Kumpulan Cerita Silat

02/01/2009

Pisau Terbang Li (62)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:21 pm

Rahasia Besar

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Puncak bukit adalah tempat sangat gersang. Angin musim gugur bertiup tanpa kenal belas kasihan.

Tangan Jin Wu Ming tiba-tiba meraba gagang pedangnya….tapi ini tangan kanannya, bukan tangan yang biasa ia gunakan untuk memegang pedang. Di tangan ini, pedang tidak bisa disebut senjata yang mematikan.

Ia hanya meraba gagang pedang itu, lalu segera melepaskannya.

Langkahnya makin lambat, akhirnya berhenti. Seolah-olah inilah ujung jalan.

Saat itulah terdengar suara tawa ShangGuan Fei.

ShangGuan Fei sudah menyusulnya. Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Berhentilah bersandiwara!”

Jin Wu Ming menoleh. Matanya tidak menunjukkan perasaan apapun. Ia hanya menatap ShangGuan Fei lekat-lekat. Setelah cukup lama akhirnya dia berkata, “Kau pikir ini hanya sandiwara?”

Sahut ShangGuan Fei, “Sudah pasti cuma sandiwara. Kau berpura-pura menguntit Si Tua Sun. Padahal tidak ada maksudnya kau menguntit dia.”

“Kalau begitu, mengapa aku menguntit mereka?”

“Karena aku.”

“Karena kau?”

“Karena kau sudah tahu bahwa aku sedang menguntitmu.”

Jin Wu Ming menyahut dingin, “Itu karena kau yang tidak tahu bagaimana menguntit orang.”

Kata ShangGuan Fei, “Mungkin. Namun aku tahu bagaimana caranya membunuhmu. Tentu saja kau pasti tahu bahwa aku datang untuk membunuhmu.”

Jin Wu Ming memang tahu, oleh sebab itu dia tidak terkejut.

Ah Feilah yang terkejut.

Kedua orang ini sudah pasti berasal dari kelompok yang sama. Mengapa mereka ingin saling membunuh?

ShangGuan Fei bertanya, “Sepuluh tahun yang lalu aku sudah ingin membunuhmu. Kau tahu sebabnya?”

Jin Wu Ming diam saja…. Ia hanya bertanya, tidak pernah menjawab.

ShangGuan Fei menjadi semakin kesal. Matanya penuh dengan bisa dan berteriak, “Jika kau tidak ada, aku bisa hidup lebih bahagia. Kau bukan saja mengambil kedudukanku, kau bahkan mengambil ayahku. Setelah kau datang, kau merampas semua milikku!”

Jin Wu Ming menyahut dingin, “Yang salah kau sendiri. Aku selalu lebih hebat daripada engkau.”

ShangGuan Fei mengertakkan gigi. Katanya, “Kau tahu dalam lubuk hatimu bahwa itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah…”

ShangGuan Fei berusaha menahan emosinya, namun gagal. Ia mulai berteriak dengan marah, “Karena kau adalah anak haram ayahku! Ibuku sampai mati saking sedihnya akibat perbuatan rendah ibumu!”

Mata Jin Wu Ming yang dingin dan kelabu tiba-tiba memicing, tampak seperti dua tetes darah.

Dua tetes darah kering yang sudah berubah warna.

Di atas bukit, rasa sedih juga terbayang di wajah Ah Fei. Sama seperti yang terbayang di wajah Jin Wu Ming, malah mungkin lebih dalam.

Lanjut ShangGuan Fei, “Kalian berdua telah menipuku selama ini. Kalian pikir aku tidak tahu?”

Ketika ia berkata ‘kalian berdua’, yang ia maksudkan adalah Jin Wu Ming dan ayahnya.

Ketika ShangGuan Fei mengucapkannya, ia hanya menyakiti dirinya sendiri, bukan orang lain.

Ia merasa lebih sedih lagi, sehingga ia bisa menjadi lebih tenang. ShangGuan Fei berbicara lagi, “Aku sudah tahu semuanya pada waktu ia membawamu pulang. Sejak hari itulah, aku menunggu kesempatan untuk bisa membunuhmu.”

Kata Jin Wu Ming, “Kau tidak punya banyak kesempatan.”

Sahut ShangGuan Fei, “Walaupun aku punya kesempatan sebelum ini, aku pun tidak akan membunuhmu. Karena kau masih berguna. Tapi sekarang, tidak lagi.”

Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Dulu kau adalah pedang di mata ayahku, pedang untuk membunuh. Ia tidak akan memaafkanku jika aku merusak senjatanya. Namun kini, kau tidak ada bedanya dengan besi rongsokan. Ayah tidak akan peduli akan hidup matimu lagi.”

Jin Wu Ming berpikir cukup lama, lalu mengangguk. Katanya, “Kau benar. Aku sendiri tidak peduli akan hidup dan matiku. Mengapa dia harus peduli?”

“Orang lain mungkin akan percaya pada bualanmu, namun aku tidak.”

“Aku membual?”

“Jika kau benar-benar tidak takut mati, mengapa kau melarikan diri?”

Tanya Jin Wu Ming, “Melarikan diri?”

Kata ShangGuan Fei tidak sabar, “Sandiwara kecilmu menguntit Si Tua Sun. Itu hanya topengmu untuk menutupi fakta bahwa kau sedang melarikan diri.”

“O ya?”

“Jika kau sedang menguntit orang lain, aku pasti akan membiarkanmu menguntit mereka. Supaya kau tahu kemana mereka pergi atau menunggu waktu yang tepat untuk membunuh mereka. Baru sesudah itu aku akan membunuhmu.”

Ia tertawa dan melanjutkan lagi, “Sayangnya kau memilih orang yang salah. Karena kau tidak akan mungkin mengetahui ke mana mereka pergi, apalagi membunuh mereka. Kau tidak pantas menguntitnya karena kau tidak sepadan dengan dia!”

Jin Wu Ming tiba-tiba tersenyum. Katanya, “Mungkin…”

Senyumnya tampak aneh, seolah-olah menyembunyikan suatu rahasia.

Tapi ShangGuan Fei tidak memperhatikan. Ia berkata, “Oleh sebab itu kau pasti hanya menguntit dia untuk menutupi hal lain. Kau hanya ingin menunda waktuku membunuhmu.”

Lalu ia menatap Jin Wu Ming lekat-lekat dan berseru, “Karena kau takut mati!”

“Takut mati?”

“Sebelum ini kau tidak takut mati, karena memang tidak ada seorang pun yang mampu membunuhmu dulu.”

Terdengar suara ‘Ding’, dan terlihat Cincin Naga dan Burung Hong di tangan ShangGuan Fei. Katanya dingin, “Namun kini, aku dapat membunuhmu kapan saja aku mau.”

Jin Wu Ming diam saja sampai cukup lama. Lalu ia berkata, “Sepertinya kau memang serba tahu.”

Sahut ShangGuan Fei, “Paling tidak aku jauh lebih pandai daripada yang kau sangka.”

Tiba-tiba Jin Wu Ming tertawa, “Sayangnya ada satu hal yang tidak kau ketahui.”

“Apa?”

Jawab Jin Wu Ming, “Tidak ada gunanya kau tahu segala sesuatu yang lain. Jika kau tidak tahu hal ini, kau pasti akan mati.”

“Jika itu adalah hal yang sangat penting, maka aku pasti mengetahuinya.”

“Ah, tapi kau tidak mungkin tahu. Karena itu adalah rahasia pribadiku. Dan aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun…”

Tanya ShangGuan Fei, “Apakah kau ingin memberitahukannya kepadaku?”

Jawab Jin Wu Ming, “Ya. Aku akan memberitahukannya kepadamu sekarang. Tapi ada satu syarat.”

“Apa?”

“Jika kuberitahukan padamu, maka kau harus mati!”

ShangGuan Fei menatapnya, lalu tertawa keras-keras.

Kata-kata Jin Wu Ming memang sangat menggelikan.

Bagaimana seseorang yang baru dibuat cacad dapat membunuh?

Di antara tawanya ShangGuan Fei berkata, “Kau ingin membunuhku dengan apa? Apa kau akan menggigitku sampai mati?”

Jawaban Jin Wu Ming sangat pendek, sangat tenang, hanya satu kata.

“Tidak.”

Tawa ShangGuan Fei mulai reda.

Sepertinya Jin Wu Ming tidak sedang berusaha menakut-nakuti ataupun sedang bercanda dengan jawabannya itu.

Kata Jin Wu Ming, “Untuk membunuh, aku gunakan tangan ini!”

Ia mengangkat tangannya, tangan kanannya.

ShangGuan Fei masih tertawa, tapi kini sudah tampak dipaksakan. Katanya, “Tangan itu…. membunuh anjing pun tidak bisa.”

Kata Jin Wu Ming, “Aku hanya membunuh orang, tidak membunuh anjing.”

ShangGuan Fei berhenti tertawa. Cincin Naga dan Burung Hong telah meluncur ke depan.

Ada perkataan ‘Seinci lebih pendek, seinci lebih berbahaya’. Cincin Naga dan Burung Hong ini adalah semacam itu. Dan jurus ini, ‘Naga Terbang Menari Mengelilingi Burung Hong di Udara’, adalah jurus yang paling mematikan. Namun kalau seseorang belum terdesak hampir kalah, atau tidak tahu pasti bahwa musuhnya dapat menangkis serangan ini atau tidak, sebaiknya ia tidak menggunakan jurus ini. Sekali dipakai, musuh tidak akan bisa lolos.

Pada saat yang sama, cahaya pedang pun berkilat.

Pedang itu, dalam sekejap saja, sudah tertancap di leher ShangGuan Fei.

Ujung pedang itu masuk sampai lebih dari dua pertiga bagian leher.

Sepertinya ShangGuan Fei masih bisa bernafas. Urat-urat mulai tampak menonjol di keningnya. Bola matanya serasa hampir copot, menatap Jin Wu Ming.

Dalam kematian sekalipun, ia tidak bisa percaya bagaimana pedang Jin Wu Ming dapat menusuknya.

Jin Wu Ming hanya menatapnya dingin. Katanya, “Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku. Itu rahasiaku!”

Pedang pun ditarik dan darah muncrat keluar.

ShangGuan Fei masih memandang Jin Wu Ming, penuh dengan rasa tidak percaya, rasa sedih, rasa kaget….

Ia masih tidak bisa percaya, sampai ia mati.

Namun ia harus percaya.

Cincin Naga dan Burung Hong di tangan ShangGuan Fei mengenai lengan kiri Jin Wu Ming.

Lengannya yang patah.

Ia menggunakan lengan ini untuk menangkis serangan cincin ShangGuan Fei, lalu dengan cepat melakukan serangan balasan dengan tangan kanannya. Pedang pun langsung menembus leher ShangGuan Fei.

Serangan yang sangat licik.

Serangan itu pun sangat tepat. Sangat mematikan. Sangat keji.

‘Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku. Itulah rahasiaku!’

Ia tidak berdusta.

Namun kebenaran ini sangat sulit dipercaya, sangat mengagetkan.

ShangGuan Fei sudah hidup bersama Jin Wu Ming lebih dari sepuluh tahun. Tidak sekalipun ia pernah melihat Jin Wu Ming berlatih menggunakan tangan kanannya. Itulah sebabnya dalam kematian sekalipun ia tidak tahu darimana Jin Wu Ming mempelajari ilmu pedang dengan tangan kanannya.

Namun mau tidak mau ia harus percaya. Karena kematiannya telah menjadi bukti nyata.

Jin Wu Ming memandangi tubuh ShangGuan Fei. Ia terlihat sedikit kecewa.

Setelah lama memandang, akhirnya ia menghela nafas perlahan dan menggumam, “Mengapa kau ingin membunuhku? Mengapa aku harus membunuhmu?….”

Ia memutar badan dan berjalan pergi.

Ia masih berjalan dengan gaya aneh, seolah-olah sedang berusaha membuat harmoni dengan sesuatu yang lain.

Kedua cincin itu masih tertancap di lengan kirinya.

Ragu-ragu, terkejut, tidak percaya.

Itulah perasaan Ah Fei saat itu.

Ilmu pedang Jin Wu Ming sangat mengerikan. Mungkin memang tidak lebih cepat daripada ilmu pedangnya, namun lebih mematikan, lebih penuh rahasia.

Apakah aku akan pernah bisa mengalahkannya?

Walaupun ini adalah fakta, ini adalah fakta yang tidak akan bisa diterima oleh Ah Fei!

Memandang punggung Jin Wu Ming seakan-akan membuat tingkat adrenalin Ah Fei meluap-luap dalam tubuhnya. Ia ingin sekali segera meloncat dan berlari turun bukit untuk mengejarnya.

Namun sebuah tangan menahan tubuhnya dari belakang.

Tangan itu sangat tegas dan penuh tenaga.

Ah Fei menoleh dan menemukan mata Li Xun Huan yang tenang dan bersahabat.

Yang menahan kepergian Ah Fei bukanlah tangannya, melainkan matanya.

Ah Fei menundukkan kepalanya dan mengeluh. Katanya, “Mungkin dia memang lebih hebat daripada aku.”

Kata Li Xun Huan, “Kau hanya lebih buruk daripada dia dalam satu hal saja.”

“Apa itu?”

“Demi membunuh, Jin Wu Ming bisa melakukan apa saja, termasuk mengorbankan nyawanya. Kau tidak bisa.”

Ah Fei terdiam cukup lama, lalu berkata, “Kau memang benar. Aku tidak bisa.”

Kata Li Xun Huan, “Kau tidak bisa, karena kau mempunyai perasaan. Ilmu pedangmu mungkin memang keji, namun kau adalah ahli pedang yang penuh perasaan.”

“Jadi…aku tidak mungkin bisa mengalahkan dia?”

Li Xun Huan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Salah. Kau pasti bisa mengalahkannya.”

Ah Fei tidak berusaha memotong. Ia hanya mendengarkan.

Lanjut Li Xun Huan, “Dengan perasaan, seseorang dapat memiliki hidup. Dengan hidup, seseorang dapat memiliki jiwa, dapat berubah.”

Ah Fei berpikir lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia mengangguk dan berkata, “Aku mengerti sekarang.”

“Namun ini bukanlah hal yang terpenting.”

“Lalu apa lagi?”

“Yang terpenting adalah bahwa kau tidak perlu membunuh dia. Kau tidak boleh membunuh dia”

Tanya Ah Fei bingung, “Mengapa aku tidak perlu membunuh dia?”

“Karena ia sudah mati. Mengapa harus dibunuh lagi?”

“Kau benar. Hatinya sudah mati….jadi tidak perlu dibunuh lagi. Tapi mengapa aku tidak boleh membunuh dia?”

Li Xun Huan tidak menjawab. Ia malah balik bertanya, “Tahukah kau mengapa ia melatih tangan kanannya secara diam-diam?”

Tanya Ah Fei, “Menurutmu karena apa?”

“Menurut pendapatku, karena ShangGuan JinHong.”

Kata Ah Fei, “Ia bertempur secara frontal dengan Cincin Naga dan Burung Hong ShangGuan Fei. Ia ingin menemukan cara untuk mengalahkan Cincin Naga dan Burung Hong.”

Sahut Li Xun Huan, “Pikiranku juga begitu.”

“Dengan begitu….jika suatu hari perlakuan ShangGuan JinHong terhadap dia berubah, Jin Wu Ming sudah mempunyai cara untuk membunuh ShangGuan JinHong.”

“Mungkin dia akan gagal, tapi paling tidak ia bisa mencoba.”

Ah Fei berhenti bicara. Matanya menjadi lebih santai.

Sepertinya ia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.

Kata Li Xun Huan, “Alasan mengapa Cincin Naga dan Burung Hong milik ShangGuan JinHong berada di urutan kedua dalam Kitab Persenjataan, bukanlah karena senjata itu sangat mematikan atau penuh tipu daya, namun karena senjata itu sangat pasti.”

“Pasti?”

“Ia telah berhasil melatih senjata yang paling berbahaya di dunia sampai pada taraf ‘pasti’. Itulah yang membuat ShangGuan JinHong berada di atas yang lain. Kemampuan ShangGuan Fei masih jauh di bawah ayahnya.”

“Benarkah?”

“ShangGuan Fei benci sekali pada Jin Wu Ming, terutama karena ShangGuan Fei menganggap bahwa ayahnya tidak mengajarkan kepadanya ilmu-ilmu rahasia tingkat yang tertinggi. Ia malahan mengajarkannya kepada Jin Wu Ming.”

Ah Fei merenung.

Lanjut Li Xun Huan, “Jika ShangGuan JinHong tidak menggunakan jurus ‘Naga Terbang Menari Mengelilingi Burung Hong Di Udara’, kemungkinan besar Jin Wu Ming tidak akan dapat membunuhnya.”

“Mungkin benar.”

“Namun ShangGuan JinHong mungkin akan menggunakannya, karena ia tahu bahwa lengan kiri Jin Wu Ming sudah patah, jadi ia tidak perlu terlalu waspada. Oleh sebab itu, Jin Wu Ming masih punya kesempatan untuk bisa membunuhnya.”

Ah Fei seperti baru saja terjaga dari mimpi. Ia tiba-tiba berseru, “Tapi apapun yang terjadi ShangGuan JinHong adalah ayah Jin Wu Ming!”

Sahut Li Xun Huan, “Tidak mungkin.”

“Tapi kata ShangGuan Fei….”

Li Xun Huan memotongnya, “Itu hanya terkaan ShangGuan Fei. Terkaan yang salah.”

“Kalau begitu, mengapa ia mengatakan semua itu? Apakah dia bohong?”

“Ia memang tidak bohong. Ia hanya keliru menafsirkan hal-hal yang terjadi.”

“Keliru?”

Kata Li Xun Huan, “Ia bilang bahwa setelah kedatangan Jin Wu Ming, ayahnya seperti menjauhi dirinya. Ini memang benar. Tapi dia tidak menyadari bahwa ayahnya melakukan ini karena mencintainya.”

Tanya Ah Fei, “Bagaimana mungkin ayahnya menjauhi dia karena mencintainya?”

“Karena ShangGuan JinHong memang bermaksud untuk membuat Jin Wu Ming sebagai mesin pembunuhnya. Bisa dikatakan bahwa hidup Jin Wu Ming berakhir di tangan ShangGuan JinHong.”

Ah Fei berpikir sejenak. Lalu katanya, “Kau benar. Jika seseorang hanya hidup untuk membunuh, hidupnya pasti sangat menderita.”

“Itulah sebabnya Jin Wu Ming sudah mati saat ia bertemu ShangGuan JinHong.”

Lanjut Li Xun Huan lagi, “Namun ShangGuan JinHong juga adalah seorang manusia. Manusia mencintai anaknya sendiri dan tidak akan membiarkan anaknya mengalami siksaan semacam itu. Oleh sebab itulah, ShangGuan JinHong tidak mengajarkan ilmu silat yang tertinggi kepada ShangGuan Fei.”

Ia tertawa dan menambahkan, “Sayangnya ShangGuan Fei tidak pernah mengerti maksud ayahnya yang sesungguhnya.”

Kata Ah Fei tiba-tiba, “Kalau begitu, sebenarnya ShangGuan Fei pun mati di tangan ayahnya juga.”

Kata Li Xun Huan, “Jika seseorang menginginkan terlalu banyak, ia pasti akan membuat banyak kesalahan…”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: