Kumpulan Cerita Silat

29/12/2008

Pisau Terbang Li (59)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:12 pm

Keberanian

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Gadis itu mengikuti pandangan si jubah putih dan menoleh. Ketika ia melihat Li Xun Huan, segera ia berlari menyongsong dan memeluk pinggang Li Xun Huan.

Ia tersenyum lebar, “Aku tahu kau pasti kembali. Aku tahu kau tidak akan melupakanku.”

LingLing sungguh-sungguh menantikannya…

Li Xun Huan kelihatan gembira. Ia menggenggam tangan LingLing dan berkata, “Kau…Kau menungguku selama ini?”

LingLing mengangguk. Ia menggigit bibirnya dan berkata, “Mengapa kau begitu lama? Kau membuatku sangat kuatir…”

Kata Ah Fei tiba-tiba, “Kau sungguh-sungguh menantikan dia?”

Baru sekarang LingLing melihat Ah Fei. Wajahnya langsung berubah… Tentu saja ia mengenali Ah Fei, tapi Ah Fei belum pernah melihatnya.

LingLing mengejapkan matanya. Akhirnya ia berkata, “Jika aku tidak menantikan dia, buat apa aku ada di sini?”

Sahut Ah Fei dingin, “Kau bisa berada di sini untuk banyak alasan. Namun jika kau menantikan seseorang, matamu akan selalu memandang ke arah pintu. Siapapun yang sedang menantikan seseorang tidak akan duduk membelakangi pintu.”

Li Xun Huan tidak menyangka Ah Fei akan berkata demikian.

Ah Fei tidak pernah menyakiti perasaan siapapun. Namun perkataannya kali ini sungguh tajam, sungguh mengerikan.

Karena ia tidak tahan ada orang membohongi sahabatnya.

Li Xun Huan mengeluh dalam hati.

Ah Fei memang bisa mengawasi situasi lebih tajam daripada kebanyakan orang di dunia ini.

Namun bagaimana ia bisa menjadi begitu buta di hadapan Lin Xian Er?

Mata LingLing memerah. Air mata segera meleleh di wajahnya. Katanya, “Jika kau sudah menunggu di tempat yang sama selama sepuluh hari, kau akan tahu mengapa aku memunggungi pintu.”

Ia menyeka air matanya dan melanjutkan, “Awalnya, hatiku selalu berdegup saat ada pelanggan yang masuk. Pikirku, ah, dia sudah kembali. Namun setelah berhari-hari, aku merasa jika orang yang kau tunggu tidak akan datang, apa gunanya memandangi pintu. Mengawasi pintu akan membuat perasaanmu semakin tertekan.”

Ah Fei diam saja.

Ia merasa, ia sudah kelepasan bicara.

LingLing menundukkan kepalanya, katanya, “Jika bukan karena Saudara Lu yang menemani aku, mungkin aku sudah menjadi gila.”

Mata Li Xun Huan beralih pada si jubah putih, menemui tatapannya.

Li Xun Huan berjalan menghampirinya dan berkata, “Terima kasih…”

Si jubah putih langsung memotongnya, “Tidak perlu berterima kasih. Aku bukan tinggal untuk menemaninya, tapi untuk menunggumu.”

“Menungguku?”

“Betul.”

Si jubah putih tersenyum dan melanjutkan, “Tidak banyak orang di dunia ini yang layak untuk kutunggu. Namun Li Tan Hua Kecil adalah salah satunya.”

Sebelum Li Xun Huan sempat menyahut, LingLing sudah menyela, “Aku tidak pernah memberi tahu padamu siapa dia. Dari mana kau tahu?”

Jawab si jubah putih, “Jika kau ingin berkelana dalam dunia persilatan dan ingin hidup lebih lama, kau harus mengenal beberapa orang. Li Tan Huan Kecil adalah salah satunya.”

Tanya Ah Fei tiba-tiba, “Lalu siapa yang lain?”

Si jubah putih memandangnya dingin dan menjawab, “Paling tidak, kau dan aku juga termasuk!”

Ah Fei memandangi kedua tangannya. Rasa letih terbayang di matanya. Ia duduk di meja sebelah dan berseru, “Minta anggur BaiGan!”

Si pelayan segera menghampiri, “Selain itu, Tuan ingin makan apa?”

Sahut Ah Fei, “Anggur kuning.”

Setiap orang yang suka minum tahu, bahwa supaya lebih cepat mabuk, minumlah anggur dengan anggur. Minum anggur kuning sebagai teman minum anggur BaiGan.

Namun sebagian besar orang tidak berbuat demikian. Selain orang yang sangat sedih hatinya, tidak ada orang yang ingin mabuk terlalu cepat.

Si jubah putih mengawasi Ah Fei lekat-lekat.

Matanya yang mencorong tajam perlahan-lahan mengendur, lalu malah kelihatan kecewa. Namun ketika matanya sampai pada Li Xun Huan, kembali pandangannya menjadi waspada.

Kata Li Xun Huan, “Bolehkah kutahu namamu…”

Jawab si jubah putih, “Lu Feng Xian.”

Li Xun Huan tidak kelihatan terkejut. Ia tersenyum dan berkata, “Jadi kau memang benar Si ‘Ruyung Perak Leher Hangat’, Pendekar Lu.”

Sahut Lu Feng Xian dingin, “Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati sepuluh tahun yang lalu!”

Saat itu Li Xun Huan tampak terkejut.

Namun ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Lu Feng Xian akan menjelaskan.

Lanjut Lu Feng Xian, “Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati, namun Lu Feng Xian belum.”

Li Xun Huan merenungkan apa arti perkataannya.

Lu Feng Xian adalah orang yang sombong.

Bai Xiao Sheng menempatkan Ruyung Raja Peraknya di urutan kelima dalam Kitab Persenjataan. Untuk orang lain, hal ini sangat membanggakan. Namun baginya, ini adalah penghinaan.

Ia tidak bisa berada di bawah orang lain. Namun ia juga tahu bahwa Bai Xiao Sheng tidak mungkin salah.

Jadi pasti dia sendiri sudah menghancurkan Ruyung Raja Peraknya, dan menciptakan ilmu silat yang lebih mematikan.

Li Xun Huan perlahan-lahan mengangguk dan berkata, “Kau benar. Aku seharusnya sudah tahu bahwa Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati.”

Lu Feng Xian berkata dingin, “Lu Feng Xian juga sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Namun kini ia telah dilahirkan kembali.”

Mata Li Xun Huan berbinar, tanyanya, “Apakah yang sudah membangkitkan Pendekar Lu kembali?”

Lu Feng Xian mengangkat sebelah tangannya, tangan kanannya.

Ia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata, “Tangan inilah yang telah membangkitkan aku kembali.”

Bagi orang lain, tangan ini kelihatan biasa saja.

Jari-jarinya panjang dan kukunya terpelihara rapi. Terlihat sangat halus.

Sangat cocok dengan penampilan Lu Xiao Feng.

Namun ketika diperhatikan lebih jauh, akan segera tampak keistimewaannya.

Warna kulit jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis agak berbeda dari yang lain.

Kulit di ketiga jari ini tampak lebih berkilauan. Kelihatannya bahkan terbuat dari logam, bukan kulit manusia.

Namun ketiga jari itu benar-benar menyatu dengan tangannya.

Bagaimana tangan manusia yang terdiri dari kulit dan daging mempunyai tiga jari yang terbuat dari logam?

Lu Feng Xian memandangi tangannya sendiri dan mendesah. Katanya, “Sayang sekali Bai Xiao Sheng sudah meninggal.”

Tanya Li Xun Huan, “Memang kalau belum, kenapa?”

“Jika ia belum meninggal, aku akan bertanya padanya apakah tangan juga termasuk senjata.”

Li Xun Huan terkekeh, “Aku mendengar perkataan lain yang menarik hari ini.”

Tanya Lu Xiao Feng, “Apa perkataan itu?”

“Seseorang berkata bahwa jika suatu benda dapat membunuh, benda itu termasuk senjata tajam.”

Lanjutnya, “Tangan adalah senjata. Tapi jika tangan itu dapat membunuh, ia bukan saja merupakan senjata, ia adalah senjata tajam.”

Lu Feng Xian tidak menjawab. Bergerak sedikitpun tidak.

Namun tiba-tiba tiga jarinya itu melubangi meja.

Tanpa suara. Cawan anggur di meja tidak bergoyang sedikit pun. Jari-jarinya menembus meja seolah-olah meja itu terbuat dari tahu.

Kata Lu Feng Xian, “Jika tangan ini termasuk senjata, di urutan berapakah dia dalam Kitab Persenjataan?”

Sahut Li Xun Huan, “Sulit dikatakan.”

“Kenapa?”

“Karena senjata adalah untuk menyerang manusia, bukan untuk menyerang meja.”

Lu Feng Xian tertawa terbahak-bahak.

Tawanya dingin dan sinis. Katanya, “Dalam pandanganku, manusia di dunia ini tidak ada bedanya dengan meja ini.”

“Benarkah?”

“Tentu saja ada beberapa perkecualian.”

Tanya Li Xun Huan, “Siapa?”

“Sebelumnya kupikir ada enam, tapi kini aku rasa hanya ada empat.”

Sengaja ia melirik Ah Fei sebelum melanjutkan, “Karena Guo Song Yang sudah meninggal. Dan satu yang masih hidup tidak ada bedanya dengan orang mati.”

Ah Fei memunggungi Lu Feng Xian, sehingga tidak tampak air mukanya.

Namun saat itu, wajah Ah Fei berubah hijau.

Ia tahu apa maksud perkataan Lu Feng Xian.

Li Xun Huan tiba-tiba tertawa. Katanya, “Namun orang itu pun akan bangkit kembali, dan tidak perlu menunggu sepuluh tahun.”

Kata Lu Feng Xian, “Aku ragu.”

Tanya Li Xun Huan, “Jika kau bisa bangkit kembali, mengapa dia tidak bisa?”

“Aku berbeda.”

“Apa bedanya?”

“Aku tidak ‘mati’ di tangan seorang wanita. Dan hatiku tidak pernah mati.”

‘Prang’. Cawan anggur di tangan Ah Fei pecah berantakan.

Namun ia masih duduk di situ tanpa bicara.

Lu Feng Xian tidak melirik sedikitpun padanya. Matanya terus tertuju pada Li Xun Huan. Katanya, “Alasanku masuk kembali ke dunia persilatan adalah untuk menemukan keempat orang ini. Untuk membuktikan apakah tanganku ini dapat disebut sebagai senjata tajam. Itulah alasannya mengapa aku menunggumu di sini.”

Li Xun Huan berpikir cukup lama sebelum bertanya, “Kau harus membuktikannya?”

“Ya.”

“Untuk siapa kau buktikan hal ini?”

“Untuk diriku sendiri.”

Li Xun Huan terkekeh. Katanya, “Betul sekali. Seseorang bisa berdusta kepada semua orang, kecuali dirinya sendiri…”

Lu Feng Xian segera bangkit berdiri dan berkata, “Aku tunggu kau di luar!”

Entah mengapa, semua pelanggan restoran itu sudah pergi semua.

LingLing ketakutan setengah mati.

Li Xun Huan bangkit perlahan-lahan.

Tiba-tiba LingLing menarik jubahnya dan berbisik, “Kau… Kau benar-benar akan pergi?”

Li Xun Huan tersenyum pahit dan menjawab, “Ada beberapa kewajiban dalam hidup ini yang tidak dapat dihindari.”

Lalu ia memandang Ah Fei.

Ah Fei tidak menoleh.

Lu Feng Xian baru akan keluar pintu.

Tiba-tiba Ah Fei berkata, “Tunggu sebentar.”

Langkah Lu Feng Xian terhenti, namun ia tidak menoleh. Katanya, “Apa yang ingin kau katakan?”

Tangan Ah Fei masih menggenggam erat cawan pecah tadi.

Darah menetes dari tangannya.

Katanya, “Aku ingin membuktikan sesuatu. Membuktikan apakah aku hidup atau mati!”

Lu Feng Xian langsung memutar badannya.

Seolah-olah ia baru menyadari keberadaan Ah Fei di situ.

Lalu matanya memicing dan seulas senyum terbayang di sudut bibirnya. Katanya, “Bagus. Akan kutunggu kau juga!”

Kuburan.

Ada banyak duel yang terjadi dalam dunia persilatan tiap-tiap hari. Beragam orang berduel dengan beragam cara di berbagai tempat.

Padang rumput, hutan, kuburan…

Pertarungan hidup dan mati hampir pasti berlangsung di salah satu tempat ini. Karena tempat ini sendiri sudah berbau kematian.

Hari sudah hampir malam. Kabut tebal menyelimuti tempat itu.

Jubah Lu Feng Xian putih bagai salju. Ia berdiri di depan sebuah batu nisan berwarna abu-abu. Di tengah kabut, ia tampak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang dikirim dari neraka, datang mengantarkan surat undangan bagi orang-orang yang akan mati.

LingLing berdiri di samping Li Xun Huan. Tubuhnya terus gemetar.

Apakah ia kedinginan? Atau ketakutan?

Tiba-tiba Ah Fei berseru, “Pergi dari sini!”

LingLing langsung meringkuk dan bertanya, “Aku?”

Jawab Ah Fei, “Kau.”

LingLing menggigit bibirnya dan memandang Li Xun Huan.

Li Xun Huan sedang memandang ke kejauhan.

Apakah hatinya sudah pergi jauh? Ataukah kabut terlalu tebal?

LingLing menundukkan kepalanya dan menggumam, “Aku tidak boleh mendengar percakapanmu?”

Jawab Ah Fei, “Tidak. Tidak ada yang boleh.”

Li Xun Huan mendesah dan berkata, “Ia telah menemanimu selama tujuh hari. Kini kau harus menemaninya.”

LingLing berpikir sejenak dan menghentakkan kakinya. Ia berseru, “Kau tidak bermaksud datang atau tinggal di sini. Kalian ini memang orang-orang bodoh. Yang kalian tahu cuma membunuh. Kau bunuh aku, aku bunuh kau. Apa arti semuanya ini? Kalian pun tidak tahu mengapa kalian melakukannya… Jika semua pendekar seperti kalian, aku berharap seluruh pendekar di dunia ini mati saja!”

Li Xun Huan, Ah Fei, dan Lu Feng Xian hanya mendengarkan saja.

Lalu mereka membiarkan gadis muda itu berlari pergi.

Ah Fei tidak meliriknya sedikitpun. Setelah didengarnya langkah kakinya sudah jauh, ia berkata pada Li Xun Huan, “Aku belum pernah minta apa-apa padamu, bukan?”

Jawab Li Xun Huan, “Kau tidak pernah minta apa-apa kepada siapapun.”

Kata Ah Fei, “Namun aku ada permohonan saat ini.”

“Katakan saja.”

Ah Fei mengertakkan giginya. Katanya, “Aku tidak ingin kau menghalangi aku. Aku harus melakukannya. Jika kau menghalangi aku, aku akan…aku akan mati!”

Wajah Li Xun Huan tampak kusut. Katanya, “Namun kau tidak perlu melakukannya.”

Kata Ah Fei, “Aku harus melakukannya karena…”

Dengan penuh kepedihan ia melanjutkan, “karena Lu Feng Xian memang benar. Jika aku terus begini, aku tidak ada bedanya dengan orang mati. Aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini lalu begitu saja.”

“Kesempatan?”

“Jika aku ingin bangkit kembali, inilah kesempatanku yang terakhir.”

Tanya Li Xun Huan, “Maksudmu tidak akan ada kesempatan lain lagi?”

Ah Fei menggelengkan kepalanya, “Mungkin ada. Tapi aku… Jika aku kehilangan rasa percaya diriku hari ini, aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi.”

Jika seseorang mengalami kemunduran, ia akan merasa tertekan. Jika seseorang merasa sangat tertekan, bagaimanapun kuatnya dia, akhirnya ia akan kehilangan semangat.

Li Xun Huan berpikir lama dan mengeluh. Akhirnya ia berkata, “Aku tahu maksudmu, tapi…”

Potong Ah Fei, “Aku tahu, aku tidak lagi secepat dulu. Karena aku merasa gerak refleksku semakin lama semakin lambat dalam dua tahun ini.”

Li Xun Huan berkata dengan lembut, “Selama kau punya niat, segalanya pasti akan membaik lagi. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat.”

“Sekarang adalah waktu yang tepat.”

“Sekarang? Kenapa?”

Ah Fei membuka tangannya. Masih ada pecahan cawan tertancap di sana.

Jawab Ah Fei, “Karena tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Rasa sakit di tubuh tidak akan mengurangi rasa sakit di hati. Tapi paling tidak dapat membuat seseorang lebih waspada, lebih cepat bereaksi.”

Memang benar. Rasa sakit dapat membangkitkan pikiran manusia. Seperti kuda tunggangan. Jika kuda itu dicambuk, rasa sakit itu akan membuatnya lari lebih kencang.

Li Xun Huan terdiam sejenak dan bertanya, “Apakah kau yakin?”

Ah Fei balik bertanya, “Apakah kau tidak yakin akan kemampuanku?”

Li Xun Huan tertawa. Ia menepuk pundak Ah Fei keras-keras, “Baiklah. Cepat kalahkan dia!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: