Kumpulan Cerita Silat

03/01/2009

Pisau Terbang Li (63)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:26 pm

Putus Hubungan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Di luar hutan yang mati ini terdapat jalan setapak yang sepi. Ah Fei menunjuk pada secercah cahaya di ujung jalan itu dan berkata, “Itu rumahku.”

Rumah.

Bagi telinga Li Xun Huan kata ini sangat asing, hampir tidak dikenal.

Mata Ah Fei masih tertuju pada cahaya itu saat ia berkata, “Lilin masih hidup, dia pasti belum tidur.”

Dalam rumah kecil itu ada lilin yang terang, baju katun yang tebal, dan kerjapan bulu mata wanita yang cantik. Wanita itu sedang duduk menjahit baju dekat cahaya lilin itu, sambil menunggu kembalinya sang kekasih pulang ke sisinya.

Gambaran yang luar biasa indah.

Hanya membayangkannya membuat hati Ah Fei penuh dengan kerinduan dan kehangatan. Matanya yang setajam pisau pun menjadi lembut dan tenang.

Ia adalah orang yang selalu sendirian dan kesepian. Namun kini ia tahu ada seseorang yang sedang menantikannya…. Wanita yang paling dicintainya di seluruh dunia, sedang menantikan kepulangannya.

Perasaan ini sudah tentu sangat menyejukkan hati, tidak dapat dibandingkan dengan perasaan yang lain, tidak dapat digantikan oleh apapun juga dalam dunia ini.

Hati Li Xun Huan melorot.

Melihat rasa bahagia yang terpancar di wajah Ah Fei membuat ia merasa bersalah.

Sebenarnya ia tidak ingin membuat Ah Fei kecewa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ah Fei ketika tahu bahwa Lin Xian Er tidak ada di sana.

Walaupun ia melakukannya demi kebaikan Ah Fei, supaya ia dapat terus hidup berbahagia sebagai seorang laki-laki sejati, Li Xun Huan masih tetap merasa bersalah terhadap sahabatnya ini.

Kesedihan yang seumur hidup tidak dapat dibandingkan dengan kesedihan sesaat.

Li Xun Huan hanya dapat berharap bahwa Ah Fei dapat segera pulih dari kesedihan yang akan dialaminya dan segera melupakan segala sesuatu tentang wanita itu. Wanita itu tidak pantas mendapatkan cintanya, bahkan tidak pantas ditangisi.

Sayangnya, orang selalu jatuh cinta pada orang-orang yang salah. Karena perasaan adalah seperti kuda liar, sama sekali tidak bisa dikendalikan dan tidak terelakkan. Ini adalah kesedihan yang terbesar dalam hidup manusia. Karena inilah, tidak habis-habisnya tragedi menimpa hidup manusia.

Cahaya terang dan pintu terbuka sedikit. Cahaya mengalir melalui lubang itu dan menyinari jalan setapak di luar. Jalan itu basah karena hujan semalam dan di bawah cahaya remang-remang tampak jejak-jejak kaki yang tidak beraturan di sana-sini. Jejak seorang laki-laki.

“Siapa yang datang?” tanya Ah Fei sambil mengerutkan alisnya. Namun perlahan-lahan ia kembali tenang.

Ia selalu percaya pada Lin Xian Er. Ia yakin bahwa Lin Xian Er tidak mungkin mengkhianati kepercayaannya.

Li Xun Huan mengikutinya di belakang. Seakan-akan ia takut masuk ke dalam rumah itu.

Ah Fei menoleh dan tersenyum sambil berkata, “Kuharap sup yang dimasaknya hari ini tidak pakai rebung. Cobalah sedikit dan kau akan tahu kehebatannya di dapur lebih daripada kehebatannya menggunakan pedang.”

Li Xun Huan hanya menjawab dengan tersenyum. Siapa yang mengira bahwa senyum ini sarat dengan sejuta kesedihan?

Jika mangkuk besar berisi sup iga sapi itu memang tidak ada rebungnya, Li Xun Huan sungguh tidak mengerti apa rahasianya. Tapi mungkin apa yang terjadi hari ini akan berbeda sama sekali.

Li Xun Huan sungguh tidak habis pikir bagaimana seorang wanita dapat menggunakan cara yang begitu keji untuk menipu laki-laki sungguh-sungguh mencintai dan memperhatikannya.

Tapi apa bedanya dengan aku? Akupun menipunya. Demikian pikiran Li Xun Huan.

Mengapa aku tidak bisa berterus terang saja bahwa Lin Xian Er tidak ada lagi di sini. Bahwa ini semua adalah rencananya. Li Xun Huan membungkuk dan mulai batuk-batuk keras.

Ah Fei menoleh ke belakang dan berkata, “Jika kau bersedia tinggal bersamaku di sini untuk beberapa hari, batukmu pasti akan sembuh. Karena di sini tidak ada anggur, yang ada hanya sup hangat.”

Namun Ah Fei tidak pernah menyadari betapa berbahayanya ‘sup’ itu untuk tubuhnya. Jauh lebih berbahaya daripada anggur.

Tidak sedikit suara pun terdengar dari dalam rumah.

“Ia pasti sedang ada di dapur. Kalau tidak, ia pasti sudah keluar untuk menyambutmu,” kata Ah Fei.

Li Xun Huan tidak menjawabnya, karena ia tidak tahu harus bilang apa.

Akhirnya pintu pun terbuka. Ruang duduk yang kecil itu masih bersih seperti dulu. Lilin di atas meja sudah tidak menyala, namun masih memancarkan kehangatan.

Ah Fei menghela nafas lega. Akhirnya ia pulang ke rumah dengan selamat. Ia tidak mengecewakan kekasihnya. Tapi di manakah dia?

Di dapur juga tidak tampak cahaya, apalagi sup yang menantinya. Pintu kamar Lin Xian Er tertutup rapat.

Ah Fei memandang Li Xun Huan di belakangnya yang masih berdiri di depan pintu. Katanya, “Ia pasti sudah tidur. Ia selalu tidur sangat awal.”

Li Xun Huan ingin tersenyum, namun otot-otot wajahnya terasa tegang. Ia mendengar rintihan dari dalam kamar. Rintihan seorang wanita.

Rintihan seorang wanita yang sedang sekarat!

Wajah Li Xun Huan berubah, dan langsung menuju ke pintu dan menggedornya, “Apakah kau baik-baik saja? Segera buka pintunya!”

Tidak ada jawaban. Rintihan itu pun tidak terdengar lagi. Siapapun yang berada di dalam sana pasti sedang berusaha menjawab, namun tidak bisa bersuara.

Keringat Ah Fei mulai mengucur deras dan ia pun mendobrak pintu dengan bahunya.

Li Xun Huan memejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat wajah Ah Fei saat itu. Wajah seseorang yang memandang kekasihnya yang hampir mati. Siapakah yang ingin melihat wajah seperti itu?

Li Xun Huan tidak saja tidak berani melihat, ia pun tidak mampu melihat. Bahkan memikirkannya pun tidak sanggup.

Namun ketika pintu sudah terbuka, ia tidak mendengar apa-apa. Apakah mungkin Ah Fei begitu kaget melihat apa yang terjadi dan jatuh pingsan?

Li Xun Huan membuka matanya dan melihat Ah Fei berdiri mematung di depan pintu kamar Lin Xian Er.

Yang aneh adalah wajah Ah Fei tidak menggambarkan suatu kesedihan, tapi malah kebingungan.

Apa yang terjadi dalam kamar itu? Li Xun Huan sungguh tidak dapat menerka.

Darah.

Yang pertama dilihat Li Xun Huan adalah darah. Lalu ia melihat seseorang terbaring dalam genangan darah.

Namun ia tidak akan pernah bisa menebak siapa yang tergolek dalam genangan darah itu, sedang megap-megap mengambil nafas-nafas terakhirnya. LingLing.

Darah Li Xun Huan pun membeku. Ah Fei memandang tubuh yang tergeletak di lantai itu dengan tenang. Suatu ekspresi yang aneh tergambar di wajahnya. Apakah ia mengerti?

Ia tidak bertanya, ‘Apa yang dilakukan gadis ini di sini?’

Tapi ia malah bertanya, “Kali ini, apakah ia juga sedang menunggumu di sini?”

Li Xun Huan merasa hatinya terbelah menjadi dua.

Ia segera meluruk ke dalam kamar dan mengangkat tubuh LingLing yang penuh darah. Segera diperiksanya nadi dan nafasnya.

Ia hanya berharap bahwa ia belum terlambat untuk menyelamatkan nyawanya. Ia putus asa.

Akhirnya LingLing membuka matanya dan memandang Li Xun Huan. Air mata menetes ke wajahnya.

Air mata ini adalah air mata kesedihan. Namun juga air mata kegembiraan.

Sebelum mati, ia bisa melihat Li Xun Huan untuk terakhir kalinya.

Mata Li Xun Huan pun kini telah basah oleh air mata. Dengan lembut ia berkata, “Kau masih muda, kau tidak mungkin mati sekarang.”

Seolah-olah LingLing tidak mendengar perkataannya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kali ini kau salah.”

“Kali ini aku salah,” kata Li Xun Huan tanpa bisa menahan tangisnya.

“Kau seharusnya tahu bahwa tidak ada seorang lelaki pun yang mau membunuhnya.”

Suara Li Xun Huan menjadi parau, hampir-hampir tidak terdengar, “Aku telah menyeretmu ke dalam persoalan ini. Aku telah bersalah kepadamu.”

LingLing menggapai-gapai ingin meraih tangan Li Xun Huan, “Kau selalu baik padaku. Bukan kau yang bersalah padaku. Laki-laki itulah yang bersalah.”

“Dia?”

“Dia telah menipuku, dan aku….akupun telah menipumu.”

“Kau tidak……”

Kuku LingLing tertanam kuat di lengan Li Xun Huan. Potongnya, “Aku telah menipumu…. Aku telah menyerahkan keperawananku kepadanya sejak lama. Ketika aku menunggumu di sini…. Aku sungguh membenci diriku karena tidak mengatakannya kepadamu sejak dulu.”

Suara LingLing menjadi lebih jernih, seolah-olah ia mendapatkan tenaganya kembali. Tapi Li Xun Huan tahu itu hanya bayangannya saja. Kalau bukan karena usianya yang sangat muda, tidak mungkin ia bisa bertahan hidup sampai sekarang.

Kata LingLing, “Aku berusaha tetap hidup sampai saat ini, karena aku ingin menjelaskannya kepadamu. Jika kau bisa mengerti, aku bisa mati tanpa penyesalan.”

Sahut Li Xun Huan, “Ini adalah kesalahanku. Aku salah karena aku tidak melindungimu….”

“Walaupun ia menipuku, aku tidak membencinya. Karena aku tahu ia akan mendapatkan balasannya. Ia akan mendapatkan hukuman yang sepuluh kali lebih berat daripada yang kualami.”

“Dia yang……”

Sebelum Li Xun Huan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Ah Fei mendorongnya kuat-kuat ke samping.

Ia menatap LingLing dan bertanya, “Kau membawa Lu Feng Xian ke sini?”

LingLing hanya menggigit bibirnya.

Lagi Ah Fei bertanya, “Diakah yang menyuruhmu membawa Lu Feng Xian ke sini?”

LingLing mengerahkan tenaganya yang terakhir dan berteriak keras, “Ya, memang dia. Tapi tahukah kau mengapa dia melakukannya? Tahukah kau betapa banyak yang telah diperbuatnya demi dirimu? Demi engkau….”

Suaranya tiba-tiba tercekik dan nafasnya pun berhenti.

Sungguh tenang, kematiannya sungguh tenang.

Tubuhnya tidak bergerak lagi. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya lagi.

Selain angin yang terus menderu, seluruh bumi sepertinya kehilangan gairah. Semuanya seolah-olah menjadi tanah pekuburan yang mati. Tanah pekuburan tempat segala yang hidup terkubur habis.

Bahkan suara deru angin pun seperti sedang menangis sedih. Suara tangisan yang dapat mencabik-cabik hati manusia.

Entah berapa lama, akhirnya Ah Fei bangkit berdiri. Ia tidak melirik sedikitpun pada Li Xun Huan. Ia hanya bertanya dingin, “Mengapa kau melakukannya?”

Biasanya Li Xun Huan akan segera menjawab pertanyaan ini tanpa ragu-ragu. Tapi kali ini, ia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ia tahu dengan berbicara ia tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, namun juga yang mendengar.

Ah Fei masih memandang ke arah lain. Ia melanjutkan perlahan-lahan, “Kau menyangka dialah yang membuat hidupku tertekan. Dan jika ia pergi, aku akan kembali hidup bersemangat. Tapi tahukah engkau bahwa tanpa dirinya, aku tidak mungkin terus hidup?”

Li Xun Huan menjawab dengan pahit, “Aku hanya berharap bahwa kau tidak lagi ditipu orang. Berharap engkau akan bertemu dengan orang yang pantas mendapatkan cinta dan kasih sayangmu. Berharap bahwa kau segera dapat melupakan semua ketidakbahagiaan dalam hidupmu ini.”

Ah Fei tampak terkejut dan berkata, “Kau pikir ia menipuku? Dan bahwa ia tidak pantas mendapatkan kasih sayangku?”

“Yang aku tahu hanyalah sejak kau bertemu dengan dia, dia hanya membawa keburukan bagi dirimu.”

“Lalu bagaimana kau bisa tahu apakah aku bahagia atau tidak bahagia?”

Akhirnya Ah Fei memutar badannya dan menatap Li Xun Huan dengan marah, “Kau pikir kau ini siapa? Kau ingin mengatur pikiranku dan mengendalikan nasibku? Kau bukan apa-apa. Kau hanya orang bodoh yang sedang menipu dirimu sendiri. Kau membiarkan wanita yang kau cintai masuk dalam bahaya, dan kau masih menganggap dirimu tinggi dan terhormat?”

Setiap kata terasa tajam seperti pisau. Tidak ada perkataan lain di dunia ini yang dapat lebih menyakiti hati Li Xun Huan.

Ah Fei mengertakkan giginya dan melanjutkan, “Dan walaupun dia hanya membawa keburukan bagiku, apa bedanya dengan engkau? Apa yang kau bawa untuk orang-orang di sekitarmu? Kebahagiaan Lin Shi Yin rusak total akibat perbuatanmu. Dan masih belum puaskah engkau, sampai kau harus datang dan merusak habis kebahagiaanku?”

Tangan Li Xun Huan mulai gemetar hebat dan sebelum ia bisa membungkuk ia sudah batuk darah.

Ah Fei memandangnya lama sebelum memutar badannya dan berjalan menuju ke pintu. Sebelum Li Xun Huan berhenti batuk-batuk, ia sudah menerjang ke arah pintu dan menghalangi jalan Ah Fei.

“Apa lagi yang kau inginkan?” tanya Ah Fei tajam.

Li Xun Huan menyeka darah di sudut mulutnya dengan lengan bajunya dan berusaha mengatur nafasnya kembali, “Kau…. Kau akan mencarinya?”

“Ya!”

“Kau tidak boleh pergi.”

“Siapa bilang?”

“Aku yang bilang. Karena jika kau menemukan dia dan membawanya pulang, akan lebih menyakitkan bagimu. Cepat atau lambat, akan tiba harinya dia akan menghancurkanmu…Aku tidak bisa melihatmu menderita di bawah cengkeraman wanita seperti dia.”

Ah Fei berpegangan sangat kuat. Namun setiap kata diucapkan Li Xun Huan, pegangannya pun bertambah kuat. Buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang begitu kuat.

Wajahnya pun memucat. Matanya menjadi merah menyala.

Lanjut Li Xun Huan, “Kalau kau berpisah dengannya sekarang, itu hanya membuat dirimu sedih untuk sebentar saja. Namun jika kau terus hidup bersamanya, kau akan menderita seumur hidupmu. Waktu kalian berpisah, sebenarnya kau pasti menyadari apa yang sudah terjadi….”

Ah Fei menyelanya, “Kau adalah sahabatku.”

“Ya.”

“Sampai saat ini kau masih sahabatku.”

“Ya.”

“Tapi sejak saat ini, kita tidak bersahabat lagi!”

Li Xun Huan terkesiap mendengarnya, “Kenapa?”

“Karena aku tahan jika kau menghinaku, tapi aku tidak bisa memaafkanmu karena kau telah menghina dia!”

“Kau pikir aku hanya bermaksud menghina dia?”

“Aku sudah berusaha sabar sampai sekarang, karena kita bersahabat. Tapi mulai hari ini, jika kau menghinanya sekali lagi, penghinaan itu harus dicuci dengan darah!”

Tubuh Ah Fei bergetar hebat saat mengatakannya, “Darahmu atau darahku!”

Li Xun Huan tampak seperti baru saja ditonjok orang di perutnya. Ia melangkah mundur dua kali ke samping pintu.

Ia mengatupkan mulutnya, tapi darah terus mengalir dari sudut bibirnya.

Kata Ah Fei, “Sekarang aku akan mencari dia, dan aku akan menemukan dia kembali. Kuharap kau tidak berusaha mengikuti aku. Jika kau melakukannya, kau hanya akan menyesal!”

Sedikitpun tidak dipandangnya Li Xun Huan.

Setelah mengatakannya, ia segera pergi dari rumah itu.

Air mata biasanya terasa asin. Tapi ada air mata yang masuk langsung ke dalam perut. Rasanya bukan saja asin, namun sungguh-sungguh pahit.

Darah pun biasanya terasa asin. Namun darah orang yang terluka hatinya, rasanya lebih pahit daripada air mata.

Li Xun Huan tidak tahu berapa lama ia sudah batuk darah. Namun seluruh lengan bajunya sudah berwarna merah. Ia pun tidak bisa berdiri tegak.

Jejak kaki di lantai semua berbercak darah. Tiba-tiba Li Xun Huan teringat pada jejak kaki yang tidak beraturan di luar sana yang dilihatnya sebelum masuk. Hatinya membeku.

Ah Fei pasti akan dapat menemukannya, karena Lin Xian Er sengaja meninggalkan jejak di sana-sini. Memang supaya Ah Fei dapat menemukannya.

Tidak harus sesuatu yang kelihatan jelas, karena Ah Fei memang sangat berbakat mencari jejak orang.

Kepandaiannya mungkin lebih daripada seekor anjing pelacak yang terlatih.

Tapi apakah yang akan terjadi waktu Ah Fei menemukannya?

Dapat dipastikan bahwa Ah Fei pasti akan menantang Lu Feng Xian berduel hidup dan mati.

Dan Lin Xian Er sungguh menikmati dua laki-laki bertarung hidup dan mati demi dirinya.

Hanya memikirkan kemungkinan ini membuat Li Xun Huan berkeringat dingin.

Saat ini, Ah Fei bukan tandingan Lu Feng Xian. Orang yang dapat menyelamatkannya hanya Li Xun Huan, namun…

‘Kuharap kau tidak berusaha mengikuti aku. Jika kau melakukannya, kau hanya akan menyesal!’

Dan Li Xun Huan tahu Ah Fei tidak pernah main-main dengan perkataannya.

Lagi pula, sudah sangat gelap di luar sekarang.

Kemampuan Li Xun Huan mengikuti jejak orang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ah Fei. Walaupun ia ingin mengejar mereka, kemungkinan berhasilnya hampir tidak ada.

Li Xun Huan berusaha berdiri. Ia mengangkat tubuh LingLing dan meletakkannya di atas tempat tidur dan menyelimuti dia.

Apapun konsekuensinya, ia akan berusaha mengejar mereka. Li Xun Huan sudah berkeputusan bulat.

Walaupun Ah Fei Sudah tidak menganggap dirinya sebagai sahabat, Li Xun Huan akan selalu menganggap Ah Fei sebagai sahabatnya.

Rasa persahabatannya terhadap Ah Fei tidak akan pernah berubah.

Sama seperti rasa cintanya. Walaupun laut menjadi kering dan gunung terbelah dua, hatinya tidak akan pernah berubah.

‘Shi Yin, Shi Yin, bagaimana kabarmu?’

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: