Kumpulan Cerita Silat

06/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (06)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:52 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

6. Han Tang

Bila Sun Jian sempat bertanya kepada Lu Xiang Chuan, ia pasti akan menyelidiki pemuda itu. Jika tidak berhasil, ia tidak akan puas begitu saja dan akan terus mencari hingga menemukan jawaban.

Lu Xiang Chuan sebenarnya tidak seperti perempuan, tapi ia seorang yang teliti, sedemikian teliti dan hati-hatinya sehingga melebihi perempuan.

Lu Xiang Chuan dan Sun Jian memiliki sifat yang bertolak belakang, wajah mereka pun berbeda.

Sun Jian berwajah gagah, beralis tebal, bermata besar, berkulit coklat terbakar matahari. Saat ia memelototi dirimu maka kau tidak akan bisa mengalihkan pandanganmu kepada orang lain dan tidak akan punya kekuatan untuk memandang yang lain.

Lu Xiang Chuan berwajah pucat, terlihat sangat terpelajar, terkadang musuh meremehkannya, menganggap ia tidak bisa apa-apa. Dan ini merupakan kesalahan sederhana yang bisa berakibat fatal.

Lu Xiang Chuan adalah tangan kanan Sun Yu Bo. Ia pesilat tangguh yang tidak memerlukan pedang, golok, pisau, atau parang, karena ia menggunakan senjata rahasia. Seseorang yang di balik tubuhnya penuh dengan senjata rahasia tentu tidak memerlukan senjata lain.

Senjata rahasianya sangat menakutkan, mungkin di dunia ini tidak ada yang bisa menandinginya. Ia bisa mengeluarkan senjata rahasinya kapan pun ia mau.

—–

Sun Yu Bo melihat labu dan anggur di dalam keranjang. Ia tahu Zhang Lao Tou sudah datang.

Dalam setahun Zhang Lao Tou rajin bekerja, jarang memiliki waktu luang, jarang menikmati hidup. Hanya saat berkunjung ke tempat Lao Bo ia bisa bersenang-senang, menikmati makanan dan hiburan yang tidak pernah ia nikmati di tempat lain.

Karena itu setiap kali Zhang Lao Tou datang pasti terlihat riang. Tapi kali ini ia datang dengan air mata bercucuran.

Dengan kasih sayang Lao Bo membawa Zhang Lao Tou ke perpustakaan, memberinya secangkir arak dan pipa rokok agar Zhang Lao Tou bisa lebih tenang.

Ruang itu hening dan kedap suara dengan privasi tinggi, siapa pun yang bercakap di dalamnya tidak akan terdengar orang lain.

Akhirnya Zhang Lao Tou menceritakan kemalangan putrinya yang diperkosa Jian bersaudara. Setelah mendengar cerita itu Lao Bo marah hingga wajahnya kehijauan.

Walau Sun Yu Bo tidak menjanjikan apa pun, tapi Zhang Lao Tou tahu ia pasti akan menyelesaikan masalah dan menghukum dua binatang itu dengan adil.

Sewaktu Zhang Lao Tou meninggalkan perpustakaan, hatinya tenang dan sangat berterima kasih.

Demikian pula halnya dengan Fang You Ping yang menceritakan hubungan istrinya dengan Mao Wei, juga Wu Lao Dou yang mengadukan nasib anaknya, Xiao Wu.

Kemudian ada pula beberapa tetamu yang meminjam uang dan permasalahan lain. Mereka pulang dengan puas.

Siapa pun yang meminta keadilan pada Lao Bo pasti tidak akan kecewa.

—–

Setelah para tetamu yang berkeluh kesah pergi, Lao Bo memangil Lu Xiang Chuan.

Lu Xiang Chuan tahu Sun Yu Bo akan memberi tugas padanya. Perintan Sun Yu Bo biasanya sangat sederhana.

Lao Bo mengusulkan agar dalam tiga hari sudah ada yang mendatangi rumah Qu Xing Song guna mencari Jiang bersaudara dan memberi pelajaran pada keduanya. Tidak usah sampai mencabut nyawa, tapi cukup agar mereka terkapar selama tiga bulan.

Lu Xiang Chuan setelah berpikir lalu berkata, “Bagaimana kalau menugaskan Wei Hu dan Wei Bao? Mereka sangat berpengalaman mengurus hal ini.”

Sun Yu Bo mengangguk. Kemudian ia beralih pada kasus Fang You Ping. Setelah menjelaskan permasalahannya, Lao Bo berkata, “Mao Wei harus dihadapi langsung oleh Sun Jian.”

Lu Xiang Chuan tertawa, ia sudah mengetahui maksud Lao Bo. Jika ia menyuruh putranya menghadapi seseorang, berarti kiamat bagi orang itu.

Sun Yu Bo berlanjut pada permasalahan Xiao Wu. “Sebaiknya yang menyelesaikan masalah ini kau sendiri. Wan Peng Wang orang yang sangat menyusahkan, kuharap kau pulang membawa anak gadis bernama Dai Dai itu.”

Lao Bo hanya memerintah, tidak menjelaskan. Ia menyuruhmu melaksanakan perintahnya dan tidak boleh gagal. Bagaimana kau melakukan dan dengan cara apa menyelesaikannya itulah urusanmu sendiri.

Lu Xiang Chuan tahu tugas ini sangat sulit, namun wajahnya tidak menampakkan kesusahan. Semua orang tahu, demi Lao Bo, Lu Xiang Chuan mau melakukan apa pun. Lao Bo memberi tugas yang paling sulit padanya, artinya Lao Bo mempercayainya.

Memikirkan hal ini Lu Xiang Chuan tersenyum sendiri.

Lao Bo seperti bisa membaca isi hatinya, ia menepuk pundak Lu Xiang Chuan. “Kau anak baik, kuharap kau adalah anak lelakiku sendiri.”

Lu Xiang Chuan menahan gejolak hatinya.

Setelah pembagian tugas selesai, akhirnya Lu Xiang Chuan berkata, “Han Tang sudah datang, ia sudah lama menunggu di luar. Ia ingin berpamitan pada Tuan.”

Mendengar nama Han Tang wajah Lao Bo seketika membeku. “Seharusnya ia jangan datang.”

Lu Xiang Chuan tidak berkata apa-apa karena ia tidak tahu Han Tang orang macam apa. Lu Xiang Chuan jarang bertemu Han Tang, namun kala bertemu ia hanya bisa bergidik ngeri. Mengapa bisa begitu, Lu Xiang Chuan sendiri tidak memahami.

Han Tang tidak galak tapi sopan, matanya selalu memancar dingin. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Ia sendiri tidak mau dekat dengan orang lain. Bila ada yang mendekatinya, ia segera menjauh.

Di depan Lao Bo pun Han Tang jarang membuka mulut. Sepertinya, ia hanya menggunakan isyarat untuk mengutarakan maksudnya.

Lu Xiang Chuan melihat di antara Han Tang dan Lao Bo seperti tidak ada persahabatan, hanya rasa hormat.

Akhirnya Lao Bo menghela nafas. “Jika ia sudah datang, persilahkan masuk.”

Begitu Han Tang memasuki perpustakaan, ia langsung berlutut, mencium kaki Lao Bo.

Kelakuan ini sungguh berlebihan, membuat orang tertawa. Namun bila yang melakukan Han Tang, tidak seorang pun yang tertawa. Walau ia melakukan sesuatu yang lucu, orang tidak akan tertawa. Karena ia adalah Han Tang. Dan Han Tang selalu mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Kesungguhannya membuat orang ikut terpengaruh, malah terkadang takut.

Sun Yu Bo menerima penghormatan itu tanpa basa-basi. Hal ini jarang terjadi. Selamanya Lao Bo tidak mau ada yang berlutut untuknya. Lu Xiang Chuan tidak mengerti mengapa Han Tang merupakan pengecualian.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lao Bo.

“Ya.” jawab Han Tang.

“Apa sudah punya kekasih?” tanya Lao Bo lagi.

“Belum.”

“Kau harus mencari perempuan.”

“Aku tidak percaya perempuan.”

Lao Bo tergelak. “Terlalu percaya perempuan tidak baik, tidak percaya perempuan pun tidak baik. Perempuan bisa menyenangkan lelaki.”

“Perempuan juga bisa membuat lelaki gila,” jawab Han Tang.

“Kau sudah melihat si cantik Xiao Fang?”

“Ia tidak melihatku.”

Lao Bo mengangguk seperti menyetujui pernyataan itu.

Han Tang tiba-tiba berkata, “Walau melihatku, ia pasti tidak mengenaliku.”

Setelah menyatakan itu matanya yang dingin sedikit terlihat ekspresi, seperti menertawakan sesuatu. Lu Xiang Chuan tidak pernah melihat ekspresi itu di mata orang lain.

“Kau boleh pergi,” kata Lao Bo, “tahun depan tidak perlu kemari. Aku sudah mengerti isi hatimu.”

Han Tang menunduk, setelah lama baru berkata, “Tahun depan aku tetap akan datang. Tiap tahun aku hanya keluar sekali.”

Di dalam hati Lao Bo merasa kasihan padanya, tapi ia tidak menunjukkan itu. Hanya Lao Bo yang mengerti kesulitan Han Tang. Namun Lao Bo tidak mau membantunya, ia juga tidak dapat membantunya. Karena itukah Lao Bo enggan bertemu Han Tang?

Han Tang sudah membalik tubuh, siap beranjak keluar ruangan.

Lu Xiang Chuan tidak tahan berseru penuh simpati, “Kamarku kosong, tidak ada orang lain, bila kau mau, bisa tinggal sehari dua hari buat mengobrol denganku.”

Han Tang menggeleng kepala, langsung keluar.

Lu Xiang Chuan tiba-tiba merasa Lao Bo menatap tidak senang padanya.

Setelah Han Tang berlalu, Lao Bo baru bertanya, “Kau kasihan padanya?”

Lu Xiang Chuan menunduk kepala, menganguk.

“Bila kau merasa kasihan pada orang, itulah suatu kebaikan. Tapi, jangan kau merasa kasihan padanya.”

Lu Xiang Chuan ingin bertanya tapi tidak berani.

Akhirnya Lao Bo sendiri yang menjelaskan, “Bila kau kasihan padanya, dia bisa gila.”

Lu Xiang Chuan tidak mengerti.

Lao Bo menarik nafas. “Sebenarnya dari dulu dia sudah gila dan sebenarnya dia sudah mati. Tapi sekarang dia masih bertahan hidup karena dia merasa semua orang tidak ada yang baik padanya. Karena itu, jangan berbaik padanya!”

Lu Xiang Chuan tetap tidak mengerti, akhirnya bertanya, “Sebenarnya dia macam apa? Apa pula yang sudah dia lakukan?”

Wajah Lao Bo terlihat gusar. “Kau tidak perlu tahu dia macam apa! Banyak hal yang tidak perlu kau ketahui!”

Lu Xiang Chuan menunduk dan berkata, “Ya.”

Lao Bo akhirnya menarik nafas. “Biarlah kuberitahu sedikit. Dia sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang, juga tidak akan ada orang lagi yang akan melakukannya.”

Memangnya apa yang sudah dilakukan Han Tang?

Lu Xiang Chuan masih menunduk kepala. Saat ia keluar ruangan, tiba-tiba terjadi keributan besar.

Banyak orang berteriak.

—–

Yang membuat heboh ternyata Tie Cheng Gang. Ia terlihat sangat menakutkan.

Sekujur tubuhnya penuh luka, rambutnya habis terbakar, wajahnya hangus hingga berubah bentuk, matanya merah seperti darah, bibirnya kering dan pecah seperti padang tandus.

Ia menerobos masuk layaknya binatang liar yang dikejar pemburu. Dari tenggorokannya keluar suara terengah dan berteriak. Hampir tidak ada yang bisa menangkapnya, padahal yang ia teriakkan hanya satu nama: Lao Bo.

Ketika itu Sun Jian sedang mengobrol dengan seorang perempuan. Ia tidak tahu siapa perempuan itu, yang pasti perempuan itu bukan istri orang dan bukan perempuan baik-baik. Saat itulah ia melihat Tie Cheng Gang.

Ia sudah lama mengenal Tie Cheng Gang, namun sekarang ia hampir tidak mengenalinya. Sun Jian mendekati Tie Cheng Gang kemudian memapahnya ke dalam.

“Kenapa kau seperti ini?” tanya Sun Jian sambil mengayun tangan meminta arak. Setelah arak datang ia meminumkannya pada Tie Cheng Gang.

Sekarang Tie Cheng Gang sedikit tenang, namun masih belum bisa bicara. Sorot matanya sangat ketakutan.

“Tidak perlu takut,” kata Sun Jian, “Bila sudah di sini, kau tidak perlu takut. Tidak akan ada yang berani melukaimu lagi!”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar orang berkata, “Kalimat terahir itu tidak boleh diucapkan!”

Yang bicara adalah Yi Qiang. Ternyata Huang Shan San You sudah mengejar Tie Cheng Gang hingga ke sini.

“Kenapa tidak boleh?” tanya Sun Jian.

“Mungkin kau belum tahu, ia seorang pembunuh. Yang dibunuh adalah pamannya sendiri,” kata Yi Qiang.

“Aku hanya tahu ia adalah temanku,” kata Sun Jian gusar, “Sekarang ia terluka dan kutahu ia percaya padaku, karenanya datang ke sini. Tiada seorang pun yang bisa membawanya dari sini.”

Yi Qiang marah. “Suruh ayahmu ke luar, kami ingin bicara dengannya.”

Urat dahi Sun Jian seketika menonjol. “Omongan ayah akan sama denganku. Siapa pun tidak ada yang bisa membawanya dari sini!”

“Kau sangat lancang! Ayahmu pun tidak berani sembarangan dengan kami!”

Tiba-tiba terdengar jawaban, “Kau salah! Ia lancang karena itulah sifat turunan. Bahkan ayahnya lebih lancang lagi!”

Kata-kata itu terdengar sangat tenang, berwibawa.

Yi Qiang bertanya, “Bagaimana kau tahu…”

“Aku pasti tahu, karena aku ayahnya.”

Yi Qiang melengak. Ia hanya pernah mendengar nama Lao Bo, tapi belum pernah bertemu dengannya.

Yi Yun ikut bicara, “Mungkin Tuan Sun tidak mengenal kami, maka bicara begitu.”

“Andai pun kukenal kalian,” kata Sun Yu Bo, “perkataanku sama saja!”

Yi Qiang marah sekali. “Sudah lama kudengar bahwa Sun Yu Bo orang yang sangat adil, kenapa hari ini melindungi seorang pembunuh?”

“Seandainya ia pembunuh pun kita harus menunggu lukanya sembuh, baru bertanya,” kata Sun Yu Bo, “Apalagi, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa ia pembunuh.”

“Kami melihat dengan mata kepala sendiri, apa itu tidak cukup?” tanya Yi Yun.

Sun Yu Bo menanggapi, “Kalian melihat sendiri, tapi aku tidak melihatnya. Aku hanya tahu bila ia seorang pembunuh, ia tidak akan berani menemuiku.”

Memang tidak ada yang berani menipu Lao Bo. Jika ada yang berani tidak jujur pada Lao Bo, sama dengan mencari kubur sendiri.

Yi Yun berteriak, “Apakah kata-kata Huang Shan San You kau tidak percaya?”

“Huang Shan San You manusia, Tie Cheng Gang juga manusia. Semua orang punya hak bicara. Sekarang aku mau dengar apa yang ingin ia katakan.”

Sekuat tenaga Tie Cheng Gang berteriak, “Mereka adalah pembunuh, aku punya buktinya. Mereka tahu aku memiliki bukti itu, karenanya mereka ingin melenyapkanku.”

“Mana buktinya?” tanya Sun Yu Bo.

Tie Cheng Gang dengan payah berusaha duduk, dari pakaiannya ia keluarkan sepasang tangan yang sudah kering.

Melihat sepasang tangan itu wajah Huang Shan San You berubah. Yi Shi berteriak, “Pembunuh ini harus mati, tidak perlu banyak bicara lagi, bunuh dia!”

Pedangnya lebih cepat daripada suaranya, secepat kilat menusuk tenggorokan Sun Yu Bo. Pedang Yi Qiang dan Yi Yun pun tidak kalah cepat, yang mereka arah adalah Tie Cheng Gang dan Sun Jian.

Lao Bo tidak bergerak. Jari-jarinya pun tidak bergerak. Semua orang merasa marah dan berlari ke arah Sun Yu Bo untuk melindungi.

Saat pedang Yi Shi baru menusuk, ia sudah terjatuh dan tersungkur. Tangannya yang memegang pedang sudah penuh dengan paku.

Paku-paku itu senjata rahasia.

Yi Shi tidak melihat senjata rahasia itu datang dari mana. Ia hanya melihat seorang pemuda terpelajar berdiri di belakang Sun Yu Bo mengayun lengan perlahan. Tiba-tiba, senjata rahasia telah menusuk tangannya.

Rasa sakit tidak ia rasakan karena tiba-tiba mati rasa.

Di sat itu Sun Jian mengamuk seperti singa, ia menerkam Yi Qiang. Ia tidak perduli kalau Yi Qiang masih memegang pedang yang bisa mencabut nyawanya.

Bila ia sedang marah, walau ada bahaya di depan mata, ia tetap akan menerjang musuhnya.

Yi Qiang tidak pernah berpikir di dunia ini ada orang semacam ini. Saat ia terkejut, pedangnya sudah dicengkram sebuah tangan. Itulah sebuah tangan yang hidup. Hanya terdengar suara ‘krek!’ Dan pedang yang terbuat dari baja murni itu putus menjadi dua.

Dari tangan Sun Jian mengalir darah merah.

Bagi Sun Jian, darah yang tumpah tidak menakutkannya. Baginya, asalkan bisa mengalahkan lawan, apa pun ia tidak perduli

Yin Yun yang berada di sisi Yi Qiang turut terkejut, gerakannya sedikit melambat.

Di saat itulah datang berkelebat seseorang memasuki arena pertempuran. Begitu cepat, tidak ada yang bisa melihat, yang terlihat hanyalah lelaki itu mengenakan jubah kelabu.

Walau tidak jelas sosoknya, setiap orang jelas mendengar ucapannya, “Siapa yang tidak hormat pada Lao Bo harus mati!”

Mengucapkan kata-kata itu tidak membutuhkan waktu yang panjang. Begitu selesai ucapannya, Huang Shan San You sudah menjadi tiga mayat.

Ketiga biksu itu dalam waktu bersamaan sudah putus nyawa.

—–

Tidak ada yang bisa melihat jelas kejadian tadi. Namun jika diputar dalam adegan lamban kurang lebih terlihat begini:

Ketika lelaki berjubah kelabu itu menerjang, belati yang dipegang di tangan kirinya sudah menusuk ketiak Yi Qiang. Begitu berhasil menusuk, tangannya melepaskan belati.

Segera terdengar suara kepalan tangan memukul hidung Yi Shi, tangan kanannya pun mencekal ikat pinggang Yi Yun.

Yi Yun sangat terkejut dan mengayunkan pedangnya. Pedang belum sempat diayunkan, namun orangnya sudah terlempar. Kepalanya remuk membentur batu.

Semua orang bisa mendengar suara tengkorak yang retak.

Sewaktu tangan kanannya melempar Yi Yun, ia segera melumuri wajahnya dengan tangan kiri yang telah bersimbah darah Yi Shi, hingga orang sulit mengenalinya.

Sebenarnya ia tidak perlu melakukan itu, karena semua orang dalam keadaan terkejut, tidak sempat memperhatikan wajahnya.

Yang datang ke tempat itu tokoh-tokoh dunia persilatan. Namun mereka tetap terkejut dengan tindakan tadi.

Membunuh dua hingga tiga orang bagi kaum persilatan bukan hal yang aneh, yang menakutkan justeru cara lelaki jubah kelabu itu membunuhnya. Cepat. Tepat. Kejam. Sangat telengas.

Tidak seorang pun yang pernah melihat cara membunuh secepat, setepat, sekejam, dan setelengas itu.

Sebelum kejut orang-orang hilang, lelaki jubah kelabu sudah pergi entah kemana.

—–

Sepasang tangan kering dan keriput akhirnya dengan paksa berhasil direntang. Itulah sepasang tangan yang dibawa Tie Cheng Gang.

Barang yang digengam erat ternyata separuh pita kuning serta secarik kain biru yang terdapat kancing berwarna kuning.

Pita pedang itu dengan pita pedang Huang Shan San You sama. Perca kain dengan pakaian mereka pun sama.

Namun bukti itu tidak penting. Pokoknya, mereka sudah tidak sopan kepada Lao Bo. Karenanya, Huang Shan San You harus mati!

Kata-kata itu pasti disetujui semua orang. Kata-kata itu pun tidak akan dilupakan semua orang, termasuk Meng Xing Hun.

Ketika Huang Shan San You tewas, Meng Xing Hun sudah meninggalkan taman crysan itu.

Ia tidak perlu ada di sana lagi karena sudah cukup melihat dan mendengar. Ia pun sekarang cukup tahu kekuatan Lao Bo: seorang putra, seorang tangan kanan, lelaki jubah kelabu, dan entah apa lagi?

Profesinya adalah pembunuh. Tugasnya membunuh orang. Langkah pertama yang harus dilakukan seorang pembunuh bayaran adalah mengetahui kekuatan target sasarannya.

Itulah yang terpenting, hal lain bisa menunggu lain hari. Ia tidak tergesa.

Batas waktu yang diberikan Kakak Gao masih 113 hari lagi.

—–

Sun Jian paling benci pada orang yang kerjanya tidak tegas, pun ia tidak suka mengulur-ulur waktu.

Dalam mengerjakan segala sesuatu, ia lebih menyukai cara langsung, tepat menuju sasaran, dan tidak mau dihalangi sebelum mencapai tujuan.

Ketika Lao Bo menyuruhnya mencari Mao Wei, tanpa banyak kata ia langsung menuju rumah Mao Wei.

Mao Wei sedang duduk di ruang tamu, minum-minum ditemani anak-anak buahnya.

Ketika itulah penjaga pintu menghantarkan kertas putih yang bertuliskan dua huruf sangat besar: Sun Jian.

Mao Wei mengerut alis. “Siapa pernah dengar nama ini?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: