Kumpulan Cerita Silat

04/01/2009

Pisau Terbang Li (64)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 9:06 am

Sumber Segala Masalah

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Hanya kenangan akan Lin Shi Yin, sudah membawa rasa sakit yang menusuk hati Li Xun Huan.

Tapi ia tidak merasa perlu untuk mencarinya. Karena ia tahu bahwa Long Xiao Yun akan selalu memperlakukannya dengan baik. Walaupun Long Xiao Yun telah banyak berubah, ia tahu bahwa perasaan Long Xiao Yun terhadap Lin Shi Yin tetap sama.

Selama ia masih setia terhadap Lin Shi Yin, Li Xun Huan dapat mengampuni semua kesalahannya.

Saat ini, tidak ada yang dapat menggambarkan betapa bahagianya perasaan Long Xiao Yun.

Dalam beberapa hari, ia akan menempati posisi nomor dua dalam Partai Uang Emas, menjadi saudara angkat seseorang yang paling kuat dan paling berpengaruh dalam dunia persilatan.

Bahkan wajah anaknya pun tampak begitu cerah.

Tapi yang mengecewakan dia adalah istrinya.

Mengapa ia tidak mau ikut bersamaku? Mengapa ia tidak ingin berbagi dalam kejayaan dan keberhasilanku?

Namun ia tidak akan membiarkan hal ini merusak suasana hatinya.

Bagi sebagian orang, keinginan mereka yang terbesar dalam hidup adalah kekayaan. Sebagian yang lain menginginkan kekuasaan.

Jika seseorang bisa mendapatkan salah satu saja, segala penderitaan dan kesakitan dalam kehidupan pribadinya akan terasa lebih ringan.

Long Xiao Yun muda sedang memandang ke luar jendela, namun pikirannya melayang-layang entah ke mana.

Long Xiao Yun menepuk pundak anaknya dan bertanya, “Apakah menurutmu kali ini ShangGuan JinHong sendiri yang akan datang dan menyambut kita?”

Anaknya menoleh dan menjawab, “Sudah pasti. Dan upacaranya pun pasti akan sangat mewah.”

Long Xiao Yun pun mengangguk setuju. “Aku pun berpikir begitu. Aku sudah menjadi saudara angkatnya. Kalau ia memberi muka padaku, artinya ia pun mengangkat martabatnya sendiri.”

Suaranya merendah saat berkata, “Ketika ia datang, apakah aku harus menyebutnya ‘Ketua’ atau ‘Saudaraku’?”

Sahut Long Xiao Yun muda, “Tentu saja ‘Saudaraku’. Aku pun harus mengubah kebiasaanku dan membiasakan diri memanggilnya ‘Paman’.”

Long Xiao Yun tertawa senang, katanya, “Mempunyai paman seperti dia…. Kau sangat beruntung. Tapi…..”

Tawanya berhenti saat ia melanjutkan, “Li Xun Huan masih hidup. Apakah kau pikir ShangGuan JinHong akan mengingkari kata-katanya?”

Anaknya tersenyum dan menjawab, “Semua pendekar sudah tahu akan acara ini. Undangan pun telah disebarkan. Jika ia mungkir, ialah yang akan kehilangan kredibilitas dan siapapun tidak akan mempercayai dia lagi.”

Senyum kembali menghiasi wajah Long Xiao Yun. “Kau benar. Reputasinya dalam dunia persilatan tergantung dari ketegasan perkataannya. Jika sudah keluar dari mulutnya, perkataannya tidak mungkin bisa ditarik kembali. Walaupun ShangGuan JinHong ingin mengubah keputusannya, sekarang sudah terlambat.”

Kertas-kertas di meja luar biasa banyaknya, sepertinya semakin hari bertambah semakin banyak.

Tanggung jawabnya pun semakin hari semakin besar.

Setiap persoalan selalu memerlukan perhatian dan keputusan pribadinya.

Ia tidak percaya pada siapapun juga.

ShangGuan JinHong berada di mejanya sampai subuh, bekerja tanpa istirahat sejak lama. Tapi ia tidak merasa lelah, bahkan sangat menikmatinya.

Pintu terbuka.

Seseorang melangkah masuk.

ShangGuan JinHong tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang masuk. Karena hanya satu orang yang bisa langsung masuk ke dalam kamarnya.

Jin Wu Ming.

Jin Wu Ming berlaku seperti biasa. Setelah masuk ia berjalan menuju ke belakang ShangGuan JinHong.

Tanya ShangGuan JinHong, “Di mana Li Xun Huan?”

“Ia sudah pergi.”

ShangGuan JinHong menoleh memandang Jin Wu Ming.

Pandangannya langsung tertuju pada lengan Jin Wu Ming yang patah. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak berkata sepatah katapun. Wajahnya pun tidak menunjukkan perasaan apapun.

Di wajah Jin Wu Ming pun tidak tampak ada perasaan apapun. Matanya yang sangat pucat itu hanya memandang ke kejauhan.

Seolah-olah tidak ada yang berubah.

Ia tidak dimarahi, tapi ia pun tidak dihibur.

Apakah tangannya yang patah, atau kakinya yang patah, bukan urusan ShangGuan JinHong.

Setelah sekian lama, terdengar ketukan pintu.

Setumpuk lagi dokumen dibawa masuk.

Semuanya berwarna kuning. Hanya ada satu yang berwarna merah, yang kelihatan sangat menyolok.

ShangGuan JinHong langsung membukanya dan membacanya cepat. Hanya tertulis kata-kata singkat, “Datang ke tempat biasa. Lu Feng Xian menunggu.”

ShangGuan JinHong berdiri tanpa suara dan seperti sedang berpikir keras. Ia segera membuat keputusan.

Ia pergi ke luar tanpa tergesa-gesa.

Jin Wu Ming mengikutinya di belakang seperti bayangan.

Keduanya keluar dari pintu, melalui jalan rahasia, melalui pekarangan terbuka, melalui seorang penjaga yang membungkuk dalam-dalam, dan sampai ke tempat yang terang, penuh sinar matahari.

Matahari musim gugur bagaikan seorang wanita di masa tuanya. Tidak mampu lagi menggerakkan hati laki-laki.

Kedua orang ini masih berjalan beriringan, satu di depan satu di belakang….tapi tiba-tiba Jin Wu Ming merasa bahwa irama langkah ShangGuan JinHong telah berubah sedikit.

Jin Wu Ming tidak lagi dapat mengikuti iramanya dengan harmonis.

Walaupun langkah ShangGuan tidak bertambah cepat, namun jarak di antara mereka semakin lama semakin lebar.

Langkah Jin Wu Ming makin lama makin pelan, dan akhirnya berhenti sama sekali.

ShangGuan JinHong tidak menoleh. Hanya dari sudut matanya ia melihat bayangan Jin Wu Ming yang makin lama makin jauh.

Mata yang kelabu dan mati itu sedikit demi sedikit memancarkan kepedihan yang mendalam dan tak terkatakan….

Hutan pinus yang lebat.

Begitu lebat sampai-sampai sinar matahari tidak dapat menembusnya sepanjang tahun.

Walaupun gelap, udara di situ lembab. Angin sepoi-sepoi membawa wangi daun cemara.

Lin Xian Er sedang bersandar pada sebatang pohon. Tangannya menggenggam erat tangan Lu Feng Xian. Tatapan matanya yang lembut dan merayu itu tidak pernah lepas dari wajah Lu Feng Xian.

Wajah Lu Feng Xian pucat. Keriput mulai tampak di sudut matanya.

Angin musim gugur bertiup melalui hutan itu dan membawa kesejukan yang menentramkan hati.

Dengan suara lembut Lin Xian Er bertanya, “Apakah kau menyesal?”

Lu Feng Xian menggelengkan kepalanya dan balik bertanya, “Menyesal? Mengapa aku menyesal? Bersama denganmu, tidak ada seorang laki-laki di dunia ini yang merasa menyesal.”

Lin Xian Er bersandar pada lengan Lu Feng Xian dan bertanya setengah berbisik, “Apakah aku begitu istimewa?”

Lu Feng Xian meraih pinggangnya dan tersenyum. “Tentu saja. Kau jauh melebihi bayanganku sebelumnya, melebihi apa yang dapat diimpikan laki-laki manapun…”

Perlahan-lahan tangannya meraba naik turun tubuh Lin Xian Er.

Suara nafas Lin Xian Er terdengar semakin berat dan memekik kecil, “Jangan sekarang….”

“Kenapa?” Lu Feng Xian bertanya dengan tidak sabar.

Sambil menggigit bibirnya Lin Xian Er menjawab, “Kau harus menjaga tenagamu untuk menghadapi ShangGuan JinHong.”

Ia melenggokkan tubuhnya, seolah-olah sedang berusaha menghindar dari Lu Feng Xian, namun akhirnya lebih mirip sebagai gerakan yang menggoda Lu Feng Xian.

Lu Feng Xian terdiam sebentar sebelum ia mulai membelai tubuh Lin Xian Er lagi dan berkata dengan nakal, “Aku bisa ‘bertempur’ denganmu dulu sebelum bertempur dengan ShangGuan JinHong.”

Kata Lin Xian Er, “Kau tidak boleh meremehkan dia. Ia tidak mudah dikalahkan seperti yang kau kira.”

“Kau pikir aku tidak setanding dengannya?”

“Bukan….bukan begitu maksudku, hanya saja….”

Lin Xian Er menggigit mesra telinga Lu Feng Xian, dan berbisik tepat di samping telinganya, “Setelah kau membunuh ShangGuan JinHong, seluruh dunia akan menjadi milik kita. Kita akan bisa selalu bersama setiap saat. Kenapa harus terburu-buru sekarang?”

Kata-katanya yang sangat manis di antara angin musim gugur terdengar bagaikan lagu yang sangat merdu.

Hati Lu Feng Xian pun terharu dan memeluknya semakin erat. Katanya, “Kau sungguh memperhatikan aku….”

Tiba-tiba ia terdiam.

Lin Xian Er segera mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukannya.

Suara langkah yang unik terdengar memenuhi seluruh hutan raya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari suara langkah itu. Namun entah mengapa, setiap langkah seakan-akan sedang menginjak-injak hati manusia.

Kini suara langkah itu berhenti.

ShangGuan JinHong berdiri di bewah bayangan sebatang pohon pinus di depan mereka. Ia berdiri di situ tanpa bicara, tanpa bergerak. Ia kelihatan seperti sebuah gunung es. Gunung es yang tidak terduga.

Nafas Lu Feng Xian seakan-akan tercekat saat kata-kata ini keluar dari mulutnya. “ShangGuan JinHong?”

“Lu Feng Xian?” ShangGuan JinHong membalasnya dari bawah sebuah topi bambu yang lebar, yang menutupi matanya. Ia tidak menjawab, malah balik bertanya.

“Ya,” sahut Lu Feng Xian.

Namun sesaat setelah menjawab, Lu Feng Xian merasa sangat menyesal karena ia menjawab.

Ia merasa kehilangan kendali. Kini kendali berada di tangan ShangGuan JinHong.

ShangGuan JinHong tersenyum dingin dan berkata, “Bagus, memang Lu Feng Xian pantas untuk kulayani secara pribadi.”

Lu Feng Xian pun tertawa dingin. “Jika kau bukan ShangGuan JinHong, kau pun tidak cukup berharga untuk kubunuh.”

Setelah mengucapkannya, kembali ia merasa menyesal.

Walaupun perkataannya penuh dengan hasrat membunuh, ia kedengaran seperti hanya membeo ucapan ShangGuan JinHong.

ShangGuan JinHong masih berdiri di sana tidak bergerak sampai cukup lama. Tiba-tiba ia melirik tajam ke arah Lin Xian Er dari balik topi bambunya.

Lin Xian Er masih berdiri di samping pohon pinus tadi. Tatapan matanya yang lembut, perlahan-lahan berubah menjadi tajam dan panas.

Ia tahu sebentar lagi darah akan tercurah.

Ia sangat suka melihat laki-laki mencucurkan darah demi dirinya!

“Kemari kau,” perintah ShangGuan JinHong pada Lin Xian Er.

Mata Lin Xian Er memancarkan rasa kuatir. Ia menoleh pada Lu Feng Xian, lalu memandang pada ShangGuan JinHong.

Lu Feng Xian tertawa. Katanya, “Ia tidak akan datang padamu.”

Lagi, Lin Xian Er bolak-balik memandangi ShangGuan JinHong dan Lu Feng Xian.

Lin Xian Er tahu, saat ini ia harus memilih salah satu di antara mereka berdua.

Ia pun tahu siapa pun yang dipilihnya harus menjadi pemenang.

Tapi masalahnya, siapakah yang akan menang?

ShangGuan JinHong masih tetap berdiri di situ dengan tenang. Matanya memancarkan rasa percaya diri yang besar.

Nafas Lu Feng Xian sudah menjadi tidak teratur. Ia mulai kelihatan kuatir.

Tiba-tiba Lin Xian Er menertawainya.

Lu Feng Xian hanya bisa menyumpah-nyumpah dalam hati saat Lin Xian Er berlari kecil ke arah ShangGuan JinHong bagaikan seekor burung walet.

Ia telah menjatuhkan pilihan. Ia tahu bahwa pilihannya tidak mungkin salah!

Lu Feng Xian menyipitkan matanya. Hatinya pun mulai mengkerut.

Inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hinaan orang. Dan ini pun pertama kali dalam hidupnya ia merasakan kekalahan. Dua rasa sakit hati bergabung, dua kali lipat pula beratnya untuk menanggungnya!

Ia juga merasakan dua pukulan hebat. Rasa percaya diri dan kehormatannya hancur berkeping-keping.

Tangannya mulai gemetar.

ShangGuan JinHong memandangnya dingin dan berkata, “Kau sudah kalah!”

Tangan Lu Feng Xia makin gemetaran tidak tertahankan.

Kata ShangGuan Jin Hong, “Kau tidak akan membunuhmu karena kau tidak lagi cukup berharga untuk kubunuh!”

ShangGuan JinHong langsung memutar badannya dan melangkah pergi.

Lin Xian Er mengekor di belakangnya. Setelah beberapa langkah, ia menoleh pada Lu Feng Xian dan berkata sambil cekikikan, “Kurasa kau lebih baik mati saja.”

Lu Feng Xian telah kalah dalam pertempuran ini sebelum bergerak satu jurus pun.

Dalam pikirannya pun dia tahu dia sudah kalah telak.

Ia tidak mengucurkan darah setetes pun, namun jiwa dan seluruh kehidupannya sudah hancur lebur. Semangat dan rasa percaya dirinya sudah hilang sama sekali.

Ia hanya bisa memandang ShangGuan JinHong berjalan ke luar hutan itu. Ia tidak punya semangat dan keberanian untuk mengejarnya.

Walaupun ShangGuan JinHong tidak menyerang sama sekali, ia telah merenggut hidup Lu Feng Xian.

‘Kurasa kau lebih baik mati saja.’

Memang sudah tidak ada lagi gunanya terus hidup.

Tiba-tiba Lu Feng Xian jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.

Lin Xian Er berlari ke samping ShangGuan JinHong dan menggamit lengannya.

Katanya dengan manis, “Hanya kau yang ada di hatiku sekarang!”

“Aku?”

“Ya. Walaupun Jin Wu Ming dengan pedangnya dapat membunuh paling cepat, kau jauh lebih cepat lagi. Karena….karena kau dapat membunuh tanpa mengangkat seujung jari pun!”

“Itu karena aku belum pernah bertemu dengan siapapun yang cukup berharga bagiku untuk mengangkat seujung jari.”

“Orang di dunia ini yang setanding denganmu jumlahnya sangat sedikit…. Aku pikir hanya ada satu.” Saat mengatakannya, mata Lin Xian Er bercahaya.

Tanya ShangGuan JinHong, “Li Xun Huan?”

Lin Xian Er menghela nafas dan berkata, “Orang itu adalah orang yang dapat menghilang sewaktu-waktu, namun juga orang yang tidak pernah mau pergi. Kadang-kadang aku sendiri tidak tahu orang macam apakah dia. Apakah ia seorang pria sejati? Apakah ia seorang tolol? Atau seorang pendekar?”

Jawab ShangGuan JinHong dingin, “Sepertinya kau selalu memperhatikannya.”

Lin Xian Er tertawa. “Tentu saja aku harus selalu memperhatikannya, sebab aku tidak ingin mati di tangannya.”

“Hmm?”

Lin Xian Er menjelaskan, “Terhadap kekasihnya, perhatian seseorang pun semakin lama semakin luntur. Namun terhadap musuhnya, tidak boleh demikian.”

Ia menatap ShangGuan JinHong dan melanjutkan, “Aku yakin kau pasti memahaminya lebih daripada siapapun juga.”

Sahut ShangGuan JinHong, “Ada beberapa jenis perhatian. Apakah kau membencinya? Kau takut padanya? Atau kau mencintainya?”

Lin Xian Er tertawa merajuk. “Apakah kau mulai cemburu?”

ShangGuan JinHong menundukkan kepalanya. “Bagaimana dengan Ah Fei?”

“Dia jelas cemburu.”

Kata ShangGuan JinHong, “Aku hanya ingin tahu mengapa kau belum juga membunuhnya?”

Lin Xian Er balik bertanya, “Aku pun ingin tahu, mengapa Jin Wu Ming tidak membunuhnya?”

Sahut ShangGuan JinHong, “Karena awalnya aku ingin kau yang membunuhnya. Kau tidak tega?”

“Membunuh orang itu gampang. Yang lebih sulit adalah membuat orang menuruti setiap perkataanmu. Sampai sekarang, aku belum pernah bertemu dengan orang yang sepatuh dia.”

Lalu Lin Xian Er menghambur ke pelukan ShangGuan JinHong dan berkata lagi, “Aku datang bukan untuk berdebat denganmu. Jika kau memang ingin aku membunuhnya, masih banyak kesempatan di kemudian hari. Aku pasti akan menuruti keinginanmu.”

Tidak ada seorang pun yang bisa kesal pada Lin Xian Er.

Ia sama halnya seperti seekor kucing yang mahal. Sewaktu ia mencakar wajahmu, sebelum kau merasa sakit, ia sudah menjilatimu dengan sayang.

ShangGuan JinHong menatapnya lekat-lekat.

Di bawah sinar matahari terbenam, wajahnya tampak begitu rapuh bagai porselin. Sentuhan yang paling ringan pun dapat merusaknya. Kelembutan angin musim gugur yang sepoi-sepoi tidak dapat dibandingkan dengan kelembutan nafas yang keluar dari mulutnya.

Perlahan-lahan ShangGuan JinHong menundukkan kepalanya.

Bibirnya melekat di bibir Lin Xian Er. Tiba-tiba Lin Xian Er mengangkat kepalanya dari dada ShangGuan JinHong dan jatuh ke tanah.

Bola mata ShangGuan JinHong berputar, namun tubuhnya tidak bergerak. Bahkan ujung jarinya pun masih ada di tempat yang sama.

Ia tidak melirik sedikitpun pada Lin Xian Er, malah memandangi rumput yang sudah menguning di situ.

Tidak ada sesuatupun di rumput yang menguning itu. Namun setelah beberapa saat, sesosok bayangan terlihat di situ.

Ada yang datang!

Bayangan orang itu memanjang akibat sinar matahari sore.

Langkah kakinya tidak bersuara. Langkah kaki orang itu ringan bagaikan seekor rubah.

ShangGuan JinHong tetap tidak menoleh. Lin Xian Er yang masih terbaring di tanah mulai merintih.

Bayangan itu sudah dekat sekarang. Ia berhenti tepat di belakang ShangGuan JinHong.

Terdengar suara, “Aku tidak pernah membunuh dari belakang. Tapi kali ini, aku harus membuat pengecualian.”

Suara orang itu dingin dan tegas. Namun karena marah dan kegalauan hatinya, terdengar gemetar.

Nada suaranya memang seperti orang yang sebentar lagi akan membunuh.

Namun ShangGuan JinHong tidak bergerak. Ia pun tidak berbicara.

Bayangan itu mengangkat tangannya.

Ada sebilah pedang di tangannya, namun ia tidak menusukkannya. Lagi suara itu bertanya, “Apakah kau tetap tidak mau menoleh?”

ShangGuan JinHong menjawab dengan tenang, “Aku masih bisa membunuh orang yang berdiri di belakangku. Buat apa repot-repot menoleh?”

Setelah kalimatnya selesai, suara rintihan pun berhenti.

Mata Lin Xian Er terbelalak dan berseru, “Ah Fei!”

Ia bangkit dari sisi ShangGuan JinHong dan menghampiri Ah Fei. Bayangannya menyatu dengan bayangan di atas rumput kering itu.

ShangGuan JinHong menatap dua bayangan di atas tanah itu. Lalu ia mulai berjalan ke depan perlahan-lahan….dan berhenti saat ia berada tepat di atas kedua bayangan itu.

Pedang di tangan Ah Fei telah jatuh ke tanah.

Lin Xian Er menggenggam tangannya dan berbisik. “Kau akhirnya datang, aku tahu kau pasti datang….”

Ia mengulanginya sampai beberapa kali. Tiap kali makin halus, makin lembut, makin merdu.

Kelembutan suaranya dapat mencairkan gunung es.

Hati Ah Fei pun mulai mencair. Kegelisahannya, kegundahannya, kebenciannya, langsung mereda.

Kata Lin Xian Er, “Aku tahu jika kau tidak menemukanku, kau pasti akan kuatir dan kau pasti akan datang mencariku.”

Ia melihat wajah Ah Fei pucat kehijauan. Matanya menjadi merah dan mulai tersedu-sedu sambil berkata, “Selama mencariku, kau pasti sangat menderita.”

Sahut Ah Fei, “Kalau bisa menemukanmu, aku sudah sangat puas.”

Apapun resikonya, ia akan mempertaruhkan segalanya demi menemukan Lin Xian Er.

Apapun yang harus dideritanya, ia akan menanggungnya demi menemukan Lin Xian Er.

Tiba-tiba, sebilah pedang berkilat!

Pedang yang tadi tergeletak di tanah telah terangkat naik, kilat sinarnya secepat pagutan ular, dan pedang pun kini telah tergenggam.

Tiba-tiba ShangGuan JinHong telah berdiri di depan mereka.

Tatapannya yang tanpa emosi terfokus ke ujung pedang. Pedang ini pedang baja biasa. Sebilah pedang yang ‘dipinjam’ Ah Fei dari orang yang ditemuinya dalam perjalanan.

Namun kelihatannya ShangGuan JinHong tertarik sekali pada pedang itu.

Dengan Lin Xian Er di sampingnya, tidak ada yang dapat mencuri perhatian Ah Fei.

Baru kini ia menyadari ada orang lain di situ. Orang yang tadinya hendak ia bunuh.

Kini pedangnya sudah berada di tangan orang itu.

Pedang biasa itu kini telah berubah menjadi sebilah pedang yang memancarkan hawa membunuh!

Tanya Ah Fei tajam, “Siapa kau?”

ShangGuan JinHong tidak menjawab. Ia tidak memandang Ah Fei sedikit pun. Tatapan matanya yang dingin masih terpaku pada ujung pedang itu. Akhirnya senyum enggan tampak di sudut mulutnya. Senyum yang mengejek.

Tanya ShangGuan JinHong, “Kau ingin membunuh dengan pedang ini?”

“Memang kenapa pedang itu?”

“Pedang ini tidak bisa membunuhku.”

Jawab Ah Fei, “Semua pedang bisa membunuh.”

ShangGuan JinHong tertawa dan menyahut, “Tapi ini bukan pedangmu. Jika kau memaksa ingin menggunakan pedang ini, maka yang akan terbunuh adalah kau sendiri.”

Pedang berkilat lagi, dan berputar.

Kini ShangGuan JinHong memegang ujung pedang itu di antara kedua jarinya dan menyorongkan gagang pedang itu ke hadapan Ah Fei.

Katanya sambil tersenyum lebar, “Kalau kau tidak percaya, coba saja.”

Sebelum Ah Fei mengulurkan tangannya, otot-ototnya telah mengejang.

Ia menyadari bahwa di hadapan orang ini ia merasakan suatu perasaan aneh. Perasaan yang tidak pernah dirasakannya sebelum ini. Perasaan yang membuat hatinya galau, membuat perutnya terasa melilit, membuat dia ingin muntah.

Namun bagaimana mungkin ia tidak mengambil pedang itu?

Akhirnya ia mengulurkan tangan. Sebelum tangannya menyentuh gagang pedang itu, pedang itu telah dirampas oleh tangan yang lain. Tangan yang halus dan lembut.

Mata Lin Xian Er berkaca-kaca saat memandang Ah Fei dan berkata, “Apakah kau ingin membunuhnya? Tahukah kau siapa dia?”

Lanjut Lin Xian Er, “Ia adalah penyelamatku.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: