Kumpulan Cerita Silat

27/12/2008

Pisau Terbang Li (57)

Filed under: Pisau Terbang Li — ceritasilat @ 12:09 pm

Kembang Api

(Terima kasih kepada Saudara Dodokins)

Ia mengenakan jubah biasa berwarna hijau. Waktu ia pertama mengenakannya jubah itu sangat bersih, namun kini jubah itu penuh dengan lumpur dan keringat. Celananya robek di lutut.

Tubuhnya kotor dan rambutnya berantakan.

Namun walaupun orang itu hanya berdiri di sudut sana, Long Xiao Yun dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuhnya.

Orang itu sama dengan pedang yang terselip di pinggangnya.

Sebilah pedang tanpa sarung.

Ah Fei!

Ah Fei berhasil juga datang.

Mungkin hanya Ah Fei yang mampu menguntit mereka sampai di situ.

Binatang yang paling licik, yang paling mudah lolos, adalah rubah.

Bahkan seekor anjing yang sangat terlatih dan sangat pandai pun mungkin tidak bisa menangkap rubah.

Namun Ah Fei bisa menangkap rubah sejak berusia sebelas tahun.

Bukan pekerjaan mudah menguntit kedua orang ini. Oleh sebab itu sekujur tubuh Ah Fei sampai kotor begini.

Namun inilah Ah Fei yang sesungguhnya.

Hanya dengan cara inilah ia dapat memperlihatkan semangatnya, keteguhan hatinya, bahkan kebrutalannya yang menggetarkan hati manusia!

Kebrutalan yang tenang! Sungguh kebrutalan yang luar biasa!

Long Xiao Yun segera menenangkan dirinya. Katanya, “Oh, ternyata Saudara Ah Fei. Senang berjumpa kembali denganmu.”

Ah Fei melotot, memandangnya dingin.

Kata Long Xiao Yun lagi, “Aku sungguh kagum kau berhasil tiba di sini.”

Ah Fei masih melotot padanya. Matanya bercahaya dan tajam. Setelah dua hari menguntit mereka, akhirnya matanya kembali memancarkan sinar tajam seperti dulu lagi.

Ketajaman yang menandingin ketajaman Jin Wu Ming.

Long Xiao Yun tersenyum dan berkata lagi, “Walaupun kau adalah penguntit yang hebat, Tuan Jin masih dapat menemukanmu.”

Ah Fei memandang Jin Wu Ming.

Mata mereka beradu, seperti sebilah pedang dingin beradu dengan batu yang keras.

Tidak ada yang tahu mana yang lebih tajam. Pedang ataukah batu?

Walaupun tidak seorang pun bicara, sepertinya bunga api terpercik dari tatapan mata mereka.

Long Xiao Yun memandang Jin Wu Ming, lalu memandang Ah Fei. Katanya, “Walaupun Tuan Jin menemukanmu, ia tidak berkata apa-apa? Tahukah kau apa sebabnya?”

Ah Fei seolah-olah terhipnotis oleh Jin Wu Ming. Kepalanya sama sekali tidak pernah menoleh.

Long Xiao Yun terkekeh. Jawabnya sendiri, “Karena Tuan Jin ingin kau hadir di sini.”

Lalu ia menoleh ke arah Jin Wu Ming dan bertanya, “Benar bukan Tuan Jin?”

Jin Wu Ming pun seperti terhipnotis oleh tatapan mata Ah Fei. Ia pun tidak bergerak sedikitpun.

Setelah cukup lama akhirnya Long Xiao Yun mulai tertawa. Katanya, “Hanya ada satu alasan mengapa Tuan Jin ingin kau hadir di sini. Karena ia ingin membunuhmu!”

Perlahan-lahan tatapan Ah Fei bergeser ke arah pedang Jin Wu Ming.

Tatapan Jin Wu Ming pun sepertinya bergerak ke arah pedang Ah Fei.

Mungkin dua pedang inilah yang paling mirip satu sama lain di dunia ini.

Kedua senjata ini bukanlah senjata mustika yang dibuat oleh pembuat senjata yang ternama.

Walaupun kedua pedang ini sangat tajam, keduanya pun sangat tipis dan sangat rapuh. Mudah dipatahkan.

Walaupun kedua pedang ini bagaikan kembar, posisi mereka sangat berlainan.

Pedang Ah Fei berada di pinggang depan, dengan pegangan mengarah ke kanan.

Pedang Jin Wu Ming ada di sebelah kanan, dengan pegangan mengarah ke kiri.

Di antara kedua pedang ini seolah-olah muncul suatu medan magnet yang luar biasa kuat.

Mata kedua orang ini pun tidak pernah lepas menatap pedang lawan. Mereka berjalan maju saling mendekat, namun tatapan mereka tetap pada pedang lawan.

Saat mereka berjarak kurang lebih dua meter, tiba-tiba mereka berhenti!

Lalu tubuh mereka kaku, tidak bergerak seperti patung.

Jin Wu Ming mengenakan jubah sederhana yang pendek dan berwarna kuning. Jubahnya itu hanya sampai ke lutut. Lengan jubahnya sangat ketat. Jari-jarinya kurus dan panjang, dengan tulang-tulang yang menonjol ke luar, menandakan kekuatannya yang besar.

Jubah Ah Fei lebih pendek lagi. Jari-jarinya pun kurus panjang, dan sangat keras bagai terbuat dari batu.

Mereka tidak peduli penampilan namun kuku-kuku mereka terpotong pendek.

Mereka tidak ingin apapun juga mengurangi kecepatan mereka menghunus pedang.

Betapa serupanya kedua orang ini!

Akhirnya mereka berjumpa.

Hanya ketika mereka berdiri berdekatan, dan ketika orang mengamati mereka dengan cermat, baru terlihat bahwa di balik persamaan kulit luar mereka, terlihat pula perbedaan mereka.

Wajah Jin Wu Ming terlihat seperti sebuah topeng. Air mukanya kosong dan tidak pernah berubah.

Walaupun wajah Ah Fei serius dan dingin, selalu ada api dalam pandangan matanya. Api yang begitu membara, yang bahkan dapat membakar jiwa dan raganya.

Keseluruh raga Jin Wu Ming seolah-olah mati.

Mungkin sebelum ia dilahirkan, tubuhnya sudah mati lebih dulu.

Ah Fei adalah orang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu dengan sabar, namun ia tidak pernah bisa sabar menghadapi manusia.

Jin Wu Ming bisa membunuh seseorang hanya karena sepatah kata, mungkin bahkan karena sekilas pandangan. Namun jika perlu, ia dapat sabar menghadapi apapun juga.

Keduanya memang unik. Keduanya sama mengerikan.

Tidak ada yang tahu mengapa Tuhan membuat dua orang macam ini, dan mengapa membiarkan kedua orang ini bertemu.

Ini sudah akhir musim gugur.

Daun-daun sudah mengering semuanya.

Angin tidak bertiup kencang, namun daun-daun terus berguguran. Apakah mungkin ini karena hawa pembunuhan yang begitu tebal?

Hawa dingin yang mencekam memenuhi tempat itu.

Walaupun kedua bilah pedang masih berada di pinggang masing-masing, walaupun kedua orang ini belum lagi menggerakkan tangan mereka sedikitpun, nafas Long Xiao Yun dan anaknya sudah kembang kempis seperti kekurangan oksigen.

Tiba-tiba, selarik cahaya berkilat!

Sepuluh kali cahaya itu berkelebat cepat ke arah Ah Fei!

Long Xiao Yun menyerang.

Sudah tentu ia tidak berpikir bahwa sambitan senjata rahasianya akan mengenai Ah Fei. Namun jika Ah Fei kerepotan melayani senjata rahasianya, maka pedang Jin Wu Ming pasti akan dapat menembus tenggorokannya!

Pedang berkilat di udara!

Serentetan bunyi ‘Ding, Ding’ terdengar. Sinar-sinar itu jatuh ke tanah.

Pedang Jin Wu Ming sudah keluar. Ujung pedangnya menyambar di sebelah telinga Ah Fei.

Tangan Ah Fei memegang pedangnya, tapi pedang itu masih tersemat di pinggangnya.

Senjata rahasia Long Xiao Yun dihalau oleh Jin Wu Ming.

Wajah ayah dan anak sama-sama keruh.

Jin Wu Ming dan Ah Fei saling pandang. Ekspresi keduanya tetap kosong.

Lalu Jin Wu Ming pelan-pelan memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.

Ah Fei pun mengendurkan pegangannya pada pedangnya.

Setelah cukup lama, akhirnya Jin Wu Ming berkata, “Apakah kau tahu bahwa tadi pedangku terarah pada senjata rahasia itu, bukan padamu?”

“Ya, aku tahu.”

Ketika senjata rahasia itu disambitkan, pedang Jin Wu Ming langsung bergerak. Ah Fei bukannya menghunus pedang, malahan diam saja.

Sebelum Ah Fei berkata apa-apa lagi, Jin Wu Ming menambahkan, “Namun reaksimu sudah menjadi lambat.”

Ah Fei berpikir lama. Wajahnya menjadi muram. Sahutnya, “Kau memang benar.”

Kata Jin Wu Ming, “Aku bisa membunuhmu.”

Ah Fei tidak perlu lagi berpikir, “Ya.”

Long Xiao Yun dan putranya saling pandang. Keduanya menghela nafas lega.

Tiba-tiba Jin Wu Ming berkata, “Tapi aku tidak akan membunuhmu!”

Wajah dua anak-beranak Long ini berubah lagi.

Ah Fei menatap mata Jin Wu Ming yang kelabu dan mati itu lekat-lekat. Setelah sekian lama, ia bertanya, “Kau tidak akan membunuhku?”

“Aku tidak akan membunuhmu karena kau adalah Ah Fei.”

Matanya memancarkan rasa kepedihan yang begitu dalam. Kini matanya bahkan tampak lebih muram daripada mata Ah Fei.

Benaknya melayang jauh, memandang seseorang.

Seorang yang merupakan perpaduan seorang dewi dan iblis.

Akhirnya ia berkata lagi, “Jika aku adalah engkau, kau dapat membunuhku hari ini.”

Bahkan Ah Fei tidak mengerti apa maksudnya. Hanya Jin Wu Ming yang tahu.

Siapapun yang hidup selama dua tahun seperti Ah Fei akan mempunyai kecepatan reaksi yang jauh lebih buruk. Terlebih lagi, ia telah dicekoki obat tidur setiap malam selama dua tahun ini.

Obat-obatan ini pasti akan membuat reaksi orang menjadi lambat.

Alasan Jin Wu Ming tidak membunuh Ah Fei pasti bukan karena belas kasihan. Namun karena ia mengerti penderitaan Ah Fei. Karena ia pun merasakan penderitaan yang sama.

Mungkin juga ia membiarkan Ah Fei hidup supaya ada orang yang sama menderita seperti dirinya.

Ketika seorang yang patah hati mengetahui bahwa ada orang lain yang juga ditinggalkan oleh kekasihnya, penderitaannya akan berkurang. Jika seseorang yang kehilangan uang mengetahui ada orang lain yang kehilangan lebih banyak, ia akan merasa terhibur sedikit.

Ah Fei hanya berdiri di situ, seakan-akan sedang berusaha mencerna kata-kata Jin Wu Ming.

Kata Jin Wu Ming, “Sekarang, pergilah kau.”

Ah Fei mengangkat kepalanya dan berkata, “Aku tidak akan pergi.”

Jin Wu Ming jadi bingung, “Kau tidak akan pergi? Kau ingin aku membunuhmu?”

“Ya!”

Long Xiao Yun muda tiba-tiba berteriak, “Bagaimana dengan Lin Xian Er? Apakah kau tega meninggalkannya sendirian?”

Kata-kata ini menusuk hati Ah Fei bagai sebatang jarum yang tajam. Tubuhnya menjadi lemas.

Jin Wu Ming menoleh ke arah Long Xiao Yun dan berkata pelan-pelan, “Aku suka membunuh orang. Aku suka membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Mengerti?”

Long Xiao Yun memaksakan diri untuk tersenyum, “Aku mengerti.”

Kata Jin Wu Ming, “Sebaiknya kau benar-benar mengerti. Kalau tidak, kaulah yang akan kubunuh.”

Ia mengalihkan pandangan dari Long Xiao Yun dan bertanya, “Di mana Li Xun Huan? Antarkan aku menemuinya.”

Long Xiao Yun melirik sekilas pada Ah Fei, “Bagaimana dengan dia…”

Sahut Jin Wu Ming dingin, “Aku bisa membunuhnya kapan saja aku mau.”

Ah Fei merasa perutnya bergolak. Tiba-tiba ia membungkukkan badan dan mulai muntah-muntah.

Muntahnya adalah ludah yang terasa pahit. Hanya ludah yang terasa pahit.

Sudah dua hari ini dia tidak makan apa-apa.

“Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali. Aku akan menunggumu di sini selamanya…”

Perkataan ini adalah perkataan wanita yang dikasihinya.

Demi perkataan ini, ia tidak bisa mati.

Tapi Li Xun Huan…

Li Xun Huan bukan saja sahabatnya, ia adalah pahlawannya. Bagaimana mungkin ia hanya berdiri di situ menonton orang membunuh Li Xun Huan?

Ia terus muntah-muntah.

Kini ia sudah muntah darah.

—–

Li Xun Huan tidak tahu di mana ia berada. Ia pun tidak peduli.

Ia tidak tahu apakah ini siang atau malam.

Ia tidak bisa bergerak karena semua jalan darah utamanya telah ditutup.

Tidak ada makanan, tidak ada air.

Ia sudah berada di situ lebih dari sepuluh hari.

Walaupun jalan darahnya tidak ditutup, kelaparan juga akan membuatnya tidak bisa bergerak.

Jin Wu Ming memandangnya.

Ia tergolek di sudut ruangan.

Ruangan itu remang-remang. Tidak ada yang tahu seperti apa air muka Li Xun Huan. Yang terlihat hanyalah bajunya yang kotor dan sobek-sobek, wajahnya yang kurus dan lemah, matanya yang sedih.

Tiba-tiba Jin Wu Ming berkata, “Jadi inilah Li Xun Huan.”

Sahut Long Xiao Yun, “Benar.”

Sepertinya Jin Wu Ming kecewa akan apa yang dilihatnya dan tidak percaya pada Long Xiao Yun. Ia bertanya lagi, “Inikah Li Tan Hua Kecil yang ternama itu?”

Long Xiao Yun mengeluh, “Aku tidak ingin memperlakukan dia seperti ini. Namun…’Manusia tidak ingin menyakiti harimau, tapi harimau ingin membunuh manusia’. Keadaanlah yang memaksaku berbuat seperti ini.”

Jin Wu Ming terdiam sesaat. Lalu bertanya, “Di mana pisaunya?”

Long Xiao Yun pun berpikir sejenak, “Apakah Tuan Jin ingin melihat pisaunya?”

Jin Wu Ming tidak menjawab, karena pertanyaan ini sungguh bodoh.

Akhirnya Long Xiao Yun mengeluarkan sebilah pisau.

Pisau itu ringan, pendek, sangat tipis, seperti selembar daun.

Jin Wu Ming memegang pisau itu erat-erat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi.

Long Xiao Yun tersenyum sambil berkata, “Sebenarnya pisau ini tidak istimewa. Juga tidak terlalu tajam.”

Kata Jin Wu Ming, “Tajam? Apakah kau pantas bicara mengenai senjata yang tajam?”

Matanya melotot ke arah Long Xiao Yun. Katanya, “Apakah kau tahu apa artinya senjata yang tajam itu?”

Matanya masih kelabu dan mati seperti biasanya. Namun ada suatu yang menakutkan dalam mata itu, seperti mata iblis dalam mimpi-mimpimu. Sangat mengerikan, sampai-sampai kau tetap merasa takut walaupun sudah terbangun.

Long Xiao Yun merasa ia mulai sesak nafas. Ia memaksakan diri tersenyum dan berkata, “Tolong jelaskan padaku.”

Mata Jin Wu Ming kembali menatap pisau itu. Katanya, “Selama dapat membunuh, maka senjata itu adalah senjata yang tajam. Kalau tidak, betapa mahalnya dan tajamnya senjata itu, jika jatuh ke tangan orang yang tidak berguna seperti engkau, senjata itu adalah sampah.”

Sahut Long Xiao Yun, “Ya, ya. Tuan Jin memang benar. Aku mengerti…”

Jin Wu Ming tidak menggubrisnya sedikitpun. Ia tiba-tiba memotong, “Tahukah kau ada berapa orang yang sudah mati karena pisau semacam ini?”

“Mungkin…mungkin sudah tidak terhitung.”

Kata Jin Wu Ming, “Terhitung!”

Walaupun Partai Uang Emas baru berdiri kira-kira dua tahun, mereka telah melakukan penelitian yang mendalam terhadap dunia persilatan. Semboyan ShangGuan JinHong adalah ‘Setiap detil itu penting. Jangan ada sedikitpun yang terlewatkan’, ‘Sepeser uang, sejumput panen’.

Bukan keberuntungan yang membuat Partai Uang Emas menjadi sangat berpengaruh.

Long Xiao Yun pun mendengar bahwa seberlum partai itu berdiri, ShangGuan JinHong telah menyelidiki semua toloh persilatan.

Berapa besar usaha yang diperlukan untuk mendapatkan semuanya itu?

Long Xiao Yun sepertinya tidak betul-betul percaya. Ia tidak tahan untuk tidak bertanya, “Jadi ada berapa?”

“Enam puluh tujuh.”

Lalu ditambahkannya dengan dingin, “Dari keenampuluh tujuh orang itu, tidak ada yang ilmu silatnya berada di bawahmu.”

Long Xiao Yun hanya dapat pura-pura tersenyum. Pandangannya beralih pada Li Xun Huan, seakan-akan ingin Li Xun Huan menegaskan perkataan ini.

Namun Li Xun Huan tidak punya kekuatan sama sekali untuk melakukan apapun juga.

Long Xiao Yun muda tersenyum dan berkata, “Jika Li Xun Huan mati di bawah pisau semacam ini. Hehehe…bukankah itu lucu?”

Sebelum kalimatnya selesai, pisau itu sudah berkilat dan melesat ke arah Li Xun Huan.

Long Xiao Yun muda hampir saja melompat kegirangan.

Namun pisau itu tidak mendarat di leher Li Xun Huan, tapi di batu yang berada di samping Li Xun Huan.

Ternyata Jin Wu Ming pun adalah seorang ahli senjata rahasia.

Tiba-tiba Jin Wu Ming berkata, “Buka jalan darahnya.”

Long Xiao Yun tergagap, “Tapi…”

Jin Wu Ming tidak memberikan kesempatan padanya untuk membantah. Ia berkata dingin, “Aku bilang, buka jalan darahnya.”

Long Xiao Yun dan putranya saling pandang. Mereka tahu persis apa maksud Jin Wu Ming.

Kata Long Xiao Yun, “Ketua Partai ShangGuan hanya menginginkan Li Xun Huan. Tidak harus dalam keadaan hidup.”

Long Xiao Yun muda menyambung, “Paman ShangGuan tidak minum anggur. Ia pun pasti membenci pemabuk. Hanya pemabuk yang mati yang tidak minum anggur dan tidak menyebalkan.”

Long Xiao Yun berkata lagi, “Lagi pula, lebih mudah membawa orang mati daripada orang yang masih hidup.”

Kata Long Xiao Yun muda, “Tentu saja Tuan Jin tidak akan membunuh orang yang tidak dapat membela diri. Jadi…”

Potong Jin Wu Ming tidak sabar, “Kalian terlalu bertele-tele.”

Kata Long Xiao Yun, “Baik, baik. Aku akan buka jalan darahnya sekarang.”

Ialah yang menutup jalan darah Li Xun Huan. Jadi membukanya pun tidak sulit baginya.

Long Xiao Yun menepuk pundak Li Xun Huan dan berkata dengan lembut, “Saudaraku, sepertinya Tuan Jin ingin berduel denganmu. Ilmu pedang Tuan Jin sangat ternama di dunia persilatan. Kau harus berhati-hati.”

Di saat seperti ini ia masih punya muka untuk memanggil Li Xun Huan ‘Saudaraku’. Bahkan mengucapkannya dengan rasa kasih sayang.

Tidakkah orang ini mengagumkan?

Li Xun Huan tidak berkata apa-apa.

Tidak ada yang perlu diucapkan. Ia hanya tersenyum lemah dan perlahan-lahan mengambil pisau di sampingnya.

Ia menatap pisau itu. Seolah-olah air mata akan menetes dari matanya.

Ini adalah pisau yang terkenal tidak pernah luput.

Kini pisau ini ada di tangannya.

Namun apakah ia masih punya kekuatan untuk menyambitkannya?

Seorang wanita yang kehilangan kecantikannya, seorang pahlawan yang sampai pada ujung jalannya. Keduanya adalah tragedi kehidupan.

Orang hanya dapat merasa kasihan pada mereka.

Namun saat ini, tidak ada yang mengasihani Li Xun Huan.

Mata Long Xiao Yun muda berbinar. Ia tersenyum sambil berkata, “Pisau Terbang Li Kecil tidak pernah luput. Apakah masih bisa dikatakan seperti itu sekarang?”

Li Xun Huan mengangkat kepalanya dan menatap Long Xiao Yun muda. Lalu ditundukkannya kembali.

Kata Jin Wu Ming, “Waktu aku akan membunuh lawanku, aku selalu memberi kesempatan padanya. Inilah kesempatanmu yang terakhir. Mengerti?”

Li Xun Huan tersenyum sedih.

Kata Jin Wu Ming lagi, “Baiklah, kau boleh bangkit sekarang.”

Li Xun Huan mulai batuk-batuk.

Long Xiao Yun muda berkata dengan lembut, “Jika Paman Li tidak bisa bangun sendiri, mari aku bantu.”

Ia mengejapkan matanya dan melanjutkan, “Namun kupikir tidak perlulah. Kudengar Paman Li dapat menyambitkan pisau sambil berbaring.”

Li Xun Huan mendesah, seperti ingin berbicara.

Namun sebelum ia mengatakan apa-apa, seseorang telah masuk ke dalam ruangan itu.

Ah Fei!

Wajahnya sangat pucat, seperti tidak ada darah. Tapi malah ada sedikit darah di sudut mulutnya.

Saat itu ia tampak sangat tua.

Ia masuk secepat kilat, namun ketika ia sudah berada di dalam, ia diam seperti patung.

Tanya Jin Wu Ming, “Kau masih belum menyerah?”

Li Xun Huan mengangkat kepalanya. Kali ini air mata menetes dari sudut matanya.

Ah Fei hanya meliriknya sekilas, hanya sekejap saja. Lalu ia menoleh pada Jin Wu Ming dan berkata, “Sebelum membunuhnya, kau harus membunuhku!”

Ia mengatakannya dengan tenang, dengan serius. Tidak dengan emosi.

Ini menunjukkan ketetapan hatinya.

Mata Jin Wu Ming kini berubah, “Kau tidak peduli padanya lagi?”

Sahut Ah Fei, “Walaupun aku mati, ia bisa tetap hidup.”

Ia mengatakannya dengan tenang. Namun di wajahnya terbayang rasa sedih. Nafasnya memburu.

Jin Wu Ming melihatnya.

Sepertinya ia merasa puas mendengar perkataan itu. Tanyanya lagi, “Kau tidak peduli jika ia merasa sedih?”

“Jika aku tidak merasa puas dalam hidupku, lebih baik aku mati. Jika aku tidak mati ia akan menjadi lebih sedih lagi.”

“Kau pikir ia adalah wanita seperti itu?”

“Tentu saja!”

Dalam pikiran Ah Fei, Lin Xian Er bukan saja seorang dewi, ia adalah wanita yang suci bersih.

Sebersit senyum terbayang di bibir Jin Wu Ming.

Tidak ada seorang pun yang pernah melihat dia tersenyum. Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kapan pertama kali ia tersenyum.

Senyumnya sungguh kaku. Seolah-olah otot bibirnya tidak tahu bagaimana caranya tersenyum.

Ia tidak pernah ingin tersenyum, karena senyum hanya akan melunakkan hati manusia.

Namun kali ini senyumnya adalah senyum jenis lain…senyum yang setajam pedang. Hanya saja, pedang melukai tubuh manusia, seyum ini melukai hati manusia yang terdalam.

Ah Fei sama sekali tidak mengerti arti senyum ini. Katanya dingin, “Kau tidak perlu tersenyum. Walaupun ada 80% kesempatanmu membunuhku, ada 20% kesempatan aku membunuhmu.”

Senyum Jin Wu Ming segera lenyap. Katanya, “Karena aku sudah bilang aku tidak akan membunuhmu, kini aku tidak akan menyayangkan nyawamu lagi.”

“Memang tidak perlu.”

Kata Jin Wu Ming, “Aku ingin kau tetap hidup supaya aku dapat melihat…”

Sebelum kalimatnya selesai, pedang sudah berbicara.

Cahaya pedang menyambar satu sama lain, bergerak secepat kilat.

Namun ada selarik sinar yang melesat lebih cepat lagi daripada kedua pedang ini. Apakah itu?

Saat berikutnya, tidak tampak cahaya apapun lagi.

Seluruh gerak berhenti.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: