Kumpulan Cerita Silat

05/01/2009

Pisau Terbang Li (65)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:11 am

Manipulasi

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Tanya Ah Fei, “Penyelamat?”

Jawab Lin Xian Er, “Lu Feng Xian telah……memaksaku, menyiksaku. Aku ingin mati, tapi tidak dapat. Jika bukan karena dia, aku tidak tahu apa yang…” Air matapun membasahi wajahnya.

Ah Fei sungguh terkejut.

Lin Xian Er masih terisak-isak waktu berkata, “Aku berharap kau dapat membalas kebaikannya, tapi sekarang kau malah…”

Tiba-tiba ShangGuan JinHong menyela, “Membunuh seseorang juga bisa menjadi salah satu cara untuk membalas budi.”

Lin Xian Er menoleh dan bertanya, “Kau….kau ingin dia membunuh seseorang untukmu?”

Jawab ShangGuan JinHong, “Karena ia berhutang satu nyawa padaku, mengapa tidak membiarkannya membalas dengan satu nyawa lain?”

Kata Lin Xian Er, “Tapi akulah yang kau selamatkan, bukan dia.”

“Hutangmu adalah hutangnya. Benar kan?” tanya ShangGuan JinHong pada Ah Fei.

Lin Xian Er memandang wajah Ah Fei.

Ah Fei mengertakkan giginya dan menjawab, “Aku akan membayar lunas hutangnya!”

Tanya ShangGuan JinHong, “Pernahkah kau berhutang?”

Jawab Ah Fei tegas, “Tidak pernah!”

ShangGuan JinHong tersenyum kecil, “Dengan nyawa siapa kau akan membayarnya?”

Jawab Ah Fei, “Siapa saja yang kau inginkan, kecuali satu orang.”

“Satu orang siapa?”

“Li Xun Huan.”

ShangGuan JinHong tersenyum mengejek, “Apakah kau takut padanya?”

Mata Ah Fei penuh dengan kesedihan saat menjawab, “Aku tidak akan membunuhnya, karena aku berhutang padanya lebih banyak lagi.”

ShangGuan JinHong tertawa, katanya, “Baik. Kalau kau mengingat hutangmu padanya, kaupun akan mengingat hutangmu padaku.”

Tanya Ah Fei datar, “Nyawa siapa yang kau inginkan?”

Perlahan-lahan ShangGuan JinHong memutar badannya dan berkata, “Ikut aku.”

Hari mulai gelap. Ah Fei tidak menggandeng tangan Lin Xian Er karena ia merasakan kegalauan dalam hatinya. Hanya saja ia tidak tahu apa yang mengganggu perasaannya.

ShangGuan JinHong yang berjalan di depan tidak pernah menoleh.

Namun, entah bagaimana Ah Fei merasa bahwa ShangGuan JinHong sedang mengawasinya sepanjang waktu. Ia merasakan tekanan yang begitu kuat mengganduli hatinya.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin berat tekanan itu.

Bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam. Padang luas itu bagaikan kehampaan yang tidak terbatas. Suara anginpun tidak terdengar lagi.

Tidak ada secuilpun suara yang terdengar. Bahkan serangg yang biasanya berdengung dengan giat di malam musim gugur pun tidak bersuara.

Seakan-akan satu-satunya suara di alam semesta ini adalah suara langkah kaki mereka.

Ah Fei baru menyadari bahwa langkahnya yang biasanya tidak terdengar kini bersuara. Terlebih lagi, suaranya seirama dengan suara langkah ShangGuan JinHong. Satu setelah yang lain, membuat langkah-langkah mereka melebur menjadi suatu ritme yang aneh.

Seekor jangkrik yang baru saja melompat dari rumput kering dekat situ seakan-akan ketakutan mendengar ritme langkah mereka, dan melompat balik ke dalam rerumputan itu. Bahkan derap langkah mereka mengandung hawa membunuh.

Apa yang menyebabkannya?

Ah Fei tidak pernah bersuara saat berjalan. Tapi mengapa tiba-tiba kakinya terasa amat berat?

Apa penyebabnya?

Ah Fei memandang ke bawah dan baru tahu apa sebabnya. Langkahnya tepat jatuh di antara dua langkah ShangGuan JinHong.

Waktu ia melangkah, ShangGuan JinHong akan melangkah yang kedua. Waktu ia melangkah ketiga, ShangGuan JinHong akan melangkah yang keempat. Tiap langkah sangat teratur dan tanpa cela.

Jika ia mempercepat langkahnya, ShangGuan JinHong pun akan mempercepat langkahnya. Jika ia memperlambat, ShangGuan JinHong pun akan memperlambat.

Dari semula, ShangGuan JinHonglah yang mengkoordinasi langkah mereka.

Namun kini, ia baru menyadari bahwa waktu ShangGuan JinHong mempercepat langkahnya, secara otomatis kaki Ah Fei pun akan mempercepat langkahnya juga. Waktu ShangGuan JinHong memperlambat langkahnya, kaki Ah Fei akan memperlambat langkahnya.

Seolah-olah ShangGuan JinHong mengendalikan gerakan kakinya dan ia tidak mampu melepaskan diri dari kendalinya!

Ah Fei mulai berkeringat dingin.

Namun entah mengapa, ia merasa bahwa berjalan seperti ini terasa menenangkan. Ia merasa tiap inci otot-ototnya menjadi rileks.

Seakan-akan seluruh jiwa dan raganya terhipnotis oleh ritme langkah ini.

Derap langkah ini dapat menggetarkan sukma manusia.

Lama-kelamaan, Lin Xian Er pun merasakannya. Matanya yang indah itu menjadi awas dan waspada, memancarkan kekejaman.

Ah Fei adalah miliknya.

Hanya dia yang boleh mengendalikan Ah Fei.

Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun merampas Ah Fei dari genggamannya!

Matahari sudah mulai condong ke barat. Malam akan segera tiba. Bintang-bintang akan segera menghiasi langit malam….

—–

Jin Wu Ming masih berdiri di situ. Masih berdiri di tempat yang sama tempat jejaknya yang terakhir.

Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Pandangan matanya pun tidak berganti. Namun bayangan ShangGuan JinHong yang tadi nampak di atas tanah sudah menghilang untuk selamanya.

Tapi kini, sosok ShangGuan JinHong tiba-tiba muncul kembali.

Mula-mula Jin Wu Ming melihat pucuk topi bambunya, lalu jubah kuningnya, lalu pedangnya yang berkilauan diterpa cahaya bulan.

Lalu ia melihat Ah Fei.

Jika seseorang melihat mereka sepintas saja dari kejauhan, pasti mereka mengira Jin Wu Minglah yang berjalan bersama ShangGuan JinHong, karena irama langkah mereka begitu unik dan serasi.

Siapa sangka kini Ah Fei telah mengambil posisi Jin Wu Ming?

Mata Jin Wu Ming kelihatan lebih gelap daripada abu. Sangat gelap, sampai cahaya bulan dan bintang-bintangpun kelihatan redup. Kegelapan yang dapat menyedot fajar yang akan tiba menjadi suatu kehampaan, kesia-siaan hidup; yang membuat ‘kematian’ pun menjadi tidak berarti apa-apa.

Kehampaan total.

Ekspresi wajahnya lebih kosong lagi daripada sorot matanya.

ShangGuan JinHong berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di hadapannya.

Langkah Ah Fei pun berhenti.

Tatapan ShangGuan JinHong terfokus pada sesuatu di kejauhan. Tidak sedikitpun ia melirik Jin Wu Ming. Tiba-tiba tangannya terulur ke arah pinggang Jin Wu Ming dan diambilnya pedang Jin Wu Ming.

Katanya dingin, “Kau tidak akan bisa lagi menggunakan pedang ini.”

“Ya,” jawab Jin Wu Ming pendek.

Suaranya pun mengandung kehampaan. Bahkan dirinya sendiri pun tidak yakin bahwa perkataan itu keluar dari mulutnya.

ShangGuan Jin Hong masih memegang pedang baja biru itu di antara jemarinya. Ia menyerahkan gagang pedang itu pada Jin Wu Ming. Katanya, “Pedang ini untukmu.”

Perlahan-lahan tangan Jin Wu Ming terulur untuk menerimanya.

Kata ShangGuan JinHong lagi, “Pedang apapun sekarang tidak ada bedanya bagimu.”

Walaupun ia begitu dekat dengan Jin Wu Ming, tidak sekalipun Jin Wu Ming dipandangnya.

Ah Fei pun berada dekat situ dan ia pun tidak memandang Jin Wu Ming sama sekali.

Lin Xian Er tersenyum nakal padanya dan berkata, “Apakah matipun jadi begitu sulit?”

Segumpal awan melayang menutupi langit.

Tiba-tiba suara guntur menggelegar memecahkan kesunyian dan hujan pun turun.

Jin Wu Ming tetap tidak bergerak, dan berdiri mematung dalam hujan.

Kini badannya sudah basah kuyup. Titik-titik air mengumpul di sudut matanya. Apakah itu air hujan? Atau air mata?

Namun bagaimana mungkin Jin Wu Ming bisa meneteskan air mata?

Orang yang tidak pernah mengucurkan air mata, biasanya hanya mengucurkan darah!

Pedang itu. Setipis kertas dan setajam belati.

Cahaya pelita tampak tenang. Terlihat kilatan pedang. Kilatan biru.

—–

Jendela itu tertutup rapat. Hujan begitu lebat di luar. Hawa dalam rumah sangat sejuk.

Di bawah cahaya pelita yang tenang Ah Fei dapat meneliti pedang itu. Matanya terpaku sangat lama pada pedang itu.

ShangGuan JinHong menatapnya lekat-lekat dan bertanya, “Apa pendapatmu tentang pedang ini?”

“Bagus. Sangat bagus.”

“Dibandingkan dengan yang biasanya kau gunakan?”

“Terasa lebih ringan.”

Tiba-tiba ShangGuan JinHong merebut pedang itu dengan dua jarinya dan membengkokkan ujungnya, sampai menyentuh badan pedang, sehingga membentuk lingkaran. Terdengar bunyi ‘Wung’ yang keras.

Suaranya seperti naga mengaum.

Mata Ah Fei yang dingin menjadi tertarik.

ShangGuan tersenyum dan bertanya, “Dalam hal ini, bagaimana jika dibandingkan dengan pedangmu?”

“Pedangku akan patah jika dibengkokkan seperti itu.”

Lalu ShangGuan JinHong melepaskan jarinya dan pedang itu pun melesat kembali.

Cawan teh yang berada di atas meja terbelah menjadi dua, seakan-akan terbuat dari kayu yang sudah lapuk.

Ah Fei tidak dapat menahan rasa kagumnya dan berseru, “Pedang yang luar biasa!”

ShangGuan JinHong menjelaskan, “Memang pedang yang sangat baik. Sangat ringan dan tidak tumpul. Sangat ringan tapi tidak ringkih. Kuat dan sangat fleksibel. Walaupun terlihat biasa dan tidak menarik, pedang ini adalah karya agung seorang ahli pembuat pedang nomor satu di dunia, Tuan Gu. Dan lagi, pedang ini khusus dibuat untuk mengakomodasi gaya permainan pedang Jin Wu Ming.”

Sambung ShangGuan JinHong sambil tertawa, “Memang pedang ini sangat mirip dengan Jin Wu Ming, bukan?”

Sahut Ah Fei, “Sangat mirip.”

Kata ShangGuan JinHong, “Walaupun serangan Jin Wu Ming sangat kejam dan mematikan, seranganmu lebih tepat dan akurat. Karena kau jauh lebih sabar dari dia. Mungkin pedang ini lebih cocok untukmu.”

Ah Fei terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Pedang ini bukan pedangku.”

Sahut ShangGuan JinHong, “Pedang tidak punya pemilik khusus. Siapa pun yang bisa, dapat menggunakannya.”

Ia meletakkan pedang itu ke samping Ah Fei dan dengan sorot mata sinis ia berkata, “Dan kini, pedang ini sudah menjadi milikmu.”

Kembali Ah Fei terdiam lama. Kata-kata yang keluar dari mulutnya masih sama, “Ini bukan pedangku.”

“Dengan pedang ini, pedang manapun juga bisa menjadi milikmu. Dengan pedang ini, kau dapat membunuh siapapun juga.”

Lalu dengan tersenyum ia menambahkan, “Bahkan kau dapat membunuhku.”

Kali ini Ah Fei diam saja.

Lanjut ShangGuan JinHong, “Kau berhutang padaku. Kau harus membunuh untukku. Maka aku memberikan senjatanya kepadamu. Cukup adil, bukan?”

Ah Fei mengulurkan tangannya dan mengambil pedang itu.

Kata ShangGuan JinHong, “Bagus! Bagus sekali! Dengan pedang ini, hutangmu dapat terbayar lunas besok.”

“Siapa yang kau ingin aku bunuh?”

“Jangan kuatir. Aku tidak akan menyuruhmu membunuh seorang sahabat….”

Sebelum kalimatnya selesai, ShangGuan JinHong sudah keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.

Mereka dapat mendengar suaranya di luar, “Kedua orang dalam kamar ini adalah tamu-tamuku. Sebelum tiba besok pagi, jangan biarkan siapapun mengganggu mereka.”

Kini hanya Ah Fei dan Lin Xian Er yang berada di kamar itu.

Lin Xian Er dari tadi hanya duduk tenang, tidak mengangkat kepalanya sama sekali.

Ketika ShangGuan JinHong masih berada di sana, ia pun tidak melirik sedikitpun pada Lin Xian Er.

Selama itu, ia pun tidak berbicara. Hanya sewaktu Ah Fei mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang itu, mulutnya tampak bergerak sedikit, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi.

Kini setelah tingga mereka berdua di sana, barulah ia bicara, “Apakah kau benar-benar akan membunuh untuk dia?”

Ah Fei mendesah, “Aku berhutang padanya, dan aku sudah berjanji padanya.”

“Tahukah kau siapa yang harus kau bunuh?”

“Ia belum bilang.”

“Apakah kau belum bisa menerka?”

Ah Fei balik bertanya, “Apakah kau sudah tahu?”

Sahut Lin Xian Er, “Jika tebakanku benar, orang itu adalah Long Xiao Yun.”

“Long Xiao Yun? Mengapa?”

Lin Xian Er tersenyum dan menjawab, “Karena Long Xiao Yun bermaksud untuk memanfaatkan dia. Tapi ia tidak akan membiarkan orang memanfaatkannya. Hanya dialah yang boleh memanfaatkan orang lain.”

“Long Xiao Yun seharusnya sudah dibunuh dari dulu.”

“Tapi sebaiknya kau tidak melakukannya.”

“Kenapa?”

Lin Xian Er tidak menjawab, malah balik bertanya, “Tahukah kau mengapa ShangGuan JinHong menyuruhmu membunuh Long Xiao Yun, dan tidak melakukannya sendiri?”

“Lebih mudah menyuruh orang lain daripada melakukannya sendiri.”

“Namun jika ShangGuan JinHong menginginkan kematian Long Xiao Yun, itu bukan hal yang sulit. Lagi pula, pesilat tangguh dalam Partai Uang Emas jumlahnya tidak sedikit. Jangankan seorang Long Xiao Yun, seratus atau seribu Long Xiao Yun pun tidak sulit dibasmi. Jika ShangGuan JinHong tidak ingin membunuhnya dengan tangannya sendiri, ia cukup mengucapkannya dan semua bawahannya siap melakukannya.”

Tanya Ah Fei, “Jadi tahukah kau maksud sesungguhnya?”

“Sudah pasti aku tahu….dua hari lagi adalah tanggal satu.”

“Ada apa dengan tanggal satu?”

Jawab Lin Xian Er, “Semua orang dalam dunia persilatan tahu bahwa pada tanggal satu, Long Xiao Yun dan ShangGuan JinHong akan mengangkat persaudaraan.”

Ah Fei tercengang, “Apakah mata ShangGuan JinHong sudah lamur?”

“Sudah tentu ia tidak ingin menjadi saudara angkat Long Xiao Yun. Namun ia pun tidak ingin orang menganggapnya sebagai orang yang tidak pegang janji. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan membunuh Long Xiao Yun.”

Lin Xian Er tersenyum sambil menambahkan, “Orang mati kan tidak bisa menjadi saudara angkat orang hidup.”

Ah Fei terdiam.

Kata Lin Xian Er lagi, “Tapi karena mereka sudah menyebarkan pemberitahuan bahwa mereka akan mengangkat persaudaraan, ShangGuan JinHong tidak dapat turun tangan padanya lagi. Ia pun tidak dapat menyuruh bawahannya untuk membereskannya. Maka ia harus menggunakan tanganmu.”

Tambahnya lagi sambil tersenyum lebar, “Lagi pula, kau memang orang yang paling cocok untuk membunuh Long Xiao Yun.”

Tanya Ah Fei, “Kenapa?”

“Karena kau sama sekali tidak terkait dengan Partai Uang Emas. Dan juga karena Li Xun Huan adalah sahabatmu. Semua orang tahu Long Xiao Yun pernah mengkhianati Li Xun Huan.”

Lin Xian Er menghela nafas panjang dan melanjutkan, “Oleh sebab itu, jika kau membunuh Long Xiao Yun, semua orang akan menyangka bahwa kau membunuhnya demi Li Xun Huan. Tidak ada yang akan tahu bahwa ini semua dirancang oleh ShangGuan JinHong.”

Kata Ah Fei dingin, “Walaupun bukan demi siapapun juga, aku tidak ingin membiarkan orang semacam itu hidup lebih lama di dunia ini.”

“Akan tetapi, setelah kau membunuh Long Xiao Yun, ShangGuan JinHong akan membunuhmu.”

Ah Fei terdiam.

Lanjut Lin Xian Er, “Ia akan membunuhmu bukan saja untuk menutup mulutmu, tapi ia akan membunuhmu supaya semua orang mengira bahwa ia melakukannya sebagai pembalasan kematian saudara angkatnya. Dan semua orang akan memuji perbuatannya.”

Mata Ah Fei beralih ke arah pedang di tangannya.

Kata Lin Xian Er, “Ilmu silat ShangGuan JinHong sangat dalam dan hebat, kau….kau tidak berpikir untuk…”

I tidak menyelesaikan perkataannya. Ia menghambur ke dalam pelukan Ah Fei dan berbisik perlahan, “Ia tidak ada di sini. Mari kita melarikan diri saja.”

“Melarikan diri?”

“Aku tahu bahwa kau tidak pernah melarikan diri dari apapun juga. Tapi kali ini, hanya sekali ini saja, bisakah kau melakukannya demi aku?”

“Tidak,” jawab Ah Fei datar.

“Tidak juga demi aku?” Suara Lin Xian Er menjadi sangat lembut, dan air mata mulai mengalir dari matanya.

Ia telah menggunakan senjatanya yang paling mematikan.

Ah Fei tidak memandangnya. Matanya memandang ke kejauhan. Ia menjawab perlahan, “Demi dirimulah, aku tidak dapat melakukannya.”

“Kenapa?”

“Demi dirimu, aku tidak akan menjadi pengecut dan ingkar janji.”

“Ta…tapi….”

Lin Xian Er meringkuk di dada Ah Fei dan menangis tersedu-sedu.

Katanya, “Aku tidak peduli apakah kau seorang pengecut atau pemberani. Kau adalah orang yang kucintai, dan aku hanya ingin kau tetap hidup dan berada di sisiku.”

Wajah Ah Fei yang tegang kembali melemah. Katanya dengan lembut, “Bukankah aku ada di sisimu sekarang?”

Lin Xian Er terus menangis, “Kadang-kadang aku tidak mengerti jalan pikiranmu.”

“Jalan pikiranku sangat sederhana, dan tidak akan pernah berubah.”

Memang semakin sederhana pikiran manusia, ia pun semakin teguh dan tidak mudah berubah.

Lin Xian Er menatapnya dengan air mata berlinang-linang, “Apakah prinsipmu tidak akan pernah berubah?”

“Tidak akan.”

Jawabannya pun sangat sederhana.

Lin Xian Er bangkit dan perlahan-lahan berjalan menuju ke jendela. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar di luar. Bahkan tidak terdengar suara dengung serangga ataupun kicau burung. Mahluk hidup apapun yang datang ke tempat ini tiba-tiba merasa bahwa hidup ini sungguh sia-sia.

Satu-satunya yang pati di tempat ini adalah rasa ‘kematian’. Berdiri atau duduk. Di luar atau di dalam. Perasaan itu terus membuntutimu.

Setelah sekian lama, akhirnya Lin Xian Er mendesah dan berkata, “Aku baru menyadari bahwa hubunganmu dengan Li Xun Huan sangat mirip dengan hubungan ShangGuan JinHong dengan Jin Wu Ming.”

“Hmm?”

“Tujuan hidup Jin Wu Ming adalah mengikuti perintah ShangGuan JinHong. Maka sudah tentu ShangGuan JinHong memperlakukannya dengan baik, sampai hari ini…”

Senyum pahit terbayang di wajahnya saat ia melanjutkan, “Kini, Jin Wu Ming tidak berguna lagi, sehingga ShangGuan JinHong mengusirnya begitu saja seperti seekor anjing liar. Kurasa, ia tidak pernah menyangka bahwa semua akan berakhir seperti ini.”

Kata Ah Fei, “Seharusnya ia sudah menyadari sejak lama.”

“Kalau ia sudah menyadarinya, apakah ia akan terus melakukannya?”

“Ia melakukannya karena tidak ada pilihan lain.”

Tanya Lin Xian Er tajam, “Lalu bagaimana dengan engkau?”

Ah Fei kembali terdiam.

Kata Lin Xian Er, “Li Xun Huan memperlakukanmu dengan baik karena kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membantunya. Tanpa dirimu, ia sebatang kara. Tapi jika kau sudah tidak berguna lagi baginya, tidakkah iapun akan memperlakukanmu sama seperti ShangGuan JinHong memperlakukan Jin Wu Ming?”

Tidak terdengar suara apapun sampai lama. Lalu Ah Fei tiba-tiba berkata, “Lihatlah ke sini.”

Ia berkata dengan perlahan namun tegas.

Ia tidak pernah bicara seperti ini terhadap Lin Xian Er sebelumnya.

Tangan Lin Xian Er yang masih memegang daun jendela mempererat pegangannya. Tanyanya, “Untuk apa?”

“Karena aku ingin menjelaskan dua hal kepadamu.”

“Aku dapat mendengar dengan baik dari sini.”

“Karena aku ingin kau melihat mataku. Ada perkataan yang harus kau dengarkan dengan telingamu dan kau lihat dengan matamu. Kalau tidak, kau tidak akan mengerti artinya.”

Ia mempererat pegangannya lagi, tapi akhirnya ia menolehkan wajahnya.

Setelah ia melihat sorot mata Ah Fei, ia langsung mengerti apa maksudnya.

Matanya sudah berubah menjadi sama seperti mata ShangGuan JinHong.

Jika sorot mata seseorang terlihat seperti ini, artinya apapun yang dikatakan orang itu harus didengarkan baik-baik dan dipatuhi dengan seksama.

Kalau tidak, kau pasti akan menyesal!

Pada saat itulah Lin Xian Er tahu bahwa ia salah.

Ia mengira bahwa Ah Fei sepenuhnya berada di dalam kendalinya, bahwa Ah Fei akan memenuhi semua permintaannya. Baru sekarang ia tahu bahwa ia salah sangka.

Ah Fei memang sangat mencintainya. Tergila-gila padanya.

Namun dalam hidup seorang laki-laki, ada yang lebih penting daripada ‘cinta’, bahkan lebih penting daripada hidup itu sendiri.

Ah Fei selalu mematuhi permintaannya, karena sebelum ini ia belum pernah menyinggung tentang hal ini.

Ia memang bisa meminta Ah Fei mati demi dirinya, tapi ia tidak dapat menepis persoalan ini begitu saja.

Tanya Lin Xian Er sambil memamerkan senyumannya yang termanis, “Apa yang hendak kau katakan? Aku mendengarkan.”

Walaupun senyuman itu memang manis, tapi terasa dipaksakan.

“Aku ingin kau memahami bahwa Li Xun Huan adalah sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghina dia…SIAPAPUN!”

Lin Xian Er menundukkan kepalanya, “Dan…”

Kata Ah Fei, “Apa yang kau katakan tadi….bukan hanya merendahkan diriku, tapi kau pun merendahkan Jin Wu Ming.”

“Hah?” Mata Lin Xian Er terbelalak.

“Ia pergi karena ia memang ingin pergi. Bukan karena seseorang mengusirnya pergi.”

Kata Lin Xian Er, “Tapi aku tidak merngerti….”

Potong Ah Fei cepat, “Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu mengingatnya.”

“Aku akan mengingat setiap perkataanmu. Tapi aku berharap kau tidak lupa bahwa kau pernah berkata….bahwa perasaanmu terhadap aku tidak pernah akan berubah,” kata Lin Xian Er sambil menundukkan kepalanya.

Ah Fei menatap mata Lin Xian Er. Menatap dan terus menatapnya.

Walaupun hatinya seperti gunung es, namun gunung es itu sedang mencair dengan sangat cepat.

Ah Fei berjalan perlahan ke arah Lin Xian Er. Tubuh Lin Xian Er seakan-akan memancarkan gaya magnet yang menarik Ah Fei terus mendekat. Seolah-olah Ah Fei tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Lin Xian Er meliuk menghindari pelukannya dan pura-pura enggan. Katanya, “Jangan hari ini….”

Tubuh Ah Fei langsung menegang.

Lin Xian Er cekikikan dan berkata, “Hari ini kau harus banyak istirahat dan tidur lebih awal. Aku akan berjaga di sampingmu.”

—–

ShangGuan berdiri tidak bergerak. Matanya tertuju ke arah pintu. Ia sedang menunggu.

Siapakah yang ditunggunya?

Penjaga di depan pintu telah undur karena ShangGuan JinHong telah memberi perintah, “Hari ini aku akan kedatangan tamu dan aku tidak ingin diganggu.”

Siapakah yang akan datang?

Mengapa ShangGuan JinHong sangat memperhatikan orang ini?

Setiap perbuatan ShangGuan JinHong pasti ada tujuannya. Kali ini, apa tujuannya?

—–

Hari bertambah malam. Suasana pun bertambah sunyi.

Mata Ah Fei terpejam. Suara nafasnya teratur. Seakan-akan ia tidur lelap.

Sebenarnya, ia masih terjaga. Betul-betul terjaga dan awas.

Biasanya ia tidak pernah susah tidur. Karena jika ia tidak betul-betul lelah, ia tidak akan pergi tidur. Dan di hari-hari sebelum itu, sekali kepalanya menyentuh bantal, ia pasti langsung terlelap.

Tapi sekarang, ia tidak bisa tidur.

Di sampingnya, Lin Xian Er sudah terlelap. Nafasnya pun terdengar sangat teratur.

Jika Ah Fei mau, ia tinggal membalikkan badannya dan memeluk tubuhnya yang hangat dan lembut.

Namun Ah Fei berusaha menahan hasratnya. Ia tidak memandangnya sedikitpun. Ia kuatir jika ia memandangnya sedikit saja, pertahanannya akan runtuh.

Lin Xian Er selalu mempercayainya sepenuh hati. Bagaimana mungkin ia mengkhianatinya?

Ah Fei dapat mencium keharuman nafas Lin Xian Er. Ia memusatkan konsentrasinya dan memusatkan pikirannya untuk mengendalikan hasratnya.

Bukan hal yang mudah dan enak untuk dilakukan.

Hasrat adalah seperti gelombang lautan. Sedetik ia diam dan tenang, detik berikutnya ia bergelora dengan kekuatan penuh.

Terus-menerus ia harus mengendalikannya. Ia mulai menjadi serupa ikan dalam penggorengan.

Bagaimana mungkin ia bisa tidur?

Nafas Lin Xian Er terdengar makin berat. Namun matanya sedikit demi sedikit terbuka.

Matanya yang bercahaya tajam memandangi Ah Fei dalam kegelapan.

Rambutnya terlihat acak-acakan di dahinya. Ia terlihat sangat lelap seperti seorang bayi.

Lin Xian Er baru menyadari bulu mata Ah Fei yang lentik. Ia ingin sekali mengulurkan tangan dan membelainya.

Saat itu, jika ia sungguh-sungguh mengulurkan tangannya, Ah Fei akan menjadi miliknya untuk selama-lamanya. Ia akan meninggalkan segala sesuatu demi Lin Xian Er.

Saat itu, tatapan matanya sungguh lembut dan tulus. Namun saat itu berlalu sekejap saja. Ia menarik tangannya kembali. Tatapannya yang lembut dan tulus telah berubah dingin dan kejam.

Ia berbisik, “Fei sayang, apakah kau sudah tidur?”

Ah Fei tidak menjawab. Ia pun tidak membuka matanya.

Ia sungguh tidak berani.

Ia takut ia akan…

Lin Xian Er menanti sebentar lagi. Lalu tiba-tiba ia turun dari tempat tidur tanpa suara dan mengambil sepatunya.

Dengan sepatu di tangannya, ia membuka pintu diam-diam dan keluar.

Malam selarut ini, ke manakah dia pergi?

Ah Fei merasa hatinya begitu sakit seperti ditusuk beribu-ribu jarum.

‘Apa yang kau tidak ketahui tidak akan merisaukanmu. Dalam hidup ini ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui.’

Ah Fei sungguh memahami hal ini. Kenyataan memang kejam, memang menyakitkan.

Akan tetapi, ia tidak bisa menahan diri lagi.

—–

Pintu pun terbuka.

Seulas senyum terlihat di bibir ShangGuan JinHong.

Sebenarnya ia tampak lebih menakutkan saat tersenyum.

Lin Xian Er membuka pintu dan berdiri di situ. Matanya menatap ShangGuan JinHong. ‘Pluk’, sepatu di tangannya jatuh ke lantai.

Ia mendesah dan berkata, “Kau sudah tahu bahwa aku akan datang?”

“Ya.”

Lin Xian Er menggigit bibirnya, katanya, “Aku sendiri tidak tahu mengapa aku datang ke sini.”

“Aku tahu kenapa.”

Tanya Lin Xian Er dengan mata besar, “Kau tahu?”

“Kau datang karena kau sudah tahu bahwa Ah Fei tidak begitu penurut seperti yang kau sangka. Jika kau ingin tetap hidup, kau harus bergantung padaku.”

“Dan aku…dapatkah aku bergatung padamu?”

ShangGuan JinHong tertawa, “Itu, kau sendiri yang harus menjawabnya.”

Tidak ada seorang laki-laki pun di dunia ini yang dapat sungguh-sungguh dipercaya.

Seorang wanita dapat bergantung padanya selama wanita itu memperlakukannya dengan baik.

Tentu saja Lin Xian Er memahaminya sungguh-sungguh.

Ia tertawa dan menjawab, “Kalau begitu, aku pasti dapat bergantung padamu, sebab aku tidak akan pernah mengecewakanmu.”

Matanya pun mulai tertawa.

Lalu tangannya, pinggangnya, pahanya….

Ia telah berkeputusan bulat. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan laki-laki ini.

Dalam tempo yang singkat, ia harus menggunakan senjatanya yang paling ampuh.

Di mata seorang pria, tidak ada wanita yang lebih memukau daripada wanita tanpa sehelai benang di tubuhnya. Dan wanita ini bukan sembarang wanita, wanita ini adalah Lin Xian Er.

Anehnya, mata ShangGuan JinHong masih tertuju ke arah pintu.

Seakan-akan pintu itu lebih menarik daripada Lin Xian Er yang telanjang bulat.

Lin Xian Er terengah-engah dan berkata, “Dukunglah aku. Aku….aku hampir tidak bisa bergerak lagi.”

ShangGuan JinHong menggendongnya, namun matanya masih melihat ke arah pintu.

‘BLANG’. Pintu pun terbuka lebar.

Seseorang meluruk masuk ke dalam kamar seperti sebuah bola api.

Bola api yang berkobar-kobar!

Ah Fei!

Tidak dapat dibayangkan kemarahannya saat ini.

Seulas senyum kembali terbayang di wajah ShangGuan JinHong.

Apakah ia sudah mengira bahwa Ah Fei akan datang?

Ah Fei tidak melihatnya.

Ia tidak melihat seorang pun di situ. Apa yang dilihatnya adalah mimpi buruknya.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Lin Xian Er tidak berkedip. Ia mengalungkan tangannya pada leher ShangGuan JinHong.

Katanya dingin, “Orang yang datang ke sini tidak pernah mengetuk ya?”

Tangan Ah Fei terkepal dan ditinjunya pintu itu.

Pintu besi itu!

Darah mengucur dari tinju Ah Fei. Rasa sakit bergelora di sekujur tubuhnya dan bibirnya menjadi pucat pasi.

Tapi rasa sakit macam apa yang dapat dibandingkan dengan rasa sakit dalam hati?

Lin Xian Er tertawa. Katanya, “Ternyata orang ini sudah gila.”

Ah Fei meraung dan berseru, “Jadi kau memang wanita semacam ini!”

Lin Xian Er menjawab dengan ringan, “Kau baru tahu? Aku memang seperti ini. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah. Kau tidak menyadarinya karena kau begitu bodoh.”

Ia tertawa dingin dan menambahkan, “Jika kau lebih pintar sedikit saja, kau tahu lebih baik kau tidak datang ke sini.”

“Tapi aku sudah di sini.”

“Apa untungnya kau datang? Supaya kau bisa memaki aku? Ada hubungan apa di antara kita? Kau pikir kau bisa mencampuri urusanku? Kau pikir kau kau harus menjagaku?” tanyanya dengan nada mengejek.

Air mata membasahi mata Ah Fei. Namun air mata itu membeku.

Matanya menjadi kelabu dan mati.

Warna kelabu yang habis harapan. Sama seperti mata Jin Wu Ming.

Saat itu, ia merasa ia sudah mencucurkan air mata darahnya yang terakhir. Saat itu, hidupnya sudah berakhir.

Ia sudah berubah menjadi orang mati.

‘Seharusnya aku tidak datang, seharusnya aku tidak datang…’

Jika ia tahu seharusnya ia tidak datang, mengapa ia tetap datang?

Orang selalu melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya sendiri, walaupun mereka tahu bahwa seharusnya mereka tidak melakukannya.

Advertisements

1 Comment »

  1. Nice post.

    Comment by Fitri — 17/01/2010 @ 8:27 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: