Kumpulan Cerita Silat

03/01/2009

Pendekar Baja (13)

Filed under: Pendekar Baja — ceritasilat @ 4:31 pm

Oleh Gu Long

Jit-jit menukas, “Kedua mata setannya memang jauh lebih lihai dari mata orang lain,” lalu ia melototi Sim Long, katanya dengan gemas, “Coba katakan, setelah tahu ada keganjilan itu, kenapa tidak kau beri tahukan padaku, bagaimanapun terbongkarnya rahasia ini kan juga lantaran diriku.”

Sim Long tertawa, katanya, “Karena kutahu betapa berangasan watakmu, tidak tahan sabar, bila waktu itu kumat kebandelanmu, bisa jadi seluruh rencanaku akan berantakan.”

“Baik, kau pandai… kau sabar, kau… kau punya rencana setan apa?” Jit-jit mengomel panjang-pendek.

Ong Ling-hoa tertawa, ujarnya, “Waktu itu Sim-heng diam-diam saja, maka aku juga tidak tahu rahasiaku telah diketahui olehnya, tapi setelah malam tiba….”

Dengan tertawa dia mengawasi Si Kucing dan Jit-jit, lalu melanjutkan, “Waktu bayangan Nona berkelebat di luar jendela kami segera melihatnya, tapi hanya Si Kucing saja yang mengejar keluar, semula aku juga ingin mengejar, tapi Sim-heng menahanku,” lalu dia bergelak tertawa. “Hahaha, maka malam itu juga timbul niatku untuk mencekok Sim-heng hingga mabuk, takaran minum arakku di Kota Lokyang belum pernah menemukan tandingan.”

Jit-jit mencibir, katanya, “Caramu membual juga pasti belum ada tandingan.”

Ong Ling-hoa berlagak tidak mendengar, katanya lagi, “Siapa tahu, ingin kucekoki Sim-heng, ia pun ingin mencekokiku kami terus saling tenggak, entah berapa cawan sudah kami habiskan, Sim-heng belum mabuk, aku malah merasa pening kepala.”

“Setan arak cilik berhadapan dengan setan arak besar, sudah tentu yang kecil akan kewalahan,” demikian Jit-jit berolok.

Ong Ling-hoa tertawa, “Aku mendekap meja dan terlena sekejap, waktu aku tersentak sadar bayangan Sim-heng sudah tidak kelihatan, kutahu mengejar juga takkan tersusul terpaksa aku mendahului lari ke taman ini.”

“Sim Long,” sela Jit-jit, “bicaralah terus terang, waktu itu kau ke mana?”

Ong Ling-hoa menyela, “Sim-heng memburu ke toko lilin ini di luar tahu siapa pun, seluruh pegawai toko dia tutuk hiat-tonya, di taman belakang sana dia menemukan mulut lorong bawah tanah ini.”

Mendadak Cu Jit-jit berteriak, “He, bukankah di mulut lorong itu dijaga seorang raksasa, Sim Long, masa kau… kau mampu melawannya?”

Meski lahirnya dia memaki Sim Long, tapi batinnya sangat memerhatikan keselamatan anak muda itu.

Sim Long tertawa, katanya, “Raksasa itu memang memiliki tenaga luar biasa, begitu aku masuk lorong lantas berhadapan dengan dia, untung lorong itu sempit, gerak-gerik orang itu lambat dan tidak leluasa, untung lagi dia bisu-tuli, tidak mampu berteriak minta tolong, kalau tidak, tentu sukar menerobos penjagaannya.”

“Kau… kau membunuhnya?” tanya Jit-jit.

Sim Long menggeleng. “Aku hanya menutuk hiat-tonya…. Ai, kalau diceritakan memang cukup mengejutkan, seluruhnya kututuk dua belas hiat-to di tubuhnya baru dia roboh tersungkur.”

Jit-jit menghela napas lega, katanya, “Hm, lebih baik kau mati diremas olehnya daripada hidup mendustai orang.”

Ong Ling-hoa berkata, “Kecuali penjaga raksasa itu, sepanjang lorong banyak dipasang alat jebakan, orang biasa jangan harap bisa bergerak leluasa di dalam lorong itu.”

Setelah menghela napas, ia menambahkan, “Tapi Sim-heng bukan saja dapat lolos dari perangkap, tiga puluh enam penjaga di dalam lorong itu ada dua puluh satu yang tertutuk roboh oleh Sim-heng, lima belas orang yang lain ternyata tidak melihat kehadiran Sim-heng di lorong itu, segala alat perangkap itu dianggap seperti permainan anak kecil saja oleh Sim-heng.”

“He, Sim Long,” seru Jit-jit tak sabar, “bagaimana sesudah kau keluar dari lorong bawah tanah itu?”

“Memang banyak perangkap keji dalam lorong itu, setiap langkah menghadapi bahaya, beruntung aku selamat keluar dari lorong itu, namun jejakku ternyata sudah ketahuan Ong-lohujin.”

Tanpa terasa Jit-jit menjerit kaget, “Apa yang dia lakukan terhadapmu?”

“Agaknya beliau sudah memperhitungkan bahwa aku pasti akan datang, maka dia duduk di mulut lorong menungguku, tentu saja aku pun kaget dan mengira bakal terjadi pertempuran sengit.”

“Jadi baku hantam tidak? Dan siapa yang menang?” tanya Jit-jit.

“Tak tahunya beliau malah bersikap ramah dan tiada maksud bergebrak denganku, dengan tersenyum dia menyambut dan mempersilakan aku duduk. Betapa cerdik pandai beliau, besar wibawa dan gayanya yang anggun, sungguh jarang kulihat selama hidupku.”

Jit-jit mendengus sambil melirik Ong Ling-hoa, syukur tidak tercetus kata makiannya, namun sorot matanya sudah cukup berbicara.

Ong Ling-hoa lantas bercerita, “Malam itu aku langsung pulang kemari dan kujelaskan persoalannya kepada ibunda, kubicarakan juga tentang Sim-heng…. Ibu amat tertarik pada Sim-heng, beruntun dia tanya bentuk, asal-usul dan perguruan Sim-heng, mendadak ibu turun dari loteng dan duduk di mulut lorong, semula aku heran, mendadak Sim-heng muncul dari dalam lorong…. Ai, betapa tepat analisis ibu terhadap segala persoalan, sungguh jarang ada bandingannya.”

Kembali Jit-jit mendengus, katanya kepada Sim Long, “Apa saja yang dia bicarakan padamu?”

“Beliau menjelaskan seluk-beluk persoalan ini, baru kutahu rencana kerjanya itu adalah untuk menghadapi Koay-lok-ong. Walau kaki Koay-lok-ong kini belum masuk Tionggoan, namun orang ini sudah dipandang sebagai bibit bencana oleh kaum persilatan umumnya, jika usahanya berhasil, maka huru-hara dan bencana bakal menimpa kaum persilatan, kaum persilatan kita tak bisa lagi hidup tenteram,” setelah menghela napas Sim Long meneruskan, “Sesudah mendengar penjelasannya, kecuali mohon maaf akan kecerobohanku yang main terobos, malah kuminta beliau melanjutkan mengatur siasat menghadapi persoalan ini, meski aku tak berguna, sedikit banyak juga akan membantu….”

Dengan tertawa Ong Ling-hoa menyambung, “Karena itulah mulai sekarang Sim-heng adalah kawan seperjuanganku, kesalahan paham sebelum ini siapa pun jangan mengungkapnya lagi.”

Tiba-tiba Sim Long tertawa pula, katanya, “Tapi sebelum penjelasan beliau itu telah terjadi satu peristiwa lucu.”

“Peristiwa lucu apa?” tanya Jit-jit.

“Yaitu kalian berdua….”

“Memangnya kenapa kami berdua?”

Ong Ling-hoa tertawa. “Waktu Nona dan Si Kucing masih berada di luar, jejak kalian sudah ketahuan, semula ibu hendak berpura-pura tak tahu, akan dibiarkan kalian berjalan-jalan sesukamu, tapi Sim-heng ingin memberi kejutan kepada kalian agar kalian mundur teratur, maka ketika di bawah jendela….”

Teringat pada suara yang mereka dengar di bawah jendela, seketika merah muka Jit-jit, teriaknya, “Sudahlah, jangan diteruskan….” lalu dia menerjang ke depan Sim Long, teriaknya dengan suara serak, “Jawab pertanyaanku, dalam hal apa aku berbuat salah padamu, ken… kenapa kau bersikap begitu kepadaku, kenapa tidak kau biarkan aku kemari, tapi mengapa menakuti aku?”

“Soalnya urusan belum jelas,” jawab Sim Long dengan menyesal. “Kukhawatir kedatanganmu akan membuat onar dan membikin gusar Ong-lohujin, kau pun bisa menggagalkan rencana kerja. Kedua….”

Sampai di sini dia melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu bungkam dengan tertawa.

Maka Ong Ling-hoa berkata, “Kedua, waktu itu belum jelas persoalannya, lawan atau kawan tidak jelas, Sim-heng khawatir kau menempuh bahaya, sedangkan dia tidak leluasa memberi penjelasan kepadamu di hadapan ibu dan aku, maka terpaksa dia menggunakan caranya itu, membuatmu kaget dan mundur teratur… betul tidak Sim-heng?”

“Ya, begitulah,” sahut Sim Long.

“Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sim-heng bermaksud baik….”

“Maksud baik apa, persetan…. Yang jelas dia sengaja hendak mempermainkan aku, supaya aku ketakutan dan mendapat malu, dan dia sendiri senang, demikian juga kau,” mendadak dia membalik ke arah Si Kucing, “Kau kucing mampus, kucing busuk, kucing malas, kucing keparat…. Ayo jawab, bukankah kau tahu akan semua urusan itu?”

Si Kucing menyengir, katanya tergegap, “Aku… aku….”

Dengan tertawa Ong Ling-hoa melanjutkan, “Lewat tengah hari tadi, hal ini memang sudah kami jelaskan kepada Si Kucing….”

Jit-jit menuding Si Kucing, dampratnya, “Nah, betul tidak? Mereka kan sudah memberitahukan kepadamu lebih dulu?”

“Rasanya memang demikian,” sahut Si Kucing dengan bersungut.

Beringas Jit-jit, “Jadi kalian saling mencekok arak tadi hanya untuk permainan belaka?”

“Arak itu memang enak… huk, huk….” Si Kucing terbatuk.

“Hm, jangan pura-pura batuk. Jawab lagi, kau pura-pura mabuk dan membuat onar, semua itu juga disengaja bukan?”

“Kepalaku memang rada pening, tapi… tapi tidak mabuk betul.”

“Kenapa kau dustai aku sehingga aku malu, jawab, kenapa? Kenapa?” selangkah demi selangkah Jit-jit mendekati Si Kucing.

Selangkah demi selangkah Si Kucing menyurut mundur.

Selesai Jit-jit bicara, Si Kucing sudah mundur mepet dinding, mendadak dia melompat dan bersembunyi di belakang Sim Long, serunya sambil menyengir, “Sim-heng, lekas kau beri penjelasan.”

Mendelik Cu Jit-jit, semprotnya, “Penjelasan apa? Untuk apa penjelasan?”

“Dalam hal ini Si Kucing tidak boleh disalahkan,” ujar Sim Long.

“Bukan salahnya, lalu salah siapa?” seru Jit-jit.

Sim Long termenung sejenak, katanya, “Apakah kau perhatikan sehari ini ada seorang tidak pernah kelihatan.”

“Memangnya kenapa kalau tidak kelihatan, aku tidak…. He, iya, Kim Bu-bong telah hilang, ke mana dia? Mungkinkah dia… dia….”

“Mana mungkin kami bertindak padanya,” tukas Sim Long, “sejak pagi dia sudah menghilang, kapan dia pergi dan ke mana, kami juga tidak tahu.”

Jit-jit tertegun sekian lamanya, tiba-tiba dia membanting kaki seraya berteriak, “Dia pergi atau tidak apa hubungannya dengan kalian menipu diriku?”

“Kukhawatir dia mendadak pulang, atau secara diam-diam mengawasi gerak-gerik kita, maka tak leluasa kujelaskan rahasia persoalan ini…. Ai, walau dia seorang lelaki gagah, betapa pun dia adalah anak buah Koay-lok-ong.”

“Kau tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, kenapa kau jelaskan kepada kucing mampus itu?”

“Si Kucing pasti takkan membocorkan rahasia ini, sebaliknya kau….”

“Aku kenapa? Memangnya aku perempuan cerewet, perempuan bawel?”

“Walau kau tidak bawel, tapi kau tak bisa menyimpan rahasia, jika Kim Bu-bong mengintip gerak-gerik kita secara diam-diam, umpama kau tidak membocorkan rahasia ini, dari tindak tandukmu pasti akan kentara.”

“Bebal, watakku memang tulus lurus, tidak tahan sabar lagi, tidak selicin kalian yang pandai mengatur muslihat, tapi….” suara Jit-jit menjadi serak, matanya merah, setelah kucek-kucek mata dia melanjutkan, “Tapi umpama kalian tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, apakah pantas kalian mempermainkan aku.”

“Soalnya….” mendadak Sim Long berpaling ke arah Si Kucing.

Si Kucing tertawa, katanya, “Soalnya… hatiku lagi riang setelah minum arak, aku ingin bercanda dengan kau, sebetulnya tak ada maksud jahat apa pun, buat apa kau marah.”

“Hati riang setelah minum arak? Buat apa marah? Kau… tahukah kau betapa hatiku gelisah dan khawatir akan keselamatanmu? Tahukah kau dengan mempertaruhkan jiwa aku menerjang masuk kemari demi menolong dirimu?”

Si Kucing melenggong, tanpa terasa ia menunduk, sungguh ia menyesal, terharu dan terima kasih, dan entah bagaimana lagi perasaannya.

Jit-jit berkata pula, “Aku tahu kalian adalah orang-orang pintar, kalian bersekongkol untuk mempermainkan aku si pandir ini, tapi pernahkah kalian pikirkan untuk apa dan siapa perbuatan si pandir ini, memangnya demi diriku sendiri?”

Sim Long dan Ong Ling-hoa saling pandang dan tak mampu bersuara.

Jit-jit tertawa dingin, katanya pula, “Kalian orang-orang pandai ini, kalian kira perbuatan demikian tidak menjadi soal, paling-paling hanya menggoda dan bercanda saja denganku, toh aku tidak akan mati atau cedera, bila kejadian sudah lalu, semuanya tertawa dan selesai, dari sini terbukti lagi betapa cerdik pandai kalian.”

Dengan mengertak gigi dan menahan air mata Jit-jit meneruskan dengan suara tersendat, “Tapi kalian tidak pernah berpikir, betapa kalian telah melukai hatiku?”

“Sebetulnya ini….”

“Tutup mulutmu,” bentak Jit-jit menghentikan ucapan Sim Long, “Tak ingin kudengar obrolanmu, selanjutnya aku tak mau lagi percaya pada kalian, aku… aku… tak mau lagi melihat tampang kalian.”

Ia menyurut mundur, suaranya tambah serak, “Sekarang, aku akan pergi dan takkan kembali selamanya, jika di antara kalian berani mengejar atau merintangiku, biar aku segera mati di hadapan.”

Belum habis bicaranya mendadak dia putar tubuh terus lari tanpa menoleh seperti kesetanan.

Si Kucing berteriak, “Nona Cu, tunggu!”

Dia melompat maju hendak mengejar, namun Sim Long keburu menahannya.

Keruan Si Kucing gugup, serunya, “Kau… kau tega membiarkan dia pergi?”

Sim Long menghela napas, katanya, “Memangnya mau apa kalau tidak membiarkan dia pergi? Wataknya berangasan, siapa bisa merintanginya? Apalagi, biasanya dia berani bilang berani berbuat, kalau kau mengejarnya keluar, mungkin dia betul-betul bunuh diri di depanmu.”

“Tapi… dengan wataknya itu, seorang diri bukankah bakal menimbulkan bencana?”

Sim Long tersenyum, “Untuk ini jangan kau khawatir, dia tidak akan pergi jauh dari sini.”

“Tidak jauh? Kenapa?” tanya Si Kucing heran.

“Karena masih banyak persoalan yang mengganjal hatinya, sebelum ditanyakan sampai jelas, mungkin dia tidak bisa nyenyak tidur, tadi karena emosi dia lupa mengajukan pertanyaan, tapi bila pikirannya tenang, pasti dia akan balik ke sini untuk mengajukan pertanyaan lagi,” Ong Ling-hoa menimbrung dengan tertawa. “Betapa mendalam pengertian Sim-heng terhadap Nona Cu, kuyakin apa yang diucapkan Sim-heng pasti tidak salah.”

Terpaksa Si Kucing mengangguk, “Tidak salah, ya, semoga tidak salah!”

Dengan nanar dia menatap keluar pintu, dengan harapan semoga Cu Jit-jit lekas kembali.

Malam makin larut, salju mulai turun pula dengan lebat.

Cu Jit-jit terus berlari dengan cepat, entah berapa lama dia berlari, tahu-tahu di depan ada tembok tinggi, ternyata tanpa sadar dia berlari ke arah tembok kota. Padahal pintu kota belum dibuka. Lekas Jit-jit menghentikan langkah, tak kuat dia mengendalikan tubuhnya lagi, dia jatuh terduduk dan tidak mau bangun lagi, ia bersandar di kaki tembok kota dan menangis.

Entah berapa lama dia menangis, suaranya mencolok di tengah malam gelap hingga terdengar sampai jauh, untung penjaga pintu kota sudah terkapar mabuk, kalau tidak tentu akan memburu kemari memeriksanya.

Tapi biarpun ada orang datang, Jit-jit tidak juga peduli. Segala urusan seperti tak mau diurus lagi, ia hanya memikirkan rasa penasaran hatinya, ingin melampiaskan perasaannya dengan menangis.

Jit-jit sudah biasa manja dan disanjung puji di rumah, kini setelah banyak mengalami pukulan lahir batin, baru diketahui betapa kejamnya dunia ini. Memang inilah dunianya yang kuat makan yang lemah, orang yang jujur dan baik hati memang ditakdirkan harus menderita dan menjadi korban.

Angin malam yang dingin dengan cepat menenteramkan gejolak hatinya. Mendadak teringat olehnya banyak persoalan yang belum sempat dia pikirkan.

Setelah berbicara panjang lebar dengan Sim Long, lalu ke manakah Ong-lohujin? Kenapa tadi tidak muncul menemuinya? Apa sebabnya? Thi Hoat-ho berada di loteng itu, lalu di mana Can Ing-siong dan Pui Jian-li serta yang lain? Apa betul mereka juga sudah dibebaskan? Kalau sudah dibebaskan, kenapa tidak kelihatan bayangan mereka?”

Dan lagi, kalau Ong-lohujin pernah pergi ke makam kuno itu, apakah hilangnya Hwe-hay-ji (Si Anak Merah) ada sangkut pautnya dengan dia? Jika betul ada sangkut pautnya, ke mana dia membawa bocah itu?

Persoalan ini ingin diketahuinya, terutama nasib adiknya, Si Anak Merah itu, tak pernah dia melupakan keselamatan adik kandungnya itu. Walau tadi sudah timbul rasa kecewa dan putus asa akan segala persoalan yang dihadapinya, tapi sekarang dia baru sadar sementara persoalan tak mungkin diabaikan begitu saja. Cepat dia berdiri dan putar badan hendak lari ke arah datangnya tadi. Tapi setelah berdiri dia lantas tertegun, terbayang senyuman sinis Sim Long yang mencemooh dirinya, seolah-olah mengiang perkataan Sim Long yang menyindir, “Kutahu akhirnya kau pasti kembali….”

Saat itu Jit-jit sangat benci pada Sim Long, sambil membanting kaki dia mendesis dengan geram, “Aku justru tak mau berbuat seperti apa yang diduganya, aku tak mau kembali ke sana….”

Tapi bagaimana kalau dia tidak kembali? Malam makin larut, hujan dan dingin pula, mau ke mana dia? Bagaimana mungkin ia menyelidiki semua persoalan yang ingin diketahuinya itu? Tak tahan dia menjatuhkan diri pula di atas salju, air mata bercucuran lagi.

Mendadak sebuah tangan yang dingin memegang pundak Jit-jit.

Keruan nona itu berjingkat kaget sambil putar badan, teriaknya, “Siapa?”

Di tengah remang malam, di antara bunga salju yang bertebaran, tertampak berdiri sesosok bayangan orang, rambut panjang terurai semrawut, mukanya dingin kaku, hanya jubahnya saja yang melambai tertiup angin.

Melihat bayangan ini, Jit-jit menjerit tertahan, “Kim Bu-bong, kiranya kau!”

Kim Bu-bong berdiri kaku seperti mayat dan tidak menjawab, pertanyaan Jit-jit memang tidak perlu dijawab.

Rasa kaget dan heran menyelimuti sanubari Cu Jit-jit, tak tahan dia bertanya pula, “Bukankah kau sudah pergi? Kenapa kembali lagi?”

“Di tengah malam gelap dan sepi, kudengar isak tangis yang menusuk telinga, maka aku datang kemari.”

“Kau… ke mana kau pergi semalam?”

Kim Bu-bong menggeleng, tidak menjawab.

Jit-jit tahu bila orang tidak mau menjawab, siapa pun tak dapat memaksanya menjawab maka ia pun tak banyak bicara lagi.

Kim Bu-bong berdiri kaku tak bergerak dan menunduk mengawasinya.

Lekas Jit-jit menunduk juga.

Agak lama kemudian baru Kim Bu-bong bertanya, “Apa yang kau tangisi?”

“Tidak apa-apa,” sahut Jit-jit sambil menggeleng.

“Pasti ada urusan yang menyedihkan hatimu,” kata Bu-bong, meski suaranya kaku dingin, namun nadanya sedikit banyak mengandung rasa simpatik, manusia seperti Kim Bu-bong dapat melontarkan pertanyaan seperti ini, sungguh jarang terjadi.

Ternyata pertanyaannya justru menyentuh rasa sedih Cu Jit-jit, tak tahan lagi dia mendekap muka dan terisak pula.

Lama Kim Bu-bong mengawasinya, mendadak dia menghela napas, “O, anak perempuan yang kasihan….”

Serentak Jit-jit berbalik, teriaknya, “Siapa kasihan? Dalam hal apa aku harus dikasihani? Justru kau yang kasihan.”

“Makin kau tak mengaku, makin besar kasihanku kepadamu.”

Jit-jit jadi melenggong, tapi mendadak dia terkial-kial, “Hahaha, dalam hal apa aku kasihan… aku punya duit, aku cantik, aku masih muda, aku pandai menulis, pintar kungfu, yang bilang aku kasihan pasti orang gila.”

“Lahirnya kau kelihatan gembira dan bahagia, padahal dalam hatimu menderita, lahirnya kau memiliki segala apa yang kau inginkan, namun kau tidak dapat memperoleh apa yang kau harap.”

Kembali Jit-jit melenggong, lalu menggeleng kepala, teriaknya, “Tidak, salah, seribu kali salah.”

Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat, “Lahirnya kau keras, padahal hatimu lembut, lahirnya kau bersikap kasar dan galak kepada orang, padahal kau seorang nona baik hati terhadap siapa pun. Hanya sayang… jarang ada manusia di dunia ini yang bisa menyelami jiwamu, dan kau… anak perempuan yang kasihan, kau justru suka melakukan hal-hal yang membuang tenaga dan hasilnya bertolak belakang.”

Dengan tercengang Cu Jit-jit mengawasinya, tanpa terasa dia terkesima. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa masih ada orang yang bersimpati kepadanya dan mau menyelami perasaannya…. Akan tetapi orang yang bisa menyelami jiwa dan simpati kepadanya ini justru manusia yang dingin kaku ini.

Sungguh tak terpikir olehnya setelah Sim Long, Si Kucing, dan lain-lain bersikap kejam padanya, sekarang laki-laki yang kaku dingin dan pendiam ini justru memberi kehangatan kepadanya. Waktu dia angkat kepala, terasa orang aneh yang dingin jelek ini sebetulnya tidak sejelek seperti apa yang pernah dipikirnya, di balik tampang yang busuk orang ini memiliki hati yang mulia dan bajik.

Terasa sorot matanya yang tajam ternyata mengandung pengertian yang mendalam terhadap sesama umat manusia. Dalam sedetik ini terasa oleh Jit-jit hanya orang yang berdiri di depannya inilah lelaki sejati satu-satunya yang pernah dilihatnya.

Entah kenapa darahnya lantas bergolak, mendadak ia menubruk dan memeluk pundak Kim Bu-bong yang keras bagai baja, katanya dengan serak, “Orang lain tiada yang memahami penderitaanku, hanya engkau saja yang bisa menyelami jiwaku.”

Memang beginilah watak Cu Jit-jit, ingin berbuat apa segera dilakukannya, keruan perbuatannya membuat Kim Bu-bong melongo kaget. Terasa air mata Jit-jit menetes juga meresap ke dalam bajunya yang tipis.

Lama dan lama sekali baru Kim Bu-bong menarik napas, katanya, “Selama hidupku sebetulnya tidak ingin diriku dipahami orang lain, aku senang karena tiada orang mau mengerti akan keadaanku, tapi sekarang… ai, seorang anak perempuan memang mendambakan pengertian orang lain.”

Perlahan Jit-jit melepaskan pelukan dan mundur, dengan nanar dia mengawasinya, air mata masih berlinang, tapi mendadak dia tertawa, “Dulu memang tiada orang memahami diriku, tapi sejak kini, ada engkau yang dekat di dampingku, walau tiada orang lain mau memahami diriku, namun aku cukup puas karena engkau mau mengerti akan diriku.”

Kim Bu-bong melengos, tak berani beradu pandang dengan si nona, gumamnya, “Apa betul kau bisa menyelami diriku?”

“Ya pasti dapat,” lalu ditariknya tangan Kim Bu-bong dan diajak lari ke pintu kota, meski pintu kota masih tertutup, tapi di bawah pintu mereka bisa berteduh dari hamburan bunga salju. Dia tarik tangan Kim Bu-bong dan diajak berduduk bersandar pintu, katanya, “Sejak kini aku kan memahami dirimu sepenuhnya, aku ingin tahu seluk-belukmu, sekarang juga ingin tahu riwayat hidupmu masa lalu… sudikah engkau menceritakan perihal dirimu kepadaku?”

Kim Bu-bong menatap jauh ke sana, menghela napas sambil gelang kepala.

“Katakan, ceritakanlah! Kalau tidak kau ceritakan aku akan marah lho.”

Mendadak sorot mata Kim Bu-bong gemerdep setajam ujung golok, berkilau menakutkan.

Tapi Jit-jit tidak kenal takut, juga tidak kenal menyingkir, ia malah mendesak, “Katakanlah, katakanlah!”

“Betul, kau ingin tahu?” Kim Bu-bong menegas.

“Sudah tentu betul, kalau tidak buat apa kutanya.”

“Selama hidupku, yang paling kubenci adalah perempuan, setiap kali bertemu dengan gadis cantik, tanpa menghiraukan segala akibatnya aku terus membelejeti pakaiannya dan memerkosanya. Semakin mereka takut padaku, makin besar hasratku ingin memerkosa dia, sejak berumur lima belas sampai sekarang entah sudah berapa banyak gadis yang telah kuperkosa.”

Tanpa terasa menggigil tubuh Cu Jit-jit, seketika dia mengkeret mundur.

Kim Bu-bong menyeringai, katanya pula, “Walau biasanya aku bersikap alim, pendiam, tapi di tengah malam dingin begini, tiada orang lain di sekitar sini, bila bertemu dengan seorang perempuan maka aku akan menerkamnya dan mempermainkannya sampai puas….”

Ngeri Jit-jit, dengan menggigil takut kembali dia menyurut mundur. Tapi di belakangnya ada tembok, mundur juga tidak bisa lagi.

Tambah menakutkan Kim Bu-bong menyeringai, katanya, “Bukankah kau sendiri yang ingin tahu kisah hidupku? Kenapa setelah kuceritakan kau jadi takut?…. Apa sekarang kau ingin lari? Haha… hahaha….” mendadak dia mendongak dan terbahak-bahak.

Mendadak Cu Jit-jit membusungkan dada sambil mendesak maju, teriaknya, “Kenapa aku takut? Kenapa aku perlu lari?”

Kim Bu-bong tertegun malah, dia berhenti tertawa, tanyanya, “Kau tidak takut?”

“Biarpun dulu kau pernah berbuat jahat seperti apa yang kau ceritakan, hal itu disebabkan perempuan itu takut melihat tampangmu, mereka hanya melihat luar saja, mereka tidak melihat di balik tampangmu yang jelek ada sebuah hati yang bajik, mereka takut dan menyingkir bila melihat kau, tentu saja kau tersinggung dan menderita lahir batinmu, maka timbul keinginanmu menuntut balas, ini tidak dapat menyalahkan dirimu, kalau orang lain tidak adil terhadap dirimu, kenapa engkau tidak boleh memperlakukan jelek kepada mereka? Kenapa engkau tidak boleh menuntut balas?”

Ia tersenyum, lalu menyambung, “Apalagi, jika sekarang engkau bercerita demikian padaku jelas semua itu tidak betul terjadi dan lebih-lebih takkan kau lakukan terhadapku.”

“Dari mana kau tahu takkan kulakukan?” tanya Kim Bu-bong.

Berkedip mata Jit-jit, katanya dengan tertawa, “Umpama betul kau pernah melakukan kejahatan, aku pun tak perlu takut, kalau tidak percaya, boleh kau coba diriku.”

Bukan cuma membusung dada saja, ia terus mendesak maju. Kim Bu-bong berbalik berjingkat kaget dan mundur selangkah, dengan melongo dia menatapnya dan entah bagaimana perasaannya.

Jit-jit berkeplok, katanya dengan tertawa, “Engkau hanya hendak menggertak saja, betul tidak? Siapa tahu tak berhasil kau gertak malah berbalik kena kugertak, apakah tidak lucu?”

Kim Bu-bong menyengir, katanya, “Memang aku hanya menggertakmu….”

“Kau tak mau mengisahkan pengalaman hidupmu, niscaya kau pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat hatimu terluka dan sedih, maka selanjutnya aku takkan tanya kepadamu lagi,” ditariknya tangan Kim Bu-bong, katanya lebih lanjut, “Tapi engkau harus menjelaskan kepadaku, kenapa semalam kau pergi tanpa pamit…. Sebetulnya ke mana kau pergi secara diam-diam?”

“Pergi tanpa pamit?” Kim Bu-bong balas bertanya.

“Ya, kan kabur semalam, kenapa?”

“Semalam Sim Long menyuruh aku melakukan sesuatu tugas, apakah dia tidak memberitahukan kepadamu?”

Kini giliran Jit-jit yang melenggong. Sesaat kemudian baru dia bertanya, “Jadi Sim Long yang menyuruhmu pergi…. Tugas apa yang harus kau lakukan?”

“Mengejar dan menyelidiki jejak serombongan orang.”

“Kenapa dia sendiri tidak pergi? Kenapa engkau yang diberi tugas?”

“Waktu itu dia sendiri tidak sempat, tugas ini pun cocok bagiku, hubunganku dengan dia seperti saudara kandung, kalau dia minta bantuanku, sudah tentu dengan senang hati kulakukan.”

“Hm, dengan senang hati apa, sungguh penurut kau ini, kenapa setiap orang harus turut perintahnya sungguh aku tidak mengerti.”

Lalu diraihnya secomot salju dan dibantingnya dengan gemas.

Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat dengan mengulum senyum. Jit-jit mengentak kaki, katanya, “Buat apa kau mengawasi aku, lekas ceritakan, apa yang harus kau laksanakan? Urusan apa yang harus kau selidiki? Apa kau pun ingin mengelabui diriku?”

Lama Kim Bu-bong bimbang, katanya kemudian, “Apakah sudah kau lupakan perjanjian Sim Long dengan majikan Jin-gi-ceng?”

“O, ya, batas waktu yang dijanjikan sudah tiba….”

“Batas waktunya adalah kemarin malam.”

“Jadi mewakili dia menepati janjinya itu? Tapi… dari mana kau tahu seluk-beluk persoalannya? Bagaimana kau memberi pertanggungan jawab kepada majikan Jin-gi-ceng?”

“Yang mewakili dia menepati janji bukan aku, aku hanya ditugaskan mengawasi orang yang mewakili dia itu.”

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan, lalu siapakah yang ditugaskan mewakili dia?”

“Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain….”

“O, mereka. Ya, benar, bila mereka pergi ke Jin-gi-ceng, segala persoalan akan beres, Sim Long hadir atau tidak memang tidak menjadi soal,” mendadak dia tanya pula, “Tapi kalau mereka sudah mewakili Sim Long, kenapa harus diawasi?”

“Apa sebabnya aku tidak tahu, dia hanya menyuruh aku mengawasi jejak mereka, bila urusan sudah jelas segera balik memberitahukan kepadanya.”

“Jadi kalian sudah berjanji sebelumnya,” hal ini kembali dia dikelabui oleh Sim Long, keruan bukan main mendongkol hatinya, namun kali ini dia dapat menahan emosinya.

“Ya, betul,” sahut Kim Bu-bong mengangguk.

“Kapan dia berjanji bertemu dengan kau?”

“Sekarang.”

Jit-jit celingukan sambil menggigit bibir, katanya, “Di mana kalian akan bertemu?”

“Di sini,” sahut Kim Bu-bong.

Jawaban yang sama diucapkan dua suara sekaligus, keruan Jit-jit berjingkat seraya menoleh, tertampak seorang tersenyum simpul di belakangnya, senyum yang gagah dan menarik, siapa lagi kalau bukan Sim Long.

Kejut, gugup, marah, dan girang meliputi hati Cu Jit-jit, serunya sambil mengentak kaki, “Engkau setan alas, kau… kapan kau datang?”

“Begitu Kim-heng mengedip aku lantas datang.”

“Kebetulan kau datang, ingin kutanya, setiap persoalan kenapa selalu kau sembunyikan kepadaku, apa maksudmu menyuruh dia mengikuti jejak Can Ing-siong dan lain-lain?”

“Amat panjang ceritanya.”

“Panjang juga harus kau jelaskan.”

“Setelah aku bertemu dengan Ong-hujin, setelah berbincang semalaman maka dia membebaskan Can Ing-siong, Thi Hoat-ho, Pui Jian-li, dan lain-lain, di samping khawatir Can Ing-siong dan Pui Jian-li masih dendam kepadamu, apalagi janjiku kepada pihak Jin-gi-ceng juga sudah mendesak, maka kuminta Can, Pui dan segera menuju ke Jin-gi-ceng, seluk-beluk persoalan ini biar mereka jelaskan kepada pihak Jin-gi-ceng….”

“Ya, aku maklum, tapi kenapa masih harus kau awasi gerak-gerik mereka?”

“Karena sejak mula aku yakin kejadian ini agak ganjil, ada sesuatu yang belum bisa kupecahkan.”

“Ya, memang agak ganjil, aku pun tahu.”

“Syukurlah kalau kau tahu, tak perlu kujelaskan.”

Jit-jit melengak, “Tidak, aku justru ingin kau katakan.”

Sim Long tersenyum, “Coba pikir, kalau Ong-hujin punya iktikad baik terhadap Can Ing-siong dan lain-lain, kenapa perlu menunggu setelah bertemu dengan aku baru dia membebaskan mereka?”

Berkilat mata Cu Jit-jit, katanya, “Ya, kenapa begitu?”

“Setelah kejadian tentu dapat kau terka.”

“Kau kira aku bodoh, baik, biar kujelaskan, dalam urusan ini dia pasti ada intrik tertentu, karena rahasianya sudah kau bongkar, terpaksa dia pura-pura baik hati dan membebaskan orang-orang itu….”

Sim Long mengangguk, pujinya, “Anak pintar, memang betul demikian. Tapi setelah dia membebaskan Can Ing-siong dan dia bilang ada urusan harus pergi ke Ui-san, lalu buru-buru dia berangkat.”

“Maka kau khawatir di tengah jalan dia mencegat dan membunuh Can Ing-siong dan rombongannya, apalagi resminya kau sudah berdiri di pihaknya, kalau Kim… Kim-heng berada di sana juga kurang leluasa maka diam-diam kau suruh dia pergi.”

“Kau memang tambah pintar,” ucap Sim Long. “Sebenarnya aku tak bermaksud mengelabui dirimu, tapi di hadapan Ong Ling-hoa, mana mungkin aku menjelaskan kepadamu…. Ai, syukur kau bertemu dengan Kim-heng di sini, kalau tidak….”

Bercahaya mata Cu Jit-jit, katanya, “Kalau tidak kenapa?”

“Kalau tidak tentu akan membuatku khawatir,” ujar Sim Long.

Sesaat Jit-jit terkesima, “Kau khawatirkan diriku? Hanya setan percaya….” belum habis bicara, dekik di pipinya sudah kelihatan, tak tahan dia tertawa senang, rasa sedih, risau, jengkel, seketika lenyap sama sekali setelah mendengar pernyataan Sim Long itu.

Mengawasi sikap mesra kedua muda-mudi ini, maka Kim Bu-bong kembali kaku dingin, ia berdehem, lalu berkata dengan suara tertahan, “Sepanjang jalan rombongan Can Ing-siong tidak mengalami apa-apa hingga tiba di Jin-gi-ceng, kusaksikan sendiri mereka masuk ke perkampungan itu baru kembali ke sini.”

“Aneh kalau begitu….” ujar Sim Long sambil termenung, tiba-tiba ia tertawa riang, katanya, “Terima kasih Kim-heng….”

“Rasanya tak perlu kau bilang terima kasih kepadaku.”

“Betul, terlalu berlebihan.”

“Bahwa Ong-hujin tidak bertindak sesuatu terhadap Can Ing-siong dan rombongannya, lalu bagaimana tindakanmu selanjutnya?”

Sejenak Sim Long berpikir, lalu balas bertanya, “Bagaimana pula langkah Kim-heng?”

Kim Bu-bong mendongak sambil menghela napas, katanya, “Perjanjian dengan Jin-gi-ceng sudah selesai, keselamatan Can Ing-siong dan lain-lain juga tak kurang sesuatu apa, urusan ini boleh dikatakan sudah selesai, aku… aku akan pulang saja.”

“Pulang?” Sim Long menegas.

“Betul. Meski Ca Giok-koan jahat dan buas, tapi budi kebaikannya terhadapku amat besar, selama hayat masih dikandung badan aku takkan mengingkari dia….” tiba-tiba Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya perlahan, “Entah Sim-heng sudi kiranya membebaskanku pulang?”

“Orang telah menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan akan pula kubalas kebaikan orang… terhadap Ca Giok-koan boleh dikatakan Kim-heng sudah menunaikan kewajiban dengan baik, kenapa aku harus menjadi manusia rendah dan merintangi keberangkatanmu?”

Kim Bu-bong menarik napas panjang, gumamnya, “Orang menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan aku balas kebaikan orang, tapi….” waktu dia angkat kepalanya lagi, sekian saat dia menatap Sim Long lekat-lekat, lalu katanya dengan beringas, “Selanjutnya bila kita bertemu lagi, kau adalah musuhku, saat mana aku tak peduli lagi siapa kau dan akan kurenggut jiwamu, hari ini kau bebaskan aku, kelak jangan kau menyesal.”

Sim Long tertawa pedih, katanya, “Setiap orang punya cita-citanya sendiri, siapa pun tak dapat memaksanya, kelak meski kau adalah musuhku, tapi dapat bergebrak dengan musuh seperti dirimu, sungguh menyenangkan juga.”

“Baiklah kalau begitu,” perlahan Kim Bu-bong mengangguk. Lama mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Mendadak keduanya bersuara bersama, “Selamat berpisah….”

Mereka bersuara bersama dan tutup mulut bersama pula, sama mengulum senyum getir, sementara itu Jit-jit tak kuat menahan air matanya. Darah seperti bergolak dalam rongga dadanya, dia mengentak kaki, serunya, “Mau pergi lekas pergi, buat apa banyak omong. Tak tersangka kaum laki-laki kalian juga suka bertele-tele begini.”

“Betul,” ujar Kim Bu-bong, “sudah saatnya harus berangkat, kehidupan Kangouw serbabahaya, orang-orang jahat selalu berada di sekelilingmu, hendaknya Sim-heng….”

“Kim-heng jangan khawatir,” tukas Sim Long, “kubisa menjaga diriku, malah Kim-heng sendiri….”

Kim Bu-bong mendongak sambil tertawa panjang, “Darah mengalir bagi sahabat sejati, biar mati juga tidak menjadi soal….” sambil mengulapkan tangan segera dia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dengan berlinang air mata Cu Jit-jit mengawasi bayangan orang semakin jauh dan hampir menghilang di tengah hamburan bunga salju, mendadak dia berteriak keras, “Tunggu… berhenti!”

Kim Bu-bong berhenti di kejauhan, tapi tidak menoleh, tanyanya dingin, “Kau mau omong apa lagi?”

Jit-jit menggigit bibir, katanya sambil memandang Sim Long sekejap, “Aku… aku ingin ikut kau.”

Kim Bu-bong seperti terpantek di tanah tanpa bergerak, juga tidak menoleh dan tak bersuara pula, agaknya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Alis Sim Long terangkat, wajahnya menampilkan rasa kejut dan heran.

Jit-jit tidak memandangnya lagi, teriaknya, “Hanya engkau seorang di dunia ini yang simpati dan memahami diriku, hanya kaulah satu-satunya lelaki sejati di dunia ini, kalau aku tidak ikut kau, ikut siapa?”

Kim Bu-bong seperti ingin menoleh, tapi lantas bergelak tawa sambil menengadah, cepat ia melangkah pula ke depan, sukar meraba makna gelak tertawanya itu.

“Nanti dulu, tunggu aku….” sambil berteriak Cu Jit-jit lantas memburu dengan kencang.

Sim Long bermaksud menariknya, tapi pikirannya tergerak, dia urungkan niatnya, ia mengawasi bayangan punggung Cu Jit-jit yang makin menjauh, timbul senyuman pada ujung mulutnya.

Setelah puluhan langkah Jit-jit coba melirik ke belakang, Sim Long yang kejam dan tega hati ini ternyata tidak menyusulnya, waktu dia menatap ke depan pula, bayangan Kim Bu-bong juga sudah tidak kelihatan.

Bunga salju beterbangan menyampuk mukanya, seluas mata memandang yang terlihat hanya kabut putih, hatinya sedih, dongkol, dan kecewa. Tak tahan dia menangis lagi. Sambil menangis dia berlari terus ke depan, air mati menghalangi pandangannya hingga dia tidak bisa membedakan arah namun masih terus lari seperti dikejar setan.

Hakikatnya dia tidak tahu ke mana dirinya harus pergi, umpama bisa menentukan arah juga tiada gunanya?

Tetesan air matanya hampir membeku menjadi butiran es. Dengan lengan baju dia menyeka air mata, gumamnya, “Baiklah, Sim Long, kau tidak menarikku, bila aku mampus, apakah kau tidak akan menyesal, tapi… kenapa aku tidak mati saja….”

Waktu dia mengusap air mata pula, mendadak dia menubruk seseorang.

Saking keras dia berlari hingga tubuhnya terpental balik dua-tiga langkah baru dapat berdiri tegak, selagi dia hendak memaki, begitu dia angkat kepala, orang yang berdiri di depannya ternyata Kim Bu-bong adanya, lelaki yang kaku dingin seperti batu ini.

Dalam keadaan seperti Cu Jit-jit sekarang, mendadak melihat Kim Bu-bong lagi, ia seperti bertemu dengan sanak kandung yang terdekat, entah duka, entah girang, segera dia menjerit terus menubruk ke dalam pelukan Kim Bu-bong dan merangkulnya kencang-kencang.

Kepala dan pundak Kim Bu-bong sudah dilapisi salju, demikian pula kulit mukanya seperti dilumasi es, namun kedua matanya terasa menyala hangat.

Lama sekali baru Kim Bu-bong menghela napas, katanya, “Kau benar-benar menyusul… buat apa kau menyusulku?”

Jit-jit membenamkan kepalanya di dada orang, sambil menangis campur tertawa katanya, “Aku memang ingin ikut kau…. Selanjutnya kau tidak akan kesepian, apakah… apakah kau tidak senang?”

“Selamanya kau ikut aku?”

“Ehm, ikut kau selamanya dan takkan berpisah, umpama kau mengusirku, aku pun takkan pergi…. Tapi engkau takkan mengusirku bukan?”

Kim Bu-bong tertawa getir, “Ai, anak yang kasihan….”

“Tidak, tidak, tidak kasihan, aku tidak mau dikasihani. Ada engkau di sampingku, kenapa aku harus dikasihani? Selanjutnya kularang kau mengatakan kasihan.”

Namun mulut Kim Bu-bong masih bergumam, “Kasihan anak ini….”

Jit-jit merengek sambil membenamkan kepalanya. “Nah, kau bilang lagi, coba katakan, dalam hal apa aku perlu dikasihani?”

“Hanya untuk membuat jengkel Sim Long kau ikut padaku? Buat apa….”

“Bukan karena Sim Long, dengan sukarela kuikut kau.”

“Tapi bila Sim Long menyusulmu dan mengajakmu pulang, bagaimana?”

“Peduli apa dengan dia? Takkan kugubris.”

“Apa betul?”

“Betul, seribu kali betul!”

Untuk sejenak Kim Bu-bong diam saja, mendadak dia berkata, “Coba lihat, Sim Long menyusul kemari!”

Tergetar tubuh Cu Jit-jit, teriaknya girang, “Di mana?”

Segera dia melompat mundur membalik badan, salju masih beterbangan, mana ada bayangan Sim Long, bayangan setan pun tidak ada.

Waktu dia berpaling, dia melihat Kim Bu-bong menampilkan senyum seorang yang sudah kenyang mengenyam perikehidupan, senyum pengertian, namun juga senyum yang rada mengejek, kontan merah muka Cu Jit-jit, namun dia berusaha menutupi rasa malunya, katanya, “Dia datang juga aku tidak peduli, aku…aku….”

Kim Bu-bong geleng kepala, katanya, “Nak, isi hatimu mana bisa mengelabui aku, lekas kau pulang ke sana saja.”

“Tidak mau, mati pun aku tidak mau pulang.”

“Mana boleh kau ikut aku.”

“Kalau kau melarang aku ikut, biar aku mati di depanmu.”

Kim Bu-bong menyengir, sesaat kemudian baru berkata dengan perlahan, “Ikut aku juga bolehlah, cepat atau lambat Sim Long pasti juga akan menyusul kemari, bahwa dia membiarkan Nona Cu ikut aku, mungkin juga untuk memudahkan mengikuti jejakku…. Meski tidak secara gamblang dia paksa aku untuk membawanya mencari Ca Giok-koan, hal ini berarti dia sudah baik terhadapku, jika dia menguntitku secara diam-diam juga pantas, mana boleh aku menyalahkan dia.”

Dia bicara sendiri seperti sedang menganalisis bagi dirinya sendiri, tapi juga seperti memberi penjelasan bagi Sim Long, padahal suaranya lirih, kecuali dia sendiri tak terdengar siapa pun.

“Apa katamu?” tanya Cu Jit-jit.

“Aku bilang… kalau kau mau ikut aku, ayolah berangkat!”

Setengah hari itu kedua orang menempuh perjalanan secara cepat, menjelang tengah hari mereka sudah tiba di Say-kok.

Say-kok adalah sebuah kota kecil di sebelah barat Kota Sin-an, walau kota kecil, tapi cukup ramai, ke timur menuju Lokyang, ke utara harus menyeberang sungai besar, tidak sedikit kaum pedagang yang seberang-menyeberang di kota ini, maka kehidupan penduduk kota kecil ini cukup makmur.

Sepanjang jalan Jit-jit memegangi tangan Kim Bu-bong, masuk kota pun tidak dilepaskan, dia tidak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.

Dengan sendirinya orang-orang di jalan sama heran, kagum dan pesona akan kecantikannya, tapi bila mereka melihat wajah Kim Bu-bong, seketika mereka melengos.

Jit-jit berkata perlahan, “Coba lihat, semua orang takut kepadamu, betapa senang dan bangga hatiku.”

“Kenapa kau senang dan bangga?” tanya Kim Bu-bong.

“Kuharap orang takut kepadaku, tapi mereka justru tidak takut, kini aku ikut bersamamu, seperti kucing ikut harimau, akan dapat membonceng supaya orang sama takut padaku, betapa hatiku tidak senang, cuma… cuma perutku mulai lapar, ingin berlagak juga tidak bisa.”

Kim Bu-bong tertawa, “Apa sekarang juga kau mau makan?”

“Aku bukan anak perempuan yang suka murung, hanya menghadapi sedikit persoalan lantas tak nafsu makan minum…. Segala persoalan dengan cepat dapat kulupakan, maka aku bisa makan seperti biasa. Makanya kakakku kelima pernah bilang, kelak aku bisa jadi gendut.”

Kembali Kim Bu-bong tertawa, katanya, “Memangnya kenapa kalau gendut? Mari kita makan sepuasnya.”

Entah kenapa, orang aneh yang biasanya dingin kaku, kini seperti bergairah.

Sepanjang jalan raya mereka tidak menemukan restoran, mendadak Kim Bu-bong seperti teringat sesuatu, dia bertanya, “Apakah kakakmu itu yang terkenal dipanggil Cu-gokongcu di kalangan Kangouw?”

Jit-jit menghela napas, “Betul, engkohku kelima itu memang makhluk aneh, kejayaan keluargaku seperti tertumplak seluruhnya di atas tubuhnya, ke mana saja dia pergi, selalu dia mendapat sambutan hangat, dia memang pandai bergaul, aku sendiri heran kenapa bisa begitu?”

Kim Bu-bong berkata, “Sudah lama kudengar nama Cu-gokongcu yang harum, semua bilang dia seorang pemuda cakap yang jarang ada bandingannya, sayang sampai sekarang aku belum pernah melihatnya.”

“Jangankan kau tak bisa bertemu dengan dia, kami beberapa saudara sendiri juga sukar melihatnya, dua-tiga tahun baru bertemu satu kali. Hidupnya memang seperti arwah gentayangan. Hah, sudah sampai.”

Yang dimaksudkan sampai adalah mereka sudah berada di depan sebuah warung nasi. Lima buah meja kecil yang cukup bersih, bau arak dan bau masakan seperti menyongsong kedatangan mereka, sayang lima meja sudah penuh diduduki orang.

“Ramai betul pengunjung warung makan ini,” kata Kim Bu-bong.

“Rumah makan yang banyak dikunjungi orang, hidangannya tentu lumayan.”

“Sayang tidak ada tempat kosong.”

“Tidak jadi soal, ikut aku saja,” ujar Jit-jit. Kim Bu-bong ditariknya masuk mendekati sebuah meja di pojok sana, dua orang pedagang sedang makan dengan lahap di meja ini, mendadak mereka angkat kepala, melihat muka Kim Bu-bong, seketika mereka bergidik, cepat mereka menunduk kepala, nafsu makan pun segera lenyap.

Jit-jit tetap pegang tangan Kim Bu-bong, berdiri diam tak bergerak, kedua orang itu memegangi sumpit dengan gemetar, bergegas mereka berbangkit terus membayar rekening.

Maka Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong lantas menduduki meja itu.

Kim Bu-bong geleng kepala, katanya, “Kau memang pandai mencari akal.”

“Ini namanya main gertak.”

Kim Bu-bong bergelak tertawa, namun setengah jalan mendadak dia berhenti tertawa.

“Kenapa kau berhenti tertawa,” tanya Jit-jit, “aku senang melihat cara tertawamu.”

Kim Bu-bong diam sejenak, lalu katanya, “Setengah hari ini aku sudah tertawa lebih banyak daripada tertawaku beberapa tahun yang lampau.”

Jit-jit mengawasinya hingga lama dan tak bicara, entah hatinya merasa kecut, manis, atau getir? Dia tidak tahu. Untung hidangan sudah disuguhkan, maka Jit-jit makan minum dengan lahap.

Kim Bu-bong justru sebaliknya, sukar menelan hidangan di depannya, Jit-jit menyumpit makanan ke dalam mangkuknya. Orang-orang di sekitarnya tidak berani menoleh ke arah mereka, tapi tak sedikit yang melirik secara diam-diam.

Maklum kedua orang ini teramat aneh, lelaki jelek, yang perempuan cantik, kelihatannya mesra, tapi juga seperti tak kenal-mengenal sebelumnya, entah pernah hubungan apa antara kedua orang ini, sungguh sukar menebaknya.

Jit-jit tidak peduli tingkah laku orang-orang di sekitarnya, katanya tertawa, “Sepotong daging ini harus kau makan, perut kosong mana boleh minum arak… perutmu bisa terbakar lho.”

Ia menyumpit sepotong daging dan diangsurkan pula ke mangkuk Kim Bu-bong. Tapi mendadak tubuhnya bergetar, daging yang tersumpit jatuh kecemplung ke mangkuk kuah di depannya, ia terbelalak ke arah jendela dengan wajah pucat.

“Ada apa?” tanya Kim Bu-bong kaget.

Dengan sumpit Jit-jit menuding jendela di belakang Kim Bu-bong, katanya, “Oo….” suaranya bukan saja gemetar, lidahnya juga kelu, sumpit pun beradu karena tubuhnya menggigil.

Berubah air muka Kim Bu-bong, lekas dia berpaling, namun jendela kosong tak ada apa-apa, keruan dia heran, tanyanya, “Kau melihat apa?”

Sahut Jit-jit gemetar, “Ada… ada orang di luar jendela.”

“Mana ada orang, mungkin pandanganmu kabur?”

“Barusan ada, begitu kau berpaling lantas lenyap.”

“Siapa?”

“Iblis… iblis laknat itulah, iblis yang membikin aku lumpuh dan bisu itu.”

“Apa kau melihat dengan jelas?”

“Aku melihat dengan jelas sekali, selama hidupku takkan kulupakan wajahnya.”

Berubah kelam air muka Kim Bu-bong, kedua alisnya bertaut, ia tunduk kepala berpikir tanpa bicara.

“Apa kau mau mengejarnya?”

“Biar kukejar sekarang juga takkan tersusul.”

“Lalu… lalu bagaimana baiknya? Begitu melihat dia, aku tiada selera makan lagi, tidur pun tak bisa nyenyak, seolah-olah dia selalu mengintil di belakangku dan mau mencelakai aku, bila kupejamkan mata lantas terbayang dia lagi menyeringai kepadaku….” mendadak dia letakkan sumpit terus mendekap muka dan hampir menangis.

Kim Bu-bong berpikir sejenak, mendadak dia berbangkit, sepotong uang perak dilemparkannya di meja, tangan Jit-jit ditariknya sambil mendesis, “Mari ikut aku!”

“Ke… ke mana?” tanya Jit-jit.

Hijau kelam muka Kim Bu-bong, tanpa menjawab dia tarik Cu Jit-jit terus melangkah keluar, ia celingukan sekejap menentukan arah terus berlari keluar kota menuju ke tempat yang sepi.

Heran dan takut Jit-jit, nyalinya sudah pecah bila terbayang kepada iblis itu, padahal biasanya tiada yang ditakutinya di dunia ini, tapi terhadap “iblis” yang satu ini dia justru ketakutan setengah mati.

Makin jauh Kim Bu-bong melangkah ke tempat yang sepi, padahal saat itu cahaya mentari sudah menembus gumpalan mega, namun Jit-jit masih menggigil kedinginan.

Tanpa terasa kedua tangannya memeluk pundak Kim Bu-bong dan tubuhnya pun menggelendot di bahunya. Dipandang dari belakang seolah-olah seorang lelaki kekar berjalan berpelukan dengan seorang gadis, seperti sepasang kekasih yang lagi bermesraan, siapa yang melihatnya pasti iri, tapi bila orang mendahului dan memandang dari depan, yang perempuan cantik bak bidadari, berpelukan dengan lelaki jelek yang mengerikan, siapa pun akan geleng kepala.

Walau pundaknya diganduli, langkah Kim Bu-bong tetap cepat dan gesit.

Tak tahan Jit-jit bertanya, “Tempat apa di sebelah depan.”

“Aku tidak tahu.”

Gusar Jit-jit, serunya, “Habis untuk apa kau… kau….”

“Apa yang kulakukan segera kau akan tahu,” ujar Kim Bu-bong, mendadak dia merendahkan suaranya, “Nah, itu dia datang.”

Berdiri bulu kuduk Cu Jit-jit, ia menahan napas dan pasang kuping, memang di belakang didengarnya ada suara desir pakaian melambai, gerakan orang di belakang amat cepat, namun Kim Bu-bong tidak menghentikan langkahnya juga tidak menoleh.

Dengan sendirinya Jit-jit juga tidak berani menoleh, namun dalam hati dia bertanya-tanya, “Siapakah yang datang? Jangan-jangan dia?”

Didengarnya lambaian pakaian orang itu sudah berada di belakang mereka, gerakannya lantas diperlambat, dalam jarak yang sama terus mengikuti langkah mereka, tidak menyusul ke depan dan juga tidak ketinggalan.

Rasa seram menjalari punggung Jit-jit, sungguh ia ingin menoleh untuk melihatnya, tapi dapat ditahan perasaannya ini, rangkulannya bertambah erat.

Bila Kim Bu-bong mempercepat langkahnya, orang di belakang ikut cepat, bila Kim Bu-bong lambat orang itu pun memperlambat langkahnya.

Kini Jit-jit yakin orang di belakang ini pasti iblis laknat itu, baru sekarang dia sadar Kim Bu-bong sengaja menuju ke tempat yang sepi, tujuannya juga untuk memancing dia. Tapi sukar dia menebak kenapa Kim Bu-bong berbuat demikian, apa tujuannya? Jika ingin membunuhnya, sekarang sudah boleh turun tangan, kalau tidak ingin melenyapkan dia, pantasnya sekarang sudah bertindak pula.

Makin lama langkah Kim Bu-bong makin cepat, akhirnya hanya berputar kayun di dataran bersalju ini, orang itu ternyata mengintil terus ikut berputar.

Cu Jit-jit tidak tahan dan ingin mengajukan pertanyaan namun sebelum dia bersuara, kupingnya lantas menangkap suara Kim Bu-bong yang bicara dengan ilmu gelombang suara, “Kungfu orang ini tidak lemah, tapi tenaga dalamnya kurang kuat, sekarang sengaja kukuras tenaganya, bila lwekang sudah lemah dan kehabisan tenaga baru akan kupancing dia turun tangan, kuyakin dapat mencabut nyawanya.”

Kejut dan girang hati rasanya ingin dia peluk leher Kim Bu-bong serta mencium pipinya sekali sebagai tanda rasa senang, haru dan kagumnya.

Mendadak Kim Bu-bong mendongak sambil bergelak tertawa, serunya, “Haha, bagus… bagus!”

Orang itu juga tertawa serak dan berseru, “Haha, bagus… bagus!”

“Kutahu kau pasti datang!” ucap Kim Bu-bong.

“Kutahu kau pasti datang!” orang itu menirukan bicaranya.

“Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?” tanya Kim Bu-bong.

Orang itu juga bertanya, “Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?”

Kim Bu-bong gusar, dampratnya, “Apa sengaja kau permainkan aku? Meski kita pernah seperguruan, namun hubungan kita sudah putus, tahukah kau kenapa kupancing kau ke sini? Sebab akan kucabut nyawamu!”

Orang itu seperti bersuara kaget, tapi segera menirukan pula, “Apa sengaja kau permainkan aku? Meski….”

“Siapa kau?” mendadak Kim Bu-bong menghardik sambil seret Jit-jit dan membalik badan.

Orang itu sedang lari, hampir saja ia menubruk mereka, syukur satu kaki di depan mereka dia berhasil mengerem langkahnya. Wajahnya yang jelek dan kotor itu tepat berhenti di depan mata Cu Jit-jit, tapi bukan wajah “iblis” yang mereka duga semula, orang ini ternyata adalah Kim Put-hoan.

Perubahan yang tak terduga ini bukan saja membuat Cu Jit-jit kaget, juga di luar dugaan Kim Bu-bong. Bukan rase yang mereka pancing ke sini sebaliknya terpancing serigala.

“Kiranya… kau!” pekik Jit-jit.

“Rupanya kau,” bentak Kim Bu-bong dengan gusar.

“Ya, aku….” Kim Put-hoan tertawa terkekeh. “Agaknya kalian tidak menduga.”

“Kenapa kau buntuti kami sejauh ini? Apa kehendakmu?” seru Jit-jit.

Kim Put-hoan memicingkan matanya, katanya dengan tertawa, “Aku hanya ingin menyaksikan betapa mesranya kalian berpelukan, untuk apa pergi ke tempat sepi seperti ini? Di sini kan bukan tempat untuk berpacaran?”

“Tutup mulutmu!” bentak Kim Bu-bong.

“Baik, tutup mulut. Toako suruh aku tutup mulut, segera kututup mulut!” dia mendongak dan tertawa aneh, “Baru sekarang kutahu, Toako kita ini ternyata cukup lihai juga dalam hal memikat perempuan, hanya beberapa patah kata dengan mudah dapat merebut nona ayu ini dari tangan Sim Long.”

Jelalatan mata Kim Bu-bong, wajah diliputi nafsu membunuh.

Jit-jit tidak tahan, ia memaki, “Kau kentut busuk apa?”

Kim Put-hoan menyengir, “Aduh galaknya…. Eh, mau tidak kuberi tahu rahasia toakoku ini? Dia kelihatan jujur, padahal… hahahaha….”

“Padahal apa?” tanya Jit-jit.

“Padahal toakoku ini laki-laki perayu, seorang hidung belang, sejak umur lima belas, entah betapa banyak gadis yang dibuatnya sakit rindu, kemudian….”

Kim Bu-bong menatapnya dengan dingin dan mendengarkan ocehannya tanpa mencegah atau menyetopnya, tapi Kim Put-hoan sengaja berhenti sambil meliriknya.

“Belakangan bagaimana?” tak tahan Jit-jit bertanya pula.

Kim Put-hoan sengaja berdehem, “Aku tak berani mengatakan.”

Kim Put-hoan menyengir, “Banyak nona cantik mengerumuninya hingga toakoku ini tak sempat berlatih kungfu, saking jengkel toakoku ini lantas merusak wajah sendiri yang tampan ini.”

“Oo….” Jit-jit menjerit kaget.

“Dia sendiri yang merusak mukanya tapi setelah wajahnya rusak, tabiatnya ikut berubah, bukan saja dia amat membenci perempuan, terhadap orang laki-laki juga bersikap dingin dan tak acuh.”

Cu Jit-jit termenung sekian lama, katanya kemudian, “Jadi begitulah kejadiannya… kiranya tempo hari kau menipuku.”

“Menipumu… kapan aku menipumu….” seru Kim Put-hoan.

“Cuh,” Jit-jit berludah, “siapa bicara dengan kau.”

Kim Put-hoan mengawasinya, lalu melirik Kim Bu-bong, katanya dengan tertawa licik, “Ah, aku mengerti, aku mengerti…. Agaknya kau bicara dengan dia. Jadi Toako pernah dustai kau, tanpa sengaja aku membongkar rahasianya.”

Kim Put-hoan tertawa dan berkata pula, “Wah, baru sekarang aku bertemu dengan istri Toako, tidak diberi hadiah malah dicaci maki.”

“Baik, kuberi hadiah,” damprat Cu Jit-jit. Tangan kanan terayun terus menggampar muka Kim Put-hoan.

“Plang”, Kim Put-hoan tidak berkelit menghindar, gamparan Jit-jit telak mengenai pipinya, ternyata dia tidak marah sebaliknya malah tertawa sambil mengelus pipi, katanya, “Terima kasih, kuterima hadiahmu dengan senang hati. Jari-jemari halus dan runcing rasanya enak juga bila mengelus pipi. Toako, rezekimu memang tidak kecil.”

Mendadak Kim Bu-bong mendengus, “Sudah habis kau bicara?”

“Ya, sudah habis.”

“Hubungan persaudaraan kita sudah putus, tapi mengingat kau tumbuh dewasa bersamaku dulu, hari ini kuampuni sekali lagi….” mendadak Kim Bu-bong membentak bengis, “Nah, ayoh, lekas menggelinding, jangan tunggu aku berubah pikiran.”

Kim Put-hoan tenang-tenang saja, katanya dengan tertawa, “Toako suruh aku enyah, tentu segera kupergi. Tapi masih ada pertanyaan yang ingin kuajukan kepada Toako,” tanpa menunggu jawaban Kim Bu-bong dia meneruskan, “Toako tahu tidak di mana Sim Long sekarang?”

Jit-jit heran, tanyanya, “Untuk apa kau cari Sim Long?”

Kim Put-hoan tertawa lebar, katanya, “Banyak orang ingin mencari Sim Long, bukan cuma aku.”

Jit-jit makin tertarik, tanyanya lagi, “Siapa pula yang mencarinya?”

“Tiga cianpwe dari Jin-gi-ceng, Toan-hong Totiang, Thian-hoat Taysu, Hiong-say Kiau Ngo, dan… aku juga, walau aku tidak becus, orang-orang itu bukan tokoh sembarang tokoh.”

“Untuk apa orang-orang itu mencarinya?” tanya Jit-jit khawatir.

“Tidak apa-apa, hanya ingin menggorok lehernya,” sahut Kim Put-hoan.

Berjingkat Jit-jit, serunya, “Ken… kenapa?”

“Karena dia ingkar janji, karena dia berbuat jahat, lahirnya bajik, padahal kejam, karena…. Ai, tak perlu kujelaskan lagi, tentunya kau tahu sendiri.”

Melotot mata Cu Jit-jit, serunya tergagap, “Bukankah… bukankah Sim Long sudah mengantar Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain pergi ke Jin-gi-ceng, bukankah mereka bisa memberi penjelasan.”

“Apa benar Sim Long yang mengantar Can Ing-siong dan lain-lain?” tanya Kim Put-hoan, suaranya bernada menyindir.

Tapi Jit-jit tidak memerhatikan, sahutnya, “Betul, Sim Long sendiri yang mengantar mereka,” lalu ia menoleh ke arah Kim Bu-bong, katanya pula, “Kau bisa jadi saksi bukan?”

Terunjuk rasa heran pada wajah Kim Bu-bong, katanya dengan mengangguk, “Betul, aku melihat sendiri mereka sudah masuk ke Jin-gi-ceng.”

“Memangnya ada kesalahan apa yang terjadi?” tanya Jit-jit.

Kim Put-hoan menyeringai, “Betul, mereka memang sudah masuk ke perkampungan sana.”

Jit-jit menghela napas, “Nah, kan sudah beres….”

“Tapi setelah masuk kampung, sebelum sempat bicara mereka sudah putus nyawanya. Hm… mati secara mutlak, tiada satu pun yang ketinggalan.”

Belum Kim Put-hoan selesai bicara, Jit-jit sudah menjerit kaget.

Kim Bu-bong juga terbeliak, katanya, “Cara… cara bagaimana mereka mati?”

“Begitu masuk perkampungan mereka lantas roboh bersama pada saat itu juga dan jiwa melayang seketika, sekujur badan tidak terluka, mungkin mereka mati karena racun yang bekerja dalam tubuh mereka. Padahal tidak sedikit tokoh-tokoh kosen di dalam Jin-gi-ceng, tapi tiada satu pun yang tahu mereka keracunan apa,” Kata Put-hoan tertawa riang sambil mendongak, “Membunuh dengan racun tidak perlu diherankan, anehnya waktu yang diperhitungkan ternyata begitu tepat…. Hehehe… sungguh cara lihai, kepandaian hebat, sayang teramat keji.”

Kim Bu-bong merinding mendengar perkataan Kim Put-hoan itu, Cu Jit-jit juga gemetar, katanya, “Aku yakin pasti bukan perbuatan Sim Long.”

“Sim Long yang mengantar mereka, kalau bukan dia siapa lagi yang pandai main racun?”

“Pasti dia… perempuan itu?” kata Jit-jit.

“Dia siapa? Siapa perempuan itu?” tanya Kim Put-hoan.

“Meski kujelaskan juga percuma,” segera Jit-jit tarik tangan Kim Bu-bong, serunya, “Ayo kita sampaikan berita ini kepada Sim Long.”

“Kalian tidak perlu susah payah,” ucap Kim Put-hoan sambil menyeringai, “sudah ada orang mencari dia, toh tidak bakal melarikan diri. Mengenai kalian… ai, sekarang kalian juga tak bisa pergi.”

“Berani kau rintangiku?” damprat Kim Bu-bong.

Seperti tertawa tapi tidak tertawa, Kim Put-hoan berkata sinis, “Mana aku berani… tapi mereka….” bola matanya jelalatan ke empat penjuru, Kim Bu-bong dan Cu Jit-jit lantas mengikuti pandangannya ke sana kemari.

Di tengah dataran salju itu, dari arah timur, selatan, barat, dan utara masing-masing muncul bayangan seorang, dengan perlahan melangkah ke arah mereka.

Kelihatannya mereka bergerak lamban, namun tahu-tahu sudah dekat. Yang datang dari timur berjenggot panjang menyentuh dada, pakaiannya melambai tertiup angin seperti dewa, namun wajahnya yang putih bersih tampak kaku dironai nafsu membunuh, dia bukan lain adalah Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng, kepala Jin-gi-ceng.

Orang yang datang dari selatan berperawakan tinggi besar, sedikitnya delapan kaki, cambang bauk melebati mukanya, sorot matanya juga memancarkan nafsu membunuh, dia juga salah satu dari Jin-gi-sam-lo yaitu Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun.

Orang yang datang dari barat berperawakan agak kurus dan lemah, setiap dua langkah lantas terbatuk-batuk, dia adalah toako dari ketiga Leng bersaudara.

Yang datang dari utara sikapnya kelihatan paling garang, wajahnya beringas kejam, siapa kalau bukan Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay, tokoh silat nomor satu aliran Buddha yang disegani.

Sebelum keempat orang ini mendekat, Kim Put-hoan mendadak melompat mundur, lalu serunya lantang, “Apakah kalian sudah mendengar percakapan kami?”

“Sudah mendengar jelas,” seru Lian Thian-hun yang berangasan.

“Aku tidak salah omong bukan, orang-orang itu memang diantar oleh Sim Long,” Kim Put-hoan membakar kemarahan mereka.

“Memang benar, kau keparat ini bicara dengan betul, Sim Long si anjing itu tak dapat diampuni,” demikian damprat Lian Thian-hun, meski usianya sudah lanjut, waktu marah sikapnya menjadi kasar dan tutur katanya juga kotor.

“Perlu juga kalian ketahui, di sini ada seorang yang lebih hebat daripada Sim Long. Hehehe, kalian memang lagi mujur, tanpa sengaja bertemu dengan dia di sini.”

“Siapa?” bentak Li Tiang-ceng.

Padahal pandangan keempat orang itu sudah menatap Kim Bu-bong. Meski Kim Bu-bong berdiri tegak tanpa bergerak, diam-diam hatinya menjadi gelisah.

Terdengar Kim Put-hoan berkata lantang, “Harap kalian perhatikan, inilah Kim Bu-bong, Duta Harta, salah satu duta besar Koay-lok-ong, tentu sudah lama kalian mendengar kebesaran namanya.”

Belum habis dia bicara, serentak Li Tiang-ceng berempat melompat maju mengepung Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong, setajam golok mereka menatap Kim Bu-bong.

Perlahan Cu Jit-jit makin merapat di samping Kim Bu-bong. Kalau keempat orang itu menatap Kim Bu-bong, sebaliknya Kim Bu-bong juga balas menatap mereka, tiada yang bicara, dalam keadaan seperti ini, bicara memang berlebihan.

Tanpa tanya juga Kim Bu-bong tahu maksud kedatangan keempat orang ini, keempat orang itu juga tahu jika pihaknya mengajukan pertanyaan, lawan jelas takkan memberi jawaban, maka lebih baik tidak tanya.

Berhadapan secara diam begini tentu saja menambah tegangnya suasana, sinar matahari seakan mulai guram, cuaca remang-remang, deru angin seperti pekikan di medan perang.

Cu Jit-jit tidak tahan lagi, serunya, “Kalian mau apa?”

Keempat orang itu melirik sekejap, hanya sekejap lalu menatap Kim Bu-bong pula, hakikatnya seperti tak sudi memandangnya, apalagi menjawab pertanyaannya.

“Apa pun persoalannya harus dibicarakan dulu dengan jelas, memangnya apaan cara begini?” teriak Jit-jit pula.

Kali ini orang-orang itu melirik pun tidak.

Dengan nekat Jit-jit berteriak, “Mereka tidak mau bicara, mari kita pergi.”

Kim Put-hoan yang berdiri di samping mendadak tertawa latah, serunya, “Kalian dengar, merdu sekali ucapan budak ini.”

Teriak Jit-jit dengan gusar, “Kalian tak mau bicara, ayolah turun tangan, jika tidak turun tangan, maka kami mau pergi, memangnya harus ikut berdiri seumur hidup di sini.”

Li Tiang-ceng menghela napas, ujarnya, “Masa kau minta kami turun tangan?”

Meski dia bersuara, tapi ucapannya bukan ditujukan kepada Cu Jit-jit, melainkan kepada Kim Bu-bong.

“Betul,” Kim Put-hoan ikut bersuara. “Apa kau ingin kami turun tangan? Kalau kau tahu diri menyerah saja biar kami belenggu, setiap pertanyaan harus kau jawab, daripada tersiksa.”

Kim Bu-bong hanya menyeringai saja tanpa bersuara.

Tapi Jit-jit tambah tidak tahan, makinya, “Kentut, kau….”

Mendadak Lian Thian-hun meraung, “Buat apa banyak cincong, pukul roboh mereka dan ringkus saja, masa mereka takkan bicara nanti?”

Mendadak Kim Bu-bong menengadah dan terbahak-bahak, “Haha, sungguh gagah, sungguh gagah, orang she Kim memang lagi menunggu kalian para pahlawan ini, silakan turun tangan bersama.”

Berputar bola mata Cu Jit-jit, mendadak ia pun tertawa, serunya, “Sungguh kasihan, sungguh sayang… orang gagah terkenal macam kalian hanya pandai main keroyok….”

“Budak busuk,” damprat Lian Thian-hun, “tutup bacotmu, boleh kau saksikan apakah tuan besarmu ini main keroyok atau tidak? Silakan kalian mundur selangkah, biar kubekuk keparat ini.”

Li Tiang-ceng berkerut kening, namun Lian Thian-hun, lantas melompat maju.

Kim Bu-bong bertanya, “Apa betul kau berani melawanku seorang diri?”

“Hanya cucu kura-kura yang tidak berani,” sahut Lian Thian-hun dengan gusar.

“Kukira lebih baik kau mundur saja, kungfu Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun dulu memang tinggi, tapi sejak tragedi di Heng-san kungfunya sekarang tinggal tiga bagian saja, mana boleh kau bergebrak denganku?”

Lian Thian-hun menjadi gusar, kedua tinjunya beruntun menggenjot seraya membentak, “Siapa berani membantuku, Lian Thian-hun akan mengadu jiwa dulu dengan dia.”

Perlahan Kim Bu-bong mendorong Cu Jit-jit ke samping, “Awas!”

Sambil bicara ia menghindari dua kali jotosan Lian Thian-hun.

Li Tiang-ceng seorang tokoh besar, melihat gerak tubuh lawan, segera ia tahu lawan memiliki kungfu tinggi, segera dia mundur beberapa langkah dan memberi tanda kedipan mata kepada Leng Toa.

Leng Toa segera melompat ke dekatnya, tanyanya, “Ada apa?”

Li Tiang-ceng berkata dengan suara tertahan, “Betapa tinggi kepandaian orang ini sukar diukur, dalam empat puluh jurus Samte mungkin takkan kalah, tapi empat puluh jurus kemudian, bila kehabisan tenaga pasti kalah.”

“Ya, kukira juga demikian.”

“Belakangan ini bagaimana dengan latihan lwekangmu?”

Leng Toa tersenyum, sahutnya, “Lumayan.”

“Tapi batukmu….”

“Supaya tidak batuk juga bisa.”

Berputar mata Li Tiang-ceng, dilihatnya Kim Put-hoan menonton di pinggir sambil tersenyum, Thian-hoat Taysu kelihatan menggosok-golok kepalan dan getol ikut turun gelanggang, namun karena peringatan Lian Thian-hun tadi, maka dia bimbang. Seperti sengaja dan tidak sengaja, kedua orang ini mencegat jalan pergi Cu Jit-jit di kanan-kiri.

Segera Li Tiang-ceng mendesis lagi, “Biasanya Kim Put-hoan jarang turun tangan, luka dalam Thian-hoat mungkin belum sembuh, sementara aku, ai, pendek kata, melihat situasi hari ini hanya kaulah yang bisa diharapkan, apakah kau yakin dapat mengalahkan dia?”

“Boleh kucoba!”

“Bagus, tapi sekarang kau tak boleh turun tangan, kau tahu watak Losam, maka harus kau tunggu bila dia melontarkan jurus andalannya itu baru kau terjun…. Sekarang sudah lebih dua puluh jurus, belasan jurus lagi Losam pasti akan melancarkan jurus itu, paham?”

“Tahu!” sahut Leng Toa, walau bicaranya lebih banyak daripada adiknya, tapi jawabannya tetap singkat saja.

Pukulan Thian-hun secepat angin, dalam sekejap dia sudah menyerang dua puluhan jurus bagai gugur gunung dahsyatnya, siapa pun yang menyaksikan pukulannya akan pecah nyalinya. Di tengah deru angin pukulan, bunga salju beterbangan.

Bunga salju yang berhamburan bila hinggap di muka orang akan meninggalkan bercak merah di muka orang, sudah ada tiga-empat bercak merah di muka Cu Jit-jit.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: