Kumpulan Cerita Silat

04/01/2009

Pendekar Baja (14)

Filed under: Pendekar Baja — ceritasilat @ 10:16 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Tungning)

Menyaksikan pertarungan ini, Jit-jit jadi ngeri dan khawatir, batinnya, “Siapa bilang kungfu Lian Thian-hun sudah susut? Jika lwekangnya sekarang cuma tiga bagian daripada kemampuannya dulu, bukankah sekali pukulannya bisa menewaskan seorang kosen…Mungkin Kim Bu-bong percaya omongan orang dan salah tafsir, kalau satu lawan saja tak mampu dikalahkan dia, belum lagi empat orang yang menunggu giliran.”

Maklum, watak Cu Jit-jit memang agak ekstrem, maka sering dia melakukan perbuatan tak dapat dilakukan orang lain, apa itu adat istiadat, apa itu peraturan, dia tidak peduli. Jika dia baik dengan seorang, maka dia harap orang itu akan menang, tentang benar atau salah, baik atau jahat sama sekali tidak dipikirnya.

Demikian pula sekarang, tentu saja dia harap Kim Bu-bong dapat memukul mampus Lian Thian-hun, soal Lian Thian-hun orang baik atau jahat, hakikatnya tak terpikir olehnya.

Tapi Kim Bu-bong justru terdesak di bawah angin, keruan Jit-jit gelisah.

Dia tidak tahu bahwa lwekang Lian Thian-hun sudah jauh berkurang, kekuatannya sekarang paling-paling hanya tiga bagian saja dari kepandaiannya waktu puncaknya dulu. Dasar Lian Thian-hun berwatak berangasan, sekali bergebrak, dia keluarkan seluruh sisa tenaganya itu tanpa pikirkan keselamatan sendiri.

Betapa luas dan pengalaman tempur Kim Bu-bong, sejak mula dia sudah melihat titik kelemahan lawan, maka dia tidak mau adu jiwa, tujuannya hanya menguras tenaga lawan.

Beberapa jurus lagi, serangan Lian Thian-hun mulai kendur. Keringat sudah membasahi jidatnya. Sebaliknya serangan Kim Bu-bong semakin kuat, lambat laun dia mulai berada di atas angin.

Mendadak kedua kepalan Lian Thian-hun menghantam sekaligus, jurus ini dinamakan Ciak-boh-thian-king (Batu Pecah Langit Terkejut), dengan dahsyat menghantam dada Kim Bu-bong.

Pada saat itulah Li Tiang-ceng berkata perlahan, “Inilah jurus ketiga delapan.”

Leng Toa mengangguk, seluruh perhatian tercurah ke tengah kalangan pertempuran. Tertampak Kim Bu-bong menyurut mundur miring, agaknya dia tidak mau melawan kekerasan serangan Lian Thian-hun, meski kaki melangkah mundur, tapi dia masih menyimpan tenaga susulan untuk menanti pukulan Lian Thian-hun selanjutnya.

Tak terduga Lian Thian-hun juga mundur selangkah dan berdiri tegak di tengah, bentaknya, “Berhenti!”

Bentakan menggelegar ini membuat kuping Cu Jit-jit mendengung, untuk sekian lama dia tak bisa mendengar suara apa pun.

Kim Bu-bong langsung mengalami akibatnya, terasa seperti ada arus hawa yang memukul dadanya, tanpa kuasa tubuhnya tergeliat, tapi sedapatnya ia bertahan pada posisinya dan siap serang lagi.

Pada saat itulah sesosok bayangan kurus meluncur tiba dan menyelinap di tengah mereka berdua.

Kiranya bentakan Lian Thian-hun tadi adalah salah satu ilmu simpanannya yang lihai, yaitu Ci-te-tui (Palu Bawah Lidah) yang kuat tapi tak berbentuk.

Lian Thian-hun bergelar Khi-tun-to-gu (Bila Marah Menelan Jagat), ini menunjukkan khikangnya teramat hebat, waktu kekuatannya masih utuh dulu sekali dia menghardik dengan Ci-te-tui lawan bisa tergetar putus urat sarafnya dan menjadi linglung.

Sayang sekali khikangnya sekarang tidak sekuat dulu, maka Kim Bu-bong hanya terkejut tak tidak terpengaruh oleh gertakannya.

Lian Thian-hun juga tahu kekuatan Ci-te-tui sekarang jauh lebih lemah dibanding dulu, namun wataknya tidak mau kalah, bila terdesak dan keadaan cukup gawat tanpa sadar dia lantas melancarkan ilmu ini.

Li Tiang-ceng adalah saudara angkatnya sejak muda, sudah diduganya Lian Thian-hun pasti akan melancarkan ilmunya ini. Maka begitu dia menggertak dengan Ci-te-tui, segera Leng Toa menyelinap masuk arena.

Lian Thian-hun membentak gusar, “Minggir, siapa suruh kau turut campur?”

Leng Toa tersenyum, katanya, “Sudah kau suruh orang berhenti, tentunya aku boleh turun tangan.”

Lian Thian-hun melengak, lekas Li Tiang-ceng menyeretnya ke pinggir.

Kim Put-hoan tertawa lebar, katanya, “Haha, lucu, sungguh lucu.”

Thian-hoat Taysu juga berkata, “Biar ku…”

“Kenapa Taysu tergesa-gesa? Keparat itu takkan bisa lolos, kenapa Taysu tidak lihat dulu bagaimana kungfu Leng-keh-sam-hengte (Tiga Saudara dari Keluarga Leng) hebat dan yang jarang dipamerkan di depan umum?” demikian bujuk Kim Put-hoan.

Sejenak Thian-hoat Taysu termenung dan urung melangkah maju.

Kiranya kedudukan ketiga saudara keluarga Leng di dunia persilatan agak aneh, mereka adalah kaum budak di Jin-gi-ceng, namun kungfu mereka termasuk tokoh kelas tinggi.

Mereka tidak mengejar nama, tidak mencari keuntungan pribadi, juga tak pernah berkecimpung di Kangouw atau ikut campur urusan orang lain, kecuali ada orang mengancam Jin-gi-ceng, mereka tidak sembarangan turun tangan.

Tapi bila mereka sudah turun tangan, lawan mereka jarang ada yang bisa pulang dengan selamat, maka jarang ada kaum persilatan yang tahu asal usul kungfu mereka.

Riwayat hidup mereka merupakan teka-teki pula, mereka tidak pernah menyinggung atau membicarakan perihal pribadi mereka dengan orang lain, umpama ada orang tanya juga mereka tak mau menjawab, kepada siapa pun sukar mencari tahu seluk-beluk mereka.

Kungfu yang misterius, riwayat hidup yang terahasia, ditambah tabiat mereka yang aneh sehingga ketiga bersaudara ini dipandang sebagai tokoh aneh dunia Kangouw.

Sekarang sampai Lian Thian-hun juga ingin menyaksikan saudara tertua keluarga Leng ini memiliki kejutan apa dalam ilmu silatnya.

Sementara Leng Toa sedang terbatuk-batuk tak berhenti-henti, maka Cu Jit-jit lantas bertanya, “Kau sedang sakit, apa masih sanggup bergebrak?”

Leng Toa angkat kepala dan tertawa padanya, katanya, “Terima kasih atas perhatianmu.”

Habis bicara dia batuk lagi lebih gencar.

Jit-jit menghela napas, katanya, “Masih banyak orang di sini, kenapa kau yang disuruh maju? Kim…Kim-toako, biarlah dia mundur saja, gantikan orang lain.”

Kim Bu-bong hanya tertawa dingin tanpa bicara.

Kim Put-hoan justru menanggapinya dengan sinis, “Nona Cu, kau khawatir dia sakit dan tak sanggup berkelahi? Hehehe, nanti bila dia bikin kau menjadi janda, baru kau tahu betapa lihainya.”

Beringas muka Jit-jit, hampir dia mengumbar adatnya lagi.

Dasar usil, Kim Put-hoan bermaksud meledek lagi, mendadak Leng Toa membentak gusar, “Tutup mulutmu.”

Kim Put-hoan melenggong, “Kau suruh aku tutup mulut?”

“Ya, kau harus tutup mulut,” seru Leng Toa.

“Apa…apakah kau tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan?”

“Aku lebih senang punya musuh seperti dia daripada punya teman seperti tampangmu,” jawab Leng Toa. Perkataannya itu berarti “teman yang hina dina jauh lebih menakutkan daripada musuh yang jujur”.

Mau tak mau Kim Put-hoan merasa malu, dia menoleh ke arah Li Tiang-ceng, maksudnya seperti ingin bilang, “Kacungmu bersikap kurang ajar padaku, kenapa kau tidak menegurnya.”

Ternyata Li Tiang-ceng diam saja tanpa memberi reaksi, seakan-akan dia tidak mendengar atau memang sengaja tidak peduli akan percakapan Kim Put-hoan dengan Leng Toa.

Waktu Kim Put-hoan berpaling lagi, tampak mata Leng Toa setajam pisau tengah menatapnya dengan gusar, lekas ia ganti sikap, katanya dengan cengar-cengir, “Agaknya tepukan pantat keliru kutepuk pada paha kuda. Baiklah, aku takkan bicara lagi, silakan Leng-heng turun tangan.”

Leng Toa mendengus, sikapnya merasa jijik dan menghina, lalu dia berpaling ke arah Kim Bu-bong, katanya, “Silakan!”

Cu Jit-jit tidak bersuara lagi, dia menduga Leng Toa yang berpenyakitan ini pasti punya bekal kungfu yang tinggi, kalau tidak Kim Put-hoan yang suka menindas yang lemah dan takut kepada yang kuat ini tidak nanti bersikap begitu takut kepadanya. Dengan mata terbelalak dia menunggu pertempuran yang akan berlangsung.

Tapi Kim Bu-bong dan Leng Toa ternyata belum bergebrak. Kedua orang berdiri berhadapan, tidak ambil posisi, tidak pasang kuda-kuda, namun keduanya sama tahu tidak boleh sembarangan menyerang, kalau bergerak secara gegabah mungkin akan mengalami akibat yang fatal.

Maklum, bagi penyerang yang ingin mendahului pasti menggunakan serangan keji dan dahsyat, padahal permainan silat di dunia ini bila mengutamakan serangan pasti ada peluang pada pertahanannya.

Bilamana serangan pertama gagal, lawan pasti balas mengincar titik lemahnya dan melancarkan serangan balasan maut.

Sebab itulah sejak Leng Toa bilang “silakan” tubuh kedua orang tiada yang bergerak, mata pun tak berkedip.

Li Tiang-ceng, Kim Put-hoan, Thian-hoat Taysu adalah jago kosen, sudah tentu mereka tahu kenapa sejauh ini kedua orang diam saja tak mau menyerang lebih dulu. Suasana tegang mencekam, semua orang menahan napas, tak berani berisik, khawatir membuyarkan konsentrasi kedua jago yang siap saling labrak itu.

Akhirnya Cu Jit-jit juga merasakan keadaan kedua jago yang berhadapan itu, mati-hidup mereka hanya bergantung pada sekejap saja, maka dengan tajam dia mengawasi kedua orang yang tegak seperti patung, suasana tegang ini jauh lebih menakutkan daripada pertempuran yang pernah disaksikannya.

Angin dingin mengembus kencang, namun mereka tidak merasa dingin lagi.

Entah berapa lama sudah lalu.

Leng Toa merasakan tenaganya seperti sedang terkuras keluar, padahal dia belum menggerakkan seujung jari pun, tapi energi yang terbuang dalam ketegangan justru lebih besar dibanding tatkala bertempur sengit.

Keringat terasa mengalir di jidatnya, meleleh dan membasahi pipi, seperti ulat-ulat kecil yang merambat di mukanya, gatal dan geli.

Tapi dia bertahan dengan mengertak gigi. Sebab dia tahu pertempuran ini akan menentukan mati-hidup mereka, juga merupakan ujian tinggi-rendah kungfu mereka, yang lebih penting lagi juga menguji keteguhan ketahanan mereka berdua. Dia insaf meski dirinya sekarang menderita, lawan pun pasti dalam keadaan serupa.

Entah berapa lama telah berlalu pula.

Bukan saja Leng Toa dan Kim Bu-bong mengeluh dalam hati, Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu yang menonton di pinggir juga kehilangan sabar, keringat juga membasahi jidat mereka, seolah-olah mereka sendiri baru mengalami pertempuran sengit.

Diam-diam Kim Put-hoan menarik lengan baju Li Tiang-ceng. Mereka saling pandang sekejap, lalu mundur jauh ke sana.

Kim Put-hoan berkata dengan berbisik, “Li-heng, menurut pendapatmu, siapa bakal menang dalam pertempuran ini?”

“Kukira kedua orang ini setanding dan sama kuat,” jawab Li Tiang-ceng setelah berpikir sejenak.

“Ya, mereka terhitung tokoh top dunia Kangouw, tujuh jago kosen bu-lim seperti kami ini bila dibandingkan mereka sungguh harus merasa malu.”

“Dalam segalanya Leng Toa tidak lebih asor daripada Kim Bu-bong, tapi ketahanan fisiknya…penyakit tebesenya terakhir ini semakin parah karena terlalu banyak minum arak, kalau keadaan tegang begini berlangsung lebih lama, tenaga Leng Toa pasti tak kuat bertahan, bukan mustahil akibatnya fatal baginya.”

“Wah, lalu bagaimana baiknya,” ujar Kim Put-hoan. “Padahal kutahu betapa tekun orang ini menggembleng diri, sukar mencari orang kedua yang bisa menandingi dia. Apalagi biasanya dia tidak suka campur dengan orang perempuan, bicara tentang ketahanan tenaganya, selama aku berkecimpung di dunia Kangouw belum pernah kulihat orang yang lebih unggul daripada dia. Dahulu pernah dia bertempur melawan belasan orang secara bergilir, setelah belasan babak, ternyata wajahnya tetap tak berubah dan tenaga tak berkurang.”

“Kalau betul demikian, tanpa bertempur pun jelas aku juga bukan tandingannya, mungkin…”

“Mungkin Thian-hoat Taysu juga bukan tandingannya, begitu?” tanya Kim Put-hoan.

Li Tiang-ceng diam saja.

“Jadi kita berlima tiada seorang pun yang kuat melawannya, apakah kita manda saja dipukul roboh satu per satu olehnya?”

“Sudah tentu tidak, kecuali…kecuali…” Li Tiang-ceng tak berani meneruskan.

“Kecuali bagaimana?” tanya Kim Put-hoan.

“Kecuali kau turun tangan bersamaku.”

Tujuan Kim Put-hoan ajak orang bicara memang ingin memaksa pernyataannya ini, segera dia bertepuk tangan, serunya, “Ya, memang harus demikian, menghadapi iblis jahat ini tak perlu kita mematuhi aturan Kangouw segala, daripada kita berkorban, biarlah kita turun tangan bersama saja.”

Waktu Li Tiang-ceng memandang ke sana, dalam beberapa kejap percakapannya dengan Kim Put-hoan ini, dilihatnya keadaan Leng Toa semakin payah, jelas dia tidak kuat bertahan lebih lama, sebaliknya sorot mata Kim Bu-bong makin mencorong.

“Bagaimana…” Kim Put-hoan mendesak.

Li Tiang-ceng mengertak gigi, katanya dengan suara tertahan, “Baiklah.”

Belum habis dia bicara Kim Put-hoan menyeringai, katanya, “Kalau begitu, Kim Bu-bong harus menyerahkan jiwanya.”

Di tengah gelak tertawanya, beberapa bintik sinar dingin melesat ke sana langsung menyerang dada Kim Bu-bong, serangan cepat lagi ganas, jelas dia sudah siapkan senjata rahasianya sejak tadi.

Kim Bu-bong sedang tumplak seluruh perhatiannya, sedikit pun tidak boleh lena, kini mendadak diserang, dia dapat berkelit, jelas dia pasti celaka.

Cu Jit-jit menjerit, mau menolong pun terlambat.

Di luar dugaan Kim Bu-bong ternyata mampu menghindar, sekali berjumpalitan, belasan bintik kemilau itu meluncur lewat di bawah kakinya.

Di tengah udara Kim Bu-bong berputar dan turun di samping Cu Jit-jit, ia membentak bengis, “Kim Put-hoan, sudah kuduga kau akan membokong diriku, maka sejak tadi memang sudah kuperhatikan gerak-gerikmu. Hm, kau ingin mencelakai aku, belajarlah sepuluh tahun lagi.”

Sudah tentu hadirin kaget mendengar pertanyaannya. Kim Put-hoan membentak gusar, “Ayo maju semua, ganyang saja kedua orang ini!”

Meski suaranya lantang, namun dia tidak berani turun tangan lebih dulu.

Thian-hoat Taysu melirik ke arah Li Tiang-ceng, terlihat Li Tiang-ceng mengangguk, tanpa bicara lagi dari kiri-kanan lantas menubruk maju, dalam sekejap mereka sudah menyerang tiga jurus.

Begitu Kim Put-hoan turun tangan, Leng Toa malah mundur beberapa langkah, hanya Lian Thian-hun masih berdiri di tempatnya sambil menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.

Sambil menarik Cu Jit-jit, Kim Bu-bong menangkis ke kiri dan menghindar ke kanan, beruntun dia layani tiga jurus serangan lawan, mendadak dia menjengek, “Li Tiang-ceng, coba kau lihat keadaan Lian Thian-hun.”

Kim Put-hoan membentak, “Jangan tertipu!”

Sebetulnya Li Tiang-ceng juga berpikir demikian, namun perhatiannya teramat besar atas keselamatan saudara angkatnya ini, akhirnya dia tak tahan dan menoleh. Seketika dia kaget dan berubah air mukanya.

Ternyata Lian Thian-hun sedang menunduk dengan memejamkan mata, wajahnya pucat pasi, mulut mengeluarkan buih, kelihatan amat mengerikan.

Kaget dan gusar Li Tiang-ceng, bentaknya, “Kau…kau apakah dia?”

Kaki tangan Kim Bu-bong tidak berhenti, berbareng juga menjengek, “Waktu bergebrak denganku tadi dia sudah terkena obat biusku yang beracun, tanpa obat penawar perguruanku, dalam dua jam racun akan bekerja dan jiwa pun melayang.”

“Bangsat, apa…apa kehendakmu?” bentak Li Tiang-ceng khawatir.

“Dengan jiwanya kuminta ganti jiwa orang lain,” seru Kim Bu-bong.

Kim Put-hoan memaki, “Kau kira kami akan melepaskan kau? Hehe, jangan mimpi!”

Kembali dia serang tiga kali dengan lebih keji, sungguh dia ingin sekali hantam mampuskan Kim Bu-bong.

Sambil tertawa ejek Kim Bu-bong menghindarkan serangan lawan, jengeknya, “Hm, kau mimpi?!”

“Dalam sekejap kami dapat membekuk dirimu, memangnya takkan kau serahkan obat penawarnya?” kata Kim Put-hoan.

“Ya, memang demikian,” seru Li Tiang-ceng, kembali dia terjun ke arena, serangannya tambah gencar dan ganas, dalam keadaan begini, demi menolong jiwa Lian Thian-hun, terpaksa Leng Toa ikut mengeroyok.

Diam-diam Cu Jit-jit cemas, pikirnya, “Dengan demikian bisa celaka dia.”

Siapa tahu mendadak Kim Bu-bong bergelak tertawa latah malah.

“Kau tertawa apa? Masih bisa kau tertawa?” damprat Kim Put-hoan.

“Coba kau lihat apakah ini?” seru Kim Bu-bong, mendadak tangan terayun, selarik bintik hitam menyambar dari tangannya.

Orang banyak menyangka dia balas menyerang dengan am-gi atau senjata rahasia, ternyata delapan bintik hitam itu bukan menyerang lawan, tapi sebaliknya menyerang dirinya sendiri.

Tertampak dia membuka mulut dan menyedot, sekaligus delapan bintik hitam itu tersedot ke dalam mulutnya.

Sudah tentu semua orang terbelalak heran, beramai mereka tanya, “Apakah itu?”

“Inilah obat penawarnya,” sahut Kim Bu-bong, agaknya dia belum telan bintik hitam itu ke dalam perut melainkan hanya dikumur di mulut saja, maka suara bicaranya tidak begitu jelas, tapi semua orang tahu dan maklum akan maksudnya.

“Obat penawar,” terkesiap Li Tiang-ceng. “Hendak…hendak kau telan?”

“Kalau kalian menyerang lagi, obat penawar akan segera kutelan, obat penawar ini tinggal beberapa biji saja di dunia ini, jika kutelan seluruhnya…Hehehe, umpama dewa juga jangan harap akan dapat menyelamatkan jiwa Lian Thian-hun.”

Belum habis dia bicara, Li Tiang-ceng dan Leng Toa serentak mengendurkan serangan, lalu berhenti dan mundur. Thian-hoat Taysu ikut berhenti, jika Kim Put-hoan tidak berhenti, seorang diri mana dia mampu melawan Kim Bu-bong.

Dengan mata jelalatan Kim Put-hoan berkata, “Kim Bu-bong, terus terang kuberi tahu kepadamu, bila ingin kau tuntut kami membebaskan dirimu, lalu akan kau serahkan obat penawarnya, jangan harap kami akan menerima tuntutanmu. Tapi kalau kau tinggalkan obat penawarnya baru kami akan membebaskanmu, namun belum tentu kau mau, betul tidak? Lalu apa maksudmu sebenarnya? Lekas katakan saja!”

Kim Bu-bong masih pegang lengan Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa dingin, “Mau datang boleh datang, ingin pergi pun tiada yang dapat menahanku, kenapa perlu kau lepaskanku pergi segala?”

Ucapan Kim Bu-bong ini kembali di luar dugaan.

“Lalu kehendakmu?” tanya Kim Put-hoan.

“Kalian harus membebaskan dia,” kata Kim Bu-bong.

“Dia?…nona ini?” Li Tiang-ceng menegas.

“Ya, bebaskan Nona Cu ini,” kata Kim Bu-bong. “Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini, asalkan bebaskan dia, sesudah dia pergi jauh, segera kuberikan obat penawar.”

Diam-diam Li Tiang-ceng menghela napas lega, namun di mulut ia berkata, “Tapi…tapi cara bagaimana dapat kupercayaimu?”

“Percaya atau tidak terserah padamu,” jengek Kim Bu-bong.

Li Tiang-ceng termenung sejenak, katanya kemudian, “Baiklah.”

Ia pandang Thian-hoat Taysu, padri itu mengangguk perlahan. Sebaliknya Kim Put-hoan merasa penasaran, namun dilihatnya Leng Toa dan Li Tiang-ceng sama melotot padanya, biarpun ia menyatakan tidak setuju juga tidak ada gunanya.

Terpaksa ia pun mengangguk, bahkan tertawa dan berseru, “Aha, kiranya permintaanmu hanya pembebasan Nona Cu, haha, bagus sekali. Padahal tanpa kau minta juga takkan kami ganggu dia.”

Kim Bu-bong mendengus dan melepaskan pegangannya, katanya kepada Cu Jit-jit, “Lekas kau pergi saja.”

Merah basah mata Jit-jit, ucapnya dengan menunduk, “Jadi benar kau suruh kupergi?”

“Jika tidak pergi, engkau berbalik akan menambah bebanku,” kata Kim Bu-bong dengan dingin, meski sikap dan ucapannya dingin, tapi dadanya berombak, jelas ia pun dirangsang emosi.

Dalam keadaan demikian, bila gadis lain tentu akan menangis dan banyak tingkah, namun sekali ini Cu Jit-jit justru bertindak kebalikannya, walaupun hati terharu dan berterima kasih, tapi ia tahu tiada gunanya bicara lagi.

Segera ia mengentak kaki dan berseru, “Baik, kupergi! Jika engkau hidup tentu akan kutemukan kau lagi, bila engkau mati akan kutuntut balas bagimu.”

Dengan menahan perasaannya segera ia berlari pergi dengan cepat.

Sampai lama sesudah bayangan punggung si nona menghilang di kejauhan Kim Bu-bong masih berdiri termangu tanpa bergerak.

Mendadak Kim Put-hoan mengejek, “Ai, kasihan, nona ini ternyata tidak tahu budi atas kebaikan Kim-lotoa kami, sekali bilang pergi segera pergi tanpa menoleh…”

“Binatang! Cuhh!” semprot Kim Bu-bong, sekaligus delapan bintik hitam menyambar ke sana.

Kim Put-hoan sedang mengoceh dengan gembira dan tidak berjaga-jaga, keruan bintik hitam itu semua hinggap di mukanya.

Wajahnya memang buruk serupa siluman, ditambah lagi hiasan bintik-bintik hitam ini, keruan tampangnya tambah lucu dan menakutkan, juga memuakkan.

Karena muka sakit pedas, Kim Put-hoan menjadi gusar, selagi tangannya hendak mengusap muka, baru tangan terangkat segera dipegang oleh Leng Toa.

“Hm, yang menempel di mukamu itu adalah obat penawar penyelamat jiwa Lian-samya, jika berani sembarangan kau usap, segera kubinasakan kau,” jengek Leng Toa.

Baru sekarang Kim Put-hoan ingat yang disemburkan Kim Bu-bong itu adalah obat penawar yang terkulum di mulutnya tadi, terpaksa ia berdiri diam saja dan membiarkan Leng Toa membersihkan obat penawar itu sebiji demi sebiji. Ludah Kim Bu-bong yang menghiasi muka Kim Put-hoan itu akhirnya kering.

Kim Bu-bong lantas menengadah dan bersuit nyaring, serunya, “Nah, obat penawar sudah kalian dapatkan, bila mau turun tangan, ayolah mulai!”

Belum lenyap suaranya, serentak dua sosok bayangan lantas menerjang maju.

—–

Dalam pada itu tanpa menoleh Cu Jit-jit terus berlari ke depan, sampai sekian jauhnya, air mata tak tertahankan lagi dan bercucuran, semakin dipikir makin berduka, akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Entah menangis berapa lama lagi, tiba-tiba diketahui dirinya berada di bawah sebatang pohon kering, entah kapan dia berhenti di situ juga tidak dirasakannya.

Hari masih siang, namun cuaca remang-remang seakan-akan petang.

Ia mengusap air matanya dan tidak menangis lagi, ia mengingatkan dirinya sendiri, “Jangan menangis lagi, Cu Jit-jit! Kim Bu-bong takkan mati, untuk apa kau tangisi? Mungkin…mungkin saat ini Kim Bu-bong sudah kabur.”

Tapi segera ia mengomeli diri sendiri, “Omong kosong, siapa bilang Kim Bu-bong tak bisa mati? Siapa bilang Kim Bu-bong akan kabur? Keempat orang itu pasti bukan tandingannya jika satu lawan satu, tapi…tapi satu lawan empat, betapa pun sulit…Namun dia dapat lari…Ah, juga tidak betul, dia terkepung empat orang, umpama mau lari juga sukar…”

Begitulah sebentar dia menggerundel, sebentar mengomel, lain saat menghibur lagi diri sendiri, akhirnya ia berbangkit, ia mengertak gigi, setelah membedakan arah, segera ia berangkat ke depan.

Sembari berjalan ia bergumam pula, “Kepergianku ini bukan untuk mencari Sim Long, dia bersikap kasar padaku, mati pun aku tidak mau mencari dia, aku akan cari Thio Sam atau Li Si dan orang lain, siapa pun dapat kumintai bantuan untuk menolong Kim Bu-bong.”

Padahal ia tahu apa yang dikatakannya itu tidak dapat dipercaya, namun dia tetap omong begitu. Kebanyakan anak perempuan di dunia ini memang ada satu kelebihan daripada kaum lelaki, yaitu suka dusta pada dirinya sendiri.

Begitulah sembari berjalan sambil berpikir, tanpa terasa Jit-jit sampai lagi di kota kecil tempat mereka makan pagi itu, rumah makan kecil itu kelihatan di depan.

Entah mengapa, tanpa terasa ia masuk lagi ke rumah makan itu. Dia memang lelah, pikiran kusut, ia perlu mencari suatu tempat istirahat untuk menenangkan pikiran.

Pelayan masih mengenali si nona, cepat ia mendekat dan menyapa, “Nona ingin makan apa, tuan tadi tidak ikut datang lagi? Apakah segera menyusul? Biarkan hamba menyiapkan dua pasang sumpit, boleh?”

Mendadak Jit-jit menggebrak meja dan membentak, “Jangan cerewet!”

Keruan pelayan itu berjingkat kaget dan melongo.

“Sediakan Ang-sio-hi-sit dan pauhi, ham masak madu, tim tapak beruang dan…”

“Wah, mana…mana ada santapan kelas tinggi itu di tempat kecil ini?” ucap si pelayan dengan kelabakan.

“Habis apa yang tersedia di sini?” teriak Jit-jit.

“Paling-paling cuma nasi dan mi saja, kalau mi ada beberapa macam, pangsit mi, ti-te-mi, mi babat, loh-mi, dan…”

“Baikan, bawakan satu porsi pangsit mi,” kata Jit-jit, ditambahkan pula, “Cepat!”

Pelayan mengiakan, diam-diam ia menggerutu, minta ini dan itu, akhirnya pangsit mi juga mau.

Dengan cepat juga pangsit mi lantas diantarkan. Namun pangsit mi yang mengepul panas ini akhirnya menjadi dingin dan tetap tidak disentuh oleh sumpit Cu Jit-jit. Maklum, kalau pikiran lagi kusut, biarpun disediakan hidangan yang paling enak juga sukar ditelannya.

Pada saat itulah mendadak ada orang berteriak-teriak di luar, “Tolong…Tolong…”

Segera seorang berlari masuk dengan wajah berlumuran darah, dari dandanan dan perawakannya jelas bukan sebangsa orang Kangouw.

Jit-jit hanya memandangnya sekejap saja dan malas untuk melihatnya lagi. Tapi pelayan dan tetamu lain sama terkejut dan beramai-ramai mengerumuni orang itu sambil bertanya, “He, terjadi apa, Juragan Ong?”

“Siapa yang menganiaya Juragan Ong kita, biar kuadu jiwa dengan dia!” teriak lagi seorang.

Kiranya yang mengalami pukulan ini adalah pemilik rumah makan ini.

“Tadi aku mengobrol iseng bersama Li gemuk di tempat penjualan daging babi sana,” demikian tutur Juragan Ong, “kukatakan menjelang tengah hari tadi tempat kita ini kedatangan dua tetamu aneh, yang perempuan cantik molek, yang lelaki buruk rupa dan lebih mirip setan, kubilang pasangan itu seperti setangkai bunga menghiasi seonggok kotoran kerbau. Li gemuk tertawa, aku juga tertawa, siapa tahu pada saat itu juga mendadak menerjang tiba seorang lelaki liar dan menghajar diriku, aku…”

Belum habis penuturannya, tiba-tiba dilihatnya nona cantik yang dibicarakannya itu sudah berdiri di depannya dengan wajah bersungut.

Keruan Juragan Ong jadi melongo dan tidak dapat bicara lagi.

Jit-jit lantas mendekati mereka, sekali tangannya menyiah, beberapa orang lantas tertolak sempoyongan ke kanan dan ke kiri, semuanya terkejut dan melongo.

“Ayo, teruskan!” kata Jit-jit sambil memandang Juragan Ong dengan dingin.

“Ya, aku…aku akan berce…bercerita lagi…” Juragan Ong gelagapan.

“Tadi kau bilang siapa mirip setan?” segera Jit-jit menjambret leher baju orang.

Dengan keringat memenuhi dahinya Juragan Ong menjawab, “O, ku…kubilang diriku sendiri…”

“Bagaimana bentuk orang yang menghajar dirimu tadi?” tanya Jit-jit pula.

“Alis tebal, mata besar dan…”

Belum habis penuturan Juragan Ong, sekali tolak Jit-jit membuat orang terlempar ke atas meja sana, lalu dia melayang pergi, tertampak di kedua tepi jalan berkerumun orang yang ingin melihat keramaian.

Dilihatnya di kejauhan sana sedang berjalan seorang lelaki dengan sebelah tangan membawa buli-buli arak.

Kejut dan girang Jit-jit, teriaknya, “Hai, Him Miau-ji…Si Kucing!…”

Cepat orang itu berpaling, tertampak jelas alisnya yang tebal dengan matanya yang besar, dada bajunya terbuka, siapa lagi dia kalau bukan Si Kucing.

Si Kucing juga terkejut dan bergirang dapat bertemu dengan Cu Jit-jit, dengan langkah lebar ia menyongsong kedatangan nona itu, kedua orang saling mencengkeram bahu masing-masing serupa dua orang yang sudah berpisah selama berpuluh tahun.

Mereka tidak menghiraukan orang berlalu-lalang. Air mata Jit-jit hampir saja bercucuran pula, bertemu dengan Him Miau-ji di sini, sungguh serupa bertemu dengan seorang yang paling berdekatan dengan dia. Ia pegang bahu Si Kucing dengan erat dan berkata padanya dengan suara rada gemetar, “Sungguh baik sekali…baik sekali dapat bertemu denganmu di sini.”

“Ya, bagus sekali kita dapat bertemu di sini,” Si Kucing juga memegang pundak si nona dengan tertawa.

“Tapi…tapi mengapa kau datang ke sini?” tanya Jit-jit.

“Men…mencari dirimu,” jawab Si Kucing. “Dan kau?”

“Aku pun datang ke sini mencarimu,” jawab nona.

Dan kedua orang lantas tertawa bersama, “Ayo, harus kita rayakan dengan minum arak!”

Tertawa mereka sangat gembira, sambil berpegangan tangan mereka masuk lagi ke rumah makan tadi. Karena gembiranya, kedua orang sudah melupakan adat istiadat yang membatasi pergaulan antara lelaki dan perempuan.

Sebaliknya orang lain sama menganggap seperti bertemu dengan malaikat elmaut, semua orang sama menyingkir jauh, Juragan Ong itu juga entah lari ke mana.

Si Kucing dan Jit-jit juga tidak ambil pusing, mereka duduk di rumah makan itu, tidak ada yang melayani mereka, segera mereka minum arak yang dibawa Si Kucing.

“Tak tersangka engkau masih memikirkan diriku dan mau datang ke sini mencariku,” ujar Jit-jit dengan tertawa.

“Kupikirkan dirimu?…Oya, hampir gila saking cemasku, kucari sepanjang jalan dan tidak tahu apakah dapat menemukan dirimu atau tidak?”

“Aku pun gelisah dan entah dapat menemukan dirimu atau tidak, kudengar ada orang dihajar di sini, dari keterangannya segera dapat kuduga yang menghajarnya pasti kau.”

“Hahaha! Kudengar keparat itu bicara tidak sopan, dapat kuterka yang dibicarakannya pastilah dirimu, aku tidak tahan, biarpun setan alas juga akan kuberi hajaran setimpal.”

Dan keduanya lantas bergelak tertawa pula, akhirnya suara tertawa mereka mulai mereda.

Jit-jit tidak tahan, ucapnya, “Entah Si…” ia mengertak gigi, kata “Sim Long” ditelannya kembali mentah-mentah.

Tapi Him Miau-ji sudah dapat menduga apa yang ingin diucapkan si nona, tanyanya, “Kau ingin tanya Sim Long bukan?”

“Siapa tanya dia? Setan yang tanya dia,” jawab Jit-jit.

Si Kucing menghela napas, katanya, “Tidak lama kau pergi, Sim Long juga pergi. Kutahu dia hendak mencari dirimu, siapa tahu meski sudah kutunggu sampai sekian lama belum juga kelihatan bayangannya.”

“Orang busuk begitu, untuk apa kau tunggu dia,” ujar Jit-jit dengan gemas.

“Aku tidak menunggu dia, tapi menunggumu,” kata Si Kucing.

“Betul?!” Jit-jit menegas sambil berkedip-kedip.

“Tentu saja betul,” jawab Si Kucing. “Gelisah kutunggu kedatanganmu, sedangkan Ong Ling-hoa tiada hentinya bertanya padaku tentang kungfu Sim Long, perguruan, dan asal usulnya, dia tanya juga cara bagaimana kukenal Sim Long.”

“Sebal kau kenal dia,” gerutu Jit-jit.

“Meski Ong Ling-hoa bertanya macam-macam, tapi aku malas menggubrisnya, dia tetap berada di situ, tidak enak bagiku untuk meninggalkan dia, untung pada saat itulah datang bintang penolong…”

“O, apakah Sim…siapa dia?”

Si Kucing tampak menyesal dan berkata pula, “Pendatang itu bukan Sim Long.”

“Aku kan tidak tanya apakah dia, setan yang mau tanya dia.”

“Kau tanya dia juga pantas,” ujar Si Kucing dengan tertawa, “Buat apa…”

“Ssst,” perlahan Jit-jit memberi tanda, “selanjutnya takkan kusinggung dia lagi. Sungguh! Percayalah padaku, seterusnya aku cuma memerhatikan orang yang baik padaku.”

Si Kucing memegang tangan Jit-jit dan memandangnya dengan terkesima, sampai lama belum lagi bicara.

Jit-jit mengikik, katanya, “Hei, siapa pendatang itu, lekas ceritakan.”

Si Kucing menenangkan pikiran, lalu bertutur, “Orang itu bermuka buruk, dari caranya berjalan kelihatan tidak lemah ginkangnya, tapi dia justru berdandan sebagai seorang saudagar.”

“Kau kenal dia?” tanya Jit-jit.

“Sama sekali tidak kukenal dia,” Si Kucing menggeleng. “Begitu datang, dia lantas kasak-kusuk membisiki Ong Ling-hoa, seketika air muka Ong Ling-hoa berubah dan buru-buru mohon diri padaku, lalu pergi bersama orang itu dengan tergesa-gesa dan rada gugup juga.”

“Apa yang dibicarakan orang itu, apakah kau dengar?” tanya Jit-jit.

“Seorang lelaki sejati mana dapat kucuri dengar pembicaraan orang lain,” ujar Si Kucing. Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula, “Padahal aku memang ingin mendengarkan, cuma sayang tidak sepatah kata pun terdengar.”

Jit-jit tertawa, “Ai, di sinilah letak cirimu yang menarik, engkau tidak munafik…” mendadak ia berkerut kening dan termenung sejenak, lalu menyambung, “kelakuan Ong Ling-hoa selalu misterius, apa yang diucapkannya juga selalu sukar dipercaya.”

“Orang itu memang misterius,” ujar Si Kucing. “Dahulu tidak begitu kurasakan, tapi setelah lebih sering berhubungan dengan dia, semakin kurasakan tindak tanduknya yang sukar diduga.”

“Setiap orang yang suka main kasak-kusuk selalu begitu, bukankah Sim…Sim Long juga begitu?” mendadak muka Jit-jit menjadi merah, ia menunduk dan menambahkan, “Aku tidak lagi memikirkan dia, aku cuma menggunakan dia sebagai perumpamaan saja.”

“Ya, aku…aku setuju,” kata Si Kucing.

“Hubungan kalian dengan Sim Long belum lama dan tidak terasakan apa-apa,” ujar Jit-jit. “Bagiku, kemisteriusan tindak tanduknya kurasakan lebih aneh daripada Ong Ling-hoa.”

Si Kucing berpikir sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Ya, memang betul juga. Tindak tanduknya sungguh sukar diraba, misalnya sekali ini dia mengadu kecerdasan dengan Ong Ling-hoa…Ai, kedua orang memang mempunyai caranya sendiri, kini kedua orang kelihatannya bersatu padu, kutahu banyak rahasia yang disembunyikan oleh mereka.”

“Siapa bilang tidak,” tukas Jit-jit. “Semula kusangka Sim Long telah sama sekali memercayai Ong Ling-hoa, siapa tahu sikapnya itu cuma sengaja diperlihatkan kepada orang lain saja.”

“Jika begitu, bukankah selain Ong Ling-hoa, kita juga dikelabui olehnya,” ujar Si Kucing. “Sungguh aku tidak mengerti, sesungguhnya siapa dia, apa pula maksud tujuan perbuatannya itu?”

“Bukan cuma kau saja yang tidak mengerti, aku pun tidak paham,” ujar Jit-jit. “Segala sesuatu mengenai orang ini seolah-olah tertutup seluruhnya di dalam sebuah rumah, pintu rumah ini tidak dibukanya untuk siapa pun.”

“Apakah kau tahu apa sebabnya?” tanya Si Kucing.

“Setan yang tahu,” jawab Jit-jit. Ia berkedip-kedip, lalu menyambung lagi, “Sungguh aku tidak paham, mengapa di dunia ada manusia seperti dia, seperti tidak percaya kepada siapa pun. Alangkah baiknya bila manusia di dunia ini suka terus terang dan terbuka seperti engkau dan aku.”

“Tapi jika serupa engkau dan aku, dunia mungkin juga akan selalu kacau,” ujar Si Kucing dengan tertawa.

Mendadak ia berhenti tertawa dan berucap dengan murung, “Suka berterus terang adalah sifat terpuji, tapi ada sementara orang menanggung susah di dalam hati, pada bahunya terdapat beban yang berat, cara bagaimana akan kau suruh dia bicara terus terang?”

Jit-jit termenung-menung, katanya kemudian, “Engkau sangat baik, masih bicara baginya…”

Mendadak ia merasa orang yang berduduk di depannya, lelaki yang berbau liar, ternyata jauh lebih menyenangkan daripada lelaki mana pun.

Walaupun beberapa saat sebelum ini dia merasa sikap dingin Kim Bu-bong, keteguhan dan ketenangannya, sifat pendiam dan suka memahami perasaan orang itu adalah watak yang disukainya. Tapi sekarang dirasakan pula watak Him Miau-ji yang suka terus terang, simpatik, agak liar dan sukar ditundukkan inilah adalah sifat khas kaum lelaki.

Dia termangu dan berpikir pula, “Jika ada seorang lagi yang dapat menggantikan kedudukan Sim Long dalam hatiku, maka orang itu ialah Si Kucing ini. Jika dia sedemikian mencintaiku, untuk apa kupikirkan lagi Sim Long?”

Waktu ia menengadah, dilihatnya Si Kucing juga sedang melamun, entah apa yang dipikirnya. Alisnya yang tebal tampak agak terkejut sehingga menambah murung wajahnya yang cerah itu, serupa anak liar yang lelah bermain telah diseret pulang oleh sang ibu.

Tiba-tiba timbul semacam perasaan kasih lembut seorang ibu, rasa hangat meliputi sekujur badannya, perlahan ia tanya, “Apa yang kau pikirkan?”

“Memikirkan dirimu,” jawab Si Kucing.

Jit-jit tertawa manis, perlahan ia membelai rambut Si Kucing dan tangan yang lain memegang telapak tangannya, ucapnya dengan lembut, “Aku berada di sampingmu, untuk apa kau pikirkan diriku?”

“Kupikir, apa yang kau lakukan seharian ini? Apakah kesepian?” lalu dia pandang Jit-jit lekat-lekat, si nona juga menatapnya.

“Aku…aku tidak kesepian, kan ada seorang menemaniku…” belum lanjut ucapannya, mendadak Jit-jit melonjak bangun dan berseru, “Wah, celaka!”

Dalam keadaan mesra begitu mendadak dia melonjak, tentu saja Si Kucing terkejut, heran dan juga rada kecewa. “Ada apa?” tanyanya.

“Sehari suntuk Kim Bu-bong terus mendampingiku,” tutur Jit-jit. “Tapi sekarang dia terkepung oleh Kim Put-hoan dan begundalnya, kita harus lekas pergi menolongnya.”

Namun Si Kucing tetap berduduk tanpa bergerak.

“Hei, kau dengar tidak? Lekaslah berangkat!” omel si nona.

“Ah, kiranya dia selalu mendampingimu, pantas kau pikirkan dia meski berada bersamaku. Baiklah, anggap aku salah taksir,” kecut suara Si Kucing, bernada cemburu.

Padahal gadis manakah di dunia ini yang tidak suka lelaki cemburu baginya?

Seketika omelan Jit-jit berubah menjadi tersenyum lembut, ia membelai lagi rambut Si Kucing dan berucap, “Ai, anak bodoh, justru lantaran kelewat gembira bertemu denganmu, makanya kulupakan urusan lain. Tapi…tapi dia sedang menghadapi kesulitan, adalah pantas kalau kita menolongnya.”

“Betul kau gembira melihatku?” tanya Si Kucing.

“Betul, tentu saja betul,” sahut Jit-jit.

Mendadak Si Kucing melompat bangun sambil berseru, “Ayo, berangkat!”

Segera ia tertarik Jit-jit dan diajak lari keluar.

Jit-jit menggeleng kepala dan tertawa, “Sungguh seperti anak kecil…”

Begitulah dengan bergandengan tangan keduanya terus berlari cepat ke depan menurut petunjuk Jit-jit.

Dataran bersalju itu jarang dijelajahi manusia, bekas tapak kaki Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong tadi masih tertinggal di atas tanah bersalju. Bekas kaki Kim Bu-bong lebih cetek, sedangkan bekas kaki Cu Jit-jit lebih dalam.

Setiba di tempat sepi mendadak bertambah lagi bekas kaki ketiga, itulah bekas kaki Kim Put-hoan yang mengintil di belakang mereka waktu itu.

Setelah sekian lama berlari mengikuti arah bekas kaki itu, mendadak Si Kucing berhenti dan berkata, “Ah, tidak betul.”

“Apa yang tidak betul?” tanya Jit-jit.

“Bekas kaki ini jelas cuma berputar-putar di sini, mungkin kalian…”

“Betul, sebab…” dengan ringkas Jit-jit lantas menceritakan pengalamannya tadi. Tentu saja Him Miau-ji terheran-heran, sembari bicara mereka terus maju ke depan.

Tiba-tiba tertampak bekas kaki di atas tanah salju itu kacau-balau.

“Nah, di sinilah,” kata Jit-jit.

“Di sini kalian dicegat!” tanya Si Kucing.

“Betul, tapi…tapi sekarang mereka sudah pergi, jangan-jangan Kim Bu-bong telah…telah tertawan oleh mereka…”

Mendadak Si Kucing berseru kaget, “Hei, lihat itu!”

Waktu Jit-jit memandang ke sana, seketika air mukanya berubah, dilihatnya di atas tanah salju dengan bekas kaki yang semrawut itu terdapat pula darah segar.

Darah sudah meresap ke dalam salju dan buyar sehingga warnanya sudah hambar, ditambah lagi sudah terinjak-injak, kalau tidak diperiksa dengan teliti memang sulit ketahuan.

Cepat mereka memburu ke sana, Si Kucing mencomot segumpal salju berdarah dan diciumnya, seketika alisnya yang tebal bekernyit, ucapnya dengan suara berat, “Betul, memang darah.”

“Jika…jika demikian, jangan-jangan dia mengalami sesuatu…” suara Jit-jit rada gembira.

Si Kucing tidak bicara lagi, ia berjongkok memeriksa bekas kaki di tanah. Cara memeriksanya sangat cermat dan teliti, Jit-jit tidak berani mengganggunya, selang sekian lama, ia tidak tahan dan coba bertanya, “Hai, adakah sesuatu yang kau temukan?”

“Bekas kaki ini sekilas pandang seperti sama, tapi bila diperiksa dengan cermat, terlihat banyak perbedaan di antaranya,” kata Si Kucing.

Meski merasa khawatir dan sedih, timbul juga rasa ingin tahu Cu Jit-jit, ia pun berjongkok dan coba memeriksanya, tapi sampai sekian lama ia pandang tetap tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Semakin tidak menemukan apa-apa, semakin tertarik dia dan ingin tahu sesungguhnya ada apa, karena tetap tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, akhirnya ia bertanya, “Tampaknya tidak ada perbedaan apa-apa, apakah betul kau temukan sesuatu yang aneh?”

“Masa tidak kau lihat?” ucap Si Kucing.

“Seperti…seperti…” betapa pun Jit-jit tidak mau mengaku bodoh, ia berharap Si Kucing akan menjelaskan.

Siapa tahu Si Kucing hanya memandangnya dengan tersenyum tanpa bersuara.

Terpaksa Jit-jit berdiri dan mengentak kaki, “Ya, aku mengaku kalah, aku tidak menemukan sesuatu.”

“Hendaknya kau periksa lebih teliti, soalnya belum kau kuasai cara memeriksa sesuatu benda…”

“Ya, ya, kau pintar, kau hebat, lekas katakan saja,” si nona ngambek.

Si Kucing lantas menunjuk sebuah bekas kaki, katanya, “Coba lihat, bekas kaki ini paling besar, dapat dibayangkan perawakan orang ini pasti sangat tegap, dan di antara beberapa orang itu yang berperawakan paling tegap ialah…”

“Betul, inilah bekas kaki Lian Thian-hun,” tukas Jit-jit.

Lalu Si Kucing menunjuk bekas kaki yang lain, “Bentuk bekas kaki ini tidak sama dengan yang lain, sebab sepatu yang dipakai orang ini adalah sepatu anyaman rami dengan daun telinga banyak, biasanya orang yang bersepatu jenis ini adalah kaum hwesio…”

“Betul, itulah Thian-hoat Taysu,” seru Jit-jit pula.

Segera ia juga menuding salah sebuah bekas kaki dan berucap, “Ini bekas sepatu rumput, pada musim dingin pakai sepatu begini, hanya kaum pengemis saja…Aha, Kim Put-hoan, inilah bekas kakimu.”

Dengan gemas ia lantas menginjak-injak bekas kaki itu.

Si Kucing tertawa, “Diberi tahu satu lantas paham tiga, selain menarik, kau pun sangat pintar.”

“Tapi masih ada bekas kaki yang lain yang tidak kuketahui,” ujar Jit-jit.

“Ketiga bekas kaki yang lain ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa dan memang sukar dibedakan, tapi…coba kau lihat ini, tentu dapat kau bedakan lagi.”

Yang ditunjuk adalah dua buah bekas kaki yang lebih dalam dan jelas, dua pasang bekas kaki berjarak agak jauh, lekukan yang cukup dalam itu seperti diukir dengan pisau.

Jit-jit berkeplok dan berseru, “Aha, betul, inilah bekas kaki Kim Bu-bong dan Leng Toa waktu keduanya bertanding. Waktu itu mereka berdiri saling melotot tanpa bergerak, kelihatan tegang dan mengerahkan tenaga, dengan sendirinya bekas kaki mereka sangat dalam.”

“Dan Leng Toa kalah, jelas bekas kaki yang paling dalam ini adalah bekas kakinya.”

“Betul, betul,” seru Jit-jit.

Padahal ia tahu biarpun dapat mengenali bekas kaki setiap orang juga tidak ada gunanya, tapi dapat memahami sesuatu, betapa pun ia merasa girang.

Dia suka bilang orang lain seperti anak kecil padahal ia sendiri yang benar-benar serupa anak kecil.

“Ada lagi satu hal,” tutur Si Kucing pula, “sepanjang tahun Leng Toa tidak keluar rumah, sebab itulah bekas kakinya terdapat garis sol sepatunya, sebaliknya selama ini Kim Bu-bong berkelana kian-kemari, sol sepatunya tentu sudah halus.”

Gembira dan kagum Jit-jit serunya, “Betul, tepat…”

“Setelah bekas kaki masing-masing sudah dikenali, sisanya jelas adalah bekas kaki Li Tiang-ceng, sebab bekas kakimu terlebih gampang dikenali.”

“Ai, kau kucing cilik ini tambah lama tambah cerdas,” ujar Jit-jit dengan tertawa dan perlahan mencubit pipi Si Kucing sekali.

Betapa mesranya ucapan “Si Kucing cilik”, dan betapa membuat sukma Si Kucing hampir terbang ke awang-awang karena cubitan si nona. Ia tertawa senang dan berkata pula, “Padahal caraku meneliti sesuatu benda kubelajar dari Sim Long, dia…”

Mendadak Jit-jit melengos dan berseru, “Kembali kau singgung dia? Untuk apa kau sebut dia? Bila mendengar namanya kepalaku lantas sakit.”

Yang benar bukan kepalanya yang sakit, tapi hatinya. Ia merasa sudah melupakan Sim Long, bilamana mendengar namanya, hatinya lantas seperti ditusuk jarum.

Melihat si nona menjadi uring-uringan, Si Kucing jadi melenggong, katanya kemudian, “Baiklah, jika engkau tidak suka mendengar namanya, selanjutnya takkan…takkan kusebut lagi.”

“Bagus, lalu bagaimana setelah bekas kaki ini semua dapat dibedakan?” tanya Jit-jit.

Si Kucing menunjuk bekas kaki Kim Bu-bong dan berkata, “Coba kau lihat, bekas kaki ini terhitung paling cetek di antara bekas kaki yang lain, ini menandakan ginkang Kim Bu-bong paling tinggi di antara beberapa orang ini. Tapi akhirnya, lantaran kehabisan tenaga, jelas dia telah bertempur mati-matian.”

“Lalu apa lagi?” tanya Jit-jit.

“Di antara bekas kaki yang memperlihatkan waktu mereka berangkat ini ternyata tidak terdapat bekas kaki Kim Bu-bong…”

“Hah, jangan-jangan dia tertawan dan digotong pergi,” seru Jit-jit.

“Bisa jadi,” ujar Si Kucing dengan sedih.

Jit-jit menjadi gelisah, “Wah, lantas bagaimana baiknya? Bilamana dia tertawan oleh musuh, sungguh celaka dia.”

Si Kucing termenung sejenak, katanya kemudian, “Dari bekas tapak kaki waktu pergi ini tertampak lebih dalam daripada waktu datangnya, jelas tenaga mereka juga habis terkuras, lebih-lebih Lian Thian-hun dan Leng Toa…”

“Tapi biasanya Kim Put-hoan yang licik itu tidak mau membuang tenaga dan bergebrak dengan orang, mengapa bekas telapak kakinya juga sedalam ini?” ujar Jit-jit.

“Kukira dia yang memanggul pergi Kim Bu-bong, bobot dua orang tentu akan meninggalkan bekas kaki yang dalam,” kata Si Kucing.

Seketika Jit-jit berjingkrak dan menginjak-injak bekas kaki Kim Put-hoan sambil mencaci maki, “Bangsat, binatang! Apabila kalian berani…berani menyiksa dia, pada suatu hari kelak pasti akan kucincang kalian.”

Him Miau-ji memandangnya dengan berduka, entah berduka bagi si nona atau bagi dirinya sendiri. Maklum, bila melihat orang yang dicintainya cemas bagi pemuda lain, betapa perasaannya sukarlah dilukiskan.

Mendadak Jit-jit menarik tangan Si Kucing dan berkata dengan gemetar, “Kumohon dengan sangat sudilah kau bantuku menolong dia.”

Si Kucing menunduk, “Aku…aku…”

“Satu-satunya sanak keluargaku di dunia ini hanya engkau, masakah engkau sampai hati…”

Mendadak Si Kucing mengentak kaki dan berteriak, “Baik, berangkat!”

—–

Padahal Si Kucing cukup tahu biarpun dirinya mampu menyusul mereka, untuk merampas Kim Bu-bong dari tangan Thian-hoat Taysu, Li Tiang-ceng dan lain-lain itu jelas sangat sukar.

Namun lelaki manakah di dunia yang mampu menolak permohonan gadis yang dicintainya dengan menangis, apalagi Him Miau-ji adalah pemuda yang simpatik.

Maka ia tidak mau omong lagi, terpaksa harus mengadu jiwa bilamana perlu.

Begitulah mereka terus mengejar mengikuti jejak yang terlihat di atas salju. Karena perasaan tertekan, sepanjang jalan sama tidak bicara. Tapi ketika tangan Jit-jit menyentuh tangan Si Kucing, tangan kedua orang lantas saling genggam lagi dengan erat.

Dari jejak yang mereka ikuti itu arahnya ternyata bukan menuju ke Lokyang melainkan sampai di kaki sebuah gunung, sebenarnya tidak tinggi gunung ini, tapi dipandang dari bawah rasanya tetap sangat tinggi.

Berdiri di kaki gunung, Si Kucing seperti termangu-mangu pula.

“Ayolah naik ke atas, untuk apa melamun?” kata Jit-jit.

Meski maksudnya mengomel, namun nadanya tatap mesra dan lembut. Mustahil dia tidak tahu betapa perasaan Si Kucing kepadanya.

“Aku lagi heran,” demikian tutur Si Kucing dengan perlahan, “sesudah mereka menawan Kim Bu-bong untuk diperiksa dan ditanyai, seharusnya mereka pulang ke Jin-gi-ceng, tapi mengapa mereka menuju ke sini?”

“Jangan-jangan mereka hendak…hendak membunuhnya di atas gunung,” kata Jit-jit dengan khawatir.

“Jika mereka mau membunuhnya, kenapa mesti dibawanya ke atas gunung? Di mana pun mereka dapat turun tangan. Kukira di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

“Betul, di mana pun mereka dapat membunuh Kim Bu-bong dan tidak perlu membawanya ke atas gunung…Ai, sungguh aku tidak mengerti.”

Padahal Him Miau-ji sendiri juga bingung.

Dan karena kedua orang sama-sama tidak paham, terpaksa mereka mendaki gunung untuk melihat kejadian selanjutnya.

Namun jalan pegunungan berliku-liku, di antara batu padas dan tetumbuhan penuh ditimbuni salju. Ada juga tanah yang teraling oleh tebing sehingga tidak teruruk bunga salju, sebab itulah cara mereka mengikuti jejak menjadi tidak semudah tadi.

Begitulah mereka terus mendaki ke atas, sebentar berjalan, sebentar berhenti, memeriksa sini dan melihat sana. Setiba di suatu tempat datar, di sana ada sebuah gardu kecil. Gardu yang biasa digunakan istirahat, juga dapat menjadi gardu pemandangan.

Namun jejak yang mereka ikuti sampai di sini mendadak putus, lenyap tanpa bekas lagi. Meski mereka coba periksa lagi sekitar situ tetap tidak menemukan bekas kaki apa pun.

“Aneh…sungguh aneh,” ucap Si Kucing dengan kening bekernyit.

“Ya, memang aneh, masakah setiba di sini orang-orang ini bisa terbang ke langit secara mendadak?” tukas Jit-jit.

Sejenak kemudian, mendadak ia berkeplok berteriak girang, “Aha, kiranya demikian!”

“Demikian bagaimana?” tanya Si Kucing.

“Keadaan demikian sudah pernah kualami satu kali,” tutur Jit-jit. “Yaitu ketika aku bersama Sim…bersama Thi Hoat-ho dan lain-lain menyelidiki makam kuno itu, di sana juga ada sebaris bekas kaki yang menghilang secara mendadak di tengah jalan. Tatkala itu pun mereka menyatakan rasa heran apakah mungkin orang-orang itu mendadak terbang ke langit?”

“Akhirnya bagaimana?” tanya Si Kucing.

“Kemudian baru kuketahui, setiba di sana, mereka lantas mundur kembali ke arah semula dengan menginjak bekas tapak kaki sendiri, dengan demikian orang akan sukar menemukan jejak mereka, bahkan akan curiga dan terheran-heran.”

“Aha, memang betul akal bagus.” seru Si Kucing, segera ia coba menyurut mundur mengikuti tapak kaki yang terlihat, tapi baru dua langkah, segera ia berkerut kening dan berucap pula, “Tapi sekali ini…sekali ini mungkin tidak demikian halnya.”

“Sebab apa? Mengapa sekali ini tidak bisa sama?”

“Urusan makam kuno itu memang tidak terlalu banyak yang kita ketahui, tapi dapat dibayangkan pasti juga perbuatan yang misterius dan mencurigakan, dengan sendirinya harus diatur sedemikian rupa sehingga membuat orang sangsi dan takut. Sebaliknya tokoh-tokoh seperti Thian-hoat Taysu dan lain-lain…”

“Memangnya orang-orang ini pasti orang baik?” ujar Jit-jit dengan tertawa.

“Orang-orang ini baik atau busuk tidak perlu kita urus dulu,” ujar Si Kucing, “yang jelas mereka adalah tokoh ternama dan dikenal, biarpun main sembunyi tetap takkan terhindar dari tanggung jawab. Apalagi sama sekali mereka tidak tahu bakal dikuntit orang, terlebih lagi, dengan kepandaian mereka, biarpun dikuntit orang juga mereka tidak perlu main sembunyi.”

Jit-jit termenung sejenak, “Ya, uraianmu juga masuk di akal, tapi jika menurut pendapatmu, lantas apa yang terjadi ini? Memangnya mereka benar-benar bisa terbang ke langit secara mendadak?”

“Hal ini memang…memang sukar dimengerti,” kata Si Kucing dengan menyesal.

“Jika aku tidak mengerti dan kau pun tidak mengerti, lalu…lalu bagaimana baiknya? Masa harus kita tunggu di sini sampai mereka jatuh kembali dari atas langit?”

“Kukira…kukira kita tetap mendaki ke atas saja untuk melihatnya, bisa jadi…”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri dari atas gunung. Suara serak seorang berteriak, “Tolong…tolong!…”

Jit-jit dan Si Kucing terkejut, kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka bergerak dan melayang ke arah datangnya suara itu secepat terbang.

Jeritan minta tolong itu berkumandang dari atas tebing yang curam sana. Setiba di sana suara itu sudah sangat lemah, orang yang berteriak tolong itu sudah kehabisan tenaga, namun tanpa berhenti tetap merintih dan berteriak, “Tol…tolong…Aku akan terjerumus ke jurang, tolong!”

Waktu mereka memandang ke arah suara sana, betul juga terlihat di tepi jurang ada dua tangan memegangi tepian, ruas jarinya sampai berubah menjadi hijau, jelas sudah tidak sanggup bertahan lagi.

Jit-jit menghela napas, ucapnya, “Untung jiwa orang ini belum ditakdirkan mati sehingga tidak terjerumus, kebetulan juga kita naik ke sini…”

Segera ia berseru, “Jangan khawatir…Tahan dulu sekuatnya, segera kami akan menolong dirimu!”

Selagi dia hendak menerjang ke sana, mendadak Him Miau-ji menarik tangannya dan berkata dengan kening bekernyit, “Nanti dulu, kukira hal ini agak…”

“Jiwa orang sangat penting, menolong orang seperti menolong kebakaran, masa perlu tunggu apa lagi?” ujar Jit-jit dengan tidak sabar.

Dalam pada itu suara rintih minta tolong orang itu bertambah cemas dan semakin lemah.

“Kulihat urusan ini rada-rada…”

“Rada-rada apa?” sela Jit-jit. “Apa pun juga orang harus diselamatkan lebih dulu. Jika menunggu lagi, mungkin orang akan terjerumus ke bawah. Jika begitu, bagaimana perasaan hati nuranimu?”

Si Kucing mau omong lagi, tapi segera dia didorong oleh Cu Jit-jit. Terpaksa ia mengangguk dan berkata, “Baik, akan kutolong dia, kau tunggu saja di sini.”

Cepat ia melompat ke tepi tebing dan berjongkok untuk memegang kedua tangan orang itu.

“Tarik sekuatnya…lekas!…”

Belum lanjut ucapan Jit-jit, mendadak terlihat kedua tangan yang semula bertahan pada tepi tebing itu meraih ke atas, tahu-tahu pergelangan tangan Him Miau-ji tercengkeram malah. Nyata yang digunakannya adalah kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap dan menawan yang mahalihai.

Karena tidak terduga-duga, Si Kucing tidak mampu mengelak, sekali terpegang pun sukar terlepas lagi, seketika ia merasa lengan sendiri kaku kesemutan, tenaga pun lenyap.

Selagi Jit-jit tercengang, terdengarlah Si Kucing menjerit, orangnya terus terlempar ke dalam jurang.

Perubahan ini sungguh terlalu mendadak, Jit-jit merasa seperti disambar geledek, seketika ia melongo di tempat.

Terdengar suara jeritan Si Kucing berkumandang menggema angkasa, sebaliknya dari bawah tebing itu lantas terdengar pula suara orang tertawa terkekeh-kekeh, sesosok bayangan orang lantas melayang ke atas.

Hari sudah mulai gelap, dalam keadaan remang-remang hanya terlihat orang ini memakai baju yang longgar, memakai topi dengan pelindung telinga, inilah dandanan kaum saudagar waktu menempuh perjalanan dalam musim dingin.

Sedapatnya Jit-jit menenangkan diri, bentaknya gusar, “Bangsat kau, bayar kembali jiwa Si Kucing!”

Sembari membentak ia terus menerjang ke sana.

Orang itu tidak mengelak, juga tidak menghindar, ia sambut serudukan Jit-jit dengan tertawa, “Anak baik, kau berani bergebrak denganku?”

Suaranya halus dan welas asih. Namun suara lembut ini segera menyerupai cambuk yang menghajar tubuh Cu Jit-jit, begitu mendengar suara ini, seketika ia merandek dan berdiri terpaku.

Angin mendesir, hawa terasa dingin. Namun wajah Cu Jit-jit penuh butiran keringat, tubuhnya tidak bergerak, namun tangan dan kakinya gemetar.

“Hehe, anak baik, mendingan masih kau kenal diriku,” ucap orang itu dengan tertawa.

“Kau…kau…” Jit-jit tidak sanggup bersuara lebih lanjut, kerongkongannya seperti terkancing, lidah pun kaku.

“Betul, aku inilah bibimu sayang,” kata orang itu. “Hawa sangat dingin, kupakai baju longgar ini, bisa jadi bentukku banyak berubah.”

“Kau…kau…” Jit-jit tetap gelagapan.

“Ai, bibi selalu baik padamu, memberi baju, menyuapi kau makan, tapi masih juga kau kabur, sungguh tidak punya perasaan,” omel orang itu dengan suara lembut sembari mendekati Jit-jit.

“Oo…mohon…mohon jangan…”

“Ai, setelah kau pergi, kau tahu betapa sedihku, betapa kurindukan dirimu. Syukurlah sekarang dapat bertemu pula, lekas kemari, biar bibi cium sayang…”

Jit-jit berteriak ketakutan, “Kau…kau…enyah…”

“Ai, masa pantas kau suruh bibi enyah,” ujar orang itu dengan tertawa. “Justru bibi hendak membawamu pergi, akan kuberi lagi baju yang apik, menyuapimu makanan yang enak…” bicara sampai di sini ia sudah berada di depan Cu Jit-jit.

“Jangan…jangan mendekat lagi, akan kupukul kau…”teriak Jit-jit dengan suara parau, ia angkat sebelah tangan terus menghantam.

Tapi mungkin saking takutnya sehingga pukulannya itu sama sekali tidak bertenaga, dengan perlahan orang itu dapat menangkap tangan Jit-jit sambil berkata, “Jangan bandel, anak baik, turutlah perkataan bibi…”

Hanya sekian kata saja yang dapat didengar Cu Jit-jit, mendadak kepala terasa pusing, tubuh menjadi lemas dan tidak tahu apa-apa lagi.

Angin pegunungan meniup dengan kencang, tidak lama kemudian Jit-jit siuman kembali. Begitu dia membuka mata, segera dirasakannya tubuhnya berada dalam pelukan “iblis” itu, sungguh kagetnya luar biasa, rasanya lebih menakutkan daripada mati.

Meski teraling oleh dua lapis baju, tapi Jit-jit merasa tubuhnya seperti dililit oleh badan ular yang dingin dan licin.

“Lepas…lepaskan aku…” teriaknya parau.

“Ai, sayang, masa kutega melepaskan dirimu?” ujar orang itu dengan tertawa.

Jit-jit bermaksud meronta, tapi dirasakan tubuh sendiri lemas lunglai tanpa bisa berkutik.

Pengalaman yang dulu mestinya sudah dianggapnya sebagai impian buruk dan tidak berani lagi dibayangkannya. Tapi sekarang dia ternyata terjeblos lagi ke dalam impian buruk yang sama.

Perasaannya sekarang tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata seperti gemetar, takut dan sebagainya, boleh dikatakan sukar untuk dilukiskan.

Dia tidak dapat melawan, tidak mampu meronta, hanya air mata saja yang bercucuran.

Terpaksa ia memohon belas kasihan dengan suara gemetar, “Kumohon su…sudilah engkau membebaskan diriku. Aku tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa engkau membikin susah padaku? Kenapa…”

“Eh, kupelukmu sehangat ini, masakah kau bilang kubikin susah padamu?” kata orang itu dengan tertawa. “Jika cara begini kau anggap membikin susah, baiklah, boleh kau peluk saja diriku biar kau yang membikin susah padaku.”

“Jika…jika tidak mau kau lepaskan diri, lebih baik kau bunuh diriku saja, menjadi setan pun aku akan berterima kasih padamu.”

“Ah, jangan bercanda, bila kubunuhmu, masa kau berterima kasih padaku malah? Omong kosong!”

“Betul…sungguh…”

Orang itu tidak menanggapi ucapan Cu Jit-jit lagi, ia bawa si nona ke tepi jurang sana dan memandang ke bawah, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Hah, kucingmu yang jinak itu sungguh hebat juga, sampai sekarang dia masih bertahan pada sesuatu sehingga tidak sampai terjerumus ke bawah.”

“He, apakah betul dia belum mati?” seru Jit-jit dengan girang.

“Ehm, dia belum mati,” orang itu mengangguk. “Tampaknya dia berusaha hendak merambat ke atas, cuma sayang, betapa pun dia takkan mencapai atas sini…Apakah kau mau melihatnya?”

Sejauh itu Jit-jit tidak berani membuka mata untuk memandang “iblis” ini, sekarang mendadak dirasakan orang mengangkat tubuhnya ke depan. Dengan gemetar ia coba membuka mata, tertampak awan mengambang di bawah, jurang itu sangat dalam dan tidak kelihatan dasarnya, tidak jauh di bawah tebing yang curam itu benarlah ada sesosok bayangan orang sedang meronta dan bergerak-gerak.

Hanya memandang sekejap saja kepala Jit-jit lantas pusing, cepat ia memejamkan mata pula dan berseru, “O, mohon sudilah engkau men…menolongnya!”

“Menolongnya? Kenapa harus kutolong dia?” ujar orang itu.

“Tadi dia bermaksud…bermaksud menolongmu, akibatnya dia terjerumus.”

“Hahahaha!” orang itu bergelak tertawa. “Kubuntuti kalian sepanjang jalan sehingga tiba di sini, lalu kugunakan akal bagus ini untuk menamatkan riwayat hidupnya. Memangnya kau kira tadi aku benar-benar lagi minta tolong?”

“Ka…kau iblis…binatang…”

“Betul, aku memang iblis,” kata orang itu dengan tertawa. “Mengapa tadi tidak kau pikirkan, di tempat seperti ini masakah bisa terjadi orang berteriak minta tolong? Mengapa tadi perlu kau tolong diriku? Bukankah kau sendiri yang membikin celaka dia?”

Jit-jit jadi teringat pada keadaan tadi, memang berulang Him Miau-ji hendak menyatakan pendapatnya, tapi dicegahnya, bahkan dipaksanya agar memberi pertolongan kepada orang ini, akibatnya sekarang Si Kucing sendiri yang terancam maut. Hati Jit-jit menjadi pedih, teriaknya mendadak, “Him Miau-ji…Si Kucing…Akulah yang membikin susah padamu…akulah yang membikin celaka dirimu…”

Sekonyong-konyong dari bawah berkumandang suara Si Kucing, “Jit-jit…Cu Jit-jit…Engkau berada di mana? Baik-baikkah engkau?!”

Suara itu penuh rasa cemas dan putus asa, tapi juga penuh rasa perhatian, namun yang diperhatikan dan dicemaskan bukan Si Kucing sendiri melainkan bagi Cu Jit-jit.

Bahwa seorang sedang bergulat di tepi garis antara mati-hidup bagi diri sendiri, tapi masih juga memerhatikan keselamatan orang lain, betapa besar jiwa dan betapa luhur budinya ini sungguh tidak ada bandingannya.

Hati Cu Jit-jit serasa dirobek-robek, hancur luluh. Teriaknya dengan serak, “Aku berada di sini, Kucing…Di atas sini…”

Ia meronta mati-matian, tanpa menghiraukan akibatnya ia ingin terjun ke bawah, dalam benaknya sekarang cuma ada satu pikiran, suatu pikiran yang murni, yaitu terjun ke bawah dan mati bersama Him Miau-ji.

Dalam keadaan demikian urusan lain tidak terpikir lagi olehnya, sudah terlupakan seluruhnya.

Namun tangan si iblis serupa tanggam kuatnya merangkulnya, mana Jit-jit mampu melepaskan diri, apalagi terjun ke bawah.

“Lepas…lepaskan diriku!” teriak Jit-jit.

“Ai, mestikaku sayang, mana boleh kulepaskan, dengan susah payah baru kudapatkan kembali dirimu, mana boleh membiarkan kau mati begitu saja. Selanjutnya jangan lagi kau pikirkan soal mati segala.”

“O, Allah, masakah ingin mati pun tidak boleh?” ratap Jit-jit.

“Mati memang soal yang aneh,” kata orang itu. “Ada sementara orang ingin mati, tapi sangat sulit. Sebaliknya ada lagi setengah orang lain justru teramat mudah bilamana ingin mati…”

Sampai di sini, mendadak ia mendepak sepotong batu padas sehingga batu itu mencelat ke bawah jurang.

Dengan membawa suara gemuruh batu itu terguling ke bawah, menyusul lantas terdengar pula jeritan ngeri seorang berkumandang dari bawah tebing, suara ngeri menggetar sukma.

Jit-jit juga menjerit kaget, tapi jeritannya lantas terhenti mendadak serupa lehernya mendadak dicekik orang, sebab jeritan ngeri di bawah jurang juga mendadak terputus.

Keadaan lantas berubah sunyi seperti kuburan, angin pun seolah-olah berhenti mendesir secara mendadak, suasana kelam…Jagat raya ini seakan-akan beku di tengah kesunyian ini, semuanya membeku di tengah adegan yang mengerikan dan menyesakkan napas.

Namun yang terbayang oleh Cu Jit-jit rasanya seperti adegan yang penuh berlumuran darah, dia seperti melihat Si Kucing terjatuh oleh batu padas tadi, lalu lelaki yang penuh gairah hidup dan gagah perkasa itu dalam sekejap itu hancur lebur di bawah jurang.

Saraf sekujur badan Cu Jit-jit seakan-akan kaku juga dalam sekejap itu. Entah berselang berapa lama baru dapat dirasakan “iblis” yang memondongnya itu sedang menggeser ke depan. Soal ke mana tujuannya dan sudah berada di mana hampir tidak diketahuinya, juga tidak ingin tahu.

Maklum, baginya sudah tidak ada bedanya hendak dibawa ke mana, dia sudah jatuh dalam cengkeraman iblis, jalan ke mana pun tetap menuju ke neraka.

Akan tetapi neraka yang dituju ini ternyata berada di puncak gunung. Orang itu membawanya menuju ke atas gunung.

Jalan pegunungan berliku-liku, terkadang hampir sukar dilalui, namun cara berjalan si iblis ini sedemikian enteng dan santai, tampaknya hafal betul terhadap jalan pegunungan yang melingkar-lingkar ini.

Memangnya menembus ke manakah jalan ini?

Di atas gunung yang terpencil terdapat hutan cemara yang lebat, dipandang dari hutan yang ditaburi salju itu samar-samar kelihatan di kejauhan sana ada dinding dan wuwungan rumah yang tinggi.

“Berhenti!” mendadak Jit-jit berteriak.

“Berhenti? Mau apa?” orang itu menegas dengan heran, disangkanya mungkin si nona mendadak kebelet kencing.

“Berhenti dulu, ingin kutanya padamu,” kata Jit-jit pula.

Orang itu tambah heran, “Ingin tanya apa?”

Dilihatnya wajah Jit-jit yang pucat itu mendadak bersemu merah bergairah, sorot matanya yang putus asa itu tiba-tiba juga berubah bersemangat, senang dan berdaya hidup.

Hal ini serupa seorang yang hampir terbenam di lautan ketika mendadak berhasil meraih sepotong kayu sehingga menemukan jalan hidup kembali. Tapi apa yang berhasil diraih Cu Jit-jit? Jangan-jangan teringat sesuatu olehnya?

Terdengar nona itu berteriak pula, “Kusuruh berhenti harus cepat berhenti, bila kutanya padamu harus lekas kau jawab, tahu?”

“Wah, mestikaku sayang, bilakah engkau jadi galak begini dan main perintah padaku?” ujar orang itu dengan tertawa geli. “Eh, sesungguhnya pikiran aneh apa yang timbul dalam benakmu?”

“Huh, memangnya kau sangka aku tidak tahu siapa dirimu?” jengek Jit-jit.

“Mau apa kalau tahu?” tanya orang itu.

“Engkau ini antek Koay-lok-ong, she Suto, tugasmu khusus mencarikan perempuan cantik bagi Koay-lok-ong, sekarang juga hendak kau bawa diriku kepadanya untuk…untuk dijadikan…dijadikan selirnya.”

“Betul, lantas bagaimana?” orang itu tertawa.

“Maka bila sekarang tidak kau tunduk kepada perintahku, nanti setelah kujadi selirnya, tentu akan kucari daya upaya untuk menawan hatinya, bilamana aku telah menjadi selir kesayangannya, akan ku…”

Kata itu diucapkan dengan menggunakan tenaga yang besar, walaupun begitu kedengarannya tetap tergegap.

Ia berhenti dan ganti panas, lalu berkata pula dengan lagak sungguh-sungguh, “Nah, bila kujadi selir kesayangannya nanti apa yang kuminta pasti akan diturutinya, tatkala mana umpama kuminta dia membunuhmu pasti juga akan dilaksanakannya.”

Orang itu jadi melengak.

Dengan tertawa Jit-jit lantas menyambung, “Sudah tentu kau tahu apa yang kukatakan ini bukan gertakan belaka. Berani bicara pasti berani kulakukan. Maka harus kau pikirkan dulu, jika kau takut…”

“Hahaha, memang betul, aku sangat takut!” seru orang itu.

“Jika takut, sekarang harus kau…”

Mendadak orang itu bergelak tertawa. “Hahaha, mestikaku sayang, boleh juga jalan pikiranmu ini, sungguh engkau seorang nona yang pintar. Mari sayang, akan kucium dikau…”

Benar juga, mendadak ia menunduk dan Jit-jit di”ngok” dengan bernafsu.

Seketika muka Jit-jit pucat lagi, teriaknya gemetar, “Masa…masa engkau tidak takut?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: