Kumpulan Cerita Silat

03/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (03)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:45 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

3. Dewi Musim Semi

Matahari terus merangkak semakin tinggi di permukaan.

Seiring halimun yang menguap terbakar matahari, silau cahayanya menerawangi kertas jendela.

Dan Gao Lao Da menarik tirai jendela. Ia tidak menyukai cahaya matahari, karena cahaya matahari selain membuat kulit cepat tua juga memperjelas garis-garis yang mulai muncul di wajahnya.

Tiba-tiba Meng Xing Hun bertanya, “Kau datang untuk memerintahkanku melakukan hal itu?”

Gou Lou Da tertawa. “Kau tidak perlu diperintah, karena kutahu kau tidak akan mengecewakanku…”

“Namun kali ini…”

“Mengapa kali ini?”

“Kalau aku tidak pergi, bagaimana?”

Gao Lao Da sejenak memelototi Meng Xin Hun, tanyanya, “Kenapa? Apa kau takut pada Sun Yu Bo?”

Meng Xing Hun tidak menjawab, sebab ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia semata terdiam, mencoba mencari jawab pada diri sendiri.

“Kau takut?” ulang Gao Lao Da lagi.

Sekarang ia sudah tahu jawabannya: ia tidak takut! Ia tidak takut mati karena ia sudah pernah mati saat berusia enam. Kalau seseorang sudah tidak takut mati, apa lagi yang harus ditakuti?

Jawaban yang benar adalah: kejenuhan! Kejenuhan yang sudah merasuk tulang dan bercampur dengan darah. Ya, bukan kematian yang menakutkannya, tapi kejenuhan yang merasuki dirinya. Kejenuhan yang telah menghilangkan segala semangat dan gairah pada kehidupan.

“Aku tidak mau pergi!” ucap Meng Xin Hun lirih.

Gao Lao Da membeku, sesaat kemudian baru berkata. “Tidak bisa, kau harus pergi! Kau tahu, Shi Qun sedang di Utara, Xiao He ada di Ibu Kota. Dua ‘saudara’-mu itu tidak bisa pulang. Maka, hanya kau saja yang bisa melakukannya. Hanya kau yang bisa menghadapi Sun Yu Bo.”

Gao Lao Da saat berusia 13 tahun sudah membuat empat keajaiban, empat anak telah ia selamatkan dan mengikutinya hingga sekarang.

“Bagaimana dengan Ye Xiang?” tanya Meng Xin Hun.

“Ye Xiang sekarang hanya bisa membopong anak.”

“Ye Xiang dulu bisa melakukan ini!”

“Tapi Ye Xiang dulu tidak sama dengan Ye Xiang sekarang,” ujar Gao Lao Da keras. Tapi perlahan ia mulai melembut, katanya, “Aku sudah memberinya kesempatan tiga kali, tapi tiga kali pula dia mengecewakanku.”

Wajah Meng Xin Hun tetap tanpa ekspresi, tapi mata kanannya mulai berkedut. Manakala ia merasa sakit di hati atau marah, sudut mata kanannya selalu berkedut.

Hubungannya dengan Shi Qui, Xiao He, dan Ye Xiang ibarat saudara sekandung. Sebenarnya Ye Xiang adalah pemimpin di antara mereka empat lelaki. Usianya paling tua, paling pintar, paling kuat. Tapi, sekarang…

“Aku lelah…” kata Meng Xin Hun lirih memejam mata.

Gao Lao Da menarik nafas, kemudian duduk merapatkan diri di sisinya. “Aku tahu kau sudah lelah, sudah jemu. Tapi kehidupan memang begini. Bila kita ingin bertahan hidup, kita tidak boleh berhenti.”

Hidup? Siapa yang perduli dengan hidup? Tapi ia tahu, dalam hidup tetap ada hal yang harus diperdulikan. Maka ia berkata dengan terpejam, “Baiklah, jika kau menyuruhku pergi, aku akan pergi.”

Gao Lao Da memegang lengan Meng Xin Hun. “Kutahu kau tidak akan mengecewakanku.”

Tangan Gao Lao Da terasa lembut dan hangat. Sejak Meng Xin Hun berusia enam, tangan itu sudah memegang lengannya. Gao Lao Da adalah temannya, kakak perempuannya, juga merangkap ibunya.

Namun sekarang ia merasa sepasang tangan itu menggenggam tidak seperti biasa.

Tak tahan ia membuka mata, melihat sepasang tangan yang indah walau agak kebesaran, masih tangan Kakak Gao yang dulu. Kemudian pandangannya perlahan beralih naik ke pangkal lengan, dan terus ke atas pada dadanya, hingga akhirnya bertemu mata Kakak Gao.

Sepasang mata itu begitu jernih dan terang.

Tapi wajah Meng Xin Hun justeru muram seperti pelita kehabisan minyak.

—–

Matahari sudah lama bersinar terang. Lampu–lampu entah kapan sudah mati kehabisan minyak.

Meng Xin Hun tiba-tiba merasa Kakak Gao-nya seperti orang yang lain. Seorang perempuan yang cantik dan lain.

Saat itu Kakak Gao juga sedang menatapnya. Setelah lama baru berkata perlahan, “Kau sudah bukan anak kecil lagi.”

Meng Xin Hun memang bukan anak kecil lagi. Sejak usia tiga belas, ia sudah bukan anak-anak lagi.

“Kutahu, kau sering mencari perempuan…”

“Benar, banyak sekali,” jawabnya.

“Apa kau pernah menyukai mereka?”

“Tidak pernah,”

“Jika kau tidak menyukai mereka, artinya mereka tidak bisa memuaskanmu. Bila lelaki selalu tidak puas, lama-lama ia pasti akan jenuh…” Kakak Gao tertawa, begitu lembut dan feminin. Perlahan ia melanjutkan, “Sebagai lelaki mungin kau tidak memahami perempuan, seperti juga kau tidak tahu betapa perempuan bisa mendukung dan memotivasi lelaki…”

Meng Xin Hun tidak bicara, ia hanya menatap Kakak Gao

Kakak Gao berdiri perlahan, gerakannya anggun, begitu lembut menawan. Lengannya bergerak ke dada, mulai membuka kancingnya satu persatu. Gao Lao Da membiarkan pakaiannya tanggal, jatuh ke bawah.

Ia memang tidak muda lagi, tapi juga tidak seperti wanita yang telah kehilangan masa remaja, ia tahu bagaimana cara merawat tubuh.

Berdiri di bawah matahari pagi yang mengintip dari balik jendela, ia seperti Dewi Musim Semi. Dadanya yang terbuka membusung indah dengan putik-putik pada pucuknya telah mengeras kaku. Nafasnya selembut angin musim semi membawa harum memabukkan.

Apakah Gao Lao Da sudah mabuk dengan araknya?

Mabuk atau tidak mabuk, tidakkah ia tetap wanita?

Dan Meng Xin Hun adalah lelaki!

—–
Angin menderu. Dedaunan berterbangan.

Apakah musim gugur sudah tiba? Ataukah itu sekedar pertanda hujan yang akan tiba? Akankah cerahnya matahari hari ini berlalu begitu saja?

Meng Xin Hun berlari sekencangnya membelah deru angin pagi seperti hewan yang terluka mengejar matahari.

Ia terus berlari dan berlari seakan enggan berhenti, sementara air matanya terus mengalir seperti ribuan mutiara menetes terbang ke belakang terbawa angin.

Ia ingin. Ia mau.

Tapi, ia tidak bisa!

Pernah saat mereka masih berkelana dulu, di umurnya yang baru tiga belas itu, mereka harus beristirahat di sebuah gudang entah milik siapa.

Musim semi baru tiba. Cuaca terasa begitu panas dan gerah. Sedemikian gerah dan panasnya hingga ia terbangun di tengah malam dan tanpa sengaja melihat Kakak Gao sedang mandi di pojok gudang sana.

Sinar bulan mengintip dari jendela, menyinari tubuh putih halus yang basah tersiram air segayung demi segayung.

Tubuh itu berkilauan.

Air itu mengalir pada setiap lekuknya, pada celah bukit dadanya, menetes melalui perut dan pusarnya, pada lembah subur di bawah sana, sebelum akhirnya membasahi jenjang paha dan betisnya.

Seketika Meng Xin Hun merasa bara api di perutnya, atau lebih tepat lagi: di bawah perutnya! Membuat ia memejam mata, namun keringat sudah membasahi pakaiannya.

Usianya tiga belas.

Tapi sejak itu ia menjadi lelaki!

Mulai saat itu ia sering memikirkan Kakak Gao, memikirkan kilau tubuhnya, lekuk tubuhnya, keindahan yang terpampang di hadapannya.

Dewi Musim Semi!

Sejak itu pula setiap tidur malam ia selalu membalik tubuh ke arah tembok, tidak berani sembarang memejam mata. Karena setiap kali matanya terpejam, yang terbayang adalah Dewi Musim Semi.

Manakala bayangan itu datang padanya ia merasa berdosa, melarang dirinya membayangkan hal itu lagi. Hingga akhirnya ia menyimpan sebuah jarum. Setiap kali bayangan itu datang padanya, ia mengambil jarum guna menusuk kakinya.

Usianya semakin bertambah. Bekas tusukan jarum di kakinya pun semakin bertambah. Hingga ahirnya ia memiliki wanitanya sendiri. Tapi, tetap saja manakala matanya terpejam di atas tubuh wanita itu, yang terbayang adalah Kakak Gao.

Dan akhirnya di hari ini ia benar-benar bisa mendapatkan Kakak Gao.

Sungguh ia tidak pernah menduganya, tidak percaya. Walau tidak percaya, ia harus percaya.

Ia ingin.

Ia mau.

Tapi, ia tidak bisa!

Sewaktu Meng Xin Hun berlari dari rumah kayu itu ekspresi wajah Kakak Gao seperti ditampar kencang sekali. Bagi seorang wanita, ditinggal lelaki seperti itu adalah penghinaan terbesar.

Dan Meng Xin Hun tahu perasaan Kakak Gao.

Tapi ia tetap harus menolaknya.

Baginya, Kakak Gao adalah kakak perempuannya, ibunya, temannya. Ia tidak mau merusak hubungannya dengan Kakak Gao. Juga tidak mau menggeser kedudukan Kakak Gao di hatinya.

Tempat di hati itu tidak akan pernah tergeser oleh siapa pun.

Siapa pun!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: