Kumpulan Cerita Silat

01/01/2009

Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang (01)

Filed under: Meteor, Kupu-Kupu dan Pedang — ceritasilat @ 4:42 pm

Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada danivn)

1. Meng Xin Hun

Meski cahaya meteor hanya singkat, tak satu pun isi semesta yang mampu menandingi pendar gemilangnya. Manakala meteor muncul ke permukaan, bahkan bintang abadi yang paling terang pun tak mampu menandingi kemilaunya.

Hidup seekor kupu-kupu begitu rapuh, bahkan lebih rapuh dari setangkai bunga yang luruh. Kupu-kupu hanya hidup di musim semi. Ia begitu indah, bebas melayang kemana pun terbang. Dalam usianya yang singkat, kupu-kupu tetap abadi dikenang.

Hanya pedang yang sejatinya mendekati keabadian. Hidup mati seorang pendekar sangat tergantung pada pedangnya. Jika pedang memiliki perasaan, haruskah hidup mati seorang pendekar sesingkat meteor?

—–

Tatkala meteor jatuh, ia sedang berbaring di atas sebuah batu cadas.

Ia senang berjudi dan minum arak. Pun ia senang main perempuan. Selama ini dalam hidupnya ia sudah mencicipi berbagai macam perempuan. Juga membunuh orang.

Namun manakala meteor muncul ke permukaan, ia tidak pernah melewatkannya. Ia selalu berbaring di sana menanti meteor membelah angkasa.

Selama ia bisa merasakan pendar cahayanya, menikmati kilatan pesonanya, ia akan berbaring di sana.

Itulah saat terindah bagi dirinya.

Ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu sedikit pun karena itu merupakan satu-satunya kesenangan dalam hidupnya.

Pernah ia bermimpi menangkap meteor. Mimpi itu sudah lama berselang. Sekarang mimpinya sudah tidak banyak lagi, malah hampir tidak ada. Karena kini bagi orang semacamnya, bermimpi semata perbuatan yang menggelikan dan sia-sia.

Dan di sinilah ia tengah berbaring, di atas sebuah cadas di puncak bukit, tempat terdekat bagi jatuhnya meteor.

Di bawah sana terlihat sebuah rumah kayu, lampunya masih menyala. Saat bayu berhembus, sayup-sayup terdengar suara tawa dan orang bersulang terbawa angin.

Itulah rumah kayunya, araknya, juga perempuannya. Namun ia lebih suka berbaring di sini, memilih menyendiri di tempat ini.

Cahaya meteor sudah lama menghilang. Air di pinggiran batu masih mengembang. Waktu sudah lewat untuk bersenang-senang. Sekarang ia harus kembali menjadi dingin dan tenang. Benar-benar dingin dan tenang. Sebab, sebelum membunuh, seseorang memang harus bersikap dingin dan tenang.

Dan ia harus membunuh orang.

Tapi ia tidak suka membunuh orang. Setiap kali pedangnya menusuk jantung dan darah menetes di ujung pedangnya, ia tidak merasa senang.

Ia justeru menderita.

Walau ia sangat menderita, ia berusaha menahannya karena ia harus membunuh. Bila tidak membunuh, ia yang akan dibunuh.

Terkadang manusia hidup bukan untuk menikmati kesenangan, melainkan menanggung penderitaan, karena hidup adalah sebuah perjuangan. Juga tanggung jawab.

Siapa pun tidak ada yang bisa lari dari tangung jawab itu!

Maka ia pun mulai mengenang saat pertama membunuh orang.

—–

Luo Yang. Sebuah kota besar.

Di kota itu terdapat berbagai macam orang. Ada pahlawan, ada pesilat. Ada orang orang kaya, ada orang miskin. Ada berbagai macam perkumpulan dan nama besar lainnya.

Namun nama-nama mereka tidak ada yang seperti Jin Qiang Li, “Li si Tombak Emas”.

Orang yang bagaimana kaya pun belum tentu bisa menyamai setengah dari kekayaan Jin Qiang Li. Juga tidak ada yang bisa menahan jurus Qi-qi-si-shi-jiu dari Jin Qiang Li. Musuhnya sangat banyak hingga Jin Qiang Li sendiri sulit mengingatnya.

Tapi selama ini tidak ada yang berani mencoba membunuh Jin Qiang Li. Bahkan sekedar berpikir untuk membunuhnya pun tidak ada yang berani.

Anak buah Jin Qiang Li sangat tangguh, kungfu mereka sangat terkenal, juga terdapat dua “raksasa” berbadan sangat besar yang selalu membopong tandu Jin Qiang Li “si Tombak Emas” ke mana pun pergi. Dan masih ada lagi: tubuhnya selalu dibalut pakaian yang kebal dari pedang dan parang.

Maka mustahil untuk membunuhnya.

Jadi, walau kungfumu lebih hebat dari Jin Qiang Li, tapi bila ingin membunuhnya, kau harus melewati tujuh lapis penjagaan dari para penjaga yang memiliki kungfu teramat tinggi.

Supaya berhasil, sekali menyerang kau harus mengarah tenggorokannya dan harus sekaligus membunuhnya. Bila meleset, kau tidak punya kesempatan untuk membunuh lagi, dan bahkan kaulah yang akan terbunuh.

Maka tidak ada seorang pun yang coba membunuhnya. Tidak seorang pun yang sanggup untuk membunuhnya. Kecuali, satu orang.

Orang itu adalah Meng Xin Hun.

—–

Meng Xin Hun menghabiskan waktu setengah bulan pertama untuk sekedar menyelidiki kehidupan Jin Qiang Li. Semua gerak geriknya diamati, semua tindak tanduknya dicatat dengan teliti.

Selanjutnya Meng Xing Hun menghabiskan waktu satu bulan untuk bisa mendapatkan kesempatan memasuki rumah Jin Qiang Li, menyamar sebagai tukang pikul air di belakang dapur.

Setelah itu pun Meng Xing Hun masih harus menghabiskan waktu setengah bulan lagi untuk menanti waktu yang paling tepat, saat yang benar-benar tepat!

Setelah terlaksana, semua terdengar akan begitu mudah. Tapi, menunggu dan menentukan waktu yang tepat, benar-benar tidaklah mudah.

Sungguh Jin Qiang Li ibarat perawan dingin, tidak memberi kesempatan untuk didekati. Saat mandi atau ke kamar kecil pun selalu ada yang menemani. Namun bila sabar menunggu, kesempatan itu pasti datang.

Bukankah perawan, betapa pun dinginnya, bila waktunya tiba juga harus menjadi isteri dan ibu?

Setelah menunggu dan menanti, akhirnya kesempatan itu datang juga.

Pada suatu hari, angin bertiup sangat kencang dan membuat topi Jin Qiang Li terlepas. Empat orang pengawal berebut mengambil topinya.

Pandangan Jin Qiang Li mengkuti kemana topi itu terbang terbawa angin.

Di saat tidak ada yang memperhatikan, itulah satu-satunya kesempatan, karena kecerobohan para pengawalnya mereka meninggalkan sang majikan begitu saja, merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Di saat itulah Meng Xing Hun sudah berada di belakang Jin Qiang Li dan langsung menusuknya.

Hanya satu kali tusukan. Tidak lebih tidak kurang. Satu tusukan.

Tusukannya langsung menikam dari belakang leher dan keluar dari tenggorokan. Ketika pedang dicabut, darah muncrat seperti kabut.

Kabut darah menutupi pandang setiap orang. Kilat pedang mencabut nyawa satu orang.

Nyawa Jin Qiang Li.

Begitu kabut darah menghilang, Meng Xin Hun sudah jauh dari para pengawal Jin Qiang Li. Tidak ada yang bisa melukiskan kecepatan tangan dan pedangnya.

Menurut cerita, ketika Jin Qiang Li dimasukan ke dalam peti mati, matanya masih terbuka dan menyorotkan rasa curiga tak percaya. Ia tidak percaya dirinya bisa mati dan ia tidak percaya bahwa ada yang mampu membunuhnya.

Kematian Jin Qiang Li menggegerkan dunia persilatan. Tapi, nama Meng Xin Hun tidak ada yang mengetahui.

Karena tidak ada yang mengetahui siapa yang membunuh Jin Qiang Li, maka tidak ada yang berani bersumpah akan membalaskan dendam bagi Jin Qiang Li.

Sebaliknya, ada pula yang menganggap pembunuh Jin Xiang Li “bintang penyelamat”. Begitu menemukan mereka berjanji akan berlutut mencium kakinya untuk berterima kasih karena telah menyingkirkan seorang penjahat.

Juga ada sejumlah pesilat muda yang ingin terkenal mencari nama, coba menemukan pembunuh Jin Qiang Li untuk bertarung membuktikan pedang siapa yang paling cepat.

Tapi semua tidak diperdulikan oleh Meng Xin Hun.

Sesudah membunuh ia biasanya seorang diri berlari ke pondok kayunya yang kecil di kaki bukit dan bersembunyi di pojok sana sambil menangis dan mengeluarkan segala isi perutnya.

Muntah!

Tapi sekarang ia sudah tidak menangis lagi. Air matanya sudah lama mengering. Namun setiap kali habis membunuh orang dan melihat darah yang tersisa di ujung pedangnya, ia masih terus lari sembunyi.

Dan muntah.

Sebelum membunuh, ia tampak dingin dan tenang. Namun setelah membunuh, ia tidak lagi bisa bersikap dingin dan tenang.

Maka ia harus berjudi, minum arak hingga mabuk, kemudian mencari perempuan guna melupakan kejadian saat ia mencabut nyawa. Namun tetap sulit baginya untuk melupakan dan terus terbayang setiap memejamkan mata.

Karenanya ia harus terus berjudi, terus mabuk, dan terus main perempuan, hingga membunuh lagi.

Dan setelah itu ia akan kembali melarikan diri ke gunung, berbaring di sebuah batu cadas, tidak mau memikirkan apa-apa, tidak mau berpikir apa-apa.

Ia hanya memaksakan diri untuk tenang dan siap membunuh lagi.

Orang yang ia bunuh tidak ia kenal, juga tidak ada dendam, bahkan seringkali belum pernah bertemu. Orang itu hidup atau mati tidak ada hubungan dengannya. Namun, ia tetap harus membunuhnya.

Ia harus membunuh karena begitulah perintah Gao Lao Da.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: