Kumpulan Cerita Silat

28/12/2008

Pisau Terbang Li [58]

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:11 pm

Pendekar

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Pedang Jin Wu Ming telah menusuk bahu kanan Ah Fei. Namun hanya satu inci saja.

Pedang Ah Fei masih terpaut beberapa inci dari leher Jin Wu Ming.

Darah mengalir dari bahu Ah Fei, membuat bajunya menjadi merah.

Mengapa pedang Jin Wu Ming berhenti sampai di situ saja?

Di bahu Jin Wu Ming telah tertancap sebilah pisau!

Pisau Terbang Li Kecil!

Kekuatan dari mana yang membuat Li Xun Huan sanggup menyambitkan pisaunya?

Wajah Long Xiao Yun ayah dan anak menjadi pucat pasi. Tangan mereka langsung gemetar, dan sedikit demi sedikit mereka melangkah mundur. Mereka berdua sungguh tidak tahu dari mana Li Xun Huan mendapatkan tenaga.

Li Xun Huan bangkit berdiri!

Jin Wu Ming memutar badannya dan mengawasi Li Xun Huan. Wajahnya tetap kosong. Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata, “Pisau yang hebat!”

Li Xun Huan terkekeh. Katanya, “Ah, tidak juga. Hanya saja kau terlalu meremehkan aku. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melukaimu?”

Sahut Jin Wu Ming dingin, “Kau telah berhasil memperdayai aku. Itu tandanya kau lebih hebat daripada aku.”

“Aku tidak memperdayaimu. Aku juga tidak pernah bilang bahwa aku tidak punya tenaga untuk menyambitkan pisau. Kaulah yang berpikir demikian. Matamu sendiri yang telah menipumu.”

Jin Wu Ming berpikir sejenak, “Kau benar. Akulah yang salah. Tidak ada hubungannya denganmu.”

Kata Li Xun Huan, “Bagus. Kau mungkin adalah pembunuh, namun kau bukan orang licik.”

Jin Wu Ming melirik pada Long Xiao Yun dan putranya, lalu berkata dingin, “Orang yang licik tidak pantas menjadi pembunuh.”

Kata Li Xun Huan, “Kau boleh pergi sekarang.”

Tanya Jin Wu Ming, “Mengapa kau tidak membunuh aku?”

“Karena kau tidak bermaksud untuk membunuh sahabatku.”

Jin Wu Ming menundukkan kepalanya dan memandang pisau di bahunya. Katanya, “Namun aku berniat untuk membuat tangannya cacad.”

“Aku tahu.”

“Tapi luka di bahuku sangat sangat ringan.”

Sahut Li Xun Huan, “Jika seseorang memberiku sepeser, aku akan membayar kembali tiga peser.”

Jin Wu Ming mengangkat kepalanya lagi dan menatap Li Xun Huan. Walaupun ia tidak mengatakan apa-apa, suatu perubahan aneh terjadi di matanya. Ia memandang Li Xun Huan seperti ia memandang ShangGuan Jin Hong.

Kata Li Xun Huan, “Aku juga ingin memberi tahu padamu dua hal.”

“Apa?”

“Walaupun aku telah melukai 67 orang, 28 dari mereka tidak mati. Mereka yang mati, memang pantas mati.”

Jin Wu Ming terdiam.

Li Xun Huan terbatuk-batuk kecil beberapa kali. Lalu lanjutnya, “Aku belum pernah salah membunuh orang dalam hidupku! Oleh sebab itulah…kuharap kau pun berpikir dua kali sebelum membunuh orang.”

Jin Wi Ming terdiam cukup lama. Lalu katanya, “Aku pun ingin mengatakan sesuatu.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku mendengarkan.”

“Aku tidak pernah menerima kebaikan orang lain, ataupun pengajaran orang lain!”

Pada saat yang sama ia menghunjamkan pisau itu dengan tangannya.

Pisau itu menembus tubuhnya sampai ke belakang.

Darah pun tersembur keluar.

‘Tang’, pedang pun jatuh ke tanah.

Tubuh Jin Wu Ming gemetar beberapa saat, namun wajahnya tetap kosong. Ia tidak menunjukkan rasa sakit sedikitpun. Tidak di wajahnya, tidak di tubuhnya.

Ia tidak mengatakan sepatah katapun, dan tidak memandang kepada siapapun. Ia hanya melangkah keluar ruangan.

Pendekar?….. Seperti apakah pendekar itu? Apakah arti seorang pendekar?

Seorang pendekar biasanya menggambarkan seorang yang dingin, brutal, kesepian, tanpa perasaan.

Seseorang pernah berkata begini tentang pendekar: ‘Membunuh orang seolah-olah mereka hanya rumput kering, berjudi seperti tidak ada hari esok, minum arak yang terlezat, mengambil tanpa penyesalan’.

Tentu saja tidak semua pendekar seperti ini. Ada juga yang berbeda.

Namun ada berapa banyak pendekar semacam Li Xun Huan?

Mungkin hanya ada satu hal yang pasti ditemukan dalam semua pendekar. Hidup mereka sungguh menyedihkan.

Ah Fei menghela nafas panjang. Katanya, “Mungkin ia tidak akan bisa menggunakan pedang lagi dalam hidupnya.”

Kata Li Xun Huan, “Ia masih punya tangan kanan.”

Sahut Ah Fei, “Tapi ia sudah terbiasa menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya pasti jauh lebih lambat.”

Ia mendesah lagi dan menambahkan, “Bagi ahli pedang, ‘lambat’ berarti ‘mati’.”

Padahal biasanya Ah Fei tidak pernah mendesah.

Namun kini, ia bukan hanya mendesah bagi Jin Wu Ming, namun juga bagi dirinya sendiri.

Li Xun Huan mengawasinya, lalu berkata, “Jika seseorang punya kemauan kuat, walaupun ia tidak punya tangan, ia masih bisa memainkan pedang dengan mulutnya. Tapi jika ia patah semangat, walaupun ia punya dua tangan, keduanya tidak berguna sama sekali.”

Ia terkekeh dan melanjutkan, “Banyak orang di dunia ini memiliki dua tangan yang sehat. Namun berapa dari tangan-tangan itu yang memiliki kecepatan kilat?”

Ah Fei mendengarkan dengan seksama. Setelah beberapa saat matanya mulai berbinar-binar.

Tiba-tiba ia berlari ke samping Li Xun Huan dan mencengkeram lengannya. Katanya, “Aku mengerti maksudmu.”

Sahut Li Xun Huan, “Aku tahu kau pasti mengerti.”

Saat ia mengatakannya, air mata mengalir membasahi wajah kedua laki-laki itu. Jika ada orang lain yang melihat adegan ini, hati mereka pun pasti tergerak.

Sayang sekali Long Xiao Yun dan putranya bukan orang semacam ini. Diam-diam mereka berusaha kabur.

Li Xun Huan memunggungi mereka. Sepertinya ia tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Ah Fei memandang mereka sekilas saja, dan tidak berkata apa-apa.

Setelah mereka keluar, Ah Fei baru mendesah dan berkata, “Aku tahu kau pasti melepaskan mereka pergi.”

Li Xun Huan terkekeh. Katanya, “Ia pernah menyelamatkan aku satu kali.”

“Ia menyelamatkanmu sekali, namun ia telah menyakitimu berkali-kali.”

Li Xun Huan terkekeh lagi, “Bukannya aku lupa. Tapi lebih baik aku tidak mengingat-ingatnya, karena ia pun memiliki kesusahannya sendiri.”

Ah Fei berpikir sejenak, lalu tersenyum, “Akhirnya aku menyadari bahwa ada begitu banyak ketidakadilan dalam dunia ini.”

“Ketidakadilan?”

“Ya, ketidakadilan. Misalnya, ada orang yang selalu melakukan kebajikan dalam hidupnya, namun melakukan satu kesalahan. Satu kesalahan inilah yang akan mengikuti dia seumur hidupnya. Orang lain tidak bisa mengampuninya, dia pun tidak bisa mengampuni dirinya sendiri.”

Li Xun Huan terdiam.

Ia tahu, kata-kata Ah Fei sungguh benar adanya.

Ah Fei melanjutkan, “Namun ada juga orang-orang seperti Long Xiao Yun. Mungkin hanya satu kali ia berbuat kebaikan dalam hidupnya, yaitu dengan menolongmu satu kali itu. Dan kau tidak pernah berpikir bahwa dia orang jahat.”

Kini Li Xun Huan menyadari maksud Ah Fei mengatakan semuanya itu.

Ia sedang membela Lin Xian Er.

Ia merasa Lin Xian Er hanya melakukan satu kesalahan dalam hidupnya, namun Li Xun Huan tidak dapat memaafkannya.

Memang cinta itu luar biasa. Kadang manis, kadang pahit, kadang mengerikan… Ia bisa membuat pikiran orang menjadi bodoh, membuat mata menjadi buta.

Tiba-tiba Li Xun Huan tertawa sumbang. Katanya, “Ada kenangan yang begitu mudah terlupakan, namun ada juga yang teringat sampai selama-lamanya.”

Ah Fei menghela nafas. Katanya, “Itu karena kau menolak untuk mengingat kenangan-kenangan tertentu.”

Ah Fei memang masih muda, namun pandangannya tentang hidup terkadang lebih dalam daripada orang-orang yang lebih tua.

Kata Li Xun Huan, “Jika kau berusaha melupakan hal-hal tertentu, pikiranmu malah akan terus memikirkan tentang hal itu. Seseorang tidak bisa memilih apa yang ingin diingatnya. Mungkin ini adalah salah satu duka kehidupan.”

Tanya Ah Fei, “Bagaimana dengan engkau? Apakah kau secara jujur hanya mengingat bahwa ia telah menyelamatkanmu? Apakah kau sungguh melupakan perbuatannya yang lain?”

—–

Ketika Long Xiao Yun dan putranya berhasil lolos, mereka berdua sungguh merasa puas.

Long Xiao Yun tidak dapat menahan senyumnya dan berkata, “Ingat, kau harus selalu memanfaatkan kelemahan orang lain. Jika kau bisa memanfaatkan lawanmu, kau tidak akan pernah kalah.”

Anaknya menjawab, “Aku sudah tahu semua kelemahan Li Xun Huan.”

Sahut ayahnya, “Jadi kita pasti akan mengalahkannya, cepat atau lambat.”

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

Suara itu datang dari sisi atap yang lain.

Seseorang sedang duduk di atas atap sambil makan sepotong ayam. Tidak lain adalah Si Gila Hu.

Matanya memandang pada paha ayam yang sedang dimakannya, bukan pada Long Xiao Yun atau putranya. Seolah-olah paha ayam itu lebih menarik baginya.

Katanya, “Kalian tidak perlu buru-buru kabur. Li Xun Huan tidak akan mengejar. Kalau tidak, mana mungkin ia membiarkan kalian keluar dari sana?”

Wajah Long Xiao Yun berubah bengis.

Kini ia tahu bagaimana Li Xun Huan mendapatkan tenaga.

Namun ia tidak bisa menuduh Si Gila Hu.

Long Xiao Yun terpaksa terkekeh dan berkata, “Aku minta maaf kalau kau harus mengurus saudaraku beberapa hari ini.”

Sahut Si Gila Hu, “Tidak jadi soal. Li Xun Huan tidak makan banyak. Ia hanya makan dua paha ayam dan sekerat roti setiap hari. Lagi pula, kau menempatkan orang tolol untuk menjaga pintu. Aku hanya perlu menutup jalan darah tidurnya dua kali sehari, dan ia benar-benar menyangka bahwa ia ketiduran sebentar.”

Long Xiao Yun mengertakkan giginya. Ia ingin memastikan bahwa penjaga pintu itu akan tidur selama-lamanya secepat mungkin.

Si Gila Hu melanjutkan, “Yang pasti, aku sudah membayar lunas hutang-hutangku. Kita impas sekarang. Dan aku tidak sudi berbicara dengan orang semacam dirimu lagi.”

Long Xiao Yun cuma bisa pura-pura tersenyum.

Kata Si Gila Hu, “Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan sebelum pergi.”

“Aku mendengarkan.”

“Kau memang orang busuk, namun ShangGuan JinHong lebih busuk lagi. Jika kau ingin menjadi saudara angkatnya, kusarankan lebih baik kau mencari tali untuk menggantung diri saja.”

Ini memang perkataannya yang terakhir. Waktu kalimatnya selesai, orangnya pun telah pergi.

Long Xiao Yun tersenyum, katanya menggumam, “Aku tidak menyangka begitu banyak orang yang tahu bahwa ShangGuan JinHong dan aku akan mengangkat saudara.”

—–

Mereka berjalan perlahan-lahan.

Li Xun Huan dan Ah Fei tidak berbicara.

Mereka tahu bahwa kadang-kadang diam itu lebih berharga daripada banyak kata-kata.

Senja.

Terdengar bunyi seruling. Musiknya pun bersenandung lagu-lagu musim gugur.

Irama semacam ini mudah membuat orang teringat akan masa lalu, mengingatkan pada orang yang dikasihinya.

Tiba-tiba Ah Fei berkata, “Aku harus pulang.”

Tanya Li Xun Huan, “Apakah dia menantikanmu?”

“Ya.”

Li Xun Huan diam saja. Tapi tidak berapa lama, ia tidak dapat menahan pertanyaannya, “Apakah kau yakin ia sedang menantikanmu?”

Wajah Ah Fei memucat. Setelah beberapa saat akhirnya ia menjawab, “Dialah yang menyuruhku pergi untuk menyelamatkanmu.”

Li Xun Huan terdiam, tidak tahu harus bilang apa.

Ia cukup memahami jalan pikiran Lin Xian Er. Namun kali ini, ia tidak mengerti mengapa Lin Xian Er berbuat seperti itu.

Kata Ah Fei, “Ada dua orang yang begitu berharga dalam hidupku. Kuharap…kau bisa berkawan dengannya.”

Ia mengatakannya sepatah demi sepatah, dengan sangat lambat, dengan kepedihan di hatinya.

Melihat duka di wajahnya, hati Li Xun Huan pun sama pedihnya.

Hanya orang yang pernah mencintai sepenuh hati, tahu betapa besar kuasa cinta, betapa mengerikannya cinta.

Kata Li Xun Huan tiba-tiba, “Aku pun ingin menemuinya.”

Bibir Ah Fei terkatup rapat.

Kata Li Xun Huan, “Tapi jika kurang enak, tolong sampaikan saja terima kasihku padanya.”

Akhirnya Ah Fei menjawab, “Aku…Aku hanya berharap kau tidak akan menyakitinya.”

Sebenarnya Ah Fei tidak perlu mengatakannya. Karena ia tahu bahwa Li Xun Huan tidak pernah menyakiti orang lain…hanya menyakiti dirinya sendiri saja.

Namun ia tetap mengatakannya, demi Lin Xian Er.

Ketika mereka mengangkat kepala, sejuta cahaya lilin menyambut mata mereka.

Entah bagaimana, mereka sudah berada di jalan besar yang ramai.

Jalan ini lebih ramai dan sibuk di malam hari daripada siang hari. Ada banyak warung kecil di situ, dengan begitu banyak lilin yang menerangi barang-barang dagangan.

Sederetan gulali berkilauan di bawah cahaya lilin.

Tiba-tiba langkah Li Xun Huan terhenti.

Seraut wajah seakan-akan tergambar di permukaan gulali itu.

Wajah seorang gadis muda berbaju merah, dengan mata besar dan senyum ceria.

Lalu dilihatnya rumah makan yang menjual pangsit itu.

Apakah LingLing masih di sana?

Li Xun Huan merasa sangat malu karena ia sudah melupakan gadis itu sama sekali.

Ia melihat wajah Ah Fei sama persis seperti wajah LingLing ketika mereka pertama kali tiba di situ… Ah Fei belum pernah mengunjungi tempat seperti ini.

Li Xun Huan tertawa.

Ia merasa bahagia karena sahabatnya ini ternyata belum kehilangan jiwa kanak-kanaknya.

Tiba-tiba Ah Fei berkata, “Sudah lama kita tidak minum anggur bersama.”

“Apakah kau ingin minum sekarang?”

“Entah mengapa, kalau bersama denganmu, aku jadi ingin minum.”

Lalu Ah Fei pun tertawa.

Perasaan Li Xun Huan pun menjadi gembira. Katanya, “Bagaimana kalau kita pergi ke restoran pangsit di depan sana?”

Ah Fei tersenyum dan menjawab, “Boleh juga. Lagi pula aku memang tidak mampu membayar yang lebih mahal.”

Ada hal-hal yang aneh dalam hidup ini.

Makin jelek seorang wanita, semakin aneh tindakannya. Makin miskin seseorang, semakin sering ia menjamu sahabatnya.

Memang menjamu seseorang adalah hal yang menyenangkan. Sayang sekali, tidak banyak orang yang tahu bagaimana menikmatinya.

Di meja sudut itu duduk seseorang berjubah putih.

Waktu masuk, Li Xun Huan langsung melihatnya.

Siapapun akan tertarik melihat orang itu.

Walaupun tempat ini penuh minyak dan asap, pakaiannya tampak begitu indah dan bersih. Jubahnya seperti baru saja dicuci.

Jubahnya tampak sederhana, namun sangat mewah.

Tapi yang paling menarik adalah gayanya.

Ia memiliki karisma yang luar biasa.

Meja-meja di sekelilingnya kosong. Karena semua orang merasa tidak pantas duduk bersebelahan dengan dia.

Ia adalah orang yang menggunakan sekeping perak untuk mematahkan pikulan si lelaki kekar berjubah hijau tempo hari. Orang yang memotong-motong kepingan perak menjadi serpihan kecil.

Mengapa ia masih di sini? Apakah ia sedang menantikan seseorang?

Ia sedang mengangkat cawannya. Pada saat Li Xun Huan masuk, tangannya berhenti di udara. Matanya langsung tertuju pada wajah Li Xun Huan.

Di depannya duduk seseorang. Seorang gadis berbaju merah dengan kuncir panjang.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: