Kumpulan Cerita Silat

05/01/2009

Pendekar Baja (15)

Filed under: Pendekar Baja — ceritasilat @ 4:34 pm

Oleh Gu Long

Di depan pintu gerbang yang bercat hitam itu, suasana sunyi senyap, iblis itu langsung menolak pintu dan masuk begitu saja serupa pulang ke rumahnya sendiri.

Perkampungan di tengah hutan itu ternyata sangat megah, dinding merah menjulang tinggi, wuwungan rumah berderet-deret diliputi bunga salju sehingga menambah keangkeran kompleks bangunan ini.

Dalam keadaan putus asa, diam-diam Jit-jit juga terkesiap, pikirnya, “Jangan-jangan inilah sarang Koay-lok-ong yang sengaja didirikan di daerah Tionggoan sini?…”

Tengah berpikir, terasa hawa hangat merangsang dan menyelimuti seluruh tubuhnya, kiranya mereka telah memasuki sebuah kamar indah, di pojok sana ada perapian penghangat dengan api yang berkobar, namun tiada tampak bayangan orang di dalam kamar.

Orang itu menurunkan Jit-jit di atas sebuah dipan yang rendah dan lunak. Segera dirasakan oleh Jit-jit sorot mata orang yang jahat itu sedang mengamati tubuhnya yang meringkuk di atas pembaringan.

Jantung Jit-jit berdebar, ia pejamkan mata rapat-rapat dan tidak berani beradu pandang dengan mata orang. Di dalam rumah yang hangat dan tidak ada orang lain ini, sungguh ia tidak berani membayangkan apa yang bakal terjadi.

Sampai saat ini dia belum lagi dapat memastikan “iblis jahat” ini lelaki atau perempuan? Tapi dapat dirasakannya sorot mata iblis yang mengandung maksud jahat dan kotor.

Lebih-lebih sekali ini, dirasakannya sinar matanya yang kotor dan jahat itu jauh lebih nyata daripada yang dulu. Meski jelas sepasang mata yang sama, namun tidak sedikit perbedaannya antara mata yang dulu dengan mata yang sekarang. Entah apa sebabnya? Tentu di dalam hal ini ada sesuatu yang tidak beres. Namun sekarang Jit-jit tidak sempat memikirkannya.

Dia tetap memejamkan mata dan mulut terkatup rapat untuk menantikan kejadian yang paling buruk baginya. Dalam keadaan menanti yang kejam ini, dia berharap raganya tidak lagi menjadi miliknya.

Siapa tahu, selang sekian lamanya, si iblis tetap tidak melakukan sesuatu.

Sedapatnya ia menahan perasaannya, bulu roma serasa berdiri semua, berada di dalam kamar yang indah dan hangat ini dirasakan lebih dingin daripada berada di gua es.

Mendadak dirasakannya orang lagi membalik tubuh, melangkah keluar perlahan. Sungguh Jit-jit tidak percaya, ia coba membuka mata. Benar juga, dilihatnya bayangan orang menghilang keluar pintu.

Orang itu benar-benar pergi tanpa mengganggunya, hal ini membuat Jit-jit terkejut malah. Ia heran kenapa orang tidak mengganggunya sama sekali? Apakah karena ucapannya tadi berhasil menggertaknya?

Tapi lantas dibantah sendiri oleh Jit-jit, mana bisa iblis jahat ini takut kepada gertakannya, meski sekarang dia pergi, bukan mustahil sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang lebih keji kepadanya.

Dalam sekejap ini perasaan Jit-jit berganti-ganti, sebentar khawatir, lain saat bergirang, tapi segera sedih lagi.

Mendadak pikirannya tergerak, dirasakannya bayangan punggung orang tadi ada sesuatu yang tidak benar, seperti berbeda dengan bayangan orang yang sudah pernah dilihatnya dahulu.

Ia menjadi sangsi jangan-jangan orang ini bukan orang yang dulu itu? Ia coba memandang keadaan kamar ini, ternyata segala sesuatunya teratur dengan indah. Diam-diam ia heran pula, tak terduga Koay-lok-ong sendiri belum muncul di daerah Tionggoan, lantas siapakah yang mengaturkan tempat ini?

Menurut perkiraan Jit-jit, iblis jahat itu tidak mungkin dapat mengatur tempat seindah ini, ia pikir jangan-jangan Kim Bu-bong yang mengaturnya, tapi bila betul, kenapa tidak pernah diceritakannya?

Selain itu, Thian-hoat Taysu dan lain-lain menuju ke pegunungan ini, jejak mereka mendadak menghilang di depan gardu di pinggang gunung tadi, jelas karena dari gardu sana ada jalan rahasia yang menembus ke tempat ini. Mereka memasuki jalan rahasia, dengan sendirinya jejak mereka menghilang secara mendadak, jadi mereka tidak terbang ke langit, tapi masuk ke bumi.

Tapi pikiran ini lantas dibantahnya lagi, dari watak Kim Bu-bong yang sudah dikenalnya, meski tertawan dan dipaksa juga takkan dibawanya mereka ke sini, apalagi memberitahukan tempat rahasia ini.

Jangan-jangan Kim Bu-bong sebenarnya tidak tertawan oleh mereka, tapi berbalik berhasil mengatasi dan menawan mereka, lalu Kim Bu-bong membawa mereka ke sini. Dan bila Kim Bu-bong berada di sini berarti aku pun akan tertolong. Tapi… tapi cara bagaimana Kim Bu-bong dapat mengatasi keempat orang itu? Hal ini pun jelas tidak mungkin terjadi.

Begitulah Jit-jit terus berpikir, tambah dipikir tambah ruwet persoalannya sehingga akhirnya dia bingung sendiri.

Sekonyong-konyong tertampak bayangan orang berkelebat diri luar. Meski cuma sekilas pandang saja, namun sudah merasakan bayangan orang sudah pernah dikenalnya. Ia heran siapakah orang ini, ia coba mengingat-ingat, di tengah kekusutan pikirannya tiba-tiba ia tahu siapa orang ini, jeritnya di dalam hati, “Ah, dia Li Tiang-ceng!”

Sekilas tampak bayangan orang yang berperawakan jangkung dan berjenggot panjang itu, tampaknya memang mirip Li Tiang-ceng, tapi Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng mengapa bisa berada di sini.

Jika benar dia berbalik tertawan oleh Kim Bu-bong dan dibawa ke sini, mana mungkin dia dapat bergerak secara bebas. Sebaliknya jika dia memaksa Kim Bu-bong membawanya ke sini, seharusnya sejak tadi dia melabrak si iblis jahat itu, mengapa sejak tadi tidak terdengar sesuatu suara apa pun? Jangan-jangan dia juga berkomplot dengan iblis jahat ini?

Tapi dengan nama dan kedudukannya, rasanya hal ini pun tidak mungkin terjadi, lantas mengapa tindak tanduknya perlu main sembunyi-sembunyi cara begini?

Selagi Jit-jit merasa bingung, dua orang telah mendekatinya. Seorang di depan bertubuh kurus kecil, baju panjang menyentuh tanah, mukanya memakai kerudung kain hitam, kedua tangan terselubung di dalam lengan baju. Sukar bagi Jit-jit untuk melihat wajahnya, bahkan lelaki atau perempuan pun tidak dapat dibedakan.

Orang di belakangnya berperawakan tinggi besar, alis tebal mata bulat, muka hitam kasar, sekali pandang saja dapat diketahui seorang lelaki dogol yang bertenaga kuat.

Jit-jit tahu maksud kedatangan kedua orang ini pasti tidak baik, tapi kecuali terhadap si iblis jahat, hakikatnya dia tidak gentar kepada siapa pun, segera ia mendahului membentak, “Siapa kalian? Mau apa?”

“Jangan urus siapa diriku, kedatanganku cuma ingin tanya sesuatu padamu…” jawab si baju panjang dengan suara yang melengking nyaring menusuk telinga, suaranya seperti sengaja dibuat-buat, tapi juga seperti memang begitu pembawaannya.

“Jika tidak kau tanggalkan kerudungmu, jangan harap akan kau dapatkan jawabanku,” seru Jit-jit, meski tubuhnya lumpuh, tapi suaranya cukup keras.

“Benar begitu?” tanya si baju panjang.

“Boleh kau coba,” jawab Jit-jit tegas.

Mendadak si baju panjang mendengus, “Hm, baik. Maju, Tay Hong!”

Rupanya lelaki dogol tinggi besar itu bernama Tay Hong, si Kuning Gede. Sambil menyeringai sehingga kelihatan giginya yang serupa taring serigala, segera ia melompat ke depan Cu Jit-jit, sekali raih dada baju si nona dicengkeramnya terus diangkat seperti elang menyambar anak ayam.

“Kau… kau mau apa?” teriak Jit-jit dengan suara parau, gentar juga dia.

“Apa yang ditanyakannya harus kau jawab, tahu?” kata si gede dengan menyeringai.

“Ti… tidak…” kata Jit-jit.

“Tidak?” si gede menegas, ia menarik terlebih keras, dada baju Jit-jit lantas robek, bila menarik lagi, buah dada si nona pasti akan menongol.

Sungguh gemas dan juga takut Jit-jit, dalam keadaan demikian ia mati kutu, terpaksa ia menahan air mata dan mengertak gigi, teriaknya dengan suara terputus-putus, “Ap… apa yang akan… akan kau tanyakan?”

“Hm, kan sudah kuperingatkan tadi, kenapa cari penyakit sendiri?” jengek si baju panjang. “Ingin kutanya padamu, apakah kau suka menjadi selir putra Ongya (pangeran) kami yang ke-27?”

“Kentut busuk!…” damprat Jit-jit dengan gusar.

“Kurang ajar!” bentak si lelaki gede, “bret”, dada baju Jit-jit terobek sehingga dadanya yang putih mulus tertampak jelas.

Dengan suara parau Jit-jit memaki, “Bangsat, anjing, kau…”

Segera lelaki kasar itu menarik baju bagian pundak Jit-jit, apa bila dirobeknya lagi, seketika Jit-jit bisa telanjang seluruhnya.

“Ayo jawab, kau mau tidak!” tanya si baju panjang.

Sedapatnya Jit-jit berusaha mengelak pandangan lelaki gede itu terhadap dadanya yang mulus itu, tapi apa daya, dia tak bisa berkutik, ia berucap dengan menangis, “Tidak, mati pun aku tidak mau. Boleh kalian menganiaya, menyiksa dan menghina diriku tetap aku tidak sudi, boleh kalian bunuh saja diriku dan jangan harap menyentuh tubuhku.”

Si baju panjang jadi melenggong juga melihat sikap bandel Cu Jit-jit, dia tidak memberi perintah, dengan sendirinya si lelaki gede tidak berani bertindak lebih lanjut.

Selang sejenak barulah si baju panjang berkata, “Tay Hong, masukkan dia ke penjara, biarkan dia pikirkan dengan tenang, nanti kita tanyai dia lagi.”

Penjara di mana pun sama saja, seram, lembap, dan gelap. Penjara di puncak gunung ini juga tidak terkecuali, bahkan lembap dan seramnya terlebih hebat daripada penjara di tempat lain.

Lelaki gede itu sama sekali tidak kenal kasihan, dari mulut gua Jit-jit dilemparkan begitu saja sehingga terbanting dengan berat di gua batu, keruan tulang Jit-jit serasa mau retak, belum lagi dia menjerit sudah lantas jatuh pingsan.

Entah berapa lamanya, ketika lamat-lamat didengarnya suara seorang yang sudah dikenalnya dengan baik sedang memanggil di tepi telinganya, “Jit-jit… bangun, Jit-jit…”

Meski suara ini kedengaran serak dan berat karena cukup lama tersiksa, tapi bagi pendengaran Jit-jit suara orang tetap sedemikian mesranya. Tergetar hatinya, cepat ia membuka mata, segera terlihatlah seraut wajah yang cakap dengan hidung yang mancung, siapa lagi dia kalau bukan Sim Long?

Sekuat tenaga Jit-jit angkat tangannya dan merangkul leher Sim Long, ucapnya dengan suara gemetar, “O, Sim Long, kiranya kau… apa betul kau?”

“Ya, betul aku, Jit-jit,” kata Sim Long.

Air mata Jit-jit bercucuran. Air mata kegirangan, katanya pula, “Jadi… jadi benar dan bukan… bukan mimpi?”

Ia merangkul Sim Long dengan erat, seakan-akan khawatir mimpi indah ini bisa buyar mendadak.

“Memang benar dan bukan mimpi,” jawab Sim Long pula.

“Memang sudah kuduga engkau pasti akan datang menolong diriku, memang sudah kuduga sebelumnya… Tidak nanti kau biarkan diriku dianiaya orang jahat, engkau pasti akan menyelamatkan diriku,” ucap Jit-jit setengah meratap.

Sim Long termenung, katanya kemudian, “Tapi aku tidak menyelamatkan dirimu…”

“Apa katamu, engkau tidak menyelamatkan diriku?” Jit-jit terkejut. “Habis cara bagaimana kita bisa bertemu di sini? O, jangan-jangan engkau juga… juga terkurung di penjara ini?”

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab Sim Long lagi, sebab sekarang Jit-jit dapat melihat dinding batu yang mengelilingi mereka. Ternyata Sim Long memang juga dipenjarakan orang di sini.

Kenyataan ini serupa sebilah pisau yang menikam hulu hati Cu Jit-jit, terasa sakit, tapi tidak berdarah dan juga tidak mengucurkan air mata, sebab darah dan air mata pun serasa sudah membeku. Dia terkesima dan tidak dapat bicara lagi.

Senyuman khas Sim Long pun tidak kelihatan menghias ujung mulutnya lagi, dengan sedih ia berucap, “Sungguh aku tidak becus… Tentu engkau sangat kecewa atas diriku… Ai, tahu begini, lebih baik kumati saja.”

“Tidak, tidak, engkau tidak boleh mati,” seru Jit-jit dengan banjir air mata, “asalkan dapat kulihat dirimu, puaslah hatiku, masa aku kecewa?”

“Tapi… tapi di sini…”

“Sudahlah, jangan kau bicara lagi, peluklah diriku lebih erat, asalkan kau peluk diriku erat-erat, aku… aku tidak peduli lagi urusan apa pun,” pinta si nona.

Memang baginya asalkan bisa berada di dalam pelukan Sim Long, maka segala apa pun tidak ada artinya lagi.

Kelembutan Kim Bu-bong dan simpati Him Miau-ji padanya kini telah dilupakannya seluruhnya, bahkan dia lupa belum lama dia baru saja mau mati bersama Him Miau-ji.

Jit-jit memang nona yang berdarah panas, simpatik, mudah menyukai seseorang, bila orang lain baik padanya, tanpa peduli apa pun dia akan balas kebaikan orang itu, biarpun hal itu dilakukannya hanya karena dorongan emosi yang timbul seketika itu.

Tapi perasaannya terhadap Sim Long justru mirip beratus ribu utas rambut halus yang telah mengikatnya, merasuk tulang, menyusup ke lubuk hati sehingga sukar terlepas, dipotong juga takkan putus.

Meski penjara itu seram dan gelap, namun berada di dalam pelukan Sim Long dirasakan oleh Cu Jit-jit seperti berada di surga.

Dia ingin menceritakan pengalamannya, penderitaannya, rindunya… seakan-akan bila semua itu diceritakannya kepada Sim Long, maka segala apa yang dialaminya itu akan menjadi impas, terbayar lunas.

Sebaliknya Sim Long terus-menerus hanya menghela napas dan tidak bicara.

Jit-jit memandangnya dalam keremangan penjara yang seram itu, beberapa kali bibirnya bergerak dan ingin bicara lagi, tapi urung.

Akhirnya ia tidak tahan dan tercetus dari mulutnya, “Cara bagaimana engkau datang ke sini?”

Dengan rawan Sim Long bertutur, “Terkena obat bius, aku pun tidak menyangka minuman yang kuminum di warung terpencil itu pun ditaruhi obat bius. Ai, sekali salah langkah, segalanya lantas runtuh. Waktu aku siuman, tahu-tahu sudah berada di sini.”

“Engkau tentu banyak tersiksa, coba, sampai… sampai suaramu pun serak, entah betapa engkau telah disiksa oleh kawanan bangsat itu, sungguh ingin ku… ingin ku…”

“Ah, apa gunanya biarpun engkau penasaran di sini?” ujar Sim Long.

“Oo, semua ini gara-gara diriku, engkau jadi ikut menderita begini…” air mata Jit-jit bercucuran pula.

“Jangan menangis Jit-jit, sakit hati ini pasti akan kita balas,” ucap Sim Long dengan lembut.

Mendadak Jit-jit berhenti menangis dan menengadah, “Engkau mampu…”

“Jangan khawatir, asalkan ada kesempatan…”

Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak ada cahaya terang menyorot dari atas.

Cepat Sim Long mengangkat tubuh Jit-jit dan menyingkir ke kaki dinding.

Kepala si lelaki gede serupa herder itu menongol di lubang gua, letak lubang gua ini sedikitnya ada lima tombak tingginya, dipandang dari bawah wajah orang ini terlebih seram dan tidak mirip manusia.

“Bangsat, enyah!” teriak Jit-jit dengan parau.

Lelaki gede itu terkekeh-kekeh, “Hehe, apakah kalian tidak lapar?”

“Biarlah lebih baik mati lapar, lekas enyah!” teriak Jit-jit pula.

Orang itu terkekeh-kekeh pula sambil memperlihatkan sesuatu, katanya, “Inilah bakpao yang biasa kami berikan kepada anjing, mau tidak, terserah padamu.”

“Kau sendiri anjing, bangsat…” damprat Jit-jit dengan gusar. Tapi mendadak mulutnya didekap Sim Long.

Anak muda itu lantas mendongak ke atas dan berseru, “Silakan Toako melemparkan bakpao itu.”

“Hehe, tidak makan tambah kelaparan, ternyata kau lebih cerdik daripada anak dara itu,” ucap lelaki gede itu dengan tertawa latah.

Habis berkata, benarlah segera dilemparkannya beberapa biji bakpao, terdengar suara “plok” beberapa kali, betapa kerasnya bakpao basi itu dapatlah dibayangkan.

“Krek”, lubang gua itu tertutup lagi, tangan Sim Long yang mendekap mulut Jit-jit juga lantas dilepaskan.

Gemas dan cemas Jit-jit, ucapnya dengan gusar, “Masa… masa engkau benar mau makan bakpao busuk begini?”

“Umpama tidak dimakan juga ada gunanya,” ujar Sim Long.

“Apa gunanya?” tanya Jit-jit penasaran.

“Bila datang kesempatan baik tentu ada gunanya,” sahut Sim Long sambil memunguti beberapa biji bakpao kering itu dan dikumpulkan di dekatnya.

Jit-jit memandangnya dengan termangu, sejenak kemudian ia tanya pula, “Engkau belum kehilangan tenaga?”

“Mendingan tidak,” sahut Sim Long.

Tertampak rasa girang pada sinar mata Jit-jit, “Pantas kau bilang akan menuntut balas, asalkan engkau tidak kehilangan tenaga, biarpun engkau ditutup di neraka I8 lapis juga tetap dapat melarikan diri.”

“Masa engkau begitu yakin akan kemampuanku?”

“Tentu saja, siapa lagi selain aku?” segera Jit-jit meronta bangun dan menjatuhkan diri pula ke dalam pangkuan Sim Long.

Selang sejenak, mendadak si nona bertanya lagi, “Ai, betapa linglung aku ini, saking gembiranya bertemu engkau di sini sehingga melupakan urusan penting yang harus kuberi tahukan padamu.”

“Urusan penting apa?” tanya Sim Long cepat.

“Tentang rombongan Can Ing-siong yang diantar Kim Bu-bong ke Jin-gi-ceng itu, setiba di sana, segenap anggota rombongan itu lantas mati keracunan, Li Tiang-ceng dan kawan-kawannya menyangka engkau yang mengerjai mereka, maka engkau dicari oleh mereka.”

“Masa terjadi begitu?” seru Sim Long kaget.

“Hal ini kudengar dari penuturan mereka sendiri, kukira pasti betul,” kata Jit-jit. “Apakah dapat kau terka mengapa bisa terjadi begitu?”

“Seketika aku pun tidak berani menarik kesimpulan…”

“Tapi dapat kupastikan perbuatan Ong Ling-hoa,” kata Jit-jit pula. “Sungguh aku tidak mengerti, sudah jelas kau tahu dia orang busuk, mengapa engkau bergaul dengan dia.”

“Soalnya kekuatan kita dengan musuh berselisih terlalu jauh,” tutur Sim Long dengan menyengir. “Padahal kita sedang menghadapi musuh besar sebagai Koay-lok-ong itu, mana boleh kita mengikat permusuhan pula dengan Ong Ling-hoa, apa pun juga dia kan bukan orang sehaluan dengan Koay-lok-ong.”

“Tapi menurut pandanganku, dia jauh lebih busuk daripada Koay-lok-ong,” jengek Jit-jit. “Akan lebih baik untuk sementara ini kesampingkan Koay-lok-ong dan jangan membiarkan mereka ibu dan anak berbuat sesukanya.”

“Untuk menghadapi ibu dan anak itu kekuatan kita terasa sangat lemah,” ujar Sim Long setelah termenung sejenak.

“Mengapa kau puji kekuatan orang lain dan menurunkan derajat sendiri?” kata Jit-jit. “Dalam hal apa engkau lebih asor daripada Ong Ling-hoa? Dalam hal apa pula Ong Ling-hoa lebih unggul daripadamu?”

“Tidak perlu urusan lain, melulu soal harta benda saja jelas sangat jauh selisih diriku dibandingkan dia,” jawab Sim Long dengan menyesal. “Ai, baru sekarang kutahu, untuk bertempur kekuatan dana terkadang juga menjadi faktor penentu. Sayang, dahulu aku terlalu meremehkan benda-benda yang berbau bacin ini.”

“Apa artinya harta benda, aku kan tidak kekurangan, kau mau berapa dapat kuberikan,” ujar Jit-jit.

“Masa boleh kuterima uangmu?” jawab Sim Long dengan tidak senang.

“Memangnya kenapa, punyaku sama dengan punyamu, masa…”

“Sudahlah, jangan kau katakan lagi,” potong Sim Long dengan aseran.

Jit-jit termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan hampa, “Seumpama engkau tak mau menerima uangku, tapi aku sendiri mengambil bagian dalam pertempuran ini. Seperti semboyan umum yang sudah kita kenal, punya uang keluar uang, punya tenaga bantu tenaga, memangnya aku tidak boleh memberikan sedikit sumbangan bagi perjuangan ini?”

“Tapi… tapi aku…”

“Sudahlah, tidak perlu ini dan itu, yang jelas, meski ayahku rada pelit terhadap orang lain, tapi sangat terbuka tangannya terhadapku, sebab semua saudaraku sudah berdikari, semuanya sudah pandai mencari uang, sebaiknya aku cuma mahir membuang uang, seorang yang tidak pintar mencari uang dan juga tidak berguna… Sebab itulah, harga kekayaan ayah yang seharusnya dibagi menjadi tujuh telah diwariskan seluruhnya kepadaku dan jumlahnya tidaklah sedikit.”

“Pantas orang Kangouw sama bilang Cu-jit-siocia kita adalah miliarder wanita,” ujar Sim Long.

“Miliarder atau bukan, yang jelas hartaku memang tidak sedikit,” kata Jit-jit. “Sejak berumur 12 aku sudah biasa menggunakan uang secara bebas. Tapi selama kekayaan itu dipegang ayah, tetap kurang leluasa bagiku. Sebab itulah aku lantas merecoki ayah agar memberi kuasa penuh padaku, sebagian besar harta warisan itu diserahkan padaku, lalu seluruhnya kutitipkan kepada samcihuku.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan tertawa, “Samcihu (kakak ipar (suami kakak) ketiga) adalah orang Soasay, swipoanya bukan main lincahnya bilamana disuruh mengurus soal keuangan, tapi dia paling segan padaku. Maka sebelumnya sudah kuadakan perjanjian dengan dia bahwa simpananku itu tidak perlu diberi bunga, yang penting setiap saat bilamana aku memerlukan uang, bila kuminta pada siang hari, tidak boleh dia tunda sampai malam hari, jika kuperlu sepuluh laksa tahil, tidak boleh dia membayar kurang satu tahil pun. Pokoknya dia harus memberi servis yang paling cepat padaku.”

“Apakah samcihumu itu terkenal sebagai Liok-siang-to-cu (Si Mahakaya-raya) Hoan Hun-yang itu?” tanya Sim Long.

“Aneh… kau pun kenal namanya?” ujar Jit-jit.

“Orang Kangouw yang terkenal tidak ada seorang pun yang tidak kukenal,” ujar Sim Long dengan tertawa. “Apalagi Hoan Hun-yang ini terkenal pintar sekali bergaul, kipas bajanya juga tidak lemah.”

“Baik, engkau memang hebat,” kata Jit-jit. “Supaya kau tahu, kami sudah ada perjanjian, asalkan ada tanda pengenalku, setiap saat dapat kuambil uang pada setiap cabang perusahaannya di berbagai provinsi.”

“Kenapa dia begitu memercayai dirimu?” tanya Sim Long.

“Soalnya, meski sangat banyak uangnya, tapi kekayaanku tidak lebih sedikit daripada miliknya, kenapa dia tidak percaya padaku?”

“Jika begitu, tanda pengenalmu itu harus kau simpan dengan baik.”

“Bagaimana bentuk tanda pengenalnya, mimpi pun orang lain tak dapat menerkanya, sepanjang hari benda ini berada pada tubuhku dan tidak akan dicuri orang.”

“Berada pada tubuhmu?” Sim Long menegas dengan heran. Ia tahu Cu Jit-jit pernah ditelanjangi orang, jika benar dia membawa sesuatu benda berharga, mustahil takkan diambil orang?

Tapi Jit-jit menjawab dengan sungguh-sungguh, “Betul, kedua biji mutiara anting-antingku inilah benda tanda pengenalku. Kedua biji mutiara kecil ini tidak mencolok mata, tapi bila mutiara ditanggalkan, bagian anting-anting yang membingkai mutiara ini adalah stempel, kedua belah anting-anting sama pakai stempel huruf Cu, cuma yang satu huruf tebal dan yang lain huruf melekuk. Berdasarkan sepasang anting-anting ini setiap orang dapat mengambil 70 laksa tahil, bukan perak melainkan emas. Dengan harta sejumlah ini tentu dapatlah digunakan sebagai dana pergerakanmu.”

Jumlah sebesar ini memang cukup mengejutkan orang, sampai Sim Long juga melenggong.

“Padaku terdapat benda bernilai sebesar ini, lucunya orang-orang yang pernah menawan diriku ternyata tidak ada yang memerhatikannya,” tutur Jit-jit pula dengan tertawa.

Maklumlah pada zaman itu telinga anak perempuan rata-rata berlubang anting-anting, karena itulah hal ini tidak menarik perhatian dan tidak mengherankan.

“Nah, sekarang terimalah anting-antingku ini, cuma kau perlu hati-hati, lelaki membawa anting-anting, tentu akan menarik perhatian orang,” pesan Jit-jit dengan tertawa.

Mestinya Sim Long ingin menolak, tapi didesak si nona dan akhirnya diterimanya juga, katanya, “Kau percaya penuh menyerahkan anting-anting ini kepadaku?”

“Tentu saja kupercaya,” jawab Jit-jit lembut, “Jangankan cuma anting-anting ini, biarpun se… seluruh diriku kuserahkan padamu juga tidak perlu khawatir.”

Ia menggelendot dalam pangkuan Sim Long dengan erat, sungguh ingin dirinya terlebur menjadi satu dengan tubuh anak muda itu. Dalam keadaan begini, dia berbalik berterima kasih kepada iblis jahat itu. Kalau bukan perbuatannya, saat ini mana bisa dia berada dalam pelukan Sim Long.

Sampai sekian lama keduanya tenggelam dalam khusyuk-masyuk, mendadak Sim Long berteriak dengan suara terputus-putus, “Ai… air… air!”

Jit-jit terkejut, tapi segera dia tahu anak muda itu pasti mempunyai maksud tujuan tertentu.

Benar juga, sejenak kemudian lantas terlihat lubang gua atas terbuka, lelaki gede serupa anjing herder itu menongolkan kepalanya sambil membentak gusar, “Keparat, mau apa kau meraung-raung?”

Orang berani memaki Sim Long, segera Jit-jit hendak mendampratnya, tapi mulutnya keburu didekap Sim Long, lalu anak muda itu berkata dengan suara yang dibikin lemah, “Aku… aku sangat haus, mohon… mohon diberi air.”

Untuk sebentar suasana menjadi sunyi, tidak lama kemudian, dari atas terjulur sebatang galah bambu, pada ujungnya terikat sebuah kaleng, lelaki gede itu tertawa terkekeh-kekeh dan berucap, “Ini airnya. Jika mau minum, masukkan kepala ke dalam kaleng, cara beginilah tuanmu memberi minum kepada babi.”

Mendadak Sim Long berbangkit, tangan bergerak, sejalur angin keras lantas menyambar ke atas, “plak”, kepala si lelaki gede yang menongol itu tepat tertimpuk.

Lelaki itu meraung dan terjungkal ke bawah, senjata rahasia yang mengenai kepalanya juga jatuh di sebelahnya, kiranya cuma sebiji bakpao kering.

Jit-jit terkejut dan bergirang, dilihatnya Sim Long menutuk beberapa hiat-to orang itu, lalu galah bambu itu dijemputnya. Pada saat itulah di atas terdengar seorang membentak, “Ada kejadian apa?”

Tanpa bicara tangan Sim Long bergerak pula, kembali sebiji bakpao kering menyambar ke atas dan kembali seorang jatuh terjungkal lagi ke bawah dan dibikin tak berkutik oleh Sim Long.

Cepat Sim Long mengempit Jit-jit dengan tangan kiri, galah bambu di tangan kanan terus menolak hingga tubuh mengapung ke atas.

Jit-jit merasa angin mendesir, waktu ia membuka mata, tahu-tahu mereka sudah meloncat ke luar penjara.

Di atas gua penjara, ini adalah sebuah rumah kecil, di atas meja masih ada santapan, orang yang sedang makan minum tadi kini sudah menggeletak di dalam penjara malah.

“Engkau sungguh orang yang paling pintar, tidak percuma kusuka padamu,” seru Jit-jit dengan girang.

“Ssst, jangan bersuara,” desis Sim Long.

Perlahan ia membuka pintu dan mengintip, suasana sepi, segera ia menyelinap ke luar. Di luar adalah sebuah serambi panjang dan juga tidak kelihatan bayangan seorang pun.

“Untung orang di sini seperti sudah mampus semua,” bisik Jit-jit.

Sim Long tidak menanggapinya, cepat ia memutar ke kiri, baru saja dia melangkah, terdengarlah dari ujung serambi sana ada suara langkah orang menuju ke sini.

Terdengar seorang berkata, “Mana boleh kau kurung dia bersama Sim Long di situ.”

Suara orang ini tidak enak didengar, jelas Kim Put-hoan yang “Kian-li-bang-gi” atau mendapat untung lantas lupa kepada kawan.

Lalu seorang sedang menjawab, “Penjara di sini cuma ada satu tempat, kalau tidak dikurung bersama akan digusur ke mana?”

Segera Sim Long bermaksud mundur kembali ke dalam rumah, tapi lantas terdengar seorang lagi berkata, “Coba kita periksa penjara sana.”

Dari suaranya yang kasar dapat dikenali orang ini ialah Lian Thian-hun.

Apabila Sim Long mundur kembali ke tempat semula tentu akan kepergok mereka. Jadi maju dan mundur serbasusah, mau tak mau Sim Long rada bingung.

“Takut apa, labrak saja mereka,” desis Jit-jit, ia percaya penuh atas kemampuan pemuda pujaannya.

Sim-Long menjadi nekat juga, ia rangkul erat tubuh Cu Jit-jit dan menerjang ke sana sekuatnya dan cepat luar biasa. Baru saja rombongan Lian Thian-hun muncul dari tikungan, sekonyong-konyong sesosok bayangan menyelinap lewat. Karena kaget, tanpa terasa mereka menyingkir ke samping.

Maka secepat terbang dapatlah Sim Long melayang lewat, tanpa berpaling lagi ia terus lari ke depan.

Serentak terdengar suara bentakan di belakang.

“Hah, itulah Sim Long,” seru Kim Put-hoan.

“Betul, lekas kejar!” teriak Lian Thian-hun gusar.

Menyusul lantas terdengar suara orang mengejar beramai-ramai.

Dengan sendirinya Sim Long tidak hafal jalanan di tempat orang, apalagi dalam keadaan dikejar, sukar baginya untuk membedakan arah dan memilih jalan. Baru beberapa tombak ia lari segera dihadapi jalan buntu.

Untung pada ujung kiri jalan buntu terdapat sebuah pintu. Tanpa pikir Sim Long mendobrak pintu dan menerjang ke dalam. Tapi segera ia melenggong, sebab kamar ini pun tidak ada jalan tembus.

Sekilas dilihatnya sebelah kanan ada sebuah jendela dan pada sisi lain ada lagi sebuah pintu kecil. Karena keadaan mendesak, timbul akal Sim Long, ia sambar sebuah kursi dan dilemparkan, kontan jendela itu ambrol, pada saat yang sama ia terus lari masuk ke pintu kecil itu.

Hanya sekejap saja rombongan Kim Put-hoan sudah menyusul tiba, Sim Long bersembunyi di balik pintu kecil itu dengan menahan napas dan tidak berani bergerak.

“Lari ke mana dia?” terdengar Lian Thian-hun meraung gusar di luar.

“Jelas membobol jendela dan kabur ke luar,” kata Kim Put-hoan.

“Ayo lekas kejar!” seru Lian Thian-hun.

Menyusul lantas terdengar suara orang melompat keluar jendela, lalu tidak terdengar sesuatu suara lagi.

Baru sekarang Sim Long merasa lega, desisnya, “Mari kita mundur kembali ke tempat tadi untuk mencari jalan lolos lain!”

“Sungguh akal menyesatkan musuh yang bagus,” bisik Jit-jit. Dalam keadaan demikian dia tidak lupa memberi pujian kepada Sim Long.

Tapi baru saja Sim Long membuka pintu, segera terlihat Kim Put-hoan bertiga berdiri di depan pintu dengan tertawa dingin.

Keruan Sim Long melongo.

“Hehe, kau kira kami dapat dikibuli seperti anak kecil?” jengek Kim Put-hoan.

“Ayolah, mau lari ke mana lagi, lekas serahkan dirimu,” bentak Lian Thian-hun.

Sim Long mengertak gigi, ia tidak jadi menerjang ke luar, sebaliknya menyurut mundur, pintu terus ditutup kembali dan dipalang. Akan tetapi segera diketahuinya sekeliling ruangan ini rapat tanpa lubang tembus lain, sebuah jendela pun tidak ada, keadaan gelap gulita, kecuali perabotnya yang lebih baik, keadaannya tidak berbeda dengan penjara di bawah tanah itu.

Terdengar Kim Put-hoan bertiga lagi bergelak tertawa di luar dan tidak membobol pintu untuk mengejarnya. Malahan lantas terdengar suara “krek,” pintu berbalik digembok dari luar.

“Ruangan ini sekelilingnya terbuat dari dinding baja, jauh lebih kuat daripada penjara batu itu, boleh kalian tidur saja di situ dan jangan lagi mencari jalan untuk kabur segala,” terdengar si baju panjang berseru di luar.

“Nanti kalau kalian sudah lemas kelaparan, barulah kami akan datang lagi, biasanya kami memang sabar menunggu,” demikian Kim Put-hoan menyindir.

Habis itu lantas tidak terdengar sesuatu lagi.

Sim Long berlari ke kaki dinding dan memukulnya, terdengar suara nyaring, tangan sendiri tergetar sakit, memang betul dinding sekeliling kamar ini terbuat dari baja seluruhnya.

Seketika Sim Long berdiri terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Mereka hanya bertiga, bilamana tadi kau labrak mereka, bisa jadi mereka dapat kau kalahkan, tapi sekarang…” Jit-jit menggerundel dengan menyesal.

Sim Long menghela napas, “Bila kulabrak mereka, bagiku tidak menjadi soal, tapi bagaimana dengan dirimu?”

Jit-jit terkesiap dan tidak bicara lagi. Sejenak kemudian mendadak ia menangis sedih.

“Jangan menangis Jit-jit, memang akulah yang salah,” ujar Sim Long.

“Tidak, engkau tidak salah…” seru Jit-jit dengan suara parau. “Dalam segala hal selalu kau pikirkan diriku, tapi aku berbalik menyalahkan engkau. Aku… aku memang pantas mampus!”

Perlahan Sim Long membelai rambutnya yang halus, ucapnya, “Sudahlah, dalam keadaan demikian, kita senasib setanggungan. Betapa pun menyenangkan juga bila kita dapat mati bersama di tempat ini.”

“Tidak, tidak, engkau tidak boleh mati, engkau harus berjuang terus…”

“Ai, dalam keadaan begini, apa yang dapat kulakukan?” ujar Sim Long dengan menyesal.

Jit-jit masih mau bicara lagi, tapi urung, ia menangis perlahan, sebab ia pun menyadari keadaan cukup gawat. Tiba-tiba ia berkata lagi dengan bersemangat, “Memang betul juga ucapanmu, betapa bahagia bilamana kita mesti mati bersama di sini. Tapi… tapi kita masih muda, aku tidak mau mati, kita harus hidup bersama dan bahagia untuk berpuluh tahun lagi dan…”

Sampai di sini mendadak ia tertegun, sebab tanpa disadari tenaga sendiri ternyata sudah pulih sebagian, tangannya dapat digunakan untuk memukul tempat tidur sehingga menerbitkan suara keras.

“Ah, rupanya obat bius yang digunakan si iblis ini tidak sama dengan dulu, pengaruh obatnya kini mulai lenyap, sekarang aku sudah dapat berdiri…” ia termenung sejenak, lalu menyambung, “Tapi apa gunanya aku dapat berdiri, keadaan sudah terlambat, biarpun bisa berlari juga sukar kabur dari sini.”

Dengan pandangan yang sayu ia tatap wajah Sim Long, entah berapa lama, perlahan ia berkata pula, “Tapi tetap aku berterima kasih kepada Thian yang murah hati yang telah membuatku dapat bergerak sekarang. Biarpun kita tidak dapat lagi hidup bersanding, tapi sebelum ajal kita dapat berkumpul di sini untuk beberapa hari, betapa pun aku… aku merasa bahagia.”

“Kau… kau…”

Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak Jit-jit merangkulnya sehingga keduanya jatuh ke tempat tidur yang lunak itu.

Jit-jit membenamkan kepalanya di dada Sim Long, bisiknya dengan suara setengah merintih, “O, masakah engkau belum lagi paham? Ai, orang… orang tolol, orang dungu… masa tidak kau ketahui, sebelum ajal, kurela menyerahkan segalanya kepadamu?”

“Kau… kau benar rela…”

Jit-jit tidak bicara lagi, ia peluk anak muda itu terlebih erat, dada beradu dada, bibirnya yang hangat merayapi belakang telinga Sim Long.

Bagai orang mengigau ia berkeluh perlahan, “O, waktu kita sudah tersisa tidak banyak lagi, kurela… apa pula yang kau khawatirkan… apa pula yang kau tunggu?…”

Mendadak Sim Long membalik tubuh di atas, dipeluknya tubuh yang hangat dan mungil yang lagi menyongsongnya dengan rada gemetar itu…

Selagi memuncak api berkobar, selagi banjir hampir membobol tanggul, mendadak Jit-jit menggigit bibir Sim Long sekerasnya, berbareng terus didorongnya sehingga anak muda itu tertolak jatuh ke bawah tempat tidur.

Lantaran tidak menyangka, keruan Sim Long kaget dan berseru, “Hei, apakah kau gila?”

Jit-jit terus menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, teriaknya dengan histeris, “Kau bukan… bukan Sim Long… kau bukan Sim Long…”

“Kau gila, habis siapa jika aku bukan Sim Long?”

“Kau… kau bangsat, binatang, kau setan iblis, sekarang… sekarang kutahu siapa dirimu…”

“Memangnya siapa diriku?” tanya Sim Long.

“Ong Ling-hoa!” teriak Jit-jit. “Kau bangsat jahanam, kau… kau bikin celaka diriku… untung kutahu… dan… dan masih sempat…”

“Hehe, kau bilang aku ini Ong Ling-hoa?”

“Memangnya siapa kalau bukan Ong Ling-hoa,” jawab Jit-jit. “Betapa keji caramu mengatur akalmu yang busuk ini, bukan saja telah kau tipu uangku, kau pun ingin menipu tubuhku…”

“Oo, kau anggap kutipu dirimu?”

“Hm, biarpun kepandaianmu merias mukamu sedemikian hebatnya, tapi lantaran aku sudah terlalu mengenal Sim Long, kau khawatir akan kukenali kepalsuanmu, maka sengaja kau gunakan tipu licik dan bertemu denganku di tempat yang gelap.”

Jit-jit mengertak gigi sehingga gemertuk, lalu menyambung, “Suara Sim Long tak dapat kau tirukan dengan persis, maka sengaja berlagak tersiksa di penjara dengan suara parau agar aku tidak mencurigai dirimu.”

“Lalu?” jengek Sim Long.

“Sesudah wajahmu kau rias, tentu tidak dapat lagi tersenyum, maka sengaja kau bikin mukamu selalu murung. Padahal, ai, kenapa kulupa bahwa pada keadaan bagaimanapun senyuman khas Sim Long itu selalu menghiasi bibirnya, hampir setiap saat dan di mana pun selalu kulihat senyumannya yang khas itu.”

“Apa betul begitu?”

“Selain itu, jika sudah ada akalmu untuk kabur dari penjara itu seharusnya dapat kau lari sebelumnya, kenapa mesti menunggu setelah kudatang barulah kau bawaku kabur?… Waktu orang itu memberi air padamu, mestinya dia dapat menggunakan cara lain, mengapa pakai galah bambu segala? Jelas semua ini memang sudah diatur sebelumnya agar galah itu dapat kau gunakan untuk meloncat ke luar.”

“Ada lagi yang lain?” tanya Sim Long dengan tertawa.

“Dasar bangsat, sudah kau tipu uangku, ingin kau tipu pula… Ya, tentu karena tempat itu kurang baik, maka sengaja kau bawaku ke sini, kau…”

“Betul, penjara di bawah tanah itu lembap dan kotor, siapa pun tidak bergairah berbuat hal begituan di situ, sengaja kubawamu ke sini justru supaya engkau sendiri akan menyodorkan makanan ke mulutku,” kata anak muda itu dengan tertawa.

Baru sekarang ucapannya mengandung nada pengakuan bahwa dia memang bukan Sim Long melainkan Ong Ling-hoa adanya.

“Bangsat, hewan,” dengan suara parau Jit-jit memaki pula. “Sungguh keji kau, tentu setelah kau tipu diriku, lalu sengaja kau tinggalkan diriku agar kubenci Sim Long selama hidup, dengan begitu kau bikin susah kami berdua sekaligus.”

“Betul, ini namanya sekali timpuk dua burung, tahu?” jawab Ong Ling-hoa dengan cengar-cengir.

“Hm, kecuali bangsat keji semacam ini, siapa lagi yang dapat menggunakan akal busuk semacam ini. Mungkin tidak ada orang lebih kotor dan rendah daripadamu di seluruh dunia ini.”

“Namun masih ada sesuatu yang tidak kupahami,” kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Tanpa menunggu tanggapan Jit-jit segera ia menyambung, “Setelah sekian lama akalku dapat mengelabuimu, mengapa mendadak dapat kau ketahui?”

“Sebab… sebab aku…” mendadak Jit-jit berteriak. “Tidak perlu kau tahu cara bagaimana kuketahui tipu muslihatmu, pokoknya memang dapat kuketahui.”

Hal ini selain membingungkan Ong Ling-hoa, sesungguhnya Jit-jit sendiri juga sukar menjelaskan, atau bisa jadi dia malu untuk menerangkan.

Kiranya tadi waktu orang bermesraan dengan dia, tiba-tiba Jit-jit merasakan sesuatu tidak benar, yaitu “gaya” pihak lawan. Ia merasa “gaya kerja” orang sedemikian hafalnya, serupa benar dengan cara rendah Ong Ling-hoa memperlakukan dia waktu di ruang bawah tanah dahulu.

Dan pada detik sebelum garis pertahanan terakhir dibobol itulah dapat diketahuinya tipu muslihat musuh.

Maklumlah, setiap lelaki mempunyai gaya dan gerak irama tertentu pada saat dia merayu dan main cinta dengan seorang perempuan. Biarpun sasarannya berganti, cara kerjanya biasanya tidak berubah.

Dan dalam hal ini biasanya di pihak perempuan juga sangat peka merasakan perbedaannya.

*****

Entah sejak kapan, lampu di dalam kamar sudah dinyalakan oleh Ong Ling-hoa.

Dia berdiri di depan tempat tidur, raut wajahnya memang sangat mirip Sim Long, cuma matanya, sorot matanya memperlihatkan sifatnya yang kotor dan menjijikkan.

Jit-jit membungkus tubuhnya terlebih rapat, ia tidak berani memandang orang, dari rasa murka kini berubah menjadi rasa takut.

“Kau sangat pintar, sungguh jauh lebih pintar daripada dugaanku,” kata Ong Ling-hoa kemudian dengan cengar-cengir, “Tapi apakah sekarang kau kira sudah lengkap mengetahui segalanya?”

“Memangnya apa yang tidak kuketahui? Aku…” mendadak Jit-jit teringat akan sesuatu, waktu ia berpaling, dilihatnya Ong Ling-hoa sedang menatapnya dengan pandangan kotor dan jalang. Seketika hatinya bergetar, teriaknya, “Matamu… matamu inilah…”

“Mataku kenapa?” tanya Ong Ling-hoa dengan tersenyum.

“Kau… ya, kaulah yang membikin celaka Miau-ji tadi… Jadi iblis jahat itu pun samaranmu, betul tidak?”

“Haha, memang betul,” Ong Ling-hoa terbahak. “Menurut pandanganmu, wajah iblis itu adalah samaran keluarga Suto, aku pun pernah melihatnya sekali, dan mengapa aku tidak dapat menyamar seperti dia? Betapa pun pandai ilmu rias keluarga Suto juga tidak banyak lebih mahir daripada diriku tuan muda keluarga Ong ini.”

“Bangsat, kau… kau…”

“Ai, nonaku yang manis, biarpun kau pintar, sebenarnya apa pun tidak kau ketahui,” sela Ong Ling-hoa dengan gelak tertawa. “Apakah kau mau bila kuceritakan urusan ini dari awal?”

“Kau… kau…” karena gemetar sehingga suara Jit-jit pun tidak jelas.

“Kau tahu, di hutan sunyi sana sudah kulihat Kim Put-hoan, Li Tiang-ceng dan lain-lain, meski mereka tidak kenal diriku, tapi kukenal mereka, maka aku lantas mendekat dan pasang omong dengan mereka.”

“Mereka mau bicara dengan binatang semacam dirimu ini?”

“Soalnya, hanya satu kalimat saja sudah dapat kupikat mereka.”

“Yang… yang kau kemukakan tentu mengenai Sim Long.”

“Betul, kembali dapat kau tebak dengan tepat. Aku berlagak memusuhi Sim Long, dengan sendirinya mereka ingin bersahabat denganku, maka lantas kuberi jalan kepada mereka agar menungguku di sini. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan kecil yang dirahasiakan, dengan sendirinya jejak mereka menghilang secara mendadak sehingga kau dan si kucing rakus itu kebingungan.”

Hal ini sebelumnya memang sudah diduga oleh Jit-jit, cuma ada sesuatu lain yang belum diketahuinya, maka ia lantas tanya, “Kenapa mereka mau percaya padamu dan datang ke sini lebih dulu?”

“Sebab mereka memerlukan tenagaku untuk membantu menghadapi Sim Long,” tutur Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Mereka percaya aku adalah seorang kesatria dan gagah perkasa, sebaliknya Sim Long adalah seorang bangsat keparat.”

“Sialan, sudah buta semua!” omel Jit-jit dengan gemas.

“Dari mulut mereka dapat kuketahui kau pun berada di sekitar sini, maka aku lantas tinggal di sana, tidak lama kemudian benarlah kulihat kau dan si Kucing itu datang dengan riang gembira, wah, alangkah mesranya antara kalian berdua, padahal biasanya kau sok berlagak suci.”

“Kentut!” damprat Jit-jit. “Hubungan kami cukup terbuka, hanya matamu yang kotor ini sehingga barang bersih juga kau pandang sebagai kotor.”

Ong Ling-hoa tidak menghiraukannya, sambungnya lagi, “Kalian berjalan dengan tangan bergandeng tangan, aku lantas mengintil di belakang kalian dari jauh, waktu kalian mendaki gunung, segera timbul pikiranku untuk menyamar sebagai iblis itu, cepat kuputar jalan terdekat untuk mendahului di depan kalian. Lalu dengan sedikit akal, tanpa susah payah dapatlah kubikin si Kucing hancur lebur di dalam jurang. Haha, sudah sekian lama dia bermesraan denganmu, andaikan mati juga dia tidak perlu penasaran.”

Dari cerita Ong Ling-hoa ini baru diketahui mengapa orang sedemikian hafal terhadap keadaan di sekitar sini, rupanya tempat ini memang kepunyaan keluarga Ong.

“Setelah kubawa dirimu ke sini dalam keadaan tak sadar, segera kuganti rupa lagi menjadi Sim Long, kuatur pula tipu sekali timpuk dua burung ini dengan Kim Put-hoan dan…”

“Hm, bangsat she Kim itu memang jahat, tapi Li Tiang-ceng dan Leng Toa juga membantu tipu muslihatmu yang kotor ini, sungguh tak kusangka,” ucap Jit-jit dengan gemas.

“Leng Toa dalam keadaan tidak sadar, Li Tiang-ceng juga terluka parah, kedua orang ini masih berbaring di sana tanpa bisa berbuat sesuatu. Sedangkan Lian Thian-hun, hehe, cuma seekor kerbau bodoh, setelah kubujuk Kim Put-hoan, dengan mudah dapat kubohongi kerbau bodoh itu untuk bekerja bagiku.”

“Banyak berbuat kejahatan pada akhirnya pasti akan menerima ganjarannya,” ujar Cu Jit-jit. “Biarpun sekarang aku tidak dapat berbuat apa-apa, jadi setan pun akan kucekik mati dirimu.”

“Haha, kalau setan perempuan tetap kusambut dengan gembira, bila setan lelaki, huh, waktu hidup saja aku tidak takut padanya, sesudah jadi setan masakah malah takut?”

“Tunggu saja, pada suatu hari pasti…”

“Masa perlu kutunggu lagi, sekarang juga aku mau…”

“Kau mau apa?” seru Jit-jit khawatir.

“Aku mau apa masakah kau tidak tahu?”

Tentu saja Jit-jit tahu, melihat sorot mata orang saja ia lantas tahu. Ia sembunyi ke pojok tempat tidur dan berteriak dengan gemetar, “Kau… kau berani?”

“Kenapa aku tidak berani?” sahut Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Jika aku tidak berani, tentu takkan kuberi tahukan rahasiaku kepadamu.”

“Lekas kau bunuh diriku saja,” jerit Jit-jit.

“Ai, kau tahu namaku Ling-hoa, artinya sayang akan bunga (kiasan bagi perempuan), masakah aku tega membunuh anak perempuan molek seperti dirimu ini?”

Sembari tersenyum ia terus mendekat.

“Enyah, pergi! Mati pun jangan kau harap akan menyentuh diriku!”

Pada saat itulah sayup-sayup di luar ada suara orang membentak dan saling labrak, tapi dalam keadaan panik Jit-jit tidak mendengarnya. Sedangkan Ong Ling-hoa hanya berkerut kening saja, lalu mendekati Jit-jit lagi, “O, sayang, betapa mesranya kepadaku tadi, kenapa sekarang kau…”

“Kau bangsat, jahanam…” sampai parau suara Jit-jit, tapi apa daya, dia hanya dapat membungkus dirinya terlebih rapat dengan selimut, akhirnya ia memohon, “O, hendaknya kau ampuni diriku… Lebih baik kau bunuh diriku saja, perempuan lain masih banyak. Ken… kenapa kau paksa diriku.”

“Dan lelaki lain sedemikian banyak, kenapa cuma Sim Long saja yang kau pilih? Kenapa tidak kau anggap diriku sebagai Sim Long saja?”

Habis berkata Ong Ling-hoa terus menubruk ke atas tempat tidur.

Jit-jit menjerit dan meronta serta menghindar, juga memohon, akan tetapi tenaganya belum pulih seluruhnya, dia mulai lemas lagi dan tak berdaya…

“Jangan meronta, jangan melawan,” bujuk Ong Ling-hoa dengan napas terengah. “Tidak ada gunanya kau melawan, setelah kau jadi milikku baru kau tahu aku ini tidak seburuk sebagaimana kau sangka, bahkan bisa jadi engkau tak mau lagi berpisah denganku.”

Jit-jit merasakan sorot mata orang yang kotor dan jalang itu semakin mendekat, hawa napasnya yang berbau juga tambah dekat dan akhirnya bibir menempel bibir.

Dia tak mampu meronta lagi, akhirnya dia tak sadarkan diri.

Waktu Jit-jit jatuh pingsan mungkin lama dan mungkin juga singkat, tapi waktu yang singkat ini pun cukup untuk terjadi macam-macam hal. Namun yang terjadi selama ia pingsan sama sekali tidak diketahuinya.

Sungguh ia lebih suka tidak siuman untuk selamanya, sebab dia tidak berani menghadapi kenyataan apa yang terjadi selama dia pingsan. Namun begitu, akhirnya dia tetap siuman.

Dan begitu dia membuka mata, segera dilihatnya raut wajah itu, raut wajah yang sama, raut wajah “Sim Long”. Saat itu sedang memandangnya dengan tersenyum.

Sesungguhnya apa yang telah terjadi selama dia pingsan?

Hancur luluh hati Jit-jit, hampir gila dia. Tanpa pikir akibatnya, sekuatnya dia melompat bangun, kontan ia menampar muka orang. Anehnya orang tidak mengelak, juga tidak menangkis. Bisa jadi karena dia sudah merasa puas, apa artinya ditampar dua kali oleh anak gadis yang habis dilalapnya?

“Plak”, menyusul Jit-jit terus menubruk maju menendang dan menjotos lagi seperti orang gila sambil berteriak, “Jahanam, kau hancurkan hidupku, biar ku…”

Mendadak kedua tangannya dipegang orang. Ia meronta sekuatnya dan tidak terlepas, segera ia berpaling dan mendamprat pula, “Bangsat, kalian semua…”

Tapi mendadak dilihatnya yang menangkap tangannya terdiri dari dua orang, yang memegang tangan kirinya ialah Him Miau-ji dan yang memegang tangan kanannya adalah Kim Bu-bong.

Sungguh kaget Jit-jit tak terkatakan, dia seperti melihat setan. Seketika ia melenggong, terkilas macam-macam pikirannya, “Ai, kiranya mereka berdua belum mati? Ken… kenapa mereka tidak mati dan berada pula di sini?… Ai, jangan-jangan mereka ini orang Ong Ling-hoa yang menyamar untuk menipu diriku?”

“Siapa kalian?” segera ia membentak.

Him Miau-ji alias si Kucing terbelalak heran, jawabnya, “He, apakah engkau linglung, masa kami tidak kau kenal lagi?”

“Kalian palsu semua, kutahu… kutahu, jangan harap lagi akan menipu diriku,” teriak Jit-jit dengan parau sambil meronta sekuatnya, tapi tak terlepas.

“Palsu? Coba lihat lagi lebih jelas, apakah kami tulen atau palsu?” ucap Kim Bu-bong.

“Mungkin dia memang linglung, kalau tidak masakah Sim-heng dipukulnya?” ujar si Kucing.

Waktu Jit-jit memerhatikan mereka, di bawah cahaya terang terlihat sinar mata Kim Bu-bong yang buram, Him Miau-ji juga kelihatan dirangsang emosi, sorot mata dan sikap demikian mustahil dapat ditirukan orang lain.

Apalagi dari suara mereka, jelas memang asli dan bukan samaran. Tapi cara bagaimana pula mereka datang ke sini?

Jit-jit pandang lagi mata orang yang mencorong dengan senyumannya yang khas. Ciri ini terlebih tidak mungkin bisa ditiru. Inilah Sim Long asli.

Sungguh sukar dimengerti, mengapa palsu bisa berubah menjadi asli? Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Jit-jit menjadi girang, kejut, dan juga heran, katanya kemudian, “Ap… apakah aku sedang mimpi?”

“Siapa bilang kau mimpi?” kata si Kucing.

Dengan bingung Cu Jit-jit berdiri, lalu ia berlutut pula dan menangis, “O, jika aku bermimpi, lebih baik biarkanlah bermimpi selamanya… Aku tidak tahan…”

Perlahan Sim Long berbangkit, sorot matanya penuh rasa kasih sayang, meski mukanya bengep kena tamparan Jit-jit tadi, tapi tetap mengulum senyumannya yang khas itu, ucapnya dengan gegetun, “Anak baik, jangan menangis, saat ini engkau tidak bermimpi, tadi engkau memang bermimpi, mimpi yang buruk.”

Suaranya begitu lembut, begitu mesra, juga tidak dibuat-buat serak.

Jit-jit tidak ragu Lagi, sambil menangis ia menubruk ke dalam pelukan Sim Long dan berseru, “Jadi… jadi engkaulah yang menyelamatkan diriku.”

Perlahan Sim Long menjawab, “Sungguh aku menyesal datang terlambat sehingga engkau banyak tersiksa.”

“Engkau telah menolong diriku, tapi berbalik kupukulmu… Ai, aku memang pantas mampus?” ratap Jit-jit.

“Ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu,” ujar Sim Long dengan suara lembut.

“Kenapa engkau tidak menangkis dan mengelak.”

“Sudah banyak kau tersiksa, apa alangannya kubiarkan dipukul dua kali olehmu sekadar melampiaskan rasa gemasmu?” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“O, mengapa engkau selalu begini baik padaku,” seru Jit-jit merangkul anak muda itu. Dia melupakan segalanya, ia memeluknya erat-erat dan menciuminya, air matanya membasahi wajah Sim Long dan membuat arak muda itu rada kikuk.

Him Miau-ji dan Kim Bu-bong menyaksikan adegan itu dengan melenggong, entah bagaimana perasaan mereka.

“Sudahlah, jangan menangis lagi, di samping masih ada Kim-heng dan Him-heng,” ucap Sim Long dengan canggung.

Baru sekarang Jit-jit ingat di situ masih ada orang lain, cepat ia berbangkit dengan kepala menunduk.

Tiba-tiba sebuah tangan putih halus terjulur ke arahnya dengan secangkir teh, suara seorang yang halus berkata padanya, “Silakan minum, Siocia.”

Waktu Jit-jit menengadah, terlihatlah seraut wajah yang cantik molek memesona, serunya, “Hei, kau!”

“Ya, hamba,” sahut si gadis, kiranya Pek Fifi adanya.

“Kau pun datang ke sini? Ke mana pun Sim Long pergi selalu kau ikut?” tanya Jit-jit.

Fifi menunduk dan tidak berani menjawab, mukanya yang putih bersemu merah sehingga kelihatan kasihan.

“Ayolah bicara, kenapa diam saja,” desak Jit-jit.

“Nona, hamba…” Fifi tetap menunduk, meski sedapatnya menahan air mata, tidak urung tersendat juga suaranya.

“Fifi, boleh kau jaga di luar saja, bila mereka berani bergerak hendaknya segera kau bersuara memanggil,” kata Sim Long.

Fifi mengiakan.

Anak perempuan ini sungguh sejinak domba dan menyenangkan serupa burung sriti, sampai sekarang ia pun tidak lupa memberi hormat kepada Jit-jit, lalu melangkah ke luar dengan menunduk.

Memandangi bayangannya yang ramping itu, Jit-jit menjengek, “Fifi… hm, alangkah mesranya panggilanmu.”

“Ai, dia seorang anak perempuan yang patut dikasihani, kenapa kau bersikap ketus padanya? Dia sebatang kara, tidak punya sanak kadang, masa dapat kutinggalkan dia begitu saja?” kata Sim Long.

“Dia patut dikasihani, memangnya aku tidak perlu dikasihani?” ujar Jit-jit. “Dia sebatang kara dan tidak punya sanak kadang, memangnya banyak sanak saudaraku di sini? Dan mengapa selalu kau tinggalkan diriku?”

“Betapa pun engkau lebih… lebih…”

“Lebih apa? Selalu kau bela dia, selalu kau pikirkan dia, dan ken… kenapa kau datang menolongku? Lebih baik aku tidak berjumpa lagi denganmu selamanya.”

“Baik, baik, anggap aku yang salah, aku…”

Tapi mendadak Jit-jit menubruk lagi ke dalam rangkulannya dan meratap, “O, tidak, engkau tidak salah, akulah yang salah, aku… aku cemburu, namun apa… apa dayaku…”

Si Kucing terkesima menyaksikan hal-hal demikian ini, ia bergumam, “Kau cemburu, apakah kau tahu orang lain juga bisa cemburu?”

“Apa katamu?” mendadak Jit-jit menoleh.

“O, tidak, kubilang senantiasa Sim-heng terkenang padamu, kalau tidak masakah dia menempuh bahaya untuk menyelamatkan dirimu,” sahut si Kucing dengan gelagapan.

“Apa betul?” dari menangis Jit-jit berubah tertawa.

“Tentu saja betul,” kata si Kucing dengan menunduk.

Jit-jit melompat ke depannya dan berseru, “Ai, engkau sangat baik…” lalu ia berpaling ke arah Kim Bu-bong. “Dan kau… kalian berdua adalah orang yang paling baik padaku, jika kalian tidak ada, entah betapa berduka hatiku. Ah, kulupa tanya cara bagaimana kalian terlepas dari bencana?”

Air muka Kim Bu-bong tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, memang inilah kemahirannya, dia dapat menahan setiap perasaannya tanpa kelihatan.

Perlahan ia menjawab, “Sesudah kau pergi, aku tidak mampu melawan mereka berempat, untung Sim-heng muncul dan menyelamatkan diriku. Keempat orang itu tidak mampu mengejar kami, bahkan siapa penolongku saja tidak dilihat mereka.”

“Lalu?” tanya Jit-jit. “Apa lagi?”

“Habis,” jawab Kim Bu-bong.

“Meski uraian Kim-heng sangat singkat, tapi juga sangat penting, hal-hal kecil yang tidak penting tak mungkin diceritakan oleh Kim-heng,” tukas Sim Long dengan tertawa.

“Tidak diceritakannya juga dapat kubayangkan keadaan waktu itu,” ucap Jit-jit, lalu ia memejamkan mata dan berkata pula dengan perlahan, “Tatkala mana pertarungan kalian pasti sangat sengit, keparat Kim Put-hoan itu tentu mengejek terus-menerus dan Kim-toako keki setengah mati, selagi engkau mandi keringat dan tampaknya bisa kalah, mendadak Sim Long melayang tiba secepat terbang, sekali tarik Kim-toako dibawa lari di tengah bayangan orang banyak. Kim Put-hoan dan begundalnya tentu terkejut, tapi mana bisa mereka menyusul dirimu.”

Ia membuka mata, lalu menegas dengan tertawa, “Betul tidak dugaanku?”

“Ya, seperti menyaksikan sendiri saja,” sahut Sim Long dengan tertawa.

“Tapi kemudian bagaimana tidak dapat kubayangkan lagi,” kata Jit-jit.

“Semula aku pun tidak tahu seluk-beluk urusan ini, sebab itulah meski kuselamatkan Kim-heng, tapi tidak kuperlihatkan siapa diriku, juga tidak bentrok dengan mereka. Kemudian baru kuketahui kedatangan mereka adalah untuk mencari diriku, juga diketahui Can Ing-siong dan lain-lain sama mati keracunan, segera kami putar balik hendak mencari mereka, siapa tahu mereka sudah pergi, untung di atas salju terdapat jejak mereka, bersama Kim-heng segera kami melacaknya ke sini.”

“Apakah kau pun melihat jejakku bersama si Kucing?” tanya Jit-jit.

“Sudah tentu kulihat, malahan kami heran dan menduga-duga akan dirimu sehingga kami bertambah cemas,” jawab Sim Long. “Ketika sampai di pinggang gunung, kami kehilangan jejak mereka, hanya tersisa jejakmu dan Him-heng, tapi setiba di tepi jurang jejak Him-heng lantas menghilang juga, sedangkan bekas kakimu mengitar tidak jauh di situ dan lenyap pula, sebagai gantinya adalah bekas tapak kaki seorang lain.”

“Waktu itulah aku tertipu dan diculik oleh bangsat itu,” tutur Jit-jit dengan cemas.

“Aku pun dapat menduga keadaanmu agak gawat, tepi tidak habis mengerti mengapa jejak Him-heng bisa hilang secara mendadak,” tutur Sim Long pula. “Setelah kutimbang, akhirnya kuputuskan untuk turun ke bawah untuk mencari tahu apa yang terjadi.”

“Hah, kau turun ke bawah jurang, wah, kan sangat… sangat berbahaya,” seru Jit-jit. “Bagaimana dapat kau temukan si Kucing di bawah?”

“Waktu itu kudengar juga teriakanmu,” tutur Him Miau-ji, “sungguh aku gelisah, tapi tak mampu berbuat apa-apa, ketika batu besar digusur ke bawah oleh bangsat itu, untung teraling oleh batu karang yang mencuat di atas sehingga aku bebas dari bencana. Sekuatnya kupegangi akar-akaran yang tumbuh di dinding tebing dan menunggu kematian di situ, sebab keadaanku juga sudah lemas dan tidak sanggup mengerahkan tenaga lagi. Semula aku masih bertahan sekuatnya, sampai akhirnya tanganku terasa sakit, sekujur badan linu pegal, pandanganku juga kabur, dalam keadaan setengah sadar hampir saja kulepas tangan dan membiarkan diriku jatuh ke bawah, tapi aku tidak boleh mati, sebab… sebab aku…”

“Ai, semua itu gara-garaku,” ucap Jit-jit dengan air mata berlinang. “Sungguh waktu itu aku pun ingin terjun ke bawah dan mati bersamamu, akulah yang membikin susah padamu…”

Mendadak Him Miau-ji melengos agar air mukanya tidak terlihat orang, tapi tubuhnya yang rada gemetar itu memperlihatkan guncangan perasaannya waktu itu.

“Dengan bantuan Fifi kuikat pinggangku dengan tali dan melorot ke bawah, dapatlah kutemukan Him-heng di situ.” demikian tutur Sim Long. “Ternyata Him-heng sudah dalam keadaan hampir tak sadar, cepat kuangkat dia ke atas. Kau tahu ucapannya yang pertama padaku adalah minta kuselamatkan dirimu.”

Lemas tubuh Jit-jit dan jatuh terduduk.

“Segera kami bertiga memburu ke atas gunung, setiba di sini lantas memergoki Kim Put-hoan dan Lian Thian-hun di luar, dengan cepat dapat kami mengatasi mereka. Ai, untung Fifi ikut serta, dia yang menemukan pintu yang tergembok ini, setelah pintu kami dobrak baru menemukan dirimu.”

“Dan bagaimana dengan iblis jahat Ong Ling-hoa itu?…”

“Masakah dia mampu kabur?” jengek Kim Bu-bong.

“Haha, keparat ini juga cukup tahu diri,” mendadak si Kucing ikut menimbrung dengan tertawa. “Begitu melihat Sim-heng dia lantas menyerah, dia bilang setelah Sim Long asli muncul, terpaksa Sim Long gadungan harus pasrah nasib. Nyata ia menyadari bukan tandingan Sim-heng dan manda diringkus.”

Dalam sekejap ini, pemuda yang simpati telah pulih kembali kepada sifatnya yang riang dan lincah, semua kejadian yang sudah lalu seakan-akan sudah terlupakan olehnya.

Jit-jit merasa gembira dan juga terharu, dengan termangu ia memandangnya, entah bagaimana perasaannya.

“Melihat sikap Ong Ling-hoa itu, aku menjadi tidak enak untuk memperlakukan dia dengan kasar,” tutur Sim Long kemudian. “Kuminta dia duduk bersama Kim Put-hoan dan Lain-lain, setiap pertanyaanku juga pasti dijawabnya dengan jelas.”

“Jadi… jadi semua pengalamanku sudah kau ketahui?” tanya Jit-jit.

“Ya, tahu,” kata Sim Long.

“Oo, aku…” Jit-jit berseru kaget, seketika teringat keadaannya sebelum jatuh pingsan, ia coba memeriksa keadaan sendiri sekarang, ternyata tidak kurang sesuatu apa pun, baju pun rapi. Dengan ragu ia memandang ketiga lelaki di depannya ini.

“Semua ini juga berkat kecekatan bekerja Fifi,” tutur Sim Long pula dengan tertawa. Tampaknya dia dapat meraba isi hati Cu Jit-jit.

Wajah Jit-jit menjadi merah, katanya dengan gemas, “Terkutuk bangsat itu, apakah… apakah kau ringkus atau tutuk dia?”

“Melihat sikapnya yang sopan santun, mana aku tega bertindak kasar padanya, apalagi terdapat pula kaum cianpwe sebagai Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu dan lain-lain, aku cuma pinjam pakai sedikit obat bius khas buatan Kim-heng, kuberi mereka masing-masing setitik dan kuyakin mereka takkan mampu kabur.”

Obat bius “malaikat dewata mabuk sehari” yang disebut itu pernah dirasakan sendiri oleh Cu Jit-jit, dengan sendirinya dia tahu betapa khasiat obat itu, maka dia tidak merasa khawatir lagi, gumamnya, “Wahai Ong Ling-hoa, tampaknya sudah waktunya kau terima ganjaranmu yang setimpal.”

Mendadak ia mendahului berlari ke sana. Terpaksa semua orang mengikutinya.

Siapa tahu baru saja Cu Jit-jit sampai di ruangan sana, segera ia menjerit, ketika semua orang menyusul tiba, mereka pun tertegun.

Tertampak Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu, Kim Put-hoan dan Leng Toa masih duduk lemas di tempatnya, tapi Ong Ling-hoa sudah berbangkit dan hampir kabur ke luar, Pek Fifi tercengkeram olehnya dengan penuh rasa takut.

“Hehe, rupanya kalian sudah selesai berbicara, bagus, bagus!” seru Ong Ling-hoa dengan tertawa terkekeh.

“Keparat, kau…” bentak si Kucing.

“Hehe, perkembangan urusan ini tentu di luar dugaan kalian bukan?” jengek Ong Ling-hoa. “Tapi apa pun juga hendaknya kalian jangan sembarang bertindak, kalau tidak, nona molek indah yang bakal celaka.”

Sim Long tampak tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum, “Lepaskan dia!”

“Lepaskan dia?” tergelak Ong Ling-hoa. “Haha, gampang saja Sim-heng berbicara. Betapa manjur nona molek ini menjadi jimat perlindunganku, mana boleh kulepaskan dia begitu saja?”

“Lepaskan dia, dan kau pun boleh pergi, takkan kami kejar dirimu,” kata Sim Long.

“Betul?” Ong Ling-hoa menegas.

“Betul atau tidak, boleh kau putuskan sendiri.”

“Haha, baik,” seru Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Jika orang lain mungkin aku tidak percaya, sebab pembawaanku memang suka curiga, tapi ucapan Sim-heng tentu saja lain bobotnya.”

Dia pandang Pek Fifi lalu menyambung dan tertawa, “Bicara sejujurnya, sungguh terasa berat bagiku untuk membebaskan kau, tapi biarlah, toh cepat atau lambat kita akan bertemu pula.”

Mendadak Fifi diciumnya sekali, lalu nona itu dilepaskan, ia lantas melangkah pergi dengan terbahak.

Fifi jatuh ke tanah dan menangis. Semua orang sama mengertak gigi saking gemasnya melihat kepergian Ong Ling-hoa itu.

“Kenapa kau bebaskan dia, kubenci…” seru Jit-jit sambil mengentak kaki.

“Jangan khawatir, jika dapat kutawan dia satu kali, tentu juga dapat kutawan dia untuk kedua kalinya.”

“Semoga begitu…” Mendadak Jit-jit menjerit, “Wah, celaka, apakah dia mengembalikan anting-antingku kepadamu?”

“Anting-anting apa?” tanya Sim Long.

“Anting-anting mutiaraku itu adalah tanda pengenalku untuk mengambil harta bendaku, kini telah dibawanya lari, dengan anting-anting itu dapat dia menarik berpuluh ribu tahil emas, sekali ini kejahatannya pasti akan tambah hebat seperti harimau tumbuh sayap.”

Habis berkata segera ia hendak mengejar ke sana. Tapi Sim Long lantas mencegahnya.

“Kenapa kau tahan diriku, masa benar kau bebaskan dia begitu saja?” teriak si nona.

“Masa hendak kau suruh kami menjadi manusia yang tidak dapat dipercaya dan suka menjilat ludahnya sendiri?” kata Sim Long.

Jit-jit melengak dan menghela napas, mendadak ia tuding Pek Fifi dan mengomel, “Kau, semuanya gara-garamu sehingga jahanam itu dibebaskan. Sim Long, sungguh aku tidak mengerti mengapa kau bebaskan penjahat yang tak terampunkan itu.”

“Apakah kita dapat menyaksikan Fifi menjadi korban kejahatannya?” ujar Sim Long, untuk pertama kalinya senyumannya yang khas itu lenyap dari wajahnya.

Terpaksa Jit-jit hanya menggigit bibir dengan menahan rasa dongkol, ia tidak berani bicara lagi.

Kim Bu-bong berkata, “Sungguh aku tidak mengerti, Sin-sian-it-jit-cui adalah obat bius yang sangat mujarab, entah kenapa keparat itu sanggup menawarkannya dan melarikan diri.”

“Hal ini adalah salah… salahku,” tutur Fifi dengan menangis.

“Salahmu?” Kim Bu-bong menegas.

“Tadi dia duduk tenang di tempatnya, mendadak ia merintih, seperti sangat tersiksa,” tutur Fifi. “Aku tidak sampai hati, kutanya dia sebab apa, dia bilang… bilang…”

“Bilang apa?” tanya Kim Bu-bong.

“Dia bilang sejak kecil mengidap penyakit aneh, bila kumat lantas kesakitan setengah mati,” tutur Fifi dengan air mata berlinang. “Kutanya dia adakah obat yang dapat mengurangi rasa sakitnya, dia lantas minta kuambilkan obat yang tersimpan di dalam sebuah kotak kecil di laci meja…”

“Dan kau lakukan permintaannya?” seru Jit-jit khawatir.

“Aku tidak tega melihat dia tersiksa rasa sakit, maka kulakukan apa yang dimintanya, siapa tahu… siapa tahu sejenak setelah dia minum obat, sekonyong-konyong ia melompat bangun.”

“Memang seharusnya kupikirkan kemungkinan ini,” kata Kim Bu-bong dengan menyesal. “Jika keparat itu mempunyai obat penawar bagi obat bius buatan keluarga Suto yang istimewa itu, tentu juga dia mampu menawarkan obat biusku.”

“Tapi aku… aku tidak tahu, aku cuma kasihan padanya, maka…”

“Hm, baik benar hatimu,” jengek Jit-jit.

“Hal ini tak dapat menyalahkan dia,” ujar Sim Long. “Wataknya memang lembut dan berhati welas asih, dia tidak tega melihat orang lain sengsara…”

“Tidak dapat menyalahkan dia, apakah mesti menyalahkan aku?” teriak Jit-jit penasaran. “Kau tahu betapa aku dibikin susah oleh Ong Ling-hoa… Hm, apakah pernah kau pikirkan diriku…”

Mendadak ia pun menjatuhkan diri ke tanah dan menangis.

Semua orang jadi serbasalah menyaksikan kedua anak perempuan yang menangis itu.

Pada saat itulah sekonyong-konyong angin meniup kencang, mendadak gumpalan asap menerjang masuk terbawa angin, terbawa pula hawa panas menyengat badan.

“Celaka, kebakaran!” seru si Kucing.

“Cepat terjang keluar!” kata Sim Long.

“Jangan kalian tinggalkan kami di sini!…” teriak Kim Put-hoan dengan khawatir.

“Pengecut!” damprat Kim Bu-bong, “plak”, ia gampar orang satu kali, tapi akhirnya diangkatnya juga tubuh orang, juga Lian Thian-hun dikempitnya.

“Lepaskan, mati pun aku tidak sudi kau tolong,” teriak Lian Thian-hun.

“Justru akan kuselamatkan dirimu, kau bisa apa?” jengek Kim Bu-bong.

Dengan sendirinya Lian Thian-hun tidak bisa apa-apa, terpaksa ia tutup mulut.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: