Kumpulan Cerita Silat

30/12/2008

Pisau Terbang Li (60)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:17 pm

Persahabatan

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Ah Fei masih berdiri di situ ragu-ragu. Akhirnya ia bertanya, “Gadis yang tadi…siapakah dia?”

Jawab Li Xun Huan, “Namanya LingLing. Ia adalah seorang anak yang tidak bahagia.”

Kata Ah Fei, “Aku hanya tahu bahwa ia adalah seorang penipu.”

“O ya?”

“Ia tidak sungguh-sungguh menunggumu… Atau jika ia memang menunggumu, ia punya maksud-maksud lain.”

“Begitukah?”

“Jika ia memang berada di situ untuk menunggumu, ia pasti akan merasa kuatir akan keadaanmu.”

Sahut Li Xun Huan, “Mungkin…”

Ah Fei langsung memotong, “Hanya dengan melihatmu, semua orang tahu bahwa kau baru saja mengalami kesusahan besar. Namun ia tidak pernah bertanya mengapa kau sampai begini.”

Kata Li Xun Huan, “Mungkin belum ada kesempatan.”

“Jika ia betul-betul sayang padamu, ia tidak perlu ‘kesempatan’ untuk menanyakan keadaanmu.”

Li Xun Huan berpikir sejenak, lalu terkekeh, “Kau kuatir aku akan tertipu oleh gadis itu?”

Jawab Ah Fei, “Aku hanya tahu bahwa ia tidak jujur.”

Li Xun Huan tertawa. Katanya, “Jika kau ingin hidup lebih bahagia, lebih baik jangan berharap bahwa wanita akan jujur padamu.”

Tanya Ah Fei, “Menurutmu, semua wanita adalah penipu?”

Seolah-olah Li Xun Huan tidak ingin menjawab pertanyaan ini. Katanya, “Jika kau pandai, jangan katakan pada wanita itu bahwa kau tahu bahwa dia berdusta. Karena apapun yang kau katakan, ia selalu siap dengan penjelasannya. Walaupun kau tidak percaya penjelasannya, sampai matipun ia tidak akan mengaku kalau ia berdusta.”

Ia terkekeh lagi dan melanjutkan, “Jadi, jika kau bertemu dengan wanita yang menipumu, paling baik adalah pura-pura percaya. Kalau tidak, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri.”

Ah Fei menatap Li Xun Huan sangat, sangat lama.

Tanya Li Xun Huan, “Ada lagi yang ingin kau katakan?”

Tiba-tiba Ah Fei tertawa, “Walaupun ada, tidak ada gunanya diucapkan. Kau sudah tahu apa yang akan kuucapkan.”

Lalu ia segera memutar badan. Memandang punggung Ah Fei, kegembiraan bergelora di hati Li Xun Huan. Anak muda yang gagah ini belum tamat.

Kali ini, ia bicara banyak, namun tidak sedikitpun menyinggung Lin Xian Er.

Apapun yang terjadi, cinta tidak dapat mengendalikan seluruh hidup seorang laki-laki.

Ah Fei memang laki-laki sejati.

Jika seorang laki-laki sejati merasa terhina, ia lebih baik tidak bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya, lebih baik hidup menyepi, lebih baik mati.

Karena ia tidak akan punya muka bertemu dengan wanita itu.

Namun apakah Ah Fei benar-benar dapat mengalahkan Lu Feng Xian?

Jika ia kalah, meskipun Lu Feng Xian tidak membunuhnya, dapatkah ia terus hidup?

Li Xun Huan membungkukkan badannya dan mulai terbatuk-batuk.

Batuk darah.

Lu Feng Xian sudah berdiri menunggu. Ia tidak berkata apa-apa.

Orang ini cukup sabar.

Lawan yang sabar adalah lawan yang mematikan.

Ah Fei segera merobek pakaiannya dan membalut luka di tangannya.

Pecahan cawan itu masuk semakin dalam ke dagingnya.

Darah, dalam kabut setebal apapun, masih merah menyala!

Hanya darah segar yang dapat membangkitkan kekuatan primitif dalam diri manusia. Yang lain, seperti cinta atau benci, juga bisa membangkitkannya. Namun darah adalah cara yang paling cepat dan tepat.

Seolah-olah Ah Fei telah kembali ke alam bebas yang buas.

Jika kau ingin tetap hidup, lawanmu harus mati.

Lu Feng Xian mengawasi Ah Fei yang datang mendekat. Tiba-tiba ia merasa suatu kekuatan melingkupinya.

Ia merasa bahwa yang datang ini bukanlah manusia, melainkan binatang buas.

Binatang buas yang terluka!

‘Perbedaan antara sahabat dan musuh sama dengan perbedaan antara hidup dan mati.’

‘Jika seseorang menginginkan kematianmu, bunuhlah dia lebih dulu. Tidak ada pilihan lain!’

Inilah hukum rimba. Inilah cara bertahan hidup.

Tidak ada belas kasihan dalam situasi seperti ini.

Darah terus mengucur, tidak berhenti. Otot-otot Ah Fei gemetar karena kesakitan. Selain lengannya, seluruh tubuhnya diam tidak bergerak.

Tatapan matanya semakin lama semakin dingin.

Lu Feng Xian tidak bisa mengerti bagaimana anak muda ini dapat berubah drastis dalam sekejap.

Namun ia tidak mengerti gaya ilmu pedang Ah Fei.

Kunci dari ilmu pedang Ah Fei bukanlah ‘cepat’ atau ‘kejam’, namun ‘tiba-tiba’ dan ‘akurat’.

Tusukan yang pertama harus mematikan, paling tidak 70% kemungkinan berhasil.

Oleh sebab itulah ia harus ‘menunggu’!

Menunggu sampai lawannya memperlihatkan titik kelemahan mereka, menunggu kesempatan yang terbaik untuk menyerang. Ah Fei bisa menunggu jauh lebih lama dari kebanyakan orang di dunia ini.

Akan tetapi, Lu Feng Xian sudah bertekad bulat, tidak akan memberi kesempatan sedikitpun padanya.

Kelihatannya Lu Feng Xian sedang berdiri dengan santai di sana. Seolah-olah seluruh tubuhnya penuh kelemahan, terbuka untuk diserang. Seolah-olah pedang Ah Fei dapat menusuk tempat mana pun pada tubuhnya.

Namun ketika seseorang kelihatan penuh dengan kelemahan, ia sebenarnya tidak punya titik kelemahan tertentu.

Tubuhnya telah menjadi sangat fleksibel.

Bisa menjadi ‘fleksibel’ adalah kemampuan tertinggi dari ilmu silat.

Li Xun Huan memandang dari jauh dengan hati yang risau.

Lu Feng Xian memang pantas untuk menjadi sombong.

Li Xun Huan cukup terkejut melihat kehebatan ilmu silatnya. Ia tidak tahu bagaimana Ah Fei bisa mengalahkannya…karena Ah Fei tidak punya kesempatan sama sekali untuk menyerang.

Malam bertambah larut.

Tiba-tiba secercah sinar tampak di tengah-tengah padang rumput itu. Kebakaran hutan!

Angin bertiup dari arah barat. Kebetulan wajah Lu Feng Xian menghadap ke arah barat.

Angin bertiup membawa sepercik api ke wajah Lu Feng Xian.

Mata Lu Feng Xian berkedip. Tangan kirinya bergerak sedikit, seperti akan menyeka percikan api itu, namun segera berhenti.

Dalam duel hidup dan mati, gerakan-gerakan yang tidak perlu dapat mendatangkan bahaya bagi diri sendiri.

Namun walaupun tangannya hanya bergerak sedikit, otot tangan kirinya sudah mengejang karena ‘sudah akan bergerak’. Ini membuat fleksibilitas totalnya menjadi berkurang.

Walaupun ini bukanlah kesempatan yang terbaik, ini lebih baik daripada tidak ada kesempatan sama sekali.

Ah Fei tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan.

Pedang segera melesat!

Serangan ini sangat menentukan.

Seluruh hidup Ah Fei bergantung dari berhasil atau tidaknya serangan ini.

Jika berhasil, ia akan menemukan kembali jati dirinya, membersihkannya dari semua kekalahan sebelumnya.

Jika gagal, ia tidak akan pernah bisa memiliki kepercayaan diri lagi. Walaupun ia hidup, mungkin kematian akan lebih baik baginya.

Oleh sebab itu, ia harus berhasil. Ia tidak boleh gagal.

Namun apakah ia bisa berhasil?

Selarik cahaya berkilat, lalu berhenti.

Pedangnya patah.

Ah Fei melangkah mundur. Pedang yang patah itu masih tergenggam di tangannya.

Patahannya terjepit di antara jari-jari Lu Feng Xian. Namun ujungnya tertanam di bahu Lu Feng Xian.

Walaupun ia berhasil menangkis serangan pedang Ah Fei, Lu Feng Xian terlambat sedikit.

Darah mengucur dari bahu Lu Feng Xian.

Akhirnya Ah Fei berhasil.

Wajah Ah Fei berbinar aneh…cahaya kemenangan.

Wajah Lu Feng Xian kosong. Ia melotot ke arah Ah Fei. Patahan pedang itu masih tertancap di bahunya, tapi ia tidak berusaha mencabutnya.

Ah Fei berdiri tidak bergerak. Ia tidak berusaha menyerang lagi.

Seluruh kegalauan hatinya telah lenyap bersama dengan serangannya yang pertama tadi.

Ah Fei hanya menginginkan ‘kemenangan’ bukan ‘pembunuhan’.

Seolah-olah Lu Feng Xian masih menunggu Ah Fei untuk menyerang lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.”

Semua orang akan merasa bahagia, merasa bangga, dipuji oleh orang sekaliber Lu Feng Xian.

Sebelum pergi, tiba-tiba Lu Feng Xian berkata, “Perkataan Li Xun Huan sungguh tepat. Ia pun tidak salah menilai engkau!”

Apa maksudnya? Apa yang dikatakan Li Xun Huan padanya?

Akhirnya Lu Feng Xian menghilang ditelan malam.

Li Xun Huan tersenyum.

Ia menepuk pundak Ah Fei dan berkata, “Lihat, kau masih seperti dulu. Aku kan sudah bilang tidak ada yang dapat menghalangimu. Ingatlah, tiap orang punya masa-masa suramnya. Jangan biarkan hal itu mempengaruhi pikiranmu.”

Lalu tambahnya, “Kini kau bisa mulai hidup baru. Aku yakin sepenuhnya padamu…”

Ah Fei memotong perkataannya, “Kau pikir aku tidak akan pernah kalah?”

Li Xun Huan tersenyum dan menjawab, “Kelihaian Lu Feng Xian tiada tandingannya. Jika ia tidak mampu menghidar dari pedangmu, siapa yang bisa?”

Kata Ah Fei, “Tapi…sebetulnya aku tidak merasa betul-betul menang.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak secepat dulu lagi.”

“Siapa yang bilang?”

“Tidak perlu ada yang bilang. Aku sendiri bisa merasakannya…”

Matanya masih tertuju ke arah perginya Lu Feng Xian. Lanjutnya, “Aku merasa, sebenarnya ia bisa mengalahkan aku. Tidak mungkin ia selambat itu.”

Kata Li Xun Huan, “Mungkin ia memang lebih hebat daripadamu. Tapi kau telah memanfaatkan kesempatan yang terbaik untuk menyerang. Di situlah kau lebih unggul. Itulah sebabnya kau menang!”

Ia terkekeh dan menambahkan, “Itu sebabnya Lu Feng Xian mengaku kalah tanpa protes. Bagaimana mungkin kau masih meragukan pujiannya?”

Akhirnya Ah Fei tersenyum.

Bagi seseorang yang sudah melalui penderitaan yang begitu berat, apa yang lebih menyejukkan daripada dukungan seorang sahabat?

Kata Ah Fei, “Kita harus merayakannya. Apa lagi yang lebih pantas daripada minum anggur?”

Li Xun Huan tertawa, sahutnya, “Kau benar. Sudah tentu kita harus minum anggur. Perayaan tanpa anggur adalah seperti sayur tanpa garam…”

Ah Fei tersenyum. Katanya, “Sebenarnya perayaan macam itu akan terasa lebih hambar daripada sayur tanpa garam.”

Kini Ah Fei pun terlelap.

Anggur memang minuman yang aneh. Kadang membuat orang bahagia, kadang membuat orang cepat tidur.

Ah Fei hampir-hampir tidak pernah tidur beberapa hari terakhir ini. Namun setiap kali terlelap, begitu cepat pula ia bangun kembali. Ia heran mengapa di rumah ia bisa tidur begitu lama.

Segera setelah Ah Fei terlelap, Li Xun Huan segera meninggalkan penginapan.

Ia menuju ke penginapan yang lain. Ia pun masuk ke dalam pekarangan penginapan itu.

Apa yang dilakukannya di situ tengah malam buta seperti ini?

Hari sudah lewat tengah malam, namun dalam satu kamar masih tampak cahaya lilin.

Li Xun Huan mengetuk pintu perlahan. Orang di dalam segera menyahut, “Li Tan Hua Kecil?”

Sahut Li Xun Huan, “Ya.”

Pintu pun terbuka. Lu Feng Xianlah yang membuka pintu.

Mengapa ia ada di sini? Bagaimana Li Xun Huan bisa tahu ia akan berada di sini? Apa maksud kunjungan ini?

Apakah mereka membuat janji pertemuan secara diam-diam?

Samar-samar terbayang senyuman aneh di wajah Lu Feng Xian. Katanya dingin, “Li Tan Hua memang orang yang tepat janji. Kau telah datang.”

Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis muda, “Aku kan sudah bilang ia pasti menepati janjinya.”

Gadis muda itu tidak lain adalah LingLing.

Mengapa LingLing ada di sini bersama dengan Lu Feng Xian?

Apa yang dijanjikan Li Xun Huan?

Li Xun Huan masuk ke kamar itu. Lalu ia membungkuk di hadapan Lu Feng Xian. Katanya, “Terima kasih.”

Sahut Lu Feng Xian, “Tidak perlu berterima kasih. Ini hanyalah kesepakatan di antara kita.”

Kata Li Xun Huan, “Tapi tidak semua orang mau menerima kesepakatan ini. Oleh sebab itu aku tetap harus berterima kasih.”

Sahut Lu Feng Xian, “Kesepakatan ini memang aneh. Aku kaget waktu mendengarnya dari LingLing.”

Kata Li Xun Huan, “Oleh sebab itu aku memintanya untuk menjelaskan kepadamu.”

“Sebenarnya penjelasan itu tidak perlu. Kau ingin aku mengalah dari Ah Fei karena kau ingin ia mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.”

“Memang itulah tujuanku. Aku merasa ia pantas mendapat kesempatan.”

“Itu karena kau adalah sahabatnya. Sedangkan aku bukan… Aku tidak pernah menyangka ada orang yang akan memintaku untuk berbuat sekonyol itu.”

“Tapi kau toh menyanggupinya.”

Lu Feng Xian menatap Li Xun Huan lekat-lekat. Katanya, “Kau sungguh yakin aku akan menyanggupinya?”

Li Xun Huan terkekeh. Sahutnya, “Setidaknya ada kemungkinan, karena aku melihat bahwa kau bukanlah orang biasa. Hanya orang yang luar biasa yang sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa.”

Lu Feng Xian masih menatap Li Xun Huan, “Kau juga yakin bahwa Ah Fei tidak akan membunuhku.”

“Aku tahu bahwa ketika ia menang, walaupun hanya seinci saja, ia tidak akan bertindak lebih jauh.”

Lu Feng Xian mendesah, “Kau memang tidak salah menilai dirinya, juga diriku.”

Lalu tiba-tiba ia tersenyum mengejek. Lanjutnya, “Namun aku hanya menyanggupinya kalah sekali ini saja. Lain kali, sudah tentu akan kuhabisi dia.”

Mata Li Xun Huan bersinar. Tanyanya, “Apakah kau begitu yakin?”

Lu Feng Xian balik bertanya, “Kau tidak percaya?”

Dua pasang mata saling pandang. Setelah sekian lama, akhirnya Li Xun Huan tersenyum dan berkata, “Mungkin sekarang kau bisa yakin, namun di kemudian hari belum tentu.”

Kata Lu Feng Xian, “Oleh sebab itu mungkin seharusnya aku tidak menyanggupi permintaanmu. Membiarkannya hidup adalah ancaman bagi hidupku.”

Sahut Li Xun Huan, “Tapi kadang-kadang ancaman itu baik bagi manusia, supaya ada semangat untuk terus memperbaiki diri. Orang yang betul-betul ‘tidak terkalahkan’ pasti sangat membosankan hidupnya.”

Lu Feng Xian termenung lama. Akhirnya ia berkata, “Mungkin…tapi aku tidak menyanggupinya karena alasan ini.”

“Sudah pasti tidak.”

“Aku menyanggupinya karena aku suka akan balasan yang akan kau berikan padaku.”

“Sudah pasti.”

Lu Feng Xian menegaskan, “Kau berjanji jika aku melakukannya, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan.”

Sahut Li Xun Huan, “Betul sekali.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: