Kumpulan Cerita Silat

02/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (02)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:44 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

2. Gou Lou Da

Ia memanggilnya Kakak Tertua Gou, “Gou Lou Da”.

Saat pertama ia bertemu Gou Lou Da, usianya baru enam tahun. Waktu itu ia sudah tidak makan selama tiga hari tiga malam. Rasa lapar bagi anak berusia enam tahun lebih mengerikan daripada kematian.

Sebagai anak berusia enam, ia telah tahu bagaimana rasanya kematian. Ia terkapar lapar hingga pingsan di tengah jalan.

Waktu itu ia merasa sudah benar-benar mati. Mungkin ia memang sebaiknya mati.

Namun ia tidak mati karena ada sepasang tangan yang menolongnya, sepasang tangan yang berbentuk indah walau agak sedikit kebesaran. Tangan itu memberinya setengah kerat bakpau karena setengah kerat lagi tetap dimakan oleh sang pemilik tangan.

Sepasang tangan milik Gou Lou Da.

Bakpau itu dingin lagi keras. Begitu ia menerima sepotong bakpau dari tangan Gou Lau Da, air matanya bercucuran seperti mata air di musim semi, membasahi bakpau itu. Selamanya ia tidak akan pernah melupakan rasa air mata yang asin dan pahit bercampur dengan rasa bakpau yang keras dan dingin.

Ia pun selamanya tidak akan pernah melupakan tangan Gou Lou Da.

Kelak kemudan hari, sepasang tangan itu tidak lagi semata memberi sekerat bakpau keras dan dingin, melainkan uang, emas, dan permata. Berapa pun yang ia minta, apa pun yang ia minta, asalkan dirinya meminta, Gou Lou Da pasti akan memberikan.

Dan terkadang sepasang tangan itu juga memberinya secarik kertas. Di atas kertas biasanya tertulis nama orang, tempat, dan jangka waktu

Kertas itu adalah kertas tagihan nyawa.

Kali ini kertas itu berbunyi: Sun Yu Bo, Shu Zhou, 4 Bulan.

Artinya, dalam empat bulan Sun Yu Bo dari kota Shu Zhou harus mati di tangan Meng Xin Hun.

Semenjak Meng Xin Hun membunuh Jin Qiang Li, ia tidak perlu menghabiskan waktu hingga tiga bulan untuk mencabut nyawa orang.

Sejak membunuh Jin Qiang Li, waktu terlama yang ia perlukan sebagai malaikat pencabut nyawa cukup 41 hari. Tidak kurang, tidak lebih.

Itu bukan berarti karena pedangnya cepat, tapi karena hatinya dingin.

Dan tangannya terlebih dingin lagi.

Sejak itu ia tahu, sebagai pembunuh berdarah dingin tidak perlu menghabiskan waktu tiga bulan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan Gou Lou Da pun mengetahui itu.

Namun sekarang waktu yang diberikan Gou Lou Da padanya adalah empat bulan. Artinya, Sun Yu Bo adalah orang yang hebat. Membunuh orang ini pasti sangat sulit.

Nama Sun Yu Bo bagi Meng Xin Hun tidaklah terlalu asing lagi. Setiap orang di dunia persilatan pasti tahu siapa Sun Yu Bo. Bagi yang tidak mengenal Sun Yu Bo, ibarat pengikut Budha yang tidak mengenal Dewa Ru Lai.

Dalam pandangan para tokoh dunia persilatan, Sun Yu Bo adalah Dewa Ru Lai, dewa kematian, dalam wujud manusia. Bila ia sedang baik, ia bisa mengemong dengan sabar seorang anak yang tidak ia kenal selama tiga hari tiga malam. Akan tetapi di kala murka, dalam tiga hari ia bisa meratakan tiga buah gunung.

Namun nama Sun Yu Bo yang terkenal itu bagi Meng Xin Hun tiada arti. Karena, baginya, nama itu hanya berarti satu kata: mati!

Terbayang oleh Meng Xin Hun saat pedangnya menusuk jantung Sun Yu Bo. Ia pun dapat merasakan pedang Sun Yu Bo menusuk jantungnya. Bila bukan Sun Yu Bo yang mati, maka dirinyalah yang mati. Baginya tidak ada pilihan, membunuh atau dibunuh.

Siapa yang akan mati, ia tidak terlalu perduli.

—–

Subuh tiba.

Ia masih berbaring di atas cadas.

Matahari mulai datang menyapu bintang dan rembulan. Di ufuk timur, cahayanya semakin gemilang. Kabut pagi terlihat menggumpal, perlahan menipis buyar terhembus angin dan matahari yang menyinarinya.

Tak seorang pun tahu asap kabut itu akan menghilang ke mana, seperti juga tak seorang pun tahu kabut itu datang dari mana.

Apakah kehidupan Meng Xin Hun pun seperti kabut? Entah datang dari mana dan menghilang entah kemana?

Di antara kabut tipis yang tersisa perlahan ia berdiri di atas cadas, berjalan perlahan menuruni kaki bukit.

Di bawah sana terlihat sebuah rumah kayu, lampunya masih tetap menyala. Saat bayu berhembus, sayup-sayup terdengar tawa dan suara orang bersulang terbawa angin.

Itulah rumahnya, araknya, juga perempuannya.

Orang di dalam rumah itu tidak mengetahui bahwa kegembiraan mereka sudah akan berakhir mengikuti hilangnya malam yang telah berganti pagi, menghadirkan kesedihan nyata mengikuti datangnya hari ini.

Meng Xin Hun mendorong pintu, berdiri di sana, dan melihat sekitarnya. Mereka yang berada di dalam tinggal empat atau lima orang. Sebagian hampir telanjang, sisanya sudah sepenuhnya telanjang. Ada yang tertidur, ada yang meniduri, ada yang mabuk, ada juga yang termenung semata.

Saat melihat kedatangannya, orang yang mabuk mulai setengah sadar, yang tidur tetap tertidur, yang meniduri berhenti meniduri, yang termenung tidak lagi termenung.

Dua perempuan telanjang berlari menghampiri Men Xin Hun. Dua pasang payudara yang hangat kenyal menempel ke tubuhnya. Mereka sangat cantik lagi muda, payudaranya putih lagi besar. Sedemikian putih dan kenyalnya hingga urat-urat darah yang kebiruan samar membayang indah mengikuti setiap geletarnya. Bagi mereka, menjual diri bukan hal memalukan, pun memamerkan keindahan tubuh justeru membanggakan. Karenanya, tanpa sungkan mereka tertawa riang berlompatan menimbulkan geletar yang menggairahkan.

“Kemana saja? Kami di sini tak bisa minum tanpamu,” kata salah seorang perempuan itu dengen kenes.

Meng Xin Hun memandangnya dingin.

Wanita-wanita ini sengaja datang ke rumahnya untuk bertemu dengannya. Demi wanita-wanita ini uang Meng Xin Hun mengalir sederas air.

Setengah hari yang lalu mungkin ia masih bisa memeluk para gadis itu, bagai seseorang pembaca buku cerita-cerita manis yang bahkan ia sendiri pun tidak mempercayainya.

Tapi sekarang ia hanya ingin berkata satu patah saja. “Keluar!” bentaknya.

Lelaki yang tadi meniduri dan masih berbaring di atas ranjang tiba-tiba berdiri. Tubuhnya yang telanjang seperti tembaga, berkilau layaknya ikan. Pakaiannya telah terlempar entah ke mana.

Namun di sisinya nampak sebilah golok.

Seperti tubuh telanjangnya, golok itu berwarna tembaga, batang goloknya berkilauan seperti sisik ikan, sementara kelelakiannya telah separuh tertidur masih berkilat kelelahan. Bagi lelaki itu, mengenakan atau tidak mengenakan pakaian sama saja. Malahan jika sebilah golok tidak berada di tangannya, ia juseru merasa telanjang.

Meng Xin Hun dingin menatapnya, sesaat kemudian bertanya, “Kau siapa?”

Lelaki itu tertawa kemudian menjawab, “Kau sudah mabuk. Aku ini siapa pun kau lupa. Aku adalah tamu yang kau udang. Kita awalnya minum arak lalu berkenalan. Kau sendiri yang mengajakku ke mari.” Tiba-tiba seperti teringat sesuatu ia murka dan berkata, “Aku ke sini karena ada perempuanmu. Mengapa pula kau usir mereka?”

Dingin tatapan Meng Xin Hun. “Kau pun keluar!”

Wajah lelaki itu berubah seketika. Tangannya yang besar dan kasar seketika menarik goloknya keluar.

“Apa kau bilang?” bentaknya sangat marah. Begitu cahaya golok diayun, orangnya sudah meloncat dan berteriak, “Bila kau mabuk dan melupai aku itu tidak mengapa. Tapi, jangan lupakan golok sisik ikanku!”

Golok sisik ikan bukan golok sembarangan, harganya mahal, pun golok itu sangat berat. Hanya orang kaya yang bisa memilikinya, hanya pesilat tangguh yang bisa menggunakannya.

Di seantero dunia persilatan hanya tiga orang yang menggunakan golok semacam itu. Tapi Meng Xin Hun tidak perduli siapa orang ini. Meng Xin Hun hanya bertanya, “Apa pernah kau gunakan golokmu membunuh orang?”

“Ya!”

“Sudah berapa membunuh orang?”

Dengan sombong orang itu menjawab, “Dua puluh, mungkin lebih! Tidak ada gunanya mengingat hal itu.”

Men Xin Hun mendelik padanya. Tubuhnya serasa terbakar mendengar jawaban itu. Meng Xin Hun merasa membunuh merupakan hal menyedihkan. Ia tidak mengerti mengapa ada manusia yang sudah membunuh pun masih merasa bangga dan begitu angkuh. Ia membenci orang seperti itu seperti ia membenci seekor ular beracun.

Wajah seperti tembaga itu tertawa dingin. “Hari ini aku sedang tidak ingin membunuh, apalagi tadi aku sudah minum arak dan main dengan tiga perempuanmu.”

Meng Xing Hun seketika meloncat ke depan lelaki itu. Begitu orang sadar bahwa Meng Xin Hun sudah di depannya, sebuah kepalan keras telah menghajar wajahnya.

Para gadis menjerit ketakutan. Lelaki itu seketika merasa langit runtuh, tanah terbelah. Ia tidak lagi merasakan pukulan kedua. Bahkan sakit dan takut pun sementara ia tidak rasakan lagi.

Setelah lama ia baru merasakan angin dingin menerpa wajahnya. Angin itu terasa seperti jarum menusuk tulang dan menyengat otaknya. Tidak sengaja ia meraba mulutnya, terasa lembut seperti sepotong daging yang remuk; tapi tidak teraba bentuk bibir, juga tidak gigi, tidak pula hidung.

Sekarang ia baru merasa takut. Rasa takut yang keluar dari hatinya yang paling dalam. Kemudian ia berteriak sekerasnya.

Teriakannya sedemikian menyayat seperti lolong anjing hutan yang digorok pisau pemburu.

—–

Di rumah kecil itu kini tinggal ia seorang serta sebotol arak di atas meja.

Meng Xin Hun meraihnya, membawanya berbaring di ranjang, kemudian menaruh botol itu di dada dengan posisi miring ke tepi bibirnya.

Arak secara perlahan mengalir ke mulutnya, setengah lagi mengalir seperti sungai tumpah ke dadanya.

Arak yang pahit mencecap lidah, naik ke tenggorokan, dan terus hingga menendang ke kepala. Seketika seperti dirinya tenggelam di lautan arak.

Pun tiba-tiba ia merasa pening.

Sebelum membunuh, Meng Xing Hun selalu berada dalam keadaan sadar dan tidak pernah mabuk.

Namun kali ini berbeda.

Ia merasa tidak sanggup membunuh Sun Yu Bo.

Ia merasa Sun Yu Bo akan membawa kesialan baginya.

—–

Tujuh poci arak sudah ia minum. Mata perempuan itu semakin besar dan berbinar.

Orang yang meminum arak bisa dibedakan atas dua macam. Pertama, bila sudah meminum arak matanya jadi merah dan suram. Kebanyakan orang adalah tipe seperti ini.

Namun perempuan itu tidak seperti kebanyakan orang, tidak masuk kategori pertama. Begitu ia meminum poci kesembilan, matanya semakin seperti bintang. Jelas ia masuk kategori kedua.

Di rumahnya ada enam hingga tujuh orang sedang melempar dadu. Suara dadu di kocok seperti genta bertalu.

Lampu terbuat dari perak. Cahaya lampu menyinari baran-barang antik dan mewah di seluruh ruangan, juga menyinari meja besar yang seluruhnya terbuat dari giok itu. Wajah-wajah mereka berkeringat di bawah cahaya lampu.

Dan perempuan itu merasa sangat puas.

Iniah rumahnya. Semua barang mewah di rumah ini miliknya. Dan semua ini hanya sebagian dari kekayaannya.

Mereka yang berada di rumahnya adalah orang-orang kaya, ternama, dan berpengaruh. Dulu mereka sama sekali tidak memandang sebelah mata padanya. Tapi sekarang mereka semua adalah temannya.

Perempuan itu tahu, begitu ia membuka mulut, mereka akan rela memenuhi segala permintaannya. Karena, mereka pun sering meminta bantuan kepadanya. Kapan pun, ia siap meladeni permintaan mereka, yang paling aneh sekali pun.

Orang yang duduk di dekat pintu adalah lelaki setengah baya. Kota ini bernama Lu Dong. Dan lelaki itu adalah orang paling kaya dan berpengaruh di Lu Dong.

Pernah suatu kali di kala mabuk lelaki itu berkata, “Semua makanan pernah kucicipi, hanya belum pernah kumakan daging unta yang utuh dipanggang.”

Hari kedua ketika membuka mata, ia melihat empat orang masuk menggotong sarapannya, yaitu seekor unta utuh yang sudah matang dipanggang.

Di rumah perempuan itu siapa pun boleh meminta yang aneh-aneh, dan barang sekali pun ia tidak pernah mengecewakan.

Sepuluh tahun yang lalu perempuan itu tidak memiliki apa-apa. Pakaian utuh pun ia tidak punya. Ia terpaksa membiarkan mata lelaki melihat bagian-bagian tubuhnya yang tidak tertutup sempurna.

Waktu itu siapa pun yang memberinya selembar pakaian pasti akan mendapat semua miliknya, yang paling berharga sekali pun.

Namun sekarang ia sudah memiliki segalanya.

—–

Bila mata perempuan itu sudah semakin terang berarti ia sudah banyak meminum arak.

Bila dadu terus berdenting berarti barang taruhan pun semakin banyak.

Melihat wajah orang-orang itu ia merasa lucu. Lelaki yang biasanya terlihat sangat sopan manakala sudah berjudi dan main perempuan seketika berubah menjadi segerombolan anjing dan babi.

Ingin muntah ia melihatnya.

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Aku yang jadi bandar, apakah Nyonya Besar ingin bertaruh?”

Perempuan itu menghampiri dan menaruh selembar cek di atas meja.

Yang menjadi bandar adalah seorang kaya. Biasanya ia selalu memamerkan tubuhnya yang tinggi besar di hadapan para perempuan. Juga sering memamerkan cincin gioknya yang mahal. Ia melakukan semua itu untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang kaya raya bertubuh kekar.

Perempuan itu tahu lelaki ini sedang menggodanya.

Ia sudah sering digoda, tapi itu dulu. Sekarang ialah yang memilih lelaki, bukan lelaki yang memilihnya. Ia yang menggoda lelaki, bukan lelaki yang menggodanya.

Lelaki bandar itu melempar dadu, yang keluar angka sebelas. Ia tertawa seperti anjing lapar hingga terlihat giginya berwarna kuning dan hitam.

Perempuan itu mengambil dadu, mengocoknya, dan yang keluar angka 4 merah.

Dalam keterpaksaannya, sang Bandar masih coba tertawa. Ia kalah total! Ketika ia meraih cek di atas meja, angka yang tertulis adalah 50.000 tail. Wajah lelaki itu berubah lebih hitam dan lebih kuning daripada giginya.

Perempuan itu tertawa renyah. Katanya, “Janganlah terlalu dibuat serius, ini hanya permainan. Bila Tuan tidak cukup membawa uang, cukuplah diganti dengan dua kali gongngongan anjing. Semua kami di sini pasti senang.”

Siapa pun rela mengganti 50.000 tail dengan dua kali salakan anjing asalkan dianggap lunas.

Namun dengan cepat perempuan itu membuka pintu dan segera berlalu.

Ia takut jika tetap di ruangan itu akan muntah di hadapan tamu-tamunya.

—–

Subuh tiba.

Matahari mulai datang menyapu bintang dan rembulan. Di ufuk timur, cahayanya semakin gemilang. Kabut pagi yang terlihat menggumpal perlahan menipis buyar terhembus angin dan matahari yang menyinarinya.

Tak seorang pun tahu asap kabut itu akan menghilang ke mana. Seperti juga tak seorang pun tahu kabut itu datang dari mana.

Perempuan itu menelusuri jalan kecil membelah kabut, melewati pegunungan, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah kayu di kaki bukit.

Begitu masuk, ia menjumpai sosok Meng Xin Hun yang berbaring entah tertidur entah mabuk. Perlahan perempuan itu menghampiri dan mengulurkan tangannya.

Sebenarnya Meng Xin Hun tidak tertidur, juga tidak mabuk. Ia hanya tidak mau tahu akan keadaan sekitarnya.

Mendengar langkah orang ia membuka sedikit mata dan melihat tangan perempuan itu, sepasang tangan berbentuk indah walau agak sedikit kebesaran. Pemilik tangan seperti itu pasti mempunyai sikap yang keras, hati yang keras.

Siapa pun tidak akan percaya bahwa tangan itu pernah menggali tanah untuk mendapat ubi jalar, juga pernah bekerja di tambang batu bara.

Perempuan itu menatap Meng Xing Hun dan mengamil botol arak dari dadanya. “Kau tidak boeh minum terlalu banyak,” katanya.

Suara perempuan itu lembut namun nadanya memerintah. Memang hanya perempuan ini yang bisa memerintah Meng Xin Hun. Perempuan itulah yang pernah menolong jiwanya ketika berusia enam, ketika sekerat bakpau dingin lagi keras lebih mewah daripada emas permata.

Itulah jaman perang saat banyak orang mati kelaparan. Di masa itu lumrah jika ada orang mati kelaparan. Sebaliknya, jika ada yang tidak mati kelaparan, itulah kejadian luar biasa.

Tanpa rumah, tidak ada ayah, tidak ada ibu, namun anak berusia enam tahun bisa bertahan hidup benar-benar suatu mukjizat yang luar biasa.

Mukjizat itu diciptakan oleh Gao Lao Da.

Gao Lao Da bukan berarti “kakak lelaki paling besar”, melainkan “kakak perempuan paling besar”.

Ia menciptakan empat mukjizat.

Empat anak telah ia selamatkan dan mengikutinya. Yang paling kecil berusia lima tahun, sementara usia Gao Lao Da saat itu baru 13 tahun.

Demi menghidupi empat anak dan dirinya, semua pekerjaan sudah pernah ia kerjakan. Ia pernah mencuri, mencopet, menipu.

Ia juga pernah menjual diri.

Saat usianya 14 tahun, ia tukar keperawanannya dengan dua kilo daging. Ia tidak pernah melupakan wajah si tukang daging.

Lima belas tahun kemudian ia datang kembali ke tukang daging itu dan memasukkan sebilah pedang panjang.

Tepat ke dalam rongga mulutnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: