Kumpulan Cerita Silat

05/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (05)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:50 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

5. Lao Bo

Ketika Fang You Ping pulang, ia sudah mabuk seperti melayang. Ia tidak ingat di mana minum arak, juga tidak tahu bagaimana ia bisa pulang. Yang pasti, jika ia tidak mabuk, ia tidak akan pulang.

Sebenarnya ia punya keluarga yang hangat dan bahagia. Tapi tujuh bulan yang lalu rumah tangganya tidak hanya hangat, melainkan sudah sangat panas. Sedemikian panasnya hingga ibarat neraka membuatnya enggan pulang.

Ketika malam ini ia pulang, seisi rumah sudah tertidur lelap. Di tangannya masih ada setengah botol arak yang masih ia coba tenggak. Belum lagi terminum, ia malah muntah. Setelah muntah ia jadi agak sadar.

Sebenarnya ia tidak mau sadar. Setelah sadar, keadaannya malah lebih runyam daripada mabuk. Karenanya, ia memilih mabuk daripada sadar. Ia segera menenggak setengah botol arak yang tersisa di tangannya.

Sesungguhnya ia lelaki yang punya uang dan nama. Lelaki yang punya uang dan nama pasti memiliki istri yang mempesona.

Istrinya memang cantik, sangat cantik malah. Boleh dikata, kecantikan istrinya begitu menggoda.

Tapi ia paling tidak tahan jika kaum lelaki memandang istrinya dengan mesum, serasa ingin ia cungkil setiap pandangan lelaki seperti itu.

Sayangnya, ia pasti tidak akan sanggup melakukannya. Karena kalau ia sanggup, entah berapa banyak mata lelaki yang harus ia cungkil.

Namun istrinya sangat suka dengan pandangan binal seperti itu, suka bila lelaki menatapnya dengan mesum. Semakin mesum, semakin baik malah.

Walau di luaran wajah istrinya sedingin es, tapi ia tahu di dalam hati istrinya sedang membayangkan naik ranjang bersama lelaki yang memandang mesum itu.

Pada malam pertama pernikahannya, ia hampir mencekik mati sang istri. Tapi begitu melihat sepasang mata yang besar dan lincah, memandangi mulut yang ranum merekah, tangannya yang terjulur mencekik seketika berubah jadi pelukan.

Ia hanya bisa menangis di dada istrinya.

Entah berapa banyak lelaki yang sudah naik ke ranjang sebelum dirinya, ia tidak mau tahu. Tapi belakangan yang ia tahu hanya satu: jika istrinya tidak ada di tempat tidur, berarti tengah berada di tempat tidur lelaki lain.

Begitu sadar ia pasti mengingat hal itu. Maka Fang You Ping segera lari ke ruang tamu, setengah arak tersisa tidak cukup membuatnya mabuk. Ia mencari sebotol arak lagi, itu pun kalau masih ada.

Tiba-tiba terdengar suara di luar jendela, kibar pakaian diterpa angin.

Sebelum menikah dengannya, istrinya adalah seorang maling perempuan yang lumayan ternama, bernama Zhu Qing. Ilmu meringankan tubuh isterinya bahkan lebih lihai daripadanya.

Setelah menikah ternyata ilmu meringankan tubuh Zhu Qing tetap berguna, ia bisa keluar dari jendela kapan pun mau dan pulang menjelang pagi.

Sejak menikah, Zhu Qing tidak lagi mencuri barang karena suaminya sudah cukup menyediakan barang. Ia hanya perlu mencuri lelaki.

Lilin hampir padam. Fang You Ping sudah separuh mabuk separuh sadar.

Tiba-tiba Zhu Qing muncul dengan pandangan menghina.Wajahnya terlihat pucat, bola matanya hitam, penampilannya dingin tapi anggun.

“Kau dari mana?” tanya Fang You Ping. Sebetulnya ia sudah tahu jawabannya, tapi tetap bertanya.

Zhu Qing menjawab dengan nada menghina, “Mencari seseorang.”

“Mencari siapa?”

“Mencari Mao Wei.”

Di kota itu semua kenal Mao Wei. Harta Mao Wei sangat banyak. Dalam hitungan sepuluh orang, paling sedikit enam di antaranya membeli pakaian di toko Mao Wei. Beras pun dibeli dari toko Mao Wei. Kalau berjalan entah ke mana, tanah yang kau pijak mungkin masih dimiliki Mao Wei. Bila kau melihat seorang perempuan cantik, kemungkinan perempuan itu milik Mao Wei atau sudah pernah dipermainkan Mao Wei.

Pokoknya, di tempat itu, apa pun yang kau lakukan, apa pun yang kau lihat, seputar mata memandang, pasti ada hubungan dengan Mao Wei.

Wajah Fang Yao Ping terlihat merah, marah ia bertanya, “Untuk apa kau cari Mao Wei?”

“Kau mau tahu jawabnya?” Mata Shu Qin menyorot sinar menggoda. Wajahnya yang pucat mulai memerah, kemudian melanjutkan berkata, “Ia juga minum arak sepertimu. Tapi, tidak sepertimu, walau mabuk ia masih bisa melakukannya.”

Tiba-tiba Fang You Ping meloncat dan mencekik leher Zhu Qing. “Kubunuh kau!” teriaknya.

Meledak tawa Zhu Qing. Ia cekikikan, “Silahkan bila ingin membunuhku, tidak ada yang kubuat kagum padamu. Bila kau memarahi Mao Wei, barulah kukagum padamu.”

Fang Yaou Ping tidak berani memarahi Mou Wei, juga tidak berani mencekik mati istrinya karena Mao Wei pasti akan mencarinya. Dalam keadaan mabuk pun ia tidak berani melakukannya!

Tangan Fang You Ping gemetaran kemudian ia mulai melonggarkan cekikannya. Namun begitu melihat wajah Zhu Qing yang menghina, tangannya kembali mencengkram erat.

Tiba-tiba Zhu Qing berteriak, “Jangan memukuli wajahku!” Walau ia berteriak, tapi tidak terlihat ketakutan dalam nadanya, malah terdengar tawa dalam suaranya.

Fang You Ping memukul perut Zhu Qing hingga terjatuh.

Zhu Qing mengait leher Fang You Ping, menariknya supaya ikut terbaring di lantai dan membiarkan Fang You Ping menghirup aroma tubuhnya.

Fang You Ping terus memukuli dada Zhu Qing yang kenyal. Tapi, ia memukul terlalu ringan.

Zhu Qing malah tertawa cekikikan, ia mengangkat gaun panjangnya tinggi-tinggi, mengeluarkan sepasang kakinya yang jenjang dan putih, juga menunjukkan bahwa ia tidak mengenakan apa-apa lagi di balik gaunnya.

Fang You Ping seperti sapi yang terengah. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam di sana. Menghirup seluruh aroma kewanitaan istrinya. Kemudian ia mengangkat tubuhnya, meletakkan persis di bawahnya. Dan Fang You Ping mulai coba memasuki diri istrinya. Ia merasa betapa kewanitaan istrinya sudah begitu basah.

Namun betapa pun mencoba, ia tetap tidak mampu.

Akhirnya ia berguling dari atas tubuh Zhu Qing, jatuh ke samping persis pada bekas muntahnya sendiri.

Ia kembali ingin muntah, tapi tidak bisa. Yang bisa ia lakukan hanya menangis.

Zhu Qing perlahan berdiri, merapikan rambutnya yang kusut. Hanya dalam waktu sekejap ia berubah dari perempuan genit menjadi perempuan anggun.

Dengan dingin ia menatap Fang You Ping. “Aku tahu, sekali mabuk kau tak dapat melakukannya dan selalu mengecewakanku. Sekarang aku mau tidur, jangan coba ganggu, karena aku harus tidur nyenyak supaya besok punya tenaga buat menemui Mao Wei.”

Ia membalik tubuh, masuk ke kamar tidur. Sebelum masuk ia masih sempat berkata, “Kecuali kau membunuh Mao Wei, setiap malam aku akan tetap mencari dia.”

Fang You Ping mendengar pintu dikunci.

Dan ia terus menangis.

Hingga akhirnya nama itu melintas dalam benaknya. Seseorang dapat membantunya. Ya, hanya seorang saja yang bisa membantunya.

Lao Bo!

Begitu teringat nama Lao Bo, hatinya seketika tentram karena ia tahu Lao Bo akan membereskan masalahnya.

Hanya Lao Bo.

Tidak ada yang lain!

—–

Zhang Lao Tou, si “Pak Tua Zhang”, berdiri di dekat tempat tidur memandangi anak perempuannya yang cantik dengan air mata bercucuran.

Ia adalah seorang tua yang memiliki penghidupan susah, seumur hidup membantu orang bekerja di sawah, saat panen pun hasilnya masih milik orang lain.

Hanya anak perempuan satu-satunyalah yang bisa membahagiakannya, yang ia banggakan dan perlakukan sebagai putri raja. Namun sekarang putrinya telah dirusak oleh segerombolan bejat.

Semenjak pulang kemarin malam putrinyanya pingsan dan belum sadarkan diri hingga sekarang.

Sewaktu di gendong ke dalam, semua pakaiannya sobek, memperlihatan kulit putih mulus yang penuh lebam.

Mengapa ia bisa mengalami kejadian seperti ini?

Zhang Lao Tou tidak habis pikir. Ia pun tidak tega memikirkannya.

Sewaktu megambil air kemarin anak itu masih tampak polos dan gembira, masih punya mimpi-mimpi indah. Tapi saat ia pulang kehidupannya sudah berubah menjadi mimpi buruk.

Sebelum pingsan ia masih sempat menyebut nama dua orang: Jiang Feng dan Jiang Ping.

Zhang Lao Tou ingin mencekik leher mereka, namun ia tidak sanggup.

Jiang Feng dan Jiang Ping adalah tamu dari Xu Qing Song yang kaya raya. Xu Qing Song adalah teman baik ayah kedua pemuda itu.

Selain itu, kedua kakak beradik ini lumayan punya nama di dunia persilatan. Mereka pernah membunuh harimau tanpa senjata.

Rasanya mustahil bagi Zhang Lao Tou yang miskin dan renta untuk membalaskan dendamnya.

Namun Xu Qing Song dikenal sebagai orang yang sangat adil. Karenanya, Zhang Lao Tou datang kepadanya. Ia percaya Xu Qing Song pasti akan membela dirinya.

Xu Qing Song tengah berdiri di depan Jiang bersaudara. Mukanya merah. Ia menggulung lengan baju seakan ingin mencekik mati kedua pemuda itu.

Walaupun Jiang bersaudara menunduk sangat dalam, tapi dari sorot mata mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.

Jiang yang lebih muda menunduk melihat sepatunya sendiri yang ternoda darah perawan putri Zhang Lao Tou. Ia merasa sayang karena sepatu itu baru dibeli di Ibu Kota

Binatang jahat! Maki Zhang Lao Tou dalam hati, ia gemetar menahan geram, namun tetap mencoba menahan diri karena percaya Xu Qing Song akan memberi keadilan padanya.

Suara Xu Qing Song sangat tegas ketika berkata, “Apa kalian yang melakukan ini? Jawab dengan jujur!”

Jiang bersaudara mengangguk.

Xu Qing Song sangat marah dan membentak, “Tidak kusangka kalian bisa melakukan hal ini. Apa kalian melupakan begitu saja ajaran orangtua? Aku adalah sahabat orangtua kalian, paling sedikit harus menggantikan dia menghajar kalian! Apa kalian bisa menerima?”

Jiang bersaudara mengiyakan.

Wajah Xu Qing Song tidak marah lagi dan berkata, “Kelakuan kalian walau sangat memalukan tapi masih mau mengakui kesalahan. Di depanku pun kalian berkata jujur. Anak muda seperti kalian karena sudah mengaku bersalah, tentu masih bisa ditolong dan dimaafkan. Untunglah Nona Zhang lukanya tidak seberapa…”

Zhang Lao Tou seketika pening. Kata-kata Xu Qing Song sulit didengarnya lagi.

Xu Qing Song masih melanjutkan berkata, “Sekarang kutanya pada kalian, kelak apa masih berani melakukan perbuatan seperti ini?”

Jiang bersaudara mengeluarkan senyum licik, mereka tahu masalah sudah beres. Dengan cepat si kakak berkata, “Tidak berani… Tidak berani lagi.”

Xu Qing Song melanjutkan, “Karena kalian baru pertama melakukannya dan berani mengakui kesalahan, maka hukumannya agak ringan. Kalian dihukum selama tujuh hari di rumahku, dan semua upah kalian diberikan kepada Nona Zhang.” Xu Qing Song sejenak merapikan lengan bajunya. “Kalau lain kali kalian masih berani melakukan hal ini, aku tidak akan mengampuni lagi!”

Zhang Lao Tou merasa darahnya terhisap habis, untuk marah pun ia tidak bisa. Ia hanya terkulai lemas.

Bila sehari mendapat tiga tail perak, dalam tujuh hari ada dua puluh satu tail. Dua puluh satu tail bagi Jiang bersaudara seperti setitik debu, dan itulah nilai yang ditukar untuk membeli kebahagiaan anak perempuannya seumur hidup.

Jiang bersaudara berjalan sambil menunduk dan terus keluar. Saat melalui Zhang Lao Tou mereka meliriknya, penuh kemenangan.

Zhang Lao Tou orang yang sabar, selama hidup menanggung kesulitan. Ia tetap sabar ketika menerima banyak siksaan dan penghinaan, namun sekali ini ia tidak kuat menanggungnya.

Zhang Lau Tou menggeram. Ia berlari menghampiri dan menjambak baju di dada Jiang Feng. “Aku juga punya dua pulus satu tail perak, bawa adik perempuanmu ke sini. Aku juga mau melakukanya!”

Jiang Feng dingin menatapnya, tidak bergerak sedikit pun. Pukulan Zhang Lau Tou di dadanya seperti lalat menggoyang penglari.

Dua orang pelayan datang menarik tangan Zhang Lao Tou dan langsung menyeretnya pergi, membuat ia merasa diperlakukan seperti seekor monyet. Seumur hidup ia biasa dihina, tapi tidak pernah terhina seperti ini.

Xu Qing Song justeru marah dan berkata, “Kalau bukan anak peremuanmu yang menggoda duluan, mana mungkin Jiang bersaudara akan melakukan hal itu? Mengapa mereka tidak melakukannya pada perempuan lain? Perempuan di desa ini bukan hanya anakmu saja, tahu!” Xu Qing Song mengebas tangannya. “Cepat pulang, ajari anak perempuanmu. Jangan marah-marah seperti orang gila di sini!”

Zhong Lau Tou merasa air pahit keluar dari tenggorokannya, ia ingin muntah tapi tidak bisa.

Maka ia mengikat tali di atas penglari rumah.

Ia marah karena dirinya tidak berguna, marah pada dirinya karena tidak bisa mencari keadilan bagi anaknya yang diperkosa.

Ia rela mengorbankan segalanya demi sang anak, tapi sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bila hidup seperti ini, tidakkah lebih baik mati?

Ia mengikat tali dan memasukkan kepala pada lubang simpulnya. Saat itulah ia melihat di pojok ruangan beberapa labu dan setumpuk anggur.

Setiap panen musim gugur ia akan memilih labu yang paling besar dan anggur yang paling manis, kemudian mengantarkannya kepada orang itu.

Ia melakukan karena rasa hormat dan cinta pada orang itu. Dan sekarang ia memikirkan nama itu.

Lao Bo!

Begitu teringat Lao Bo, hatinya seketika tentram karena ia percaya Lao Bo akan mengembalikan keadilan untuknya.

Hanya Lao Bo.

Tidak ada yang lain!

—–

Tujuh Pemberani, itulah gelar mereka.

Mereka tujuh pemuda, berani, dan penuh tenaga kehidupan. Tapi mereka sendiri tidak begitu mengerti makna kata ‘berani’ pada gelar mereka.

Yang mereka tahu, mereka berani mengatakan dan melakukan apa pun. Mereka tidak tahun bahwa ‘berani berkata dan berbuat’ pun suatu kebodohan.

Yang tertua di antara ketujuh pemuda pembrani itu adalah Tie Cheng Gang. Ia berbeda dengan keenam pemuda lainya, ia bukan anak piatu. Persamaan dirinya dengan keenam pemuda lainnya adalah mereka senang berpetualang.

Salah satu petualangan yang mereka suka adalah berburu. Dan musim gugur merupakan saat tepat untuk berburu.

Hari itu Tie Cheng Gang membawa keenam temannya buat berburu. Mereka baru mendapat dua ekor rusa, seekor kucing gunug, dan beberapa kelinci.

Tiba-tiba mereka melihat sebuah rumah terbakar di kaki bukit. Rumah Duan Si Ye.

Duan Si Ye adalah paman Tie Cheng Gang.

Ketika mereka tiba, api sudah besar melalap rumah. Tidak tampak seorang pun yang berusaha memadamkannya. Ke mana tujuh puluh hingga delapan puluhan penghuninya?

Mereka berlari masuk ke dalam rumah dan menemukan jawabannya. Di rumah itu semua lelaki, perempuan, tua, muda, semua sudah jadi mayat.

Total, tujuh puluh sembilan mayat, dan salah satunya adalah mayat Duan Si Ye.

Tombak perak yang biasa digunakan Duan Si Ye telah putus menjadi dua. Ujung tombak menancap di dadanya, namun gagang tombak tidak ada di tangannya.

Sepasang tangan Duan Si Ye justeru mengepal dengan keras, hingga urat-urat nadi di tangannya merongkol seperti ular mati berwarna hijau kebiruan.

Barang apa yang digenggam Duan Si Ye begitu erat hingga mati pun ia tidak rela melepaskannya?

Tidak ada yang tahu, bahkan sepertinya Duan Si Ye pun tidak memiliki kesempatan untuk mengetahuinya hingga mati pun ia tidak sempat menutup mata.

Melihat keadaan mayat sang paman, hati Tie Cheng Gang sakit sekali, lambung pun terasa menciut.

Ia berjongkok dan menutup kelopak mata Duan Si Ye, kemudian berusaha membuka genggaman tangan sang paman.

Gengaman itu sangat sulit dibuka. Tangan Duan Si Ye menggengam terlalu erat, dan kini otot dan tulangnya sudah mengeras kaku.

Api semakin mendekat, mulai memanggang wajah Tie Cheng Gang. Dari rambutnya pun mulai tercium bau hangus.

Teman-temannya berteriak, “Cepat lari! Kita keluar dulu baru bicara lagi!”

Dengan menggigit bibir Tie Cheng Gang mencabut golok dan memengal sepasang tangan pamannya untuk kemudian ia simpan dalam pakaiannya serta berlari ke luar sana.

Sesampai di luar, teman-temanya merasa heran. “Jika kau ingin melihat apa yang digengamnya kenapa tidak kau bopong saja tubuhnya keluar?”

Tie Cheng Gang mengeleng kepala. “Mending paman sekalian dikremasi saja.”

Ia tidak pernah berbohong pada teman-temannya, tapi kali ini ia tidak mengatakan yang sejujurnya.

Sebetulnya ia merasa firasat tidak enak, membuatnya memutuskan membiarkan mayat pamannya tetap di dalam.

Teman-temannya menatap dengan heran, “Apa kita biarkan keadaan seperti ini?”

“Habis bagaimana lagi?” Tien Cheng Gang balik bertanya.

“Paling sedikit kita harus tahu siapa yang membakar rumah ini.”

Tie Cheng Gang belum menjawab, ia melihat kedatangan tiga biksu mengenakan baju berwarna biru. Di pedang mereka terlihat pita berwarna kuning berkibar tertiup angin seiring dengan jengot mereka yang belang dan juga terkibarkan angin.

Mereka sepeti tiga dewa yang baru turun dari langit. Ketiganya pasti bukan pembunuh.

Entah mengapa melihat mereka hati Tie Cheng Gang terasa berat. Sebaliknya, teman-temannya malah merasa senang.

Huang Shan San You sudah datang. Asalkan ada tiga biksu sepuh itu semua masalah pasti beres.

Huang Shan San You adalah sebutan untuk Yi Shi, Yi Yun, dan Yi Qiang.

Walau mereka adalah biksu, namun ilmu pedangnya sangat tinggi. Mereka juga sangat adil. Tidak heran jika banyak anak muda yang belajar pedang mengidolakan mereka.

Tidak terduga wajah Huang Shan San You terlihat marah. Begitu berhadapan, Yi Qiang si “Satu Mata Air” berseru, “Kalian sangat berani!”

Yi Yun si “Satu Awan” menyahuti, “Kutahu kalian biasa melakukan hal-hal yang berani, tidak disangka kalian juga berani melakukan ini!”

Yi Shi si “Satu Batu” selalu jarang bicara. Ia diam seperti sebongkah batu. Lebih keras dan lebih dingin daripada batu.

Enam orang dari Tujuh Pemberani itu wajahnya sudah berubah. Mereka bukan takut, tapi kaget setengah mati.

“Memangnya kami sudah melakukan apa?” tanya salah satunya, sementara yang lain berkata, “Perbuatan ini bukan kami yang melakukan!”

Yi Qiang murka, “Kalian masih berani menyangkal?”

Yi Yun pun marah, “Bila bukan kalian, lantas siapa? Darah di pisau kalian pun belum dibersihkan!”

Keenam pemuda dari kaget menjadi heran dan gelisah. Mata Huang Shan San You begitu jeli, masakah tidak bisa membedakan darah manusia atau hewan?

Tapi Tie Cheng Gang terlihat tenang, ia sudah melihat permasalahanya dan tahu bahwa tiada seorang pun yang bisa membela mereka dari tuduhan itu.

Ia tidak mau mati sebagai kambing hitam. Lebih-lebih ia tidak mau keenam kawan setianya menemaninya mati. Karena itu, ia harus tenang.

Yi Qiang bertanya, “Apa lagi yang ingin kalian bicarakan?”

Tie Cheng Gang tiba-tiba menukas, “Aku semua yang lakukan ini! Mereka tidak tahu apa-apa.”

“Apa kau suruh aku melepas mereka?” tanya Yi Qiang.

Tie Cheng Gang menjawab, “Asal kalian melepas mereka, kujamin satu patah pun tak kan kubantah!”

Mata Yi Shi menyipit. “Satu pun tidak bisa dilepaskan. Bunuh semua!”

Pedangnya lebih cepat daripada suaranya. Saat kilatan pedang berayun, satu nyawa sudah melayang.

Tujuh Pemberani tidak seperti orang lain. Mereka bersatu bukan karena teman sekedar minum arak dan daging. Di antara mereka benar-benar terjalin perasaan yang erat. Bila ada yang mati, yang lain matanya akan memerah karena marah.

Sekarang mata mereka sudah merah karena marah. Walau mereka tahu bukan tandingan Huang Shan San You, mereka tidak takut mati.

Mereka adalah anak muda yang darahnya mudah bergolak, tidak mengerti arti kehidupan dan makna selembar nyawa yang mahal. Mereka juga tidak mengerti ketakutan dan kematian. Karenanya, mereka pantang lari dari masalah.

Tie Cheng Gang adalah yang tertua di antara mereka. Tiba-tiba ia justeru membalikkan tubuh dan lari masuk ke dalam kobaran api.

Ia lari bukan karena takut mati, ia hanya tidak mau mati tanpa tahu penyebab kematiannya.

Ia juga tahu, jika ia mati, Tujuh Pemberani akan dicap sebagai pembunuh yang membakar rumah Duan Si Ye. Nama buruk Tujuh Pemberani tidak akan bisa dibersihkan dan pembunuh sebenarnya akan tetap bebas berkeliaran.

Ia pun tahu, Huang Shan San You tidak akan membiarkannya lolos, karenanya ia berlari masuk ke dalam kobaran api.

Yi Shi sangat marah, beteriak, “Jangan biarkan dia lolos! Bunuh dia! Lima orang ini cukup kuhadapi sendiri saja.”

Ia mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan, kemudian dari atas ke bawah. Jalur yang dilalui pedangnya seketika menyembur darah.

Sementara Yi Qiang dan Yi Yun menerjang kobaran api mengejar Tie Cheng Gang. Walau api sudah lama berkobar, nyalanya masih besar.

Jenggot mereka yang belang sudah habis terbakar, tubuh pun di beberapa tempat juga hangus terbakar.

Kehidupan Huang Shan San You biasanya sangat tenang dan damai. Pembawaannya pun selalu anggun seperti dewa. Tapi sekarang keadaan mereka tampak kacau begini.

Mengapa mereka mengangap nyawa Tie Cheng Gang begitu penting dan berharga?

Yi Qiang berteriak, “Tie Cheng Gang, apa kau tidak mendengar jerit teman-temanmu? Apa kau tidak perduli dengan mereka? Teman macam apa kau?”

Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanya gemeretak kayu terbakar api.

Yin Yun sudah tidak tahan lagi kemudian berkata, “Kita mundur dulu, Tie Cheng Gang tidak mungkin lolos.”

Walau pun Tie Cheng Gang bisa lolos dari api, tapi ia tidak akan bisa lolos dari pedang Huang Shan Sou You. Bila tetap bertahan di kobaran api, ia akan mati terpanggang.

Api sudah padam.

Huang Shan San You mulai membersihkan sisa-sisa kebakaran. Mayat-mayat pun sudah seluruhnya hangus terbakar.

“Ada berapa mayat?” tanya Yi Shi.

“Delapan puluh lima,” jawab Yi Qiang.

Wajah Yi Shi langsung berubah. Setelah lama ia baru berkata, “Tie Cheng Gang belum mati!”

Yi Qiang menganguk. “Benar dia belum mati.”

“Dia harus mati!” kata Yi Shi.

Yi Qiang menganguk dan mereka mulai mencari lagi.

Akhirnya mereka menemukan sebuah jalan bawah tanah di reruntukan puing bekas kebakaran itu.

Wajah Yi Qiang terlihat semakin marah. “Tie Cheng Gang sudah lari lewat jalan ini.”

“Dia masih keluarga Duan, tentu sudah pernah ke sini. Ia pasti tahu jalan ini.”

“Mari kita kejar.”

Yi Qiang berkata dingin, “Harus dikejar ke mana pun pergi, tidak boleh dibiarkan lolos!”

Tiga malam berlalu. Jangkrik berderik.

Tie Cheng Gang menelungkup di semak-semak berduri, tidak berani bergerak sama sekali.

Tubuhnya terluka tusukan duri-duri semak. Darah masih mengalir. Ia juga sudah tiga hari tiga malam tidak makan dan minum.

Ia lapar hingga matanya lamur. Pun bibirnya sudah pecah kekeringan. Namun ia tetap tidak berani bergerak.

Ia tahu ada orang yang mengejarnya. Pendekar Zhao Xiong sudah memerintahkan seluruh anak buah untuk menangkapnya.

Sesungguhnya Zhao Xiong adalah teman baik ayahnya. Tie Cheng Gang datang ke tempat itu untuk meminta pertolongan, perlindungan, serta keadilan.

Nyatanya, Zhao Xiong lebih mendengar kata-kata Huang Shan Sao You. Jika Tie Cheng Gang tidak keburu tahu bahwa Zhao Xiong sudah bersekongkol dengan ketiga pendeta itu, mungkin sekarang ia sudah mati.

Zhao Xiong tidak percaya padanya. Lantas kepada siapa lagi ia dapat percaya?

Orang-orang dunia persilatan tidak ada yang mau melindunginya pun tidak ingin bermusuhan dengan Huang San Sao You.

Wajah Tie Cheng Gang menempel ke tanah yang basah oleh air matanya.

Ia tidak mudah menangis. Mati pun ia tidak mau menangis. Namun sekarang ia justeru menangis karena sedih dan putus asa.

Sepasang tangan yang kering dan keriput itu masih ada di dalam pakaiannya.

Tangan yang menggengam suatu barang itu adalah bukti yang kuat buat ia membela diri.

Tapi ia tidak bisa mengeluarkan bukti itu kepada orang lain karena tidak ada yang mempercayainya.

Orang lain pasti akan membawa sepasang tangan itu kepada Huang Shan Sao You dan mereka pasti akan memusnahkan bukti itu. Kalau situasi sudah begini, Tie Cheng Gang mati pun sudah tidak ada tempat lagi.

Saat ini ia seperti anjing liar. Sedih, tiada yang mau membantunya. Dingin. Lapar.

Bahkan kehidupan anjing liar mungkin lebih baik daripada dirinya.

Ia membalik tubuh, menelentang, menatap langit.

Bintang-bintang bertebaran di angkasa.

Begitu terang. Begitu indah.

Sinar bintang selalu memberi harapan.

Tiba-tiba ia terpikir nama seseorang.

Lao Bo!

Satu-satunya orang yang bisa ia percaya di dunia ini dan memecahkan masalahnya hanya Lao Bo.

Tidak ada yang lain!

—–

Tempat itu sangat indah, rumput sangat hijau, pemandangan begitu mempesona.

Berbaring di tepat itu siapa pun bisa melihat gunung yang hijau, awan yang bergerak perlahan, juga bisa melihat pemandangan kota yang indah di kaki gunung.

Itulah sebuah kota tua.

Kota itu sudah hancur sepuluh tahun yang lalu, tapi Wan Peng Wang memperbakinya dan menjadikannya hidup kembali.

Berkat jasanya, kota itu sudah menjadi pusat perkumpulan Shi Er Fei Pang Bang dengan ketuanya Wan Peng Wang.

Ia tinggal di kota itu.

Orang-orang di dunia persilatan tidak ada yang berani sembarangan di sana, bahkan merusak sehelai rumput pun mereka tidak berani.

Sekarang bunga-bunga berguguran dan rerumputan mulai menguning.

Namun dua sejoli itu tidak perduli.

Asalkan bisa berkumpul bersama hal lain mereka tidak perdulikan lagi.

Walau bunga mekar atau layu, entah musim semi atau gugur, asalkan bisa bersama
mereka bahagia.

Mereka masih muda dan saling mencinta.

Yang lelaki berusia delapan belas, sang gadis berusia hampir sama, berbaring di pelukannya. Bagi mereka, angin begitu halus dan hujan begitu lembut.

Wajah si gadis selalu tersenyum puas. Ia berterima kasih atas kehidupan yang begitu indah.

Tapi bila ia melihat rumah kokoh di bawah gunung sana, keceriaannya seketika menghilang. Matanya dikabuti kesedihan.

Si Gadis menghela nafas, “Xiau Wu sebenarnya kau tidak boleh mencintaiku dan tidak boleh memperlakukanku begini baik.”

Tangan Xiau Wu lembut merapikan rambutnya, “Kenapa?”

“Karena aku tidak pantas menerimanya.”

Mata gadis itu mulai memerah dan air mata mengalir. “Kau tahu, aku hanya seorang pelayan, tubuhku milik orang lain. Jika orang menyuruhku mati pun aku tidak bisa hidup lagi.”

Xiao Wu memeluknya erat. “Dai Dai, janganlah kau berkata begitu. Hatimu adalah milikku, hatiku pun milikmu. Jangan takut.” Ia memeluk begitu erat membuat si gadis luluh.

Tapi air mata Dai Dai terus mengalir. Dengan sedih ia berkata, “Aku tidak takut dengan yang lain, hanya kuatir hubungan kita diketahui orang lain.”

Ia sangat takut karena pernah melihat majikannya marah. Majikannya adalah Wan Peng Wang. Bila Wan Peng Wang marah, tidak seorang pun yang bisa menahannya.

Gadis itu membalas pelukan Xiao Wu. “Majikanku tidak akan mengijinkan kita bersama. Dia selalu bertindak kejam pada pelayan-pelayannya. Kalau dia tahu…”

Xiao Wu tiba-tiba menutup mulut Dai Dai dengan mulutnya, tidak mengijinkannya melanjutkan kata-kata.

Tapi bibir Xiao Wu sendiri terasa dingin dan gemetar. Sesaat ia melepaskan gadisnya dan berkata, “Aku tidak akan mengijinkan siapa pun memisahkan kita. Tidak pernah…”

Ia menghentikan kata-katanya karena merasa tubuh Dai Dai tiba-tiba mengejang kaku. Ia segera membalik tubuh dan melihat Wan Peng Wang sudah berdiri di sana.

Di mata setiap orang, Wan Peng Wang bagaikan dewa. Bila benar ada dewa, dewa itulah Wan Peng Wang.

Orang ini tubuhnya seolah lebih besar dan tinggi daripada dewa. Wajahnya lebih berwibawa daripada dewa. Walau ia tidak bisa membuat petir, sekali tangannya mengayun bisa secepat angin dan sekeras petir.

Xiao Wu adalah seorang pelajar, namun kungfunya lumayan lihai. Tapi begitu tangan Wan Peng Wang mengayun, ia tidak mampu menahan dan mengelakkannya.

Ia hanya bisa mendengar suara tulang retak. Dalam keadaan separuh sadar ia mendengar tangis Dai Dai serta langkah suara Wan Peng Wang yang mendekati.

“Aku tahu kau adalah anak Wu Lao Dao, ia pernah bekerja padaku,” kata Wan Peng Wang pada Xiou Wu, “Hari ini aku tidak membunuhmu, tapi lain kali kalau berani datang kemari akan kubuh kau dengan cara ditarik lima ekor kuda.”

Bila Wan Peng Wang sudah berkata begitu, setiap orang pasti mempercayainya. Bila ia mengatakan akan membunuh dengan cara ditarik lima ekor kuda, ia tidak akan menggunakan cara lain untuk membunuh.

“Gotong dia pulang! Beritahu kepada Wu Lao Dao jika ingin anaknya selamat, jangan biarkan keluar rumah!”

Semenjak itu Wu Lao Dao tidak pernah mengijinkan anaknya keluar rumah karena ia sangat menyayangi anaknya.

Tapi ia juga tidak sanggup melihat anaknya semakin hari semakin kurus dan merana. Maka ia mendatangi Wan Peng Wang agar Dai Dai bisa menikah dengan anaknya.

Jawaban yang ia dapat hanyalah sebuah gaplokan.

Bila Wan Peng Wang menolak, ia hanya akan menolak satu kali saja karena tidak ada yang berani meminta untuk kedua kali.

Saat panen musim gugur, nyawa Xiao Wu hampir berahir.

Xiao Wu tidak mau makan dan minum, tidak mau tidur dan tetap terjaga. Dalam jaganya, setiap hari ia seperti linglung terus menerus menyebut nama Dai Dai.

Hati Wu Lao Dao serasa hancur mendengar tangis anaknya. Ia rela mengorbankan segalanya demi sang anak, tapi sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia hanya bisa pasrah melihat anaknya mati perlahan. Ia sendiri sudah tidak mau hidup lagi.

Di saat itulah ia menerima sebuah undangan perayaan ulang tahun, datang dari temannya sejak kecil.

Walau umurnya tidak jauh berbeda, tapi ia memanggilnya, “Lao Bo”. Hanya dua kata itu saja.

Lao Bo, berarti “Paman Bo”, itu sudah menunjukkan betapa Wu Lao Dao sangat menghormati Lao Bo. Ia sangat benci pada dirinya karena tidak sedari kemarin teringat nama itu.

Satu-satunya orang yang bisa menjadi dewa penolong anaknya hanyalah Lao Bo.

Tidak ada yang lain!

Lao Bo adalah Sun Yu Bo.

—–

Dunia ini memang tidak adil dan banyak orang yang mengalami ketidakadilan itu.

Untunglah selain Thian, masih ada orang bernama Sun Yu Bo.

Walau kau sangat miskin tetapi manakala kau mengalami suatu ketidakadilan dan datang padanya, maka ia akan mengangap masalahmu sebagai masalahnya dan akan memikirkan cara untuk memecahkannya.

Sun Yu Bo tidak akan mengecewakan orang yang datang padanya.

Kau tidak perlu membayar apa pun, semua pasti akan ditolongnya, entah ia teman atau bukan, miskin atau kaya, ia tetap akan membantumu. Karena, ia senang menegakkan keadilan dan membenci segala ketidakadilan seperti petani membenci hama.

Walau ia tidak menerima bayaran, secara tidak sengaja orang-orang sudah memberi sesuatu kepadanya. Bayaran itu berupa penghormatan dan persahabatan. Karena itu pula mereka memanggilnya Lao Bo, “Paman Bo”.

Dan ia bangga dengan panggilan itu.

—–

Ia memang senang membantu orang seperti ia menyukai bunga yang bermekaran.

Karenanya tidaklah mengherankan jika tempat tinggal Lao Bo bagai sebuah kota bunga.

Di setiap musim berbeda pasti ada jenis bunga yang berbeda keindahan dan berbeda waktu mekarnya. Dan Lao Bo selalu berada di tempat di mana bunga mekar sedang indah-indahnya.

Bunga yang paling banyak mekar saat ini adalah chrysan, maka Lao Bo pun berada di sana sambil menjamu para tamunya.

Tamu-tamu Lao Bo datang dari berbagai daerah dan wilayah, membawa berbagai macam bingkisan, mulai dari yang mahal hingga buah dan sayuran, atau hanya sekedar membawa diri dan perasaan hati yang tulus.

Lao Bo menganggap mereka sama, ia tetap akan melayani setiap tamunya dengan cara yang sama. Terutama pada hari ini, ia lebih ramah daripada biasanya karena hari ini istimewa.

Inilah hari ulang tahunnya.

Sebenarnya tubuh Lao Bo tidak tinggi, tapi orang-orang bilang tubuh Sun Yu Bo terlihat paling tinggi.Wajahnya selalu tersenyum, tapi keramahannya tidak mengurangi wibawanya. Semua orang tetap menghormatinya.

Di samping Lao Bo berdiri Sun Jian yang lebih muda. Jelas terlihat mereka lebih menghormati Sun Yu Bo daripada Sun Jian.

Sun Jian bertubuh tidak begitu tinggi, tapi dari keseluruhan posturnya seperti mengandung tenaga besar yang tidak ada habisnya

Sun Jian adalah putra Lao Bo. Seperti ayahnya, ia juga senang menolong orang. Ia sering melepas bajunya buat membantu siapa pun. Tapi orang selalu menganggap ia tidak seperti ayahnya.

Sifat Sun Jian sangat keras seperti bara, setiap saat dapat meledak. Sifat seperti itu sering membuatnya salah langkah. Karena itu juga ia sering kehilangan teman.

Orang lain bukan tidak mau mendekatinya, melainkan takut pada sifatnya itu. Tapi kaum perempua adalah pengecualian.

Walau perempuan takut padanya, tapi sulit menolak daya tariknya. Banyak perempuan rela mengikutinya.

Sekarang Sun Jian berdiri di luar taman chrysan menemani ayahnya menyambut tamu.

Ia kesal karena sudah lama berdiri di sana. Untungnya sekarang sudah waktunya makan dan sudah cukup banyak tetamu yang hadir.

Di antara para tetamu ada yang ia kenal, tapi banyak juga yang tidak ia kenal. Salah seorang di antaranya adalah pemuda yang mengenakan pakain sederhana dan berwajah dingin. Pemuda itu datang membawa bingkisan yang tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah.

Namun ayah dan anak Sun tidak mengenalnya. Tentu hal ini tidak masalah karena mereka senang berteman. Pintu rumah Lao Bo selalu terbuka untuk semua orang. Asal kau datang, Lao Bo pasti senang.

Apalagi pemuda asing itu terlihat menyenangkan. Ayah dan anak Sun sangat senang menyambutnya.

Sun Jian juga suka berteman. Karenanya ia sengaja melihat kartu nama yang tertera pada bingkisan yang dibawa pemuda itu.

Namanya Chen Zhi Ming. Nama yang sangat biasa.

Mata Sun Yu Bo sangat awas dalam mengenali bakat dan perbawa seseorang, segera ia bisiki anaknya, “Apa kau pernah mendengar nama ini?”

“Tidak,” balas berbisik Sun Jian.

Sun Yu Bo mengerut dahi. “Dua tahun belakangan ini kau senang berkelana, masakah tidak mengetahui nama ini?”

“Kemungkinan nasibnya kurang mujur, jadi namanya tidak dikenal.”

Sun Yu Bo berfikir sebentar kemudian katanya, “Nanti kau harus tanya Lu Xiang Chuan, mungkin ia tahu siapa pemuda ini.”

“Baiklah,” jawab Sun Jian.

Walau Sun Jian berjanji untuk bertanya, namun ia tidak sempat menanyakannya ke Lu Xiang Chuan karena tamu yang berdatangan semakin banyak dan ia segera melupakan kejadian tadi.

Seandainya Sun Jian tidak lupa pun belum tentu ia akan bertanya ke Lu Xiang Chuan. Ia menganggap Lu Xiang Chuan kebanci-bancian dan ia tidak suka lelaki seperti itu.

Seandainya ia mengikuti nasihat ayahnya guna mencari tahu siapa pemuda itu, mungkin banyak hal yang akan membuat darah bergolak dan air mata mengalir bisa dicegah.

Sebetulnya pemuda itu bukan bernama Chen Zhi Ming, ia datang ke tempat itu hanya untuk membunuh orang, dan orang yang ingin ia bunuh adalah Sun Yu Bo.

Nama asli Chen Zhi Ming adalah Meng Xin Hun.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: