprat Lian Thian-hun. “Dia bertindak tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, masakah cara begitu dapat dilakukan dengan berpura-pura?”

“Hm, dia…”

Belum lanjut ucapan Kim Put-hoan, mendadak Jit-jit membentaknya, “Keparat, berani kau omong lagi satu kata segera kubinasakan kau!”

Ancaman Jit-jit ternyata berhasil, seketika Kim Put-hoan tidak berani buka mulut lagi.

Dengan menghela napas Li Tiang-ceng berucap, “Semoga Thian memberkahi Sim-heng agar tidak…”

“Hanya kobaran api begini saja mana dapat membakar mati Sim Long,” bentak si Kucing mendadak.

Walaupun begitu ucapannya, namun dalam hati sebenarnya ia pun berkhawatir bagi Sim Long.

Dalam pada itu api semakin dahsyat, dan sejauh itu belum lagi kelihatan Sim Long muncul kembali, sampai suaranya juga tidak terdengar lagi.

“Wah, jangan-jangan dia…” Jit-jit berkeluh.

“Jangan khawatir, segera dia akan keluar,” ucap si Kucing.

Tapi sampai sekian lama Sim Long tetap belum kelihatan. Sedangkan api berkobar semakin hebat.

“Kau kira dia… apakah dia takkan…” Jit-jit tambah kelabakan.

“Orang semacam dia masakah bisa mengalami sesuatu?” ujar si Kucing.

“Ya, benar, pasti tidak…” Jit-jit berusaha menghibur dirinya sendiri.

Ketika angin meniup, hawa panas menyengat tubuh mereka dan membuat mereka terpaksa menyingkir terlebih jauh.

“Hebat amat api ini, kita pun tidak… tidak tahan, apakah dia…”

“Meski kita tidak tahan, tapi dia harus dikecualikan, dengan kemampuannya, biarpun menerjang ke neraka juga sanggup keluar lagi. Hahaha, betapa pun aku tidak khawatir dan percaya penuh padanya.”

Di tengah suara gaduh api yang menyambar ke sana kemari itu si Kucing lantas bergelak tertawa malah. Namun suara tertawanya tiada sedikit pun bernada gembira, suaranya terlebih mirip orang meratap.

“Betul, orang semacam dia, biarpun setan juga gentar padanya…” Jit-jit juga tertawa sebisanya, namun tidak urung air mata pun bercucuran.

Sejauh mata memandang hanya asap dan api belaka, apa pun tidak tertampak lagi…

Langit pun seakan-akan membara oleh kobaran api yang menjulang tinggi itu.

“Dia… dia…” Jit-jit tidak sanggup bicara lagi, ia coba memandang si Kucing, anak muda itu kelihatan berwajah murung. Sedangkan Kim Bu-bong tampak menggereget dan mengepal tinjunya erat-erat, jelas lagi menahan perasaan sekuatnya.

Jit-jit memandang sana dan melihat sini akhirnya ia tidak tahan dan menangis tergerung-gerung. Sejak tadi Pek Fifi pun sudah menangis.

Api sebesar ini, siapa pun tidak percaya Sim Long sanggup keluar lagi dengan hidup, betapa pun dia bukan malaikat dewata.

Tapi api yang dahsyat biasanya tidak tahan lama.

Perkampungan ini berdiri di puncak yang terisolasi, berjarak cukup jauh dengan hutan sana, di belakangnya juga lereng tebing, sebab itulah api tidak menjalar.

“Ah, api mulai mengecil,” terdengar Li Tiang-ceng berkata mendadak.

Waktu Jit-jit memandang ke sana, serentak ia berteriak parau, “Betul api mulai padam… Dapatlah dia keluar!”

Padahal orang terkurung sekian lama di tengah lautan api, jelas tidak ada harapan untuk hidup lagi, namun begitu dia tidak mau mengucapkan kata-kata putus asa.

Api yang berkobar akhirnya padam juga. Semua orang terbelalak dan terdiam.

Mana Sim Long? Ke mana dia? Tidak tampak bayangannya sama sekali. Semua orang sama putus harapan, tidak ada yang yakin Sim Long dapat muncul lagi dengan hidup, cuma tiada seorang pun berani mengatakannya.

Mendadak Kim Bu-bong berteriak, “Seorang lelaki sejati sesuatu yang tidak boleh diperbuatnya, biarpun mati juga takkan berbuat. Bagi sesuatu yang harus diperbuatnya, biarpun mati juga tidak gentar. Sim Long, engkau benar-benar seorang pendekar sejati, terimalah hormatku ini!”

Wajahnya yang selalu dingin itu ternyata sudah dibasahi oleh air mata, dia benar-benar berlutut dan menyembah. Orang yang selalu kaku dan dingin ini ternyata juga bisa mengalirkan air mata dan mau menyembah kepada orang lain, sungguh dia sendiri pun tidak percaya.

“Untuk apa kau omong begini, kan belum tentu dia…” belum lanjut ucapannya si Kucing pun berlutut dengan air mata bercucuran. Anak muda yang pantang meneteskan air mata biarpun menghadapi ancaman maut sekarang menangis benar-benar, menangis dengan keras, betapa sedih tangisnya, betapa hormat dan cintanya kepada orang yang ditangisinya.

“Wahai Sim Long, bahwa ada orang semacam ini mencucurkan air mata bagimu, biarpun mati pun engkau dapat berbangga, kematianmu pun cukup berharga,” gumam Li Tiang-ceng.

Dengan air mata berlinang Lian Thian-hun berteriak, “Wahai Sim Long, bila sebelumnya orang she Lian tahu engkau ini kesatria berbudi luhur semacam ini, biarpun kepalaku dipecahkan juga ingin berkawan denganmu, sungguh menyesal, sebelum ini orang she Lian telah salah menilai dirimu.”

Hanya Leng Toa saja yang tetap bungkam tanpa bicara, namun dari ujung mulut tampak merembes air berdarah, jelas ia mengertak gigi dengan menahan perasaannya.

“O, Sim…” jerit Pek Fifi mendadak, “semuanya ini salahku, aku… aku tidak mau hidup lagi!”

Mendadak ia merangkak bangun terus berlari ke arah api yang belum padam sama sekali itu.

Tapi baru saja dia berlari beberapa langkah, sempat Kim Bu-bong dan Him Miau-ji meraihnya sehingga tidak sanggup bergerak lagi.

“Bagus, kau tidak mau hidup… memangnya aku ingin hidup?…” gumam Jit-jit, mendadak ia pun berlari secepatnya ke arah lautan api. Larinya jauh lebih cepat daripada Fifi, Kim Bu-bong dan si Kucing lagi menahan Fifi, dengan sendirinya tidak keburu mencegah Jit-jit. Baru saja mereka memburu maju, Jit-jit sudah terjun ke lautan api.

Walaupun api sudah mulai padam, tapi masih lebih daripada cukup untuk menghanguskan seorang nona semacam Cu Jit-jit.

“Kembali Jit-jit!” teriak Kim Bu-bong.

Wajah si Kucing juga pucat, teriaknya, “Jit-jit, jangan, engkau tidak boleh mati!”

Namun betapa nyaring teriakan mereka tetap tak dapat mencegah orang yang sudah bertekad ingin mati. Sama sekali Cu Jit-jit tidak berpaling dan terjun ke lautan api. Tampaknya segera dia akan terbakar…

“Jit-jit…” baru saja si Kucing berteriak lagi, sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang keluar dari lautan api sana dan tepat mengadang di depan Cu Jit-jit sehingga nona itu menerjang ke pangkuannya.

Siapa lagi orang ini kalau bukan Sim Long!

Tertampak dia memanggul seorang lelaki besar yang basah kuyup, seperti baru saja dikeluarkan dari dalam air. Muka Sim Long sendiri juga penuh butiran air.

Lautan api yang berkobar dengan hebatnya tadi ternyata benar tidak dapat mematikan Sim Long. Sungguh tidak kepalang kejut dan girang semua orang.

Serentak Sim Long menyeret mundur Cu Jit-jit dan semua orang pun lantas memburu maju.

Jit-jit menengadah, mengucek-ngucek matanya sampai beberapa kali, ia tidak percaya kepada penglihatan sendiri. Tapi akhirnya ia menubruk ke dalam pelukan Sim Long dan menangis tergerung.

“Sim… Sim-siangkong, engkau…” Pek Fifi menyapa dengan menangis dan juga tertawa.

Sim Long tersenyum, “Tentu kalian menyangka aku sudah terkubur di tengah lautan api.”

“Aneh, sungguh suatu keajaiban,” ucap si Kucing.

Jit-jit memukuli dada Sim Long, dengan air mata masih meleleh ucapnya dengan tertawa, “Engkau tidak… tidak mati… Benar-benar tidak mati…”

“Aku memang tidak mati terbakar, tapi bisa mati kau pukul,” ujar Sim Long.

“Masih kau bicara demikian, kau tahu betapa orang cemas jika kau mati, aku pun tidak… tidak…” air mata Jit-jit lantas bercucuran lagi.

Mau tak mau Sim Long jadi terharu, “Ya, untung kumuncul tepat pada waktunya.”

Kim Put-hoan yang licik itu mendadak berseru, “Sim-siangkong, hendaknya kau tahu orang yang mau mati bagimu tidak cuma Cu Jit-jit seorang saja, Nona Pek itu juga telah…”

Sekilas lirik melihat sorot mata Kim Bu-bong yang dingin itu, ia tidak berani omong lagi lebih lanjut.

“Api berkobar sedahsyat itu, entah cara bagaimana engkau menyelamatkan diri, sungguh sukar untuk dibayangkan,” tanya Kim Bu-bong kemudian.

Sim Long tertawa, tuturnya, “Dari gua penjara itu dapat kuselamatkan orang ini, sementara itu api telah berkobar dengan hebat dan sukar bagiku untuk menerobos keluar lagi. Tiba-tiba teringat olehku kamar penyelamat itu.”

“Masa ada kamar penyelamat apa segala?” tanya Jit-jit dengan heran.

“Yaitu kamar yang mengurung dirimu itu, sudah kulihat sekeliling kamar itu dibuat secara khusus dan tak tembus api, segera kubawa orang ini bersembunyi di sana. Walaupun begitu, panasnya juga minta ampun.”

“Mendingan engkau tidak terpanggang hidup-hidup,” ujar Jit-jit dengan tertawa.

Dalam pada itu lelaki besar yang dipanggul keluar oleh Sim Long tadi sudah siuman dari pingsannya dan sedang memandang Sim Long dengan terkesima.

“Bagaimana?” tanya Sim Long tersenyum.

“Aku lagi menunggu,” jawab lelaki itu.

“Menunggu apa?” tanya Sim Long pula.

“Menunggu apa yang akan kau lakukan atas diriku,” kata orang itu dengan gusar. “Biarpun kau selamatkan jiwaku tapi aku tidak berterima kasih padamu. Jika ada yang kau harapkan dariku, tentu kau hanya mimpi belaka.”

Jit-jit menjadi gusar dan mendamprat.

Tapi orang itu berkata pula, “Aku tidak peduli kalian akan marah atau membunuhku juga boleh, pokoknya aku tidak mengharapkan sesuatu dari kalian.”

“Boleh kau pergi saja,” kata Sim Long tiba-tiba sambil memberi tanda.

“Pergi?” orang itu melengak. “Kau lepaskanku pergi?”

“Betul,” jawab Sim Long.

Orang itu tampak ragu dan heran, “Buk… bukankah hendak kau paksa sesuatu pengakuanku?”

“Untuk apa harus kupaksa dirimu?”

“Habis untuk apa engkau menolong diriku?”

“Tidak untuk apa-apa, hanya demi perikemanusiaan.”

“Masa… masa begitu sederhana?” orang itu tambah heran dan ragu, ia berbangkit dan melangkah dua-tiga tindak, benar juga tidak ada yang merintangi kepergiannya. Tapi dia lantas berhenti malah dan tidak bergerak lagi.

“Mengapa tidak lekas pergi?” tanya Sim Long.

“Menolong orang tidak mengharapkan balas budi, hal seperti ini memang sering kudengar, tapi tanpa sebab menolong orang dengan menyerempet bahaya, bahkan orang yang ditolongnya adalah musuh, sungguh hal ini belum pernah kudengar.”

“Tapi sekarang justru dapat kau saksikan sendiri hal yang kau anggap aneh itu,” sela Jit-jit dengan tertawa. “Ketahuilah, masih banyak tindak tanduk Sim-siangkong ini yang serbaaneh.”

“Ya, aku memang rada heran,” kata lelaki itu. “Maka… maka aku tidak jadi pergilah…”

Mendadak ia terus berlutut dan menyembah kepada Sim Long.

“Lekas bangun!” seru Sim Long.

“Air mengalir ke tempat yang rendah, manusia selalu menanjak ke arah yang tinggi, burung bernaung di hutan gelap, manusia memilih junjungan yang terang, meski aku Nyo Tay-lik seorang kasar, tapi beberapa pepatah itu cukup kupahami.”

Ia menghela napas, lalu menyambung pula, “Aku Nyo Tay-lik hidup selama berpuluh tahun seperti orang buta, baru sekarang mataku melek setelah bertemu dengan Sim-siangkong. Selama ikut Ong Ling-hoa, bagiku di dunia ini hanya ada manusia makan manusia, tipu-menipu, baru sekarang kutahu di dunia ini masih ada kesatria berbudi luhur dan selalu bertindak sesuatu yang terpuji.”

“Begini banyak engkau mengoceh, sebenarnya apa kehendakmu?” tanya Jit-jit dengan tertawa.

“Aku cuma berharap Sim-siangkong suka menerima diriku, seterusnya aku adalah budak Sim-siangkong, tapi selanjutnya aku pun dapat menjadi manusia dengan membusungkan dada,” ujar Nyo Tay-lik.

“Wah… ini…” Sim Long melengak.

“Apa pun ucapan Sim-kongcu, yang pasti aku tetap ikut engkau,” kata Nyo Tay-lik tegas.

“Kukira boleh kau terima kehendaknya,” bujuk Jit-jit kepada Sim Long.

“Kenapa jadi… jadi begini…” Sim Long merasa terharu. “Baiklah, silakan bangun saja!”

“Terima kasih, Kongcu,” seru Nyo Tay-lik dengan girang. Perlahan ia berbangkit, lalu berucap pula dengan tertawa, “Kemarin hamba adalah budak Ong Ling-hoa dan kesetiaanku hanya kepadanya. Sekarang hamba sudah menjadi budak Sim-siangkong, apa yang engkau perintahkan atau tanyakan pasti akan kulaksanakan.”

“Jika kutanya padamu, jadinya kan…” Sim Long menjadi ragu.

“Biarpun Siangkong tidak tanya juga akan hamba katakan,” ujar Nyo Tay-lik. Setelah berpikir sejenak, lalu ia mulai menutur, “Ibu Ong Ling-hoa adalah adik mendiang Hun-bong-siancu, siapa ayahnya sebaliknya tidak ada yang tahu. Segenap kepandaian Ong Ling-hoa itu diperoleh dari ibunya, tapi dari mana ibunya belajar kungfu setinggi itu juga tidak ada yang tahu. Hamba cuma tahu, banyak kungfu sakti dunia persilatan yang sudah lama menghilang kini telah dikuasai oleh mereka ibu dan anak.”

“Ah, betul juga,” seru Jit-jit seperti menyadari sesuatu. “Jik-sat-jiu, beberapa orang yang terbunuh oleh Jik-sat-jiu di makam kuno itu pasti juga hasil kerja Ong Ling-hoa.”

Nyo Tay-lik tidak menghiraukan apa yang diucapkan si nona, ia menyambung pula, “Tempat ini hanya merupakan salah satu sarang rahasia mereka ibu dan anak, setahuku, sedikitnya ada lima-enam puluh tempat rahasia seperti ini milik mereka yang tersebar di utara maupun selatan sungai besar.”

“Sekian puluh jumlah tempat seperti ini? Wah, betapa besar ambisi orang ini,” ujar si Kucing dengan melenggong.

“Sesungguhnya apa tujuan ambisi mereka ibu dan anak tidak kuketahui,” tutur Nyo Tay-lik pula. “Yang jelas memang tidak sedikit jago-jago ternama yang telah mereka kumpulkan sebagai anak buah.”

Ia pandang Jit-jit sekejap, lalu menambahkan, “Tadi orang berkerudung kain yang bersamaku memeriksa nona itu juga seorang tokoh terkenal.”

“Oo, siapa dia?” tanya Jit-jit.

“Dia seperti berjuluk Kim-hi apa…”

“Apakah Bu-lin-kim-hi (Ikan Emas Tanpa Sisik) Song Sam?” Jit-jit menegas.

“Betul, itulah dia,” seru Nyo Tay-lik. “Konon orang ini selalu bergaul dengan orang kaya agar mendapat pelayanan yang enak, hidupnya serupa ikan emas saja yang dipiara orang kaya. Adapun sebutan bu-lin (tak bersisik) itu mungkin untuk menggambarkan betapa licinnya serupa ikan tanpa sisik, sukar dipegang dan sukar diraba. Umpama kejadian hari ini, bukankah dia dapat lolos dengan licin.”

“Kurang ajar!” omel Jit-jit. “Pantas Ong Ling-hoa mengincar diriku, pantas juga dia tidak berani menghadapiku dengan wajah aslinya.”

“Apakah kau kenal dia?” tanya si Kucing.

“Dia juga salah seorang yang hidup nebeng di tempat ayahku sana, maka dia sangat hafal akan segala seluk-beluk keluargaku,” tutur Jit-jit. “Padahal setiap keluarga hartawan di daerah Kanglam hampir semua dikenalnya dengan baik. Sebabnya Ong Ling-hoa merangkul dia mungkin ingin memperalat dia untuk mengerjai kaum hartawan itu.”

“Sungguh licin perencanaan orang ini,” ujar si Kucing.

Kim Bu-bong menatap Li Tiang-ceng dengan dingin, katanya tiba-tiba, “Nah, sudah kau dengar sendiri semua percakapannya, bukan?”

“Biarpun tidak kudengar penuturannya, setelah menyaksikan tindakan Sim-siangkong yang luhur budi tadi juga sudah cukup membuatku kagum padanya, sebelum ini kami memang telah salah menilainya,” jawab Li Tiang-ceng.

“Yang sudah lalu janganlah diungkat pula, yang penting selanjutnya dapatlah kita saling mengerti dan bekerja sama dengan lebih erat,” ujar Sim Long.

“Setelah Can Ing-siong dan lain-lain mati secara mendadak dan sukar dimengerti, kini Leng Sam menunggui mayat mereka di sana, entah Sim-heng sudi pergi ke sana untuk memeriksanya?” tanya Li Tiang-ceng.

“Periksa apa lagi, jelas perbuatan Ong-Ling-hoa,” seru Lian Thian-hun dengan gusar.

“Meskipun begitu, masa… di dunia ada racun sejahat itu, sungguh aku tidak percaya, kuyakin di dalam persoalan ini pasti ada sesuatu rahasia lain yang belum terungkap,” kata Li Tiang-ceng pula.

“Ucapan Cianpwe memang betul,” ujar Sim Long, “aku pun yakin di dalam persoalan ini masih ada rahasia lain, untuk membongkar rahasia ini masih harus dicari jalan yang jitu.”

“Entah dengan cara bagaimana Sim-heng akan membongkarnya?” tanya Li Tiang-ceng.

“Terus terang, saat ini aku pun tidak tahu apa yang harus kulakukan, terpaksa bertindak menurut perkembangan selanjutnya, sebab itulah perjalanan ke Jin-gi-ceng terpaksa tidak dapat kuikut,” jawab Sim Long.

“Kekacauan Kangouw jelas sudah hampir berjangkit, menurut pandanganku, orang yang dapat memikul kewajiban untuk mengamankannya kecuali tokoh muda semacam Sim-heng rasanya tidak ada pilihan lain lagi. Semoga kepergian Sim-heng ini akan berhasil dengan baik, akan kutunggu kabar baikmu di Jin-gi-ceng.”

Ia pandang Kim Bu-bong sekejap, meski tidak bicara lagi, tapi maksudnya jelas minta supaya orang menawarkan obat bius yang masih memengaruhi tubuhnya itu.

Tentu Kim Bu-bong juga tahu, tapi obat bius itu hanya dapat digunakannya dan tidak mampu ditawarkannya, sebab itulah terpaksa dia berlagak tidak tahu kehendak Li Tiang-ceng.

Akhirnya Li Tiang-ceng berkata pula, “Baiklah, sekarang juga kami mohon diri…”

“Maaf jika kami tidak dapat membantu, terpaksa Sin-sian-it-jit-cui itu harus dibiarkan punah sendiri setelah lewat satu hari,” kata Sim Long dengan rikuh.

Li Tiang-ceng melengak, katanya dengan ragu, “Wah, lantas…”

Tiba-tiba si Kucing berseru, “Karena tidak ada pekerjaan lagi, biarlah kuantar kedua Cianpwe pulang ke Jin-gi-ceng agar tidak tertunda lebih lama lagi.”

“Bagus sekali jika begitu,” seru Sim Long. “Tay-lik, boleh bantu membawa Thian-hoat Taysu dan Leng-heng turun gunung, kemudian tunggu saja di tempat Thian-hoat Taysu, dengan begitu juga dapat sekadar minta petunjuk kepada Taysu.”

Meski dalam hati Nyo Tay-lik sangat ingin ikut Sim Long, tapi di mulut ia tidak berani membantah dan terpaksa mengiakan.

Sejak tadi Thian-hoat hanya diam saja, sekarang ia pun bicara, “Sim Long, kuhormati jiwamu yang luhur dan kungfu yang hebat, biarlah persoalan kita yang sudah-sudah kuhapuskan sama sekali. Namun urusanku dengan Hoa Lui-sian hendaknya engkau jangan ikut campur.”

Sim Long memberi hormat dan mengiakan.

“Tapi kau pun jangan khawatir, betapa pun tidak nanti kuserang orang yang tak bisa berkutik,” kata Thian-hoat pula. “Sebelum tenaga Hoa Lui-sian pulih, tidak nanti kuganggu seujung jarinya.”

“Terima kasih atas kebaikan Taysu,” kata Sim Long.

“Dan bagaimana dengan diriku? Siapa yang mengantarku?” tiba-tiba Kim Put-hoan bersuara.

“Aku,” kata Kim Bu-bong dengan dingin.

Tanpa terasa Kim Put-hoan bergidik, “Eng… engkau… Ah, Li-cianpwe, tidak boleh kau tinggalkan diriku, kalian…”

Mendadak terhenti ucapannya, sebab tangan Kim Bu-bong telah meraba dagunya.

Li Tiang-ceng memandangnya sekejap, lalu menggeleng dan menghela napas tanpa bersuara.

Segera Him Miau-ji memayang Li Tiang-ceng dan Lian Thian-hun, Nyo Tay-lik juga lantas mengangkat Thian-hoat dan Leng Toa.

Mendadak Jit-jit memburu ke depan si Kucing dan bertanya, “Masa… masa engkau akan pergi begitu saja?”

Si Kucing melengos, ia tidak berani menatapnya, tapi di mulut menjawab dengan tertawa, “Ya, aku akan… akan pergi.”

“Kau… kau…” Jit-jit menunduk dan tidak meneruskan.

“Hari ini berpisah, kelak bertemu pula,” seru Him Miau-ji alias si Kucing dengan tergelak. “Budi pertolongan jiwaku tak perlu kuucapkan terima kasih kepada Sim-heng, kelak…”

Di tengah gelak tertawanya ia memayang Li Tiang-ceng berdua dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Memandangi bayangan punggung orang, diam-diam Jit-jit menghela napas.

“Kucing ini ternyata seorang jantan juga,” kata Kim Bu-bong.

“Orang yang dapat kau puji pasti tidak perlu disangsikan lagi,” ujar Sim Long.

Mendadak Jit-jit mengentak kaki dan berseru, “Ayolah, kenapa kita tidak cepat pergi, apa pula yang perlu kita harapkan lagi di sini?”

“Aku akan tinggal di sini,” kata Sim Long. “Sebab hendak kucari lagi di tengah puing, mungkin akan kutemukan sesuatu. Selain ini Kim-heng juga dapat membereskan Kim Put-hoan di sini.”

“Cara bagaimana membereskan dia?” tanya Jit-jit.

“Bagaimana caranya terserah kepada Kim-heng,” ujar Sim Long.

Dengan gemas Kim Bu-bong berucap, “Sungguh ingin kucincang keparat ini.”

Habis berkata, segera ia cengkeram Kim Put-hoan terus dibawa lari ke belakang tebing sana.

Awan putih mulai jarang-jarang, sang surya sudah menongol, namun angin masih mendesir dingin.

Pek Fifi menggigil dingin dan memainkan ujung bajunya sambil melirik ke arah Sim Long yang sedang sibuk mencari di tengah puing.

Cu Jit-jit menengadah, memandang langit dengan terkesima, setiap kali Fifi melirik Sim Long pasti menimbulkan rasa dongkolnya.

Mendadak tertampak Kim Bu-bong muncul kembali dengan wajah kelam.

“Hei, di mana Kim Put-hoan, kau apakan dia? Sudah kau bunuh dia?” tanya Jit-jit.

Sejenak Kim Bu-bong terdiam, jawabnya kemudian, “Sudah kubebaskan dia.”

“Hah, kau bebaskan dia?” Jit-jit melengak. “Begitu keji dia terhadapmu dan kau lepaskan dia? Orang jahat begini dibiarkan hidup di dunia ini, entah betapa banyak orang baik akan menjadi korbannya lagi…”

Tiba-tiba terdengar Sim Long menukas, “Memang sudah kuketahui Kim-heng pasti akan melepaskan dia.”

Entah sejak kapan Sim Long sudah melompat tiba, katanya pula dengan tertawa, “Betapa pun Kim Put-hoan tidak berbudi terhadap Kim-heng tidak nanti Kim-heng memperlakukan tidak setia kepadanya. Jika aku menjadi Kim-heng juga akan kubebaskan dia.”

“Terima kasih…” ucap Kim Bu-bong dengan pedih.

Banyak kebaikan Sim Long kepadanya dan belum pernah dia mengucapkan terima kasih, baru sekarang perasaannya itu dicetuskannya, hal ini disebabkan dia merasa Sim Long telah benar-benar memahami pribadinya.

Untuk memahami kepribadian seorang terkadang jauh lebih sulit daripada menyelamatkan jiwanya, seorang yang berwatak kaku dan menyendiri ternyata dapat dipahami oleh orang lain, betapa rasa terima kasihnya, sungguh sukar dilukiskan.

Jit-jit memandang Kim Bu-bong, lalu memandang Sim Long pula, katanya kemudian, “Ai, persoalan kaum lelaki kalian terkadang membingungkan orang.”

“Persoalan kaum lelaki akan lebih baik tidak dipahami orang perempuan,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Selang sejenak, tiba-tiba Kim Bu-bong bertanya, “Adakah Sim-heng menemukan sesuatu petunjuk di tengah puing?”

“Memang ada dua macam benda kutemukan, apakah berguna belum lagi kuketahui,” jawab Sim Long. Setelah merandek, lalu sambungnya lagi, “Selanjutnya apa yang akan dikerjakan Kim-heng boleh terserah padamu.”

“Apa yang harus kukerjakan?” Kim Bu-bong bergumam, mendadak ia berseru tegas, “Sim Long, jiwaku yang tersisa ini sudah menjadi milikmu, apa pula yang perlu kau tanyakan padaku?”

“Tapi…” Sim Long melengak.

“Hm, memangnya Kim Bu-bong lebih rendah daripada Nyo Tay-lik?”

“Ah, apabila bisa mendapat bantuan Kim-heng, urusan apa yang tidak dapat kucapai dengan baik?” seru Sim Long girang. “Kim-heng, aku berjanji pasti takkan mengecewakan keputusanmu yang tegas ini…”

Kedua orang lantas berjabatan tangan dengan erat, apa pun tidak perlu dibicarakan lagi.

Jit-jit terharu, katanya kemudian, “Dan apa yang akan kau kerjakan selanjutnya, Sim Long?”

“Cari samcihumu lebih dulu,” jawab Sim Long. “Betapa pun harta kekayaanmu yang besar itu tidak boleh terjatuh ke tangan Ong Ling-hoa.”

“Aha, betul, kau… kau…” Jit-jit terkejut dan bergirang, mendadak ia rangkul Sim Long dan berseru pula, “Kiranya engkau belum lagi lupa pada urusanku itu.”

Suaranya bergema jauh di lembah pegunungan, awan sudah buyar, cuaca cerah. Namun angin badai berikutnya mungkin akan timbul pula.

Pek Fifi masih menggigil di sebelah sana, bibirnya yang mungil kelihatan pucat kedinginan.

Namun dia kelihatan mengertak gigi dan bertahan tanpa mengeluh. Di dalam tubuhnya yang lemah itu ternyata ada sebuah hati yang keras sebagai baja.

Kim Bu-bong memandangnya, lalu memandang pula Cu Jit-jit yang lagi berseru kegirangan itu. Sorot matanya yang dingin tanpa terasa timbul semacam perasaan kasih sayang.

Rasa kasih sayang itu timbul karena Pek Fifi, atau bisa juga demi Cu Jit-jit. Mungkin cuma dia saja yang tahu, di balik watak yang keras, suka menang dan manja itu, hati Cu Jit-jit sebenarnya sedemikian lunak dan lemah.

Dua anak perempuan yang sama sekali berbeda watak, keduanya sama-sama ada segi baiknya yang khas dan menarik, nasib mereka kelak juga pasti akan berbeda sesuai dengan watak masing-masing.

Sejauh itu Fifi hanya menunduk saja, entah karena tidak suka melihat sikap Cu Jit-jit yang berjingkrak kegirangan itu atau karena tak berani terlalu banyak memandang Sim Long.

Ia cukup mengerti kedudukannya sendiri, ia tahu dirinya harus menuruti segala perintah orang dan tidak berhak minta diperhatikan orang.

Meski dia kedinginan, lapar, lelah, dan menggigil, terpaksa ia menunduk dan bertahan sekuatnya, bahkan ia tak berani memperlihatkan penderitaannya itu kepada orang lain.

“Marilah kita pergi,” terdengar Kim Bu-bong mengajak.

“Betul, ayolah berangkat,” seru Jit-jit.

Pada waktu bergirang, apa pun dia mau menuruti kehendak orang lain, segera ia hendak menarik Sim Long, tak tahunya anak muda itu lantas mendekati Fifi.

Tangan dan kaki Pek Fifi hampir beku dan lagi bingung cara bagaimana akan meninggalkan pegunungan ini, tiba-tiba terlihat tangan Sim Long terjulur ke depannya.

Ia terharu dan bergirang, sesungguhnya juga inilah yang dinanti-nantinya, ia melirik sekejap ke arah Jit-jit, ia tidak berani menerima uluran tangan itu, ia menunduk dan mencucurkan air mata, katanya, “Aku… aku dapat berjalan sendiri.”

“Apa betul dapat berjalan sendiri,” ucap Sim Long dengan tersenyum. “Anak bodoh, jangan bandel, masa kau dapat bergerak?”

Segera ia meraih pinggang Fifi yang ramping, pinggang itu sedang gemetar.

Air muka Jit-jit berubah pula, hatinya tertekan memandangi Sim Long merangkul pinggang Pek Fifi dan berjalan ke depan.

“Ayolah, berangkat!” tiba-tiba Sim Long berpaling dan berseru padanya.

“Aku… aku tidak sanggup berjalan,” sahut Jit-jit dengan mengertak gigi.

“Ah, masa tidak sanggup berjalan, kau…”

“Sudah jelas orang bilang dapat berjalan sendiri, engkau justru memapahnya, jelas kukatakan tidak sanggup berjalan, engkau berbalik tidak percaya, kau… kau…”

Mendadak ia duduk terkulai dan menangis tersedu-sedan.

Sim Long melenggong dan menggeleng kepala.

Dengan suara gemetar Fifi berkata, “Boleh engkau mem… memapah Nona Cu saja, aku… aku sanggup berjalan sendiri, benar!”

Ia meronta sekuatnya melepaskan diri dari pegangan Sim Long dan terus melangkah ke depan.

Sim Long menghela napas, katanya kepada Kim Bu-bong, “Kim-heng, harap engkau…”

“Kutahu, akan kujaga dia,” sahut Bu-bong.

Perlahan Sim Long mendekati Jit-jit dan mengulurkan tangannya, “Baiklah, mari kita berangkat!”

Tapi tangis Jit-jit bertambah sedih.

“Segala permintaanmu telah kuturuti, apa pula yang kau tangisi?”

“Kutahu, sesungguhnya engkau tidak sudi memapahku, kau mau adalah karena… karena terpaksa, betul tidak?”

Sim Long berkerut kening dan tidak bicara lagi.

“Kutahu semakin kurengek begini semakin kau jemu padaku,” tangis Jit-jit tambah keras. “Tapi aku tidak berdaya, bila melihat engkau bermesraan dengan gadis lain, hatiku lantas hancur dan… dan tidak peduli segalanya lagi, aku tidak… tidak sanggup mengekang perasaan sendiri.”

Melihat keterusterangan si nona, Sim Long jadi terharu dan kasihan, akhirnya ia berjongkok dan menarik bangun Jit-jit, ucapnya lembut, “Sudahlah, jangan mengesot di tanah, seperti anak kecil saja.”

Jit-jit terus merangkulnya, ratapnya, “O, Sim Long, kumohon dengan sangat janganlah engkau jemu padaku, jangan kau tinggalkan diriku… Asalkan engkau baik padaku, biarpun… biarpun mati bagimu pun aku rela.”

*****

Habis makan, api tungku berkobar dengan keras.

Meski sebuah losmen sederhana di sebuah perkampungan kecil, alat perabotnya juga sangat sederhana, tapi bagi Cu Jit-jit setelah mengalami berbagai bahaya tempat ini dirasakan seperti surga.

Ia meringkuk di atas kursi di depan perapian, pandangannya tidak pernah meninggalkan wajah Sim Long, hatinya penuh rasa bahagia, persoalannya dengan Sim Long tadi kini sudah beres.

Tadi waktu turun gunung Sim Long telah berkata kepadanya bahwa Fifi adalah anak perempuan sebatang kara yang harus dikasihani, kita harus bersikap lebih baik kepadanya.

Ucapan ini sama dengan pernyataan kepada Jit-jit bahwa perasaannya terhadap Pek Fifi tidak lain hanya karena merasa kasihan saja dan bukan lantaran jatuh hati padanya. Sebab itulah hati Jit-jit lantas lapang, pikirannya terbuka lagi, ia pun berjanji selanjutnya akan bersikap lebih baik kepada Fifi.

Sekarang Fifi duduk di pojok kejauhan sana, meski dia takut dingin, tapi tidak berani duduk terlalu dekat dengan perapian, sebab Sim Long berada di situ.

Jit-jit teringat kepada pesan Sim Long, timbul juga rasa kasihannya kepada Fifi, selagi dia hendak menyuruh anak perempuan yang perlu dikasihani itu berduduk lebih dekat dengan perapian, tiba-tiba terdengar Sim Long bersuara. “Fifi, jika kedinginan, duduklah lebih dekat sini.”

“Kedinginan apa? Jika kedinginan kan lebih baik pergi tidur, di kolong selimut kan bisa lebih hangat,” ucap Jit-jit tanpa pikir. Setelah bicara segera ia merasa menyesal.

Sim Long memandangnya sekejap sambil menggeleng kepala.

Fifi lantas berbangkit, katanya dengan menunduk, “Ya, memang harus kupergi tidur saja…” segera ia masuk ke kamarnya.

Jit-jit memandang Sim Long, lalu memandang Kim Bu-bong pula, mendadak ia pun berdiri dan berkata, “Kusuruh dia pergi tidur, apakah ini pun salah?”

“Aku kan tidak bilang…”

“Meski tidak kau katakan, tentu hatimu berpikir demikian,” seru Jit-jit.

“Apa yang kupikirkan masakah kau pun tahu?” kata Sim Long.

“Tahu, pasti tahu, dalam hatimu tentu kau anggap aku ini perempuan jahat. Baik, aku memang jahat, biar…”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara pintu digedor.

“Siapa?” tanya Sim Long.

“Hamba, ada keperluan,” jawab orang di luar.

Dengan mendongkol Jit-jit membukakan pintu sambil mengomel. Waktu pintu dibuka, pelayan melangkah masuk dengan membawa poci air minum dan sepucuk surat. Ia menjadi tercengang melihat sikap Jit-jit yang garang itu.

“Ada apa, surat?” tanya Sim Long.

“Betul, ada surat, ada orang menyuruh hamba menyampaikan surat ini kepada Sim-siangkong,” tutur si pelayan dengan gugup.

“Bagaimana bentuk orang yang menyerahkan surat ini?” tanya Sim Long.

“Hamba tidak tahu…”

“Kau terima suratnya, masa tidak tahu bagaimana bentuk orang itu, apakah kau buta?” belum lanjut ucapan orang segera Jit-jit mendamprat.

Si pelayan tampak takut-takut, tukasnya pula, “Surat ini dibawa oleh Lau Toa yang menjual bakmi di pengkolan jalan sana, katanya berasal dari seorang pembeli bakmi, hamba juga sudah tanya dia bagaimana bentuk pengirim surat itu. Lau Toa bilang tidak tahu. Dia memang seorang buta.”

Jit-jit jadi melengak, mendongkol dan juga geli. Si pelayan tidak berani bicara lagi, cepat ia mengeluyur pergi.

Terdengar Sim Long lagi membaca surat itu, “Ada urusan penting, mohon tunggu sampai tengah malam nanti, jangan lupa.”

“Urusan penting? Lalu apa lagi?” tanya Jit-jit.

“Tidak ada lagi, hanya beberapa kata ini saja, tidak ada tanda tangan, gaya tulisannya juga tidak kukenal,” jawab Sim Long.

“Aneh juga… siapakah dia?” gumam si nona.

Dasar gadis polos, cepat marah, cepat juga lupa segalanya, segera ia menggelendot di bahu Sim Long untuk ikut membaca surat itu.

Sampul dan kertas surat itu tampak sangat kasar, tulisannya juga seperti cakar ayam. Jit-jit lantas menggerutu, “Tulisan berengsek, tentu penulisnya juga berengsek.”

“Coba kau teliti lagi, adakah sesuatu yang aneh pada tulisan ini?” ujar Sim Long.

“Apanya yang aneh?” gumam Jit-jit. “Tulisan seperti cakar ayam… He, betul, tampaknya setiap goresan tulisan ini dimulai dari sebelah kanan, jadi berlawanan seperti orang biasa.”

“Betul, ini menandakan surat ini ditulis dengan tangan kiri, makanya tulisannya kurang rajin.”

Jit-jit termenung sejenak, katanya kemudian, “Dia menulis dengan tangan kiri agar gaya tulisannya tidak dapat dikenali, dia menyuruh orang buta pula untuk menyampaikan surat ini agar kita tidak tahu siapa dia… Kuyakin dia pasti orang yang sudah kita kenal dengan baik.”

“Ya, rasanya memang begitu,” ucap Sim Long.

“Anehnya kenapa dia minta bertemu dengan kita di tengah malam buta, permainan apa yang tersembunyi di balik maksudnya ini?”

“Sudah tentu ada sebabnya… misalnya orang ini lagi menghindari penguntitan musuh, sebelum tengah malam buta dan sunyi tidak berani muncul… atau mungkin juga tangan kanannya cedera, maka menulis dengan tangan kiri.”

“Hah, engkau memang cerdas, hal-hal yang sukar dibayangkan justru dapat kau pikirkan.”

“Tapi bisa jadi sebelum tengah malam ini dia hendak bertindak sesuatu, makanya sengaja menggunakan surat ini untuk menahan kita di sini… Mengenai apa tujuannya sukarlah untuk diterka.”

“Kita tunggu saja, tengah malam kan hampir tiba,” ujar Jit-jit.

Malam tambah larut, namun terasa sangat lambat datangnya tengah malam.

Sejak tadi Kim Bu-bong hanya memandang ke arah jendela tanpa bergerak.

Diam-diam Jit-jit kagum akan ketekunan orang, ia sendiri sudah tidak tahan berduduk sekian lama.

Mendadak terdengar suara “pluk” sekali, menyusul jendela terus terbakar. Api lantas berkobar dengan hebatnya, di balik kegelapan di luar jendela sana seperti ada bayangan orang.

Kedua tangan Sim Long bekerja sekaligus, daun jendela yang terbakar itu tergetar mencelat. Kim Bu-bong juga lantas meraih selimut dan menerobos keluar, segera api dapat dipadamkannya.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, namun kedua orang ini tidak gelisah dan bingung, tanpa bersuara mereka sudah membereskan urusannya.

“Jit-jit, kau jaga Fifi di sini, aku dan Kim-heng akan menyelidiki jejak musuh,” seru Sim Long dengan suara tertahan, habis itu ia terus melayang pergi dan menghilang dalam kegelapan.

“Kembali Fifi, segala apa tidak lupa pada Fifi,” gerutu Jit-jit. “Dia sudah sebesar ini dan masih perlu dijaga. Memangnya siapa yang menjaga diriku?”

Dalam pada itu terdengar suara kentungan di kejauhan, tepat tengah malam.

Ketika Kim Bu-bong dan Sim Long melompat keluar jendela, bayangan orang yang semula berada di balik api sana lantas menghilang dengan sekali berkelebat.

“Cepat amat gerak tubuh orang ini,” kata Sim Long.

“Kejar!” seru Kim Bu-bong.

Selain cepat gerak tubuh orang itu, agaknya sebelumnya juga sudah merencanakan jalan mundurnya, betapa pun Sim Long mengejar dengan cepat tetap tidak tampak lagi bayangannya.

Mendadak Sim Long menarik Kim Bu-bong dan berseru, “Berhenti dulu. Awas tipu memancing harimau meninggalkan gunung.”

Gemerdep sinar mata Kim Bu-bong, “Betul, mari cepat kita putar balik!”

Lalu dia menahan suaranya dan mendesis, “Aku kembali ke sana, kau kejar terus!”

Sim Long mengangguk, cepat ia menyelinap ke belakang sebatang pohon. Sedang Kim Bu-bong terus memutar kembali ke arah semula dan sengaja bersuara menggerutu.

Angin dingin menyayat, malam sunyi senyap.

Dengan sabar Sim Long bersembunyi di balik pohon tanpa bergerak. Menurut perhitungannya gerak tubuh orang itu pasti tidak secepat itu, pasti bersembunyi di suatu tempat yang sudah disiapkan. Keadaan ini sama dengan musuh di tempat gelap dan awak sendiri di tempat yang terang, bukan mustahil setiap saat bisa disergap musuh. Jika sekarang Sim Long mendahului bersembunyi, kalau musuh tidak sabar menunggu lagi akhirnya pasti akan muncul.

Siapa tahu, walaupun Sim Long cukup cerdik, orang itu ternyata juga tidak bodoh, ia tidak mau terperangkap Sim Long, ia tetap bersembunyi dan tidak muncul lagi. Sampai sekian lama Sim Long menunggu tetap tiada sesuatu gerak-gerik apa pun.

Dalam pada itu Kim Bu-bong sudah sampai di rumah pondokan, suasana rumah penginapan itu gelap dan sunyi, hanya halaman depan remang-remang diterangi cahaya lampu yang menembus keluar dari jendela kamar. Cu Jit-jit tampak berada di halaman dan sedang membuat orang-orangan salju.

Biasanya orang-orangan salju dibikin gendut, tapi orang-orangan salju buatan Cu Jit-jit ini ternyata tinggi dan kurus. Wajah si nona tampak kemerahan karena hawa dingin, namun tangannya sibuk memoles wajah orang salju dan menepuk pipinya sambil menggerutu.

Meski Kim Bu-bong sudah berada di sampingnya belum lagi diketahuinya, dia masih terus menggerutu, memukul dan juga mencibir pada orang-orangan salju yang dibuatnya ini, rupanya orang salju itu dianggapnya sebagai Sim Long, maka sebentar ia mengomelnya dan lain saat mencibirnya. Semua ini mengungkapkan perasaannya kepada Sim Long, ya cinta, ya gemas.

Mendadak Kim Bu-bong berdehem.

Jit-jit terkejut dan berpaling, “Hah, kau bikin kaget diriku. He, bilakah kau kembali? Mana dia?”

“Masih terus mencari ke sana,” jawab Bu-bong.

“Salah, sejak tadi dia sudah berada di sini,” kata Jit-jit sambil menuding orang salju yang dibuatnya dengan tertawa, “Bukankah dia berdiri di sini dan telah kenyang kupukul tanpa melawan.”

“Adakah terjadi sesuatu di sini?” tanya Kim Bu-bong.

“Sudah sekian lama kumain di sini dan tidak melihat sesuatu apa pun,” jawab si nona.

Sejenak Kim Bu-bong termenung, mendadak ia berseru, “Wah, celaka!”

Segera ia berlari ke dalam rumah. Cepat Jit-jit mengintilnya dengan bingung, tanyanya, “Ada apa?”

Bu-bong menerobos ke dalam kamar Pek Fifi, tertampak tempat tidurnya morat-marit, namun Fifi sudah tidak kelihatan lagi.

“He, ke mana dia?” seru Jit-jit kaget.

“Seharusnya pertanyaan ini ditujukan kepadamu sendiri,” kata Bu-bong dengan dingin.

“Ke mana setan cilik itu mengeluyur? Kalau mau keluar seharusnya dia bilang padaku… Hei, Fifi… Pek Fifi…” teriak Jit-jit.

“Tidak perlu memanggilnya lagi, tidak ada gunanya,” ujar Bu-bong. “Seharusnya kau tahu, keadaan kamarnya kacau begini, mungkinkah dia keluar sendiri?”

Jit-jit melengak, ia duduk di tepi tempat tidur dan bergumam, “Wah, tentu dia… dia dibawa lari orang… Siapakah yang menculik dia?”

Tanpa terasa ia mencucurkan air mata dan berkata pula, “O, kasihan dia, siapakah yang sampai hati membikin susah anak perempuan yang lemah seperti dia…”

“Jika kau tahu kasihan, kenapa sehari-hari tidak kau perlakukan dia dengan lebih lembut?” ujar Bu-bong.

“Aku… aku sendiri tidak tahu apa sebabnya, biasanya aku jadi keki bila melihat dia,” kata Jit-jit.

Pada saat itulah mendadak Kim Bu-bong memburu ke tempat tidur dan memungut sesuatu.

“Apa itu?” tanya Jit-jit.

Kim Bu-bong tidak menjawabnya, diperiksanya barang itu dengan teliti, mendadak air mukanya berubah kelam, bentaknya dengan beringas, “Kurang ajar! Kiranya dia!”

“Dia? Dia siapa?” tanya Jit-jit.

“Kim Put-hoan!” tercetus dari mulut Kim Bu-bong sekata demi sekata.

“Hah, dia, apakah betul dia?” Jit-jit melonjak kaget.

Bu-bong memperlihatkan barang yang dipegangnya itu, ternyata sepotong cabikan kain berwarna cokelat.

“Ya, betul, kembali bangsat itu lagi, memang inilah warna bajunya, tentu terobek waktu Fifi melawannya,” seru Jit-jit.

Bu-bong memandang keluar jendela dengan melotot, giginya gemertuk saking gemasnya. Mestinya Jit-jit mau tanya lagi, tapi urung ketika melihat sikap Kim Bu-bong yang beringas itu.

“Salahku, semua ini salahku, kalau jiwanya tidak kuampuni, tentu takkan terjadi begini,” gumam Bu-bong dengan murka.

“Jangan gelisah, tunggu setelah Sim Long datang baru kita rundingkan tindakan apa yang akan kita lakukan,” kata Jit-jit.

“Ini adalah tanggung jawabku, kenapa mesti menunggu Sim Long,” kata Bu-bong bengis. “Hendaknya kau sampaikan padanya, dalam waktu tiga hari bila tidak kubekuk bangsat itu, aku bersumpah tidak menjadi manusia.”

Belum lenyap suaranya ia terus melayang keluar.

Jit-jit menjadi bingung sendiri setelah Kim Bu-bong pergi, serunya, “He, tunggu sebentar… kembali!”

Ia memburu keluar, namun bayangan Kim Bu-bong sudah menghilang. Ia tertegun sejenak, akhirnya ia menyusul ke arah perginya Sim Long tadi sambil berteriak sepanjang jalan, “Sim Long… Sim Long…”

Waktu itu Sim Long masih bersembunyi di balik pohon, namun sudah sekian lamanya tetap tidak kelihatan sesuatu gerak-gerik, dia tetap menunggu dengan sabar, ia yakin pada akhirnya yang tidak tahan pastilah bukan dia.

Tapi pada saat itulah didengarnya suara teriakan Jit-jit di kejauhan. Sim Long mengentak kaki dan berkata ke depan yang gelap sana, “Baik, sahabat, hari ini anggaplah engkau lebih mujur, sungguh kukagum akan kesabaranmu.”

Suara teriakan Jit-jit semakin mendekat. Segera Sim Long menyongsongnya. Tidak mudah Jit-jit mencari Sim Long, sebaliknya amat gampang bagi Sim Long untuk menemukan Jit-jit.

Begitu bertemu segera si nona menubruk ke pelukan Sim Long dan berseru, “Oo, syukurlah engkau tidak mengalami apa-apa…”

“Memangnya terjadi apa?” tanya Sim Long.

“Kim… Kim Put-hoan, dia… dia menculik Fifi…”

“Apa katamu? Fifi diculik Kim Put-hoan? Dan di mana Kim Bu-bong? Dia tidak berusaha membelanya?”

“Waktu itu dia belum pulang,” tutur Jit-jit dengan tersendat. “Aku sendiri lagi bermain orang salju di luar…”

Sim Long mengentak kaki, tanpa bicara lagi ia berlari kembali ke rumah penginapan sana. Setiba di tempat, Sim Long memeriksa seluruh kamar, lalu bertanya, “Apakah Kim Bu-bong mengejarnya?”

Jit-jit membenarkan.

“Adakah dia meninggalkan pesan?”

“Dia bilang dalam tiga hari pasti… pasti akan membekuk kembali Kim Put-hoan, kalau… kalau tidak…”

“Tiga hari? Masakah dapat menunggu sampai tiga hari,” seru Sim Long, meski cukup diketahuinya kepandaian Kim Bu-bong jauh di atas Kim Put-hoan, tapi kalau bicara tentang kelicikan jelas Bu-bong sukar menandinginya, sekarang dia mengejar sendirian, sungguh mengkhawatirkan.

Selagi Jit-jit hendak bicara pula, mendadak Sim Long mendesis, “Ssst, ada orang datang!”

Ia heran siapakah pendatang ini, selain ginkangnya tergolong kelas tinggi, agaknya juga sudah mengetahui tempat tinggal Sim Long, maka dia langsung menuju ke tempat ini. Sesudah dekat baru terlihat orang ini adalah seorang pengemis. Kelihatan rambutnya semrawut, bajunya penuh tambalan, tangan memegang pentungan, punggung menyandang beberapa karung goni, cuma wajahnya tidak terlihat jelas.

Semula Jit-jit menyangka Kim Put-hoan datang lagi, ternyata bukan, dari karung goninya sudah jelas orang ini anak murid Kay-pang asli.

Sesudah berada di depan jendela, orang itu berhenti dan menyapa, “Sim-heng dan Nona Cu, baik-baik kalian!”

Sim Long balas memberi salam, ia heran dari mana orang mengenalnya, padahal biasanya tidak ada sesuatu hubungan dengan orang Kay-pang.

Melihat sikap ragu Sim Long, orang itu melangkah lebih dekat, katanya pula dengan tersenyum, “Mungkin Sim-heng berdua pangling padaku, akhir-akhir ini aku memang sudah banyak berubah.”

Baru sekarang Sim Long dan Jit-jit dapat melihat jelas wajahnya yang agak kurus dan kotor itu, namun sinar matanya tetap mencorong terang seperti dahulu.

“Ah, kiranya kau,” seru Jit-jit bertanya.

Sim Long juga menyapa, “Kiranya Ji-heng!”

“Betul, memang akulah Ji Yok-gi,” sahut orang itu dengan tertawa.

Sungguh tak tersangka bahwa pengemis ini adalah Ji Yok-gi yang berjuluk si Pedang Sakti Mahacakap, kini ternyata sudah menjadi anggota Kay-pang.

Setelah disilakan masuk ke dalam rumah, di bawah cahaya lampu Ji Yok-gi kelihatan mengenaskan, tangan kiri memegang pentungan, tangan kanan terbalut dengan kain putih dan berlepotan darah, jelas terluka.

“Apakah surat yang kami terima ini berasal darimu?” segera Jit-jit bertanya.

Ji Yok-gi membenarkan.

Jit-jit memandang Sim Long dengan senyum memuji, ternyata apa yang terjadi ini cocok dengan dugaan anak muda itu.

Sim Long berlagak tidak tahu, ia tanya pada Ji Yok-gi, “Berpisah belum lama, mengapa Ji-heng telah masuk menjadi anggota sindikat terbesar dunia Kangouw?”

Khawatir menyinggung perasaan orang, maka Sim Long tidak menyebut Kay-pang melainkan dengan sebutan lain.

“Urusan ini agak panjang juga untuk diceritakan,” sahut Ji Yok-gi dengan tersenyum. “Dan memang kedatanganku ini ingin merundingkan sesuatu persoalan penting dengan Sim-heng, hal ini pun ada sangkut pautnya dengan Kay-pang.”

“Silakan bicara,” kata Sim Long.

“Setelah berpisah dengan Sim-heng, terasa olehku tindak tandukku pada masa lampau sesungguhnya memalukan, hari depanku terasa remang-remang dan entah cara bagaimana supaya dapat mencuci dosaku,” demikian tutur Ji Yok-gi dengan menyesal. “Tatkala mana sungguh hatiku bimbang dan putus asa, aku berkelana kian-kemari tanpa arah tujuan dan tidak merawat diri, dalam waktu kurang dari sebulan keadaanku sudah kelihatan tak keruan tiada ubahnya seperti kaum pengemis.”

“Kenapa Ji-heng mesti menyiksa diri cara begitu?” ujar Sim Long.

“Maklumlah, waktu itu aku sungguh tersiksa lahir batin, rasanya cuma dengan begitu saja baru dapat meringankan beban pikiranku.”

Dengan tertawa Sim Long berkata, “Kay-pang memang betul organisasi terbesar dunia persilatan, anak muridnya tersebar di segenap pelosok, pengaruhnya memang tak ada bandingannya. Tapi bila karena ingin menderita sehingga Ji-heng perlu masuk ke Kay-pang, kukira engkau telah salah tindak.”

“Semula tiada maksudku hendak masuk ke Kay-pang,” tutur Ji Yok-gi lebih lanjut. “Cuma lantaran patah semangat, maka segala apa pun tidak menarik bagiku. Sampai akhirnya karena melihat keadaanku yang kasihan, orang mau membantu dan tanpa malu aku pun menerimanya.”

Ia tersenyum getir, lalu menyambung, “Berita Kay-pang sungguh sangat cepat dan tajam, mereka dapat mengenali asal-usulku, maka, dikirimlah tiga orang sesepuhnya untuk berunding denganku.”

“Memangnya berunding apa?” tanya Jit-jit heran.

“Mereka anggap kelakuanku sudah menyerupai pengemis, maka harus menjadi anggota Kay-pang, kalau tidak berarti melanggar peraturan mereka dan setiap anak murid Kay-pang akan memandangku sebagai musuh.”

“Masa ada peraturan begitu… Dan engkau lantas terima kehendak mereka?” tanya Jit-jit.

“Betul,” jawab Ji Yok-gi. “Waktu itu aku sama sekali tidak memikirkan apa akibatnya, mungkin jika ada orang menyuruhku menjadi hwesio juga akan kulakukan.”

“Tujuan Kay-pang itu tidak lain hanya untuk menambah kekuatan saja,” ujar Sim Long dengan tertawa. “Bilamana mereka tidak bermaksud memperalat nama dan kepandaian Ji-heng, tentu karung yang disandang Ji-heng takkan sebanyak ini.”

Sekilas pandang saja Sim Long dapat melihat karung goni yang dipanggul Ji Yok-gi itu sedikitnya ada tujuh buah.

Biasanya karung goni yang dibawa anggota Kay-pang melambangkan kedudukannya dalam Kay-pang, semakin banyak karung yang disandangnya semakin tinggi kedudukannya. Untuk menanjak dari murid berkarung satu hingga berkarung tujuh, ini memerlukan suatu proses perjuangan yang panjang.

Sekarang Ji Yok-gi baru masuk Kay-pang dan lantas diangkat menjadi murid berkarung tujuh, hal ini benar-benar promosi luar biasa dalam sejarah Kay-pang.

Tapi Ji Yok-gi lantas menghela napas, katanya pula, “Waktu itu jika aku tidak putus asa, mana bisa masuk Kay-pang? Dan bila sudah kuserahkan diriku ke dalam Kay-pang, mana kupikirkan soal berapa buah karung ini…”

Tiba-tiba ia menengadah dan tertawa, lalu menyambung, “Jika bukan karena ketujuh buah karung ini, betapa pun sukar bagiku untuk mendengar rahasia itu.”

“Apakah kedatangan Ji-heng ini adalah karena rahasia yang kau maksudkan itu?” tanya Sim Long.

“Betul,” jawab Ji Yok-gi.

“Sesungguhnya rahasia apakah, lekas ceritakan!” seru Jit-jit.

Asalkan si nona bicara, Ji Yok-gi lantas menunduk, tuturnya, “Sesudah kumasuk Kay-pang, tiada sesuatu tugas tertentu yang mereka serahkan padaku. Kedudukan pangcu memang sudah lama lowong, maka semua urusan penting organisasi selalu dirunding dan diputuskan oleh ketiga tianglo (tertua, sesepuh).”

Jit-jit berkedip heran, “Kenapa mesti begitu? Jika satu antara mereka bertiga ditetapkan sebagai pangcu, kan semua urusan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.”

“Soalnya di antara ketiga tianglo itu, baik kedudukan, kungfu, dan nama baik, semuanya seimbang, sebab itulah ketiganya saling mengalah dan tidak mau diangkat sebagai pangcu,” sela Sim Long dengan tertawa.

“Masa mereka saling mengalah… Sungguh aku tidak percaya di dunia Kangouw ada orang baik hati begitu,” ujar Jit-jit dengan tertawa. “Jika dikatakan di antara mereka saling ngotot dan tidak mau mengalah, tapi karena satu sama lain tidak lebih unggul sehingga ketiganya sama-sama tidak dapat menjabat pangcu, alasan ini malahan dapat kupercaya.”

“Heh, pintar juga kau,” ujar Sim Long. Lalu dia berpaling kepada Ji Yok-gi dan bertanya, “Kemudian bagaimana?”

“Justru dalam keadaan tanpa tugas dan iseng itulah dapat kulihat sesuatu yang ganjil,” tutur Yok-gi. “Sejak kumasuk menjadi anggota, ketiga tianglo lantas selalu mengikuti jejakku. Semula aku heran dan juga curiga, tapi kemudian dapat kuketahui bahwa di antara mereka sama-sama tidak ingin aku berbicara sendirian dengan salah seorang di antara mereka.”

“Sungguh aneh, engkau kan bukan orang perempuan, masakah mereka bisa cemburu?” ujar Jit-jit dengan geli. Mendadak ia berkeplok dan berseru pula, “Aha, tahulah aku. Jelas di antara mereka diam-diam berebut kedudukan pangcu, namun siapa pun sukar mengungguli yang lain, maka mereka berusaha memikat dirimu untuk membantunya, dengan begitu dapatlah kedua orang lain diatasi. Dalam keadaan berebut pengaruh begitu, dengan sendirinya mereka khawatir bila salah seorang berbicara sendirian denganmu akan merugikan kedua orang yang lain. Memang sudah kuduga apa pun dapat diperbuat orang-orang itu bilamana urusannya menyangkut kedudukan dan keuntungan.”

“Sudah lama kudengar tentang ketiga sesepuh Kay-pang itu, kecuali watak Tan Kiong yang ekstrem, tindakannya terkadang suka menuruti kehendak sendiri. Sedangkan Auyang Lun hanya gemar makan minum, namun juga pendekar yang berjiwa besar. Lebih-lebih Co Kong-liong, dia terkenal berbudi luhur dan mahaadil, ketiganya sama-sama pendekar ternama, mana bisa mereka…”

“Kenal orang dan tahu mukanya tapi tidak tahu hatinya,” tukas Ji Yok-gi dengan gegetun, “apabila aku tidak bergaul rapat dengan mereka, sungguh mimpi pun tidak menyangka satu di antara mereka adalah setan iblis yang mahajahat. Apabila tidak secara kebetulan dapat kuketahui muslihat kejinya, sekian ribu anggota Kay-pang pasti akan menjadi korbannya.”

“Masa bisa begitu?…” terkejut juga Sim Long.

“Kedatanganku ini adalah karena persoalan ini, sedikit banyak juga bersangkutan dengan Sim-heng, selain itu ingin kumohon Sim-heng sukalah mengingat sesama orang Kangouw dan berdaya menyelamatkan Kay-pang dari malapetaka perpecahan ini.”

“Kan sudah kukatakan, Kay-pang adalah organisasi terbesar dunia Kangouw,” ucap Sim Long dengan serius. “Jika benar Kay-pang dikuasai oleh kaum durjana, dunia Kangouw pasti juga akan kacau. Silakan Ji-heng bicara saja, bila mampu pasti akan kubantu sekuatnya.”

“Urusan ini harus diceritakan sejak empat hari yang lalu,” tutur Ji Yok-gi. “Waktu itu aku dan ketiga orang ini bermalam di suatu rumah berhala di tempat terpencil, mereka sudah mendengkur, sebaliknya aku bergulang-guling tak bisa pulas.”

“Bisa jadi mereka cuma pura-pura tidur saja,” sela Jit-jit.

“Hari itu hujan salju, hawa dingin, di dalam rumah berhala dinyalakan api unggun, kami tidur mengelilingi api unggun,” tutur Yok-gi pula. “Di bawah kakiku adalah Auyang Lun, dia tidur dengan mengadu kepala dengan Co Kong-liong, sedangkan kaki Co Kong-liong beradu kaki dengan Tan Kiong dan dengan sendirinya kepala Tan Kiong berada di belakang kepalaku.”

“Cara tidur kalian berempat masakah ada sangkut pautnya dengan rahasia yang akan kau ceritakan,” tanya Jit-jit tidak sabar.

“Tentu saja besar sangkut pautnya,” ujar Yok-gi. “Tengah malam, api unggun sudah mulai guram, selagi aku bermaksud bangun untuk menambahi kayu, siapa tahu pada saat itulah mendadak kurasakan tangan Tan Kiong diulurkan ke arahku dan menggores beberapa huruf di atas keningku.”

“Dia ternyata tidak tidur,” kata Jit-jit. “Huruf apa yang ditulisnya?”

“Huruf yang ditulisnya berbunyi: ‘Kita bekerja sama menumpas Co.’.”

“Tan Kiong ternyata benar bukan manusia baik-baik. Di antara ketiga tokoh sesepuh Kay-pang, semua orang tahu Co Kong-liong adalah yang terbaik, jangan kau percaya kepada hasutan Tan Kiong.”

“Waktu itu dapat kupahami tulisannya itu, tapi aku berlagak tidak tahu, maka Tan Kiong menulis pula dan mengatakan Co Kong-liong tidak dapat dipercaya lagi, maka malam ini juga harus bertindak, kalau tidak… Sampai di sini goresan tangannya tambah berat, jelas hatinya tegang. Benarlah, mendadak Co Kong-liong…”

Bercerita sampai di sini, sekonyong-konyong di luar terdengar desir angin kain baju yang berkibar, jelas ada orang datang dengan sangat cepat, ginkangnya sungguh sangat tinggi.

Air muka Ji Yok-gi menjadi pucat, “Wah, celaka…”

Segera Sim Long memadamkan lampu dan bertanya, “Apakah kau tahu siapa yang datang ini?”

“Co Kong-liong…” jawab Ji Yok-gi.

Selagi Sim Long merasa heran, terdengarlah seorang bersuara di luar, “Inilah Kay-pang-sam-lo (Tiga Sesepuh Kay-pang), kedatangan kami adalah untuk mengadakan pembersihan perguruan sendiri dan menangkap anggota khianat, diharap sahabat Kangouw jangan ikut campur.”

Suaranya lantang dan bertenaga, jelas lwekang orang ini sangat tinggi.

Dengan suara tertahan Sim Long bertanya, “Pembicara ini apakah Co Kong-liong adanya?”

“Betul dia,” jawab Ji Yok-gi.

Sim Long tidak bicara lagi, hanya dalam hati ia membatin, “Jika bicara soal ilmu silat, nama Kay-pang-sam-lo pasti tidak lebih menonjol daripada ketujuh tokoh besar dunia persilatan, mengapa tenaga dalam Co Kong-liong ini kedengarannya jauh lebih kuat daripada Thian-hoat Taysu, Kiau Ngo dan lain-lain, mungkinkah selama ini dia menyembunyikan kepandaiannya atau akhir-akhir ini dia mendapat penemuan mukjizat?”

Terdengar orang di luar lagi berseru pula, “Ji Yok-gi, kenapa tidak lekas keluar? Sudah jelas kau sembunyi di sini, sekeliling tempat ini sudah terkepung, jangan kau harap akan dapat lari.”

“Bukankah kau bilang mereka bermaksud merangkul dirimu, mengapa sekarang dia bilang hendak menangkapmu?” tanya Jit-jit.

Ji Yok-gi menghela napas, “Soalnya dia tahu rahasianya telah kuketahui, maka ingin membunuhku untuk menghilangkan saksi.”

“Jangan khawatir, Sim Long berada di sini, siapa pun tak bisa membunuhmu,” ujar si nona.

“Mati-hidupku tidak menjadi soal, aku cuma menyesal belum sempat kuceritakan rahasia itu…”

Belum lanjut ucapannya, “serr”, mendadak jalur api menyambar masuk menerobos jendela dan menancap di dinding. Kiranya sebatang panah berapi.

Sekali pukul dari jauh Sim Long memadamkan api itu.

Segera terdengar lagi suara orang di luar, “Ji Yok-gi, sudah selesai kubicara, tidak lekas kau keluar…”

“Keluar juga boleh, kenapa takut?” bentak Jit-jit dan segera hendak mendahului menerjang keluar.

Tapi mendadak ia ditarik orang dan jatuh di tempat tidur. Sedangkan Sim Long lantas melompat keluar.

Di bawah pantulan cahaya salju dalam kekelaman malam tertampak di pelataran berdiri sekian banyak bayangan orang, sedikitnya ada beberapa puluh jumlahnya.

Sekilas pandang saja Sim Long menduga rahasia yang hendak dibongkar Ji Yok-gi pasti bukan urusan sepele, kalau tidak pihak Kay-pang takkan mengerahkan anak buah sebanyak ini.

Baru saja Sim Long melompat keluar, segera di tengah gerombolan orang itu menyala dua batang obor.

Di bawah cahaya obor tertampak orang-orang ini memang berambut semrawut dan berbaju rombeng serta kaki telanjang, masing-masing juga menyandang karung goni, jelas kebanyakan adalah murid Kay-pang tingkat tinggi.

Di depan berdiri seorang pengemis tua berwajah merah, rambut pada kedua pelipisnya sudah memutih, jenggotnya juga putih dan bergoyang tertiup angin.

Advertisements

1 Comment »

  1. Di mana saya bisa melanjutkan BAB 17 ?.
    Terima kasih atas suguhan ceritanya, terima kasih.
    Izzat

    Comment by izzat — 10/09/2009 @ 1:59 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: