Kumpulan Cerita Silat

04/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (04)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 10:32 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

4. Ye Xiang

Meng Xin Hun masih berlari sekencangnya membelah angin seperti hewan yang terluka mengejar matahari hingga ia kelelahan dan akhirnya berhenti.

Sebatang pohon besar berkulit kasar berdiri kekar di sana.

Ia menangis menggerung memeluk pohon itu erat-erat, menggosokkan wajahnya ke kulit pohon kuat-kuat. Ia merasa wajahnya basah, entah oleh air mata atau darah?

Matahari semakin tinggi. Mendung hilang entah kemana. Di luar hutan tampak sebuah rumah di sisi kali. Pemandangan begitu menawan. Seindah lukisan. Seakan di dunia ini tak ada yang lebih indah selain pemandangan di tempat itu.

Ke tempat itu bermacam orang dari berbagai lokasi datang bertandang, ibarat lalat melihat segumpal darah di atas sekerat daging telanjang, berbondong menghampiri.

Di situ mereka rela menghabiskan uang sebanyak-bayaknya karena itulah sebuah rumah pelesiran.

Di tempat itu kau bisa membeli arak, memilih perempuan yang paling cantik, juga membeli mimpi yang tidak bisa kau raih. Bahkan bila kau berani mengeluarkan banyak uang, kau bisa membeli nyawa seseorang.

Di sana tidak ada barang yang tidak bisa dibeli. Pun tidak ada barang yang bisa dibeli tanpa uang. Pokoknya, setiap orang yang datang harus membawa uang, tanpa pengecualian, termasuk Meng Xin Hun.

Itulah rumah milik Gao Ji Ping, biasa dipangil Gao Lao Da.

Hidup berkelana selama 20 tahun mengajarkan Gao Lo Da satu hal: lebih baik mempunyai uang daripada mempunyai anak. Tidak ada yang bisa menyalahkan Gao Lao Da atas prinsipnya.

Pengalaman telah mengajarkan padanya, kehidupan yang miskin lebih menyakitkan daripada memotong sekerat daging sendiri.

—–

Beberapa lelaki terlihat ke luar dari rumah plesiran itu.

Mereka memeluk pinggang perempuan masing-masing sambil membicarakan hasil perjudian tadi.

Berjudi semalam suntuk terkadang lebih melelahkan daripada pertarungan hidup dan mati.

Meng Xin Hun mengenali lelaki yang pertama keluar, bermarga Qing, tengah memeluk wanita yang lebih cocok menjadi cucunya.

Orang bermarga Qing itu bertubuh kuat, masih terawat, semangatnya masih menggebu. Setiap musim gugur ia datang ke tempat itu dan menginap selama beberapa hari.

Meng Xin Hun bertanya dalam hati, ‘Tidak banyak yang mampu membeli nyawa Sun Yu Bo, diakah salah satunya?’

Nyawa Sun Yu Bo berharga sangat tinggi. Dulu setiap Meng Xin Hun membunuh orang, ia tidak perduli siapa yang membeli. Tapi kali ini lain, ia ingin tahu.

Sepertinya malam tadi Qing menang besar, tawanya keras tergelak-gelak, tapi tiba-tiba terhenti. Ia melihat seseorang melintas mendatangi.

Orang itu bertubuh tinggi besar, gagah, mengenakan jubah panjang berwarna hijau, rambutnya mulai memutih, dan tangannya memegang dua lempengan besi.

Dari posisi Meng Xin Hun di tepi hutan di belakang sana, ia tidak bisa melihat wajah lelaki itu dan hanya bisa melihat wajah si Qing.

Di dunia persilatan marga Qing lumayan terkenal, namun begitu melihat wajah lelaki yang mendatangi dari depannya, seketika si Qing berubah hormat, menyingkir ke tepi, memberi jalan sambil membungkuk.

Lelaki itu hanya menganguk, mengucapkan dua kata, dan terus berlalu.

Siapakah dia? Meng Xin Hun ingin tahu, tapi tidak bisa!

Di tempat itu Meng Xin Hun ibarat setan tanpa bayangan. Ia tidak boleh mempunyai nama maupun marga, tidak boleh mengenal orang, juga tidak boleh dikenal orang.

Gao Lao Da telah memerintahkannya agar tidak seorang pun boleh mengenalnya.

Maka, ia tidak boleh memiliki perasaan, teman, dan juga kehidupan pribadi. Bahkan, nyawa sendiri pun bukan miliknya. Ia hanya mempunyai tugas.

Tugasnya hanya satu: mencabut nyawa.

—–

Meng Xin Hun coba berdiri tegak dengan tetap memeluk pohon itu.

Tiba-tiba dari atas pohon terjulur sebuah tangan, gemetar menawarkan seguci arak, diikuti datangnya sebuah suara serak. “Sepagi ini sudah bangun, bukan hal yang baik, mari minum bersama!”

Meng Xin Hun menyambut guci arak tanpa menengadah. Walau ia tidak mengenal suara seraknya, tapi ia bisa mengenali sepasang tangannya.

Tangan itu sangat besar dan tipis, artinya bisa memegang benda apa pun dengan kuat dan cepat. Maka, bila tangan itu memegang pedang, pastilah tiada seorang pun yang luput dari pedangnya.

Itulah tangan Ye Xiang.

Namun tangan itu sudah lama tidak memegang pedang. Pedangnya sudah lama ia gantungkan.

Dulu, sekali pedang Ye Xiang berkelebat, selamanya mengenai sasaran dengan tepat.

Gao Lao Da mempercayai Ye Xiang. Ye Xiang pun penuh percaya diri. Tapi sekarang untuk memegang seguci arak pun tangannya terlihat gemetar.

Di tangan itu tampak bekas luka yang panjang dan dalam, luka yang ia dapat saat terakhir bertugas membunuh orang.

Orang itu bernama Yang Yu Ling, seorang kroco yang tidak terkenal.

Sebelumnya, semua yang dibunuh Ye Xiang jauh lebih lihai daripada Yang Yu Ling.

Gao Lao Da menyuruh Yeng Xiang membunuh Yang Yu Ling semata untuk memulihkan kepercayaan dirinya karena ia sudah dua kali gagal.

Tapi kali ini pun ia tetap gagal. Yang Yu Ling nyaris memotong putus tangan Ye Xiang.

Semenjak itu Ye Xiang tidak pernah membunuh lagi, kerjanya seharian hanya bermabukan semata.

—–

Arak itu terasa pahit dan pedas.

Hanya sekali tenggak, alis Meng Xin Hun langsung berkerut.

Ye Xiang tertawa, “Ini memang bukan arak bagus, tapi tidak ada arak bagus tetap lebih baik daripada tanpa arak.” Ia kembali tergelak sebelum melanjutkan, “Gao Lao Da masih mengijinkanku meminum arak pun sudah suatu kebaikan. Orang sepertiku pantasnya menenggak kencing kuda!”

Meng Xin Hun tidak tahu harus berkata apa, sementara Ye Xiang sudah melorot turun dari pohon dan tersenyum memandangnya.

Namun Meng Xing Hun tidak mau melihatnya. Ia tidak tega. Orang yang pernah mengenal Ye Xiang pasti tidak tega melihat ia berubah drastis seperti ini.

Sebenarnya Ye Xiang adalah lelaki yang ganteng dan kuat, tenaganya besar, suaranya berat berwibawa. Tapi sekarang pedangnya sudah berkarat, wajahnya kuyu, suaranya berubah serak.

Ye Xiang menenggak araknya lagi sambil menghela nafas. “Sekarang semakin jarang kita berjumpa. Biar pun kau menghina diriku, itu pantas bagiku. Bila tidak ada dirimu, aku sudah mati di tangan Yang Yu Ling.”

Terakhir kali Gao Lao Da menyuruh Ye Xiang membunuh orang, ia menyuruh Meng Xin Hun menguntit dari belakang.

Ye Xiang tertawa. “Sebenarnya hari itu kutahu kau ada di belakangku, karena itu…”

Meng Xing Hun seketika menyela, “Seharusnya aku memang tidak pergi!”

“Kenapa?” tanya Ye Xiang.

“Gao Lao Da menyuruhku mengikutimu karena ia menghawatirkanmu. Kau tahu itu! Karena itu, kau tidak percaya diri. Bila saat itu aku tidak mengikutimu, kau pasti bisa membunuh Yang Yu Ling.”

Ye Xiang tertawa sedih. “Kau salah! Waktu aku gagal membunuh Lei Lao San, aku tahu selamanya tidak bisa membunuh lagi.” Lei Lao San adalah kegagalan pertamanya.

Meng Xin Hun menatap Ye Xiang dalam-dalam. “Lei Lao San seorang tengkulak, biasanya kau paling benci orang macam ini. Aku heran, kenapa kau tidak bisa membunuhnya?”

Ia tertawa kecut. “Aku pun tidak tahu mengapa, yang kutahu aku merasa sangat lelah. Sedemikian lelahnya hingga enggan melakukan apa pun.” Setelah terdiam sesaat, Ye Xiang menghela nafas, “Kau tidak akan pernah mengerti perasaan seperti ini…”

Lelah! Kata itu tajam menusuk ulu hati Meng Xin Hun, sudut matanya mulai berkedut. Lama ia baru berkata, “Aku mengerti!”

“Kau mengerti apa?”

“Aku sudah membunuh sebelas orang!”

“Kau tahu berapa orang yang kubunuh?”

Meng Xin Hun tidak tahu. Kecuali Gao Lao Da tidak ada yang tahu. Setiap kali menjalankan tugas, itulah misi rahasia, tidak ada orang lain yang boleh tahu.

“Aku sudah membunuh tiga puluh orang. Tidak lebih tidak kurang, tiga puluh!” Tangannya gemetar, ia cepat-cepat menenggak araknya. “Kau pun akan membunuh dalam jumlah banyak, mungkin lebih banyak dariku. Karena jika tidak, kau akan menyerupai nasibku…”

Lagi, seolah tendangan keras menghantam ulu hati Meng Xin Hun. Ia sudah benar-benar merasa mual, ingin muntah: Ye Xiang adalah cermin dirinya.

Sementara Ye Xiang melanjutkan berkata, “Setiap orang memiliki nasib dan takdirnya sendiri, jarang ada yang bisa menghindari dan mengubahnya. Sebetulnya aku pernah memiliki kesempatan untuk mengubah takdirku…”

“Kau pernah miliki kesempatan itu?”

Ye Xiang membuang pandang jauh-jauh. “Pernah suatu kali aku bertemu dengan seorang wanita, ia membantuku sepenuh hati. Kalau waktu itu aku bertekad pergi dengannya, mungkin hidupku tidak begini. Seandainya pun mati, matiku jauh lebih baik daripada begini…”

“Kenapa kau tidak pergi dengannya?”

Mata Ye Xiang menyorot sedih, perlahan ia berkata lirih, “Karena aku seorang bodoh. Sangat goblok. Goblok sekali! Aku tidak berani…”

“Bukannya tidak berani,” Meng Xin Hun menatap penuh simpati, “mungkin karena kau tidak tega.”

“Tidak tega pun suatu kebodohan!” hentaknya. “Kuharap kau tidak sebodoh diriku.” Ia memegang tangan Meng Xin Hun, menatapnya dalam-dalam. “Kesempatan hanya datang sekali. Jika sudah lewat, ia tidak akan kembali. Dalam hidup setiap orang pasti akan datang satu kesempatan! Karena itu kumohon padamu, bila kesempatan itu datang padamu, janganlah kau sia-siakan.”

Sehabis berkata ia membalik tubuh, ia tidak mau Meng Xin Hun melihat air matanya.

Ia mengucapkan semua itu bukan hanya demi Meng Xin Hun, tapi juga untuk dirinya. Ia tahu seumur hidupnya sudah tidak punya kesempatan lagi, karenanya ia berharap Meng Xin Hun dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik daripada dirinya.

Sementara Meng Xin Hun hanya terdiam. Ia tidak bicara karena tidak bisa mengutarakan isi hatinya. Perasaannya pada Gao Lao Da hanya dirinya yang tahu. Demi Kakak Gao, ia rela mati.

Ye Xiang kembali bertanya, “Apa kau akan membunuh lagi?”

Meng Xin Hun mengangguk.

“Kali ini siapa yang akan kau bunuh?”

“Sun Yu Bo.”

Itulah rahasianya. Tapi, dihadapan Ye Xiang, ia tidak bisa menyimpan rahasia itu.

“Sun Yu Bo? Apakah Sun Yu Bo yang tinggal di Jiang Nan?”

“Kau mengenalnya?” Meng Xin Hun balik bertanya.

“Aku pernah bertemu dengannya!”

“Dia seperti apa?”

“Tidak ada yang tahu dia seperti apa. Aku hanya mengetahui satu hal saja.”

“Apa?”

“Jika aku adalah kau, aku tidak akan pergi membunuhnya.”

Meng Xin Hun menghela nafas, berkata perlahan, “Aku juga hanya mengetahui satu hal saja.”

“Apa?”

“Aku harus membunuhnya!”

Advertisements

2 Comments »

  1. Apa jilid 5nya ada? saya cari tidak ada. Terima kasih.

    Comment by an — 14/03/2009 @ 5:38 am

  2. Tunggu sebentar, mas. Saya cari file-nya nanti. Setelah itu, upload deh.

    Comment by ceritasilat — 18/03/2009 @ 2:28 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: